Tangkap Yacht Rp 3,5 T, Bareskrim: Kejahatan Tak Boleh Menang

Tangkap Yacht Rp 3,5 T, Bareskrim: Kejahatan Tak Boleh Menang

Bareskrim Polri akan melakukan evaluasi terlebih dahulu terhadap seluruh berkas yang didapat dari penggeledahan kapal Yacht Rp 3,5 T. Sebelum nantinya akan dilakukan penetapan tersangka dan gelar perkara. “Kita habis ini mempelajari, mengevaluasi data-data dan dokumen yang kita dapatkan. Setelah itu baru kita tetapkan tersangka setelah gelar perkara dan segala macam,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga saat dihubungi detikcom, Kamis (1/3/2018). [Gambas:Video 20detik] Daniel mengatakan Bareskrim siap memproses hukum kapal pesiar mewah tersebut. Dia mengatakan kapal tersebut diduga terkait dengan tindak pidana pencucian uang. Sebagaimana diketahui, Bareskrim menerima surat dari Federation Bureau of Investigation (FBI) terkait kapal yang mereka cari. Daniel mengatakan pihaknya bersedia menyerahkan jika memang FBI meminta. “Ya, kalau kita sudah siap untuk proses hukum. Tapi kalau nanti kebijakan pemerintah, atas kebijakan pimpinan juga menyerahkan kepada mereka, kita juga siap. Kita dengan senang hati membantu. Yang penting, pada prinsipnya, kejahatan jangan sampai menang. Hukum yang harus menang,” ungkapnya. Sebelumnya diberitakan, Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2) kemarin. Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Berdasarkan informasi yang dihimpun detikcom, ada sebanyak 34 awak kapal dan sejumlah dokumen perjalanan yang ikut ditahan. Penyidik, juga diketahui tengah mencari kemungkinan adanya awak kapal yang melarikan diri saat penggeledahan. Kapal Equanimity, berdasarkan Pengadilan AS, dimiliki oleh seorang miliuner asal Malaysia Jho Low. Low terjerat kasus korupsi transfer dana USD 1 miliar dari pihak berwenang Malaysia ke rekening pribadi.

Baca juga :

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bersama penyidik dari FBI meninggalkan kapal super yacht Equanimity. Kapal pabrikan Belanda itu diduga dibeli oleh terdakwa korupsi USD 1 miliar asal Malaysia, Jho Low. Pantauan detikcom di perairan Tanjung Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (28/2/2018), Bareskrim Polri dan sedikitnya empat pria yang diduga dari FBI menaiki Equanimity pada pukul 13.30 Wita. Lalu pada pukul 20.00 Wita, sejumlah orang yang disebut berasal dari Biro Investigasi Federal itu keluar dari kapal mewah seharga Rp 3,5 triliun tersebut. Di antara Equanimity dan kapal patroli berukuran sedang milik Polairud Polda Bali, mereka harus menggunakan perahu karet. Orang yang tidak berkepentingan juga tidak diperkenankan menaiki kapal yang telah berada di Indonesia sejak November 2017 itu. Sedikitnya lima orang lebih dulu meninggalkan Equanimity. Para penyidik Mabes Polri meninggalkan Equanimity 5 menit setelahnya. Belum ada keterangan dari pihak Mabes Polri. Namun mereka keluar setelah berada di atas kapal selama 6 jam lebih. Para penyidik membawa selusin tas berupa koper hitam dan tas hitam. Belum diketahui isinya, namun keberadaan dua instansi tersebut adalah untuk melakukan penyitaan terhadap kapal berbendera negara Persemakmuran Inggris tersebut. “Mereka (AS) minta ke pemerintah kita bahwa keberadaan kapal di sini dan kita sudah minta izin untuk melakukan penyitaan,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bersama penyidik dari FBI meninggalkan kapal super yacht Equanimity. Kapal pabrikan Belanda itu diduga dibeli oleh terdakwa korupsi USD 1 miliar asal Malaysia, Jho Low. Pantauan detikcom di perairan Tanjung Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (28/2/2018), Bareskrim Polri dan sedikitnya empat pria yang diduga dari FBI menaiki Equanimity pada pukul 13.30 Wita. Lalu pada pukul 20.00 Wita, sejumlah orang yang disebut berasal dari Biro Investigasi Federal itu keluar dari kapal mewah seharga Rp 3,5 triliun tersebut. Di antara Equanimity dan kapal patroli berukuran sedang milik Polairud Polda Bali, mereka harus menggunakan perahu karet. Orang yang tidak berkepentingan juga tidak diperkenankan menaiki kapal yang telah berada di Indonesia sejak November 2017 itu. Sedikitnya lima orang lebih dulu meninggalkan Equanimity. Para penyidik Mabes Polri meninggalkan Equanimity 5 menit setelahnya. Belum ada keterangan dari pihak Mabes Polri. Namun mereka keluar setelah berada di atas kapal selama 6 jam lebih. Para penyidik membawa selusin tas berupa koper hitam dan tas hitam. Belum diketahui isinya, namun keberadaan dua instansi tersebut adalah untuk melakukan penyitaan terhadap kapal berbendera negara Persemakmuran Inggris tersebut. “Mereka (AS) minta ke pemerintah kita bahwa keberadaan kapal di sini dan kita sudah minta izin untuk melakukan penyitaan,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

INILAHCOM, Jakarta – Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri mengungkap barang bukti hasil kejahatan pencucian uang di Amerika Serikat, berupa super yacht seharga Rp 3,5 triliun. Kapal mewah itu ditemukan di Tanjung Benoa, Bali setelah empat tahun diburu FBI. “Hari ini kami dari Bareskrim Polri melakukan penyitaan terhadap kapal Equanimity di Pelabuhan Benoa Bali,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Mabes Polri, Brigjen Agung Setya saat dikonfirmasi, Rabu (28/2/2018). Menurut Agung, pihaknya menerima surat dari FBI pada 21 Februari yang meminta bantuan Polri melakukan pencarian atas keberadaan kapal tersebut. “Kapal ini kita sita terkait dengan tindak pidana pencucian uang yang terjadi di Amerika, yang kasusnya sedang diselidiki oleh FBI. Kapal ini sudah dicari beberapa tahun yang lalu dan ternyata ada di Benoa hari ini, lalu kita lakukan penyitaan,” ujarnya. Agung menambahkan, kapal tersebut diketahui masuk ke Indonesia pada November 2017. FBI kemudian melakukan koordinasi dengan Kepolisian Republik Indonesia untuk melakukan penyitaan. “Jadi FBI Amerika melakukan joint investigation dengan Bareskrim. Bareskrim membantu,” jelasnya. Pengungkapan bukti kejahatan tersebut, kata Agung, merupakan yang terbesar sepanjang pengungkapan jajarannya. Kapal tersebut ditaksir senilai USD 250 juta atau setara Rp 3,5 triliun. Saat ini kasus tersebut sudah selesai di pengadilan dan barang bukti super yacht itu dinyatakan sebagai hasil kejahatan pencucian uang. Kajahatan tersebut juga melibatkan beberapa negara seperti Amerika, Swiss, Malaysia, dan Singapura. Sampai saat ini, tim Bareskrim Mabes Polri, bersama FBI dan Dit Pol Air Polda Bali, masih melakukan pengecekan ke dalam kapal pesiar tersebut.[van].

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Turin – Juventus melangkah ke final Coppa Italia setelah mengalahkan Atalanta 1-0 di leg kedua semifinal. Gol tunggal Bianconeri lahir dari penalti Miralem Pjanic. Berkat kemenangan ini, Juventus lolos dengan keunggulan agregat 2-0 setelah sebelumnya juga menang 1-0 di markas Atalanta. Menjamu Atalanta di Allianz Stadium, Turin, Rabu (28/2/2018), Juventus tak diperkuat Gonzalo Higuain, Federico Bernardeschi, Juan Cuadrado, dan Mattia De Sciglio. Sementara itu, Paulo Dybala kurang fit untuk jadi starter dan cuma main di babak kedua. Atalanta tampil lebih mendominasi di babak pertama. Tim tamu banyak menguasai bola dan mencoba untuk menekan Juventus. Tapi, mereka tak membuat banyak peluang bersih. Sebaliknya, Juventus justru punya peluang emas, yang gagal dituntaskan oleh Mario Mandzukic. Penampilan Juventus membaik di babak kedua. Akan tetapi, mereka butuh sebuah penalti di menit ke-75 untuk mencetak gol. Pjanic yang jadi eksekutor berhasil menjebol gawang Atalanta. Juventus kini tinggal menunggu lawan di final. Mereka akan bertemu AC Milan atau Lazio di partai puncak yang akan digelar di Olimpico pada 9 Mei 2018. Jalannya Pertandingan Juventus punya peluang untuk unggul pada menit ke-16. Namun, Blaise Matuidi gagal menjangkau bola tendangan bebas Pjanic. Mandzukic menyia-nyiakan sebuah peluang emas di menit ke-35. Striker asal Kroasia itu tinggal menghadapi Etrit Berisha di kotak penalti, tapi penyelesaiannya terlalu lemah dan dengan mudah digagalkan oleh kiper Atalanta itu. Percobaan yang dilakukan oleh Kwadwo Asamoah di menie-menit akhir babak pertama juga tak mengubah keadaan. Tembakan bek kiri Juventus itu cuma mengenai sisi luar jala gawang Atalanta. Tak ada gol yang tercipta hingga turun minum. Skor masih 0-0. Claudio Marchisio tak bisa memaksimalkan kesempatan yang didapatnya pada awal babak kedua. Tembakan gelandang Juventus itu terlalu mudah untuk diantisipasi oleh Berisha. Marchisio kembali mendapatkan peluang di menit ke-60. Dia mencuri bola dan melepaskan tembakan, tapi usahanya tak menemui sasaran. Serangan balik Atalanta di menit ke-64 nyaris berbuah gol ketika Alejandro Gomez lolos sendirian di wilayah Juventus. Melihat Gianluigi Buffon maju meninggalkan sarangnya, Gomez menembak dari jarak jauh. Sial buat dia, tembakannya cuma mengenai tiang gawang. Tak berselang lama, Gomez kembali mengancam gawang Juventus. Tapi, tembakan kerasnya dari luar kotak penalti meleset dari sasaran. Sebuah aksi Douglas Costa di menit ke-67 juga nyaris membawa Juventus memimpin. Sepakan Costa dari luar kotak penalti berada di luar jangkauan Berisha, tapi bola cuma menghantam mistar. Wasit menghadiahkan penalti untuk Juventus pada menit ke-75 setelah Matuidi dijatuhkan oleh Gianluca Mancini di mulut gawang. Pjanic maju sebagai algojo tendangan 12 pas dan sukses mengirimkan bola ke dalam gawang. Tembakannya ke arah tengah mengecoh Berisha. Juve pun unggul 1-0. Di sisa waktu, nyaris tak ada peluang bersih tercipta. Keunggulan Juventus terjaga hingga laga usai. Susunan Pemain Juventus: Buffon; Lichtsteiner, Benatia, Chiellini, Asamoah; Marchisio (Khedira 68′), Pjanic, Matuidi; Douglas Costa (Dybala 83′), Mandzukic, Alex Sandro (Barzagli 84′) Atalanta: Berisha; Mancini (Rizzo 76′), Caldara, Masiello; Hateboer, De Roon, Freuler (Barrow 87′), Spinazzola; Cristante; Ilicic (Cornelius 64′), Gomez (mfi/nds)


Baca juga :

Setya Novanto (Setnov), Honggo Wendratno dan Raden Priyono pemegang Pusaka Sakti Hukum Mandraguna. Foto Ilustrasi NusantaraNews/ NNCart NusantaraNews.co, Jakarta – Ekonomi Indonesia berada di ambang krisis dengan semakin lemahnya daya beli masyarakat, potensi defisit APBN yang melebar, kewajiban pembayaran hutang luar negeri yang terus meningkat, makin tingginya kurs dollar AS atas rupiah, serta hengkangnya para investor yang menambah angka pengangguran dan kemiskinan. Hal ini menimbulkan keprihatinan di banyak kalangan muda dan generasi milenial, khususnya yang bekerja di sektor wirausaha dan profesional. “Banyak peristiwa yang menimbulkan ketidakpastian di Indonesia, sehingga berdampak negatif bagi dunia perekonomian. Utamanya adalah masalah penegakan hukum yang ‘tumpul ke atas tajam ke bawah.’ Akibatnya, banyak investor dan pelaku usaha yang hengkang dan memilih menyimpan uangnya demi menghindari resiko bisnis di tengah suasana gaduh dan tak kondusif,” ujar Juru Bicara Kaukus Muda Berantas Korupsi (KMBK), Soeleman Harta melalui pesan elektronik kepada media massa, Jumat (20/10/2017). Dia menuturkan, salah satu contoh tidak tegaknya hukum ditandai oleh merajalelanya para pejabat dan bandit perampok kekayaan negara yang justru mendapat kekebalan hukum. Sementara, kriminalisasi dan pemenjaraan malah menimpa penegak hukum yang jujur serta para pencari keadilan. Sebagai komparasi, di Amerika Serikat dan China, investor dan pelaku usaha merasa nyaman berinvestasi dan memutar uang karena adanya kepastian hukum tanpa pandang bulu. Bahkan, hukuman mati sering dijatuhkan ke pejabat publik yang secara sengaja berkomplot menyalahgunakan kewenangan merugikan negara untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Baca: Setnov, Honggo dan Raden Priyono Pemilik Pusaka Sakti Hukum Mandraguna “Di China, jika ada pejabat tinggi negara seperti Setya Novanto yang diduga melakukan rangkap kejahatan korupsi KTP elektronik yang disertai dugaan menjual data penduduk kepada kekuatan asing, atau jika terjadi persekutuan jahat mega korupsi kondensat antara mantan Kepala BP Migas Raden Priyono dengan pengusaha pemilik PT. TPPI Honggo Wendratno yang merekayasa projek dengan dugaan kerugian negara hingga Rp.35 trilyun, pasti mereka telah dihukum gantung, juga keluarganya mendapat sanksi sosial,” kecam Soeleman. Dalam catatan Kaukus Muda Berantas Korupsi (KMBK), ada banyak skandal megakorupsi yang mendapat kekebalan hukum dan belum dituntaskan bertahun-tahun. Beberapa di antaranya kasus BLBI, Century, KTP Elektronik (E-KTP) dan kondensat BP Migas. Citra pemerintah semakin runtuh, sehingga kepercayaan investor dan dunia internasional terhadap komitmen hukum Pemerintahan Joko Widodo semakin hilang. Baca:  Setnov Lolos Lagi, KMKB: Bukti Hukum Tumpul di Tangan Penegak Hukum Terkini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih terus memproses skandal BLBI dan Century, tetapi terkesan lalai dalam penanganan kasus E-KTP, hingga tersangka Setya Novanto yang notabene Ketua DPR RI memenangkan praperadilan yang menyita perhatian dan melukai rasa keadilan rakyat. Sementara dalam skandal kondensat yang ditangani Bareskrim Polri, 2 pejabat BP Migas yang menjadi tersangka yakni Raden Priyono dan Djoko Harsono (mantan Deputi Finansial Ekonomi dan Pemasaran) sempat ditahan dan ditangguhkan, dan pengusaha Honggo Wendratno melarikan diri ke Singapura hingga kini. Simak:  Usai Menang Praperadilan dan Didesak Lengser, Ini Siasat Politik Setya Novanto “Demi bangkitnya dunia usaha dan perekonomian Indonesia, penegakan hukum di era Presiden Joko Widodo tak boleh hanya menjadi retorika di berbagai forum dan media. KPK harus segera keluarkan surat perintah penyidikan baru prindik baru untuk menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka E-KTP dan Bareskrim Polri harus segera menyeret Honggo Wendratno dan Raden Priyono untuk dipenjarakan!” seru Soeleman Harta. ( Rita/NusantaraNews ) Editor: Ach. Sulaiman Related Komentar


Baca juga :

Catatan : Tak ada yang baru di bawah matahari. Konflik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) telah memasuki jilid III. Konflik jilid III dimulai dari persoalan yang muncul dari pemilihan Komjen Budi Gunawan sebagai calon Kapolri dari Presiden dan penetapan BG sebagai tersangka oleh KPK menjelang DPR melakukan fit and proper test . Drama balas-membalas antara KPK dan Polri terus berjalan yang melibatkan banyak pihak lain, seperti DPR, DPD, lembaga Kepresidenan, aktivis pembela pemberantasan korupsi, dan berbagai agen masyarakat madani ( civil society ). Anekamedia massa ikut meramaikan kegaduhan ini.

seperti di kutip dari https://sbelen.wordpress.com

Posting ini merupakan rangkuman kicauan kami di Twitter S Belen @sbelen07 dan Facebook. Kami masukkan pula komentar teman-teman di Facebook. Banyak kicauan yang kami ambil dari kata mutiara pepatah, kutipan ucapan tokoh dalam dan luar negeri yang tak lekang oleh waktu sehingga setiap kali muncul persoalan yang sama kita dapat merujuk ke kata-kata mutiara itu. Karena, seperti kata peribahasa Latin “Nihil novi sub sole”, tiada yang baru di bawah matahari. Gejala-gejala dan modus boleh berubah tapi hakikat korupsi itu tetaplah yang sama yang terulang dan terulang.

seperti di kutip dari https://sbelen.wordpress.com

Pius Rengka : Rakyat akan menyiksa partai dua orang ini nanti pada waktunya, jika mereka tidak segera memulihkan hubungan ini. Tadinya dua partai yang dipimpin oleh dua orang ini terkesan sudah baik, tetapi sekarang orang mulai ragukan dan perlahan merasa gak beda dengan yang sebelumnya. Kesan itu saya peroleh dari rakyat sederhana ketika saya mengelilingi kampung di kawasan Maluku Barat Daya. Dalam bahasa mereka, “tadinya ose bagus, beta pilih ose punya partai, sekarang ose mulai putar balik deng ose kasih beta maling urus polisi. Seng beda deng laen. Ale tunggu nanti. Itu kalimat mereka dalam bahasa lokal. Saya diam-diam mencatat, dan mencatat.

seperti di kutip dari https://sbelen.wordpress.com

S Belen : Terima kasih, Pak Pius Rengka. Beta yakin itu suara polos orang kampung. 6 x saya berkunjung ke Pulau seram (3 x ke Masohi dan 3 x ke Piru). Mereka amat baik dan bicara apa adanya. Kalau bertemu di jalan di malam hari dalam kegelapan mereka masih menyapa “Selamat malam, Om.” Kosa kata mereka tidak tampak siapa yang muslim dan siapa yang Kristen. Amat egaliter. Walau partai-partai mengklaim itu basis mereka, orang Maluku pandai dan bijak menilai partai mana yang benar dan mana yang suka putar balik (ngapusi). The time will come, the judgment time.

seperti di kutip dari https://sbelen.wordpress.com

S Belen : Ama Agus (Agustinus Gereda Tukan), bila tiap orang merefleksikan kembali perjalanan hidupnya, betapa terlihat kebenaran fakta adagium When one door closes, another door opens . 2 x saya mengalami serangan jantung dan menjalani operasi pasang ring 2 x ( o ne door closed ). 12 tahun kemudian akhirnya kami menemukan ramuan herbal Sano yang membuat kinerja jantungku bagus dan bisa membantu sesama yang menderita sakit ( another door opens ). Sekarang kami dibantu sejumlah karyawan belia dari keluarga kurang mampu sehingga tak bisa melanjutkan pendidikan ( one door closes ). Saya dan istri mendorong mereka untuk berlangkah menuju pintu yang terbuka dengan menawarkan mengikuti kursus yang diinginkan untuk masa depannya agar another door opens . Kebiasaan dalam keluarga kami adalah mengkursuskan pembantu agar terbuka pintu bagi mereka bila berkeluarga. Bisa cari uang sendiri, tidak bergantung kepada suami, agar “tidak diinjak-injak” suami. He he he

seperti di kutip dari https://sbelen.wordpress.com

S Belen : Pak Mario Yosef, Terima kasih atas tanggapan. Kabarku bae-bae sa. Beta sudah jadi opung, mbah, ba’i atawa opa 3 cucu. Sudah kusampaikan salam buat Pak Agus Gereda Tukan, teman lama Pak yang barusan ketemu di layar facebook setelah 25 tahun. No. HP Pak Agus juga sudah kukirim. Pak Agus itu yang mengembangkan sampai jadi Universitas Negeri Merauke. Kalau ke Merauke Pak Agus yang suka antar saya ke mana-mana. Sekali kami cari keluarga dari Adonara sampai di pelosok Merauke yang becek. Sampai di sana sudah malam. Bapak itu cerita tentang pengalaman tangkap ular untuk dijual. Waktu keluar dari rumah jadi takut injak ular. He he he.

seperti di kutip dari https://sbelen.wordpress.com

S Belen Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) menyangkal jati diri yang diusung namanya. Politik itu tidak ikut logika akal sehat. Politik = logika kepentingan. Anda dapat apa, saya dapat apa. Win – win solution . Persetan logika hati nurani rakyat. Kalau anggota DPR Hanura, PDIP atau Nasdem bersikap sesuai hati nuraninya, ia akan didepak petinggi partainya. Merekalah dalang karut-marut dan hiruk pikuk ini. Anggota DPR hanyalah pion ketua-ketua partai yang menjadi dalang di belakang layar. Itulah taraf politik Indonesia. Belum dewasa. Padahal, kata Sabam Sirait, politik itu suci. Sucinya di mana hayo?


Baca juga :

Catatan : Tak ada yang baru di bawah matahari. Konflik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) telah memasuki jilid III. Konflik jilid III dimulai dari persoalan yang muncul dari pemilihan Komjen Budi Gunawan sebagai calon Kapolri dari Presiden dan penetapan BG sebagai tersangka oleh KPK menjelang DPR melakukan fit and proper test . Drama balas-membalas antara KPK dan Polri terus berjalan yang melibatkan banyak pihak lain, seperti DPR, DPD, lembaga Kepresidenan, aktivis pembela pemberantasan korupsi, dan berbagai agen masyarakat madani ( civil society ). Anekamedia massa ikut meramaikan kegaduhan ini.

seperti di kutip dari https://sbelen.wordpress.com

Posting ini merupakan rangkuman kicauan kami di Twitter S Belen @sbelen07 dan Facebook. Kami masukkan pula komentar teman-teman di Facebook. Banyak kicauan yang kami ambil dari kata mutiara pepatah, kutipan ucapan tokoh dalam dan luar negeri yang tak lekang oleh waktu sehingga setiap kali muncul persoalan yang sama kita dapat merujuk ke kata-kata mutiara itu. Karena, seperti kata peribahasa Latin “Nihil novi sub sole”, tiada yang baru di bawah matahari. Gejala-gejala dan modus boleh berubah tapi hakikat korupsi itu tetaplah yang sama yang terulang dan terulang.

seperti di kutip dari https://sbelen.wordpress.com

Pius Rengka : Rakyat akan menyiksa partai dua orang ini nanti pada waktunya, jika mereka tidak segera memulihkan hubungan ini. Tadinya dua partai yang dipimpin oleh dua orang ini terkesan sudah baik, tetapi sekarang orang mulai ragukan dan perlahan merasa gak beda dengan yang sebelumnya. Kesan itu saya peroleh dari rakyat sederhana ketika saya mengelilingi kampung di kawasan Maluku Barat Daya. Dalam bahasa mereka, “tadinya ose bagus, beta pilih ose punya partai, sekarang ose mulai putar balik deng ose kasih beta maling urus polisi. Seng beda deng laen. Ale tunggu nanti. Itu kalimat mereka dalam bahasa lokal. Saya diam-diam mencatat, dan mencatat.

seperti di kutip dari https://sbelen.wordpress.com

S Belen : Terima kasih, Pak Pius Rengka. Beta yakin itu suara polos orang kampung. 6 x saya berkunjung ke Pulau seram (3 x ke Masohi dan 3 x ke Piru). Mereka amat baik dan bicara apa adanya. Kalau bertemu di jalan di malam hari dalam kegelapan mereka masih menyapa “Selamat malam, Om.” Kosa kata mereka tidak tampak siapa yang muslim dan siapa yang Kristen. Amat egaliter. Walau partai-partai mengklaim itu basis mereka, orang Maluku pandai dan bijak menilai partai mana yang benar dan mana yang suka putar balik (ngapusi). The time will come, the judgment time.

seperti di kutip dari https://sbelen.wordpress.com

S Belen : Ama Agus (Agustinus Gereda Tukan), bila tiap orang merefleksikan kembali perjalanan hidupnya, betapa terlihat kebenaran fakta adagium When one door closes, another door opens . 2 x saya mengalami serangan jantung dan menjalani operasi pasang ring 2 x ( o ne door closed ). 12 tahun kemudian akhirnya kami menemukan ramuan herbal Sano yang membuat kinerja jantungku bagus dan bisa membantu sesama yang menderita sakit ( another door opens ). Sekarang kami dibantu sejumlah karyawan belia dari keluarga kurang mampu sehingga tak bisa melanjutkan pendidikan ( one door closes ). Saya dan istri mendorong mereka untuk berlangkah menuju pintu yang terbuka dengan menawarkan mengikuti kursus yang diinginkan untuk masa depannya agar another door opens . Kebiasaan dalam keluarga kami adalah mengkursuskan pembantu agar terbuka pintu bagi mereka bila berkeluarga. Bisa cari uang sendiri, tidak bergantung kepada suami, agar “tidak diinjak-injak” suami. He he he

seperti di kutip dari https://sbelen.wordpress.com

S Belen : Pak Mario Yosef, Terima kasih atas tanggapan. Kabarku bae-bae sa. Beta sudah jadi opung, mbah, ba’i atawa opa 3 cucu. Sudah kusampaikan salam buat Pak Agus Gereda Tukan, teman lama Pak yang barusan ketemu di layar facebook setelah 25 tahun. No. HP Pak Agus juga sudah kukirim. Pak Agus itu yang mengembangkan sampai jadi Universitas Negeri Merauke. Kalau ke Merauke Pak Agus yang suka antar saya ke mana-mana. Sekali kami cari keluarga dari Adonara sampai di pelosok Merauke yang becek. Sampai di sana sudah malam. Bapak itu cerita tentang pengalaman tangkap ular untuk dijual. Waktu keluar dari rumah jadi takut injak ular. He he he.

seperti di kutip dari https://sbelen.wordpress.com

S Belen Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) menyangkal jati diri yang diusung namanya. Politik itu tidak ikut logika akal sehat. Politik = logika kepentingan. Anda dapat apa, saya dapat apa. Win – win solution . Persetan logika hati nurani rakyat. Kalau anggota DPR Hanura, PDIP atau Nasdem bersikap sesuai hati nuraninya, ia akan didepak petinggi partainya. Merekalah dalang karut-marut dan hiruk pikuk ini. Anggota DPR hanyalah pion ketua-ketua partai yang menjadi dalang di belakang layar. Itulah taraf politik Indonesia. Belum dewasa. Padahal, kata Sabam Sirait, politik itu suci. Sucinya di mana hayo?

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bersama penyidik dari FBI meninggalkan kapal super yacht Equanimity. Kapal pabrikan Belanda itu diduga dibeli oleh terdakwa korupsi USD 1 miliar asal Malaysia, Jho Low. Pantauan detikcom di perairan Tanjung Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (28/2/2018), Bareskrim Polri dan sedikitnya empat pria yang diduga dari FBI menaiki Equanimity pada pukul 13.30 Wita. Lalu pada pukul 20.00 Wita, sejumlah orang yang disebut berasal dari Biro Investigasi Federal itu keluar dari kapal mewah seharga Rp 3,5 triliun tersebut. Di antara Equanimity dan kapal patroli berukuran sedang milik Polairud Polda Bali, mereka harus menggunakan perahu karet. Orang yang tidak berkepentingan juga tidak diperkenankan menaiki kapal yang telah berada di Indonesia sejak November 2017 itu. Sedikitnya lima orang lebih dulu meninggalkan Equanimity. Para penyidik Mabes Polri meninggalkan Equanimity 5 menit setelahnya. Belum ada keterangan dari pihak Mabes Polri. Namun mereka keluar setelah berada di atas kapal selama 6 jam lebih. Para penyidik membawa selusin tas berupa koper hitam dan tas hitam. Belum diketahui isinya, namun keberadaan dua instansi tersebut adalah untuk melakukan penyitaan terhadap kapal berbendera negara Persemakmuran Inggris tersebut. “Mereka (AS) minta ke pemerintah kita bahwa keberadaan kapal di sini dan kita sudah minta izin untuk melakukan penyitaan,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bersama penyidik dari FBI meninggalkan kapal super yacht Equanimity. Kapal pabrikan Belanda itu diduga dibeli oleh terdakwa korupsi USD 1 miliar asal Malaysia, Jho Low. Pantauan detikcom di perairan Tanjung Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (28/2/2018), Bareskrim Polri dan sedikitnya empat pria yang diduga dari FBI menaiki Equanimity pada pukul 13.30 Wita. Lalu pada pukul 20.00 Wita, sejumlah orang yang disebut berasal dari Biro Investigasi Federal itu keluar dari kapal mewah seharga Rp 3,5 triliun tersebut. Di antara Equanimity dan kapal patroli berukuran sedang milik Polairud Polda Bali, mereka harus menggunakan perahu karet. Orang yang tidak berkepentingan juga tidak diperkenankan menaiki kapal yang telah berada di Indonesia sejak November 2017 itu. Sedikitnya lima orang lebih dulu meninggalkan Equanimity. Para penyidik Mabes Polri meninggalkan Equanimity 5 menit setelahnya. Belum ada keterangan dari pihak Mabes Polri. Namun mereka keluar setelah berada di atas kapal selama 6 jam lebih. Para penyidik membawa selusin tas berupa koper hitam dan tas hitam. Belum diketahui isinya, namun keberadaan dua instansi tersebut adalah untuk melakukan penyitaan terhadap kapal berbendera negara Persemakmuran Inggris tersebut. “Mereka (AS) minta ke pemerintah kita bahwa keberadaan kapal di sini dan kita sudah minta izin untuk melakukan penyitaan,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

INILAHCOM, Jakarta – Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri mengungkap barang bukti hasil kejahatan pencucian uang di Amerika Serikat, berupa super yacht seharga Rp 3,5 triliun. Kapal mewah itu ditemukan di Tanjung Benoa, Bali setelah empat tahun diburu FBI. “Hari ini kami dari Bareskrim Polri melakukan penyitaan terhadap kapal Equanimity di Pelabuhan Benoa Bali,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Mabes Polri, Brigjen Agung Setya saat dikonfirmasi, Rabu (28/2/2018). Menurut Agung, pihaknya menerima surat dari FBI pada 21 Februari yang meminta bantuan Polri melakukan pencarian atas keberadaan kapal tersebut. “Kapal ini kita sita terkait dengan tindak pidana pencucian uang yang terjadi di Amerika, yang kasusnya sedang diselidiki oleh FBI. Kapal ini sudah dicari beberapa tahun yang lalu dan ternyata ada di Benoa hari ini, lalu kita lakukan penyitaan,” ujarnya. Agung menambahkan, kapal tersebut diketahui masuk ke Indonesia pada November 2017. FBI kemudian melakukan koordinasi dengan Kepolisian Republik Indonesia untuk melakukan penyitaan. “Jadi FBI Amerika melakukan joint investigation dengan Bareskrim. Bareskrim membantu,” jelasnya. Pengungkapan bukti kejahatan tersebut, kata Agung, merupakan yang terbesar sepanjang pengungkapan jajarannya. Kapal tersebut ditaksir senilai USD 250 juta atau setara Rp 3,5 triliun. Saat ini kasus tersebut sudah selesai di pengadilan dan barang bukti super yacht itu dinyatakan sebagai hasil kejahatan pencucian uang. Kajahatan tersebut juga melibatkan beberapa negara seperti Amerika, Swiss, Malaysia, dan Singapura. Sampai saat ini, tim Bareskrim Mabes Polri, bersama FBI dan Dit Pol Air Polda Bali, masih melakukan pengecekan ke dalam kapal pesiar tersebut.[van].

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Turin – Juventus melangkah ke final Coppa Italia setelah mengalahkan Atalanta 1-0 di leg kedua semifinal. Gol tunggal Bianconeri lahir dari penalti Miralem Pjanic. Berkat kemenangan ini, Juventus lolos dengan keunggulan agregat 2-0 setelah sebelumnya juga menang 1-0 di markas Atalanta. Menjamu Atalanta di Allianz Stadium, Turin, Rabu (28/2/2018), Juventus tak diperkuat Gonzalo Higuain, Federico Bernardeschi, Juan Cuadrado, dan Mattia De Sciglio. Sementara itu, Paulo Dybala kurang fit untuk jadi starter dan cuma main di babak kedua. Atalanta tampil lebih mendominasi di babak pertama. Tim tamu banyak menguasai bola dan mencoba untuk menekan Juventus. Tapi, mereka tak membuat banyak peluang bersih. Sebaliknya, Juventus justru punya peluang emas, yang gagal dituntaskan oleh Mario Mandzukic. Penampilan Juventus membaik di babak kedua. Akan tetapi, mereka butuh sebuah penalti di menit ke-75 untuk mencetak gol. Pjanic yang jadi eksekutor berhasil menjebol gawang Atalanta. Juventus kini tinggal menunggu lawan di final. Mereka akan bertemu AC Milan atau Lazio di partai puncak yang akan digelar di Olimpico pada 9 Mei 2018. Jalannya Pertandingan Juventus punya peluang untuk unggul pada menit ke-16. Namun, Blaise Matuidi gagal menjangkau bola tendangan bebas Pjanic. Mandzukic menyia-nyiakan sebuah peluang emas di menit ke-35. Striker asal Kroasia itu tinggal menghadapi Etrit Berisha di kotak penalti, tapi penyelesaiannya terlalu lemah dan dengan mudah digagalkan oleh kiper Atalanta itu. Percobaan yang dilakukan oleh Kwadwo Asamoah di menie-menit akhir babak pertama juga tak mengubah keadaan. Tembakan bek kiri Juventus itu cuma mengenai sisi luar jala gawang Atalanta. Tak ada gol yang tercipta hingga turun minum. Skor masih 0-0. Claudio Marchisio tak bisa memaksimalkan kesempatan yang didapatnya pada awal babak kedua. Tembakan gelandang Juventus itu terlalu mudah untuk diantisipasi oleh Berisha. Marchisio kembali mendapatkan peluang di menit ke-60. Dia mencuri bola dan melepaskan tembakan, tapi usahanya tak menemui sasaran. Serangan balik Atalanta di menit ke-64 nyaris berbuah gol ketika Alejandro Gomez lolos sendirian di wilayah Juventus. Melihat Gianluigi Buffon maju meninggalkan sarangnya, Gomez menembak dari jarak jauh. Sial buat dia, tembakannya cuma mengenai tiang gawang. Tak berselang lama, Gomez kembali mengancam gawang Juventus. Tapi, tembakan kerasnya dari luar kotak penalti meleset dari sasaran. Sebuah aksi Douglas Costa di menit ke-67 juga nyaris membawa Juventus memimpin. Sepakan Costa dari luar kotak penalti berada di luar jangkauan Berisha, tapi bola cuma menghantam mistar. Wasit menghadiahkan penalti untuk Juventus pada menit ke-75 setelah Matuidi dijatuhkan oleh Gianluca Mancini di mulut gawang. Pjanic maju sebagai algojo tendangan 12 pas dan sukses mengirimkan bola ke dalam gawang. Tembakannya ke arah tengah mengecoh Berisha. Juve pun unggul 1-0. Di sisa waktu, nyaris tak ada peluang bersih tercipta. Keunggulan Juventus terjaga hingga laga usai. Susunan Pemain Juventus: Buffon; Lichtsteiner, Benatia, Chiellini, Asamoah; Marchisio (Khedira 68′), Pjanic, Matuidi; Douglas Costa (Dybala 83′), Mandzukic, Alex Sandro (Barzagli 84′) Atalanta: Berisha; Mancini (Rizzo 76′), Caldara, Masiello; Hateboer, De Roon, Freuler (Barrow 87′), Spinazzola; Cristante; Ilicic (Cornelius 64′), Gomez (mfi/nds)

Related Posts

Comments are closed.