Warga Soal Isu Harimau Siluman: Ternyata Asli

Warga Soal Isu Harimau Siluman: Ternyata Asli

Isu tentang harimau siluman yang berada di hutan di Desa Hatupangan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, terbantahkan. Setelah memburu jejaknya, warga akhirnya yakin harimau itu asli. Cerita harimau siluman itu mencuat saat puluhan warga masuk ke hutan tepatnya Desa Hatupangan, pada Jumat 16 Februari 2018 sekitar pukul 16.00 WIB. “Ada isu siluman harimau. Setelah dicek, rupanya bukan harimau siluman. Harimau asli, korban digigit. Kawan-kawan korban lalu cepat membantu. Sementara harimaunya lari,” kata Sekretaris Desa Hatupangan, Tafsir Nasution, saat dikonfirmasi, Senin (19/2/2018). Terkait isu siluman harimau, Tafsir menepisnya. Isu seperti itu muncul ketika ada warga melihat harimau berdiri dua kaki. Dengan itu, warga tersebut curiga. “Warga nampak (melihat) harimau itu di kebun karet, curiga. Lalu diikuti jejaknya. Sampai di depan gua, rupanya harimau asli. Terkait isu harimau siluman, nggak ada. Saran saya, masyarakat untuk hari jangan ada masuk hutan, keselamatan itu penting,” tukas Tafsir. Akibatnya, seorang warga Arkat (48) digigit harimau dan mengalami luka di bagian lututnya. Kondisi Arkat sudah membaik.

Baca juga :

Ahmadiyah sudah ada di Nusantara sejak tahun 1920 an. Meskipun tidak plek sama dengan Islam Sunni maupun Syiah, ya selama masa itu sampai paska Suharto lengser keprabon, kaum Ahmadiyah ini aman2 saja. Perbedaan dulu cuma diperdebatkan ,didiskusikan saja, TANPA konflik fisik… Belakangan ini lain. Mereka ,kita tahu, digebuki, mesjid dan rumah2 mereka dibakar di beberapa tempat di Nusantara. Kekerasan pada siapa saja, setahu saya, tidak dibolehkan dinegara yang ber PERIKEMANUSIAAN ini.Hukum saja tidak membolehkan, apalagi … Tuhan.

seperti di kutip dari https://akigendengbanget.wordpress.com

Re hak asasi manusia : Memang selalu menurut … manusia. Itu karena kita hidup di dunia. Kalau kita hidup di surga mungkin hak asasi itu tidak diperlukan lagi. Tuhan itu sering … diam saja kalau ditanya … Doa kita tidak selalu di …dengar,apalagi dijawab. Hak asasi menurut Tuhan akan susah dicapai oleh manusia yang tidak selalu setuju dengan konsep Tuhan. Tuhan yang mana ? Tuhannya orang Samawi, Tuhannya orang Buddha ? – tidak relevan dalam agama ini – Tuhannya orang Hindu ? – Mereka punya banyak dewa2 yg disembah .

seperti di kutip dari https://akigendengbanget.wordpress.com

Kalau kita pakai bahasa (menurut) manusia yang mengevaluasi nanti kan ya manusia itu sendiri. Kebaikan menurut Tuhan itu kan ya (harus) ditafsirkan menurut manusia, bukan menurut Tuhan … Dari sejarah kita tahu orang2 Kristen/Katholik yang gebuk2an di abad14/15. Kita juga tahu orang Islam juga tidak selalu akur dengan orang Islam sendiri. Tahun 70 -80 an kita tahu ada perang antara Irak yang Sunni dan Iran yang Syiah. Lho itu orang2 yang berkitab suci yang sama ,tapi beda tafsirnya … Kalau sama kan tidak ada … perang …

seperti di kutip dari https://akigendengbanget.wordpress.com

Ngomong2, diantara orang Islam sendiri banyak yang … anti Ulil. Beliau pernah mendapat paket … bom. Gimana ini ? Islam satu, tapi pemahamannya kan lain2. Ada Islam menurut Ulil, menurut Gus Dur, menurut Cak Nurcholis Madjid, menurut Goenawan Mohamad,dll. Tapi ada juga Islam menurut Kahar Muzakkar,Kartosuwiryo,Abu Bakar Basyir,dll. Mana yang benar ? Saya tahu anda pernah menulis disini mengenai bagaimana mengerti paham yang ‘benar’. Lha, benar itu kan tetap subyektif. Benar menurut siapa ? Tidak ada paksaan dalam beragama, kata satu ayat. Prakteknya kan lain …


Baca juga :

4. Tuti dan Mari dua kakak beradik. Keduanya putri R. Wiraatmojo, mantan wedana di daerah Banten. Meskipun Tuti dan Maria bersaudara, sifat mereka sangat berbeda. Tuti seorang pendiam. Ia selalu berhati-hati dalam bertindak. Ia lebih banyak menggunakan akal dan pikiran daripada perasaan. Sebaliknya, Maria gadis yang lincah dan periang, mudah tertawa tapi juga mudah murung. Gadis itu lebih banyak menurutkan perasaannya. Sifat kedua kakak beradik yang berlainan menyebabkan keduanya sering tidak sependapat. (Layar Terkembang, STA).

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

Aku disebut ayah sebagai anak bandel. Sulit diatur. Beraja di hati sendiri. Di antara adik-adikku aku akui memang akulah yang keras kepala. Aku satu ibu satu ayah empat orang; dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Aku anak sulung. Dan selaku anak sulung seharusnya aku tidak bandel tapi penurut. Namun dugaan itu salah. Aku adalah anak yang keras hati, tidak suka diperintah begitu saja. Ayah pernah marah kepadaku. Masih kuingat saat itu aku masih duduk di kelas satu SMP. Ayah memukulku sampai-sampai aku hampir pingsan (Surat dari Ayah, Zaidunddin Tamor Koto).

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

10. Nyonya Suryo tersenyum. Tiba-tiba dia ingat peristiwa di mana sifat-sifat Bawuk yang pemurah dan perasa menonjol jauh lebih nyata dari kakak-kakaknya. Waktu itu bawuk sudah duduk di kelas lI HIS. Suatu sore bapak dan ibunya mendapat undangan dari kanjeng bupati buat pesta ulang tahun bupati di kediaman kanjengan. Pesta itu boleh dikatakan besar-besaran juga. Semua onder dan wedana di daerah kabupaten itu mendapat undangan . Juga kontrolir dan tuan-tuan besar kedua pabrik gula yang ada di kabupaten itu, semua mendapat undangan. (Sri Sumarah & Bawuk, Umar Kayam)

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

11. Tuti dan Maria dua kakak beradik. Keduanya putri R. Wiraatmojo, mantan wedana di daerah banten. Meskipun Tuti dan Maria bersaudara, sifat mereka sangat berbeda. Tuti seorang pendiam. Ia selalu berhati-hati dalam bertindak. Ia lebih banyak menggunakan akal dan pikiran daripada perasaan. Sebaliknya, Maria gadis yang lincah dan periang mudah tertawa tapi juga mudah murung. Gadis itu lebih banyak menurutkan perasaannya. Sifat kedua kakak beradik yang berlainan menyebabkan keduanya sering tidak sependapat.(Layar Terkembang, STA)

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

22. Aku masih ingat riwayat Maeda dengan istrinya. Istrinya orang Indonesia. Maeda sendiri ada darah Indonesia-nya. Ayahnya sebelum perang memiliki toko di Surabaya dan dapat anak dari seorang perempuan, Maeda. Anak di luar nikah ini diakui oleh ayah Maeda, dia disekolahkan di Surabaya di sekolah Europese Lagere School dan ketika kemudian ayahnya kembali ke Jepang, ia dibawa ke Jepang. Akan tetapi ketika itu dia sudah besar. Dan hanya dua tahun di Jepang pecahlah perang dunia kedua dan segera Maeda masuk tentara Jepang, dan dikirim bersama-sama dengan pasukan pendaratan pertama di Jawa.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

23. Dan semenjak itu Badri tinggal di rumah mertuanya, seperti juga suami-suami yang lain di Minangkabau. Pola hidup yang matrilineal yang tidak disukai Badri ketika masa remajanya ternyata demikian indah dalam kenyataan setelah ia menikahi Lena. Kalkulasi biaya hidup yang mencemaskan dulu ternyata pula tidak diributkannya. Malah ketika anaknya lahir, Lena dianjurkannya sendiri untuk menjadi guru. Karena seni hidup bukanlah sesuatu yang eksak, melainkan penyesuanian diri pada iklim yang membentuk masyarakat. Dan idealisme masa jejakanya ternyata pula hanya utopi semata. Idealisme yang membius pada orang-orang yang tidak mempunyai beban hidup keberatan. Sedangkan idealisme seorang laki-laki yang menjadi suami dan menjadi seorang ayah ialah idealisme yang abadi, yakni bagaimana membahagiakana istri dan anak-anaknya. (Jodoh, AA Navis).

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

24. Pada suatu hari hujan turun di pegunungan. Tetapi di lembah hanya mendung sehingga aku berjalan tanpa payung ke seklah melalui jalan sawah. Sekali ini aku tidak bisa berjalan menyeberangi banjir. Aku harus berenang. Jika berjalan dalam air, pakaian dan sepatu bisa kupegang sehingga tidak turut basah. Tetapi jikia berenang, sukarlah membawanya melewati arus yang sangat deras. Untung sungai itu tidak begitu lebar. Aku mendapat pikiran untuk melempar lebih dahulu sepatuku, kemudian pakaian-pakaianku, kecuali pakaian dalam (Gerson Poyk).

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

28. Alangkah bagusnya hari sepagi ini. Ke gedung akuarium, kawan. Marilah kita ke sana, melihat ikan yang sedang berenang-renang di dalam air yang jernih. Ke sebelah kanan, kawan, sebab sebetah kiri penuh sesak teman-teman kita yang sedang melihat pula. Lihat, lepu ayam ikan ganjil. Sirip dan ekornya tumbuh melebihi panjangnya dari ikan biasa, sehingga merupakan ayam kalkun. Warnanya yang kemerah-merahan bercampur putih itu, sepadan benar dengan lenggoknya perlahan-lahan di air tenang. Semua teman-temannya tidak dipedulikannya. Dengan sombong katanya, “Adakah lagi yang melebihi kegagahan dan kebagusanku? Akulah raja keindahan di air ini. Lihatlah, mereka lari, malu seraya menyingkirkan diri. (Dari Tinjauan Dunia Sang karya Maria Amin)

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

30. “Bukan saja perceraian ini yang aku rusuhkan, Ibu, “sahut Rapiah dengan sesak napas dan menghisak-hisak. “Entah apakah sebabnya, tetapi dalam seminggu ini hatiku sudah tak senang-senang lagi. Entah atamat apa yang sudah datang pada diriku, aku tak dapat mengatakannya; tetapi perasaanku sudah lain. Kata orang, kita tidak boleh percaya akan . takhayul, tapi banyak pula orang berkata, jika sanggul rambut terlepas sedang makan, alamat suami hendak direbut orang. Benarkah demikian, Bu ?” (Dari Salah Asuhan karya Abdul Muis)

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

1. Tuti duduk membaca buku di atas kursi kayu yang lebar, di bawah pohon mangga, di hadapan rumah sebelah Cideng Weg. Tiap-tiap petang, apabila ia sudah menyelesaikan pekerjaan rumah dan sudah pula mandi dan berdandan, biasanya ia duduk di tempat itu menanti hari senja. Sesungguhnya, nikmat duduk berangin-angin di hadapan rumah memandang Cideng Weg yang sepi itu. Ke hadapan, latang ia melihat ke seberang kali, kepada rumah-rumah batu yang indah. Di langit jauh di belakang rumah bersusun, awan senja berbagai-bagai warnanya, mengantarkan matahari yang akan terbenam.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

5. Bukan guna-guna, bukan mantra, bukanlah yang gaib-gaib, yang dapat dipakai untuk melayani laki-laki. Tetapi perempuan yang menurut, selalu akan dicintai oleh suaminya. Sifat penurut pada perempuan membangkitkan kasihan laki-laki. Sifat penurut itu ialah jalan menuju cinta, kesungguhan hati menuju kasih sayang, dan setia membangkitkan kepercayaan. Bukan keturunan, bukan kekayaan dan kecantikan yang menjadi tiang perkawinan. Hanyalah semata-mata sifat penurut, menyesuaikan diri akan kemauan suami, kepandaian menjaga dan merahasiakan segala yang tak usah diketahui orang lain. Hanya itulah yang harus engkau pelajari … (Layar Terkembang, Sutan takdir Alisahbana).

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

13. Keprobadian Herman yang penuh kekuasaan seorang manajer itu cukup jelas, tetapi perkembangan pribadi “istri” kurang definitif. Apa yang hilang adalah suasana cerita. Arus rasa ini memang selalu kurang teraba dalam novel. Penjelasan persoalanlah yang selalu digarap penulisannya. Pembaca kurang terbawa larut dalam pengalaman batin tokoh-tokohnya karena berhasil memperbaiki persoalan “bentuk” yang selalu kurang berhasil dalam kedua novelnya yang terdahulu. Daalam cerita ini yang dapat dilihat jelas permulaan, perkembangan persoalan itu dan akhir atau penyelesaian yang diajukan. Ia telah lengkap sebagai sebuah cerita, sebuah wujud, sebuah bentuk.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

14. Setelah Samsu membaca kecelakaan ini, lalu ia menundukkan kepalanya ke atas mejanya, menanagis amat sangat, karena sedih akan nasib kekasihnya dan untungnya sendiripun. Segala citaa-cita hatinya yang semakin lama diharap-harapkannya pada saat itu seakan hilang lenyap, sebagai sebuah batu jatuh ke lubuk, hujan jatuh ke pasir, tak dapat dicari lagi. Pengharapan yang telah sekian lama berurat berdaging dalam jantungnya, tiba-tiba diputusnya oleh Datuk Maringgih, dengan putus yang tak dapat disambung lagi (Siti Nurbaya karya Marah Rusli).

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

15. Tetapi Syeh Radjab memasukkan anaknya -dengan hati penuh harapan-ke sekolah pemerintah, sambil diberi pelajaran dan pendidikan agama serta cara-cara hidup di desanya. Cepat sekali ia mendapat hasil yang memuaskan dan mendapatkan penghargaan guru-gurunya. Ia selalu tekun dan menjaga sopan santun. Kalaupun tidak parlente, kebersihan selalu dipeliharanya. Di samping itu ia lebih jantan, bahasanya lebih baik dan lebih fasih dari teman-temannya anak-anak tuan besar yang suka menjulurkan lidah dan tidak dapat bicara bahasa Arab dengan baik itu. Sekaranag ia sudah menang pertandingan, harapannya sudah tidak akan meleset, dan dialah yang menjadi harapan keluarganya.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

29. Bukan guna-guna, bukan mantra, bukanlah yang gaib-gaib, yang dapat dipakai untuk melayani laki-laki. Tetapi perempuan yang penurut, selalu akan dicintai oleh suaminya. Sifat penurut pada perempuan membangkitkan kasihan laki-laki. Sifat penurut itu ialah jalan menuju cinta, kesungguhan kati menuju kasih sayang, dan setia membangkitkan kepercayaan. Bukan keturunan, bukan kekayaan dan kecantikan yang menjadi tiang perkawinan. Hanyalah semata-mata sifat penurut, menyesuaikan diri akan kemampuan suami, kepandaian menjaga dan merahasiakan segala yang tak usah diketahui orang lain. Hanya itulah yang harus engkau pelajari.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

34. Tuti dan Mari dua kakak beradik. Keduanya putri R. Wiraatmojo, mantan wedana di daerah Banten. Meskipun Tuti dan Maria bersaudara, sifat mereka sangat berbeda. Tuti seorang pendiam. Ia selalu berhati-hati dalam bertindak. Ia lebih banyak menggunakan akal dan pikiran daripada perasaan. Sebaliknya, Maria gadis yang lincah dan periang, mudah tertawa tapi juga mudah murung. Gadis itu lebih banyak menurutkan perasaannya. Sifat kedua kakak beradik yang berlainan menyebabkan keduanya sering tidak sependapat. (Layar Terkembang)

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

36. Adalah Lasi, seorang wanita desa berayah bekas serdadu Jepang. Kulitnya yang putih dan matanya yang khas membawa dirinya menjadi bekisar untuk hiasan sebuah gedung dan kehidupan mewah seorang lelaki tua Pak Han di Jakarta. Betapa gagap Lasi ketika menemukan nilai perkawinannya dengan Pak Han hanyalah sebuah keisengan dan main-main. Kanjat, laki-laki teman sepermainan yang diharapkan menolongnya ternyata tak lagi peduli. Begitulah Ahmad Tohari dalam bekisar Merah-nya mencoba menjalin persoalan yang dihadapi tokoh utama.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

16. Sesungguhnya, ia mengetahui, pemuda yang ada di hadapannya tidak lain adalah anak tirinya. Namun, keadaan juga yang menuntut mereka menjadi korban. Wanita pemilik losmen itu mati dengan keris pusakanyasendiri setelah ia membunuh Profesor Tabib yang memaksanya demi memuaskan nafsu setan. Juga si penyair mati dalam berondongan peluru musuh setelah ia mengadakan perlawanan demi kehidupan dan demi bangsanya. “Losmen Sederhana hanya tinggal puing yang membara dan lesu mengepulkan asap kelam-kelam. Terkuburlah di bawah reruntuhan dan sekitarnya pengkhianatan dan pejuang-pejuang tanpa baju seragam, tanpa bintang, tanpa nama, dan tanpa pertanda.” (hal.99)

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

22. Raumanen, karya Marianne Katoppo dapat dikategorikan sebagai novel pop yang menyajikan lagu-lagu asmara muda-mudi. Kadar bobot novel ini terletak pada aspek masalahnya, gaya penampilan, dan sejauh mana pengarang berhasil menggali masalah yang dikemukakannya. Sebagai novel pop yang dikonsumsi orang banyak, dalam arti selera dan pengetahuannya akan karya sastra, Raumanen menyuguhkan plot yang sederhana. Manen ketemu Monang. Mereka saling jatuh cinta, dan terjadi kehamilan atas diri Manen sebagai akibat hubungan cintanya itu. Klimaks ceritanya terjadi ketika Monang tidak berani menikahi Manen yang sudah hamil, karena orang tua Manen telah menjodohkannya dengan pemuda lain. Penyelesaian cerita ini adalah Manen bunuh diri.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

25. Maka ia ingat-ingat lagi bagaimana ia memulai mendirikan rumah itu, yg menjadi kebanggaannya, kebanggaan seorang laki-laki, bisa menyediakan tempat berlindung bagi keluarga. Mulanya dari pertemuan sederhana dengan seorang pemborong di rumah Bi Tati. Si Bun itulah orangnya. Obrolan mulanya sederhana saja, tapi kemudian menjadi menarik bagi kedua belah fihak, karena menyangkut suatu rencana pembangunan di pabrik tempat Permana bekerja. Tahu-tahu obrolan itu berkelanjutan. Bun mengajukan tawarannya dan rencana bangunannya. Direktur pabrik menyerahkan pada Permana untuk menilainya dengan syarat, ia minta dibangunkan sebuah gudang di belakang rumahnya. Permintaan itu tidak susah untuk dipenuhi. Dibicarakan dengan pemborong dan pemborong itu setuju. Maka pesanan dilakukan. Perjanjian ditandatangani. Gudang dibuatkan juga.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

28. “Cerita Lidah (masih) Pingsan sebenarnya merupakan kelanjutan dari cerita Lidah Pingsan. Cerita ini menitikberatkan pada usaha Aji, seorang wartawan yang tetap bersimpati pada Pak Mardiko, mesti Lurah Sepuh sudah lengser keprabon dan digantikan oleh Lurah Baru. Aji yang tetap optimis terhadap profesinya, akhirnya harus menyerah pada keadaan. Dunia pers bukanlah dunia yang bebas meski kebebasan telah digembar-gemborkan oleh pemerintahan Lurah Baru. Faktanya, Tak ada beda antara Lurah Sepuh dengan Lurah Baru. Setiap kali ia hanya di-ping-pong ke Lurah Sepuh atau ke Lurah Baru. Kesaksiannya kepada publik terhadap perilaku protes Pak Mardiko dalam bentuk pepe di Balai Desa Menangan tak membuahkan hasil. Alhasil, kesepian di tengah hiruk pikuk perubahan itu tetap membelenggunya. Ia tetap tak bisa bersuara tentang kasus Mardiko yang anaknya dituduh menggerakkan kerusuhan dan hilang tak tentu rimbanya. Lidah dan penanya tetap tak bisa berbuat apa-apa. Lidah itu MASIH pingsan.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

14. Kesudahannya Mariamin terpaksa pulang ke negerinya membawa nama yang kurang baik. Membawa malu, menambah azab dan sengsara yang bersarang di rumah kecil di pinggir sungai Sipirok itu. Demikian perempuan yang malang itu menjadi kurban adat yang sudah kuno itu. Kalau sekiranya persahabatan kedua anak muda itu, persahabatan dari waktu anak-anak sehingga besar, bertambah repot kalau sekiranya jiwa manusia yang kedua itu dipadu menjadi satu, sudah tentu bertambah dua orang manusia di atas bumi ini yang hidup beruntung.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

21. Tuti kelihatannya masih terharu juga, katanya tak banyak sebab perasaan dan pemandangan yang baru diperolehnya, malam itu hendak dicernanya benar-benar dalam hatinya. Pemandangannya tentang seni mendapat pukulan yang hebat. Pertunjukan Sandhayaha ning Majapahit yang lain benar daripada pertunjukan yang biasa diperlihatkan pada waktu keramaian yang lain-lain, amat dalam menggores kalbunya. Jaranglah sesuatu perasaan semesra itu memenuhi hatinya, menyamai kemesraan perasaannya yang sehebat-hebatnya selama penghidupannya sebagai perempuan pergerakan yang melakukan pekerjaannya dengan seluruh jiwanya. Mau tak mau ia harus mengaku, betapa besarnya pengaruh seni yang dahulu sering diejeknya itu atas jiwa manusia.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

24. Rara Jonggrang melangkah menuju sanggar pemujan. Ketika dilihatnya dua orang emban kepercayaannya, keduanya lalu dipanggil, agar mengikutinya di sanggar pemujan. “Aku sangat bingung, biyung, karena Raden Bandung Bandawasa melamarku”. Kedua emban itu sangat terkejut. Bagaimana perasaan gusti sendiri. “Biyung! Kalian tentu masih ingat ketika Kakanda Prabu Sri Karungkala gugur, aku tidak mau menjadi putri boyongan demi kehormatan dan martabat tahta Prambanan. Sekarang bagaimana aku harus menjawabnya.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

25. Wiryati, atas nama Lasi, pergi ke ruamh pak Tir. Meski tahu Pak Tir biasa menolak meminjamkan uang pada malam hari, Wiryati berangkat juga dengan keyakinan apa yang sedang menimpa Darsa bukan hal biasa. Sementara Wiryati pergi, orang-orang sibuk mengurus Darsa. Ada yang menyeka tubuhnya dengan air hangat agar Lumpur serta bau kencing Mukri yang membasahi tubuhnya hilang. Darsa mengerang lebih keras ketika luka-luka di kulitnya terkena air! Beberapa lelaki mempersiapkan usungan darurat. Dua tiga obor juga dibuat dari potongan bambu.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

dua puluh limatahun yang lalu, kau harus menerima dan percaya bahwa itu kehendak Yang Mahakuasa. Ingat betul-betul bahwa dulu kita tidak pernah punya apa apa. Bahkan, tidak pernah berpikir bahwa ada kemungkinan kita akan punya esuatu yang berharga. Rabiya, telah kuwariskan seluruh harta kekayaanku kepada Darulaitam hanya dengan satu alasan: perintah Tuhan. Titik.Kulakukan itu dengan sadar. Maka kau pun harusmenyetujuinya dengan sadar. Habisnya milik kita nanti bukan berarti bahwa kita tidak punya apa-apa lagi. Percayalah bahwa semakin melarat kita, semakin kayalah kita.”

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

Iwan melihat manusia selaku gelandangan. Itulah yang ia coba melukiskannya dalam novel-novelnya. Hanya bentuk atau gaya pembahasan tema dasar itu bukan lagi bentuk realisme formal yang masih (dan akan selalu) berlaku. Gaya kesusastraan Iwan analog dengan lukisan-lukisan surealis Dada yang lebih berbicara dengan bahasa di bawah sadar, bebicara dengan symbol-simbol asli (archetype) yang trans-waktu maupun trans-tempat yang “kelewat logis”, berjalan dalam plot yang berjalan dengan pergulungan waktu, tetapai multidimensional. Ilmu pengetahuan dan logika bekerja dengan pengertian-pengertian de-notasi. (”Manusia Gelandangan” Iwan Simatupang, YB Mangunwijaya)

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

21. Dengan sekejap itu dilihatnya Mariamin jatuh ke air. Cangkul yang di bahunya pun dilemparkannya dan setelah bajunya ditanggalinya, ia pun mengucap, “Tolong, Tuhan!” Dengan perkataan yang dua patah itu, Aminuddin melompat ke dalam air akan menyusul mariamin, yang dihanyutkan banjir yang tiada menaruh iba kasihan pada kurbannya itu. Meskipun semuanya terjadi dengan sekejap saja, sudah jauhlah gadis kecil itu dihanyutkan air. Aminuddin berenang dengan sekuat-kuatnya, mengejar anak yang malang itu. (Azab dan Sengsara, Merari Siregar)

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

26. Hingga kini masih sedikit sastrawan kita yang berani menjadikan agama sebagai persoalan dalam karya-karyanya. Mungkin hal ini disebabkan masalah agama masih dianggap sebagai masalah sensitif bagi masyarakat kita. A.A. Navis adalah salah seorang dari yang sedikit itu yang berani mempersoalkan agama, khususnya mengenai praktik orang yang tampak rajin melakukan ibadah, tetapi malas bekerja keras mengeluarkan keringat, dalam karya-karyanya. Dalam ulasan singkat ini akan dibicarakan salah satu cerita pendeknya yang monumental, Robohnya Surau Kami, yang mempersoalkan hal itu.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

27. Proses kegiatan yang dilakukan dari bentuk novel ke bentuk sinetron itu tidak lain dari proses mengubah bentuk bahasa ke bentuk penampilan. Ini merupakan suatu kesulitan besar. Di atas telah dinyatakan bahwa penggambaran gadis cantik itu ke dalam novel hanya dilakukan dengan bahasa tentang kulitnya yang putih atau hitam manis, tentang bibirnya yang merah, tentang matanya yang hitam dan bulat, dan sebagainya. Penggambaran kecantikan itu dalam sinetron berubah menjadi penampilan seorang wanita yang kuning kulitnya, yang merah dan agak tebal bibirnya, dan yang biru matanya itu. Jadi, dalam sastra kita berhadapan dengan deskripsi dan imajinasi, sedangkan dalam sinetron kita berhadapan dengan citra visual.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

28. Adalah Lasi seorang wanita desa berayah bekas serdadu Jepang. Kulitnya yang putih dan matanya yang khas membawa dirinya menjadi bekisae untuk hiasan sebuah gedung dan kehidupan mewah seorang lelaki tua bernama Pak Han di Jakarta. Betapa gagap Lasi ketika menemukan nilai perkawinannya dengan Pak Han hanyalah sebuah keisengan dan main-main. Kanjat, laki-laki teman bermainnya semasa kecil yanag diharapkan mau menolongnya ternyata hanyalah lelaki yang tak pernah peduli. Begitulah Ahmad Tohari dalam novel Bekisar Merahnya mencoba menjalin persoalan-persoalan yang dihadapi tokoh utama.

seperti di kutip dari https://nurhayatiningsih.wordpress.com

32. Nyonya Suryo tersenyum. Tiba-tiba dia ingat peristiwa di mana sifat-sifat Bawuk yang pemurah dan perasa menonjol jauh lebih nyata dari kakak-kakaknya. Waktu itu bawuk sudah duduk di kelas lI HIS. Suatu sore bapak dan ibunya mendapat undangan dari kanjeng bupati buat pesta ulang tahun bupati di kediaman kanjengan. Pesta itu boleh dikatakan besar-besaran juga. Semua onder dan wedana di daerah kabupaten itu mendapat undangan . Juga kontrolir dan tuan-tuan besar kedua pabrik gula yang ada di kabupaten itu, semua mendapat undangan.


Baca juga :

Sanajan antawis morfologi kaliyan leksikologi punika kekalihe sami-sami mlajari masalah makna kang wonten teng selebete tembung, nanging kekalihe punika angger wonten bentene. Anadene bentene antawis morfologi kaliyan leksikologi nggih niku upami morfologi mlajari makna gramatikal sedeng leksikologi mlajari makna leksikal. Kang dimaksad kaliyan makna gramatikal nggih niku makna tembung kang tumimbul keranten wontene proses gramatikal atanapi peristiwa gramatikal, sedeng kang dimaksad kaliyan makna leksikal nggih niku makna tembung kang kirang langkung makna tembung punika angger.

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Antawis morfologi kalian sintaksis punika sami-sami ngrupiaken setunggale ilmu basa, nanging morfologi ilmu kang mlajari wangun-wangun tembung sedeng sintaksis punika ilmu basa kang mlajari hubungan antawis tembung/frasa/klausa/ ukara kang setunggal kaliyan tembung/frasa/ klausa/ukara kang sanese. Mekaten ugi masalah bidang kajiane, upami morfologi punikia bidang kajian kang paling ageng puniku tembung atanapi morfem, sedeng sintaksis punika bidang kajian kang paling alit puniku tembung atanapi morfem.

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Tembung kirata atanapi jarwa dasa disebat ugi rura basa nggih niku tembung arupi panyindekan saking kalih tembung atanapi langkung kang ditugel-tugel. Anadene kang dipendet punika kecap kang awal atanapi akhire kemawon. Wonten kang nyebat yen kirata basa puniki cumi kinten-kinten mawon atanapi pepantes diluyuaken sareng kawontenae kahanan. Tembung kira-kira wau lajeng direka-reka tegese supados saluyu kaliyan karakteristik atanapi tetenger khas kang wonten teng barang / benda atanapi kegiatan kang dimaksad. Teng selebete basa Indonesia, kirata basa puniki sejajar kaliyan etimologi, nggih niku asal-usule tembung.

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

b.     afiks   :    afiks disebat ugi imbuhan nggih niku bentuk ketalen kang ditambihaken teng tembung dasar atanapi wangun dasar. Kang kalebet teng afiks punika wonten gangsal, nggih niku (1) prefiks atanapi ater-ater, (2) infiks atanapi seselan, (3) sufiks atanapi akhiran, (4) konfiks nggih niku gabungan ater-ater lan akhiran kang waktos tumempele mboten sesarengan selebete ndukung setunggal fungsi, lan (5) simulfiks nggih niku gabungan awalan lan akhiran kang waktos tumempele kangge ndukung setunggal fungsi secara sesarengan.

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Kados kang sampun dipertelakaken teng inggil nyaniya tembung punika diwangun dening setunggal morfem atanapi langkung. Morfem nggih niku satuan gramatik kang paling alit kang sampun mboten gadah satuan sanes minangka unsure. Wangun-wangun kados am–, an–, ang–, any–nge–, ny–, m–, lan n– ngrupiaken morf kang sedantene disebat nasalisasi atanapi anuswara (tembung kang gadah swanten ngirung) kang ngrupiaken alomorf saking morfem kauger / aN– /, mekaten ugi wangun pe–, pen–-, pem–-, peny–, peng–, lan penge– disebat nasalisasi atanapi anuswara kang ngrupiaken alomorf saking morfem kauger / peN– /.

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Stabilitas fonologis raket petaliane kaliyan adegan batin kang arupi kekonstanan. Morfologis atanapi tembung raket pertaliane kaliyan urutan fonem kalebet morfem kang dados pangwangune. Urutan fonem kaliyan morfem teng tembung punika selamie matok nurutaken kaidah. Robihe urutan unsur-unsure  punika ngrobih identitas tembung. Umpamie tembung kucing mboten saged robih urutane dados cikung, ngicuk, cuking, kicung, ngucik , atanapi sanese lantaran makna kang digadahi punika saged robih, malah saged ical pisan

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Proses morfologis puniku wonten tigang cara, nggih niku afiksasi, reduplikasi, lan kompositumisasi. Afiksasi nggih niku proses pembentukan tembung kaliyan cara nambihaken atanapi mbubuhaken bubuhan tembung-tembung kang disebat afiks.  Asil saking proses afiksasi disebate tembung andahan (kata berimbuhan). Kang disebat reduplikasi nggih niku proses pembentukan tembung kaliyan cara ngulang wangun dasare. Tembung kang diwangun saking proses reduplikasi disebate tembung saroja (kata ulang). Sedeng kang disebat kompositumisasi nggih niku proses pembentukan tembung kaliyan cara nggabungaken kalih tembung. Tembung kang diasilaken saking proses kompositumisasi disebate tembung camboran (kata majemuk).

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Konfiks nggih niku gabungan ater-ater kaliyan akhiran kang tumempele teng morfem kangge sesarengan ndukung atanapi nyokong setunggale fungsi mboten secara sesarengan teng waktos kang sami. Morfem aN– + –aken tumempele teng tembung ngrungokaken (teng kaidah morfologis, upami tembung punika dipungkes kaliyan deret fonem vokal / u / ditambih kaliyan sufiks –kaken , maka deret vokal / ua / robih dados / oka / puniku mboten secara sesarengan, keranten wangun dasare punika rungokaken, atanapi saged ugi tembung asale saking tembung ngrungu ditambih kaliyan sufiks –kaken) . Anadene prosese nggih niku wangun asal rungu + –kaken dados rungokaken . Tembung rungokaken punika disukani ater-ater aN– dados ngrungokaken . Atanapi prosese kados puniki wangun asal rungu + –aN dados ngrungu . Tembung ng rungu punika disukani akhiran –kaken dados ngrungokaken .

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Simulfiks nggih niku gabungan prefiks kaliyan sufiks kang tumempele teng tembung asal secara sesarengan kangge sesarengan ndukung atanapi nyokong setunggal fungsi. Umpamie morfem ke–an kang tumempele secara sesarengan teng tembung kelakuan, kedinginan, keberatan, lan sapanunggalane. Morfem ke–an punika tumempele sacara sesarengan teng tembung laku, dingin, lan berat, keranten teng tuturan sedinten-dinten mboten wonten tembung lakuan, dinginan, lan beratan atanapi kelaku, kedingin, lan keberat.

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Seliyane afiks asli basa Cerbon, afiks ugi wonten kang asale saking basa asing. Kang dimaksaad sareng afiks saking basa asing punika afiks kang asale sanes saking basa Cerbone piyambek. Kang kalebet teng wangun afiks asing punika kados pra–, a–, –wan, –wati, –is, –man, –wi, –in, –at, –if, –al, –or, –ik, –us, –sasi, –asi, –itas, lan im–, kados dene teng tembung-tembung prasejarah, asusila, olahragawan, sukarelawati, sosialis, seniman, maknawi, muslimin, muslimat, sportif, musikal, provokator, heroik, pilitikus, afiksasi, inisiasi, produktivitas, lan immaterial, mboten saged digolongaken teng jenis afiks keranten dereng saged medal saking lingkungane. Maksade, afiks punika dereng sanggem tumempel teng satuan sanese kang asale sanes saking basa aslie.

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Upami kursi males punika ngrupiaken klausa, temtos mawon tembung kursi punika saged dikintil kaliyan tembung puniki/punika/puniku daos kursi puniki/ punika/ puniku males. Tembung males ugi kedah saged dikrihini kaliyan tembung rada atanapi mboten atanapi tembung gradatif sanese dados kursi punika rada males atanapi kursi punika mboten males. Jelas hal teng inggil punika setunggale hal kang mboten mumkin dumados. Benten kaliyan wangun adi males kang diantawis kalih tembung punika saged diseseli kaliyan tembung puniki/puniku/punika atanapi rada lan mboten dados adi puniki males, adi puniku rada males, adi punika mboten males.

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Upami kursi males punika ngrupiaken frasa temtos kemawon saged diseseli kaliyan tembung kang , dados kursi kang males . Jelas hal punika setunggale hal kang mboten mumkin. Benten kaliyan wangun adi males kang diantawis kalih tembung punika saged diseseli kaliyan tembung kang dados adi puniki kang males. Saking tetelan punika, wangun kursi males mboten kalebet teng wangun klausa atanapi frasa nanging wangun kursi males punika kalebet teng wangun tembung majemuk atanapi tembung camboran.

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

1)  Salah setunggal atanapi sedantene unsur pangwangun tembung camboran punika ngrupiaken pokok tembung. Pramila punika, unggal gabungan kaliyan pokok tembung kalebet teng jinis tembung camboran. Tembung camboran kang mengadege saking unsur tembung kaliyan pokok tembung umpamie kolam renang, lomba lari, kamer kerja , lan sapanunggalane. Tembung camboran kang megadege saking unsur tembung pokok kaliyan tembung pokok kados dene matur nuwun, lomba masak, dol tinuku, tanggung jawab , lan sapanunggalane.

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Morfem unik nggih niku morfem kang kesanggeman kangge tumempele atanapi kombinasie cumi sareng setungal ijenan atanapi tembung kang sampun temtos. Umpamie, tembung peteng njimet . Tembung peteng sanes ngrupiaken morfem unik keranten seliyane tembung peteng njimet ugi wonten tembung pepetengan, kepetengen, metengaken, metengi, dipetengi, dipetengaken, petengana, petengaken . Sedeng tembung njimet mboten sanggem dikombinasiaken kaliyan tembung kang sanes, sanese kaliyan tembung peteng . Dados, kang kelebet teng jenis morfem unik punika morfem njimet . Contoh sanese kados padang linglang , ciut ngumprut , cilik mentik , gering aking, lemu jembu, sepi nyanyep, kuning pling, sesek njubel, kebek mulek, abang mbranang , putih ngicis , ireng geteng , iji mboro ( royo-royo )lan sapanunggalane.

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Morfofonemik mlajari perobihan-perobihan fonem atanapi aksara kang timbul minangka akibat papanggihan setunggal morfem kaliyan morfem kang sanese. Umpamie morfem aN– upami kepanggih kaliyan morfem ajar ngasilaken tembung anuswara angajar . Morfem aN– kepanggih kaliyan morfem bantu ngasilaken tembung anuswara a mbantu . Morfem ke–an kepanggih kaliyan morfem raja ngasilaken tembung keraja?an kaliyan wontene perobihan / ? /. Morfem di–aken upami kepanggih kaliyan morfem tuku ngasilaken tembung ditukokaken .

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Tembung kang gadah prefiks aN– teng tataran basa Cerbon disebate tembung anuswara. Tembung anuswara nggih niku tembung kang gadah swanten ngirung. Sedanten tembung kang gadah prefiks aN– kalebet teng tembung verbal atanapi tembung kriya, langkung tepate tembung kriya aktif. Mangkane, afiks aN– cumi gadah setunggal fungsi kemawon nggih niku mangun tembung kriya atanapi tembung verbal. Kang dimaksad kaliyan tembung kriya nggih niku tembung kang teng tataran wewengkon atanapi tataran klausa gadah kecenderungan kangge nempati fungsi predikat lan teng tataran frasa saged dinegatifaken kaliyan tembung mboten.

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Tembung-tembung kriya punika kalebet teng golongan tembung kriya intransitif. Tembung kriya intransitif nggih niku tembung kriya kang mboten saged dikintil dening objek. Wonten ugi tembung kang gadah afiks ka– kang mumkin kagolong teng tembung kriya pasif lan mumkin ugi kagolong teng tembung kriya intransitif, umpamie tembung kaedek . Tembung kaedek teng ukara Ahmad kaedek kaca kalebet teng golongan tembung kriya intransitif, sedeng teng ukara Kaca iku kaedek Ahmad kalebet teng golongan tembung kriya pasif. Teng ukara Ahmad kaedek kaca, tembung kaca ngrupiaken pelengkep, sedeng teng ukara Kaca iku kaedek Ahmad tembung Ahmad ngrupiaken objek.

seperti di kutip dari https://bagawanabiyasa.wordpress.com

Infiks atanapi seselan –in– gadah fungsi kangge ngewangun tembung kriya pasif. Nanging mboten sedanten seselan –in– kalebet teng golongan tembung kriya pasif, umpamie tinuron, tinangfiu, ininget, rinasa, tembung-tembung punika kelebet teng golongan tembung kriya intransitif. Wonten ugi seselan –in– kang kelebet teng golongan tembung kriya pasif lan mumkin ugi kelebet teng golongan tembung kriya intransitive. Teng sisih punika wonten ugi seselan –in– kang kelebet teng golongan tembung sifat, kados dene : ininggil, inendep, inutami, sinae, pininter, lan sapanunggalane. Anadene makna kang digadahi deniung seselan –in– nggih niku :


Baca juga :

adi : cantik, indah; ngadi-adi : rewel, nakal, banyak tingkah; adibusana : pakaian yang indah; adidaya : lebih berkuasa; adigang : menyombongkan kekuatan; adiguna : menyombongkan kepandaian; adigung : menyombongkan kebesaran; adikara : berwibawa, berkuasa; adilaga : perang; adiluhung : agung, anggun, bernilai lebih; adiluwih : lebih; adimuka : penguasa, pembesar; adinegara : negara yang lebih baik; adipati : bupati, vatsal; adiraga : bersolek, berhias; adiraja : pemaaf, pemurah; adiwarna : jenis yang lebih baik; adiwignya : orang pandai

seperti di kutip dari https://kepalsemesta.wordpress.com

kala : 1 waktu, zaman; 2 kala (binatang); 3 nama dewa (Batara Kala); kala bénjing : besuk pagi; kala jengking : kalajengking; kalabendu : jaman yang buruk; kalabusana : seperangkat pakaian kebesaran; kalacakra : jenis jimat; kaladésa : perangkat desa; kaladuta : alamat buruk; kalakatha : ketam, kepiting; kalamangga : laba-laba; kala mangsa : kadang-kadang; kalamenjé : sejenis kala; kalamenjing : jakun; kalamenta : nama rumput; kalamudheng : nama perhitungan pencuri; kalanjana : nama rumput; kalan-kalan : kadang-kadang; kalandara : matahari; kalantara : sejenis buah petai; kalasangka : terompet sangkakala; kalawasana: akhir zaman; kalawija : abdi di istana; kalayuga, kaliyuga : zaman kaliyuga, zaman kesengsaraan

seperti di kutip dari https://kepalsemesta.wordpress.com

kami : kami; kamibocahen : kekanak-kanakan; kamigilan : sangat jijik; kamijara : serai; kamijijèn : jijik sekali; kamikakon : kejang, kaku; kamikekelen : tertawa terpingkal-pingkal; kamilurusen : bertambah sedih lalu mati; kamipurun : sangat mau; kamirahan : kemurahan; kamirurusen : bertambah sedih lalu mati; kamisandhanen : sakit pada payudara; kamisasaten : terbeliak matanya; kamisepuh : kepala desa; kamisesegan : tersedan-sedan (menangis); kamitégan : tega, sampai hati; kamitenggengen : melihat tertegun; kamitigan : masak belum waktunya; kamitontonen : tertegun, heran melihat; kamituwa : kepala dusun; kamiwelasen : kasih sayang, perhatian

seperti di kutip dari https://kepalsemesta.wordpress.com

maha : maha, tinggi; maha agung : maha agung; maha bala : kuat, perkasa sekali; maha bara : tidak lazim, mustahil; mahabaya : bahaya besar; mahaguru : mahaguru, guru besar; maha kuwasa : maha kuasa; maha luhur : maha luhur; maha mulya : maha mulia; mahamuni : pendita; maha pawitra: suci, luhur; maha prana : huruf besar pada huruf Jawa; maharaja: raja besar; maharatna : manikam; maharesmi : bulan; maharja : selamat; maharsi : maharesi; mahasiswa : siswa di perguruan tinggi; maha suci: maha suci; mahasura: pemberani,

seperti di kutip dari https://kepalsemesta.wordpress.com

pari : 1 padi; 2 hal, mengenai; paribasan : peribahasa; paribawa : wibawa, pengaruh; paributa : dihina, dihinakan; paricara : abdi, hamba (laki-laki); paricari : abdi perempuan; parigraha : 1 rumah; 2 istri, suami; 3 menyentuh; parihasa : penghinaan, celaan; parikena : cocok, berkenan; parikrama : sambutan, penghormatan; parikudu : mau sekali, seharusnya; parimaha : besar; parimarma, parimirma : kemurahan, belas kasih; paripadu : seharusnya, mau sekali; paripaos: peribahasa, ungkapan; paripeksa : terpaksa, seharusnya; paripolah : bertingkah polah; paripuja: penghormatan; paripurna : paripurna, sempurna, pensiun; paritrana : pertolongan, perlindungan; paritustha : senang, girang, puas; pariwanda : penghinaan, celaan; pariwara : berita, warta; paripasa : paksa

seperti di kutip dari https://kepalsemesta.wordpress.com

pasang : 1 pasang, memasang; 2 pasang surut; pasang aliman tabé : mohon ijin, permisi; pasangan : 1 pasangan, jodoh; 2 pasangan dalam huruf Jawa untuk mematikan huruf di depannya; pasang angkuh : sombong, congkak; pasang gendéra : mengibarkan bendera ; pasang giri : sayembara; pasangliring : mengerling, menjeling; pasang grahita (-cipta) : menggunakan indra; pasang rakit : susunan, struktur, pengaturan; pasang ulat : menggunakan bahasa simbol; pasang semu : menggunakan bahasa simbol; pasang walat : mengenakan tulaknya

seperti di kutip dari https://kepalsemesta.wordpress.com

salah : salah; salah cipta : salah cipta; salah deleng : salah lihat; salah éndah : salah tingkah, berbuat yang tidak perlu; salah gawé : salah kerja; salah gemèn : suka mencampuri urusan orang lain; salah graita : salah rasa; salah ilik: salah lihat; salah kapti : salah niat, salah tujuan; salah kardi : salah kerja; salah karya : salah kerja; salah kedadèn : salah kejadian, keliru; salah mangsa : salah iklim, salah musim; salah pandeleng : salah lihat; salah siji : salah satu; salah surup : salah tahu; salah tampa : salah terima, salah paham; salah ton(en) : salah lihat; salah urat : salah urat, kesleo; salah wèwèng : menyeleweng

seperti di kutip dari https://kepalsemesta.wordpress.com

upa : sebutir nasi; upaboga : mencari makan, kelezatan, kenikmatan; upadamel: pekerjaan, kegiatan; upadana: pemberian; upadrawa: kesusahan kesengsaraan; upagawé : pekerjaan, kegiatan; upajati : nama tembang gedhe; upajiwa: penghasilan, penghidupan, nafkah, rezeki; upajiwana : nafkah, rezeki; upakara : merawat, memelihara; upakarti : 1 hasil kerja, karya; 2 penghargaan; upakarya : hasil kerja, karya; upakawis (dipun-) : (ing.) dipelihara, dirawat; upaksama: ampun, maaf; upalabi: pendapat, pengertian, pemilikan; upalamba : pendapat, pengertian, pemilikan; uparengga: perhiasan, hiasan; uparukti: pasang rakit, merakit; upasadana : penghormatan, penghargaan; upasaka: calon pendita; upasama : sabar, rendah hati; upasanta: sabar, rendah hati; upasantwa: penghibur; upasraya: minta pertolongan, bantuan; upasuba: hiasan untuk penghormatan; upawada: kemarahan, celaan

Isu tentang harimau siluman yang berada di hutan di Desa Hatupangan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, terbantahkan. Setelah memburu jejaknya, warga akhirnya yakin harimau itu asli. Cerita harimau siluman itu mencuat saat puluhan warga masuk ke hutan tepatnya Desa Hatupangan, pada Jumat 16 Februari 2018 sekitar pukul 16.00 WIB. “Ada isu siluman harimau. Setelah dicek, rupanya bukan harimau siluman. Harimau asli, korban digigit. Kawan-kawan korban lalu cepat membantu. Sementara harimaunya lari,” kata Sekretaris Desa Hatupangan, Tafsir Nasution, saat dikonfirmasi, Senin (19/2/2018). Terkait isu siluman harimau, Tafsir menepisnya. Isu seperti itu muncul ketika ada warga melihat harimau berdiri dua kaki. Dengan itu, warga tersebut curiga. “Warga nampak (melihat) harimau itu di kebun karet, curiga. Lalu diikuti jejaknya. Sampai di depan gua, rupanya harimau asli. Terkait isu harimau siluman, nggak ada. Saran saya, masyarakat untuk hari jangan ada masuk hutan, keselamatan itu penting,” tukas Tafsir. Akibatnya, seorang warga Arkat (48) digigit harimau dan mengalami luka di bagian lututnya. Kondisi Arkat sudah membaik.

Gara-gara misi perburuan siluman harimau, warga di Kabupaten Mandailing Natal diterkam harimau betulan. Warga bernama Arkat menderita luka-luka. Kejadian ini terjadi pada Jumat (16/2) sekitar pukul 16.00 WIB di Desa Hatupangan, Kabupaten Madina. Peristiwa berawal saat sekitar 50 orang warga berangkat menuju ke sebuah hutan yang ada di sana. “Mereka bermaksud melakukan pencarian terhadap manusia siluman (yang) menurut warga ada isu ditemukan di hutan ada makhluk wajahnya manusia badannya harimau,” ujar Kabid Humas Polda Sumut Kombes Rina Sari Ginting dalam keterangannya, Sabtu (17/2/2018). Karena isu tersebut, masyarakat di sana melakukan pencarian. Setibanya di sana, warga menemukan sebuah lubang atau gua yang dicurigai sebagai tempat persembunyian. “Tiba-tiba muncul harimau sehingga menggigit masyarakat (korban) yang sedang melakukan pencarian,” jelas Rina. Arkat, korban yang digigit kemudian langsung dibawa ke Puskesmas Muara Soma. Pihak kepolisian, kata Rina tengah berkoordinasi dengan tim BBKSDA Sumut dan Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) dan TNI. “Korban atas nama Arkat (48), warga Desa Hatupangan. Dia mengalami luka gigitan dibawah lutut sebanyak 3 titik,” kata Rina. “Kita imbau masyarakat agar tetap tenang. Situasi kondusif,” imbuhnya. Dikonfirmasi secara terpisah, Kasubbag Tata Usaha Balai TNBG, Boby Nopandri mengatakan warga masuk ke hutan dan mencari sosok yang disebut sebagai siluman harimau itu, karena merasa resah. “Warga kemarin ada beraktifitas disana. Ketemu harimau. Korban sudah dibawa ke puskesmas. Sebelumnya masyarakat ronda kesana karena resah adanya isu siluman tersebut dan kemudian ingin dipastikan. Kita sudah berkoordinasi dengan petugas terkait untuk mengecek langsung,” kata Boby.

Pemprov DKI Jakarta melakukan uji coba program One Karcis One Trip (OK Otrip) rute Lebak Bulus-Pondok Labu. Uji coba dilaksanakan mulai hari ini. “Iya per hari ini (dilakukan uji coba),” kata Kepala Seksi Angkutan Jalan Sudin Perhubungan Jakarta Selatan, Afrinda Tri Wardhani, saat dimintai konfirmasi, Senin (19/2/2018). Menurut Afrinda, uji coba dilakukan berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta tentang Penetapan Operator Angkutan Layanan OK Otrip Trayek OK-3 dan OK-4. Ada dua rute yang dilakukan uji coba sesuai peraturan tersebut, yaitu Lebak Bulus-Pondok Labu dan Grogol-Tubagus Angke. Pelaksanaan uji coba dilakukan mulai pukul 05.00 WIB pagi tadi. Uji coba dilaksanakan hingga 3 bulan ke depan. Kendaraan yang beroperasi berjumlah delapan unit. “(Uji coba) sampai 3 bulan ke depan,” ujarnya. Berikut ini rute OK Otrip Lebak Bulus-Pondok Labu: Rute berangkat: Terminal Lebak Bulus – Jl. Ps. Jumat – Jl. Lebak Bulus Raya – Jl. Pertanian Raya – Jl. Delima Raya – Jl. Karangtengah Raya – Jl. Karangtengah 1 – Jl. H. Ipin – Jl. RS. Fatmawati – Jl. Pinang Raya – Jl. Pinang 1 – Jl. Margasatwa. Rute kembali: Jl. H. Ipin – Jl. Karangtengah 1 – Jl. Karangtengah Raya – Jl. Delima Raya – Jl. Pertanian Raya – Jl. Lebak Bulus Raya – Jl. TB. Simatupang – Terminal Lebak Bulus. Terhubung dengan: 1. Halte busway koridor 8, 6H, 7A, dan 11E 2. Bustop Jl H Ipin dengan TJ koridor 1E

PT Jasa Marga memberitahu ada pengerjaan proyek Light Rail Transit di ruas tol Cawang-Cikampek. Pengendara diminta berhati-hati. “Hati-hati di ruas Tol Cawang-Cikampek dalam pembangunan konstruksi LRT/elevated,” tulis Jasa Marga dalam akun Twitternya, @PTJasamarga, Senin (19/2/2018). Selain itu, Jasa Marga meminta pengendara mengurangi laju kecepatan kendaraan. Kecepatan maksimal disarankan dalam kisaran 30-50 kilometer per jam. “Kurangi kecepatan kendaraan anda dan hindari jalan berlubang. Kecepatan maksimum 30-50 km/jam,” tambahnya. Sementara itu, ruas tol CawangkeCikampek masih lancar hingga pukul 03.00 WIB. Begitu juga arah sebaliknya yang mengarah ke Tol Dalam Kota. 02.00 WIB #Tol_Japek HATI-HATI DI RUAS TOL JAKARTA – CIKAMPEK pic.twitter.com/Jis1fB50l8 — PT. JASAMARGA (@PTJASAMARGA) February 18, 2018

Harimau Sumatera. (Liputan6.com/M Syukur) Isu mengenai siluman harimau atau harimau jadi-jadian berkepala manusia menghebohkan banyak warga Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut). Buat memastikan adanya siluman harimau, sekitar 50 warga masuk ke dalam hutan. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah (Polda) Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan pencarian diduga makhluk gaib itu dilakukan warga yang berasal dari empat desa, yakni Hutapangan, Huta Lobu, Bangkelang, dan Tambang Kaluang. Pencarian berlangsung pada Jumat, 16 Februari 2018, sekitar pukul 16.00 WIB. “Keempat desa itu masuk dalam Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal,” ucap Rina, kepada Liputan6.com , Sabtu, 17 Februari 2018. Saat pencarian di hutan yang berada di Madina tersebut, warga menemukan lubang atau gua yang dicurigai sebagai persembunyian siluman harimau. Warga kemudian memasuki gua untuk memeriksanya. Ketika sejumlah warga masuk ke gua tersebut, tiba-tiba muncul seekor harimau dan langsung menggigit seorang warga. Melihat kondisi itu, warga lainnya langsung melarikan korban ke Puskesma Muara Soma, sedangkan harimau lari ke dalam hutan. “Korban bernama Arkat warga Desa Hutapangan. Usianya 48 tahun, dan pekerjaannya petani. Lokasi di wilayah hukum Polsek Batahan,” terang Rina.   3 Luka Gigitan Harimau di Kaki Seorang warga Mandailing Natal, Sumut, terluka digigit harimau ketika memastikan ada siluman harimau berkepala manusia di sebuah gua. (Liputan6.com/Reza Efendi) Mantan Kapolsek Binjai itu mengatakan pula, korban Arkat mengalami luka gigitan sebanyak tiga titik di bagian kaki, tepatnya di bawah lutut. Saat ini, kepolisian setempat sedang memeriksa saksi-saksi atas nama Mahdi (49) dan Addal (48). “Kedua saksi mata ini sama-sama warga Desa Hatupangan dan juga bekerja sebagai petani,” sebutnya. Selain memeriksa para saksi, kepolisian setempat juga mengecek ke lokasi digigitnya warga oleg seekor harimau. Polisi juga berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Taman Nasional Badang Gadis (TNBG). “Warga setempat diimbau tetap tenang. Situasi sampai saat ini masih kondusif, dan pencarian hal yang dimaksud warga juga sedang dilakukan Polsek Batahan, pihak kecamatan, koramil dan BKSDA,” Rina menandaskan.

Related Posts

Comments are closed.