Tragedi Aneh Ambruknya Selasar BEI

Tragedi Aneh Ambruknya Selasar BEI

Selasar Tower II Bursa Efek Indonesia (BEI) Senayan, Jakarta Selatan ambruk. Akibat peristiwa itu puluhan mahasiswa yang ada di atas selasar jatuh dan orang yang berada di bawahnya pun tertimpa puing. Kejadian itu terjadi pada pukul 11.56 WIB Senin (15/1) kemarin ada 75 orang yang terluka. Kebanyakan korban luka merupakan mahasiswa Universitas Bina Darma, Palembang, yang sedang melakukan kunjungan industri ke BEI. Korban luka yang dirawat di RSAL Mintohardjo sebanyak 17 orang, di RS MRCCC Siloam 31 orang, di RSPP 7 orang, dan di RS Jakarta 20 orang. Dilaporkan, sejumlah korban mengalami patah tulang. Direktur Utama BEI, Tito Sulistio sempat membantu proses evakuasi korban. Setelah kejadian dia langsung memanggil pengurus gedung terkait hal ini. Pihak pengelola gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut Tower II lokasi ambruknya selasar belum pernah direnovasi. Tower II dibangun pada 1997-1998. “Untuk daerah sana (Tower II) nggak ada,” kata Director of Cushman & Wakefield Indonesia Farida Riyadi di gedung BEI, Senin (15/1/2018). Namun pemeriksaan bangunan dipastikan Farida dilakukan berkala setiap tahunnya. Pemeriksaan terakhir dilakukan pada Mei 2017. Ada 20 penyewa (tenant) pada Tower II. Sementara itu pasca keajadian polisi langsung melakukan penyelidikan dengan melibatkan Puslabfor. Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan kejadian tersebut terasa aneh karena gedung BEI secara kasat mata masih sangat bagus. “Kalau orang Barat biasa sebut freak accident, kejadian aneh, ‘nggak mungkin ah, tapi kejadian’. Kalau ini bangunan tua, ya iyalah. Tapi bangunan sebagus itu, ini menurut saya aneh tapi nyata,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (15/1/2018). Setyo mengatakan kepolisian akan memeriksa blueprint gedung dan kontraktor. Ia menjelaskan dalam blueprint akan terlihat gedung BEI dibangun dengan kekuatan yang bisa bertahan berapa tahun. Jika bagian gedung roboh lebih cepat daripada batasan usia yang ditentukan, wajar bila ada kemungkinan kecerobohan pemeliharaan gedung. “Bangunan punya blueprint. Pasti ada kekuatannya untuk berapa tahun. Misalnya kekuatannya dibangun untuk 25 tahun. Nah ini belum sampai 25 tahun (sudah roboh), lah ini ada apa. Pertanyaannya seperti itu,” ujar Setyo. “Gedung tinggi ada waktu tertentu dicek. Nggak mungkin nggak dicek. Memang ini mungkin lolos pengamatan. Freak accident tadi,” tandas dia. Hari ini Puslabfor Mabes Polri akan kembali melanjutkan penyelidikan untuk mengusut kasus ini. Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin juga berencana ke Jakarta untuk menengok kondisi mahasiswa asal Palembang yang jadi korban dari peristiwa ini.

Selasar Tower II Bursa Efek Indonesia (BEI) Senayan, Jakarta Selatan ambruk. Akibat peristiwa itu puluhan mahasiswa yang ada di atas selasar jatuh dan orang yang berada di bawahnya pun tertimpa puing. Kejadian itu terjadi pada pukul 11.56 WIB Senin (15/1) kemarin ada 75 orang yang terluka. Kebanyakan korban luka merupakan mahasiswa Universitas Bina Darma, Palembang, yang sedang melakukan kunjungan industri ke BEI. Korban luka yang dirawat di RSAL Mintohardjo sebanyak 17 orang, di RS MRCCC Siloam 31 orang, di RSPP 7 orang, dan di RS Jakarta 20 orang. Dilaporkan, sejumlah korban mengalami patah tulang. Direktur Utama BEI, Tito Sulistio sempat membantu proses evakuasi korban. Setelah kejadian dia langsung memanggil pengurus gedung terkait hal ini. Pihak pengelola gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut Tower II lokasi ambruknya selasar belum pernah direnovasi. Tower II dibangun pada 1997-1998. “Untuk daerah sana (Tower II) nggak ada,” kata Director of Cushman & Wakefield Indonesia Farida Riyadi di gedung BEI, Senin (15/1/2018). Namun pemeriksaan bangunan dipastikan Farida dilakukan berkala setiap tahunnya. Pemeriksaan terakhir dilakukan pada Mei 2017. Ada 20 penyewa (tenant) pada Tower II. Sementara itu pasca keajadian polisi langsung melakukan penyelidikan dengan melibatkan Puslabfor. Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan kejadian tersebut terasa aneh karena gedung BEI secara kasat mata masih sangat bagus. “Kalau orang Barat biasa sebut freak accident, kejadian aneh, ‘nggak mungkin ah, tapi kejadian’. Kalau ini bangunan tua, ya iyalah. Tapi bangunan sebagus itu, ini menurut saya aneh tapi nyata,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (15/1/2018). Setyo mengatakan kepolisian akan memeriksa blueprint gedung dan kontraktor. Ia menjelaskan dalam blueprint akan terlihat gedung BEI dibangun dengan kekuatan yang bisa bertahan berapa tahun. Jika bagian gedung roboh lebih cepat daripada batasan usia yang ditentukan, wajar bila ada kemungkinan kecerobohan pemeliharaan gedung. “Bangunan punya blueprint. Pasti ada kekuatannya untuk berapa tahun. Misalnya kekuatannya dibangun untuk 25 tahun. Nah ini belum sampai 25 tahun (sudah roboh), lah ini ada apa. Pertanyaannya seperti itu,” ujar Setyo. “Gedung tinggi ada waktu tertentu dicek. Nggak mungkin nggak dicek. Memang ini mungkin lolos pengamatan. Freak accident tadi,” tandas dia. Hari ini Puslabfor Mabes Polri akan kembali melanjutkan penyelidikan untuk mengusut kasus ini. Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin juga berencana ke Jakarta untuk menengok kondisi mahasiswa asal Palembang yang jadi korban dari peristiwa ini.

Polisi menilai peristiwa ambruknya selasar di Tower II gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai freak accident atau kecelakaan yang aneh. Polisi akan menyelidiki faktor penyebab ambruknya selasar dengan memeriksa blueprint gedung dan kontraktor. “Kalau orang Barat biasa sebut freak accident , kejadian aneh, ‘nggak mungkin ah, tapi kejadian’. Kalau ini bangunan tua, ya iyalah. Tapi bangunan sebagus itu, ini menurut saya aneh tapi nyata,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (15/1/2018). [Gambas:Video 20detik] Setyo menjelaskan dalam blueprint akan terlihat gedung BEI dibangun dengan kekuatan yang bisa bertahan berapa tahun. Jika bagian gedung roboh lebih cepat daripada batasan usia yang ditentukan, wajar bila ada kemungkinan kecerobohan pemeliharaan gedung. “Bangunan punya blueprint . Pasti ada kekuatannya untuk berapa tahun. Misalnya kekuatannya dibangun untuk 25 tahun. Nah ini belum sampai 25 tahun (sudah roboh), lah ini ada apa. Pertanyaannya seperti itu,” ujar Setyo. “Gedung tinggi ada waktu tertentu dicek. Nggak mungkin nggak dicek. Memang ini mungkin lolos pengamatan. Freak accident tadi,” tandas dia. Setyo mengatakan saat ini kegiatan yang dilakukan kepolisian di tempat kejadian perkara masih fokus pada evakuasi korban. “Masih evakuasi, yang penting selamat dulu,” imbuh dia.

[Gambas:Video 20detik] Selasar Tower II Bursa Efek Indonesia (BEI) ambruk dan menyebabkan puluhan orang terluka. Mereka sebagian besar mahasiswa yang sedang melakukan kunjungan. detikcom memperoleh video CCTV yang menunjukkan detik-detik ambruknya selasar itu. Tampak peristiwa tersebut terjadi pada pukul 11.56 WIB. Peristiwa itu terjadi dengan cepat. Dari video, tampak ada rombongan mahasiswa yang berkumpul di selasar. Rombongan besar mahasiswa terlihat jelas terjatuh dari selasar. Sebagian karyawan di gedung itu juga tampak berlarian saat selasar ambruk. Seorang karyawan bernama Arie sebelumnya menyebut suara selasar yang ambruk seperti suara bom. “Itu tiba-tiba ada suara kayak bom gitu . Terus lift mati semua,” ujar seorang saksi bernama Arie ketika dihubungi detikcom , Senin (15/1/2018). Saat itu, Dana dan karyawan lainnya langsung dievakuasi melewati tangga darurat. Dia menyebut ada banyak korban yang terkena reruntuhan selasar itu. “Habis itu, kita disuruh keluar semua lewat jalur evakuasi di tangga darurat,” ucapnya. “Itu kan kejadian di lantai 1, bawahnya restoran, jadi yang di bawah kena semua,” imbuh Dana.

REPUBLIKA.CO.ID, Selasar lantai Tower 2 Gedung Bursa Efek Indonenesia  runtuh saat ada kunjungan sejumlah mahasiswa di BEI., Senin (15/1).  Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto, mengatakan para mahasiswa itu sedang melakukan kunjungan. “Mereka mau kunjungan, selama nunggu itu ambruk. Nunggu di atas. Ada saksi mata yang berdiri di situ saat ambrol,” kata Setyo. Setyo menambahkan, peristiwa runtuhnya gedung BEI ini bisa disebut sebagai freak accident atau kejadian yang aneh. Pasalnya, melihat kondisi yang bangunan sebelum ambruk, bangunan tersebut tampak dalam kondisi baik. “Tidak mungkin ah , tapi ada kejadian. Kalau ini bangunan tua, ya iyalah (mungkin ambruk, Red). Tapi bangunan sebagus itu, ini menurut saya aneh tapi nyata,” kata Setyo. Gedung-gedung bertingkat, Setyo mengatakan, seharusnya dilakukan pengecekan di waktu-waktu tertentu. “Memang ini mungkin lolos pengamatan. Freak accident tadi,” kata Setyo. Dalam peristiwa ini, Kepolisian masih fokus dalam tahap evakuasi dan pendataan jumlah korban. Sejauh ini 77 orang diperkirakan mengalami luka luka. Sebanyak 17 korban berada di RSAL dr Mintoharjo sebanyak 17 orang, RS MRCCC Siloam terdaftar 31 orang korban, kemudian di RS Pertamina sebanyak 7 orang, dan RS Jakarta sebanyak 20 orang.

Related Posts

Comments are closed.