Syafii Maarif Maafkan Netizen yang Menghinanya di Media Sosial

Syafii Maarif Maafkan Netizen yang Menghinanya di Media Sosial

Mantan Ketum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif dihina di media sosial berkaitan dengan pernyataannya soal khilafah. Syafii memaafkan orang tersebut. Hinaan terhadap Syafii itu dilontarkan oleh pemilik akun bernama Nunik Wulandari Dwi di Facebook. Nunik mendeskripsikan Buya dengan kata-kata yang sangat kasar. Nunik mengomentari pernyataan Syafii mengenai khilafah di republik Indonesia merupakan mimpi di siang bolong. “Iya saya maafkan saja. Semoga mereka lekas sadar bahwa itu salah,” kata Syafii kepada wartawan, Rabu (10/1/2017). Syafii juga mengimbau kepada seluruh pengguna media sosial untuk menggunakan media sosial secara profesional, bijak dan jangan menjadi tempat memfitnah seseorang karena itu tidak baik bagi jalannya kehidupan bernegara saat ini. Syafii juga meminta kepada masyarakat untuk tetap tenang dan menganggap penghinaan ini telah selesai, sebab dia telah memaafkan orang tersebut. “Mereka kan sumbu pendek. Ya mau diapain lagi,” kata Syafii.

Baca juga : nyatakan ahok tidak hina al quran buya.html

Manshur Sandjaja · Stmik Muhammadiyah Jakarta Pak sederhananya gini,ada ustadz atau kyai lg menerangkan al qur’an ttg haramnya daging babi,lalu tiba2 dtg pedagang daging babi bilang,jgn mau “di bohongi pakai ayat al qur’an” klo babi itu haram,dgn maksud agar daging babinya di beli oleh muslim,yg jd pertanyaan pak buya setuju gak dgn pernyataan pedagang itu bahwa ustadz atau kyai tsb pembohong Sol Efendi · Andalas University Tulisan buya kapunduang sangat tidak objektif dan mengambil sumber dari orang2 yg selama ini selalu memojokkan islam seperti zuhairi misrawi. Tulisan buya kapunduang sama dg maling teriak maling. saya jadi tahu siapa dan berpihak kepada siapa anda sebenarnya. Karsono Wardi Orang ini bangga betul dipanggil BUYA, padahal gak pantas dia dipanggil BUYA. Penampilannya aja tidak meyakinkan KALO dia ini tokoh agama, tampilannya kayak preman tua. Syafii Maarif ini kan rekannya Ahok, saya pernah lihat photo dia duduk makan bareng sama Ahok koq. pendapat dia ini pesan sponsor jauh dari objektif. Orang tua gak benar ini, sok bijak, sok humanis, sok pluralis. Padahal pengetahuan Islam nya dangkal, dia cuma ngikutin perasaan subjektif yang sarat dengan kepentingan pribadi dia aja. Orang tua menyesatkan ini. Naudzubillahi min zalim Tri Hardono dia dulu pecundangnya pak amien walaupun lebih tua tetapi sekolahnya di amerika desrtasinya dibantu pak amien sekarang dapt populer karena muhammadiyah tetapi lebih populer pak amien cuma sekarang setelah bergaul sama teman setianya nasrani kafir dia sok sokan, padahal bergaul menjadi teman setia orang nasrani tak akan mendapat petunjuk dan dlolim Sugiharto · Works at DPC Gaspermindo Kab.Tangerang Masa pendapat 100 para alim ulam yang menyatakan itu penghinaan tehadap alquran satu orang ini masih membela ahok….!!!! Kasihan sekali di usia senjanya semoga allah SWT mengampuninya Blegug Wasdiyanto Ente belajar tata bahasa Indonesia lagi deh, sono cari pak Yus Badudu Yansurya · Works at Self-Employed Ngomong apa lagi bodong…? Luh..ngebela si pekok sampai beol di celana…! Fitri Adona · Indonesia Hadeeehhhhh…..si bapak smp segitunya belain si Ahok smp ngancem2 MUI segala… Blegug Wasdiyanto Maklum deh beliau kan sdh tua, sdh pikun kaleee Yansurya · Works at Self-Employed Hadeeeehhhh….si Kakek pengen disebut bapak bangsa….!!! Blegug Wasdiyanto Yang otaknya sakit siapa buya? Bukan kah terbalik? Buya belajar bahasa Indonesia lagi deh dari Yus Badudu. Sampai jumpa di aek dingin buya. Blegug Wasdiyanto Klo ambo lebih percaya MUI dan 100 ulama daripada seorang Safii Maarif. Belajar bahasa Indonesia lagi lah uda, ambo benar2 kecewa kpd anda, ternyata anda bukan Safii Maarif yg dulu lagi. Mas Irfan · Jakarta, Indonesia ” Ahok sama sekali tidak mengatakan bahwa surat al-Maidah 51 itu bohong” benar, tidak Menghina ulama.. benar, krn dia menyebut dg kata “orang”, krn tak harus ulama tuk menyampaikan kebenaran Al-Quran. Tp dia mengatakan dalam perkataannya “…jangan mau dibohongin pakai Surat Al-Maidah ayat 51″…jd menganggap bahwa Surat Al-Maidah ayat 51 itu bohong.’ sebagai alat untuk membohongi dan alat itu Surat Al-Maidah 51. Apalagi didepan perkataan itu dia katakan ” Jangan percaya sama orang.. “lebih menguatkan bahwa Al-Maidah 51 itu bohong. Wallahu a’lam bishowab. Allahumma dinni fiman hadait… Amira Zahra Orang munafiq tempatnya di dasar neraka, menjual agama dg murah mencampur dan menutup kebaikan. Adzab Allah dan kehinaan dunia akhirat akan didapat pembela musuh2 Allah SWT. Muhammad Ridwan · Gadjah Mada University Cabut aja nih, panggilan buya-nya.. sudah tua makin brengsek! Nggak usah diterima pulang kampung lagi wahai orang minang. Memalukan! Ada kata “pakai” ataupun tidak ada, artinya sama coy! Yaitu menistakan alquran dan menghina ulama. Klu anda bkn merasa ulama, ya pantes lah.. Hadi Pranowo · Works at PT Midas Segara Prioritas sy lbh percaya DIN, AMIN RAIS dan MUI drpd “Syafii Maarif”!!! Munada Bin Abdurro’uf Saya heran,mgp Pak Maarif kurang bijak(taat) kpd al-Quran terkait larangan memilih non muslim mjdi pemimpin.Substansinya di sini,Pak.Tdk perlu gunakan energi(kemampuan) filsafat. Rita Zibi · Universitas Trisakti – Jakarta Silahkan buka google dan tulis buya syafii maarif ahok..akan keluar gambar2 kedekatan mereka, bapak tua ini, lebih bangga membela penista agama, dibanding islam agama yang di pakai nya dari lahir. Innalillahi….

Anak bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, menjadi pembicara diskusi kewirausahaan di Balaikota Yogyakarta pagi ini. Peserta diskusi yang hampir semuanya ibu-ibu ini tampak heboh sejak Kaesang masuk dalam ruangan diskusi. “Mas Kaesang,” kata ibu-ibu PKK dan pelaku UKM sambil berdiri tatkala Kaesang masuk ke Ruang Bima Balai Kota Yogya, tempat diskusi berlangsung, Rabu (10/1/2018). Mendapati ibu-ibu heboh, Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti yang berperan sebagai moderator meminta mereka bersabar. Haryadi menjelaskan nantinya akan ada sesi foto bersama Kaesang. “Fotonya nanti iya,” ucap Haryadi disambut tawa peserta diskusi. Peserta diskusi kewirausahaan ini memang dihadiri ibu-ibu organisasi wanita yang ada di Kota Yogyakarta. Dalam forum ini tidak hanya diisi diskusi, melainkan juga promosi usaha yang dikelola Kaesang, Madhang. “Nanti kalau mau tanya, tanya saja bebas,” pungkasnya. Kaesang adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakaknya bernama Gibran Rakabuming Raka dan Kahiyang Ayu. Sebagaimana diketahui, Kaesang sedang gencar berbisnis. Yang terakhir dia sedang mempromosikan bisnis pisang nugget.

Calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said resmi menggandeng Ida Fauziah untuk menjadi Calon Wakil Gubernur dalam Pilgub Jateng 2018. Cagub Ganjar Pranowo menyampaikan selamat atas deklarasi tersebut. Ganjar yang juga merupakan petahana Gubernur Jateng menyambut baik atas pemasangan tersebut. Ia pun meminta agar Sudirman-Ida segera diresmikan dengan pendaftaran yang sah di KPU. “Selamat, moga-moga segera mendaftar,” tutur Ganjar Pranowo saat berkunjung ke kediaman KH Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, Selasa (9/1/18) malam. Ganjar mengaku lebih senang ketika semakin banyak calon yang mendaftar pada Pilgub 2018. Menurutnya, semakin banyak yang mendaftar akan semakin banyak pula kader pemimpin di Jawa Tengah. “Kalau bisa malah 12 pasang. Ya biar perwakilan dari masyarakatnya bisa lebih banyak, representasinya lebih banyak, pilihannya juga lebih banyak,” imbuhnya. Adapun Ganjar Pranowo dalam pilgub 2018 menggandeng Taj Yasin sebagai Calon Wakil Gubernur. Taj Yasin atau yang akrab disapa Gus Yasin merupakan anak dari ulama kharismatik yang juga merupakan ketua majelis syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP), KH Maimoen Zubair. Keduanya resmi mendaftar di KPU pada Selasa (9/1) dengan diusung PDIP, PPP, Nasdem, dan Demokrat. Sedangkan Sudirman Said bakal berpasangan dengan Ida Fauziyah, dan dijadwalkan akan mendaftarkan diri ke KPU hari ini.

Ketua Tim Hukum DPN Peradi Sapriyanto Refa menyebut dokter RS Medika Permata Hijau, Dr dr Bimanesh Sutarjo, SpPD, KGH, juga telah berstatus tersangka. Refa merupakan pengacara yang mendapat kuasa membela Fredrich Yunadi. “Iya dr Bimanesh (sudah tersangka), iya bersama-sama (dengan Fredrich),” ujar Refa ketika dimintai konfirmasi, Rabu (10/1/2018). Refa menyebut nama Bimanesh ada di dalam Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang ditujukan KPK pada Fredrich. Dalam kasus ini, Fredrich telah menjadi tersangka kasus perintangan penyidikan korupsi e-KTP dengan tersangka Setya Novanto. “Iya (peran Bimanesh) bersama-sama. Ada di Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikannya, ada,” sebut Refa. Bimanesh merupakan dokter yang menangani Novanto ketika insiden kecelakaan. Namun setelah itu, Novanto dipindah ke RSCM Kencana. Fredrich dalam kasus ini juga telah dicegah bepergian ke luar negeri oleh KPK. Selain Fredrich, ada 3 nama lainnya yaitu Hilman Mattauch, ajudan Setya Novanto bernama Reza Pahlevi, serta Achmad Rudyansyah. KPK sudah mengirimkan surat pencegahan ke luar negeri untuk 4 saksi tersebut kepada Kemenkum HAM. Mereka dicegah ke luar negeri selama 6 bulan sejak 8 Desember 2017. Terkait kabar penetapan tersangka Fredrich, KPK hingga kini belum menggelar konferensi pers resmi. Ketika dimintai konfirmasi, Kabiro Humas KPK Febri Diansyah tidak secara tegas menyebut status tersangka Fredrich. “Ya kalau proses lanjutan dari penyelidikan sudah dilakukan, informasinya sudah penyidikan. Sore ini akan diumumkan,” ujar Febri. Pada Jumat, 17 November 2017, Bimanesh pernah menggelar konferensi pers untuk menjelaskan luka Novanto. Saat itu dia menyebut tak hanya dirinya, tapi dari polisi juga melihat langsung. “Secara fisiklah, bukan saya sendiri yang melihat, ada juga dari bagian Laka Lantas, kita lihat dari pemeriksaan luarnya sih, yang saya dapatkan ada cedera di kepala, pelipis sebelah kiri, kemudian ada lecet laserasi di leher, dan lengan yang sebelah kanan,” kata Bimanesh.

Sesungguhnya, bukan pertama kali foto-foto yang menggambarkan keseharian Buya Syafii menjadi viral di media sosial. Lima tahun lalu, Tempo pernah menuliskan betapa sibuknya panitia acara bedah buku Marhaenisme Muhammadiyah itu di gedung Tiara Graha, Sleman, Yogyakarta, menuntun sepeda kayuh bertuliskan “master” ke teras gedung. Baca pula: Kesederhanaan Ekstrem Buya Syafii Maarif Saat itu, 5 Agustus 2012, Syafii Maarif memang menghadiri kegiatan tersebut. Ia mengayuh sepeda dari tempat tinggalnya di Kelurahan Nogotirto, Kecamatan Gamping, ke gedung Tiara Graha, Sleman. “Saya sudah bertahun-tahun bersepeda,” kata Buya Syafii, yang mengaku bersepeda saban pagi. Dan, sekitar Februari 2017, fotonya yang tengah mengendarai sepeda ontel di Yogyakarta kembali menjadi viral di media sosial. Ia mengaku kaget dengan respons netizen yang mengapresiasinya, meski ketika itu dia tak ingat kapan kejadian itu dilakukannya. “Setiap hari saya bersepeda,” kata penggagas Maarif Institute ini. Di sebuah medsos beredar posting- an soal mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif sedang mengendarai sebuah sepeda ontel tua di Yogyakarta. Buya Syafii mengaku terkejut karena dia sudah terbiasa dengan naik sepeda. Dia terkekeh saat ditanyakan mengapa ia tak di kawal, Buya menjawab, “Saya sudah dikawal malaikat”. Foto viral lainnya Buya Syafii adalah saat panas-panasnya pilkada DKI Jakarta dan proses persidangan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ia tampak sedang makan bersama Ahok yang diunggah di berbagai akun Twitter, Facebook, dan Instagram. Ketika itu, foto Buya Syafii makan bersama tersebut dituding sebagai bukti kedekatannya dengan Ahok. Foto itu dituding sebagai bukti kedekatan Buya dengan Ahok. Buya Syafii disebut-sebut memang dekat dengan Ahok. Foto Ahok makan satu meja bersama Syafii Maarif itu bukan foto rekayasa seperti yang sekarang banyak beredar di medsos. Ahok mengunggah foto tersebut di akun Instagram-nya @basukibtp, Senin, 21 Desember 2015. Saat itu, Ahok menulis caption pada foto tersebut, dirinya makan siang sambil bicara soal permasalahan di Jakarta. ” Makan siang hari ini bersama Buya Syafii Maarif. Sambil ngobrol, segala kebobrokan di Jakarta dan Indonesia sudah mendarah daging harus direvolusi mental. Sehat terus Buya ,” tulis Ahok. Buya Syafii Maarif menganggap hal-hal yang dilakukannya sebagai sesuatu yang wajar dan biasa saja. Namun netizen menganggap kebersahajaannya luar biasa. Bahkan Muhammad Abdullah Darraz, Direktur Eksekutif Maarif Institute, menilai kesederhanaan Buya Syafii sudah ekstrem. “Namun seringkali orang tua yang satu ini dalam beberapa hal, terutama dalam kesahajaan dan kesederhanaannya sangat konservatif dan terlalu ekstrim,” kata Darraz. S. DIAN ANDRYANTO

Belakangan beredar dua foto mantan Ketua PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif menjadi viral di media sosial. Foto yang diunggah netizen memperlihatkan Syafii Maarif sedang duduk menunggu KRL di stasiun. Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang pria, sementara nampak tiga pelajar dalam sebangku itu. Langit masih terlihat gelap. Sebuah foto lainnya, menampilkan Buya Syafii Maarif dengan kemeja batik lengan panjang duduk dalam KRL dengan kedua tangannya menopang tongkat hitam, ia nampak di apit lelaki yang tertidur dan seorang lagi kelihatannya tak menyadari jati diri pria tua, 82 tahun, di sebelahnya itu. Kedua foto itu menunjukkan perjalanan Anggota Anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP), Ahmad Syafii Maarif dari Jakarta menuju Bogor menggunakan KRL, untuk menghadiri Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila yang diresmikan Presiden Joko Widodo, kemarin, Sabtu, 12 Agustus 2017 menjadi viral di media sosial. Sesungguhnya, bukan kali pertama foto-foto yang menggambarkan keseharian Buya Syafii Maarif menjadi viral di media sosial. Lima tahun lalu, Tempo pernah menuliskan betapa sibuknya panitia acara bedah buku Marhaenisme Muhammadiyah di Gedung Tiara Graha, Sleman, Yogyakarta menuntun sepeda kayuh bertuliskan master , ke teras gedung. Saat itu, 5 Agustus 2012, Syafii Maarif memang menghadiri kegiatan tersebut. Ia mengayuh sepeda dari tempat tinggalnya di Kelurahan Nogotirto, Kecamatan Gamping ke Gedung Tiara Graha, Sleman. “Saya sudah bertahun-tahun bersepeda, kata Buya Syafii, yang mengaku bersepeda dilakukannya saban pagi. Dan, sekitar Februari 2017 lalu, fotonya yang tengah mengendarai sepeda ontel di Yogyakarta kembali menjadi viral di media sosial. Ia mengaku kaget dengan respons netizen mengapresiasinya, meskipun ketika itu dia tak ingat kapan kejadian itu dilakukannya. Setiap hari saya bersepeda, kata penggagas Maarif Institute ini.

seperti di kutip dari https://www.msn.com

Di sebuah medsos beredar posting- an soal mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif sedang mengendarai sebuah sepeda ontel tua di Yogyakarta. Syafii Maarif mengaku terkejut karena dia sudah terbiasa dengan naik sepeda. Buya Syafii terkekeh saat ditanyakan mengapa ia tak di kawal, ia menjawab, Saya sudah dikawal malaikat . Foto viral lainnya Buya Syafii Maarif adalah saat panas-panasnya Pilkada DKI Jakarta dan proses persidangan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ia nampak sedang makan bersama Ahok yang diunggah berbagai akun Twitter, Facebook dan Instagram. Ketika itu, foto Syafii Maarif makan bersama itu dituding sebagai bukti kedekatannya dengan Ahok. © Copyright (c) 2016 TEMPO.CO

seperti di kutip dari https://www.msn.com

disindirdengan adanya foto dirinya makan satu meja dengan Ahok. Foto itu dituding sebagai bukti kedekatan Buya dengan Ahok tidak hanya sekadarnya saja. Syafii disebut-sebut memang dekat dengan Ahok. Foto Ahok makan satu meja bersama Syafii Maarif itu bukan foto rekayasa seperti yang sekarang banyak beredar di medsos. Ahok mengunggah foto tersebut di akun Instagram-nya basukibtp, Senin (21/12/2015) lalu. Saat itu, Ahok menulis caption pada foto tersebut, dirinya makan siang sambil bicara soal permasalahan di Jakarta. “Makan siang hari ini bersama Buya Syafii Maarif. Sambil ngobrol, segala kebobrokan di Jakarta dan Indonesia sudah mendarah daging harus direvolusi mental. Sehat terus Buya,” tulis Ahok. Buya Syafii Maarif menganggap hal-hal yang idlakukannya sebagai sesuatu yang wajar dan biasa saja. Namun netizen menganggap kebersahajaanya luar biasa. Bahkan Muhammad Abdullah Darraz, Direktur Eksekutif Maarif Institute menilai kesederhanaan Buya Syafii Maarif sudah ekstrem. Namun seringkali orang tua yang satu ini dalam beberapa hal, terutama dalam kesahajaan dan kesederhanaannya sangat konservatif dan terlalu ekstrim, kata Darraz. S. DIAN ANDRYANTO

Related Posts

Comments are closed.