Tentang Aksi Bule Prancis yang Sebut Citarum Sungai Paling Tercemar

Tentang Aksi Bule Prancis yang Sebut Citarum Sungai Paling Tercemar

Gary Benchengib, yang membuat video viral soal Sungai Citarum, kemarin diajak Presiden Joko Widodo meninjau kondisi di hulu sungai tersebut. Gary adalah WN Prancis yang pernah menyebut Citarum sebagai sungai paling tercemar di dunia. Predikat itu disematkan oleh Gary dan kakaknya, Sam Bencheghib saat membuat video berjudul ‘WE’RE KAYAKING DOWN THE WORLD’S MOST POLLUTED RIVER, THE CITARUM RIVER’ atau ‘Kami Mengayuh Kayak di Sungai Paling Tercemar di Dunia, Sungai Citarum’. Video itu awalnya diunggah pada Agustus 2017. Mereka punya dua sampan botol plastik yang mereka bawa dari Bali, tempat mereka dibesarkan. Sampan itu punya rangka bambu yang menopang berbagai jenis botol plastik. Terlihat ada botol galon air mineral di bagian kanan dan kirinya. Mereka mendayung mengenakan sepatu boots karet dan kaos tangan karet warna oranye. Di situ digambarkan aktivitas mereka menggunakan sampan berbahan botol plastik, menarik anak-anak sekitar untuk melihat lebih dekat. Tak hanya orang sekitar tentunya, namun masyarakat yang jauh dari Citarum juga bakal tahu betapa joroknya sungai legendaris ini. “Kami sangat ingin membuat visualisasi yang mengejutkan dari semua sampah-sampah ini yang mengalir dari sungai ke laut,” kata Gary selaku pendiri Make A Change World. Tujuan mereka beraktivitas seperti ini adalah untuk membangun kesadaran soal bahaya polusi plastik bagi lingkungan. 80% plastik di lautan berasal dari daratan, terutama dari aliran sungai. Sampah-sampah itu harus dicegah sebelum mencebur mencemari lautan. “Saya mendayung di sungai, menemukan bangkai anjing, bangkai babi, baunya sangat mengerikan. Tapi yang mengejutkan saya adalah banyak orang yang hidup di tepian sungai dengan sedikit kesadaran soal dampak polusi sungai terhadap mereka sendiri,” kata Sam Bencheghib, Co-Founder gerakan Make A Change World. Enam bulan berlalu sejak Gary dan Sam mengayuh kayak dari botol plastik di Citarum dan merekamnya. Pemerintah kini mencanangkan revitalisasi Citarum yang bahkan dihadiri langsung oleh Presiden Joko Widodo pada Kamis (22/2/2018) kemarin. “Rehabilitasi sudah dimulai 1 Febuari lalu. Insya Allah bisa diselesaikan selama tujuh tahun,” kata Jokowi usai melakukan penanaman pohon. Gary juga diajak Jokowi untuk ngevlog bersama di hulu Sungai Citarum. Kemarin, dia juga sempat menceritakan bagaimana video soal Citarum yang dia buat bisa berdampak. “Sudah bagus, saya ikut kegiatan TNI di Bojongsoang. Sedimen sudah dibersihkan, juga (membersihkan) plastik dan limbah industri,” kata Gary kepada wartawan. Rasa gembira Gary dan Sam soal penanganan Citarum juga diungkapkan lewat Facebook. Mereka mengunggah ulang video viral yang pertama kali mereka buat dan menyampaikan kabar gembira soal revitalisasi Citarum. “Kemarin, militer Indonesia telah meluncurkan pembersihan besar dari sungai Citarum. Sungai telah dibagi menjadi 22 sektor dan ditangani lewat kerjasama yang sangat besar oleh pemerintah nasional dan daerah, militer, polisi, dan berbagai organisasi lingkungan. Indonesia menunjukkan ke dunia bahwa lewat persatuan, kita benar-benar bisa membuat perubahan besar,” demikian kata mereka dalam keterangan video itu.

Baca juga :

Pendapatan Asli Daerah di Jakarta sungguh banyak yang dapat diperoleh. Seharusnya pimpinan daerah Jakarta harus merubah pola kepemimpinannya, Jakarta tidak bisa berharap dari agraris lagi, Jakarta harus berkembang sebagai pusat jasa dan industri pariwisata, apalagi Jakarta sebagai Ibu Kota mempunyai peluang yang besar untuk itu, namun kenyataannya proyek Ancol yang berdiri di awal tahun 60 an sampai sekarang tida ada pengembangan baru, sehingga masyarakat Jakarta pun tidak bisa memanfaatkan rekreasi yang lain, lebih banyak yang stres daripada yang sehat.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Namanya perdebatan atau seminar maka apa pun hasilnya akan terhenti sampai di situ saja, karena tidak memasuki sistem formal yang bersifat mengikat. Dan pidana mati, sekalipun sah tetap dianggap sebagai kontroversi. Apakah memang kita, manusia memiliki hak untuk mencabut nyawa sesama atas nama hukum dan keadilan? Itu sebabnya berita permohonan ke MK ini menjadi sangat menarik perhatian karena hasilnya, apapun itu tentu akan konkret (implementatif) serta mengikat, di sisi lain sepertinya akan menyudahi perdebatan perihal pidana mati yang selama ini selalu berulang.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Dengan dikabulkannya permohonan para pemohon berarti MK mencabut pidana mati untuk kasus kejahatan narkotika. Harus pula disadari, pada saat itu pula muncul dilema keadilan, karena pidana mati untuk kasus-kasus lain masih tetap berlaku. Dengan kata lain, diktum putusan serupa ini seolah-olah, untuk kejahatan semisal pembunuhan (berencana), korupsi patut mendapat hukuman mati tapi tidak untuk kejahatan narkotika. Artinya nilai-nilai keadilan memperoleh ruang untuk diperdebatkan, apalagi untuk sebuah hukuman optimum, pidana mati!

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

MK selaku penjaga konstitusi (The guardian of constitution ) memang berwenang penuh untuk meniadakan segala bentuk peraturan yang dinilai bertentangan dengan konstitusi (UUD 45), itu sudah merupakan kesepakatan nasional tatkala kita mendirikan MK yang digariskan di dalam UUD 1945 dan didirikan berdasarkan UU. Bahkan untuk itu judicial review di MK didesain hanya dalam satu putusan dan langsung mengikat. Sekalipun belakangan banyak ahli melihat kelemahan dari desain ini dan berpikir untuk suatu lembaga appeal di MK.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Sekali ini, sikap penguasa pada waktu itu: “Tiada ampun bagimu”. Terlalu ruwet untuk menguraikan latar belakang sikap “harga mati” itu. Dengan mengungkapkan informasi secara polos tentang konsep sejumlah peraturan/deregulasi tata niaga (yang sedang diperjuangkan oleh tim teknokrat yang dipimpin Prof Dr Widjojo Nitisastro) yang dimuat di halaman muka Sinar Harapan, rupanya telah menyentuh situasi segitiga superpeka antara Presiden Soeharto, Tim Teknokrat Ekonomi, dan para cukong pendukung keluarga Presiden.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Dibutuhkan tindakan tegas tanpa pandang bulu untuk melindungi dan membenahi zona sempadan sungai. Sempadan sungai merupakan kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan, kanal, saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi dari kegiatan yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Ada beberapa hal penting yang perlu diingat sehubungan dengan ekosistem lahan basah. Antara lain, Ekosistem lahan basah sesungguhnya memiliki potensi alami yang sangat peka terhadap setiap sentuhan pembangunan yang merubah pengaruh perilaku air (hujan, air sungai, dan air laut) pada bentang lahan itu. Ekosistem lahan basah bersifat terbuka untuk menerima dan meneruskan setiap material ( slurry ) yang terbawa sebagai kandungan air, baik yang bersifat hara mineral, zat atau bahan beracun maupun energi lainnya, sehingga membahayakan.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi, struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu mere-sapkan air hujan secara besar-besaran. Sempadan Sungai, yaitu kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan, kanal, saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Sempadan Pantai, adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan dan melindungi kelestarian fungsi pantai dari gangguan berbagai kegiatan dan proses alam. Kawasan Sekitar Danau atau Waduk, adalah kawasan tertentu di sekeliling danau atau waduk yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsinya. Kawasan Pantai Berhutan Bakau, yaitu kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau ( mangrove ) yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Dalam kunjungan kali ini Tiongkok tidak saja memberikan tambahan bantuan pada negara Afrika, tapi Tiongkok mulai terjun melakukan diplomasi perdamaian dalam menyelesaikan masalah konflik di Sudan. Selama ini Tiongkok menghindari mengaitkan bantuan luar negeri dengan masalah dalam negeri suatu negara seperti penegakan HAM, demokrasi dan perang etnik. Dipastikan Tiongkok akan muncul menjadi kekuatan yang berpengaruh yang bisa membantu perdamaian di Afrika seperti di Sudan dan tempat lain di dunia.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Di samping itu, satu hal yang tak boleh dilupakan ialah kaum muda NU ini, melalui berbagai lembaga yang dihuninya, juga tetap mengusung hal-hal yang secara historis telah lama diperjuangkan oleh kaum tradisionalis. Kaum muda NU ini tetap merasa berkepentingan untuk membela pelaksanaan ritual-ritual ibadah tradisional yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam lokal, yang selama ini dipandang sebagai sebuah bid’ah oleh kalangan modernis. Hanya saja kini bedanya berbagai usaha pembelaan tersebut seringkali dihiasi oleh wacana-wacana HAM modern.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Jika Anda menjadi seorang calon kepala daerah, entah itu gubernur, bupati atau wali kota, tingkat pengenalan publik terhadap diri anda (sosok, wajah, minimal nama) menjadi syarat yang fundamental. Seberapa hebat pun kompetensi dan bagus rekam jejak Anda, Anda tidak mungkin menang apabila nama dan wajah Anda tidak dikenal publik. Yang menang bisa-bisa adalah calon yang tidak kompeten dan buruk rekam jejaknya. Untuk terpilih, Anda harus menjadi calon yang kompeten sekaligus dikenal luas oleh pemilih di daerah pemilihan Anda.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Untuk dapat dikenal oleh seluas mungkin pemilih, media massa atau pers menjadi salah satu instrumen utama. Hal ini terutama berlaku untuk daerah pemilihan yang wilayahnya luas dan/atau penduduknya banyak. Seorang calon gubernur, misalnya, boleh jadi sangat rajin berkeliling daerahnya untuk bertemu langsung dengan masyarakat. Namun sehebat-hebatnya seorang calon gubernur, sulit baginya untuk dapat bisa bertemu dengan sebagian besar pemilih di daerahnya. Apalagi kebanyakan calon, memutuskan ikut pilkada dalam waktu singkat, misalnya satu atau dua tahun sebelumnya. Alhasil, waktu yang tersisa tidaklah memadai.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Di sisi lain media massa tidak hanya bermanfaat bagi sang calon. Peran media massa dalam menyosialisasikan para kandidat, juga bermanfaat bagi masyarakat luas selaku pemilik suara dalam pilkada. Banyak pemilih yang tidak punya kesempatan mengenal langsung para kandidat, entah karena jarak geografis (tinggal berjauhan) atau jarak sosial (hierarki sosial) di antara mereka. Ini merupakan persoalan karena para pemilih hendaknya memiliki pengetahuan yang (relatif) memadai tentang semua kandidat. Ini agar ia dapat membuat keputusan yang terbaik tentang siapa yang pantas diberikan amanat memimpin daerah dalam waktu lima tahun ke depan.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Lebih dari itu, yang berkepentingan dengan peran pers dalam pilkada bukan hanya calon (berikut jajarannya seperti partai pendukung dan tim sukses) serta masyarakat yang berhak memilih, pemangku kepentingan lain yang perlu difasilitasi oleh pers adalah KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) selaku penyelenggara pilkada. Kepentingan KPUD adalah menyosialisasikan tahapan, jadwal, dan aneka peraturan terkait pilkada. Soal jadwal dan peraturan pilkada misalnya, ikut menentukan tingkat partisipasi masyarakat dalam pilkada. Pengalaman di sejumlah wilayah menunjukkan, ada warga yang tidak ikut memilih karena ia tidak mengetahui tanggal coblosan pilkada atau syarat-syarat agar berhak ikut mencoblos dalam pilkada.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Informasi lain yang penting diketahui publik adalah syarat kemenangan calon. UU No 32 Tahun 2004 yang mengatur tentang pilkada, menyaratkan perolehan minimal 25 persen suara untuk seorang calon dinyatakan sebagai pemenang pilkada. Aturan ini penting disosialisasikan karena ada pemahaman umum di masyarakat bahwa pemenang harus mendapatkan 50 persen suara atau lebih. Jika ada daerah yang pemenangnya mendapat suara di bawah 50 persen (tapi di atas 25 persen) bisa muncul penolakan dari pendukung calon yang kalah karena menganggap belum ada pemenang.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Dalam literatur ilmu politik, pers sering disebut sebagai pilar demokrasi keempat setelah pilar eksekutif, legislatif dan yudikatif karena perannya sebagai kontrol sosial. Dalam konteks sebagai kontrol sosial ini sebaiknya pers memberikan porsi pemberitaan yang berimbang terhadap semua kandidat. Berimbang itu dapat dioperasionalisasikan dalam dua bentuk. Pertama , dalam sebuah berita, jika ada komentar atau pernyataan tentang satu isu tertentu, apalagi yang negatif, hendaknya yang dimintai tanggapan tidak hanya satu calon atau pasang calon tertentu saja. Calon yang lain sebaiknya diberi kesempatan pula untuk menanggapi.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Hal-hal inilah yang berdasarkan satu setengah tahun pelaksanaan pilkada semenjak Juni 2005 belum berjalan dengan optimal. Kerap terjadi, satu berita hanya berisi pernyataan satu kandidat saja. Di sisi lain, ada koran di daerah yang hanya memberikan ruang berita pada satu atau dua calon saja padahal calonnya ada lima. Hal ini mungkin terjadi bukan sebagai kesengajaan karena dalam pers berlaku adagium “name makes news”. Calon-calon yang incumbent atau penantang yang populer sering mendapat perhatian lebih dari calon yang kurang populer. Di sisi lain, ada pula bias yang disebabkan pengaruh yang sengaja diterapkan oleh calon tertentu terhadap media massa di daerah mereka.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Bias kepentingan atau intervensi kekuasaan inilah yang menjadi tantangan bagi media massa di daerah. Tantangan ini paling berat dihadapi oleh institusi pers di daerah yang umumnya memiliki kemapanan terbatas. Apalagi institusi pers di daerah biasanya dimiliki oleh tokoh-tokoh yang menjadi bagian dari konstelasi politik lokal. Di beberapa daerah, malah sang pelaku pers itu sendiri menjadi calon yang ikut berkompetisi. Misalnya pemimpin redaksi harian Jawa Pos yang menjadi calon wakil wali kota Surabaya atau pemimpin redaksi harian Kaltim Pos yang menjadi calon wakil wali kota Balikpapan. Cara kontrol yang ditempuh biasanya adalah sang pelaku media berhenti atau cuti selama masa pencalonan.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Irving, tentu ingin menyampaikan satu hal, bahwa manusia yang tidak cepat menyesuaikan dengan perkembangan zaman, maka akan merasa terasing di masyarakatnya sendiri. Lalu bagaimana jika si penulis mengubah cerita menjadi versi Indonesia. Rip van Winkle menjadi sosok manusia Indonesia, sehingga warna kulitnya sawo matang. Mungkin sebutan namanya pun berubah menjadi Arip bin Sengkle, yang hidup di masa romantika akan lahirnya Republik Indonesia di tahun 20-an. Sebelum ia tertidur panjang. Inilah mungkin yang ia alami.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Di kampoeng Pagelaran Sukabumi ada hidoep satu soeami istri bernama Moesa dan Oenah, dengan ia poenya anak lelaki yang kesatu enam tahoen, yang kedoea 3 tahoen dan yang ketiga baroe 1 tahoen. Itu familie ada sangat melarat, dan soedah beberapa boelan ia tjuma hidoep sadja dengan daoen-daoenan dalam hoetan, jang ia makan boeat gantinya nasi. Lama kelamaan itu soeami istri merasa jang ia tidak bisa hidoep selama-lamanya dengan tjoema makan itu matjam makanan sadja. Boeat sambung iapoenja jiwa serta anak-anaknya, itu soeami isteri telah dapatkan satoe fikiran, jaitu…dijoeal sadja anaknja pada jang maoe beli…

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Di masa itu, semua berkeyakinan bahwa kelahiran negara Bangsa Indonesia akan memecahkan masalah kemiskinan di Indonesia karena kemelaratan bangsa yang terjadi memang akibat dari hisapan kolonial dan imperialisme. Terlebih evolusi intelektual di Eropa mulai dari pemikiran Edmund Burke, Adam Smith, Rousseau, Hegel, John Stuart Mill, Imanuel Kant hingga Karl Marx mulai mempengaruhi pergerakan dan kalangan pemikir-pemikir Indonesia. Tapi jelas baginya yang paling berkesan adalah revolusi Prancis yang melahirkan manifesto of revolution,”Men are born and remain free and equal in rights. The purpose of state is to secure the citizen in enjoyment of his rights ..

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Di tatanan global, mungkin Arip tidak melihat Kekalahan Belanda oleh Jepang, Kekalahan Jerman oleh Sekutu, Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki, atau Kekalahan Amerika dari Vietnam. Dan yang pasti, mungkin juga tidak memperoleh penjelasan tentang Runtuhnya Imperium Uni Soviet, -negeri yang diidam-idamkan Karl Marx- yang ditandai dengan ditariknya tentara Soviet dari Afganistan dan bersatunya Jerman. Berakhirnya perang dingin ini yang kemudian mengubah China menjadi bangsa semi kapitalis dan menjadikan China sebagai bangsa dengan one nation two system .

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Lalu saat Arip terbangun ketika matahari merekah di ufuk timur pada awal Februari tahun 2007 ia melihat sekelilingnya hanya rumah- rumah yang terendam banjir. Maka terheran-heranlah dengan berbagai realita bahwa Indonesia yang diimpikan para pemoeda Indonesia telah terwujud dan telah menerapkan prinsip-prinsip negara modern. Selain itu, ia juga tidak lagi melihat tentara bule dan antek-anteknya yang bukan bule di Hindia Belanda, melainkan produk-produk bule diikuti produk Jepang, Korea dan kini produk China di negeri yang kemudian ia ketahui bernama Indonesia.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Ternyata pun, sudah lima Presiden memimpin Indonesia. Orang pun sudah tidak berbicara lagi mengenai sebuah negara ideal yang berdasarkan sosio-demokrasi berazaskan Musyawarah dan Mufakat. Indonesia kini sangat bebas mulai dari demokrasi yang liberal, ekonomi yang liberal, bahkan ironisnya etika pun sangat liberal. Singkatnya Indonesia bisa jadi lebih liberal dari Amerika biang dari negara liberal di jagat. Lalu kemana cita-cita sosio demokrasi dan sosio-ekonomi yang pernah dicita-citakan pemuda Indonesia saat merintis kemerdekaan?

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Tapi apa lacur, Arip bin Senkle masih juga tak bangga dengan demokrasi Indonesia sekarang. Sebab tidak lagi mensyaratkan keharusan terhadap adanya keteraturan, atau kejelasan aturan main dalam demokrasi yang dapat mendukung kestabilan dan mampu menghasilkan konsensus yang harus ditaati bersama, seperti yang diidamkannya. Yang tak kalah sedihnya, Rip melihat Demokrasi di Indonesia, “luar biasa” demokratis karena demokrasi sendiri menjadi tujuan akhir bukan suatu proses yang memunculkan konsensus yang berkualitas.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Hasilnya? Yang pasti ia lihat saat ini di negeri yang dibangga-banggakan kekayaannya ini, sekitar 16,09 juta jiwa atau 7,5 persen dari jumlah penduduk Indonesia masih hidup dengan daya beli kurang dari 1 dollar AS atau kurang dari 9.100 perak per hari atau di bawah garis kemiskinan.Sampai tahun 2005 dari 214,5 juta jiwa, sebanyak 52,4 persen di antaranya merupakan penduduk yang hanya memiliki daya beli di bawah 2,15 dollar AS atau setara dengan Rp 18.200 per hari dan tingkat pengangguran di Indonesia terus meningkat dengan rata-rata 9,5 persen per tahun yang masih dibebani berbagai macam pajak dan pungutan. Singkat cerita apa pun yang terjadi, kisah dalam tulisan Soekarno “Orang Indonesia Tjukup Nafkahnya Sebenggol Sehari” masih terjadi bahkan semakin banyak.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Negara ini adalah negara kepulauan. Itu suatu realita ciptaan. Tapi realita ini sering tidak disadari dan diterima anak bangsa. Padahal sejak mengenal sekolah dasar, berkali-kali mereka diajari bahwa negaranya adalah kepulauan terbesar di dunia, suatu gugusan pulau di antara benua Asia dan Australia, memisahkan Lautan Pasifik dan Hindia, persis berada di khatulistiwa, dengan limpahan sinar mentari dan angin yang tinggi kelembaban, dengan jutaan spesies ciptaan Tuhan. Suatu berkat dari Pencipta, Resource Endowment, yang tiada bandingnya.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Dalam laporan ekspedisinya tentang kepulauan ini, ahli biologi Alfred Russel Wallace membandingkan Indonesia dengan belahan dunia lain. Dilaporkannya bahwa kepulauan yang terletak di belahan timur dunia ini adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa dan tidak ada bandingnya. Banyak vegetasi daratan, biota perairan, serta fauna di darat dan udara tidak ditemukan di negeri lain. Sebagai suatu kesatuan, Wallace menamakan kepulauan ini “ Malay Archipelago “. Tanah Sorga menurut Koes Plus. Land of Paradise karena hanya di sini hidup bird of paradise (burung cendrawasih).

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Memang ada Deklarasi Bunaken oleh Presiden Habibie pada 26 September 1998 yang meminta semua jajaran pemerintah dan masyarakat memberikan perhatian untuk pengembangan, pemanfaatan, dan pemeliharaan potensi kelautan Indonesia. Demikian pula ada Seruan Sunda Kelapa oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 27 Desember 2001 yang menyerukan rakyat nusantara untuk membangun kembali wawasan bahari, menegakkan kedaulatan di laut, mengembangkan industri jasa maritim, mengelola kawasan pesisir, dan mengembangkan hukum nasioinal di bidang maritim. Akan tetapi deklarasi dan seruan ini belum mampu meningkatkan keberpihakan bagi pembangunan tanah dan air.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Maka sekarang setelah pembangunan berbasis kelautan (marine-based development) menjadi trend global, setelah banyak negara-negara maju mengharapkan masa depan mereka dari sumberdaya lautan, setelah sumberdaya lahan makin berkurang serta ruang di daratan menjadi barang langkah dan mahal, setelah pemanasan global dan kerusakan lingkungan menjadi isu penting, setelah dunia mengahadapi kekurangan protein hewani dan krisis pangan, setelah negara jiran melihat kekosongan pembangunan di lautan kita sebagai peluang mereka untuk mengeksploitasi sumberdaya kelautan kita baik secara legal dan illegal, setelah diplomasi politik perbatasan negara menjadi hal-hal yang selalu tertunda serta merupakan potensi infiltrasi asing, maka sudah saatnya negara kepulauan nusantara ini dibangun dengan basis kelautan.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Betul bahwa salah satu misi rencana pembangunan nasional 2005-2025 yaitu mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional. Akan tetapi meskipun 2025 masih lama, misi yang visioner ini patut diupayakan perwujudannya mulai dari sekarang. Artinya, tidak ada waktu untuk menunda dimulainya pembangunan berbasis kelautan tersebut. Sekarang adalah momentumnya ketika pembangunan nasional jangka panjang tersebut baru dimulai dua tahun yang lalu. Bila momentum tersebut tidak dimanfaatkan sekarang maka bisa saja semua pihak melupakan misi tersebut dan cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan yang kuat hanya sekadar wacana lagi.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Pembangunan berbasis kelautan tidak akan melupakan daratan. Bedanya dengan arus utama pembangunan selama ini yaitu bahwa pembangunan itu harus dimulai dari laut dan berdampak ke darat, dimulai dari pulau kecil-kecil dan berdampak ke pulau besar, dimulai dari pesisir dan berdampak ke pedalaman. Bila dini dilakukan maka pulau-pulau di luar Jawa, pulau kecil di perbatasan, serta kawasan timur akan maju. Dampak selanjutnya, hasil pembangunan akan merata, urbanisasi dicegah, migrasi ke Jawa khususnya ke Jabotabek akan berkurang, keseimbangan daya dukung dan pemanfaatan lahan baik di Jawa maupun di luar Jawa akan terjaga, serta pada akhirnya kesejahteraan masyarakat akan lebih mudah diwujudkan.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Konperensi ini dihadiri para tokoh penting seluruh dunia. Para pemenang Nobel seperti Uskup Agung Desmond Tutu (Afrika Selatan), Lech Walesa (Polandia) dan Muhammad Yunus (Bangladesh) memberikan pidato mereka. Hadir juga antara lain Ahmed Kathrada, pejuang kebebasan Afrika Selatan, strategy guru CK Prahalad dan ekonom Hernando de Soto (Peru). Dari Indonesia diundang Ketua Umum Partai Golkar Wapres Jusuf Kalla -yang memberikan pidato dalam sesi “ A Non-violent Approach to Conflict Resolution and Peace Building “, dan Ketua Umum PDI-P (mantan) Presiden Megawati Soekarnoputri, namun berhalangan hadir.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Satyagraha lahir di Johannesburg, Afrika Selatan, tanggal 11 September 1906. Satyagraha secara literal berarti ‘berpegang kepada kebenaran’ ( holding on to truth ). Satyagraha berasal dari kata Satya dan Agraha . Satya berarti kebenaran ( truth ) dan berimplikasi kasih sedangkan Agraha berarti ketegasan ( firmness ) berimplikasi kekuatan. Satyagraha adalah kekuatan yang berasal dari kebenaran dan kasih. Satyagraha adalah kekuatan kebenaran ( the power of truth ). Dalam buku Non-violent Resistance , Gandhi mendefinisikan Satyagraha “ Its root meaning is holding on to truth, hence Truth-force. I have also called it Love-force or Soul-force .”

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Kelahiran Satyagraha dipicu oleh kebijakan rasis terhadap penduduk kulit berwarna seperti India dan Asia lainnya di Afrika Selatan waktu itu. Saat menjejakkan kaki di Afrika Selatan ia sudah mengalami diskriminasi: diusir dari gerbong kelas satu. Ada segregasi di gerbong kereta api: warga kulit berwarna tidak boleh duduk di gerbong kelas satu. Gandhi membuat serangkaian petisi memprotes berbagai ketidakadilan terhadap warga India. Namun karyanya yang fundamental adalah mendirikan Kongres India Natal yang bertujuan mengorganisir dan mendidik warga India.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Gerakan perlawanan pasif ( passive resistance ) seperti yang diajarkan pemikir Barat -Thoreau, Tolstoy dan Ruskin- dianggapnya kurang cocok. Passive resistance yang populer di Eropa saat itu dapat diinterpretasikan sebagai senjata kaum lemah. Ini dapat mengakibatkan kebencian. Pada gilirannya kebencian akan membuahkan kekerasan. Gandhi beranggapan bahwa prinsip-prinsip etika dan tindakan efektif mengharuskan rakyat penentang menerima tanggung-jawab penuh atas perbuatannya, menghormati lawannya, terbuka terhadap posisi lawan, dan mencari solusi kreatif yang dapat diterima pihak-pihak yang berkonflik. Sebuah konsep baru harus didasarkan atas prinsip tanpa-kekerasan ( non-violence ). Konsep inilah yang dinamakannya Satyagraha .

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Agar gerakan Satyagraha dapat berlanjut, Gandhi menempatkan anggota keluarga Satyagrahi yang dipenjara dalam sebuah perkebunan koperasi di pinggir Johannesburg. Di bawah bimbingannya para keluarga warga India yang beragama Hindu, Muslim, Parsi dan Kristen diajarkan berbagai kerajinan tangan dan menerapkan prinsip swasembada dan swadisiplin. Tahapan akhir gerakan Satyagraha di Afrika Selatan adalah gerakan besar ( great march ) dari para penambang In- dia ke Transvaal. Jenderal Jan C Smuts, menteri yang mengurusi masalah warga India, terpaksa memberikan sejumlah konsesi memenuhi tuntutan Gandhi dan pengikutnya. Jan Smuts yang kemudian menjadi Perdana Menteri Afrika Selatan mengakui bahwa Gandhi adalah “yang terbesar” dan menyebutnya Gandhi “malaikat.” Ia berkata “ It was my misfortune that I had to be against him. ”

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Ajaran Gandhi Satyagraha juga relevan bagi kita di Indonesia. Kita dapat belajar dari ajaran Gandhi lewat Satyagraha untuk menyelesaikan konflik antar kelompok seperti yang terjadi di Poso. Prinsip-prinsip Satyagraha seperti menghormati lawan, terbuka terhadap posisi lawan, dan mencari solusi kreatif yang dapat diterima semua pihak masih amat relevan saat ini. Bila prinsip-prinsip tersebut diterapkan dengan tulus oleh pihak-pihak yang bertikai di Poso, niscaya damai dan tenteram akan kembali di bumi Poso seperti semula. Jelas sekali prinsip-prinsip tersebut telah dilanggar oleh semua pihak.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Pada tanggal 30 Januari 1948, saat akan memulai pertemuan doa menjelang malam hari, Gandhi tewas ditembak seorang Hindu fanatik. Simpati Gandhi terhadap minoritas Muslim India dianggap telah melemahkan India yang mayoritas Hindu. Gandhi dianggap harus bertanggung jawab untuk itu. Namun kebesaran Gandhi sang Mahatma lewat Satyagraha tetap hidup sampai kini. Konperensi di New Delhi untuk memperingati seabad Satyagraha merupakan pengakuan atas kontribusi Gandhi bagi gerakan non-kekerasan dalam penyelesaian konflik antar manusia dan antar budaya. Tidaklah keliru bila Albert Einstein menyatakan “ Generations to come, it may be, will scarce believe that such one as this, ever in flesh and blood, walked upon this earth .”

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Sekarang pemain barongsai dan liong bukan lagi A Kau, A Ho ataupun A Hok, tapi sudah turut bermain Paiman, Paidjo dan Parman sebagai cerminan barongsai dan liong sudah membudaya dalam masyarakat Indonesia sebagai bagian dari budaya bangsa atau budaya nasional. Lahirnya Kepres No 19 Tahun 2002 tentang Imlek sebagai hari nasional dan juga libur nasional lebih mempertegas makna Imlek. Wujud nyata pemerintah sangat memberi perhatian hak-hak hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Namun perhatian pemerintah terhadap Imlek tidak terlepas dariberbagai peran dan perjuangan masyarakat Tionghoa kala itu. Contohnya, Jerry H Lo bersama Yongki dan Anda Hakim dan lainnya di masa Orde Baru, menyelenggarakan seminar mengenai Imlek menjelang perayaan Imlek 1998. Hadir dalam acara tersebut pejuang reformasi seperti Sabam Sirait dan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan dengan moderator dr Frans Tjsai. Di balik itu, begitu getolnya tokoh spritual Suhu Acai dan kelompoknya menyelenggarakan Imlek secara besar-besaran di Hotel Sahid Jaya tahun 1999

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Imlek dan bencana alam adalah dua variabel yang berbeda namun saling berkaitan. Imlek dirayakan dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran adalah sebuah harapan yang diinginkan termasuk menghindari bencana alam. Sekalipun bencana alam terjadi diluar perhitungan dan perkiraan manusia, adalah relevan melalui perayaan Imlek dilakukan kegiatan sosial membantu sesama terutama korban bencana alam, ini momen yang baik dalam membangun semangat kebersamaan dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Ini juga sebuah wujud prinsip kesederhanaan, namun tidak mengurangi makna perayaan. Yang penting melalui momen Imlek ini mari kita membangun kebersamaan antar masyarakat dan juga antar bangsa seperti kerjasama yang akan terjadi dalam perayaan Imlek Nasional Indonesia bersatu yang akan berlangsung dalam rangka meningkatkan kerjasama antara RI dan RRT. Ini perlu dipetik maknanya, disamping menggalang persatuan dan persatuan juga menjalin yang lebih harmonis antar bangsa dalam mencapai kemakmuran dan kesejahteraan.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Gereja di Asia berkehendak agar Asia tidak dijadikan menjadi medan atau objek pekerjaan korporasi missi dari luar. Di saat Perang Dingin dan suburnya semangat nasionalisme Asia-Afrika yang dikukuhkan dalam konperensi Bandung 1955, maka gereja di Asia perlu memperbarui cara bersaksi dan kehadirannnya di tengah perjuangan dan harapan rakyat Asia. World Council of Churhces / WCC yang bermarkas di Jenewa dan lembaga misi di Barat kurang mendukung prakarsa gerakan gereja di Asia untuk membentuk wadah regional yang mandiri.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Berdirinya Asia Migrant Center dan Asia Human Right Resource Center di Hong Kong tak lepas dari prakasa CCA untuk memberikan advokasi kepada mereka yang diperlakukan tidak adil. Kepedulian urban rural mission bagian dari unit CCA yang mempedulikan nasib mereka yang tersisih dalam era “pembangunan” seperti yang terjadi di Kedungombo, Jawa Tengah pada waktu itu menyebabkan banyak rejim otoriter seperti di Indonesia, Korea Selatan, Singapura, Filipina, dan Taiwan mencap CCA sebagai agen komunis. Pada tahun 1987 pemerintah Singapura menutup kantor CCA di Singapura.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Citra buruk para politisi Indonesia akhir-akhir ini semakin kerap dipersoalkan, baik secara lisan di berbagai forum diskusi maupun dalam tulisan di berbagai media massa. “Politisi Indonesia saat ini sedang terjun bebas menuju titik nol,” demikian dikatakan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif dalam kolokium bertema “ Moralitas Politik Indonesia: Wajah Politisi Jelang 2009″ yang diselenggarakan oleh Keluarga Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia, 14 Februari lalu. “Politisi Buruk Muka”, demikian artikel Teguh Imawan di harian ini edisi 19 Februari lalu.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Sesungguhnya wajar saja jika banyak orang memberi penilaian buruk terhadap para politisi Indonesia dewasa ini. Sebab, hampir semua politisi memang mengecewakan kinerjanya. Ada yang hobinya jalan-jalan ke luar negeri dengan dalih studi banding, padahal hasilnya nyaris tidak ada dan tidak pula pernah diumumkan kepada publik. Belum lagi kalau politisi yang studi banding ke luar negeri itu pakai bawa-bawa orang lain (entah keluarganya, asistennya, dan entah siapa lagi). Tidak pernahkah mereka berpikir bahwa apa yang mereka lakukan itu sebenarnya sudah menghabiskan uang negara (yang notabene berasal dari uang rakyat) secara tidak produktif?

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Yang menarik, selain menggelar Rapimnas, para anggota DPRD yang tergabung dalam Adkasi (Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia) dan Adeksi (Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia) itu juga melakukan demonstrasi di Gedung DPR di Senayan. Luar biasa bukan? Sebab, biasanya yang berdemo itu rakyat biasa, tapi kali ini justru wakil rakyat yang terhormat. Isunya apa? Tak lain dan tak bukan, agar uang yang sudah mereka terima itu tidak jadi dikembalikan (bahkan kalau bisa mereka tentu berharap agar revisi PP 37/2006 yang bakal memberi tambahan penghasilan kepada anggota dan pimpinan DPRD itu tidak jadi diberlakukan).

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Apa yang patut kita komentari dari aksi demo para anggota DPRD itu? Rasanya tidak ada kata lain selain “memalukan”. Sebab, seharusnya mereka sadar bahwa revisi PP tersebut dilakukan pemerintah setelah munculnya protes keras dan luas dari berbagai kalangan masyarakat. Pemerintah memang telah melakukan kesalahan besar dengan mengeluarkan kebijakan itu. Sebab, di saat negara kekurangan dana dan rakyat kesusahan, pemerintah malah berniat menggelembungkan pundi-pundi anggota DPRD secara membabi-buta. Kendati begitu, toh akhirnya pemerintah mau juga mendengar aspirasi rakyat. Sementara anggota DPRD yang datang beramai-ramai ke Senayan dan menggelar demonstrasi itu, mereka berjuang untuk aspirasi siapa?

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Tidakkah para wakil rakyat yang terhormat itu terbuka mata-hatinya bahwa banyak rakyat yang untuk makan sehari-hari saja susah, sehingga terpaksa makan nasi aking atau tiwul? Tidakkah para wakil rakyat yang terhormat itu tersentuh hati-nuraninya bahwa bencana alam yang bertubi-tubi, wabah penyakit yang mematikan, dan terakhir banjir besar yang menghancurkan harta-benda telah membuat semakin banyak saja rakyat yang menderita hidupnya? Lalu, mengapa mereka justru menuntut kenaikan pendapatan bagi diri sendiri? Dapatkah mereka disebut wakil rakyat yang sejati, kalau begitu? Jelas tidak. Sebab, jika memang mereka sejati sebagai wakil rakyat, seharusnya mereka justru tergerak untuk menyisihkan sebagian dari pendapatan mereka untuk menolong rakyat yang sedang kesusahan.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Agaknya memang langka wakil rakyat sejati seperti itu dewasa ini. Apa sebabnya? Menurut Syafii Maarif, karena politik masih dipandang sebagai sumber mata pencaharian, bukan pengabdian. Menjadi politisi bukan lagi sebagai panggilan hidup, melainkan sebagai sumber nafkah setelah gagal melamar pekerjaan di tempat lain. Hanya bermodalkan pintar bicara dan memengaruhi orang, banyak tenaga muda menjadi politisi dan anggota DPRD. Karena itulah, lembaga politik dan pusat-pusat kekuasaan sebagian besar dihuni oleh politisi tanpa idealisme.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Pertama , saya mengusulkan agar kepada para politisi itu (bahkan kepada para pejabat negara di lembaga-lembaga lainnya) diberikan ceramah-ceramah tentang etos kerja. Tidak usah repot-repot mencari narasumbernya ke luar negeri. Orang Indonesia sendiri banyak yang kompeten untuk melakukan tugas mulia itu. Salah satunya adalah rekan saya, “guru etos” Jansen Sinamo, yang selalu mengajarkan bahwa kerja adalah rahmat (sehingga harus bekerja tulus penuh syukur); kerja adalah amanah (sehingga harus bekerja benar penuh tanggung jawab); kerja adalah panggilan (sehingga harus bekerja tuntas penuh panggilan); kerja adalah aktualisasi (sehingga harus bekerja keras penuh semangat); kerja adalah ibadah (sehingga harus bekerja serius penuh kecintaan); kerja adalah seni (sehingga harus bekerja kreatif penuh sukacita); kerja adalah kehormatan (sehingga harus bekerja tekun penuh keunggulan); kerja adalah pelayanan (sehingga harus bekerja sempurna penuh kerendahan hati).

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Kedua , ke depan perlu diadakan semacam acara uji-publik untuk para calon anggota DPR dan DPRD. Kalau acara serupa selalu diadakan untuk para calon anggota komisi negara, mengapa tidak untuk para anggota lembaga legislatif itu? Ketiga , perlu dibuat sebuah undang-undang khusus yang mengatur agar: 1) masa jabatan para anggota lembaga legislatif itu dibatasi hanya boleh dua kali berturut-turut; 2) mereka yang sedang menjalani masa jabatan sebagai anggota lembaga legislatif tidak boleh mencari atau menerima jabatan di lembaga negara lainnya). Poin pertama, tujuannya agar sama dengan presiden (yang masa jabatannya dibatasi hanya boleh dua kali berturut-turut). Poin kedua, tujuannya untuk mencegah adanya orang-orang yang haus kekuasaan dan petualang politik, yang ketika sedang menjadi anggota DPR/DPRD tapi masih mengincar jabatan lain.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Kenyataan ini dapat disimak ketika Bulog menjalankan operasi pasar (OP) justru masyarakat kecil tidak menikmati hasilnya. Para pedagang yang malah lebih lihai memanfaatkan harga beras murah Bulog. Tujuan para pedagang itu, tentu saja, menjual kembali beras berharga murah untuk meraup keuntungan yang berlimpah. Mengapa pedagang yang lebih diuntungkan ketimbang rakyat kebanyakan? Tidak lain akibat logika dan doktrin pasar terlanjur menguasai kesadaran penduduk. Negara yang diharapkan melakukan intervensi terbukti mengalami impotensi atau ketakberdayaan. Operasi pasar pun menjadi salah sasaran serta cenderung mengalami kegagalan.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Jurgen Habermas menyatakan kondisi itu dengan menunjuk masyarakat sebagai entitas sosial yang bermukim di wilayah dunia kehidupan ( life-world ). Dalam domain dunia kehidupan ini terjadilah interaksi yang bersifat spontan serta saling mengisi, sehingga membentuk relasi yang berkarakter intersubyektif (relasi yang setara antara subyek sosial yang satu dengan subyek sosial yang lain). Tetapi, ketika negara dan pasar melakukan intervensi, bahkan menjalankan penjajahan, yang terjadi kemudian adalah perubahan radikal.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Memang, pasar bekerja sedemikian sederhana. Hanya saja yang diserang pasar adalah moralitas masyarakat itu sendiri yang pada titik puncaknya membentuk kebiasaan-kebiasaan yang bercorak normatif. Bahkan lebih dari itu, karena pasar bekerja layaknya hukum-hukum alam, maka pasar pada akhirnya dapat menundukkan kekuasaan negara dan kehidupan sosial. Pasar pun menjadi dogma yang tidak dapat dikalahkan. Ketika negara dikalahkan pasar, apa yang terjadi selanjutnya? Negara memberikan kepatuhan yang berlebihan terhadap kekuasaan pasar.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Padahal, siapakah yang dimenangkan neoliberalisme? Kita dapat merujuk pada gagasan Anthony Giddens (dalam Jalan Ketiga: Pembaruan Demokrasi Sosial , 2000: 13-17) yang menyatakan bahwa tesis utama neoliberalisme adalah kekuasaan negara sengaja diminiminalisasikan. Ini dengan maksud agar masyarakat dapat berkembang sendiri untuk menjalankan mekanisme solidaritas sosial. Apabila dalam kehidupan masyarakat ditemukan ketidaksetaraan justru dianggap picik dan tidak rasional, bahkan lebih dari itu dianggap bertentangan dengan gagasan egaliterianisme. Puncaknya, neoliberalisme menempatkan negara kesejahteraan adalah destruktif karena dipandang sebagai kekuasaan yang menjadi sumber segala kejahatan.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Melalui argumentasi semacam itu pun, penganut neoliberalisme mudah bersilat lidah dengan menyodorkan dalil yang dikemukakan Adam Smith mengenai “tangan- tangan tak kelihatan”. Yaitu, individu-individu mengejar tujuan-tujuan yang pada hakikatnya terarah pada diri sendiri, namun sebagai akibatnya, banyak tujuan lainnya dicapai: keinginan-keinginan orang-orang lain terpuaskan, efisiensi produktif meningkat, apa yang merupakan barang-barang mewah menjadi barang-barang konsumsi sehari-hari, dan seterusnya. Benar bahwa dalam persoalan ini pasar sangat mengutamakan efisiensi produktif. Namun, naik-turunnya penawaran dan permintaan akan menguntungkan yang beruntung, dan menghukum yang sial (lihat Ross Poole, Moralitas dan Modernitas: Di Bawah Bayang-Bayang Nihilisme , 1993: 5-6).

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Sudikah para pemain pasar menolong mayoritas masyarakat kecil yang berkedudukan sebagai pihak “terhukum yang sial”? Jawabannya: Tidak! Sebab, pasar beroperasi layaknya hukum Darwinisme Sosial yang memiliki dua doktrin pokok, yakni perjuangan untuk hidup ( struggle for life ) serta yang paling kuat sajalah yang layak melangsungkan kehidupan ( survival of the fittest ). Bagaimana dengan lembaga negara? Setali tiga uang alias sama saja! Negara yang sudah ditundukkan oleh kekuatan pasar hanya bisa menegaskan bahwa kekuatan pasar (apalagi yang berskala internasional atau global) sulit dijinakkan hegemoninya.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Derita dan sengsara berkaitan erat dengan kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan yang juga masih tetap menjadi bagian integral dari kehidupan kita sebagai bangsa. Sayangnya “suasana penderitaan” seperti yang dialami oleh sebagian besar anak bangsa bangsa tidak dirasakan oleh para elit kepemimpinan. Kasus PP 37 tahun 2006 tanggal 14 November yang telah memicu kontroversi di tengah masyarakat adalah bukti nyata bahwa pada tingkat pimpinan, suasana penderitaan yang dialami rakyat sama sekali tidak ditangkap dengan cerdas.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Petrus merasa bahwa pernyataan Yesus itu kontra-produktif bahkan bisa merusak image Yesus sebagai “hero” bagi banyak orang saat itu. Itulah sebabnya Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur Yesus: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau”! Yesus memberikan jawaban yang amat pedas terhadap pernyataan Petrus. Ia berkata: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang apa yang dipikirkan manusia” (Matius 16:22,23).

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Pada Sumpah Pemuda tahun 1928 telah terjadi “revolusi” secara mental dan simbolik terhadap negara kolonial Belanda. Mereka menyatakan: “ Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. ” Selain itu mereka juga mengaku untuk bertanah air dan berbahasa Indonesia. Pada saat itu tidak digunakan kata “kita” namun “kami” sebagai suatu pengelompokan dan dihadapkan pada “kamu” yakni kolonial Belanda. Selain itu, pengakuan bahwa wilayah Hindia Belanda merupakan tanah air Indonesia dapat berarti “pengusiran” terhadap Belanda.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Selain itu publik dapat mengajukan judicial review ke MK (untuk UU) atau MA (untuk yang di bawah UU). Demikian pula para dosen dan mahasiswa -khususnya ilmu hukum- dapat “mengaudit” berbagai peraturan untuk menghindarkan anarki perundang-undangan, di mana setiap lembaga merasa berhak membuat peraturan tanpa menyelaraskan dengan peraturan yang lebih tinggi. Hendaknya masalah nasionalisme perlu ditegaskan dalam UUD karena sila ketiga ini (Persatuan Indonesia) relatif kurang terbahas dan jelas dibandingkan dengan sila-sila lainnya.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Berdasarkan hal itu perlu dikembangkan kebijakan yang mendukung dimensi vertikal seperti kedaulatan rakyat dan keadilan sosial serta organisasi (misalnya pimpinan parpol) yang terbuka secara vertikal untuk “Indonesia Bagian Bawah” (70 persen dari penduduk Indonesia). Keadaan ini dapat menghasilkan nasionalisme inklusif yang multistrata dan mencakup bangsa Indonesia bagian atas, menengah, dan bawah. Integrasi vertikal itu dapat membantu mencegah konflik horizontal maupun regional yang dapat mengarah pada etnonasionalisme dan separatisme.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Sejarah Sumpah Pemuda menunjukkan keinginan mereka untuk bersatu walaupun pada saat itu belum ada negara Indonesia. Keadaan itu semakin mendesak jika kelompok masyarakat di daerah mengalami bencana alam dan bencana sosial (konflik) sehingga diperlukan aksi solidaritas kemanusiaan yang dapat meningkatkan perasaan sebagai satu bangsa. Dalam hal ini diperlukan wawasan, emosi, dan aksi kebangsaan yang transformatif -bukan statis dan beku- sehingga masyarakat Indonesia menjadi lebih maju dalam berketuhanan, berkemanusiaan, berkedaulatan dan berkeadilan.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Pelayanan angkutan laut bisa dikatakan baik apabila muatan yang diangkut tiba tepat waktu tanpa mengalami kerusakan atau hilang. Selain itu freight atau tarif uang tambang masih feasible . Selama ini kapal-kapal perusahaan pelayaran nasional masih belum mampu beroperasi secara efisien, karena ruwetnya birokrasi pelabuhan dan buruknya fasilitas untuk menerima atau membongkar muatan. Hitungan ekonomi menunjukkan bahwa operating movement cost (ongkos selama berlayar) maupun detention cost (ongkos di pelabuhan) masih timpang bila dibandingkan dengan negara lain.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Selain itu pentingnya dunnage yaitu prosedur untuk melindungi muatan. Begitu juga mengenai pengangkutan muatan bahan berbahaya dalam kapal harus mengikuti ketentuan International Maritime Dangerous Goods (IMDG). Untuk muatan berbahaya dikelompokkan dalam berbagai class dengan treatment khusus, seperti pengemasan dan persyaratan penyimpanan ( stowage requirement ). Karena amburadulnya sistem kerja petugas pemeriksa pelabuhan maka prosedur operasi muatan dan dunnage selama ini sering diabaikan hingga membahayakan keselamatan pelayaran.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Segala acara persidangan memang berjalan baik. Berbagai ceramah dan penelahan-penelahan Alkitab yang menyoroti peranan gereja dan orang-orang Kristen Indonesia di dalam meneguhkan ulang komitmen kebangsaan berlangsung dengan sukses. Baik amanat yang disampaikan oleh Wakil Presiden, H Mohammad Jusuf Kalla, mau pun ceramah-ceramah yang antara lain dibawakan oleh Dr Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR-RI, serta diskusi panel oleh pimpinan majelis-mejelis agama di Indonesia, bukan saja menambah dan memperluas wawas- an, tetapi juga tekad bersama untuk makin memperkokoh kesetiaan kita kepada kebangsaan Indonesia.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Kita dapat menjadi prosumer kapan saja dan di mana saja karena banyak dari kebutuhan pribadi kita dan apa yang kita inginkan tidak ada atau tidak dapat disediakan pasar. Bisa saja karena ekonomi uang tidak bisa memenuhi kebutuhan; juga karena ada idealisme dan panggilan hati nurani atau panggilan alamiah (natural calling) menjadi prosuming. Misalnya, tak ada pasar breast feeding (menyusui). Seorang ibu setia menyusui anaknya bukan karena faktor uang tapi karena panggilan hati dan cinta kepada anaknya.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Tentang hal ini, Kompas edisi 4 Agustus 2006 menurunkan ulasan menarik di bawah judul: ASI Eksklusif demi Sang Anak. Bahwasannya setiap ibu memiliki kerinduan untuk memelihara anaknya dengan air susu ibu alias ASI eksklusifnya. Seorang ibu akan memiliki kebahagiaan dan kebanggaan tiada tara jika ia berhasil menyusui bayinya. Karena itu, para ibu yang bekerja memilih aneka cara unik untuk tetap menyusui bayinya, antara lain mereka mengeluarkan ASI dengan menggunakan pompa elektrik sebanyak dua kali selama bekerja di kantor.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Dalam lingkup ekonomi pasar, beberapa kenyataan di Indonesia saat kini menunjukkan bahwa banyak kalangan PNS atau pegawai swasta/karyawan menyadari bahwa penghasilan atau gaji yang diperoleh hanya mencukupi kebutuhan hidup selama dua minggu, mereka lalu bekerja lagi di rumah sebagai prosumen. Mereka menghasilkan sesuatu untuk digunakan sendiri, misalnya berkebun, beternak untuk keperluan konsumsi sendiri atau orang lain yang menjadi tanggungannya. Hal-hal seperti merupakan sesuatu yang riil tetapi sering tidak diperhitungkan dalam analisa dan kalkulasi ekonomi.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Banyak pemimpin agama, pendidik yang masuk dalam prosuming ekonomi karena mereka bekerja, mewartakan ajaran agama atau mendidik tanpa mau dibayar. Di seluruh dunia diperkirakan sekitar satu miliar orang aktif dalam prosuming ekonomi setiap hari. Tak heran ada pendapat bahwa saat ini ada tiga pilar ekonomi, yaitu produsen, konsumen dan prosumen (baca: prosumer). Masing-masing punya kontribusi. Hanya saja statistik tentang prosumen hampir tak pernah ada. Hitungan GNP dan GDP belum menyentuh aktivitas dalam lingkup prosumen.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Para prosumer mempercepat inovasi. Mereka melatih satu sama lain untuk menggunakan teknologi mutakhir secara cepat. Juga menambah kecepatan teknologi dan meningkatkan produktivitas di dalam ekonomi. Mereka produktif. Para prosumer secara cepat menciptakan pengetahuan, menyebarkannya dan menyimpannya di dalam cybersphere untuk digunakan dalam pengetahuan berlandaskan ekonomi. Banyak data, informasi dan pengetahuan tersedia di dalam cyberspace disumbangkan secara cuma-cuma oleh para perancang software, para pakar keuangan, sosiolog, antropolog, ilmuwan, teknisi dan para pakar lainnya.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Salah satu contoh adalah Anna Politkovkaya, seorang wartawan yang dibunuh karena ketajaman tulisannya menyoroti aparat keamanan, kadyroftsy , yang loyal kepada Perdana Menteri Ramzan Kadyrov yang pro-Moskwa (2006). Selama hidupnya sebagai wartawan, ia menjadi incaran pemerintah Rusia. Ia selalu pindah-pindah tempat, bersembunyi di bukit-bukit wilayah Checnya, padahal ia berstatus sebagai ibu dari dua anak, namun kenapa ia gigih memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, seperti yang ia katakan, “Orang kadang-kadang harus mengorbankan hidupnya karena mengungkapkan apa adanya seperti apa yang mereka pikir…”

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Apalagi ditengah ketatnya persaingan media informasi yang saat ini nyata di depan mata, menuntut pasar sebagai orientasi dari segala-galanya. Hingga wajah kebebasan pasar dan wajah kebebasan atas ungkapan kebenaran tak bisa terdeteksi. Jika dalam bahasa Brwon (2002), kita telah memasuki dunia maya yang penuh teka-teki, sebab kita dihadapkan dengan bentangan cakrawala informasi dan komunikasi yang amat luas. Informasi seolah merupakan jalan raya yang tak bertepi dan tak berujung. Sehingga yang salah menjadi benar, yang kecil menjadi besar dan sebagainya.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

INKA yang selama ini merupakan warisan holding BPIS bikinan BJ Habibie selama ini selalu merugi dan setiap tahun selalu “mengatongkan” tangan untuk meminta kucuran subsidi dari APBN lewat PMN (Penyertaan Modal Negara). Peran INKA yang seperti “pepesan kosong” sepanjang hayatnya mestinya diakhiri dengan cara merger dengan PT KA. Karena menurut sejarahnya hampir semua fasiltas fabrikasi dan property yang sekarang ini dipakai oleh INKA sebelumnya adalah milik PT KA. Ironisnya, selama PT KA memesan produk atau jasa dari INKA selalu dikenai harga yang kelewat mahal bila dibandingkan dengan membeli produk dari luar negeri.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Disergi industri antara PT KAI-INKA tidak hanya dalam hal pembelian gerbong kelas eksekutif saja, tetapi juga telah merambah kepada pengadaan KRL dan infrastruktur yang lain. PT KA beranggapan bahwa pengadaan KRL bekas dari luar negeri jauh lebih murah dan feasible , baik secara teknis maupun model pembiayaannya. Wajar kalau PT KA berusaha mencari model-model pembiayaan yang meringankan. Apalagi kalau KRL bekas dari luar negeri tersebut bersifat hibah, sehingga PT KA hanya mengeluarkan biaya angkutannya saja.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Mestinya Meneg BUMN Sugiharto tidak perlu kelewat hati-hati dalam mengambil keputusan tentang nasib INKA. Saatnya mengambil gebrakan dan banting setir untuk menuntaskan situasi buruk disergi industri dalam perspektif problem solving dunia perkereta-apian. Tidak ada jalan yang lebih baik selain memerger INKA kedalam PT KA. Sehingga seluruh kapabilitas INKA diintegrasikan ke dalam PT KA sebagai unit produksi. Lalu beberapa Balai Yasa KA dan depo- depo yang dimiliki oleh PT KA dapat beroperasi bersama.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Masalah laten beberapa industri “strategis” warisan BJ Habibie adalah kesulitan mencari modal kerja. Industri itu telah mendapatkan stigma tidak bankcapable, akibatnya entitas industri tersebut selalu kesulitan mencari modal kerja. Baik itu untuk skema pinjaman cash loan maupun non-cash loan (LC, bank garansi, dll ). Dengan adanya merger tersebut model-model pembiayaan dan investasi bisa lebih sederhana dan satu meja. Selain itu sisi positif langkah merger tersebut adalah lebih terbukanya finance instrumentation . Pembiayaan tidak hanya tergantung kepada conventional banking yang sangat sempit marginnya (bank-bank pemerintah). Model pembiayaan dapat diperluas kepada non-conventional banking dan non-banking financial institution .

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Gerakan ekumene memahami dunia tempat Allah berkarya sebagai rumah bersama. Gereja yang mengakui dan percaya kepada Allah yang satu dan yang berkarya melalui Yesus Kristus, harus hidup di dalam kesatuan dan kebersamaan. Doa Tuhan Yesus untuk para pengikutNya: supaya mereka menjadi satu ( ut omnes unum sint ) menjadi motto yang elok dari gerakan itu. Dulu gerakan ekumene memang dipahami secara terbatas sebagai upaya mempersatukan berbagai denominasi gereja. Sektarianisme gereja harus ditinggalkan! Tembok segregasi harus diruntuhkan!

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Sudah hampir dua dekade, pemahaman terhadap terminologi ekumene, khususnya gerakan ekumene mendapatkan maknanya yang lebih luas dan lebih dalam dari sekadar upaya denominasi gereja menyatukan diri. Sektarianisme yang perlu diatasi bukan saja kecenderungan dalam lingkungan Kristen, melainkan dalam lingkup yang lebih luas, seluas oikos itu sendiri, yaitu dunia ini dengan seluruh isinya. Maka gerakan ekumene mesti dipahami melampaui batas-batas gereja. Gerakan ekumene adalah gerakan kemanusiaan dan gerakan kosmik.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Ted Peters mengemukakan dua arti kata ekumenis yaitu kesatuan gereja yang disebutnya the ecumenical unity dengan kesatuan seluruh kosmos yang disebutnya sebagai the ecumenic unity. Menurutnya, memang benar gereja dipanggil untuk keluar dari dunia secara simbolis tetapi tujuannya ialah untuk membangun Kerajaan Allah yang inklusif yaitu kebaikan bagi seluruh dunia ini. Maka gerakan ekumene berarti kesatuan gereja yang menjadi representasi kesatuan seluruh dunia (Ted Peters, 1992, God the Wolrd’s Future, 336).

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Pengalaman menangani bencana banjir yang masih sedang berlangsung di Jakarta sungguh merupakan suatu gerakan ekumene sejati . Banjir ini telah mempersatukan seluruh komponen masyarakat bahu membahu menolong sesama yang menjadi korban, tanpa membedakan asal-usul atau pun anutan keyakinan agama. Pengalaman penulis bersama dengan mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dan warga jemaat Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Koinonia Jatinegara, dan Yayasan Tanggul Bencana Indonesia, sungguh mencerminkan suatu gerakan ekumene sejati.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Dalam situasi normal, tidak mudah mempertemukan semua orang dari berbagai denominasi gereja dan anutan agama yang berbeda-beda. Tetapi dalam berbagi kasih, karena bencana yang menimpa sesama manusia, semua batas-batas itu dengan sendirinya pupus dan runtuh. Tidak bisa dibayangkan bahwa suatu saat seorang muslim datang salat di ruang ibadah sekolah minggu di lingkungan gereja. Tetapi itulah yang terjadi beberapa hari terakhir ini di lingkungan GPIB Koinonia, tempat menampung ratusan pengungsi. Sulit pula dibayangkan seorang ulama masuk kompleks gereja membawa bantuan kemanusiaan.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Gerakan ekumene adalah juga gerakan kemanusiaan dan gerakan kebangsaan yang bermitra. Rivalitas tidak pernah sungguh-sungguh membuat kita bahagia. Kita bisa berlomba untuk melakukan yang baik tetapi kita tidak seharusnya bersaing untuk saling mengalahkan. Kita perlu menggalang solidaritas yang saling membangun. Bukan hanya di antara sesama manusia dan sesama anak bangsa tetapi juga dengan sesama ciptaan. Banjir yang melanda Jakarta mengingatkan kita untuk menghargai lingkungan hidup. Kita diingatkan untuk tidak sewenang- wenang terhadap alam di sekitar kita. Itu juga gerakan ekumene.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Strategi kebudayaan yang dilakukan oleh seorang Garin Nugroho dan Ari Sihasale, tanpa harus mendirikan sebuah stasiun televisi lokal adalah menempatkan identitas kultural Papua dalam aras pengakuan dan pengukuhan budaya populer Indonesia, bahwa orang-orang Papua juga bisa tatkala mereka dihargai martabat dan identitas kultural manusianya, bukan kerakusan akibat pendekatan ekonomi politik yang hanya mengeksploitasi SDA dan menghabiskan anggaran pembangunan daerah (APBD), sementara manusia Papua hanya sekadar menjadi etalase dari sebuah megamall yang namanya Indonesia.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Sedangkan untuk memper- jelas maksud Pasal 2 Ayat (2) UU No 1/1974, dalam hal pencatatan perkawinan pemerintah telah membuat ketentuan sebagaimana maksud Pasal 2 PP No 9 Tahun 1975, tentang Penetapan Kantor Pencatatan Perkawinan, yakni untuk yang beragama Islam dilakukan sesuai amanat UU No 32 tahun 1954 tentang Pencatatan Perkawinan, Perceraian, Talak dan Rujuk yakni di Kantor Urusan Agama (KUA) atau lembaga lain di bawah institusi Departemen Agama. Sedangkan untuk yang beragama non Islam di lakukan di Kantor Catatan Sipil di bawah Institusi Depdagri.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Ketika seorang bayi terpak-sa direlakan pergi ke hadirat Tuhan, karena ketidakmampuan orang tuanya untuk membayar ongkos rumah sakit? Ketika sebagian rakyat Sidoarjo secara kasat-mata menyaksikan rumah-rumah dan harta benda lainnya berangsur-angsur ditelan lumpur panas Lapindo? Ketika kaum-kerabat korban-korban pesawat Adam Air dan KM Senopati “merelakan” keluarga mereka untuk terus hilang, karena pencariannya telah dihentikan? Ketika ancaman kekeringan dan puso sedang mengancam sebagian besar petani kita? Ketika harga beras tiba-tiba melambung tinggi? Dan seterusnya, dan sebagainya?

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Pada leptospirosis yang berat harus dibedakan dengan beberapa penyakit yang mempunyai gambaran klinis yang hampir sama seperti malaria falcifarum berat (demam, ikterik, gagal ginjal, manifestasi perdarahan, kesadaran menurun akibat malaria cerebral), haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) yang disebabkan oleh infeksi hanta virus tipe Dobrava (demam, gagal ginjal, manifestasi perdarahan, injeksi subcongtiva, kadang-kadang ikterik) dan demam tifoid berat dengan komplikasi ganada (sindrom septicemia, ikterik, azotemia, tendensi perdarahan, soporokoma).

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Kebanyakan ahli ekonomi, termasuk ekonom Indonesia akan berpendapat Jepang boros alias tidak efisien. Mengapa harus repot menanam padi sendiri padahal Jepang bisa memborong beras yang ada di pasar internasional, bukankah itu lebih murah? Sejatinya Jepang berfilsafat seperti penyair Khairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi, berbeda dengan falsafah ekonom seperti yang dikatakan Keynes bahwa “ in the long run we are all died “. Jepang tidak tergiur keuntungan jangka pendek, tetapi lebih mengutamakan kepentingan nasional jangka panjang.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Dalam sejarah nasional alkisah, tokoh Bugis yang dikenal luas bernama Aru Palaka. Ia adalah seorang raja, sekaligus “jago” dalam masalah kelautan. Aru Palaka dengan bala tentaranya berlayar mengarungi kepulauan Nusantara. Menerjang ombak dan menempuh badai tiada takut memang, dan sudah biasa. Jika keberanian semacam itu diterapkan pada kapal-kapal, kapal penumpang yang ada kini dengan segala situasi kondisi, sudah barang tentu bukan kehebatan lagi yang didapat, justru kekonyolan yang banyak membawa korban.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Pelepasan panas laten yang tersimpan dalam uap air kemudian diubah menjadi energi kinetik yang diwujudkan sebagai embusan angin. Makin besar panas laten yang tersimpan dan terlepas, angin yang terjadi akan semakin kuat. Jika di Kalimantan Barat terjadi fortex (pusaran), aliran udara dari utara ekuator itu akan terpengaruh dan berakibat cuaca buruk di daerah selatan ekuator/perairan Indonesia terutama laut Jawa dan sekitarnya. Hujan, angin, badai, serta ombak dan gelombang laut amat berbahaya bagi keselamatan pelayaran.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

GDP per kapita Korea pada waktu itu sama dengan negara-negara miskin di Afrika. Sampai dengan tahun 1960 GDP per kapita Meksiko sekitar 2,5 kali lebih besar dibandingkan dengan Korea. Tetapi setelah 45 tahun kemudian, GDP per kapita Korea meningkat dari US $100 (1960) menjadi lebih dari US$ 14.000 (2004) atau 24 kali lebih tinggi dibanding dengan GDP per kapita negara-negara Sub Sahara Afrika dan 2 kali GDP per kapita Meksiko (2003). Banyak pihak menyebutkan kemajuan spektakuler itu sebagai Korea ‘s miracle rapid economic growth .

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Masalah hak asuh pun terkena imbasnya. Baik suami (bapak) maupun istri (ibu), masing-masing beranggapan diri mereka yang lebih pantas mendapatkan hak pengasuhan. Anak diposisikan laksana properti, bahkan sebagai simbol kemenangan satu pihak atas pihak lain. Pihak yang diputuskan mendapatkan hak asuh akan serta-merta memandang dirinya sebagai pemenang. Sedangkan pihak yang tidak mendapatkan hak asuh tidak hanya “terposisikan” sebagai pecundang, tapi sekaligus dicitrakan sebagai orang tua yang tidak memiliki cukup kasih sayang bagi anaknya sendiri dan -bisa jadi- penista yang hanya akan menghancurkan hidup anak.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Kedua , interpretasi atas hak asuh dalam hukum Islam juga menjadi persoalan tersendiri. Eksplisit disebutkan dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 105, saat terjadi perceraian, hak pengasuhan anak yang belum mumayiz (mampu membedakan mana baik dan buruk) ada pada ibunya. Setelah anak mumayiz , ia bebas memilih untuk diasuh oleh ayah atau ibunya. Kriteria usia dan perilaku untuk mumayiz sangat beragam, tergantung mazhab. Antara lain, ada yang berpatokan pada usia dua belas tahun ( akil baligh ), sedangkan mazhab lain menjadikan usia enam tahun sebagai kategori mumayiz , karena cukup dengan melihat seberapa jauh kemandirian anak dalam menjalankan aktivitas kesehariannya.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Terlepas dari itu, dalam praktiknya hingga kini, secara umum terdapat penekanan bahwa istri (ibu) memiliki hak lebih besar akan pengasuhan anaknya. Para hakim kasus perceraian di Indonesia masih ragu-ragu untuk menghasilkan putusan yang “tidak biasa”. Alasannya, tidak hanya karena “masalah hak pengasuhan anak telah diatur hitam di atas putih”, tetapi juga dilandasi pada sejumlah tafsiran atas sejumlah hadis bahwa kodrat ibu sebagai manusia yang mengandung dan melahirkan menjadikannya sebagai manusia yang serta-merta dilengkapi dengan jiwa asih.

seperti di kutip dari https://danielpinem.wordpress.com

Tetapi, tatkala peran gender pada masa kini sudah berubah sedemikian rupa (misal: bapak dan ibu sama-sama bekerja, namun sistem kerja ibu mengharuskannya untuk sangat sering menginap di luar kota, sedangkan bapak memiliki lebih banyak waktu untuk bertatap muka dengan anaknya), maka ketepatan dan relevansi tafsiran tentang hak pengasuhan dipertanyakan kembali. Jika realita ini tidak diindahkan, dikhawatirkan interpretasi tekstual atas hukum Islam hanya akan mengesankan Islam sebagai agama yang bias gender .

Gary Benchengib, yang membuat video viral soal Sungai Citarum, kemarin diajak Presiden Joko Widodo meninjau kondisi di hulu sungai tersebut. Gary adalah WN Prancis yang pernah menyebut Citarum sebagai sungai paling tercemar di dunia. Predikat itu disematkan oleh Gary dan kakaknya, Sam Bencheghib saat membuat video berjudul ‘WE’RE KAYAKING DOWN THE WORLD’S MOST POLLUTED RIVER, THE CITARUM RIVER’ atau ‘Kami Mengayuh Kayak di Sungai Paling Tercemar di Dunia, Sungai Citarum’. Video itu awalnya diunggah pada Agustus 2017. Mereka punya dua sampan botol plastik yang mereka bawa dari Bali, tempat mereka dibesarkan. Sampan itu punya rangka bambu yang menopang berbagai jenis botol plastik. Terlihat ada botol galon air mineral di bagian kanan dan kirinya. Mereka mendayung mengenakan sepatu boots karet dan kaos tangan karet warna oranye. Di situ digambarkan aktivitas mereka menggunakan sampan berbahan botol plastik, menarik anak-anak sekitar untuk melihat lebih dekat. Tak hanya orang sekitar tentunya, namun masyarakat yang jauh dari Citarum juga bakal tahu betapa joroknya sungai legendaris ini. “Kami sangat ingin membuat visualisasi yang mengejutkan dari semua sampah-sampah ini yang mengalir dari sungai ke laut,” kata Gary selaku pendiri Make A Change World. Tujuan mereka beraktivitas seperti ini adalah untuk membangun kesadaran soal bahaya polusi plastik bagi lingkungan. 80% plastik di lautan berasal dari daratan, terutama dari aliran sungai. Sampah-sampah itu harus dicegah sebelum mencebur mencemari lautan. “Saya mendayung di sungai, menemukan bangkai anjing, bangkai babi, baunya sangat mengerikan. Tapi yang mengejutkan saya adalah banyak orang yang hidup di tepian sungai dengan sedikit kesadaran soal dampak polusi sungai terhadap mereka sendiri,” kata Sam Bencheghib, Co-Founder gerakan Make A Change World. Enam bulan berlalu sejak Gary dan Sam mengayuh kayak dari botol plastik di Citarum dan merekamnya. Pemerintah kini mencanangkan revitalisasi Citarum yang bahkan dihadiri langsung oleh Presiden Joko Widodo pada Kamis (22/2/2018) kemarin. “Rehabilitasi sudah dimulai 1 Febuari lalu. Insya Allah bisa diselesaikan selama tujuh tahun,” kata Jokowi usai melakukan penanaman pohon. Gary juga diajak Jokowi untuk ngevlog bersama di hulu Sungai Citarum. Kemarin, dia juga sempat menceritakan bagaimana video soal Citarum yang dia buat bisa berdampak. “Sudah bagus, saya ikut kegiatan TNI di Bojongsoang. Sedimen sudah dibersihkan, juga (membersihkan) plastik dan limbah industri,” kata Gary kepada wartawan. Rasa gembira Gary dan Sam soal penanganan Citarum juga diungkapkan lewat Facebook. Mereka mengunggah ulang video viral yang pertama kali mereka buat dan menyampaikan kabar gembira soal revitalisasi Citarum. “Kemarin, militer Indonesia telah meluncurkan pembersihan besar dari sungai Citarum. Sungai telah dibagi menjadi 22 sektor dan ditangani lewat kerjasama yang sangat besar oleh pemerintah nasional dan daerah, militer, polisi, dan berbagai organisasi lingkungan. Indonesia menunjukkan ke dunia bahwa lewat persatuan, kita benar-benar bisa membuat perubahan besar,” demikian kata mereka dalam keterangan video itu.

Tahun 2014 lalu, media Inggris menayangkan laporan dokumenter soal pencemaran Sungai Citarum yang berjudul ‘Unreported World, The World’s Dirtiest River’. Reportase yang ditayangkan Kamis 10 April 2014 lalu oleh salahsatu reporter Channel 4 Seyi Rhodes, kembali ramai beberapa waktu lalu. Tayangan itu memaparkan betapa tercemarnya sungai terbesar di Jawa Barat itu. Dengan menaiki perahu dayung dan dikemudikan oleh warga sekitar, Seyi melihat langsung kotornya Citarum yang dipenuhi berbagai jemis sampah yang menumpuk di aliran sungai. Tiga tahun berselang, Rabu (5/7) detikcom melakukan pantauan ke Sungai Citarum yang lokasinya berada di bawah Jembatan BBS, Kampung Saapan RW 02, Desa Cipatik, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Sampah plastik, botol, barang-barang bekas, limbah rumah warga, masih berserakan, menggunduk terbawa aliran Sungai Citarum yang melambat. Namun dibandingkan dengan tiga tahun lalu, volumenya berkurang. Saat ini tumpukan sampah hanya menggunduk di bawah jembatan BBS, sementara di tayangan dokumenter 2014 itu, sampah menutupi hampir seluruh badan sungai. Foto: Youtube Ketua RW 02 Yayan Saeful (49) mengatakan sejak ada Program Citarum Bestari dan Ecovillage yang digulirkan Pemprov Jabar, volume sampah di sungai Citarum mulai sedikit berkurang. “Lumayan berkurang sekarang mah,” tuturnya. Diakui Yayan tumpukan sampah di Sungai Citarum terjadi mulai tahun 1990-an. Saat itu sampah plastik belum laku dijual. “Selama saya kecil sungai sudah kotor. Apalagi Semenjak ada jembatan (BBS), sebelum itu bagus. Sebelum tahun 1990 masih laik disebut sungai,” kata Yayan. Lalu sekitar tahun 2000, sejak sampah memiliki nilai jual, banyak penjaring ikan dan pencari rongsokan di sepanjang Sungai Citarum. Yayan pun mengaku sempat menjadi pemulung sampah. “Sebenarnya kalau kita rajin, berbagai jenis sampah bisa dijual tidak ada yang tidak laku,” tambahnya. Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat (DLH KBB) Apung Hadiat Purwoko mengatakan yang memberikan kontribusi kotornya Sungai Citarum bukan warga Cihampelas KBB saja, melainkan dari Kota Bandung, Cimahi, dan Kabupaten Bandung. “Tahun kemarin Gubernur mencanangkan program Citarum Bestari, cuman sampai saat ini (permasalahan sampah) belum selesai. Masalah sampah di Citarum, itu harus kembali lagi ke masyarakat dan kesungguhan pemerintah provinsi karena aliran Sungai Citarum sudah lintas daerah (kabupaten-kota),” jelasnya. Foto: Wisma Putra Limbah Pabrik Bukan hanya tumpukan sampah rumah tangga atau sampah domestik saja yang mengotori Sungai Citarum yang berada di Wilayah Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Limbah cair yang dibuang sembarangan oleh pabrik industri pun membuat sungai tercemar. Pantauan detikcom, air sungai yang sudah tercampur limbah industri berubah warna menjadi hitam, berbuih dan mengeluarkan bau menyengat jika terhirup hidung. “Jika dulu air yang ada di Sungai Citarum bisa digunaka untuk mandi dan mencuci, tapi sekarang sudah tidak dapat digunakam karena sudah tercemar sampah dan limbah pabrik,” kata salahsatu warga Kampung Saapan RW 02, Desa Cipatik, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Juju (56) saat ditemui detikcom di Jembatan BBS belum lama ini. Juju memgungkapkan, di aliran sungai terbesar di Jawa Barat itu ia dapat digunakan untuk berenang dan bermain air. “Kalau sekarang sudah tidak bisa, saya menyayangkan sekali dan saya berharap semoga pemerintah segera menangani permasalahan Sungau Citarum,” ungkapnya. Sementara itu menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat (DLH KBB) Apung saat ini ada 10 perusahaan yang ditangani Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pusat yang diduga kuat melakukan pencemaran. “Dua perusahaan sedang diproses Pemerintah Pusat. Tiga perusahaan sudah ada perbaikan ketaatan dan lima perusahaan sudah ditangani Pemerintah Provinsi Jawa Barat,” katanya. Apung menjelaskan, kewenangan permasalahan Sungai Citarum ada di Pemerintah Pusat dan Pemrov Jabar. Pihaknya bertugas untuk melakukan pembinaan kepada perusahaan yang menyalahi aturan. “Kami hanya bantu supporting dan melakukan pembinaan. Apa yang dibutuhkan perusahaan yang mendapatkan sanksi teguran administrasi, baik dari pemprov dan pusat,” jelasnya. Apung menyebutkan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang dimiliki perusaahaan industri yang berada di Badung Barat sudah relatif baik dan kebanyakan sudah respesentatif. Namun dalam implementasinya belum optimal, karena biayanya (operasional) cukup tinggi, sehingga banyak perusahaan nakal yang membuang limbah cair ke aliran Sungai Citarum. “Kalau tidak repesentatif tidak akan dikeluarkan ijinnya. Limbah cair yang masuk ke Citarum pun bukan hanya dari Bandung Barat saja, tapi dari Kota Bandung, Cimahi dan Kabupaten Bandung,” ucapnya.

Anggota BEM UI berangkat ke Asmat, Papua, dengan rombongan TNI. Tetapi, Ketua BEM UI Zaadit Taqwa tidak ikut dalam rombongan. Berdasarkan keterangan tertulis dari Pendam XVII/Cenderawasih, rombongan Tim III Satgas Kesehatan TNI berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma, Kamis (15/2/2018) pukul 05.00 WIB. Rombongan menempuh rute Halim-Semarang-Makassar-Ambon-Timika dan diperkirakan tiba di Timika sore ini pukul 16.00 WIT. Ada 19 orang dalam rombongan itu. Empat anggota BEM UI yang ikut di rombongan adalah Made Desna (FIA 2016), Ade Putra (FIK 2015), Camar (FIB 2016) dan Iban (FT 2015). Berdasarkan keterangan dari Pendam XVII/Cenderawasih, Zaadit tidak ikut dalam rombongan. Selain 4 anggota BEM UI, rombongan itu juga terdiri dokter spesialis anak, kebidanan dan penyakit dalam, dokter umum serta paramedis dari TNI AD-TNI AU-TNI AL. Rombongan dipimpin oleh Danrumkitmar Lekol Laut (K) dr Aminuddin Harahap, Sp.A Rombongan berangkat dilepas oleh Kapuskesad Mayjen TNI dr Bambang Dwi Hasto, SpB, Mayjen Bambang memberi beberapa pesan, termasuk kepada anggota BEM UI. “Utamakan faktor keamanan, jaga kekompakan termasuk untuk adik-adik Mahasiswa dari BEM UI, diantara dokter-dokter militer yang bertugas bersama kalian saat ini adalah senior-senior kalian se Almameter alumni UI. Jadi kalian tidak perlu canggung, bertanya dan belajarlah yang banyak kepada senior,” kata Bambang. Keberangkatan anggota BEM UI ke Asmat ini juga dipublikasikan di akun Instagram BEM UI. Mereka menamakan gerakan itu sebagai GABRUK! (Gerakan Asmat Bebas Gizi Buruk). Dijelaskan bahwa ada 2 tim dari BEM UI yang berangkat ke Asmat. Ada pula foto yang diunggah dan tidak ada Zaadit di foto tersebut. Sebelumnya diberitakan, Presiden Jokowi merespons soal aksi pemberian kartu kuning dari Zaadit ke dirinya. Salah satu sorotan Zaadit adalah soal problem gizi buruk di Asmat. Jokowi mungkin akan mengirim yang bersangkutan ke Asmat, Papua. Zaadit lalu menolak diberangkatkan ke Asmat, Papua, oleh Jokowi. Zaadit memilih berangkat dengan biaya yang dihimpun sendiri. “Jangan sampai uang negara cuma digunakan untuk memberangkatkan mahasiswa. Biarkan kami menggunakan uang kami sendiri untuk berangkat ke Asmat,” kata Zaadit saat dihubungi detikcom, Selasa (6/2/2018).

Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto mulai turun gunung jelang Pilpes 2019. Prabowo belakangan kian sering muncul di hadapan publik. Seperti pada Kamis (22/2/2018) kemarin, Prabowo diketahui datang ke RS Dharmais, Jakarta Barat. Prabowo datang untuk menjenguk ibunda Elang Mulia Lesmana, korban tragedi Trisakti 1998. Kehadiran Prabowo disampaikan lewat akun Twitter Partai Gerindra. Dari foto yang diunggah, tampak mantan Danjen Kopassus itu memakai baju safari warna cokelat. “Pak @prabowo menjenguk Ibu Hira Tety Yoga, Ibunda dari Elang Mulia Lesmana mahasiswa Fakultas Arsitektur Universitas Trisakti (Korban Tragedi Trisakti 98),” demikian keterangan di Twitter Gerindra. Tak hanya berfoto dengan ibunda Elang, Prabowo di RS Dharmais juga tampak menyapa warga. Jenderal purnawirawan TNI itu pun berfoto bersama para karyawan dan pengunjung rumah sakit. Empat hari sebelum itu, Prabowo mulai kembali ikut berinteraksi di pertemuan politik. Dia datang ke pengundian nomor urut parpol peserta pemilu di kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Minggu (18/2). Bahkan dalam kesempatan itu, Prabowo terlihat saling sapa dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Saat pengundian, Partai Gerindra mendapat nomor urut dua. Nama Prabowo memang diprediksi akan kembali maju ke pentas pilpres pada 2019 nanti. Digadang-gadang, Prabowo akan kembali bertarung dengan Presiden Joko Widodo. “Mungkin akan ada rematch, Jokowi versus Prabowo jilid dua,” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Kamis (15/2). Partai Gerindra sudah memastikan akan tetap mengusung Prabowo di Pilpres 2018, meski survei elektabilitas sang ketum kian menurun. Gerindra diprediksi akan berkoalisi dengan PKS dan PAN untuk mengusung Prabowo. “Prabowo tetap menjadi calon presiden dari Partai Gerindra,” tegas Waketum Gerindra Ferry Juliantono, Jumat (16/2). Prabowo sendiri sudah sedikiti angkat bicara soal pencalonannya sebagai capres. Menurutnya, dia adalah seorang pendekar yang harus mementingkan kepentingan bangsa. “Karena apa? Seorang pendekar yang utama bagi dia adalah kepentingan bangsanya,” tutur Prabowo dalam acara HUT ke-10 Gerindra di Kantor DPP Gerindra, Jakarta Selatan, Sabtu (10/2). Meski demikian, Prabowo mengisyaratkan siap maju di Pilpres 2019 andai rakyat meminta. Syarat lain adalah andai ada dukungan yang pasti untuknya. “Kalau rakyat meminta, kalau partai menugaskan, kalau ada dukungan yang benar bukan rekayasa. Kalau polling bisa kita pesan asal bayar… ‘Eh lu bikin ya polling, gue 80 persen’. Kita harus legowo,” katanya. “Bukan jabatan yang penting, yang penting adalah pengabdian,” tegas Prabowo. Dia pun berencana akan menyampaikan pidato politik dalam waktu dekat. Prabowo kerap menyampaian keprihatinannya atas kondisi Bangsa Indonesia. “Nanti di Hambalang, saya undang kalian. Di situ kalian akan dengar pidato saya, hati saya sesungguhnya, keresahan saya yang sesungguhnya, kesedihan saya yang sesungguhnya!” ucap mantan Pangkostrad itu di hadapan kader Gerindra. Mungkinkah dengan turun gunung ini akan membuat elektabilitas Prabowo kembali naik?

Persaudaraan Alumni 212 menggelar penyambutan kepulangan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab ke Indonesia. Saat ini massa melaksanakan solat subuh berjamaah di Masjid Baitul Amal. Pantauan detikcom di Masjid Baitul Amal, Jalan Menceng, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (21/2/2018) sejak pukul 04.40 WIB massa terlihat sudah mulai menunaikan salat sunah sebelum menunaikan salat subuh berjamaah. Terlihat antrean massa untuk mengambil air wudu. Beberapa massa juga terlihat berwudu menggunakan air mineral kemasan. Di Jalan Menceng terlihat massa menggelar tikar maupun terpal untuk alas yang mereka gunakan untuk salat. “Saya sengaja wudhu menggunakan air kemasan. Kalau mangtre di tempat wudu masjid lama dan airnya kecil,” kata salah satu massa M Sobri (33). Massa berwudu dengan air mineral kemasan Foto: Samsudhuha Wildansyah/detikcom Tepat pukul 04.52 WIB massa mulai menunaikan salat subuh berjamaah. Akses jalan di depan Masjid Baitul Amal ditutup oleh massa untuk melaksanakan salat subuh berjamaah. Sebelumnya massa menggelar tablig akbar penyambutan kepulangan imam besar Front Pembela Islam Rizieq Syihab di Masjid Baitul Amal. Masa sudah berkumpul sekitar pukul 20.00 WIB, Selasa (21/2/2018).

Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Doni Monardo serius menyoroti pencemaran Sungai Citarum. Menurutnya tanpa penegakan hukum, pencemaran limbah rumah tangga maupun pabrik akan tetap berlangsung. “Tanpa bantuan hukum saya kira tidak ada apa-apanya kita menangani sungai Citarum selama ini. Makanya kita minta bantuan agar penanganan masalah Citarum ini bisa berjalan dengan baik,” ucap Pangdam Siliwangi Mayjen TNI Doni Monardo saat menjadi pembicara dalam seminar nasional ekosistem Citarum dengan perspektif hukum di Graha Manggala Siliwangi, Jalan Aceh, Bandung, Kamis (4/1/2017). Langkah hukum juga menjadi suatu cara untuk membuat efek jera para pembuang limbah ke sungai Citarum. Sebab, selama ini beberapa perusahaan yang berada di sekitar sungai Citarum kerap kedapatan membuang limbah ke Citarum. “Hasil uji air sudah sangat tercemar. Di beberapa titik ditemukan sejumlah unsur kimia yang sangat membahayakan,” tandasnya. Doni mengatakan terus berlangsungnya proses penanganan pencemaran sungai Citarum ini untuk meminimalisir bahkan memutus dampak yang ditimbulkan akibat tercemarnya sungai terbesar di Jabar itu. Sebab, kata dia, sungai Citarum berdampak langsung pada keberlangsungan hidup bukan hanya warga Jabar akan tetapi warga DKI Jakarta. “80 persen air dari sungai Citarum ini dikonsumsi oleh warga DKI Jakarta. Bayangkan kalau sungainya kotor,” kata dia. Dir Reskrimsus Polda Jabar Kombes Samudi mengatakan dalam penegakkan hukum di sungai Citarum dibagi ke dalam dua mekanisme penindakan yaitu ultimum remedium dan premium remedium. Ultimum remedium menurut Samudi dilakukan dengan mengedepankan sanksi administratif yang diberikan oleh dinas lingkungan hidup. Langkah ini dilakukan terhadap perusahaan-perusahaan pembuang limbah ke citarum. “Ini artinya perusahaan yang membuang limbah cair. Jadi pertamanya melalui langkah dari dinas terlebih dahulu, kalau sanksi administratif tidak juga diindahkan, baru kita lakukan langkah hukum. Artinya bahwa penanganan tindak pidana adalah penanganan yang terakhir,” kata Samudi di tempat yang sama. Sementara untuk mekanisme premium remedium tanpa perlu ada sanksi administrasi dari dinas lingkungan hidup, penegakan hukum bisa langsung dilakukan. “Jadi untuk penindakan dilihat dari kondisi di lapangan nantinya,” katanya.

Related Posts

Comments are closed.