Zulkifli Hasan: Pertemuan dengan Megawati Direncanakan Pekan Depan

Zulkifli Hasan: Pertemuan dengan Megawati Direncanakan Pekan Depan

PAN hingga kini masih menunggu jadwal pasti pertemuan dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Namun, direncanakan pertemuan itu digelar pekan depan. “Mudah-mudahan tanggal 5 atau sampai tanggal 8 (Maret),” kata Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/3/2018). Pertemuan dengan Megawati, kata Zulkifli, untuk meminta pandangan terkait Pilpres 2019. Alasannya, PDIP adalah partai pemenang Pemilu 2014, dan Megawati merupakan politikus senior. “Kita perlu bicara, diskusi. Mbak Mega kan partai pemenang pemilu dan politisi paling senior. Kita ingin dengar pandangan-pandangan,” sebutnya. Tak hanya PDIP, PAN juga ingin bertemu dengan pimpinan partai-partai pengusung Joko Widodo di Pilpres 2019. Salah satu prioritasnya adalah pertemuan dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menuturkan Zulkifli telah minta waktu untuk pertemuan tersebut. Hasto menyebut Zulkifli merupakan salah satu tokoh yang minta diprioritaskan bertemu dengan Megawati. “Banyak yang mengajukan pertemuan kepada Ibu Megawati, seperti Pak Zulkifli Hasan. Di dalam pengambilan nomor urut, Pak Zul juga minta untuk dapat diprioritaskan bisa bertemu dengan ibu Mega,” kata Hasto di Prime Plaza Hotel, Denpasar, Bali, Sabtu (24/2).

Baca juga :

Penanggungjawab: Budi Setyarso Kepala Proyek: Wahyu Dhyatmik Penyunting: Toriq Hadad, Wahyu Muryadi, Arif Zulkifli, Budi Setyarso, Muhammad Taufiqurohman, Idrus F. Shahab, Purwanto Setiadi, L.R. Baskoro, Amarzan Loebis, Bina Bektiati, Nugroho Dewanto, Seno Joko Suyono, Wahyu Dhyatmika, Setri Yasra Penulis: Wahyu Dhyatmika, Setri Yasra, Sunudyantoro, Dwidjo U. Maksum, Oktamandjaya Wiguna, Purwani Diyah Prabandari, Widiarsih Agustina, Yandhrie Arvian, Yandi M. Rofiyandi, Ramidi, Sapto Pradityo, Budi Riza, Ignatius Yophiandi Kurniawan, Muchamad Nafi, Anton Aprianto, Yuliawati, Erwin Dariyanto, Stefanus Teguh Edi Pramono, Cheta Nilawaty, Nieke Indrieta Penyumbang Bahan: Philipus Parera, Bernarda Rurit (Yogjakarta), Kukuh S. Wibowo (Surabaya), Hari Tri Wasono (Kediri), Ishomuddin (Madiun, Magetan, Ponorogo), Ahmad Rafiq (Solo), Ging Ginanjar (Belgia, Belanda) Bahasa: Uu Suhardi, Dewi Kartika Teguh W., Sapto Nugroho Foto: Bismo Agung, Hari Tri Wasono, Ishomuddin. Desain: Eko Punto Pambudi, Ehwan Kurniawan, Kendra Paramita, Aji Yuliarto, Hendy Prakasa, Kiagus Aulianshah, Agus Darmawan S.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Menurut Ruth T. McVey dalam The Rise of Indonesian Communism, yang diterbitkan Cornell University Press, Ithaca, New York, pada 1965, Musso menempuh sekolah guru di Batavia atau Jakarta. Di sekolah ini, ia bertemu dengan Alimin, yang kelak juga menjadi pentolan gerakan kiri Indonesia. Musso adalah anak didik pertama G.A.J. Hazeu, penasihat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan bumiputra. Hazeu pula yang mengangkat Alimin sebagai anak. Hazeu pertama kali berjumpa dengan Alimin sebagai bocah gembel di alun-alun Solo. Hazeu memberi dia beberapa keping uang dan Alimin langsung membagi rata kepada temannya. Hazeu terkesima oleh Alimin kecil yang punya bibit sosialisme.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Di rumah Tjokroaminoto ini, Musso bertemu dengan Hendricus Josephus Fransiscus Marie Sneevliet, yang suka pada ide-ide sosial demokrat revolusioner. Sneevliet datang ke Hindia Belanda (Indonesia) pada 1913. Ia menetap di Surabaya selama dua bulan dan menjadi Pemimpin Redaksi Handelsblad. Selama di Surabaya, Sneevliet kerap berdiskusi dengan murid-murid Tjokroaminoto, termasuk Musso. Musso bersama Alimin, Semaoen, Darsono, Mas Marco Kartodikromo, dan Haji Misbach menjadi kader Sneevliet. Setahun kemudian, Sneevliet mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), yang berhaluan Marxisme.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Menurut sejarawan Ricklefs, selain menangkap Sosrokardono, Belanda menangkap Musso dan Alimin. Mereka adalah orang ISDV yang disusupkan ke Sarekat Islam. Selama di penjara, Musso mendapat perlakuan buruk. Meski begitu, sikap revolusioner dia tak langsung tampak setelah bebas dari penjara. Menurut Soe Hok Gie, perlakuan menyakitkan itulah yang membuat Musso makin benci kepada Belanda. Di penjara ini pula Musso intens bertemu dengan kawan-kawan komunis. “Di sana, Musso mendapat political lesson tentang komunisme secara intensif,” kata Soe Hok Gie.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Berpisah selama hampir tiga dasawarsa, Sukarno dan Musso bertemu lagi pada 13 Agustus 1948 pukul 10 pagi di Istana Negara. Musso menyamar sebagai Soeparto, sekretaris Soeripno-dubes RI untuk Cekoslovakia di masa Amir Sjarifoeddin. Dalam bukunya Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, Soe Hok Gie melukiskan betapa mengharukan pertemuan itu. “Bung Karno memeluk Musso dan Musso memeluk Sukarno. Kegembiraan ketika itu rupanya tidak dapat mereka keluarkan dengan kata-kata. Hanya pandangan mata dan roman muka mereka menggambarkan kegembiraan itu,” demikian kesaksian Soepeno, pemimpin redaksi surat kabar Revolusioner, yang hadir dalam pertemuan itu, seperti dikutip Soe Hok Gie.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

“Menurut Tan Malaka, rencana aksi tidak matang,” kata Poeze. “Musso dan Alimin punya pikiran pendek.” Perbandingan kekuatan kolonial dan PKI juga sangat tidak seimbang. Lantaran kurang sehat, Tan Malaka tak datang ke Singapura. Alimin kembali pulang sendirian. Harry Poeze menyatakan Tan Malaka hanya menitipkan risalah penolakan keputusan Prambanan. Dia menilai keputusan itu tanpa pertimbangan matang, dan beberapa pemimpin PKI tidak mempunyai wewenang mengorganisasi pemberontakan tanpa persetujuan Moskow.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Ribuan tokoh dan pendukung Partai Komunis Indonesia dibuang ke Boven Digul akibat pemberontakan yang mereka lakukan pada 1926-1927. Setelah periode bergejolak itu, PKI tercerai-berai. Buku The Rise and Fall of the Communist Party of Indonesia karya Guy J. Pauker menyebutkan, pascapemberontakan, sekitar 13 ribu orang ditangkap, 5.000 ditahan untuk mencegah kembali terjadinya huru-hara, 4.500 dipenjara, dan 1.308 dibuang ke Digul. PKI dinyatakan ilegal pada 1927. Partai pun sekarat. Apalagi, sebelumnya, sudah banyak petingginya yang dibuang, ditahan, atau dipaksa meninggalkan Indonesia.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Pada saat bersamaan, kader PKI seperti Abdulmadjid berusaha merekrut simpatisan, di antaranya Setiadjid, Rustam Effendi, Sidartawan, Maroeto Daroesman, Gondopratomo, dan Jusuf Muda Dalam. Ketika fasisme mulai mengoyak dunia, dan Jerman menduduki Belanda, kaum komunis Indonesia tersebut-bersama aktivis lain-ikut dalam gerakan bawah tanah. Saat itu, Moskow menetapkan kebijakan baru dengan membentuk front yang menyatukan kaum komunis, sosialis, dan borjuis yang dinamai Garis Dimitrov. Mahasiswa komunis Indonesia di Belanda tidak lagi menuntut “kemerdekaan sekarang juga”.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Pada 1937, ketika berdatangan orang buangan dari grup PKI Muda atau PKI 1935, seperti Hardjono, Djoko Soedjono, dan Achmad Sumadi, warga buangan di Digul mendapat angin baru. Garis baru Komintern: bekerja sama dengan kaum borjuis dan kolonialis untuk melawan fasis serta memperkuat keyakinan kelompok yang menghalalkan kerja sama dengan Belanda. Mereka pun membentuk Komite Antifasis, yang menyatakan setia ke Hindia Belanda, dan bersedia dipersenjatai untuk melawan kekuatan fasis. Namun taktik itu gagal karena pasukan Jepang keburu menjejak pintu gerbang Digul. Para interniran tersebut diangkut ke Australia.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Ketika Moskow memutuskan kebijakan baru dengan menetapkan Garis Dimitrov, Musso kembali ke Indonesia dan membentuk PKI Muda atau PKI 1935. Pengurusnya adalah Pamudji, Sukajat, Djoko Soedjono, Achmad Sumadi, Sutrisno, Sukindar, dan Soehadi. Tapi kemudian pemimpin PKI Muda juga ditangkapi dan dibuang ke Digul. Pamudji, yang sempat lolos, bergerak di bawah tanah. Sebagian pendukung PKI lain bergabung dengan Gerakan Rakyat Antifasis. Ada juga yang kemudian tergabung dalam Gerindo dan Partai Sosialis Indonesia.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

MUSSO kembali ke Moskow pada 1927, setelah berhasil lolos dari pengejaran tentara kolonial Belanda. Beberapa bulan sebelumnya, Musso memang pernah ke Moskow guna meminta persetujuan untuk memberontak melawan Belanda. Di negara tempat dia berkiblat, Musso menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan Partai Komunis Soviet bersama kawan Alimin dan Semaoen. Sekitar sepekan sekali, ia mengisi siaran berbahasa Indonesia di radio pemerintah. Jangkauan radio ini memang tidak mencapai Indonesia. Siarannya lebih ditujukan ke mahasiswa dan aktivis Indonesia yang saat itu banyak berada di sana.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Musso juga masuk ke struktur partai dan menjadi staf urusan Indonesia. Lewat penerbitan komunis internasional bernama Inprekorr, singkatan bahasa Jerman untuk “korespondensi pers internasional”, ia menyerang Tan Malaka. Menggunakan nama alias Krause dalam artikel yang menyoal Trotskyisme di Indonesia, ia menuding Tan sebagai pengkhianat bangsa dan layak dibunuh. Ini masih berhubungan dengan konflik keduanya mengenai pemberontakan 1926 yang dilibas Belanda. Lewat artikel satu halaman berhuruf kecil yang tersusun dua kolom itu, Musso melabeli Tan sebagai pengikut Trotsky, lawan politik Joseph Stalin, pemimpin utama Partai Komunis Soviet, yang menjadi kiblat komunisme internasional.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Pertemuan ini akhirnya merumuskan garis besar arah pergerakan kaum komunis Indonesia. Ditandatangani wakil Indonesia, Belanda, dan Cekoslovakia, dokumen itu lantas dikirim ke Moskow untuk mendapat persetujuan. Haluan baru inilah yang kemudian dibawa Musso dan Soeripno, yang saat itu menjabat Duta Besar RI di Cekoslovakia, ke Tanah Air pada Agustus 1948. Menurut Himawan Soetanto, mantan Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata RI, dalam bukunya Rebut Kembali Madiun, haluan ini dipengaruhi “garis Zhdanov”.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Haluan ini menegaskan, dunia telah terbelah dalam dua blok: kapitalis imperialis yang dimotori Amerika Serikat dan blok anti-imperialisme yang dimotori Uni Soviet. Inti doktrin Zhdanov, menurut Soe Hok Gie dalam bukunya, Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, kerja sama dengan kaum imperialis tidak perlu dilanjutkan dan partai-partai komunis harus mengambil garis keras. Musso dalam rumusan “Jalan Baru untuk Republik Indonesia” menyatakan, “Karena perjuangan Indonesia anti-imperialis, Indonesia satu garis dengan Rusia.”

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Musso pertama kali menjabarkan gagasan Jalan Barunya pada pertemuan Politbiro, 13-14 Agustus 1948, di Yogyakarta. Dalam pertemuan itu, Musso mengkritik sejumlah kelemahan dan kesalahan perjalanan organisasi komunis di Indonesia setelah kepergiannya ke Moskow. “Menurut Musso, revolusi di Indonesia bukan revolusi proletariat, melainkan revolusi borjuis, sehingga harus ada front yang dipimpin orang-orang proletariat,” ujar Hersri Setiawan, penulis Negara Madiun: Kesaksian Soemarsono Pelaku Perjuangan.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Pada saat yang sama, di sejumlah daerah tentara Belanda terus melakukan aksi militer. Tersiar kabar akan ada aksi militer besar-besaran ke Yogyakarta, jika Indonesia tetap ngotot menolak 12 prinsip politik Belanda. Kondisi semakin genting. Frank Graham sebagai utusan Komisi Tiga Negara menggelar pertemuan dengan “Lima Besar RI”, yaitu Sukarno, Moh. Hatta, Soetan Sjahrir, Amir, dan Agus Salim. Graham meminta Indonesia tidak meninggalkan meja perundingan. Tidak memiliki pilihan, Indonesia akhirnya mengalah dan menerima tuntutan Belanda. Kemudian, 17 Januari 1948, di atas kapal Renville, Amir meneken persetujuan itu.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Di hadapan parlemen Belanda, sebulan setelah Peristiwa Madiun, De Groot menuduh Charlton Ogburn, penasihat politik delegasi Amerika dalam Komite Jasa Baik untuk Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa, bertemu dengan Sukarno dan Hatta di Sarangan, tiga bulan sebelum Peristiwa Madiun meletus. Dalam pertemuan ini, Amerika menjanjikan pengiriman senjata dan penasihat teknis jika pemerintah Indonesia mau menyingkirkan komunis. Tuduhan ini langsung dibantah oleh Menteri Penerangan Mohammad Natsir.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Menurut Soemarsono, seperti tertulis dalam buku Revolusi Agustus, saat itu PKI memang menghadapi gerakan antikomunis dari sejumlah pihak. Partai Nasional Indonesia dan Masyumi, misalnya, semula mendukung Amir Sjarifoeddin yang memimpin delegasi Indonesia dalam Perundingan Renville. Tak lama setelah perundingan itu, PNI dan Masyumi berbalik menentang hasil Perundingan Renville-yang akhirnya menjatuhkan Amir dari jabatannya. Belakangan, kabinet Hatta yang melaksanakan Perundingan Renville justru menyertakan orang-orang PNI dan Masyumi.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Inilah yang membuat PKI yakin, penyingkiran orang-orang kiri sudah direncanakan setelah Perundingan Renville. Soemarsono tak heran, Hatta yang sering berseberangan dengan PKI, dan Menteri Dalam Negeri Soekiman yang tokoh Masyumi, menyetujui pemberangusan kaum kiri pada saat pertemuan Sarangan. Kondisi ini sejalan dengan niat Amerika membendung komunis di berbagai belahan dunia. Di sisi lain, Sukarno menginginkan pengakuan kedaulatan dari negara Barat. “Bung Karno waktu itu berpihak pada Hatta,” kata Soemarsono.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Toh, Swift menunjukkan Cochran membujuk Sukarno dan Hatta agar mengeliminasi komunis dari Indonesia, seperti tertulis dalam dokumen milik kantor Hubungan Luar Negeri Departemen Pertahanan Amerika. Dokumen itu menyebutkan, Cochran rajin menemui Presiden dan Perdana Menteri. Ia khawatir, komunis akan menjatuhkan kabinet Hatta. Sebagai imbalan menumpas komunis, Amerika akan mengupayakan kesepakatan dengan Belanda yang lebih bisa diterima, meski sebelumnya Amerika lebih berpihak kepada Belanda untuk melawan blok Soviet di Eropa melalui bantuan Marshall Plan. Indonesia pun memanfaatkan ketakutan Amerika sebagai tekanan mengupayakan kesepakatan dengan Belanda.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

l l l Program kabinet Hatta so-al Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) Tentara yang ditentang Sutarto menyorongkan konsep penataan postur angkatan perang yang lebih ramping dan efisien. Hatta beralasan, kocek negara yang mepet dan wilayah Indonesia yang kian menciut akibat Perjanjian Renville menjadi pertimbangan Re-Ra. Hatta, seperti dikutip dalam otobiografinya, merujuk setidaknya ada 350 ribu tentara plus 400 ribu anggota laskar yang kudu diciutkan menjadi 160 ribu hingga 57 ribu prajurit reguler.


Baca juga :

Beginning and voorthgangh, of the East India Vereenighde Nederlantsche Company: laid-using the voornaemnste Reysen, by the inhabitants scrambling of selver Provinces derwaerts gedaen: besides the beschrijvinghen of everything rich islands, harbors, hunting grounds, rivers, rheeden, pivot, depths and shallows: together with relievers allergies, manners, Aerdt, Police regeeringhge income of volckeren: even mead speceryen Haarder drooghen applies income Other merchandise meth Veele discourses Verrijckt: besides some koopere plates verciert: nut all curious dienstigh income, income of the other sea-sailing enthusiasts (Amsterdam: January Janzsz).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Held before the division of interest to LUHAK nan Tigo, Datuak Katumangguangan pounded the ground and make a nagari which later was named Sungai Tarab and put Puti Reno’s sister, along with 8 family and creating a Tribe 8, complete with the Tribe Piliang Pangulu under Datuak Rajo Pangkuto Sani, Piliang Laweh Dt. Indo Majo, Bendang Dt. Rajo Pangulu, Mandailiang Dt. Tamani, Bodi Dt. Sinaro, Bendang Dt. Simarajo, Piliang Dt. Rajo Nan Anam Malano and Tribes under Datuak Rajo Pangulu all of which are sworn in Kampuang Bendang.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sebelum diadakan pembagian Suku untuk Luhak nan Tigo, Datuak Katumangguangan memancang tanah dan membuat sebuah nagari yang kemudian diberi nama Sungai Tarab dan menempatkan adiknya Puti Reno Sudah, bersama 8 Keluarga sekaligus membentuk 8 Suku, lengkap dengan Pangulu yaitu Suku Piliang Sani dibawah Datuak Rajo Pangkuto, Piliang Laweh Dt. Majo Indo, Bendang Dt. Rajo Pangulu, Mandailiang Dt. Tamani, Bodi Dt. Sinaro, Bendang Dt. Simarajo, Piliang Dt. Rajo Malano dan Suku Nan Anam di bawah Datuak Rajo Pangulu yang kesemuanya dilantik di Kampuang Bendang.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Jadi sagalo pekerjaan, apo bana nan tajadi, sajak dari Luah dengan Qalam sampai ka Arasy jo Kurisyi wago sarugo jo narako walo nak bulan jo matohari walau ndak langik dengan bumi samuik sameto sakalipun takanduang dalam wahdaniah tuhan, adolah limo parakaro, maanyo nan limo parkaro, tanah baki, tanah baku, tanah hitam tanah merah jo tanah putiah, tanah ditampo dek Jibraie dibaok mangirok kahadiraik tuhan talempa kahateh meja, disinan bijo mangko kababatang sinannyo kapeh kamanjadi banang disitu langik kamarenjeang naiak disitu bumi kamahantam turun disinan ketek mangko kabanamo disinan gadang mangko kabagala disinan Adam nan batamponyo iyo kapanunggu isi duya.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Bafirman tuhan ka Jibraie, hai malaikaik jibraie mangirok engkau kasarugo nan salapan, kabakan ka anak puti bidodari nan banamo Puti Dewanghari anak dek Puti Andarasan bahaso inyo kadiambiak istri dek Sutan Rajo Alam diateh duya, mako mangiriok lah Jibraie kasarugo nan salapan kamangabakan ka Puti Dewanghari bahaso inyo ka dijadikan istri dek Sutan Rajo Alam diateh duya, mako mamandang lah Puti Dewanghari kaateh duya nampaklah anak Adam diateh alam Sigumawang antaro huwa dengan hiya dikanduang Abun jo Makbun wallahualam gadangnyo hati.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Mako dikumpuekanlah alat perhiasan kasadonyo, apo alat perhiasan nan dibaok, iyolah payuang panji kuniang payuang bahapik timba baliak lengkap sarato jo marawa kuniang cando kajajakan bertatah intan dengan podi buatan urang disarugo, mako batamulah urang tu dipuncak bukit Qaf.lalu dinikahkan dek kali Rambun Azali dipangka Titian Tujuah dibawah Mejan nan kiramaik dibaka kumayan putiah asok manjulang kaudaro takajuik sakalian malaikaik tacengang sagalo saluruah Bidodari manyemba kilek ateh langik bagaga patuih diateh duya tarang bandarang cahayonyo lapeh kalangik nan katujuah tahantak kahadiraik tuhan sabagai sasi pernikahannyo.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Dek lamo bakalamoan abih bulan baganti bulan abih taun baganti taun, salah saurang anak cucu baliau nan bagala Sutan Sikandarareni nan manjadi rajo kuaso sadaulat dunia mampunyoi katurunan nan partamo Sutan Maharajo Alif kaduo Sutan Maharajo Depang katigo Sutan Maharajo Dirajo, Sutan Maha Rajo Alif mamarentah Banuruhum, Sutan Maharajo Depang mamarentah dinagari Cino sadangkan Sutan Maharajo Dirajo lapeh kapulau Paco mamarentah di Pariangan Padang Panjang dipuncak gunuang Marapi mambagi nagari manjadi tigo luhak partamo Luhak Tuo Tanah Data kaduo Luhak Agam nan bongsu Luhak Limo Puluah.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Adaopun Syekh Sikandareni rajo alam nan arih bijaksano, mancaliak anak lah mulai gadang lah masak alemu jo pangaja timbue pikiran dalam dado timbualah niaik didalam hati nak manyuruah anak pai marantau mancari alimu jo pangalaman, mako tapikialah maso itu joa anak nak kadilapeh balie dilauik basa, nampaklah sabatang kayu gadang tumbuah dihulu batang Masie banamo kayu Sajatalobi, daun rimbun rantiangnyo banyak batang panjang luruih pulo, tabik pangana andak manabangnyo kadibuek pincalang tigo buah untuak palapeh anak pai marantau.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Mako dikumpuekanlah sagalo cadiak pandai ditanah Arab dibaok kapak jo baliuang panabang kayu nantun, lah banyak urang nan manabang lah tujuah baliuang sumbiang lah tigo puluah kapak nan patah kayu nan indak kunjuang rabah, apolah sabab karanonyo rukun saraik alun tabaokkan, datanglah urang cadiak pandai sarato jo urang arih bijaksano maagiah pitunjuak jo pangaja, mako dikumpuakanlah urang katiko itu, didabiah kibasy sarato unto dibaka kumayan putiah asok manjulang kaudaro, urang mandoa kasadonyo.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Mamintaklah Sutan Sikandareni katiko itu ya Allah ya rabbil alamin perkenankanlah aku manabang batang kayu Sajatalobi untuak mengharungi lauik basa, kandak sadang kabuliah pintak kabalaku, baguncanglah hulu batang Masie gampolah hari tujuah hari tujuah malam sahinggonyo rabahlah batang kayu nantun, mako datanglah urang nan baalimu maambiak daun jo batangnyo, daun diramu manjadi dawaik kulik diolah jadi karateh kapanulih Quran tigopuluah juih untuak mangaji dek umaik nan banyak, kulik batangnyo diolah manjadi kain untuak sumbayang panyambah Allah dengan rasul.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Lah rabah kayu Sajatalobi, batangnyo dikarek tigo kapambuek pincalang tigo buah, sabuah kapincalang Sutan Maharajo Alif nan cieklai untuak Sutan Maharajo Depang ciek pulo untuak Sutan Maharajo Dirajo, hari patang malampun tibo dipanggie anak kasadonyo diagiah pitujuak jo pangaja sarato baka pai marantau. Tantangan Sutan Majo Alih diagiah baka Mangkuto Ameh Sijatajati, sadangkan Sutan Majo Depang diagiah baka pakakeh tukang, adopun Sutan Majodirajo dibakali kitab barisi undang didalamnyo. Ayam bakukuak subuah pun tibo pagi datang matohari tabik, barangkeklah anak katigonyo marantau kakampuang urang.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Adopun tantang Sutan Maharajo Alif tambonyo ditutuik samantaro, sadangkan Sutan Maharajo Depang carito dihantikan sampai disiko, salorong pado Sutan Maharajo Dirajo taruih balaie ka Pulau Andaleh nangko, sabalun Sutan Maharajo Dirajo pai mahadang silauik lapeh mandapek kawan nan banamo Syekh Shole nan bagala Cati Bilang Pandai urang nan cadiak candokio sarato arih bijaksano barasa dari hulu sungai Masie, dalam pajalanan singgahlah Sutan di tanah Parsi, Himalaya, India, Campo jo Siam, mandapek pulo kawan nan diangkek manjadi kapalo dubalang, nan surang bagala Harimau Campo nan kaduo Kambiang Hutan nan katigo Kuciang Siam ampek bilangan jo Parewa nan bagala Anjiang Mualim.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Adopun Cati bilang pandai, pandai manarah manalakang pandai manjarum manjarumek pandai mamati jo aie liua pandai manyisia dalam aie pandai manembak dalam kalam, kalam kapiek gilo buto, basilang sajo palurunyo lah kanai sajo disasarannyo, pandai mambuek sambang loji pakai pasak datang dari dalam alun diraiah lah tabukak lah tibo sajo dijangkonyo, baitu pulo si Harimau Campo, urang bagak dari India, badan babulu kasadonyo, urang takuik malawannyo makan tangannyo bak cando guruah, capek kakinyo bak cando patuih tibo digunuang gunuang runtuah tibo dibatu batu tambuih pandai manyambuik jo manangkok bisa mangipeh jo malapeh pandai basilek jo balabek jikok malompek bak cando kilek, kok disabuik tantang si Kambiang Hutan, bak batanduak dikapalonyo pandai balari ditangah rimbo tau di padang nan baliku tantu jo tanjuang nan babalik tau jo lurah nan babatu tau jo aka nan kamambalik, babanak ka ampu kaki, barajo di hati basutan di mato kareh hati Allahurabi,kok pakaro hetong di balakang,

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Dikaji pulo tantang si Kuciang Siam, kok manyuruak dihilalang sahalai, maambiak indak kahilangan, bantuak bak cando singo lalok, santiang manipu jo manepong, kok malangkah indak balasia, malompek indak babuni, kunun lidahnyo indak baense, muluik manih bak tangguli kok manggauik indak mangasan, lah padiah sajo mangko ka tau, baitu pulo tantang si Anjiang Mualim, Parewa nan datang dari Himalaya, mato sirah bak cando sago gigi tajam babiso pulo, angoknyo tahan larinyo kancang, pandai maintai di nan tarang pandai mahangok dalam boncah, sabalun sampai pantang manyarah, pandai manikam jajak tingga, jajak ditikam mati juo, bahiduang tajam bak sambilu, bia kampuang lah papaga, inyo lah dulu sampai didalam.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Several hundred years ago there was a kingdom that upheld and respected by society, but has long been extinct, betul2 extinct, gone, none of Minangkabau descent from the royal family who are still alive today (though there is still much to claim to, such as Compass August 6, 2001 raises a woman’s name, RENO GADIH Ranti considered as a successor to rule the kingdom after the destroyed VOC Pagarruyung – please believe / do not, I can not believe it, because it is very likely the name of the only descendant of Adityawarman – let’s read through this article to find out Adityawarman who really, in my opinion).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sinking of the ship named Sao Paulo region of the Portuguese west coast of Sumatra in 1561 was widely heard in the 16th century, it is because disasters faced by Portuguese ships at that time they were posted on the bulletin maritime Lisbon in 1735. The Portuguese-flagged vessel was en route from Cape of Good Hope (Cape of good hope) to Goa, a big storm, the ship named Sao Paulo is the storm surge swept through the region of Sumatra, the area surrounding the possibility of Tiku, most cargo ships can still be saved, then with the rest of the wreck was made of small boats to try to set sail for Bantam, the adventures, the group has faced some of the ill-fated ship battle with the ships of the aceh

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

The Minangkabau (also known as Minang or Padang ) is one of ethnic group in Indonesia. It’s indigenous to the highlands of West Sumatra, in Indonesia. Their culture is matrilineal, with property and land passing down from mother to daughter, while religious and political affairs are the province of men (although some women also play important roles in these areas). Today 4 million Minangs live in West Sumatra, while about 3 million more are scattered throughout many Indonesian and Malay peninsula cities and towns.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

The name Minangkabau is thought to be a conjunction of two words, Minang (“victorious”) and Kabau (“buffalo”). There is a legend that the name is derived from a territorial dispute between the Minangkabau and a neighboring prince. To avoid a battle, the local people proposed a fight to the death between two water buffalo to settle the dispute. The prince agreed and produced the largest, meanest, most aggressive buffalo. The Minangkabau produced a hungry baby buffalo with its small horns ground to be as sharp as knives. Seeing the adult buffalo across the field, the baby ran forward, hoping for milk. The big buffalo saw no threat in the baby buffalo and paid no attention to it, looking around for a worthy opponent. But when the baby thrust his head under the big bull’s belly, looking for an udder, the sharpened horns punctured and killed the bull, and the Minangkabau won the contest and the dispute.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Tuanku Raja Muning Alamsyah atau juga yang disebut Yang Dipertuan Sultan Alam Muningsyah adalah raja alam Pagaruyung yang secara luar biasa selamat dari tragedi pembunuhan di Koto Tangah, Tanah Datar pada tahun 1809 dalam masa Perang Paderi berkecamuk di Minangkabau. Tahun terjadinya tragedi ini dipertikaikan. Christine Dobin mencatatkan dalam Kebangkitan Islam Dalam Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, (Inis, Jakarta 1992) tragedi tersebut terjadi pada tahun 1815, sebagaimana yang juga ditulis Rusli Amran dalam Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, (Sinar Harapan, Jakarta 1981).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Luhah Tanahdatr is the biggest  and more important  related to history, expand to north, east and tengara Singkarak lake,with center at Pagarruruyung near Batusangkar. Consist 14 nagari(minangstate village)  unity to Laras with leader Tengkulareh  and later became district  with the chief Demang . At the Merapi mount there was Priangan village, this village became famous in Minangkabu legend story , not far from this village there is the prassti inscript stone called “Batu Basurek(bertulis)”  consist 6 line with tarikh 1250

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Walter Houston did not hear the advice of the Government of the Netherlands and want to go through the district Djambi Batanghari he was assassinated in 1905 as a result of this disana.Daerah caused difficulties in the Netherlands due to be a place to escape the contract laborers who worked in coal mines Ombilin Sawahloento and many people fled there Bonjol Padri , as well as the local leader of the people who do not like the Dutch rule, which is why in 1905 the District Batanghari presented with the agreement requires the Kings to recognize the sovereignty of the Netherlands Indies Government. They are required to sign a short plaque with the same content for all areas means that less time was still independent. For distributors Batanghari signed on behalf of the progenitor KhatibBesar City and Padangtarab V, Sultan Maharaja Sri untyuk KotaBesar Kings, Majesty Tuanku Majolelo to Padanglawas, lord Bagindoratu Siguntar and some few other kings, all claimed that:

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Raja Pagaruruyung although recognized as a superior, have practically no power at all and yhanya recognized for its customs and traditions are everywhere. Instead the King was satisfied Pagarruyung origin recognized only as Yang Dipertuan and got “Mas Manah” once every 3 years darei shoreline. The task-Paluing most dipertuan Pagarruyung King confirmed or completed if there is some friction between the Kings of Small and some of the tasks again. This also is done if requested bonding is not really practical, and the Kings on the shoreline had been independent in action, who oversees several powerful DAPT kings nearby Small

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

when 300 workers are busy raising a statue of the Rocok from his bed for nearly six centuries. The people call it the Rocok and where he slept so soundly, called Padangrocok. The statue was made ​​of stone nearly 4 ½ feet high and weighs over 4 tons with a malignant form of profiles, which are then transferred to Boekitinggi zoo   and finally to the current Jakarta Central museum of local ini.Rakyat rocok already knew the giant was sleeping, even better used as a whetstone to sharpen pisau.Menumbuk can be part of the statue has become a small mortar. But the Dutch had colonized in 1905 there

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Adjustment efforts by the traditional Islamic values ​​among the Minangkabau society seems to have started since the Minang accept Islam as his religion, that since the establishment of the Kingdom of Pagaruyung (Hamka 1984: 138). Rapprochement with traditional Islam is initially occurs gradually, when Islam started to go from the coast (shoreline) to the countryside (Darek). In Minang vocabulary, the introduction of Islam from the shoreline to Darek is illustrated in the saying: Syarak Mandaki, Indigenous Manurun.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Minangkabau society also believes that in their social system, Islam and the customs have been well integrated. This is evident in the adage on the ABS-SBK (Abdullah 1971: 6). As an embodiment of the adage that ABS-SBK, there are also another proverb goes, accompanying, such as: Syarak Mangato, Indigenous mamakai; means any form of religious teachings, especially those stemming from the Koran and the traditions of the Prophet applied through customs; or another maxim: Syarak Batalanjang, Indigenous Basisampiang, that is, what the religion is firm and bright, but once implemented in custom, made in the implementing regulations as well as possible, or else goes anyway: Indigenous Kawi, which was common Syarak, that is, customs will not be upright when not confirmed by religion, religion itself will not run if not dilazimkan (applied) through customs.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Schrieke, for example, is the first batch of scholars who wrote about the phenomenon of Islamic modernism movement in West Sumatra. In his writings, Schrieke tried to describe the upheaval that occurred in West Sumatra due to the perspective new generation (young people) to religion, and as a result of “judgment” against the traditions and outlook of the older (elderly) who have long been entrenched as the ancient, forbidden according to religion, outmoded, and others. In addition, Schrieke also suggested examination of the phenomenon Padri movement, which for the first time seen as a social and intellectual upheaval (Schrieke 1973: 8). As far as the study of movement Padri, Schrieke writing has always been a reference for many subsequent studies (Azra 1988: 3). Schrieke Besides, the study of movement Padri in West Sumatra is also done by Christine Dobbin (1992), who saw it from the socioeconomic perspective. Among Dobbin thesis is that the emergence of Padri real issue is not simply a difference in ideology and doctrine, but also affected by the issue of influence and honor conquest (p. 148) as well as economic competition (p. 165).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Important also argued that the discourse about Islam in Minangkabau adat and it generally includes a discussion of the relationship based on tribal kinship system is matrilineal, with kinship system of Islam is more of the patrilineal nature. This topic has also attracted the attention of some scholars that “fascinated” by the firm attitude of Minangkabau society embraced Islam on the one hand, and still maintain the traditional system based kekeluargaannya it on the other side. Despite more emphasis on the role of women in the middle of the Minangkabau matrilineal system, anthropological study of Peggy Reeves Sanday conducted (2002), for example, also show us how Minangkabau society has shown what is called by Taufik Abdullah as “traditional integration” in the process Islamization in the Malay world

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In addition, the one thing that had never escaped the attention of scholars associated with the religious traditions of Minangkabau society is the emergence of the phenomenon of Islamic traditionalists (older people) and modernist Islam (the youth). In this context, the so-called traditionalist Islamic groups, or elderly, usually refers to those practices based on a variety of ritual keberagamaannya congregation. In West Sumatra alone, the congregation of the earliest developed, and then deeply rooted in most people, the congregation Sha << Œriyyah brought by Shaikh Burhanuddin Ulakan (1646-1699), one of the leading Acehnese student scholars, Shaykh al-Sinkili Abdurrauf ( 1615 to 1693). For so long, Sha << Œriyyah congregation is the only representation of traditional Islam in West Sumatra, before finally emerging Naqshbandiyya congregation about the year 1850.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Among the distinctive patterns of diversity among traditionalist Islam is its tendency to join the organization by developing an Islamic Sufi Tariqa (Sufism). So far, at least three types of growing congregations in West Sumatra: << Œriyyah congregation Sha, Naqshbandiyya and Sammaniyyah. In contrast to the two types of the former congregation, the congregation was not so developed SammŒniyyah in West Sumatra. The congregation is growing only in two areas, namely in Padang Bubus Bonjo, Pasaman, and in the 50 Koto Payakumbuh, it also has many mingled with the congregation Naqshbandiyya (Abbas et al., 1982/1983: 36).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In addition to ritual congregations, religious traditionalists are characteristic loyalty to follow various religious ideology expressed by the priest his school, such as schools SyŒfi ‘¥ for example. For the traditionalist Islam, what has been written by the scholars of the school in various books of his compositions is a truth that must be accepted, and should serve as a guide in religion other than al-Quran and Hadith of the Prophet. In addition, in the context of this Minangkabau, the traditionalist Islam, also known as a group that can bind tightly to the traditional power (Power 1990: 75).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

As for the so-called modernist Islamic group, or youth, in West Sumatra are those who in various religious schools of thought influenced by the reformers in Egypt, such as Muhammad Abduh and Rashid Ridla (Power 1990: 66). Wave character of modernist thinking is beginning to emerge in West Sumatra at about the beginning of the 19th century, especially when in 1803, three leading Haji Minangkabau origin, namely the poor Haji, Haji Piyobang, and Haji Sumanik, returning from Mecca and disseminate innovations in schools the religious field (Dobbin 1992: 155). Hajj is also a three movement was followed by the next generation of scholars Minangkabau in the mid-19th century until the beginning of the 20th century, such as: Shaykh Muhammad Djamil Djambek, Abdullah Haji Ahmad, and Haji Abdul Karim Amrullah.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In contrast to the religious schools of traditional Islam, the scholars involved in Islamic reform movement is of the view that only the Koran and the traditions of the Prophet who alone has the legitimate authority of absolute truth, and therefore can be used as a guide for Muslims in carrying out their religious practices. They also assume that there are no scholars, including sect scholars once did, that escape from error, and therefore their religious views can not be followed absolutely. Moreover, God has granted to every human mind to be able diligence at all times. As a consequence of the difference between the modernist ideology with religious traditionalists here, then the conflict was inevitable, although in general, the real conflict is not getting out of the question of the religious nature of fur mere iyyah”, which from the outset it has been a source of debate , in which Islam was growing.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In the context of West Sumatra, the tension faced by the Islamic traditionalists actually more complex, because they not only have to accept the “attack” of the modernists, but at the same time also faced opposition Islamist traditionalists amongst themselves, ie, between the adherents of the congregation Sha << Naqshbandiyya Œriyyah with the congregation. The congregation of the latter example, accuses the adherents of the congregation Sha << Œriyyah as a heretic (heretic), because they teach the doctrine of the dignity of seven and waúdat al-wuj’d (wuj’d unity). In addition, another debate between the adherents of the congregation to congregation Sha << Œriyyah Naqshbandiyya is related to differences in the determination of the beginning and end of the fasting month of Ramadan. Typically, the teachers institute-Sha << Œriyyah ru’yat in the most Al-Hilal (sighting the moon) – set the initial fasting one or two days after the teachers institute Naqshbandiyya set (Schrieke 1973: 26). And, since the beginning of the emergence to the present, the debate regarding the determination of the beginning of the month ramadlan still persist, especially among the clergy in the congregation Sha << Œriyyah Ulakan, with scholars in Cangking Naqshbandiyya congregation. Thus, religious conflict, either between adherents of the congregation to congregation Sha << Œriyyah Naqshbandiyya, as well as between the adherents of the congregation with the modernists in West Sumatra, has finally created a social crisis is protracted in nature Minangkabau (Abdullah 1971: 8).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Important also argued that, contrary to what is happening in other parts of Indonesia, the tradition of religious writing of the manuscripts in West Sumatra is apparently still ongoing until now, although with different intensity to the condition when the printing press has not been developed. A number of manuscripts Sha << Œriyyah final period of the 20th century that a major source of this study is one proof of how that tradition continues along with the remains of Islamic-rooted and still growing congregations, especially congregations Sha << Œriyyah and Naqshbandiyya in the region.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Of course, efforts to identify and inventory of the manuscripts relating to the Minangkabau society is not never been done, mainly related to the Minangkabau manuscripts are abroad, particularly the Netherlands. A number of catalogs has also been written, although not specific to religious texts, but also other texts, such as literature and others. Ronkel van (1921) for example, recorded no less than 257 texts with 87 titles stored in the Library of the University of Leiden (Chambert-Loir & Fathurahman 1999: 173). Then, most recently, Teuku Iskandar (1999), also lists back Minangkabau manuscripts ever recorded by van Ronkel above with some of the newest additions to the collection.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

As for the texts themselves are in West Sumatra, has so far been noted by several scholars, although just mentioned casually in a short paper. Ali Hj. Wan Mamat (1995) for example, when documenting the Malay manuscripts in South Sumatra and West Java, said the number of Malay manuscripts at the Center for Documentation and Information Minangkabau culture, while Wibisono et al. (1989), when reporting the results of archaeological research over the past sites in West Sumatra, also mention the existence of dozens of religious texts that are stored, either individually or in mesjidInformasi most recently, with particular regard to religious manuscripts in West Sumatra have – although not yet published in a catalog, in two research reports, each of which was conducted by researchers from IAIN Imam Bonjol Padang (Ramli et al. 1997) and researchers from Unand Padang (Joseph et al. 2001).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

As for Yusuf et al. -That in his research focused on the existence of religious texts in a mosque, adding some other location where the basis of religious texts, both in Arabic and Malay, in West Sumatra, such as nan High Bintungan surau Sabaris Pariaman, surau Tigo Kudu village of West Ganting Jorong excl. V Koto Kampung In Pariaman, Pariaman Tandikat mosque, mosque Kanagarian VII Koto Padang Japang Tagalo excl. Fifty Guguak Koto, surau Balingka excl. IV Koto Agam, as well as the mosque and the mosque Paseban Trunk mourning in Koto hands of Padang. In the report of Joseph et al. It also included a note of the existence of a number of books relating to the print edition of Islam in West Sumatra.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Finally , from the literature and the study of West Sumatra, to do with Islam, it is clear that this region has shown a very interesting religious dynamics to be observed. Important argued that in this section, the author does not intend to elaborate in detail about the various religious dynamics that occur are, but merely expressed “as needed” in order to make it as a basis for discussion in subsequent chapters of the manuscript Sha << Œriyyah congregation, related with Islamic religious discourse in West Sumatra

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Minangkabau society also believes that in their social system, Islam and the customs have been well integrated. This is evident in the adage on the ABS-SBK (Abdullah 1971: 6). As an embodiment of the adage that ABS-SBK, there are also another proverb goes, accompanying, such as: Syarak Mangato, Indigenous mamakai; means any form of religious teachings, especially those stemming from the Koran and the traditions of the Prophet applied through customs; or another maxim: Syarak Batalanjang, indigenous Basisampiang, that is, what the religion is firm and bright, but once implemented in custom, made in the implementing regulations as well as possible, or else goes anyway: indigenous Kawi, which was common Syarak, that is, customs will not be upright when not confirmed by religion, religion itself will not run if not dilazimkan (applied) through customary

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Important also argued that the discourse about Islam in Minangkabau adat and it generally includes a discussion of the relationship based on tribal kinship system is matrilineal, with kinship system of Islam is more of the patrilineal nature. This topic has also attracted the attention of some scholars that “fascinated” by the firm attitude of Minangkabau society embraced Islam on the one hand, and still maintain the traditional system based kekeluargaannya it on the other side. Despite more emphasis on the role of women in the middle of the Minangkabau matrilineal system, anthropological study of Peggy Reeves Sanday conducted (2002), for example, also show us how Minangkabau society has shown what is called by Taufik Abdullah as “traditional integration” in the process Islamization in the Malay world

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Among the distinctive patterns of diversity among traditionalist Islam is its tendency to join the organization by developing an Islamic Sufi Tariqa (Sufism). So far, at least three types of growing congregations in West Sumatra: << Œriyyah congregation Sha, Naqshbandiyya and Sammaniyyah. In contrast to the two types of the former congregation, the congregation was not so developed SammŒniyyah in West Sumatra. The congregation is growing only in two areas, namely in Padang Bubus Bonjo, Pasaman, and in the 50 Koto Payakumbuh, it also has many mingled with the congregation Naqshbandiyya (Abbas et al., 1982/1983: 36).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In addition to ritual congregations, religious traditionalists are characteristic loyalty to follow various religious ideology expressed by the priest his school, such as schools SyŒfi ‘¥ for example. For the traditionalist Islam, what has been written by the scholars of the school in various books of his compositions is a truth that must be accepted, and should serve as a guide in religion other than al-Quran and Hadith of the Prophet. In addition, in the context of this Minangkabau, the traditionalist Islam, also known as a group that can bind tightly to the traditional power (Power 1990: 75).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

As for the so-called modernist Islamic group, or youth, in West Sumatra are those who in various religious schools of thought influenced by the reformers in Egypt, such as Muhammad Abduh and Rashid Ridla (Power 1990: 66). Wave character of modernist thinking is beginning to emerge in West Sumatra at about the beginning of the 19th century, especially when in 1803, three leading Haji Minangkabau origin, namely the poor Haji, Haji Piyobang, and Haji Sumanik, returning from Mecca and disseminate innovations in schools the religious field (Dobbin 1992: 155). Hajj is also a three movement was followed by the next generation of scholars Minangkabau in the mid-19th century until the beginning of the 20th century, such as: Shaykh Muhammad Djamil Djambek, Abdullah Haji Ahmad, and Haji Abdul Karim Amrullah.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In contrast to the religious schools of traditional Islam, the scholars involved in Islamic reform movement is of the view that only the Koran and the traditions of the Prophet who alone has the legitimate authority of absolute truth, and therefore can be used as a guide for Muslims in carrying out their religious practices. They also assume that there are no scholars, including sect scholars once did, that escape from error, and therefore their religious views can not be followed absolutely. Moreover, God has granted to every human mind to be able diligence at all times. As a consequence of the difference between the modernist ideology with religious traditionalists here, then the conflict was inevitable, although in general, the real conflict is not getting out of the question of the religious nature of fur mere iyyah”, which from the outset it has been a source of debate , in which Islam was growing.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In the context of West Sumatra, the tension faced by the Islamic traditionalists actually more complex, because they not only have to accept the “attack” of the modernists, but at the same time also faced opposition Islamist traditionalists amongst themselves, ie, between the adherents of the congregation Sha << Naqshbandiyya Œriyyah with the congregation. The congregation of the latter example, accuses the adherents of the congregation Sha << Œriyyah as a heretic (heretic), because they teach the doctrine of the dignity of seven and waúdat al-wuj’d (wuj’d unity). In addition, another debate between the adherents of the congregation to congregation Sha << Œriyyah Naqshbandiyya is related to differences in the determination of the beginning and end of the fasting month of Ramadan. Typically, the teachers institute-Sha << Œriyyah ru’yat in the most Al-Hilal (sighting the moon) – set the initial fasting one or two days after the teachers institute Naqshbandiyya set (Schrieke 1973: 26). And, since the beginning of the emergence to the present, the debate regarding the determination of the beginning of the month ramadlan still persist, especially among the clergy in the congregation Sha << Œriyyah Ulakan, with scholars in Cangking Naqshbandiyya congregation. Thus, religious conflict, either between adherents of the congregation to congregation Sha << Œriyyah Naqshbandiyya, as well as between the adherents of the congregation with the modernists in West Sumatra, has finally created a social crisis is protracted in nature Minangkabau (Abdullah 1971: 8).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Ali Hj. Wan Mamat (1995) for example, when documenting the Malay manuscripts in South Sumatra and West Java, said the number of Malay manuscripts at the Center for Documentation and Information Minangkabau culture, while Wibisono et al. (1989), when reporting the results of archaeological research over the past sites in West Sumatra, also mention the existence of dozens of religious texts that are stored, either individually or in mesjidInformasi most recently, with particular regard to religious manuscripts in West Sumatra have – although not yet published in a catalog, in two research reports, each of which was conducted by researchers from IAIN Imam Bonjol Padang (Ramli et al. 1997) and researchers from Unand Padang (Joseph et al. 2001).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

As for Yusuf et al. -That in his research focused on the existence of religious texts in a mosque, adding some other location where the basis of religious texts, both in Arabic and Malay, in West Sumatra, such as nan High Bintungan surau Sabaris Pariaman, surau Tigo Kudu village of West Ganting Jorong excl. V Koto Kampung In Pariaman, Pariaman Tandikat mosque, mosque Kanagarian VII Koto Padang Japang Tagalo excl. Fifty Guguak Koto, surau Balingka excl. IV Koto Agam, as well as the mosque and the mosque Paseban Trunk mourning in Koto hands of Padang. In the report of Joseph et al. It also included a note of the existence of a number of books relating to the print edition of Islam in West Sumatra.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

West Sumatra No. Nagari according to law. 9/2000 issued by the Parliament of West Sumatra (December 16, 2000), about the administration’s key provisions villages, is the unity of indigenous peoples in the area of ​​West Sumatra province, which consists of the set that has some SPARE batas2 his particular area, have their own property, right to organize and take care of the household and government leaders choose. Reflection of community spirit Disnilah DEMOCRATIC Minang contained in the system of local government organizations, as villages are small in scale STATE, a self-contained, autonomous and able to fix yourself.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In the past, the New Order government took part in the system of government thugs ravage sendi2 Minang lowest in the region as well as weakening the institution of Arts Culture and society Minang that time, the government DESA2 dipecahnya NAGARI2 be like in the “LAND OF JAVA”, with the intention that the central government did not bother with differences in governance systems in Sumatra at the time. VILLAGE government highly centralized hierarchical feudalistic (Sociologist DR Mochtar NAIM) and was incompatible with the spirit as well as cultural roots Minang DEMOCRATIC society, has led to the attitude of apathy in the community MINANG. Similarly, traditional lembaga2 previously very active and respected community, changing only be on display at the moment OFFICERS down (review) to the VILLAGE!

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

As a result of psychological stress during the long New Order, where the people are not allowed to speak out and take the initiative themselves (as in society dikerajaan persis! absolute monarchy in JAVA, first?) Especially if it is not in accordance with the will of the Central Government, it is a process of public castration occurred for more than a generation, making the original character of the people Minang DEMOCRATIC egalitarian and degraded into the character of “JAVANIST” (Not intended to underestimate the JAVA community, but community pressure MINANG NEW ORDER for a JAVA).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Island of Sumatra is located in the western part of the constellation Islands Nusantara. In the north of the island borders the Bay of Bengal, on the east by the Strait of Malacca, on the south by the Strait of Sunda, and on the west by the Indian Ocean. To the east of the island of Sumatra there are many swamps with large rivers, among others; Asahan (North Sumatra), Kampar, Siak and Indragiri River (Riau), Batang Hari (West Sumatra, Jambi), Ketahun (Bengkulu), Musi, Ogan, Lematang, Komering (South Sumatra), and Way Sekampung (Lampung).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In the western part of Sumatra Island, lies the Bukit Barisan which ran from north to south. Only a few areas of the island suitable for rice farming. Along the lines of the hill there are volcanoes, which until now still active, such as Merapi (West Sumatra), Bukit Kaba (Bengkulu), and Kerinci (Jambi). Sumatra Island has many large lakes, among them Laut Tawar (Aceh), Lake Toba (North Sumatra), Lake Singkarak, Lake Maninjau, Lake Diatas, and Lake Dibawah (West Sumatra), and the Lake Ranau (Lampung and Bengkulu).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Greek manuscripts (70th AD) Periplous test Erythras Thalasses, revealed that Taprobana also known chryse nesos, which means island of gold. Since ancient times, traders from the area around the Mediterranean had come Nusantara, especially Sumatra. In addition to searching for gold, they are looking for incense (Styrax sumatrana) and camphor (Dryobalanops aromatica) who was only in Sumatra. In contrast, the Nusantara’s merchants had also sailed to the West Asia and East Africa for trade, as stated in the manuscript Historia Naturalis by Plini first century AD.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

The transition name from Samudera (a kingdom) to Sumatra (island name) is interesting to trace. Odorico da Pardenone in the story of his voyage in 1318 mentioned that he sailed to the east of the Coromandel, India, for 20 days, and then reached the Sumoltra kingdom. Ibn Bathutah told in the book Rihlah Masyriq ila l-(travels to the East) that in 1345 he stopped at Samatrah kingdom. In the next century, the name of the country or kingdom of Aceh was taken over by other travelers to mention the entire island.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

In the year 1490, Ibn Majid create a map of the area around the Indian Ocean and there is written Samatrah island. Map of Ibn Majid was copied by Roteiro in 1498 and appeared Camatarra name. Map made by the Amerigo Vespucci in 1501 appeared the name Samatara, while maps made by Masser in 1506 led to Samatra name. Ruy d’Araujo in 1510 the island was call the island by the name Camatra, and Alfonso Albuquerque in 1512 to write the name Camatora. Antonio Pigafetta in 1521 was wearing a rather correct name Somatra. But many other travelers are notes more chaotic with writing Samoterra, Samotra, Sumotra, even Zamatra and Zamatora.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Cities in Sumatera Island connected by three cross streets, which cross the middle, across the east, and west traffic. In some parts of Sumatra Island, the train is an alternative means of transportation. In the south, the railway line starts from the port of Panjang (Lampung) to Lubuk Linggau and Palembang (South Sumatra). In the middle of the island of Sumatra, the railway line only occurred in West Sumatra. This route connects the city of Padang with Sawah Lunto and the city of Padang Pariaman. During Dutch colonial rule until the year 2001, the line of Padang – Sawah Lunto used for transporting coal. But since the coal reserves in Ombilin began to thin out, and then this path does not work anymore. Since the end of 2006, the West Sumatra provincial government, re-activate this pathway as a tourist railway.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Gradually, which has grown Minangkabau society is divided into two major parts, namely the Minangkabau are settled in Minang that generally have a livelihood in the agricultural sector remains closely associated with the customary law and a small terulis not have livelihood trade in goods and services; and Minangkabau people who already live in the Overseas, which has almost completely livelihood in the area of ​​trade, services, and industries that are more open to influence national and global culture.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

The next two villages called, namely Lemons Laweh Lunggo and Koto, also have their respective advantages. Lemons Lunggo Nagari famous because Mr. Kali comes from there (verse 683). Thus, the Lemons Lunggo famous for its religious aspect. While the famous Koto Laweh because apparently a lot of great people (urang sieve) derived from these villages (stanza 684). Nagari is apparently has a competitive relationship (babaua) also with Tujuah Nagari Koto (stanza 685). As has been noted in many anthropological studies of the Minangkabau, the relationship between villages could be up to the stage of physical conflict, but a lot more rivalry manifested in art and culture.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

That is, once each in Minangkabau villages has its own characteristics. At least one prominent feature in every districts, may be related to the nature, style (dress) of the women, the style and behavior of its youth, its distinctive foods (for example, in “Road Kuliliang” Pariaman rabab is mentioned: “katupek sasak Sicincin now, lamang baminyak River acid, in Gadua dadiah tasabuik nan, santiang bantainyo Pakandangan … “), their brains could be art, martial arts or a certain magic, the height of the penghulunya degrees, and so forth. Characteristics that is the mantagi respective villages.


Baca juga :

Ratna Sari Dewi Soekarno dikenal dengan kepribadiannya yang terus terang. Beliau sering disebut sebagai Dewi Fujin (??? ?? Devi Fujin, secara harfiah “Ibu Dewi” atau “Madame Dewi”). Nama lengkapnya adalah Ratna Sari Dewi Soekarno (??? ?? ??? ???? Ratona Sari Devi Sukaruno), tapi dia lebih sering disebut sebagai “Madame Dewi”. Dia membuat penampilan di media massa setelah Januari 2008 kematian suaminya penerus Soeharto, menyalahkan dia untuk melembagakan sebuah rezim represif dan menyerupai Despotisme Kamboja, Pol Pot.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pada bulan Januari 1992, Dewi menjadi terlibat di dalam banyak perkelahian dipublikasikan di sebuah pesta di Aspen, Colorado, Amerika Serikat dengan sesama tokoh masyarakat internasional dan ahli waris Minnie Osmeña, putri mantan presiden Filipina. Ketegangan sudah ada antara keduanya, dimulai dengan pertukaran di pihak lain beberapa bulan sebelumnya, di mana Dewi terdengar tertawa ketika Osmena menyatakan rencana politiknya, di antaranya adalah keinginan untuk mencalonkan diri sebagai wakil presiden Filipina.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Bila agan melewati kompleks Dwikora perumahan dinas TNI AU di Lanud Halim Perdankusuma, Jakarta, anda akan menemukan nama-nama asing seperti Kolatu, Kolada, Stradaga, Straudga dan lainnya. Ternyata nama-nama itu mengartikan nama operasi militer yang disingkat semasa Dwikora tahun 1962-1964. Kolatu adalah singtan dari Komando Mandala Satu, Kolada adalah Komando Mandala Dua, Stradaga adalah Strategi Darat Siaga, Straudga adalah Strategi Udara Siaga, dan Stralaga adalah Strategi Laut Siaga. Semua itu merupakan bagian operasi Dwikora (Dwi Komando rakyat) ketika Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Berbagai nama sandi operasi militer disesuaikan misi tugas seperti Operasi Rembes, untuk penyebaran pamflet, Operasi Nantung, untuk menguji kesiapan sendiri dan siaga atas kesiapan lawan. Operasi Tanggul Baja, operasi dengan menempatkan pesawat-pesawat tempur di daerah yang lebih dekat dengan mandala operasi. Untuk operasi penerjunan pasukan linud, diberi nama operasi sandi Antasari. Operasi Antasari I berhasil menerjunkan satu batalyon pasukan tempur ke Kalimantan Utara dengan menggunakan pesawat angkut C-130 Hercules AURI. Operasi linud Antasari telah dilakukan sampai yang ke empat menggunakan pesawat C-130 Hercules dan pesawat C-47 Dakota.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Hercules Tipe B tersebut diterbangkan oleh Mayor Pnb Djalaluddin Tantui berserta ko-pilot Kapten Pnb Alboin Hutabarat membawa delapan awak pesawat dan 47 personil PGT yang dipimpin Kapten Udara Suroso, untuk diterjunkan di daerah operasi Kalimantan Utara. Namun dari tiga pesawat Hercules, hanya dua pesawat yang kembali ke Halim Perdanakusuma. Satu akhirnya dinyatakan hilang bersama 55 orang yang ada didalamnya, yaitu T-1307 C-130B Hercules. Selama operasi Dwikora, pasukan PGT merupakan pasukan payung yang telah di terjunkan ke wilayah konfrontasi dengan kehilangan 83 orang anggotanya. Nama Sugiri Sukani akhirnya dinyatakan hilang dalam tugas dan di abadikan sebagai nama Pangkalan Udara di Jatiwangi, Cirebon dan Suroso menjadi nama lapangan bola di kompleks Dwikora, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Setelah wisuda, kami berbondong-bondong ke Kementerian Kesehatan di Jl. Kwitang. Sebenarnya sebagai pegawai Kementerian PP&K dengan mudah saya dapat menerima tawaran Prof.Hanifa untuk menjadi asisten kebidanan. Tetapi saya mendaftarkan diri ke Kementerian Kesehatan agar ditempatkan di Flores karena alasan sekian tahun mendapat beasiswa dari Flores. Suatu peluang hilang! Namun saya tidak pernah menganggap pilihan tersebut sebagai satu kerugian. Bagaimanapun, saya mempunyai kewajiban moril untuk membalas jasa rakyat Flores. Dan, karena saya memilih profesi dokter dan telah memilih pegawai negeri, maka diperlukan lolos butuh dari Kementerian PP&K.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Komandan Pusdikkes AD adalah Kolonel dr.Ronodirdjo dengan Kepala Staf Kolonel Latief. Koloel Latief ini empat tahun kemudiannya terkenal sebagai Komandan Brigade Infanteri I/Jaya Sakti Kodam V Jaya dan dedengkot Gerakan 30 September. Di Kramat Jati terpusat Pendidikan Perwira Cadangan (Pacad) Kesehatan, dan di Salemba Pendidikan Bintara Kesehatan AD. Tetapi kami sehari-hari dipimpin oleh Kapten Mansoer sebagai Komandan Kompi Siswa dibantu oleh Peltu Londa dan Serma Salimin sebagai Sersan Pelatih.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Atmosfer dalam pendidikan cukup santai karena tidak ada orang yang percaya akan meletusnya perang, dan bahwa pasti para dokter akan ditempatkan digaris belakang sekiranya perang benar-benar meletus. Saya terpilih sebagai Ketua Senat Siswa Pacad V. Pengalaman aneh saya sepanjang pendidikan, Komandan sangat takut kepada saya. Kalau saya bertanya, dia sangat gugup. Kalau giliran periksa senjata, kami suka tukar-tukaran senapan Garrand kami. Senapan yang bersih pada saya bisa jadi kotor pada siswa lain. Tiap kali gerakan regu atau peleton, saya selalu diberi tugas Danru atau Danton. Aneh!

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Selama latihan ada peristiwa penting yang erat berhubungan dengan pendidikan Pacad kami : Pertama, Deklarasi Tri Komando Rakyat (Trikora) di Yogya tanggal 19 Desember 1961 oleh Presiden Republik Indonesia, Bung Karno. Sikap para siswa Pacad masih tetap sama, tidak mungkin perang! Bagaimana mungkin perang?Bagaimana cara perangnya? Perangkan harus ke Irian Barat, bagaimana caranya? Jadi Pacad ini lebih bertujuan untuk mewamilkan para dokter muda, dan dikirm ke daerah secara setengah paksa. Kalau toh akan perang, pasti dokter-dokter ditempatkan digaris belakang. Kan dokter itu mahal, tidak mungkin secara gampang menjadi umpan peluru. Begitulah logika para siswa Pacad. Tenang-tengan saja!

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Macam-macam cerita beredar, entah mana yang benar,tapi semua pada menyalahkan AURI mengapa tidak bereaksi ketika kelompok MTB itu diserang oleh Frigat-Frigat, Neptune AL Belanda yang telah menunggu selama beberapa hari. Konon KSAL Laksamana RE.Martadinata, sangat marah dan dalam rapat dengan Bung Karno menuntut mundurnya Suryadharma sebagai KSAU. Tanda tanya makin bertambah karena beberapa hari kemudian di bulan Januari yang sama helikopter yang ditumpangi oleh KSAL Laksamana RE.Martadinata, jatuh di Gn.Riung Puncak, Jawa Barat. Semua kejadian itu simpang siur. Ada apa ditubuh tentara kita? Masalah agak terkuak ketika KSAU Suryadharma digantikan oleh Omar Dhani. Ada yang tidak beres dalam tentara kita, tapi itu bukan urusan siswa Pacad Kesehatan. Sampai sekarang pun misteri 15 Januari 1962 tidak pernah terungkap dengan benar.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Akhir Maret atau awal April, Lettu dr. Goh Hoh Sang, Lettu dr.Djatmiko, Lettu dr. Asril Aini, Lettu dr. Rudy Pattiatta, dan saya Lettu dr. Ben Mboi dipanggil oleh Aspers Kessad, Letkol Dr. Soeparto. “ Saudara-saudara terpilih untuk menjadi dokter paratropper pertama. Seterusnya saudara-saudara diperintahkan ke Margahayu dan Batujajar untuk menjalani latihan terjun payung”. Bersama dengan kami berlima, juga ada satu Batalion Raiders ikut berlatih, entah dari Batalion Raiders mana. Pada hari penerjunan kedua, terjadi kecelakaan payung terjun yang kami saksikan untuk pertama kali. Parasut seorang prajurit Raiders gagal terbuka. Dia free fall beneran setinggi 700 meter. Kakinya sampai masuk kedalam tubuhnya. Komandan dari latihan di Batujajar mengumpulkan kami semua dan seluruh anggota Raiders. “Hari ini latihan dihentikan. Siapa yang ingin mundur pada saat ini silahkan mundur!” Kmai semua tidak ada yang mau mundur. Kami semua siap meneruskan latihan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Dalam hati saya sudah mau pergi mati masih menghadapi birokrasi berbelit-belit. Kapten ini tidak mengerti semangat yang ada dalam jiwa saya. Saya ragu apakah dia pernah mengalami perjuangan dan perang beneran. Saya tidak mau berdebat lagi. Ketika kemudian hari saya pulang dari Irian Barat, selesai Trikora, saya temukan satu telegram yang dikirim pada November 1962, menjelaskan bahwa saya dimilsukkan dan dapat pangkat Kapten. Terus terang, pada sata pendaftaran Pacad, sebenarnya saya berstatus pegawai negeri golongan F-II dengan ikatan dinas lima tahun.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Perlengkapan farmasi dan kedokteran semuanya tidak kurang dari satu pluzak ditambah satu tumpuk stensilan tentang flora dan fauna Irian Barat, berisi info tentang tumbuhan dan binatang bermanfaat maupun beracun dalam bahasa lokal, Indonesia, dan Latin. Yang paling mengerikan adalah tiga jenis Ular Papua berbisa yang sangat mematikan. Terkenal dengan nama The Back Papuan Snakes . Celakanya, serum anti bisa ular buatan Kimia Farma tidak mempan. Harus diimport dari Australia. Bagaimana mendapatkannya? Tapi toh serum anti bisa buatan Kimia Farma tetaplah dibawa. Namun, ironisnya lagi, tidak ada ice box untuk serum!. Maka saya katakan, “Ini lebih sebagai berjuang dan berperang.: Sayarat-syarat teknis untuk berperang jauh dari cukup.”

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Perang! Jelas 1000 kali lebih dahsyat! Jadi keberanian di depan Letkol Soeparto itu kadang-kadang diganti oleh ketakutan dan keraguan. Tapi tekad untuk menunjukkan naluri bela negara sentiasa membangkitlan lagi keberanian. Jadi ketakutan dan keberanian silih berganti. Pukul 10 malam jamuan bubar. Saya anggap acara tumpengan tadi seperti mohon doa restu dan berkat Tuhan Allah bagi perjuangan yang akan saya tempuh sebentar lagi. Saya pulang ke asrama RSPAD dengan keyakinan pomimpin kesehatan AD mendoakan operasi ini, apapun namanya.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kapten Benny masih bujangan, jadi kami diurus oleh ajudannya. Makan malam biasa-biasa saja, dan saya seperti tidak punya nafsu makan. Sesudah makan langsung tidur, tetapi saya sulit tidur. Muncul macam-macam pikiran yang membuat mata terus terbuka, menerawang. Kalau kita menonton filem-filem perang, seperti filem D Day Normandia, kadang-kadang akan kita rasakan ketegangan para prajurit paratrooper dalam landing boat ke pantai. Tapi perasaan itu tidaklah sama dengan perasaan kalau kita sendiri yang harus menghadapi pertempuran.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pergi menuju perang rill seperti Operasi Naga, seolah kita tidak tahu hendak pergi kemana meski pertempurannya pasti. Kita tidak tahu apakah akan terluka atau tidak, akan hidup atau tidak, akan pulang atau tidak, dan katanya hutan belantara dirimba Papua luar biasa lebatnya. Siapa yang tidak takut? Belum lagi binatang buas, dan saya harus menolong/menyembuhkan para prajurit komando itu. Saya sendiripun baru lulus sekolah kedokteran dan Perwira Cadangan AD. Pikiran-pikiran berkecamuk dan saya pun tertidur.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Briefing kedua diberikan oleh Komandan Gugus Tugas Operasi Naga, Kapten Inf. Benny Moerdani. Briefing nya lebih detail, disertai dengan peta Irian Barat bagian selatan, US Army Map 1937. Saya melihat Kali Maro dan Kali Kumbe. Kami akan diterjunkan disebelah timur Kali Maro, lebih kurang 50km di utara kota Merauke. Paling lambat tanggal 1 Juli melakukan konsolidasi disuatu titik, ujung dari suatu jalan setapak yang menjurus kearah timur laut dropping zone . Masing-masing kami diberi buku kecil tentang Irian Barat dengan peta yang besarnya 10x15cm.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kami meneruskan perjalanan menuju tepi barat Kali Maro. Kami kaget bukan main, karena sungai ini begitu lebar, mungkin 2-3 km lebarnya. Diseberang terlihat Kota Merauke. Kalau ingin ke Merauke jelas harus ke hulu sungai dulu, dimana lebar sungai lebih sempit dan ada sedikit belokan agar lebih mudah menyeberang. Dan ketika kami ke hulu, kami meliwati tepi luar areal persawahan yang luas. Kemudian setelah cease-fire kami tahu persawahan itu sebagai Kampung Kuprik, dengan penduduk sebagian besar suku Buton dan Jawa, seperti keluarga La Bulla

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kami menyusuri pinggiran lapangan terbang yang sunyi senyap, tidak ada pesawat, tidak ada kegiatan yang berlebihan. Kami berusaha tetap berjalan dalam hutan. Begitu sore, kira-kira pukul 1700 kami berhenti. Tiba-tiba muncul 3 orang pemuda Papua, pemuda setempat, ngobrol sebentar dengan kami lalu pergi. Segera kami curiga dan mempersiapkan diri seperlunya, mengatur tudut agak berpencar! Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan satu pistol ditangan dalam perang gerilya, dimana orang tidak akan bertanya siapa dokter, siapa bukan, melainkan tembak saja.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kira-kira pukul 8 malam mulailah tembakan pertama ke arah kami, disusul rentettan semakin lama semakin gencar. Pertempuran real pertama saya meletus. Berlangsung kira-kira satu jam, namun secara mendadak berhenti. Pagi-pagi 24 Juli terjadi tembakan pancingan lagi kearah kami, pertempuran dilanjutkan sebelum kami sempat konsolidasi. Pertempuran berlangsung sengit kira-kira setengah jam, berhenti setelah terdengar jeritan kesakitan seorang pasukan Belanda yang terkena tembakan. Pasukan Belanda dengan terburu-buru mundur, sambil menyeret anggota pasukannya yang terluka tadi. Dna kami berkumpul.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sambil beristirahat setelah bergabung dengan Raiders 530, kami masih menunggu Bintara Kesehatan Serma Teguh Sutarmin yang mulai hari pertama tidak kami ketahui nasibnya bagaimana selama 3 hari. Mencarinya sekitar dropping zone dengan menggunakan kode pencarian kami, tapi tetap saja gagal. Sementara itu ada higgins boat patro l Belanda lewat. Kmai biarkan saja kapal kecil itu lewat, dengan maksud membiarkannya bertemu dengan induk pasukan kami yang lebih besar. Dan benar saja, pada siang hari setelah 3 hari penerjunan, terjadi kontak senjata dengan pasukan RPKAD yang ternyata terjun lebih jauh ke hulu sungai.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Ditengah hari yang sama, datang speed boat dengan penumpang seorang Sersan intel dari induk pasukan untuk menjemput saya dan Kapten Bambang Soepeno terlebih dahulu, ke markas gerilya Operasi Naga di Kuprik. Anda harus bayangkan wajah saya yang kurus dan berjenggot lebat, berat badan 62kg waktu berangkat, kini tinggal sekitar 50kg. Sepatu terjun saya robek-robek. Di jetti dipinggir Sungai Maro, berdiri Kapten Inf. Benny Moerdani, Komandan Operasi Naga memanti saya dan Kapten Bambang Soepeno. Kami berpelukan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Perang telah usai! Apa operasi Naga menang? Benar secara taktis inisiatif perang ada ditangan Belanda, tetapi Operasi Naga berhasil mencegah pembentukan Negara Papua. Setelah berkumpul dengan induk pasukan di Kuprik, Merauke, kami ketahui bahwa pada malam sebelum penandatanganan Bunker Agreement , TNI masih menerjunkan pasukan lagi, kurang lebih 1.300 prajurit, di Merauke ditambah 1 Kompi PGT AURI dibawah pimpinan Letnan Satu Pas.Mattitaputy. Alasan penerjunan tambahan, karena dari pengalaman revolusi fisik dulu Belanda selalu ingkar janji. Dengan tambahan ini maka seluruh kekuatan TNI yang diterjunkan di Bumi Irian Barat berjumlah sekitar 2.100 personil.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Setelah seluruh pasukan terkumpul di Kuprik, Merauke, saya diperintahkan untuk memimpin pengambilan jenazah-jenazah anggota pasukan yang gugur yang tersebar bersama Letda Soekarso, yang terjun tanggal 15 Agustus malam, dengan dibantu oleh seorang Kopral Marinir Belanda, dan diperbantukan dengan sebuah Jepp. Para prajurit yang gugur ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Merauke. Setelah cease fire baru kami ketahui nasib Serma Kesehatan Teguh Sutarmin. Rupanya dalam penerjunan dia tersesat, berjalan memasuki perkampungan penduduk, dan dibunuh oleh orang-orang kampung disitu.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Korban Operasi Naga sendiri adalah 36 orang gugur, termasuk Serma Teguh Sutarmin, missing in action (MIA) 20 orang, sehingga total 56 orang. Kalau dipresentasekan lebih kurang 25 persen, lebih baik dari perkiraan Panglima tempo hari. Pengorbanan dan penderitaan tidak sia-sia! Semoga tidak disia-siakan. Saya harus mengatakan ini, karena ketika bergabung dengan induk pasukan, saya membawa serta dan menyerahkan dokumen-dokumen dan bendera Bintang Kejora yang kami temukan dalam petualangan kami di dalam hutan. Kesimpulan saya membaca dokumen-dokumen tersebut adalah, adanya suatu kelompok di Irian Barat yang tidak setuju bergabung dengan NKRI, baik atas kemauan sendiri dan/atau hasil politik Belanda dimasa lalu.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Meskipun pihak pasukan Inggris di Sabah sudah berpengalaman dalam perang anti gerilya di Malaya (semenanjung), namun dalam menghadapi gerilya Indonesia ternyata tidak semudah yang disangka. Rebani dan kawan-kawannya dengan perlengkapan seringan mungkin, berhasil menerobos wilayah lawan dan berhasil menghancurkan kesatuan inggris yang ada di Kalabakan, menewaskan 8 orang termasuk seorang Mayor dan 38 serdadu lainnya luka-luka. Merampas 1 bren, 7 SMR, 10 sten gun dan 1 pistol. Kerugian Marinir, gugur 1 orang yakni Prajurit Gabriel.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Tapi berdasarkan beberapa catatan sejarah mengenai perwira-perwira Inggris yang tewas di Malaysia bisa diambil beberapa nama antara lain Mayor RM Haddow, Mayor R.H.D. Norman, dan Mayor H.A.I. Thompson, yang pasti pihak Inggris berusaha menutupi nama perwiranya yang tewas dalam kejadian ini, bahkan pihak inggris pun mengarang cerita kepada pemimpin Malaysia Tunku Abdul Rahman yang mengadakan inspeksi bahwa tentara persemakmuran yang tewas di Kalabakan walaupun kalah memberikan perlawanan yang gigih dan pantang menyerah dimana kenyataannya mereka benar-benar diserang mendadak dalam kondisi santai dan tidak siap atau istilah inggrisnya “caught with their trousers down”. Pemerintah Malaysia membangun monumen untuk menghormati korban mereka yang gugur disana.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pada masa Dwikora Pasukan persemakmuran khususnya Inggris sangat menjaga gengsi dan prestise mereka dimedan tempur, hal ini dilakukan oleh banyak covert operation yang mereka lakukan dimana covert operation ini sampai detik ini masih tergolong classified karena tidak semuanya berjalan mulus seperti yang mereka harapkan, bahkan SOP (Standart Operating Procedure) pasukan persemakmuran saat melakukan patroli dan raid mereka selalu sangat berhati-hati terutama dalam menutupi jejak-jejaknya, pasukan Indonesia banyak belajar mengenai teknik-teknik perang hutan yang sangat lihai diterapkan oleh musuh bahkan mereka tidak pernah meninggalkan korbankorban dari pihak mereka bila terjadi kontak senjata, biasanya acuan bagi pihak Indonesia bila ada korban dari suatu kontak senjata adalah barang-barang atau ransel yang ditinggalkan pemiliknya, hal inilah yang membuat perkiraan terhadap korban pasukan persemakmuran khususnya dari kalangan tentara non-Malaysia sangat sulit karena memang dalam setiap pergerakannya mereka menjaga benar eksistensinya dimedan tempur.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kedua-dua penempatan dipisahkan dalam jarak lebih 400 ela sahaja. Pos Polis yang dipagari dengan dawai berduri mempunyai kekuatan 15 orang anggota, manakala penempatan pasukan tentera tidak pula berpagar. Anggota Platun 1 Kompeni A dan kemudiannya disertai oleh seksyen dari Palatun 10 Kompeni C 3 RAMD ditempatkan di situ. Kawasan perkhemahan ini terletak suatu kawasan lereng tanpa sistem keselamatan serta pertahanan yang lengkap. Ini berlaku kerana ketiadaaan bekalan peralatan walaupun usaha mendapatkannya telah berulangkali dilakukan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Menurut laporan, seramai 130 orang tentera Indonesia daripada pelbagai pasukan bergerak dari Kalimantan menyusup ke kawasan Malaysia pada pertengahan Disember 1963. Pasukan ini singgah di Serudong dalam perjalanan menuju ke Selimpopon dengan melewati Tarakan untuk ke kem balak Teck Guan dekat Kalabakan. Mereka bermalam di situ pada 28 Disember. Mejar Zainol Abidin bersama dua seksyen dari Kompeni C digerakkan ke penempatan Platun 1 Kompeni A di Kalabakan pada 29 Disember bagi memperkuatkan subunit berkenaan. Tiga buah kubu, setiap satu untuk tiga orang, dibina untuk tujuan pertahanan, Kubu berkenaan terletak di kiri dan kanan serta di Sebelah kanan belakang rumah atap dan digunakan untuk menempatkan senjata RISLB. Rumah berkenaan diberikan oleh Mr. Ress Pengurus Bombay Burma Timber Company Limited.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Tidak lama selepas itu satu tembakan kedengaran memecah keheningan malam dan kemudiannya diikuti pula oleh tembakan yang bertubi-tubi. Ketika saya dan sebilangan anggota keluar dari rumah untuk ‘stand to’, anggota TNI telah pun mula melepaskan tembakan dan melemparkan bom tangan ke kedudukan kami, cerita Lettenan Kolonel (bersara) Raja Shaharudin. Semua anggota bertempiaran keluar dari rumah mencari perlindungan. Sarjan Abdul Aziz berjaya menerjunkan diri ke dalam kubu dan berada bersama ketua platun serta dua anggota lagi. Kami membalas tembakan dan turut melontarkan bom tangan ke arah anggota TNI, saya kemudiannya memerintahkan anggota agar mengambil perlindungan dan tidak melepaskan tembakan kecuali mereka melihat anggota TNI.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Tembak-menembak berhenti kira-kira pukul 11.00 malam, terang Leftenan Kolonel (Bersara) Raja Shaharudin. Mr. Ress, besama seorang lalaki datang menemui Leftenan Muda Raja Shaharudin sejurus selepas pertempuran berhenti. Pada lebih kurang pukul 3.30 pagi 30 Disember 1963 satu platun bantuan yang diketuai oleh Leftenan Muda Wan Nordin bnin Wan Mohammad (12176) sampai ke lokasi platun di Kalabakan. Anggotanya diarah mengumpulkan anggota yang terkorban dan tercedera sambil memberikan rawatan sekadar terdaya. Apabila matahari pagi 30 Disember 1963 mula menampakkan sinarnya, anggota mula melakukan penggeledahan kawasan secara terperinci bagi mengumpul mayat dan anggota yang tercedera untuk dimaklumkan kepada markas batalion. Lapan anggota termasuk ketua kompeni disahkan terkorban, manakala 18 anggota lagi tercedera.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sebelum itu, saya telahpun menahan seorang lelaki yang saya jumpai berjalan di hadapan pejabat Burma Timber Company pada pukul 4.oo pagi itu. Sebuah helikopter tiba ke tempat kejadian pada pukul 11.00 pagi dan 30 Disember bagi mengeluarkan anggota yang tercedera dan terkorban. Anggota tercedera diterbangkan ke Hospital Tawau, manakala yang terkorban diterbangkan pula dari Tawau ke Labuan dengan Pesawat Dakota. Pesawat Dakota sampai ke Labuan pada waktu malam. Penduduk tempatan di Labuan telah membantu memandi dan menyempurnakan jenazah sebelum jenazah diterbangkan balik ke Semenangjung keesokan paginya. Ketibaan jenazah di Lapangan Terbang sungai Besi disambut oleh para Menteri Kabinet dan Pegawai tinggi Tentera juga para pembesar negara. Dari Kuala Lumpur jenazah dibawa pula ke kampung halaman masing-masing untuk dikebumikan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pasukan 1/10 Gurkha pimpinan Lieutenant Colonel Burnett dikejarkan ke Kalabakan bagi membantu 3 RAMD membuat penggeledahan Kalabakan. Berikutan itu, pada 12 Januari 1964, seramai 22 orang Tentera Indonesia berjaya dibunuh disamping banyak yang telah ditangkap. Batalion ini berjaya menangkap 3 orang anggota TNI. Walaupun bilangan yang ditawan itu agak kecil jumlahnya, tetapi ia telah membantu pasukan dalam operasi selepas itu. Beberapa kawasan di Tawau telah diisytiharkan sebagai kawasan terhad bagi memudahkan operasi pasukan keselamatan. Pada 27 Januari, satu kumpulan ronda dari Kompeni B di bawah pimpinan Leftenan Muda Ishar bin Sham (12221) menjumpai satu perkhemahan anggota TNI dan pertempuran berlaku. Seorang anggota TNI berjaya dibunuh, dua pucuk senapang, 12 butir bom tangan dan sejumlah peluru berjaya dijumpai.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Platun 6 di bawah pimpinan Leftenan Muda Abdul Aziz bin Shaari (12178) ketika membuat serang hendap di Merotai Estet pada 28 Januari berjaya membunuh tiga orang anggota TNI, selepas mengalami satu pertempuran sengit dengan mereka. Sehingga 10 Februari, seramai 29 anggota TNI berjaya dibunuh, 33 ditawan, manakala 22 menyerah diri. Selain itu, operasi di Pulau Sebatik terus dilakukan. Pada 25 Januari, Presiden Soekarno bersetuju mengisytiharkan gencatan senjata. Walau bagaimanapun, anggota pasukan Keselamatan diperingatkan agar bersiap sedia menghadapi sebarang kemungkinan. Pemberhentian pertempuran telah dipersetujui di majlis perdamaian yang diadakan di Bangkok antara Malaysia dan Indonesia. Ketika operasi Malaysia secara haram.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Oleh kerana kegagalan persidangan damai di Bangkok, keadaan menjadi tegang semula dan perhatian penuh mula ditumpukan semula di perbatasan. Penyusupan dan tembakan anggota TNI di Pulau Sebatik menyebabkan Kompeni A dihantar membantu Kompeni C di situ. Kampung Sungai limau merupakan salah satu tempat yang menjadi pusat pergerakan anggota TNI. Pada 19 April seorang anggota TNI berjaya dibunuh oleh satu seksyen yang membuat serang hendap. Penyusup telah cuba menawan kedudukan satu platun yang ditugaskan di situ pada 20 April, tetapi gagal kerana platun terlibat telah membuat pertahanan yang teguh di kedudukan mereka.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Batalion kemudiannya kembali semula ke Alor Setar selepas lebih kurang lima bulan berkhidmat di Sabah. Sebagai penghargaan terhadap perkhidmatan cemerlang batalion ketika konfrontasi dua warga 3 RAMD, Pegawai Waran Dua Awaludin dan Prebet Mohamed Nafiah dikurniakan kepujian Perutusan Keberanian (KPK) sepanjang penglibatannya dalam era konftontasi, 3 RAMD, beroperasi dua kali di Tawau dan sekali di Sibu. Seramai lapan warganya terkorban, manakala 18 mengalami kecederaan. Dalam operasi bersama 1/10 Gurkha dan Trup 2 Peninjau sekitar Tawau, seramai 29 TNI berjaya dibunuh, 33 orang ditawan, manakala 22 lagi menyerah diri

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pasukan ini berangkat dengan pesawat pada bulan Desember 1962, dan berada di medan tugas selama delapan bulan di bawah UNOC (United Nations Operation in the Congo). Mereka di tempatkan di Albertville. Di tempat ini telah disiapkan satu kekuatan pasukan besar, yang terdiri dari 2 batalyon kavaleri. Sedangkan Batalyon Arhanud di tempatkan di Elizabethville, yang menjadi wilayah kekuasaan tiga kelompok milisi yang ingin memisahkan diri, di bawah pimpinan Moises Tsommbe dari pemerintah Republik Demokratik Kongo pimpinan Presiden Kasavubu.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Daerah ini terkenal dengan kekayaan mineralnya. Sempat terjadi beberapa pertempuran sengit antara pasukan PBB dari India melawan kelompok-kelompok pemberontak tersebut. Disini interaksi antara pasukan Garuda III dengan pasukan PBB lainnya sangat erat. Mereka terdiri dari pasukan Filipina, India, bahkan Malaysia. Walaupun ditanah air konfrontasi Ganyang malaysia dikumandangkan, interaksi persahabatan antara Garuda III dengan Malaysia tetap terjalin erat. Tanpa sedikit pun permusuhan (profesionalitas personel Garuda III).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pasukan Garuda III mengajarkan bagaimana cara mengolah masakan Indonesia, membuat kue, serta menyayur daun singkong sehingga enak dimakan. Padahal mereka mengetahui memasak singkong hanyalah untuk makanan inti dengan cara dibusukkan, dikeringkan, ditumbuk jadi tepung baru dapat dimasak. Dengan adanya interaksi dan hubungan dengan penduduk setempat, maka semua program yang direncanakan berjalan dengan baik. Penduduk setempat menaruh simpati pada program yang dicanangkan, misalkan melakukan tindakan pengamanan daerah setempat dari pengacau. Dengan spontan tanpa di perintah, masyarakat memberitahukan kepada personel Garuda III, bila akan ada serangan yang di lancarkan oleh gerombolan pengacau.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Suatu hari terjadi serangan mendadak ke markas Garuda III. Pertempuran dan tembak menembak terjadi dari jam 12.00 malam hingga dinihari. Markas Garuda III terkepung dengan rapat. Semua personel merapatkan barisan, berusaha menangkis serangan tersebut. Menurut Informasi Intelijen, serangan dilakukan oleh sekitar 2000 pengacau, hasil gabungan 3 kelompok pemberontak. Sedangkan markas komando Garuda III dipertahankan sekitar 300an personel, 40 persen dari seluruh kekuatan Garuda III di Kongo. Tidak ada korban jiwa dari Garuda III, hanya beberapa yang cedera ringan dan langsung ditangani tim medis lapangan. Menjelang subuh, gerombolan pengacau mengendurkan serangan kemudian menarik diri ke basis mereka di wilayah gurun pasir yang membentang gersang.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Hasil konsolidasi pasukan, maka di bentuk tim berkekuatan 30 orang personel RPKAD sebagai tim bayangan sekaligus tim terdepan untuk pengejaran hingga ke markas pemberontak sekalipun. Mereka bergerak cepat pada jam 06.00 waktu setempat, dengan perlengkapan garis 1 untuk pengejaran. Semangat tinggi dan berkobar terlihat jelas di wajah-wajah mereka yang terpilih. Iringan doa rekan-rekan di markas, juga dari pasukan PBB lain, mengiring langkah kaki mereka. Menuju kawasan “no mand land” -wilayah tak bertuan-, yang menjadi daerah kekuasaan pemberontak, sekaligus juga merupakan daerah terlarang untuk pasukan PBB. Di kawasan itu, 2 kompi plus Pasukan India pernah di bantai tanpa tersisa.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Pasukan ini di pimpin seorang Kapten dengan dibantu 5 orang Letnan. Dengan penyamaran layaknya kumpulan suku pengembara, mereka bergerak dalam 3 kelompok yang saling berkomunikasi, tidak lupa kambing, sapi, bakul sayuran di bawa bersama untuk penyamaran. Badan dan wajah di gosok arang sehingga hitam dan menyerupai penduduk asli tempatan, ada juga personel yang berpakaian wanita dan menjunjung bakul sayuran daun singkong. Mereka bergerak melambung melalui pinggiran danau, melewati “no mand land” tujuan akhir.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Data intelijen yang didapat mengatakan kekuatan musuh diperkirakan 3000an bersenjatakan campuran termasuk RPG/Bazooka dan beberapa tank, panzer, bisa dimaklumi sebab ini markas mereka, tentara lain belum memasuki wilayah yang dijaga ketat tersebut. Memasuki senja, personel bermalam dipinggiran danau sambil mengatur strategi penyerangan. Dikejauhan terlihat kerlip lampu-lampu dari markas pemberontak. Menurut data intelijen lagi, suku-suku di kongo, termasuk pemberontak sangat takut akan Hantu Putih (sosok berpakaian putih yang berbau bawang putih). Nah, disinilah strategi penyamaran diubah. Dibalik pakaian loreng darah mengalir mereka, terbungkus jubah putih yang menggerbang ditiup angin danau. Sambil tidak lupa dengan rantai bawang putih yang baunya harum semerbak.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Persiapan penyerangan dari danau dengan menggunakan kapal yang dicat hitam-hitam pun dipersiapkan. Menunggu jam 12.00 tengah malam. Isyarat serangan pun diberikan oleh sang komandan. Dengan gesit, ke 30 orang personel RPKAD mengambil posisi masing-masing. Penyerangan tepat di mulai jam12.00 tengah malam, dengan kapal yang di digelapkan warnanya di atas Danau Tanganyika, tidak berapa jauh dari daerah “no mand land.” Ke 30 personel yang menyamar menjadi “Hantu Putih” ini (atau lebih dikenal masyarakat dengan sprititesses), berhamburan keluar dari dalam kapal, mendobrak pos penjagaan terdepan pemberontak. Para pemberontak yang sangat percaya akan keberadaan Hantu putih ini, kaget, terpana dan ketakutan melihat kelebatan bayangan putih melayang-layang disekitar mereka (jubah putih yang diikat kayu dan tertiup angin) sambil melepaskan rentetan tembakan yang riuh rendah.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Ternyata semangat melawan pemberontak hilang sama sekali, mereka percaya bahwa mereka berhadapan dengan hantu, bukan manusia biasa. Ketika akan didekati, para pemberontak yang disergap itu terkejut, secara reflek melemparkan ayam yang sedang dibakarnya tepat mengenai anggota pasukan Garuda III. Hanya sekitar setengah jam, markas pemberontak dapat di kuasai, Ribuan pemberontak beserta keluarganya menyerah, puluhan yang lain tewas dan luka-luka, sedangkan dipihak RPKAD cedera 1 orang, terkena pecahan proyektil RPG. Dengan sigap, tawanan dikumpulkan. Tidak lama kemudian, bantuan dari pasukan di markas pun tiba, beserta pasukan PBB yang lain dari India, Malaysia, Filipina.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Sejak itu, anggota Garuda III di kenal oleh orang-orang Kongo dengan julukan Les Spiritesses, pasukan yang berperang dengan cara yang tidak biasa dilakukan orang !!. Bisa dibayangkan, dengan hanya berkekuatan 30 orang bisa menawan sekitar 3000an pemberontak bersenjata lengkap!!! Keesokan harinya, pimpinan operasi dan Komandan Garuda III dipanggil menghadap oleh Panglima Pasukan PBB di Kongo, Letnan Jenderal Kadebe Ngeso dari Ethopia. Ia mengatakan bangga dan takjub atas keberhasilan RPKAD Garuda III menawan basis terbesar pemberontak dan 3000an lainnya tanpa jatuh korban. Namun ia kecewa. Tentara Indonesia katanya tidak bertanggungjawab, irresponsible terhadap pemberontak yang ditawan itu. Kenapa sampai dikatakan irresponsible?. Biasanya, standar operasi tentara, jika musuh berkekuatan 3000 orang, harus disergap dengan kekuatan 3 kali lipat, yaitu 9000 personel. Nah, jika 3000 orang musuh dihadapi hanya dengan kekuatan 30 sampai 50 orang, itu namanya irresponsible dan tidak masuk akal. Mustahil dan nekad!! Bagaimana seandainya para pemberontak tersebut melawan? dan ada yang membocorkan taktik Hantu Putih tersebut? tanya panglima PBB di Kongo.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Apapun, sanjungan dan pujian, serta decak kagum tetap di lontarkan, dan strategi penyerangan ini sampai sekarang masih menjadi legenda Misi Pasukan Perdamaian PBB. Mungkin kisah ini banyak yang tidak tahu, terutama masyarakat tanah air sendiri. Yang jelas, ini sudah bukti nyata keberhasilan anak-anak bangsa kita mengharumkan nama Indonesia, RPKAD khususnya di seantero dunia. Jelas cara taktik, muslihat, strategi serangan ini menjadi bahan penyelidikan Pasukan PBB lainnya, dan tentu saja menjadi legenda hingga sekarang

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Namun akhirnya Suharto membangun kubu sendiri ,kubu ini terbentuk setelah kepercayaan Amerika serikat kepada Kubu Nasution sudah  mulai luntur, ini disebabkan  fungsi nasution terhadap Pemberontakan PRRI Permesta, Kampanya Pembebasan Irian barat dan Zslogan Gnyang Malaysia tidak efektif , Tiga hal ini membuat kepentingan Ameriak Serikat di Indonesia khusus  Asia tenggara terganggu.sehngga AS tidak akrab lagi dengan Nasution.dari perspektif AS pada mulanya perlu untuk mengimbangi kebijkan Sukarno yang centrung lunak kepada PKI.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Awal januari 1965, dikantor kedutaan Besar RI Di Beograd Yugoslavia datang sepucuk surat yang ditujukan kepada Duta besar Yugoslavia, Yoga sugoma (kelak jadi BAKIN), pengirimnya Pangkostrad Suharto isinya Yoga sugomo ditawarkan untuk pulang ke Jakarta  dengan jabatan baru kepala Intelijen Kostrad. Tawan ini menarik karena itu pada tanggal 5 Februari 1965 Yoga sudah tiba di jkarta  langsung menghadap Pangkostrad dirumahnya jalan haji Agus salim ,mereka bermusyawarah dan itulah awalnya terbentuk kubu Suharto.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Kesimpulan diambil karena saat Suharto dan komplotnya mengadakan KUDETa 3 juli 1946,namun gagal, Suharto berbalik arah mengkhiananti komplotnya sendiri.Suharto mennagkap komplot tersebut dengan dalih mengamankan Negara.Kudeta ini dipimpin oleh Tan Malaka  dari partai MURBA ,Tan Malaka mengajak Militer Jawa tengah termasuk Suharto  yang akan digulingkan Perdana menteri St Sjahrir, awalnya 20 Juni 1946  PM Syahril dan kawan-kawnnya diculik di Surakarta,penculiknya komplot militer dibawah komando divisi III yang dipimpin Sudarsono, Suharto selaku salah seorang Komandan militer terlibat dalam penculikan.

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Mereka akhirnya menjadi inti pasukan Paraku dalam rangka gerakan Ganyang Malaysia (Dwikora) oleh presiden Indonesia saat itu, yaitu Soekarno . Partai NKCP mempropagandakan penyatuan seluruh wilayah Kalimantan yang berada di bawah kekuasaan Inggris untuk membentuk negara merdeka Kalimantan Utara. Ide tersebut awalnya diajukan oleh Azahari , ketua Partai Rakyat Brunei , yang memiliki hubungan dengan gerakan nasionalisme yang dicetuskan oleh Soekarno , bersama dengan Ahmad Zaidi di Jawa pada tahun 1940an. [3] [1]

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Di daerah lain, seperti di PTM, Singapura , dan Serawak , ada beberapa partai politik yang juga tidak menyetujui pembentukan. Pemerintah Indonesia yang awalnya mendukung pembentukan Federasi Malaysia, menjadi berbalik arah setelah Azahari memproklamirkan pembentukan NNKU. Presiden Soekarno mengakui bahwa ia menerima pembentukan Malaysia ketika gagasan tersebut diperkenalkan pada 1961, tetapi revolusi anti-Malaysia di Brunei tahun 1962 tidak memberinya pilihan lain selain membantu Brunei, sebab Soekarno percaya bahwa setiap rakyat berhak menentukan nasibnya sendiri. [2]

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Ide tersebut muncul sebagai sebuah alternatif bagi penduduk setempat untuk melawan rencana Malaysia. Perlawanan penduduk lokal berdasarkan perbedaan ekonomi, politik, sejarah, dan budaya antara penduduk Kalimantan dengan Federasi Malaya , disamping juga mereka menolak didominasi secara politik oleh federasi tersebut. Sebagai hasil Pemberontakan Brunei , diperkirakan sebanyak ribuan masyarakat China penganut paham komunis lari meninggalkan Sarawak . Pasukan yang masih bertahan di sana dikenal sebagai Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS).

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Bung Karno , Presiden Indonesia saat itu, terkenal sangat anti imperialisme dan menganggap Federasi Malaysia tidak lebih dari sekedar produk imperialis Inggris untuk mempertahankan eksistensinya di Asia Tenggara serta mengganggu jalannya revolusi Indonesia. Hal tersebut menjadi alasan Bung Karno untuk menyerukan penghancuran ‘negara boneka’ Malaysia tersebut, dikenal dengan istilah Ganyang Malaysia . Pemerintahan Bung Karno mengikutsertakan sebagian rakyat Kalimantan Utara yang juga menolak pembentukan Federasi itu. [1]

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Menurut buku sejarah Kodam XII/Tanjungpura, Tandjungpura Berdjuang , sikap Indonesia yang menentang pembentukan Malaysia berhubungan dengan politik luar negerinya yang anti kolonialisme dan imperialisme dalam segala bentuknya. Indonesia menganggap pembentukan Malaysia hanya kedok dari Inggris dan sekutunya untuk tetap berkuasa di Asia Tenggara dalam bentuk neo-kolonialisme, dan kemudian mengepung Indonesia. Menurut M.C. Ricklefs, banyak pemimpin Indonesia menganggap Malaya (PTM) tidak benar-benar merdeka karena tidak terjadi suatu revolusi. Mereka merasa tidak senang dengan keberhasilan Malaya di bidang ekonomi, merasa curiga dengan tetap hadirnya Inggris di sana dengan pangkalan-pangkalan militernya, dan merasa tersinggung karena Malaya dan Singapura membantu PRRI. Selain itu dapat pula ditambah alasan adanya keinginan agar Indonesia memainkan peran yang lebih besar di dalam masalah-masalah Asia Tenggara. Hal serupa dikemukakan Hilsman dalam bukunya To Move a Nation seperti yang dikutip dari Cold War Shadow : [2]

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Soebandrio bertemu dengan sekelompok pemimpin , hampir 900 orang Tionghoa Kalimantan Utara berkenan pindah ke daerah Kalimantan Barat untuk diberi pelatihan kemiliteran dan dipersenjatai olehmereka di Bogor , dan Nasution mengirim tiga pelatih dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Batalion 2 ke Nangabadan yang dekat dengan perbatasan Serawak. Di sana terdapat sekitar 300 orang prajurit yang akan dilatih. Sekitar 3 bulan kemudian, dua letnan dikirim ke sana. [4]

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Reaksi Indonesia menentang pembentukan Malaysia mendapat dukungan besar dari rakyat Indonesia. PKI mengecam rencana “Malaysia” sebagai ”usaha neo-kolonialis untuk mencegah masyarakat dari koloni-koloni Inggris untuk memperoleh ‘kemerdekaan nasional yang sebenarnya dan kebebasan dari imperialisme’”. Angkatan Darat mendukung sikap Presiden Soekarno , tapi dalam kasus akan munculnya bahaya komunisme yang lebih kuat. ”Pasukan khawatir berdasarkan populasi China pada federasi tersebut, Malaysia akan menjadi batu loncatan bagi Komunis China untuk masuk ke Indonesia melalui perbatasan Indonesia-Malaysia”. [2]

seperti di kutip dari https://driwancybermuseum.wordpress.com

Berdirinya Negara Kalimantan Utara mengakibatkan Partai Komunis Sarawak mendapat tekanan dari penguasa. Sejalan dengan kebijaksanaan politik Indonesia masa itu, pemimpin-pemimpin komunis dari Sarawak berpindah ke Kalimantan Barat . Sedangkan RRC ( Republik Rakyat Cina ), dalam rangka menyelamatkan Partai Komunis Sarawak, mengirim Wen Min Tjuen dan Wong Kee Chok ke Kalimantan Barat pada awal tahun 1963. Kedua pemimpin Partai Komunis Cina tersebut menemui Yap Chung Ho, Wong Ho, Liem Yen Hwa, dan Yacob dari Sarawak Advance Youth Association (SAYA) untuk membahas garis perjuangan dari Partai Komunis Sarawak. Azahari dan Abang Kifli dengan Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU)-nya kemudian berhubungan dan bekerja sama dengan mereka.


Baca juga :

Penyerahan tiba-tiba Tentara Kekaisaran Jepang di seluruh Asia Tenggara menempati menciptakan kekosongan kekuasaan dan hiatus untuk calon nasionalis Asia dari Vietnam, ke Malaya, ke Indonesia, bahkan sebelum kembalinya tentara kolonial. Seperti yang disaksikan oleh Elizabeth di masa pasca-menyerah memabukkan, nasionalis Indonesia di sekitar Sukarno memproklamasikan kemerdekaan (17 Agustus 1945), agak anehnya di rumah-Jakarta seorang Admiral Jepang. Sebelum kedatangan kembali pasukan Inggris dan Belanda, unit Jepang menyerah senjata untuk pasukan kemerdekaan. Dalam hal apapun, Elizabeth menyaksikan pemuda Indonesia atau kelompok pro-kemerdekaan pemuda, dengan atau tanpa dukungan dari pembantu heiho Jepang bersenjata, mengambil hukum ke tangan mereka sendiri.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Pada tahun 2008, pada usia 81 tahun, Elizabeth van Kampen menawarkan sebuah refleksi pribadi tentang pengalaman muda nya rentang tahun-tahun hak istimewa sebagai anak tumbuh dalam masyarakat kolonial Belanda, orang-orang dari trauma di penjara Jepang, dan ketidakpastian dari awal Indonesia revolusi 1945. akun luar biasa nya, yang ditulis pertama di Belanda pada tahun 2006, terutama instruktif untuk memihak nya, meskipun sedih, reportase saksi mata, salah satu yang berusaha untuk menemukan baik di tengah-tengah kesulitan dan kekejaman, seperti rekening dari dokter “baik” Jepang yang bertindak untuk menyelamatkan nyawa adiknya dan jenis dan merawat keluarga Jawa yang dilindungi di situasi yang penuh gejolak. Dia juga menceritakan tak dapat dijelaskan, seperti kisah keranjang manusia-babi menakutkan, kejam pemisahan anak laki-laki dari ibu di kamp penjara, dan grotesqueries lebih besar dari kehidupan Kempeitai mana-mana.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Lima puluh tahun setelah perang, Elizabeth kembali ke penjara situs Jawa Timur mencari petunjuk ke makam ayahnya hilang hanya untuk menemukan bahwa Kempeitai telah menghancurkan semua catatan. Dia juga pergi ke Jepang mengunjungi baik simpatisan dan belajar bahwa orang Jepang juga telah menderita dari ekses militeristik. Seperti diuraikan di bawah ini, dia adalah bagian dari kelompok yang tahap demonstrasi berkala di depan Kedutaan Besar Jepang di Belanda mencari pengakuan resmi dari kejahatan perang Jepang yang dilakukan di Hindia Belanda, tidak hanya terhadap orang-orang Belanda, tapi bahasa Indonesia juga.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Pada hari Sabtu tanggal 14 Februari 1942, ayah saya datang untuk menjemput Henny (adikku) dan aku dari-sekolah asrama kami untuk akhir pekan. Kami pergi ke kota di mana kita melakukan belanja untuk ibu saya dan selanjutnya kami pergi ke Javasche Bank. Ketika ayah saya keluar dari bank, kami mendengar dan kemudian melihat pesawat datang ke Jepang. Kali ini mereka mesin-ditembak Malang. Aku melihat dua orang yang bekerja, yang memukul, jatuh dari atap tempat mereka sibuk. Mereka sudah mati, kita melihat mereka berbaring dalam darah mereka di jalan. Aku belum pernah melihat orang mati sebelum, Henny dan aku sangat terkejut. Henny mulai menangis, ayah saya mengajak kami berdua cepat menjauh dari pemandangan yang sangat menyedihkan.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Pada hari Minggu tanggal 15 Februari kami menerima kabar buruk lewat radio bahwa Singapura telah jatuh ke tangan Jepang. Memang, itu hari Minggu sangat sedih. Siapa yang pernah berpikir bahwa Singapura bisa jatuh? Apakah orang Jepang jauh lebih kuat dibanding Sekutu? Dan kemudian terjadi Pertempuran Laut Jawa dari 27 Februari – 1 Maret 1942. Ruyter kapal perang Belanda dan Jawa terkena torpedo Jepang, mereka tenggelam dengan kerugian besar kehidupan. Sekutu kalah perang ini. Tanggal 8 Maret 1942, tentara Belanda di Jawa menyerah kepada tentara Jepang.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Dan kemudian suatu hari pada akhir Oktober 1942, ketika ayah saya dan saya berjalan kembali ke rumah untuk makan siang, kami mendengar banyak suara. Itu adalah suara truk datang ke arah kami ketika kami sedang berjalan di jalan utama. Jadi kita cepat berjalan dari jalan dan bersembunyi di balik semak-semak kopi. Kami melihat lima truk datang dan kami mendengar orang-orang berteriak. Ketika truk berlalu, kami bisa melihat dan mendengar segala sesuatu, terutama karena kami duduk lebih tinggi dari jalan. Apa yang kita lihat datang sebagai kejutan nyata bagi kami berdua.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Kami melihat bahwa platform truk terbuka adalah sarat dengan keranjang bambu, jenis keranjang yang digunakan untuk mengangkut babi. Namun keranjang bambu kami melihat hari yang tidak digunakan untuk babi tapi untuk laki-laki. Mereka berbaring dijejalkan di keranjang tersebut, semua menumpuk 3-4 lapisan keranjang tinggi. pandangan ini sangat mengejutkan kami, namun teriakan semua orang miskin, untuk membantu dan untuk air, dalam bahasa Inggris dan Belanda, terkejut kami bahkan lebih. Aku mendengar ayahku berkata lembut, “Oh, Tuhan?”

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Hanya lama kemudian pada 11 Agustus pada tahun 1990 yang saya baca di koran Belanda, De Telegraaf, bahwa lebih banyak orang melihat apa yang ayah saya dan saya menyaksikan hari itu pada tahun 1942. Orang lain telah melihat banyak orang-orang ini diangkut dalam keranjang bambu tidak hanya dalam truk tetapi juga di kereta. Artikel tersebut mengatakan bahwa laki-laki telah didorong ke keranjang bambu, diangkut, dan kemudian, sementara masih di keranjang tersebut, dilemparkan ke dalam Laut Jawa. Sebagian besar pria di keranjang bambu militer Australia.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Tiba-tiba kami mendengar Pa Min memanggil; “Orang Nippon, Orang Nippon.” (Lit. Jepang). Ayahku berdiri dan pergi ke pintu depan, ibu saya mengambil Jansje sedikit demi tangannya dan mereka pergi ke ruang tamu. Cora pergi ke kamar tidur kami dengan buku, dia sangat takut. Henny dan aku berdiri di belakang rumah dan sehingga kita bisa melihat bahwa ada sekitar enam atau tujuh Jepang militer keluar dari dua mobil. Salah satunya adalah seorang perwira. Langsung mendekati ayah saya, dia mengatakan bahwa anak buahnya telah menerima perintah untuk menggeledah rumah untuk senjata. Ayah saya mengatakan kepadanya bahwa tidak ada senjata tersembunyi di rumah.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Segera itu adalah Tahun Baru. Kami tidak memiliki banyak pengunjung Jepang. Tidak ada Belanda atau Eropa lainnya di luar kamp. Di Malang sudah ada kamp untuk pria disebut Marine Camp. Dan kamp lain, kami diberitahu, yang disebut De Wijk, siap untuk perempuan rumah dan anak-anak. Berjalan-jalan, panjang terakhir melalui perkebunan karet dan hutan, ayah saya dan saya melihat Samudera Hindia. Ayahku menatapku dan berkata, “Aku harus menanyakan sesuatu, Anda hampir 16 jadi anda cukup tua. Saya ingin anda untuk melihat setelah Mama dan saudara anda ketika saya harus pergi Sumber Sewa. Apakah Anda menjanjikan saya bahwa? “Saya membantah, tapi dia bersikeras dan saya setuju.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

“De Wijk” kamp terdiri dari banyak rumah dengan kawat berduri di sekitar dan beberapa penjaga-kotak dengan tentara Jepang atau bahasa Indonesia di sana-sini, untuk menjaga bahwa kita tidak mencoba untuk melarikan diri. Ada sekitar 7.000 perempuan, anak-anak dan beberapa orang ditahan dalam “De Wijk” dari Malang. Orang Jepang disebut kamp kamp perlindungan terhadap masyarakat lokal yang melihat Belanda sebagai “musuh” mereka (musuh). Yang digunakan banyak propaganda Jepang melawan Belanda, Inggris, Australia dan Amerika. Ini bekerja, terutama di kalangan kaum muda Jawa dan Madura lokal di Malang.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

De kamp Wijk berada di tangan warga sipil Jepang, Jepang “ekonom” karena mereka disebut. Itu berarti bahwa tidak ada kebijakan yang terlalu ketat terhadap para tahanan Belanda. Tapi Malang memiliki manajemen Kempeitai sangat ketat dan sangat kejam. Kita semua tahu bahwa kami harus tetap keluar dari tangan Kempeitai terkenal. Kadang-kadang kita mendengar cerita paling mengerikan dari beberapa Indo yang masih di luar kamp. Bahkan penduduk setempat sangat takut dari Kempeitai. Malang menjadi sama sekali berbeda dari kota saya sebelumnya telah dikenal.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Pada bulan November 1943, ibuku pengunjung. Dia datang dengan sepeda dari kamp “Marine” mana ayah saya tinggal. Dia memberitahu ibu saya bahwa dia membawa kabar buruk. Dia telah dikirim oleh militer di kamp laut untuk memberitahu ibu saya bahwa ayah saya telah diambil oleh Kempeitai. Tampaknya bahwa ayahku telah menyembunyikan senjata dan amunisi di Sumber Sewu. Ini adalah mimpi buruk. Apakah ayah saya harus tinggal di penjara Lowok Kempeitai Waryu? Apakah kita pernah akan kembali ke Sumber Sewu? Sayangnya cukup ada rumor benar banyak tentang bagaimana memperlakukan tahanan Kempeitai mereka.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Di stasiun, kami mendorong ke lama dibutakan-kereta api barang, kami harus duduk di lantai kotor, dan tidak ada toilet juga. Tidak ada makanan dan, lebih buruk lagi, tidak ada air untuk minum. Untungnya ibu saya telah mengambil beberapa pisang dan sesuatu untuk minum dengan dia untuk kami berempat. Dia juga telah mengambil toilet-pot dengan dia dan itu sangat membantu untuk beberapa dari kami. anak-anak kecil mulai menangis, terutama ketika kereta masih berdiri (jam terkadang beberapa) dan bahwa sementara matahari bersinar di atap, itu tak tertahankan. Kami tidak tahu di mana kami dibawa, kami tak bisa melihat apa-apa. Perjalanan mengerikan waktu lebih dari 24 jam.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Saat itu di sore hari dari tanggal 14 Februari bahwa kami tiba di stasiun Ambarawa, di Jawa Tengah. Sebuah pengangkutan 680 perempuan Belanda dan anak-anak dari Malang melangkah keluar dari kereta, senang untuk mendapatkan udara segar. Militer Jepang berteriak pada kami, dan yang berteriak diterjemahkan bagi kita dengan penerjemah. Kita semua harus memanjat di truk, menunggu kami di luar stasiun. Semua orang panik tentang koper ibu mereka, saya juga. Dia berharap untuk menemukan empat kami kasur, sehingga setidaknya kita bisa tidur nyenyak malam itu. Tapi kami tidak melihat barang-barang kami sama sekali.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Syukurlah koper-koper kami tiba, jadi kami menemukan beberapa lembar bersih untuk menutupi bau tersebut kasur. Kami berbaring, Henny, ibu saya, Jansje dan aku, kami berempat berdekatan. Kami sangat lapar sekarang dan ketakutan karena Jepang telah melarang pintu lingkungan kami dan yang telah membuat seorang wanita tua, Mrs Schaap menangis. Dia terus berkata bahwa hatinya sakit dan bahwa dia tidak bisa bernapas dengan baik. Kami semua merasa sangat kasihan padanya, tapi kami tidak bisa membantunya. Dia tampak begitu tak berdaya di kasur, wanita miskin.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Akhirnya pintu dibuka dan penduduk setempat, juga tahanan, membawa kita semacam sup dalam tong besar. Semua orang di bangsal 14 mengatakan “selamat malam” satu sama lain, tetapi hampir tidak ada dari kita tidur malam itu. Wanita tua sedang sekarat, dan ia terus menangis dari rasa sakit. Dia meninggal sekitar pukul 5 pagi dan mati adalah wanita pertama di penjara ini. Semuanya begitu sangat sedih, dan membuat kesan mendalam pada Henny dan aku. Aku sudah setengah tertidur ketika Mrs Schaap diambil dari lingkungan kami.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Kita semua usia lima belas dan sampai harus bekerja. Aku sudah hampir 17 tahun jadi aku harus bergabung dengan kelompok pemotong rumput di kamp kami. Itu bukan tapi berat suatu pekerjaan yang sangat melelahkan. Seorang tentara Jepang, Mr Ito, berdiri di sana dengan cambuk di tangannya mengawasi kami. Kami tidak diizinkan untuk berbicara atau untuk duduk di tanah. Kami hanya bisa jongkok di paha kita, dan itu menyakitkan setelah beberapa jam. Pada awalnya kami harus bekerja tiga jam saja, tapi setelah beberapa saat itu menjadi empat sampai lima jam sehari.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Anak-anak usia kami harus melakukan kerja keras di dapur, dan mereka menerima beberapa makanan tambahan. Anak-anak juga harus mengosongkan kotoran-barel, pekerjaan yang sangat kotor. Anak-anak harus mengosongkan selokan yang berasal dari toilet menjadi mereka barel kotoran-dan membawa mereka di luar perkemahan. Kemudian, ketika anak laki-laki harus meninggalkan kamp kami, pekerjaan itu diambil alih oleh perempuan muda dan perempuan. Di sore hari “makan siang” kita dan kemudian makan terakhir harian kami “sup pati” dibawa kepada kami oleh anak laki-laki dan dished up oleh salah satu wanita dapur.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Di stasiun, kami mendorong ke lama dibutakan-kereta api barang, kami harus duduk di lantai kotor, dan tidak ada toilet juga. Tidak ada makanan dan, lebih buruk lagi, tidak ada air untuk minum. Untungnya ibu saya telah mengambil beberapa pisang dan sesuatu untuk minum dengan dia untuk kami berempat. Dia juga telah mengambil toilet-pot dengan dia dan itu sangat membantu untuk beberapa dari kami. anak-anak kecil mulai menangis, terutama ketika kereta masih berdiri (jam terkadang beberapa) dan bahwa sementara matahari bersinar di atap, itu tak tertahankan. Kami tidak tahu di mana kami dibawa, kami tak bisa melihat apa-apa. Perjalanan mengerikan waktu lebih dari 24 jam.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Saat itu di sore hari dari tanggal 14 Februari bahwa kami tiba di stasiun Ambarawa, di Jawa Tengah. Sebuah pengangkutan 680 perempuan Belanda dan anak-anak dari Malang melangkah keluar dari kereta, senang untuk mendapatkan udara segar. Militer Jepang berteriak pada kami, dan yang berteriak diterjemahkan bagi kita dengan penerjemah. Kita semua harus memanjat di truk, menunggu kami di luar stasiun. Semua orang panik tentang koper ibu mereka, saya juga. Dia berharap untuk menemukan empat kami kasur, sehingga setidaknya kita bisa tidur nyenyak malam itu. Tapi kami tidak melihat barang-barang kami sama sekali.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Syukurlah koper-koper kami tiba, jadi kami menemukan beberapa lembar bersih untuk menutupi bau tersebut kasur. Kami berbaring, Henny, ibu saya, Jansje dan aku, kami berempat berdekatan. Kami sangat lapar sekarang dan ketakutan karena Jepang telah melarang pintu lingkungan kami dan yang telah membuat seorang wanita tua, Mrs Schaap menangis. Dia terus berkata bahwa hatinya sakit dan bahwa dia tidak bisa bernapas dengan baik. Kami semua merasa sangat kasihan padanya, tapi kami tidak bisa membantunya. Dia tampak begitu tak berdaya di kasur, wanita miskin.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Akhirnya pintu dibuka dan penduduk setempat, juga tahanan, membawa kita semacam sup dalam tong besar. Semua orang di bangsal 14 mengatakan “selamat malam” satu sama lain, tetapi hampir tidak ada dari kita tidur malam itu. Wanita tua sedang sekarat, dan ia terus menangis dari rasa sakit. Dia meninggal sekitar pukul 5 pagi dan mati adalah wanita pertama di penjara ini. Semuanya begitu sangat sedih, dan membuat kesan mendalam pada Henny dan aku. Aku sudah setengah tertidur ketika Mrs Schaap diambil dari lingkungan kami.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Kita semua usia lima belas dan sampai harus bekerja. Aku sudah hampir 17 tahun jadi aku harus bergabung dengan kelompok pemotong rumput di kamp kami. Itu bukan tapi berat suatu pekerjaan yang sangat melelahkan. Seorang tentara Jepang, Mr Ito, berdiri di sana dengan cambuk di tangannya mengawasi kami. Kami tidak diizinkan untuk berbicara atau untuk duduk di tanah. Kami hanya bisa jongkok di paha kita, dan itu menyakitkan setelah beberapa jam. Pada awalnya kami harus bekerja tiga jam saja, tapi setelah beberapa saat itu menjadi empat sampai lima jam sehari.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Anak-anak usia kami harus melakukan kerja keras di dapur, dan mereka menerima beberapa makanan tambahan. Anak-anak juga harus mengosongkan kotoran-barel, pekerjaan yang sangat kotor. Anak-anak harus mengosongkan selokan yang berasal dari toilet menjadi mereka barel kotoran-dan membawa mereka di luar perkemahan. Kemudian, ketika anak laki-laki harus meninggalkan kamp kami, pekerjaan itu diambil alih oleh perempuan muda dan perempuan. Di sore hari “makan siang” kita dan kemudian makan terakhir harian kami “sup pati” dibawa kepada kami oleh anak laki-laki dan dished up oleh salah satu wanita dapur.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Elizabeth menjelaskan bahwa, berbeda dengan kamp laki-laki di mana beberapa jenis indoktrinasi pro-Jepang norma, tidak ada program pendidikan yang sistematis di semua di kamp-kamp perempuan. Bahkan itu dilarang keras untuk mengajar anak-anak. Walaupun perintah itu membentak atau berteriak dalam bahasa Jepang, baik itu adalah para wanita diizinkan untuk belajar bahasa Jepang. “Tidak ada pendidikan sama sekali, hanya kerja keras.” Setiap pagi, bagaimanapun, para tahanan membungkuk mendalam terhadap kaisar di Jepang.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Para perempuan sangat muda yang dibawa pergi oleh Jepang menangis. Ini adalah mimpi buruk nyata, setelah semua kami telah melalui begitu jauh. Ini terlalu mengerikan untuk kata-kata. Ketika kita bisa pergi “rumah” akhirnya, aku menemukan ibuku sangat marah, tapi ia lebih dari senang ketika dia melihat saya datang kembali. Dia begitu takut bahwa Jepang akan membawaku pergi. Dia ingin memberitahu mereka bahwa mereka bisa membawanya bukan aku. Tapi untungnya beberapa yang lain telah diadakan kembali, mengatakan bahwa ia hanya akan memperburuk keadaan. Dan akhirnya aku bisa berbaring. Aku punya demam tinggi waktu itu, tapi aku begitu lelah dan aku tertidur segera. Kemudian saya mendengar bahwa beberapa perempuan muda yang telah diambil harus meninggalkan anak-anak mereka di belakang. Anak-anak dipelihara oleh ibu-ibu lain. Ini adalah mimpi buruk yang nyata!

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Pada tanggal 3 Mei 1945, 600 perempuan dan anak-anak dari kamp Ambarawa 9 tiba di kaki, dan pada tanggal 31 Mei, 350 perempuan dan anak-anak yang datang dari Solo. Hari berikutnya, tanggal 1 Juni, 150 lebih banyak perempuan dan anak-anak tiba dari Solo. Pada tanggal 4 Juni, 21 perempuan dan anak-anak datang dari kamp Ambarawa 6 dan, pada tanggal 3 Juli, 47 datang dari Jawa Barat. Kemudian, pada tanggal 3 Agustus, 50 wanita meninggalkan penjara dan diangkut ke kamp Ambarawa 9 dan pada tanggal 8 Agustus, 2094 perempuan dan anak-anak masuk ke penjara kami. (Data dari Japanse burgerkampen di Nederlands-Indië).

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Ibu dan Henny tampak sakit. Mereka pellagra. Big bintik merah pecah, terutama pada lengan dan kaki, karena kekurangan vitamin. Jansje benar-benar apatis, gadis malang hanya duduk di depan sel kami, menunggu sampai makanan dibawa ke kami. Dan aku telah beri-beri, juga merupakan penyakit kekurangan vitamin. Wajahku dan perut bengkak, penuh dengan air, atau setidaknya itu adalah bagaimana rasanya. Ibu saya kehilangan beberapa giginya, yang memberikan banyak nya masalah, dan tidak ada yang dapat kami lakukan untuk menghentikan ini.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Elizabeth menginformasikan bahwa semua wanita muda dan anak perempuan yang diambil dari kamp-kamp itu dikirim ke Semarang, sebuah kota pelabuhan besar di pantai utara Jawa Tengah, dari mana mereka dikirim ke pelacuran sampai dua bulan pada suatu waktu. Dari pemahamannya, sekitar 200 perempuan Belanda dan gadis dipaksa bekerja sebagai “wanita penghibur,” di samping tentu saja banyak orang Indo, Cina dan perempuan lokal. Salah satu Belanda mantan “wanita penghibur adalah anggota aktif dari Yayasan Utang Kehormatan Jepang, seperti yang dijelaskan di bawah ini.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Tidak lama kemudian, kami diperintahkan untuk tinggal di dalam penjara karena kelompok pemuda, atau pemuda membela Republik Indonesia yang baru diproklamasikan, berusaha untuk membunuh tahanan Belanda, atau jadi kami diberitahu. Dengan Sukarno sekarang Presiden memproklamirkan Republik, pendukungnya antara pemuda dan lain-lain menolak untuk menerima kekuasaan Belanda. Sekali lagi pintu gerbang penjara kami ditutup. Kami sekarang memiliki tentara Jepang melindungi kita melawan nasionalis muda marah. Wanita Jawa yang cantik yang telah begitu baik terhadap, saudara ibu saya dan saya tidak lagi diperkenankan masuk penjara kami, kami merindukannya.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Saya juga mulai khawatir bagaimana ayah saya bisa menemukan kita sekarang bahwa penjara itu terkunci lagi. Tapi kemudian saya melihat beberapa laki-laki Belanda berjalan melalui pintu gerbang dan sehingga aku mengerti bahwa Belanda bebas bisa melakukan perjalanan keliling Jawa untuk melakukan kontak dengan keluarga mereka, meskipun ini sangat beresiko. Saya juga melihat beberapa wanita meninggalkan penjara, mengatakan bahwa mereka akan “pulang,” dan yang terdengar benar-benar baik. Setelah perang kita belajar bahwa ribuan mantan tahanan dibunuh oleh pemuda, bukan tentara reguler dari tentara Indonesia yang baru terbentuk (TNI).

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Aku mulai membantu membersihkan gudang (toko) dimana Jepang telah membuang semua jenis hal. Kami menemukan bahwa ada banyak kotak penuh dengan tablet anti-malaria, kina, dan obat-obatan beberapa yang bisa menyelamatkan kehidupan banyak orang yang mati di penjara ini. Kami benar-benar terkejut, bahkan lebih jadi ketika kami menemukan beberapa kartu yang telah ditulis untuk beberapa wanita tinggal di penjara kami. Bahkan, mereka tidak pernah menerima kartu mereka selama perang. Ini menjijikkan dan sangat sedih.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Menjelang akhir Januari 1945 di Kandy di Ceylon (sekarang Sri Lanka), di mana kita sembuh perjalanan ke Belanda, ibu saya menerima surat dari bibi saya di Belanda menyampaikan berita sedih sedih bahwa dia menemukan nama ayah saya di daftar kematian dari Hindia Belanda Timur. Sekitar tanggal 15 Mei kami berlayar dari Colombo menuju Belanda, sebuah negara yang saya tidak tahu. Setelah kembali ke Belanda, seperti yang saya temukan, tidak semua dibuang untuk menyambut kembali rumah seperti diri kita dari Hindia Belanda. Barulah pada Februari 1947 bahwa ibu saya menerima pemberitahuan resmi dari kematian ayah tercinta saya.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Elizabeth tidak tetap tidak aktif. Justru sebaliknya. Dalam kehidupan selanjutnya, seperti yang disebutkan, ia kembali mengunjungi situs masa kecilnya di Jawa serta menyakitkan, tetapi tidak berhasil mencari informasi tentang keberadaan kuburan ayahnya. Setelah bercakap korespondensi dengan teman-teman pena Jepang, dia juga mengunjungi Jepang untuk pertama kalinya merenungkan kepada masyarakat sesudah perang Jepang dan jenis penderitaan yang biasa Jepang juga mengalami. Meski begitu, sebagai rahasia, dia masih tetap bingung untuk Jepang pasca perang mengingat atau pemahaman tentang konsekuensi penuh dari pendudukan masa perang Hindia Belanda.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Elizabeth van K. Ya seluruh anggota Yayasan adalah korban langsung. Saya tidak tahu berapa banyak yang masih hidup, tapi aku tahu bahwa banyak dari kita telah meninggal selama lima tahun terakhir. Kami memiliki donor yang bukan korban perang, tetapi mereka tentu saja tidak dihitung sebagai korban. Ya, kami memiliki anggota dari Yayasan Indonesia. Mereka adalah dari Maluku. Mereka adalah prajurit dalam tentara Hindia Belanda mantan Timur. Tidak, tidak ada link nyata dengan organisasi Jepang sejauh yang saya tahu. Yayasan tidak pergi untuk PBB di Jenewa sekarang dan kemudian, di mana mereka mendapatkan beberapa menit untuk menceritakan kisah mereka.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Elizabeth van K. Ya, kami memiliki beberapa perempuan Belanda mantan-kenyamanan, sebagai anggota dari Yayasan. Kami Belanda Menteri Luar Negeri, Mr M. Verhagen telah memberikan pidato yang baik. Sementara ia berada di Jepang [ia mengangkat pertanyaan] tentang wanita-wanita miskin dan meminta maaf dan kompensasi bagi para wanita. Orang-orang Belanda pada umumnya tidak benar-benar tertarik dengan apa yang terjadi selama Perang Dunia II di Timur Jauh di mana orang diduduki oleh Jepang. Belanda diduduki oleh Jerman selama lima tahun lama. Musuh Perang Dunia II adalah Jerman di mata Belanda, bukan Jepang.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Jun 1944 – Semua dari seratus tiba-tiba dari kami dikirim ke kamp lain yang disebut “Banjoebiroe”. Kami harus berjalan. Saat itu sekitar 5 kilometer dan membawa kami sekitar tiga jam karena anak-anak, dan kami harus membawa bagasi kita sendiri. ME sangat gembira karena dia tidak melihat apapun di luar perkemahan sebelumnya. Para wanita Indonesia bekerja di sawah dan karena itu begitu jauh, ia memanggil mereka anak-anak kecil. Dia telah lepuh dan jari kakinya berdarah, tetapi tidak air mata atau menangis. Dia tampak tidak merasakannya. Dia yang senang berada di luar perkemahan. Keesokan harinya dia sakit, muntah dan sakit perut. Dia tidak pernah menangis, hanya Askin untuk “Mummy”.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

sarapan kami bubur dari tepung tapioka. Rasanya seperti mangkuk besar jelly dan ME tidak bisa menelannya. roti itu dibuat dari pati. Ini camp kita sekarang dalam adalah sebuah kamp tentara. Itu kamar besar yang bisa muat sekitar 40 wanita dan anak-anak. Ada kamar mandi begitu besar, dan ketika Anda mandi dengan 15 wanita-wanita lain pada saat yang sama, itu sangat memalukan. Itu juga sedih melihat para wanita tua dengan semua kulit mereka menggantung sehingga lepas dari semua penurunan berat badan. Aku kurus sendiri, tapi aku tidak ingin diingatkan kenyataan.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Orang Jepang punya ide. Kami harus mencari siput di halaman belakang besar dan memakannya. Kami mendapat ember penuh dan kami membawa mereka ke dapur, di mana para wanita terbuat dari pure dari mereka. Kami punya satu sendok masing-masing. Aku memberi Mary-em sendok saya karena dia butuh lebih. Dia memiliki mulut penuh luka yang saya dilap dengan yodium. Ini adalah sebuah drama besar tentu saja, karena sakit begitu banyak. Kita semua menggunakan garam dicampur dengan air untuk menyembuhkan luka kita dan itu bekerja dengan baik.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Ada sedikitnya lima kamp-kamp lain di sekitar, dan satu hari seorang wanita telah diselundupkan catatan ke kamp lain. Dia ditemukan keluar, dan kami harus menonton sebagai Jap terayun di sekeliling dan sekitar oleh rambutnya. Beberapa orang lain telah diselundupkan makanan keluar dan mereka tertangkap, dan harus berlutut dengan tongkat bambu di bawah lutut mereka dan tinggal di sana selama berjam-jam. Jika seseorang pingsan, maka seember air akan dilemparkan atas dirinya karena jika salah satu pingsan yang lain akan jatuh juga, karena mereka semua diikat pada bambu satu.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Ada rumor terjadi di sekitar bahwa perang itu segera akan berakhir. Suatu hari orang Jepang mengatakan bahwa kami harus berjalan ke stasiun untuk membawa bagasi perempuan lain yang sedang dipindahkan ke dekat kamp oleh kepada kami. Ida dan aku pergi, sekitar 50 perempuan di semua. Kami berjalan ke stasiun, yang 5 km, dan ketika kereta tiba sekitar 115 perempuan dan anak-anak keluar. Tentu saja kami bertanya ke mana mereka berasal dari. Setelah beberapa minggu melakukan ini saya mulai bertanya setelah ibu saya dan adik. Suatu hari seseorang berseru bahwa mereka tahu ibu saya dan adik, dan bahwa mereka keluar pada transportasi terakhir. Saya sangat senang bahwa akhirnya aku akan melihat mereka lagi, tapi aku jatuh sakit lagi dengan diare dan harus tinggal di tempat tidur. Setiap kali saya bertanya apakah ada yang tahu kapan pengangkutan terakhir datang. Ida kembali suatu hari dan mengatakan kepada saya berikutnya

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Mum hari dan Tiny akan tiba. Jadi aku pergi hari berikutnya tapi kami tidak diperbolehkan untuk bergaul dengan wanita lain. Jadi kami berdiri pada satu sisi stasiun, dan ketika para wanita keluar dari kereta, saya melihat dan melihat, dan tiba-tiba aku melihat mereka dan mulai menelepon mereka. Mereka mendengar saya tapi tidak bisa melihat saya, dan wanita-wanita lain di sekitar saya mulai memanggil juga, “Mum, Tiny!” Dan kemudian mereka melihat saya dan saya tidak bisa pergi ke mereka. Kita semua menangis dan melambaikan tangan sampai tiba waktunya untuk memuat bagasi dan yang lain dibuat Mum yakin dan Tiny berada di kelompok terakhir, jadi kami bisa bicara. Kami menangis tentu saja, dan ketika kami datang ke kamp, ​​Mum memberiku telur dan gula, lalu kami berpisah lagi. Tapi aku tahu di mana mereka, sekitar 10 menit berjalan kaki dari kamp kami.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Pada bulan Agustus hal yang lucu mulai terjadi. Kami tidak perlu bekerja di luar lagi. Desas-desus pergi sekitar bahwa perang sudah berakhir tetapi kami tidak bisa percaya. Kenapa tidak ada yang memberitahu kita itu? Semuanya berkata dengan nada berbisik dan kita melihat Jepang datang dan pergi. Mereka tampaknya menghilang dan itu sangat masih. Dan kemudian, sekitar 6:00 itu datang, kata-kata kami menunggu, perang berakhir. Tidak ada yang melompat-lompat, tidak ada yang mengatakan kepada kami apa yang harus dilakukan. Perempuan dipanggil ke kantor dan mengatakan bahwa suami mereka telah mati, dan mereka kembali menangis. Kemudian, sekitar seminggu kemudian, sebuah daftar panjang telah diposting di luar kantor dengan nama

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Saya meminta izin untuk pergi ke kamp ibuku dan diberitahu oleh kantor itu ada jalan, tapi kemudian seminggu kemudian saya diberitahu aku bisa pergi, dan aku harus pergi dalam waktu dua jam dan mendapatkan diriku di sana. Aku mengemasi barang kami dan setelah waktu yang lama mengemis troli untuk menaruh barang-barang kami, dan setelah semua aku Mary-em juga. Tidak ada yang mengangkat jari untuk membantu saya. Akhirnya, istri menteri mengatakan bahwa dia akan membantu saya mendorong troli, dan begitu saya dengan Mary-em pada satu lengan, saya datang ke perkemahan. Di sana saya menunggu lagi izin masuk ke sana dan saraf saya berada di titik puncaknya. Dan kemudian Mum dan Tiny ada di sana dan mereka telah membantu saya masuk Mereka tidak tahu bahwa saya akan datang, dan sekarang AKU dan aku tidak sendiri lagi.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Dalam waktu singkat orang Indonesia datang untuk menjual sayuran dan daging. Kami tidak melihat daging selama tiga tahun dan kami tidak punya uang, jadi kita bertukar gaun untuk daging dan sebagainya. Mum dan aku keluar dari kamp (yang merupakan bagian dari hari-hari pertama kebebasan) ke desa untuk menjual beberapa gaun. Kami menjual semua yang kami miliki dan pergi dengan gembira kembali ke perkemahan. Yang tidak kami sadari adalah bahwa kita bisa saja ditembak oleh Indonesia. Ada banyak orang Indonesia yang sekarang enemies.We kami mendengar bahwa kamp tua saya di Ambawara telah diserbu oleh 800 Indonesia dan mereka telah membunuh ratusan perempuan dan anak. Setelah beberapa minggu kami tidak diizinkan untuk pergi ke luar perkemahan lagi. Kami tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

berjalan melewati kampung semua sendiri. Jadi sekarang kita terkunci lagi, untuk melindungi kita. Tepat di luar jendela saya adalah salah satu Gurkha tentara dengan senapan mesin dan granat tangan, dan menunjukkan pada saya melalui teropong dari mana orang Indonesia datang. Ketika penembakan itu dimulai, seorang wanita tewas dan beberapa terluka. Untuk sampai ke dapur, Anda harus menjebol tembok karena terlalu berbahaya untuk pergi keluar. Anda harus bebek untuk menutupi, peluru terbang di sekitar ke dalam drum memasak. Satu Gurkha tewas. saraf saya begitu buruk sehingga saya kehilangan kendali atas diriku sendiri dan aku mulai menjerit dan tidak bisa berhenti. Akhirnya, mereka menenangkan saya dan saya merasa begitu lemah, aku tidak bisa bergerak.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Beberapa minggu kemudian, tentara Inggris datang untuk menyelamatkan kami dengan truk besar. Mereka harus berjuang melalui untuk sampai ke kita. Kami semua dikemas ke truk, sekitar 20 dalam sebuah truk, dengan kasur kami di atas atap. Sepanjang jalan rumah-rumah terbakar. Kemudian hujan mulai, dan mattreses kami basah dan mulai bocor dan kami basah, sehingga kasur itu terlempar ke jalan. Setelah sekitar tiga jam kami tiba di kamp lain. Beberapa Indonesia mati masih tergeletak di jalan. Alarm akan tetap pergi dan Gurkha lebih meninggal. Kami dikelilingi oleh tentara Inggris dengan 14 meriam. Pesawat udara desa dibom dan 10 hari kemudian kami diangkut ke kamp di Semarang. Di sana kami tidak menyambut dan itu perlu beberapa kali sebelum kita punya satu kamar. Akhirnya, kami memiliki ruangan yang besar dimana kami tidur, Mum, ME, Tiny, seorang teman baik Mum (Mrs Bavan namanya, dan meskipun ibu saya telah mengenalnya selama seratus tahun, mereka masih disebut satu sama lain, bahkan seluruh segalanya, Mrs Boerman dan Mrs Bavan, di Belanda itu Mevrouw Bavan dll), dua anaknya dan aku. Kami tidur, di lantai, semua dalam satu baris. Hal yang konyol adalah bahwa sekarang Jepang juga harus melindungi kita dari Indonesia. Kami aman di sana.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Kami harus memutuskan apa yang kami lakukan dan ke mana harus pergi. Kami memutuskan hal yang terbaik adalah pergi ke Jakarta. Kami tidak bisa pergi ke sana dengan pesawat, orang Indonesia telah bandara, sehingga Inggris memutuskan bahwa kita bisa pergi dengan kapal transportasi. Sekarang yang mengambil beberapa lakukan. Kami berangkat lagi dalam truk. Jika Anda berada di sebuah kapal transportasi bagi tentara Anda tidak mendapatkan tempat tidur. Kami berada di bawah di kapal dan tidur di tikar menggantung. Jika Anda ingin mandi itu hanya air garam. M.E. punya bisul dan itu panas. Untuk mendapatkan makanan kita kami harus berdiri di garis, deretan panjang perempuan dan anak, dan dengan sedikit menggoda, saya mendapat mentega ekstra.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Setelah tiga hari kami tiba di Jakarta. Kami masuk ke truk lagi dan kami tiba di kamp terakhir kami, yang disebut Adek. Kamar-kamar sangat besar, 50 perempuan dan anak-anak bisa masuk ke dalam ruangan. Kami bebas, tanpa menembak satu pada kami, dan setiap malam kami memiliki bermain band dan menari. Banyak tentara Inggris datang setiap malam. I, sementara itu, telah menemukan bahwa Frank di Manila (dia telah diangkut dari Jepang), dan kami menulis kepada satu sama lain. Dia berusaha untuk mendapatkan ke Jakarta. Sementara itu ia dikirim ke Balikpapan dan dia bilang dia punya tenda tentara yang besar bagi kita untuk hidup, karena tidak ada rumah tinggal masuk Tampaknya Aussies telah dibom hingga merata. Tapi aku memiliki waktu yang baik dan segala sesuatu tampak berbeda. Suatu hari mereka berjanji saya perahu ke Balikpapan. Aku sedang menunggu berjam-jam dan perahu tidak datang. Mereka telah lupa memberitahu saya bahwa perahu tidak akan. Ketika saya menulis ini kepada Frank dia menjadi sangat marah dan membujuk seorang teman pilot untuk membawanya ke Jakarta. Dia mendapat izin dan satu hari saya sudah keluar di jalan pisang membeli dan truk berhenti, dan yang keluar, Frank. Kami saling memandang dan aku tidak bisa bicara banyak, itu seperti mengejutkan, jadi saya berkata, “Jadi Anda akhirnya berhasil.” Apa hal yang bodoh untuk mengatakan setelah tiga tahun. Dia menciumku dan aku membawanya ke ruang di mana Mary-em telah dengan Tiny dan Mum. Ketika ME melihatnya, ia melompat dari tempat tidur dan berlari ke

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Frank tidur dengan laki-laki dan punya uang itu dicuri, tapi setelah beberapa minggu kami pergi dengan pesawat kembali ke Balikpapan pada bidang tanpa kursi. Kami duduk di airsick kami koper dan ME punya tapi tak ada yang benar-benar penting. Ketika kami tiba di Balikpapan kami menemukan tenda yang indah Frank dicuri. Ada sebuah kamp bagi wanita yang sedang menunggu tenda yang akan didirikan dan mereka ingin saya dan ME untuk pergi ke sana. Saya katakan kepada mereka saya sudah 3 tahun di sebuah kamp dengan 3.000 wanita dan anak-anak, dan tidak ada cara aku akan di sana. Setelah banyak berbicara dan aku berteriak-teriak mereka memberi kami sebuah pondok dua kamar yang dimaksudkan untuk perwira. Aku mendapatkannya dengan cara saya dan kita pindah ke sini Kami punya apa-apa. Mereka harus membawa tempat tidur dan segala sesuatu dan saya pikir mereka senang untuk menyingkirkan saya, tetapi saya telah belajar banyak dalam tiga tahun. Aku bukan gadis kecil lugu lagi. Saya telah belajar dengan cara yang keras untuk berdiri sendiri.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

The abrupt surrender of the Japanese Imperial Army all across occupied Southeast Asia created a power vacuum and hiatus for aspiring Asian nationalists from Vietnam, to Malaya, to Indonesia, even before the return of colonial armies.  As witnessed by Elizabeth in the heady post-surrender days, Indonesian nationalists around Sukarno declared independence (August 17, 1945), somewhat incongruously in the Jakarta-house of a Japanese Admiral. Before the arrival of returning British and Dutch forces, Japanese units surrendered arms to the independence forces.  In any case, Elizabeth witnessed Indonesian pemuda or pro-independence youth groups, with or without support of Japanese-armed heiho auxiliaries, taking the law into their own hands.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

In 2008, at 81 years of age, Elizabeth van Kampen offers a personal reflection on her youthful experiences spanning the years of privilege as a child growing up in Dutch colonial society, those of trauma in a Japanese prison, and the uncertainties of the early Indonesian revolution of 1945. Her remarkable account, written first in Dutch in 2006, is especially instructive for its dispassionate, albeit wistful, eyewitness reportage, one that strives to find good in the midst of adversity and cruelty, as with her account of the “good” Japanese doctor who acted to save her sister’s life and the kind and caring Javanese families who protected her in tumultuous times. She also recounts the inexplicable, as with the frightening human-pig basket story, the heartless separation of boys from mothers in the prison camp, and the larger-than-life grotesqueries of the ubiquitous kempeitai .

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Fifty years after the war, Elizabeth returned to the East Java prison sites seeking clues as to her father’s missing grave only to find that the Kempeitai had destroyed all records. She also traveled on to Japan visiting well-wishers and learning that Japanese people too had suffered from militaristic excesses. As elaborated below, she is part of a group that stages periodic demonstrations in front of the Japanese Embassy in the Netherlands seeking official acknowledgment of Japanese war crimes committed in the Dutch East Indies, not only against Dutch but Indonesian people as well.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

On Saturday the 14th of February 1942, my father came to fetch Henny (my younger sister) and I from our boarding-school for the weekend. We went into town where we did some shopping for my mother and next we went to the Javasche Bank. When my father came out of the bank, we heard and then saw Japanese planes coming over. This time they machine-gunned Malang. I saw two working men, who were hit, falling from the roof where they were busy. They were dead, we saw them lying in their blood on the street. I had never seen dead people before; Henny and I were deeply shocked. Henny started crying, my father took us both quickly away from this very sad sight.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

On Sunday the 15 th of February we received the bad news over the radio that Singapore had fallen into Japanese hands. Indeed, that was a very sad Sunday. Who had ever thought that Singapore could fall? Were the Japanese so much stronger than the Allies? And then there was the Battle of the Java Sea from 27 February to 1 March 1942. The Dutch warships Ruyter and Java were hit by Japanese torpedoes; they sunk with a huge loss of life. The Allies lost this battle. The 8th of March 1942, the Dutch Army on Java surrendered to the Japanese Army.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

It was only much later on the 11th of August in 1990 that I read in the Dutch newspaper, De Telegraaf , that many more people had seen what my father and I witnessed that day in 1942.  Other people had seen many of these men transported in bamboo baskets not only in trucks but also in trains. The article said that the men had been pushed into the bamboo baskets, transported, and then, while still in those baskets, thrown into the Java Sea. Most of the men in the bamboo baskets were Australian military.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

All of a sudden we heard Pa Min calling; “Orang Nippon, orang Nippon.” (lit. Japanese).  My father stood up and went to the front door, my mother took little Jansje by her hand and they went to the living room. Cora went to our bedroom with a book; she was very scared.  Henny and I stood at the back of the house and so we could see that there were about six or seven Japanese military getting out of two cars. One of them was an officer. Directly approaching my father, he said that his men had received an order to search the house for weapons. My father told him that there were no weapons hidden in the house.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Soon it was the New Year. We had no more Japanese visitors. There were not many Dutch or other Europeans outside of camps. In Malang there was already a camp for men called Marine Camp. And another camp, we were told, called De Wijk, prepared to house women and children. Taking a long, last walk through the rubber plantations and jungle, my father and I beheld the Indian Ocean. My father looked at me and said, “I have to ask you something, you are almost 16 so you are old enough. I want you to look after Mama and your sisters when I have to leave Sumber Sewa. Will you promise me that?” I remonstrated, but he insisted and I agreed.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

“De Wijk” camp consisted of many houses with barbed wire all around and some sentry-boxes with Japanese or Indonesian soldiers here and there, to take care that we didn’t try to escape. There were about 7,000 women, children and a few men interned in “De Wijk” from Malang. The Japanese called the camp a protection camp against the local people who saw the Dutch as their “ musuh ” (enemy). The Japanese used lots of propaganda against the Dutch, British, Australians and Americans. It worked, especially among the local Javanese and Madurese youth in Malang.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

De Wijk camp was in hands of Japanese civilians, Japanese “economists” as they were called. That meant that there wasn’t too strict a policy towards the Dutch prisoners.  But Malang had a very strict and very cruel Kempeitai management. We all knew that we had to stay out of the hands of the infamous Kempeitai. Sometimes we heard the most horrible stories from some of the Eurasians who were still outside the camps. Even the locals were very scared of the Kempeitai. Malang became completely different from the town I previously had known.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

In November 1943, my mother had a visitor. He came by bicycle from the “Marine” camp where my father stayed. He told my mother that he was bringing bad news. He had been sent by the military at the marine camp to tell my mother that my father had been taken by the Kempeitai. It seems that my father had hidden weapons and ammunition at Sumber Sewu. This was a nightmare. Would my father have to stay at the Kempeitai prison Lowok Waryu? Were we ever going back to Sumber Sewu? Sadly enough there were many true rumours about how the Kempeitai treated their prisoners.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

At the station, we were pushed into long blinded goods-trains, we had to sit on dirty floors, and there was no toilet either. There was no food and, worse, there was no water to drink. Luckily my mother had taken some bananas and something to drink with her for the four of us. She also had taken a toilet-pot with her and that was a great help for several of us. Little children started crying, especially when the train stood still (sometimes several hours) and that while the sun was shining on the roof; it was unbearable. We didn’t know where we were being brought; we could hardly see anything at all. This horrible journey took more than 24 hours.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

It was in the late afternoon of the 14th of February that we arrived at the station of Ambarawa, in Central Java. A transport of 680 Dutch women and children from Malang stepped out of the train, happy to get some fresh air. The Japanese military yelled at us, and that yelling was translated for us by an interpreter. We all had to climb in the trucks, waiting for us outside the station. Everybody panicked about their luggage, my mother too. She hoped to find our four mattresses, so that at least we could sleep well that night. But we didn’t see our luggage at all.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Thank goodness our trunks arrived, so we found some clean sheets to cover those stinking mattresses. We lay down, Henny, my mother, Jansje and I, the four of us close together. We were very hungry by now and frightened because the Japanese had barred the door of our ward and that had made an elderly lady, Mrs. Schaap cry. She kept saying that her heart was hurting her and that she couldn’t breathe well. We all felt very sorry for her, but we couldn’t help her. She looked so helpless on her mattress, the poor woman.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

The boys of our age had to do the hard work in the kitchen, and they received some extra food. The boys also had to empty the poop-barrels, an extremely dirty job. The boys had to empty the sewers coming from the toilets into those poop-barrels and take them outside the camp. Later on, when the boys had to leave our camp, the work was taken over by the young women and girls. In the afternoon our “lunch” and then our last daily meal of  “starch soup” was brought to us by the boys and dished up by one of the kitchen ladies.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

The very young women who were taken away by the Japanese were crying. This was a real nightmare, after all we had been through so far. This was just too horrible for words. When we could go “home” at last, I found my mother very upset, but she was more than happy when she saw me coming back. She had been so scared that the Japanese would take me away. She had wanted to tell them that they could take her instead of me. But luckily some of the others had held her back, saying that she would only make things worse. And at last I could lie down. I had a high fever by then, but I was so tired that I fell asleep right away. Later on I heard that several of the young women who had been taken away had to leave their children behind. The children were looked after by other mothers. This was a real nightmare!

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

On the 3rd of May 1945, 600 women and children from Ambarawa camp 9 arrived on foot, and on the 31st of May, 350 women and children came in from Solo. The next day, the 1 st of June, 150 more women and children arrived from Solo. On the 4 th of June, 21 women and children came in from Ambarawa camp 6 and, on the 3rd of July, 47 came in from West Java. Then, on the 3rd of August, 50 women left the prison and were transported to Ambarawa camp 9 and on the 8th of August, 2,094 women and children walked into our prison. (Data from Japanse burgerkampen in Nederlands-Indië ).

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

My mother and Henny looked ill. They had pellagra. Big red spots broke out, especially on their arms and legs, because of a vitamin deficiency. Jansje was completely apathetic, the poor girl just sat there in front of our cell, waiting until some food was brought to us. And I had beri-beri, also a vitamin deficiency disease. My face and belly were swollen, full of water, or at least that was how it felt. My mother was losing some of her teeth, which gave her lots of trouble, and there was nothing we could do to stop this.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Elizabeth informs that all the young women and girls taken from the camps were sent to Semarang, a large port city on the north central coast of Java, from where they were dispatched to brothels for up to two months at a time. From her understanding, around 200 Dutch women and girls were forced to work as “comfort women,” alongside of course numerous Eurasians, Chinese and local women. One of the former Dutch “comfort women is an active member of the Foundation for Japanese Honorary Debt, as explained below.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Not long after, we were ordered to stay inside the prison because groups of pemuda , or youth defending the newly proclaimed Indonesian Republic, were trying to kill Dutch prisoners, or so we were told. With Sukarno now the proclaimed President of the Republic, his supporters among the pemuda and others refused to accept Dutch rule. Again the gate of our prison was closed. We now had Japanese soldiers protecting us against angry young nationalists. The lovely Javanese lady who had been so kind towards my mother, sisters and me was no longer allowed to enter our prison; we missed her.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

I also began to worry how my father could find us now that the prison was locked again. But then I saw several Dutch men walk through the gate and so I understood that the Dutch could freely travel around Java to make contact with their families, although this was very risky. I also saw some women leaving the prison, saying that they were going “home,” and that sounded really good. After the war we learnt that thousands of ex-prisoners were killed by the pemuda , not regular soldiers from the newly formed Indonesian army (TNI).

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

I started helping to clean up the gudang ( store) where the Japanese had dumped all sort of things. We found out that there were many boxes full with anti-malaria tablets, quinine, and several other medicines that could have saved the lives of the many who died in this prison. We were really shocked, even more so when we found a few cards that had been written to some of the women staying in our prison. In fact, they had never received their cards during the war.  This was disgusting and very sad.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Towards the end of January 1945 in Kandy in Ceylon (now Sri Lanka), where we recuperated en route to Holland , my mother received a letter from my aunt in Holland conveying the sad sad news that she found my   father’s name on  the death list from the Dutch East Indies. Around the 15 th of May we sailed from Colombo bound for the Netherlands, a country I hardly knew.  Upon return to the Netherlands, as I discovered, not all were disposed to welcome home such returnees as ourselves from the Dutch East Indies. I t was only in February 1947 that my mother received official notice of my beloved father’s death.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Elizabeth has not remained inactive. Quite the contrary. In later life, as mentioned, she re-visited the site of her childhood in Java as well as painfully but unsuccessfully seeking out information on the whereabouts of her father’s gravesite. Having struck up correspondence with Japanese pen-friends, she also visited Japan for a first time pondering upon Japan’s postwar society and the kind of sufferings that ordinary Japanese also endured. Even so, as confided, she still remains perplexed as to Japan’s  postwar remembering or understanding of  the full consequences of  the wartime occupation of the Dutch East Indies.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Elizabeth van K.   Yes all members of the Foundation are direct victims. I do not know how many are still alive, but I do know that many of us have died during the last five years.  We do have donors who were not war victims, but they are of course not counted as victims.  Yes, we do have Indonesian members of the Foundation.  They are from the Moluccas. They were soldiers in the former Dutch East Indies army.  No, there are no real links with Japanese organizations as far as I know.  The Foundation does go to the United Nations in Geneva now and then, where they get a few minutes to tell their story.

seperti di kutip dari https://iwansuwandy.wordpress.com

Elizabeth van K.  Yes, we do have several Dutch ex-comfort women, as members of the Foundation. Our Dutch Minister of Foreign Affairs, Mr. M. Verhagen has given a good speech.  While he was in Japan [he raised the question] about those poor women and asked for an apology and compensation for these ladies. The Dutch people are in general not really interested in what happened during WWII in the Far East where people were occupied by Japan. The Netherlands was occupied by Germany for five long years.  The WWII enemy was Germany in the Dutch eyes, not Japan.

PAN hingga kini masih menunggu jadwal pasti pertemuan dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Namun, direncanakan pertemuan itu digelar pekan depan. “Mudah-mudahan tanggal 5 atau sampai tanggal 8 (Maret),” kata Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/3/2018). Pertemuan dengan Megawati, kata Zulkifli, untuk meminta pandangan terkait Pilpres 2019. Alasannya, PDIP adalah partai pemenang Pemilu 2014, dan Megawati merupakan politikus senior. “Kita perlu bicara, diskusi. Mbak Mega kan partai pemenang pemilu dan politisi paling senior. Kita ingin dengar pandangan-pandangan,” sebutnya. Tak hanya PDIP, PAN juga ingin bertemu dengan pimpinan partai-partai pengusung Joko Widodo di Pilpres 2019. Salah satu prioritasnya adalah pertemuan dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menuturkan Zulkifli telah minta waktu untuk pertemuan tersebut. Hasto menyebut Zulkifli merupakan salah satu tokoh yang minta diprioritaskan bertemu dengan Megawati. “Banyak yang mengajukan pertemuan kepada Ibu Megawati, seperti Pak Zulkifli Hasan. Di dalam pengambilan nomor urut, Pak Zul juga minta untuk dapat diprioritaskan bisa bertemu dengan ibu Mega,” kata Hasto di Prime Plaza Hotel, Denpasar, Bali, Sabtu (24/2).

Zulkifli Hasan bersalaman dengan Zakir Naik. (Foto: Aria Pradana/kumparan) Ulama kondang asal India Zakir Naik hari ini, Jumat (31/3), menyambangi DPR RI di Jakarta. Bertemu dengan anggota DPR dan awak media, Zakir Naik berbicara soal tafsir Al-Quran surat Al-Maidah ayat 51 yang tengah ramai diperbincangkan belakangan ini. Menurut Zakir Naik, Al-Maidah ayat 51 berbicara soal larangan Muslim menjadikan non-Muslim sebagai pelindung. Arti “auliya” dalam ayat itu, kata ulama berusia 51 tahun ini, adalah kawan dekat atau pelindung. “Muslim hanya meminta perlindungan kepada Allah dan orang-orang beriman,” ujar Zakir Naik. Namun dengan berpegang dengan ayat ini, Zakir Naik menegaskan tidak berarti seorang Muslim harus menjauhi non-Muslim. Zakir Naik mengatakan seorang Muslim harus berbuat baik, berteman atau membantu non-Muslim. “Berbuat baik, membantu dan berteman dengan mereka tidak ada masalah. Tapi sebagai pelindung, tidak boleh,” ujar Zakir Naik. Zakir Naik bertemu dengan Zulkifli Hasan. (Foto: Aria Pradana/kumparan) Ayat dalam Al-Quran ini hangat dibicarakan karena disinggung oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Akibat hal ini juga, pria yang akrab disapa Ahok itu diadili atas dakwaan penistaan agama. Berbagai penafsiran atas surat Al-Maidah bermunculan terkait kasus tersebut. Namun menurut Zakir Naik, penafsiran terbaik dari ayat Al-Quran datang dari Al-Quran itu sendiri. Untuk surat Al Maidah ayat 51, penafsirannya bisa dilihat di surat lainnya, salah satunya Ali Imran ayat 28 yang berbicara soal memilih “auliya”. “Jika ada pilihan, pelindung Muslim atau non-Muslim, Al-Quran mengatakan, pilih yang Muslim,” ujar Zakir Naik. “Karena jika kita tidak melakukan ini, Allah tidak akan menolong kita,” lanjut dia lagi. Zakir Naik direncanakan melakukan safari dakwah di beberapa kota, yaitu Bandung, Yogyakarta, Ponorogo, Bekasi dan Makassar, mulai hari Minggu nanti. Menyambangi DPR, Zakir Naik disambut oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bersama sekretaris jenderal partainya, Hasto Kristiyanto saat berpose di depan mural bergambang Bung Karno di Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Foto: dokumen JPNN jpnn.com , JAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memanggil sejumlah kader PDI Perjuangan yang saat ini masih menjabat kepala daerah ke kediamannya di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Sabtu (14/10). Dari pantauan di lapangan, terlihat baru dua orang yang hadir hingga pukul 12.00 WIB. Mereka adalah Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dan Bupati Trenggalek Emil Dardak. “Hari ini direncanakan Ibu Megawati akan menerima dan memanggil beberapa kader PDI Perjuangan termasuk Pak Djarot, karena beliau akan menyelesaikan tugas-tugasnya di DKI dan Bupati Trenggalek Pak Emil Dardak,” ujar Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto di Teuku Umar. Selain dua kader tersebut, Megawati kata Hasto, akan melakukan teleconference dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang saat ini masih berada di Tokyo, Jepang, menerima penghargaan atas prestasi menjadikan Surabaya sebagai green dan smart city. “Ibu juga akan bertemu dengan beberapa tokoh lain, semuanya dalam kaitan untuk pengumuman pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur,” ucapnya. Hasto memastikan DPP PDI Perjuangan dengan dipimpin Megawati Soekarnoputri akan mengumumkan nama pasangan calon Gubernur Jatim dan Sulawesi Selatan di kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Minggu (15/10), pukul 09.30 WIB. “Seluruh persiapan sudah dilakukan sebagai bagian dari pertanggungjawaban PDI Perjuangan kepada rakyat. Bahwa kami mempersiapkan seluruh pasangan calon dengan sebaik-baiknya melalui proses fit and proper test kemudian psikologi dan juga pemetaan politik,” pungkas Hasto. (gir/jpnn)

Related Posts

Comments are closed.