Suami Aniaya Istrinya hingga Tewas di Bekasi

Suami Aniaya Istrinya hingga Tewas di Bekasi

Lely Lismawati (39) ditemukan tewas dengan luka di bagian kepala di rumahnya, Perum Seroja RT 03 RW 05, Harapan Jaya, Kota Bekasi. Lely tewas akibat dianiaya Saadin Muksin (40), suaminya. “Pelaku suami korban,” kata Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota dalam keterangannya, Rabu (1/3/2018). Jasad Lely ditemukan sekitar pukul 09.30 WIB. Dedy menambahkan, saat ditemukan, kondisi jasad Lely mengalami luka akibat benda tumpul di kepala dan luka pada bibir. “Terdapat luka bekas pukulan benda tumpul di bagian kepala dan luka bibir atas sebelah kanan bekas pukulan,” kata Dedy. Lely Lismawati (39) ditemukan tewas dengan luka di bagian kepala di rumahnya, Perum Seroja RT 03 RW 05, Harapan Jaya, Kota Bekasi. (Istimewa) Menurut Dedy, saat penganiayaan, tidak ada saksi yang melihat. Kedua anak korban juga masih berada di sekolah. Namun, berdasarkan keterangan saksi, dari rumah korban terdengar keributan sekitar pukul 07.30 WIB. “Dari keterangan saksi bahwa sekitar pukul 07.30 WIB terdengar ribut dari dalam rumah korban, tapi dia nggak berani masuk,” ungkapnya. Pelaku saat ini sudah ditangkap dan ditahan di Polres Metro Bekasi Kota. “Pelaku saat ini sudah diamankan di Polres Metro Bekasi Kota,” ujar dia.

Baca juga :

Akhirnya dia mulai menceritakan kisah tragis yang menimpa anaknya ini. Dengan suara pilu dia berkata, “Peter,” Ruth menyebut nama anaknya ini, “Tiga tahun yang lalu ketika dia berumur 11 tahun, rumah kami digeledah dan didatangi oleh Tentara Merah (Red Guards). Ada beratus-ratus orang yang datang dan memeriksa tempat kami. Mereka telah mengetahui bahwa saya dan suami saya adalah seorang pemimpin dari banyak ‘gereja rumah’ di daerah itu. Mereka menendang roboh pintu rumah kami, mengikat suami saya dan menggunduli kepala kami berdua. Mereka menodongkan senjata di atas kepala kami dan berteriak, “Di mana Alkitabmu? Di mana rekan-rekan yang bersamamu? Di mana kamu melakukan pertemuan?” Karena kami menolak untuk menjawab, mereka mulai menghancurkan perabot-perabot rumah kami dan seisi rumah kami diporak-porandakan. Untuk tiga hari tiga malam kami tidak diizinkan makan, minum, atau tidur. Mereka melihat empat orang anak kami dan mereka membariskan mereka di atas bangku.  Ketika anak kami kelelahan, mereka memukuli anak-anak kami dan memerintahkan untuk terus berdiri di atas bangku. Karena saya dan suami saya tidak mau menajwab saat ditanyai, maka Tentara Merah mulai menginterogasi anak-anak kami. Tetapi anak-anak kami juga menolak untuk bekerja sama. Mereka mengetahui bahwa hidup atau mati, mereka harus mengakui nama Tuhan Yesus dan jangan pernah menyebutkan nama atau identitas rekan-rekan pekerja Kristen yang lain. Dengan kasar mereka mulai memukuli anak kami lagi. Peter diseret keluar rumah dan giginya mulai dicabuti. Dia dipukuli hingga berdarah. Akhirnya mereka melemparkan dan meninggalkan tubuhnya yang sudah lumpuh di atas lantai. Suami saya dibawa dan dipekerjakan secara paksa di kamp militer pekerja berat. Saya segera membawa Peter ke rumah sakit. Dokter mengatakan tidak ada harapan karena anak ini telah banyak mengeluarkan darah. Saya dieberitahu untuk mempersiapkan pemakaman baginya. Mereka juga telah memberikan surat-surat yang diperlukan untuk proses pemakaman. Pihak yang berwenang mengizinkan suami saya untuk meninggalkan kamp kerja paksa untuk sesaat dan menjenguk Peter di saat menit-menit terakhir sebelum Peter dijemput Tuhan. Ketika melihat ayahnya datang, Peter sangat gembira. “Ayah dan ibu,” katanya, “Banyak orang yang mengenakan jubah hitam saat mereka mati, tetapi saya ingin berpakaian jubah putih, supaya saya kelihatan indah saat bertemu dengan Tuhan Yesus.” Kami menangis dan sangat berduka karena dia. Dan kami berdoa bersama-sama supaya nama Allah dipermuliakan. Karena musim hujan pada waktu itu, maka semua jendela di tempat itu ditutup. Tetapi ketika kami selesai berdoa, satu jendela terbuka dan ada angin sejuk berhembus masuk memenuhi ruangan. Roh penghibur datang memasuki hati kami. Peter berbisik perlahan, “Yesus telah datang untuk membawaku pulang. Selamat tinggal.” Wajahnya dipenuhi dengan sukacita. Bahkan dokter yang hadir saat itu digerakkan untuk berkomentar, “Saya belum pernah melihat orang yang mati penuh kedamaian seperti ini.” Ketika kami pulang ke rumah, anak-anak kami yang lebih muda dari Peter mengagetkan kami dengan kegembiraan yang luar biasa. Mereka berkata, “Kami tidak bisa tidur, karena kami melihat kumpulan besar malaikat-malaikat di sekeliling rumah. Mereka membawa alat-alat musik dan menyanyi untuk kami. Mereka mengatakan bahwa mereka datang untuk membawa Peter bersama-sama dengan mereka ke Sorga.” Saya menjelaskan, “Kakakmu telah pergi bersama-sama dengan Tuhan Yesus.” Dan mereka semua menangis. Peter begitu mengasihi adik-adiknya ini dan mereka juga membalas kasihnya dengan rasa sayang yang sangat besar.”

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Kesaksian ini menggambarkan betapa hebatnya aniaya dan penderitaan yang dialami gereja-gereja Tuhan di Cina. Namun semua yang dialami orang-orang ini seakan-akan memancarkan kemuliaan Tuhan yang semakin terang dan menjadi kesaksian atas seluruh bangsa di dunia. Keteguhan iman mereka teruji dalam dapur api. Mereka bukan cuma mengakui Yesus dengan mulut mereka, tetapi mereka membayar pengakuan mereka ini dengan aniaya dan penderitaan. Mereka belum pernah merasakan datang ke gereja tiap Minggu, bernyanyi memuji Tuhan, bersukacita, dan mengharapkan untuk hidup dalam kelimpahan. Yang ada pada mereka adalah gereja bawah tanah dan ibadah yang sembunyi-sembunyi. Mereka dikejar-kejar oleh tentara militer, dan rawan dengan aniaya. Pengakuan iman mereka teruji dengan tindakan yang nyata. Kuasa Injil betul-betul dinyatakan dalam kehidupan mereka. Mereka mempertahankan iman dengan nyawa mereka. Tidak ada sesuatupun yang dapat menggoyahkan iman mereka di dalam Tuhan. Iman seperti inilah yang dicari Tuhan.

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Bagian dari surat penginjil Cina ini memberikan gambaran bahwa banyak daerah-daerah di Cina yang belum meresponi panggilan Tuhan. Bahkan kalau seandainya kita memasukkan 70 juta orang Cina Kristen (orang yang meresponi Injil Kristus) dalam hitungan, hitungan ini hanya mencapai kurang dari 7% saja orang Cina yang percaya dan meresponi Injil Kristus. Berdoalah supaya Tuhan meneguhkan setiap penginjil-penginjil yang melayani desa-desa kecil di seluruh Cina, supaya mereka berada dalam kondisi rohani yang berapi-api.

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Walaupun sebuah isu pindah agama sempat menerpanya di akhir tahun 2006, namun Kaka membuktikan pada mata dunia, bahwa ia adalah murid Kristus sejati dalam final liga Champion Mei 2007. Menjadi pahlawan kemenangan melawan Liverpool, Kaka langsung merayakan golnya dengan membuka kaosnya dan menunjukan tulisan “I belong to Jesus” kemudian berlutut berdoa bersyukur di tengah lapangan. Teman-temannya yang lain turut merayakannya, tapi mereka mengerti dan tidak mengganggu Kaka yang sedang berdoa. Peristiwa ini ditonton jutaan pemirsa yang menyaksikan final Liga Champion 2007.

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Orangtua kristiani yang berpegang pada Kitab Suci, sesungguhnya telah diperlengkapi untuk memberikan perhatian yang seimbang. Pertama, mereka dapat memberikan perhatian kepada anak-anak tanpa memanjakan, yakni dengan memberi tahu bahwa setiap anak adalah ciptaan Allah yang unik ( Mazmur 139:13-16 ). Kedua, orangtua dapat mengajar putra-putri mereka bahwa setiap manusia memiliki dorongan yang kuat untuk berbuat dosa, sehingga mereka juga memerlukan kasih karunia Kristus yang menyelamatkan ( Roma 3:23,24 ).

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Anak-anak belajar mengasihi dan menaati Allah tidak hanya dari mendengarkan perkataan yang kita ucapkan. Mereka juga belajar dengan cara menyaksikan perilaku kita. Kita harus senantiasa mengajar mereka tentang Allah dan firman-Nya saat kita “duduk di rumah [kita], apabila [kita] sedang dalam perjalanan, apabila [kita] berbaring dan apabila [kita] bangun” ( Ulangan 6:7 ). Seiring dengan perkataan yang kita sampaikan kepada anak-anak kita, kita juga perlu memberikan teladan kasih dan ketaatan kita kepada Tuhan.

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Saat masih kecil, saya pernah melihat seekor induk burung wren [jenis burung penyanyi dengan paruh panjang dan ekor mencuat ke atas] menukik marah menuju Ayah, dan sampai sekarang saya tidak bisa melupakannya. Ayah telah menempatkan sejumlah rumah burung wren di sekeliling halaman. Ia selalu senang melihat induk-induk burung itu kembali setiap tahun untuk membesarkan keluarga mereka. Ayah memasang tutup berengsel pada salah satu rumah burungnya sehingga ia bisa mengangkat tutupnya dan melihat ke dalam sarang tersebut.

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Para pemasang iklan berusaha mempengaruhi anak-anak muda kita. Mereka semakin menjadikan anak-anak sebagai sasaran berbagai pesan iklan. Mereka menghabiskan uang ratusan juta rupiah untuk menarik perhatian anak-anak, karena dalam diri anak-anak telah tertanam pengaruh kuat dari kebiasaan berbelanja orangtua mereka dan karena anak-anak sendiri memiliki daya beli yang semakin tinggi. Orang- orang dalam dunia periklanan yakin bahwa konsumen muda yang puas dengan produk mereka dapat menjadi konsumen mereka seumur hidup. Anak-anak akan berhasrat membeli produk mereka di waktu-waktu yang akan datang.

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Dengan cara serupa, kita perlu mempengaruhi anak-anak muda kita untuk “membeli” hal-hal baik yang telah Allah sediakan bagi mereka sepanjang hidup. Menurut  Amsal 3 , sejumlah kemungkinan yang luar biasa terbentang di hadapan orang muda yang memilih jalan Allah: panjang umur dan damai sejahtera (ayat  2 ), kasih dalam pandangan Allah dan manusia (ayat  4 ), arah jalan dari Allah (ayat  6 ), kesehatan dan kekuatan (ayat  8 ), kelimpahan (ayat  10 ), kebahagiaan (ayat  13 ). Orang yang percaya, hormat, dan takut akan Tuhan menemukan hikmat — suatu penghargaan yang tiada bandingnya (ayat  15 ).

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Anak-anaklah yang justru bersikap benar. Merekalah yang berseru di dalam Bait Allah, “Hosana bagi Anak Daud!” (ayat  15 ). Mereka percaya bahwa Pribadi yang mengendarai keledai betina tak bercacat itu adalah Anak Daud yang dijanjikan. Mereka menggenapi nubuat dalam  Mazmur 8:3  dengan memuji Sang Anak Domba yang akan mati bagi dosa-dosa dunia. Anak-anaklah yang menyambut kehadiran-Nya dengan sukacita penuh meskipun mereka mungkin tidak benar-benar mengerti akan misi Yesus untuk menebus seluruh umat manusia.

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Kariernya sebagai pengarang berlangsung selama tiga puluh tahun, yakni dari pertengahan tahun 1960-an sampai pertengahan tahun 1990-an. Ia menulis 12 buku dan menerima 16 penghargaan doktor honoris causa. Namun, tiga tahun sebelum meninggal dunia karena kanker pada tahun 1996, seorang yang terkenal humoris, Erma Bombeck, berkata kepada seorang pewawancara dari TV ABC bahwa berapa pun jumlah artikel yang ditulisnya, warisan terbaiknya adalah ketiga anaknya. “Apabila saya tidak dapat membesarkan mereka dengan baik,” katanya, “maka setiap hal yang saya lakukan tidaklah terlalu penting.”

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Pada tahun 1990, sebuah acara televisi mengenai Perang Saudara AS menarik banyak penonton. Salah satu programnya menampilkan surat seorang prajurit yang tewas pada peperangan di Bull Run. Prajurit yang bernama Sullivan Ballou itu menyadari bahaya yang mengancamnya, sehingga ia menulis sebuah surat yang pedih kepada istrinya, katanya, “Jika aku tidak kembali, Sarah tersayang, jangan pernah lupa betapa aku mencintaimu. Saat aku mengembuskan napas terakhirku di medan peperangan, napas itu akan membisikkan namamu.”

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Keluarga saya sangat ingin mengunjungi pameran koleksi Gulungan Kitab Laut Mati (Dead Sea Scroll), yang dibawa dari Israel. Salinan naskah kuno dari Perjanjian Lama ini membuktikan bahwa Alkitab kita tetap akurat selama berabad-abad. Keponakan kami, Daniel dengan sangat senangnya menceritakan rencana darmawisata itu kepada teman-teman sekolahnya, “Keluarga kami akan pergi mengunjungi ‘pemulung Laut Mati!’” Kami semua tertawa mendengar kata “gulungan” yang ia eja secara keliru. Karena masih kecil ia mengubah kata “gulungan” yang tidak ia mengerti menjadi kata yang sudah ia kenal. Akan tetapi, dalam antusiasme kanak-kanaknya, ia tahu keluarga kami hendak melihat sesuatu yang luar biasa!

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Perjanjian Lama sangat memandang penting pengajaran tentang warisan rohani kepada anak-anak mereka. Setelah Allah membelah Sungai Yordan, Yosua diperintahkan untuk mengambil dua belas batu dari sungai untuk membuat tanda peringatan bagi generasi-generasi mendatang. “Jika anak-anakmu bertanya … ‘Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu?’ maka haruslah kamu katakan kepada mereka bahwa air Sungai Yordan itu terputus…. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya” ( Yosua 4:6-7 ).

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Saat masih berupa biji, bonsai dan Sequoia berukuran sama serta memiliki berat yang sama, yakni kurang dari satu miligram. Namun dalam masa pertumbuhan, keduanya mengalami perbedaan yang signifikan. Orang sengaja menghambat pertumbuhan biji bonsai, dengan harapan kelak mereka mendapatkan sebuah pohon mini yang indah. Sebaliknya, biji Sequoia dibiarkan mendapat gizi dari mineral, tumbuh di dekat sumber air, dan mendapat sinar matahari yang sangat cukup. Dengan begitu, ia menjadi pohon raksasa. Bayangkan saja, hanya dari satu pohon ini, kita dapat memperoleh kayu yang cukup untuk membangun 35 rumah dengan masing-masing lima kamar!

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Timotius telah diajar mengenal firman Tuhan sejak kecil, dari ibu dan neneknya (ayat  14,15 ), juga dari didikan Paulus (ayat  10 ). Inilah kesempatan di mana jiwanya “diairi” dan “disinari matahari”. Selanjutnya, didikan itu menjadikannya pelayan Tuhan yang memiliki “iman yang tulus ikhlas” ( 2 Timotius 1:5 ), yang tetap kuat meski harus menderita sengsara dalam pelayanan (ayat  11 ). Seperti Timotius, kita pun dapat menyerap semua hal positif di sekitar kita; pengetahuan, semangat, pengalaman, teladan, dan terutama ajaran firman Tuhan, supaya iman kita tumbuh seperti Sequoia. Jangan biarkan hal negatif mengerdilkan iman kita seperti bonsai -ENO

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Tampaknya begitu juga suara nabi-nabi palsu yang ikut dibuang ke Babel. Mereka bernubuat; umat akan segera pulang ke tanah perjanjian, umat Yehuda akan kembali berjaya ( Yeremia 28:2-4,11 ). Siapa yang tidak senang mendengar penghiburan bahagia atas nama Tuhan? Wajar bila umat terhibur. Namun, nubuatan mereka palsu. Yeremia, nabi Tuhan, meradang melihat kepalsuan ini. Jadi, ia menulis surat kenabian bagi saudara sebangsa yang terbuai kepalsuan itu: “Dirikanlah rumah … menikahlah … usahakanlah kesejahteraan kota … masih 70 tahun lagi waktu bagi Babel … jangan teperdaya ucapan nabi palsu” ( Yeremia 29:4-10 ).

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Apakah bisnis yang paling menguntungkan di masa krisis ekonomi? “Bisnis hiburan,” jawab Thomas M. Andersen, seorang konsultan investasi. Alasannya? Dalam majalah Kiplinger’s Personal Finance ia menulis: “Saat badai ekonomi menerpa, orang mencari penghiburan dan perlindungan dalam segelas wiski, satu pak rokok, atau keberuntungan di meja rolet. Fakta menyatakan bahwa saat ekonomi lesu; bisnis judi (kasino), minuman keras, dan dunia hiburan justru melonjak.” Ironis. Di sana orang merasa terhibur dan mendapat perlindungan, padahal di sana orang makin terjerumus ke dalam krisis!

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Masa krisis kadang tak terhindarkan. Pemazmur pun pernah mengalaminya. Ada masa di mana ketidakadilan meraja-lela. Para pejabat yang semena-mena bertambah jaya. Sementara orang yang tulus hati dan jujur tambah miskin dan tertindas. Hati pemazmur terasa sesak. Ia butuh tempat penghiburan dan perlindungan. Namun, alih-alih lari pada hiburan duniawi yang semu, ia menjadikan Tuhan sebagai tempat perlindungan. Hasilnya sangat berbeda. Judi dan minuman keras hanya membuat orang lari dari kenyataan. Sebaliknya, kehadiran Tuhan membuat orang berani menghadapi kenyataan hidup terpahit dengan optimis. Pemazmur dimampukan menghadapi masa sulit itu dengan penuh harap. Sampai akhirnya Tuhan memulihkan negerinya.

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Panggal 7 Mei 2006, di Athena, seorang pemuda imigran yang telah mengenal Kristus selama tiga tahun, dibaptis. Ia tinggal bersama pamannya yang membenci kekristenan. Setiap malam ia membaca Alkitab diam-diam. Suatu saat, rencana baptisan itu diketahui pamannya. Sang paman marah besar. Saat si pemuda masih tidur, pamannya mendidihkan sepanci air, menyiramkannya ke tubuh pemuda itu, lalu mengusirnya. Namun pagi harinya dengan pinggang dan tangan melepuh, pemuda itu tetap pergi ke gereja. Dengan tubuh penuh luka dan sakit, ia berlutut di depan altar untuk menerima baptisan. “Kini saya milik Yesus!” serunya.

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Bagi banyak orang yang hidup pada zaman sekarang, baptisan mungkin merupakan perkara biasa. Namun, tidak demikian bagi pemuda tadi atau orang-orang pada zaman para rasul! Baptisan bisa jadi soal hidup mati, sebab baptisan adalah inisiasi. Pada saat baptisan dilakukan, orang menyatakan di depan Tuhan dan jemaat, bahwa ia beriman hanya pada Kristus; bukan pada yang lain. Bagi pemimpin agama Yahudi baptisan dianggap sebagai pemurtadan, sehingga pengikutnya pantas dianiaya (ayat  1-3 ). Uniknya, walau tahu risikonya berat, banyak orang yang tetap mau dibaptis (ayat  12 ). Mereka percaya bahwa kuasa Yesus jauh lebih besar daripada kuasa penganiaya.

seperti di kutip dari https://vocalgroupmansinam.wordpress.com

Begitu ia membuka moncongnya, daging dalam gigitannya tiba-tiba terjatuh ke sungai, menghancurkan tubuh anjing yang berada di sungai itu, dan dalam sekejap tenggelam di dalam air lenyap tak berbekas. Percikan air yang dalam menghancurkan semua mimpi si anjing yang rakus ini, dan ia baru menyadari bahwa ternyata anjing itu adalah bayangan dirinya dalam air. Lalu dengan sedih ia menangis “kalau tahu begini aku tidak akan sedemikian rakus, tapi sekarang, aku harus menahan lapar lagi, ke mana aku harus mencari makan?”


Baca juga :

Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman daripada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun ke dalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dimana saja kamu menemui mereka, dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.

seperti di kutip dari https://islamsahih.wordpress.com

Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.

seperti di kutip dari https://islamsahih.wordpress.com

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash (=pembalasan setimpal) berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.


Baca juga :

Hal lain yang berkaitan dengan masalah ini, menyangkut penetapan tanggal dan waktu oleh Pilatus untuk pelaksanaan Penyaliban. Bahkan sebelum dia menetapkan tanggal dan waktu, kita membaca hal-hal lain yang– seseorang seharusnya tidak terkejut untuk mempercayainya– telah memainkan suatu peran penting berkaitan dengan keputusan akhir yang dia buat. Pertama-tama, kita semua tahu, berdasarkan Perjanjian Baru bahwa isteri Pilatus sangat menentang suaminya memberikan keputusan yang memberatkan Yesus akibat sebuah mimpi yang dia lihat pada malam sebelum pengadilan Yesus.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Hal ini menggenapi sebuah pengakuan di pihaknya bahwa Yesus benar-benar tidak berdosa dan bahwa keputusan keji yang telah dia lakukan adalah di bawah paksaan. Dan Perjanjian Baru cukup jelas bahwa masyarakat Yahudi yang sangat berpengaruh telah berkomplot melawan Yesus dan bermaksud menghukum beliau. Sehingga, keputusan apa pun dari Pilatus yang bertentangan dengan kehendak warga Yahudi akan berakibat kacaunya situasi hukum dan ketertiban. Inilah keterpaksaan yang dihadapi Pilatus sehingga membuatnya tidak berdaya dan hal itu dia tampilkan dalam sikap membasuh tangan.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Yang benar-benar telah terjadi, merupakan indikasi jelas bahwa hal itu dia lakukan dengan sengaja, sebab hari Sabat tidak terlalu jauh dari hari Jumat petang, dan dia sebagai petugas hukum, lebih tahu dari siapa pun bahwa sebelum hari Sabat bermula dengan tenggelamnya matahari, tubuh Yesus akan diturunkan; dan itulah yang benar-benar telah terjadi. Hal yang secara normal membutuhkan waktu kurang lebih tiga hari tiga malam untuk akhirnya mengakibatkan kematian aniaya terhadap seorang terhukum, telah diterapkan kepada Yesus hanya beberapa jam saja. Orang heran, hal itu tidak mungkin untuk benar-benar membunuh seorang laki-laki seperti Yesus yang kehidupan kerasnya telah membuat fisik beliau kuat.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Dapatkah peristiwa ini menjadi sebuah kunci pemecahan bagi teka-teki [tanda] Nabi Yunus? Sebagaimana kebiasaan umum saat itu, yakni menggantung seorang terhukum di tiang salib selama tiga hari tiga malam, hal ini dapat menimbulkan dalam benak seseorang tentang persamaan antara Yesus dan Yunus, sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Nabi Yunus juga diperkirakan telah bertahan dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam. Mungkin beliau juga telah diselamatkan hidup-hidup oleh rencana Ilahi dalam tempo tiga jam, bukannya tiga hari. Jadi, apa yang telah terjadi dalam kasus Yesus menjadi cermin yang merefleksikan dan memutar ulang drama tragis yang dialami Nabi Yunus.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Hal itu merupakan suatu penolakan terhadap keinginan dan kemauan beliau, atas kehendak sendiri, untuk memikul beban dosa orang-orang lain dan terhadap pendapat bahwa beliau menanti-nantikan saat kematian tersebut. Mengapa jeritan penderitaan ini terjadi jika hukuman tersebut memang diingini oleh diri beliau sendiri? Mengapa beliau harus mencela Tuhan, atau bahkan berdoa untuk pembebasan? Pernyataan Yesus itu hendaknya dibaca dalam konteks mengenai apa yang telah terjadi sebelumnya. Beliau telah berdoa panjang-lebar kepada Tuhan agar mengambil cawan pahit itu dari beliau.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Kami, sebagai Muslim Ahmadi, percaya bahwa terhadap Yesus yang merupakan seorang tokoh saleh dan suci, tidak mungkin Tuhan tidak mengabulkan doa beliau. Beliau tentu telah diberitahu bahwa doa itu telah dikabulkan. Saya tidak percaya bahwa beliau telah melepaskan nyawa beliau di tiang salib. Bagi saya, tidak ada kontradiksi, dan segala sesuatu berjalan dengan konsisten/tetap. Dugaan kematian beliau hanyalah kesan seorang pengamat yang bukan dokter dan bukan pula seorang yang pernah memperoleh kesempatan memeriksa beliau secara medis.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Seorang penonton, menatap dengan gelisah dan prihatin kalau-kalau kematian merenggut nyawa guru yang ia cintai, hanya menyaksikan kepala yang terkulai letih dengan dagu yang menempel di dada Yesus. Dan orang itu menyatakan, “Dia telah menyerahkan nyawanya.” Namun, seperti yang telah kami uraikan sebelumnya, ini bukanlah suatu makalah untuk membahas tentang kualitas serta keautentikan pernyataan Bibel dari segi asli atau tidaknya, atau untuk memperdebatkan penafsiranpenafsiran yang dinisbahkan terhadapnya. Kita di sini hanya sedang meneliti falsafah dan dogma Kristen secara kritis, logis dan masuk akal.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Masalah yang timbul terlepas dari apakah Yesus telah pingsan atau telah mati yakni keterkejutan beliau yang sangat memilukan mengenai apa yang bakal terjadi saat itu, dengan kuat membuktikan bahwa beliau tidak mengharapkannya. Jika memang kematianlah yang beliau cari, maka keterkejutan yang beliau tampakkan itu sama sekali tidak tepat. Penafsiran kami sebagai, Muslim Ahmadi, Yesus terkejut hanya karena beliau telah dijanjikan pembebasan dari tiang salib oleh Tuhan sewaktu beliau memanjatkan per-mohonan-permohonan pada malam sebelumnya.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Namun, Tuhan memiliki rencana lain Dia membuat Yesus tampak pingsan sehingga para pengawal yang bertugas akan terkecoh menganggap beliau telah mati, dan dengan demikian [mereka] menyerahkan tubuh beliau kepada Yusuf Arimatea, untuk disampaikan kepada sanak keluarga beliau. Keterkejutan yang kami dapati pada kata-kata terakhir Yesus Kristus juga dialami oleh Pilatus: “Sudah mati?” adalah tanggapannya ketika peristiwa kematian itu dilaporkan kepadanya.3 Pilatus tentu telah memiliki banyak pengalaman dalam hal penyaliban selama menjabat sebagai Gubernur Judea, dan dia tentu tidak mengungkapkan keterkejutannya kecuali kepadanya telah diyakinkan bahwa sungguh janggal apabila kematian merenggut nyawa seorang korban penyaliban dalam waktu singkat yang hanya beberapa jam saja.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Walaupun demikian dia mengabulkan permintaan untuk melepaskan jasad [Yesus] dalam suasana yang misterius. Oleh karena itulah Pilatus selamanya dituduh telah melakukan persekongkolan. Diperkirakan, atas pengaruh istrinya dia mengupayakan agar pelaksanaan hukuman terhadap Yesus berlangsung satu jam menjelang hari Sabat. Yang kedua, dia telah mengabulkan permintaan untuk melepaskan jasad [Yesus] walaupun terdapat kejanggalan pada laporan kematian Yesus. Keputusan Pilatus tersebut menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan Yahudi yang telah membuat petisi kepadanya dan menyampaikan keraguan serta kesangsian mereka tentang kematian Yesus.4

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Kita juga mendapatkan dari Bibel bahwa ketika tubuh Yesus diturunkan, kaki beliau tidak dipatahkan, sedangkan kaki dua orang pencuri yang disalib bersama beliau, telah dipatahkan untuk memastikan mereka telah mati.5 Terpeliharanya Yesus seperti itu tentu telah membantu beliau selamat dari keadaan koma tersebut. Kita tidak dapat mengesampingkan sama sekali bahwa para prajurit tampaknya telah diperintahkan oleh beberapa utusan Pilatus untuk tidak mematahkan kaki Yesus Kristus. Mungkin hal itu telah dilakukan sebagai suatu tanda hormat bagi beliau dan warga Kristen yang tidak berdosa [saat itu].

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Jika beliau sudah mati dan jantung beliau telah berhenti berdenyut maka tidak mungkin.terjadi peredaran darah secara aktif seperti itu yang mengakibatkan darah segera mengalir keluar. Paling tidak darah dan plasma yang membeku mungkin telah merembes secara pasif. Namun tidak demikian gambaran yang ditampilkan oleh Perjanjian Baru, justru dikatakan bahwa darah dan air segera mengalir keluar. Sejauh yang berkaitan dengan ungkapan tentang air, tidaklah mengherankan bahwa Yesus telah mengalami radang selaput dada (pleurisy) selama menjalani saat-saat yang sangat menderita dan menyakitkan selama penyiksaan di tiang salib.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Juga, tekanan Penyaliban telah mengakibatkan penetesan dan radang selaput dada itu sehingga menimbulkan kantung-kantung air, yang dalam istilah kedokteran disebut wet pleurisy (radang selaput dada basah). Kondisi ini, yang pada sisi lain sebenamya berbahaya dan menyakitkan, tampaknya telah berubah menjadi berguna bagi Yesus, sebab ketika lambungnya ditikam maka radang selaput dada yang membengkak itu dengan mudah telah berperan sebagai bantal yang melindungi organ-organ dada dari tusukan langsung tombak. Air bercampur darah segera mengalir keluar disebabkan jantung yang masih aktif.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Tidak hanya itu, kita juga mengetahui dari Perjanjian Baru bahwa sejenis ramuan rempah-rempah yang telah disiapkan saat itu, telah dibubuhkan pada luka-luka Yesus.6 Ramuan rempah ini disiapkan oleh murid-murid Yesus, mengandung zat-zat yang dapat mengobati luka serta mengurangi rasa sakit dan sebagainya. Mengapa saat itu susah-payah mengumpulkan 12 jenis bahan langka untuk membuat ramuan tersebut? Resep yang digunakan itu tertera di banyak buku kuno, misalnya buku kedokteran yang terkenal Al-Qanun oleh Bu Ali Sina (lihat apendix berisikan daftar buku-buku semacam itu).

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Jadi, apa perlunya saat itu untuk membubuhkan ramuan rempah pada tubuh yang sudah mati? Hal itu baru akan masuk akal apabila para hawari memiliki alasan-alasan kuat untuk mempercayai bahwa Yesus telah diturunkan dalam kondisi hidup dari tiang salib, bukan mati. Yahya satu-satunya hawari yang telah berusaha memaparkan keterangan tentang pengadaan dan pembubuhan ramuan rempah pada tubuh Yesus. Hal ini lebih lanjut mendukung fakta bahwa pembubuhan ramuan rempah pada mayat dianggap suatu hal yang sangat ganjil saat itu, yang tidak dapat dipahami oleh mereka yang percaya bahwa Yesus telah mati ketika ramuan tersebut dipakaikan. Untuk hal itulah Yahya telah memaparkan keterangan tersebut.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Dia memaparkan bahwa hal itu dilakukan hanya karena merupakan tradisi Yahudi yang membubuhkan sejenis balsem atau ramuan pada jasad orang-orang mereka yang sudah meninggal. Sekarang, ini merupakan fakta yang sangat penting untuk dicatat bahwa segenap ilmuwan modem yang telah melakukan penelitian di bidang ini sepakat bahwa Yahya bukan berasal dari kalangan Yahudi, dan dia telah membuktikannya melalui keterangannya itu. Telah diketahui secara pasti bahwa orang-orang Yahudi atau Bani Israil tidak pernah memakaikan ramuan dalam bentuk apa pun kepada jasad orang-orang mereka yang sudah meninggal dunia. Dengan demikian, para ilmuwan berpendapat bahwa Yahya tampaknya bukan berasal dari kalangan Yahudi, jika tidak, tentu dia tidak akan begitu naif tentang tradisi-tradisi Yahudi. Jadi, pasti ada alasan lain bagi hal itu.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Ramuan tersebut dipakaikan kepada Yesus adalah untuk menyelamatkan beliau dari kondisi mendekati maut. Penjelasan satu-satunya terletak pada fakta bahwa Yesus saat itu tidak diperkirakan akan mati oleh para hawari, dan tidak pula beliau benar-benar telah mati di tiang salib. Tubuh yang diturunkan itu pasti telah menampakkan tandatanda kehidupan yang positif sebelum ramuan tersebut dipakaikan. Jika tidak, hal itu jelas merupakan perbuatan sangat tolol, tidak beralasan, dan sia-sia, pada pihak orang-orang yang turut serta dalam perbuatan tersebut. Tidak mungkin orang-orang itu mempersiapkan ramuan ini seketika tanpa adanya pertanda yang kuat bahwa Yesus tidak akan mati di tiang salib, tetapi akan diturunkan dalam kondisi hidup dengan luka-luka yang sangat serius, sehingga sangat membutuhkan ramuan yang sangat mujarab untuk menyembuhkan.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Mengenai apa yang telah terjadi dalam kubur, merupakan hal yang dapat diperdebatkan dari beberapa segi. Hal itu tidak dapat menampilkan pengujian yang kritis, dan tidak pula hal itu dapat membuktikan bahwa orang yang telah keluar dari situ benar-benar sudah mati dan kemudian telah dibangkitkan. Bukti satu-satunya yang kita miliki adalah kepercayaan orang-orang Kristen bahwa Yesus yang telah keluar dari kubur tersebut membawa tubuh sama yang telah mengalami penyaliban, memiliki tanda-tanda dan luka-luka yang sama. Jika beliau telah tampak berjalan dengan tubuh yang sama, maka kesimpulan logis satusatunya yang dapat diambil adalah, beliau belum pernah mati saat itu.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Bukti lain yang menunjukkan keberlangsungan hidup Yesus adalah sebagai berikut. Setelah tiga hari tiga malam beliau terlihat, tidak oleh khalayak umum, melainkan hanya oleh hawari (para murid) beliau. Dalam kata lain, oleh orang-orang yang beliau percayai. Beliau menghindari siang, dan hanya bertemu dengan mereka di balik kegelapan malam. Orang dapat mengambil kesimpulan secara aman dari keterangan Bibel bahwa beliau tampaknya berusaha keluar dari pusat bahaya dengan tergesa-gesa dan sembunyisembunyi.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Pertanyaannya adalah, jika beliau telah memperoleh hidup yang baru dan abadi setelah kematian pertama beliau, dan bakal tidak akan mengalami penderitaan lain, maka mengapa beliau bersembunyi dari para musuh beliau, yakni dari unsur-unsur penguasa dan masyarakat umum? Beliau seharusnya tampil di hadapan orang-orang Yahudi dan perwakilan Kerajaan Romawi serta mengatakan: “Ini saya, dengan kehidupan abadi, cobalah dan bunuhlah saya lagi jika kalian bisa, kalian tidak akan mampu.” Namun, beliau memilih untuk tetap bersembunyi. Bukannya kepada beliau tidak dianjurkan agar tampil di hadapan umum, sebaliknya kepada beliau justru secara khusus dianjurkan agar menampakkan diri kepada dunia, tetapi beliau menolak dan terus jauh meninggalkan Judea sehingga tidak ada yang dapat mengejar beliau:

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Hal ini dengan sangat kuat menampilkan kasus seorang yang tidak abadi, yang tidak berada di luar jangkauan kematian ataupun luka bagi dirinya. Hal itu hanya membuktikan bahwa Yesus tidak mati dalam makna bahwa beliau telah terpisah dari unsur manusia yang ada dalam diri beliau, melainkan beliau tetap sama dalam kondisi alami beliau, apa pun itu, dan saat itu tidak ada kematian yang telah memisahkan diri lama beliau dari diri yang baru. Inilah yang kami sebut keberlanjutan hidup dalam pengalaman manusia. Suatu ruh yang hidup di dunia lain, sudah pasti tidak bersikap seperti Yesus bersikap selama pertemuanpertemuan rahasianya di balik kegelapan malam dengan para sahabat dan pengikut-pengikut dekat beliau.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Masalah Yesus sebagai hantu, secara tegas bukannya ditolak oleh orang lain melainkan oleh Yesus sendiri. Ketika beliau tampil di hadapan beberapa hawari beliau, mereka tidak mampu menyembunyikan rasa takut mereka terhadap beliau, sebab mereka percaya bahwa itu bukanlah Yesus, melainkan hantunya Yesus. Yesus Kristus, yang memahami kesulitan-kesulitan mereka itu, telah menghalau rasa takut mereka dengan menyangkal diri sebagai hantu, serta menegaskan bahwa diri beliau adalah wujud Yesus yang sama yang telah disalib, dan bahkan beliau meminta mereka memeriksa luka-luka beliau, yang masih segar.7 Kemunculan beliau di hadapan para murid beliau dan sebagainya, dalam makna apa pun tidak menyatakan kebangkitan beliau dari kematian. Semua itu secara jelas menyatakan telah selamatnya beliau dari kondisi yang mendekati mati.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Seolah-olah untuk menghapuskan kesalahpahaman yang mungkin masih tersembunyi dalam pikiran-pikiran mereka, beliau menanyakan apa yang sedang mereka makan. Ketika beliau diberitahu bahwa mereka sedang makan roti dan ikan, beliau minta sedikit, sebab beliau lapar, dan beliau memakannya sebagian.8 Hal ini secara meyakinkan merupakan sebuah bukti yang tidak diragukan sedikit pun yang membantah kebangkitan beliau dari kematian, yakni kebangkitan kondisi alami seorang manusia yang pernah mati satu kali dan dihidupkan kembali. Problema-problema yang timbul dari pemahaman hidupnya kembali Yesus Kristus semacam itu, akan jadi berlipat ganda.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Apakah ruh manusia dan tuhan, keduanya tercabut bersama-sama dan kembali kepada tubuh kasar semula, setelah masuk neraka bersama-sama; atau apakah hanya ruh tuhan dalam diri Yesus saja yang kembali ke dalam tubuh manusia [Yesus] tanpa ruh manusianya? Di mana pula ruh tersebut menghilang, membuat orang bingung. Apakah perjalanannya ke neraka merupakan perjalanan tanpa kembali. sedangkan ruh tuhan dalam diri Yesus telah tertahan di sana hanya untuk tiga hari tiga malam? Apakah Tuhan merupakan bapak bagi manusia Yesus, ataukah bagi Yesus Sang Anak? Pertanyaan ini masih harus diselesaikan dengan tuntas untuk memberikan gambaran yang jelas bagi kita. Apakah tubuh Yesus itu sebagian merupakan tubuh Tuhan, dan sebagian lagi tubuh manusia?

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Konsep tentang Tuhan yang kami peroleh dari penelaahan terhadap Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, adalah wujud gabungan yang tak terbatas, dengan zat yang tidak memiliki peran apa pun dalam penciptaan diri-Nya. Dengan memahami hal itu, mari kita simak kembali Yesus sebagaimana beliau melewati tahap-tahap pertumbuhan yang berbeda sebagai embrio dalam janin Maryam. Seluruh zat yang dipakai untuk membentuk Yesus berasal dan ibu manusia tanpa ada sedikit pun yang diberi dari Tuhan Bapak. Memang, Tuhan dapat saja menciptakan beliau secara mukjizat.

seperti di kutip dari https://kesalahanquran.wordpress.com

Dari hal ini harus menjadi jelas bagi pembaca bahwa Tuhan tidak memainkan peran apa pun sebagai bapak dalam proses kelahiran embrio manusia, dan seluruh kesatuan tubuh itu dengan jantung, pernapasan, unsur, sel dan sistim saraf pusat, merupakan hasil dari seorang ibu sendiri tanpa bantuan lain. Di mana terletak unsur [tuhan] anak dalam diri Yesus, yang semata-mata wadah bagi ruh Tuhan dan tidak lebih dari itu? Pemahaman baru tentang hubungan antara Tuhan dan Yesus ini dapat secara pantas dinyatakan sebagai hubungan bapak-anak.


Baca juga :

Sungguh benarlah ucapan Rasulullah sholallahu’alaihi wa sallam di atas. “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Amanah yang paling pertama dan utama bagi manusia ialah amanah ketaatan kepada Allah, Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa alam semesta dengan segenap isinya. Manusia hadir ke muka bumi ini telah diserahkan amanah untuk berperan sebagai khalifah yang diwajibkan membangun dan memelihara kehidupan di dunia berdasarkan aturan dan hukum Yang Memberi Amanah, yaitu Allah subhaanahu wa ta’aala.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Amanat ketaatan ini sedemikian beratnya sehingga makhluk-makhluk besar seperti langit, bumi dan gunung saja enggan memikulnya karena khawatir akan mengkhianatinya. Kemudian ketika ditawarkan kepada manusia, amanat itu diterima. Sehingga dengan pedas Allah ta’aala berfirman: “Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” Sungguh benarlah Allah ta’aala…! Manusia pada umumnya amat zalim dan amat bodoh. Sebab tidak sedikit manusia yang dengan terang-terangan mengkhianati amanat ketaatan tersebut. Tidak sedikit manusia yang mengaku beriman tetapi tatkala memiliki wewenang kepemimpinan mengabaikan aturan dan hukum Allah ta’aala. Mereka lebih yakin akan hukum buatan manusia –yang amat zalim dan amat bodoh itu- daripada hukum Allah ta’aala. Oleh karenanya Allah hanya menawarkan dua pilihan dalam masalah hukum. Taat kepada hukum Allah atau hukum jahiliah? Tidak ada pilihan ketiga. Misalnya kombinasi antara hukum Allah dengan hukum jahiliah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dewasa ini kita sungguh prihatin menyaksikan bagaimana musibah beruntun terjadi di negeri kita yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Belum selesai mengurus dua kecelakaan kereta api sekaligus, tiba-tiba muncul banjir bandang di Wasior, Irian. Kemudian gempa berkekuatan 7,2 skala richter di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Lalu tiba-tiba kita dikejutkan dengan erupsi gunung Merapi di Jawa Tengah. Belum lagi ibukota Jakarta dilanda banjir massif yang mengakibatkan kemacetan dahsyat di setiap sudut kota, bahkan sampai ke Tangerang dan Bekasi. Bahkan siapa sangka banjir di Jakarta pernah terjadi di bulan Oktober, padahal jadwal rutinnya biasanya di bulan Januari atau Februari..?

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berdasarkan ayat di atas, jelas bahwa Allah mengancam bakal terjadinya musibah bila suatu kaum berpaling dari hukum Allah. Dan tampaknya sudah terlalu banyak dosa yang dilakukan ummat yang mengaku beriman di negeri ini sehingga musibah yang terjadi harus berlangsung beruntun. Dan dari sekian banyak dosa ialah tentunya dosa berkhianat dari amanah ketaatan kepada Allah ta’aala. Tidak saja sembarang muslim di negeri ini yang mengabaikan aturan dan hukum Allah, tetapi bahkan mereka yang dikenal sebagai Ulama, Ustadz, aktifis da’wah dan para muballigh-pun turut membiarkan berlakunya hukum selain hukum Allah. Hanya sedikit dari kalangan ini yang memperingatkan ummat akan bahaya mengabaikan hukum Allah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bila pernyataan ini kita tarik ke dalam konteks sosial, baik dalam skala kecil maupun besar, maka kehancuran maupun kebangkitan sebuah komunitas sudah dapat diramalkan jauh-jauh hari dengan mengamati tanda-tandanya. Apa yang disebut komunitas ini bisa berupa lembaga, organisasi, masyarakat, bangsa, negara, atau umat secara keseluruhan. Salah satu peringatan itu Allah tuangkan dalam Qs. al-Isra’: 15-16, yang berbicara tentang awal-mula kebinasaan sebuah negeri. Mari mengkajinya, lalu memutuskan apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah kerusakan yang sudah diancamkan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul (pemberi peringatan). Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka “amarnaa” orang-orang yang hidup mewah diantara mereka, tetapi mereka melakukan kefasikan di dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” [QS: al Isra’ : 15-16)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari sisi lain, penafsiran ketiga menunjukkan tanda-tanda kehancuran sebuah negeri secara lebih gamblang. Menurut al-Qur’an, tampilnya orang-orang kaya yang gemar hidup mewah di barisan pemimpin dan penguasa bukanlah alamat yang baik. Apalagi jika mereka berkuasa semata-mata karena uangnya, bukan dilatari kecakapan dan sifat amanah. Besar kemungkinan, mereka akan berbuat fasik dan merusak. Kekuasaan yang ada di tangan mereka bakal menjadi sarana super efektif untuk memperluas akibat-akibat kefasikannya. Misalnya, melalui kebijakan dan peraturan yang jelas-jelas melawan Syari’at Allah dan merugikan masyarakat luas, namun selaras dengan hawa nafsu dan kepentingan pribadi atau kelompok mereka sendiri.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ingatlah, Indonesia bukan negara pertama dan satu-satunya di atas kepulauan ini. Tanah yang kini kita pijak telah menjadi saksi keruntuhan Sriwijaya, Mataram, Pajajaran, Majapahit, dsb; yakni ketika para pemimpinnya gagal menjalankan fungsinya sebagai tempat bernaung yang aman bagi rakyat, justru saling berebut dan mementingkan diri sendiri. Dalam skala internasional, kita bisa mengambil pelajaran dari ambruknya Kekaisaran Persia dan Romawi, bahkan Uni Soviet dan Yugoslavia. Apakah kita merasa bahwa Indonesia tidak mungkin bernasib sama?

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kita merasa bergembira dapat menyelesaikan ibadah puasa Ramadlan, selanjutnya kita berbahagia dapat berhari raya dengan keluarga dan sanak saudara, handai taulan, menjalankan shalat ‘Iedul Fithri bersama-sama pada pagi hari ini. Namun di tengah-tengah kegembiraan ini, hati kita terasa tersayat sedih, karena sebagian dari kita kaum muslimin di Poso, di Ambon, di Maluku Utara dan di tempat lain tidak dapat merasakan kebahagiaan sebagaimana yang kita rasakan. Mereka masih di tempat pengungsian yang sangat menyedihkan, bahkan di beberapa tempat masih dilanda kerusuhan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, ketaqwaan penduduk suatu negeri kepada Allah SWT sangat besar pengaruhnya terhadap nasib penduduk itu sendiri, yakni akan membawa kemakmuran dan ketenteraman negeri itu. Sebaliknya keingkaran penduduk suatu negeri akan membawa akibat kemiskinan, penderitaan, dan keterpurukan negeri itu. Apalagi kalau yang ingkar kepada Allah orang-orang yang hidup mewah dan para pembesar-pembesar negeri itu, akan membawa kehancuran negeri itu sehancur-hancurnya, sebagaimana telah kami sebutkan pada firman Allah QS. Al-Israa’: 16 di awal khutbah ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, karena terlalu longgarnya tindak kemakshiyatan di negeri ini, dan tidak adanya hukum yang tegas terhadap segala bentuk kejahatan dan kemakshiyatan, maka semakin hari tidak semakin berkurang, apalagi hilang, tetapi semakin subur tumbuh di mana-mana. Sebagai contoh : dari miras, sekarang menjadi lebih parah lagi dengan berbagai jenis narkoba yang merusak bangsa ini, dari anak-anak usia SD sampai orang dewasa, bahkan di berbagai tempat sering terjadi pesta shabu-shabu laki dan perempuan, sehingga generasi penerus bangsa ini sangat memprihatinkan. Masih ditambah lagi penghancuran generasi bangsa ini dengan beredarnya dan transparannya gambar-gambar porno lewat berbagai media cetak, bahkan tayangan-tayangan TV – VCD dengan adegan-adegan yang kelewat batas dan amoral.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Suatu bukti, untuk memenuhi permintaan ummat Islam agar tempat-tempat yang dijadikan pusat kemakshiyatan supaya ditutup sebulan penuh selama Ramadlan ini saja, masih begitu sulit, tawar-menawar dengan alasan, “Bagaimana para karyawannya, ribuan pekerja termasuk pekerja sex komersial (PSK) akan kehilangan lapangan pekerjaan”, dan berbagai alasan lagi, tanpa melihat akibat kehancuran dan kebobrokan moral bangsa yang sulit disembuhkan. Padahal seharusnya tempat-tempat seperti itu harus ditutup selamanya, dan ummat Islam pasti akan menuntut untuk ditutup selamanya, tidak hanya selama Ramadlan saja, demi keselamatan generasi bangsa mendatang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kita perhatikan, setiap mereka bermusyawarah tidak menampakkan iklim yang sejuk dan kerjasama yang baik, mereka saling bersitegang urat leher, ngotot-ngototan, berdebat, perang mulut dengan sengit, hingga ada kesan seolah-olah satu sama lain ingin saling menjatuhkan, merasa dirinya dan golongannya yang paling cakap dan menganggap orang/golongan lainnya remeh dan tidak cakap. Mereka tidak saja perang mulut, bahkan tuan-tuan yang terhormat itu sampai perkelahian fisik (berantem) diperlihatkan di mata rakyat 210 juta orang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) hanya banyak dipidatokan dan disuarakan saja, ternyata hanya jargon belaka. Kalau kita mengikuti dialog-dialog interaktif lewat TV maupun RRI, acara “Indonesia menyapa”, rasanya para wakil rakyat dan pembesar-pembesar negeri ini, tidak serius memikirkan penderitaan yang dirasakan oleh bangsa ini, terutama rakyat kecil (kalangan bawah). Mereka sibuk berusaha memperkaya diri dengan rakusnya berebut materi, mumpung ada kesempatan, belum tentu tahun-tahun mendatang ada kesempatan lagi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kalau demikian caranya, maka negara yang subur makmur serta penuh dengan kekayaan alam yang melimpah ruah, rakyat kecil hidup menderita kemiskinan karena kerakusan para pembesarnya. Keadaan negara semakin tidak menentu, hutang semakin membengkak, pengangguran semakin menumpuk, kerusuhan tawuran terjadi di mana-mana, tindak kriminal, pemerasan di kendaraan penumpang umum secara terang-terangan, sehingga tidak membawa kenyamanan para pengguna angkutan umum. Kondisi yang demikian tidak memberikan harapan-harapan yang menggembirakan, namun rakyat semakin cemas. Setiap kegagalan yang ditempuh oleh pembesar-pembesar negeri selalu mengkambing hitamkan orang lain, Orde Baru yang selalu menjadi sasaran.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

8. Aparat penegak hukum (kepolisian), jangan setengah-setengah memberantas penyakit masyarakat, hendaklah sampai akar permasalahannya. Tidak akan menyelesaikan masalah dengan menyita ribuan botol miras yang diambil dari warung-warung kecil dan dimusnahkan, tetapi pabriknya terus memproduksi. Oleh karena itu bersama-sama masyarakat yang peduli nasib generasi penerus, mendesak kepada pemerintah agar menutup pabrik produksi miras, diganti dengan produksi lain yang halaalan thayyiban (halal dan yang baik).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sedangkan orang yang berfaham pluralisme adalah manusia yang bingung memilih jalan hidup sehingga untuk gampangnya ia katakan bahwa semua agama sama baiknya dan sama benarnya. Andaikan kita hidup tanpa petunjuk dari Yang Maha Benar mungkin kita juga akan sependapat dengan logika berfikir seperti itu. Karena itu berarti bahwa tidak ada fihak manapun di dalam masyarakat yang berhak meng-claim bahwa agamanyalah yang memiliki monopoli kebenaran. Tetapi Allah ta’aala bantah pandangan seperti ini melalui firman-Nya:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ayat di atas secara jelas membantah pandangan yang mengatakan bahwa kebenaran bersifat relatif sehingga dapat berjumlah banyak sesuai jumlah hawa nafsu manusia. Bahkan melalui ayat ini Allah ta’aala menegaskan betapa dahsyatnya dampak yang bisa timbul dari mengakui kebenaran berbagai fihak secara sekaligus. Digambarkan bahwa langit dan bumi bakal binasa karenanya. Sebab masing-masing pembela kebenaran tersebut pasti akan mempertahankan otoritas kebenarannya tanpa bisa menunjukkan dalil atau wahyu Ilahi yang membenarkannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perbedaan pendapat -dalam prinsip Ahlus Sunnah- sebenarnya merupakan perkara yang dibenci . Bagaimanapun keadaannya, perbedaan pendapat semaksimal mungkin harus dihindari, karena sekecil apapun perbedaan tersebut sangat mungkin untuk memunculkan perpecahan. Fakta dalam kehidupan nyata menunjukkan hal demikian. Berpecahnya kaum muslimin menjadi banyak kelompok berawal dari adanya perbedaan dalam memahami sebuah permasalahan. Di sisi lain, perbedaan juga merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Lantas bagaimana kita menyikapi perbedaan itu? Mungkinkah dua pendapat yang berbeda sama-sama benar?

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jalan keselamatan boleh berbilang namun kebenaran tetap hanya satu. Karena setiap jalan keselamatan adalah bagian dari kebenaran yang satu. Sehingga sebuah jalan tidak dihukumi sebagai jalan keselamatan kecuali bila nilai kebenaran menjadi muatannya. Jika terjadi perselisihan dan pertikaian mengenai sebuah jalan keselamatan maka kebenaran itu tetap berjumlah satu. Kebenaran berada pada salah satu pendapat yang dipegang oleh salah satu pihak. Tentunya tolak ukur kebenaran itu adalah Al Qur`an dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Allah berfirman:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam setiap pertikaian dan perselisihan, kebenaran hanya satu sedangkan yang selainnya adalah keliru. Bahkan tak jarang mengandung kebatilan dan kesesatan. Inilah sebab Allah melarang setiap perselisihan dan pertikaian. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t pernah menerangkan: “Ayat-ayat yang melarang setiap perselisihan dalam agama mengandung celaan terhadapnya. Seluruhnya mempersaksikan dengan nyata bahwa al-haq di sisi Allah hanya satu, sedangkan yang selainnya merupakan kesalahan. Kalau seandainya semua pendapat itu adalah benar, niscaya Allah dan Rasul-Nya tidak akan melarang dari kebenaran dan tidak pula akan mencelanya. Sungguh Allah telah mengabarkan bahwa perselisihan bukan dari sisi-Nya. Yang bukan dari sisi Allah tidak dianggap sebagai kebenaran. Allah berfirman:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman. Karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu. Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung serta burung-burung. Semuanya bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya.” (Al-Anbiya`: 78-79)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t menjelaskan -tentang dua ayat ini- sebagai berikut: “Kedua nabi yang mulia ini telah sama-sama memberikan keputusan dalam sebuah kasus yang membutuhkan vonis hukum. Maka Allah mengistimewakan salah seorang dari keduanya dengan memahamkan (kepadanya) duduk permasalahan (yang dihadapi). Bersamaan dengan itu Allah memuji masing-masing dari keduanya dengan mendatangkan pengetahuan hukum dan ilmu kepadanya. Demikian pula para ulama yang mujtahid g. Siapa yang benar dari mereka mendapatkan dua pahala sedangkan yang salah mendapatkan satu pahala. Masing-masing mereka taat kepada Allah sesuai dengan kemampuannya. Allah tidak akan memberatkannya dengan sesuatu yang dia tidak mampu mengilmuinya…” (Majmu’ Al-Fatawa, 33/41)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Al-Imam Al-Muzani t menandaskan: “Perlu dipertanyakan kepada orang yang membolehkan perbedaan pendapat dan menyangka bahwa dua orang alim jika berijtihad pada sebuah kejadian –yang satu berpendapat (halal) sementara yang lain berpendapat (haram)– masing-masing dari keduanya meraih kebenaran: Apakah engkau mengatakan ini dengan sebuah sumber (hukum) atau dengan qiyas? Bila dia menjawab: Dengan sebuah sumber (hukum). Dipertegas kepadanya: Bagaimana bisa dari sebuah sumber (hukum) sedangkan Al Qur`an menolak perbedaan pendapat. Bila dia menjawab: Dengan qiyas. Dipertegas kepadanya: Sumber-sumber (hukum) menolak perbedaan pendapat dan bagaimana engkau bisa mengqiyas atas sumber-sumber (hukum) tersebut untuk membolehkan perbedaan pendapat. Ini merupakan perkara yang tidak bisa diterima oleh orang yang berakal terlebih lagi oleh seorang yang berilmu.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, karya Ibnu ‘Abdil Barr, 2/89)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

‘Umar bin Al-Khaththab z pernah marah karena perselisihan Ubay bin Ka’b z dengan Abdullah bin Mas’ud z mengenai hukum shalat mengenakan sehelai pakaian. Saat itu Ubay berkata: “Sesungguhnya shalat dengan mengenakan sehelai pakaian merupakan perkara yang baik lagi bagus.” Ibnu Mas’ud berkata: “Sungguh yang demikian itu (dibolehkan) bila jumlah pakaiannya sedikit.” Maka ‘Umar keluar dalam keadaan marah dan berkata: “Dua orang shahabat Rasulullah r yang dipandang dan diambil pendapatnya telah berselisih. Ubay telah benar dan Ibnu Mas’ud tidak lalai. Akan tetapi tidaklah aku mendengar seorang pun berselisih mengenainya setelah (aku meninggalkan) tempatku ini melainkan aku akan memperlakukannya demikian dan demikian.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 2/83-84)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pihak yang benar adalah yang pendapatnya berlandaskan Al Qur`an dan As Sunnah beserta pemahaman Salaf. Sebuah kesalahan fatal bila seorang muslim menganggap suatu perkara dibolehkan dengan alasan (di dalam perkara tersebut terdapat) perselisihan di kalangan para ulama apalagi yang selainnya. Ini merupakan kekeliruan terhadap syariat Islam. Namun sangat disayangkan betapa banyak orang yang terjatuh di dalamnya. Mereka bukan dari golongan orang awam saja akan tetapi juga melibatkan orang-orang yang mengaku dirinya berilmu. Sebagian mereka dianggap ulama atau paling tidak bergelar kyai maupun ustadz. Bahkan tak jarang ahlul bid’ah berupaya melanggengkan berbagai kebid’ahannya dengan alasan yang demikian. Wallahul musta’an.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Al-Imam Asy-Syathibi t berkata: “Perkara ini telah melampaui kadar yang cukup. Sehingga terjadi pembolehan sebuah perbuatan karena berpegang pada kondisinya yang diperselisihkan di kalangan para ulama. Pembolehan ini bukan bermakna untuk memelihara perselisihan, sebab hal ini memiliki sisi pandang yang lain, akan tetapi tujuannya adalah yang selain itu (yakni tujuannya tidak untuk memelihara perselisihan -red). Terkadang dalam suatu permasalahan muncul fatwa yang melarang. Lalu dipertanyakan: “Kenapa engkau melarang? Padahal permasalahannya diperselisihkan.” Maka perselisihan dijadikan argumen untuk membolehkan, semata-mata karena permasalahannya diperselisihkan. Bukan karena dalil yang menyokong kebenaran madzhab yang membolehkan. Tidak pula karena taqlid kepada orang yang lebih pantas diikuti daripada orang yang mengatakan larangan. Itulah wujud kesalahan terhadap syariat, yaitu menjadikan yang bukan pegangan sebagai pegangan dan yang bukan hujjah sebagai hujjah.” (Tahdzib Al-Muwafaqat, karya Muhammad bin Husain Al-Jizani, hal. 334)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Siapapun tidak boleh berhujjah dengan pendapat seseorang dalam permasalahan-permasalahan yang diperselisihkan. Hujjah itu hanya berupa nash (Al Qur`an dan As Sunnah), ijma’ dan dalil yang disimpulkan dari itu (sedangkan) pendahuluannya dikokohkan dengan dalil-dalil syar’i, tidak dengan pendapat-pendapat sebagian ulama. Karena pendapat-pendapat ulama perlu diberi hujjah dengan dalil-dalil syar’i, bukan untuk dijadikan sebagai hujjah atas dalil-dalil syar’i.” (Majmu’ Al-Fatawa, 26/202-203)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menuntut dalil dari setiap pendapat merupakan kewajaran di kalangan pecinta kebenaran. Tentunya tanpa memandang siapa yang menjadi sasarannya. Sebab nilai kebenaran terletak pada dalil bukan dalam kebesaran nama seseorang. Namun tidak berarti tanpa etika dan adab yang layak dalam melakukannya. Inilah barangkali yang tidak dipahami oleh para pembebek yang terperosok dalam kubangan pengkultusan tokoh. Acapkali mereka memegang sebuah pendapat karena yang mengucapkannya adalah seorang yang punya nama besar tanpa menoleh dalilnya. Terkadang profil yang dimaksud bukan ulama yang faham agama beserta dalil-dalilnya dengan benar.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Aku (Abu Shalih) berkata kepadanya (Abu Sa’id): “Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas mengatakan yang selain ini.” Abu Sa’id Al-Khudri menjawab: “Aku telah bertemu Ibnu ‘Abbas. Aku bertanya: Apakah yang engkau ucapkan ini adalah sesuatu yang pernah engkau dengar dari Rasulullah r, atau engkau mendapatkannya dalam Kitabullah –U–? Beliau (Ibnu ‘Abbas, red.) menjawab: Aku tidak mengatakan semua itu. Kalian lebih tahu tentang Rasulullah r daripada aku. Akan tetapi Usamah telah memberitakan kepadaku bahwa Rasulullah r bersabda:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

3. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan di dalam Manaqib Asy-Syafi’i (86-87): Al-Imam Ahmad pernah bertanya kepada Al-Imam As-Syafi’i rahimahumallah: “Apa pendapatmu tentang masalah yang demikian dan demikian?” Lalu Al-Imam Asy-Syafi’i menjawab masalahnya. Al-Imam Ahmad berkata: “Dari mana engkau mengatakan itu? Apakah terdapat padanya sebuah hadits atau ayat Al Qur`an?” Al-Imam Asy-Syafi’i menjawab: “Ya.” Lantas beliau mengutarakan sebuah hadits Nabi r mengenai masalah tersebut.” (Zajrul Mutahawin karya Hamd bin Ibrahim hal. 69)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Demikianlah tuntunan dari pendahulu kita yang baik. Namun sangat disayangkan kini banyak kalangan mentolerir suatu pendapat karena semata-mata yang mengucapkannya adalah seorang ulama atau kyai. Mereka tidak bersikap ilmiah dengan mau melihat dalilnya. Terlebih lagi mau berpikir tentang akurasi dalil dan pendalilannya. Inilah realita pahit dan memilukan dalam kehidupan beragama kebanyakan kaum muslimin belakangan ini. Bahkan penyakit ini berkembang pula di tengah para santri kebanyakan pondok pesantren di dalam dan luar negeri. Tak kalah serunya tatkala hal serupa ikut merebak di level para da’i yang sedang bergelut di kancah dakwah kecuali segelintir orang yang dirahmati oleh Allah. Wallahul musta’an.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adapun perselisihan yang dimaksud dalam pembahasan di atas yaitu perselisihan yang mengandung kontradiksi antara dua pendapat atau lebih dan tidak bisa kompromikan. Yang bisa dikompromikan dengan metode-metode yang dikenal di kalangan para ulama tidak termasuk dalam cakupannya, karena tidak masuk dalam kategori perselisihan dengan makna yang sesungguhnya. Perselisihan ini diistilahkan di kalangan para ulama dengan nama ikhtilaf tadhadh. Di sana terdapat perselisihan yang berangkat dari keragaman dalil. Ini pada hakekatnya tidak dapat dikatakan sebagai perselisihan. Lebih tepat untuk dikatakan sebagai keragaman aturan syariat Islam dalam masalah tersebut. Perselisihan ini diistilahkan di kalangan para ulama dengan nama ikhtilaf tanawwu’.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Si’di rahimahullah menjelaskan : “Hidayah mendapat petunjuk shiratal mustaqim adalah hidayah memeluk agama Islam dan meninggalkan agama-agama selain Islam. Adapun hidayah dalam meniti shiratal mustaqim mencakup seluruh pengilmuan dan pelaksanaan ajaran agama Islam secara terperinci. Doa untuk mendapat hidayah ini termasuk doa yang paling lengkap dan paling bermanfaat bagi hamba. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk memanjatkan doa ini dalam setiap rakaat shalat karena betapa pentingnya doa ini” (Taisiirul Kariimir Rahman)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahumullah dalam tafsirnya menyatakan, pada ayat ini Allah Subhanahuwata’ala memberitakan tentang kemuliaan dan keagungan al-Qur’an, yaitu ia memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus. Maksudnya, yang lebih adil dan lebih tinggi (mulia), berupa keyakinan, amal kebaikan, dan akhlak (yang mulia). Barang siapa memperoleh petunjuk dengan perkara yang diseru oleh al-Qur’an, tentu ia akan menjadi manusia yang paling sempurna, paling lurus, dan paling benar pada seluruh urusannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ibnu Katsir rahimahumullah menjelaskan dalam tafsirnya, Allah Subhanahuwata’ala memuji kitab-Nya yang mulia, yang Ia turunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad, yaitu al-Qur’an. Ia (al-Qur’an) memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan lebih jelas/terang. Diterangkan oleh Ibnu Jarir ath- Thabari t dalam tafsirnya, Allah l menyebutkan dalam ayat ini, al Qur’an yang telah Dia turunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan bimbingan dan petunjuk bagi orang mukmin kepada jalan yang lebih lurus, yaitu jalan yang lebih lurus daripada jalan lainnya. Itulah agama Allah Subhanahuwata’ala, agama yang Allah Subhanahuwata’ala mengutus dengannya para nabi-Nya, yaitu agama Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Seorang petani tidak akan memaksa diri untuk menabur benih pada ladang yang tidak ia sukai untuk tempat bercocok tanam. Bisa jadi, menurutnya, tempat itu tidak layak baginya. Adapun bukti pasti yang dapat dinalar bahwa suami itu ibarat petani dan istri ibarat sawah ladang; alat bertanam ada pada suami. Kalau sang istri berkehendak untuk berhubungan dengan suami, dalam keadaan sang suami tidak berkenan dan tidak menyukai, sang istri tidak akan mampu berbuat apa-apa. Sebaliknya, jika sang suami berkenan dan memaksa sang istri, dalam keadaan ia (istri) tidak menyukai, akan terjadi kehamilan dan kelahiran.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Yang dimaksud oleh kaidah diatas itu, yakni bahwa dalam menjalankan sesuatu kewajiban, sedangkan untuk bisa menyempurnakan kewajiban yang dituju itu harus menggunakan satu bentuk pekerjaan, maka menjalankan bentuk pekerjaan demikian itu wajib adanya. Contohnya, dalam hal wajibnya berwudhu untuk melakukan shalat. Disebabkan hal itu wajib maka menyiapkan adanya air untuk itu pun wajib. Sungguh, kalau dicari dalam Al-Qur’an tidak didapati ayat yang bunyinya secara saklek mewajibkan kita berusaha memperoleh air. Akan tetapi, kewajiban berfikir dan berbuat dengan ilmu dalam hal ini sudah jelas tidak perlu disebutkan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

b. Fi’liyyah yaitu yang berupa perbuatan Nabi Saw. Pada baris yang kedua ini dimengerti bahwa yang dinamakan hadist/sunnah Nabi Saw itu tidak semua berupa perkataan. Jadi, bila Nabi itu tidak mengucapkan kata “Negara Islam” atau “Daulat Islam”, tetapi bila nyatanya beliau telah membentuk organisasi yang setara dengan “negara”. Serta menjalankan nilai-nilai Islam yang berhubungan dengan kenegaraan/kekuasaan, maka membentuk negara yang berazaskan Al-Qur’an dan Sunnah Saw adalah wajib bagi umat penerusnya. “Kekuasaan” yang berazaskan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw itu logikanya ialah “Negara Islam”. Pun, logis bila dalam segi lainnya di dapat perbedaan definisi dari yang non-Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dengan hal-hal yang telah dipraktekkan Nabi Saw, jelas sekali bahwa adanya “konsepsi negara Islam” di dalam hadist, maka sebagai penunjuknya yaitu “perbuatan” Nabi Saw, yang mana telah membuat garis pemisah antara kekuatan militer musyrikin dan militer Islam. Kelompok Abu Jahal, Abu Lahab memiliki prajurit bersenjata, maka Nabi pun menyusun dalam mengimbanginya. Beliau telah bersikap tegas, Siapa saja yang menyerang negara Islam, maka dianggapnya sebagai musuh, walau dirinya telah mengaku muslim (perhatikan QS 4 : 97), dan sikap Nabi terhadap Abu Abas diterangkan pada bagian keempat). Ringkasnya, bahwa seluruh ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kedaulatan seperti yang dikemukakan tadi telah dipraktekkan oleh Nabi melalui kekuasaan yang berlandaskan Islam. Lembaga yang sesuai dengan pola dari Nabi itu akan menjamin kita menjalankan hukum Islam secara “Kaaffah”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam Al-Qur’an banyak istilah “Para Pemegang Kekuasaan” (ulil amri). Hal itu diterapkan Rasulullah Saw di Madinah. Beliau selaku kepala pemerintahan (negara), jelas memiliki kedaulatan dalam teritorial serta memproklamirkan kekuasaan (daulat) untuk menjalankan hukum terhadap masyarakat. Juga, mempunyai ribuan prajurit bersenjata dan aparat pemerintahan yang dikoordinasi dalam satu lembaga. Dengan arti lain, tidak bercerai-berai (QS 3 : 103). Sungguh kesemuanya itu adalah identik dengan sesuatu negara.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Namun, karena faktor dari kemanusiaannya, maka dayanya pun terbatas. Dan dilanjutkan oleh para sahabat penerusnya. Umat Islam pada zaman Khalifah yang sempat juga pada masa itu belum sampai menguasai seluruh dunia. Yaitu masih terbatas. Masih mendingan adanya kekuasaan yang terbatas dari pada yang “nol” sama sekali, dibawah kaki-kaki jahiliyah. Sebab itu kita tidak usah mengahayal akan persatuan Islam sedunia, bila negeri sendiri masih dikuasai pemerintahan thogut, dan diri terlibat dalam penterapan hukum-hukum kafir.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Artinya : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qur’an Surat An-Nur ayat 55).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut ahli tafsir Imam Muhammad Fakhruddin Razi dalam kitab tafsir Mafatihul-Ghaib, beliau menafsirkan ulil amri di suatu tempat dengan ahlul halli wal ‘aqdi (alim ulama’, pemimpin-pemipin yang ditaati oleh rakyatnya), sedangkan di lain tempat beliau menafsirkan dengan ahli ijma’ (ahli-ahli yang yang memberi keputusan). Kedua tafsir tersebut maksudnya adalah “wakil-wakil rakyat yang berhak memutuskan sesuatu, dan mereka itu wajib ditaati sesudah hukum Allah dan rosul-Nya.” Dari ayat diatas jelaslah kiranya empat dasar pokok untuk mendirikan suatu negara.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tidak dinyatakannya istilah daulah di dalam teks al-Qur’an maupun al-Hadits bukan berarti tidak ada perintah untuk mendirikan negara Islam. Sama halnya dengan reformasi yang kini kencang bergulir, bukankah istilah “reformasi” tidak kita jumpai dalam UUD 1945 dan Pancasila? Demikian pula dengan istilah demokrasi, restrukturisasi, masyarakat madani, dan lain-lain istilah yang belum populer pada saat negara ini berdiri. Lantas apakah kita dengan mudah mengatakan bahwa reformasi, demokratisasi, dan pembentukan masyarakat madani adalah proses yang inkonstitusional?

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam literatur-literatur klasik memang tidak akan kita jumpai tentang cara bagaimana mendirikan suatu negara Islam. Kitab-kitab tersebut disusun ketika Kekhalifahan Islam masih berdiri dan dalam keadaan jaya sehingga tidak terlintas sedikitpun di benak para penulisnya bahwa suatu saat kekhalifahan itu akan runtuh dan diperlukan upaya untuk mendirikannya kembali. Literatur-literatur klasik seperti Ma’afiru al-Inafah fi Ma’alim al-Khilafah karya Imam al-Qasysyandi, al-Ahkaamush Shulthaniyah karya Imam Mawardi, al-Ahkaamush Shulthaniyah karya Abu Ya’la al-Faraa, dan al-Kharaj karya al-Qadli Abu Yusuf, banyak berbicara tentang praktek kenegaraan Khilafah Islamiyah dan bukan cara mendirikannya. Tetapi yang jelas, literatur-literatur tersebut menyajikan fakta tentang keberadaan suatu negara Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ada beberapa definisi tentang negara. Menurut Roger Soltau, negara adalah alat (agency) atau wewenang (authority) yang mengatur atau mengendalikan persolan-persoalan bersama atas nama masyarakat. Menurut Harold J. Laski, negara adalah suatu masyarakat yang diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara sah lebih agung daripada individu atau kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat itu. Definisi menurut Max Weber dan Robert MacIver hampir senada dengan Harold Laski.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Negara jauh lebih kompleks dibanding masyarakat. Harold J. Laski mendefinisikan masyarakat sebagai “sekelompok manusia yang hidup bersama dan bekerjasama untuk mencapai terkabulnya keinginan-keinginan bersama”. Berdasarkan definisi tersebut, negara adalah metamorfosis lanjutan dari suatu bentuk masyarakat yang membutuhkan instrumen hukum yang bersifat memaksa sehingga keinginan-keinginan bersama tersebut tidak saling berbenturan satu sama lain. Dalam konsep Kontrak Sosial (Contract du Social), penguasa “dikontrak” oleh rakyat untuk menjaga dan mengatur kepentingan-kepentingan mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam kitab al-Fikr al-Islami, Dr. Muhammad Ismail mengajukan 3 (tiga) kriteria yang harus dipenuhi agar suatu komunitas dapat disebut sebagai masyarakat yang utuh, yaitu adanya pemikiran yang sama (afkar), perasaan yang sama (masya’ir), dan hukum yang diterapkan di tengah komunitas tersebut (nizham). Jika salahsatu kriteria tersebut tidak terpenuhi, maka komunitas tersebut tidak layak disebut sebagai masyarakat walaupun jumlahnya ratusan ribu; seperti penonton sepakbola di stadion yang memiliki keinginan yang sama (ingin menonton bola) tetapi tidak diikat oleh hukum yang sama sehingga masing-masing dapat berbuat sekehendak hatinya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bai’at ini adalah pernyataan ketaatan kepada seorang Kepala Negara, bukan sebagai seorang muslim kepada Nabinya. Indikasinya adalah penolakan Rasulullah saw terhadap bai’at seorang anak kecil yang belum baligh, yaitu Abdullah bin Hisyam. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Uqail Zahrah bin Ma’bad bahwa kakeknya, Abdullah bin Hisyam, pernah dibawa pergi oleh ibunya, yaitu Zainab binti Humaid, menghadap Rasulullah saw. Ibunya berkata: “Wahai Rasulullah, terimalah bai’atnya.” Kemudian Nabi saw menjawab: “Dia masih kecil.” Beliau kemudian mengusap-usap kepala anak kecil itu dan mendoakannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam kapasitasnya sebagai Kepala Negara, Rasulullah saw tidak melakukan negosiasi atau tawar-menawar dalam penjatuhan sanksi kepada para pelaku tindakan kriminal. Beliau pernah menjatuhkan hukuman mati kepada Ma’iz al-Aslami dan al-Ghamidiyah yang terbukti melakukan zina. Beliau pernah pula mengusir kaum Yahudi bani Qainuqa’ dari Madinah karena dengan sengaja menghina kehormatan seorang muslimah dengan menarik jilbabnya hingga terlepas. Semua sanksi hukum tersebut diambil tanpa bermusyawarah atau tawar-menawar dengan siapapun.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kecenderungan yang terjadi saat ini adalah penolakan aspek hukum dalam ajaran Islam dan lebih menitikberatkan pada penerapan norma-norma atau yang sering diistilahkan dengan “nilai-nilai Islam”. Hal ini diakibatkan oleh sikap lemah dan menyerah dari kaum muslimin terhadap pola kehidupan saat ini. Mereka merasa bahwa situasi saat ini sudah sangat sulit diubah sehingga upaya maksimal yang dapat dilakukan adalah menyisipkan “nilai-nilai Islam” dalam praktek kehidupan bernegara dan bermasyarakat sembari menunggu dan berharap suatu saat pola kehidupan saat ini akan ber-evolusi menjadi “lebih Islami”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sampai di sini, sebagian ilmuwan Muslim terjebak pada stereotip Barat tentang keadilan, keterbukaan, dan demokrasi. Gambaran masyarakat Barat masa kini—minus segala sisi suramnya—diadopsi sebagai contoh ideal cita-cita “Masyarakat Madani”. Mulai dari Kongres Amerika Serikat yang mampu mengimpeach presiden, sampai tabiat penduduk kota Toronto yang membiarkan burung-burung merpati bebas berkeliaran di taman kota. Semuanya dibenturkan dengan gambaran masyarakat Muslim di negeri-negeri Islam masa kini yang miskin, bodoh, terbelakang, dan selalu terlibat konflik internal maupun eksternal dari masa ke masa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Apakah Islam mengatur perihal negara? Atau mungkinkah sebenarnya Islam tidak menganjurkan adanya negara? Pertanyaan ini nampaknya akan tetap menjadi perdebatan di kalangan internal harakah Islam. Ada yang jelas-jelas menolak adanya konsep negara. Mereka berdalih bahwa bagaimana pun bentuk pemerintahan yang sah dalam Islam sejatinya ialah khilafah. Sementara di pihak lain, ada pula yang berkeyakinan akan bolehnya bentuk negara apa saja asalkan tetap ada upaya menerapkan syariat Islam di dalamnya. Karenanya, pembahasan ini merupakan wilayah kajian kontemporer yang cukup sensitif.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Terlepas dari perbedaan tersebut, Ust. Yusuf Mustofa, Lc. mengaku lebih meyakini pendapat kedua. Ia menilai meski bentuk pemerintahan paling ideal ialah khilafah islamiyah, namun ketika kita belum cukup syarat, maka apapun bentuk negaranya tak jadi masalah. Hal ini karena esensi adanya sebuah pemerintahan (dalam hal ini negara) lebih penting dibandingkan bentuk pemerintahan itu sendiri. Dengan adanya negara, maqashidusy syari’ah (tujuan adanya syariat) seperti hifzul maal, hifzhun nafs, hifzhun nasl, hifzhud diin, dan hifzhul ‘aql (menjaga harta, jiwa, keturunan, agama, dan akal) akan lebih terjamin keberadaannya. Pemerintah yang beriman dan adil dalam sebuah negara tentu akan memperhatikan hal-hal terkait hak-hak warganya tersebut. Sebaliknya, jika kita memilih tidak bernegara lantaran tidak cocok dengan prinsip khilafah, maka dikhawatirkan maqashidusy syari’ah itu pun terbengkalai.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Namun, hal yang lebih baik menurutnya ialah tetap tak berhenti di satu masalah itu. Kalaulah karena beberapa sebab janji Rasulullah SAW bahwa kita akan kembali kepada fase khilafah ala minhajin nubuwah (kekhalifahan berdasarkan manhaj kenabian) belum bisa terealisasi, penerapan sistem apapun selama tak bertentangan dengan prinsip Islam tak jadi soal. Hal yang lebih penting daripada sistem formal tersebut sebenarnya ialah orang yang diserahi amanah. Begitu kata Anis Matta dalam bukunya “Dari Gerakan ke Negara”. Prinsip ini pula yang dianut Imam Syahid Hasan Al-Banna, pendiri harakah Ikhwanul Muslimin. Walhasil, kaidah maratibul ‘amal (urutan amal) pun ia rumuskan demi mencapai ustadziyatul ‘alam (Islam sebagai soko guru/ pemimpin peradaban dunia).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Islam adalah agama dan sekaligus sistem negara yang menjamin tegaknya keadilan dan mewujudkan kesejahteraan umat manusia. Dalam merealisasikan tujuan tersebut, Alqur’an meletakkan kaidah dan prinsip-prinsip umum yang berkaitan dengan negara dan pemerintahan seperti penegakkan keadilan, penerapan musyawarah, memperhatikan kesamaan, jaminan hak dan kebebasan berpendapat, dan penetapan solidaritas sosial secara komprehensif serta hubungan pemimpin dan rakyatnya seperti hak dan kewajiban timbal balik antara pemimpin dengan rakyatnya. Islam hanya meletakkan kaidah-kaidah umum dan tidak menetapkan bentuk ataupun aturan terperinci yang berkaitan dengan kepemimpinan dan pengelolaan negara. Adapun bentuk ataupun model pemerintahan beserta metode pengelolaannya menjadi ruang lingkup ijtihaj dan proses pembelajaran kaum Muslimin dengan memperhatikan aspek kemaslahatan dan menyesuaikan perkembangan zaman.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Khalifah adalah bentuk tunggal dari khulafa yang berarti menggantikan orang lain disebabkan ghaibnya (tidak ada di tempat) orang yang akan digantikan atau karena meninggal atau karena tidak mampu atau sebagai penghormatan terhadap apa yang menggantikannya. Ar Roghib Al Asfahani dalam mufradat mengatakan makna kholafa fulanun fulanan berarti bertanggung jawab terhadap urusannya secara bersama-sama dengan dia atau setelah dia. Dalam konteks firman Alloh SWT dalam surat Al Baqoroh, ayat 20, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah dimuka bumi,” para mufasir menjelaskan bahwa khalifah Allah adalah para nabi dan orang-orang yang menggantikan kedudukan mereka dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, mengatur urusan manusia dan menegakkan hukum secara adil. Menurut Roghib Asfahani, penisbatan itu sendiri adalah bentuk penghormatan yang diberikan Allah SWT kepada mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa (khalifah) dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik” (QS.24:55)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Terminologi Khilafah sendiri dipakai untuk menjelaskan tugas yang diemban para pemimpin pasca kenabian. Istilah itu digunakan untuk membedakan sistem kerajaan dan kepemimpinan diktator. Hal ini menyiratkan bahwa terminologi khilafah yang dimaksud dalam pelbagai hadist diatas adalah bahwa sistem khilafah ini sejalan dengan prinsip-prinsip kenabian (nubuwwah). Sistem kepemimpinan ini dibangun dari antitesis sistem kerajaan dimana kekuasaan berdasarkan pewarisan keluarga (dinasti) ataupun sistem diktator yang cenderung berbuat zalim dan tidak disukai rakyat. Ibnu Taimiyah dalam Minhajus Sunnah menjelaskan bahwa “Khulafaur Rasyidin yang berlangsung tiga puluh tahun adalah kepemimpinan kenabian dan kemudian urusan itu pemerintah beralih ke Muawiyyah, seorang raja pertama. Al Mulk (raja-raja) adalah orang-yang memerintah yang tidak mnyempurnakan syarat-syarat kepemimpinan dalam Islam (khilafah).”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut hemat saya, kepemimpinan dalam perspektif khilafah lebih merefleksikan pemahaman terhadap nilai dan prinsip kepemimpinan yang benar menurut Islam ketimbang sebagai sebuah eksistensi maupun bentuk pemerintahan. Khilafah lebih merupakan substansi nilai yang bersifat tetap ketimbang perincian-perincian institusional yang bersifat dinamis. Pandangan ini sejalan dengan pendapat Ibnu Taimiyyah seperti yang dikemukakan oleh Qomaruddin Khan dalam ”The Political Thought of Ibn Taimiyyah’ bahwa kekhilafahan sebagai prinsip nilai dan idealitas yang diembannya, yakni penegakan syariah bukan sebagai lembaga pemerintahan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kekhilafahan sebagai sebuah nilai setidaknya mengacu kepada dua hal pokok, yakni pertama, kepemimpinan (khilafah) itu harus merefleksikan kewajiban meneruskan tugas-tugas pasca kenabian untuk -meminjam istilah Ibnu Hayyan- mengatur urusan umat, menjalankan hukum secara adil dan mensejahterakan umat manusia serta melestarikan bumi. Kedua, kepemimpinan harus dibangun berdasarkan prinsip kerelaan dan dukungan mayoritas umat, bukan pendelegasian kekuasaan berdasarkan keturunan (muluk) dan kediktatoran (jabariyah). Mengutip Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj Assunah, Abu Bakar RA diangkat bukan karena kedekatannya dengan Rasulullah SAW atau karena dibaiat Umar Ibnul Khatab RA namun karena diangkat dan dibaiat oleh mayoritas umat Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Islam tidak menetapkan khilafah seperti institusi politik dengan hirarki dan pola kelembagaan baku yang rigid dan memiliki otoritas politik tanpa batas seperti laiknya raja. Ini berarti Islam memberikan keluasan kepada kaum Muslimin untuk merumuskan aplikasi kekuasaan dan bentuk pemerintahan beserta perangkat-perangkat yang dibutuhkan dengan memperhatikan faktor kemaslahan dan kepentingan perubahan zaman. Keluasan tersebut adalah hikmah bagi kaum Muslimin, dimanapun mereka menemukan maka berhak memungutnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Rasulullah SAW mengadopsi sistem administrasi pemerintahan Romawi dan metode pengelolaan kekayaan negara ala kerajaan Persia. Al Mawardi dalam Ahkamul Sulthaniyyah memiliki pendapat menarik perihal evolusi menuju penyempurnaan lembaga-lembaga kenegaraan dan pendelegasian kekuasaan pada masa Khulafaur Rasyidin. Menurutnya, lembaga Qadhi baru muncul pada masa kepemimpinan amirul mukminin, Ali bin Abi Thalib RA dan mengalami penyempurnaan pada masa Umawiyyah. Sebelumnya, perkara perselisihan ditangani langsung oleh Ali namun seiring meluasnya kekuasaan Islam dan mulai merosotnya integritas moral kaum Muslimin maka diangkat Syuraih RA untuk mengambil alih peran beliau dalam menyelesaikan perkara. Selanjutnya, penyelesaian perkara perselisihan ditangani oleh lembaga Qadhi yang diangkat khusus oleh Khalifah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Secara garis besar –menurut Al Mawardi- ada 10 tugas pemimpin dalam Islam, yakni: pertama, menjaga kemurnian agama. Kedua, membuat keputusan hukum di antara pihak-pihak yang bersengketa. Ketiga, menjaga kemurnian nasab. Keempat, menerapkan hukum pidana Islam. Kelima, Menjaga keamanan wilayah dengan kekuatan militer. Keenam, mengorganisir Jihad dalam menghadapi pihak-pihak yang menentang dakwah Islam. Ketujuh, mengumpulkan dan mendistribusikan harta pampasan perang dan zakat. Kedelapan, membuat anggaran belanja negara. Kesembilan, melimpahkan kewenangan kepada orang-orang yang amanah. Kesepuluh, melakukan pengawasan melekat kepada hirarki dibawahnya, tidak semata mengandalkan laporan bawahannya, sekalipun dengan alasan kesibukan beribadah. Sementara Ibnu Hazm dalam “Mihal wa an Nihal” berpendapat bahwa tugas pemimpin adalah menegakkan hukum dan konstitusi, menyiarkan Islam, memelihara agama dan menggalang jihad, menerapkan syari’ah, melindungi hak asasi manusia, menyingkirkan kezaliman dan menyediakan kebutuhan bagi setiap orang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Karakter kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan sipil. Mandat kepemimpinan dalam Islam tidak ditentukan oleh Tuhan namun dipilih oleh umat. Kedaulatan milik Tuhan namun sumber otoritas kekuasaan adalah umat Islam. Pemimpin tidak memiliki kekebalan dosa (ma’shum) sehingga memungkinkan yang bersangkutan menggabungkan semua kekuasaan baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif dalam genggamannya. Islam tidak mengenal jenis pemerintahan seperti yang dilakukan Eropa di abad pertengahan sebab khalifah dipilih dan dapat diberhentikan oleh rakyat. Ibnu Hazam menyatakan bahwa para ulama bersepakat (ijma’) perihal wajibnya khilafah atau imarah (kepemimpinan) dan bahwa penentuan khalifah atau pemimpin menjadi kewajiban kaum Muslimin dalam rangka melindungi dan mengurus kepentingan mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Oleh karena itu, Abu Bakar Ra menolak mendapatkan panggilan khalifah Allah dan memilih sebutan khalifah rasul karena dia mewakili Nabi dalam menjalankan tugas kepemimpinan dan sebagai khalifah, beliau juga memahami kekuasaannya bersifat temporal, yang dipilih dan diawasi rakyat. Dengan demikian, pemimpin bukan wakil Tuhan dimuka bumi. Dalam kepemimpinan sipil, umat mengontrol dan memberhentikannya. Semua mazhab Ahli Sunnah wal Jamaah menyakini bahwa Rasulullah SAW tidak mencalonkan seorangpun untuk memegang kendali kepemimpinan sepeninggal beliau. Abu Bakar menjadi khalifah karena dipilih kaum Muslimin bukan karena menggantikan Nabi SAW menjadi imam shalat. Demikian pula Umar diangkat sebagai khalifah bukan semata karena diusulkan Abu Bakar namun karena beliau dipilih para sahabat dan dibaiat mayoritas kaum Muslimin.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adapun berkaitan dengan pembagian wewenang kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif dalam pandangan Ali Bahnasawi lebih merefleksikan kebutuhan yang tidak terelakkan baik dalam perspektif strategis maupun teknis. Nabi SAW sendiri telah mendelegasikan beberapa aspek legislatif kepada para sahabat dan sepeninggal beliau, wewenang legislatif dan yudikatif dipisahkan dari tugas kekhalifahan. Kondisi inipula yang secara alamiah menjadi titik pijak trasformasi sistem peradilan sepanjang pemerintahan Islam pasca Nabi SAW, seperti adanya lembaga qadhi dan hisbah, mahkamah mazhalim dan lain-lain. Dalam konteks strategis, pembagian kekuasaan adalah sebagi upaya untuk mengurangi kemungkinan adanya pelanggaran kekuasaan (abuse of power) sebagai akibat terkonsentrasinya kekuasaan. Mengutip Lord Acton, “power tends to corupt, absolute power tends to absolute corrupt”. Tabiat kekuasaan tanpa kendali moral akan cenderung korup dan menindas maka selain integritas moral dibutuhkan sistem yang dapat menggaransi tabiat jahat kekuasaan tersebut muncul.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah Telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah:247)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Syarat kepemimpinan menurut Ibnu Taimiyyah mencakup dua aspek, yakni qawiy kekuatan (fisik dan intektual) dan amin (dapat dipercaya). Sedangkan Al Mawardi menetapkan tujuh syarat kepemimpinan yang mencakup adil, memiliki kemampuan berijtihaj, sehat jasmani, tidak memiliki cacat fisik yang menghalangi menjalankan tugas, memiliki visi yang kuat, pemberani dalam mengambil keputusan, memiliki nasab Quraisy. Ibnu Khaldun sendiri mensyaratkan empat hal yang harus dimiliki pemimpin, yakni: ilmu, keadilan, kemampuan serta keselamatan indera dan anggota tubuh lainnya. Perihal syarat nasab Quraisy, Ibnu Khaldun memandang bukan syarat utama dan tidak boleh menjadi ketetapan hukum yang mengikat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berpijak dari pemahaman umum nash dari Al qur’an dan Sunnah, serta pandangan ulama, setidaknya ada tiga syarat utama kepemimpinan dalam Islam, yakni integrasi aspek keluasan ilmu, integritas moral (kesalihan individual) dan kemampuan profesional. Yang dimaksudkan keluasan ilmu, seorang pemimpin tidak hanya mampu menegakkan keadilan berdasarkan prinsip-prinsip dan kaidah syariah, namun juga mampu berijtihaj dalam merespon dinamika sosial politik yang terjadi ditengah masyarakat. Sementara kesalihan adalah kepemilikan sifat amanah, kesucian dan kerendahan hati dan istiqomah dengan kebenaran. Adapun professional adalah kecakapan praktis yang dibutuhkan pemimpin dalam mengelola urusan politik dan administrasi kenegaraan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jika tidak dipenuhi keseluruhan syarat-syarat tersebut maka diperintahkan mengambil yang ashlah (lebih utama). Misalnya, jika kaum Muslimin dihadapkan kepada situasi untuk memilih salah satu dari dua pilihan yang buruk, yakni antara seorang pemimpin yang shalih namun tidak cakap dengan seorang pemimpin yang cakap namun kurang shalih maka menurut Ibnu Taimiyyah hendaknya didahulukan memilih pemimpin yang cakap sekalipun kurang salih. Karena seorang pemimpin yang salih namun tidak cakap maka kesalihan tersebut hanya bermanfaat bagi dirinya namun ketidakcakapannya merugikan masyarakat sebaliknya pemimpin yang cakap namun kurang shalih maka kecakapannya membawa kemaslahatan bagi masyarakat sementara ketidaksalihannya merugikan dirinya sendiri.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Alqur’an dan Assunah tidak menetapkan mekanisme ataupun tata cara pemilihan kepala negara. Adapun mekanisme ataupun tata cara penetapan kepala negara bersandar kepada praktek yang disepakati para sahabat (ijma’) dalam menentukan pengganti sepeninggal Rasulullah. Mereka berturut-turut memilih Abu Bakar, Umar hingga terakhir Ali Bin Abi Thalib dengan cara yang berbeda. Abu Bakar ditetapkan melalui musyawarah sebagian kaum Muslimin di Bani Tsaqifah yang diikuti baiat mayoritas kaum Muslimin kepada Abu Bakar. Umar bin Khattab dipilih melalui musyawarah Abu Bakar dengan para sahabat terkemuka. Abu Bakar mengusulkan Umar untuk menggantikannya. Para sahabat tidak keberatan dengan usulan tersebut dan selanjutnya Umar ditetapkan sebagai khalifah melalui baiat. Namun Umar menempuh cara yang berbeda dengan Abu Bakar dalam pengangkatan Khalifah. Beliau menunjuk enam orang sahabat dan meminta mereka untuk memilih salah seorangnya menjadi khalifah. Keenam sahabat itu adalah Ustman bi Affan, Ali Bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqqas dan Abdurrahman bin Auf. Mereka bersepakat memilih Ustman bin Affan menggantikan Umar bin Khattab dan meminta persetejuan rakyat melalui baiat. Setelah syahidnya Ustman bin Affan, Ali Bin Abi Thalib secara aklamasi dibaiat menjadi khalifah oleh mayoritas kaum Muslimin Madinah dan Kufah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

1. Penetapan kekuasaan publik harus melalui metode pemilihan. Hal ini sejalan dengan Sabda Nabi SAW kepada Anshar,”Keluarkanlah kepadaku dua belas wakil diantara kalian untuk mewakili urusan kaum mereka.” (HR. Bukhari). Para wakil (Ahlul halli wal aqdi) itu dipilih oleh rakyat untuk memilih pemimpin, mengawasinya dan memberhentikan jika pemimpin melakukan kekufuran yang nyata. Qadhi Abu Ya’la menyatakan bahwa seorang khalifah tidak diperkenankan mengangkat khalifah sepeninggalnya karena hal terebut bertentangan dengan maqosid syariah (prinsip-prinsip syariah). Secara umum, pemilihan kepala negara dilakukan dalam dua tahap, pertama, pencalonan kepala negara yang dilakukan ahlul halli wal aqdi dan kedua, penetapan kepala negara yang yang dilakukan oleh seluruh rakyat melalui akad baiat (kontrak politik), yang dianggap persetujuan rakyat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

2. Pemimpin menjalankan otoritasnya sesuai dengan kontrak politik (akad) antara dirinya dengan rakyat. Akad ini diwujudkan dalam baiat yang diwakili antara pemimpin dengan ahlul halli wal aqdi. Setelah itu dilakukan baiat umum antara pemimpin dengan seluruh rakyat untuk menunjukkan bahwa legitimasi kekuasaan berasal dari rakyat dan pemimpin yang diangkat mewakili kepentingan rakyat. Dengan demikian, karakter kekuasaan dalam Islam adalah kepemimpinan sipil, bukan teokrasi, kekuasaan yang didapatkan dari Tuhan. Hal ini sejalan dengan pendapat Ibnu Hazm yang menyatakan bahwa penentuan khilafah merupakan kewajiban kaum Muslimin dalam rangka melindungi dan mengurusi kepentingan mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Anggota ahlul halli wal aqdi terdiri atas para ulama, pejabat daerah, kepala suku, kelompok professional dan intelektual yang dipilih dan mewakili rakyat berdasarkan penjelasan Nabi dalam hadist yang diriwayatkan Bukhari kepada kelompok Anshar untuk mengangkat 12 wakil yang akan mengatur urusan mereka. Imam Asyahid Hasan al Banna menjelaskan keanggotaan Ahlul Halli Wal Aqdi mencakup sekurangnya tiga kelompok, yakni: para fuqoha’, para pakar dalam disiplin ilmu tertentu, dan orang-orang yang memiliki integritas kepemimpinan. Tugas dan wewenang ahlul halli wal aqdi mencakup dua hal:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Para ulama bersepakat bahwa kekufuran yang nyata (keluar dari agama) menjadi sebab gugurnya hak kepemimpinan demikian pula kewajiban untuk mencopotnya dari jabatannya, sekalipun dengan jalan kekerasan. Namun kita mendapati perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang keadaan pemimpin yang melakukan perbuatan kemaksiyatan (dosa besar) dan perbuatan bid’ah. Arus utama yang diwakili mayoritas Sunnah berpendapat menahan diri jauh lebih baik sekiranya perlawanan yang dilakukan justru membawa kemadharatan yang lebih besar namun sebaliknya aliran Syiah, pemimpin seperti itu wajib diturunkan sekalipun dengan kekuatan bersenjata (bughot). Dalam hal ini, saya condong pendapat mazhab Ibnu Hanifah bahwa pemimpin yang melakukan perbuatan dosa besar harus diturunkan. Namun kontekstualisasi pencopotan pemimpin yang lancung tersebut tidak dengan kekuatan senjata namun melalui sistem dan mekanisme konstitusional seperti yang diadopsi negara-negara maju dewasa ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam hemat saya, tradisi kepemimpinan dalam umat tidak menyediakan exit strategy bagi suksesi kepemimpinan dalam kondisi tidak normal sebagai akibat praktek amoral, penyimpangan dan korupsi yang dilakukan pemimpin. Akibatnya, proses suksesi disepanjang sejarah berakhir dengan pertumpahan darah dan merenggut banyak nyawa. Kaidah-kaidah politik dalam Islam memang memberikan legitimasi politik bagi pencabutan kekuasaan politik yang menyeleweng namun tidak banyak membahas mekanisme ataupun tata cara penggantian kepemimpinan yang dipandang menyimpang secara damai dengan menghindari pertumpahan darah. Kajian fiqh Islam lebih banyak menyoroti opsi kemungkinan pembangkaan ataupun penggunaan kekuatan bersenjata (pemberontakan). Opsi ini sangat tipikal dengan situasi historis bangsa-bangsa yang dalam situasi konflik dan peperangan. Namun dalam konteks sekarang, opsi ini menjadi tidak relevan karena kekuatan bersenjata tidak layak digunakan untuk kepentingan suksesi kepemimpinan. namun seharusnya digunakan untuk menjaga kedaulatan negara. Oleh karena itu, kita berkepentingan untuk meletakkan landasan konstitusional yang kuat bagi mekanisme suksesi kepemimpinan secara damai, minus pertumpahan darah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kita patut mengapresiasi dan belajar dari Barat tentang mekanisme dan tata cara suksesi kepemimpinan secara damai dan elegan. Barat secara politik dan kultural belajar dan memperbaiki kesalahan sebagai akibat pergulatan kekuasaan yang panjang diantara mereka. Secara politik, mereka membuat sistem dan mekanisme pergantian kekuasaan baik dalam kondisi normal maupun luar biasa dengan memadai. Sedangkan secara kultural, terbangunnya kesiapan mundur jika seorang pemimpin dipandang publik gagal dalam menjalankan tugas. Hal ini sangat penting karena banyak pemimpin dengan kesadaran sendiri mundur dari jabatannya sebelum secara konsititusional diturunkan paksa. Richard Nixon, Presiden AS mundur setelah terbongkarnya skandal Watergate. Tony Blair, Perdana Menteri Inggris tidak meneruskan jabatan keduanya sebagai setelah dikritik tajam dalam skandal Irak, bahkan kini dia menghadapi investigasi parlemen atas kasus tersebut. Mekanisme politik yang dibangun dalam suksesi kepemimpinan pada satu sisi memberikan ruang kontrol politik yang efektif bagi rakyat dari penyalahgunaan kekuasaan dan pada sisi lain mampu meminimalisasi instabilitas keamanan dan politik.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kaidah-kaidah kepemimpinan dalam Islam memberikan ruang adanya lembaga ahlul halli wal aqdi yang dalam wewenangnya memiliki hak mengangkat dan bahkan mencopot kepala negara, namun wewenang tersebut dengan sendiri membutuhkan sistem dan mekanisme yang sehingga proses suksesi tersebut berjalan dengan mulus dan tanpa goncangan politik yang berarti. Dengan demikian ada proses kontrol, pengawasan dan evaluasi atas kekuasaan yang dilakukan ahlul halli wal aqdi dan rakyat. Jika dalam rentang waktu yang ditetapkan tersebut, kepala negara melakukan pelanggaran ataupun kinerjanya mengecewakan maka pemimpin tersebut secara konstitusional dapat diturunkan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hemat saya pula, ukuran ketidakmampuan kepala negara dalam melanjutkan kepemimpinannya tidak sebatas kepada dua prasyarat seperti yang ditetapkan oleh Al Mawardi mapun para pakar fikih lainnya, namun juga menyangkut kepada kecakapannya dalam melaksanakan tugas dan kewajiban yang diamanatkan rakyat berdasarkan ukuran dan standar (kontrak politik) yang ditetapkan oleh lembaga ahlul halli wal aqdi. Karena hakekat kepemimpinan politik dalam Islam seperti yang dijelaskan sebelumnya adalah pendelegasian wewenang dan kekuasaan yang diberikan rakyat melalui kontrak politik antara penguasa dan rakyat. Penguasa menjalankan amanah yang diberikan rakyat sebagai gantinya rakyat memberikan loyalitasnya kepada penguasa. Jika pemimpin tidak mampu menjaga distribusi pangan, menjaga kedaulatan negara atau gagal meningkatkan standar hidup masyarakat seperti yang dijanjikan maka pemimpin tersebut layak diganti sekalipun tidak melakukan perbuatan dosa atau merusak prinsip-prinsip Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Salah satu isu yang menjadi pokok perdebatan adalah perlukah pembatasan durasi kekuasaan. Di banyak negara maju, masa kepemimpinan dibatasi selama dua periode. Gagasan itu pertama kali diperkenalkan dalam amandemen ke 22 konstitusi AS, 1933 yang membatasi durasi jabatan presiden hanya dua kali. Sejarah politik Islam sendiri tidak mengenal pembatasan durasi kepemimpinan. Pemimpin dapat memegang jabatan seumur hidup sepanjang tidak melanggar prinsip-prinsip syariah. Penggantian kekuasaan hanya terjadi jika pemimpin meninggal, dikudeta ataupun dibunuh. Hampir tidak ada penggantian kekuasaan terjadi secara sukarela dalam sejarah Islam kecuali dalam dua peristiwa, mundurnya Husain dari jabatan khalifah dan menyerahkannya kepada Yazid bin Muawiyah sehingga peristiwa tersebut dinamakan ‘Amul Jamaah’ (tahun kembalinya persatuan) dan Jenderal Abdurrahman Siwarudzahab dari Sudan yang menyerahkan kekuasaan kepada rakyat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sementara itu, gagasan pembatasan durasi kekuasaan dalam sistem politik Islam dipandang sebagai perbuatan bid’ah. Padahal, selain dipandang baik dalam sistem pemerintahan yang demokratis, rotasi kekuasaan secara obyektif dibutuhkan dalam realitas sosio-politik yang dinamis. Kesalahpahaman ini dalam pandangan Syaikh Yusuf Qaradhawi terjadi karena mencampuradukkan antara urusan amaliah dan akidah, antara sunnah dan bid’ah (yang seharusnya dipahami penambahan unsur baru dalam akidah dan ibadah), antara kedudukan sunnah dengan siroh (sejarah nabi). Siroh hendaknya didudukkan dalam dua hal, yakni pertama, tidak mensyaratkan sumber periwayatan yang ketat sehingga para ulama tidak memasukkan dalam definisi Sunnah dan kedua, siroh dikategorikan sebagai perbuatan (fi’li) Nabi SAW yang secara hukum tidak mengikat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Syura adalah salah satu prinsip penting tentang pemerintahan yang dijelaskan dalam al Qur’an. Prinsip ini mengharuskan kepala negara dan pemimpin pemerintahan untuk menyelesaikan semua permasalahan-permasalahan masyarakat melalui permusyawaratan. Betapa pentingnya prinsip ini, Alqur’an bahkan mensejajarkan syura dengan perintah menjalankan pilar-pilar Islam lainnya seperti iman, shalat dan zakat. Artinya, syura harus diperlakukan dengan dasar serupa dan diberi tempat yang sama pentingnya dalam pengaturan masalah-masalah sosial-politik dalam masyarakat Islam. Allah SWT berfirman:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

At Thabari menyebut syura sebagai salah satu dari ‘azaim al ahkam, yakni prinsip fundamental syariat yang esensial bagi substansi dan identitas pemerintahan Islam. Dengan memperhatikan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi SAW bermusyawarah dengan sahabat meskipun dibimbing langsung wahyu, maka Ibnu Taimiyah berpendapat konteks perintah Alqur’an lebih tegas lagi kepada generasi Muslim selanjutnya yang tidak lagi berjumpa dengan Nabi dan tidak memiliki akses langsung dengan wahyu. Dengan demikian, menurut Muhammad Abduh, Abdul Karim Zaidan, Maududi, Abdul Qadir Awdah, Syura adalah kewajiban yang ditujukan terutama kepada kepala negara untuk menjamin kewajiban tersebut dijalankan semestinya dalam urusan pemerintahan dan untuk menjalankan kewajiban tersebut, maka para partisipan Syura harus memiliki kebebasan berpendapat dan berekspresi. Menurut Abdul Karim Zaidan, tidak mungkin terjadi jika pemerintah diwajibkan menjalankan Syura sementara menghambat kebebasan berpendapat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adapun persoalan apakah hasil syura mengikat penguasa? Pendapat yang paling kuat adalah hasil Syura bersifat mengikat (mulzimah). Salim Ali Bahnasawi menjelaskan adanya kontradiksi jika Allah memerintahkan penguasa untuk menjalankan syura namun penguasa senditi tidak terikat dengan hasil-hasilnya. Ibnu Hajar dalam Fathul Baari menegaskan bahwa penguasa yang tidak meminta nasehat kepada ulama wajib dipecat. Pendapat ini didukung oleh Imam Bukhari, “Alqur’an memerintahkan bermusyawarah sebagaimana pula memerintahkan bertwakkal untuk melaksanakan hasil Syura.” Dalam pandangan Syaikh Abdul Qadir Audah, ada dua yang berkaitan dengan sifat mengikat hasil Syura bagi penguasa dan umat Islam:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Secara umum ketetapan Syura dalam Alqur’an mencakup semua urusan kaum Muslimin baik yang bersifat individual maupun kolektif. Namun Alqur’an hanya memberikan ketetapan-ketetapan yang bersifat umum tentang Syura dan tidak menyebut rincian-rincian mengenai cara pelaksanaannya dan persoalan dimana Syura dilaksanakan. Alqur’an juga tidak memberikan instruksi mengenai apakah semua permasalahan masyarakat harus diselesaikan dengan jalan Syura atau hanya dalam konteks pemerintahan saja. Ketiadaan rincian khusus ini tidak pelak menjadikan pelaksanaan Syura sebenarnya menjadi fleksibel, tidak dibatasi waktu dan dapat diterapkan dalam semua keadaan dalam masyarakat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam hadist Nabi disebutkan bahwa keadilan menjadi ibadah yang paling mulia.“Sehari bersama imam yang adil lebih baik dari ibadah seorang lelaki selama 60 tahun. Dan hukum hudud yang ditegakkan di muka bumi dengan benar lebih bersih dari hujan yang turun selama 40 tahun” (HR At-Tabarani dan Al-Baihaqi. Dalam hadist riwayat Bukhari, Allah menetapkan Imam yang adil pada urutan pertama dari 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari Kiamat. “Ada tujuh kalangan yang Allah menaunginya dibawah naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan dari Allah, Imam yang adil …“

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kebebasan adalah pilar utama pemerintahan Islam. Jika umat menjadi sumber legitimasi kekuasaan maka kedaulatan kekuasaan tersebut dapat diwujudkan tanpa adanya pilar-pilar kedaulatan dalam diri setiap umat. Kedaulatan itu mencakup juga adanya media untuk mengaktualisasi kedaulatan tersebut. Adapun pilar pertama kedaulatan tersebut adalah adanya kebebasan yang harus dijamin negara. Imam Asyahid Hasan Al Banna menyebutkan kebebasan sebagai salah satu tuntutan Islam. Kebebasan itu mencakup kebebasan berideologi, kebebasan menyampaikan pendapat, kebebasan mendapatkan ilmu, dan kebebasan kepemilikan. Syaikh Muhammad Gazali menambahkan kebebasan dari kemiskinan, rasa takut dan kebebasan untuk memerangi kezaliman.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam konteks memformulasi kebebasan berpolitik tersebut, maka kaum Muslimin juga memiliki kebebasan untuk berserikat dan mengorganisir dirinya untuk mengontrol pemerintah dan mewujudkan kemaslahatan secara umum. Kebebasan berserikat itu dapat diwujudkan kedalam bentuk pendirian organisasi, perserikatan dan bahkan partai politik. Pelbagai bentuk organisasi, perserikatan dan partai politik dapat disejajarkan dengan keragaman mazhab pemikiran dan fiqh dalam sejarah Islam. Mengutip pendapat Muhammad Imarah dalam ‘Ma’rakatul Musthalahat baina al Gharbi wal Islam’, kebebasan berserikat secara terminologis telah terjadi dan dipraktekkan pada masa pertama Islam. Dalam Hadist Bukhari diriwayatkan bahwa Aisyah Ra mengatakan isteri-isteri Nabi terbagi dalam dua kelompok (Hizb), satu hizb terdapat Aisyah, Hafsah dan Shafiyah sedang hizb lainnya ialah Ummu Salamah beserta isteri-isteri Rasulullah lainnya. Sementara secara institusional, golongan Muhajirin pertama diantaranya, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Abdurahman bin Auf adalah organisasi yang memiliki kedudukan khusus yang dominant dalam khilafah, negara dan masyarakat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Semua manusia sama dan sederajat dalam hak, kewajiban dan tanggung jawab mereka. Tidak ada keistimewaan yang diberikan atas satu orang dengan yang lainnya tanpa pengecualiaan. Artinya, setiap individu dalam negara memiliki semua hak, kebebasan dan kewajiban yang juga dimiliki yang lain tanpa dikriminasi apapun, baik ras, golongan, etnik maupun agama. Di dalam konteks ini pula, kesetaraan ini mencakup pula persamaan hak dan kewajiban antara perempuan dan pria. Perempuan berhak atas hal-hal yang menjadi hak-hak lelaki sebagaimana perempuan juga berkewajiban atas hal-hal yang menjadi kewajiban lelaki. Adapun dalam konteks qawwamah (kepemimpinan) yang disebutkan dalam Alqur’an, maka praktek kepemimpinan harus dijalankan dengan tanggung jawab. Diluar itu, kaum pria tidak berhak ikut campur dalam perbuatan dan hak-hak yang ditunaikan perempuan, termasuk didalamnya hak-hak politik, tentunya dengan memperhatikan aspek keseimbangan. Muhammad Thahhan berpendapat bahwa pembangunan masyarakat Islam tidak dapat dilakukan dengan cara menganggurkan sebagian hak dan potensi warga negaranya (kaum perempuan).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Islam mengakui prinsip perbedaan dalam potensi dan kemampuan. Oleh karena itu, semua potensi dan kemampuan diberi hak yang sama. Konsekuensi dari pemberian hak-hak sosial yang sama, negara harus menjamin kesejahteraan kepada setiap keluarga baik dalam kesehatan, pemenuhan kebutuhan hidup dan kesempatan mendapatkan pendidikan yang sama sesuai dengan bakat dan kemampuan. Adapun dalam konteks kesetaraan hak-hak ahlul dzimmi (non Muslim), tidak ada perbedaan antara ahlul dzimmi dengan kaum Muslimin dalam hak-hak sosial mereka kecuali perbedaan dalam hal Aqidah. Kesetaraan dalam perspektif ini adalah memperlakukan kaum Muslimin sesuai dengan aqidah mereka dan memperlakukan ahlul dzimmi tidak sesuai dengan aqidah mereka. Namun diluar itu, ahlul dzimmi memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kaum Muslimin dalam segala hal.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Telah menjadi kesepakatan para ulama bahwa dalam memahami ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits nabi saw digunakan dua pendekatan. Pertama, memahami pengertian secara tersurat, secara langsung dari lafazh-lafazh al-Quran maupun as-Sunah. Ini yang sering dikatakan sebagai pengertian secara harfiah. Sedangkan para ulama menyebutnya sebagai manthûq. Yakni pengertian tersurat, pengertian yang langsung dipahami dari lafazh (kata) atau dari bentuk lafazh yang terkandung dalam nash. Kedua, pengertian secara tersirat. Yaitu pengertian yang dipahami bukan dari lafazh atau bentuk lafazh secara langsung, tetapi dipahami melalui penafsiran secara logis dari petunjuk atau makna lafazh atau makna keseluruhan kalimat yang dinyatakan dalam nash. Kita sering menyebutnya sebagai pengertian kontekstual. Sedang para ulama menyebutnya dengan istilah mafhûm. Makna ini merupakan akibat (konsekuensi) logis makna yang dipahami secara langsung dari lafazh. Makna ini menjadi kelaziman makna lafazh secara langsung. Artinya makna ini menjadi keharusan atau tuntutan makna lafazh. Dan para ulama menyebutnya sebagai dalâlah al-iltizâm. Dalâlah al-iltizâm ini dapat dibagi menjadi : dalâlah al-iqtidhâ’, dalâlah tanbîh wa al-imâ’, dalâlah isyârah dam dalâlah al-mafhûm yang terdiri dari mafhûm muwâfaqah dan mafhûm mukhâlafah (pengertian berkebalikan). Namun perlu diingat bahwa pengambilan pengertian dari nash syara’ baik secara manthuq maupun secara mafhum tidak boleh keluar dari ketentuan pengambilan pengertian dalam bahasa arab.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Lebih jauh ayat ini juga memerintahkan kita untuk mewujudkan penguasa yang kita wajib mentaatinya. Semua yang dinyatakan oleh Allah adalah benar. Allah Swt juga tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang tidak bisa atau tidak mungkin kita laksanakan. Kewajiban menaati ulil amri itu akan bisa kita laksanakan jika sosok ulil amri itu wujud (ada). Jika tidak ada, maka tidak bisa. Padahal, itu adalah kewajiban dan tidak mungkin Allah salah memberikan kewajiban. Maka sebagai konsekuensi kebenaran pernyataan Allah itu, maka sesuai ketentuan dalâlah al-iltizâm, perintah menaati ulil amri juga merupakan perintah mewujudkan ulil amri sehingga kewajiban itu bisa kita laksanakan. Maka ayat tersebut juga bermakna, realisasikan atau angkatlah ulil amri diantara kalian dan taatilah ia. Yang dimaksud ulil amri dalam ayat ini adalah penguasa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Disamping itu banyak nash yang menjelaskan hukum-hukum rinci baik dalam masalah jihad, perang dan hubungan luar negeri; masalah pidana seperti hukum potong tangan bagi pencuri, qishash bagi pembunuh, jilid atau rajam bagi orang yang berzina, jilid bagi qadzaf (menuduh seseorang berzina dan tidak bisa mendatangkan empat orang saksi) dan sebagainya; hukum masalah muamalah semisal jual beli, utang piutang, pernikahan, waris, persengketaan harta, dan sebagainya. Semua hukum itu wajib kita laksanakan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari sejumlah nash di atas menjadi jelas bahwa kita diperintahkan untuk mendirikan negara dan mengangkat penguasa. Hal itu merupakan kewajiban, Juga jelas bahwa negara dan penguasa yang wajib kita wujudkan itu bukan sembarang negara dan sembarang penguasa. Akan tetapi negara yang wajib kita wujudkan itu adalah negara yang menerapkan hukum-hukum Allah. Karena pendirian negara itu adalah dalam rangka melaksanakan kewajiban menghukumi segala sesuai dengan hukum-hukum Allah. Sedangkan penguasa yang wajib kita angkat melihat dari nash-nash diatas haruslah berasal dari kalangan kita yakni kaum muslim karena dalam QS. an-Nisa ayat 59 itu disebutkan minkum (dari kalian), sementara kalian yang dimaksud adalah kaum mukmin. Dan sifat yang kedua adalah bahwa penguasa itu kita angkat untuk menerapkan hukum-hukum Islam. Karena ia kita angkat dalam rangka melaksanakan kewajiban menghukumi sesuai hukum Allah. Semua ini menegaskan kepada kita bahwa metode satu-satunya untuk menerapkan Islam secara total adalah negara (daulah).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

” Dalam konsep Pancasila gagasan Soekarno, rumusannya hanya disebutkan ”Ketuhanan” dan ditempatkan sebagai sila kelima dan tidak ada frasa ”dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya.” Menjelang pembukaan sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945, Mohammad Hatta mengusulkan perubahan rancangan Pembukaan UUD 1945 karena dia menerima keberatan terhadap frasa ”dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya” dari kalangan Kristen yang tinggal di bagian timur Indonesia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kata negara, yang dalam bahasa Arab merupakan padanan kata daulah, sebenarnya merupakan kata asing. Artinya, kata ini tidak dikenal sebelumnya oleh orang-orang Arab pada masa jahiliyah maupun pada masa datangnya Islam. Wajar, jika kata tersebut—yang dipadankan dengan kata negara dalam bahasa Indonesia—tidak ditemukan dalam al-Quran maupun as-Sunnah. Ibn al-Mandzur (w. 711H/1211M), yang mengumpulkan seluruh perkatan orang Arab asli di dalam kamusnya yang amat terkenal, Lisân al-‘Arab, juga membuktikan bahwa kata daulah tidak pernah digunakan oleh orang-orang Arab dengan pengertian negara. Ia hanya mengatakan bahwa kata daulah atau dûlah sama maknanya dengan al-‘uqbah fî al-mâl wa al-harb (perputaran kekayaan dan peperangan); artinya suatu kumpulan secara bergilir menggantikan kumpulan yang lain. Kata daulah dan dûlah memiliki makna yang berbeda. Di antaranya ada yang berarti al-idâlah al-ghâlabah (kemenangan). Adâlanâ Allâh min ‘aduwwinâ (Allah telah memenangkan kami dari musuh kami) merupakan arti dari kata daulah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ibn Khaldun juga menggunakan kata Daulah Islâmiyyah (Negara Islam). Artinya, kata daulah disifati dengan kata Islamiyyah untuk menyebut al-khilâfah3. Ia memberikan sifat Islamiyah (Islam) terhadap kata daulah (negara), karena kata daulah (negara) memiliki arti umum, mencakup negara Islam dan bukan Islam. Akan tetapi, jika kata daulah digandengkan dengan kata Islamiyyah, maka artinya sama dengan al-khilâfah. Oleh karena itu, kata Daulah Islamiyah (Negara Islam) hanya memiliki satu makna, yaitu Khilafah. Di luar itu (selain Negara Islam), Ibn Khaldun sendiri cenderung menggunakan istilah al-mulk (kerajaan) atau ad-daulah (negara) saja.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berdasarkan uraian di atas, negara-negara seperti Iran, Sudan, dan Arab Saudi, tidak bisa dikategorikan sebagai dâr al-Islam, atau Daulah Islamiyah (Negara Islam), atau Khilafah Islamiyah. Memang benar, negara-negara tersebut menerapkan hukum Islam, tetapi secara parsial, yakni terbatas pada hukum hudûd, jinâyat, dan al-ahwâl as-syakhshiyyah (hukum perdata). Sebaliknya, negara-negara tersebut tidak menjalankan hukum-hukum di bidang ekonomi, pemerintahan, politik dalam dan luar negeri, militer, pergaulan sosial, pendidikan, dan lain-lain. Apalagi negara seperti Arab Saudi, sistem keamanannya sangat bergantung pada AS dan sekutunya (Ingat keberadaan ribuan tentara AS di Arab Saudi). Bahkan, saat ini, tidak ada satu negeri Islam pun yang terkategori sebagai Daulah Islamiyah (Negara Islam), Khilafah Islamiyah, atau dâr al-Islam. Yang ada hanyalah negeri-negeri Islam (bilâd Islamiyah).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Term Civil Society atau “Masyarakat Madani”, merupakan wacana dan fokus utama bagi masyarakat dunia sampai saat ini . Apalagi di abad ke-21 ini, kebutuhan dan tuntutan atas kehadiran bangunan masyarakat madani, bersamaan dengan maraknya issu demokratisasi dan HAM. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, sejauh manakah Islam merespon masyarakat tersebut. Jawabannya adalah bahwa Islam yang ajaran dasarnya Alquran, adalah shālih li kulli zamān wa makān (ajaran Islam senantiasa relevan dengan situasi dan kondisi). Karena demikian halnya, maka jelas bahwa Alquran memiliki konsep tersendiri tentang masyarakat madani.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Indikator dalam menentukan kemakmuran suatu bangsa sangat tergantung pada situasi dan kondisi serta kebutuhan masyarakatnya. Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia mencuatkan suatu kemakmuran yang didambakan yaitu terwujudnya masyarakat madani. Munculnya istilah masyarakat madani pada era reformasi ini, tidak terlepas dari kondisi politik negara yang berlangsung selama ini. Sejak Indonesia merdeka, masyarakat belum merasakan makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Pemerintah atau penguasa belum banyak member kesempatan bagi semua lapisan masyarakat mengembangkan potensinya secara maksimal. Bangsa Indonesia belum terlambat mewujudkan masyarakat madani, asalkan semua potensi sumber daya manusia

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Terdapat kata kunci yang bisa menghampiri kita pada konsep masyarakat madani (civil society), yakni kata “ummah” dan “madinah”. Dua kata kunci yang memiliki eksistensi kualitatif inilah yang menjadi nilai-nilai dasar bagi terbentuknya masyarakat madani. Kata “ummah” misalnya, yang biasanya dirangkaikan dengan sifat dan kualitas tertentu, seperti dalam istilah-istilah “ummah Islamiyah, ummah Muhammadiyah, khaira ummah dan lain-lain, merupakan penata sosial utama yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW segera setalah hijrah di Madinah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hal di atas menunjukan bahwa konsep “ummah” mengundang konotasi sosial, ketimbang konotasi politik. Istilah-istilah yang sering dipahami sebagai cita-cita sosial Islam dan memiliki konotasi politik adalah “khilafah”, “dawlah”, dan “hukumah”. Istilah pertama, “khilafah”, disebutkan sembilan kali dalam al-Qur’an, tapi kesemuanya bukan dalam konotasi sistem politik, tapi dalam konteks misi kehadiran manusia di muka bumi. Oleh karena itu, penisbatan konsep “khilafah” dengan institusi politik tidak mempunyai landasan teologis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kata “hukumah” yang diartikan pemerintah juga tidak terdapat dalam al-Qur’an. Al-Qur’an memang banyak menyebut bentuk-bentuk dari akar kata “hukumah” yaitu “hukama”, tapi dalam pengertian dan konteks yang berbeda. Ayat-ayat al-Qur’an yang dipakai untuk menunjukan adanya pemerintahan Islam, seperti yang terdapat dalam teori “hakamiyan” (pemerintahan ilahi) adalah dala surah al-Maidah ayat 44, 45, dan 47. Namun, perlu dicatat bahwa pengertian kata-kata “yahkumu” dalam ayat-ayat tersebut tidak menunjukan konsep pemerintahan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hal inilah yang tersirat dalam konsep “madinah”, satu kata kunci yang lain yang terjalin erat dalam pembangunan masyarakat madani. Jika konsep “ummah” merupakan piranti lunak (software) dari cita-cita sosial Islam (masyarakat madani), maka konsep “madinah” merupakan piranti kerasnya (hardware). “Madinah” yang berarti kota berhubungan dan mempunyai akar kata yang sama dengan kata ‘tamaddun” yang berarti peradaban. Perpaduan pengertian ini membawa suatu persepsi ideal bahwa “madinah” adalah lambang peradaban yang kosmopolit. Bukan suatu kebetulan bahwa kata “madinah” juga merupakan kata benda tempat dari kata “din’ (agama). Korelasi demikian menunjukan bahwa cita-cita ideal agama (Islam) adalah terwujudnya suatu masyarakat kosmopolitan yang berperadaban tinggi sebagai struktur fisik dari umat Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dengan berdasar pada pengertian “masyarakat” dan “madani” yang telah diuraikan maka istilah “masyarakat madinah” dapat diartikan sebagai kumpulan manusia dalam satu tempat (daerah/wilayah) di mereka hidup secara ideal dan taat pada aturan-aturan hukum, serta tatanan kemasyarakatan yang telah di-tetapkan. Dalam konsep umum, masyarakat madani tersebut sering disebut dengan istilah civil society (masyarakat sipil) atau al-mujtama’ al-madani, yang pengertiannya selalu mengacu pada “pola hidup masyarakat yang berkeadilan, dan berperadaban”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Istilah masyarakat madani, menurut sebagian kalangan, pertama kali dicetuskan oleh Naquib al-Attas, guru besar sejarah dan peradaban Islam dari Malaysia.[10] Jika ditelusuri lebih jauh, istilah itu sejatinya berasal dari bahasa Arab dan merupakan terjemahan dari al-mujtama al-madany. Jika demikian, besar kemungkinan bahwa istilah yang dicetuskan oleh Naquib al-Attas diadopsi dari karakteristik masyarakat Islam yang telah diaktualisasikan oleh Rasulullah di Madinah, yang kemudian disandingkan dengan konteks kekinian.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Istilah tersebut kemudian diperkenalkan di Indonesia oleh Anwar Ibrahim—yang saat itu menjabat sebagai Deputi Perdana Menteri Malaysia—pada Festival Istiqlal September 1995. Dalam ceramahnya, Anwar Ibrahim menjelaskan secara spesifik terkait karakteristik masyarakat madani dalam kehidupan kontemporer, seperti multietnik, kesalingan, dan kesedian untuk saling menghargai dan memahami.[11] Inilah yang kemudian mendorong beberapa kalangan intelektual Muslim Indonesia untuk menelurkan karya-karyanya terkait wacana masyarakat madani. Sebut saja di antaranya adalah Azyumardi Azra dalam bukunya “Menuju Masyarakat madani” (1999) dan Lukman Soetrisno dalam bukunya “Memberdayakan Rakyat dalam Masyarakat Madani” (2000).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kemudian di dalam ranah pemikiran Islam belakangan ini, substansi, karakteristik, dan orientasi masyarakat madani yang sesungguhnya seperti kehilangan jejak, Menguat dugaan, hal ini memang sengaja dilakukan oleh beberapa kalangan untuk mereduksi nilai-nilai Islam yang ideal. Setidaknya integrasi konsep masyarakat madani terhadap konsep civil society mengindikasikan kalau diskursus tersebut mengalami pembiasan esensi dan proses integrasinya pun cenderung kompulsif. Inilah kemudian yang menjadi alas an utama betapa perlunya menghadirkan kembali dan menarasikan secara utuh, ide-ide dalam masyarakat madani yang pernah diaktualkan Rasulullah di Madinah dalam pembahasan ini. Sehingga tidak ada lagi tumpang-tindih konsepsi yang mengaburkan cara pandang dan pemahaman khalayak terhadap diskursus ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dengan kondisi geografis yang cukup subur, jauh sebelumnya lahir masyarakat madani, Madinah telah ditempati oleh masyarakat plural yang terdiri dari beragam suku dan aliran kepercayaan. Daerah tersebut dulunya bernama Yatsrib, yang kemudian diganti menjadi Madînah al-Rasûl—atau yang lebih popular disebut Madinah saja—setelah Rasulullah tiba di sana. Setidaknya ada delapan suku yang eksis ketika Rasulullah tiba di Madinah. Selain itu, pada masing-masing suku terdapat beragam aliran kepercayaan; seperti penganut agama Islam, penganut agama Yahudi, dan penganut paganisme. Dengan kondisi yang amat plural, dari sini akan terlihat jelas bagaimana Rasulullah merancang sebuah konsep yang sangat ideal dalam rangka membangun masyarakat madani.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pertama, penganut agama Islam yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Merupakan sesuatu yang baru bagi kaum muslimin, jika di Mekah, hak-hak dan kebebasan kebebasan kaum muslimin dalam beribadah dan berinteraksi sosial dipasung sedemikian rupa, berikut ketiadaan basis dan kekuatan untuk melakukan konsolidasi dan proses islamisasi. Maka keadaan di Madinah berbalik 180° dari keadaan di Mekah, kini mereka memiliki basis dan kekuatan yang mumpuni—di samping melakukan konsolidasi dan proses islamisasi—untuk menggerakkan dan mengelola berbagai sektor kehidupan bermasyarakat dan bernegara; seperti sektor ekonomi, politik, pemerintahan, pertahanan, dan lain-lain.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kedua, penganut agama Yahudi, yang terdiri dari tiga kabilah besar, yaitu Bani Qaynuqa, Bani Nadhir, dan Bani Qurayzha. Ketiga kabilah inilah yang dulu menghegemoni konstelasi politik dan perekonomian di Madinah, hal tersebut disebabkan karena keahlian dan produktivitas mereka dalam bercocok tanam dan memandai besi. Sementara kabilah-kabilah Arab yang lain masih hidup dalam keadaan nomadik, atau karena keterbelakangan mereka dalam hal tersebut. Adapun imbasnya adalah pengaruh mereka yang begitu besar dalam memainkan peranannya yang cenderung destruktif dan provokatif terhadap kabilah-kabilah selain mereka. Hal tersebut berlangsung dalam tempo yang sangat lama, hingga akhirnya Rasulullah tiba di Madinah dan secara perlahan mereduksi pengaruh kaum Yahudi yang oportunistis tersebut dengan prinsip-prinsip agung Islam yang konstruktif dan solutif.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Setelah membaca dan memahami karakter ketiga golongan tersebut, barulah Rasulullah melakukan konsepsi—yang tidak lain merupakan wahyu—yang dilanjutkan dengan aktualisasi konkret terhadap konsep tersebut. Jika orientasi dakwah Rasulullah di Mekah adalah memperkokoh akar keimanan para pengikutnya, maka orientasi Rasulullah di Madinah adalah membangun tatanan keislaman yang meliputi penyampaian dan penegakan syariat Tuhan secara utuh, dan tatanan kemasyarakatan yang meliputi pembangungan masyarakat yang memegang teguh prinsip-prinsip agung Islam, berikut nilai dan norma yang ada pada al-Qurʼan dan petunjuk Nabi. Sementara terkait dengan penganut kepercayaan lain, seperti kaum Yahudi dan kaum Musyrikin, Nabi membuat sebuah piagam kebersamaan untuk memperkokoh stabilitas sosial-politik antarwarga Madinah. Piagam inilah yang kemudian disebut sebagai Piagam Madinah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jika dicermati secara komprehensif, maka di dalam ajaran Islam terdapat karakteristik-karakteristik universal baik dalam konteks relasi vertikal, maupun relasi horizontal. Dalam hal ini Yusuf al-Qaradhawi mencatat, ada tujuh karakteristik universal tersebut, yang kemudian ia jelaskan secara spesifik di dalam bukunya al-Khashâ’ish al-ʻAmmah li al-Islâm. Ketujuh karakteristik tersebut antara lain; ketuhanan (al-rabbâniyah), kemanusiaan (al-insâniyyah), komprehensifitas (al-syumûliyah), kemoderatan (al-wasathiyah), realitas (al-wâqi`iyah), kejelasan (al-wudhûh), dan kohesi antara stabilitas dan fleksibelitas (al-jam’ bayna al-tsabât wa al-murûnah).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ketujuh karakteristik inilah yang kemudian menjadi paradigma integral setiap Muslim dari masa ke masa. Dari ketujuh karakteristik tersebut, ada dua karakteristik fundamental yang menjadi tolak ukur pembangunan masyarakat madani, yaitu humanisme (al-insâniyyah) dan kemoderatan (al-wasathiyyah). lima karakteristik yang lain—kecuali al-rabbâniyyah—setidaknya bisa diintegrasikan ke dalam kategori toleran (al-samâhah). Karena al-rabbâniyah, menurut al-Qaradhawi, merupakan tujuan dan muara dari masyarakat madani itu sendiri. Pengintegrasian karakteristik-karakteristik tersebut tidak lain merupakan upaya untuk menyederhanakan konsep masyarakat madani yang dibahas dalam makalah ini, sebab Islam sendiri—menurut Umar Abdul Aziz Quraysy—merupakan agama yang sangat toleran, baik di dalam masalah akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlaknya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengatakan bahwa manusia—berdasarkan fitrahnya—memiliki tendensi untuk melakukan hal-hal yang bersifat konstruktif dan destruktif sekaligus. Dalam hal ini, lingkungan memberikan pengaruh yang begitu kuat dalam membentuk karakter dan kepribadian seseorang. Islam, sebagai agama paripurna, diturunkan tiada lain untuk mengarahkan manusia kepada hal yang bersifat konstruktif dan mendatangkan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam permasalahan ini, manusia diberikan kebebasan untuk memilih jalannya sendiri tatkala telah dijelaskan, mana yang baik dan mana yang buruk; mana yang terpuji dan mana yang tercela.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jika kaum kapitalis lebih menjadikan manusia sebagai sosok egois dan pragmatis, sehingga cenderung mendiskreditkan aspek-aspek sosial dengan mengatasnamakan kebebasan personal; kaum sosialis melakukan sebaliknya, yaitu cenderung mengebiri hak-hak personal dengan mengatasnamakan kepentingan sosial. Di sinilah Islam dengan karateristiknya yang spesial, memiliki cara tersendiri dalam upaya untuk mengatur tatanan kehidupan manusia. Islam berhasil mengatur hak-hak personal dan hak-hak sosial secara seimbang, sehingga melahirkan nilai-nilai persaudaraan, kesetaraan, dan kebebasan universal.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hal lain yang perlu ditekankan pada poin ini adalah bagaimana Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan berdasarkan naluri dan tabiat manusia itu sendiri. Secara naluriah, setiap manusia memiliki keinginan untuk hidup aman, damai, dan sejahtera dalam konteks personal maupun komunal. Manusia juga telah diberikan berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk Allah lainnya. Dengan keistimewaan-keistimewaan tersebut, manusia dianggap sebagai makhluk yang paling sempurna. Kesepurnaan itu akan berimplikasi pada kesempurnaan tatanan hidup bermasyarakat jika manusia mengikuti instruksi-instruksi Allah sebagaimana yang dijelaskan dalam Surat al-Isrâ’ ayat 23-34.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Yang dimaksud dengan Islam yang moderat adalah keseimbangan ajaran Islam dalam berbagai dimensi kehidupan manusia, baik pada dimensi vertikal (al-wasathiyah al-dîniyah) maupun horizontal (al-tawâzun al-ijtimâʻiy). Kemoderatan inilah yang membedakan substansi ajaran Islam yang diajarkan Rasulullah dengan ajaran-ajaran lainnya, baik sebelum Rasulullah diutus maupun sesudahnya. Secara etimologis, kata ‘moderat’ merupakan terjemahan dari al-wasathiyah yang memiliki sinonim al-tawâzun (keseimbangan) dan al-iʻtidal (proporsional). Dalam hal ini Allah menjelaskan karakteristik umat Rasulullah sebagai umat yang moderat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jadi, kemoderatan merupakan salah satu karakteristik fundamental Islam sebagai agama paripurna. Kemoderatan inilah yang sesungguhnya sangat kompatibel dengan naluri dan fitrah kemanusiaan. Kemoderatan ini juga yang membuat Islam dengan mudah diterima akal sehat dan nalar manusia. Diakui atau tidak, nilai-nilai kemoderatan inilah yang menjadi lambang supremasi universalitas ajaran Islam sebagai agama penutup, yang mengabolisikan ajaran Yahudi yang memiliki tendensi ekstremis dengan membunuh para Nabi dan Rasul yang Allah utus kepada mereka, sedangkan ajaran Nasrani memiliki tendensi eksesif dengan menuhankan Nabi Isa al-Masih dan lain-lain.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari kemoderatan inilah konsepsi-konsepsi kemasyarakatan yang asasi diturunkan menjadi konsep yang utuh dalam membangun masyarakat Madinah yang solid dan memegang teguh nilai-nilai dan norma keislaman. Konsep-konsep kemasyarakatan tersebut adalah keamanan, keadilan, konsistensi, kesolidan, superioritas, dan kesentralan. Konsep integral inilah yang kemudian merasuk ke alam bawah sadar setiap masyarakat madinah yang diiringi dengan aktualisasi konsep tersebut secara multidimensi, sehingga lambat laun konsep tersebut menjadi identitas eternal keislaman yang diajarkan Rasulullah di Madinah dan menjadi masyarakat percontohan bagi siapa saja yang datang setelahnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adapun teks-teks dari Hadis mengenai keringanan dan kemudahan tersebut dapat dilihat tatkala Nabi hendak mengutus Muʻadz dan Abu Musa ke negeri Yaman, dalam hal ini Nabi berpesan, “Permudahlah, jangan mempersulit.” Masih dalam konteks yang sama, Nabi bahkan mengafirmasi bahwa ajaran agama Islam memang penuh dengan kemudahan dan fleksibelitas. Di samping itu, Aisyah pernah bercerita tentang tabiat sang Nabi yang senang dengan kemudahan dan fleksibelitas, ia mengatakan, “Tidak pernah Nabi diberi pilihan kecuali ia memilih yang paling mudah di antaranya, asalkan tidak ada larangan untuk hal tersebut.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Inilah bentuk kemudahan dan fleksibelitas ajaran Islam, dan tentu masih banyak teks-teks al-Qur’an dan Hadis yang menjadi bukti eternal betapa ajaran Islam sangat mencintai kemudahan, kasih sayang, dan kedamaian bagi para pemeluknya, maupun terhadap mereka yang berbeda agama, sebagai upaya mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai dan norma keislaman. Sehingga ajaran Islam yang mengarahkan kepada kekerasan dan sikap kompulsif tidak akan didapati sedikit pun, kecuali pada dua hal; pertama, ketika berhadapan dengan musuh di dalam peperangan, bahkan Allah memerintahkan untuk bersikap keras, berani, dan pantang mundur. Hal tersebut diperintahkan sebagai bentuk konsekuensi dari keadaan yang tidak memungkinkan untuk bersikap lunak dan lemah lembut, agar totalitas berperang benar-benar tejaga, untuk meraup kemenangan yang gemilang. Kedua, sikap kompulsif dalam menegakkan dan mengaktualkan hukuman syariat tatkala dilanggar. Dalam hal ini Allah tidak menghendaki adanya rasa iba hati dan belas kasih, sehingga hukuman tersebut urung diaktualkan. Sikap kompulsif ini tiada lain merupakan upaya untuk menghindari penyebab terganggunya konstelasi kehidupan bermasyarakat yang bermartabat dan menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma kemanusiaan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada tataran aplikasi realnya, jika kita cermati hukum-hukum Islam seperti salat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain, kita akan mendapati kemudahan dan fleksibelitas di sana. Kita juga akan mendapati berbagai indikasi augmentatif yang—secara tidak langsung—mengukuhkan eksistensi setiap anggota masyarakat sebagai khalifah di muka bumi, baik aspek personal maupun sosial, seperti peningkatan mutu kepribadian seseorang, baik yang berbentuk konkret maupun abstrak; atau perintah untuk membangkitkan kepekaan sosial yang dibangun atas dasar persaudaraan, egalitarianisme, dan solidaritas. Karena itu, dalam perjalanan sejarahnya syariat Islam tidak pernah menghambat laju peradaban. Islam justru selalu mendorong umat manusia untuk melakukan inovasi demi kemaslahatan manusia banyak. Islamlah yang senantiasa menyeru umat manusia untuk tekun menuntut ilmu dan melakukan berbagai kegiatan ilmiah guna menunjang eksistensi mereka di dunia ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sedangkan jika kata toleran dikatikan dengan Nonmuslim, maka yang dimaksud adalah nilai-nilai toleransi yang dipahami oleh khalayak pada umumnya. Dalam hal ini, ajaran Islam sangat menghargai perbedaan keyakinan. Mereka yang berbeda keyakinan akan mendapatkan hak-hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara. Dengan kata lain, Islam benar-benar menjamin keselamatan dan keamanan jiwa raga mereka, selama mereka mematuhi ketentuan-ketentuan yang telah disepakati bersama. Darah mereka haram ditumpahkan sebagaimana darah kaum Muslimin. Allah berfirman, Q.S al-An’am ayat 151

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

” Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, “dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Umar Abdul Aziz Quraisyi menjelaskan bahwa sikap toleran Islam terhadap penganut agama lain dibangun atas empat dasar: pertama, dasar nilai-nilai keluruhan sebagai sesama manusia, meskipun dari beragam agama, etnis, dan kebudayaan; kedua, dasar pemikiran bahwa perbedaan agama merupakan kehendak Allah semata; ketiga, dasar pemikiran bahwa kaum Muslim tidak berhak sedikit pun untuk menjustifikasi kecelakaan mereka yang berlainan keyakinan selama di dunia, karena hal itu merupakan hak prerogatif Allah di akhirat kelak; sedangkan keempat adalah pemikiran bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berbuat adil dan berakhlak mulia, meskipun terhadap mereka yang berlainan agama.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berdasar pada permasalahan yang telah ditetapkan, dan kaitannya dengan uraian-uraian yang telah dipaparkan, maka dapat dirumuskan kesimpulan bahwa Masyarakat madani secara umum adalah sekumpulan orang dalam suatu bangsa atau negara di mana mereka hidup secara ideal dan taat pada aturan-aturan hukum, serta tatanan kemasyarakatan yang telah ditetapkan. Masyarakat seperti ini sering disebut dengan istilah civil society (masyarakat sipil) atau yang pengertiannya selalu mengacu pada “pola hidup masyarakat yang tebaik, berkeadilan, dan berperadaban”. Dalam istilah Alquran , kehidupan masyarakat madani tersebut dikontekskan dengan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafūr.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Untuk mewujudkan masyarakat madani dan agar terciptanya kesejahteraan umat maka kita sebagai generasi penerus supaya dapat membuat suatu perubahan yang signifikan. Selain itu, kita juga harus dapat menyesuaikan diri dengan apa yang sedang terjadi di masyarakat sekarang ini. Agar di dalam kehidupan bermasyarakat kita tidak ketinggalan berita. Adapun beberapa kesimpulan yang dapat saya ambil dari pembahasan materi yang ada di bab II ialah bahwa di dalam mewujudkan masyarakat madani dan kesejahteraan umat haruslah berpacu pada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang diamanatkan oleh Rasullullah kepada kita sebagai umat akhir zaman. Sebelumnya kita harus mengetahui dulu apa yang dimaksud dengan masyarakat madani itu dan bagaimana cara menciptakan suasana pada masyarakat madani tersebut, serta ciri-ciri apa saja yang terdapat pada masyarakat madani sebelum kita yakni pada zaman Rasullullah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selain memahami apa itu masyarakat madani kita juga harus melihat pada potensi manusia yang ada di masyarakat, khususnya di Indonesia. Potensi yang ada di dalam diri manusia sangat mendukung kita untuk mewujudkan masyarakat madani. Karena semakin besar potensi yang dimiliki oleh seseorang dalam membangun agama Islam maka akan semakin baik pula hasilnya. Begitu pula sebaliknya, apabila seseorang memiliki potensi yang kurang di dalam membangun agamanya maka hasilnya pun tidak akan memuaskan. Oleh karena itu, marilah kita berlomba-lomba dalam meningkatkan potensi diri melalui latihan-latihan spiritual dan praktek-praktek di masyarakat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adapun secara terminologis, masyarakat madani adalah komunitas Muslim pertama di kota Madinah yang dipimpin langsung oleh Rasul Allah SAW dan diikuti oleh keempat al-Khulafa al-Rasyidun. Masyarakat madani yang dibangun pada zaman Nabi Muhammad SAW tersebut identik dengan civil society, karena secara sosio-kultural mengandung substansi keadaban atau civility. Model masyarakat ini sering dijadikan model masyarakat modern, sebagaimana yang diakui oleh seorang sosiolog Barat, Robert N. Bellah, dalam bukunya The Beyond of Belief (1976). Bellah, dalam laporan penelitiannya terhadap agama-agama besar di dunia, mengakui bahwa masyarakat yang dipimpin Rasul Allah SAW itu merupakan masyarakat yang sangat modern untuk zaman dan tempatnya, karena masyarakat Islam kala itu telah melakukan lompatan jauh ke depan dengan kecanggihan tata sosial dan pembangunan sistem politiknya (Hatta, 2001:1).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Nabi Muhammad SAW melakukan penataan negara tersebut, dengan cara: pertama, membangun infrastruktur negara dengan masjid sebagai simbol dan perangkat utamanya. Kedua, menciptakan kohesi sosial melalui proses persaudaraan antara dua komunitas yang berbeda, yaitu Quraisy dan Yatsrib, serta komunitas Muhajirin dan Anshar dalam bingkai solidaritas keagamaan. Ketiga, membuat nota kesepakatan untuk hidup berdampingan dengan komunitas lain, sebagai sebuah masyarakat pluralistik yang mendiami wilayah yang sama, melalui Piagam Madinah. Keempat, merancang sistem negara melalui konsep jihad fi sabilillah (berjuang di jalan Allah).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dengan dasar ini, negara dan masyarakat Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW merupakan negara dan masyarakat yang kuat dan solid. Peristiwa hijrah telah menciptakan keberagaman penduduk Madinah. Penduduk Madinah tidak terdiri dari Suku Aus, Khazraj dan Yahudi saja, tetapi juga Muhajirin Quraisy dan suku-suku Arab lain. Nabi SAW menghadapi realitas pluralitas, karena dalam struktur masyarakat Madinah yang baru dibangun terdapat beragam agama, yaitu: Islam, Yahudi, Kristen, Sabi’in, dan Majusi—ditambah ada pula yang tidak beragama (atheis) dan bertuhan banyak (polytheis). Struktur masyarakat yang pluralistik ini dibangun oleh Nabi SAW di atas pondasi ikatan iman dan akidah yang nilainya lebih tinggi dari solidaritas kesukuan (ashabiyah) dan afiliasi-afiliasi lainnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selain itu, masyarakat pada saat itu terbagi ke dalam beberapa kelompok yang didasarkan atas ikatan keimanan, yaitu: mu’minun, munafiqun, kuffar, musyrikun, dan Yahudi. Dengan kata lain, masyarakat Madinah pada saat itu merupakan bagian dari komunitas masyarakat yang majemuk atau plural. Kemajemukan masyarakat Madinah diawali dengan membanjirnya kaum Muhajirin dari Makkah, hingga kemudian mengakibatkan munculnya persoalan-persoalan ekonomi dan kemasyarakatan yang harus diantisipasi dengan baik. Dalam konteks itu, sosialisasi sistem persaudaraan menjadi kebutuhan mendesak yang harus diwujudkan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Nabi Muhammad SAW bersama semua unsur penduduk madinah secara konkret meletakkan dasar-dasar masyarakat Madinah yang mengatur kehidupan dan hubungan antarkomunitas, yang merupakan komponen masyarakat majemuk di Madinah. Kesepakatan hidup bersama yang dituangkan dalam suatu dokumen yang dikenal sebagai “Piagam Madinah” (Mitsaq al-Madinah) dianggap sebagai konstitusi tertulis pertama dalam sejarah manusia. Piagam ini tidak hanya sangat maju pada masanya, tetapi juga menjadi satu-satunya dokumen penting dalam perkembangan konstitusional dan hukum di dunia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dengan kemajemukan tersebut, Nabi Muhammad SAW mampu mempersatukan mereka. Fakta ini didasarkan pada: pertama, mereka hidup dalam wilayah Madinah sebagai tempat untuk hidup dan bekerja bersama. Kedua, mereka bersedia dipersatukan dalam satu umat untuk mewujudkan kerukunan dan kemaslahatan secara bersama-sama. Ketiga, mereka menerima Muhammad SAW sebagai pemimpin tertinggi dan pemegang otoritas politik yang legal dalam kehidupan. Otoritas tersebut juga dilengkapi dengan institusi peraturan yang disebut Piagam Madinah yang berlaku atas seluruh individu dan setiap kelompok.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Muhammad Abduh dalam tafsirnya, al-Manar, mengakui bahwa agama bukanlah satu-satunya faktor ikatan sosial dalam suatu umat, melainkan ada faktor universal yang dapat mendukung terwujudnya suatu umat, yaitu unsur kemanusiaan. Karenanya unsur kemanusiaan sangat dominan dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial atau makhluk politik. Demikian juga Muhammad Imarah, dalam karyanya berjudul Mafhum al-Ummah fi Hadharat al-Islam, menyatakan bahwa umat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah merupakan umat yang sekaligus bersifat agama dan politik (Bahri, 2001).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perbedaan akidah atau agama di antara mereka tidak menjadi alasan untuk tidak bersatu-padu dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Oleh karena itu, gagasan dan praktik membentuk satu umat dari berbagai golongan dan unsur sosial pada masa itu merupakan sesuatu yang baru, yang belum pernah dilakukan oleh kelompok masyarakat manapun sehingga seorang penulis Barat, Thomas W Arnold menganggapnya sebagai awal dari kehidupan berbangsa dalam Islam, atau merupakan kesatuan politik dalam bentuk baru yang disatukan oleh Piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Konstitusi Piagam Madinah, yang berjumIah 47 pasal itu (Sukardja, 1995:47-57), secara formal mengatur hubungan sosial antarkomponen dalam masyarakat. Pertama, antar sesama Muslim. Bahwa sesama Muslim itu satu umat walaupun mereka berbeda suku. Kedua, hubungan antara komunitas Muslim dengan non-Muslim didasarkan pada prinsip bertetangga yang baik, saling membantu dalam menghadapi musuh bersama, membela mereka yang teraniaya, saling menasihati, dan menghormati kebebasan beragama. Dari Piagam Madinah ini, setidaknya ada dua nilai dasar yang tertuang sebagai dasar atau fundamental dalam mendirikan dan membangun negara Madinah. Pertama, prinsip kesederajatan dan keadilan (al-musawah wa al-’adalah). Kedua, inklusivisme atau keterbukaan. Kedua prinsip ini, ditanamkan dalam bentuk beberapa nilai humanis universal lainnya, seperti konsistensi (iltizam), seimbang (tawazun), moderat (tawassut), dan toleransi (tasamuh). Kesemuanya menjadi landasan ideal sekaligus operasional dalam menjalin hubungan sosial-kemasyarakatan yang mencakup semua aspek kehidupan, baik politik, ekonomi maupun hukum.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada masa awal Nabi SAW membangun Madinah, peran kelompok-kelompok masyarakat cukup besar dalam pengambilan keputusan, sebagaimana tercermin dalam Piagam Madinah. Tetapi seiring dengan semakin banyaknya wahyu yang turun, sistem negara Madinah masa Nabi kemudian berkembang menjadi “sistem teokrasi”. Negara, dalam hal ini dimanifestasikan dalam figur Nabi SAW yang memiliki kekuasaan amat besar, baik kekuasaan eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Segala sesuatu pada dasarnya dikembalikan kepada Nabi SAW, dan ketaatan umat kepada Nabi SAW pun semakin mutlak sehingga tidak ada kemandirian lembaga masyarakat berhadapan dengan negara.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada masa al-Khulafa’ al-Rasyidun, sistem negara tidak lagi berbentuk teokrasi melainkan “nomokrasi”, yaitu prinsip ketuhanan yang diwujudkan dalam bentuk supremasi syariat. Namun peran masyarakat menjadi lebih besar, di mana hal itu mengindikasikan mulai terbangunnya masyarakat madani. Mereka melakukan kontrol terhadap pemerintah, dan rekrutmen kepemimpinan pun yang didasarkan pada kapasitas individual. Tetapi, setelah masa al-Khulafa’ al-Rasyidun, situasi mulai berubah, peran masyarakat mengalami penyusutan, rekrutmen pimpinan tidak lagi berdasarkan pilihan rakyat (umat), melainkan atas dasar keturunan. Lembaga keulamaan merupakan satu-satunya lembaga masyarakat madani yang masih relatif independen. Pada masa kekhilafahan, yakni dari masa al-Khulafa’ al-Rasyidun sampai menjelang runtuhnya Dinasti Ustmani akhir abad ke-19, umat Islam telah memiliki struktur religio-politik (politik berbasis agama) yang mapan, yakni lembaga legislatif dipegang oleh ulama. Mereka memiliki kemandirian dalam berijtihad dan menetapkan hukum.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Posisi Piagam Madinah adalah sebagai kontrak sosial antara Nabi Muhammad SAW dengan penduduk Madinah yang terdiri dari pendatang Quraisy, kaum lokal Yastrib, dan orang-orang yang menyatakan siap berjuang bersama mereka. Posisi Rasul SAW adalah sebagai pimpinan yang mereka akui bersama, dan telah meletakkan Islam sebagai landasan bermasyarakat dan bernegara. Itulah sebabnya penjanjian tersebut, dalam konteks teori politik, disebut sebagai Piagam Madinah atau Konstitusi Madinah. Di dalamnya, terdapat pasal-pasal yang menjadi hukum dasar sebuah negara kota yang kemudian disebut Madinah (al-Madinah al-Munawarah atau Madinah al-Nabi). Nilai-nilai yang tercermin dalam masyarakat Madinah saat itu pastilah nilai-nilai Islami yang tertuang di dalam Piagam Madinah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kontrak sosial yang dilakukan Nabi SAW itu dinilai identik dengan teori Social Contract dari Thomas Hobbes, berupa perjanjian masyarakat yang menyatakan sumber kekuasaan pemerintah adalah perjanjian masyarakat. Pemerintah memiliki kekuasaan, karena adanya perjanjian masyarakat untuk mengurus mereka. Teori Social Contract J.J. Rousseau bahwa otoritas rakyat dan perjanjian politik harus dilaksanakan untuk menentukan masa depan rakyat serta menghancurkan monopoli yang dilakukan oleh kaum elite yang berkuasa atas nama kepentingan rakyat, juga identik dengan teori Nabi Muhammad SAW ketika membangun ekonomi dengan membebaskan masyarakat dari cengkeraman kaum kapitalis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari uraian di atas, secara terminologis masyarakat madani yang berkembang dalam konteks Indonesia setidaknya berada dalam dua pandangan, yakni: masyarakat Madinah dan masyarakat sipil (civil society). Keduanya tampak berbeda, tetapi sama. Berbeda, karena memang secara historis keduanya mewakili budaya yang berbeda, yakni masyarakat Madinah yang mewakili historis peradaban Islam. Sedangkan masyarakat sipil adalah hasil dari peradaban Barat, seperti telah dipaparkan di atas. Perbedaan lainnya, masyarakat Madinah menjadi tipe ideal yang sangat sempurna, karena komunitas masyarakat dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Apabila masyarakat madani diasosiasikan sebagai penguat peran masyarakat sipil, maka masyarakat madani hanya bertahan di era empat al-Khulafa’ al-Rasyidun. Setelah itu, masyarakat Islam kembali kepada masa monarki, di mana penguasaan negara (state power) kembali menjadi besar, dan peran masyarakat (society participation) menjadi kecil. Oleh sebab itu, ketiga prinsip yang dikemukakan di atas, dapat dikatakan sebagai elemen penting terbentuknya “masyarakat madani”, yaitu masyarakat yang memegang teguh ideologi yang benar, berakhlak mulia, bersifat mandiri secara kultural-politik-ekonomi, memiliki pemerintahan sipil, memiliki prinsip kesederajatan dan keadilan, serta prinsip keterbukaan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dengan demikian, ada konsep baru yang ditawarkan Nabi SAW bahwa negara itu melampaui batas-batas wilayah geografis. Negara itu lebih cocok dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan (basic values of humanity), sebab yang menjadi dasar utama kewarganegaraannya bukan nasionalisme, suku, ras atau pertalian darah. Tetapi manusia dapat memilih konsep hidup tertentu atau akidah tertentu. Manusia secara bebas dan merdeka menentukan pilihan akidahnya, tanpa ada tekanan dan paksaan dari pihak mana pun dan oleh siapa pun. Negara baru yang dibangun Nabi SAW adalah negara ideologi yang didasarkan pada asas kemanusiaan yang terbuka, sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S. al-Baqarah:256.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 71) Masyarakat modern mendambakan sebuah sistem kehidupan dimana elemen-eleman dalam masyarakat mempunyai peranan yang dominan dalam menata kehidupan yang mereka inginkan. Masyarakat yang demikian kerap disebut masyarakat sipil (Civil Society), namun beberapa cendikiawan Muslim di Asia Tenggara lebih suka menggunakan istilah masyarakat madani sebagai gantinya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia masyarakat madani diartikan sebagai, “Masyarakat sipil yang menjunjung tinggi norma, nilai-nilai dan hukum yang ditopang oleh penguasaan teknologi yang berpereradaban, yang didasarkan oleh iman dan ilmu.” Masyarakat madani dalam perspektif al-Qur’an Terkait persoalan masyarakat madani ini, penulis mengemukakan ayat 71 surah at-Taubah sebagai sebuah pandangan dasar tentang karakteristik masyarakat madani yang ideal. Ayat di atas menjelaskan sifat-sifat yang seharusnya disandang oleh orang-orang Mukmin dalam kapasitas mereka sebagai sebuah masyarakat. Dari enam sifat disebut dalam ayat tersebut, sifat pertama menggunakan ungkapan khabari berupa jumlah ismiyyah yang mempunyai makna tetap. Lima sifat berikutnya menggunakan ugkapan khabari juga tapi dalam bentuk jumlah fi’liyyah (kata kerja), yaitu ya’muruna (memerintahkan), Yanhauna (melarang), yuqimuna (menegakkan), yu’tuuna (menunaikan), yuthi’uuna (taat). Penggunaan lima kata kerja ini mempunyai arti bahwa semua pekerjaan itu terus dilaksanakan dari waktu ke waktu sepanjang hayat manusia, sebagai proses yang tiada henti. Dalam Islam, hidup adalah ibadah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kehidupan di dunia harus diisi dengan kegiatan yang diniatkan untuk mengabdi kepada Allah. Dalam Islam kehidupan dunia adalah ladang amal dan bekerja, bukan alam pembalasan. Sebaliknya, kehidupan akhirat adalah alam pembalasan bukan ladang untuk bekerja. Penjabaran enam sifat masyarakat madani Qur’ani adalah seperti berikut: Pertama: Iman yang merupakan landasaan ideal dan spiritual dari sebuah masyarakat. Setiap mukmin harus menjadi auliya bagi mukmin lainnya. Maknanya adalah mereka saling mengasihi, menyayangi, tolong menolong dalam kebaikan, karena adanya kedekatan di antara mereka atas dasar kesamaan dalam beberapa hal yang sangat prinsip dalam kehidupan, yaitu akidah (tauhid), pedoman hidup (al-Qur’an dan sunnah), dan tujuan hidup (meraih keridhaan Allah, bahagia di dunia dan akhirat) Persamaan dalam tiga unsur tersebut diharapkan akan memicu sinergi antara satu dengan lainnya. Kasih sayang (rahmah), empati (Ihtimam bilghair), tidak egoistis (ananiyah), akan menjadikan hidupan ini semakin berarti dan menjadi indah. Inilah sistim kehidupan yang dikehendaki Allah dan menjadi dambaan semua masyarakat dunia. Akan halnya hubungan Muslim dengan masyarakat non-Muslim, pola kehidupan yang diinginkan adalah rasa saling menghargai, menghormati, atas dasar prinsip kemanusiaan. Kedua dan ketiga: Hak, Kewajiban dan Kesadaran hukum. Sesama mukmin handaklah terus melakukan amar ma’ruf, yaitu memerintahkan yang lain untuk berbuat kebaikan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Maksud kebaikan di sini adalah segala yang dipandang baik oleh agama dan akal. Mereka juga saling mencegah berbuat kemungkaran atau suatu perilaku yang dipandang jelek baik menurut agama maupun akal. Segala kewajiban dan anjuran agama, atau sesuatu yang menjadi kebutuhan masyarakat, baik primer maupun sekunder, seperti sektor pangan, pendidikan, kesehatan dan lainnya harus menjadi perhatian bersama, karena mengandung hal-hal yang positif bagi individu dan masyarakat. Hal-hal yang ma’ruf sudah tentu indah karena berisi nilai-nilai kehidupan. Sementara itu setiap larangan agama dipastikan mengandung banyak hal negatif. Maka semua elemen masyarakat harus saling bahu membahu untuk menghindarai hal-hal yang negatif tersebut. Saat ini, bentuk-bentuk kemungkaran telah berkembang bahkan berubah sesuai budaya dan perilaku manusia, walaupun substansinya masih sama dengan apa yang disebutkan dalam al-Qur’an. Dalam bidang ekonomi, memakan harta yang haram dan batil, mempunyai ragam dan bentuknya. Semuanya merugikan orang lain. Contoh yang marak adalah korupsi, kolusi, pungli, manipulasi, suap menyuap, sogok-menyogok, kejahatan “kerah putih” (white colour crime), pencucian uang haram, penggelembungan anggaran (mark up), belanja fiktif dan lain sebagainya. Begitu pula dalam bidang politik, seperti kejahatan politik uang, jual beli suara dalam pemilu, dan lain-lain. Dalam bidang lingkungan terjadi pencemaran, pembabatan hutan, dan perusakan sumber daya alam lainnya. Semua kemungkaran tersebut harus diatasi dengan cara-cara yang bijak dan efektif. Semua kalangan, baik birokrat maupun masyarakat sipil, termasuk di dalamnya LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), pers, organisasi massa, perguruan tinggi, dan lainnya harus saling bahu membahu dalam penanganan kemungkaran ini, dengan mengawasi, menegur, baik lisan maupun tulisan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bisa juga melalui kurikulum di Perguruan Tinggi, seperti kurikulum tentang bahaya korupsi. Penanganan kemungkaran ini dapat dilakukan mulai dengan tindakan halus hingga tindakan tegas dari Ulil Amri atau pemerintah, melalui hukum yang berlaku secara adil. Amar ma’ruf nahi munkar menjadi elemen yang sangat penting dalam kehidupan. Cukuplah menjadi nilai yang tinggi bahwa amar ma’ruf nahi munkar menjadi bagian yang integral bagi umat yang ingin menjadi bagian dari umat terbaik. Bagi masyarakat yang ingin bahagia, beruntung dan sejahtera (falah), harus ada kelompok yang mempunyai tugas mengawal kedua prinsip ini. Tersingkirnya prinsip amar ma`ruf nahi munkar ini akan menyebabkan masyarakat bisa porak poranda. Keempat : Spiritualitas. Sebagai realisasi dari keimanan, yaitu selalu mengerjakan shalat lima waktu, dengan memerhatikan syarat, rukun dan etikanya. Dilakukan secara terus menerus sepanjang hayat dan dikerjakan dengan baik dan khusyu’, agar hikmah shalat berubah menjadi kepribadian seseorang. Shalat adalah hubungan antara hamba dengan Allah. Sebagai refleksi pengabdian manusia kepada Tuhannya. Semangat spiritualitas ini harus terus digelorakan dan didengungkan, agar manusia tidak terpedaya oleh setan yang selalu mengincar manusia untuk digelincirkan dari jalan lurus.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kelima: Kepedulian sosial melalui zakat. Zakat adalah bentuk rasa kesetiakawanan sosial, empati, berbagi dengan orang lain. Dengan zakat, manusia tidak lagi kikir, egois, materialistis. Dengan zakat, kesenjangan ekonomi tidak begitu melebar. Jika zakat adalah sebuah kebijakan agama yang demikian mulia, maka cara menunaikannya juga harus baik, yaitu sesuai dengan ketentuan, diberikan kepada yang berhak, dan pemberi zakat mendatangi sendiri para mustahiknya, seakan dia yang membutuhkan kepada mereka. Keenam : Rujukan Agama. Mengatasi berbagai persoalan kehidupan diperlukan rujukan. Dalam islam rujukan yang betul-betul kredibel adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dalam semua lini kehidupan, baik dalam soal akidah, mu’amalah, ibadah maupun akhlak. Taat kepada Allah berarti taat kepada ajaran yang ada dalam al-Qur’an. Sementara taat kepada rasul adalah taat kepada apa yang ada dalam hadis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Allah yang bersifat rahman dan rahim. Nabi Muhammad yang ditabalkan sebagai Rasul pembawa rahmat bagi alam semesta yang juga santun dan penyayang, akan mengarahkan manusia kepada pekerti yang menguntungkan bagi kehidupan mereka. Dengan adanya rujukan kehidupan berupa al-Qur’an dan sunnah Nabi, maka jalan kehidupan umat Islam menjadi jelas. Loyalitas mereka juga jelas. Pada akhir ayat diatas, Allah memberikan jaminan bahwa masyarakat muslim yang mampu melaksanakan kelima perilaku tersebut akan mendapatkan rahmah atau kasih sayang dari Allah SWT. Hal itu tidaklah berat bagi Allah karena Allah adalah Zat yang Mahaperkasa dan semua kebijakan-Nya pasti mengena dan menuai hasil, karena Allah adalah Zat Yang Mahabijaksana. Apa yang disajikan diatas adalah tawaran al-Qur’an sebagai cara untuk membentuk masyarakat yang penuh dengan nilai dan norma. Pada masa Nabi dan Khulafa’ Rasyidin, semua komponen masyarakat ikut mengawasi jalannya pemerintahan. Pada saat sahabat Umar dilantik menjadi Khalifah, seorang rakyatnya bersumpah bahwa jika Umar menyeleweng, maka dia akan meluruskannya dengan pedang. Al-Qur’an telah memberikan predikat umat Islam pada masa Nabi dan para sahabatnya sebagai umat yang terbaik yang terlahir di muka bumi. Inilah prestasi puncak umat manusia. Nabi sendiri mengatakan bahwa generasi terbaik adalah generasi masanya kemudian dua genarsi setelahnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada saat masyarakat dunia telah terpecah menjadi negara bangsa, dan kekuasaan absolut tidak lagi berada di tangan seseorang, tapi sudah terbagi menjadi tiga kekuatan yaitu Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif, maka secara teori masyarakat madani bisa tercipta manakala semua pihak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Agar semua elemen tiga kekuasaan tersebut berjalan dengan efektif maka yang paling dibutuhkan adalah komitmen seluruh masyarakat untuk saling bahu membahu melaksanakan semua program-program mereka atas dasar nilai-nilai yang ada pada masing-masing penduduk. Tidak masalah jika penduduk satu bangsa berasal dari beragam agama. Namun sebaliknya jika komitmen untuk membangun bangsa sudah memudar, maka yang difikirkan adalah kepentingan pribadi maupun golongan. Mereka saling bantu membantu dalam pelanggaran, seperti kerjasama antara eksekutif, yudikatif dan legislatif, maka bangsa ini tinggal menunggu kehancurannya saja.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

a. Bertuhan, artinya bahwa masyarakat tersebut adalah masyarakat yang beragama, yang mengakui adanya Tuhan dan menempatkan hukum Tuhan sebagai landasan yang mengatur kehidupan social. Manusia secara universal mempunyai posisi yang sama menurut fitrah kebebasan dalam hidupnya,sehingga komitmen terhadap kehidupan social juga dilandasi oleh relativitas manusia di hadapan Tuhan. Landasan hukum Tuhan dalam kehidupan social itu lebih objektif dan adil, karena tidak ada kepentingan kelompok tertentu yang diutamakan dan tidak ada kelompok lain yang diabaikan .

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

f. Berperadapan tinggi, artinya, masyarakat tersebut memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan hidup manusia. Ilmu pengetahuan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia. Ilmu pengetahuan memberi kemudahan umat manusia. Ilmu pengetahuan memberi kemudahan dan meningkatkan harkat martabat manusia, disamping memberikan kesadaran akan posisinya sebagai khalifah ALLAH. Namun,disisi lain ilmu pengetahuan juga bisa menjadi ancaman yang membahayakan kehidupan manusia, bahkan membahayakan lingkungan hidup bila pemanfaatannya tidak disertai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

g. Berakhlak mulia, sekalipun pembentukan akhlak masyarakat dapat dilakukan berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan semata, tetapi realitivitas manusia dapat menyebabkan terjebaknya konsep akhlak yang relative.sifat subjectife manusia sering sukar dihindarkan. Oleh karena itu, konsep akhlak tidak boleh dipisahkan dengan nilai-nilai ketuhanan,sehingga substansi dan aplikasinya tidak terjadi penyimpangan. Aspek ketuhanan dalam aplikasi akhlak memotivasi manusia untuk berbuat tanpa menggantungkan reaksi serupa dari pihak lain.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Umat islam adalah umat yang diberikan kelebihan oleh ALLAH di antara umat manusia yang lain. Umat Islam mempunyai aturan hidup yang sempurna dan sesuai dengan fitrah kehidupannya. Aturan hidup itu sebagai rahmat bagi alam semesta. Ia bersifat universal, mengatur segala aspek kehidupan manusia, terutama bagi kehidupan, islam memberi arahan yang signifikan agar kehidupan manusia selamat dari segala bencana dan azab–Nya. Bagi umat islam, hukum ALLAH telah jelas. Al-qur’an dan sunnah memiliki prioritas utama sebagai sumber rujukan bagi banguan sistem kehidupan yang islami.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Masyarakat Madani memerlukan adanya pribadi-pribadi yang tulus mengikatkan jiwanya kepada wawasan keadilan. Ketulusan jiwa itu hanya terwujud jika orang tersebut beriman dan menaruh kepercayaan terhadap ALLAH. Ketulusan tadi juga akan mendatangkan sikap diri yang menyadari bahwa diri sendiri tidak selamanya benar. Dengan demikian lahir sikap tulus mengahargai sesame manusia, memiliki kesedian memandang orang lain dengan penghargaa, walau betapa pun besarnya perbedaan ang ada, tidak ada saling memaksakan kehendak, pendapat, atau pandangan sendiri.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Umat islam telah memperkenalkan onsep masyarakat peradaban, masyarakat madani adalah Nabi Muhammad, Rasullullah SAW yang memberikan teladan kearah pembentukan masyarakat peradaban tersebut. Setelah perjuangan di kota mekah tidak menunjukan hasil yang berarti, allah telah menunjuk kota kecil, yang selanjutnya kita kenal dengan Madinah, untuk dijadikan basis perjuangan menuju masyarakat peradaban yang dicita-citakan. Dikota itu nabi meletakkan dasar-dasar masyarakat madani yaitu kebebasan. Untuk meraih kebebasan, khususnya di bidang agama, ekonomi, social dan politik. Nabi diijinkan untuk memperkuat diri dengan membangun kekuatan bersenjata untuk melawan musuh peradaban. Hasil dai proses itu dalam sepuluh tahun, beliau berhasil membangun sebuah tatanan masyarakat yang berkeadilan, terbuka dan demokratis dengan dilandasi ketaqwaan dan ketaatan kepada ajaran islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bagi umat Islam, Nabi Muhammad saw. adalah suri teladan dalam segala bidang kehidupan. Tidak hanya dalam masalah-masalah agama yang terkait dengan hubungan dengan Tuhan, Sang Khalik, tetapi juga dalam persoalan-persoalan yang terkait dengan hubungan dengan sesama Makhluk. Muhammad adalah pribadi yang komplit. Ia adalah seorang Nabi, juru dakwah yang berhasil mengubah bangsa Arab yang polyteis menjadi penganut agama Islam yang mentauhidkan Allah. Ia juga adalah seorang panglima perang yang rela terjung langsung ke medan perang memimpin pasukan Muslim menghadapi musuh. Di sisi lain, ia juga adalah seorang politikus yang mampu mempersatukan bangsa Arab dari berbagai suku dan klan dalam satu komunitas baru, kaum muslimin. Sebuah prestasi yang belum pernah dicapai oleh pemimpin Arab sebelumnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Keberhasilan Muhammad itu tidak diraih dengan mudah, tetapi melalui perjuangan yang sangat keras dan dilakukan secara bertahap dan sistematis. Dari catatan sejarah yang dapat ditelusuri, perjuangan Muhammad ditempuh dalam dua periode, Mekah dan Madinah. Jika pada periode Mekah, peran Muhammad lebih ditekankan pada bagaimana mengajak orang-orang musyrik Mekah untuk mengenal Allah dan mentauhidkannya, serta membentuk fondasi bagi terbentuknya komunitas baru, maka pada periode Medinah, peran Nabi lebih pada bagaimana menata masyarakat yang baru, yaitu masyarakat Madinah yang heterogen dan plural, baik dari segi suku, asal-usul, maupun agama.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Seruan dakwah Muhammad saat di Mekah tidak langsung membuahkan hasil positif. Sebaliknya respons yang muncul dari masyarakat justru sangat menyakitkan. Kebanyakan warga dari masyarakat Quraisy saat itu membalas ajakan Rasulullah dengan intimadasi, sabotase, isolasi, dan kekerasan untuk menghalang-halangi meluasnya ajaran Islam. Namun Nabi tidak frustrasi, justru terpicu untuk berpikir keras untuk mencari alternatif lain dalam mendakwahkan Islam. Hingga sampai pada keputusan untuk memindahkan objek dakwah Islam kepada masyarakat di luar Makkah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Maluku yang hingga kini masih dalam tahap menata kembali masyarakatnya menuju “Maluku Baru” setelah dilanda kerusuhan sosial selama kurang lebih empat tahun terakhir, tidak salah jika mencoba melihat, mempelajari dan mengambil hikmah dari sejarah hidup Nabi Muhammad saw. dan langkah-langkah politik yang apa saja yang dilakukaknnya dalam menata masyarakatnya baik di Mekah maupun di Medinah. Tentu saja tidak seluruh kebijakan Nabi di Madinah saat itu harus ditiru sepenuhnya pada masa sekarang. Sebab bagaimanapun, contoh Nabi di Madinah sangat dikondisikan oleh konteks sosial dan sejarah yang spesifik pada saat itu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hijrah merupakan momen yang paling menetukan dalam perjalanan karier Nabi Muhammad di masa-masa selanjutnya. Bagi umat Islam, hijrah mengandung arti kelahiran kembali agama bebas dan baru, Islam yang tak lama sesudah itu memulai derap kemajuannya yang tak tertahankan melintasi jazirah Arab dan sebagian besar dunia. Seperti yang kita saksikan perubahan-perubahan besar yang dialami Nabi dan sahabat-sahaabatnya justru terjadi setelah hijrah. Di Madinahlah Islam mulai menandai era kebangkitan pertamanya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari segi konsep, hijrah memiliki beberapa makna di antaranya. Pertama, meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah SWT. “Dan berbuat dosa tinggalkanlah.” Sebuah hadis Nabi menyebutkan, orang yang hijrah itu ialah orang yang meninggalkan larangan Allah . Kedua, menjauhi hal-hal yang tidak baik dan merusak termasuk pergaulan yang jelak. Tidak mempedulikan ocehan dan hinaan dari mereka yang membenci Islam, harus berusaha menghindari benturan-benturan sosial tanpa melahirkan diri dan mengucilkan diri dari komunitas soial, namun tetap melakukan dakwah dengan aktif dan persuasif. Ketiga, berpindah tempat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hijrah juga tidak harus selalu diartikan sebagai perpindahan seorang tokoh dari suatu tempat ke tempat lain, sebab pada dasarnya apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. adalah sebuah strategi memindahkan pusat perjuangan (ibukota)nya dari Mekah ke Medinah. Mekah saat itu adalah pusat perdagangan yang sangat ramai dikunjungi oleh para saudagar dari luar Arabia, sedangkan Medinah (saat itu bernama Yatsrib) adalah kota terpencil yang kurang begitu dikenal. Muhammad menganggap bahwa Mekah tidak lagi kondusif bagi usaha dakwah yang dilaksanakannya, karena itu, setelah melalui pertimbangan yang matang dan setelah melakukan percobaan pada beberapa daerah lainnya, seperti Thaif, akhirnya ia memilih Medinah sebagai tempat hijrahnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dengan demikian, perpindandahan sebuah ibukota negara atau provinsi adalah hal yang lumrah jika didasari pada pehitungan yang matang, dan itu seharusnya juga dipahami sebagai sebuah bentuk hijrah. Kepadatan penduduk dengan pemukiman yang sempit dan tidak ada lagi lahan bagi pengembangan ke depan, penataan kota yang sembrawut dan tidak terencana dengan baik, sehingga pusat-pusat ekonomi dan perdagangan atau pusat dan kantor-kantor pemerintahan hanya terpusat di suatu daerah tertentu, adalah berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan dalam rangka pemindahan ibukota tersebut. Sebab, faktor-faktor tersebut sangat rawan menimbulkan kecemburuan sosial yang akan berakibat pada munculnya komflik horizontal di antara sesama penduduk.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adapun penamaan Muhajirin bagi orang-orang yang berhijrah bersama Nabi, dan Anshar (orang-orang yang menolong dari Madinah) sama sekali bukan berarti dikotomi atau disklasifikasi penduduk berdasarkan asal-usul mereka. Sebab dalam perkembangannya, ketika persaudaraan di antara mereka telah terwujud, penamaan itu telah hilang dengan sendirinya. Terlebih tidak ada satu aturan pun yang dibuat oleh Nabi saw. yang hanya dikhususkan kepada salah satu di antara kedua kelompok tersebut, sehingga di dalam Islam tidak dikenal istilah “warga kelas dua” ataupun “warga kelas satu”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Suyuthi Pulungan piagam Madinah mengandung beberapa prinsip yang meliputi prinsip kesatuan umat manusia baik bagi muslim maupun nonmuslim, persatuan dan persaudaraan, persamaan, kebebasan, tolong menolong dan membela yang teraniaya, hidup bertetangga, keadilan, musyawarah, pelaksanaan hukum dan sanksi hukum, kebebasan beragama dan hubungan antara pemeluk agama (hubungan antar bangsa/internasional), pertahanan dan perdamaian, amar ma’ruf nahi mungkar, kepemimpinan, tanggung jawab pribadi dan kelompok dan prinsip ketakwaan dan ketaatan (disiplin).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sementara itu, Zubaedi mengatakan konstitusi itu termasuk salah satu bukti yang menunjukkan kapabilitas Muhammad dilihat dari perspektif legislasi, di samping pengetahuannya yang memadai tentang berbagai aspek kehidupan sosial. Penulisan konstitusi dalam waktu yang tidak begitu lama setelah hijrah menunjukkan negara Islam sesungguhnya telah dirancang sebelum hijrah. Lebih jauh ia menjelaskan Dalam konstitusi itu ditemukan kaidah-kaidah umum yang mampu mengakomodasi berbagai hak dan kewajiban para warga. Piagam itu memuat hak-hak golongan minoritas, di antaranya mengakui kebebasan beragama, yakni sebuah kebebasan yang menghormati keanekaragaman agama dan menjamin para pemeluknya untuk menjalankan agamanya. Konstitusi itu juga memandang segala bentuk gangguan dan ancaman terhadap sekelompok orang Islam sebagai ancaman terhadap semua orang Islam dan melarang orang-orang Islam untuk melindungi pembuat kekacauan yang akan menciptakan instabilitas kehidupan sosial. Konstitusi Madinah itu juga mengatur kebebasan berpendapat, perlindungan terhadap hak-hak sipil dan hak hidup, serta memperkenalkan ide nasionalisme dan negara dalam arti luas, toleran, dan humanis. Prinsip itu menjamin persamaan hak dan kewajiban setiap individu, tanpa membedakan ras, bahasa, ataupun kepercayaan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Legitimasi masyarakat terhadap seorang pemimpin merupakan suatu keniscayaan. Jika tidak, maka dalam menjalankan kepemimpinannya, seorang pemimpin akan terus menerus mendapat rongrongan dari masyarakatnya. Saat ini, masalah legitimasi seorang pemimpin boleh jadi tidak lagi merupakan isu penting, terutama setelah diterapkannya undang-undang otonomi daerah. Di mana para pemimpin seperti Gubernur, Bupati dan/atau Walikota telah dipilih secara langsung oleh rakyat. Hanya saja, isu-isu money politic, pengerahan massa, penggunaan ijazah palsu dan isu-isu negatif lainnya, masih saja mengiringi pemilihan langsung tersebut. Hal ini merupakan kontraproduktif terhadap legitimasi yang diharapkan, sebab masyarakat bukannya akan mendukung, melainkan akan terus merongrong kepemimpinan yang diraihnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selama sepuluh tahun kehidupan Nabi Muhammad saw. sebagai kepala negara di Madinah, Salah satu kebijakan utama yang diterapkan adalah pemantapan fondasi sosial ekonomi politik warga Madinah. Saat itu, kaum Yahudilah yang menguasai roda perekonomiaan. Orang-orang Yahudi tersebar di berbagai kantong daerah ekonomi di Madinah dan berprofesi sebagai pelaku ekonomi. Bani Qainuqa, misalnya, adalah kelompok Yahudi yang paling terlibat aktif dalam perdagangan di Madinah. Adapun Banu Nadhir dan Quraizha menguasai pertanian kurma yang subur di selatan kota Madinah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Atas dasar itu pula dapat dipahami mengapa kaum Yahudi Madinah lebih memihak kafir Quraisy Mekah dan menghianati piagam Madinah. Pertama, karena Yahudi Madinah memandang bahwa klehadiran Islam di Madinah dengan serangkaian ajaran moralnya mengancam posisi mereka sebagai elit ekonomi Madinah. Kedua Yahudi Madinah melihat bahwa kehancuran ekonomi Mekah akan menimbulkan ekses bagi perdagangan mereka di Hijaz, khususnya di Thaif, di mana mereka memiliki pusat perdagangan Yahudi yang aktif di sana. Meski Nabi saw sendiri melihat bahwa menghancurkan potensi perdagangan Mekah berarti malah memperkuat jaringan ekonomi Yahudi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Alasan terakhir ini tampak agak paradoks memang, akan tetapi kekhawatiran Muhammad saw ternyata lebih beralasan. Setelah kekuatan kaum Quraisy beserta sekutunya telah dipropagandakan pada perang Khandaq (tahun 5 H), mereka bukanlah lagi musuh yang tangguh bagi kaum muslimin. Nabi saw amat menyadari bahwa penaklukan Mekah adalah soal waktu saja. Akan tetapi beliau sendiri sadar betul akan potensi perdagangan Mekah berikut skill warganya dalam berniaga. Sehingga tatkala Muhammad saw. beserta kaum Muslimin memasuki Mekah (Fath Makkah) pada tahun ke 8 H, beliau tak ingin menaklukkannya dengan kekerasan agar dapat memulihkan kembali kota perdagangan yang telah berantakan itu dan memanfaatkan kemampuan warganya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebagai catatan akhir, penulis perlu menyampaikan beberapa kesimpulan dari uraian di atas. Pertama, Nabi Muhammad saw menjadi kepala negara di Madinah dengan memperoleh legitimasi kekuasaan politik dari akumulasi beberapa peristiwa politik seperti bai’at Aqabah dan kedudukan beliau sebagai abritrator dalam piagam Madinah. Di samping itu, fakta historis menunjukan bahwa beliau selama sepuluh tahun di kota Madinah berada di posisi puncak kepemimpinan politik negara Madinah, sebagai konsekuensi logis dari kemenangan diplomatis maupun militer. Kedua starategi dan kebijakan pemerintahan yang beliau jalankan di Madinah lebih beriorentasi pada poembangunan sosial ekonomi politik. Pembangunan di sektor tersebut berhasil mempersiapkan Madinah sebagai pusat kekuasaan yang meluaskan ekspansi dakwah Islam ke seluruh Jazirah Arab. Bahkan lebih dari itu menjadi embrio bagi lahirnya imperium dan peradaban Islam pada beberapa abad mendatang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tulisan ini bukan jawaban dari pertanyaan sebagian kalangan yang mengatakan: “Apakah Rasulullah Saw seorang politik ulung? Apakah kota Madinah terhitung negara Islam pertama yang memiliki kedaulatan dilihat dari keberhasilan manuver-manuver politik Rasulullah Saw dalam menata pemerintahan?” Ia hadir bukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Yang demikian itu karena kejeniusan Rasulullah Saw dalam memerankan politik Negara Islam telah terbukti dan diamini kebenarannya oleh para ahli tahkik dan pemerhati politik dunia Islam. Di samping itu, kepemimpinannya tidak dapat diukur atau dibandingkan dengan kepemimpinan siapa pun dari mereka yang ditakdirkan jadi pemimpin, corak dan naskah kepemimpinan tunggal yang hanya sekali terjadi dan tidak akan pernah terulang. Yang demikian itu karena kepemimpinannya selalu terkait dengan masalah keimanan. Rasulullah Saw tidak melakukan manuver-manuver politik, jihad, perjanjian damai, kecuali dengan dasar iman yang menjadi penggerak utama perbuatannya, iman yang menjadi tema sentral dari ajaran yang diembannya. Olehnya itu, ia senantiasa dimonitoring oleh wahyu samawi dalam menjalankan kepemimpinannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Hakikat yang dilihat oleh mereka yang jernih menghukumi setiap masalah, muslim atau non-muslim, sesungguhnya invasi Muhammad invasi keimanan dan kekuatan Muhammad kekuatan iman. Tidak ada tanda yang paling mendasar dari setiap usahanya kecuali tanda ini, dan tidak ada alasan lain dari semua itu selain alasan ini. Dia tidak goyah dalam menanamkan nilai-nilai keimanan yang mengesakan Allah meski godaan-godaan duniawi datang menghampirinya, fitnah duniawi yang tidak akan pernah ditemukan di mana pun dan kepada siapa pun kecuali Rasulullah Saw.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Beliau didatangi Atabah bin Rabiah, pemuka kaum Quraisy, di hari-hari pertama dakwah Islam menyinari sudut-sudut kota Mekah. Atabah dengan lembut dan penuh kesopanan menggoda Rasulullah Saw dengan godaan-godaan duniawi supaya ia meninggalkan tugas sucinya setelah mereka putus asa mengintimidasinya: “Wahai putra saudaraku, Anda itu dari kami, Anda yang paling terbaik dari kami dilihat dari nasab dan strata sosial. Tetapi, Anda mendatangi kaum Anda sendiri dengan perkara besar yang telah memecah jamaah mereka, bukan hanya itu, Anda pun memudarkan mimpi-mimpi mereka, memandang hina tuhan-tuhan dan agama mereka, mengkafirkan nenek moyang mereka. Wahai putra saudaraku, dengarkanlah aku! Saya memberikan Anda beberapa pilihan, semoga Anda menerima salah satunya.” Rasulullah Saw menjawab: “Katakanlah wahai Abu al-Walid!” Jawabnya: Wahai putra saudaraku! Jika engkau menginginkan harta dari perkara (Islam) yang engkau datangkan, kami siap mengumpulkan untukmu dari harta-harta kami sehingga Anda yang terkaya, dan jika Anda ingin kemuliaan, kami pun siap menobatkan Anda tuan terhadap kami sehingga kami tidak memutuskan sebuah perkara kecuali denganmu, dan jika Anda ingin kekuasaan, kami juga siap mengukuhkanmu sebagai raja kami, dan jika yang mendatangimu itu pengaruh jin yang sulit ditepis, kami akan mencari obatnya dan menafkahkan harta kami demi kesembuhanmu.” Rasulullah Saw menjawab: “Apakah ucapan Anda selesai wahai Abu al-Walid? Jawabnya: “Ya.” Rasulullah Saw pun membacakan kepadanya Q.S Fussilat [41]: 2-4, jawaban kuat tidak terbantah bahwa mustahil baginya meninggalkan misi kenabian suci ini hanya dengan fitnah duniawi yang murah.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selanjutnya, Anda diajak melihat hakikat lain, arti kedaulatan negara. Baik Allah SWT atau pun hamba-Nya punya hak dari negara yang berdaulat. Umat ingin jiwa, agama, harta, kehormatan, dan kreasi-kreasi daya pikir mereka terlindungi. Tentunya, hak-hak tersebut mustahil tercapai tanpa berdirinya negara yang punya kedaulatan. Di lain sisi, umat yang negaranya tidak memiliki kedaulatan senantiasa dirongrong ketakutan dan dihantui kemusnahan. Jika mereka takut dan musnah, wajah dunia murung ditinggal pergi syiar-syiar agama dengan perginya hamba-hamba abid yang musnah tidak terlindungi oleh kekuatan negara yang berdaulat. Kebutuhan mereka terhadapnya di atas segala kebutuhan fisik, kebutuhan yang telah menjadi hak umum setiap orang. Olehnya itu, tegaknya kedaulatan negara kewajiban bersama demi tercapainya hak-hak Allah SWT dan umat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Bukanlah hal berlebihan jika kita melihat negara khilafah yang kedaulatannya dijaga oleh para sahabat dari ancaman orang-orang murtad dan memposisikannya sebagai perangkat utama dari tegaknya syiar-syiar Islam, tujuannya jauh lebih tinggi dari sekadar menegakkan kewajiban zakat yang diingkari mereka yang murtad. Olehnya itu, negara -dilihat dari sisi ini- telah berperan aktif menyebarkan Islam di luar semenanjung Arab dengan kembali mengobarkan panji Islam memerangi kemurtadan orang-orang Arab.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hakikat lain yang sepatutnya Anda ketahui juga sebelum Anda diajak mengenal sebagian dari keberhasilan politik Rasulullah Saw, hakikat Sunnah yang telah menjadi pegangan utama politik Islam. Hakikat yang mengajak Anda untuk peka mengkategorikan segala perilaku Rasulullah Saw dan menempatkannya di icon yang tepat dan benar. Apakah Nabi saw berperilaku sebagai seorang rasul yang bertugas menyampaikan wahyu, atau selaku mufti (pemberi fatwa), atau sebagai hakim yang menyelesaikan apa yang dipersengketakan manusia, atau ia diposisikan sebagai pemimpin negara yang sedang menangani urusan-urusan politik?

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Salah melihat denah Sunnah hijab tersendiri terhadap makna-makna yang mungkin saja dapat teraba dan terbaca jika seandainya ia terlihat dengan kaca mata pendekatan yang benar. Namun, tidak berarti bahwa jika Anda mengabaikan ini Anda tidak punya kesempatan memahami dan menuai petunjuk hidup Sunnah. Yang demikian itu karena dari sudut mana pun Anda melihatnya, Anda akan mendapatkan percikan cahaya kesuciannya, seperti Al-Quran yang makna-maknanya senantiasa mengalir tidak henti-hentinya mengisi kekosongan jiwa dan menyejukkan kalbu para pemerhati dan perindunya sesuai tingkat kesiapan masing-masing. Dari sudut pandang apa pun Anda mendekatinya, Anda tidak akan dibiarkan pulang dengan tangan kosong, jika bukan mutiara makna-maknanya, maka keagungan dan kebersahajaan ayat-ayatnya sebagai kalam ilahi yang terjaga sepanjang zaman dari kejahilan mereka yang tidak bertanggung jawab. Seperti Al-Quran punya kunci-kunci ma’nawi dalam memeras sari pati maknanya, Sunnah pun seperti itu, dan apa yang dikenalkan kepada Anda di atas terhitung salah satu kunci utama dalam memberikan pendekatan makna. Inilah yang diyakini penulis kebenarannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pendekatan seperti ini dapat dijumpai di tulisan para ulama, di antaranya Imam Qarafi (w 684 H/1285 M). Di sini beliau melihat bahwa kelompok pertama dan kedua –perilaku Nabi Saw dalam keadaan ia diposisikan selaku rasul (penyampai wahyu) dan mufti (pemberi fatwa)-, keduanya bagian dari agama yang disyariatkan. Sementara itu, kelompok ketiga dan keempat –perilakunya dalam keadaan ia ditempatkan sebagai hakim dan imam (pemimpin negara), keduanya bukanlah bagian mendasar agama yang absolut pelaksanaannya, seperti shalat dan puasa. Tetapi, keduanya merupakan ijtihad yang memperhatikan objek ijtihad yang kondisional, yang tidak lepas dari pengaruh waktu dan situasi yang senantiasa berubah. Di sini, Rasulullah Saw sebagai Imam (pemimpin negara) punya peran yang cukup luas, berperan sebagai hakim dan mufti. Olehnya itu, ia berhak melakukan sesuatu dengan mengatasnamakan dirinya hakim dan imam, seperti: menata strategi perang dan menyiapkan bala tentara, membagi hasil perang (ganimah), menyepakati dan menandatangani perjanjian damai, mengatur keuangan negara, menata perangkat-perangkat negara dengan memberi jabatan tertentu kepada yang layak menyandangnya dari sebagian sahabat, seperti: panglima perang, wali (gubernur di bahasa penulis), hakim, dan buruh kerja.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di samping itu, ada hakikat lain yang tidak kalah pentingnya dengan apa yang telah mengorek perhatian Anda, sekularisme yang menguliti agama dari perannya, mengenyampingkan ajaran-ajaran agama dalam menahkodai kehidupan duniawi, sekularisme yang memetakan peran agama dan membatasi gerak langkah dan jangkauannya. Agama yang diinginkan mereka agama yang hanya mementingkan kehidupan ukhrawi semata, agama yang hanya diperdengarkan di tempat-tempat ibadah saja, yang mereka inginkan apa yang digemakan dengan begitu kuatnya oleh para pengikut sejati mereka: “Bagi kaisar urusan duniawi, dan bagi gereja urusan ukhrawi, jangan pernah mencampuradukkan kedua tatanan kehidupan ini!”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Mereka terpukul oleh apa yang menghantui mereka dari penindasan gereja yang mengatasnamakan agama di zaman kegelapan. Mereka seperti baru saja tersadar dari mimpi buruk pengadilan-pengadilan gereja yang tidak mengenal belas kasih bagi mereka yang menyalahi keyakinan dan kehendak gereja yang memberikan dirinya hak mutlak menilai, menentukan, dan menjatuhkan hukum kepada siapa saja yang dianggapnya menentang ajaran gereja. Zaman pengekangan yang membelenggu daya kreasi pikir yang tidak berdaya melahirkan teori-teori ilmiah dan filsafat yang dapat mendongkrak kemajuan peradaban Eropa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tentu tidak, yang diyakini bersama, kejayaan umat Islam dengan berpegang teguh kepada Al-Quran dan Hadits. Semakin jauh kita melangkahkan kaki dari kedua sumber hidup ini, semakin jauh kita tertinggal di gerbong paling belakang kereta peradaban. Sementara itu, kemajuan umat-umat Barat dengan mengamini apa yang diejakan sekularisme mereka. Semakin kuat pegangan mereka terhadapnya, semakin dekat bagi mereka keberhasilan dan kejayaan duniawi. Tetapi, mereka lupa bahwa pohon kejayaan mereka itu rapuh, tidak kuat menghadapi badai, buahnya yang indah tidak mampu memenuhi kekosongan jiwa mereka yang rindu kepada ketenangan jiwa, ketenangan yang hanya ditemukan bagi mereka yang mempercayai kehidupan ukhrawi yang dituturkan agama. Di samping itu, kitab suci mereka yang telah disentuh perubahan dan pemalsuan tangan-tangan jahil mereka sendiri tidak layak lagi menjadi pegangan hidup dalam tingkatan dunia-akhirat, sehingga dengan sendirinya mereka mencari penopang dan sandaran kehidupan duniawi lain, dan mereka pun menemukannya di jabaran-jabaran sekularisme.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Yah, Islam itu bukanlah seperti teori arsitek atau cara kerja mesin yang tidak menuntut apa-apa dari seseorang kecuali meyakini dan menyebutkan dalil-dalil kebenarannya, ia pun bukan seperti filsafat akal yang dengan membacanya seseorang akan terhibur, atau ia hanya dipegang dan dibaca oleh para pemerhatinya jika timbul dalam diri mereka keinginan yang mendorong mereka untuk membaca dan mengamati. Islam bukan seperti ini dan itu, tetapi Islam metode hidup yang meliputi seluruh bentuk pembelajaran, baik rohani, praktek, atau yang bersifat ilmiah, ia pun menyuguhkan kaidah-kaidah yang jelas dalam mencapai kemaslahatan umum yang erat kaitannya dengan masalah-masalah pribadi, lingkungan, negara, dan umat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Yang diketahui juga, kota Madinah, sebelum Rasulullah Saw hijrah ke sana, kota yang penuh hiruk-pikuk perselisihan kaum Aus dan Khazraj yang dipicu oleh fitnah-fitnah busuk orang-orang Yahudi. ([10]) Api kebencian di antara mereka senantiasa berkobar dan mustahil dipadamkan meski menghabiskan yang kecil dan besar, yang hina dan mulia dari perbendaharaan alam. Kebencian ini mewariskan dendam membara di hati mereka yang memicu terjadinya perang Buats yang kekal dikenang sejarah. Kenyataan ini telah diukir abadi Q.S. Al-Anfal [8]: 63, namun, dengan kehendak Allah SWT Rasulullah Saw berhasil memadamkan kobaran api kebencian itu dengan persaudaraan Islam yang menyejukkan hati mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Seperti adat kaum Arab di musim ibadah, mereka berbondong-bondong menuju kota Mekah untuk beribadah di Ka’bah. Kesempatan ini tidak dilewatkan begitu saja Rasulullah Saw, tetapi ia memanfaatkannya dengan mendatangi mereka memaparkan dirinya dan agama yang ia emban. Di tahun itu, secercah harapan terbit dari kejauhan sana. Rasulullah Saw mendatangi kaum Khazraj pada bulan Rajab –seperti yang disepakati kebanyakan ahli sejarah- mengajak mereka masuk Islam setelah memaparkan kebenaran dan keindahannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kemudian, Rasulullah Saw sebagai pemimpin negara mengajak orang-orang Yahudi menyepakati sebuah perjanjian suci, perjanjian yang mewajibkan mereka untuk hidup damai berdampingan dengan orang-orang mukmin, Muhajirin dan Anshar, dan mempertahankan kedaulatan negara Madinah dari rongrongan orang-orang kafir yang sewaktu-waktu dapat mengancam stabilitas negara. Tetapi, Yahudi Madinah melanggar perjanjian tersebut dan tidak menepatinya, bahkan bersekutu dengan kafir Mekah mengepung bala tentara Islam yang dipimpin langsung Rasulullah Saw di perang Khandaq. Olehnya itu, wajar jika mereka diusir Rasulullah Saw dari kota Madinah karena telah melanggar piagam suci perdamaian tersebut.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di perjanjian Hudaibiyyah, Rasulullah Saw beserta 1.300 muslim keluar menuju kota Mekah dengan maksud ziarah, dan bukan menginginkan perang. Setelah berita ini didengar orang-orang musyrik, mereka pun menghalang orang-orang mukmin di Hudaibiyyah sebelum memasuki kota Mekah. Situasi ini menyebabkan ketegangan urat saraf di antara kedua belah pihak yang berujung perjanjian damai yang bersyarat. Mereka mensyaratkan orang-orang Islam mengurungkan niat menziarahi kota Mekah tahun ini, dan dibolehkan mengunjunginya tahun depan. Di samping itu, mereka pun menambahkan syarat yang tidak kalah kerasnya dengan di atas, mereka meminta pihak Islam mengembalikan siapa pun dari mereka yang ditemukan mendatangi Madinah dalam keadaan beriman atau tidak, dan mereka tidak diwajibkan memulangkan seseorang dari pihak muslim jika ditemukan mendatangi kota Mekah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Syarat yang secara lahiriah telah mencoreng kehormatan mereka dan kedaulatan negara Islam, syarat yang sulit diterima oleh sebagian sahabat. Yang demikian itu karena yang mereka yakini kemampuan mereka meraih kemenangan jika terjadi peperangan dengan kafir Mekah. Mereka tidak peka melihat apa yang mendasari Rasulullah Saw menerima perjanjian tersebut, pandangan singkat mereka tidak mampu melihat sudut pandang Rasulullah Saw yang jauh meneropong kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Peka terhadap pemetaan Sunnah Rasulullah Saw langkah pertama dan yang terpenting dalam memeras kekayaan khazanah makna-makna kenabian dan kerasulan, buta terhadap pemetaan ini boleh jadi menjadi hijab tersendiri terhadap khazanah tersebut. Keberhasilan manuver-manuver politik Rasulullah Saw dalam menjaga stabilitas negara Islam pertama di Madinah tidak dapat dipungkiri lagi. Yang mengingkarinya seperti menutup cahaya matahari dari muka bumi dengan kedua telapak tangannya. Islam tidak dapat dipisahkan dari tatanan hukum negara. Yang menanggalkannya dari organ-organ tubuh negara seperti menggali kuburan sendiri, mereka yang menginginkan kebebasan yang didasari nafsu hewani dan dekadensi moral yang meruntuhkan. Kenakakan gaun Islam Anda dan lambaikan tangan perpisahan meninggalkan corak-corak sekularisme yang mengaburkan dan membutakan pandangan hidup Anda! Sekarang, negara Islam yang berdaulat perangkat utama dalam menegakkan ajaran dan hikmah syariat.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Prof. Dr. H. R. Sri Soemantri Martosoewignjo, S.H ., salah seorang pakar Hukum Tata Negara Indonesia, menyatakan bahwa perubahan Undang-Undang Dasar pada dasarnya merupakan suatu keniscayaan. Hal itu berpijak pada masalah dasar yang dihadapkan kepada kita adalah “dapatkah generasi yang hidup sekarang ini mengikat generasi yang akan datang ?” Perkataan “sekarang” dalam kalimat di atas dapat pula diubah menjadi “yang lalu’, sehingga persoalannya akan berbunyi “dapatkah generasi yang lalu mengikat generasi yang hidup sekarang ini?”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bila persoalan dimaksud diterapkan pada konstitusi atau undang-undang dasar, akan timbul pertanyaan apakah “konstitusi yang disusun oleh para pendahulu kita dapat di ubah?”. Dalam suasana yang tidak memungkinkan bagi para penyelenggara negara melakukan perubahan terhadap Undang-Undang Dasar 945, pada tahun 1978, Prof. Dr. H. R. Sri Soemantri Martosoewignjo, S.H. (selanjutnya disebut dengan Penulis) telah mempunyai keberanian untuk melakukan penelitian tentang kemungkinan perubahan terhadap Undang-Undang Dasar 1945 yang berupa constitutional amandemen.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ahli-ahli hukum tata negara dan atau hukum konstitusi mengklasifikasikan kosntitusi dalam beberapa golongan. Berdasarkan klasifikasi itu, Penulis menggolongkan Undang-Undang Dasar 1945 termasuk konstitusi tertulis dalam arti dituangkan dalam sebuah dokumen (writen or documentary constitution), konstitusi derajat tinggi (supreme constitution), konstitusi kesatuan, karena Negara Republik Indonesia berbentuk Negara Kesatuan, dan konstitusinya menganut sistem pemerintahan campuran. Undang-Undang Dasar 1945 yang dapat disebut juga dengan hukum dasar (fundamental law) juga digolongkan Penulis dalam konstitusi yang ‘rigid’ (halaman 88), yang mempunyai ciri-ciri pokok :

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dengan kata lain, dapat dikemukakan bahwa menetapkan serta mengubah Undang-Undang Dasar berada di tangan satu lembaga-negara, yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat. Lembaga-negara ini menurut Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 diberi kekuasaan melaksanakan kedaulatan rakyat. Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 dengan jelas mengatakan bahwa kedaulatan adalah di tangan rakyat. Kedaulatan yang berada di tangan rakyat ini dilakukan hanya dan oleh satu badan atau lembaga-negara, yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat. Itulah sebabnya, oleh Penjelasan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia tentang Sistem Pemerintahan Negara dikatakan bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat tersebut merupakan penjelmaan rakyat Indonesia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kedua, menurut sistem ketatanegaraan seperti dianut Undang-Undang Dasar, MPR sebagai pelaksana kedaulatan rakyat mempunyai tugas serta wewenang tertentu. Salah satu wewenangnya seperti dinyatakan dalam Ketetapan MPR-RI Nomor I/MPR/1983 tentang Peraturan Tata-Tertib Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah mengubah Undang-Undang Dasar, disamping terdapat kewenangan yang lain yang tidak terdapat dalam Undang-Undang dasar 1945. Menurut pendapat Penulis, wewenang ini merupakan tambahan terhadap Undang-Undang Dasar 1945. (halaman 146)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ketiga, mengenai prosedur pengambilan keputusan tentang perubahan UUD yang tidak melalui Pasal 37 UUD. Dalam Pasal 37 UUD diatur bahwa perubahan Undang-Undang Dasar sah apabila diterima oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir. Namun, di dalam Ketatapan MPR-RI Nomor I/MPR/1983 juga menentukan bahwa pengambilan keputusan secara lain, yaitu mufakat disamping dengan suara terbanyak. Penulis mengemukakan bahwa suara terbanyak yang terdapat dalam Pasal 2 ayat 3 merupakan lex genaralis, sedangkan Pasal 37 merupakan lex specialis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Penulis juga mengemukakan bahwa wewenang MPR untuk mengubah Undang-Undang dasar termasuk dalam lingkup Hukum Tata Negara Indonesia dan atau Hukum Konstitusi Indonesia. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan Undang-Undang Dasar adalah masalah hukum. Namun, MPR sebagai pelaksana kekuasaan (dalam) negara dapat memaksa pihak lain untuk mematuhi keputusan-keputusannya. Dengan demikian, kekuasaan MPR untuk mengubah Undang-Undang Dasar juga merupakan bidng studi ilmu politik. Jadi, wewenang mengubah Undang-Undang Dasar adalah masalah hukum yang mengandung aspek politik. (halaman 179)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 tidak terdapat ketentuan tentang pembatasan dalam mengubah undang-undang dasarnya. Namun demikian, sulit dinyatakan bahwa tanpa adanya perturan tentang pembatasan, berarti semua bagian dari konstitusi dapat diubah. Hal itu juga belum berarti dapat diubahnya bagian-bagian tertentu dari Undang-Undang Dasar 1945. Ditinjau dari segi politik, dapat diubah atau tidaknya bagian-bagian tertentu dari Undang-Undang Dasar 1945 bergantung kepada baik kekuatan-kekuatan politik yang terdapat dalam masyarakat maupun yang terdapat dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat. Andaikata MPR -yang anggota-anggotanya dipilih dalam pemilihan umum- dikuasai oleh kekuatan politik tertentu yang tidak menghendaki adanya perubahan terhadap bagian manapun dari Undang-Undang Dasar, kekuatan politik yang lain tidak akan berhasil dalam usahanya untuk mengubah Undang-Undang Dasar tersebut. Sebaliknya, andaikata lebih dari 2/3 jumlah anggota MPR terdiri dari anggota-anggota kekuatan politik yang menghendaki adanya perubahan terhadap bagian atau bagian-bagian tertentu Undang-Undang Dasar 1945, hal itu dapat saja dilakukan. (halaman 183)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Apabila beberapa anggota DPR berpendapat perlu dilakukan perubahan terhadap Undang-Undang Dasar, maka mereka dapat mengajukan usul perubahan dalam sidang-sidang DPR. Usulan tersebut dibahas dalam sidang Dewan Perwakilan Rakyat. Apabila usulan diterima, usulan disampaikan dalam bentuk memorandum ke Majelias Permusyawaratan Rakyat untuk selanjutnya disiapkan oleh Badan Pekerja MPR, dengan membentuk Panitia Negara yang bertugas mempelajari dan mempersiapkan rancangan keputusan tentang perubahan, dan hasilnya silaporkan kembali ke Badan Pekerja MPR. Laporan yang diterima dari panitia tadi kemudian dipelajari dan dibahas oleh Badan Pekerja MPR. Badan Pekerja MPR dapat menolak atau menerima memorandum DPR.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Anggota-anggota MPR (45 orang) mengajukan usul perubahan UUD ke Majelis Permusyawaratan Rakyat. Apabila diterima, usulan diteruskan ke Badan Pekerja MPR untuk dipersiapkan. Badan Pekerja MPR membentuk Panitia Negara guna mempelajari dan mempersiapkan rancangan keputusan, dan hasilnya dilaporkan ke badan Pekerja MPR. Usulan perubahan disampaikan dalam Sidang Umum atau Sidang Istimewa MPR, untuk selanjutnya dibahas. Perubahan UUD 1945 sah bila disetujui oleh ¾ dari peserta rapat majelis yang memenuhi kuorum.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tugas untuk menetapkan UUD serta wewenang untuk mengubah UUD berada dalam satu lembaga, yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat. Walaupun demkian, dengan dicantumkannya tugas untuk menetapkan UUD dalam satu pasal, dan bab tersendiri mempunyai arti bahwa penetapan Undang-Undang dasar hanya dapat dilakukan satu kali saja, kecuali apabila Undang-Undang Dasar yang sedang berlaku diganti dengan yang baru. Dengan demikian, MPR menetapkan Undang-Undang Dasar dalam kedudukannya sebagai Konstituante atau Majelis Pembuat Undang-Undang Dasar dan bukan Majelis Perubahan Undang-Undang Dasar. Dengan demikian, Pasal 37 dan Pasal 3 berisi dua kekuasaan MPR yang terpisah. Tugas MPR adalah untuk menetapkan UUD dan wewenang MPR untuk mengubah UUD. Menetapkan UUD dalam Pasal 3 tersebut berarti juga membuat Undang-Undang dasar yang baru untuk menggantikan Undang-Undang Dasar yang berlaku. Oleh karena itu, perubahan Undang-Undang Dasar tidak mungkin diatur serta dituangkan dalam peraturan perundang-undangan yang mempunyai bentuk Undang-Undang Dasar. Ini berarti bahwa dalam Negara republik Indonesia hanya dimungkinkan adanya satu Undang-Undang Dasar. (halaman 234)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dikarenakan baik bentuk Undang-Undang Dasar maupun Ketetapan MPR tidak mungkin dipergunakan sebagai bentuk peraturan perundang-undangan untuk menuangkan perubahan Undag-Undang dasar, maka harus diciptakan ‘bentuk baru” atau “tidak diberi bentuk sama sekali”. Dalam hubungan ini dapat dipikirkan ‘bentuk baru’ dengan nama : Perubahan atau Amandeman. Dengan demikian, apabila Undang-Undang dasar 1945 diubah, maka perubahan tersebut merupakan ‘lampiran’ daripadanya dan dapat diberi nama Perubahan/Amandeman Pertama, Perubahan/Amandemen Kedua, Perubahan/Amandemen Ketiga, dan seterusnya. Dalam hubungan ini Penulis cenderaung menggunakan istilah amandeman.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sehubungan dengan pelaksanaan wewenang mengubah Undang-Undang Dasar, Penulis berpendapat bahwa pembicaraan tentang perubahan undang-undang dasar harus dilakukan dalam sidang-sidang dengan acara khusus untuk itu agar memberi kesempatan kepada para anggota MPR untuk mempelajari pikiran-pikiran yang hidup di kalangan masyarakat. Dengan kata lain, segala hal yang dikemukakan dalam sidang-sidang MPR akan mempunyai landasan yang cukup kuat. (halaman 256). Sebaliknya, Keputusan MPR yang ditetapkan tanpa prosedur khusus dimaksud harus dinyatakan tidak sah karena usul perubahan undang-undang dasar tersebut tidak diberitahukan lebih dahulu kepada para anggota MPR sehingga tidak mendapat cukup kesempatan untuk mempelajari masak-masak usul tersebut.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam sejarahnya, Undang-Undang Dasar 1945 resmi disahkan berlaku sebagai konstitusi negara pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Namun demikian, Undang-Undang Dasar 1945 ini tidak langsung dijadikan referensi dalam setiap pengambilan keputusan kenegaraan dan pemerintahan[1]. Padahal, apabila kita mengkaji asal-usul konstitusi, secara praktis konstitusi disusun dan diadopsi karena rakyat ingin membuat permulaan yang baru, sejauh berkaitan dengan sistem pemerintahan mereka[2]. Pada saat itu, Undang-Undang Dasar 1945 pada pokoknya benar-benar dijadikan alat saja untuk sesegera mungkin membentuk negara merdeka yang bernama Republik Indonesia. Atau dengan kata lain, Undang-Undang Dasar 1945 hanya ditempatkan sebagai alat kelengkapan suatu negara yang baru saja menyatakan kemerdekaanya, oleh karena itu Undang-Undang Dasar 1945 dikenal juga dengan Undang-Undang Dasar Proklamasi. Hal ini juga bisa terlihat dari pernyataan kemerdekaan Bangsa Indonesia sebagai hasil perjuangann politik di masa lampau yang termuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara 1945.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Seperti telah sebutkan di atas, Penulis mengemukakan bahwa Undang-Undang Dasar 1945 sebenarnya memang dimaksudkan sebagai Undang-Undang sementara yang menurut istilah Ir. Soekarno, sebagai Ketua PPKI, merupakan ‘revolutie-grondwet’ atau Undang-Undang Dasar Kilat, yang memang harus diganti dengan yang baru apabila negara merdeka sudah berdiri dan keadaan sudah memungkinkan. Pernyataan “kesementaraan” ini juga dicantumkan pula dengan tegas dalam ketentuan asli Pasal I dan II Aturan Tambahan Undang-Undang Dasar 1945 sendiri yang berbunyi [3]:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Prof. Dr. H. R. Sri Soemantri Martosoewignjo, S.H., dalam bukunya tersebut tidak mengemukakan prosedur untuk menetapkan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia sebelum diadakan perubahan. Untuk permasalahan ini, Penyusun memilih berpendapat untuk setuju dengan pendapat Prof. Dr. Harun Alrasid, S.H. dan pendapat di kalangan akademis yang menyatakan bahwa sebelum Undang-Undang Dasar 1945 dapat diadakan perubahan, terlebih dulu harus ditetapkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Salah satu metode pengklasifikasian konstitusi dimaksud adalah klasifikasi menurut metode yang dengannya konstitusi dapat diamandemen. Metode pengklasifikasian ini biasanya digambarkan sebagai pengklasifikasian ke dalam konstitusi yang fleksibel dan konstitusi yang kaku (rigid), sebuah pengklasifikasian yang berasal dari Lord Bryce dan dijelaskan dalam bukunya Studies in History of Jurisprudence. Ketika tidak ada proses khusus yang diperlukan untuk mengandemen Konstitusi, maka konstitusi itu disebut fleksibel, namun sebaliknya, apabila dalam mengandemen konstitusi diperlukan proses khusus maka konstitusi itu disebut kaku[6].

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berbeda dengan pendapat Penulis yang menggolongkan Undang-Undang Dasar 1945 dalam konstitusi yang rigid, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H. mengemukakan bahwa secara teoritis dan normatif Undang-Undang Dasar Republik Indonesia dapat disebut sebagai konstitusi yang bersifat ‘fleksibel’ atau tidak ‘rigid’ [7]. Undang-Undang Dasar 1945 hanya memuat ketentuan yang bersifat umum, maka kosntitusi itu kadang-kadang disebut ‘soepel’ dalam arti lentur dalam penafsirannya. Makin ringkas susunan suatu Undang-Undang Dasar, maka makin ‘soepel’ dan ‘fleksibel’ penafsiran Undang-Undang Dasar itu sebagai hukum dasar.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebelum Perubahan Undang-Undang Dasar 1945, pada saat Penulis menyusun buku berkenaan, Majelis Permusyawaratan Rakyat mempunyai kedudukan sebagai lembaga tertinggi negara. Kepada lembaga inilah presiden, sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan bertunduk dan bertanggung jawab. Dalam lembaga ini pula kedaulatan rakyat Indonesia telah terjelma seluruhnya, dan lembaga ini pula yang dianggap sebagai pelaku sepenuhnya kedaulatan rakyat. Dari lembaga tertinggi MPR inilah, mandat kekuasaan kenegaraan dibagi-bagi kepada lembaga-lembaga tinggi negara lainnya sesuai prinsip pembagian kekuasaan yang bersifat vertikal.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sekarang, dalam Undang-Undang Dasar 1945 setelah Perubahan Kempat, Organ MPR juga tidak dapat lagi dipahami sebagai lembaga yang lebih tinggi kedudukannya daripada lembaga negara yang lain atau yang biasa dikenal dengan sebutan lembaga tertinggi negara[9]. Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai lembaga yang sederajad levelnya dengan lembaga-lembaga lain seperti DPR, DPD, Priseden/Wakil Presiden, Mahkamah Agung, dan Badan Pemeriksa Keuangan. Bahkan dalam fungsinya, organ MPR dapat dikatakan bukanlah organ yang yang pekerjaannya bersifat rutin. Meskipun di atas kertas, MPR sebagai lembaga negara memang harus ada, tetap dalam arti yang aktual atau nyata, organ MPR itu sendiri sebenarnya baru dapat dikatakan ada pada saat kewenangan atau fungsinya sedang dilaksanakan. Kewenangan itu adalah mengubah dan menetapkan undang-undang dasar, memberhentikan priseden atau wakil presiden untuk mengisi lowongan jabatan presiden, dan melantik presiden dan/atau wakil presiden.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Faktor utama yang menentukan pembaharuan Undang-Undang Dasar adalah berbagai (pembaharuan) keadaan di masyarakat[12]. Dorongan demokratisasi, pelaksanaan paham negara kesejahteraan, perubahan pola dan sistem ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi pendorong utama pembaharuan Undang-Undang dasar. Demikian pula peranan Undang-Undang Dasar itu sendiri juga sangat tergantung pada masyarakatnya. Hanya masyarakat yang berkehendak dan mempunyai tradisi menghormati dan menjunjung tinggi Undang-Undang Dasar (konstitusi pada umumnya), yang akan mennetukan Undang-Undang dasae tersebut akan dijalankan sebagaimana mestinya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selanjutnya, perubahan pasal 37 UUD 1945 dimaksud diarahkan pada dua alternatif yakni : pertama, perubahan UUD ditetapkan oleh MPR tetapi naskahnya disiapkan oleh sebuah komisi negara yang khusus dibentuk untuk menyiapkan rancangan UUD. MPR tinggal melakukan pemungutan suara tanpa membahas lagi rancangan yang telah disiapkan oleh komisi negara tersebut. Komisi negara ini, harus terdiri dari negarawan atau tokoh-tokoh yang integritasnya dikenal luas serta tidak partisan. Komisi negara dapat dibentuk oleh MPR yang anggotanya dapat diusulkan oleh presiden, masyarakat, dan lembaga-lembaga lainnya

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Seiring dengan semangat reformasi, wacana untuk memperbaharui Undang-Undang Dasar pun bergulir. Undang-Undang Dasar 1945 dipandang mengandung berbagai kelemahan, disamping terdapat kekosongan hukum di dalamnya yang telah menjadi instrumen politik yang ampuh untuk membenarkan berkembangnya otoritarianisme yang menyuburkan praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme. Akhirnya, sampai saat ini Undang-Undang Dasar 1945 telah mengalami perubahan sebanyak empat kali menuju ke arah ketatanegaraan yang lebih baik.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada perkuliahan Teori Hukum Konstitusi , kita telah mengetahui fungsi konstitusi pada suatu Negara sangat penting. Kontitusi merupakan sumber hukum yang menjadi pokok aturan dan dasar jalannya pemerintahan suatu Negara. Bukan hanya di Negara kita, di Negara yang sudah berdaulat pasti memiliki konstitusi. Reformasi politik dan ekonomi yang bersifat menyeluruh tidak mungkin dilakukan tanpa diiringi oleh reformasi hukum. Namun reformasi hukum yang menyeluruh juga tidak mungkin dilakukan tanpa didasari oleh agenda reformasi ketatanegaraan yang mendasar, dan itu berarti diperlukan adanya constitutional reform yang tidak setengah hati.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perubahan konstitusi dipengaruhi oleh seberapa besar badan yang diberikan otoritas melakukan perubahan memahami tuntutan perubahan dan seberapa jauh kemauan anggota badan itu melakukan perubahan. Perubahan konstitusi tidak hanya bergantung pada norma perubahan, tetapi lebih ditentukan oleh kelompok elite politik yang memengang suara mayoritas di lembaga yang mempunyai kewenangan melakukan perubahan konstitusi. Lembaga yang mempunyai kewenangan melakukan perubahan harus berhasil membaca arah perubahan yang dikendaki oleh masyarakat yang diatur secara kenegaraan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perubahan konstitusi harus didasarkan pada paradigma perubahan agar perubahan terarah sesuai dengan kebutuhan yang berkembang di masyarakat. Paradigma ini digali dari kelemahan sistem bangunan konstitusi lama, dan dengan argumentasi diciptakan landasan agar dapat menghasilkan sistem yang menjamin stabilitas pemerintahan dan memajukan kesejahteraan rakyat. Paradigma ini mencakup nilai-nilai dan prinsip-prinsip penting dan mendasar atau jiwa(gheist) perubahan konstitusi. Nilai dan prinsip itu dapat digunakan untuk menyusun telaah kritis terhadap konstitusi lama dan sekaligus menjadi dasar bagi perubahan konstitusi atau penyusunan konstitusi baru.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di samping persoalan paradigma dalam perubahan konstitusi, juga perlu diperhatikan aspek teoritik dalam perubahan konstitusi yang akan mencakup masalah prosedur perubahan, mekanisme yang dilakukan, sistem perubahan yang dianut, dan substansi yang akan diubah. Setiap konstitusi tertulis lazimnya selalu memuat adanya klausul perubahan di dalam naskahnya, sebab betapapun selalu disadari akan ketidaksempurnaan hasil pekerjaan manusia membuat dan menyusun UUD. Selain itu, konstitusi sebagai acuan utama dalam pengaturan kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan suatu kontrak sosial yang merefleksikan hubungan-hubunganan kepentingan dari seluruh komponen bangsa dan sifatnya sangat dinamis. Dengan demikian, konstitusi memerlukan peremajaan secara periodik karena dinamika lingkungan global akan secara langsung atau tidak langsung menimbulkan pergeseran aspirasi masyarakat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Mengenai bentuk Negara diatur dalam pasal 1 ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Negara Indonesia adalah Negara kesatuan berbentuk republik”. Sebagai Negara kesatuan, maka di Negara republik Indonesia hanya ada satu kekuasaan pemerintahan Negara, yaitu di tanggan pemerintah pusat. Di sini tidak ada pemerintah Negara bagian sebagiamana yang berlaku dinegara yang berbentuk serikat (federasi). Sebagai Negara yang berbentuk republik, maka kepala Negara dijabat oleh presiden. Presiden diangkat melalui suatu pemilihan, bukan berdasarkan keturunan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Mengenai sistem pemerintahan Negara diatur dalam pasal 4 ayat (1) yang berbunyi “Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar”. Pasal tersebut menunjukan bahwa sistem pemerintahan menganut sistem presidensial. Dalam sistem ini, presiden selain sebagai kepala Negara juga sebagai kepala pemerintahan. Menteri-menteri sebagai pelaksana tugas pemerintahan adalah pembantu presiden yang bertanggung jawab kepada presiden, bukan Kepala Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bahkan Belanda kemudian melakukan agresi atau pendudukan terhadap ibu kota Jakarta, yang dikenal dengan Agresi Militer I pada tahun 1947 dan Agresi MIliter II atas kota Yogyakarta pada tahun 1948. Untuk menyelesaikan pertikaian Belanda denga Republik Indonesia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turun tangan dengan menyelenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag (Belanda) tanggal 23 Agustus-2 November 1949. Konferensi ini dihadiri oleh wakil-wakil dari rebuplik Indonesia, BFO yaitu gabungan dari Negara-Negara boneka yang dibentuk oleh Belanda dan Belanda serta sebuah Komisi PBB untuk Indonesia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Mengenal bentuk Negara dinyatakan dalam pasal 1 ayat (1) Konstitusi RIS yang berbunyi “Republik Indonesia Serikat yang merdeka dan berdaulat adalah Negara hukum yang demokratis dan bentuk federasi”. Dengan berubah menjadi Negara serikat, maka di dalam RIS terdapat beberapa Negara bagian. Masing-masing memiliki kekuasaan pemerintahan di wilayah Negara bagianya. Negara-Negara bagian itu adalah: Negara republik Indonesia, Indonesia Timur, Pasundan, Jawa timur, Madura, Sumatera Selatan. Selain itu terdapat pula satuan-satuan kenegaraan yang berdiri sendiri, yaitu: Jawa Tengah, Bangka, Belitung, Riau, Kalimantan Barat, Dayak Besar, Daerah Banjar, Kalimantan Tenggara dan Kalimantan Timur.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sistem pemerintahan yang digunakan pada masa berlakunya Konstitusi RIS adalah sistem Parlementer. Hal itu sebagaimana diatur dalam pasal 118 ayat 1 dan 2 Konstitusi RIS. Pada ayat (1) ditegaskan bahwa “Presiden tidak dapat diganggu gugat”. Artinya, presiden tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas tugas-tugas pemerintahan. Sebab, Presiden adalah kepala Negara, tetapi bukan kepala pemerintahan. Kalau demikian, siapakah yang menjalankan dan bertanggung jawab atas tugas pemerintah? pada pasal 118 ayat (2) ditegaskan bahwa “menteri-menteri bertangungjawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah baik bersama-sama untuk seluruhnya maupun masing-masing untuk bagianya sendiri-sendiri”. Dengan demikian, yang melaksanakan dan mempertangungjawabkan tugas-tugas pemerintahan adalah menteri-menteri. Dalam sistem ini, kepala pemerintahan dijabat oleh Perdana Menteri. Lalu, kepada siapakah pemerintah bertangungjawab kepada parlemen (DPR).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada awal mei 1950 terjadinya penggabungan Negara-Negara bagian dalam Negara RIS, sehingga hanya tinggal tiga Negara bagian yaitu Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia Timur, dan Negara Sumatera Timur. Perkembangan berikutnya adalah munculnya kesepakatan RIS yang mewakili Negara Indonesia Timur dan Sumatera Timur dengan republik Indonesia untuk kembali kebentuk Kesatuan. Kesepakatan tersebut kemudian dituangkan dalam Piagam Persetujuan tanggal 19 Mei 1950. Untuk mengubah Negara serikat menjadi Negara kesatuan diperlukan suatu UUD Negara Kesatuan. UUD tersebut akan diperoleh dengan cara memasukan isi UUD 1945 ditambah bagian-bagian yang baik dari Konstitusi RIS.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sistem pemerintahan yang dianut pada masa berlakunya UUDS 1950 adalah sistem pemerintahan Parlemanter. Dalam pasal 83 ayat (1) UUDS 1950 ditegaskan bahwa “Presiden dan Wakil Presiden tidak dapat diganggu gugat”. Kemudian pada ayat (2) disebutkan bahwa “Menteri-menteri bertanggungjawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintahan, baik bersama- sama untuk seluruhnya maupun masing-masing untuk bagianya sendiri-sendiri’. Hal ini berarti yang bertanggungjawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintahan adalah menteri menteri. Menteri menteri tersebut bertanggungjawab kepada parlemen (DPR).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada tanggal 22 April 1959 Presiden Soekarno menyampaikan amanat yang berisi anjuran untuk kembali ke UUD 1945. Pada dasarnya, saran untuk kembali pada UUD 1945 tersebut dapat diterima oleh para anggota Konstituante tetapi dengan pandangan yang berbeda-beda. Oleh karena tidak memperoleh kata sepakat, maka diadakan pemungutan suara. Sekalipun sudah diadakan tiga kali pemungutan suara, ternyata jumlah suara yang mendukung anjuran presiden tersebut belum memenuhi persyaratan yaitu 2/3 suara dari jumlah anggota yang hadir.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Melalui empat tahap perubahan tersebut, UUD 1945 telah mengalami perubahan yang cukup mendasar. Perubahan itu menyangkut kelembagaan Negara, pemilihan umum, pembatasan kekuasaan presiden dan wakil presiden, memperkuat kedudukan DPR, pemerintahan daerah, dan ketentuan yang terinci tentang hak-hak asasi manusia. Setelah perubahan UUD 1945, ada beberapa praktik ketatanegaraan yang melibatkan rakyat secara langsung. Misalnya dalam pemilihan presiden dan wakil presiden, dan pemilihan kepala daerah (Gubernur dan Bupati/ Walikota). Hal-hal tersebut tentu lebih mempertegas prinsip kedaulatan rakyat yang dianut Negara kita.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pembaharuan konstitusi dimanapun didunia ini terutama tidak ditentukan oleh tata catra resmi (formal) yang harus dilalui. Tata cara formal (fleksibel) tidak serta merta memudahkan terjadinya perubahan UUD. Begitu pula sebaliknya, tata cara formal yang dipersukar (rigid) tidak berarti perubahan UUD tidak akan atau akan jarang terjadi. Faktor utama yang menentukan perubahan UUD adalah berbagai (pembaharuan) keadaan dimasyarakat. Dorongan demokratisasi, pelaksanaan paham negara kesejahteraan (welfare state), perubahan pola dan sistem ekonomi akibat industrialisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi kekuatan (forces) pendorong pembaharuan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jadi, masyarakatlah yang menjadi pendorong utama pembaharuan UUD. Demikian pula peranan UUD itu sendiri. Hanya masyarakat yang berkehendak dan mempunyai tradisi menghormati dan menjunjung tinggi UUD (konstitusi pada umumnya), yang akan menentukan UUD tersebut akan dijalankan sebagaimana mestinya. KC Wheare pernah mengingatkan, mengapa konstitusi perlu ditentukan pada kedudukan yang tinggi (supreme), supaya ada semacam jaminan bahwa konstitusi itu akan diperhatikan dan ditaati dan menjamin agar konstitusi itu akan diperhatikan dan ditaati dan menjamin agar konstitusi tidak akan dirusak dan diubah begitu saja secara sembarangan. Perubahannya harus dilakukan secara hikmat, penuh sungguhan, dan pertimbangan yang mendalam.Sasaran yang ingin diraih dengan jalan mempersulit perubahan konstitusi antara lain:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

UUD yang baik selalu menentukan sendiri prosedur perubahan atas dirinya sendiri. Perubahan yang dilakukan di luar prosedur yang ditentukan itu bukanlah perubahan yang dapat dibenarkan secara hukum (verfassung anderung). Inilah prinsip negara hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat) dan prinsip negara demokrasi yang berdasarkan atas hukum (constitutional democracy) yang dicita-citakan oleh para pendiri republik ini. Di luar itu, namanya bukan ‘rechtsstaat’, melainkan ‘machtsstaat’ yang hanya menjadikan perimbangan ‘revolusi politik’ sebagai landasan pembenar yang bersifat ‘post factum’ terhadap perubahan dan pemberlakuan suatu konstitusi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Sri Soemantri, apabila dipelajari secara detail mengenai sistem perubahan konstitusi di berbagai negara, paling tidak ada dua sistem yang sedang berkembang, yaitu RENEWEL (Pembaharuan) dianut di negara-negara Eropa Kontinental dan AMANDEMENT (Perubahan) seperti dianut di negara-negara Anglo Saxon. Sistem yang pertama ialah, apabila suatu konstitusi dilakukan perubahan (dalam arti diadakan pembaharuan), maka yang diberlakukan adalah konstitusi yang baru secara keseluruhan. Di antara negara yang menganut sistem ini misalnya Belanda, Jerman, dan Prancis. Sistem yang kedua ialah, apabila suatu konstitusi diubah (diamandemen), konstitusi yang asli tetap berlaku. Dengan kata lain, hasil amandemen tersebut merupakan bagian atau dilampirkan dalam konstitusinya. Sistem ini dianut oleh negara Amerika Serikat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Wheare, perubahan UUD akibat dorongan kekuatan (forces) yang terjadi dapat berbentuk; pertama, kekuatan-kekuatan yang kemudian melahirkan perubahan keadaan(circumstances) tanpa mengakibatkan perubahan bunyi yang tertulis dalam UUD, melainkan terjadi perubahan makna. Suatu ketentuan UUD diberi makna baru tanpa mengubah bunyinya. Kedua, kekuatan-kekuatan yang melahirkan keadaan baru itu mendorong perubahan atas ketentuan UUD, baik melalui perubahan formal, putusan hakim, hukum adat, maupun konvensi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ada hal-hal prinsp yang harus diperhatikan dalam perubahan UUD. Menurut Bagir Manan, perubahan UUD berhubungan dengan perumusan kaidah konstitusi sebagai kaidah hukum negara tertinggi. Dalam hal ini, terlepas dari beberapa kebutuhan mendesak, perlu kehati-hatian, baik mengenai materi muatan maupun cara-cara perumusan. Memang benar penataan kembali UUD 1945 untuk menjamin pelaksanaan konstitusionalisme dan menampung dinamika baru di bidang politik, ekonomi, sosial, dan lainnya. Namun, jangan sekali-kali perubahan itu semata-mata dijadikan dasar dan tempat menampung berbagai realitas kekuatan politik yang berbeda dan sedan bersaing dalam SU MPR. Juga berhati-hati dengan cara-cara merumuskan kaidah UUD. Selain harus mudah dipahami(zakelijk), juga menghindari kompromi bahasa yang dapat menimbulkan multitafsir yang dapat disalahgunakan dikemudian hari.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sri Soemantri menegaskan, dalam mengubah UUD harus ditetapkan dulu alasan dan tujuannya. Jika hal itu sudah disepakati, baru dapat dipikirkan langkah selanjutnya berdasarkan alasan dan tujuan perubahan itu. Misalnya, Selam ini UUD terkesan terlalu beriorentasi pada eksekutif. Oleh karena itu, ditentukanlah bahwa tujuan dari perubahan UUD adalah untuk membatasi eksekutif. Kemudian apa yang dilakukan untuk membatasi kekuasaan eksekutif? Itu harus dipikirkan masak-masak. Misalnya, kontrol terhadap eksekutif hanya diperkuat. Itu berarti kedudukan legislatif mesti diperkuat. Jadi, kita harus kembali pada alasan dan tujuan dari perubahan itu. Misalnya, tujuannya adalah mewujudkan negara demokrasi, maka kita harus berbicara dengan mengenai sistem pemerintahan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut tradisi Amerika Serikat, perubahan dilakukan terhadap meteri tertentu dengan menetapkan naskah Amandemen yang terpisah dari naskah asli UUD, sedangkan menurut tradisi Eropa perubahan dilakukan langsung dalam teks UUD, jika perubahan itu menyangkut materi tertentu, tentulah naskah UUD asli itu tidak banyak mengalami perubahan. Akan tetapi, jika materi yang diubah terbilang banyak dan apalagi isinya sangat mendasar, biasanya naskah UUD itu disebut dengan nama baru sama sekali. Dalam hal demikian, perubahan identik dengan penggantian. Namun, dalam tradisi Amandemen Konstitusi Amerika Serikat, materi yang diubah biasanya selalu menyangkut satu “issue” tertentu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Landasan teoritis melakukan perubahan UUD 1945 dalam bentuk putusan “Perubahan UUD” adalah menjadikan konstitusi bersifat normative-closed sehingga perubahan tidak lagi dilakukan oleh MPR dengan ketetapan MPR. MPR tidak dibenarkan mengembangkan kewenangannya melalui putusan nonamandemen, karena dengan demikian secara teoritis akan menempatkan konstitusi bersifat normative-open. Menjadikan UUD 1945 bersifatnormative-closed membawa implikasi terhadap eksistensi MPR, yaitu MPR harus patuh terhadap UUD 1945.Amandemn sebagai bentuk hukum perubahan UUD mempunyai kedudukan sederajat dan merupakan bagian tak terpisahkan dari UUD. Kebaikan bentuk hukum amandemen atau perubahan ada kesinambungan historis dengan UUD asli (sebelum perubahan). Amandemen atau perubahan merupakan suatu bentuk hukum, bukan sekedar prosedur. Inilah perubahan UUD 1945 yang disebut “perubahan pertama”. Tidak perlu semua anggota MPR menandatangani naskah perubahan. Cukup suatu berita acara yang menerangkan penyelanggaraan perubahan sesuai dengan tata cara yang diatur dalam UUD dan naskah perubahan disertakan pada berita acara, termasuk daftar hadir dan sebagainya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Ir. Abdul Hafid Paronda, MT. Suasana politik yang prodemokratif sangat didambakan dalam setiap elemen kehidupan rakyat. Hal ini dapat dimengerti dengan menyadari bahwa rakyat adalah komunitas manusia yang ingin menikmati kearifan kemanusiaan yang dipandu oleh hati nuraninya. Sementara itu keniscayaan eksistensi rakyat merupakan konsensus politik internasional bagi keabsahan berdirinya sebuah negara. Kendati proklamasi kemerdekaan dimaklumi sebagai deklarasi kedaulatan dan pemerintahan sebagai perangkat pengayoman rakyat, sebuah negara tidak akan pernah diakui dunia kecuali karena pengakuan dan dukungan rakyat. Oleh karenanya itu yang selalu terjadi adalah setiap pemimpin yang memperatasnamakan perjuangan bangsa pasti menyatu dengan rakyat, terutama untuk menyatakan kemerdekaan tersebut, sekalipun kemudian tidak sedikit rakyat yang diabaikan dalam negara yang pernah diproklamasikannya sendiri.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ketika ketulusan kehidupan rakyat belum dirancukan oleh lingkungan sosial, ekonomi, dan politik yang tidak bertanggung jawab, suara rakyat betul-betul merekomendasikan nurani insani, realitas manusia bermartabat. Pengayoman nilai-nilai kemanusiaan merupakan program utama dengan melibatkan seluruh sektor kehidupan. Dalam kaitan inilah kemudian dikatakan bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan” (vox populi vox dei). Dan, untuk memperkuat komitmen kepedulian terhadap rakyat, maka Abraham Lincoln – Presiden Amerika Serikat ke-16 – menyatakan peran pemerintahannya sebagai yang : bersumber dari, digerakkan oleh dan diabdikan demi rakyat (from the people, by the people, for the people).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Salah satu khazanah kepemimpinan dunia sepanjang sejarah adalah sikap demokrasi Nabi Ibrahim as dalam mengayomi Ismail sebagai orang yang dipimpin. Ibrahim as tidak segera memberlakukan amanat konstitusi yang muatannya begitu gamblang sebelum mempersilakan Ismail mengemukakan pendapat, pertimbangan dan menjalankan hak jawabnya. Sikap ini justru dikedepankan Ibrahim dalam kesadarannya yang kental sebagai mandataris setia dan terpercaya. Oleh karena itu, sehubungan dengan kepemimpinan dan demokrasi, ayat 102 surat Ash-Shaffat memberikan penekanan bukan pada dieksekusinya Ismail sebagai bukti ketaatan kepada Tuhan, tetapi lebih merupakan sikap demokrat sang pemimpin sebagai konsekuensi kebenaran konstitusi yang dirujuknya. Ibrahim sebagai simbol pemegang otoritas tak terbantah justru harus mengayomi Ismail sebagai simbol rakyat yang dipimpin, dengan penuh kearifan, keterbukaan, dan persuasi komunikasi yang mencerminkan demokrasi berkualitas tinggi. Hanya dengan begitu, maka kesinambungan kerjasama dan usaha bersama antara kedua pihak akan terpelihara.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam konteks yang dikedepankan tersebut, tampak jelas bahwa pemimpin (Ibrahim) dan rakyat (Ismail) sama-sama memegang peran sentral secara seimbang (koeksistensial). Sekalipun dipahami bahwa suasana seperti itu tidak mungkin terwujud kecuali karena kearifan sang pemimpin (yang bersedia memberikan peluang kepada rakyatnya untuk mewujudkan hak-hak asasinya – tanpa harus merasa kehilangan sebagian kekuasaannya); karena bagaimanapun dialah pemegang otoritas tertinggi secara formal dalam pelaksanaan peraturan dan perundang-undangan. Pada saat yang sama pun seyogyanya dimaklumi bahwa pengayoman rakyat dan kearifan demokrasi seperti itu hanya dapat diperankan oleh manusia yang memenuhi stereotipe keibrahiman.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Suatu hal yang tak terbantah bahwa Ibrahim kemudian bersikap demokrat dan sangat peduli rakyat (Ismail) setelah (pertama) ia mampu menetralisir segala egoisme kebapakannya yang boleh jadi akan memberlakukan Ismail – anaknya, sebagai bagian dari pertanggungjawaban keluarga dan rumah tangganya sendiri. Bahkan, Ibrahim (pemimpin) menyikap Ismail (rakyat) dengan sangat proporsional – sebagai orang yang sudah dewasa, sehingga memenuhi kriteria keabsahan berpendapat dan pengungkapan suara politiknya. Kedua, dalam skala makro, perjalanan Ibrahim hingga mencapai tampuk kekuasaan kepemimpinan sama sekali terbebas dari spekulasi dan rumor politik suksesi. Dukungan rakyat bermuara kepada kepemimpinan Ibrahim antara lain setelah Ibrahim membuktikan keunggulan prestisiusnya dalam forum dialog yang mematahkan logika ideologi politik kekuasaan rejim Namrudz yang tiranik (QS. 2 : 258).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ibrahim memangku amanat kepemimpinan sebagai panggilan tanggung jawab sosial demi penyelamatan rakyat dari berbagai intimidasi rejim (Namrudz) serta untuk membimbing manusia kepada masa depan cerah tanpa diskriminasi sedikitpun. Itulah sebabnya tipe manusia yang sarat dengan nilai keibrahiman sangat diidamkan manusia sejagat, terutama untuk mengemban misi kepemimpinan universal. Bahwa Ibrahim mengambil alih tongkat kepemimpinan bukanlah sebagai instrumen untuk mempraktikkan nepotisme kekuasaan sudah cukup dimengerti dengan menafikan pendirian ‘ayah’ (?) dan mengeksekusi anak kandungnya sendiri. Dan sebagai pejuang hak asasi manusia universal, maka kehadiran Ibrahim tidak terikat pada kelompok manusia dengan agama formal tertentu (termasuk umat Islam), tetapi ia hadir untuk memandu siapapun kepada konsistensi kemanusiaan universal yang ditandai dengan ketaatan dan ketundukan sejati kepada aturan yang menyelamatkan manusia dalam kehidupannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Nilai-nilai keibrahiman adalah suatu agenda kepribadian yang niscaya bagi tegaknya sebuah kepemimpinan dan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Karena itu, dengan Iedul Qurban (termasuk penyembelihan hewan kurban) bukan hanya seseorang semakin mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah secara spiritual, tetapi sikap bersih diri dan kualitas kehidupan demokrasi secara sosial dalam dimensi politik – konstitusional pun diharapkan kian berpeluang untuk ditumbuhkembangkan – seperti halnya yang dilakukan oleh Ibrahim.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Partisipasi oleh pria dan wanita adalah pedoman kunci good governance. Partisipasi dapat dilakukan secara langsung atau melalui perwakilan- perwakilan atau institusi- institusi perantara yang sah. Penting untuk ditunjukkan bahwa dalam demokrasi perwakilan tidak selalu berarti kekuatiran pihak- pihak yang paling lemah dalam masyarakat akan selalu dipertimbangkan dalam pembuatan kebijakan. Partisipasi perlu untuk disebar luaskan pada masyarakat dan di organisasi masyarakat. Ini berarti kebebasan berserikat dan menyatakan pendapat pada satu sisi dan masyarakat sipil pada sisi yang lain.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Terdapat beberapa pelaku dan sudut pandang dalam masyarakat. Good governance memerlukan mediasi kepentingan- kepentingan dalam masyarakat untuk mencapai kesepakatan yang luas tentang apa yang menjadi kepentingan paling utama seluruh anggota masyarakat dan bagaimana hal tersebut dapat dicapai. Hal tersebut juga memerlukan suatu perspektif jangka panjang yang luas tentang apa yang diperlukan dalam pembangunan manusia yang berkelanjutan dan bagaimana mencapai tujuan- tujuan pembangunan tersebut. Kesepakatan tersebut hanya dapat dihasilkan dari pengertian dalam konteks historis, budaya dan sosial masyarakat atau komunitas.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Akuntabilitas adalah kebutuhan kunci untuk (mewujudkan) good governance. Tidak hanya institusi- institusi pemerintah tetapi juga organisasi- organisasi sektor swasta dan masyarakat sipil harus akuntabel terhadap masyarakat dan para pemegang kepentingan dalam institusi mereka. ‘Siapa yang akuntabel terhadap siapa’, bervariasi tergantung pada apakah keputusan- keputusan atau tindakan- tindakan yang diambil termasuk internal atau eksternal pada suatu organisasi atau institusi. Secara umum suatu organisasi atau institusi (seharusnya) akuntabel pada siapa yang akan dipengaruhi oleh keputusan- keputusan atau tindakan- tindakannya. Akuntabilitas tidak dapat diterapkan tanpa transparansi dan tegaknya hukum.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pemerintahan yang bersih dan baik (clean and good government) adalah idaman. Istilah yang semakin populer dalam dua dekade ini, semakin menjadi tuntutan, dalam kondisi ketika korupsi, kolusi, nepotisme, dan penyalahgunaan wewenang (abuse of power) lainnya begitu menggejala di berbagai belahan dunia. Kekecewaan terhadap performance pemerintahan di berbagai negara, baik di negara dunia ketiga maupun di negara maju, telah mendorong berkembangnya tuntutan akan kehadiran pemerintahan yang baik dan bersih.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pemerintahan yang bersih umumnya berlangsung di negara yang masyarakatnya menghormati hukum. pemerintahan yang seperti ini juga disebut sebagai pemerintahan yang baik (good governance). pemerintahan yang baik itu hanya bisa dibangun melalui pemerintahan yang bersih (clean government) dengan aparatur birokrasinya yang terbebas dari KKN. Dalam rangka mewujudkan clean government, pemerintah harus memiliki moral dan proaktif mewujudkan partisipasi, serta check and balances. Tidak mungkin mengharapkan pemerintah sebagai suatu komponen dari proses politik memenuhi prinsip clean government dalam ketiadaan partisipasi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bisakah pemerintahan yang bersih dan baik dibangun saat ini, ketika sistem hukum, moral aparat, kemiskinan akibat kesalahan sistem dan kebangkrutan birokrasi di semua lini dan tingkatan, dibangun ? Tulisan ringkas ini, mencoba memotret kondisi birokrasi, Indonesia khususnya, serta menggagas solusi membangun birokrasi, sebagai upaya mewujudkan clean and good governance. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bisa memancing diskusi yang lebih intens, guna mencari solusi total atas kebangkrutan birokrasi yang sedemikian parah saat ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

pemerintahan yang baik dan bersih diukur dari performance birokrasinya. Pengalaman dan kinerja birokrasi di berbagai negara telah melahirkan dua pandangan yang saling bertentangan terhadap birokrasi. Pandangan pertama melihat birokrasi sebagai kebutuhan, yang akan mengefisienkan dan mengefektifkan pekerjaan pemerintahan. Pandangan kedua, melihat birokrasi sebagai “musuh” bersama, yang kerjanya hanya mempersulit hidup rakyat, sarangnya korupsi, tidak melayani, cenderung kaku dan formalistis, penuh dengan arogansi (yang bersembunyi di balik hukum), dan sebagainya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Padahal, secara konseptual, birokrasi, sebagai sebuah organisasi pelaksana pemerintahan, adalah sebuah badan yang netral. Faktor di luar birokrasilah yang akan menentukan wajah birokrasi menjadi baik ataupun jahat, yaitu manusia yang menjalankan birokrasi dan sistem yang dipakai, tempat birokrasi itu hidup dan bekerja. Artinya, bila sistem (politik, pemerintahan, dan sosial budaya) yang dipakai oleh suatu negara adalah baik dan para pejabat birokrasi juga orang-orang yang baik, maka birokrasi menjadi sebuah badan yang baik, lagi efektif. Sebaliknya, bila birokrasi itu hidup di dalam sebuah sistem yang jelek, hukumnya lemah, serta ditunggangi oleh para pejabat yang tidak jujur, maka birokrasi akan menjadi buruk dan menakutkan bagi rakyatnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Indikator buruknya kerja birokrasi pada umumnya berfokus pada terjadinya korupsi di dalam birokrasi tersebut. Indonesia dari waktu ke waktu terkenal dengan tingkat korupsi yang tinggi. Pada tahun 1998, siaran pers Tranparansi Internasional, sebuah organisasi internasional antikorupsi yang bermarkas di Berlin, melaporkan, Indonesia merupakan negara korup keenam terbesar di dunia setelah lima negara gurem, yakni Kamerun, Paraguay, Honduras, Tanzania, dan Nigeria. (Kompas, 24/09/1998). Tiga tahun kemudian, 2001, Transparansi Internasional telah memasukkan Indonesia sebagai bangsa yang terkorup keempat di muka bumi. Sebuah identifikasi yang membuat bangsa kita tidak lagi punya hak untuk berjalan tanpa harus menunduk malu (Hamid Awaludin, Korupsi Semakin Ganas, Kompas, 16/08/2001). Juga, di tahun 2002, hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang bermarkas di Hongkong, menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup di Asia, dikuntit India dan Vietnam (Teten Masduki, Korupsi dan Reformasi “Good Governance”, Kompas, 15/04/2002).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Survei Nasional Korupsi yang dilakukan oleh Partnership for Governance Reform melaporkan bahwa hampir setengahnya (48%) dari pejabat pemerintah diperkirakan menerima pembayaran tidak resmi (Media Indonesia, 19/11/2001). Artinya, setengah dari pejabat birokrasi melakukan praktik korupsi (uang). Belum lagi terhitung korupsi dalam bentuk penggunaan waktu kerja yang tidak semestinya, pemanfaatan fasilitas negara untuk kepentingan selain itu. Maka, hanya tinggal segelintir kecil saja aparat birokrasi yang mempertahankan kesucian dirinya, di lingkungan yang demikian kotor. Dengan begitu, ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN, hanya manis di mulut tanpa political will yang memadai.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Praktik korupsi di Indonesia, sebenarnya bukan saja terjadi pada dua-tiga dekade terakhir. Di era pemerintahan Soekarno, misalnya, Bung Hatta sudah mulai berteriak bahwa korupsi adalah budaya bangsa. Malah, pada tahun 1950-an, pemerintah sudah membentuk tim khusus untuk menangani masalah korupsi. Pada era Soekarno itulah kita kenal bahwa salah satu departemen yang kotor, justru Departemen Agama dengan skandal kain kafan. Saat itu, kain untuk membungkus mayat (kain kaci), masih harus diimpor. Peran departemen ini sangat dominan untuk urusan tersebut (Hamid Awaludin, Korupsi Semakin Ganas, Kompas, 16/08/2001).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dewasa ini, spektrum korupsi di Indonesia sudah merasuk di hampir semua sisi kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan. Mulai dari pembuatan KTP, IMB, tender proyek-proyek BUMN, penjualan aset negara oleh BPPN, penggerogotan dana Bulog, bahkan sampai tukang parkir dan penjual tiket kereta api pun sudah terbiasa melakukan tindak korupsi. Korupsi yang demikian subur ini, kemudian dijadikan argumentasi, bahwa korupsi adalah budaya kita. Karena merupakan budaya, maka sulit untuk diubah, demikianlah kesimpulan sementara orang. Oleh karena itu, gerakan anti korupsi dipandang usaha yang sia-sia. Urusan korupsi, hanya dapat kita serahkan pada “kebaikan hati” rakyat saja. Sebuah kesimpulan yang dangkal dan tergesa-gesa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kebangkrutan birokrasi, sebagai akibat korupsi terjadi di mana-mana, baik di negara maju maupun negara terbelakang. David Osborne dan Ted Gaebler (Mewirausahakan Birokrasi, Pustaka Binaman Pressindo, 1995) mensinyalir, bagaimana birokrasi di amerika, yang 100 tahun lalu dipandang positif, kini semakin dirasakan lamban, tidak lincah, tidak bisa menyesuaikan dengan perubahan kebutuhan masyarakat. Birokrasi kota-kota di amerika menjadi demikian gemuk dan korup, sehingga tidak bisa diharapkan lagi. Di Nigeria, korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan juga tumbuh subur. Presiden Nigeria Shehu Shagari di tahun 1982 menyatakan, “Hal yang paling merisaukan saya lebih dari apa pun juga adalah soal kemerosotan akhlak di negeri kami. Ada masalah suap, korupsi, kurangnya ketaatan akan tugas, ketidakjujuran, dan segala cacat semacam itu” (Robert Klitgaard, Membasmi Korupsi, Yayasan Obor Indonesia, 1998). Kekhawatiran serupa juga diungkapkan oleh Presiden Meksiko Jose Lopez Portillo, diakhir masa jabatannya, “Rakyat Meksiko secara tidak halal telah mengeruk lebih banyak uang keluar dari Meksiko selama dua tahun terakhir ini daripada yang pernah dijarah kaum imperialis selama seluruh sejarah negeri kita” (Robert Klitgaard, Membasmi Korupsi, Yayasan Obor Indonesia, 1998).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Buruknya kinerja birokrasi bukan saja menggerogoti uang negara. Birokrasi yang buruk juga akan menyebabkan pelayanan yang jelek, sehingga menimbulkan high cost economy di semua lini kehidupan. Harga BBM yang terus menerus naik, bukan saja disebabkan oleh harga minyak di pasaran dunia, tapi juga disebabkan oleh tidak efisiennya kerja Pertamina. Drs. Gandhi, (Tenaga Ahli BPK) dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh CIDES bekerja sama dengan HU Republika pada tanggal 26 Maret 1998 memberi catatan beberapa contoh korupsi yang ditemui dalam pemeriksaan BPK.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

a. uang yang belum/sementara tidak dipakai sering diinvestasikan dalam bentuk deposito. Di samping bunga yang resmi (yang tercantum dalam sertifikat deposito atau surat perjanjian lainnya), bank biasanya memberikan premi (bunga ekstra). Bunga ekstra ini sebenarnya merupakan jasa uang negara yang didepositokan itu, sehingga seharusnya menambah penerimaan investasi dalam bentuk deposito tadi. Akan tetapi, sering dalam kenyataannya, bunga ekstra ini tidak tampak dalam pembukuan instansi yang mendepositokannya. Bunga ekstra ini bisa lebih besar apabila uang negara itu disimpan dalam bentuk giro. Ke mana perginya bunga ekstra ini dapat diperkirakan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

b. BUMN pengelola uang pensiunan atau asuransi harus menginvestasikan uangnya agar dapat membayar pensiun dan kewajiban asuransinya pada yang berhak. Di samping investasi dalam bentuk deposito, bisa juga diinvestasikan dalam perusahaan-perusahaan swasta. Sering terjadi investasi dilakukan pada perusahaan milik pribadi atau grup dari pejabat BUMN yang bersangkutan. Biasanya investasi pada perusahaan tersebut hanya memberikan hasil yang sangat kecil atau bahkan sama sekali tidak memberikan keuntungan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

b. Petugas bea dan cukai kadang-kadang mengetahui bahwa suatu Pemberitahuan Barang Masuk tidak sesuai dengan kenyataannya, tetapi ia tidak mengadakan koreksi seperti yang seharusnya, tetapi ia menerima sogokan sejumlah uang dari pemilik barang untuk meloloskan barang tersebut. Tidak jarang terjadi, seorang petugas bea dan cukai memperlambat pemeriksaan barang dengan jalan mengada-ada masalah. Walaupun pemilik barang telah melaporkan apa adanya, ia terpaksa memberikan sogokan kepada petugas agar barangnya dapat segera keluar dari pelabuhan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Apakah yang menyebabkan rusaknya birokrasi? Bila korupsi merupakan penyakit utama birokrasi, maka dapat ditelusuri sebab-sebabnya. Bagi mereka yang berpandangan bahwa korupsi adalah sebuah budaya, dan budaya adalah sesuatu yang sulit diubah, maka sikap yang dilahirkan adalah menerima korupsi sebagai sebuah keharusan. Pandangan seperti ini sangat dipengaruhi oleh paham paternalistis, ketika pemberian hadiah dan upeti dari rakyat kepada pemimpin (pemerintah) adalah sesuatu yang baik. Oleh karena itu, bagi mereka praktik korupsi tidak dipandang sebagai hal negatif yang harus dimusnahkan. Korupsi dengan berbagai istilah dan spesifikasinya adalah bentuk penghormatan, rasa terima kasih, minta perlindungan, dan kasih sayang kepada penguasa atau pejabat negara. Pada masyarakat yang seperti ini, korupsi, dengan istilah lain “hadiah” atau “buah tangan”, adalah sebuah instrumen yang menjaga keseimbangan dan keberlangsungan sistem. Masalahnya, apakah budaya itu merupakan sesuatu yang hadir secara tiba-tiba dan harus diterima begitu saja, atau justru merupakan buah dari dipakainya sebuah sistem? Melihat kenyataan, banyaknya negara yang berubah semakin tidak korup, maka dapat dikatakan bahwa budaya itu bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Dengan demikian, pada dasarnya sistemlah yang akan membentuk budaya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Orientasi dan pemahaman manusia tentang kebahagiaan mengalami pergeseran paradigma yang kemudian menentukan perubahan sikap. Pergeseran ini bukanlah sesuatu yang alamiah, tetapi merupakan sebuah perubahan yang terjadi akibat dari perubahan ideologi yang dianut bangsa tersebut. Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi materialisme, maka kebahagiaan diukur dari berapa banyak materi (uang) yang dapat dikumpulkan dan dimiliki. Dalam masyarakat seperti ini, segala sesuatu diukur dengan uang. Maka kebahagiaan, kehormatan, status sosial, intelektualitas, kesejahteraan, dan segala nilai kebaikan, diukur dengan materi (uang). Karena itu, segala cara dihalalkan untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, tidak terlalu penting, apakah uang itu diperoleh dengan cara yang halal atau haram.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pola rekrutmen pejabat negara (PNS) akan menentukan kualitas aparat birokrasi. Kondisi, tempat birokrasi diserahi tugas untuk menyediakan lapangan kerja, sebagai salah satu bentuk memperluas dukungan politik bagi penguasa, maka rekrutmen PNS tidak dijalankan dengan mengedepankan kapabilitas profesional. Tindakan KKN juga memperburuk kualitas aparat birokrasi. Dengan demikian, yang paling mungkin menjadi PNS adalah anak pejabat, kerabatnya pimpinan pemerintahan, atau orang-orang yang mempunyai cukup banyak uang untuk memuluskan jalannya menjadi PNS. Kualitas SDM yang jelek, kemudian menyebabkan birokrasi tidak mampu menjalankan fungsinya. Lihatlah, betapa banyak petugas penyuluh lapangan (pertanian, perikanan, dan kehutanan) yang tidak mempunyai kemampuan dasar penyuluh, misalnya berpidato di depan massa (komunikasi massa). Karena itu, tanpa kemampuan dasar tersebut, maka tugas utama mereka, memberi penyuluhan kepada masyarakat, tidak bisa dijalankan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tentu saja sumbangan faktor individu dalam kerusakan birokrasi, tidaklah berdiri sendiri. Karena pada saat kita menfokuskan perhatian pada aspek individu, pada dasarnya kita sedang berbicara “buah” dari sebuah sistem. Sebuah sistem secara sistematis merancang pembangunan karakter pribadi individual masyarakatnya. Dalam masyarakat kapitalis, yang menjunjung tinggi individualisme, memang “seolah-olah”, karakter pribadi dari warganya, seperti tidak dibangun secara formal. Namun, pola pendidikan, tata nilai (sosial, kemasyarakatan, keluarga), sistem ekonomi, serta sistem sosial yang dipakai secara sistematis akan membentuk individu-individu yang mengagungkan kebebasan individu sebagai puncak kebahagiaan. Maka dari itu, lahirlah sebuah masyarakat yang individualistis sekaligus materialistis. Dalam masyarakat yang materialistis ini sekarang kita hidup, sehingga sangat wajar bila kemudian kita menghadapi kenyataan, tingginya tingkat korupsi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

sistem yang dimaksud meliputi segenap sistem kenegaraan, pemerintahan, hukum, birokrasi, dan sosial. Secara internal, birokrasi membentuk sistemnya sendiri. Namun, kinerja birokrasi tidak ditentukan oleh faktor tunggal, dia sangat dipengaruhi oleh sistem-sistem lain yang dipakai di negara bersangkutan. Mohtar Mas’oed (Politik, Birokrasi dan Pembangunan, Pustaka Pelajar, 1997) mengatakan. Pertama, birokrasi tidak pernah beroperasi dalam “ruang-hampa politik” dan bukan aktor netral dalam politik. Kedua, negara-negara dunia ketiga lebih sering dipengaruhi oleh sistem internasional, daripada sebaliknya. Artinya, birokrasi, dalam hidupnya dipengaruhi dan mempengaruhi sistem-sistem lain yang ada di lingkungannya, bahkan termasuk lingkungan internasional.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Besar kecilnya birokrasi dan wewenangnya, ditentukan oleh fungsi pemerintahan yang didefinisikan oleh sistem politik dan pemerintahan yang dipakai negara tersebut. Sebuah negara, yang menempatkan fungsi pembangunan sebagai salah satu tugas utama pemerintah (agent of development), seperti Indonesia, akan membentuk sebuah birokrasi yang besar. Birokrasi yang demikian, kemudian juga akan memiliki wewenang yang super-besar dan pengelolaan anggaran yang besar juga. Hampir semua sektor kehidupan akan dirambah oleh birokrasi pembangunan itu. Sejalan dengan wewenang dan anggaran yang besar, maka peluang untuk terjadinya korupsi juga membesar. Birokrasi yang gemuk seperti itu juga tidak akan bisa bergerak cepat dan lincah, walau hanya sekadar mengikuti perubahan tuntutan kebutuhan masyarakatnya. Fenomena maraknya korupsi di birokrasi Indonesia yang super-gemuk itu (4-5 juta PNS) juga dapat kita telusuri dari penggunaan istilah departemen/direktorat/ bagian/unit “basah”, terutama di departemen keuangan, dirjen pajak, bea cukai, bagian keuangan, dinas pendapatan, badan perencanaan, dan lain-lain.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

sistem hukum yang lemah. sistem hukum yang kita pakai bukan saja tidak bisa menjalankan fungsinya guna mencegah terjadinya korupsi, kolusi, nepotisme, dan penyalahgunaan jabatan lainnya. Namun, juga tidak mampu menjadi pembuat jera bagi penjahat berdasi yang dihukuminya. Ironisnya lagi, begitu banyak kasus korupsi yang tidak bisa dihukumi dengan sistem hukum yang ada. sistem hukum yang ada juga tidak mampu menyediakan aparat penegak hukum yang andal. Para hakim, jaksa, polisi, dan penasihat hukum lebih tunduk pada tekanan politik dan publik daripada menaati aturan hukum baku yang ditetapkan. Penasihat hukum yang diduga kuat melakukan “penyuapan” terhadap saksi kasus korupsi dan pembunuhan, tidak bisa digugat hanya karena ketidakjelasan hukum. Yang terjadi kemudian perdebatan di antara aparat penegak hukum dalam menafsirkan sebuah ketentuan hukum.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Penegakan hukum yang setengah hati atas kasus-kasus korupsi bukan saja tidak membuat para koruptor takut, tapi juga sekaligus membuat penghormatan terhadap hukum menjadi sangat rendah. Hukum, kalaupun terpaksa tidak bisa dihindari, masih bisa dibeli. Bahkan, kalaupun putusan hakim telah dijatuhkan, masih tersedia instrumen lain (banding, kasasi, atau Peninjauan Kembali [PK]) yang bisa juga dibeli dari hasil korupsi. Kalaupun para koruptor itu tetap saja kalah dan dijebloskan ke “hotel prodeo”, maka masih ada banyak kesempatan untuk melenggang keluar, menikmati kebebasan, dan menghabiskan dana korupsi yang masih tetap dikuasai. Cukup dengan uang ratusan ribu rupiah, sang terpidana bisa menikmati week end bersama keluarga di rumah. Atau, kalau mau keluar selamanya, bayar saja petugas penjara yang berpenghasilan kecil itu, sejuta atau dua juta cukup untuk membuat pintu penjara terbuka lebar.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Rendahnya gaji PNS disebabkan oleh besarnya jumlah PNS yang harus dihidupi oleh negara. Pada masa Orde Baru, termasuk sampai kini, birokrasi dijadikan salah satu pihak yang bertugas menyediakan lapangan kerja. Hal ini menyebabkan besarnya jumlah PNS. Rendahnya gaji PNS juga disebabkan oleh tingkat perkembangan ekonomi negara yang tidak terlalu menggembirakan. Kalaupun Indonesia pernah dijagokan sebagai salah satu Macan Asia dalam pembangunan ekonomi, tapi pertumbuhan ekonomi itu lebih banyak dipacu oleh utang luar negeri yang masuk. Kalaupun terjadi pertumbuhan ekonomi yang signifikan, tetap saja kekayaan itu tidak terdistribusikan secara baik, sehingga yang terjadi kemudian adalah angka kesenjangan ekonomi yang tinggi. Dengan demikian, tingkat kemampuan negara menggaji PNS ditentukan oleh sistem ekonomi yang dipakai. Negara yang menggunakan sistem ekonomi yang sangat produktif dan pola distribusi kekayaan yang baik, niscaya akan mampu mengumpulkan dana yang cukup untuk menggaji PNS-nya secara layak. Begitu pula sistem politik yang tidak membebani birokrasi dengan tugas menampung limpahan tenaga kerja, niscaya akan membentuk birokrasi yang ramping dengan jumlah PNS yang rasional, sehingga dana yang dimiliki negara untuk gaji akan proporsional dengan jumlah PNS.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

sistem Sosial. Bukan menjadi rahasia umum lagi, bahwa kerusakan birokrasi sangat ditentukan oleh perilaku aparat yang korup. Namun, perilaku yang korup itu tidak mungkin akan subur, bila sistem sosial yang dipakai di masyarakat tidak kondusif untuk itu. Dalam masyarakat yang menghormati kejujuran, kebenaran dan keamanahan, korupsi adalah tindakan yang paling dibenci dan dicaci. Perbuatan korupsi akan dihindari sebisa mungkin. Kalaupun terjadi, maka para pejabat akan berusaha menutup-nutupinya. Dalam masyarakat seperti itu, para koruptor tidak akan dihormati, mereka akan dihinakan, tidak digauli, bahkan mungkin juga diasingkan dari masyarakatnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebaliknya, di masyarakat yang sangat mengagungkan materi, sekaligus tidak terlalu peduli dari mana materi diperoleh, korupsi justru terjadi dengan dukungan dan kerja sama dengan masyarakat. Seorang koruptor yang “baik hati”, yang suka melakukan kegiatan sosial, memberi sumbangan bagi pembangunan rumah ibadah, menyantuni panti jompo, adalah “malaikat” yang dipuja-puja. Bahkan, koruptor yang rajin membantu pesantren, akan lebih dihormati daripada pemimpin pesantrennya sendiri. Dalam masyarakat yang tidak peduli seperti itu, jangan harap terjadi proses kontrol sosial. Apa yang disebut dengan amar makruf nahi munkar pun tinggal di kitab-kitab kuning yang dihapalkan para santri. Sementara itu, sang Kyai lebih asyik masyuk bercengkerama dengan para koruptor yang baik hati, daripada menasihati atau malah memperingatkan sang koruptor.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Birokrasi yang korup jelas tidak efisien dan tidak bisa bekerja secara efektif. Birokrasi yang seperti ini, lebih banyak mengurus dirinya sendiri, daripada menjalankan fungsinya untuk melayani dan menfasilitasi masyarakat, serta menegakkan hukum ditengah-tengah masyarakat. Anggaran yang besar, lebih banyak digunakan untuk mengurus aparat birokrasi, daripada meningkatkan kinerja birokrasi. Birokrasi yang korup dalam waktu yang panjang akan melahirkan budaya korup di lingkungan birokrasi. Dalam lingkungan yang seperti ini, profesionalisme tinggal slogan. Yang terpenting bukan menjadi aparat yang produktif dan efektif, tapi yang penting adalah bagaimana bisa menyesuaikan diri atau bahkan sekaligus terlibat aktif dalam praktik korupsi yang menggurita itu. Dalam lingkungan yang demikian, tidak ada tempat bagi mereka yang ‘sok suci’, menolak korupsi. Orang-orang jujur menjadi teralienasi di lingkungannya, mereka menjadi orang yang aneh, tidak gaul dan mungkin seperti ‘pesakitan’ yang patut dikasihani.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Salah satu dampak wabah korupsi yang adalah High Cost Economy. Korupsi yang meluas di semua sektor publik, telah menaikkan ongkos produksi. Biaya perizinan yang membengkak mendorong tingginya biaya produksi. Akibatnya, rakyat biasa yang menjadi konsumen akhir suatu produk, yang harus membayar mahal. Tingginya korupsi dari proyek-proyek pemerintah, mengakibatkan jalan, jembatan, pelabuhan, dan fasilitas publik lainnya cepat rusak dan membutuhkan biaya perawatan yang tinggi. Bila dugaan begawan ekonomi Indonesia Soemitro Djojohadikusumo, bahwa korupsi di Indonesia, menggerogoti 30% anggaran, maka dapat dibayangkan kualitas proyek yang dijalankan. Karena itu, wajar saja bila sebagian besar anggaran pembangunan, termasuk pinjaman luar negeri, dialokasikan guna merehabilitasi dan me-maintenance fasilitas publik dan kantor-kantor pemerintahan. Artinya, biaya yang seyogyanya bisa digunakan untuk menambah fasilitas, tapi justru hanya dihabiskan guna merawat fasilitas yang tidak berkualitas. Belum lagi, proyek perawatan itu juga sangat rentan untuk dikorupsi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Korupsi juga merendahkan minat orang untuk berinvestasi. Para pemilik modal malas berurusan dengan birokrasi yang berbelit-belit dan mahal. Padahal, usaha yang dijalankan belum tentu menguntungkan, tapi mereka telah lebih dulu dipungli. Akibatnya, para investor lebih memilih menginvestasikan dananya di bank dalam bentuk tabungan atau deposito yang tidak berisiko dan tidak harus berhadapan dengan pejabat yang korup. “Kira-kira 35% dari usaha bisnis melaporkan alasan utama untuk tidak berinvestasi adalah karena biaya tinggi berkaitan dengan korupsi” (Media Indonesia, 19/11/2001)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Angka kemiskinan yang begitu tinggi disinyalir turut diperparah oleh praktik birokrasi. Birokrasi yang korup, bukan saja tidak mendorong kondisi yang sehat untuk bisnis dan perputaran ekonomi, tapi juga telah menyedot sebagian besar kapital dan didistribusikan di lingkungannya. Dengan demikian, kemiskinan itu terjadi akibat dikuasainya sebagian besar kapital oleh segelintir orang, yaitu penguasa dan pengusaha yang berkolusi dengan penguasa. Rendahnya investasi, akibat langsung dari maraknya korupsi, menyebabkan sedikitnya lapangan kerja yang tersedia, pengangguran meningkat, dan itu artinya, semakin banyak orang yang miskin.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Korupsi yang demikian meluas dan membudaya juga berakibat pada rusaknya karakter kepribadian aparat dan masyarakat. Nilai-nilai kebaikan berupa penghormatan yang tinggi pada kejujuran, kebenaran, amanah, dan keikhlasan tidak lagi digunakan. Yang dihormati adalah kedudukan, pangkat, dan materi yang banyak. Semakin kaya seseorang, maka semakin dihormati orang tersebut. Kepribadian yang luhur dan baik tidak lagi menjadi anutan. Para pejabat yang korup, dan bisa menyembunyikan perilakunya di mata publik, menjadi anutan. Dalam kondisi parah seperti ini, masyarakat tidak lagi ingin menjadi orang baik (yang miskin), mereka ingin menjadi orang kaya yang serba “wah”, tidak penting apakah dia korup, penipu, dan maling berdasi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Oleh karena hukum tidak mampu mengendalikan korupsi, bahkan juga terlibat dalam praktik korupsi, maka hukum tidak lagi menjadi institusi yang dihormati. Rendahnya penghormatan terhadap hukum, sekaligus menghilangkan harapan masyarakat untuk mencari keadilan di depan hukum. Hilangnya kepercayaan terhadap hukum, juga telah mendorong perilaku main hakim sendiri. Maraknya perilaku anarkis dalam lima tahun terakhir, menunjukkan betapa hukum tidak mampu menjalankan fungsinya. Maling ayam yang tertangkap tangan oleh massa, biasanya tidak diserahkan kepada polisi, tapi langsung diinterogasi, dipukuli, dan dibakar beramai-ramai oleh masyarakat. Begitu pula pengemudi kendaraan yang mengalami kecelakaan, menabrak seorang anak kecil yang bermain di jalan, juga harus merenggang nyawa, disirami bensin dan dibakar bersama mobilnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Korupsi yang merambah sektor pendidikan dan kesehatan tidak kalah hebatnya. SD Inpres yang baru dibangun, ambruk diterjang angin. anak-anak harus bersekolah ditempat penampungan sementara. Pendidikan yang baik, menjadi sangat mahal. Bisnis pendidikan sudah kehilangan hati nurani dan idealismenya. Kualitas pendidikan menjadi sangat rendah, dan lembaga pendidikan tidak lagi berorientasi pada peningkatan kualitas manusia, tapi lebih menjadi sebuah lembaga bisnis yang rakus. Sektor kesehatan demikian pula. Korupsi tidak saja membuat kualitas fasilitas kesehatan masyarakat buruk, tapi juga merusak perilaku pelayanan aparat birokrasi kesehatan. Rumah sakit milik pemerintah, dikelola seadanya, tidak mempunyai jiwa melayani, tidak ramah dan sekaligus mahal. Rakyat miskin, yang seyogyanya mendapat pelayanan kesehatan gratis, justru harus membayar mahal untuk pelayanan yang buruk itu. Wajar, bila kemudian kualitas kesehatan masyarakat dari hari ke hari makin buruk.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

pemerintahan yang bersih dan baik, dengan kata lain, birokrasi yang bersih dan baik, haruslah dibangun secara sistematis dan terus-menerus. Pola pikir yang dikotomis, yang menghadapkan upaya membangun pribadi yang baik dengan upaya membangun sistem yang baik, ibarat memilih telur atau ayam yang harus didahulukan. Pola pikir yang demikian ini tidaklah tepat, karena memang tidak bisa memisahkan antara kedua sisi ini. Individu yang baik tidak mungkin muncul dari sebuah sistem yang buruk, demikian pula sistem yang baik, tidak akan berarti banyak bila dijalankan oleh orang-orang yang korup. Yang harus dilakukan adalah membina masyarakat secara terus-menerus agar menjadi individu yang baik, yang menyadari bahwa pemerintahan yang baik hanya dapat dibangun oleh orang yang baik dan sistem yang baik. Masyarakat juga terus-menerus disadarkan, bahwa hanya sistem terbaiklah, yang bisa memberi harapan bagi mereka, menjamin keadilan, serta melayani dengan keikhlasan dan melindungi rakyatnya. Rakyat juga harus disadarkan, bahwa para pemimpin haruslah orang yang baik, jujur, amanah, cerdas, profesional, serta pembela kebenaran dan keadilan. Masyarakat juga perlu didasarkan bahwa sistem yang baik dan pemimpin yang baik tidak bisa dibiarkan menjalankan pemerintahan sendiri, mereka harus terus dijaga, dinasihati, dan diingatkan dengan cara yang baik.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adakalanya suap diberikan dengan maksud agar pejabat yang bersangkutan tidak menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya. Suap jenis ini pun amat dihindari oleh para sahabat Nabi saw. Rasulullah saw. pernah mengutus Abdullah bin Rawahah ke daerah Khaibar (daerah Yahudi yang baru ditaklukkan kaum muslim) untuk menaksir hasil panen kebun kurma daerah itu. Sesuai dengan perjanjian, hasil panen akan dibagi dua dengan orang-orang Yahudi Khaibar. Tatkala Abdullah bin Rawahah tengah bertugas, datang orang-orang Yahudi kepadanya dengan membawa perhiasan yang mereka kumpulkan dari istri-istri mereka, seraya berkata, “Perhiasan itu untuk anda, tetapi ringankanlah kami dan berikan kepada kami bagian lebih dari separuh”. Abdullah bin Rawahah menjawab, “Hai kaum Yahudi, demi Allah, kalian memang manusia-manusia hamba Allah yang paling kubenci. Apa yang kalian lakukan ini justru mendorong diriku lebih merendahkan kalian. Suap yang kalian tawarkan itu adalah barang haram dan kaum muslim tidak memakannya!” Mendengar jawaban itu mereka serentak menyahut, “Karena itulah langit dan bumi tetap tegak”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hadiah atau hibah adalah harta yang diberikan kepada penguasa atau aparatnya sebagi pemberian. Perbedaannya dengan suap, bahwa hadiah itu diberikan bukan sebagai imbalan atas suatu kepentingan, karena si pemberi hadiah telah terpenuhi keinginannya, baik secara langsung maupun melalui perantara. Hadiah atau hibah diberikan atas dasar pamrih tertentu, agar pada suatu ketika ia dapat memperoleh kepentingannya dari penerima hadiah/hibah. Hadiah semacam ini diharamkan dalam sistem Islam. Rasulullah saw. bersabda:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Amma ba’du, aku telah mempekerjakan beberapa orang di antara kalian untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan Allah Swt. kepadaku. Kemudian, salah seorang dari mereka itu datang dan berkata, “Ini kuserahkan kepada Anda, sedangkan ini adalah hadiah yang diberikan orang kepadaku.” Jika apa yang dikatakannya itu benar, apakah tidak lebih baik kalau ia duduk saja di rumah ayah atau ibunya sampai hadiah itu datang kepadanya? Demi Allah, siapa pun di antara kalian yang mengambil sesuatu dari zakat itu tanpa haq, maka pada hari kiamat kelak akan menghadap Allah sambil membawa apa yang diambilnya itu”. Hadis ini menunjukan, bahwa hadiah pada umumnya diberikan orang kepada pejabat tertentu karena jabatannya. Seandainya ia tidak menduduki jabatan itu, tentulah hadiah itu tidak akan datang kepadanya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Penghitungan kekayaan. Untuk menjaga dari perbuatan curang, khalifah Umar menghitung kekayaan seseorang di awal jabatannya sebagai pejabat negara, kemudian menghitung ulang di akhir jabatan. Bila terdapat kenaikan yang tidak wajar, Umar memerintahkan agar menyerahkan kelebihan itu kepada Baitul mal, atau membagi dua kekayaan tersebut, separo untuk Baitul Mal dan sisanya diserahkan kepada yang bersangkutan. Muhammad bin Maslamah ditugasi khalifah Umar membagi dua kekayaan penguasa Bahrain, Abu Hurairah; penguasa Mesir, Amr bin Ash; penguasa Kufah, Saad bin Abi Waqqash. Jadi, Umar telah berhasil mengatasi secara mendasar sebab-sebab yang menimbulkan kerusakan mental para birokrat. Upaya penghitungan kekayaan tidaklah sulit dilakukan bila semua sistem mendukung, apalagi bila masyarakat turut berperan mengawasi perilaku birokrat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Keteladanan pemimpin adalah langkah selanjutnya yang diharuskan sistem Islam. Dalam sistem Islam, kemunculan seorang pemimpin mengikuti proses seleksi yang sangat ketat dan panjang. Seseorang, tidak mungkin menjadi pemimpin di sebuah provinsi, tanpa melalui proses seleksi alamiah di tingkat bawahnya. Pola dasar yang memunculkan seorang pemimpin mengikuti pola penentuan seorang imam shalat. Seorang imam shalat adalah orang yang paling berilmu, saleh, paling baik bacaan shalatnya, serta paling bijaksana. Seorang imam shalat adalah orang terbaik di lingkungan jamaahnya. Dari sinilah, sumber kepemimpinan itu berasal. Pola ini secara alamiah, sadar atau tidak sadar, akan diikuti dalam penentuan kepemimpinan tingkat atasnya. Seorang khalifah (kepala negara) tentulah bersumber dari imam-imam terbaik yang ada di negara tersebut. Oleh karena setiap pemimpin merupakan orang terbaik di lingkungannya, maka dapat dipastikan mereka adalah orang yang kuat keimanannya, tinggi kapabilitas dan sekaligus akseptabilitasnya. Pemimpin seperti inilah yang akan menjadi teladan, baik bagi para birokrat bawahannya, maupun bagi rakyatnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Penegakan hukum merupakan aspek penting lainnya yang harus dijalankan dalam sistem Islam. Hukuman dalam Islam mempunyai fungsi sebagai pencegah. Para koruptor akan mendapat hukuman yang setimpal dengan tindak kejahatannya. Para koruptor kelas kakap, yang dengan tindakannya itu bisa mengganggu perekonomian negara, apalagi bisa memperbesar angka kemiskinan, dapat diancam dengan hukuman mati, di samping hukuman kurungan. Dengan begitu, para koruptor atau calon koruptor akan berpikir berulang kali untuk melakukan aksinya. Apalagi, dalam Islam, seorang koruptor dapat dihukum tasyir, yaitu berupa pewartaan atas diri koruptor. Pada zaman dahulu mereka diarak keliling kota, tapi pada masa kini bisa menggunakan media massa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dengan iman akan tercipta mekanisme pengendalian diri yang andal. Dengan iman pula para birokrat, juga semua rakyat, akan berusaha keras mencari rezeki secara halal dan memanfaatkannya hanya di jalan yang diridhai Allah Swt. Rasulullah saw. menegaskan, bahwa manusia akan ditanya tentang umurnya untuk apa dimanfaatkan, tentang masa mudanya ke mana dilewatkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa, serta tentang ilmunya untuk apa digunakan. Bagi birokrat sejati, lebih baik memakan tanah daripada menikmati rezeki haram.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kontrol merupakan satu instrumen penting yang harus ada dalam membangun pemerintahan yang bersih dan baik. Kontrol bukan saja dilakukan secara internal, oleh pemimpin kepada bawahannya, melainkan juga oleh rakyat kepada aparat negaranya. Kesadaran dan pemahaman akan pentingnya kontrol ini, haruslah dimiliki oleh segenap pemimpin pemerintahan, para aparat di bawahnya, dan oleh segenap rakyat. Semua orang harus menyadari bahwa keinginan untuk membangun pemerintahan yang baik hanya dapat dicapai dengan bersama-sama melakukan fungsi kontrolnya. Dalam sejarah kepemimpinan pemerintahan Islam, tercatat, bagaimana khalifah Umar bin Kattab telah mengambil inisiatif dan sekaligus mendorong rakyatnya untuk melakukan kewajibannya mengontrol pemerintah. khalifah Umar di awal kepemimpinannya berkata, “Apabila kalian melihatku menyimpang dari jalan Islam, maka luruskanlah aku walaupun dengan pedang”. Lalu, seorang laki-laki menyambut dengan lantang, “Kalau begitu, demi Allah, aku akan meluruskanmu dengan pedang ini.” Melihat itu Umar bergembira, bukan menangkap atau menuduhnya menghina kepala negara.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pengawasan oleh masyarakat akan tumbuh apabila masyarakat hidup dalam sebuah sistem yang menempatkan aktivitas pengawasan (baik kepada penguasa maupun sesama warga) adalah sebuah aktivitas wajib lagi mulia. Melakukan pengawasan dan koreksi terhadap penguasa hukumnya adalah wajib. Ketaatan kepada penguasa tidak berarti harus mendiamkan mereka. “Allah Swt. telah mewajibkan kepada kaum muslim untuk melakukan koreksi kepada penguasa mereka. Perintah kepada mereka agar mengubah para penguasa tersebut bersifat tegas; apabila mereka merampas hak-hak rakyat, mengabaikan kewajiban-kewajiban rakyat, melalaikan salah satu urusan rakyat, menyimpang dari hukum-hukum Islam, atau memerintah dengan selain hukum yang diturunkan oleh Allah Swt”. (Taqiyyuddin An-Nabhani; sistem pemerintahan Islam, Al-Izzah, 1996)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Memenuhi urusan rakyat termasuk kegiatan ri’ayatu asy-syu’un, sedangkan ri’ayatu asy-syu’un itu adalah semata-mata wewenang khalifah, maka seorang khalifah memiliki hak untuk mengadopsi teknis administrasi (uslub idari) yang dia kehendaki, lalu dia perintahkan agar teknis administrasi tersebut dilaksanakan. khalifah juga memiliki hak diperbolehkan membuat semua bentuk perundang-undangan dan sistem administrasi (nidzam idari), lalu mewajibkan atas seluruh rakyat untuk melaksanakannya. Dalam hubungan ini, semuanya itu merupakan kegiatan-kegiatan substansi. khalifah juga diperbolehkan untuk memerintahkan salah satu di antaranya, kemudian hal menjadi mengikat semua orang untuk melaksanakan aturan tersebut, tidak dengan aturan yang lain. Dengan demikian, pada saat itu hukum menaatinya menjadi wajib. Hal ini merupakan kewajiban untuk menaati salah satu hukum yang ditetapkan oleh khalifah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam hal ini, artinya khalifah telah menetapkan suatu hukum (tabanniy) terhadap suatu perkara yang telah dijadikan oleh syara’ sebagai haknya. Artinya, khalifah telah melakukan hal-hal yang diangap perlu untuk memudahkannya dalam menjalankan tugasnya, yaitu ri’ayatu asy-syu’un. Oleh karena itu, ketika dia menetapkan suatu hukum berkaitan dengan sistem administrasi, rakyat wajib terikat dengan apa yang telah ditetapkannya tersebut dan perkara ini termasuk dalam hal ketaatan terhadap ulil amri. Hal tersebut merupakan kegiatan administrasi negara dilihat dari sisi penanganannya, sedangkan dalam kaitannya mengenai perincian kegiatan administrasi, dapat diambil dari fakta kegiatan administrasi itu sendiri.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dengan meneliti faktanya, akan tampak bahwa di sana terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan oleh khalifah sendiri atau oleh para pembantunya (mu’awin). Baik berupa kegiatan pemerintahan, yaitu menerapkan hukum syara’, maupun kegiatan administrasi, yaitu melaksanakan semua urusan yang bersifat substansi, dari kegiatan penerapan hukum syara’, bagi semua orang, dalam konteks hal ini memerlukan cara dan sarana tertentu. Oleh karena itu, harus ada aparat khusus yang dimiliki khalifah dalam rangka mengurusi urusan rakyat sebagai tangung jawab kekhilafahan tersebut. Di samping itu, ada urusan-urusan yang menyangkut kepentingan rakyat yang harus dipenuhi. Maka dari itu, dibutuhkan adanya instansi yang secara khusus bertugas memenuhi kepentingan rakyat, dan ini adalah suatu keharusan, berdasarkan kaidah:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Instansi tersebut terdiri dari departemen, jawatan, dan unit-unit tertentu. Departemen antara lain Pendidikan, Kesehatan, Pertanian, Perhubungan, Penerangan, Pertanahan, dan lain sebagainya. Semua departeman mengurusi departemennya sendiri, beserta jawatan dan unit-unit di bawahnya. Adapun jawatan adalah instansi yang mengurusi jawatannya dan unit-unit di bawahnya. Adapun unit-unit tersebut mengurusi urusan unit itu sendiri, beserta bagian-bagian dan subbagian di bawahnya. Semuanya di bentuk untuk menjalankan urusan-urusan administrasi negara, serta memenuhi kepentingan-kepentingan rakyat. Pada tingkat yang paling atas diangkat pejabat yang bertanggung jawab kepada khalifah dan secara langsung mengurusi urusan departemen tersebut, berikut para aparat di tingkat ke bawahnya hingga sub-subbagian di dalam departemen tersebut.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Administrasi Negara dalam Islam dibangun berdasarkan falsafah: wa-in kaana dzu ‘usratin fanadhiratun ila maysarah (Jika ada orang yang mempunyai kesulitan, maka hendaknya dilihat bagaimana memudahkannya). Dengan demikian, ia bersifat untuk memudahkan urusan dan bukan untuk menekan, apalagi memeras orang yang menghendaki kemaslahatannya dipenuhi atau ditunaikan. Adapun strategi yang di jalankan dalam rangka mengurusi maslah administrasi ini adalah dilandasi dengan suatu kaidah: Sederhana dalam peraturan, cepat dalam pelayanan, serta profesional dalam penanganan. Hal ini diambil dari realitas pelayanan terhadap kebutuhan itu sendiri. Umumnya orang yang mempunyai kebutuhan tersebut menginginkan agar kebutuhannya dilayani dengan cepat dan terpenuhi dengan sempurna (memuaskan).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Karena itu, kesempurnaan dalam menunaikan pekerjaan jelas diperintahkan oleh syara’. Agar tercapai kesempurnaan dalam menunaikan urusan tersebut, maka penanganannya harus memenuhi tiga kriteria tersebut, 1) sederhana dalam peraturan, karena dengan kesederhanaan itu akan menyebabkan kemudahan. Kesederhanaan itu dilakukan dengan tidak memerlukan banyak meja,atau berbelit-belit Sebaliknya, aturan yang rumit akan menimbulkan kesulitan yang menyebabkan para pencari kemaslahatan menjadi susah dan jengkel. 2) cepat dalam pelayanan, karena kecepatan dapat mempermudah bagi orang yang mempunyai kebutuhan terhadap sesuatu untuk meperolehnya, dan 3) pekerjaan itu ditangani oleh orang yang ahli (profesional). Dengan demikian, semuanya mengharuskan kesempurnaan kerja, sebagaimana yang dituntut oleh hasil kerja itu sendiri.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Membangun pemerintahan yang baik bukanlah pekerjaan yang mudah. Itu merupakan pekerjaan besar yang harus diawali dari pemahaman dasar atas visi dan misi pemerintahan. Oleh karena itu, pilihan utama atas ideologi apa yang akan dijadikan landasan pembangunan pemerintahan, akan menentukan terbuka atau tidaknya harapan, bagi upaya penciptaan pemerintahan yang baik itu. pemerintahan yang baik hanya bisa dicapai, bila ideologi yang menjadi pilihan adalah ideologi yang paling benar. Di atas ideologi yang paling benar itulah, akan dibangun sistem yang baik dan individu-individu yang tangguh.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

sistem Islam (syariat Islam) telah menunjukkan kemampuannya yang luar biasa. Kemampuannya bertahan hidup dalam rentang waktu yang demikian panjang (lebih 12 abad), dengan berbagai macam penyimpangan dan pengkhianatan oleh para penyelenggaranya, telah menegaskan kapabilitas sistem yang belum ada tandingannya sampai saat ini, bahkan hingga akhir zaman. Dengan demikian, jawaban atas kebutuhan akan hadirnya pemerintahan yang baik itu adalah dengan menjadikan Islam sebagai ideologi, serta syariat Islam sebagai aturan kehidupan pemerintahan dan kemasyarakatan. Dengan syariat Islam itulah, kita membangun pemerintahan yang bersih dan baik, sekaligus mencetak aparat pemerintahan yang andal.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Peristiwa ledakan bom di gedung WTC, 11 September 2001 yang lalu cukup memberikan pengaruh pada situasi politik internasional belakangan ini . Ditandai dengan serangan besar-besaran oleh amerika Serikat terhadap Afghanistan yang pada akhirnya menumbangkan pemerintahan Taliban. Tidak berhenti sampai di sana amerika Serikat mencanangkan Perang Salib melawan terorisme yang disebutnya sebagai setan-setan. Negeri Paman Sam itu, kemudian memberikan dua pilihan kepada dunia: ikut AS melawan terorisme atau (kalau tidak) menjadi pendukung terorisme.Menyusul setelah ledakan WTC ini Presiden AS berpidato: “America and our friends and allies join with all those who want peace and security in this word, and we stand together to win the war againts terrorism”(amerika dan sahabat berikut aliansi kami akan bergabung dengan semua pihak yang menginginkan perdamaian dan keamanan di dunia ini dan kita akan bersama-sama berdiri melawan dan memenangkan peperangan terhadap terorisme). Urusan mengganyang terorisme ini kemudian menjadi urusan bersama dunia. Tak pelak lagi, hampir seluruh pemimpin seluruh dunia tunduk kepada tuntutan amerika Serikat, termasuk penguasa di negeri-negeri Islam. Perang melawan terorisme ini telah menjadi kebijakan politik luar negeri AS yang dominan sekarang ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

‘Perang’ melawan terorisme ala amerika ini menjadi lebih dramatis dan seru, karena AS dan sekutu-sekutu Baratnya mengampanyekan perang ini sebagai perang peradaban. Perang terhadap segala pihak yang ingin menghancurkan peradaban Barat (kapitalisme) yang demokratis, menghargai kebebasan, dan nilai-nilai hak asasi manusia. Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, 10 Nopember tahun lalu, Bush berkata,’This is a current in history and it runs toward freedom”. Nyanyian yang sama dilagukan oleh Perdana Menteri Inggris, Blair pada 14 September 2002, yang berkata, “Our belief are very opposite of the fanatics. We believe reason, democracy and tolerance. These beliefs are the foundation of our civilised world” (Keyakinan kita sangat bertentangan dengan orang-orang fanatik. Kita memercayai akal sehat, demokrasi, dan toleransi. Kepercayaan ini adalah fondasi dari peradaban dunia kita). Pada 20 September, Blair juga berkata, “This is a struggle that consern us all, the whole of democratic and civilized and free world” (Ini merupakan perjuangan yang merupakan perhatian kita semua, demokrasi, peradaban, dan dunia bebas).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ironisnya, ketika presiden AS George W. Bush mengatakan dengan nada mengancam kepada seluruh pemimpin dunia, “Either you are with us or you are with the terrorist”(Apakah anda berada di belakang kami, atau anda bersama para teroris), maka itu berarti politik luar negeri AS telah membagi dunia ke dalam dua blok, yaitu blok amerika dan blok teroris. Saat itu, tidak mengherankan kalau sikap para penguasa muslim di dunia Islam berbondong-bondong membela dan berada di belakang komando/perintah amerika Serikat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sungguh, negeri-negeri Islam pada saat ini mengalami kemunduran yang luar biasa dalam peran politik luar negerinya. Penyebab utamanya adalah mereka tidak lagi menjadikan akidah Islam dan syariat Islam sebagai dasar dan asas yang mengatur politik luar negerinya. Dengan demikian, hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan politik luar negeri tidak lagi tampak pada saat ini. Para penguasa muslim telah berlaku sebagai penjaga-penjaga setia peradaban Barat. Keagungan Islam tidak lagi tampak dalam diri mereka, mereka telah menghamba kepada ideologi-ideologi dan peraturan-peraturan buatan manusia yang dipaksakan musuh-musuh Islam atas negeri-negeri Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Para penguasa muslim tidak dapat memainkan peran politik internasionalnya di tengah-tengah negara-negera lain. Bahkan, mereka tidak dapat membela dirinya sendiri dari propaganda-propaganda menyesatkan negara-negara besar. Tindakan mereka laksana kacung-kacung yang menaati perintah dan permintaan apa pun dari tuan-tuannya, negera-negara besar. Hanya ketidakberdayaan dan kehinaan yang dipertontonkan mereka di tengah-tengah peradaban manusia saat ini. Mereka lebih menaati manusia daripada menaati perintah Allah Swt. Juga, mereka lebih suka menjalankan dan membela mati-matian sistem kufur yang zalim dari pada sistem hukum yang berasal dari Allah Swt. dan Rasul-Nya yang mulia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Padahal, setiap negara di dunia ini pastilah memiliki politik luar negeri tersendiri. Negara tersebut pastilah melakukan interaksi dengan negera-negara lain. Politik luar negeri sebuah negara tentunya sangat memengaruhi keberadaan (eksistensi ) negara tersebut dan juga mempengaruhi politik dalam negeri negara tersebut. Terutama bagi sebuah negara ideologis, politik luar negeri berperan penting dalam penyebarluasan ideologinya dan membuat ideologinya unggul. Sekaligus hal tersebut akan memengaruhi keberadaan negara tersebut. Karena itu, negara-negara yang ideologis akan sungguh-sungguh memperhatikan politik luar negerinya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam literatur Hubungan Internasional perspektif Barat, dikatakan politik luar negeri pastilah ditujukan mencapai kepentingan suatu negara. Karena itu, tujuan nasional sebuah negara adalah perkara yang sangat penting. Politik luar negeri pada dasarnya merupakan semua sikap dan aktivitas ketika sebuah negara mencoba untuk menanggulangi masalah serta memetik keuntungan dari lingkungan internasionalnya. Dengan demikian, politik luar negeri sesungguhnya merupakan hasil dari interaksi lingkungan domestik dan lingkungan ekternalnya. Menurut Hosti, salah satu bentuk tujuan negara itu adalah nilai dari kepentingan inti yang melibatkan setiap eksistensi (keberadaan) pemerintah dan bangsa yang harus dilindungi dan diperluas ( Hosti, Politik Internasional Kerangka untuk Analisis, hlm. 137). Lebih jauh Hosti menjelaskan, tujuan kepentingan dan nilai inti ini dapat digambarkan sebagai jenis kepentingan yang untuk mencapainya kebanyakan orang bersedia melakukan pengorbanan yang sebesar-besarnya. Nilai dan kepentingan inti ini biasanya dikemukakan dalam bentuk asas-asas pokok kebijakan luar negeri dan menjadi keyakinan yang diterima masyarakat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Oleh karena itu, ideologi sangatlah penting sebagai dasar interaksi sebuah negara dengan negara lain. Berdasarkan peta ideologi ini, di dunia ada tiga ideologi besar yang melakukan pertarungan, yakni kapitalisme, Sosialisme-Komunis, dan Islam. Negara-negara berbasis ideologi Sosialisme-Komunis pernah berpengaruh dalam era perang dingin (cold war). Namun, setelah Rusia runtuh dan mengganti ideologinya menjadi Kapitalis, perannya semakin menyusut. Tinggallah saat ini dunia didominasi oleh ideologi kapitalisme yang dipimpin oleh amerika Serikat dan negara-negara Eropa, seperti Inggris dan Prancis. Adapun Islam sejak dibubarkannya Khilafah Islam, peran politik luar negerinya tidak ada sama sekali. Negeri-negeri Islam selama ini didominasi oleh negara-negara dengan basis ideologi Kapitalis atau Sosialis. Setelah perang dingin, total negeri-negeri Islam menginduk kepada amerika Serikat atau negara-negara Eropa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam kondisi seperti ini cara satu-satunya bagi umat Islam untuk kembali memainkan perannya secara ideologis sekarang ini adalah kembali menegakkan Khilafah Islam. Negara Khilafah Islam ini adalah negara yang didasarkan pada Islam, menerapkan hukum-hukum Islam, dan mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia. Negara Khilafah Islam akan menjalankan politik luar negerinya berdasarkan Islam. Karena itu, mengkaji kembali bagaimana politik luar negeri Islam di bawah Negara Khilafah Islam adalah sangat penting, untuk memberikan gambaran kepada siapa saja tentang ketinggian Islam. Di samping itu, hal ini juga penting untuk memberikan solusi kongkret bagi berbagai krisis di dunia Islam saat ini, seperti krisis Palestina, Afghanistan, Khasmir, tuduhan terorisme dan imperialisme AS.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Islam juga telah memosisikan keberlangsungan akidah Islam sebagai asas negara. Dengan demikian, Islam memerintahkan kaum muslim yang tengah hidup di dalam negera Khilafah Islam untuk mengangkat pedang (mengubah secara fisik) apabila muncul kekufuran secara terang-terangan dan terdapat upaya untuk mengubah asas negara dan kekuasaan dengan selain akidah Islam. Sabda Rasulullah saw.: “(Dan) hendaklah kita tidak merampas kekuasaan dari yang berhak, kecuali (sabda Rasulullah saw.) apabila kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti (tentang kekufuran itu) dari sisi Allah” (HR Bukhari dan muslim).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

akidah Islam ini menjadi dasar bagi mabda (ideologi) yang mengharuskan negara Khilafah Islam untuk menyebarluaskan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia. Penyebarluasan dakwah Islam oleh negara Khilafah merupakan asas negara Khilafah dalam membangun hubungannya dengan negara-negara lain. Dengan kata lain, penyebarluasan dakwah Islam merupakan prinsip politik luar negeri negara Khilafah Islam dalam membangun hubungannya dengan negara-negara lain, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun budaya, dan sebagainya. Pada semua bidang itu, dakwah Islam harus dijadikan asas bagi setiap tindakan dan kebijakan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perkara ini pula yang diikuti oleh para khalifah sebagai kepala negara dari Negara Islam selama berabad-abad hingga risalah Islam dan penaklukan Islam (futuhat) mencapai negeri-negeri yang sangat jauh dan luas. Mulai dari Makkah, Madinah, Jazirah Arab, sampai ke Persia, Syam, Mesir, Afrika Utara, dan kawasan Asia Tengah. Tidak berhenti sampai di sana, dakwah Islam masuk ke jantung Eropa, menaklukkan sebagian wilayah Prancis, sampai menyentuh gerbang kota Wina (Austria). Ke arah timur dakwah Islam sampai ke Asia Pasifik (Indonesia).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hadis ini adalah sebuah nas yang mensyaratkan keharusan berpindah ke Darul Muhajirin, agar mereka memperoleh hak dan kewajiban yang sama dengan hak dan kewajiban warga Darul Muhajirin. Darul Muhajirin adalah Darul Islam, sedangkan selainnya adalah Darul Harb. Karena itulah, orang-orang yang telah masuk Islam diminta berhijrah ke Darul Islam, agar diterapkan atas mereka hukum-hukum Darul Islam; dan apabila mereka tidak berpindah maka hukum-hukum Darul Islam tidak bisa diterapkan atas mereka, dengan kata lain yang diterapkan adalah hukum-hukum Darul Kufur.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di samping itu, istilah Darul Kufur dan Darul Islam, kedua-duanya adalah istilah syara’. Sebab, kata ‘Daar’ tersebut disandarkan pada Islam dan Harb atau Kufur berarti bukan muslim dan kuffar. Penyandaran Daar kepada Islam berarti al-Hukm (pemerintah) dan al-Amaan (keamanan) pada sebuah negara. Dengan demikian, Darul Islam mengandung arti bahwa yang memerintah dalam sebuah negara adalah Islam. Jadi, jika agama yang memerintah dalam sebuah negara, berarti kekuasaan dan keamanan adalah dalam naungan agama. Semua ini menunjukkan bukti bahwa dunia secara keseluruhan hanya terdiri atas Darul Islam dan Darul Kufur.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Negara Khilafah Islam menerapkan politik luar negeri berdasarkan metode (thariqah) tertentu yang tidak berubah, yakni dakwah dan jihad. Metode ini tidak berubah meskipun para penguasa Negara Islam berganti. Metode ini tidak berubah sejak Rasulullah saw. mendirikan Negara di Madinah, sampai keruntuhan Khilafah Islam. Saat Rasulullah di Madinah, beliau menyiapkan tentara dan memprakarsai jihad untuk menghilangkan berbagai bentuk halangan fisik yang mengganggu dakwah Islam. Kaum kafir Quraisy, adalah salah satu hambatan fisik yang menghalangi penyebarluasan Islam, sehingga harus diperangi. Rasulullah berhasil menyingkarkan hambatan fisik dari institusi pemerintahan kaum kafir Quraish dan kabilah-kabilah lain di Jazirah Arab, hingga Islam menyebar luas ke seluruh penjuru dunia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Salah satu tuduhan keji yang dilontarkan oleh Barat kepada Islam, adalah bahwa Islam disebarluaskan dengan darah dan peperangan. Mereka gambarkan pejuang-pejuang Islam dengan senjata di tangan kanan dan al-Quran di tangan kiri. Tuduhan keji ini juga mereka lontarkan terhadap Negara Khilafah Islam. Dalam hal ini tuduhan ini jelas palsu dan menipu. Memang metode penyebaran Islam adalah dengan cara jihad (perang). Namun, perang bukanlah langkah pertama yang dilakukan Negara Khilafah Islam. Negara Khilafah tidak pernah memulai peperangan menghadapi musuh-musuhnya, kecuali telah disampaikan kepada mereka tiga pilihan. Pilihan pertama, memeluk Islam. Kedua, membayar jizyah, artinya mereka tunduk kepada Negara Khilafah Islam berikut aturan-aturannya. Jika dua pilihan ini ditolak, langkah terakhir adalah dengan memerangi mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pilihan pertama yang disampaikan negara Khilafah kepada negara-negara Kafir adalah seruan untuk memeluk Islam. Jika mereka menerima dan memeluk Islam, maka mereka memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. Hak dan kewajiban mereka sama dengan hak dan kewajiban kaum muslim lainnya, yakni sebagai warga negara Khilafah Islam. Darah (jiwa) dan kehormatan mereka terjaga. Apabila mereka menolak pilihan pertama, maka disampaikan kepada mereka pilihan kedua, yakni membayar jizyah yang berfungsi sebagai pengunci peperangan dan penjaga jiwa mereka. Mereka tunduk kepada aturan-aturan Islam. Namun, mereka tidak boleh dipaksa untuk masuk Islam, berhak menjalankan ibadah agama mereka masing-masing. Kedudukan mereka sebagai warga negara negara Khilafah Islam sama. Artinya, Negara Khilafah Islam harus menjamin kebutuhan mereka dan keamanan mereka. Sebaliknya, kalau mereka menolak pilihan kedua ini, berarti mereka memilih berperang dengan negara Khilafah. Sabda Rasulullah saw. melalui Buraidah r.a. yang berkata:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

‘Rasulullah saw., apabila memerintahkan komandan perangnya (berperang), beliau menasihatinya—terutama supaya bertakwa kepada Allah–semoga kaum muslim yang turut bersamanya dalam keadaan baik. Kemudian, beliau bersabda:’…Jika engkau berjumpa dengan kaum musyrik berikanlah kepada mereka tiga pilihan atau kesempatan–bila mereka menyambut, terimalah–dan cukuplah atas apa yang mereka lakukan, (yaitu) serulah mereka kepada Islam, jika mereka menyambutnya maka terimalah dan cukuplah dari yang mereka utarakan. Lalu, serulah mereka supaya berpindah ke negeri Muhajirin. Apabila mereka menolak pindah, beritahukan bahwa mereka–kedudukannya–seperti orang-orang Arab muslim yang berlaku juga hukum Allah sebagaimana terhadap orang-orang mukmin. Mereka tidak memperoleh ghanimah dan fa’I kecuali turut serta berjihad dengan kaum muslim. Namun, jika mereka menolak (pilihan pertama) ini maka pungutlah jizyah. Dan bila mereka menyambutnya, terimalah dan cukuplah dari yang mereka utarakan. Akan tetapi, jika mereka menolak juga (pilihan kedua), maka mintalah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka” (HR muslim).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hadis Rasulullah ini menggambarkan bahwa peperangan merupakan alternatif terakhir. Rasulullah senantiasa mengirim utusan terlebih dahulu, mengajak mereka masuk Islam, berdialog untuk membuktikan kebatilan ajaran mereka. Bahkan, Rasulullah telah memilih jalan damai, meskipun disitu terdapat peluang besar untuk melanjutkan peperangan. Pada saat kaum muslim berhasil membuka kota Makkah dan orang-orang kafir berputus asa, Rasulullah saw. tidak melampiaskan dendam kepada mereka atau membinasakan dengan memerangi mereka. Rasulullah bersabda,”Pergilah kalian (ke mana saja kalian suka) karena kalian telah bebas”. Berdasarkan hal di atas perdamaian merupakan pilihan pertama dari hubungan internasional antara kaum muslim (Negara Khilafah Islam) dengan negeri-negeri yang lainnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

jihad fi sabilillah dalam Islam bukanlah untuk menaklukkan manusia, menguras dan mengeksploitasi harta kekayaan negeri lain, apalagi memusnahkan sekelompok umat manusia dari muka bumi. Seruan dan pelaksanaan jihad fi sabilillah dalam Islam adalah dalam rangka mengagungkan kalimat Allah serta menyebarluaskan Islam. jihad ditujukan untuk menyingkirkan kesesatan, kekufuran, dan kezaliman di tengah-tengah manusia. jihad juga ditujukan untuk menyingkarakan berbagai penghalang fisik dan ideologi yang menghalangi manusia untuk mendapat kebenaran. Tentu saja jihad tidak sama dengan imprialisme yang dilakukan oleh Barat yang telah menyebabkan banyak penderitaan umat manusia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kepergian Rasulullah saw. melaksanakan umrah pada peristiwa Hudaibiyah pada hakikatnya adalah bentuk perang dingin. Demikian pula propaganda dilakukan oleh Rasulullah berhubungan dengan ayat: “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram, katakanlah berperang dalam bulan itu adalah dosa besar” (TQS al-Baqarah [2]: 217). Rasulullah juga mengirim sahabat-sahabatnya untuk mengajarkan Islam ke Nejd, ini merupakan contoh dari strategi dakwah. Adapun surat-surat ataupun utusan-utusan yang dikirim Rasulullah kepada negara-negara, seperti Romawi, Persia, dan Habsyah merupakan bentuk diplomasi. Rasulullah juga melakukan berbagai perjanjian dengan wilayah sekitar, seperti dengan penduduk Ailah di perbatasan Syam, dan ini merupakan bentuk aktivitas politik.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hal ini dicontohkan oleh Rasulullah pada akhir tahun pertama Hijrah dan awal tahun ke dua Hijrah, dengan mempersiapkan pasukan militer dan berbagai ekspedisi militer. Sepertinya, dengan pasukan ini Rasulullah ingin memerangi kafir Quraisy, tapi maksud sesungguhnya adalah untuk menakut-nakuti kafir Quraisy dan kabilah-kabilah lain, yang bermaksud memusuhi Negara Islam. Tindakan ini juga bertujuan membuat gentar kaum munafik dan Yahudi yang ada di sekitar Madinah. Hal ini bisa dilihat dari jumlah pasukan yang dikirim sedikit, 60, 200, dan 300 orang. Tentu saja, jumlah yang sedikitnya tak cukup, kalau dimaksudkan untuk memerangi kafir Quraisy. Hasil yang diperoleh dari manuver politik ini adalah menyusupkan rasa takut pada musuh-musuh Islam, menghancurkan mental kafir Quraisy, serta untuk menimbulkan rasa takut di hati mereka. Dengan tindakan ini, Rasulullah berhasil ‘memaksa’ beberapa kabilah untuk melakukan perjanjian damai dengan beliau, seperti Bani Dhamrah, Bani Mudlij. Tentu saja, perjanjian damai dengan beberapa kabilah ini mencegah dan memecah koalisi kabilah-kabilah yang ingin menyerang Negara Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sama halnya saat Rasulullah melakukan manuver politik, dengan mengumumkan keinginannya untuk melaksanakan ibadah Haji pada tahun ke 6 Hijrah, meskipun saat itu sedang terjadi perseteruan antara Negara Islam Madinah dengan kafir Quraisy yang menguasai Makkah. Maksud Rasulullah sebenarnya adalah untuk ‘mendorong’ kafir Quraisy melakukkan perdamaian dengan beliau sehingga Khaibar bisa diperangi. Hal ini disebabkan Rasulullah saw. mendengar bahwa kafir Quraisy dan Khaibar sedang membangun koalisi untuk memerangi Madinah. Untuk memecah belah koalisi ini, Rasulullah berupaya untuk mengajukan perdamaian (gencatan senjata) ke Quraisy. Dengan demikian, Rasulullah akan lebih leluasa memerang Khaibar. Bahwa, tindakan Rasulullah mengumumkan keinginan untuk berhaji ke Makkah ini merupakan manuver politik, bisa dilihat dari tidak jadinya Rasulullah berhaji setelah mencapai perdamaian dengan kafir Quraisy.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perkara ini merupakan cara (uslub) yang bisa ditempuh oleh kepala negara atau khalifah. Tindakan ini dicontohkan oleh Rasulullah ketika terjadi perang propaganda menyangkut masalah tindakan ekspedisi Abdullah al-Jahsy yang ditugaskan Rasulullah untuk mengintai aktivitas kafir Quraisy. Namun, Abdullah al-Jahsy memerangi mereka, membunuh sebagiannya, menahan laki-laki, dan mengambil harta mereka. Padahal, peristiwa ini terjadi di bulan-bulan yang diharamkan. Peristiwa ini dimanfaat oleh kafir Quraisy untuk membuat propaganda yang menyudutkan dan menyerang, dan memberikan citra jelek Negara Islam Madinah. Saat itu, turun ayat Quran yang menyerang balik propanda orang kafir Quraisy dengan mengungkap kejahatan mereka. Firman Allah Swt.:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kata ‘mubin’ (jelas, terang) menjadi pedoman dalam tabligh (menyampaikan) dakwah Islam. Untuk itu, dakwah harus disampaikan dengan cara yang menarik perhatian, yakni dengan mengungkapkan keagungan pemikiran-pemikiran Islam, seperti menunjukkan bagaimana cara bermuamalah Negara Islam terhadap nonmuslim ahlul dzimmah, orang yang dilindungi dan yang terikat perjanjian dengan Negara Islam; fungsi penguasa adalah mengurus rakyat dan menjalankan hukum syara’, bukan menguasai rakyat; rakyat dibolehkan melakukan koreksi kepada penguasa, meskipun mereka tetap harus taat (meskipun penguasanya zalim), namun ketaatannya ini bukan dalam perkara maksiat; juga diungkapkan bagaimana perselisihan penguasa dengan rakyat diselesaikan lewat mahkamah madzalim.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berdasarkan syariat Islam, hukum-hukum syara’ yang berhubungan dengan perdagangan luar negeri terkait dengan pelaku perdagangan luar negeri tersebut,yaitu pedagangnya. Karena itu, yang dijadikan fokus pembahasan adalah para pedagangnya, bukan barang dagangannya atau harta bendanya. Hal ini karena hukum syara’ berhubungan dengan aktivitas hamba-Nya. Barang dagangan terkait dengan dengan pemiliknya sehingga hukumnya mengikuti hukum hukum para pemiliknya (pedagang). Adapun beberapa pengaturannya adalah sebagai berikut:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

dengan Negara-negara kafir Mu’ahid (yang terikat perjanjian dengan Negara Khilafah), diberlakukan hubungan perdagangan dengan mereka sesuai dengan butir-butir yang terdapat dalam teks perjanjian; Termasuk detail barang-barang yang bisa diekspor atau impor. Di luar barang-barang tersebut tidak dibolehkan. Demikian pula dengan barang-barang militer atau barang yang bisa menambah kekuatan negara lain, tidak dibolehkan, seperti menjual uranium, pipa baja khusus, radar, satelit militer, teknologi angkasa luar, dan sebagainya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

dengan Negara kafir harbi berlaku hukum sebagai berikut; Pertama, jika antara kita dengan mereka tengah berkecamuk perang, maka kita memperlakukan mereka (termasuk pedagangnya) sebagai musuh yang dapat ditawan atau dibunuh, tidak dapat diberikan pas keamanan (visa khusus), dan harta benda mereka halal untuk dirampas. Kedua, jika dalam tidak keadaan perang dan tidak ada perjanjian, maka mereka tidak dibolehkan memasuki wilayah Negara Khilafah, kecuali dengan izin khusus (visa khusus). Perlakuan terhadap pedagangnya sama dengan seperti mereka memperlakukan para pedagang kita. Terhadap barang dagangannya, setiap jenisnya harus ada surat izin khusus. Khilafah juga tidak membolehkan menjual kepada mereka barang-barang militer atau sesuatu yang bisa memperkuat mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara ilmu pengetahuan (sains dan teknologi) dengan tsaqafah. Ilmu pengetahuan–termasuk sains dan teknologi—bersifat universal, tidak dimiliki dan dimonopoli oleh suatu bangsa tertentu. Siapa pun berhak mendapatkan dan mempelajarinya. Contohnya, adalah ilmu kimia, fisika, astronomi, anatomi, teknologi, dan sejenisnya. Adapun tsaqafah selalu terkait dengan pandangan hidup tertentu, seperti ilmu hukum, sistem ekonomi, ilmu pendidikan, ilmu pemerintahan, dan sejenisnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Negara-negara yang memiliki basis pada ideologi, seperti negara-negara Sosialis-Komunis, senantiasa mengusung tsaqafahnya ke seluruh dunia, karena di dalamnya telah terbalut cara pandang hidup tertentu. Oleh karena itu, negara Khilafah-–sebagai negara yang bersifat ideologis—harus memelihara tsaqafah generasi-generasinya agar kaum muslim memiliki Kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah) yang khas dan mulia. Dengan begitu, negara Khilafah mewajibkan seluruh sistem, program, dan kurikulum pendidikan yang berlaku di seluruh tempat pendidikan yang ada di bawah naungan Negara Khilafah Islam, merujuk pada sistem, serta program dan kurikulum negara Khilafah. Selain itu, negara harus menjamin bahwa sistem pendidikan yang berlangsung di negerinya bersih dari pengaruh ideologi ataupun pemahaman-pemahaman yang bertentangan dengan akidah Islam, dan bebas dari budaya asing.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berdasarkan hal ini, maka negara Khilafah tidak pernah mengizinkan pembukaan sekolah-sekolah asing yang bersifat otonom di negara Khilafah. Begitu pula misi-misi kebudayaan, ataupun bantuan (supervisi) dari luar negeri yang menyangkut tsaqafah asing, tidak diberi peluang untuk dapat memasuki wilayah negara Khilafah. Akan tetapi, kerja sama ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi dengan negara-negara kafir Mu’ahid diperbolehkan sesuai dengan bentuk kerja samanya dengan negara-negara tersebut. Kecuali dengan negara kafir harbi fi’lan ataupun yang tidak memiliki kerjasama/perjanjian.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bukti nyata adalah apa yang dilakukan Rasulullah saw. dengan mengirimkan banyak utusan (semacam duta besar) ke berbagai negeri. Tugas mereka satu, yaitu menyerukan Islam. Kenyataan ini juga menunjukkan kebolehan membuka kedutaan besar di negara-negara tetangga. Tentu saja kompensasinya adalah membolehkan pula negara-negara tersebut untuk membuka kedutaan besarnya di wilayah negara Khilafah. Namun, dengan syarat tidak mempropagandakan tsaqafah asing ataupun propaganda politik/ideologis. Kebolehan untuk membuka hubungan diplomatik dengan negara-negara lain, serta adanya kekebalan diplomatik yang dimiliki oleh para duta besar asing, tercantum dalam sabda Rasulullah saw.:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Telah datang Ibnu Nuwahah dan Ibnu Afak, dua orang utusan dari Musailamah kepada Nabi saw. Kepada kedua utusan tersebut Rasulullah berkata, ‘Apakah engkau berdua bersaksi bahwasanya aku ini Rasulullah?’ Keduanya menjawab, ‘Kami bersaksi bahwa Musailamah itu adalah Rasulullah.’ Kemudian, berkata Rasulullah, ‘Aku beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Seandainya–tidak terdapat kebiasaan untuk tidak membunuh utusan–maka aku pasti akan membunuh dua orang utusan ini. Namun, telah berlangsung kebiasaan (umum) bahwa para utusan (duta besar) itu tidak boleh dibunuh” (HR Baihaqi, juga lihat Ibnu Katsir, Bidayah wa Nihayah, jld. V/51).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tentu saja faktor lain yang menentukan dibuka atau tidaknya kedutaan besar negara Khilafah adalah kepentingannya untuk kemaslahatan kaum muslim. Jika tidak ada manfaatnya, seperti terhadap negara-negara kafir harbi yang tidak memiliki perjanjian apa pun dengan Negara Islam, maka hubungan diplomatik itu tidak ada gunanya. Adanya hubungan diplomatik dengan negara-negara lain ini berarti, terdapat perjanjian (‘ahd) antara negara Khilafah dengan negara-negara kafir. Baik perjanjian itu, berupa perjanjian dalam bidang perdagangan/ekonomi, ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, bertetangga baik, maupun yang sejenisnya. Karena itu, negara-negara tersebut dinamakan negara kafir Mu’ahid.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perjanjian-perjanjian dan traktat-traktat yang dibuat oleh aparatur pelaksana negara sebelumnya dengan lembaga-lembaga internasional ataupun regional, maka perjanjian-perjanjian semacam ini harus segera dihapus. Sebab, kaum muslim tidak boleh bergabung dengan lembaga-lembaga internasional ataupun regional, PBB, Bank Dunia, IMF, IBRD, dan lain-lain. Sebab, lembaga-lembaga ini berdiri di atas asas yang bertentangan dengan hukum Islam. Selain itu, lembaga-lembaga ini merupakan alat politik negara besar, khususnya AS. AS telah memanfaatkan lembaga-lembaga ini untuk meraih kepentingan-kepentingan khusus mereka. Lembaga-lembaga ini merupakan media untuk menciptakan dominasi kaum kafir atas kaum muslim dan negara muslim. Oleh karena itu, secara syar’i hal ini tidak diperbolehkan sebab “al-wasiilatu ila al-harami haramun”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dunia Islam saat sekarang ini mengalami kemunduran yang luar biasa. Dominasi amerika Serikat dan negara-negara Eropa begitu kuat di dunia Islam. Berbagai penderitaan saat ini dialami oleh negeri-negeri Islam hampir pada seluruh aspek kehidupan. Secara politik, dunia Islam terpecah menjadi negeri-negeri kecil yang tidak berdaya menghadapi penjajahan Barat. Ide Nasionalisme yang dicangkokkan oleh Barat ke dunia Islam nyata-nyata telah memecah belah dunia Islam. Tidak hanya itu, karena dorongan nasionalisme dan patriotisme ini, negeri-negeri Islam saling berperang satu dengan yang lain. Irak-Iran hampir 8 tahun bertempur mengorbankan ribuan nyawa saudaranya sendiri. Irak menyerbu Kuwait, yang kemudian mengundang invasi amerika secara langsung di Timur Tengah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ide Nasionalisme ini juga telah menghalangi bersatunya kaum muslim, bahkan untuk menyelamatkan saudara-saudaranya seiman yang diancam kematian. Sangat jelas terlihat bagaimana negara-negara Arab mandul menghadapi Israel. Padahal, di depan mereka, negara zionis Israel membantai dan membunuh kaum muslim. Alasannya, kepentingan nasional (national interest). Pakistan rela membiarkan amerika Serikat melakukan pembantaian di Afghanistan, bahkan memberikan fasilitas bagi tentara amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Alasan Pakistan juga sama, yakni untuk kepentingan nasional Pakistan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Upaya lain yang dilakukan oleh Barat adalah merancang berbagai konflik di internal negeri Islam ataupun antar-negeri Islam. Secara internal berbagai chaos (kerusuhan) diciptakan sehingga memberi peluang bagi intervensi asing, seperti yang terjadi di Indonesia. Kerusuhan di Aceh, Ambon, dan Poso disinyalir tidak bisa dilepaskan dari campur tangan asing. Secara internal Barat membuat konflik dengan isu sengketa wilayah negara. Apa yang terjadi antara Irak-Kuwait, Iran-Irak, Indonesia-Malaysia, Kosovo,Khasmir, Siprus, Eriteria-Etopia, banyak disebabkan oleh persengketaan perbatasan. Sengketa wilayah ini telah digunakan oleh Barat untuk melakukan proses destabilisasi, sehingga negeri-negeri Islam melemah. Mereka kemudian melakukan intervensi dengan membuat rezim pemerintahan boneka. Apa yang terjadi di Afghanistan adalah contoh yang sangat jelas.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tidak hanya itu, lewat sistem negara sekuler yang dibuat oleh Barat, penjajah berhasil menanamkan dan memelihara kepentingan serakah mereka. AS dan Eropa, membentuk pemerintahan boneka, yang tunduk kepada mereka. Jadilah, hampir seluruh negeri Islam dipimpin oleh penguasa-penguasa yang menjadi budak amerika Serikat. penguasa-penguasa itu melakukan apa saja yang diperintahkan oleh AS dan Eropa, meskipun itu memiskinkan, bahkan membunuh rakyat mereka sendiri. Lihat saja bagaimana lemahnya penguasa-penguasa Arab menghadapi AS. Sampai-sampai mereka mendukung dan berdamai dengan Israel. Padahal, negara zionis itu telah membantai kaum muslim.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tidak hanya di bidang politik, secara ekonomi sebagian negeri-negeri Islam mengalami kemiskinan yang luar biasa. Walaupun negeri-negeri Islam adalah negeri yang kaya, sebagian besar penduduk mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Kesejahteraan mereka tidak layak, bahkan untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka sebagai manusia. Imperialisme Barat lewat sistem ekonomi kapitalisme secara sistematis memiskinkan dunia Islam. IMF, World Bank, utang Luar negeri, mata uang dolar, dan pasar bebas, telah menjadi sarana-sarana Barat untuk memiskinkan dunia Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Penyebab berbagai persoalan di tengah kaum muslim adalah satu, yakni penjajahan yang dilakukan oleh Barat dan sekutu-sekutunya. Hal itu tidak selalu dalam bentuk penjajahan militer, seperti di Afghanistan, Irak, dan Palestina. Namun, juga dalam bentuk ekonomi dan sistem pemerintahan kapitalis. Barat juga merusak pandangan hidup kaum muslim dan tingkah laku mereka, lewat penjajahan tsaqafah (kebudayaan). Penjajahan ini terjadi terutama setelah keruntuhan Negara Khilafah Islam, yang selama ini menjadi pelindung umat. Berikut adalah langkah-langkah yang akan diambil oleh Negara Khilafah Islam untuk menyelesaikan persoalan ini:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kekuatan sebuah negara terletak pada ideologinya. Artinya, sebuah negara akan kuat kalau dibangun oleh dasar ideologi yang kuat pula. Sebaliknya, negera akan bangkrut kalau ideologinya bangkrut. amerika Serikat dan sekutunya menjadi imperialis dunia, karena mereka adalah negara yang didasarkan pada ideologi Kapitalis. Demikian pula Rusia, menjadi negara yang kuat saat ideologi Sosialisme dan Komunisme mereka masih kuat. Sebaliknya, Rusia semakin mundur setelah ideologinya ambruk. Tidak jauh berbeda dengan negeri-negeri Islam, kelemahan mereka disebabkan Islam tidak lagi menjadi ideologi bagi sistem kehidupan mereka. Dengan kehadiran Negara Khilafah Islam, umat Islam akan kembali memiliki negara yang ideologis. Negara Khilafah Islam akan mememerintah dan memimpin umat Islam serta mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Terpecahbelahnya umat Islam selama ini, telah digunakan oleh Barat untuk melestarikan penjajahan mereka. Berbagai konflik mereka rancang, baik internal maupun eksternal. Selama ini konflik-konflik tersebut telah menjadi alat penjajahan Barat. Semua ini berpangkal dari diadopsinya ide Nasionalisme dan Patriotisme oleh negeri-negeri Islam. Keberadaan Negara Khilafah akan menghilangkan segala bentuk keterpecahbelahan itu. Negara Khilafah Islam akan menyatukan negeri-negeri Islam di bawah satu kepemimpinan, yakni seorang khalifah. Berbagai krisis akibat Nasionalisme dan persengketaan wilayah tidak akan muncul, karena seluruh negeri Islam dianggap merupakan negeri yang satu. Setiap muslim yang menjadi warga negara Negara Khilafah Islam bisa berpindah ke mana saja dalam wilayah Negara Khilafah Islam, tanpa memerlukan paspor atau visa. Tidak ada perbedaan tanah Sudan dengan Qatar, Irak dengan Kuwait, Irak dengan Iran, Malaysia dengan Indonesia, semuanya adalah tanah kaum muslim. Kesetiaan kaum muslim juga bukan pada wilayah mereka masing-masing, tapi kepada Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dengan menyatukan seluruh negeri Islam, kekuatan Negara Khilafah Islam akan sangat luar biasa. Dari potensi ekonomi, dari segi kekayaan alam negeri-negeri Islam merupakan negeri yang sangat kaya. Dunia Islam mengendalikan 60 % cadangan minyak dunia, Boron (40%), Fosfat (50%), Perlite (60%), Tin (22%), dan bahan alam penting lainnya seperti Uranium. Negeri-negeri Islam secara geografis menempati posisi yang strategis di dunia, terutama jalur laut. Kaum muslim menguasai daerah-daerah lalu lintas dunia yang penting, seperti Gibraltar di Mediterania barat, Terusan Suez di Mediterania Timur, selat Balb al-Mandab di Laut Merah, selat Dardanelles dan Bosphourus yang menghubungkan jalur laut Hitam ke Mediterania, menguasai selat Hormuz di Teluk. Di timur terdapat selat Malaka yang merupakan lokasi strategis di Timur Jauh. Selama ini Baratlah yang menguasai daerah-daerah strategis tersebut dengan berbagai alasan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dengan penyatuan dunia Islam, kekuatan bersenjata Negara Khilafah Islam akan sangat luar biasa. Dengan jumlah umat Islam di dunia yang lebih dari satu miliar, militer Negara Khilafah akan menjadi angkatan bersenjata yang sangat kuat. Seandainya satu persen saja direkrut jumlah tentara Islam lebih dari 10 juta. Tentu saja tidak hanya jumlah, Negara Khilafah Islamiyah akan berpikir keras untuk mengembangkan teknologi militer yang canggih. Dari segi sumber daya, kaum muslim memiliki pakar-pakar, ahli sains, serta ahli teknologi yang sangat banyak dan berkualitas. Turki dan Mesir saja memiliki lebih dari 560 ribu ilmuwan dan teknisi. Masalahnya selama ini potensi SDM yang luar biasa ini tidak digunakan untuk kepentingan Islam. Hal ini disebabkan negeri-negeri Islam tidak memanfaatkan mereka secara optimal. Negara Khilafah Islam tentu akan sangat serius untuk mengembangkan SDM ataupun sains dan teknologinya. Kekuatan sains dan teknologi tentu saja merupakan suatu perkara yang harus secara serius dipersiapkan untuk menaklukkan amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Negara Khilafah Islam akan membebaskan negeri-negeri Islam dari penjajahan ekonomi Kapitalis. Selama ini penerapan ekononomi Kapitalis secara sistematis telah memiskinkan dunia ketiga, termasuk dunia Islam. ekonomi Kapitalis banyak bicara tentang produksi, tapi melupakan pendistribusian. Yang terjadi adalah kesenjangan dan tidak terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat. Lewat mata uang dolar misalnya, Barat menguasai keuangan dunia. Bahkan, bisa menggoyang dan mengambrukkan perekonomian sebuah negera. Seperti yang terjadi di Indonesia, krisis ekonomi bermula dari krisis moneter. Ketergantungan pada dolar juga menyebabkan negeri-negeri Islam senantiasa dihantui oleh inflasi yang bisa membuat ambruk ekonominya. Utang luar negeri juga telah menjadi senjata bagi Barat untuk memiskinkan dan menimbulkan ketergantungan dunia Islam. IMF juga telah menjadi monster yang menakutkan. Dengan alasan investasi dan privitisasi telah terjadi perampokan terhadap negeri-negeri Islam. Negara Khilafah Islam akan menyelesaikan segala persoalan ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Politik ekonomi terpenting yang dilakukan oleh Negara Khilafah Islam adalah memenuhi kebutuhan dasar dari setiap warga negara, seperti makanan, kesehatan, pendidikan, dan lainnya. Distribusi menjadi perhatian utama dalam persoalan ekonomi. Dilakukan juga pemisahan yang jelas antara pemilikan individu, negara, dan umum. Dengan demikian, pemilikan umum yang seharusnya digunakan untuk rakyat, tidak jatuh ke tangan pemilik modal yang kuat. Beberapa langkah pokok akan dilakukan oleh Negara Khilafah Islam antara lain:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

amerika Serikat adalah negara yang selama ini paling berhasil membangun opini internasional. Seruannya untuk memerangi terorisme internasional disambut dan mendapat dukungan di mana-mana. Pada gilirannya, setiap tindakannya terhadap negara lain yang mengatasnamakan memerangi terorisme internasional kemudian dianggap legal dan wajar. Jadi, berkat kekuatan opini internasional, meskipun AS membantai ribuan muslim di Afghanistan, mengintervensi banyak negara, sepertinya negara-negara lain memakluminya. Sama halnya yang dilakukan oleh Israel. Kemampuan negara itu membangun opini membuat tindakan Israel membunuh dan menghancurkan palestina dianggap sah. Dalihnya adalah memberantas terorisme. Sebaliknya, tindakan pejuang Islam dianggap sebagai tindakan teroris. Jadi, opini umum sangat strategis dalam masyarakat internasional.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam hal ini tugas Negara Khilafah Islam adalah membangun opini umum yang benar tentang Islam dan Negara Islam itu sendiri dalam masyarakat internasional. Langkah ini dilakukan dengan mengirim utusan dakwah ke berbagai negera-negara di dunia yang menjelaskan tentang Islam dan posisi Negara Khilafah Islam yang akan membawa keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Target pertama, jelas adalah negeri-negeri Islam. Negara Khilafah Islam mengajak negeri-negeri Islam untuk bersatu di bawah naungan Negara Khilafah Islam. Menyakinkan negeri-negeri itu tentang kewajiban dan pentingnya bersatu. Berikutnya, adalah negara-negara yang memungkinkan bagi Negara Khilafah Islam untuk menjalin hubungan ekonomi dan persahabatan dengan mereka. Negara-negara seperti ini diserukan untuk bergabung dengan Negara Khilafah Islam atau menjalin perjanjian untuk mendukung Negara Khilafah Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Target ketiga adalah negara-negara kafir imperialis, seperti amerika Serikat, Prancis, atau Inggris. Negara Khilafah berupaya untuk menyeru negara-negara di dunia untuk melawan penjajahan imperialisme mereka. Membongkar strategi dan rencana-rencana busuk mereka terhadap negara-negara lain. Menunjukkan kebobrokan dan kepalsuan ideologi mereka. Pada gilirannya, negara-negara lain di dunia ini akan bergabung dengan Negara Khilafah Islam, atau paling tidak mendukung Negara Khilafah Islam. Dalam kondisi seperti ini tidak ada legitimasi masyarakat internasional lagi terhadap tindakan-tindakan imperialisme mereka, termasuk dukungan mereka terhadap Israel.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Setelah Negara Khilafah Islam mampu membangun negaranya menjadi negara adidaya yang kuat, lalu menggabungkan negeri-negeri Islam dengan segala potensi SDM dan ketinggian sains dan teknologinya. Negara Khilafah Islam akan melakukan pembebasan terhadap negeri-negeri Islam yang ditindas. Negara Khilafah Islam menyerukan jihad bagi seluruh rakyat untuk bersama-sama membebaskan saudara-saudaranya di Palestina, Khasmir, Bosnia, Afghanistan, dan negeri-negeri Islam lain dari penjajah imperialisme. Tindakan Negara Khilafah ini semakin kuat karena didukung oleh opini internasional yang telah dibangun sebelumnya tentang kebengisan negara-negara imperialis. Negara Khilafah Islam juga akan menjadi pelindung seluruh negeri-negeri Islam dari serangan musuh-musuh Islam. Dalam kondisi seperti ini Negara Khilafah Islam bisa jadi dalam posisi perang terbuka dengan negara-negara imperialis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Negara Khilafah belumlah berdiri. Akan tetapi, kita melihat bahwa dalam waktu yang sangat dekat Negara Khilafah pasti akan berdiri. Pernyataan ini bukan berarti mendahului “ketetapan ghaib”, tetapi ini merupakan hasil pengkajian terhadap realitas tempat kita hidup. Sesungguhnya, negara-negara besar mulai melemah. Ide Sosialisme tinggal sisa-sisanya saja. kapitalisme yang selalu melakukan perubahan bentuk, mengalami kekeroposan dari dalam. Tak ubahnya rayap yang memakan tongkatnya Nabi Sulaiman a.s. Kebusukan kapitalisme pun telah tersebar ke mana-mana. Begitu juga negara-negara yang berdiri di negeri-negeri kaum muslim, kerusakannya telah tersingkap, cacat cela mereka telah terkuak dengan lebar. Akibatnya, umat berlepas tangan dari kekuasaan mereka. Umat telah mengetahui penyakitnya, sekaligus mereka juga mengetahui bahwa obatnya hanya ada di dalam Islam. Tidak hanya itu, Rasulullah saw. telah menyampaikan kabar gembira kepada kita, bahwa kita akan memerangi orang-orang Yahudi atas nama Islam. Sungguh, waktu dan tahunnya sudah sangat dekat. Orang-orang Yahudi dari berbagai belahan dunia telah bermigrasi ke bumi Palestina agar kaum muslim mudah untuk menumpas mereka di bumi Isra’ dan Mi’raj itu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Umat juga sudah tidak percaya lagi dengan agama lain, selain agamanya. Umat juga sudah berani mendepak dan menghinakan para penguasanya. Mereka juga sudah muak dengan institusi-institusi pemerintahannya, malah menghinakannya. Tidak ada lain lagi, kecuali mereka ingin berhukum dengan Islam, menegakkan dan mengibarkan bendera La Ilaha Illa al-Allah. Adalah para pemuda Islam, mereka berjuang siang dan malam untuk melangsungkan kehidupan Islam dan menegakkan Negara Khilafah Islam ar-Rasyidah. Sungguh, Allah bersama mereka, menjadi Penyokong dan Penolong mereka. Allah Swt. berfirman:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Atas kehendak Allah, akan datang kepada kalian masa kenabian. Dan sungguh masa itu akan datang. Lalu, Allah mencabutnya, jika Ia telah berkehendak mencabutnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘Ala Minhaj al-Nubuwwah. Kemudian, atas kehendak Allah datanglah masa itu. Lalu, Allah mencabutnya, jika Allah berkehendak mencabutnya. Kemudian, datanglah masa “raja yang menggigit”. Maka datanglah masa itu atas kehendak Allah. Kemudian, masa itu dicabut jika Allah telah berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian, datanglah masa “raja pemaksa”. Dan sungguh, masa itu akan datang atas kehendak Allah. Kemudian, Allah mencabut masa itu jika Dia telah berkehendak mencabutNya. Kemudian, datanglah, masa Khilafah ‘Ala Minhaj Nubuwwah, kemudian beliau saw. diam.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

daulah Khilafah akan mengakhiri politik luar negeri yang penuh nuansa kelemahan dan ketertundukan ini, diganti dengan pola baru dengan dasar Islam. Berdasarkan syariah Islam, Khilafah akan membangun hubungan dengan negara-negara lain baik di bidang ekonomi, politik, budaya atau pendidikan. Dalam seluruh urusan luar negeri, Khilafah akan memastikan bahwa dakwah Islam bisa disampaikan kepada seluruh umat manusia dengan cara yang terbaik. Adapun hubungan daulah Khilafah dengan negara-negara lain akan dibangun dengan pola sebagai berikut:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pertama, negara yang menduduki wilayah Islam, atau negara yang terlibat secara aktif memerangi umat Islam seperti amerika Serikat, Inggris, Israel, dan India. Hubungan dengan negara-negara ini ditetapkan berdasarkan kebijakan Harbi Fi’lan (perang riil). Tidak boleh ada hubungan diplomatik maupun ekonomi antara Khilafah dengan negara-negara musuh ini. Warga negara mereka tidak diizinkan memasuki wilayah daulah Khilafah. Meski tengah terjadi gencatan senjata yang bersifat temporer, negara-negara itu tetap diperlakukan sebagai harbi fi’lan. Hubungan diplomatik dan ekonomi dengan negara-negara tersebut tetap tidak dilakukan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ketiga, negara-negara Kafir selain kedua kategori di atas. Terhadap negara-negara seperti ini, Khilafah diizinkan membuat perjanjian. Sambil terus mengamati skenario politik internasional, Khilafah diperbolehkan menerima atau menolak perjanjian demi kepentingan dakwah Islam. Di samping itu, perjanjian diplomatik dan ekonomi dengan negara-negara Kafir jenis ini harus dilakukan sesuai dengan syariah Islam. daulah Khilafah yang menguasai sumberdaya minyak, gas dan aneka mineral yang melimpah serta memiliki kekuatan militer yang tangguh, kedudukan yang strategis di dunia, visi politik yang cemerlang, pemahaman tentang situasi politik internasional yang mendalam serta umat yang dinamis, akan mampu menghindari isolasi politik internasional dan terus berupaya meraih kedudukan sebagai negara terkemuka di dunia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Khilafah Akan Menyebarkan Islam ke Seluruh Dunia dengan Dakwah dan jihad Makna jihad adalah bersungguh-sungguh meninggikan Islam sebagai agama yang paling tinggi dengan jalan ikut serta dalam peperangan atau membantu pelaksanaan peperangan secara langsung, baik dengan harta maupun ucapan. jihad merupakan metode praktis untuk mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Saat ini, di tengah ketiadaan daulah Khilafah dan jihad, Islam telah menyusut menjadi sekadar sekumpulan teori yang indah. Tapi teori indah ini tidak ditemukan implementasinya secara nyata di tengah kehidupan masyarakat. Bagi kalangan non-muslim, dakwah Islam akan memberi mereka sebuah kesempatan untuk merasakan kehidupan di dalam sebuah masyarakat Islam, sehingga mereka bisa memahami bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan yang akan memberikan kebaikan atau rahmat juga kepada mereka. Maka, Islam wajib diterapkan oleh sebuah negara, kemudian disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan jihad. Inilah metode dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para Khulafa’ ur-Rasyidin sesudahnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Banyak contohnya. Bila kaum sudra, sebuah kasta paling rendah dalam masyarakat Hindu, dianggap lebih buruk daripada hewan, maka tentu saja sistem seperti ini tidak bisa ditoleransi lagi karena merendahkan martabat manusia sebagai makhluk Allah SWT. Contoh lain, penindasan yang dilakukan perusahaan-perusahaan multinasional amerika Serikat, yang mengeksploitasi harta dan darah warga negara AS untuk berperang dengan berbagai alasan, padahal yang sebenarnya adalah demi kepentingan bisnis mereka. Penindasan-penindasan semacam itu dilegalisasi dengan keputusan politik, regulasi, dan opini. Begitulah, ketika umat manusia diatur dengan sistem, perundang-undangan dan tradisi yang tidak berasal dari Allah SWT, maka penindasan demi penindasan terus terjadi. Allah SWT. berfirman:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kebijakan militer Indonesia ditetapkan berdasarkan prinsip pertahanan defensif, dan karena itu berkembanglah wacana tentang politik “minimum deterrence”, yaitu kebijakan pengurangan kekuatan militer sampai pada tingkatan yang sekadar cukup untuk pertahanan. Politik “minimum deterrence” merupakan salah satu produk ideologi kapitalisme yang tidak bisa dipisahkan dari ide negara bangsa. Ide tersebut memandang, bahwa tiap bangsa hendaknya tetap mempertahankan kedudukan mereka di dalam batas-batas teritorialnya, dan tidak berusaha memperluas wilayahnya dengan mencaplok wilayah negara lain atas nama slogan “hidup bersama dalam damai”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Negara-negara Barat mengatakan, bahwa konsep tersebut harus dijunjung tinggi untuk menjamin terwujudnya kerjasama dan keadilan antar bangsa-bangsa di dunia. Tetapi, faktanya menunjukkan bahwa Barat memanfaatkan ide tersebut untuk mempertahankan kedudukannya sebagai negara terkemuka dan melanggengkan hegemoninya atas negara-negara lain dalam pentas politik internasional. Maka, secara praktis mereka bisa terus mempertahankan pengaruhnya di dunia melalui superioritas kekuatan militernya. Jadi, konsep “minimum deterrence” hanya diperuntukkan bagi negara-negara lain, bukan amerika Serikat. Mereka menipu dunia dengan menamakan kantor urusan militer dengan sebutan “Departemen Pertahanan” atau “Kementerian Pertahan-an”, meski realitasnya adalah “Departemen Perang” atau “Kementerian Perang”, di mana mereka mengembangkan kekuatan militer secara maksimal untuk terus menyerang, menindas, dan menjajah negara lain. Apa yang kini terjadi di Irak dan Afghanistan adalah bukti nyata.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Comprehensive Test Ban Treaty (CTBT), Non-Preliferation Treaty (NPT), dan perjanjian-perjanjian yang sejenis sesungguhnya sengaja disiapkan oleh negara-negara kolonialis untuk membatasi kekuatan (militer) negara-negara lain, termasuk Indonesia. Negara-negara besar yang memiliki teknologi senjata nuklir tidak menghendaki adanya negara-negara lain yang berpotensi menantang dominasi mereka. Khilafah tidak akan tunduk pada perjanjian-perjanjian seperti itu. Khilafah akan mengambil kebijakan untuk terus mengembangkan kekuatan militer secara penuh agar dapat memenuhi kewajiban jihad dengan sebaik-baiknya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Indonesia telah mengadakan perjanjian-perjanjian militer dan politik dengan amerika Serikat dan negara-negara kolonialis lainnya. Konsekuensinya, kekuatan intelejen, militer dan kepolisian Indonesia, juga negara muslim lain yang memilik perjanjian serupa, justru dimanfaatkan oleh amerika Serikat untuk melemahkan dan menindas kekuatan umat yang berpotensi mengancam kepentingan AS. Karenanya, Islam melarang pakta atau kerjasama militer dan segala macam perjanjian dan kerjasama apa pun yang memberi peluang kepada orang-orang Kafir untuk menguasai umat Islam dan mengancam keamanan daulah Khilafah. Allah SWT telah menyatakan dalam Al Quran:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam sistem yang berlaku di Indonesia sekarang ini, terjadi campur tangan yang sangat luas dan sangat mendalam dari negara-negara kolonialis, terutama amerika Serikat dan Inggris terhadap urusan dalam negeri Indonesia. Hal ini terjadi karena para duta besar dari negara-negara kolonialis berikut staf-staf mereka bisa bebas bertemu langsung dengan siapapun dari pejabat tinggi negara. Mereka bebas bertemu dengan Ketua KPU, Panglima Angkatan Bersenjata, Ketua MPR atau DPR, para ketua partai, bahkan juga bebas bertemu dengan para pimpinan organisasi dan kelompok Islam. Kebebasan seperti ini tentu dengan mudah disalah gunakan untuk memperlancar misi rahasia mereka di negeri ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam daulah Khilafah, tanggung jawab negara adalah mengurusi kepentingan umat. Peran umat dalam kaitannya dengan kebijakan luar negeri sesungguhnya terbatas pada upaya meminta pertanggungjawaban khalifah, yakni seberapa jauh khalifah telah melaksanakan tugas-tugasnya. Maka, para diplomat asing berikut staf mereka tidak diizinkan menemui para politisi dan para pimpinan partai politik. Hanya pejabat dari departemen luar negeri Khilafah saja yang diizinkan melakukan kontak-kontak dengan para diplomat asing dan para stafnya itu. Dengan cara inilah Khilafah bisa membendung upaya negara-negara kafir untuk mengintervensi urusan dalam negeri dan menutup peluang untuk mendapatkan agen bagi kepentingan mereka yang berasal dari dalam lingkaran kekuasaan serta menciptakan suasana kacau di dalam negeri.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Saat ini sudah menjadi kebiasaan penguasa di negeri-negari muslim, termasuk Indonesia, kerap meminta bantuan negara-negara imperialis seperti AS dan negera Barat lain untuk menyelesaikan persoalan di negara itu, sebagaimana dalam kasus Timor Timur, Aceh, Papua, Kashmir, dan Palestina. Padahal, negara-negara kolonialis tersebut nyata-nyata memusuhi umat Islam dan terus berusaha untuk menguasai negeri-negeri muslim. Selain itu, hampir seluruh persoalan yang mendera negeri-negeri Islam saat ini sesungguhnya adalah persoalan yang sengaja diciptakan oleh negera-negara kolonialis. Para penguasa itu meminta bantuan negara-negara kolonialis sesungguhnya juga demi untuk terus memelihara dukungan negara itu untuk kekuasaannya, karena mereka paham tanpa dukungan negara-negara itu kekuasaan mereka akan mudah roboh.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Telah nyata bahwa PBB dan organisasi-organisasi internasional lain seperti Bank Dunia dan IMF adalah alat yang digunakan negara-negara kolonialis untuk melancarkan kepentingan hegemoni mereka di bidang politik maupun ekonomi. Negara Barat mendorong lepasnya Timor Timur dari Indonesia melalui mandat PBB, sementara resolusi-resolusi PBB yang mengutuk serangan India ke Kashmir atau serangan Israel ke Palestina tidak pernah sungguh-sungguh diperhatikan. Semua resolusi itu tak lebih sekadar lips-service yang tak berguna. Negara-negara Barat menginjak-injak Piagam PBB ketika menyerang Afghanistan dan Irak, sebagaimana yang selalu dilakukan Israel. Atas semua tindakan itu, PBB diam seribu basa, tak berkutik. Meski begitu, masih saja para penguasa negeri-negeri muslim percaya kepada PBB dan menganggap piagam PBB lebih penting dan lebih mulia daripada wahyu Allah SWT.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Politik luar negeri daulah Khilafah semata berdasarkan kepada syariah Islam. Sedangkan pelaksanaan syariah Islam dengan sebaik-baiknya merupakan kepentingan umat Islam. Karena itu, kalau ada kebijakan luar negeri yang tidak berlandaskan Islam, maka tentu saja kebijakan tersebut tidak termasuk kepentingan umat Islam. daulah Khilafah tidak akan mengadopsi konsep “kepentingan nasional” yang akhirnya bermuara pada penyerahan kepentingan umat Islam ke tangan orang-orang Kafir, dengan jalan menyediakan pangkalan militer, dukungan logistik, dan jaringan intelejen yang ada kepada mereka. Khilafah akan mendayagunakan seluruh sumberdaya umat Islam yang ada untuk memenuhi tuntutan syariah, yaitu mewujudkan kepemimpinan Islam di seluruh dunia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Saat ini urusan masyarakat internasional didominasi oleh kekuatan-kekuatan kolonialis, yaitu negara-negara Kapitalis yang terus-menerus memperkuat cengkeramannya dan menciptakan konflik di berbagai belahan dunia. Negara-negara kolonialis memicu terjadinya peperangan demi kepentingan eksploitasi sumberdaya dunia dan memperbudak bangsa-bangsa di dunia. Adapun, kebijakan luar negeri daulah Khilafah tidak berorientasi pada kepentingan materi, tetapi kepentingan dakwah, yakni misi untuk mengeluarkan seluruh umat manusia dari gelapnya kekufuran menuju terangnya cahaya Islam. Allah SWT. Berfirman:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Apa yang terjadi di Suria sejak lebih dari satu setengah tahun lalu memiliki tema yang sama. Yaitu bahwa rezim Ba’ats penjahat dan negara-negara besar di dunia berkonspirasi melawan rakyat kita di Suria supaya Suria tidak keluar dari kontrol mereka. Yaitu supaya Suria tetap sebagaimana adanya sebagai negara yang tunduk, mengekor dan menjaga perbatasan negara Yahudi. Negara-negara itu mulai menetapkan berbagai syarat dan karakteristik untuk Suria pasca Asad. Maka dari mimbar-mimbar TV channel upahan dan melalui mulut oposisi yang berjuang dari hotel bintang lima diumumkanlah bahwa masa depan Suria akan menjadi negara demokrasi sipil dan bahwa masalah di Suria adalah masalah menjatuhkan atau mengusir kepala rezim dan membentuk pemerintahan yang tidak menindas siapa pun dan mereka klaim secara dusta sebagai tuntutan masyarakat. Akan tetapi warga kita tetap tegar menghadapi alat-alat pembunuhan dan penghancuran dan tidak memandang selain Islam dan pemerintahan menurut apa yang telah diturunkan oleh Allah SWT sebagai masa depan untuk Suria. Mereka mengungkapkan hal itu dalam berbagai demonstrasi yang dilupakan oleh media-media massa. Hal itu tampak jelas pada nama-nama kesatuan pasukan, panji dan slogan-slogan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

sistem pemerintahan dalam Islam adalah sistem Khilafah: Khilafah secara syar’i adalah kepemimpiman umum bagi kaum Muslimin seluruhnya di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syara’ islami dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Khilafah adalah imamah itu sendiri. Khilafah adalah bentuk pemerintahan yang dinyatakan oleh hukum-hukum syara’ agar menjadi daulah Islam sebagaimana yang didirikan oleh Rasulullah saw di Madinah al-Munawarah, dan sebagaimana yang ditempuh oleh para sahabat yang mulia setelah beliau. Pandangan ini dibawa oleh dalil-dalil al-Quran, as-sunnah dan yang menjadi kesepakatan ijmak sahabat. Tidak ada yang menyelisihinya di dalam umat ini seluruhnya kecuali orang yang dididik berdasarkan tsaqafah kafir imperialis yang telah menghancurkan daulah Khilafah dan memecah belah negeri kaum Muslimin.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sistem pemerintahan dalam Islam bukanlah republik dan juga bukan demokrasi: sistem republik demokrasi adalah sistem buatan manusia yang tegak di atas asas pemisahan agama dari kehidupan dan menetapkan kedaulatan sebagai milik rakyat. Jadi rakyatlah yang memiliki hak menetapkan hukum dan syariat. Rakyat yang memiliki hak mendatangkan penguasa dan mencopotnya. Rakyat pula yang memiliki hak menetapkan konstitusi dan undang-undang. Sementara sistem pemerintahan Islam itu berdiri di atas asas akidah islamiyah dan berdasarkan hukum-hukum syara’. Kedaulatan dalam sistem pemerintahan Islam adalah milik syara’ bukan milik rakyat. Umat maupun khalifah tidak memiliki hak membuat hukum. Yang menetapkan hukum adalah Allah SWT. Akan tetapi Islam menetapkan kekuasaan dan pemerintahan menjadi milik umat. Umat lah yang memilih orang yang memerintah umat dengan Islam dan mereka baiat untuk menjalankan hal itu. Selama khalifah menegakkan syariah, dan menerapkan hukum-hukum Islam maka dia tetap menjadi khlaifah berapapun lamanya masa jabatan khilafahnya. Dan kapan saja ia tidak menerapkan hukum Islam maka masa pemerintahannya berakhir meski baru satu hari atau satu bulan, dan ia wajib dicopot. Dari situ kita memandang bahwa ada kontradiksi yang besar antara kedua sistem (Republik demokrasi dengan Khilafah) dalam hal asas dan bentuk masing-masingnya. Atas dasar itu, maka tidak boleh sama sekali dikatakan bahwa sistem Islam adalah sistem republik, atau bahwa Islam menyetujui demokrasi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sistem pemerintahan Islam bukan kerajaan (monarkhi): sistem pemerintahan Islam tidak mengakui sistem kerajaan (monarkhi) dan tidak menyerupai sistem monarkhi. sistem monarkhi, pemerintahannya bersifat turun temurun, diwarisi anak dari bapaknya sebagaimana anak mewarisi harta peninggalan bapak. sistem monarkhi memberi Raja keistimewaan dan hak-hak khusus, yang tidak boleh disentuh. Sementara sistem Islam tidak mengkhususkan khalifah atau imam dengan suatu keistimewaan atau hak-hak khusus. khalifah tidak memiliki sesuatu kecuali sama seperti yang dimiliki oleh individu-individu umat. sistem pemrintahan Islam tidak diwariskan. khalifah bukan seorang raja, melainkan dia adalah wakil dari umat dalam urusan pemerintahan dan kekuasaan. Ia dipilih dan dibaiat oleh umat dengan keridhaan untuk menerapkan syariah Allah kepada umat. khalifah dalam seluruh tindakan, kebijakan, keputusan dan pemeliharaannya terhadap urusan dan kemaslahatan umat terikat dengan hukum-hukum syara’.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sistem pemerintahan dalam Islam bukan imperium: sistem imperium sangat jauh dari Islam. Sebab sistem imperium tidak menyamakan diantara golongan masyarakat di wilayah-wilayah imperium dalam hukum. Sebaliknya imperium menetapkan keistimewaan untuk pusat imperium dalam hal pemerintahan, keuangan dan perekonomian. Metode Islam dalam pemerintahan adalah menyamakan antara semua rakyat yang diperintah di seluruh bagian daulah, mengingkari sektarianisme rasial, memberi kepada non muslim yang menjadi warga negara seluruh hak-hak dan kewajiban syar’i mereka, sehingga mereka memiliki hak dan kewajiban seperti yang dimiliki oleh kaum muslimin secara adil. Maka dengan persamaan ini sistem pemerintahan Islam berbeda dari imperium. Dengan sistem ini, sistem pemerintahan Islam tidak menjadikan daerah-daerah sebagai jajahan. Sumber daya tidak dikumpulkan di pusat untuk manfaat pusat saja. Sebaliknya seluruh bagian daulah dijadikan sebagai satu kesatuan betapapun jauh jaraknya dan betapapun beragam suku dan bangsanya. Setiap daerah dinilai sebagai bagian integral dari tubuh daulah. Penduduknya memiliki seluruh hak yang dimiliki oleh penduduk pusat, atau daerah lain manapun. kekuasaan pemerintahan, sistem dan hukumnya adalah sama untuk seluruh daerah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sistem pemerintahan Islam bukan federasi: daerah-daerahnya terpisah dengan kemerdekaan sendiri, dan menyatu dalam pemeritahan umum (federal). Akan tetapi sistem pemerintahan Islam adalah sistem kesatuan, di dalamnya berbagai daerah dan propinsi dinilai sebagai bagian dari satu negara yang sama. Keuangan daerah-daerah semuanya dinilai sebagai satu keuangan dan satu neraca (anggaran) yang dibelanjakan untuk kemaslahatan seluruh rakyat. sistem pemerintahan Islam merupakan satu kesatuan yang sempurna, dimana kekuasaan tertinggi dibatasi hanya di pusat umum dan ditetapkan memiliki kontrol dan kekuasaan terhadap semua bagian daulah kecil ataupun besar. Tidak diperkenankan adanya kemerdekaan untuk bagian manapun dari bagian daulah sehingga bagian-bagian daulah tidak tercerai berai.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bentuk pemerintahan Islam adalah pemerintahan yang merujuk kepada syariat. Konstitusinya tercermin dalam prinsip-prinsip Islam dan hukum-hukum syariat yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan dijelaskan Sunnah Nabawy, baik mengenai aqidah, ibadah, akhlak, mu’amalah maupun berbagai macam hubungan. Oleh karena itu hukum yang berlaku harus selalu bersumber dan merujuk kepada hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Kemudian pemerintahan yang dipimpin oleh seorang ulil amri yang dipilih oleh rakyat, untuk menjalankan tugas-tugas kepemerintahan guna terciptanya kondisi masyarakat yang sehat (moral dan fisik) serta sejahtera.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sengaja ataupun tidak pengaburan mengenai konsep pemerintahan Islam telah terjadi dan semakin meluas. Sebagai contoh sekitar dua tahun silam terbitnya buku yang berjudul “ilusi negara Islam”, telah menggambarkan setiap gerakan yang berusaha mewujudkan penerapan syariat pada setiap pribadi muslim hingga pada tingkat masyarakat luas, seperti ikhwanul muslimin, HTI dan salafi sebagai sumber inspirasi dari terjadinya berbagai kekerasan di negeri ini. Hal seperti ini membuat paradigma seolah Islam adalah sumber dari segala tindak kekerasan. Sehingga konsep pemerintahan yang berasaskan Islam harus segera ditolak, karena hanya akan memunculkan sistem “totalitarisme” yang pasti akan menuju kepada kediktatoran.(Pendapat seperti ini muncul karena melihat beberapa corak pemerintahan yang ada pada negara timur tengah, namun perlu kita perjelas bahwa walau negara-negara timur tengah menyatakan islam sebagai agama negara. akan tetapi sistem pemerintahan yang ada di sana belumlah bisa dikatakan sebagai pemerintahan Islam.)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perihal ketentuan pemerintahan dalam syariat yang berupa nash, ia tidak menjelaskan seluruh permasalahan secara terperinci, akan tetapi yang disebutkan adalah pokok-pokok ataupun kerangka sebagai pondasi dasar dan aturan main yang jelas. Dan dalam hal terperinci tersebut dilakukanlah proses ijtihad yang tidak keluar dalam kerangka syariat. Hal ini menunjukan keluasan hukum syariat yang memang mampu untuk diterapkan dalam setiap masa. Kenapa seperti itu! Karena permasalahan politik dan negara adalah permasalahan yang selalu berkembang dari masa-kemasa bahkan setiap hari persoalan baru dalam pemerintahan bisa selalu muncul. Pemerintahan yang ideal selalu bisa beradaptasi dalam artian menyesuaikan setiap permasalahan tanpa mengganggu konstistusi serta tatanan kenegaraan. Maka bisa dikatakan bahwa pemerintahan Islam selalu memperhatikan kondisi aktual dan mampu menerapkan kebijakannya selaras dengan perkembangan jaman.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hal ini penah ditunjukan pada pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Sebagaimana kita ketahui bahwa ke empat masa pemerintahan khalifah ini, adalah pemerintahan yang melukiskan dan bentuk representasi dari pemerintahan Islam. Jika kita pelajari bahwa kebijakan-kebijakan dalam setiap masa khalifah ini memiliki beberapa perbedaan yang dipengaruhi perkembangan kondisi negeri. Sebagai contoh, adalah kebijakan khalifah Umar bin Khattab yang tidak memberikan tanah hasil rampasan perang (ghanimah) kepada para tentara, akan tetapi seluruh tanah tersebut diserahkan dan dikelola pemerintah. Sebagai gantinya para prajurit mendapat penghasilan tetap dari pemerintah. Karena sebelumnya sejak masa Nabi tanah kekuasaan hasil perang, dibagi persekian persen untuk para prajurit -sahabat yang turut berperang – dan sisanya baru diserahkan kepada pemerintahan. Kebijakan ini diambil salah satunya karena alasan daerah kekuasaan Islam yang sudah semakin luas karena penaklukan negeri-negeri, sehingga tidak mungkin seluruh tanah tersebut diserahkan kepada para prajurit. Serta kebutuhan pemerintahan akan pertahanan dari pihak luar, sehingga dibentuklah prajurit professional yang dibrikan tunjangan oleh pemerintah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pemerintahan Islam jauh berbeda dengan pemahaman yang berkembang di Barat. Maka penggunaan teori maupun istilah Barat, seperti demokrasi, sosialis, liberal dan semacamnya tidak akan mampu menggambarkan konsep pemerintahan Islam secara sempurna. Namun anehnya, tidak jarang kita dapatkan di dalam tulisan-tulisan sosok yang mengaku sebagai cendekiawan Islam modern, memberikan pernyataan bahwa “pemerintahan Islam itu adalah suatu pemerintahan yang demokratis”, atau malahan ada yang berkata bahwa pemerintahan Islam bertujuan menegakan suatu masyarakat “sosialis”. Hal seperti ini dapat mengakibatkan distorsi pemahaman tentang konsep pemerintahan Islam yang sebenarnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sekulerisme itu adalah asas yang bertolak belakang dengan Islam. Akan tetapi terdapat beberapa orang di negeri ini yang berupaya memperjuangkan asas sekulerisme ini. Selalu saja bagi mereka asas sekulerisme (keduniaan) yang secara otomatis diidentifikasi sebagai kemajuan (progress). Maka setiap anjuran untuk memandang politik praktis dan perencanaan sosial ekonomi dalam sudut pandang keagamaan, dituding sebagai suatu sikap reaksioner, atau setidak-tidaknya sebagai “idealisme yang tidak praktis”. Tampaknya, saat ini tidak sedikit pula cendikiawan muslim mempunyai pendapat serupa. Dan dalam hal ini kentara sekali pengaruh dari pemikiran Barat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sesungguhnya berkembangnya pemahaman sekuler ini di Barat, disebabkan oleh hal-hal di dalam lingkungan mereka sendiri, bangsa-bangsa Barat telah dikecewakan oleh agama (agama mereka). Sehingga wajar saja jika mereka berupaya sedemikian rupa untuk memisahkan agama dengan urusan pemerintahan. Upaya untuk meniru sistem Barat ini, dengan menganggap segala yang berasal dari Barat adalah “up to date” adalah bentuk dari kelemahan dan kebodohan. Suatu kesalahan jika berupaya menerapkan asas tersebut kepada negeri kita, karena bangsa kita tidak pernah mengalami apa yang dahulu dialami oleh bangsa Barat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kemudian dalam pemerintahan sekuler, segala keputusan dan ketentuan tidak berlandaskan atau paling tidak memperhaitkan pada hukum moral atau akhlak. Tetapi berlandaskan dan hanya melihat berdasarkan kepentingannya sendiri (expediency) sebagai satu-satunya kewajiban yang di bawahnya pemerintahan harus ditundukan. Dan suatu kepastian bahwa pendapat apa yang menjadi kepentingan sendiri itu pasti berbeda-beda pada tiap kelompok, partai, bangsa dan masyarakat. Maka pastilah terjadi kepentingan yang membingungkan dalam perkara politik (nasional maupun internasional). Sebab telah jelas, apa yang dinilai sebagai kepentingan sendiri oleh suatu kelompok atau bangsa, tidak selamanya sama dan sebangun dengan kepentingan kelompok atau bangsa lain.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pemerintahan sekuler inilah yang tidak menundukan dirinya pada tuntutan moral yang obyektif. Akan tetapi semua berupaya memperjuangkan kepentingan masing-masing yang sudah pasti berbenturan antara satu sama lain. Sehingga makin genjar pertentangan ide terjadi antara mereka tantang apa yang benar dan apa yang salah di dalam hubungan manusia, dikarenakan kacamata berfikir mereka adalah tercapainya kepentingan itu. Pendeknya, di dalam pemerintahan sekuler yang modern pada saat ini: tidak terdapat norma yang kokoh yang mampu digunakan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, dan antara yang benar dan yang salah. Inilah yang ungkapan yang dijelaskan oleh Muhammad Assad.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jadi satu-satunya kriteria yang mungkin adalah “kepentingan bangsa”. Tetapi karena tidak ada satu ukuran yang obyektif dalam nilai-nilai kesusilaan, maka berbagai kelompok manusia – bahkan di dalam suatu bangsa – mungkin dan biasanya memiliki pandangan yang berlainan tentang apa yang merupakan kepentingan utama suatu bangsa. Seorang kapitalis dengan amat tulusnya percaya, bahwa peradaban manusia akan hancur jika liberalisme ekonomi digantikan oleh sosialisme. Sementara, seorang sosialis dengan amat tulusnya pula berpendapat, bahwa peradaban itu dapat dipelihara hanya dengan kapitalisme telah diganti dengan sosialisme. Mereka masing-masing memiliki pandangan kesusilaannya sendiri, yakni konsep tentang apa yang patut atau tidak patut dilakukan terhadap orang lain. Dan pandangan kesusilaan ini tergantung hanya pada pandangan ekonominya semata. Akibatnya: kekacauan di dalam hubungan timbal balik antar mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Karena, apabila orang Eropa atau Amerika berbicara tentang “demokrasi”, “liberalisme”, “sosialisme”, “teokrasi”, pemerintahan parlementer, dan lain-lain. Ia mempergunakan istilah-istilah di dalam lingkungan pengalaman sejarah Barat. Di dalam lingkungan ini istilah-istilah itu dapat segera menimbulkan gambaran di dalam pikiran tentang apa yang sebenarnya telah terjadi atau mungkin akan terjadi di dalam perkembangan sejarah Barat, dan karena itu dapat melewati perubaha-perubahan yang ditimpakan oleh jaman ke atas semua konsep yang di buat oleh manusia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Namun pengertian yang bersifat dapat berubah-ubah ini menjadi “lenyap”, karena suatu konsep politik yang sudah jadi itu dipinjam oleh bangsa lain yang memiliki suatu peradaban yang berlainan, dan telah melewati pengalaman-pengalaman sejarah yang berbeda pula. Bagi bangsa tersebut, istilah atau sistem politik itu mempunyai makna yang mutlak dan tidak berubah-ubah dan karena itu tidak dipertimbangkan kenyataan evolusinya di dalam sejarah. Sebagai akibatnya, paham politik menjadi beku dan kaku.Untuk lebih mudah memahaminya, maka kita akan lihat bagaimana Barat memahami demokrasi tersebut.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jelaslah bahwa konsep demokrasi ini jauh sekali berbeda dengan apa yang dimaksud oleh pencipta istilah itu, yakni bangsa Yunani Kuno. Bagi mereka “pemerintahan dari atau oleh rakyat” (yang dimaksud oleh kata demokrasi) mengandung arti suatu pemerintahan yang sangat oligarkis bentuknya. Di dalam “negara-kota” mereka, istilah rakyat sama artinya dengan “warga negara”, yaitu penduduk negara yang dilahirkan bebas, yang jarang sekali melebihi sepersepuluh dari jumlah penduduk. Selebihnya adalah budak dan sahaya yang tidak dibolehkan melakukan lain dari pekerjaan tangan, meskipun mereka kerap kali diwajibkan untuk dinas militer, mereka tidak mempunyai hak-hak sebagai warga negara sama sekali. Hanya lapisan paling atas dan tipis dari penduduk – yang disebut warga negara – yang mempunyai hak pilh aktif dan pasif. Dengan demikian semua kekuasaan politik terpusat di tangan mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Maka bila dipandang dari pespektif sejarah, demokrasi seperti yang dipahami oleh bangsa Barat modern sebenarnya lebih dekat kepada konsep Islam tentang kebebasan dari pada konsep Yunani Kuno. Islam menegaskan bahwa manusia sama dan karena itu harus diberi kesempatan yang sama untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan dirinya. Disamping itu, Islam juga mewajibkan kaum muslimin menundukan keputusan-keputusan mereka berdasarkan tuntunan Hukum Allah yang diwahyukan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Suatu kewajiban yang memberi batas-batas tertentu bagi hak masyarkat dalam membuat undang-undang serta tidak memberikan kekuasaan absolut bagi “kemauan rakyat”, yang telah merupakan suatu bagian yang integral dan konsep Barat mengenai demokrasi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jawaban bisa “ya” jika dengan teokrasi itu yang kita maksud adalah suatu sistem masyarakat yang di dalamnya semua undang-undang di dunia ini, pada tingkat terakhir, berasal dari apa yang dipandang oleh masyarakat sebagai Hukum Tuhan (Syariat). Namun kita jawab dengan tegas “tidak” jika orang mengidentifikasikan teokrasi itu dengan usaha – yang sudah dikenal baik di dalam sejarah Eropa pada jaman pertengahan – untuk menyerahkan kekuasaan politik tertinggi ke tangan kaum pendeta. Alasannya karena di dalam Islam tidak dikenal kekuasaan ulama atau kaum agamawan, dan tidak ada lembaga yang sama seperti terdapat di dalam Gereja Kristen (suatu himpunan doktrin dan fungsi-fungsi sacramental yang terorganisasi).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tetapi di lain sisi dengan sama tegasnya orang dapat pula menyatakan, bahwa Islam menentang sosialisme, jika ia berarti (seperti dilakukan oleh sosialisme Marxisme) suatu pengaturan yang keras terhadap seluruh kehidupan masyarakat, menempatkan ekonomi lebih berkuasa daripada kesusilaan, dan merendahkan martabat manusia hingga berstatus tidak lebih dari suatu faktor ekonomi saja. Karena istilah sosialis banyak dipahami sebagai bagian dari paham komunis Marxisme. Maka jelas sistem pemerintahan Islam bukanlah sosialisme, Karena pandangan Islam mengenai rakyat bukanlah sebatas faktor dalam keuntungan bangsa, akan tetapi ia adalah bagian utama dari sasaran keadilan dan kesejahteraan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Maka dari itu, hubungan yang baik antara rakyat dan pemerintahnya, dengan saling bekerja sama di atas Islam dan saling menunaikan hak serta kewajiban masing-masing, akan menciptakan kehidupan yang tenteram, aman, dan sentosa. Betapa indahnya bimbingan Islam dalam masalah ini. Sebuah aturan hidup dan jalan yang terang bagi manusia. Namun, ada pihak-pihak yang tak rela dengan semua itu. Salah satunya adalah Taqiyuddin an-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir (HT). Dia menyatakan, “Oleh karena itu, menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antaranggota masyarakat dalam rangka memengaruhi masyarakat tidaklah cukup, kecuali dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dan rakyatnya, harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian.” (Mengenal HT, hlm. 24 dan Terjun ke Masyarakat, hlm. 7)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bagaimanakah jika pemerintah melakukan kemaksiatan, bahkan memerintahkannya? Apakah rakyat melepaskan ketaatan kepadanya secara total dan memberontaknya? Pemerintah adalah manusia biasa yang terkadang jatuh pada dosa. Ketika mereka melakukan kemaksiatan, bahkan memerintahkannya, setiap pribadi muslim harus membenci perbuatan maksiat tersebut dan tidak boleh menaatinya dalam hal itu. Akan tetapi, ia tetap berkewajiban mendengar dan menaatinya dalam hal yang ma’ruf (kebajikan), serta tidak boleh memberontak karenanya. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah berkata, “Maka dari itu, umat Islam wajib menaati pemerintah dalam hal yang ma’ruf (kebaikan), tidak dalam hal kemaksiatan. Jika mereka memerintahkan kemaksiatan, tidak boleh ditaati. Akan tetapi, mereka tetap tidak boleh memberontak karenanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Setiap pribadi muslim wajib mendengar dan menaati (pemerintahnya) dalam hal yang dia sukai dan yang tidak disukai, kecuali jika diperintah untuk melakukan kemaksiatan. Jika dia diperintah untuk melakukan kemaksiatan, tidak ada mendengar dan ketaatan kepadanya (dalam hal itu, pen.).” (HR. al-Bukhari no. 7144, Muslim no. 1839, at-Tirmidzi no. 1707, Abu Dawud no. 2626, Ibnu Majah no. 2864, dan Ahmad 2/142, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu) (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 8/201—203)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Akan ada sepeninggalku para penguasa yang tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/ jalanku. Akan ada pula di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan dalam jasad manusia.” Hudzaifah z berkata, “Apa yang aku perbuat bila mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut! Walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas, (tetap) dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim no. 1847, dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Al-Imam al-Barbahari rahimahumallah berkata, “Ketahuilah, kejahatan penguasa tidaklah menghapuskan kewajiban (menaati mereka, -pen.) yang Allah Subhanahu wata’ala wajibkan melalui lisan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikan-kebaikan yang engkau kerjakan bersamanya mendapat pahala yang sempurna, insya Allah. Kerjakanlah shalat berjamaah, shalat Jum’at, dan jihad bersama mereka. Berperan sertalah bersamanya pada seluruh jenis ketaatan (yang dipimpinnya).” (Thabaqat al-Hanabilah karya al-Imam Ibnu Abi Ya’la rahimahumallah 2/36, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah, hlm.14)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa’: 58—59)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adapun ayat yang kedua turun berkaitan dengan rakyat, baik dari kalangan militer maupun sipil, supaya senantiasa menaati pemerintahnya dalam hal pembagian (jatah), keputusan/ kebijakan, komando perang, dan lainnya. Berbeda halnya jika mereka memerintahkan kemaksiatan, rakyat tidak boleh menaati makhluk (pemerintah tersebut) dalam hal bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah Subhanahu wata’ala). Jika terjadi perbedaan pendapat antara pemerintah dan rakyatnya dalam suatu perkara, hendaknya semua pihak merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, jika pemerintah tidak mau menempuh jalan tersebut, rakyat masih berkewajiban menaatinya dalam hal yang tergolong ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Sebab, ketaatan kepada pemerintah dalam hal ketaatan adalah bagian dari ketaatan kepada AllahSubhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian pula hak mereka (pemerintah), tetap harus dipenuhi (oleh rakyatnya), sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“ Barang siapa hendak menasihati orang yang mempunyai kekuasaan (pemerintah), janganlah menyampaikannya secara terangterangan. Namun, dia mengambil tangannya dan menyampaikan nasihat tersebut secara pribadi. Jika (pemerintah itu) mau menerima nasihatnya, itu yangdiharapkan. Jika tidak, sungguh dia telah menyampaikan kewajiban yang ditanggungnya.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah dari Iyadh bin Ghunm al-Fihri radhiyallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy- Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fi Takhrijis Sunnah no. 1096)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah berkata, “Bukan termasuk manhaj salaf menyebarkan kejelekan-kejelekan pemerintah dan menyampaikannya di mimbar/forum publik. Sebab, hal itu akan mengantarkan kepada kekacauan dan hilangnya ketaatan kepadanya dalam hal yang ma’ruf (kebajikan). Selain itu, tindakan tersebut akan mengantarkan kepada hal-hal yang membahayakan (rakyat) dan tidak ada manfaatnya. Adapun cara yang dijalani oleh as-salaf (pendahulu terbaik umat ini) adalah menyampaikan nasihat secara pribadi kepada pemerintah, menulisnya dalam bentuk surat, atau menyampaikannya kepada ulama agar bisa diteruskan kepada yang bersangkutan dengan cara yang terbaik.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 8/210)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Al-Imam Abu Abdillah bin al- Azraq rahimahumallah—ketika menyebutkan beberapa bentuk penentangan terhadap pemerintah—berkata, “Penentangan yang ketiga adalah menyempal dari pemerintah dengan cara mengambil alih tugas yang menjadi kewenangannya. Yang paling besar kerusakannya adalah mengingkari kemungkaran (dengan kekuatan, – pen.) yang tidak boleh dilakukan oleh selain pemerintah. Apabila perbuatan itu dibiarkan, niscaya hal ini akan berkembang dan justru dilakukan terhadap pemerintah. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa termasuk dari siyasah (politik syar’i) adalah segera menangani orang yang gemar melakukan perbuatan menyempal itu.” (Bada’ius Sulk fi Thiba’il Mulk 2/45, dinukil dari Mu’amalatul Hukkam, hlm. 189)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Setiap manusia yang terlahir dibumi dari yang pertama hingga yang terakhir adalah seorang pemimpin, setidaknya ia adalah seorang pemimpin bagi dirinya sendiri. Bagus tidaknya seorang pemimpin pasti berimbas kepada apa yang dipimpin olehnya. Karena itu menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,karena kelak Allah akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu. Dalam Islam sudah ada aturan-aturan yang berkaitan tentang pemimpin yang baik diantaranya :

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jabatan baik formal maupun informal di negeri kita Indonesia dipandang sebagai sebuah “aset”, karena ia baik langsung maupun tidak langsung berkonsekwensi kepada keuntungan, kelebihan, kemudahan, kesenangan, dan setumpuk keistimewaan lainnya. Maka tidaklah heran menjadi kepala daerah, gubernur, bupati, walikota, anggota dewan, direktur dan sebagainya merupakan impian dan obsesi semua orang. Mulai dari kalangan politikus, purnawirawan, birokrat, saudagar, tokoh masyarakat, bahkan sampai kepada artis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin. Menurut Shihab (2002) ada dua hal yang harus dipahami tentang hakikat kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt. Lihat Q. S. Al-Baqarah (2): 124, “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia. Ibrahim bertanya: Dan dari keturunanku juga (dijadikan pemimpin)? Allah swt menjawab: Janji (amanat)Ku ini tidak (berhak) diperoleh orang zalim”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah swt, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Karena itu pula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: “Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)”.(H. R. Muslim). Sikap yang sama juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata: “Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu. “Maka jawab Rasulullah saw: “Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu”.(H. R. Bukhari Muslim).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kedua, kepemimpinan menuntut keadilan. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Diantara bentuknya adalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang. Lihat Q. S. Shad (38): 22, “Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hal senada dikemukakan oleh Hafidhuddin (2003). Menurutnya ada dua pengertian pemimpin menurut Islam yang harus dipahami. Pertama, pemimpin berarti umara yang sering disebut juga dengan ulul amri. Lihat Q. S. An-Nisaâ 4): 5, “Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu”. Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa ulil amri, umara atau penguasa adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan orang lain. Dengan kata lain, pemimpin itu adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan rakyat. Jika ada pemimpin yang tidak mau mengurus kepentingan rakyat, maka ia bukanlah pemimpin (yang sesungguhnya).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Para pakar telah lama menelusuri Al-Quran dan Hadits dan menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu: (1). Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. (2). Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat. (3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh. (4). Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di dalam Al-Quran juga dijumpai beberapa ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, diantaranya terdapat dalam surat As-Sajdah (32): 24 dan Al-Anbiyaâ (21): 73. Sifat-sifat dimaksud adalah: (1). Kesabaran dan ketabahan. “Kami jadikan mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah”. Lihat Q. S. As-Sajdah (32): 24. Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sedangkan yang lain adalah sifat-sifat yang lahir kemudian akibat adanya sifat (kesabaran) tersebut. (2). Mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya sesuai dengan petunjuk Allah swt. Lihat Q. S. Al-Anbiyaâ (21): 73, “Mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami”. Pemimpin dituntut tidak hanya menunjukkan tetapi mengantar rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau dengan kata lain tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya mampu mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di tengah masyarakat. Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi (sense of crisis), yaitu apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir sekali menikmatinya. (3). Telah membudaya pada diri mereka kebajikan. Lihat Q. S. Al-Anbiyaâ (21): 73, “Dan Kami wahyukan kepada mereka (pemimpin) untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat”. Hal ini dapat tercapai (mengantarkan umat kepada kebahagiaan) apabila kebajikan telah mendarah daging dalam diri para pemimpin yang timbul dari keyakinan ilahiyah dan akidah yang mantap tertanam di dalam dada mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kaum muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasulullah saw dilarang keras untuk memilih pemimpin yang tidak memiliki kepedulian dengan urusan-urusan agama (akidahnya lemah) atau seseorang yang menjadikan agama sebagai bahan permainan/kepentingan tertentu. Sebab pertanggungjawaban atas pengangkatan seseorang pemimpin akan dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya (masyarakat tersebut). Dengan kata lain masyarakat harus selektif dalam memilih pemimpin dan hasil pilihan mereka adalah “cerminâ” siapa mereka. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw yang berbunyi: “Sebagaimana keadaan kalian, demikian terangkat pemimpin kalian”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di lain pihak pemimpin dituntut untuk memahami kehendak dan memperhatikan penderitaan rakyat. Sebab dalam sejarahnya para rasul tidak diutus kecuali yang mampu memahami bahasa (kehendak) kaumnya serta mengerti (kesusahan) mereka. Lihat Q. S. Ibrahim (14): 4, “Kami tidak pernah mengutus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya”. dan Q. S. At-Taubah (9): 129, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, terasa berat baginya penderitaanmu lagi sangat mengharapkan kebaikan bagi kamu, sangat penyantun dan penyayang kepada kaum mukmin.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ayat ini berbicara pada tataran ideal tentang sosok pemimpin yang akan memberikan dampak kebaikan dalam kehidupan rakyat secara keseluruhan , seperti yang ada pada diri para nabi manusia pilihan Allah. Karena secara korelatif, ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat ini dalam konteks menggambarkan para nabi yang memberikan contoh keteladanan dalam membimbing umat ke jalan yang mensejahterakan umat lahir dan bathin. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ayat ini merupakan landasan prinsip dalam mencari figur pemimpin ideal yang akan memberi kebaikan dan keberkahan bagi bangsa dimanapun dan kapanpun.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pemimpin yang bisa bersikap adil. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Diantara bentuknya adalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang. Lihat QS. Shad (38): 22, “Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada surat al-Baqoroh ayat 124, nabi Ibrahim sebagai seorang Imam (pemimpin), ingin sekali meneruskan dan mewariskan kepemimpinannya kepada anak cucu. Itu dibuktikan dengan permohonannya kepada Alllah SWT dengan kalimat, “Dan saya mohon (juga) dari keturunanku.” Surat al-Furqon ayat 74 pun kelihatannya tidak jauh berbeda. Ayat itu berisi permohonan seseorang untuk melanggengkan kepemimpinannya kepada anak cucu dan golongannya sendiri. Hanya saja sistem monarki atau sumber dan pusat kepemimpinan yang selalu berkisar pada golongan tertentu, nampaknya diberi syarat oleh Allah dengan “Janjiku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim.” Ungkapan ini menunjukkan, bahwa sifat dzalim atau tidak dapat berbuat adil merupakan watak yang tidak dimaui oleh Allah dalam melestarikan, melanggengkan dan merebut tahta kepemimpinan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dia berkata, “Rasulullah SAW pernah memanggil kami, lalu kami berjanji setia kepada beliau. Diantara perjanjian yang wajib kami pegang ialah, kami berjanji setia untuk patuh dan setia dalam segala hal, baik yang kami senangi maupun tidak kami senangi, dalam kesulitan maupun kelapangan, dan juga dalam hal yang dipandang merugikan kami, dan kami tidak boleh menentang kepada seorang pemimpin. Beliau bersabda, ‘Kecuali kalian melihat kekufuran yang jelas, menurut bukti yang dapat kalian pertanggungkan di sisi Allah.’”(HR. Muslim)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Diriwayatkan dari Al Hasan: Ubaidillah bin Ziyad pernah menjenguk Ma’qil bin Yasar Al Muzanni pada waktu sakit menjelang wafatnya. Lalu Ma’qil berkata, “Aku akan menceritakan sebuah hadis yang aku dengar dari Rasulullah SAW. Kalau aku tahu bahwa aku masih akan hidup, tentu aku tidak mau menceritakannya kepadamu. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Seseorang yang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu mati ketika sedang menipu rakyatnya, maka Allah mengharamkan baginya surga.”‘ (HR. Muslim)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW: Beliau bersabda, “Barang siapa tidak mematuhi pimpinannya dan keluar dari persatuan umat, lalu dia mati, maka dia mati jahiliyah. Barang siapa mati terbunuh di bawah panji panji kefanatikan, yaitu bermusuhan karena kefanatikan, mengajak fanatik atau membela kefanatikan suku, lalu dia terbunuh karenanya, maka matinya adalah mati jahiliyah. Barang siapa menyerang umatku, membunuh orang yang baik dan yang jahat, tanpa mempedulikan apakah dia orang Mukmin atau bukan orang Mukmin, dan tanpa memperhatikan apakah dia seseorang yang mempunyai ikatan janji dengan umatku atau tidak, maka orang itu bukan dari golonganku dan aku juga bukan dari golongannya.”(HR. Muslim)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Seorang khalifah dari dinasti Bani Umayyah mendengar perkataan buruk rakyatnya tentang khilafah yang dipimpinnya. Karena hal itu, sang khalifah mengundang dan mengumpulkan para tokoh dan orang-orang yang berpengaruh dari rakyatnya. Dalam pertemuan itu khalifah berkata, “Wahai rakyatku sekalian! apakah kalian ingin aku menjadi khalifah seperti Abu Bakar dan Umar?. Mereka pun menjawab, “ya”. Kemudian khalifah berkata lagi, “Jika kalian menginginkan hal itu, maka jadilah kalian seperti rakyatnya Abu bakar dan Umar! karena Allah Subhanahu wa ta’ala yang maha bijaksana akan memberikan pemimpin pada suatu kaum sesuai dengan amal-amal yang dikerjakannya. Jika amal mereka buruk, maka pemimpinnya pun akan buruk. Dan jika amal mereka baik, maka pemimpinnya pun akan baik. (Syarh Riyadh Al-Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Setiap rakyat akan selalu mendambakan pemimpin ideal yang bertanggungjawab melaksanakan kewajiban-kewajibannya dan memenuhi setiap hak rakyat. Akan tetapi pemimpin yang didambakan tersebut bukan sesuatu yang ada begitu saja. Pemimpin ternyata juga sangat tergantung kepada seperti apa kualitas rakyat yang dipimpinnya. Kisah diatas merupakan penjelasan atas kenyataan ini. Yaitu kenyataan bahwa pemimpin yang baik hanyalah untuk rakyat yang baik. Dan pemimpin yang buruk hanyalah untuk rakyat yang buruk. Firman Allah ta’ala (yang artinya),

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Allah Subhanahu wa ta’ala menghendaki setiap ketentuannya menjadi bahan pelajaran dan renungan bagi hamba-hamba-Nya. Menjadi peringatan yang menyadarkan manusia kepada kewajibannya sebagai hamba, juga kepada kebesaran Allah yang maha berhak atas setiap urusan seluruh makhluk-Nya. Kesadaran ini sejatinya mendorong setiap manusia mengerti hakikat peran hidupnya di dunia. Termasuk kesadaran sebagai rakyat, bahwa pemimpin yang adil dan amanah adalah barang mahal yang harus ditebus dengan ketaatan, moralitas, dan semua nilai baik rakyatnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Politik birokrasi adalah dua kata yang sangat kuat mencirikan dinamika wacana politik Orde Baru di Indonesia, bahkan sejak tahun 1957, ketika peranan Bung Karno mendominasi kancah perpolitikan. Debat-debat publik antar para analis dan kalangan tertentu tentang strategi pembangunan, yang tentunya berkaitan langsung dengan birokrasi pemerintahan berlangsung agak intens dua dekade pasca kemerdekaan, yaitu pada awal 1970-an. Politik birokrasi yang digulirkan pada masa Orde baru tersebut pada akhirnya membatasi ruang gerak banyak pihak terutama lawan politik. Tidak banyak yang mengambil sikap anti atau secara terang-terangan berseberangan/ opposisi, kecuali harus mengatakan “ya” atau sikap pro terhadap setiap kebijakan politik.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hal yang paling krusial menjadi objek kajian kala itu adalah mengenai kontroversi peran kaum intelektual terhadap politik birokrasi. Pasalnya adalah munculnya rumor yang menuding para guru besar di beberapa universitas telah menghianati panggilan tugas mereka sebagai kaum intelektual dimana mereka memandang sebagai teknik yang didasarkan kepada keyakinan bahwa keberhasilan rezim Orde Baru hanya dapat diperoleh dengan cara bekerja sama dengan dan dari dalam pemerintah atau birokrasi, bukan dengan cara menentang lembaga-lembaga politiknya. Fenomena ini juga muncul dan dihadapkan kepada sebagian pesantren yang diasumsi sedikit banyak telah bergeser dari idealisme awal pendiriannya sebagai lembaga pendidikan tradisional di Indonesia..

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Birokrasi sebagai alat pemerintah pada dasarnya bekerja untuk kepentingan masyarakat secara keseluruhan (Publik Service). Birokrasi pula dapat dipandang ssebagai suatu mata rantai hubungan antara pemerintah dengan rakyat. Dalam posisi demikian, tugas birokrasi adalah merealisasikan kebijakan-keabijakan pemerintah dalama rangka pencapaian kepentingan masyarakat. Ini berarti dalam menjalankan tugasnya, birokrasi menerjemahkan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sehingga kebijakan tersebut dapat dioperasionalisasikan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Konsep monoloyalitas yang dikembangkan pemerintah menjelang Pemilu 1971 telah menghapus pengaruh partai-partai politik dari birokrasi. Pemerintah merestrukturisasi aturan main pemilihan umum, dan melakukan pemaksaan dan intimidasi terhadap lawan-lawan politik dari balik layar. Agaknya praktik politik inilah yang mengakibatkan Golkar sebagai representasi pemerintah, menang terus dalam lima kali pemilihan umum dari 1971 hingga 1992. Dua partai non pemerintah, seperti PPP dan PDI tidak diizinkan membuka cabang di tingkat lokal (kecamatan dan kelurahan).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Lebih jauh para pemimpin partai dan calon legislataif harus dilitsus (diteliti secara khusus mengenai ideologi). DPR dan MPR yang bertugas memilih presiden dan wakil presiden setiap lima tahun sekali hanya menjadi stempel karet yang dikendalikan oleh presiden dengan dukungan militer.. Loyalitas birokrasi semakin dipeerkuat, terutama setelah dibentuknya KORPRI; organisasi inilah yang menyalurkan kesetiaan kaum birokrat pada pemerintah melalui Golkar. Akan tetapi sekalipun tingkat politisasi dalam birokrasi cukup tinggi, prinsip-prinsip birokrasi pada umumnya tetap dipelihara, bahkan birokrasi menjadi semakin kompleks keberadaannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Birokrasi di Indonesia tidak lagi netral posisinya dalam kehidupan politik negara. Ini dikarenakan terjadinya politisasi birokrasi dan depolitisasi massa di lain pihak. Pada perkembangan selanjutnya birokrasi tidak hanya berperan dalam mempertahankan status quo, tetapi juga telah berperan sebagai agen pemekaran rezim berkuasa. Seabagi fakta, struktur formal pemerintah dari tingkat Menteri Dalam Negeri sampai dengan tingkat Desa menjalankan peran ganda, yaitu di samping menjalankan urusan administrasi, juga sebagai kader Golkar di pihak lain.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kedudukan strategis tersebut dimanfaatkan oleh penguasa rezim Orde Baru untuk mensosialisasikan kebijakan-kebijakan politiknya kepada masyarakat luas. Langkah tersebut memang berhasil, karena dengan konsep “Floating Mass” (Massa Mengambang) praktis hanya dapat dilakukan lewat birokrasi, dan langkah ini tidak mampu dilakukan oleh PPP dan PDI. Tentunya dengan kenyataan ini telah melahirkan sosok birokrasi yang monolitik dan cenderung kepada regulasi politik bagi legitimasi kepentingan politik rezim penguasa. Sekali lagi bahwa pengelompokan beberapa partai politik ke dalam satu partai politik telah hanya memindahkan wilayah konflik antar unsur, konsep massa mengambang tersebut telah menimbulkan gejala elit mengambang (floating –elites), dan format monopolitik telah mengakibatkan gerakan Islam kehilangan jalur hubungan ke kelompok strategis, seperti guru, petani, nelayan, buruh, atau pedagang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Politisasi birokrasi kenyataannya menyebabkan perkembangan politik di indonesia tidak berjalan dengan baik karena rezim penguasa telah secara tidak adil menempatkan birokrasi sebagai penopang kekuasaannya. Dengan menguatnya peranan politik yang dimainkan, birokrasi akan melemahkan kekuatan dan fungsi partai politik baik di tingkat pusat maupun daerah. Sebagai ilustrasi, Menteri Dalam Negeri bertindak sebagai pembina politik di tingkat pusat, sementara Gubernur di tingkat propinsi dan Bupati di kabupaten. Menteri, Gubernur dan Bupati sewaktu-waktu dapat melakukan intervensi terhadap partai politik lain, sehingga status quo di Indonesia tetap dipertahankan. Itu saja merupakan suatu hal yang negatif bagi perkembangan politik, karena partai politik opposan tidak akan pernah secara maksimal menjalankan fungsi dan peranannya secara bebas dan independen dalam mensosialisasikan kepentingan politiknya kepada masyarakat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adapun dampak lain dari politisasi birokrasi tersebut adalah bahwa masyarakat terutama yang tinggal di daerah akan tetap termarjinalisasikan terhadap berbagai persoalan politik karena ada depolitisasi massa, dan masyarakat hanya mendapat sentuhan politik dari satu pihak saja yaitu partai berkuasa. Begitu buruknya dampak dari politisasi birokrasi terhadap perkembangan politik di Indonesia, sehingga bila hal ini dipertahankan, akan mendorong terbentuknya pemerintahan yang totaliter, dimana rezim berkuasa tidak dapat dikontrol lagi. Ini artinya, proses pembangunan politik selama ini masih perlu dibenahi kembali..

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Keberpihakan birokrasi kepada salah satu kekuatan politik yang ada merupakan tindakan yang tidak adil dan jelas merugikan pihak lain, karena posisi birokrasi sangat strategis dalam konstelasi politik. Sekali lagi jaringan birokrasi menjangkau setiap wilayah di indonesia melalui perangkat-perangkat yang ada di pusat dan daerah, sehingga praktis hanya Golkar yang dapat mensosialisasikan kebijakan politiknya. Sedangkan partai oposan hanya dapat menempatkan perwakilan di tingkat daerah, berarti jangkauan sosialisasi politiknya sangat terbatas. Kenyataan inilah yang disebut dengan penciptaan iklim politik yang tidak sehat oleh rezim berkuasa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kebijakan politik yang dijalankan Orde Baru bukan saja memperkuat posisi para penguasa dan membuat lemah pihak lain, tapi juga membuka peluang penguasa tersebut melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Akibatnya, selain terampas hak-hak politiknya, rakyat juga tidak punya kesempatan untuk mengembangkan setiap aktivitasnya secara bebas dan merdeka. Sektor-sektor penting ternyata dikuasai oleh penguasa dan para kroninya.[ix] Kebijakan depolitisasi masyarakat dan marjinalisasi politik selain membawa beberapa implikasi negatif, pada sisi lain memunculkan kembali peluang bagi kebangkitan kembali kekuatan politik lain termasuk revivalisme politik Islam

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Fungsi birokrasi yang cukup sentral dengan peran gandanya sebagai pelaksana, juga pembuat kebijakan politik politik berimplikasi terhadap melemahnya DPR yang semestinya lebih dominan dalam setiap proses pembuatan kebijakan. Komposisi keanggotaan Golkar yang mayoritas menyebabkan fungsi DPR hanya sebagai pe-legitimasi berbagai kebijakan yang diusulkan oleh birokrasi. Sementara kekuatan politik oleh partai politik semakin melemah, karena penguasa melalui alat birokrasinya seringkali melakukan intervensi ke dalam partai oposan lain,PPP atau pun PDI. Hal itu sangat mungkin terjadi, karena para pejabat birokrasi yang juga kader politik selalu menjaga eksistensi kekuasaan Golkar. Seperti sudah menjadi pendapat umum, rekayasa politik Orde Baru by design bertujuan untuk depolitisasi masyarakat melalui penyederhanaan sistem kepartaian, pengembangan konsep massa mengambang, dan format monopolitik dalam kehidupan sosial politik yang diringi melemahnya peran dan fungsi DPR sebagai legislatif.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebenarnya sebagai lembaga yang memiliki peran strategis, DPR tetap menjaga integritas kelembagaannya di hadapan pemerintah dan di mata rakyat. Selanjutnya lembaga ini harus memaksimalkan fungsi kontrolnya terhadap pihak eksekutif/ pelaksana birokrasi, tidak mudah terkooptasi oleh kepentingan tertentu. Anggota DPR yang tidak memiliki reputasi baik dan tidak “integrated” sebagaimana yang dicontohkan di Era Orde Baru, tentu akan merugikan partai pengusungnya dan berdampak buruk terhadap masa depan bangsa dan negara.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Langkah-langkah yang ditempuh dalam memperbaiki birokrasi itu adalah: pertama, mengalihkan wewenang pemerintah ke tingkat birokrasi yang lebih tinggi yaitu pemusatan proses pembuatan kebijakan pemerintahan. Kedua, menjadikan birokrasi efektif dan tanggap terhadap perintah pimpinan pusat. Ketiga, memperluas wewenang pemerintah dan mengendalikan daerah-daerah.[x] Selain langkah-langkah yang ditempuh, pemerintah Orde Baru juga menempatkan tehnokrat sipil maupun militer yang berorientasi moderen, dapat diawasi dan dikendalikan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Melihat realitas tersebut, dapat dipahami mengapa sebagian generasi pemikir kita pada tahun 70-an memilih gagasan untuk menyiapkan sebuah integrasi politik lewat partisipasi langsung dalam arus utama proses-proses politik dan birokrasi negara, dengan bergabung baik ke dalam Golkar maupun birokrasi negara.[xi] Sebagian diantara mereka adalah Berli Halim, Majid Ibrahim, Deliar Noer, Sularso, Bintoro Cokroaminoto, Bustanul Arifin, Saadillah Mursyid, Mar’i Muhammad dan sebagainya, mereka adalah mantan aktivis HMI. Kemenangan Golkar pada tahun 1971 memberikan kesempatan pihak penguasa untuk menggulirkan ide restrukturisasi partai-partai politik. Langkah awal sebagai implementasi gagasan tersebut adalah pengelompokan beberapa partai politik menjadi tiga bagian, yaitu: pertama, material-spritual, kelompok yang mengembangkan bidang spritual, dan juga masih konsern terhadap bidang material. Kedua, bidang spritual material, kelompok yang mengembangkan bidang material, dan masih juga memberi perhatian terhadap bidang spritual. Ketiga, kelompok fungsional (Golkar).[xii] Secara tidak langsung, NU ketika bergabung ke PPP (1973-1984) juga tak lepas di bawah kendali Orde Baru. Sebagian tokoh Islam lain mengambil sikap kompromis bergabung ke Golkar dan PDI—sebuah sikap politik yang harus dilakukan saat itu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berbeda dengan PSII, dua pimpinannya, M.Ch. Ibrahim dan Bustman, SH. Mengeluarkan surat No. 193 tertanggal 18 oktober 1973 menyatakan penolakan partai tersebut terhadap ide tentang fusi partai-partai Islam di bawah bayang-bayang pemerintah Orde Baru. Spontan polemik pun terjadi di kalangan pimpinan partai. M.A. Ghani dan Gobel mengambil alih kepemimpinan partai dan membentuk formasi baru yang makhirnya engaklamasikan Anwar Tjokroaminoto sebagai ketua terpilih. Sejak itu PSII bergabung dengan NU Parmusi dan Perti, dan menerima fusi partai-partai Islam yang dideklarasikan pada tg. 5 januari 1973. Golkar dibiarkan saja berjalan secara natural, karena secara fingsional partai ini adalah tangan kanan pemerintah, dan dengan mudah mengawasi partai-partai Islam yang bergabung dalam satu wadah (receptacle).[xiii]

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selain kelompok pemikir sebagaimana telah disebut di atas, sebagian pemikir lebih muda merespon gejala politik birokrasi pada waktu itu dengan sikap yang berbeda. Mereka menganggap persoalan yang lebih urgen adalah mempersiapkan infrastruktur kegiatan politik umat Islam, serta membina struktur basis yang diperlukan untuk mendukung sistem politik yang demokratis. Kelompok pemikir yang lebih muda ini juga tertarik dengan kegiatan membangun masyarakat dan bergerak dalam bidang pemikiran dari terjun langsung kedalam percaturan politik atau masuk ke birokrasi.[xiv]

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sikap kelompok terakhir yaitu memilih berada di luar birokrasi, tampaknya dapat dipahami dan disadari sepenuhnya. Kalaupun mereka berada di dalam birokrasi yang telah dibangun oleh Orde Baru, maka mereka tidak dapat mengaktualisasikan idealisme mereka untuk menata struktur pemerintahan yang demokratis yang dapat menjamin hak-hak politik Umat islam khususnya dan Bangsa Indonesia pada umumnya. Banyak diantara mereka yang justru bergumul dengan masalah-masalah sosial melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dengan bergabung ke lembaga-lembaga tersebut, mereka merasa dapat memberikan kontribusi dalam menyiapkan masyarakat yang demokratis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Mengapa mereka tidak memilih aktif di partai yang secara simbolis adalah Islam? Nampaknya penilaian mereka terhadap partai oposan—partai-partai selain Golkar di era Orde Baru, tidak lain hanyalah partai-partai yang berfungsi sebagai ornamental. Mengapa demikian? Jawabannya, karena begitu kuatnya politik birokrasi yang dikendalikan Suharto yang sangat ditakuti. Meskipun kala itu bermunculan partai politik dengan simbol islamnya, kenyataannya tetap berada dalam pasungan penguasa, dan bahkan yang boleh memimpin partai-partai tersebut sebenarnya mereka orang-orang yang dapat dikendalikan penguasa.[xv] Partai politik Islam yang sesungguhnya baru muncul belakangan, apalagi ketika dibukanya kran era reformasi pada dekade 90-an.[xvi]

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Para aktivis baru yang masuk kedalam birokrasi Orde Baru meski ada usaha-usaha islamisasi birokrasi, namun komunitas muslim tidak memberikan legitimasi terhadap kegiatan mereka yang diangggap tidak dapat mewakili aspirasi Islam mereka, sehingga islamisasi birokrasi kemudian dimaknai terbalik menjadi birokrasisasi Islam. Hal ini dapat kita simpulkan bahwa adanya ketidakpercayaan komunitas muslim kepada aktivis baru tersebut. Mereka (aktivis baru) dianggap terlalu akomodatif kepada negara dan bahkan dipandang telah terbawa arus proses-proses politik dan birokrasi negara serta kehilangan sikap kritis mereka. Komunitas pesantren pun dimungkinkan akan kehilangan karakter kepesantrenannya ketika berhadapan dengan modernitas, dalm hal ini perkembangan politik dan birokrasi pemerintah. Sudah semestinya mereka harus mengambil sikap bijaksana dengan tetap memelihara prinsip konservasi dan akomodasi, yaitu “al-Muhafazhah ‘ala al-Qadim al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadidi al-Aslah”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Namun demikian, proses panjang islamisasi terhadap birokrasi dan politik pemerintah oleh para pemikir/ aktivis politik Islam memberikan hasil yang berarti terhadap prospek politik Indonesia selanjutnya. Terbukti, tokoh-tokoh Islam tertentu dan bahkan kalangan pesantren memegang peranan penting dalam struktur poltik pemerintah pasca Orde Baru, baik sebagai eksekutif, legislatif dan juga yudikatif. Lebih dari itu, wujud konkret partisipasi pemikir/ aktivis Islam dalam kehidupan bangsa dan negara dapat diklasifikasikan menjadi tiga jalur: legal formal, Islam substantivistik dan Islam transformatif.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di jalur legal formal, seseorang masuk dan berperan langsung dalam birokrasi pemerintahan yang berorientasi pada perjuangan kekuasaan/ kenegaraan (real Politics), apakah ia sebagai anggota legislatif, eksekutif dan yudikatif sekalipun. Masuknya Gus Dur misalnya (Panggilan untuk KH Abdurrahman Wahid) ke dalam struktur politik birokrasi cukup memberi pengaruh besar terhadap dinamika politik di Indonesia, apalagi didukung oleh para intelektual aktivis muda.[xvii] Jejak langkah Gus Dur juga diikuti oleh pemikir yang berasal dari organisasi Islam lainnya, seperti Amin Rais, BJ Habibi, M.Din Syamsuddin dan Yusril Ihza Mahendra. Pada jalur kedua, seseorang memutuskan untuk berada jauh di luar birokrasi politik sebagai pemikir atau akademisi di perguruan tinggi, tetapi secara tidak langsung tetap memberikan kontribusi terhadap dinamika politik kenegaraan dan kebijakan pemerintah. Peran akademisi sangat dibutuhkan untuk mengendalikan kebijakan politik pemerintah pada batas –batas tertentu agar tetap legitimate dan mendapat trust dari masyarakat.[xviii] Diantara para akademisi tersebut adalah Harun Nasution, Mukti Ali, dan dikuti oleh intelektual muda saat itu seperti Nurkholis Madjid dan Amin Abdullah. Apapun yang terjadi terhadap politik kenegaraan, maka mereka berusaha tetap konsisten di dunia pendidikan dan pengembangan keilmuan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adapun di jalur Islam transformatif, seseorang berusaha melakukan pemberdayaan dan pengembangan masyarakat juga kegiatan politik tidak langsung dengan perjuangan moral (moral-force) terhadap pemerintah yang sedang berkuasa untuk tujuan –tujuan yang lebih baik, yaitu membentuk masyarakat berperadaban (masyarakat madani). Gagasan yang bernada sosial-transformatif yang diprakarsai kaum intelektual muda bermula dari kelompok kajian dan pelatihan strategis yang relevan. Sebagian mereka juga disebut,”Tradisi Intelektual Kritis”, dimana bersikap kritis terhadap kemapanan sosial-politik menjadi titik tekan utamanya.[xix] Tidak sedikit yang berasal dari kalangan pesantren dan sentra-sentra pendidikan sebagai basis Islam tradisional.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Mungkin dengan memakai jalur konstitusional, birokrasi dapat diberdayakan sepenuhnya. Artinya birokrasi dapat dijadikan sebagai kekuatan sosial politik yang mandiri dan tidak terpengaruh oleh kekuatan sosial politik lain. Cara ini relatif lebih mudah dilakukan dan tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45, karena munculnya birokrasi ke permukaan merupakan agen pembaharu sebuah yang ingin melaksanakan cita-cita demokrasi. Semangat ini akan berdampak positif terhadap kehidupan sosial politik dan selaras dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ibrahim, Musa, Muhammad, dan Pemuda Ashabul Kahfi tidak bughot/berontak thd Raja Namrudz, Fir’aun, dan penguasa Kafir Mekkah. Saat Nabi terluka akibat dilempari penduduk Thaif yg menolak dakwah Nabi, Malaikat menawarkan kepada Nabi untuk menghancurkan penduduk Thaif dgn gunung-gunung di sekelilingnya. Namun Nabi menolak: Siapa tahu nanti keturunan mereka jadi Muslim. Dan memang benar. Kita lihat negeri-negeri yang dilalui para Nabi tsb seperti Jazirah Arab, Iraq, Suriah, Palestina, Mesir, dsb saat ini jadi negeri2 Muslim. Bayangkan jika para Nabi bughot. Tentu sebagian besar rakyat di negeri2 tsb juga hancur.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hadits Hudzaifah: Nabi bersabda: “Ya”, Dai – dai yang mengajak ke pintu Neraka Jahanam. Barang siapa yang mengikutinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda: “Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita”. Aku bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya? Beliau bersabda: “Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya”. Aku bertanya: “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya?” Beliau bersabda: “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”. (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari Ibnu Umar r.a. pula, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Barangsiapa yang melepaskan tangan ketaatan -yakni keluar dari ketaatan terhadap penguasa pemerintah-, maka orang itu akan menemui Allah pada hari kiamat, sedang ia tidak mempunyai hujjah -alasan lagi untuk membela diri dari kesalahannya itu-. Adapun yang meninggal dunia sedang di lehernya tidak ada pembai’atan -untuk mentaati pada pemerintahan yang benar-, maka matilah ia dalam keadaan mati jahiliyah.” (Riwayat Muslim) Dalam riwayat Imam Muslim yang lain disebutkan: “Dan barangsiapa yang mati dan ia menjadi orang yang memecah belah persatuan umat -kaum Muslimin-, maka sesungguhnya ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Kita semua bersama Rasulullah s.a.w. dalam berpergian, kemudian kita turun berhenti di suatu tempat pemberhentian. Diantara kita ada yang memperbaiki pakaiannya, ada pula yang berlomba panah memanah dan ada pula yang menyampingi ternak-ternaknya. Tiba-tiba di kala itu berserulah penyeru Rasulullah s.a.w. mengatakan: “Shalat jamaah akan segera dimulai.” Kita semua lalu berkumpul ke tempat Rasulullah s.a.w., kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya tiada seorang Nabipun yang sebelum saya itu, melainkan adalah haknya untuk memberikan petunjuk kepada umatnya kepada apa-apa yang berupa kebaikan yang ia ketahui akan memberikan kemanfaatan kepada umatnya itu, juga menakut-nakuti dari keburukan apa-apa yang ia ketahui akan membahayakan mereka. Sesungguhnya umatmu semua ini keselamatannya diletakkan di bagian permulaannya dan kepada bagian penghabisannya akan mengenailah suatu bencana dan beberapa persoalan yang engkau semua mengingkarinya -tidak menyetujui karena berlawanan dengan syariat-. Selain itu akan datang pula beberapa fitnah yang sebagiannya akan menyebabkan ringannya bagian yang lainnya. Ada pula fitnah yang akan datang, kemudian orang mu’min berkata: “Inilah yang menyebabkan kerusakanku,” lalu fitnah itu lenyaplah akhirnya. Juga ada fitnah yang datang, kemudian orang mu’min berkata: “Ini, inilah yang terbesar -dari berbagai fitnah yang pernah ada-.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

” Maka barangsiapa yang senang jikalau dijauhkan dari neraka dan dimasukkan dalam syurga, hendaklah ia sewaktu didatangi oleh kematiannya itu, ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, juga memperlakukan para manusia dengan sesuatu yang ia senang jika diperlakukan sedemikian itu oleh orang lain. Dan barangsiapa yang membai’at seorang imam -pemuka-, lalu ia telah memberikan tapak tangannya -dengan berjabatan tangan- dan memberikan pula buah hatinya -maksudnya keikhlasan-, maka hendaklah ia mentaatinya apabila ia kuasa demikian -yakni sekuat tenaga yang ada pada dirinya-. Selanjutnya jikalau ada orang lain yang hendak mencabut -merampas kekuasaan imam yang telah dibai’at tadi-, maka pukullah leher orang lain itu -yakni perangilah yang membangkang tersebut-. (Riwayat Muslim)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sabdanya: yantadhilu artinya berlomba dengan permainan melemparkan panah atau berpanah-panahan. Aljasyaru dengan fathahnya jim dan syin mu’jamah dan dengan ra’, yaitu binatang-binatang yang sedang digembalakan dan bermalam di tempatnya itu pula. Sabdanya: yuraqqiqu ba’dhuha ba’dhan artinya yang sebagian membuat ringan pada yang sebagian lagi, sebab besarnya apa yang datang sesudah yang pertama itu. Jadi yang kedua menyebabkan dianggap ringannya yang pertama. Ada yang mengatakan bahwa artinya ialah yang sebagian menggiring yakni menyebabkan timbulnya sebagian yang lain dengan memperbaguskan serta mengelokkannya, juga ada yang mengatakan bahwa artinya itu ialah menyerupai yang sebagian pada sebagian yang lainnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari Abu Hunaidah yaitu Wail bin Hujr r.a., katanya: “Salamah bin Yazid al-Ju’fi bertanya kepada Rasulullah s.a.w., lalu ia berkata: “Ya Nabiyullah, bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau kita semua diperintah oleh beberapa orang penguasa, mereka selalu meminta hak mereka dan menghalang-halangi apa yang menjadi hak kita. Apakah yang Tuan perintahkan itu terjadi?” Beliau s.a.w. memalingkan diri dari pertanyaan itu -seolah-olah tidak mendengarnya-. Kemudian Salamah bertanya sekali lagi, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dengarlah olehmu semua -apa yang diperintahkan- dan taatilah, sebab sesungguhnya atas tanggungan mereka sendirilah apa-apa yang dibebankan pada mereka -yakni bahwa mereka berdosa jikalau mereka menghalang-halangi hak orang-orang yang di bawah kekuasaannya- dan atas tanggunganmu sendiri pulalah apa yang dibebankan padamu semua -yakni engkau semua juga berdosa jikalau tidak mentaati pimpinan orang yang sudah sah dibai’at-.” (Riwayat Muslim)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya saja akan datanglah sesudahku nanti suatu cara mementingkan diri sendiri -dari golongan penguasa negara sehingga tidak memperdulikan hak kaum Muslimin yang diperintah- serta beberapa perkara-perkara yang engkau semua mengingkarinya -tidak menyetujui karena menyalahi ketentuan-ketentuan syariat-.” Para sahabat lalu berkata: “Ya Rasulullah, kalau sudah demikian, maka apakah yang Tuan perintahkan kepada yang orang menemui keadaan semacam itu dari kita -kaum Muslimin-?” Beliau s.a.w. menjawab: “Engkau semua harus menunaikan hak orang yang harus menjadi tanggunganmu dan meminta kepada Allah hak yang harus engkau semua peroleh.” (Muttafaq ‘alaih)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Imam al-Khaththabi menambahkan, “Dan termasuk dalam makna nasehat bagi mereka adalah shalat di belakang mereka, berjihad bersama mereka, menyerahkan shadaqah-shadaqah kepada mereka, tidak memberontak dan mengangkat pedang (senjata) terhadap mereka –baik ketika mereka berlaku zhalim maupun adil-, tidak terpedaya dengan pujian dusta terhadap mereka, dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Semua itu dilakukan bila yang dimaksud dengan para imam adalah para khalifah atau para penguasa yang menangani urusan kaum muslimin, dan inilah yang masyhur”. Lalu beliau melanjutkan, “Dan bisa juga ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan para imam adalah para ulama, dan nasehat bagi mereka berarti menerima periwayatan mereka, mengikuti ketetapan hukum mereka (tentu selama mengikuti dalil), serta berbaik sangka (husnu zh-zhan) kepada mereka”. (Syarah Shahih Muslim (2/33-34), I’lam al-Hadits (1/192-193)).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Artinya, membimbing mereka menuju kemaslahatan dunia dan akhirat, tidak menyakiti mereka, mengajarkan kepada mereka urusan agama yang belum mereka ketahui dan membantu mereka dalam hal itu baik dengan perkataan maupun perbuatan, menutup aib dan kekurangan mereka, menolak segala bahaya yang dapat mencelakakan mereka, mendatangkan manfaat bagi mereka, memerintahkan mereka melakukan perkara yang ma’ruf dan melarang mereka berbuat mungkar dengan penuh kelembutan dan ketulusan. Mengasihi mereka, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda dari mereka, diselingi dengan memberi peringatan yang baik (mau‘izhah hasanah), tidak menipu dan berlaku hasad (iri) kepada mereka, mencintai kebaikan dan membenci perkara yang tidak disukai untuk mereka sebagaimana untuk diri sendiri, membela (hak) harta, harga diri, dan hak-hak mereka yang lainnya baik dengan perkataan maupun perbuatan, menganjurkan mereka untuk berperilaku dengan semua macam nasehat di atas, mendorong mereka untuk melaksanakan ketaatan dan sebagainya (Syarh Shahih Muslim (II/34), I’lamul-Hadits (I/193)).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Memang sikap adil merupakan salah satu syarat-syarat menjadi imam / pemimpin, hanya saja pendapat yang kuat dalam kalangan madzhab empat dan madzhab Syi’ah Zaidiyyah mengharamkan bertindak bughot/berontak terhadap imam yang fasik lagi curang walaupun bughot itu dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar. Karena egar kepada imam biasanya akan mendatangkan suatu keadaan yang lebih munkar dari pada keadaan sekarang. Dan sebab alasan ini maka tidak diperbolehkan mencegah kemungkaran, karena persyaratan mencegah kemungkaran harus tidak mendatangkan fitnah, pembunuhan, meluasnya kerusakan, kekacauan negara, tersesatnya rakyat, lemah keamanan dan rusaknya stabilitas”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Lihat korban Perang Saudara di Suriah yang berlangsung 2 tahun lebih. Meski Mujahidin mengaku berjaya, namun 70 ribu rakyat Suriah tewas, 5 juta orang terusir dari rumahnya karena kena bom dan 1 juta orang terpaksa mengungsi ke luar negeri (Al Jazeera). Dari 70 ribu korban yang tewas, 15 ribu dari pihak pemerintah, 14 ribu dari pemberontak, dan 41 ribu warga Sipil yang tewas akibat aksi pihak pemerintah dan pemberontak. Ini terjadi dari Maret 2011-April 2013. Padahal penduduk Suriah hanya 21 juta jiwa:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Peperangan hanya dibolehkan antar negara. Saat negara Islam Madinah sudah terbentuk, maka begitu “Negara” kafir Mekkah menyerang, Negara Islam berhak membela diri. Pertempuran hanya terjadi di Medan Perang. Rakyat aman di rumah mereka masing-masing. Musuh yang mundur dari medan perang pun aman. Sementara yang menyerah ditawan untuk kemudian dibebaskan setelah perang usai. Pada perang Badar, hanya 84 orang yang tewas. Pada Perang Uhud, hanya 102 orang yang tewas. Sementara pada Futuh Mekkah tidak ada korban yang tewas (Wikipedia). Itulah Islam yang sebenarnya. Menghindari Fitnah/Pembunuhan. Bukan “Mujahidin” yang harus darah apalagi sampai membunuh sesama Muslim yang mereka kafirkan terlebih dahulu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebaik-baik pemimpin adalah yang kamu cintai dan mereka mencintaimu. Kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakanmu. Sejahat-jahat pemimpin adalah yang kamu benci dan mereka membencimu. Kamu kutuk mereka dan mereka mengutukmu. Para sahabat bertanya, “Tidakkah kami mengangkat senjata terhadap mereka?” Nabi Saw menjawab, “Jangan, selama mereka mendirikan shalat. Jika kamu lihat perkara-perkara yang tidak kamu senangi maka bencimu terhadap amal perbuatannya dan jangan membatalkan ketaatanmu kepada mereka.” (HR. Muslim)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bagaimana cara menjatuhkan pemimpin yg zalim tanpa Bughot/Pemberontakan BERSENJATA? Dgn Demo Damai raksasa. Ini menurut Syekh Al Azhar Dr Ahmad Tayyib. Demo Damai sukses menjatuhkan Syah Iran di tahun 1978 dan juga menjatuhkan Husni Mubarak tahun 2011. DEMO DAMAI. Jangan memprovokasi/menyerang Militer yg ada. 8 juta dari 36 juta rakyat Iran yang demo dan mogok Nasional di tahun 1978 melumpuhkan Negara Mesir hingga Syah Iran Reza Pahlevi menyerah. Begitu pula Demo rakyat Mesir di tahun 2011 dan juga di 2013 yang diikuti 17-30 juta dari 84 juta rakyat Mesir, membuat Mursi jatuh.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bughât adalah bentuk jamak al-bâghi, berasal dari kata baghâ, yabghî, baghyan-bughyatan-bughâ`an. Kata baghâ maknanya antara lain thalaba (mencari, menuntut), zhalama (berbuat zalim), i’tadâ/tajâwaza al-had (melampaui batas), dan kadzaba (berbohong) (Ibrahim Anis, Mu’jam al-Wasith, 1972:64-65; Munawwir, Kamus al-Munawwir, 1984:65,106; Ali, 1998:341). Jadi, secara bahasa, al-bâghi (dengan bentuk jamaknya al-bughât), artinya azh-zhâlim (orang yang berbuat zalim), al-mu’tadî (orang yang melampaui batas), atau azh-zhâlim al-musta’lî (orang yang berbuat zalim dan menyombongkan diri) (Attabik Ali, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, 1998:295, Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Wasith, 1972: 65).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perbedaan definisi yang ada disebabkan perbedaan syarat yang harus terpenuhi agar sebuah kelompok itu dapat disebut bughat (‘Audah, ibid, 1996:674). Sedangkan syarat merupakan hukum syara’ (bagian hukum wadh’i), yang wajib bersandar kepada dalil syar’i, sehingga syarat yang sah adalah syarat syar’iyah, bukan syarat aqliyah (syarat menurut akal) atau syarat ‘âdiyah (syarat menurut adat) (Asy-Syatibi, al-Muwafaqat, I/186). Oleh karenanya tentang syarat bughât kita harus merujuk kepada dalil-dalil syar’i. Dalil tentang bughât adalah QS Al-Hujurat ayat 9 (Abdurrahman Al-Maliki, 1990:79), hadits-hadits Nabi SAW tentang pemberontakan kepada imam (khalifah). (Ash-Shan’ani, Subulus Salam III bab Qitâl Ahl Al-Baghî hal. 257-261; Abdul Qadir Audah, 1992, at-Tasyri’ al-Jina’iy, hal 671-672) dan ijma’ shahabat, mengenai wajibnya memerangi bughat (Zakariya Al-Anshari, Fathul Wahhab, t.t. :153; Taqiyuddin Al-Husaini, Kifayatul Akhyar, t.t.:197).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Syarat kedua, mempunyai kekuatan yang memungkinkan kelompok bughat untuk mendominasi. Kekuatan ini haruslah sedemikian rupa, sehingga untuk mengajak golongan bughat ini kembali mentaati khalifah, khalifah harus mengerahkan segala kesanggupannya, misalnya mengeluarkan dana besar, menyiapkan pasukan, dan mempersiapkan perang (Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar, II/197). Kekuatan di sini, sering diungkapkan oleh para fuqaha dengan istilah asy-syaukah, sebab salah satu makna asy-syaukah adalah al-quwwah wa al-ba`s (keduanya berarti kekuatan) (Ibrahim Anis, Al-Mu’jamul Wasith, hal. 501). Para fuqaha Syafi’iyyah menyatakan bahwa asy-syaukah ini bisa terwujud dengan adanya jumlah orang yang banyak (al-katsrah) dan adanya kekuatan (al-quwwah), serta adanya pemimpin yang ditaati (Asna Al-Mathalib, IV/111).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Syarat kedua ini, dalilnya antara lain dapat dipahami dari ayat tentang bughat (QS Al Hujurat: 9) pada lafazh “wa in thâ`ifatâni” (jika dua golongan…). Sebab kata “thâ`ifah” artinya adalah al-jama’ah (kelompok) dan al-firqah (golongan) (Ibrahim Anis, Al-Mu’jamul Wasith, hal. 571). Hal ini jelas mengisyaratkan adanya sekumpulan orang yang bersatu, solid, dan akhirnya melahirkan kekuatan. Taqiyuddin Al-Husaini mengatakan,”…jika (yang memberontak) itu adalah individu-individu (afrâdan), serta mudah mendisiplinkan mereka, maka mereka itu bukanlah bughat.” (Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar II/198). Jadi jika satu atau beberapa individu yang tidak mempunyai kekuatan, memberontak kepada khalifah, maka tidak disebut bughat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jika mereka mengklaim suatu syubhat maka syubhat tersebut harus dibongkar dan dijelaskan. Jika mereka menilai apa yang dilakukan oleh khalifah (negara) menyalahi kebenaran atau syara’, padahal tidak demikian halnya, maka harus dijelaskan kesesuaian tindakan dan kebijakan khalifah atau negara dengan syariah dan nas-nasnya serta harus ditampakkan kebenarannya. Semua itu harus dilakukan sampai taraf dianggap cukup. Jika mereka yang melakukan bughât itu tetap dalam pembangkangan, maka mereka diperangi agar kembali taat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selain mekanisme syariah di atas, Khilafah juga akan melakukan edukasi kepada rakyatnya tentang nilai kekayaan mereka, serta menerapkan sanksi yang tegas bagi siapa saja yang melanggar ketentuan syariah dalam hal kepemilikan, pengelolaan dan pendistribusian kekayaannya. Edukasi bisa dilakukan, termasuk dengan mengangkat wali (pengurus) khusus bagi siapa saja yang mempunyai harta, namun tidak bisa mengelola dan mendistribusikannya dengan benar. Setiap orang satu wali. Mereka akan dibayar oleh negara.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kebijakan satu orang satu wali ini berlaku untuk: (1) Orang-orang yang termasuk dalam kategori safih (bodoh/lemah akal). Di dalamnya termasuk orang idiot, tidak waras, termasuk anak yang belum sempurna akalnya. (2) Orang-orang yang dianggap muflis (bangkrut), di mana utangnya lebih besar ketimbang asetnya. Dengan kebijakan satu orang satu wali, maka seluruh tindakan mereka bisa diurus dengan baik. Harta mereka terjaga, tidak dihambur-hamburkan, termasuk berpindah tangan kepada orang yang tidak berhak.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jika kebijakan di atas tidak diindahkan oleh penguasa, maka kasus ini bisa diajukan kepada Mahkamah Madzalim. Mahkamah Madzalim bisa membatalkan kebijakan penguasa yang menyimpang tersebut, dan mengembalikannya. Jika kekayaan ini dimiliki oleh individu, korporasi atau negara lain, maka penguasaan atas kekayaan tersebut harus dibatalkan oleh Mahkamah Madzalim, lalu dikembalikan kepada pemiliknya. Jika milik individu, dikembalikan kepada individu. Jika milik umum, dikembalikan kepada milik umum. Jika milik negara, dikembalikan kepada negara.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Indonesia juga memiliki Kekayaan laut yang besar, Indonesia memiliki wilayah laut seluas 5,8 juta km2 dengan panjang garis pantai 81.000 km. Sekitar 7% (6,4 juta ton/tahun) dari potensi lestari total ikan laut dunia berasal dari Indonesia. Kurang lebih 24 juta ha perairan laut dangkal Indonesia cocok untuk usaha budidaya laut dengan potensi produksi sekitar 47 juta ton/tahun. Kawasan pesisir yang sesuai untuk usaha budidaya tambak diperkirakan lebih dari 1 juta ha dengan potensi produksi sekitar 4 juta ton/tahun.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sekalipun Indonesia memiliki sangat banyak kekayaan sumber daya alam, dalam kenyataannya Indonesia adalah negara dengan penduduk miskin besar. Berdasarkan data dari biro pusat statistik, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2005 mencapai 51,2 juta jiwa (23 % penduduk Indonesia pada tahun itu yang mencapai 221 juta jiwa). Jumlah ini bertambah menjadi 60 juta pada tahun 2006. Berdasarkan standart kemiskinan bank dunia, yaitu pendapatan kurang dari US$ 2 (Rp 19.000,-) per hari, jumlah penduduk miskin Indonesia menjadi 110 juta jiwa (48 %).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hampir 6 juta penduduk Indonesia tidak memiliki rumah. Sejumlah 16 sampai 17 ribu penduduk tinggal di rumah tak layak huni. Lebih dari 50 persen penduduk tidak memiliki akses terhadap air bersih; lebih dari 25 persen balita kekurangan gizi; buta huruf mencapai 9,55 persen atau 14,7 juta. Jumlah pengangguran telah mencapai 40 juta orang (25 persen angkatan kerja). Dari tahun ke tahun, angka ini terus meningkat, yakni sekitar 8,1 persen pada tahun 2001, 9,86 persen pada tahun 2004 dan 10,9 persen pada tahun 2005. Prevalensi balita gizi buruk dan gizi parah hingga tahun 2003 sebesar 27,5 persen.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Indonesia betul-betul sudah terlilit utang, walaupun akumulasi pembayaran cicilan utang baik bunga maupun pokok selama 12 tahun antara tahun 2000-2011 mencapai Rp 1.843,10 triliun, tapi anehnya, jumlah utang negara tidak berkurang tapi justru bertambah. Tercatat utang Indonesia pada tahun 2010 atau era Presiden SBY masih sebesar Rp 1.677 triliun. Pada tahun anggaran 2011 utang luar negeri Indonesia sebesar Rp 1.803 triliun dan per maret 2012 mencapai Rp 1.859,43 triliun bahkan terus meningkat hingga tahun berjalan 2012 utang Indonesia sudah mencapai Rp 1.937 triliun.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perusahaan seperti ExxonMobil bisa mendapatkan keuntungan total dari penjarahan di berbagai negeri hingga $36,1 miliar pada tahun 2005. BP-Amoco yang memproduksi 10 persen gas nasional Indonesia bisa mengeruk keuntungan US $1,3 miliar per tahun. PT. Freeport McMoran Indonesia (PTFI) mendapatkan keuntungan US $ 934 juta untuk tahun 2004 dan meningkat dari tahun ke tahun tercatat pada tahun 2009, laporan keuangan Freeport McMoran (FCX) menyatakan keuntungan PTFI adalah US$ 4,074 miliar, sedang penerimaan negara melalui pajak dan royalti adalah sekitar US$ 1,7 miliar lebih kecil dari keuntungan PTFI. Dalam kasus PT Freeport Indonesia, dari tambang di Papua tersebut Indonesia seharusnya mendapatkan keuntungan Rp 50 – 100 triliun per tahun, andai pengelolaan tambang itu dikelola oleh negara bukan swasta.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pendapatan Bruto yang diperoleh perusahaan tambang Newmont mencapai nilai triliunan per hari. Tahun 2003 perusahaan ini memproduksi juta 3.390 ton tembaga per hari atau 3.390.000 kg per hari. Jika harga per kg sebesar Rp. 766.666,67, maka nilai pendapatan Bruto Newmont mencapai Rp. 2.599.000.011.300 per hari setara Rp. 948,635 triliun per tahun atau 2/3 APBN Indonesia setahun. Mereka berlimpah harta dari hasil menambang kekayaan alam Indonesia, para direktur tambang perusahaan imperialis umumnya menerima gaji antara US $ 200,000–US $300,000 per bulannya. Sementara penduduk-penduduk sekitar tambang hidup dengan penghasilan di bawah US $1/hari. Inilah dampak dari kesalahan kebijakan pengelolaan sumber daya alam di Indonesia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Adapun pemberian Nabi SAW kepada Abyadh bin Hambal terhadap tambang garam yang terdapat di daerah Ma’rab, kemudian beliau mengambilnya kembali dari tangan Abyadh. Sesungguhnya beliau mencabutnya semata karena menurut beliau tambang tersebut merupakan tanah mati yang dihidupkan oleh Abyadh, lalu dia mengelolanya. Ketika Nabi SAW mengetahui bahwa tambang tersebut (laksana) air yang mengalir, yang berarti barang tambang tersebut merupakan benda yang tidak pernah habis, seperti mata air dan air bor, maka beliau mencabutnya kembali karena sunah Rasulullah SAW dalam masalah padang, api, dan air menyatakan bahwa semua manusia berserikat dalam masalah tersebut. Untuk itu, beliau melarang bagi seseorang untuk memilikinya, sementara yang lain tidak dapat memilikinya”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut konsep kepemilikan dalam sistem ekonomi Islam, tambang yang jumlahnya sangat besar, baik yang tampak sehingga bisa didapat tanpa harus susah payah, seperti garam, batubara, dan sebagainya; maupun tambang yang berada di dalam perut bumi yang tidak bisa diperoleh, kecuali dengan usaha keras, seperti tambang emas, perak, besi, tembaga, timah, dan sejenisnya, termasuk milik umum. Baik berbentuk padat, seperti kristal maupun berbentuk cair, seperti minyak, semuanya adalah barang tambang yang termasuk ke dalam pengertian hadis di atas.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Penerimaan ini masih mungkin bertambah karena lifting minyak Indonesia dapat ditingkatkan bila dikelola oleh Negara, dengan model pengelolaan sekarang kita tidak bisa mengawasi berapa lifting riil yang dihasilkan oleh tambang-tambang perusahaan swasta dan asing. BP Migas sebagai pengawas hanya menerima data yang dibuat oleh masing-masing perusahaan tersebut, bahkan Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmany (Vivanews.com, Senin 2 April 2012) menjelaskan, seiring dengan pembentukan kantor pelayanan pajak (KPP) khusus wajib pajak sektor minyak dan gas bumi serta pertambangan, selama ini produksi migas tidak pernah ada yang memeriksa sehingga bisa saja kontraktor mengakali dengan memperlambat alat pengukur produksi migas.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Produksi pertambangan terutama emas seperti Freeport atau Newmont kita lakukan perhitungan dengan taksiran dari setoran pajak mereka. Bila kita percaya kebenaran nilai pajak Freeport yang Rp 6 triliun per tahun, dan ini baru 20 persen dari nett profit—itu artinya nett profit-nya adalah Rp. 30 triliun per tahun. Sumber lain menyebut produksi emas di Freeport adalah sekitar 200 ton emas murni per hari—maka secara kasar, bersama perusahaan tambang mineral logam lainnya, yakni emas/Newmont juga timah, bauxit, besin juga kapur, pasir, dan lain-lain nett profit sektor pertambangan adalah minimal Rp. 50 triliun per tahun.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Yang paling menarik adalah produksi hutan. Luas hutan Indonesia adalah 94.432.000 hektar. Untuk mempertahankan agar lestari dengan siklus 20 tahun, maka setiap tahun hanya 5 persen tanamannya yang diambil. Bila dalam 1 hektar hutan, hitungan minimalisnya ada 400 pohon, itu berarti setiap tahun hanya 20 pohon per hektar yang ditebang. Kalau kayu pohon berusia 20 tahun itu nilai pasarnya Rp. 2 juta dan nett profit-nya Rp. 1 juta, maka nilai ekonomis dari hutan Indonesia adalah 94 juta hektar x 20 pohon per hektar x Rp 1 juta per pohon = Rp 1.880 triliun.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Harun Rosyid , Indonesia itu dikenal dengan Negara mega Bio Diversity juga dikenal sebagai Negara mega cultural diversity. Indonesia memiliki hutan tropis terlus ketiga di dunia akan tetapi Indonesia memiliki keragaman hayati (Kandungan alam) yang terbesar dan terbanyak di dunia. Selain itu Negara Indonesia juga memiliki kekayaan kultur yang beragam. Dalam sejarah pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, nilai-nilai keragaman kultural yang dimiliki menjadi fondasi kehidupan dalam pengelolaan Sumber Daya Alam, jika ala mini rusak maka kehidupan dan kebudayaan kita juga akan rusak.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Indonesia itu dikenal dengan Negara mega Bio Diversity juga dikenal sebagai Negara mega cultural diversity. Indonesia memiliki hutan tropis terlus ketiga di dunia akan tetapi Indonesia memiliki keragaman hayati (Kandungan alam) yang terbesar dan terbanyak di dunia. Selain itu Negara Indonesia juga memiliki kekayaan kultur yang beragam. Dalam sejarah pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, nilai-nilai keragaman kultural yang dimiliki menjadi fondasi kehidupan dalam pengelolaan Sumber Daya Alam, jika ala mini rusak maka kehidupan dan kebudayaan kita juga akan rusak.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Namun, masa-masa tersebut telah berlalu. Kita telah melupakan bagaiman keragaman kultur mampu merawat dan menjaga keberlangsungan sumber daya alam. Kini, Konflik terkait Sumber Daya Alam (SDA) adalah salah satu masalah terbesar di Indonesia. Berbagai konflik yang melibatkan banyak pihak baik antara perusahaan dengan warga maupun warga dengan aparat keamanan tak jarang diwarnai intimidasi dan kekerasan. Bahkan akibat meluasnya intensitas dan kedalaman konflik itu berlangsung, telah terbukti menyebabkan kerugian sosial, budaya dan ekonomi yang tak ternilai harganya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Data Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menyebutkan, dampak kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam tentu masyarakat sipil yang mata pencahariannya tergantung pada alam sekitarnya, salah satunya adalah petani. Krisis cadangan air mengakibatkan masa cocok tanam perlahan tergerus. Hewan ternak sulit mendapat pakan akibat lahan/ ladang rumput berubah fungsi menjadi lokasi tambang. Selain itu, dampak paling berbahaya adalah penyakit. Udara dengan kadar karbon dioksida tinggi, tidak ada tumbuhan yang mengolah untuk layak pada tubuh. Akibatnya, warga sekitar terkena pelbagai macam penyakit.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sementara, Pemerintah berdalih izin yang dikeluarkan sudah sesuai prosedur administrasi perizinan. Bahwa izin yang dikeluarkan sudah melalui serangkain uji kelayakan pertambangan, analisis dampak lingkungan dan lain sebagainya. Faktanya, Perusahaan korporasi penambangan seringkali menggunakan data manipulatif. Klaim masyarakat terlibat dalam penyusunan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) oleh korporasi sepenuhnya adalah upaya kooperatif untuk memenuhi persyaratan formal melakukan eksplorasi maupun eksploitasi. Keterlibatan masyarakat hanya pelengkap, bukan inti dari bagaimana sebuah arah pembangunan/kebijakan yang berhubungan dengan orang banyak diputuskan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Fakta-fakta di atas menunjukkan kesadaran kepala daerah mengabaikan UUD 1945 Pasal 33 tentang Pengertian Perekonomian, Pemanfaatan SDA, dan Prinsip Perekonomian Nasional. Pasal tersebut berbunyi, “Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Pasal 33 UUD 1945 tersebut, sebagai landasan konstitusional Negara menguasai SDA. Tafsir penguasaan adalah Negara berfungsi sebagai pengatur, pengurus dan pengawas pengelolalaan SDA agar sepenuhnya dipergunakan untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Inkonsistensi pemerintah dalam menjalankan amanat UUD 1945 untuk pengelolaan sumber daya alam, di dalam Islam memiliki pandangan berbeda-beda, pemerintah lebih tunduk pada kekuatan korposari ketimbang konstitusi, pertama, pemerintah semata-mata Inkonstitusional sehingga Ideologi Negara tidak perlu diubah apalagi diganti. Sementara, kelompok kedua, kegagalan dalam mengelola sumber daya alam disebabkan konstitusi dan ideology Negara bermasalah, sehingga konstitusi dan ideology harus dilandaskan pada al-Qur’an dan Hadits. Ketiga, Akibat banyaknya kasus perebutan dan penguasaan lahan—yang diduga mengandung Sumber Daya energy, mineral, gas, dll,— oleh korporasi bersekutu dengan rezim. Pada tanggal 9 dan 10 Mei 2015, lembaga bahtsul masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyoal problematika pengelolaan sumber daya alam, di Pondok Pesantren Al Manar Azhari, Limo, Depok. Hasilnya mereka sepakat dan sepaham mengeluarkan fatwa wajib bagi masyarakat untuk melakukan gerakan “amar ma’ruf nahi munkar” atas aktivitas eksploitasi sumber daya alam (SDA) di Indonesia. Eksploitasi lingkungan adalah perbuatan dholim. Eksploitasi merupakan bagian dari pengrusakan terhadap bumi yang menjadi titipan Allah SWT.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Secara etimologi, kata agama berasal dari bahasa Sangsekerta, yang berasal dari akar kata gam artinya pergi. Kemudian akar kata gam tersebut mendapat awalan a dan akhiran a, maka terbentuklah kata agama artinya jalan. Maksudnya, jalan untuk mencapai kebahagiaan. Di samping itu, ada pendapat yang menyatakan bahwa kata agama berasal dari bahasa Sangsekerta yang akar katanya adalah a dan gama. A artinya tidak dan gama artinya kacau. Jadi, agama artinya tidak kacau atau teratur. Maksudnya, agama adalah peraturan yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan yang dihadapi dalam hidupnya, bahkan menjelang matinya. Kata religireligion dan religio, secara etimologi menurut Winkler Prins dalam Algemene Encyclopaediemungkin sekali berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata religere atau religare yang berarti terikat, maka dimaksudkan bahwa setiap orang yang ber-religi adalah orang yang senantiasa merasa terikat dengan sesuatu yang dianggap suci. Kalau dikatakan berasal dari kata religere yang berarti berhati-hati, maka dimaksudkan bahwa orang yang ber-religi itu adalah orang yang senantiasa bersikap hati-hati dengan sesuatu yang dianggap suci.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Din berasal dari bahasa Arab dan dalam Alquran disebutkan sebanyak 92 kali. Menurut arti bahasa (etimologi), din diartikan sebagai balasan dan ketaatan. Dalam arti balasan, Alquran menyebutkan kata din dalam surat Al-Fatihah ayat 4, Maliki Yaumiddin (Dialah Pemilik (Raja) Hari Pembalasan).” Demikian pula dalam sebuah hadis, din diartikan sebagai ketaatan. Rasulullah SAW bersabda : “Ad-diinu nashiihah (agama adalah ketaatan).” Sedangkan menurut terminologi teologi, din diartikan sebagai : adanya berkeyakinan, pengaturan/system, obyek pengabdian atas kekuatan supranatural (Tuhan atau dewa) membawa kepada keselamatan manusia di dunia dan akhirat

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Oleh karena itu, dalam din terdapat empat unsur penting, yaitu: 1) tata pengakuan terhadap adanya Yang Agung dalam bentuk iman kepada Allah, 2) tata hubungan terhadap Yang Agung tersebut dalam bentuk ibadah kepada Allah, 3) tata kaidah/doktrin yang mengatur tata pengakuan dan tata penyembahan tersebut yang terdapat dalam al-Qur`an dan Sunnah Nabi, 4) tata sikap terhadap dunia dalam bentuk taqwa, yakni mempergunakan dunia sebagai jenjang untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Berdasarkan pengertian din tersebut, maka din itu memiliki empat ciri, yaitu: 1) din adalah peraturan Tuhan, 2) din hanya diperuntukkan bagi manusia yang berakal, sesuai hadis Nabi yang berbunyi: al-din huwa al-aqlu la dina liman la aqla lahu, artinya: agama ialah akal tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal, 3) din harus dipeluk atas dasar kehendak sendiri, firman Allah: la ikraha fi al-din, artinya: tidak ada paksaaan untuk memeluk din (agama), 4) din bertujuan rangkap, yakni kebahagiaan dan kesejahteraan dunia akhirat

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sedangkan secara terminologi, agama dan religi ialah suatu tata kepercayaan atas adanya yang Agung di luar manusia, dan suatu tata penyembahan kepada yang Agung tersebut, serta suatu tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan yang Agung, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam yang lain, sesuai dengan tata kepercayaan dan tata penyembahan tersebut. Dari sudut sosiologi, Emile Durkheim (Ali Syariati, 1985 : 81) mengartikan agama sebagai suatu kumpulan keayakinan warisan nenek moyang dan perasaan-perasaan pribadi, suatu peniruan terhadap modus-modus, ritual-ritual, aturan-aturan, konvensi-konvensi dan praktek-praktek secara sosial telah mantap selama genarasi demi generasi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Manusia adalah satu spesies makhluk yang unik dan istimewa dibanding makhluk-makhluk lainnya, termasuk malaikat. Karena, manusia dicipta dari unsur yang berbeda, yaitu unsur hewani/materi dan unsur ruhani/immateri. Memang dari unsur hewani manusia tidak lebih dari binatang, bahkan lebih lemah darinya. Bukankah banyak di antara binatang yang lebih kuat secara fisik dari manusia ? Bukankah ada binatang yang memiliki ketajaman mata yang melebihi mata manusia ? Bukankah ada pula binatang yang penciumannya lebih peka dan lebih tajam dari penciuman manusia ? Dan sejumlah kelebihan-kelebihan lainnya yang dimiliki selain manusia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sehubungan ini Allah Swt berfirman : “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah” (QS An-Nisa, 4 : 28); “Allah telah menciptakan kalian lemah, kemudian menjadi kuat, lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua.” (QS Rum : 54). Masih banyak ayat lainnya yang menjelaskan hal serupa. Karena itu, sangatlah tidak pantas bagi manusia berbangga dengan penampilan fisiknya, di samping itu penampilan fisik adalah wahbi sifatnya (semata-mata penberian dari Allah, bukan hasil usahanya). Kelebihan manusia terletak pada unsur ruhani (mencakup hati dan akal, keduanya bukan materi). Dengan akalnya, manusia yang lemah secara fisik dapat menguasai dunia dan mengatur segala yang ada di atasnya. Karena unsur inilah Allah menciptakan segala yang ada di langit dan di bumi untuk manusia (lihat surat Luqman ayat 20). Dalam salah satu ayat Alquran ditegaskan : “Sungguh telah Kami muliakan anak-anak, Kami berikan kekuasaan kepada mereka di darat dan di laut, serta Kami anugerahi mereka rezeki. Dan sungguh Kami utamakan mereka di atas kebanyakan makhluk Kamilainnya.” (QSAl-Isra,17:70).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Unsur akal pada manusia, awalnya masih berupa potensi (bilquwwah) yang perlu difaktualkan (bilfili) dan ditampakkan. Oleh karena itu, jika sebagian manusia lebih utama dari sebagian lainnya, maka hal itu semata-mata karena hasil usahanya sendirinya. Karenanya, dia berhak bangga atas yang lainnya. Sebagian mereka ada pula yang tidak berusaha memfaktualkan dan menampakkan potensinya itu, atau memfaktualkannya hanya untuk memuaskan tuntutan hewaninya, maka orang itu sama dengan binatang, bahkan lebih hina dari binatang (QS. Al-Aaraf, 7:170; Al-Furqan: 42)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam sistem kosmos manusia dan alam semesta merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Karena memiliki keunggulan dalam sistem kesadaran maka alam. semesta menjadi sebuah obyek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Tinjauan iniah tentang alam mendekatkan manusia kepada atas Penciptanya dan dengan demikian mempertajam persepsi batin manusia untuk mendapatkan suatu penglihatan yang lebih dalam mengenai itu. Pengetahuan mengenai alam akan menambah kekuatan manusia mengatasi alam dan memberinya pandangan total tak terhingga yang telah dicari oleh filsafat tetapi tak didapat kehidupan yang tiada batasnya. Maka wajarlah jika semakin dalam pengetahuan semakin terasa hubungan Baling ketergantungan antara manusia dan alam semesta ini. Manusia tunduk di bawah hukum-hukum alam fisik dan tak mampu mengubahnya, akan tetapii mampu mengatasinya. Ia dapat mengambil jarak sekaligus menjadi baglan dari alam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Namun keharmonisan tidak senantiasa menghiasi hubungan manusia dengan alam semesta. Pada suatu saat, tatkala kchiclupannya masih sangat sederhana, insting- insting manusia berialan bersesuaian dengan sifat-sifat hukum alam. Manusia hidup di gua-gua, berburu dengan kapak dan panah bate Berta memakan makanan yang alarniah. Tetapi perkembangan pe ngetahuan manusia dalam merespons berbagai kesulitan yang terkait dengan penyesuaian diri dengan alam pada akhirnya membuahkan kreasi-kreasi yang cemengungguli” sifat-sifat alam. Eksploitasi terhadap alam merusak keseimbangan hubungan yang telah berlangsung bermilyar-milyar tahun. Krisis global lingkungan mengganggq hubungan antara manusia dan alam pada saat ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebelum manusia hadir, alam semesta telah ada. Alam telah terbentuk, jauh sebelum ada manusia; dan manusia dengan fitrahnya menyatakan bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta dengan sungguh amat baik dan Alam sebagai wujud pembuktian, bahwa Tuhan maha besar. Karena tidak ada yang sagup dan manpu meciptakan alam semesta dengan sunnattulaahnya (hukum tuhan di Alam) yang sangat luarbiasa itu kecuali Tuhan. Alam disediakan untuk manusia; alam semesta disediakan sebagai pesemaian manusia. Alam semesta atau dunia merupakan tempat manusia belajar dan berhasil membangun hubungan yang harmonis dengan sesamanya, lingkungan, flora, fauna. Jadi, ada hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Tercipta hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara manusia-alam. Ketika manusia berdosa, keharmonisan hubungan tersebut menjadi rusak, termasuk lingkungan hidup. Pemberdayaan alam, tidak terbatas pada memenuhi kebutuhan manusia,melainkan untuk mencapai semua keinginannya. Jika setiap hari [masa, saat, era], pada diri manusia terus menerus muncul berbagai keinginan baru, maka ia pun berupaya untuk mendapatkannya. Dan cara terbaik untuk itu adalah mengambil dari alam, akan tetapi, setelah itu bukan berarti membiarkan alam dalam keadaan rusak dan porak poranda.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

2. Agama muncul karena kelmahan jiwa (takut) Teori ini mengatakan, bahwa munculnya agama karena perasaan takut terhadap Tuhan dan akhir kehidupan. Namun, bagi orang-orang yang berani keyakinan seperti itu tidak akan muncul. Teori ini dipelopori oleh Bertnart Russel. Jadi, menurut teori ini agama adalah indikasi dari rasa takut. Memang takut kepada Tuhan dan hari akhirat, merupakan ciri orang yang beragama. Tetapi agama muncul bukan karena faktor ini, sebab seseorang merasa takut kepada Tuhan setelah ia meyakini adanya Tuhan. Jadi, takut Merupakan akibat dari meyakini adanya tuhan (baca: beragama)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

3. Agama adalah produk penguasa Karl Marxbapak aliran komunis-sosialismengatakan, bahwa agama merupakan produk para penguasa yang diberlakukan atas rakyat yang tertindas, sebagai upaya agar mereka tidak berontak dan menerima keberadaan sosial-ekonomi. Mereka (rakyat tertindas) diharapkan terhibur dengan doktrin-doktrin agama, seperti harus sabar, menerima takdir, jangan marah dan lainya. Namun, ketika tatanan masyarakat berubah menjadi masyarakat sosial yang tidak mengenal perbedaan kelas sosial dan ekonomi, sehingga tidak ada lagi (perbedaan antara) penguasa dan rakyat yang tertindas dan tidak ada lagi (perbedaan antara) si kaya dan si miskin, maka agama dengan sendirinya akan hilang. Kenyataannya, teori di atas gagal. Terbukti bahwa negara komunis-sosialis sebesar Uni Soviet pun tidak berhasil menghapus agama dari para pemeluknya, sekalipun dengan cara kekerasan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

4. Agama adalah produk orang-orangg lemah teori ini berseberangan dengan teori-teori sebelumnya. Teori ini mengatakan, bahwa agama hanyalah suatu perisai yang diciptakan oleh orang-orang lemah untuk membatasi kekuasaan orang-orang kuat. Norma-norma kemanusiaan seperti kedermawanan, belas kasih, kesatriaan, keadilan dan lainnya sengaja disebarkan oleh orang-orang lemah untuk menipu orang-orang kuat, sehingga mereka terpaksa mengurangi pengaruh kekuatan dan kekuasaannya. Teori ini diperoleh Nietzche, seorang filsuf Jerman.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Agama merupakan kebutuhan (fitrah) manusia. Dalam agama terdapat pedoman atau petunjuk keselamatan. Berbagai pendapat mengenai kefitrian agama ini dapat dikaji pada beberapa pemikiran. Misalnya Einstein menyatakan bahwa sifat sosial manusialah yang pada gilirannya merupakan salah satu faktor pendorong terwujudnya agama. Manusia menyaksikan maut merenggut ayahnya, ibunya, kerabatnya serta para pemimpin besar. Direnggutnya mereka satu persatu, sehingga manusia merasa kesepian dikala dunia telah kosong. Jadi harapan akan adanya sesuatu yang dapat memberi petunjuk dan pengarahan, harapan menjadi pencinta dan dicintai, keinginan bersandar pada orang lain dan terlepas dari perasaan putus asa ; semua itu membentuk dalam diri sendiri dasar kejiwaan untuk menerima keimanan kepada Tuhan. William James, pada setiap keadaan dan perbuatan keagamaan, kita selalu dapat melihat berbagai bentuk sifat seperti ketulusan, keikhlasan, dan kerinduan, keramahan, kecintaan dan pengorbanan. Gejala-gejala kejiwaan yang bersifat keagamaan memiliki berbagai kepribadian dan karekteristik yang tidak selaras dengan semua gejala umum kejiawaan manusia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari beberapa pendapat itu dapat dipahami bahwa manusia terutama orang dewasa memiliki perasaan dan keinginan untuk melepaskan diri dari wujud terbatas mereka dan mencapai inti wujud. Manusia tidak mungkin dapat melepaskan keterbatasan dan ikatan tersebut kecuali berhubungan dengan sumber wujud ( Allah ). Melepaskan diri untuk mencapai sumber wujud ini adalah ketenangan dan ketentraman, seperti diungkapkan dalam firman Allah surat Ar Radu (13)ayat 28. Artinya : Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenang. Bahkan bentuk kebahagiaan abadi yang merupakan arah yang hendak dicapai manusia dalam kehidupannya adalah perwujudan ketentraman dalam dirinya, seperti difirmankan Allah dalam surat Al Fajr (89) ayat 27-30. Artinya : Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hambahambaKu,dan masuklah ke dalam surgaKu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Agama sebagai fitrah manusia melahirkan keyakinan bahwa agama adalah satu-satunya cara pemenuhan semua kebutuhan. Posisi ini semakin tampak dan tidak mungkin digantikan dengan yang lain. Semula orang mempercayai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi kebutuhan akan agama akan mengecil bahkan hilang sama sekali, tetapi kenyataan yang ditampilkan sekarang ini menampakkan dengan jelas bahwa semakin tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai manusia, kebutuhan akan agama semakin mendesak berkenaan dengan kebahagiaan sebagai suatu yang abstrak yang ingin digapai manusia. Ilmu dan teknologi serta kemajuan peradapan manusia melahirkan jiwa yang kering dan haus akan sesuatu yang bersifat rohaniah. Kekecewaan dan kegelisahan bathin senantiasa menyertai perkembangan kesejahteraan manusia. Satu-satunya cara untuk memenuhi perasaan-perasaan dan keinginan-keinginan itu dalam bentuknya yang sempurna dan memuaskan adalah perasaan dan keyakinan agama.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perasaan ketuhanan pada dasarnya telah dimulai sejak manusia berada dalam peradaban kuno, yang dikenal dengan kepercayaan animisme dan dinamisme,yaitu kepercayaan akan roh-roh halus melalui perantaraan benda-benda yang mempunyai kekuatan magis. Pencarian informasi tentang Tuhan melalui pikiran manusia, ternyata tidak ditemukan jawaban yang dapat melahirkan keyakinan terhadap Tuhan yang dianggap sebagai keyakinan yang benar, sebab pikiran-pikran itu tidak pernah terlepas dari subyektifitas pengalaman-pengalaman pribadi manusia yang mempengaruhi pikiran-pikran itu, sehingga dengan demikian Tuhan senantiasa digambarkan sesuai dengan pikiran yang ada dalam diri manusia yang memikirkannya. Akibatnya, timbullah beragam informasi dan gambaran tentang Tuhan yang justru menambah kegelisahan manusia, karena logika akan terus mencari jawaban Tuhan yang sebenarnya ?.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Mencari kebenaran tentang Tuhan ternyata tidak dapat diperoleh manusia melalui pikiran semata-mata, karena akal itu memiliki daya terbatas kecuali diperoleh dari Tuhan sendiri. Artinya informasi tentang Tuhan dinyatakan oleh Tuhan sendiri, sehingga dengan demikian informasi itu akan dapat diyakinkan kebenarannya. Informasi tentang Tuhan yang datang dari Tuhan sendiri adalah suatu kebenaran mutlak, karena datang dari Tuhan sendiri. Akan tetapi cara mengetahuinmya tidak dapat diberikan Tuhan kepada setiap orang, walaupun manusia menghendakinya langsung dari Allah. Hal ini dilukiskan dalam firman Allah surat al Baqarah (2) ayat 118. Artinya : Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkataa : Mengapa Allah tidak langsung berbicara kepada kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami ?. Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.Informasi itu hanya diberikan kepada orang yang dipilih Tuhan sendiri,seperti difirmankan-Nya dalam surat Asy Syura (42) ayat 51. Artinya : Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah barkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kondisi umat islam dewasa ini semakin diperparah dengan merebaknya fenomena kehidupan yang dapat menumbuh kembangkan sikap dan prilaku yang a moral atau degradasi nilai-nilai keimanannya.Agar umat islam bisa bangkit menjadi umat yang mampu menwujudkan misi Rahmatan lilalamin maka seyogyanya mereka memiliki pemahaman secara utuh (Khafah) tentang islam itu sendiri umat islam tidak hanya memiliki kekuatan dalam bidang imtaq (iman dan takwa) tetapi juga dalam bidang iptek (ilmu dan teknologi). Mereka diharapkan mampu mengintegrasikan antara pengamalan ibadah ritual dengan makna esensial ibadah itu sendiri yang dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti : pengendalian diri, sabar, amanah, jujur, sikap altruis, sikap toleran dan saling menghormatai tidak suka menyakiti atau menghujat orang lain. Dapat juga dikatakan bahwa umat islam harus mampu menyatu padukan antara mila-nilai ibadah mahdlah (hablumminalaah) dengan ibadag ghair mahdlah (hamlumminanas) dalam rangka membangun Baldatun thaibatun warabun ghafur Negara yang subur makmur dan penuh pengampunan Allah SWT.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut H. Achmad Masduqi Machfudh , sebagaimana kita maklumi bahwa tujuan hidup di dunia ini sejak dahulu kala sampai sekarang dan bahkan sampai hari kiamat nanti adalah ingin mencapai kebahagiaan hidup. Dan untuk itu manusia telah memiliki akal fikiran atau ratio yang memiliki kemampuan yang sangat hebat. Karena dengan akal fikiran tersebut manusia telah dapat memiliki ilmu pengetahuan yang sangat tinggi dan mampu menciptakan alat-alat tehnologi yang sangat canggih, yang apabila hasil penemuan akal fikiran sekarang ini diceritakan pada zaman dahulu kala, niscaya akan dianggap sebagai hal yang irrasional (tidak masuk akal).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Agama yang menganggap bahwa sungai Nil adalah sumber bagi kehidupan manusia dan sekaligus yang menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan hidup bagi manusia. Sebabnya ialah sawah dan ladang pertanian mereka tidak akan dapat ditanami tanpa mendapatkan aliran air dari sungai Nil. Sedangkan sungai Nil itu adalah sangat besar dan sangat lebar dan mereka belum dapat membendung sungai sebesar dan selebar sungai Nil tersebut (bendungan Aswan yang ada sekarang ini dibuat pada sekitar tahun lima puluhan oleh Inggris), sehingga aliran air dari sungai Nil tersebut menunggu saat sungai Nil meluap airnya. Oleh karena itu sungai Nil ini disembah-sembah sebagai Tuhan dan setahun sekali diberi persembahan berupa sepasang pengantin baru yang terdiri dari jejaka yang paling ganteng dan gadis yang paling cantik, yang setelah diresmikan sebagai pasang an suami isteri, sebelum melakukan apa-apa, keduanya diikat menjadi satu, kemudian keduanya ditenggelamkan kedasar sungai Nil dengan dibebani batu. Hal tersebut dilakukan agar sungai Nil berkenan meluapkan airnya sehingga bermanfaat bagi kehidupan mereka. Persembahan kepada sungai ini baru berakhir setelah agama Islam masuk ke Mesir.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dan jika kemudian agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Isa dinamakan “Agama Nasrani”, maka nama nasrani ini, menurut para ahli, kemungkinan berasal dari kata “Nazaret”, yaitu desa kelahiran dari Nabi Isa as. Sehingga Agama Nasrani berarti agama yang diajarkan oleh Nabi yang berasal dari desa Nazaret. Dan kemungkinan berasal dari kata nashoro yang berarti “menolong”; sehingga Agama Nasrani berarti agama dari kaum penolong Nabi Isa as., yaitu murid-murid Nabi Isa as. sebanyak 12 orang dari kabilah Hawari, salah satu kabilah dari bangsa Yahudi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adapun jika kemudian agama Yahudi meyakini ada dua Tuhan, yaitu: Tuhan Bapak (Allah swt.) dan Tuhan Anak (Nabi ‘Uzair as.), ialah karena Nabi ‘Uzair as. yang hidup sesudah Nabi Musa as. wafat, pernah tidur dalam sebuah gua selama seratus tahun lamanya. Menurut akal fikiran orang-orang Yahudi tidak mungkin manusia bisa dapat hidup selama seratus tahun tanpa makanan dan minuman, meskipun dalam keadaan tidur. Sehingga bangsa Yahudi menganggap bahwa hal itu hanya mungkin bagi Tuhan saja. Oleh karena itu Nabi ‘Uzair as. pun dianggap sebagai anak Tuhan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Karena ketauhidan dari agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Musa as. sudah rusak dan berubah menjadi “syirik” atau menganggap Tuhan lebih dari satu, yaitu pengangkatan Nabi ‘Uzair as. sebagai anak Tuhan hanya karena beliau tidur selama 100 tahun tanpa makan dan minum, maka Allah swt. ingin menunjukkan kepada bangsa Yahudi pada khususnya dan manusia pada umumnya akan ke-Maha Kuasa-an Allah swt. dengan menciptakan seorang manusia yang lahir dari seorang ibu tanpa ayah, yaitu Nabi Isa bin Maryam as., sebagaimana Allah telah menciptakan seorang manusia yang lahir dari seorang ayah tanpa ibu, yaitu Siti Hawa yang lahir dari Nabi Adam as. dan kemudian menjadi isteri Nabi Adam as; dan sebagaimana Allah swt. Maha Kuasa menciptakan seorang manusia yang lahir ke dunia tanpa ayah dan ibu, yaitu Nabi Adam as.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Seluruh agama samawi memuat peraturan-peraturan yang harus dilaksanakan oleh para pemeluknya yang telah memiliki keyakinan tauhid mutlak. Dan peraturan-peraturan yang diberikan kepada seseorang rasul ada kalanya harus tidak sama dengan yang diberikan kepada rasul yang lain, karena peraturan yang baik itu adalah peraturan yang harus sesuai dengan situasi, kondisi dan domisili. Itulah sebabnya maka Allah swt. mengutus rasul dengan peraturan yang baru setelah rasul terdahulu wafat, sedang peraturan yang dibawa oleh rasul terdahulu sudah tidak sesuai lagi dengan situasi, kondisi dan domicili.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dewasa ini kemajuan sains dan teknologi telah mencapai perkembangan yang sangat pesat, termasuk di Negara kita Indonesia. Pembangunan di Negara kita juga telah mencapai kemajuan yang demikian pesat, terutama sejak bergulirnya era reformasi hingga saat ini. Karenanya, seiring dengan itu, marilah kita umat Islam secara bersama-sama ikut ambil bagian dengan secara aktif, terutama dalam pembangunan mrntal spiritual, agar umat Islam tidak sekedar maju dalam segi fisik saja, namun juga kokoh mentalnya, tidak mudah terjebak dalam pemikiran yang merusak.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam abad teknologi ultra moderen sekarang ini, manusia telah diruntuhkan eksistensinya sampai ketingkat mesin akibat pengaruh morenisasi. Roh dan kemuliaan manusia telah diremehkan begitu rendah. Manusia adalah mesin yang dikendalikan oleh kepentingan financial untuk menuruti arus hidup yang materialistis dan sekuler. Martabat manusia berangsur-angsur telah dihancurkan dan kedudukannya benar-benar telah direndahkan. Modernisai adalah merupakan gerakan yang telah dan sedang dilakukan oleh Negara-negara Barat Sekuler untuk secara sadar atau tidak, akan menggiring kita pada kehancuran peradaban.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebagaimana telah kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara langsung maupun melalui media cetak dan elektronik, mulai dari prilaku, gaya hidup, norma pergaulan dan tete kehidupan yang dipraktekkan, dipertontonkan dan dicontohkan oleh orang-orang Barat akhir-akhir ini semakin menjurus pada kemaksiatan. Apa yang mereka suguhkan sangat berpengaruh terhadap pola piker umat Islam. Tak sedikit dari orang-orang Islam yang secara perlahan-lahan menjadi lupa akan tujuan hidupnya, yang semestinya untuk ibadah, berbalik menjadi malas ibadah dan lupa akan Tuhan yang telah memberikannya kehidupan. Akibat pengaruh modernisasi dan globalisasi banyak manusia khususnya umat Islam yang lupa bahwa sesungguhnya ia diciptakan bukanlah sekedar ada, namun ada tujuan mulia yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kondisi diatas meluaskan segala hal dalam aspek kehidupan manusia. Sehingga tidak mengherankan ketika batas-batas moral, etika dan nilai-nilai tradisional juga terlampaui. Modernisasi yang berladangkan diatas sosial kemasyarakatan ini juga tidak bisa mengelak dari pergeseran negatif akibat modernisasi itu sendiri. Peningkatan intensitas dan kapasitan kehidupan serta peradaban manusia dengan berbagai turunannya itu juga meningkatan konstelasi sosial kemasyarakatan baik pada level individu ataupun level kolektif. Moralitas, etika dan nilai-nilai terkocok ulang menuju keseimbangan baru searah dengan laju modernisasi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berbagai peristiwa hukum dan kriminal baik di area publik ataupun pemerintahan telah hadir sebagai limbah modernisasi yang tersaji transparan di sepan publik. Sebut saja KKN di pemerintahan, kriminal, kejahatan sexual dan berbagai penyimpnagan lainnya. Seolah-olah pakem moral, etika dan aturan-aturan yang berlaku tidak lagi menjadi hal penghalang bagi berbagai penyimpangan-penyimpangan tersebut. Kekhawatiran atas pergeseran itu telah mencajadi wacana hangat diseluruh lapisan masyarakat. Namun laju modernisasi dengan berbagai turunan dan efek negatifnya terus saja mengalami percepatan seakan tak peduli dengan kecemasan itu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Modernisai dengan konotasi itu merupakan penghambaan dan penjajahan terhadap bangsa-bangsa di dunia agar tunduk pada prinsip-prinsip barat yang rusak dan menyesatkan. Globakisasi merupakan program yang bertujuan untuk mendayagunakan teknologi sebagai alat untuk mengokohkan kedudukan kepentingan Negara adidaya, memperbudak bangsa-bangsa lemah, menyedot sumber daya alamnya, meneror rakyatnya, manghambat perjalanannya, memadamkan kekuatannya, menghapus identitasnya dan mengubur keasliannya, reformasinya serta pembangunan peradabannya. Dengan kata lain globalisasi merupakan gurita yang menelikung dan mencekik leher dunia Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bentuk kebudayaan dan peradaban masyarakat modern mengikuti pola kehidupan, cara, ukuran, dan konsep Barat, termasuk teori, partai, perspektif pemikiran ideologis, dan politiknya. Masyarakat modern merupakan cetak biru masyarakat Barat, sehingga pertumbuhan dan perkembangan mereka meninggalkan model masyarakat tradisional, bahkan berlawanan. Meskipun struktur dan elemen-elemen masyarakat modern lemah dan rapuh dibandingkan dengan masyarakat tradisional, namun mereka mendominasi sektor-sektor terpenting dan strategis. Mereka berkepentingan mewujudkan persatuan dua bentuk masyarakat yang ada dengan mengkondisikan masyarakat tradisional untuk menerima modernisasi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Maka terjadilah kontradiksi-kontradiksi antar keduanya secara mendalam dan esensial. Masyarakat modern cenderung agresif dan otoriter dalam menghadapi masyarakat tradisional. Mereka menggunakan pendekatan apa saja yang memungkinkan untuk menyodorkan modernisasi kepada masyarakat tradisional. Masyarakat modern lebih mengutamakan alternatif-alternatif Barat daripada kembali ke pandangan hidup masyarakat tradisional. Akan tetapi, sikap tersebut tidak dapat mencegah hal sebaliknva dari masyarakat tradisional dalam keimanan, perasaan nasionalisme, kemerdekaan, dan kehormatan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perubahan kepercayaan, pemikiran, kebudayaan, dan peradaban merupakan prasyarat bagi perubahan ekonomi, politik, dan sebagainya. Itulah sebabnya, ketika masyarakat modern tak dapat mengakomodasikan apa yang tersedia di lingkungannya, mereka memilih alternatif atau model dari negara imperialis yang menjadi pusat-pusat kekuatan dunia. Secara politis, mereka berlindung pada negara-negara tersebut. Terbukalah kemungkinan konfrontasi antara kekuatan eksternal dengan kekuatan internal (kekuatan Islam) bila Islam hendak ditampilkan sebagai kekuatan nyata.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Melihat strategi yang dicanangkan Barat dalam isu globalisasi di atas sungguh amat busuk. Mereka mempunya agenda terselubung dalam mengikis habis ajaran Islam yang dianut bangsa timur. Penyebaran itu mereka lakukan melalui penyebaran informasi dengan sistem teknologi moderennya yang dapat mengirim informasi keseluruh penjuru dunia. Melalui jalur ini mereka menguasai public opini yang tidak jarang berisi serangan, hinaan, pelecehan dan hujatan terhadap Islam dan mengesankan agama Islam sebagai teroris. Perang yang mereka lancarkan bukan hanya perang senjata namun juga perang agama. Mereka berusaha meracuni dan menodai kesucian Islam lewat idiologi sekuler, politik, ekonomi, sosbud, teknologi, komunikasi, keamanan dan sebagainya. Dengan berbagai cara mereka berusaha menjauhkan umat Islam dari agamanya. Secara perlahan-lahan tapi pasti mereka menggerogoti Islam dari dalam dan tujuan akhirnya adalah melenyapkan Islam dari muka bumi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Morernisasi bagi umat Islam tidak perlu diributkan, diterima ataupun ditolak, namun yang paling penting dari semua adalah seberapa besar peran Islam dalam menata umat manusia menuju tatanan dunia baru yang lebih maju dan beradab. Bagi kita semua, ada atau tidaknya istilah modernisasi dan globalisasi tidak menjadi masalah, yang penting ajaran Islam sudah benar-benar diterima secara global, secara mendunia oleh segenap umat manusia, diterapkan dalam kehidupan masing-masing pribadi, dalam berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Masyarakat modern tidak mempunyai program revolusi, melainkan mempunyai program dominasi kekuasaan. Ini karena masyarakat modern tidak mengambil model perubahan dari bangsanya, tetapi dari Barat. Padahal suatu revolusi tidak akan berhasil kecuali bila berasal dari dalam (bangsa). Dengan kata lain, tidak ada revolusi dalam rangka perubahan positif dan mendasar yang dapat mempersatukan dan membebaskan umat, melenyapkan kezaliman, serta memotivasi orang-orang untuk bekerja, mengajar, dan berkreasi, melainkan yang bersumber pada ajaran Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Modernisasi yang memperkuat daya produktifitas dan komsumtifitas adalah penguatan langsung pada kapasitas dan intensitas kehidupan manusia modern dari aspek materialistik. Dalam teory ekology baik organisasi atau kemasayrakatan, komunitas akan selalu berjalan kearah titik equalibirium (kesetimbangan) nya. Ketika modernisasi secara umum yang dipersepsikan selama ini mengembangkan aspek materialistik manusia, maka aspek non material seperti spiritual akan mengikuti perkembangan nya demi keseimbangan yang semestinya. Sehingga gejala kembali ke Agama dan spiritual adalah arus utama modernisasi yang mesti terjadi. Jika tidak modernisasi tak akan pernah lengkap. Jadi kembali keagama dengan menyemarakan kehidupan spritual bukanlah gerakan tradisional, konsrvatif atau kontra modernisasi. Namun sesungguhnya gejala itu adalah atribut modernisasi juga. Sehingga tak akan lengkap kemodern-an seseorang atau komunitas jika laju spiritualnya tak berkembang menyimbangi laju materialistik.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Aktualisasi taqwa adalah bagian dari sikap bertaqwa seseorang. Karena begitu pentingnya taqwa yang harus dimiliki oleh setiap mukmin dalam kehidupan dunia ini sehingga beberapa syariat islam yang diantaranya puasa adalah sebagai wujud pembentukan diri seorang muslim supaya menjadi orang yang bertaqwa, dan lebih sering lagi setiap khatib pada hari jum’at atau shalat hari raya selalu menganjurkan jamaah untuk selalu bertaqwa. Begitu seringnya sosialisasi taqwa dalam kehidupan beragama membuktikan bahwa taqwa adalah hasil utama yang diharapkan dari tujuan hidup manusia (ibadah).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Aktualisasi taqwa adalah bagian dari sikap bertaqwa seseorang. Karena begitu pentingnya taqwa yang harus dimiliki oleh setiap mukmin dalam kehidupan dunia ini sehingga beberapa syariat islam yang diantaranya puasa adalah sebagai wujud pembentukan diri seorang muslim supaya menjadi orang yang bertaqwa, dan lebih sering lagi setiap khatib pada hari jum’at atau shalat hari raya selalu menganjurkan jamaah untuk selalu bertaqwa. Begitu seringnya sosialisasi taqwa dalam kehidupan beragama membuktikan bahwa taqwa adalah hasil utama yang diharapkan dari tujuan hidup manusia (ibadah).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Taqwa adalah satu hal yang sangat penting dan harus dimiliki setiap muslim. Signifikansi taqwa bagi umat islam diantaranya adalah sebagai spesifikasi pembeda dengan umat lain bahkan dengan jin dan hewan, karena taqwa adalah refleksi iman seorang muslim. Seorang muslim yang beriman tidak ubahnya seperti binatang, jin dan iblis jika tidak mangimplementasikan keimanannya dengan sikap taqwa, karena binatang, jin dan iblis mereka semuanya dalam arti sederhana beriman kepada Allah yang menciptakannya, karena arti iman itu sendiri secara sederhana adalah “percaya”, maka taqwa adalah satu-satunya sikap pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Seorang muslim yang beriman dan sudah mengucapkan dua kalimat syahadat akan tetapi tidak merealisasikan keimanannya dengan bertaqwa dalam arti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, dan dia juga tidak mau terikat dengan segala aturan agamanya dikarenakan kesibukannya atau asumsi pribadinya yang mengaggap eksistensi syariat agama sebagai pembatasan berkehendak yang itu adalah hak asasi manusia, kendatipun dia beragama akan tetapi agamanya itu hanya sebagai identitas pelengkap dalam kehidupan sosialnya, maka orang semacam ini tidak sama dengan binatang akan tetapi kedudukannya lebih rendah dari binatang, karena manusia dibekali akal yang dengan akal tersebut manusia dapat melakukan analisis hidup, sehingga pada akhirnya menjadikan taqwa sebagai wujud implementasi dari keimanannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Taqwa adalah sikap abstrak yang tertanam dalam hati setiap muslim, yang aplikasinya berhubungan dengan syariat agama dan kehidupan sosial. Seorang muslim yang bertaqwa pasti selalu berusaha melaksanakan perintah Tuhannya dan menjauhi segala laranganNya dalam kehidupan ini. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah bahwa umat islam berada dalam kehidupan modern yang serba mudah, serba bisa bahkan cenderung serba boleh. Setiap detik dalam kehidupan umat islam selalu berhadapan dengan hal-hal yang dilarang agamanya akan tetapi sangat menarik naluri kemanusiaanya, ditambah lagi kondisi religius yang kurang mendukung. Keadaan seperti ini sangat berbeda dengan kondisi umat islam terdahulu yang kental dalam kehidupan beragama dan situasi zaman pada waktu itu yang cukup mendukung kualitas iman seseorang. Olah karenanya dirasa perlu mewujudkan satu konsep khusus mengenai pelatihan individu muslim menuju sikap taqwa sebagai tongkat penuntun yang dapat digunakan (dipahami) muslim siapapun.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Karena realitas membuktikan bahwa sosialisasi taqwa sekarang, baik yang berbentuk syariat seperti puasa dan lain-lain atau bentuk normatif seperti himbauan khatib dan lain-lain terlihat kurang mengena, ini dikarenakan beberapa faktor, diantaranya yang pertama muslim yang bersangkutan belum paham betul makna dari taqwa itu sendiri, sehingga membuatnya enggan untuk memulai, dan yang kedua ketidaktahuannya tentang bagaimana, darimana dan kapan dia harus mulai merilis sikap taqwa, kemudian yang ketiga kondisi sosial dimana dia hidup tidak mendukung dirinya dalam membangun sikap taqwa, seperti saat sekarang kehidupan yang serba bisa dan cenderung serba boleh. Oleh karenanya setiap individu muslim harus paham pos – pos alternatif yang harus dilaluinya, diantaranya yang paling awal dan utama adalah gadhul bashar (memalingkan pandangan), karena pandangan (dalam arti mata dan telinga) adalah awal dari segala tindakan, penglihatan atau pendengaran yang ditangkap oleh panca indera kemudian diteruskan ke otak lalu direfleksikan oleh anggota tubuh dan akhirnya berimbas ke hati sebagai tempat bersemayam taqwa, jika penglihatan atau pendengaran tersebut bersifat negatif dalam arti sesuatu yang dilarang agama maka akan membuat hati menjadi kotor, jika hati sudah kotor maka pikiran (akal) juga ikut kotor, dan ini berakibat pada aktualisasi kehidupan nyata, dan jika prilaku, pikiran dan hati sudah kotor tentu akan sulit mencapai sikap taqwa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Oleh karenanya dalam situasi yang serba bisa dan sangat plural ini dirasa perlu menjaga pandangan (dalam arti mata dan telinga) dari hal – hal yang dilarang agama sebagai cara awal dan utama dalam mendidik diri menjadi muslim yang bertaqwa. Menjaga mata, telinga, pikiran, hati dan perbuatan dari hal-hal yang dilarang agama, menjadikan seorang muslim memiliki kesempatan besar dalam memperoleh taqwa. Karena taqwa adalah sebaik–baik bekal yang harus kita peroleh dalam mengarungi kehidupan dunia yang fana dan pasti hancur ini, untuk dibawa kepada kehidupan akhirat yang kekal dan pasti adanya. Adanya kematian sebagai sesuatu yang pasti dan tidak dapat dikira-kirakan serta adanya kehidupan setelah kematian menjadikan taqwa sebagai obyek vital yang harus digapai dalam kehidupan manusia yang sangat singkat ini. Memulai untuk bertaqwa adalah dengan mulai melakukan hal-hal yang terkecil seperti menjaga pandangan, serta melatih diri untuk terbiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, karena arti taqwa itu sendiri sebagaimana dikatakan oleh Imam Jalaluddin Al-Mahally dalam tafsirnya bahwa arti taqwa adalah “imtitsalu awamrillahi wajtinabinnawahih”, menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Aktualisasi taqwa adalah bagian dari sikap bertaqwa seseorang. Karena begitu pentingnya taqwa yang harus dimiliki oleh setiap mukmin dalam kehidupan dunia ini sehingga beberapa syariat islam yang diantaranya puasa adalah sebagai wujud pembentukan diri seorang muslim supaya menjadi orang yang bertaqwa, dan lebih sering lagi setiap khatib pada hari jum’at atau shalat hari raya selalu menganjurkan jamaah untuk selalu bertaqwa. Begitu seringnya sosialisasi taqwa dalam kehidupan beragama membuktikan bahwa taqwa adalah hasil utama yang diharapkan dari tujuan hidup manusia (ibadah).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Taqwa adalah satu hal yang sangat penting dan harus dimiliki setiap muslim. Signifikansi taqwa bagi umat islam diantaranya adalah sebagai spesifikasi pembeda dengan umat lain bahkan dengan jin dan hewan, karena taqwa adalah refleksi iman seorang muslim. Seorang muslim yang beriman tidak ubahnya seperti binatang, jin dan iblis jika tidak mangimplementasikan keimanannya dengan sikap taqwa, karena binatang, jin dan iblis mereka semuanya dalam arti sederhana beriman kepada Allah yang menciptakannya, karena arti iman itu sendiri secara sederhana adalah “percaya”, maka taqwa adalah satu-satunya sikap pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Seorang muslim yang beriman dan sudah mengucapkan dua kalimat syahadat akan tetapi tidak merealisasikan keimanannya dengan bertaqwa dalam arti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, dan dia juga tidak mau terikat dengan segala aturan agamanya dikarenakan kesibukannya atau asumsi pribadinya yang mengaggap eksistensi syariat agama sebagai pembatasan berkehendak yang itu adalah hak asasi manusia, kendatipun dia beragama akan tetapi agamanya itu hanya sebagai identitas pelengkap dalam kehidupan sosialnya, maka orang semacam ini tidak sama dengan binatang akan tetapi kedudukannya lebih rendah dari binatang, karena manusia dibekali akal yang dengan akal tersebut manusia dapat melakukan analisis hidup, sehingga pada akhirnya menjadikan taqwa sebagai wujud implementasi dari keimanannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Taqwa adalah sikap abstrak yang tertanam dalam hati setiap muslim, yang aplikasinya berhubungan dengan syariat agama dan kehidupan sosial. Seorang muslim yang bertaqwa pasti selalu berusaha melaksanakan perintah Tuhannya dan menjauhi segala laranganNya dalam kehidupan ini. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah bahwa umat islam berada dalam kehidupan modern yang serba mudah, serba bisa bahkan cenderung serba boleh. Setiap detik dalam kehidupan umat islam selalu berhadapan dengan hal-hal yang dilarang agamanya akan tetapi sangat menarik naluri kemanusiaanya, ditambah lagi kondisi religius yang kurang mendukung. Keadaan seperti ini sangat berbeda dengan kondisi umat islam terdahulu yang kental dalam kehidupan beragama dan situasi zaman pada waktu itu yang cukup mendukung kualitas iman seseorang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Olah karenanya dirasa perlu mewujudkan satu konsep khusus mengenai pelatihan individu muslim menuju sikap taqwa sebagai tongkat penuntun yang dapat digunakan (dipahami) muslim siapapun. Karena realitas membuktikan bahwa sosialisasi taqwa sekarang, baik yang berbentuk syariat seperti puasa dan lain-lain atau bentuk normatif seperti himbauan khatib dan lain-lain terlihat kurang mengena, ini dikarenakan beberapa faktor, diantaranya yang pertama muslim yang bersangkutan belum paham betul makna dari taqwa itu sendiri, sehingga membuatnya enggan untuk memulai, dan yang kedua ketidaktahuannya tentang bagaimana, darimana dan kapan dia harus mulai merilis sikap taqwa, kemudian yang ketiga kondisi sosial dimana dia hidup tidak mendukung dirinya dalam membangun sikap taqwa, seperti saat sekarang kehidupan yang serba bisa dan cenderung serba boleh. Oleh karenanya setiap individu muslim harus paham pos – pos alternatif yang harus dilaluinya, diantaranya yang paling awal dan utama adalah gadhul bashar (memalingkan pandangan), karena pandangan (dalam arti mata dan telinga) adalah awal dari segala tindakan, penglihatan atau pendengaran yang ditangkap oleh panca indera kemudian diteruskan ke otak lalu direfleksikan oleh anggota tubuh dan akhirnya berimbas ke hati sebagai tempat bersemayam taqwa, jika penglihatan atau pendengaran tersebut bersifat negatif dalam arti sesuatu yang dilarang agama maka akan membuat hati menjadi kotor, jika hati sudah kotor maka pikiran (akal) juga ikut kotor, dan ini berakibat pada aktualisasi kehidupan nyata, dan jika prilaku, pikiran dan hati sudah kotor tentu akan sulit mencapai sikap taqwa. Oleh karenanya dalam situasi yang serba bisa dan sangat plural ini dirasa perlu menjaga pandangan (dalam arti mata dan telinga) dari hal – hal yang dilarang agama sebagai cara awal dan utama dalam mendidik diri menjadi muslim yang bertaqwa. Menjaga mata, telinga, pikiran, hati dan perbuatan dari hal-hal yang dilarang agama, menjadikan seorang muslim memiliki kesempatan besar dalam memperoleh taqwa. Karena taqwa adalah sebaik–baik bekal yang harus kita peroleh dalam mengarungi kehidupan dunia yang fana dan pasti hancur ini, untuk dibawa kepada kehidupan akhirat yang kekal dan pasti adanya. Adanya kematian sebagai sesuatu yang pasti dan tidak dapat dikira-kirakan serta adanya kehidupan setelah kematian menjadikan taqwa sebagai obyek vital yang harus digapai dalam kehidupan manusia yang sangat singkat ini. Memulai untuk bertaqwa adalah dengan mulai melakukan hal-hal yang terkecil seperti menjaga pandangan, serta melatih diri untuk terbiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, karena arti taqwa itu sendiri sebagaimana dikatakan oleh Imam Jalaluddin Al-Mahally dalam tafsirnya bahwa arti taqwa adalah “imtitsalu awamrillahi wajtinabinnawahih”, menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Masalah yang paling kritis dalam bidang keilmuan adalah pada corak kepemikirannya yang pada kehidupan modern ini adalah menganut faham positivisme dimana tolok ukur kebenaran yang rasional, empiris, eksperimental, dan terukur lebih ditekankan. Dengan kata lain sesuatu dikatakan benar apabila telah memenuhi criteria ini. Tentu apabila direnungkan kembali hal ini tidak seluruhnya dapat digunakan untuk menguji kebenaran agama yang kadang kala kita harus menerima kebenarannya dengan menggunakan keimanan yang tidak begitu poluler di kalangan ilmuwan – ilmuwan karena keterbatasan rasio manusia dalam memahaminya. Anda merasakan itu?

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Akhlak, tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis tubuh manusia mukmin dipengaruhi oleh iman. Hal itu karena semua gerak dan perbuatan manusia mukmin, baik yang dipengaruhi oleh kemauan, seperti makan, minum, berdiri, melihat, dan berpikir, maupun yang tidak dipengaruhi oleh kemauan, seperti gerak jantung, proses pencernaan, dan pembuatan darah, tidak lebih dari serangkaian proses atau reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh. Organ-organ tubuh yang melaksanakan proses biokimia ini bekerja di bawah perintah hormon. Kerja bermacam-macam hormon diatur oleh hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofise yang terletak di samping bawah otak. Pengaruh dan keberhasilan kelenjar hipofise ditentukan oleh gen (pembawa sifat) yang dibawa manusia semenjak ia masih berbentuk zigot dalam rahim ibu. Dalam hal ini iman mampu mengatur hormon dan selanjutnya membentuk gerak, tingkah laku, dan akhlak manusia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebaliknya, jika seseorang jauh dari prinsip-prinsip iman, tidak mengacuhkan asas moral dan akhlak, merobek-robek nilai kemanusiaan dalam setiap perbuatannya, tidak pernah ingat Allah, maka orang yang seperti ini hidupnya akan diikuti oleh kepanikan dan ketakutan. Hal itu akan menyebabkan tingginya produksi adrenalin dan persenyawaan lainnya. Selanjutnya akan menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap biologi tubuh serta lapisan otak bagian atas. Hilangnya keseimbangan hormon dan kimiawi akan mengakibatkan terganggunya kelancaran proses metabolisme zat dalam tubuh manusia. Pada waktu itu timbullah gejala penyakit, rasa sedih, dan ketegangan psikologis, serta hidupnya selalu dibayangi oleh kematian.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berdasarkan fakta-fakta yang telah dikumpulkan dari sumber-sumber informasi yang dapat dipercaya, Indonesia akhir-akhir ini, bahkan di sepanjang sejarahnya, tidak luput dari peristiwa-peristiwa yang menghancurkan dan membinasakan anak bangsa ini. Penjajahan, kekejaman PKI, Penyakit, bencana alam, korupsi, pornografi, prostitusi, pergaulan bebas, narkoba, kecelakaan lalu lintas, dan lain sebagainya, banyak menguras energi dan kekayaan material. Negara dan bangsa ini telah cukup direpotkan dengan berbagai peristiwa yang menghancurkan generasi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Secara intuisi, saya berkeyakinan bahwa rusaknya negeri kita ini, sejatinya terletak karena kita tidak pandai bersyukur kepada Allah, terlalu banyak maksiat, tidak amanah, mudah percaya kepada orang asing, tamak terhadap harta, membiarkan hukum dipermainkan, membiarkan preman menguasai banyak segmen negara, mengabaikan nasihat ulama, pendidikan yang sekuler, mengabaikan pendidikan agama dan pesantren, tidak menjadikan agama sebagai basis tata pelaksanaan kenegaraan dan kajian ilmu, dan masih banyak perilaku yang keliru dalam kehidupan ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Saya punya pendapat yang jelas, bahwa kehancuran yang banyak menimpa bangsa ini, jika diringkas terletak pada tiga hal. Pertama, diabaikannya syariat Islam, padahal bangsa ini mayoritas Islam. Kedua, senang melakukan kejahatan, kemaksiatan dan korupsi, padahal perangkat hukum negara ini lengkap. Ketiga, upaya-upaya tulus yang dilakukan ulama dan pemimpin Islam untuk membantu keutuhan dan kebaikan bangsa dan negara ini, banyak diabaikan dan putarbalikan ide-idenya, dan terlalu banyak memfitnah mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Saya perlu memperjelas pula dengan dukungan fakta dan teori tentang inti problem bangsa ini. Bangsa kita, Indonesia, sebenarnya telah berupaya untuk keluar dan mengatasi berbagai tanda-tanda kehancuran, demikian pula yang diperankan umat Islam atas negara dan bangsa ini. Ambil contohnya Negara kita punya departemen agama, dan tetap melakukan upaya perlindungan terhadap pendidikan Islam, makanan umat Islam, dan para ulamanya. Dan berbagai program untuk melindungi bangsa ini dari kehancuran. Baik dalam rangka mencegah ataupun menanggulanginya. Namun tidak maksimal.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Gerangan apakah yang membuat negara dan bangsa ini sedemikian tidak pedulinya dengan Islam, dan membiarkan kekayaan negeri ini tidak menjadi sumber kesejahteraan yang optimal dan nyata bagi rakyat? Saya mesti mengkaji masalah ini dan mengajukan suatu keyakinan yang perlu ditopang oleh fakta-fakta dan rasional, bahwa sumber utama dari keadaan negeri, bangsa dan negara kita seperti ini adalah karena kekuatan jahat yang dihembuskan dari negeri-negeri kafir. Dari negeri-negeri yang iri dengan bangsa yang mayoritas Umat Islam ini. Antara hembusan jahat dan kelengahan bangsa ini menjadi semacam tali buhul yang kuat untuk menyihir bangsa ini tetap dalam proses menuju kelemahan dan kebinasaan, jika tidak ada tindakan untuk mengantisipasinya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bukti empiris (juga data empiris, indra pengalaman, pengetahuan empiris, atau a posteriori) adalah suatu sumber pengetahuan yang diperoleh dari observasi atau percobaan. Bukti empiris adalah informasi yang membenarkan suatu kepercayaan dalam kebenaran atau kebohongan suatu klaim empiris. Dalam pandangan empirisis, seseorang hanya dapat mengklaim memiliki pengetahuan saat seseorang memiliki sebuah kepercayaan yang benar berdasarkan bukti empiris. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan rasionalism yang mana akal atau refleksi saja yang dianggap sebagai bukti bagi kebenaran atau kebohongan dari beberapa proposisi. Indra adalah sumber utama dari bukti empiris. Walaupun sumber lain dari bukti, seperti ingatan, dan kesaksian dari yang lain pasti ditelusuri kembali lagi ke beberapa pengalaman indrawi, semuanya dianggap sebagai tambahan, atau tidak langsung.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam sains, bukti empiris dibutuhkan bagi sebuah hipotesis untuk dapat diterima dalam komunitas ilmiah. Secara normalnya, validasi tersebut dicapai dengan metode ilmiah dari komitmen hipotesis, perancangan eksperimen, penelaahan sejawat, penelaahan lawan, produksi ulang hasil, presentasi konferensi dan publikasi jurnal. Hal ini membutuhkan komunikasi hipotesis yang teliti (biasanya diekspresikan dalam matematika), kontrol dan batasan percobaan (diekspresikan dengan peralatan eksperimen yang standar), dan sebuah pemahaman bersama dari pengukuran.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pandangan standar positivis tentang informasi yang diperoleh secara empiris yaitu observasi, pengalaman, dan percobaan berguna sebagai pemisah netral antara teori-teori yang saling berkompetisi. Namun, sejak tahun 1960an, kritik tegas yang sering dihubungkan dengan Thomas Kuhn, telah berargumen bahwa metode tersebut dipengaruhi oleh kepercayaan dan pengalaman sebelumnya. Akibatnya tidak bisa diharapkan bahwa dua ilmuwan saat mengobservasi, mengalami, atau mencoba pada kejadian yang sama akan membuat observasi teori-netral yang sama. Peran observasi sebagai pemisah teori-netral mungkin tidak akan bisa. Teori yang bergantung observasi berarti bahwa, bahkan bila ada metode kesimpulan dan interpretasi yang disetujui, ilmuwan bisa saja tidak bersetuju mengenai sifat dari data empiris.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hipotesis yang bersifat ilmiah merupakan langkah awal dalam metode ilmiah. Cara ini sering dianggap sebagai “tebakan terdidik”, karena disampaikan berdasarkan wawasan dan pengamatan, yang sering ditujukan untuk menjawab penyebab fenomena tertentu. Hipotesis sering digunakan untuk menjelaskan fenomena yang tidak dapat dijelaskan menggunakan teori ilmiah yang saat ini telah diterima. Hipotesis merupakan semacam firasat ide sebelum berkembang menjadi teori, yang merupakan langkah berikutnya dalam metode ilmiah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sifat utama dari hipotesis adalah sebuah gagasan yang dapat diuji dan pengujian tersebut dapat diulang. Jadi, gagasan yang tidak dapat diuji kembali belum bisa disebut hipotesis. Hipotesis seringkali berbentuk pernyataan jika-maka dan sering melalui eksperimen oleh berbagai ilmuwan untuk memastikan bobot dan kebenarannya. Proses ini dapat berlangsung bertahun-tahun, dan terdapat banyak kasus dimana hipotesis tidak menjadi teori karena kesulitan mendapatkan bukti yang cukup untuk mendukung kebenarannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kebanyakan hipotesis ilmiah terdiri dari berbagai konsep yang dapat terhubung dan hubungan tersebut dapat diuji. Oleh karena itu, sebuah hipotesis sebaiknya mendukung teori ilmiah sebelumnya yang telah melalui pengujian. Akan lebih baik lagi jika hipotesis tersebut didukung dengan hukum ilmiah. Kumpulan hipotesis yang bergabung bersama-sama akan menjadi kerangka konseptual (conceptual framework). Seiring dengan data dan bukti yang cukup untuk mendukung hipotesis tersebut, suatu saat hipotesis ini akan berkembang dan diterima sebagai teori.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tujuan dari sains adalah membuat seluruh data empiris yang telah dikumpulkan lewat observasi, pengalaman, dan eksperimen diperoleh tanpa menimbulkan bias. Tingkat kepercayaan dari berbagai riset ilmiah bergantung pada kemampuannya mengumpulkan dan menganalisis bukti empiris melalui cara yang tidak bias dan dapat dikendalikan seakurat mungkin. Akan tetapi, pada 1960-an sejarawan sains dan filsuf Thomas Kuhn menyampaikan pemikiran bahwa para ilmuwan sebenarnya bisa saja terpengaruh oleh keyakinan dan pengalaman yang mereka alami.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bersamaan dengan serangan terhadap Pearl Harbor, Jepang juga menyerang pangkalan udara AS di Filipina. Setelah serangan ini, Jepang menginvasi Filipina, dan juga koloni-koloni Inggris di Hong Kong, Malaya, Borneo dan Birma, dengan maksud selanjutnya menguasai ladang minyak Hindia Belanda. Seluruh wilayah ini dan daerah yang lebih luas lagi, jatuh ke tangan Jepang dalam waktu beberapa bulan saja. Markas Britania Raya di Singapura juga dikuasai, yang dianggap oleh Churchill sebagai salah satu kekalahan dalam sejarah yang paling memalukan bagi Britania.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Penyerbuan ke Hindia Belanda diawali dengan serangan Jepang ke Labuan, Brunei, Singapura, Semenanjung Malaya, Palembang, Tarakan dan Balikpapan yang merupakan daerah-daerah sumber minyak. Jepang sengaja mengambil taktik tersebut sebagai taktik gurita yang bertujuan mengisolasi kekuatan Hindia Belanda dan Sekutunya yang tergabung dalam front ABDA (America), British (Inggris), Dutch (Belanda), (Australia) yang berkedudukan di Bandung. Serangan-serangan itu mengakibatkan kehancuran pada armada laut ABDA khususnya Australia dan Belanda.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Terancamnya kota Bandung yang menjadi pusat pertahanan dan pengungsian membuat panglima Hindia Belanda Letnan Jendral Ter Poorten mengambil inisiatif mengadakan perdamaian. Kemudian diadakannya perundingan antara Tentara Jepang yang dipimpin oleh Jendral Hitoshi Imamura dengan pihak Belanda yang diwakili Letnan Jendral Ter Poorten dan Gubernur Jendral jhr A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Pada Awalnya Belanda bermaksud menyerahkan kota Bandung namun tidak mengadakan kapitulasi atau penyerahan kekuasaan Hindia Belanda kepada Pihak Jepang. Namun setelah Jepang mengancam akan mengebom kota Bandung akhirnya Jendral Ter Poorten setuju untuk menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada Mei 1942, serangan laut terhadap Port Moresby, Papua Nugini digagalkan oleh pasukan Sekutu dalam Perang Laut Coral. Kalau saja penguasaan Port Moresby berhasil, Angkatan Laut Jepang dapat juga menyerang Australia. Ini merupakan perlawanan pertama yang berhasil terhadap rencana Jepang dan pertarungan laut pertama yang hanya menggunakan kapal induk. Sebulan kemudian invasi Atol Midway dapat dicegah dengan terpecahnya pesan rahasia Jepang, menyebabkan pemimpin Angkatan Laut AS mengetahui target berikut Jepang yaitu Atol Midway. Pertempuran ini menyebabkan Jepang kehilangan empat kapal induk yang industri Jepang tidak dapat menggantikannya, sementara Angkatan Laut AS kehilangan satu kapal induk. Kemenangan besar buat AS ini menyebabkan Angkatan Laut Jepang kini dalam posisi bertahan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Para pemimpin Sekutu telah setuju mengalahkan Nazi Jerman adalah prioritas utama masuknya Amerika ke dalam perang. Namun pasukan AS dan Australia mulai menyerang wilayah yang telah jatuh, Pada 7 Agustus 1942 Pulau Guadalcanal diserang oleh Amerika Serikat. dan awal September, selagi perang berkecamuk di Guadalcanal, sebuah serangan amfibi Jepang di timur New Guinea dihadapi oleh pasukan Australia dalam Teluk Milne, dan pasukan darat Jepang menderita kekalahan meyakinkan yang pertama. Di Guadalcanal, pertahanan Jepang runtuh pada Februari 1943.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pasukan Australia and AS melancarkan kampanye yang panjang untuk merebut kembali bagian yang diduduki oleh Pasukan Jepang di Kepulauan Solomon, New Guinea dan Hindia Belanda, dan mengalami beberapa perlawanan paling sengit selama perang. Seluruh Kepulauan Solomon direbut kembali pada tahun 1943, New Britain dan New Ireland pada tahun 1944. Pada saat Filipina sedang direbut kembali pada akhir tahun 1944, Pertempuran Teluk Leyte berkecamuk, yang disebut sebagai perang laut terbesar sepanjang sejarah. Serangan besar terakhir di area Pasifik barat daya adalah kampanye Borneo pertengahan tahun 1945, yang ditujukan untuk mengucilkan sisa-sisa pasukan Jepang di Asia Tenggara, dan menyelamatkan tawanan perang Sekutu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perebutan pulau-pulau seperti Iwo Jima dan Okinawa oleh pasukan AS menyebabkan Kepulauan Jepang berada dalam jangkauan serangan laut dan udara Sekutu. Diantara kota-kota lain, Tokyo dibom bakar oleh Sekutu, dimana dalam penyerangan awal sendiri ada 90.000 orang tewas akibat kebakaran hebat di seluruh kota. Jumlah korban yang tinggi ini disebabkan oleh kondisi penduduk yang padat di sekitar sentra produksi dan konstruksi kayu serta kertas pada rumah penduduk yang banyak terdapat di masa itu. Tanggal 6 Agustus 1945, bomber B-29 “Enola Gay” yang dipiloti oleh Kolonel Paul Tibbets, Jr. melepaskan satu bom atom Little Boy di Hiroshima, yang secara efektif menghancurkan kota tersebut.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pertempuran di Afrika Utara bermula pada 1940, ketika sejumlah kecil pasukan Inggris di Mesir memukul balik serangan pasukan Italia dari Libya yang bertujuan untuk merebut Mesir terutama Terusan Suez yang vital. Tentara Inggris, India, dan Australia melancarkan serangan balik dengan sandi Operasi Kompas (Operation Compass), yang terhenti pada 1941 ketika sebagian besar pasukan Persemakmuran (Commonwealth) dipindahkan ke Yunani untuk mempertahankannya dari serangan Jerman. Tetapi pasukan Jerman yang belakangan dikenal sebagai Korps Afrika di bawah pimpinan Erwin Rommel mendarat di Libya, melanjutkan serangan terhadap Mesir.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada Juni 1941 Angkatan Darat Australia dan pasukan Sekutu menginvasi Suriah dan Lebanon, merebut Damaskus pada 17 Juni. Di Irak, terjadi penggulingan kekuasaan atas pemerintah yang pro-Inggris oleh kelompok Rashid Ali yang pro-Nazi. Pemberontakan didukung oleh Mufti Besar Yerusalem, Haji Amin al-Husseini. Oleh karena merasa garis belakangnya terancam, Inggris mendatangkan bala bantuan dari India dan menduduki Irak. Pemerintahan pro-Inggris kembali berkuasa, sementara Rashid Ali dan Mufti Besar Yerusalem melarikan diri ke Iran. Namun kemudian Inggris dan Uni Soviet menduduki Iran serta menggulingkan shah Iran yang pro-Jerman. Kedua tokoh Arab yang pro-Nazi di atas kemudian melarikan diri ke Eropa melalui Turki, di mana mereka kemudian bekerja sama dengan Hitler untuk menyingkirkan orang Inggris dan orang Yahudi. Korps Afrika dibawah Rommel melangkah maju dengan cepat ke arah timur, merebut kota pelabuhan Tobruk. Pasukan Australia dan Inggris di kota tersebut berhasil bertahan hingga serangan Axis berhasil merebut kota tersebut dan memaksa Divisi Ke-8 (Eighth Army) mundur ke garis di El Alamein.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pertempuran El Alamein Kedua terjadi di antara 23 Oktober dan 3 November 1942 sesudah Bernard Montgomery menggantikan Claude Auchinleck sebagai komandan Eighth Army. Rommel, panglima cemerlang Korps Afrika Tentara Jerman, yang dikenal sebagai “Rubah Gurun”, absen pada pertempuran luar biasa ini, karena sedang berada dalam tahap penyembuhan dari sakit kuning di Eropa. Montgomery tahu Rommel absen. Pasukan Persemakmuran melancarkan serangan, dan meskipun mereka kehilangan lebih banyak tank daripada Jerman ketika memulai pertempuran, Montgomery memenangkan pertempuran ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sekutu mempunyai keuntungan dengan dekatnya mereka ke suplai mereka selama pertempuran. Lagipula, Rommel hanya mendapat sedikit atau bahkan tak ada pertolongan kali ini dari Luftwaffe, yang sekarang lebih ditugaskan dengan membela angkasa udara Eropa Barat dan melawan Uni Soviet daripada menyediakan bantuan di Afrika Utara untuk Rommel. Setelah kekalahan Jerman di El Alamein, Rommel membuat penarikan strategis yang cemerlang ke Tunisia. Banyak sejarawan berpendapat bahwa berhasilnya Rommel pada penarikan strategis Korps Afrika dari Mesir lebih mengesankan daripada kemenangannya yang lebih awal, termasuk Tobruk, karena dia berhasil membuat seluruh pasukannya kembali utuh, melawan keunggulan udara Sekutu dan pasukan Persemakmuran yang sekarang diperkuat oleh pasukan AS.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Korps Afrika tidak mendapat suplai secara memadai akibat dari hilangnya pengapalan suplai oleh Angkatan Laut dan Angkatan Udara Sekutu, terutama Inggris, di Laut Tengah. Kekurangan persediaan ini dan tak adanya dukungan udara, memusnahkan kesempatan untuk melancarkan serangan besar bagi Jerman di Afrika. Pasukan Jerman dan Italia terjepit diantara pergerakan maju pasukan Sekutu di Aljazair dan Libia. Pasukan Jerman yang sedang mundur terus melakukan perlawanan sengit, dan Rommel mengalahkan pasukan AS pada Pertempuran Kasserine Pass sebelum menyelesaikan pergerakan mundur strategisnya menuju garis suplai Jerman. Dengan pasti, bergerak maju baik dari arah timur dan barat, pasukan Sekutu akhirnya mengalahkan Korps Afrika Jerman pada 13 Mei 1943 dan menawan 250.000 tentara Axis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perang Dunia II mulai berkecamuk di Eropa dengan dimulainya serangan ke Polandia pada 1 September 1939 yang dilakukan oleh Hitler dengan gerak cepat yang dikenal dengan taktik Blitzkrieg, dengan memanfaatkan musim panas yang menyebabkan perbatasan sungai dan rawa-rawa di wilayah Polandia kering yang memudahkan gerak laju pasukan lapis baja Jerman serta mengerahkan ratusan pembom tukik yang terkenal Ju-87 Stuka. Polandia yang sebelumnya pernah menahan Uni Soviet di tahun 1920-an saat itu tidak memiliki kekuatan militer yang berarti. Kekurangan pasukan lapis baja, kekurang siapan pasukan garis belakang dan koordinasinya dan lemahnya Angkatan Udara Polandia menyebabkan Polandia sukar memberi perlawanan meskipun masih memiliki 100 pesawat tempur namun jumlah itu tidak berarti melawan Angkatan Udara Jerman “Luftwaffe”. Perancis dan kerajaan Inggris menyatakan perang terhadap Jerman pada 3 September sebagai komitment mereka terhadap Polandia pada pakta pertahanan Maret 1939.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Setelah mengalami kehancuran disana sini oleh pasukan Nazi, tiba tiba Polandia dikejutkan oleh serangan Uni Soviet pada 17 September dari timur yang akhirnya bertemu dengan Pasukan Jerman dan mengadakan garis demarkasi sesuai persetujuan antara Menteri Luar Negeri keduanya, Ribentrop-Molotov. Akhirnya Polandia menyerah kepada Nazi Jerman setelah kota Warsawa dihancurkan, sementara sisa sisa pemimpin Polandia melarikan diri diantaranya ke Rumania. Sementara yang lain ditahan baik oleh Uni Soviet maupun Nazi. Tentara Polandia terakhir dikalahkan pada 6 Oktober.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jatuhnya Polandia dan terlambatnya pasukan sekutu yang saat itu dimotori oleh Inggris dan Perancis yang saat itu dibawah komando Jenderal Gamelin dari Perancis membuat Sekutu akhirnya menyatakan perang terhadap Jerman. Namun juga menyebabkan jatuhnya kabinet Neville Chamberlain di Inggris yang digantikan oleh Winston Churchill. Ketika Hitler menyatakan perang terhadap Uni Soviet, Uni Soviet akhirnya membebaskan tawanan perang Polandia dan mempersenjatainya untuk melawan Jerman. Invasi ke Polandia ini juga mengawali praktek-praktek kejam Pasukan SS dibawah Heinrich Himmler terhadap orang orang Yahudi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perang Musim Dingin dimulai dengan invasi Finlandia oleh Uni Soviet, 30 November 1939. Pada awalnya Finlandia mampu menahan pasukan Uni Soviet meskipun pasukan Soviet memiliki jumlah besar serta dukungan dari armada udara dan lapis baja, karena Soviet banyak kehilangan jendral-jendral yang cakap akibat pembersihan yang dilakukan oleh Stalin pada saat memegang tampuk kekuasaan menggantikan Lenin. Finlandia memberikan perlawanan yang gigih yang dipimpin oleh Baron Carl Gustav von Mannerheim serta rakyat Finlandia yang tidak ingin dijajah. Bantuan senjata mengalir dari negara Barat terutama dari tetangganya Swedia yang memilih netral dalam peperangan itu. Pasukan Finlandia memanfaatkan musim dingin yang beku namun dapat bergerak lincah meskipun kekuatannya sedikit (kurang lebih 300.000 pasukan). Akhirnya Soviet mengerahkan serangan besar besaran dengan 3.000.000 tentara menyerbu Finlandia dan berhasil merebut kota-kota dan beberapa wilayah Finlandia. Sehingga memaksa Carl Gustav untuk mengadakan perjanjian perdamaian.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Operasi Fall Gelb, invasi Benelux dan Perancis, dilakukan oleh Jerman pada 10 Mei 1940, mengakhiri apa yang disebut dengan “Perang Pura-Pura” (Phony War) dan memulai Pertempuran Perancis. Pada tahap awal invasi, tentara Jerman menyerang Belgia, Belanda, dan Luxemburg untuk menghindari Garis Maginot dan berhasil memecah pasukan Sekutu dengan melaju sampai ke Selat Inggris. Negara-negara Benelux dengan cepat jatuh ke tangan Jerman, yang kemudian melanjutkan tahap berikutnya dengan menyerang Perancis. Pasukan Ekspedisi Inggris (British Expeditionary Force) yang terperangkap di utara kemudian dievakuasi melalui Dunkirk dengan Operasi Dinamo. Tentara Jerman tidak terbendung, melaju melewati Garis Maginot sampai ke arah pantai Atlantik, menyebabkan Perancis mendeklarasikan gencatan senjata pada 22 Juni dan terbentuklah pemerintahan boneka Vichy.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jerman bersiap untuk melancarkan serangan ke Inggris dan dimulailah apa yang disebut dengan Pertempuran Inggris atau Battle of Britain, perang udara antara AU Jerman Luftwaffe melawan AU Inggris Royal Air Force pada tahun 1940 memperebutkan kontrol atas angkasa Inggris. Jerman berhasil dikalahkan dan membatalkan Operasi Singa Laut atau Seelowe untuk menginvasi daratan Inggris. Hal itu dikarenakan perubahan strategi Luftwaffe dari menyerang landasan udara dan industri perang berubah menjadi serangan besar-besaran pesawat pembom ke London. Sebelumnya terjadi pemboman kota Berlin yang ddasarkan pembalasan atas ketidaksengajaan pesawat pembom Jerman yang menyerang London. Alhasil pilot peswat tempur Spitfire dan Huricane dapt berisirahat. Perang juga berkecamuk di laut, pada Pertempuran Atlantik kapal-kapal selam Jerman (U-Boat) berusaha untuk menenggelamkan kapal dagang yang membawa suplai kebutuhan ke Inggris dari Amerika Serikat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Italia menyerbu Yunani pada 28 Oktober 1940 melalui Albania, tetapi dapat ditahan oleh pasukan Yunani yang bahkan menyerang balik ke Albania. Hitler kemudian mengirim tentara untuk membantu Mussolini berperang melawan Yunani. Pertempuran juga meluas hingga wilayah yang dikenal sebagai wilayah bekas Yugoslavia. Pasukan NAZI mendapat dukungan dari sebagian Kroasia dan Bosnia, yang merupakan konflik laten di daerah itu sepeninggal Kerajaan Ottoman. Namun Pasukan Nazi mendapat perlawanan hebat dari kaum Nasionalis yang didominasi oleh Serbia dan beberapa etnis lainnya yang dipimpin oleh Josip Broz Tito. Pertempuran dengan kaum Nazi merupakan salah satu bibit pertempuran antar etnis di wilayah bekas Yugoslavia pada dekade 1990-an.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada akhir bulan april 1945, ibukota Jerman yaitu Berlin sudah dikepung oleh Uni Soviet dan pada tanggal 1 Mei 1945, Adolf Hitler bunuh diri bersama dengan istrinya Eva Braun didalam bunkernya, sehari sebelumnya Adolf Hitler menikahi Eva Braun, dan setelah mati memerintah pengawalnya untuk membakar mayatnya. Setelah menyalami setiap anggotanya yang masih setia. Pada tanggal 2 Mei, Karl Dönitz diangkat menjadi pemimpin menggantikan Adolf Hitler dan menyatakan Berlin menyerah pada tanggal itu juga. Disusul Pasukan Jerman di Italia yang menyerah pada tanggal 2 juga. Pasukan Jerman di wilayah Jerman Utara, Denmark dan Belanda menyerah tanggal 4. Sisa pasukan Jerman dibawah pimpinan Alfred Jodl menyerah tanggal 7 mei di Rheims, Perancis. Tanggal 8 Mei, penduduk di negara-negara sekutu merayakan hari kemenangan, tetapi Uni Soviet merayakan hari kemenangan pada tanggal 9 Mei dengan tujuan politik.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adolf Hitler lahir tahun 1889 di Braunau, Austria. Sebagai remaja dia merupakan seorang seniman gagal. Di masa Perang Dunia ke-I, dia masuk Angkatan Bersenjata Jerman, terluka dan peroleh dua medali untuk keberaniannya. Kekalahan Jerman membuatnya terpukul dan geram. Di tahun 1919 tatkala umurnya menginjak tiga puluh tahun, dia bergabung dengan partai kecil berhaluan kanan di Munich, dan segera partai ini mengubah nama menjadi Partai Buruh Nasionalis Jerman/National Sozialismus (diringkas Nazi). Dalam tempo dua tahun dia menanjak jadi pemimpin yang tanpa saingan yang dalam julukan Jerman disebut “Fuehrer.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dengan jabatan itu, Hitler dengan cepat dan cekatan membentuk kediktatoran dengan menggunakan aparat pemerintah melabrak semua golongan oposisi. Perlu dicamkan, proses ini bukanlah lewat erosi kebebasan sipil dan hak-hak pertahankan diri terhadap tuduhan-tuduhan kriminal, tetapi digarap dengan sabetan kilat dan sering sekali partai Nazi tidak ambil pusing dengan prosedur pengajuan di pengadilan samasekali. Banyak lawan-lawan politik digebuki, bahkan dibunuh langsung di tempat. Meski begitu, sebelum pecah Perang Dunia ke-2, Hitler meraih dukungan sebagian terbesar penduduk Jerman karena dia berhasil menekan jumlah pengangguran dan melakukan perbaikan-perbaikan ekonomi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hitler dalam bukunya, “Mein Kampf” (Perjuanganku), menekankan pentingnya lebensraum, yakni mendapatkan wilayah baru untuk rakyat Jerman di Eropa Timur. Dia membayangkan menempatkan rakyat Jerman sebagai ras utama di Rusia barat. Sebaliknya, sebagian besar rakyat Rusia dipindahkan ke Siberia dan sisanya dijadikan budak. Setelah pembersihan (purge?) besar-besaran pada tahun 1930-an, Hitler menganggap Soviet secara militer lemah dan mudah diduduki. Ia menyatakan, “Kami hanya harus menendang pintu dan seluruh struktur yang rapuh akan runtuh.” Akibat Pertempuran Kursk dan kondisi militer Jerman yang melemah, Hitler dan propaganda Nazi menyatakan perang tersebut sebagai pertahanan peradaban oleh Jerman dari penghancuran oleh “gerombolan kaum Bolshevik” yang menyebar ke Eropa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hitler kemudian merancang jalan menuju penaklukan-penaklukan yang ujung-ujungnya membawa dunia ke kancah Perang Dunia ke-2. Dia merebut daerah pertamanya praktis tanpa lewat peperangan samasekali. Inggris dan Perancis terkepung oleh berbagai macam kesulitan ekonomi, karena itu begitu menginginkan perdamaian sehingga mereka tidak ambil pusing tatkala Hitler mengkhianati Persetujuan Versailles dengan cara membangun Angkatan Bersenjata Jerman. Begitu pula mereka tidak ambil peduli tatkala Hitler menduduki dan memperkokoh benteng di Rhineland (1936), dan demikian juga ketika Hitler mencaplok Austria (Maret 1938). Bahkan mereka terima sambil manggut-manggut ketika Hitler mencaplok Sudetenland, benteng pertahanan perbatasan Cekoslowakia. Persetujuan internasional yang dikenal dengan sebutan “Pakta Munich” yang oleh Inggris dan Perancis diharapkan sebagai hasil pembelian “Perdamaian sepanjang masa” dibiarkan terinjak-injak dan mereka bengong ketika Hitler merampas sebagian Cekoslowakia beberapa bulan kemudian karena Cekoslowakia samasekali tak berdaya. Pada tiap tahap, Hitler dengan cerdik menggabung argumen membenarkan tindakannya dengan ancaman bahwa dia akan perang apabila hasratnya dianggap sepi, dan pada tiap tahap negara-negara demokrasi merasa gentar dan mundur melemah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tetapi, Inggris dan Perancis berketetapan hati mempertahankan Polandia, sasaran Hitler berikutnya. Pertama Hitler melindungi dirinya dengan jalan penandatangan pakta “Tidak saling menyerang” bulan Agustus 1939 dengan Stalin (hakekatnya perjanjian itu perjanjian agresi karena keduanya bersepakat bagaimana membagi dua Polandia buat kepentingan masing-masing). Sembilan hari kemudian, Jerman menyerang Polandia dan enam belas hari sesudah itu Uni Soviet berbuat serupa. Meskipun Inggris dan Perancis mengumumkan perang terhadap Jerman, Polandia segera dapat ditaklukkan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pasukan Jerman menaklukkan Yunani dan Yugoslavia di bulan April 1941. Dan di bulan Juni tahun itu pula Hitler merobek-robek “Perjanjian tidak saling menyerang” dengan Uni Soviet dan membuka penyerbuan. Angkatan Bersenjata Jerman dapat menduduki bagian yang amat luas wilayah Rusia tetapi tak mampu melumpuhkannya secara total sebelum musim dingin. Meski bertempur lawan Inggris dan Rusia, tak tanggung-tanggung Hitler memaklumkan perang dengan Amerika Serikat bulan Desember 1941 dan beberapa hari kemudian Jepang melabrak Amerika Serikat, mengobrak-abrik pangkalan Angkatan Lautnya di Pearl Harbor.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di pertengahan tahun 1942 Jerman sudah menguasai bagian terbesar wilayah Eropa yang tak pernah sanggup dilakukan oleh siapa pun dalam sejarah. Tambahan pula, dia menguasai Afrika Utara. Titik balik peperangan terjadi pada parohan kedua tahun 1942 tatkala Jerman dikalahkan dalam pertempuran rumit di El-Alamein di Mesir dan Stalingrad di Rusia. Sesudah kemunduran ini, nasib baik yang tadinya memayungi tentara Jerman angsur-berangsur secara tetap meninggalkannya. Tetapi, kendati kekalahan Jerman tampaknya tak terelakkan lagi, Hitler menolak menyerah. Bukannya dia semakin takut, malahan meneruskan penggasakan selama lebih dari dua tahun sesudah Stalingrad. Ujung cerita yang pahit terjadi pada musim semi tahun 1945. Hitler bunuh diri di Berlin tanggal 30 April dan tujuh hari sesudah itu Jerman menyerah kalah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dibandingkan dengan medan perang lainnya dalam Perang Dunia II, Front Timur jauh lebih besar dan berdarah serta mengakibatkan 25-30 juta orang tewas. Di Front Timur terjadi lebih banyak pertempuran darat daripada semua front pada PD II. Karena premis ideologi dalam perang, pertempuran di Front Timur mengakibatkan kehancuran besar. Bagi anggota Nazi garis keras di Berlin, perang melawan Uni Soviet merupakan perjuangan melawan komunisme dan ras Arya melawan ras Slavia yang lebih rendah. Dari awal konflik, Hitler menganggapnya sebagai “perang pembinasaan”. Di samping konflik ideologi, pola pikir Hitler dan Stalin mengakibatkan peningkatan teror dan pembunuhan. Hitler bertujuan memperbudak ras Slavia dan membinasakan populasi Yahudi di Eropa Timur. Stalin pun setali tiga uang dengan Hitler dalam hal memandang rendah nyawa manusia untuk meraih kemenangan. Ini termasuk meneror rakyat mereka sendiri dan juga deportasi massal seluruh penduduk. Faktor-faktor ini mengakibatkan kebrutalan kepada tentara dan rakyat sipil, yang tidak dapat disamakan dengan Front Barat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pakta Molotov-Ribbentrop pada Agustus 1939 membentuk perjanjian non-agresi antara Jerman Nazi dan Uni Soviet, dan sebuah protokol rahasia menggambarkan bagaimana Finlandia, Estonia, Latvia, Lithuania, Polandia dan Rumania akan dibagi-bagi di antara mereka. Dalam Perang September di Polandia pada 1939 kedua negara itu menyerang dan membagi Polandia, dan pada Juni 1940 Uni Soviet, yang mengancam untuk menggunakan kekerasan apabila tuntutan-tuntutannya tidak dipenuhi, memenangkan perang diplomatik melawan Rumania dan tiga negara Baltik yang de jure mengizinkannya untuk secara damai menduduki Estonia, Latvia dan Lithuania de facto, dan mengembalikan wilayah-wilayah Ukraina, Belorusia, dan Moldovia di wilayah Utara dan Timur Laut dari Rumania ( Bucovina Utara dan Basarabia).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adolf Hitler telah lama ingin melanggar pakta dengan Uni Soviet itu dan melakukan invasi. Dalam Mein Kampf ia mengajukan argumennya tentang perlunya mendapatkan wilayah baru untuk pemukiman Jerman di Eropa Timur. Ia membayangkan penempatan orang-orang Jerman sebagai ras yang unggul di Rusia barat, sementara mengusir sebagian besar orang Rusia ke Siberia dan menggunakan sisanya sebagai tenaga budak. Setelah pembersihan pada tahun 1930-an ia melihat Uni Soviet lemah secara militer dan sudah matang untuk diserang: “Kita hanya perlu menendang pintu dan seluruh struktur yang busuk itu akan runtuh.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Joseph Stalin kuatir akan perang dengan Jerman, dan karenanya enggan melakukan apapun yang dapat memprovokasi Hitler. Meskipun Jerman telah mengerahkan sejumlah besar pasukan di Polandia timur dan membuat penerbangan-penerbangan pengintai gelap di perbatasan, Stalin mengabaikan peringatan-peringatan dari intelijennya sendiri maupun dari pihak asing. Selain itu, pada malam penyerbuan itu sendiri, pasukan-pasukan Soviet mendapatkan pengarahan yang ditandatangani oleh Marsekal Semyon Timoshenko dan Jenderal Georgy Zhukov yang memerintahkan (sesuai dengan perintah Stalin): “jangan membalas provokasi apapun” dan “jangan mengambil tindakan apapun tanpa perintah yang spesifik “. Karena itu, invasi Jerman pada umumnya mengejutkan militer dan pimpinan Soviet.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pornografi . Bisa saja bagi sebagian orang kata ini sangat menakutkan dan wajib dihindari, tapi bagi yang lain, menjadi kata yang biasa-biasa saja. Apa itu pornografi? Pornografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu porne (pelacur) dan graphos (gambar atau tulisan). Dan secara harafiah berarti “tulisan atau gambar tentang pelacur”. Di wikipedia disebutkan pornografi yang kadang kala juga disingkat menjadi “porn,” “pr0n,” atau “porno” adalah penggambaran tubuh manusia atau perilaku seksual manusia secara terbuka (eksplisit) dengan tujuan membangkitkan birahi (gairah seksual). Pornografi dapat menggunakan berbagai media, baik tulisan, foto-foto, film dan lain sebagainya. Di era informasi sekarang ini, maka pornografi (sangat) gampang kita temukan di internet.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tahun 2010 pemerintah Australia menerbitkan undang-undang (UU) untuk menyensor situs-situs internet. Kebijakan pemerintah Australia diarahkan pada langkah pemblokiran informasi yang isinya berhubungan dengan kekerasan seksual, obat-obatan terlarang dan pornografi anak. Penyaringan akan dilakukan oleh penyedia jasa internet di bawah pengawasan pemerintah. Meskipun dua perusahaan raksasa pengelola jasa internet, yaitu Google dan Yahoo, mengkritik kebijakan itu, namun pemerintah Australia tidak bergeming.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebelumnya, Pemerintah China juga telah membuat kebijakan serupa terhadap Google, meskipun dengan alasan yang berbeda. Kebijakan pemerintah China yang mengharuskan Google melakukan self cencorship, telah menimbulkan ketegangan antara pemerintah China dengan Amerika. Kebijakan pemerintah China diterapkan, karena ditengarai isi informasi Google berkolaborasi dengan spionase Amerika. Puncak ketegangan tersebut ditandai dengan direlokasinya portal Google di China (Google.cn) ke sebuah situs di Hongkong.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dewasa ini, internet telah membentuk kebudayaan baru dalam masyarakat. Masyarakat tidak lagi dibatasi oleh wilayah teritori antar negara. Kehadiran internet di satu sisi telah mendorong interkoneksi yang nyaris tanpa batas, tetapi di sisi lain ekses sosial sebagai produk ikutannya juga sudah keluar batas. Dibalik fenomenalnya temuan internet, ternyata kehadiran internet juga melahirkan keresahan baru. Fenomena internet juga dibarengi dengan munculnya kejahatan yang berbasis cyber (cyber crime). Kejahatan cyber yang paling mengkhawatirkan belakangan ini, ditandai oleh pesatnya perkembangan situs-situs porno dalam berbagai tampilan yang sangat vulgar.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sensasi yang melekat pada perkembangan internet adalah efektifnya medium ini dalam menyebarkan pornografi. Bila dicermati secara seksama, pada dasarnya internet juga merupakan media komunikasi, sebagaimana media komunikasi dalam bentuk lainnya. Kelebihan internet dari media yang lain terletak pada karakteristiknya yang mampu mengkonvergensikan karakteristik media cetak, penyiaran, film dan telekomunikasi dalam sebuah media yang disebut global network. Keistimewaannya dalam mengkonvergensikan keempat media di atas, telah menjadikan internet sebagai media komunikasi yang paling sophisticated saat ini. Dengan keunggulan tersebut, tidak mengherankan bila internet menjadi media yang paling efektif dalam menyebarkan berbagai informasi, termasuk informasi tentang pornografi. Bahkan, berbagai data terakhir menunjukkan bahwa transaksi terbesar perdagangan melalui internet, diperoleh dari bisnis pornografi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Untuk menonton gambar porno, ternyata telah keluar biaya sebesar US $ 3,075.64 setiap detik. Sementara itu, tercatat setiap detik sejumlah 28.258 pengguna internet mengakses situs-situs porno, yang seharusnya hanya dikonsumsi orang dewasa. Dari angka-angka di atas dapat dibayangkan berapa banyak produksi video porno yang dihasilkan. Dengan demikian, betapa suburnya lahan bisnis pornografi. Di Amerika, setiap 39 menit dihasilkan sebuah produk video porno. Industri ini pada 2006 mampu menggerakkan bisnis senilai US $ 97.06 milyar atau sekitar Rp. 976 trilyun. Angka yang sangat fantastis untuk sebuah bisnis dengan core bussiness syahwat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Penelitian itu juga menyajikan data mengenai negara yang mengkonsumsi bisnis pornografi tersebut. Pangsa pasar terbesar justru sejumlah negara di Asia. Pendapatan dari pornografi yang terbesar berasal dari China, yaitu senilai US $ 27,4 milyar atau sekitar Rp. 270 trilyun. Peringkat kedua adalah Korea Selatan, dengan pendapatan sebesar US $ 25,7 milyar atau sekitar Rp 250 trilyun. Jepang berada di urutan ketiga dengan pendapatan sebesar US $ 20 milyar atau sekitar Rp 200 trilyun. Negara Asia lainnya adalah Philipina di urutan kesembilan dan Taiwan di peringkat sepuluh. Amerika sebagai negara produsen, berada di peringkat empat, dengan pendapatan sebesar US $ 13,3 milyar atau sekitar Rp 130 trilyun.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sehubungan dengan kekhawatiran keterlibatan anak-anak atau remaja Indonesia sebagai pecandu situs porno di internet, diperoleh temuan survei Komisi PerlindunganAnak (KPA) terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia tahun 2007. Hasil survei KPA sangat mengejutkan, karena 97 % responden pernah menonton adegan porno. Dampaknya, sebanyak 93,7 % responden mengaku pernah berciuman, petting, dan oral sex, serta 62,7 % remaja yang duduk di bangku SMP mengaku pernah berhubungan intim. Data yang lebih mengejutkan, sebanyak 21,2 % siswi SMA mengaku pernah menggugurkan kandungan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut catatan Internet World Stats, sampai September 2009, pengguna internet di Indonesia mencapai angka 30 juta orang atau 12,5 % dari populasi penduduk Indonesia. Angka pertumbuhannya mencapai 1.150 %. Anak-anak dan remaja, termasuk bagian dari pengakses internet. Jadi, bukan tidak mungkin mereka juga penggemar situs-situs porno di internet. Dengan kata lain, terpaan pornografi melalui internet sudah sangat luar biasa, sehingga diperlukan kebijakan untuk memfilter informasi, termasuk pornografi, di internet dalam rangka menjaga ketahanan budaya, terlebih moral generasi muda.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Popularitas situs porno di dunia maya hampir mengalahkan situs jejaring sosial maupun situs berita. Dikutip dari Gizmodo, blog berita teknologi terbitan Netmedia Europe Spanyol menyatakan salah satu situs porno terkenal bernama XVideos mampu mencatatkan kunjungan (page views) sebanyak 4,4 miliar per bulan. Hasil ini ternyata tiga kali lebih besar dari yang bisa dihasilkan oleh situs sekelas CNN. Durasi kunjungan terhadap sebuah situs normal adalah sekitar tiga hingga enam menit. Sedangkan untuk kunjungan ke situs porno, rata-rata pengguna internet menghabiskan waktu 15 hingga 20 menit. Data lainnya menyebutkan bahwa situs porno populer lainnya, YouPorn, ternyata memiliki konten digital lebih dari 100TB dengan page views per hari kurang lebih 100 juta.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Facebook, sejak 2010 berusaha membeli domain faceporn. Hal ini dilakukan untuk menjaga keamanan hasil pencarian kata “facebook”. Pihak facebook meminta pemilik faceporn untuk mengubah nama domain-nya dan membayar royalti atas penggunaan nama tersebut. Namun, seperti yang dituliskan oleh wallstcheatsheet.com, pihak pengadilan yang dipimpin oleh Hakim Jeffry White memutuskan tuduhan facebook tidak mempunyai landasan kuat,”lack of personal jurisdiction” karena walaupun facebook dan faceporn memiliki segmen dan fungsi sebagai jejaring sosial, namun target dari faceporn bukanlah orang-orang yang bertempat tinggal di Callifornia, melainkan orang di luar cakupan terbesar facebook. Selain gagal memperoleh kepemilikan domain faceporn, facebook juga wajib membayar sejumlah uang kepada faceporn untuk mengganti dana membayar pengacara dan biaya proses hukum. Hingga saat ini, situs faceporn masih leluasa diakses melalui mesin pencari di beberapa Negara, termasuk Indonesia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Fenomena pornografi di internet, disikapi oleh setiap negara dengan kebijakan yang berbeda-beda. Kebijakan pemerintah yang ditetapkan, akan sangat tergantung dari tingkat adopsi demokrasi di masing-masing negara. Negara yang mengimplementasikan demokrasi secara otoritarian, tentu akan mengambil kebijakan yang cenderung otoriter, dengan memberikan peran negara untuk melakukan sensor (pembatasan informasi) di internet. Praktek ini dapat ditemukan di Arab Saudi dan RCC. Kedua negara ini membuat server negara atau pembatasan informasi, melalui Internet Service Provider. Di negara-negara yang menganut sistem demokrasi, sensor di internet juga diberlakukan. Namun, sensor di internet bukan oleh pemerintah, melainkan muncul dari partisipasi masyarakat yang menggerakkan agar internet dikelola sebagai media yang sehat. Penyensoran dilakukan dengan meluncurkan software yang mampu memfilter informasi, khususnya informasi pornografi. Bahkan di Amerika, pengaturan tentang pornografi anak di internet, lahir akibat desakan masyarakat terhadap serbuan pornografi anak yang merajarela di internet. Hal tersebut salah satunya terlihat pada 18 Maret 2011, Dewan Direksi Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICAAN), asosiasi yang mengawasi sistem penamaan dalam internet, menyetujui pembentukan distrik online untuk situs-situs pornografi, guna membendung perkembangan situs porno di dunia maya melalui domain (.xxx). Klasifikasi tersebut setidaknya mempermudah langkah pemblokiran atau pembatasan akses publik terhadap konten pornografi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di Indonesia, penanganan pornografi melalui internet mulai menjadi perhatian. Sejatinya, pornografi sudah diatur dengan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 yang memberikan peran kepada pemerintah dalam pencegahan pornografi. Pemerintah, baik Pusat maupun Daerah, wajib melakukan pencegahan pembuatan, penyebarluasan dan penggunaan pornografi melalui berbagai bentuk media komunikasi, termasuk di dalamnya internet (Pasal 18). Untuk melakukan pencegahan, penyebarluasan dan penggunaan pornografi dalam media komunikasi, pemerintah diberi kewenangan melakukan pemutusan jaringan pembuatan dan penyebarluasan produk pornografi atau jasa pornografi, termasuk pemblokiran pornografi melalui internet (Pasal 19 dan Pasal 20). Sayangnya, Undang-Undang Pornografi ini belum berfungsi optimal. Pemerintah belum membuat semua aturan pelaksana undang-undang itu. Saat ini baru satu aturan pelaksana Undang-Undang Pornografi yang sudah terbit, yaitu Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 2011, yang diundangkan pada September 2011. Namun cakupan peraturan ini sangat terbatas. Di sini hanya diatur pembinaan dan pendampingan anak, pelaku atau korban pornografi. Sedangkan soal pornografi dalam lingkup yang lebih luas, termasuk ihwal media penyebarannya, belum diatur.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, juga diatur larangan untuk mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan (Pasal 27 Ayat 1). Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan informasi elektronik dan dokumen elektronik, kategorisasinya tidak secara tegas memasukkan muatan pornografi. Dengan demikian, penggunaan undang-undang ini untuk menjerat kasus pornografi di internet, masih bisa debatable.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Penggunaan internet memang menuntut seperangkat kemampuan (literacy) para penggunanya. Kecerdasan (literacy) ini akan memberikan semacam perspektif positif dalam memaknai content media, khususnya internet. Untuk itu, model perlindungan anak-anak dan remaja dari terpaan pornografi melalui internet dan kejahatan cyber pada umumnya, dapat ditempuh melalui peningkatan internet literacy. Dengan model literasi, setidaknya dapat diwaspadai terpaan pornografi di internet yang masih sangat leluasa dapat diakses anak-anak dan generasi muda pada umumnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan, pada tahun 2008 , jumlah pengguna Narkoba di Indonesia mencapai 3,3 juta jiwa atau sekitar 1,99 persen dari jumlah penduduk Indonesia mengalami ketergantungan Narkoba. Dari jumlah tersebut, 1,3 juta diantaranya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Di sisi lain, jumlah korban meninggal dunia akibat penggunaan Narkoba selama kurun 2006-2008 mencapai 15.000 jiwa. Artinya, setidaknya 41 jiwa melayang perhari dengan 78 persen terjadi pada anak muda usia 19-21 tahun.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Troels Vester: Diperkirakan ada sekitar 3,7 juta sampai 4,7 juta orang pengguna narkoba di Indonesia. Ini data tahun 2011. Sekitar 1,2 juta orang adalah pengguna crystalline methamphetamine dan sekitar 950.000 pengguna ecstasy. Sebagai perbandingan, ada 2,8 juta pengguna cannabis dan sekitar 110.000 pecandu heroin. Sedangkan menurut perkiraan otoritas Indonesia Badan Narkotika Nasional (BNN), saat ini ada sekitar 5,6 juta pengguna narkoba. Dulu, bahan yang paling banyak dikonsumsi adalah cannabis. Pada paruh kedua 1990-an ada peningkatan tajam pengguna heroin, terutama lewat jarum suntik. Ini mengakibatkan peningkatan pesat penyebaran HIV/AIDS di Indonesia. Tapi menjelang akhir 1990-an, yang paling banyak digunakan adalah Amphetamine Type Stimulants (ATS).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bisa dikatakan bahwa Indonesia sekarang telah menjadi salah satu jalur utama dalam perdagangan obat bius. Banyak obat bius diperdagangkan dan diselundupkan oleh sindikat internasional yang terorganisasi, terutama karena ada permintaan cukup tinggi dan Indonesia punya populasi muda yang besar dan menjadi pasar narkoba yang besar juga. Indonesia sendiri sudah membuat banyak kemajuan dalam beberapa tahun terakhir dan menyita narkotika dan obat bius illegal dalam jumlah besar yang masuk dari luar negeri. Terutama bahan-bahan methamphetamine, yang di Indonesia dikenal dengan sebutan “sabu-sabu”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia adalah mereduksi penawaran dan permintaan terhadap obat bius di negara itu. Kenyataan bahwa makin maraknya penyelundupan dan produksi ATS di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah masih perlu meningkatkan upaya untuk menanggulangi hal ini. Konsumsi dan penawaran ATS harus bisa direduksi, penanganan para pecandu ATS harus ditingkatkan. Saat ini, penanganan masih dilakukan di klinik-klinik dan rumah sakit khusus. Pemerintah perlu mengembangkan sistem penanganan yang lebih berdasarkan kegiatan komunitas.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berdasarkan Laporan Akhir Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba tahun anggaran 2014, jumlah penyalahguna narkoba diperkirakan ada sebanyak 3,8 juta sampai 4,1 juta orang yang pernah memakai narkoba dalam setahun terakhir (current users) pada kelompok usia 10-59 tahun di tahun 2014 di Indonesia. Jadi, ada sekitar 1 dari 44 sampai 48 orang berusia 10-59 tahun masih atau pernah pakai narkoba pada tahun 2014. Angka tersebut terus meningkat dengan merujuk hasil penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan Puslitkes UI dan diperkirakan pengguna narkoba jumlah pengguna narkoba mencapai 5,8 juta jiwa pada tahun 2015.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bagaimana penggunaan narkoba menurut PBB? Menariknya, menurut Troels Vester sebagai koordinator lembaga PBB untuk kejahatan narkoba, UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) yang diwawancarai DW (Deutsche Welle) menyatakan bahwa diiperkirakan sekitar 3,7 juta sampai 4,7 juta orang pengguna narkoba di Indonesia. Sekitar 1,2 juta orang adalah pengguna crystalline methamphetamine dan sekitar 950.000 orang pengguna ecstasy. Sebagai perbandingan, ada 2,8 juta pengguna cannabis dan sekitar 110.000 pecandu heroin.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pelacuran telah terjadi sepanjang sejarah manusia. Namun menelusuri sejarah pelacuran di Indonesia dapat dirunut mulai dari masa kerajaan-kerajaan Jawa, di mana perdagangan perempuan di pada saat itu merupakan bagian pelengkap dari sistem pemerintahan feodal (Hull; 1997:1-22). Dua kerajaan yang sangat lama berkuasa di Jawa berdiri tahun 1755 ketika kerajaan Mataram terbagi dua menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanana Yogyakarta. Mataram merupakan kerajaan Islam Jawa yang terletak di sebelah selatan Jawa Tengah. Pada masa itu,

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Raja mempunyai kekuasaan penuh. Seluruh yang ada di atas Jawa, bumi dan seluruh kehidupannya, termasuk air, rumput, daun, dan segala sesuatunya adalah milik raja. Tugas raja pada saat itu adalah menetapkan hukum dan menegakkan keadilan; dan semua orang diharuskan mematuhinya tanpa terkecuali. Kekuasaan raja yang tak terbatas ini juga tercermin dari banyaknya selir yang dimilikinya. Beberapa orang selir tersebut adalah puteri bangsawan yang diserahkan kepada raja sebagai tanda kesetiaan. Sebagian lagi merupakan persembahan dari kerajaan lain, ada juga selir yang berasal dari lingkungan keluarganya dengan maksud agar keluarga tersebut mempunyai keterkaitan dengan keluarga istana.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebagian selir raja ini dapat meningkat statusnya karena melahirkan anak-anak raja. Perempuan yang dijadikan selir tersebut berasal dari daerah tertentu yang terkenal banyak mempunyai perempuan cantik dan memikat. Reputasi daerah seperti ini masih merupakan legenda sampai saat ini. Koentjoro (1989:3) mengidentifikasi 11 kabupaten di Jawa yang dalam sejarah terkenal sebagai pemasok perempuan untuk kerajaan; dan sampai sekarang daerah tersebut masih terkenal sebagai sumber wanita pelacur untuk daerah kota. Daerah-daerah tersebut adalah Kabupaten Indramayu, Karawang, dan Kuningan di Jawa Barat; Pati, Jepara, Grobogan dan Wonogiri di Jawa Tengah; serta Blitar, Malang, Banyuwangi dan Lamongan di Jawa Timur. Kecamatan Gabus Wetan di Indramayu terkenal sebagai sumber pelacur; dan menurut sejarah daerah ini merupakan salah satu sumber perempuan muda untuk dikirim ke istana Sultan Cirebon sebagai selir. (Hull, at al. 1997:2).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Makin banyaknya selir yang dipelihara, menurut Hull, at al. (1997:2) bertambah kuat posisi raja di mata masyarakat. Dari sisi ketangguhan fisik, mengambil banyak selir berarti mempercepat proses reproduksi kekuasaan para raja dan membuktikan adanya kejayaan spiritual. Hanya raja dan kaum bangsawan dalam masyarakat yang mempunyai selir. Mempersembahkan saudara atau anak perempuan kepada bupati atau pejabat tinggi merupakan tindakan yang didorong oleh hasrat untuk memperbesar dan memperluas kekuasaan, seperti tercermin dari tindakan untuk memperbanyak selir. Tindakan ini mencerminkan dukungan politik dan keagungan serta kekuasaan raja. Oleh karena itu, status perempuan pada zaman kerajaan Mataram adalah sebagai upeti (barang antaran) dan sebagai selir.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perlakuan terhadap perempuan sebagai barang dagangan tidak terbatas hanya di Jawa, kenyataan juga terjadi di seluruh Asia, di mana perbudakan, sistem perhambaan dan pengabdian seumur hidup merupakan hal yang biasa dijumpai dalam sistem feodal. Di Bali misalnya, seorang janda dari kasta rendah tanpa adanya dukungan yang kuat dari keluarga, secara otomatis menjadi milik raja. Jika raja memutuskan tidak mengambil dan memasukkan dalam lingkungan istana, maka dia akan dikirim ke luar kota untuk menjadi pelacur. Sebagian dari penghasilannya harus diserahkan kepada raja secara teratur (ENI, dalam Hull; 1997:3).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari semula, isu tersebut telah menimbulkan banyak dilema bagi penduduk pribumi dan non-pribumi. Dari satu sisi, banyaknya lelaki bujangan yang dibawa pengusaha atau dikirim oleh pemerintah kolonial untuk datang ke Indonesia, telah menyebabkan adanya permintaan pelayanan seks ini. Kondisi tersebut ditunjang pula oleh masyarakat yang menjadikan aktivitas memang tersedia, terutama karena banyak keluarga pribumi yang menjual anak perempuannya untuk mendapatkan imbalan materi dari para pelanggan baru (para lelaki bujangan) tersebut. Pada sisi lain, baik penduduk pribumi maupun masyarakat kolonial menganggap berbahaya mempunyai hubungan antar ras yang tidak menentu. Perkawinan antar ras umumnya ditentang atau dilarang, dan perseliran antar ras juga tidak diperkenankan. Akibatnya hubungan antar ras ini biasanya dilaksanakan secara diam-diam. Dalam hal ini, hubungan gelap (sebagai suami-istri tapi tidak resmi) dan hubungan yang hanya dilandasi dengan motivasi komersil merupakan pilihan yang tersedia bagi para lelaki Eropa. Perilaku kehidupan seperti ini tampaknya tidak mengganggu nilai-nilai sosial pada saat itu dan dibiarkan saja oleh para pemimpin mereka. (Hull; 1997:4).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Situasi pada masa kolonial tersebut membuat sakit hati para perempuan Indonesia, karena telah menempatkan mereka pada posisi yang tidak menguntungkan secara hukum, tidak diterima secara baik dalam masyarakat, dan dirugikan dari segi kesejahteraan individu dan sosial. Maka sekitar tahun 1600-an, pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang keluarga pemeluk agama Kristen mempekerjakan wanita pribumi sebagai pembantu rumah tangga dan melarang setiap orang mengundang perempuan baik-baik untuk berzinah. Peraturan tersebut tidak menjelaskan apa dan mana yang dimaksud dengan perempuan “baik-baik”. Pada tahun 1650, “panti perbaikan perempuan” (house of correction for women) didirikan dengan maksud untuk merehabilitasi para perempuan yang bekerja sebagai pemuas kebutuhan seks orang-orang Eropa dan melindungi mereka dari kecaman masyarakat. Seratus enam belas tahun kemudian, peraturan yang melarang perempuan penghibur memasuki pelabuhan “tanpa izin” menunjukkan kegagalan pelaksanaan rehabilitasi dan juga sifat toleransi komersialisasi seks pada saat itu (ENOI, dalam Hull; 1997:5).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tahun 1852, pemerintah mengeluarkan peraturan baru yang menyetujui komersialisasi industri seks tetapi dengana serangkaian aturan untuk menghindari tindakan kejahatan yang timbul akibat aktivitas prostitusi ini. Kerangka hukum tersebut masih berlaku hingga sekarang. Meskipun istilah-istilah yang digunakan berbeda, tetapi hal itu telah memberikan kontribusi bagi penelaahan industri seks yang berkaitan dengan karakteristik dan dialek yang digunakan saat ini. Apa yang dikenal dengan wanita tuna susila (WTS) sekarang ini, pada waktu itu disebut sebagai “wanita publik” menurut peraturan yang dikeluarkan tahun 1852. Dalam peraturan tersebut, wanita publik diawasi secara langsung dan secara ketat oleh polisi (pasal 2). Semua wanita publik yang terdaftar diwajibkan memiliki kartu kesehatan dan secara rutin (setiap minggu) menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi adanya penyakit syphilis atau penyakit kelamin lainnya (pasal 8, 9, 10, 11).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jika seorang perempuan ternyata berpenyakit kelamin, perempuan tersebut harus segera menghentikan praktiknya dan harus diasingkan dalam suatu lembaga (inrigting voor zieke publieke vrouwen) yang didirikan khusus untuk menangani perempuan berpenyakit tersebut. Untuk memudahkan polisi dalam menangani industri seks, para wanita publik tersebut dianjurkan sedapat mungkin melakukan aktivitasnya di rumah bordil. Sayangnya peraturan perundangan yang dikeluarkan tersebut membingungkan banyak kalangan pelaku di industri seks, termasuk juga membingungkan pemerintah. Untuk itu pada tahun 1858 disusun penjelasan berkaitan dengan peraturan tersebut dengan maksud untuk menegaskan bahwa peraturan tahun 1852 tidak diartikan sebagai pengakuan bordil sebagai lembaga komersil. Sebaliknya rumah pelacuran diidentifikasikan sebagai tempat konsultasi medis untuk membatasi dampak negatif adanya pelacuran. Meskipun perbedaan antara pengakuan dan persetujuan sangat jelas bagi aparat pemerintah, tapi tidak cukup jelas bagi masyarakat umum dan wanita publik itu sendiri. (Hull; 1997:5-6).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dua dekade kemudian tanggung jawab pengawasan rumah bordil dialihkan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Peraturan pemerintah tahun 1852 secara efektif dicabut digantikan dengan peraturan penguasa daerah setempat. Berkaitan dengan aktivitas industri seks ini, penyakit kelamin merupakan persoalan serius yang paling mengkhawatirkan pemerintah daerah. Tetapi terbatasnya tenaga medis dan terbatasnya alternatif cara pencegahan membuat upaya mengurangi penyebaran penyakit tersebut menjadi sia-sia (ENOI dalam Hull; 1997:6).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pengalihan tanggung jawab pengawasan rumah bordil ini menghendaki upaya tertentu agar setiap lingkungan permukiman membuat sendiri peraturan untuk mengendalikan aktivitas prostitusi setempat. Di Surabaya misalnya, pemerintah daerah menetapkan tiga daerah lokalisasi di tiga desa sebagai upaya untuk mengendalikan aktivitas pelacuran dan penyebaran penyakit kelamin. Selain itu, para pelacur dilarang beroperasi di luar lokalisasi tersebut. Semua pelacur di lokalisasi ini terdaftar dan diharuskan mengikuti pemeriksaan kesehatan secara berkala (Ingleson dalam Hull; 1997:6).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tahun 1875, pemerintah Batavia (kini Jakarta), mengeluarkan peraturan berkenaan dengan pemeriksaan kesehatan. Peraturan tersebut menyebutkan, antara lain bahwa para petugas kesehatan bertanggung jawab untuk memeriksa kesehatan para wanita publik. Para petugas kesehatan ini pada peringkat kerja ketiga (tidak setara dengan eselon III zaman sekarang yaitu kepala biro pada organisasi pemerintahan) mempunyai kewajiban untuk mengunjungi dan memeriksa wanita publik pada setiap hari Sabtu pagi. Sedangkan para petugas pada peringkat lebih tinggi (peringkat II) bertanggung jawab untuk mengatur wadah yang diperuntukkan bagi wanita umumnya yang sakit dan perawatan lebih lanjut. Berdasarkan laporan pada umumnya meskipun telah dikeluarkan banyak peraturan, aktivitas pelacuran tetap saja meningkat secara drastis pada abad ke-19, terutama setelah diadakannya pembenahan hukum agraria tahun 1870, di mana pada saat itu perekonomian negara jajahan terbuka bagi para penanam modal swasta (Ingleson dalam Hull; 1997:6).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perluasan areal perkebunan terutama di Jawa Barat, pertumbuhan industri gula di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pendirian perkebunan-perkebunan di Sumatera dan pembangunan jalan raya serta jalur kereta api telah merangsang terjadinya migrasi tenaga kerja laki-laki secara besar-besaran. Sebagian besar dari pekerja tersebut adalah bujangan yang akan menciptakan permintaan terhada aktivitas prostitusi. Selama pembanguna kereta api yang menghubungkan kota-kota di Jawa seperti Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Cilacap, Yogyarakta dan Surabaya tahun 1884, tak hanya aktivitas pelacuran yang timbul untuk melayani para pekerja bangunan di setiap kota yang dilalui kereta api, tapi juga pembangunan tempat-tempat penginapan dan fasilitas lainnya meningkat bersamaan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan konstruksi jalan kereta api. Oleh sebab itu dapat dimengerti mengapa banyak kompleks pelacuran tumbuh di sekitar stasiun kereta api hampir di setiap kota. Contohnya di Bandung, kompleks pelacuran berkembang di beberapa lokasi di sekitar stasiun kereta api termasuk Kebonjeruk, Kebontangkil, Sukamanah, dan Saritem.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hull juga menambahkan, (1997:7) di Yogyakarta, kompleks pelacuran didirikan di daerah Pasarkembang, Balongan, dan Sosrowijayan. Di Surabaya, kawasan pelacuran pertama adalah di dekat Stasiun Semut dan di dekat pelabuhan di daerah Kremil, Tandes, dan Bangunsari. Sebagian besar dari kompleks pelacuran ini masih beroperasi sampai sekarang, meskipun peranan kereta api sebagai angkutan umum telah menurun dan keberadaan tempat-tempat penginapan atau hotel-hotel di sekitar stasiun kereta api juga telah berubah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kasus pembantaian di Kediri diungkap berdasar kesaksian Ibu Yatinah (69 tahun), anak kandung korban bernama Sarman. Peristiwanya terjadi pada 18 September 1948 sewaktu menghadiri rapat pamong di kelurahan, tiba-tiba ia dicegat segerombolan orang. Kemudian, dibawa paksa ke suatu tempat sambil diikat kedua tangannya. Berhari-hari ayahnya tidak pulang, dan ternyata termasuk yang dimasukkan di sumur maut dekat di sini (menunjuk ke luar desa), bersama 108 orang. Sarman tertulis di nomor 48 dalam daftar di monumen tersebut.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perjalanan sejarah ideologi Komunis di dunia telah membuktikan selalu melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Ideologi yang dikembangak Karl Mark, Lenin, Stalin, Mao, telah membanjiri jagat raya dengan darah. Buku Katastrofi Mendunia, Marxisma, Leninisma Stalinisma Maoisma Narkoba yang ditulis Taufiq Ismail, menyebutkan setidaknya 100 juta orang lebih dibantai termasuk di Indonesia oleh rejim Komunis dan orang-orang Partai Komunis di Dunia. Ideologi Komunis selalu pada intinya anti Hak Asasi Manusia, anti Demokrasi, dan anti Tuhan. Sebab itu, menjadi ironi apabila masih banyak ”orang dan kelompok masyarakat” masih menginginkan paham Komunis berkembang di Indonesia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Partai Komunis Indonesia (PKI) memang sudah dibubarkan pada tanggal 12 Maret 1966, namun benarkah PKI sudah mati? Pada masa reformasi pada kenyataannya, para kader PKI dan para simpatisannya berusaha keras memutar-balikan fakta atas segala pelanggaran Hak Asasi Manusia yang telah dilakukan sepanjang sejarahnya di Indonesia. Dengan dalih ”meluruskan sejarah” mereka membanjiri toko-tokoh buku dengan berbagai jenis buku untuk memutarbalikkan fakta sejarah. Tidak hanya itu, para penggiat Komunisme melakukan provokasi melalui media massa cetak, stasiun televisi, internet, film, musik, diskusi-diskusi, tuntutan hukum, politik, dan selebaran-selebaran—yang pada intinya menempatkan orang-orang PKI dan organisasi sayapnya seperti Gerwani, Pemuda Rakyat, LEKRA, CGMNI, BTI, SOBSI, dan lain-lain, sebagai korban. Padahal, sangat jelas sejak berdiri di Indonesia, Partai Komunis Indonesia telah ”membokong” perjuangan Bangsa Indonesia dalam menegakkan Kemerdekaan, Kedaulatan, Kesejahteraan, dan Keadilan Sosial di Republik Indonesia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berkat perlindungan Tuhan Yang Esa dan landasan idiil Pancasila serta UUD 1945, paham Komunis beserta Partai Komunis Indonesia telah gagal total dalam mencengkeramkan kekuasaannya. Tetapi, pada kenyataanya pula perjuangan orang-orang Komunis dan kini beserta kader-kader mudanya, terus-menerus menggerogoti kedamaian Bangsa Indonesia—mengadu-domba, memutarbalikkan fakta sejarah, melakukan instabilitas sosial—dengan berlindung di balik perjuangan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi. Padahal, paham Komunis adalah anti Hak Asasi Manusia, anti Demokrasi, dan anti Tuhan. Mereka selalu berdusta, manipulatif dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tulisan ini berjudul Serigala Berbulu Domba (Sketsa Banjir Darah ala Partai Komunis Indonesia) ini, memang tidak menulis secara panjang lebar mengenai sejarah dan kekejaman komunis di Indonesia. Buku ini hanya menuliskan secara singkat adanya fakta-fakta sejarah atraksi berdarah orang-orang Komunis beserta PKI dalam mencapai tujuan: Kekuasaan. Dengan demikian, kita Bangsa Indonesia yang mengenal adanya Tuhan dan menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidup dan UUD 1945 sebagai dasar Negara, sudah selayaknya tidak menerima paham Komunis dalam segala bentuknya dalam kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada saat ini, dengan dalih demokratisasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) para kader PKI dan simpatisannya tengah berusaha keras memperjuangkan hak-hak perdatanya kepada pemerintah. Dengan tujuan utama, agar mereka ditempatkan sebagai korban bukan sebagai pelaku kejahatan politik. Dengan cara memutarbalikkan fakta dan membuat versi-versi baru berdasarkan rekayasa sebagai korban dan saksi sejarah. Selain mengacaukan fakta sejarah yang sesungguhnya, cara-cara demikian dimaksudkan untuk mendapatkan simpati publik sekaligus mengubah paradigma kesesatan Komunisme menjadi kebenaran Komunisme. Fakta kekejaman PKI disulap menjadi kekejaman TNI dan orang-orang Islam. Mereka secara intensif mensosialisosialisasikan kampanye hitam tersebut melalui media massa cetak, internet, buku-buku, dan selebaran-selebaran yang memprovokasi masyarakat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada saat ini, upaya menyembunyikan fakta sejarah, menyangkut kekejaman PKI terutama pemberontakan Madiun 1948 dan G 30 S PKI terus dilakukan. Sebut saja, misalnya, tempat penguburan hidup-hidup Lubang Buaya dibantah. G 30 S PKI adalah akibat konflik internal TNA AD. Mereka juga gencar mensosialisasikan Soeharto sebagai dalang di balik G 30 S PKI dan dalang pembantaian massal. Sungguh hal tersebut sebagai sebuah fitnah yang keji. Karena, dalang pembantaian tersebut adalah PKI yang memang sudah berhasil menyusupkan kader-kadernya di berbagai bidang pemerintahan, baik di tubuh militer, instansi-instansi pemerintah dan lembaga-lembaga kemasyarakatan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Para kader Komunis memang tidak segan-segan melakukan sosialisasi dengan individu dan kelompok masyarakat yang belum dapat menggapai kesejahteraan dalam kehidupannya. Mereka seolah memperjuangkan hak-hak rakyat, buruh, tani, nelayan dan mempengaruhi mahasiswa bahkan pelajar untuk melakukan demonstrasi. Padahal di balik ”perjuangan kemanusiaan” itu, para kader Komunis melakukan ”cuci otak” dengan mengajarkan Komunisme. Tanpa terasa indoktrinasi ideologi Komunis ditanamkan. Bagi mereka yang tidak menyadari, kemudian ”keblinger” dan ikut-ikut menjadi corong berkumandangnya Komunisme di Indonesia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adalah Semaoen yang menjadi kaki tangan ISDV dan melakukan penyusupan. Akibatnya SI kemudian terbelah menjadi SI ”Merah” pimpinan Semaoen dan SI ”Putih” pimpinan HOS Tjokroaminoto. Tanggal 23 Mei 1920, Semaoen mengumumkan manifesto berdirinya Perserikatan Komunsi Hindia di kantor SI Semarang. Organisasi inilah yang menjadi cikal-bakal Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI pun bergabung dengan partai Komintern (Komunis Internasional). Garis politik yang dianut berdasarkan ajaran Lenin. Yakni : Harus menggunakan petty bourgeoisie dan Menggunakan aspirasi nasional rakyat terjajah (Fadlizon dan H. Alwan Aliuddin dalam Kesaksian Korban Kekejaman PKI 1948, halaman 6)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Yang menarik—dan kini digembar-gemborkan oleh kader-kader Komunis, bahwa PKI juga pernah melakukan perlawanan terhadap Belanda 1926-1927. Pemberontakan di Jawa (Priangan, Solo, Banyumas, Pekalongan, Kedu, Kediri dan Banten) dan Sumatera (Padang, Silungkang dan Padang Panjang), pada kenyataan justru menimbulkan korban pada rakyat. Pemberontakan ini dapat dengan mudah diluluhlantakkan Belanda. Akibatnya, 9 orang digantung, 13.000 orang ditahan dan kemudian sebagian diasingkan di Tanah Merah, Digul.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada tahun 1927, PKI Sumatera Barat terlambat memberontak. PKI sendiri memprovokasi kaum tani yang muslimin. Mereka memang menjadi korban kekejaman Belanda karena harus membayar pajak yang terlampau tinggi. Dari pemberontakan, PKI memang melakukan tipu-muslihat dengan mengeksploitir penderitaan para petani. Sesungguhnya PKI hanya mengumpankan kepada Belanda. Orang-orang PKI mengatakan, apabila memberontak, akan datang kapal terbang Angkatan Udara Turki ditugaskan oleh Kemal Ataturk membantu pemberontakan (Brackman, seperti dikutip Taufiq Ismail dalam Katastrofi Mendunia…., halaman xxvi).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pengkhiatan demi pengkhiatan pun dilakukan. PKI tidak peduli dengan perjuangan Bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan Belanda. Kekejaman PKI terukir dengan nyata, ketika ”membokong” Kemerdekaan RI dengan melakukan pemberontakan PKI/FDR di Madiun pada tanggal 18 September 1948. Pemberontakan yang disertai dengan pembunuhan keji ini dipimpin Muso, yang baru kembali dari Moskow. FDR didirikan oleh Amir Syarifuddin, yang beroposisi dari Kabinet Mohammad Hatta. Kabinet Amir Syarifuddin jatuh setelah adanya Perjanjian Renville. Seperti diketahui Kabinet Hatta adalah kabinet anti Komunis dan berhasil mencegah penyusupan kader-kader PKI di tubuh militer dengan cara melakukan reorganisasi Angkatan Perang Republik Indonesia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kekerasan menjadi ciri khas dalam pelaksanaan rejim Komunis di dunia. Rejim Komunis yang anti Tuhan menggunakan segala cara untuk menumbangkan lawan-lawan politiknya. Simak saja apa yang dikatakan Karl Marx (1818-1883), bila waktu tiba kita tidak akan menutup-nutupi terorisme kita. Kami tidak punya belas kasihan dan kami tidak meminta dari siapa pun rasa belas kasihan. Bila waktunya tiba, kami tidak mencari-cari alasan untuk melaksanakan teror. Cuma ada satu cara untuk memperpendek rasa ngeri mati musuh-musuh itu, dan cara itu adalah teror revolusioner.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Copy paste ajaran Marxisme, Leninisme, Maoisme, dan Komunisme yang gemar memainkan peran sebagai algojo, diusung secara utuh oleh kader-kader Komunis di Indonesia. Gubernur Jawa Timur, Soerjo, yang memiliki peran penting di dalam kancah perang Kemerdekaan di Surabaya, dibantai habis. Kekejaman PKI yang berhasil direkam oleh Maksum, Sunyoto, Agus dan Zainuddin A dalam buku Lubang-lubang Pembantaian Petualangan PKI di Madiun, mengungkapkan, dubur warga Desa Pati dan Wirosari ditusuk bambu runcing dan mayat mereka ditancapkan di tengah-tengah sawah hingga mereka kelihatan seperti pengusir burung pemakan padi. Salah seorang diantaranya wanita—ditusuk kemaluannya sampai tembus ke perut, juga ditancamkan di tengah sawah. Algojo PKI merentangkan tangga membelintang sumur, kemudian Bupati Magetan dibaringkan di atasnya. Ketika telentang terikat itu, algojo menggergaji badannya sampai putus dua, langsung dijatuhkan ke dalam sumur.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Lubang-lubang pembantaian memang menjadi ciri khas pembunuhan massal oleh PKI. Lubang Buaya adalah bukti otentik aksi kejam PKI dengan Gerakan 30 September 1965. Tidak tanggung-tanggung tujuh orang jenderal (Letjen TNI A. Yani, Mayjen TNI Soeprapto, Mayjen TNI M.T. Hardjono, Mayjen TNI S. Parman, Brigjen TNI D.I. Panjaitan, Brigjen TNI Soetodjo Siswomihardjo, dan Lettu Pierre Andries Tendean), dimasukkan ke dalam sumur. Para Gerwani dan Pemuda Rakyat bersorak dan bergembiraria melihat para Jenderal dimasukkan ke dalam sumur di Lubang Buaya di Jakarta Timur.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kini, para anggota PKI, anggota-anggota organisasi sayapnya beramai-ramai membersihkan diri dengan pengakuan-pengakuan palsu : seperti tertera pada buku ”Suara Perempuan Korban Tragedi ’65” yang ditulis Ita F. Nadia dan diterbitkan Galang Press—sebuah penerbit di Yogyakarta. Padahal, bau anyir darah begitu melekat dalam aksi-aksi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh PKI. Para penulis asing pun ikut hiruk-pikuk mencuci ”piring kotor” PKI dengan memanfaatkan bahan-bahan dan pengakuan-pengakuan sepihak dari orang-orang PKI. Apakah mereka telah terbeli oleh organisasi Komunis Internasional atau telah menjadi kaki tangan kekuatan asing yang ingin menghancurkan kembali Republik Indonesia?

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Akankah Komunisme dibiarkan melakukan penyusupan dalam sendi-sendi kehidupan sosial kemasyarakatan? Ingat, Partai Komunis Indonesia dibubarkan pada tanggal 12 Maret 1966. Melalui Ketetapan MPRS XXV Tahun 1966 ajaran Marxisme, Leninisme, dan Komunisme dilarang di Indonesia. Kemudian Undang-undang No 27 Tahun 1999 tentang Keamanan Negara mengukuhkan larangan bagi siapa pun untuk menyebarkan Komunisme dalam segala bentuknya dengan sanksi pidana seberat-beratnya 12 tahun kurungan penjara. Sesungguhnya sanksi hukum tersebut terbilang ringan. Di AS para pemberantok tidak hanya dikurung di dalam penjara, bahkan harus diasingkan dari kehidupan sosial kemasyarakatan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Peristiwa ini setidaknya terjadi dari tanggal 8 Oktober – 9 November 1945. Peristiwa ini terjadi di tengah upaya Bangsa Indonesia mempertahankan Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sejarah mencatat, kelompok Komunis bawah tanah mulai berubah menjadi organisasi massa dan pemuda. Sebut saja Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI). Mereka mulai melakukan aksi penggantian pejabat pemerintah di tiga (3) kabupaten : Karisidenan Pekalongan yang meliputi Brebes, Tegal dan Pemalang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Satu lagi bukti kekejaman Komunis di Indonesia. Peristiwa ini bermula pada tanggal 18 Oktober 1945, Badan Direktorium Dewan Pusat yang dipimpin Ahmad Khairun didampingi tokoh-tokoh bawah tanah Komunis, mengambil alih kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia di Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara. Tidak hanya sampai di situ. Dewan ini pun membentuk laskar-laskar dengan nama Ubel-ubel. Aksi kekerasan dan teror dilakukan. Puncaknya pada tanggal 12 Desember 1945, Laskar Hitam dibawah pimpinan Usman di daerah Mauk, membunuh tokoh nasional Oto Iskandar Dinata.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

PKI di bawah pimpinan Mr. Yoesoef dan Mr. Soeprapto mengadakan konferensi Laskar Merah. Sekitar 3000 anggota Laskar Merah dari Jawa Tengah dan Jawa Timur hadir di Cirebon pada tanggal 12 Februari 1946. Rupanya konferensi hanyalah kedok untuk merebut kekuasaan. Karena, pada kenyataannya Laskar Merah justru melucuti TRI, menguasai gedung-gedung vital seperti stasiun radio dan pelabuhan. Namun, pada tanggal 14 Februari 1946, aksi sepihak Laskar Merah tersebut berhasil digagalkan kembali oleh TRI. Kota Cirebon pun berhasil dikuasai kembali oleh TRI.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 ternyata tidak sepenuhnya bisa diterima oleh sejumlah kerajaan di Sumatera Timur. Kondisi tersebut dimanfaat oleh PKI untuk melakukan aksi sepihak. Inilah yang menimpa Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura. Pada tanggal 3 Maret 1946 terjadi Revolusi Sosial yang dilakukan PKI di Langkat. Secara paksa PKI merebut kekuasaan para pemerintahan kerajaan bahkan membunuh raja-raja dan keluarganya. Tidak hanya membunuh, PKI pun merampas harta benda milik kerajaan. Pada tanggal 9 Maret 1946, PKI dibawah pimpinan Usman Parinduri dan Marwan menyerang Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menggerogoti wibawa pemerintah yang sah adalah sebuah sistem pergerakan yang selalu dilakukan PKI. Sekitar 1.500 pekerja pabrik karung goni dari tujuh perusahaan perkebunan miliki Pemerintah di Delanggu, Klaten melakukan pemogokan pada tanggal 23 Juni 1948. Mereka yang tergabung di dalam Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (SARBUPRI)—organisasi buruh PKI—menuntut kenaikan upah. Tuntutan yang sangat tidak masuk akal, mengingat Republik Indonesia baru saja berdiri. Sementara Belanda masih terus-menerus merongrong Kemerdekaan RI dengan kekuatan senjata maupun diplomasi Internasionalnya. Aksi ini akhirnya berakhir pada tanggal 18 Juli 1948 setelah partai-partai politik mengeluarkan pernyataan menyetujui Progam Nasional.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tampaknya sejak awal Kemerdekaan, PKI memang hendak merebut kekuasaan terhadap pemerintahan yang sah. Berbagai aksi adu-domba dilakukan PKI di wilayah Surakarta, Jawa Tengah. Pada saat peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-3, yang diwarnai dengan pasar malam di Sriwedari, tiba-tiba PKI membakar ruang pameran jawatan pertambangan. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 19 Agustus 1948 tersebut kemudian terbongkar, sebagai kamuflase/kedok dari recana makar yang dilakukan PKI dalam pemberontakan Madiun tanggal 18 September 1948. Aksi pembakaran di Sriwedari tersebut sebagai “pemanasan” untuk pembantaian di Madiun.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Inilah pengkhiatan PKI terhadap kedaulatan RI pada masa pasca Kemerdekaan RI. Pemberontakan yang terjadi pada tanggal 18 September 1948 sampai saat ini berusaha ditutupi oleh orang-orang PKI. Padahal, fakta sejarah sudah membuktikan—di tengah upaya Republik Indonesia mempertahankan Kemerdekaan—PKI justru “membokong” dan mengkhianati perjuangan yang telah dilakukan. Dengan dalih kecewa atas perjanjian Renville, Amir Syarifuddin yang tersingkir posisi dari pemerintahan Presiden Soekarno kemudian membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR). Seperti diketahui, Kabinet Amir Syarifuddin kemudian digantikan oleh Kabinet Hatta yang memang antikomunis. FDR ini beranggotakan Partai Sosialis, PESINDO, Partai Buruh, PKI dan SOBSI.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Atas pemberontakan tersebut kemudian Presiden Soekarno mengeluarkan maklumat pada tanggal 19 September 1948 dengan menyatakan : “Kemarin pagi PKI Muso mengadakan coup, mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun, dan mendirikan di sana satu Pemerintahan Soviet, di bawah pimpinan Muso. Bagimu pilih diantara dua. Iku Muso dengan PKInya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia Merdeka, atau ikut Soekarno-Hatta, yang Isya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia kita, Indonesia yang merdeka, tidak dijajah Negara mana pun jua.” Selanjutnya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyerukan : “Secepat mungkin menghancurkan kaum pemberontak.” Selain itu, Menteri Agama KH Masjkur yang juga tokoh Partai Masyumi menyatakan :”Perebutan kekuasaan oleh Muso di Madiun adalah bertentangan dengan agama dan adalah perbuatan yang hanya mungkin dijalankan oleh musuh Republik.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Wajar apabila akhirnya gembong-gembong PKI dihukum mati. Selain melawan pada saat diminta menyerah, mereka pun telah melakukan kekejaman terhadap masyarakat. Sebagai contoh di Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, KH Soelaiman Zuhdi Affandi digelandang PKI secara keji. Sebelumnya di Pabrik Gula Gorang Gareng puluhan orang tawanan PKI dibunuh secara keji. Selanjutnya, bersama ratusan tawanan lain dibantai. Bahkan, KH Soelaiman Zuhdi Affandi dikubur hidup-hidup di sumur pembantaian Desa Soco pada saat mengambil air wudlu. Pada sumur tersebut ditemukan 108 kerangka jenazah. Kini korban keganasan PKI tersebut dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kota Madiun. Begitulah kalau PKI ingin berkuasa. Karena tidak mengenal Tuhan, maka pembantaian, mengubur manusia hidup-hidup dianggap sebagai cara yang halal.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pasukan PKI menyerang Markas Kepolisian Distrik Ngawen, Kabupaten Blora pada 18 September 1948. Setidaknya 20 orang anggota polisi ditahan. Namun, ada tujuh polisi yang masih muda dipisahkan dari rekan-rekannya. Setelah datang perintah dari Komandan Pasukan PKI Blora, mereka dibantai pada tanggal 20 September 1948. Sementara tujuh polisi muda dieksekusi dengan cara keji. Ditelanjangi kemudian leher mereka dijepit dengan bambu. Dalam kondisi terluka parah, tujuh polisi dibuang ke dalam kakus/jamban (WC) dalam kondisi masih hidup, baru kemudian ditembak mati.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Setelah Madiun direbut kembali oleh TNI, kemudian PKI pada tanggal 30 September 1948 melarikan diri ke Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Dungus. Sebenarnya wilayah tersebut memang dipersiapkan sebagai basis pertahanan PKI. Dalam kondisi terdesak PKI akhirnya membantai hampir semua tawanannya dengan cara keji. Para korban ditemukan dengan kepala terpenggal dan luka tembak. Diantara para korban ada anggota TNI, polisi, pejabat pemerintah, tokoh masyarakat dan ulama. Rangkaian pembunuhan oleh PKI masih dilanjutkan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ini tragedi berdarah di Wonogiri, Jawa Tengah. Aksi yang dilakukan adalah dengan menculik lawan-lawan politiknya. Pejabat pemerintahan, TNI, polisi, dan wedana menjadi santapan empuk PKI. Di sebuah ruangan bekas laboratorium dan gudang dinamit di Tirtomoyo, PKI menyekap sedikitnya 212 orang—terdiri dari para pejabat dan masyarakat yang melawan partai berideologi Komunis tersebut. Aksi pembantaian dilakukan sejak tanggal 4 Oktober 1948. Satu-persatu dan juga bersama-sama, akhirnya 212 tawanan dibantai dengan keji.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Terbukti aksi kekerasan masih terus dilakukan. Pada tanggal 6 Agustus 1951 malam, Gerobolan Eteh (PKI) dengan kekuatan puluhan orang menggunakan senjata tajam dan senjata api melakukan aksi di Tanung Priok. Mereka menyerang Asrama Mobile Brigade Polisi dengan tujuan merebut senjata. Awal mulanya, seorang anggota Gerombolan Eteh seolah-olah ingin menjenguk rekannya di Markas. Namun, secara tiba-tiba anggota yang lain menyerang pos jaga asrama. Dalam aksi tersebut Gerombolan Eteh berhasil merampas 1 senjata bren, 7 karaben, dan 2 pistol.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tindakan brutal dilakukan BTI dengan memprovokasi para petani di perkebunan tembakau di desa Perdamaian, Tanjung Morawa pada tanggal 16 Maret 1953. BTI adalah salah satu underbouw PKI yang memang menggarap petani sebagai pendudukung kekuatan massanya. Pada saat itu, Pemerintahan RI Karisedenan Sumatera Timur merencanakan membuat sawah percontohan, namun ditentang oleh para penggarap liar. Dengan dikawal pasukan polisi, lahan perkebunan tersebut terpaksa dibuldozer. Menentang rencana tersebut BTI mengerahkan massa untuk melakukan perlawanan kepada polisi dan aparat pemerintah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kisah tentang DN Aidit pun berlanjut. Sekretaris Jenderal Polit Biro CC PKI mengeluarkan Statemen Polit Biro CC PKI, yang intinya meminta agar Pemberontakan Madiun di peringati secara intern pada tanggal 13 September 1953. Dalam pernyataannya, secara licik PKI membantah Pemberontakan Madiun bukan dilakukan oleh PKI, tetapi akibat provokasi Pemerintah Hatta. Tindakan tegas pemerintah dilakukan kepada DN Aidit dengan mengadilinya pada 25 November 1954. Kemudian vonis dijatuhkan pada tanggal 25 Februari 1955 dan DN Aidit dinyatakan bersalah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

PKI tidak hanya memfokuskan diri pada bidang politik untuk membangun kekuatannya. Para sastrawan, seniman dan budayawan juga direkrut. Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) memasukkan komunisme ke dalam seni dan sastra. Mempolitikkan budayawan dan mendiskreditkan lawan. Pada tanggal 22 sampai 25 Maret 1963, LEKRA menyelenggarakan Konferensi Nasional I Lembaga Sastra Indonesia di Medan. Konferensi tidak hanya membahas masuknya Komunisme di bidang sastra, juga menuntut dibentuknya Kabinet Gotong Royong yang memungkinkan masuknya tokoh-tokoh PKI di dalamnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Salah satu petinggi Lekra adalah Pramudya Ananta Toer. Pram juga dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Lembar Kebudayaan Lentera dari koran Bintang Timur. Koran inilah yang menuding Hamka sebagai plagiator dengan berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijk. Tekanan politik terhadap karya-karya non Komunis dilakukan oleh Lekra. Menghadapi gerakan Lekra para sastrawan seperti HB Jassin, Taufiq Ismail, Trisno Sumardjo, Wiratmo Soekito, Zaini, Bokor Hutasoit, Goenawan Mohammad, Bur Rasuanto, A Bastari Asnin, Soe Hok Djin (Arief Budiman), Ras Siregar, D.S. Moeljanto, Sjahwil, dam Djufri Tanissan merumuskan Manifes Kebudayaan untuk melawan Manifes Politik yang dikeluarkan Lekra. Tetapi, dengan kekuatan politik di tangan Presiden Soekarno pada saat itu (8 Mei 1964), Manifes Kebudayaan akhirnya dilarang melakukan aktivitas.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sejarah ini menunjukkan PKI memang brutal. Mereka pada tanggal 14 Mei 1965 melakukan aksi sepihak yakni dengan menguasai secara tidak sah tanah-tanah miliki Negara. Pemuda Rakyat, BTI, dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) melakukan penanaman secara liar di areal lahan milik Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Karet IX Bandar Betsi. Sekitar 200 massa ikut serta dalam aksi tersebut. Pelda Sudjono yang sedang ditugaskan di perkebunan secara kebetulan menyaksikan perilaku anggota PKI tersebut. Sudjono pun memberi peringatan agar aksi dihentikan. Anggota PKI bukannya pergi, justru berbalik menyerang dan menyiksa Sudjono. Akibatnya Sudjono tewas dengan kondisi yang amat menyedihkan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sejarah berdarah kembali ditorehkan oleh PKI di Indonesia. Dengan menamakan diri Gerakan 30 September 1965, mereka menghabisi tujuh orang Letjen TNI A. Yani, Mayjen TNI Soeprapto, Mayjen TNI M.T. Hardjono, Mayjen TNI S. Parman, Brigjen TNI D.I. Panjaitan, Brigjen TNI Soetodjo Siswomihardjo, dan Lettu Pierre Andries Tendean. Jenderal A.H. Nasution yang sudah masuk dalam daftar pembantaian ternyata bisa meloloskan diri. Hanya Ade Irma Nasution menjadi korban aksi keji pasukan PKI. Menjadi fakta sejarah, para korban keganasan PKI tersebut dilemparkan ke dalam sumur di Lubang Buaya. Sementara Mayjen Soeharto sebagai Pangkstrad tidak diperhitungkan oleh PKI, sehingga tidak ikut dihabisi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

ABRI/TNI memang menjadi sasaran utama penyusupan PKI. Melalui Biro Khusus Central, PKI mempengaruhi anggota TNI agar berpihak kepada mereka. Biro Khusus ini di bawah kendali langsung DN Aidit. Oleh PKI, para anggota ABRI yang berhasil dijaring disebut sebagai “perwira-perwira yang berpikiran maju.” Mereka yang tercatat sebagai pendukung PKI antara lain : Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, Brigjen TNI Soepardjo, Kolonel Inf. A Latief, Letnan Kolonel Untung, Mayor KKO Pramuko Sudarmo, Letkol Laut Ranu Sunardi, Komodor Laut Soenardi, Letkol Udara Heru Atmodjo, Mayor Udara Sujono, Men/Pangau Laksdya Udara Omar Dhani, Brigjen Pol. Soetarto, Komisaris Besar Polisi Imam Supoyo, Ajun Komisaris Besar Polisi Anwas Tanuamidjaja, dan lain-lain

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pembantaian terhadap petinggi militer yang oleh PKI dimaksudkan untuk merebut kekuasaan dari Presiden Soekarno yang dikabarkan tengah menderita sakit. Namun, gerakan ini mengalami kegagalan total, karena tidak mendapat dukungan dari rakyat. Dalam buku Soekarno File (karya Antonie Dake) dan Kudeta 1 Oktober 1965 Sebuah Studi tentang Konspirasi (karya Victor M Fic) menyebutkan adanya dorongan dari Mao Tse Tung (Ketua Partai Komunis Cina) yang bertemu dengan DN Aidit tanggal 5 Agustus 1965, agar dilakukan pembunuhan terhadap Pimpinan TNI AD, karena Mao khawatir apabila Presiden Soekarno meninggal, maka kekuasaan akan beralih kepada TNI Angkatan Darat yang kontra terhadap PKI. Bahkan, kedua buku tersebut menyebutkan keterlibatan Presiden Soekarno dalam pemberontakan G 30 S PKI.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada saat HUT PKI-45 tanggal 23 Mei 1965 di Stadion Utama Senayan, DN Aidit menyerukan massa PKI meningkatkan ofensif revolusioner sampai ke puncak. Seruan ini dirangkai pula dengan seruan pada tanggal 9 September 1965, “kita berjuang untuk sesuatu yang akan lahir. Kita kaum revolusioner adalah bagaikan bidan daripada bayi masyarakat baru itu. Sang bayi lahir, dan kita kaum revolusioner menjaga supaya lahirnya baik dan sang bayi cepat besar.” Seruan-seruan DN Aidit tentu saja menjadi pemompa bagi kader-kader PKI di banyak daerah untuk melakukan aksi sepihak.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Rangkaian perjalanan sejarah PKI sejak sebelum Kemerdekaan, setelah Kemerdekaan dan Reformasi tetap konsisten mengusung ideologi kekerasan. Ajaran dedengkot Komunis Internasional memang sudah dicangkokkan sebagai inspirasi para kader Komunis untuk merebut kekuasaan di mana pun mereka bisa tumbuh. Indonesia yang dikenal memiliki nilai-nilai keagamaan yang kukuh tentu saja tidak bisa menerima kehadiran paham Komunis dalam segala bentuknya. Itulah mengapa, Pancasila kemudian menjadi pilihan Negara dan Bangsa Indonesia, sebagai sebuah paham yang menjadi inspirasi dalam pembangunan Nasional—baik pembangunan spiritual maupun material.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dan, kini para kader Komunis sedang gencar-gencarnya mengubah sejarah kekejaman mereka menjadi sejarah penindasan terhadap diri mereka. Inilah upaya yang dilakukan untuk menarik simpati dengan menampilkan wajah humanisme. Padahal, telah menjadi fakta sejarah, PKI adalah pelaku kejahatan terhadap Bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sungguh-sungguh licik. Padahal, tokoh-tokoh elit PKI sendiri sudah mengakui, kalau PKI-lah yang berada di balik Gerakan 30 September 1965 sehingga menyebabkan pertumpahan darah anak-anak bangsa. Upaya menghapus jejak kekejaman PKI antara lain dilakukan dengan menghapuskan Pemberontakan PKI tahun 1948 di Madiun dan menghilangkan kata PKI dari Gerakan 30 September 1965 di dalam buku pelajaran IPS/Sejarah Kurikulum 2004 dari tingkat SD sampai dengan SMA. Tetapi, cara licik kader Komunis terbongkar dan akhirnya Kejaksaan Agung pada bulan Mei 2007 melarang buku-buku tanpa menyebut PKI digunakan di sekolah dan harus dimusnahkan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bersama ini kami sampaikan laporan perkembangan HIV-AIDS di Indonesia, Triwulan III Tahun 2014. Data HIV-AIDS Triwulan III 2014 yang disajikan adalah bersumber dari Sistem Informasi HIV-AIDS & IMS (SIHA). Sejak periode Juli-September 2012 terjadi perubahan dan perkembangan data dalam laporan pasca Kegiatan Validasi dan Harmonisasi Data bersama seluruh provinsi di Indonesia bulan Mei 2012. Hal ini dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas laporan. Laporan tahun 2012 dan sebelumnya adalah benar-benar kasus ditemukan pada tahun yang bersangkutan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

10 Negara Penderita Aids Tertinggi Terbesar or 10 negara penderita hiv aids Terbesar di dunia,5 Negara dengan jumlah pengidap hiv aids di dunia. Inilah negara dengan penderita HIV AIDS terbanyak di dunia Pada tahun 2011 lalu, ada sekitar 35 juta orang yang terinfeksi oleh virus dan epidemi HIV. Benua Afrika memiliki jumlah tertinggi sebagai akibat tingkat kemiskinan yang tinggi, sehingga akses ke perawatan kesehatan sangat minim. Banyak negara yang sangat minim jumlah lembaga yang memantau penyebaran HIV. Berikut adalah daftar 10 negara dengan infeksi virus HIV tertinggi 10 Negara Penderita HIV Aids Terbesar baca yah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Studi itu juga menyoroti perbedaan lain dalam kebiasaan beragama yang tidak berhubungan dengan batas-batas negara. Para penulis survei itu menemukan bahwa orang yang berusia lebih muda dari 34 tahun cenderung lebih religius ketimbang responden yang lebih tua. Hal itu sangat mengejutkan dari perspektif AS. Di negara tersebut terjadi peningkatan terhadap jumlah warga lebih muda yang tidak mengidentifikasi diri dengan satu agama sama sekali. Pada warga AS yang lebih tua, yang terjadi adalah sebaliknya, mereka cenderung lebih religius.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Buku Hitam Komunisme: Kejahatan, Teror, Penindasan, diterbitkan oleh Harvard University Press, adalah karya sebelas ulama yang memicu badai kontinental ketika pertama menghantam toko buku di Perancis pada tahun 1997 Para penulis memperkirakan korban tewas di tangan. pemerintah Komunis (termasuk perang) pada 100 juta orang. Negara per negara, kematian oleh negara di Cina berdiri di 65 juta, di Uni Soviet 20 juta, Vietnam 1 juta, Korea Utara 2 juta, Kamboja 2 juta, Eropa Timur 1 juta, Amerika Latin 150.000, Afrika 1,7 juta, dan Afghanistan 1,5 juta. Selain itu, gerakan Komunis internasional membunuh sekitar 10.000 orang di seluruh dunia. “ (Author’s emphasis).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

1. pemimpin Komunis termotivasi oleh keinginan yang kuat untuk memaksakan sebuah “paket” ideologi ke seluruh dunia. Paket ini termasuk pemberantasan Agama, didefinisikan oleh, Karl Marx, sebagai “Agama adalah candu bagi rakyat.”Menurut Marx, agama membantu menjaga massa pasif sebelum penyalahgunaan kaya dan kuat, dan satu-satunya cara untuk membebaskan mereka dari “mabuk,” Allah dan agama harus diberantas.Lenin memeluk pandangan Marx dan begitu juga Stalin sampai perang Dunia Kedua. Penegakan Atheisme adalah “kritis” persyaratan untuk sukses Komunisme, dan dengan demikian harus diimplementasikan di semua biaya ini langkah-langkah penindasan dimaksudkan, seperti pencucian otak di sekolah-sekolah negeri, penutupan rumah ibadah dan menangkapi para pemimpin agama yang tak terhitung jumlahnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

2. Pengikut ekstremis Karl Marx tidak dengan cara apapun terhambat dalam -haus darah upaya global mereka dengan takut Kekuatan TinggiAteisme merawat sangat efisien ini “faktor pembatas.”.Sejak akhir membenarkan cara, seperti Machiavelli telah diperintahkan, mereka bisa melakukan apa pun yang diperlukan untuk membawa tentang surga. Karena oposisi di beberapa kasus terbukti menjadi kuat dan ulet, berarti drastis digunakan. Jumlah besar dibunuh karena menolak untuk meninggalkan keyakinan agama mereka. Banyak sekali dikirim ke kamp konsentrasi. (Untuk, mencerahkan penindasan Agama dan “musuh” lain komunisme ateistik-di Rusia,

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

4. Orang-orang seperti Stalin tertarik dalam menyebarkan ideologi, tidak melihatada yang dianiaya di Uni Soviet karena tidak memiliki kumis seperti Stalin,.Atau untuk tidak mengenakan seragam mirip, atau karena tidak menyukai makanan musik, sama atau olahragaSejumlah besar. dianiaya dan dibunuh untuk menjalankan agama, dan karena gangguan untuk ekspansi ateis-komunis.Sekarang beberapa jawaban akan bahwa Stalin telah berubah pikiran selama perang Dunia Kedua dan bahwa ia mengakui dan peningkatan baru Gereja Ortodoks Rusia. Ini adalah pernyataan historis yang benar, tetapi sama sekali tidak tidak menunjukkan bahwa Stalin bergerak menuju teisme. Langkah ketat utilitarian Steven Merritt Minerdalam karyanya. Stalin Perang Sucimemberitahu kita bahwa Stalin memiliki motif-motif tersembunyi di balik geraknya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kebijakan agama Moskow saat ini hanya dapat dipahami dalam konteks pertimbangan keamanan Soviet, terutama kekhawatiran Moskow tentang ketidaksenangan kebangsaan non-Rusia Kremlin melihat gereja tidak hanya,. Dan mungkin tidak bahkan terutama, sebagai alat untuk memobilisasi dan memanfaatkan seluruh serikat Rusia, melainkan sebagai salah satu dari beberapa instrumen untuk melawan dan melucuti non-Rusia, dan anti-Soviet, nasionalisme. Sebagai kaisar yang paling bisa memberitahu Stalin, Gereja Ortodoks Rusia adalah agen efektif untuk Russification dari bagian barat daerah beragam etnis dan perdebatan

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ateisme militan, karena itu, merupakan faktor utama dalam pembunuhan jutaan yang tak terhitung, selama abad terakhir. Sayangnya, atheisme militan, masih didorong oleh beberapa pandangan ekstremis yang sama mengingatkan ateis-komunis rezim lama.Mereka, seperti para pendahulunya, jangan ragu untuk mengakui bahwa mereka membenci Tuhan, agama dan bahwa mereka ingin melihat kedua menghilang selamanya.Selain itu, mereka didorong oleh kebencian terhadap janin, dan dukungan membabi-buta untuk hukum yang hidup, amoralitas seksual, euthanasia, dll

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kejahatan ateisme umumnya dilakukan melalui ideologi hubristic yang melihat manusia, bukan Allah, sebagai pencipta nilai. Menggunakan teknik terbaru ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia berusaha untuk menggantikan Allah dan menciptakan utopia sekuler di bumi. Tentu saja jika beberapa orang – orang Yahudi, pemilik tanah, tidak layak, atau cacat – harus dihilangkan untuk mencapai utopia ini, ini adalah harga tiran ateis dan apologis mereka telah menunjukkan diri mereka sangat bersedia untuk membayar. Jadi mereka mengkonfirmasi kebenaran diktum Fyodor Dostoyevsky.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Hasil penelusuran Genam hingga 2012 lalu, dari 505 kabupaten/kota yang ada di Indonesia, hanya sekitar 15 wilayah yang memiliki perda antimiras. Saya ambil contoh betapa efektifnya perda antimiras ini bisa mengatur dan melindungi remaja di daerah seperti di Manokwari. Perda antimiras yang kini berlaku di Manokwari, Papua, bisa menjadi acuan. Lewat Perda No 5 Tahun 2006, pemerintah Manokwari melarang semua jenis miras, termasuk miras tradisional dan racikan yang kini tengah menjadi tren di kalangan pengomsumsi,” katanya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menyadari dampak negatif miras yang sudah sangat mengkhawtirkan, Genam menyatukan visi dan tujuan mulia membebaskan anak-anak muda dan remaja Indonesia, dari peredaran bebas dan penggunaan ilegal minuman keras. Genam hadir sebagai gerakan sosial untuk mengontrol penjualan miras dan minol di masyarakat khususnya kepada anak dan remaja yang berusia di bawah 21 tahun. Sebagai salah satu langkah mewujudkan visi tersebut, lanjut Fahira, kemarin, Minggu (1/9) Genam menyelenggarakan kegiatan deklarasi Gerakan Moral Anti Miras di Bundaran Hotel Indonesia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bela menambahkan, selain tindak kriminalitas tersebut, minuman keras juga berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan lalu lintas di daerah itu. “Sekitar 15 persen kecelakaan lalu lintas akibat pengaruh minuman keras,” katanya. Menurut Bela, dengan mengonsumsi minuman keras, perilaku orang tersebut mengalami perubahan. Ketika mabuk, misalnya, orang tersebut tidak mampu mengendalikan diri sehingga melakukan hal-hal yang berlawanan dengan hukum. “Selain itu, minuman keras juga sebagai alat memunculkan keberanian diri,” katanya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kemendagri beralasan pencabutan perda-perda miras itu karena menyalahi aturan yang lebih tinggi, yaitu Keppres No. 3 Tahun 1997 tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol. Sejak perda dinyatakan batal maka dalam waktu paling lama 15 hari harus dicabut dan tak diberlakukan. Seperti diberitakan pikiran-rakyat.com (31/11/11), melalui surat nomor: 188.34/4561/SJ tertanggal 16 November 2011, Mendagri meminta perda miras kabupaten Indramayu segera dicabut dalam waktu 15 hari sejak 16 November.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Alasan bertentangan dengan Keppres No. 3 Tahun 1997 itu terkesan dipaksakan. Keppres itu dikeluarkan pada era orde baru yang sarat masalah. Mestinya Keppres bermasalah itu yang harus dicabut. Sebab Keppres itulah yang justru menjadi biang kerok maraknya peredaran miras di tengah masyarakat. Apalagi adanya Keppres ini berarti menghalalkan perkara yang jelas-jelas diharamkan Allah SWT. Lebih tinggi mana hukum Allah SWT dibanding keputusan presiden? Mana yang lebih baik, hukum Allah SWT atau hukum jahiliyah yang bersumber dari hawa nafsu manusia yang rakus?

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Aroma kuatnya pengaruh bisnis miras pun menyeruak. Sudah lama para pengusaha miras mengeluhkan kesulitan memasarkan produk mereka karena adanya perda pelarangan miras dan menambah jumlah produksi miras akibat pembatasan produksi. Padahal Indonesia dianggap pangsa pasar miras potensial. Menurut catatan Gabungan Industri Minuman Malt Indonesia (GIMMI) orang Indonesia mengkonsumsi 100 juta liter bir pertahun. Jumlah konsumen minuman keras domestik terus meningkat 3-4 % pertahun, belum lagi dengan bertambahnya kunjungan wisatawan asing. Maka pengusaha miras ingin agar pembatasan miras dilonggarkan dan kuota produksinya ditambah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pencabutan perda miras ini menambah keberpihakan pemerintah pada bisnis haram ini. Dua tahun silam pemerintah sudah menetapkan miras terbebas dari Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN dan PPnBM). Hal ini menunjukkan lagi-lagi pemerintah lebih memikirkan kepentingan segelintir pengusaha bejad yang hanya memikirkan uang, dibanding keselamatan dan moralitas masyarakat. Padahal semuanya sudah tahu dan terbukti, miras pangkal berbagai macam kejahatan. Baru-baru ini, seorang ibu diperkosa di sebuah angkot di Depok, dan pelakunya diberitakan dalam keadaan mabuk. Kejahatan seperti ini sering terjadi. Polres Minahasa Utara mencatat, dari 969 kasus kejahatan dan KDRT sepanjang 2011 di wilayahnya dipicu oleh minuman keras (TRIBUNMANADO.CO.ID, 5/1/2012).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Polda Sulawesi Utara juga melaporkan sekitar 70 % tindak kriminalitas umum di Sulawesi Utara terjadi akibat mabuk setelah mengonsumsi miras. Kabid Humas Polda Sulut Ajun Komisaris Besar Benny Bela di Manado mengatakan, masih tingginya tindak kriminalitas di daerah itu disebabkan oleh minuman keras. Diperkirakan 65-70 % tindak kriminalitas umum di daerah itu akibat mabuk minuman keras. Selain itu sekitar 15 persen kecelakaan lalu lintas juga akibat pengaruh minuman keras. (lihat, kompas.com, 21/1/2011).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Apalagi, perda-perda itu sebelumnya sudah dikonsultasikan ke tingkat provinsi dan bahkan ke Kemendagri dan dinilai tidak masalah. Perda anti miras itu didukung dan diterima oleh masyarakat. Perda itu juga dihasilkan melalui proses demokratis dan disetujui oleh DPRD setempat. Sekali lagi, pencabutan perda miras ini makin menunjukkan keanehan demokrasi. Kalau benar-benar memperhatikan suara rakyat seharusnya perda miras yang dihasilkan secara demokratis itu diterima. Kenapa malah ditolak dan dianggap tidak demokratis?

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah . Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya. Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong. Sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan tersebut juga umumnya disertai pesan kesehatan yang memperingatkan perokok akan bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-paru atau serangan jantung (walaupun pada kenyataannya itu hanya tinggal hiasan, jarang sekali dipatuhi).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tembakau dapat mengubah lendir serviks menjadi “pembunuh” sperma yang otomatis memerkecil kemungkinan terjadinya pembuahan. Dr. Hadi juga menambahkan fakta bahwa merokok membuat susah ovulasi. Tidak heran jika angka perempuan perokok yang memakai metode IVF (in vitro fertilization) atau bayi tabung dua kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak merokok. Selain mengganggu kesehatan ovum, nikotin juga mengganggu metabolisme tubuh. Faktor oksigensinasi ketika Anda merokok saat hamil juga berpengaruh ke janin. Distribusi oksigen ke janin akan menurun karena zat pengantaranya harus mengikat nikotin dan karbon monoksida sehingga pertumbuhan janin terhambat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jika pasangan Anda perokok kesempatan untuk hamil menjadi lebih rendah. Selain ovum berkualitas, agar dapat hamil, dibutuhkan juga sperma yang berkualitas atau yang sering disebut dengan good looking sperm. “Para perkok umumnya memiliki sperma yang kurang baik sehingga ejakulasi yang kut saja tidak cukup untuk membuahi ovum. Dan Indonesia termasuk negara yang permisif terhadap rokok. Kita mudah menemukan pasangan yang keduanya adalah perokok. Tak heran jika Dr. Hadi bilang, sekitar 15 persen populasi pasangan di Indonesia adalah pasangan yang sulit hamil.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jika digabungkan antara perokok kalangan anak+remaja+dewasa, maka jumlah perokok Indonesia sekitar 27.6%. Artinya, setiap 4 orang Indonesia, terdapat seorang perokok. Angka persentase ini jauh lebih besar daripada Amerika saat ini yakni hanya sekitar 19% atau hanya ada seorang perokok dari tiap 5 orang Amerika. Perlu diketahui bahwa pada tahun 1965, jumlah perokok Amerika Serikat adalah 42% dari penduduknya. Melalui program edukasi dan meningkatkan kesadaran untuk hidup sehat tanpa rokok (+pelarangan iklan rokok di TV dan radio nasional), selama 40 tahun lebih Amerika berhasil mengurangi jumlah perokok dari 42% hingga kurang dari 20% di tahun 2008 ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di setiap kemasan rokok, kita pernah membaca peringatan keras akan dampak merokok yakni “Merokok dapat menyebabkan Kanker, serangan Jantung, Impotensi dan gangguan Kehamilan dan Janin“. WHO pun mengingatkan bahwa rokok merupakan salah satu pembunuh paling berbahaya di dunia. Pada tahun 2008, lebiih 5 juta orang mati karena penyakit yang disebabkan rokok. Ini berarti setiap 1 menit tidak kurang 9 orang meninggal akibat racun pada rokok. Angka kematian oleh rokok ini jauh lebih besar dari total kematian manusia akibat HIV/AIDS, + tubercolis + malaria + flu burung.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam hal ini, tindakan merokok merupakan tindakan merusak kesehatan sendiri, begitu juga tabungan dan penghasilan kita. Menghirup racun rokok secara kontinyu, tidaklah jauh berbeda dengan menghirup bakteri-bakteri penyakit. Ekstimnya, tindakan merokok hampir serupa dengan menghirup flu babi, yakni “mencari penyakit yang akan membawa kematian lebih tragis“. Dan jika tidak ada pencegahan yang serius dalam menghambat pertumbuhan rokok, maka setidaknya 8 juta orang akan meninggal akibat rokok pada tahun 2030. Dan abad 21 ini, akan ada 1 miliar orang meninggal akibat penyakit disebabkan rokok andai saja tidak ada usaha mencegah pertumbuhan rokok.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Apalagi yang lebih aman selain merampok uang atau sekedar data penting seperti password lewat internet? Selain, wajah yang tidak terdeteksi, para perampok dunia maya dapat dengan mudah menghilang tanpa meninggalkan identitas apapun. Sejak mulai tersebar luas sejak tahun 1980an, terdapat kasus kasus perampokan internet yang paling menggemparkan sekaligus paling sukses yang tercatat hingga sampai saat ini. Para hacker tidak hanya mencuri data penting saja, namun juga uang yang jumlahnya mencapai triliunan rupiah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kembali ke tahun 2004, terdapat kasus yang tak kalah menggemparkan yang berhubungan dengan kasus pencurian bank via internet. Saat itu korbannya adalah bank asal Jepang bernama Sumitomo Mitsui. Pencurian uang bank Mitsui tidak dilakukan di Jepang melainkan lewat bank cabangnya di London, Inggris. Sekelompok hacker dilaporkan berhasil mencuri uang dengan jumlah besar, hingga USD 420 juta atau Rp 5 triliun! Mereka berhasil menembus sistem keamanan bank Mitsui dengan menggunakan sebuah spyware bernama keyloggers.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pencurian dan perampokan terhadap sebuah institusi misalnya seperti bank atau museum dan dengan hasil jarahan yang banyak, dalam bahasa Inggris diartikan sebagai Heist . Seperti yang kita tonton dalam beberapa film yang melakukan perampokan dengan jalan yang sangat mustahil dilakukan. Pencurian semacam ini tentu saja memerlukan rencana yang matang. Tapi sahabat anehdidunia.com ternyata kasus pencurian itu tidak hanya terjadi di film. Di dunia ini juga pernah terjadi pencurian yang menghilangkan dana dengan nominal yang fantastis. Berikut Perampokan dan pencurian terbesar yang pernah terjadi di dunia versi anehdidunia.com

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sekelompok orang menyandera dua keluarga dengan menyamar sebagai anggota polisi pada tanggal 19 Desember 2004. Kedua keluarga tersebut adalah keluarga Chris Ward dan keluarga Kevin McMullan, keduanya adalah pejabat di Northern Bank, Belfast. Chris Ward kemudian dibawa ke rumah McMullan sedangkan keluarganya tetap di rumah bersama para penyandera. Keesokan harinya, kedua orang itu disuruh untuk masuk kerja seperti biasa hingga jam kerja berakhir. Ketika semua karyawan sudah pulang ke rumah masing-masing, dua pejabat bank ini karena khawatir keselamatan keluarganya yang disandera, kemudian disuruh membuka brankas dan para pencuri dengan bebas menguras isinya. Kerugian yang diakibatkan oleh pencurian itu diperkirakan mencapai 50 juta dollar, sementara hingga kini polisi belum berhasil menangkap para pelakunya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

The Great Train Robbery adalah nama yang diberikan untuk sebuah perampokan kereta pada tanggal 8 Agustus 1963 di Bridego Railway Bridge, Ledburn dekat Mentmore di Buckinghamshire, Inggris. Sebuah kelompok dengan jumlah 15 orang, mencuri uang senilai 2,3 juta Poundsterling yang setara dengan 40 Juta Poundsterling (74 juta dollar) sekarang. Sahabat anehdidunia.com perampokan dimulai dengan melumpuhkan masinis Jack Mills dengan memukulnya di bagian kepala dengan pipa besi. 13 dari anggota kelompok berhasil ditangkap setelah polisi menemukan sidik jari di kediaman mereka di Leatherslade Farm, dekat Oakley, Buckinghamshire.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada tanggal 25 Pebruari 2005, dua orang tak dikenal merampok sebuah mobil van yang sedang mengangkut berlian di terminal kargo Bandara Schiphol. Dua orang pelaku berhasil masuk ke terminal kargo dengan cara menyamar sebagai karyawan maskapai KLM. Meskipun kerugian dari pencurian berlian itu tidak pernah dipublikasikan, namun diperkirakan harga berlian yang hilang tidak kurang dari 75 juta euro. Jika perkiraan itu benar, maka ini adalah pencurian berlian terbesar dalam sejarah. Hingga kini, para pelaku pencurian ini belum tertangkap.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada tanggal 16 Pebruari 2003 sekelompok pencuri melakukan aksi jenius dalam membobol sebuah pusat perdagangan berlian di Antwerp. Padahal tempat yang terkenal sebagai pusat perdagangan berlian nomor satu di dunia ini keamanannya dikenal sangat ketat. Penjaga berpatroli selama 24 jam penuh dengan kamera CCTV terpasang di mana-mana. Hebatnya sahabat anehdidunia.com, pencurian yang berhasil menggasak berlian beserta surat resminya seharga lebih dari 100 juta dollar ini baru diketahui keesokan harinya. Polisi sempat kesulitan menangkap pelakunya karena tidak ada satupun kamera CCTV yang berhasil merekam aksi para pencuri. Hingga akhirnya identitas salah seorang pelaku bisa dilacak berkat sepotong sisa sandwich di sebuah mobil curian yang ditinggalkan di pinggir kota.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perampokan ini terjadi pada tahun 2008 ketika empat orang menyerbu salah satu toko perhiasan paling eksklusif di Paris dan membawa kabur berlian senilai $ 108 juta. Para pria menyamar sebagai perempuan dan dipersenjatai dengan Magnum .357 dan sebuah granat tangan. Mereka dengan cepat menggiring para karyawan dan pelanggan ke sudut dan mulai memecahkan kaca pajangan. Setelah mengisi koper dengan berlian, mereka kemudian melarikan diri. Tak seorang pun dari pelaku perampokan ini pernah ditangkap dan polisi mencurigai bahwa pelaku perampokan yang dijuluki “The Panther Pink”, merupakan bagian dari organisasi kriminal dari mafia Yugoslavia yang juga bertanggung jawab untuk sejumlah perampokan perhiasan lainnya. Sampai saat ini, hadiah dolar $ 1 juta akan dihadiahkan bagi orang yang dapat memberikan informasi para pelaku perampokan ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dianggap sebagai salah satu perampokan terbesar dalam sejarah Inggris dengan total jumlah uang yang diambil sebesar $ 300 juta, perampokan ini terjadi di Bank Sumitomo di London pada bulan September 2007. Namun perampokan ini akhirnya gagal setelah hacker tidak bisa melakukan transfer uang secara internasional. Setelah 23 kali gagal selama dua hari untuk mentransfer uang, akhirnya terungkap bahwa 2 pria Belgia dan kepala keamanan bank merupakan biang keladi perampokan tersebut. Sahabat anehdidunia.com kepala keamanan bank, Kevin O ‘Donoghue, 34 tahun, kemudian menjelaskan bahwa ia setuju untuk melakukan upaya pencurian setelah karena keluarganya terancam. Rencananya hampir berhasil setelah hacker menggunakan memory stick USB untuk menginstal software “key-logger” pada komputer pekerja bank untuk mendapatkan username dan password dari akun bank. Setelah mencoba berbagai cara untuk mentransfer uang, yang semuanya gagal, ketiga orang tersebut akhirnya terlacak dan kemudian diadili.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perampokan bank yang paling besar di abad 21 berdasarkan jumlah uang yang dicuri adalah perampokan yang dilakukan seorang diktator terhadap bank sentral di negaranya sendiri. Pada 18 Maret 2003, sehari sebelum AS memulai pemboman di Baghdad, Saddam Hussein mencuri hampir $ 1.000.000.000 dari Bank Sentral Irak. Perampokan bank ini dianggap sebagai pencurian bank terbesar dalam sejarah. Sekitar $ 650 juta kemudian ditemukan tersembunyi di dinding istana Saddam Hussein oleh pasukan AS, yang diyakini merupakan sebagian dari uang curian tersebut. Pada bulan Maret juga, sebuah catatan tulisan tangan yang ditandatangani oleh Saddam Hussein, meminta $ 920.000.000 untuk diberikan kepada anaknya, Qusay. Pejabat Bank menyatakan bahwa Qusay dan seorang pria tak dikenal mengambil uang pecahan $ 100, yang dimuat ke dalam truk selama lima jam. Qusay akhirnya terbunuh oleh pasukan AS dalam baku tembak.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selain itu, lembaga hukum di Indonesia tidak berfungi dengan baik. Para Penegak hukum seperti Polisi, Jaksa, Hakim tidak menjalankan tugasnya dengan baik, terutama dalam menghukum pelaku perkosaan, sehingga tidak ada efek jera. Ketika satu kasus perkosaan tidak dengan cepat diungkap dan dituntaskan oleh polisi, kasus itu akan menjadi tren di kalangan pelaku. Hal ini terlihat dari kasus perkosaan massal yang dilakukan para pelajar. Di tahun 1980-an, Jakarta juga pernah dilanda tren perampokan yang disertai perkosaan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Juga, Kekerasan seksual juga terjadi di ranah negara, mencapai 1.561 kasus. Ini dilakukan aparatur negara dalam kapasitas tugas. Termasuk di dalamnya, ketika terjadi peristiwa kekerasan, aparat negara berada di lokasi kejadian, namun tidak berupaya menghentikan atau justru membiarkan tindak kekerasan tersebut berlanjut, termasuk kekerasan seksual yang terjadi akibat kebijakan diskriminatif. Dari total kasus kekerasan seksual sebanyak 93.960 kasus, hanya 8.784 kasus yang datanya terpilah. Sisanya, gabungan dari kasus perkosaan, pelecehan seksual dan eksploitasi seksual.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pemerkosaan berasal dari kata Perkosa, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti paksa, gagah, kuat dan perkasa. Memperkosa adalah berarti menundukkan dengan cara kekerasan, menggagahi, melanggar (menyerang, dsb) dengan kekerasan. Menurut Suryono Ekatama (Suryono Ekatama Dkk, 2001:99) pemerkosaan adalah perbuatab hubungan kelamin yang dilakukan seorang pria terhadap seorang wanita yang bukan isterinya /atau tanpa persetujuannya, dilakukan ketika wanita tersebut ketakutan atau di bawah kondisi ancaman lainnya. Pemerkosaan juga bukan mutlak dilakukan pria terhadap wanita, namun ada kasus juga pemerkosaan bisa dilakukan seorang wanita terhadap seorang pria. Faktor-faktor Yang

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menyebabkan Pemerkosaan Banyak orang berkata kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap wanita terjadi karena faktor wanita sendiri. Dan yang sering menjadi poin permsalahan adalah karena faktor cara berpakaian wanita itu sendiri dan nafsu seks pria tak terkendali apabila dan setelah melihat wanita berpakaiana mini. Pemikiran dan anggapan seperti sering diuar-uarkan ketika terjadi kasus pelecehan dan pemerkosaan . Pemikiran yang sederhana ini hanyalah anggapan semata tanpa melakukan riset dan penelitian.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dan seakan-akan wanitalah yang menyebabkan sebuah pemerkosaan terjadi. Sudah menjadi korban pemerkosaan dan di salahkan juga sebagai penyebabnya. Apakah ini adil ? Bagaimana pula dengan negara-negara Timur Tengah yang sebagian wanitanyanya hampir menutup aurat ? Apakah disana tidak ada pemerkosaan ? tanpa menafikan faktor penampilan dan cara berpakaian wanita juga mempengaruhinya. Namun jangan beranggapan penuh bahwa wanita adalah penyebab utama terjadinya kasus tersebut. Sebenarnya pada umumnya terjadinya kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan itu justeru dilakukan oleh orang yang telah dikenali.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Karena umunya kasus pemerkosaan terjadi di bawah umur, sebaiknya para orangtua memberi perhatian ekstra dengan cara memperhatikan dimana anak-anaknya bersosialisasi dengan teman atau lingkungannya. serta tidak lupa dengan membekalkan ilmu-ilmu agama dan tidak meninggalkan anak apabila mengalami kasus tersebut. Namun tetap menyelimuti dengan kasih sayang sehingga korban tetap merasa ada yang menyayanginya. Berhati-hatilah dalam bergaul dan bersosialisasi Karena kuntum itu mekarnya hanya sekali salam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Neta membeberakan, kasus pembunuhan perempuan yang pertama di tahun 2015 terjadi 5 Januari. Siti Sarah (22) yang sedang hamil empat bulan tewas setelah lehernya dipukul balok dan kemudian dicekik suaminya Jumansyah alias Icang (26) di rumahnya di Sotek, Penajam Pasir Utara, Kaltim. Icang membunuh istrinya karena kesal melihat istrinya menelepon mantan pacarnya terus menerus. Kasus pembunuhan paling sadis terjadi 22 Februari 2015. Yahmini dibakar hidup-hidup oleh pacarnya Dimhari di sebuah gubuk di Desa Jogoyasan, Magelang, Jateng. Warga sempat menolong tapi akhirnya korban tewas di rumah sakit. Pelaku lalu dihukum Mahkamah Agung penjara seumur hidup.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sementara kawasan yang paling rawan terhadap perempuan di 2015 adalah wilayah hukum Polda Metro Jaya, yakni mencakup Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan Depok. Di kawasan ini ada 26 perempuan terbunuh, di antaranya dibunuh kenalannya 7 orang, rampok 4 orang, pacar 3 orang, suami 1 orang, dibunuh orang tak dikenal 8 orang, dan lain-lain. Daerah paling rawan bagi perempuan urutan kedua dipegang Jawa Barat. Di daerah ini ada 20 perempuan dibunuh. Jatim 19 perempuan dibunuh, Batam 8, Jateng 8, Riau 7, Sulsel 5, Sumut 3, Aceh 2, Kaltim 2, Kalsel 2, Kalbar 2, Babel, Lampung, Banten, Sulteng, dan Sultra masing-masing 1 kasus.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Thailand merupakan salah satu tempat wisata yang indah dan menarik. Di sini banyak wisatawan datang untuk menghabiskan liburan mereka, tapi sayangnya meningkatnya jumlah pembunuhan di negara ini membuat jumlah wisatawan yang berkunjung di negara ini mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pemerintah Thailand kini memberikan perhatian khsusus untuk menekan jumlah pemerkosaan, perkelahian antar geng, dan kasus terorisme, yang diperkiraan pada 2014 jumlahnya mencapai 65 % lebih tinggi dari beberapa tahun sebelumnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut data statistik kecelakaan di kota-kota besar seperti wilayah Jakarta dan kota-kota penyangga pada tahun 2014 ini masih terjadi kecelakaan yang cukup tinggi. Contohnya di wilayah Jabodetabek rata-rata dalam satu hari terjadi kecelakaan mencapai angka tertinggi yaitu 14 kali. Angka tersebut dicatatkan oleh Polda Metro jaya dimana pada tahun 2014 terjadi kecelakaan lalu lintas yang mencapai 5.472 kasus atau dalam sehari rata-rata terjadi 14 angka kecelakaan. Angka ini sebenarnya mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2013 yakni sebesar 8.66 % yang mencapai 5.991 kasus kecelakaan lalu lintas pada tahun sebelumnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tingkat fatalitas akibat kecelakaan yang mengekibatkan meninggal dunia juga mengalami penurunan meski tidak terlalu signifikan. Ditahun 2014 ini total korban tewas kecelakaan sebanyak 578 jiwa atau turun 7.67 % dibanding tahun 2013 yang mencapai 626 jiwa. Sementara itu untuk kecelakaan yang mengakibatkan luka berat ditahun 2014 tercatat sebanyak 2.515 orang dengan penurunan 6.61 % dibanding tahun 2013 yang mencapai jumlah 2.693 orang. Sedangkan untuk korban luka ringan dari kecelakaan lalu lintas tahun 2014 mengalami penurunan yang cukup signifikan yakni sebesar 15.41% dari total 4.227 orang pada tahun 2013 menjadi 3.618 kasus kecelakaan ringan di tahun 2014 ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hal itu diakui oleh Kasubdit Mitra Dikmas Lantas Mabes Polri, AKBP Djuwito Purnomo, kepada RRI di Yogyakarta, Selasa (5/8/2014). “Indonesia menempati peringkat ke 5 di Dunia sebagai Negara dengan tingkat kecelakaan Lalu Lintas tertinggi,” jelas AKBP Djuwito Purnomo. Setiap jam setidaknya terdapat 12 kasus kecelakaan lalu lintas yang merenggut tiga korban jiwa. Sementara setiap harinya, 69 nyawa melayang di jalan raya. Sedangkan di tahun 2013 lalu terdapat 101.037 kecelakaan Lalu Lintas yang merenggut nyawa 25.157 orang. Sedangkan kerugian yang ditimbulkan mencapai Rp 254 milyar lebih.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Meski angka kecelakaan masih tinggi, di lain pihak Polda DIY berhasil untuk menekan angka kecelakaan Lalu Lintas pada Operasi Ketupat Progo 2014 tahun ini. “Penurunan drastis terjadi jumlah kasus kecelakaan dan korban jiwa yang terjadi selama musim libur Lebaran tahun ini,” ungkap Kabid Humas Polda DIY, AKBP Anny Pudjiastuti. “Keberhasilan menekan angka kecelakaan Lalu Lintas tidak hanya karena kesigapan aparat Polri dalam mengamankan Lalu Lintas, tapi juga didukung oleh perbaikan infrastruktur jalan dan tumbuhnya kepatuhan masyarakat dalam berlalu lintas,” tuturnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Korban jiwa dan materi yang sangat besar akibat kecelakaan lalu lintas itu menjadi salah satu pemicu Kepolisian Republik Indonesia menargetkan penurunan angka kecelakaan lalu lintas sebesar 50 persen dalam waktu 10 tahun. Target itu juga sesuai dengan program Decade of Action for Road Safety yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa mulai bulan Maret 2010. Program PBB itu sejalan dengan Pasal 203 Undang-Undang No 22 tahun tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan yang berbunyi “Pemerintah bertanggung jawab atas terjaminya keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Beberapa hal di atas menjelaskan bahwa penyebab utama kecelakaan sering kali dikarenakan kelalaian pengemudi. Oleh karena itu, sebelum berkendara segala sesuatu harus dipersiapkan terlebih dahulu mulai dari kondisi fisik, hati, serta pikiran. Meskipun kejadian di atas saat ini masih belum terjadi pada Anda, tapi apakah Anda tidak takut apabila sewaktu-waktu harus meninggalkan atau ditinggalkan orang-orang yang Anda sayangi akibat kecelakaan atas kelalaian sendiri. Maka mulai saat ini, jagalah selalu keselamatan Anda dalam berkendara dan peringatkan pengendara yang lain terutama orang yang Anda kasihi untuk selalu menjaga keselamatannya dalam berkendara.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Apa saja berbagai penyebab terjadinya kecelakaan di jalan raya? Tulisan ini akan sedikit mengulasnya untuk Anda. Segala macam musibah yang terjadi pada manusia memang sudah direncanakan dan digariskan oleh Yang Maha Kuasa, namun kita juga bisa meminimalisir terjadinya musibah tersebut dengan lebih waspada terhadap apapun yang kita lakukan. Terutama saat berkendara di jalan raya, selihai apapun Anda dalam berkendaran namun jika sudah naas maka akan terjadi juga kecelakaan. Namun sebenarnya penyebab terjadinya kecelakaan itu ada banyak dan terkadang terjadi karena kelalaian manusia atau juga faktor lingkungan sekitar.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Biasanya saat terjadi kecelakaan baik Anda maupun pihak yang lain merasa dirugikan, entah siapa yang salah awalnya biasanya sebuah kecelakaan selain bisa mengakibatkan jatuhnya korban juga membuat orang-orang yang terlibat menjadi emosi serta saling menyalahkan. Pada saat sedang terjadi kecelakaan yang paling bijak adalah berusaha menyelamatkan yang bisa diselamatkan terlebih dulu dan bukannya bertengkar satu sama lain. Karena sebenarnya jika Anda lebih waspada terhadap berbagai penyebab kecelakaan maka kecelakaan itu bisa dihindari. Kecelakaan seringkali terjadi pada tempat yang ramai seperti misalnya di kawasan KIIC Suryacipta atau di daerah Jababeka Bekasi dimana daerahnya sangat padat serta banyak kendaraan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Penyebab yang pertama ini adalah penyebab yang paling lumrah terjadi. Karena manusia memang diciptakan dengan banyak kekurangan. Mungkin saja pada saat sedang terjadi kecelakaan, pengemudi kendaraan yang menyebabkan kecelakaan tersebut sedang dalam keadaan tidak sehat dan tidak fit, bisa jadi ia mengantuk atau sakit kepala misalnya sehingga tidak bisa fokus pada kendaraan yang sedang dikemudikannya. Namun terkadang kelalaian pengemudi itu juga terjadi karena pengemudi memang tidak waspada sehingga melakukan hal lain selain mengemudi, misalnya bermain hape sambil mengemudi. Maka dari itu saat Anda akan mengemudi pastikan dulu Anda dalam keadaan yang siap dan sehat, selain itu jika ada panggilan telepon atau sms yang masuk maka sebaiknya abaikan dulu atau menepilah ke pinggir jalan untuk memeriksanya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Penyebab lain yang sering membuat terjadinya kecelakaan adalah karena kondisi jalan raya yang tidak lagi bagus dan tidak layak untuk digunakan berkendara. Misalnya jalan yang bergelombang, berlubang di sana sini, banyak tanjakan atau tikungan. Pada saat hendak membuat jalan raya seharusnya perusahaan kontraktor yang diserahi tugas harus benar-benar teliti dalam membuat jalan raya tersebut, faktor kemiringan tanah dan lingkungan sekitar mesti diperhatikan dengan detail. Misalnya saja perusahaan Nikifour yang termasuk sebagai perusahaan kontraktor terbaik di karawang dalam melaksanakan proyek yang diemban akan selalu berhati-hati dan memperhatikan banyak hal agar proyeknya berhasil.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Penyebab ketiga yang menyebabkan kecelakaan yang satu ini memang sulit dihindari, jika alam sudah berkehendak maka terjadilah musibah. Misalnya saat hujan sedang deras sekali bisa saja terjadi kecelakaan karena pada saat hujan, pandangan Anda akan terbatas, selain itu jalanan juga menjadi licin karena banyaknya air. Pada saat-saat seperti itu maka yang paling bijak adalah jangan mengebut dan berkendaralah dengan kecepatan yang pelan, jika karena mendung suasana sekitar menjadi gelap maka hidupkan lampu kendaraan Anda.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sejak 20 Februari hingga 11 Maret, Global Forest Watch mendeteksi 3.101 peringatan titik api dengan tingkat keyakinan tinggi di Pulau Sumatera dengan menggunakan Data Titik Api Aktif NASA. Angka tersebut melebihi 2.643 total jumlah peringatan titik api yang terdeteksi pada 13-30 Juni 2013, yaitu puncak krisis kebakaran dan kabut asap sebelumnya. Grafik berikut menunjukan distribusi titik api di kawasan (Gambar 1) serta pola dari peringatan titik api sejak Januari 2013 untuk seluruh Pulau Sumatera.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Krisis minggu ini menjadi yang terakhir dari daftar panjang mengenai episode kebakaran yang mempengaruhi Indonesia dan negara-negara tetangga. Meskipun kita sudah dapat menentukan ukuran kebakaran dan dimana lokasinya, masih banyak hal yang belum kita ketahui. Salah satunya, mengapa pemerintah Indonesia gagal untuk menerbitkan informasi dimana perusahaan sawit, kertas, dan kayu beroperasi. Meskipun Global Forest Watch memasukkan data konsesi terakhir yang tersedia, masih banyak kesenjangan informasi serta masalah seputar akurasi terkait peta ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kedua, investigasi lebih lanjut di lapangan menjadi prioritas yang mendesak, termasuk penelitian dan survei mendalam untuk dapat mengerti proporsi pembakaran yang dilakukan oleh perusahaan besar dibandingkan dengan operasi ukuran menengah maupun kecil. Tentu saja, petani miskin tidak memiliki alternatif selain menggunakan api ketika melakukan pembersihan lahan. Mereka juga dapat menggunakan api untuk merusak ataupun melakukan klaim atas lahan yang berada di bawah manajemen perusahaan besar. Konflik lahan seperti ini sangat umum di seluruh Indonesia. Pemerintah maupun organisasi peneliti independen, perlu secara cepat melakukan investasi lebih untuk mengerti akar masalah dari kebakaran ini serta menyusun program yang lebih baik untuk mencegah kebakaran.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Terkait dengan hal ini, beberapa progres telah dibuat. Pemerintah Indonesia dan Singapura, serta kelompok ASEAN yang lebih besar, sedang melakukan usaha-usaha untuk menurunkan risiko kebakaran. Deteksi api dan usaha pemadaman telah ditingkatkan, serta penegakkan hukum Indonesia telah melakukan beberapa penangkapan yang signifikan. Singapura bahkan mengajukan undang-undang mendobrak baru yang memungkinkan pemerintah untuk menjatuhkan sanksi kepada perusahaan—domestik maupun asing—yang menyebabkan kabut asap lintas-negara yang merugikan pemerintah negara tersebut. Pada Bulan Oktober, pemerintah negara-negara ASEAN telah sepakat untuk bekerja sama dan membagi data mengenai titik api dan penggunaan lahan, meskipun data ini tidak tersedia untuk publik. Lebih lanjut, banyak perusahaan yang telah, sejak saat itu, mengumumkan secara public kebijakan tidak menggunakan pembakaran, serta melakukan investasi terhadap system pengawasan dan pengendalian api mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Duka untuk Indonesia yang hutanya selalu berkurang setiap tahun. Beberapa hari yang lalu bahkan hingga saat ini, Beberapa wilayah di Indonesia masih terjadi kebakaran Hutan, hingga menimbulkan asap yang luar biasa pekat. Faktor utama Kebakaran ini bisa disebabkan oleh Kelalaian Manusia, membakar sampah, membuang puntung rokok sembarangan yang akhirnya merembet kemana-mana. Selain itu, Hutan yang sengaja dibakar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Entah sampai kapan negara ini akan dikuasai oleh orang-orang yang silap akan uang, uang dan uang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kebakaran Hutan Cloquet adalah suatu bencana api besar di bagian utara Minnesota pada Oktober, 1918. Disebabkan oleh percikan pada kereta api lokal ditambah dengan kondisi kering. Bencana ini menyebabkan bagian barat Carlton County hancur, Moose Lake, Cloquet, dan Sungai Kettle. Wilayah Cloquet adalah wilayah yang paling rusak oleh bencana ini. Bencana ini merupakan bencana alam terburuk dalam sejarah Minnesota. Total korban jiwa yang meninggal mencapai 453 nyawa hilang dan 52.000 orang terluka atau mengungsi, 38 komunitas hancur, 250.000 hektar lahan (1.000 km2) terbakar, dan kerugian sebesar $ 73.000.000 dalam kerusakan properti diderita.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kebakaran ini terjadi pada tanggal 5 September 1881, di daerah Thumb, Michigan di Amerika Serikat. Api yang membakar lebih dari satu juta hektar (4.000 km²) dalam waktu kurang dari satu hari, adalah konsekuensi dari kekeringan yang melanda, ditambah hembusan angin, panas, dan kerusakan ekologi yang ditimbulkan oleh penebangan. Kejadian ini, disebut “the Great Thumb Fire” , “the Great Forest Fire of 1881” atau “the Huron Fire” yang membunuh 282 orang di Sanilac, Lapeer, Tuscola dan Huron. Perkiraan kerusakan yang ditimbulkan mencapai kerugian $ 2.347.000.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Musim kemarau lebih panjang dan asap lebih luar biasa daripada tahun 1997-1998 kalau saya tambah US$9 miliar plus kerugian yang ada di Singapura dan Malaysia masing -masing US$2 miliar, jadi US$13 miliar, ditambah faktor seperti angka inflasi, jadi bisa bervariasi antara US$14 miliar hingga US$20 miliar, tergantung angka inflasi yang kita terapkan,” jelas Herry. Herry menjelaskan perhitungan tersebut masih sangat kasar dilihat dari kerugian ekonomi, tanaman yang terbakar, air yang tercemar, emisi, korban jiwa dan juga penerbangan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis selama kurun waktu 1815-2014 terdapat 8.501 kejadian banjir dan longsor. Dampaknya, 31.432 orang tewas, 20,7 juta mengungsi dan menderita, dan ratusan ribu rumah rusak. “Dampak bencana banjir dan longsor cukup besar. Untuk tahun 2014, data sementara ada 697 kejadian banjir dan longsor yang menyebabkan 339 orang tewas, 1,7 juta jiwa mengungsi dan menderita, dan ribuan rumah rusak,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam siaran pers, Selasa (18/11).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Saat sekitar 61 juta penduduk tinggal di 315 kabupaten/kota yang berada di daerah bahaya sedang-tinggi dari banjir. Selain itu, terdaapat 124 juta jiwa penduduk yang tinggal di 274 kabupaten/kota yang bahaya sedang-tinggi dari longsor. “Antisipasi harus disiapkan agar penanganan bencana menjadi lebih baik. Saat ini, bencana masih dilihat sebagai ad-hoc,” ujarnya. Artinya, kata Sutopo, penanganan hanya fokus saat tanggap darurat. Padahal, pengurangan risiko bencana dinilai lebih penting. Saat prabencana dan pascabencana pemerintah diminta juga tanggap.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Banjir yang kerap melanda Ibu Kota saban musim hujan terus berulang. Sejarah mencatat, sejak masih berada di bawah ketiak penjajah dengan nama Batavia, banjir telah menjadi masalah utama Ibu Kota. Tahun 1621, 1654, 1873, dan 1918 adalah tahun-tahun yang buruk dalam rekaman sejarah banjir besar di Batavia. Berlanjut pada dekade belakangan ini, banjir besar yang melanda Jakarta terjadi pada 1979, 1996, 1999, 2002, dan 2007. Kondisi itu disusul dengan banjir-banjir yang setiap tahun nyaris melumpuhkan Ibu Kota hingga saat ini. Maklum jika Adhi Kusumaputra (2010) mengatakan bahwa upaya penanganan banjir di Ibu Kota umurnya nyaris setua dengan usia Jakarta sendiri.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari sisi ekonomi, banjir selalu saja menyisakan kerugian. Begitu juga saat banjir menggenangi sejumlah wilayah Ibu Kota Jakarta sejak Senin (9/2) dan air mulai surut, kemarin. Aktivitas yang lumpuh akibat genangan air yang cukup tinggi hingga di atas satu meter membuat roda ekonomi tidak berputar secara normal. Di sejumlah wilayah DKI Jakarta yang selama ini menjadi pusat ekonomi, seperti Kelapa Gading, Mangga Dua, ataupun Grogol, dalam dua hari kemarin nyaris tidak ada kegiatan ekonomi. Kalaupun transaksi tetap terjadi, jumlahnya relatif jauh di bawah rata-rata biasanya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam hitungan Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Sarman Simanjorang, kerugian akibat banjir kali ini sekitar Rp 1,5 triliun per hari. Angka itu didapat setelah Kadin DKI Jakarta mengumpulkan data dari para pelaku ekonomi. Taksirannya, ada sekitar 75 ribu kios dan toko, termasuk restoran yang tidak beroperasi akibat banjir selama dua hari, yakni pada Senin dan Selasa, yang tersebar di berbagai pusat perbelanjaan, terutama di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat. Dengan diambil rata-rata, omzet 75 ribu toko itu Rp 20 juta per hari.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Angka itu ditambah anjloknya omzet toko yang masih buka karena akses ke pertokoan yang tergenang banjir. Kerugian akibat banjir bisa lebih besar jika ikut menghitung terganggunya operasional perkantoran akibat para karyawannya tidak masuk kerja karena akses jalan tertutup banjir. Tidak hanya banjir yang tiga hari terakhir ini menimbulkan kerugian secara ekonomi. Dalam 13 tahun terakhir, banjir yang melanda Jakarta berdampak pada kerugian ekonomi yang selalu meningkat. Saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih menjabat gubernur DKI Jakarta, banjir besar yang melanda Jakarta pada awal 2013, kerugiannya mencapai Rp 20 triliun. Nominal itu mencakup seluruh sektor.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada 2007, banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya juga menyisakan kerugian besar. Berdasarkan data dari Laporan Perkiraan Kerusakan dan Kerugian Pasca Bencana Banjir Awal Februari 2007 di Wilayah Jabodetabek, yang dikeluarkan Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada 16 Februari 2007, diperkirakan kerugian mencapai Rp 5,16 triliun. Bila diperinci, banjir yang melanda dari 31 Januari hingga 8 Februari 2007 itu, perkiraan sektor UKM dan koperasi merugi sekitar Rp 781 juta per hari, sementara kerugian pada BUMD senilai Rp 14,4 miliar. Sektor kerugian BUMN, seperti PLN merugi Rp 17 miliar per hari, PT Telkom merugi Rp 18 miliar, dan PT Pertamina Rp 100 miliar.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tentu saja, membaca angka-angka kerugian yang diakibatkan oleh bencana banjir membuat kita miris. Setiap bencana ini datang, selalu saja roda ekonomi terhambat dan triliunan rupiah menguap. Untuk itu, sudah saatnya semua pihak mencari jalan keluar bersama agar banjir tak lagi sering menggenangi Jakarta. Pemprov DKI Jakarta harus lebih keras melaksanakan program mengatasi banjir. Sejumlah terobosan harus dilaksanakan. Kerja sama dengan pemerintah daerah di sekitar Bodetabek harus terus ditingkatkan. Koordinasi dengan pemerintah pusat juga tetap harus dilakukan karena Jakarta sebagai ibu kota negara.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selain bencana alam masif berupa gempabumi, tsunami, hingga gunung meletus yang mengancam nusantara, ancaman lain yang berwujud pergerakan tanah pun tak bisa diabaikan. Pergerakan tanah atau yang sering disebut bencana alam tanah longsor amat sering terjadi tiap tahunnya. Kondisi geologis tanah di Indonesia yang rata-rata terdiri dari tanah lempung yang lunak memberikan ancaman longsoran tanah di sejumlah wilayah Nusantara. Jumlah kerugian dan nyawa yang harus melayang sebagai korban bencana alam tanah longsor pun tak dapat dipandang sebelah mata.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berdasar catatan kejadian bencana alam, hampir seluruh pulau besar di nusantara memiliki kabupaten dan atau kota yang berpotensi mengalami ancaman tanah longsor. Ciri utamanya adalah wilayah yang memiliki relief dan rupa tanah yang kasar, lembek, dengan lereng terjal. Kondisi tanah seperti itu yang banyak terhampar khususnya di Pulau Jawa diperparah oleh curah hujan yang tak menentu, terkadang kering namun sering pula hujan deras tanpa henti, ditambah pula oleh ancaman bencana alam gempa bumi yang dapat menjadi pemicu longsoran tanah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kerusakan yang diakibatkan oleh bencana alam tanah longsor memang tak sebanding jika dibandingkan dengan catatan kerugian bencana alam lain di Indonesia. Namun, kewasapadaan dan proses mengurangi risiko tetap harus diperhatikan. Hutan dan pepohonan lebat sebagai pencegah utama longsoran tanah tetap harus dijaga kelestariannya. Karena pada kenyataannya, bencana alam tanah longsor, banjir, dan kekeringan terjadi akibat ulah tangan manusia itu sendiri yang tak bisa merawat dan menjaga hutan sebagai alat utama resapan air dan pengikat tanah di lereng-lereng berbukit.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ratusan nyawa yang tertimbun dalam bencana alam tanah longsor di Banjarnegara dan Pangalengan beberapa bulan silam setidaknya mampu menjadi pelajaran bagi masyarakat lain yang tinggal di jenis lokasi serupa khususnya di Pulau Jawa. Hanya butuh waktu tak lebih dari sepuluh menit untuk menenggelamkan satu dusun dengan 300 lebih penduduknya di Banjarnegara, Jawa Tengah. Pun serupa dengan yang terjadi di Pangalengan, bencana alam tanah longsor Pangalengan hanya perlu waktu 10 menit untuk menerjang bentangan desa seluas 1 Km persegi yang berada persis di bawahnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, dalam kurun waktu 2005 sampai 2014 total terdapat 2.278 peristiwa. “Total ada 1.815 orang tewas dan hilang akibat bencana-bencana longsor‎ dalam waktu 10 tahun terakhir,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Kantor BNPB, Jakarta, Senin (15/12/2014). Dijelaskan Sutopo, tahun 2005 tercatat ada 50 kejadian tanah longsor. Tahun 2006 ada 73 kejadian, 2007 ada 104 kejadian, 2008 ada 112 kejadian, 2009 ada 238 kejadian, 2010 ada 400 kejadian, 2011 ada 329 kejadian, 2012 ada 291 kejadian, 2013 ada 296 kejadian, dan 2014 ada 385 kejadian. Dalam 10 tahun itu, tren bencana longsor cenderung meningkat tiap tahunnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Daerah rawan longsor tersebar di sepanjang Bukit Barisan di Sumatera, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Sebab, daerah-daerah itu merupakan daerah dataran tinggi atau perbukitan, pegunungan,” ucap dia. Jika dilihat secara detail, ada 3 kabupaten yang paling banyak atau sering terjadi peristiwa tanah longsor dalam 10 tahun terakhir. Yakni, Kabupaten Wonogiri dengan 90 kejadian, Kabupaten Bogor dengan 75 kejadian, dan Kabupaten Wonosobo dengan 72 kejadian. Sementara khusus untuk Kabupaten Banjarnegara terjadi 22 peristiwa tanah longsor sejak 2005 sampai 2014 ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Data BNPB selama 10 tahun terakhir itu, lanjut Sutopo, terlihat bahwa puncak kejadian tanah longsor terjadi‎ pada Januari di mana ada lebih dari 350 kejadian. Kemudian Februari ada kurang lebih 300 kejadian, dan Maret ada lebih dari 210 kejadian. Ketiga bulan di awal tahun tersebut merupakan rentang waktu yang paling sering terjadi tanah longsor di Indonesia dengan peningkatan kejadian mulai terlihat pada bulan Oktober tahun sebelumnya. “Semua kejadian itu nampak sangat dipengaruhi oleh pola hujan. Rata-rata kejadian longsor memang terjadi pada bulan-bulan saat musim penghujan,” ujar Sutopo.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Salah satu longsor yang memakan korban banyak adalah yang terjadi di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Jumat (12/12/2014) lalu. Hingga Senin hari ini, pukul 13.00 WIB, dikonfirmasi sejumlah 51 orang tewas. Kejadian longsor besar lain adalah di Dusun Gunungraja, Desa Sijeruk, Banjarmangu, Banjarnegara, Jawa Tengah pada 4 Januari 2006. Sejumlah 76 orang tewas. Di Karanganyar, Jawa Tengah, tanah longsor pernah terjadi pada 26 Desember 2007. Sebanyak 62 orang tewas dan kerugiannya mencapai 137 miliar. Longsor besar juga pernah terjadi di Ciwideuy pada 22 Februari 2010, menewaskan 33 korban jiwa. Di Cililin, Bandung, longsor terjadi 25 Maret 2013 dengan 14 orang tewas.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pakar longsor dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Edi Prasetyo Utomo, mengungkapkan, masalah longsor terkait persoalan lingkungan. Di Banjarnegara dan banyak wilayah Indonesia, area rawan longsor dipakai sebagai sebagai hunian dan lahan pertanian serta minim terasering. Untuk melepaskan dari bahaya longsor, Edi mengungkapkan, “perlu ada langkah menghutankan kembali. Jangan bertanam tanaman perdu di wilayah rawan longsor.” Selain itu, perlu dibangun sistem peringatan dini longsor di wilayah yang memang berpotensi tinggi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat memperkirakan dampak kerusakan lingkungan dan bencana ekologis di Jawa Barat sepanjang 2015 mencapai Rp 19 triliun. Taksiran tersebut naik Rp 2,1 triliun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 16,9 triliun. Direktur Walhi Jawa Barat Dadan Ramdan mengatakan kerusakan ekologis itu dihitung dari kerusakan akibat pertambangan, alih fungsi lahan, pencemaran, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, dan kebakaran hutan. Kerugian tersebut belum mencakup perhitungan kerugian kesehatan, sosial, dan psikologis yang ditanggung masyarakat Jawa Barat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sepanjang 2015, berdasarkan catatan Walhi Jawa Barat, total kejadian bencana akibat banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung mencapai 528 kejadian. Banjir terjadi di semua kabupaten dan kota dengan jumlah kejadian banjir mencapai 110 kejadian, tanah longsor 281, dan angin puting beliung 137. “Jumlah korban akibat banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung pada 2015 mencapai 110 orang dengan total kerugian mencapai sekitar Rp 50 miliar,” ujarnya dalam keterangan tertulis catatan akhir tahun 2015, Kamis, 31 Desember 2015. Adapun luas banjir di Jawa Barat mencapai 200.600 hektare, yang merendam permukiman dan sarana lain sekitar 95 ribu bangunan dengan total pengungsi mencapai 9.500 jiwa. Sedangkan angin puting beliung merusak sekitar 850 rumah. Tanah longsor merusak 1.210 rumah dengan jumlah pengungsi 750 keluarga.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bencana kekeringan dengan total luas 671.200 hektare atau sekitar 18 persen dari total wilayah Jawa Barat. Akibat kekeringan pada musim kemarau, warga kesulitan mendapatkan air bersih karena situ dan sejumlah mata air mengering. Selain itu, operasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara di Indramayu telah menewaskan sekitar 10 karyawan dan 5 karyawan harus dirawat di rumah sakit akibat mesin PLTU yang meledak. Hingga 2015, diperkirakan luas lahan, sungai, dan sawah, yang terkena dampak pencemaran limbah pabrik mencapai 105 ribu hektare. Pencemaran air dan tanah yang paling parah terjadi di sentra-sentra industri polutif, seperti Kawasan Cekungan Bandung, Kabupaten Subang, Karawang, Bekasi, Majalengka, Purwakarta, Cianjur, Bogor, dan Sukabumi. Bukan hanya kerusakan ekologis, pencemaran juga menyebabkan kesehatan warga menurun karena sumber air dan udara sudah teracuni zat polutif.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Senin, 3 November 2003 silam. Bukit curam yang berada di sekitar Desa Bukit Selawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara tersapu oleh longsoran tanah yang membawa air bah limpahan sungai Bahorok. Akibat kejadian ini 90 orang dilaporkan tewas dan ratusan orang lainnya menderita luka dan hilang terbawa arus banjir. Berdasarkan catatan kebencanaan dari Walhi, longsor dan banjir bandang Bahorok terjadi akibat kerusakan hutan karena penebangan liar yang tak terkendali. Kala itu, 170 ribu hektar taman nasional Gunung Leuser dari luas total 788 ribu hektar rusak parah akibat penebangan hutan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jumat, 27 Maret 2009, tragedi mencekam menyeruak di wilayah pinggiran kota Jakarta. Situ Gintung yang terletak di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten tiba-tiba Jebol di waktu subuh. Bencana tersebut menewaskan kurang lebih sekitar 7 orang dan menenggelamkan ratusan rumah yang berada di sekitarnya. Hasil investigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVG) menjelaskan bahwa bencana terjadi karena jebolnya tanggil selebar ± 65 meter, yang diikuti oleh gerakan tanah longsoran pada tanggul dengan panjang antara 3-7 meter, dan lebar antara 3-8 meter. Penyebab jebolnya tanggul secara keseluruhan terjadi karena curah hujan yang tinggi kala itu, kemudian adanya retakan pada tanggul serta limpahan air yang melebihi kapasitas. Apalagi ditambah kontur tanah di sekitar kawasan tersebut yang sangat curam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Belum hilang dalam ingatan, bagaimana pertengahan Desember tahun lalu, peristiwa tanah longsor dahsyat menghantam Dusun Jemblung, Desa Sampang, Banjarnegara. Jumat sore (12/12) menjelang maghrib, hujan belum sempat menampakkan redanya. Dalam waktu kurang dari lima menit, tanah longsor mematikan menimbun 105 rumah warga di tiga desa sekaligus. Akibatnya fatal, seratus lebih korban jiwa melayang tertimbun longsoran tanah. Tebing setinggi 100 meter di Desa Sampang, Karangkobar, Banjarnegara tersebut memang mulanya diklasifikasikan sebagai daerah longsor berpotensi sedang dan tinggi. Catatan penulis menunjukkan bahwa tanah longsor Banjarnegara terjadi akibat material penyusun bukit Tegallele yang merupakan endapan vulkanik tua dan lapuk. Ditambah hujan deras yang tak berhenti mengguyur sejak dua hari sebelumnya menyebabkan tanah jenuh terhadap air.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Umumnya hewan liar akan berkumpul, tanda-tanda ini mengisyaratkan akan terjadi tanah longsor. Tetapi sifat internal longsor yang muncul ke permukaan membuktikan fakta berbeda, seperti patahan batu, area yang terpotong bersama dengan pseudotachylytes. Menurut Hacker, peristiwa bencana geologis berasal dari medan vulkanik yang terdiri dari beberapa strato gunung berapi, jenis ini mirip dengan gunung St Helen di pegunungan Caacade. Gunung ini meletus pada tahun 1980 dan menyebabkan bencana tanah longsor besar.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Artinya: Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini. Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut al-Maraghi, tafsir dari ayat ini adalah bahwa Allah meninggikan orang-orang yang mukmin dengan mengikuti perintah-Nya dan perintah Rosul, khususnya orang-orang yang berilmu di antara mereka beberapa derajat yang banyak dalam hal pahala dan tingkat keridlaan. Ayat tersebut menunjukkan betapa Allah SWT sangat memuliakan orang-orang yang berilmu pengetahuan. Ayat tersebut juga memberikan gambaran kepada manusia mengenai kedudukan ilmu pengetahuan, sebagai bekal baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Ada sebuah ungkapan terkenal mengenai bagaimana orang harus menuntut Ilmu;“Tuntutlah ilmu sekalipun di negeri Cina”.(HR. Ibnu ‘Adiy dan Al-Baihaqi)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Maksud dari ungkapan tersebut adalah; bahwa ilmu harus dicari dan dikejar walaupun berada di negeri yang sangat jauh sekalipun. Ungkapan tersebut menunjukkan betapa penting dan utamanya kegiatan Talab al-‘ilm, hingga harus dilakukan walau dengan perjalanan ke negeri yang sangat jauh sekalipun. Kata “negeri Cina” di atas hanya sebagai perumpamaan negeri yang sangat jauh, karena negeri Cina adalah negeri yang sangat jauh bagi umat Islam yang berada di Timur Tengah pada waktu itu. Jadi seandainya sekarang negeri yang perekembangan ilmu pengetahuannya paling maju, berada di belahan bumi bagian barat maka kesana pula kita harus mengejar ilmu itu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menuntut ilmu dalam Islam, adalah aktivitas yang mulai dan wajib. Ketika kita ingin memahami aqidah yang murni, ibadah yang benar dan memiliki akhlaq yang mulia tentunya harus memiliki ilmu tentangnya. Bagaimana mungkin kita mengenal Allah tanpa ilmu ? bagaimana mungkin kita bisa beribadah sesuai yang dijalankan rasulullah tanpa ilmu? Bagaimana mungkin akhlaq kita bisa terjaga tanpa bantua ilmu khususnya tentang Islam. “…Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah Ulama”. Artinya, yang benar-benar bisa menjalankan perintah Allah, beragama dengan sebaik-baiknya adalah orang yang alim, memiliki ilmu pengetahuan, intinya ilmu sebagai kunci keberagamaan kita.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kemudian ditambahkan oleh Cak Nur, seorang cendekiawan muslim bahwa antara iman, ilmu dan amal merupakan segitiga yang tidak bisa terpisahkan dalam Islam. Hal itu berarti, berimannya kita kepada Allah dan Rasulnya karena berilmu pengetahuan, dan pada akhirnya segalanya akan berbuah amal. Namun perlu kita ketahui bahwa, tidaklah wajib menuntut semua ilmu berdasarkan pembagian ilmu oleh Imam Al Gazaly dalam kitabnya ihya’ umuluddin. Dibagi menjadi dua yaitu, ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah. Yang dimaksud fardhu kifayah adalah ilmu yang setiap individu wajib mengetahuinya, khususnya ilmu agama. Shalat, puasa dan berzakat itu hanya bisa diamalkan ketika mengetahui caranya. Sehingga wajib bagi kita untuk menuntut ilmu tersebut. Sementara ilmu fardhu kifayah, merupakan cabang ilmu yang dikembangkan manusia untuk kepentingan maslahat keduniawiaan. Misalnya ilmu kedokteran, pertania, keteknikan dan lain-lain. Hukumnya tidak menjadi wajib ketika sudah ditunaikan oleh sebagian orang. Bedanya dengan ilmu fardhu ‘ain harus dipelajari oleh setiap orang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Dr. Uhar Suharsaputra nampak jelas bagaimana kedudukan ilmu dalam ajaran Islam . AL qur’an telah mengajarkan bahwa ilmu dan para ulama menempati kedudukan yang sangat terhormat, sementara hadis nabimenunjukan bahwa menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Dari sini timbul permasalahan apakah segala macam Ilmu yang harus dituntut oleh setiap muslim dengan hukum wajib (fardu), atau hanya Ilmu tertentu saja ?. Hal ini mengemuka mengingat sangat luasnya spsifikasi ilmu dewasa ini .

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Kelompok pertama itu adalah ilmu-ilmu hikmmah dan falsafah. Yaituilmu pengetahuan yang bisa diperdapat manusia karena alam berpikirnya, yang dengan indra—indra kemanusiaannya ia dapat sampai kepada objek-objeknya, persoalannya, segi-segi demonstrasinya dan aspek-aspek pengajarannya, sehingga penelitian dan penyelidikannya itu menyampaikan kepada mana yang benar dan yang salah, sesuai dengan kedudukannya sebagai manusia berpikir. Kedua, ilmu-ilmu tradisional (naqli dan wadl’i. Ilmu itu secara keseluruhannya disandarkan kepada berita dari pembuat konvensi syara “ (Nurcholis Madjid, 1984 : 310)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ulama lain yang membuat klasifikasi Ilmu adalah Syah Waliyullah, beliau adalah ulama kelahiran India tahun 1703 M. Menurut pendapatnya ilmu dapat dibagi ke dalam tiga kelompok menurut pendapatnya ilmu dapat dibagi kedalam tiga kelompok yaitu : 1). Al manqulat, 2). Al ma’qulat, dan 3). Al maksyufat. Adapun pengertiannya sebagaimana dikutif oleh A Ghafar Khan dalam tulisannya yang berjudul “Sifat, Sumber, Definisi dan Klasifikasi Ilmu Pengetahuan menurut Syah Waliyullah” (Al Hikmah, No. 11, 1993), adalah sebagai berikut :

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pertama, idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata idea yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idealisme atau nasionalisme menitik beratkan pada pentingnya peranan ide, kategori atau bentuk-bentuk yang terdapat pada akal sebagai sumber ilmu pengetahuan. Plato ( 427-347 SM), seorang bidan bagi lahirnya janin idealisme ini, menegaskan bahwa hasil pengamatan inderawi tidak dapat memberikan pengetahuan yang kokoh karena sifatnya yang selalu berubah-ubah (Amin Abdullah;1996). Sesuatu yang berubah-ubah tidak dapat dipercayai kebenarannya. Karena itu suatu ilmu pengetahuan agar dapat memberikan kebenaran yang kokoh, maka ia mesti bersumber dari hasil pengamatan yang tepat dan tidak berubah-ubah. Hasil pengamatan yang seperti ini hanya bisa datang dari suatu alam yang tetap dan kekal. Alam inilah yang disebut oleh guru Aristoteles itu sebagai “alam ide”, suatu alam dimana manusia sebelum ia lahir telah mendapatkan ide bawaannya (S.E Frost;1966). Dengan ide bawaan ini manusia dapat mengenal dan memahami segala sesuatu sehingga lahirlah ilmu pengetahuan. Orang tinggal mengingat kembali saja ide-ide bawaan itu jika ia ingin memahami segala sesuatu. Karena itu, bagi Plato alam ide inilah alam realitas, sedangkan yang tampak dalam wujud nyata alam inderawi bukanlah alam yang sesungguhnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam paradigma empirisme ini, sungguhpun indra merupakan satu-satunya instrumen yang paling absah untuk menghubungkan manusia dengan dunianya, bukan berarti bahwa rasio tidak memiliki arti penting. Hanya saja, nilai rasio itu tetap diletakkan dalam kerangka empirisme (Harun Hadiwiyoto;1995). Artinya keberadaan akal di sini hanyalah mengikuti eksperimentasi karena ia tidak memiliki apapun untuk memperoleh kebenaran kecuali dengan perantaraan indra, kenyataan tidak dapat dipersepsi (Ali Abdul Adzim;1989). Berawal dari sinilah, John Locke berpendapat bahwa manusia pada saat dilahirkan, akalnya masih merupakan tabula (kertas putih). Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, kemudian ia memiliki pengetahuan. Di dalam kertas putih inilah kemudian dicatat hasil pengamatan Indrawinya (Louis O. Katsof;1995). Empirisme adalah sebuah paham yang menganggap bahwa pengetahuan manusia hanya didapatkan melalui pengamatan konkret, bukan penalaran rasional yang abstrak, apalagi pengalaman kewahyuan dan institusi yang sulit memperoleh pembenaran factual.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

David Hume, salah satu tokoh empirisme mengatakanbahwa manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya. Sumber pengetahuan adalah pengamatan. Pengamatan memberikan dua hal, yaitu kesan-kesan (empressions) dan pengertian-pengertian atau ide-ide (ideas). Yang dimaksud kean-kesan adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman, seperti merasakan tangan terbakar. Yang dimaksud dengan ide adalah gambaran tentang pengamatan yang samara-samar yang dihasilka dengan merenungkan kembali atau terefleksikan dalam kesan-kesan yang diterima dari pengalaman.(Amsal Baktiar; 2002)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Paradigma selanjutnya adalah Rasionalisme, sebuah aliran yang menganggap bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui pertimbangan akal. Dalam beberapa hal, akal bahkan dianggap dapat menemukan dan memaklumkan kebenaran sekalipun belum didukung oleh fakta empiris. Faham rasionalisme dipandu oleh tokoh seperti Rene Deskrates (1596-1650), Baruch Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Leibniz (1646-1716). Menurut kelompok ini, dalam setiap benda sebenarnya terdapat ide – ide terpendam dan proposisi – proposisi umum yang disebut proposi keniscayaan yang dapat dibuktikan sebagai kebenaran yang dapat dibuktikan sebagai kebenaran dalam kesempurnaan atau keberadaan verifikasi empiris.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan kelemahan alat indra dapt dikoreksi, seandainya akal digunakan. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indra dalammemperoleh pengetahuan. Pengalaman indra diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja, etapi sampainya mausia kepada kebenaran adalah semata-mata akal. Laporan indra menurut rasionalisme merupakan bahan yang belu jelas, bahkan ini memungkinkan dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berfikir. Akal mengatur bahan tersebut sehingga dapatlah terbentuk pengetahua yang benar. Jadi fungsi panca indra hanyalah untuk memperoleh data-data dari alam nyata dan akalnya menghubungkan data-data itu satu dengan yang lain.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tetapi rasionalisme juga mempunyai kelemahan, seperti mengenai criteria untuk mengetahui akan kebenaran dari suatu ide yang menurut seseorag dalah jelas dan dapat dipercaya tetapi menurut orang lain tidak. Jadi masalah yang utama yang dihadpi kaum rasionalisme adalah evaluasi dari kebenaran premis-premis inisemuanya bersumber pada penalaran induktif, karena premis-premis ini semuanya bersumber pada penalaran rasional yang bersifat abstrak. Terbebas dari pengalaman maka evalusi yang semacam ini tidak dapat dilakukan.(Jujun S. Suriasumantri;1998).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Positivisme adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif sesuatu yang diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan.(Drs. Drs. H. Ahmad Syadali, M.A; 2004 :133). Kekeliruan indera dapat dikoreksi lewat eksperimen dan eksperimen itu sendiri memerlukan ukuran-ukuran yang jelas seperti panas diukur dengan drajat panas, jauh diukur dengan meteran, dan lain sebagainya. Kita tidak cukup mengatakan api panas atau metahari panas, kita juga tidak cukup mengatakan panas sekali, panas, dan tidak panas. kita memerlukan ukuran yang teliti. Dari sinilah kemajuan sains benar-benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal dengan didukung bukti-bukti empiris yang terukur.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hukum alam dan Al-Qur’an bersumber dari sumber yang sama, yakni Allah SWT. Oleh karena itu, alam mempunyai kaitan erat dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Di antara kaitan tersebut, Al-Qur’an memberikan informasi tentang keadaan alam pada masa yang akan datang, yang belum bisa diramalkan oleh ilmu pengetahuan. Al-Qur’an juga memberikan informasi peristiwa masa lampau yang hanya diketahui oleh kalangan yang sangat terbatas. Terkadang Al-Qur’an mempertegas penemuan para ahli dan terkadang memberi isyarat untuk dilakukan penyelidikan secara akurat, Al-Qur-an juga memberikan motivasi kepada para ilmuan untuk melakukan kajian atau pembahasan suatu persoalan dan memerintahkan agar mendiamkannya (tawakuf) serta menyerahkan segala urusanya kepada Allah SWT. Ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui kajian dan penelitian terhadap alam ini pada akhirnya akan menunjukkan kebesaran akan menunjukkan kebesaran Yang Maha Pencipta, yaitu Allah SWT, sebagaimana dinyatakan dalam surat Ali’Imran ayat 190 dan 191 :

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di kalangan ilmuan muslim, banyak sekali penemuan ilmuan yang orisinal (sebagai hasil eksperimen, observasi, atau penelitian) yang terus dikembangkan dan menjadi milik dunia ilmu pengetahuan modern, termasuk yang kemudian dikembangkan oleh para ilmuan barat. Para ilmuan muslim, terutama yang muncul pada masa keemasan islam (abad ke 7-13) banyak memberi kontribusi pada perkembangan sains modern, seperti bidang kimia, optika, matematika, kedokteran, fisika, astronomi, geografi, sejarah dan ilmu-ilmu lainnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Mhammad Thalhah Hasan mengatakan, bahwa sumber ilmu pengetahuan itu adalah Allah, yang berbeda adalah proses dan cara Allah memberikan dan mengenalkan ilmu-ilmu tersebut kepada manusia dan mahluk-mahluk lainnya. Ada diantara ilmu-ilmu tersebut diberikan melalui insting, ada diantaranya yang diberikan melalui panca indera, ada lagi yang diperoleh melalui nalar (akal), adalagi yang ditemukan melalui pengalaman dan penelitian empirik, dan ada yang lain didapatkan melalui wahyu seperti yang didapatkan para Nabi/Rasul. Tetapi sumber dari semua ilmu itu adalah Allah, dan dari teologi inilah kemudian muncul istilah “trasendentalisasi ilmu”, yang artinya bahwa semua ilmu itu tidak dapat dilepaskan dari kekuatan dan kekuasaan Tuhan dan keyakinan seperti ini akan mempengaruhi konsep dan system pendidikan islam

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kalaau dibarat ilmu pengetahuan beranjak dari “premis kesangsian”, maka dikalangan agama samawi, termasuk islam, ilmu-ilmu itu bersumber dari “premis keimanan”, suatu keimanan yang memberikan keyakinan, bahwa kebenaran yang absolute itu hanya ada pada wahyu, termasuk kebenaran ijtihadi dalam upaya menafsirkan wahyu tersebut. Al-qur’an dan As-Sunah yang sahih mempunyai tingkat kebenaran absolute, tetapi ilmu-ilmu ijtihadi seperti ilmu kalam atau ilmu fiqih dan lain-lain, tingkat kebenarannya adalah relative. (Muhammada Talhah Hasan, 2006: 39)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Allahlah sumber segala ilmu pengetahuan, sedangkan ilmu yang dikuasai manusia selama ini sangat terbatas dan sedikit sekali apa bila dibandingkan dengan ilmu Allah. Tuhan telah memberikan ilmu-Nya kepada manusia dan mahluk-mahluk lainnya seperti malaikat, dengan beberapa cara seperti dengan ilham, instink, indra, nalar (reason), pengalaman dan lain sebagainya. Atau dengan istilah lain, melalui penelitian dan survey, juga melalui penelitian laboratories, dan ada juga yang melalui kontemplasi/perenungan yang tajam dan melalui informasi wahyu yang diterima para Rasul Allah. Itu semua merupakan cara-cara yang digunakan oleh Allah untuk memberi ilmu pengetahuan, informasi, kemampuan nalar dan kecakapan kepada manusia, tetapi sumbernya tetaplah Allah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Prof. DR. Cecep Sumarna mengatakan, bahwa dikalangan filosof dan saintis muslim berkembang sebuah pemikiran bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah wahyu. Bagi umat islam hal itu termanifestasi dalam bentuk Al-Qr’an dan As-Sunah. Sumber Al-Qur’an ini bukan hanya mendampingi sumber pengetahuan lain, misalnya sumber empiris yang faktual/induktif dan rasional/deduktif. Al-Qur’an bahkan dapat dianggap pemegang otoritas lahirnya ilmu. Dalam perspektif islam, alam menjadi sumber empiris pengaruh modern, adalah wahyu Tuhan juga. Ia adalah symbol terendah dari Tuhan Yang Maha Tinggi dan sekaligus Maha Qudus. (Prof. DR. Cecep Sumarna; 2008:111). Selain empiris dan rasional, sumber ilmu pengetahuan yang lain adalah intuisi dan wahyu. Melalui intuisi manusia mendapati ilmu pengetahuan secara langsung tidak melalui proses penalaran tertentu, sedangkan wahyu adalah pengetahuan yang didapati melalui “pemberian” Tuhan secara langsung kepada hamba-Nya yang terpilih yang disebut Rasul dan Nabi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bagi orang islam sumber pengetahuan adalah Allah, tidak ada pengetahuan selain yang datang dari Allah. Sumber pertama itu sekarang ini adalah Al-Qur’an atau hadits Rasul. Demikian Al-Ghazali berpendapat, tidak akan bisa sampai pada pengetahuan yang meyakinkan tersebut bila ia bersumber dari hasil pengamatan indrawi (hissiyat) dan pemikiran yang pasti (dzaruriyat). (Al-Ghazali, 1961). Dari sini terlihat dengan jelas bahwa Al-Ghazali telah menggabungkan paradigma empirisme dan rasionalisme. Tetapi, bentuk pemaduan tersebut tetap dilakukan secara hierarkis, bukan dalam rangka melahirkan sintesa baru diantara keduanya itu. Terhadap hasil pengamatan indrawi, Al-Ghazali akhirnya berkesimpulan bahwa :

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Tentang hal ini aku ragu-ragu, karena hatiku berkata : bagaimana mungkin indra dapat dipercaya, penglihatan mata yang merupakan indera terkuat adakalanya seperti menipu. Engkau misalnya, melihat bayang-bayang seakan diam, padahal setelah lewat sesaat ternyata ia bergerak sedikit demi sedikit, tidak diam saja. Engkau juga melihat bintang tampaknya kecil, padahal bukti-bukti berdasarkan ilmu ukur menunjukkan bahwa bintang lebih besar dari pada bumi. Hal-hal seperti itu disertai dengan contoh-contoh yang lain dari pendapat indera menunjukkan bahwa hukum-hukum inderawi dapat dikembangkan oleh akal dengan bukti-bukti yang tidak dapat disangkal lagi”. (Al-Ghazali,1961).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari pernyatan tersebut jelas sekali di mata Al-Ghazali paradigma empirisme yang lebih bertumpu pada hasil penglihatan inderawi, tidak dapat dijadikan sebagai bentuk pengetahuan yang menyakinkan lagi, sebab kebenaran yang ditawarkan bersifat tidak tetap atau berubah-ubah. Kredibilitas akal, karena itu, juga tidak luput dari kuriositas Al-Ghazali terhadap hakikat yang sedang dicari-carinya. Kredibilitas akal diragukan, karena kekhawatirannya, jangan-jangan pengetahuan aqliyah itu tidak ada bedanya dengan seseorang yang sedang bermimpi, seakan-akan ia mengalami sesuatu yang sesungguhnya, tetapi ketika ia siuman nyatalah bahwa pengalamannya tadi bukanlah yang sesungguhnya terjadi.” (Al-Ghazali,1961).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu) Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata (Syarh Riyadhish Shalihin, 3/434): “Tidaklah mewarisi dari para nabi kecuali para ulama. Maka merekalah pewaris para nabi. Merekalah yang mewarisi, ilmu, amal dan tugas membimbing umat kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Dalam al-Quran Surat AlMujadalah ayat 11 dikemukakan: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat” mengilhami kepada kita untuk serius dan konsisten dalam memperdalam dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Beberapa tokoh penting (ilmuwan) dalam sejarah Islam jelas menjadi bukti janji Allah s.w.t akan terangkatnya derajat mereka baik dihadapan Allah maupun sesama manusia. DR Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al Munir nya memaknai kata ‘darajaat’ (beberapa derajat) dengan beberapa derajar kemuliaan di dunia dan akhirat. Orang ‘alim yang beriman akan memperoleh fahala di akhirat karena ilmunya dan kehormatan serta kemulyaan di sisi manusia yang lain di dunia. Karena itu Allah s.w.t meninggikan derajat orang mu’min diatas selain mu’min dan orang-orang ‘ alim di atas orang-orang tidak berilmu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam perspektif sosiologis, orang yang mengembangkan ilmu berada dalam puncak piramida kegiatan pendidikan. Banyak orang sekolah/ kuliah tetapi tidak menuntut ilmu. Mereka hanya mencari ijazah, status/gelar. Tidak sedikit pula guru atau dosen yang mengajar tetapi tidak mendidik dan mengembangkan ilmu. Mereka ini berada paling bawah piramida dan tentunya jumlahnya paling banyak. Kelompok kedua adalah mereka yang kuliah untuk emnuntu ilmu tetapi tidak mengembangkan ilmu. Mereka ini ingin memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan untuk bekal hidupnya atau untuk dirinya sendiri, tidak mengembangkannya untuk kesejahteraan masyarakat. Kelompok ini berada di tengah piramida kegiatan pendidikan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ini adalah pelajaran adab dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya tentang sikap dan perbuatan mereka yang tidak pantas. Seharusnya, apabila datang kepada mereka berita penting yang terkait dengan kepentingan umat, seperti berita keamanan dan hal-hal yang menggembirakan orang-orang yang beriman, atau berita yang mengkhawatirkan/ menakutkan, yang di dalamnya ada musibah yang menimpa sebagian mereka, hendaknya mereka memperjelas terlebih dahulu akan kebenarannya dan tidak tergesa-gesa menyebarkannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Namun hendaknya mereka mengembalikan hal itu kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam (semasa beliau masih hidup) dan kepada ulil amri, yaitu orang yang ahli berpendapat, ahli nasihat, yang berakal (para ulama). Mereka adalah orang-orang yang paham terhadap berbagai permasalahan dan memahami sisi-sisi kebaikannya bagi umat, sekaligus mengetahui hal-hal yang tidak bermanfaat bagi mereka. Apabila mereka melihat sisi kebaikan, motivasi yang baik bagi orang-orang yang beriman dan menggembirakan mereka bila berita tersebut disebarkan, atau akan menumbuhkan kewaspadaan mereka terhadap musuh-musuhnya, tentu mereka akan menyebarkannya (atau memerintahkan untuk menyebarkan).Apabila mereka melihat (disebarkannya berita tersebut) tidak mengandung kebaikan, atau dampak negatifnya lebih besar, maka mereka tidak akan menyebarkannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Para ulama adalah lentera hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, lambang sebuah negara, lambang kekokohan umat, sumber ilmu dan hikmah, serta mereka adalah musuh syaithan. Dengan ulama akan menjadikan hidupnya hati para ahli haq dan matinya hati para penyeleweng. Keberadaan mereka di muka bumi bagaikan bintang-bintang di langit yang akan bisa menerangi dan dipakai untuk menunjuki jalan dalam kegelapan di daratan dan di lautan. Ketika bintang-bintang itu redup (tidak muncul), mereka (umat) kebingungan. Dan bila muncul, mereka (bisa) melihat jalan dalam kegelapan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (QS. al Mujadalah: 11), artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Mushlihah Purwo Saputri , menurut Sri Utami (1992 :30), menyatakan bahwa berpikir adalah aktivitas mental manusia. Dalam proses berpikir kita merangkai-rangkaikan sebab akibat, menganalisinya dari hal-hal yang khusus atau atau kita menganalisisnya dari hal-hal yang khusus ke yang umum. Berpikir berarti merangkai konsep-konsep. Pikiran adalah proses pengolahan stimulus yang berlangsung dalam domain representasi utama. Proses tersebut dapat dikategorikan sebagai proses perhitungan (computational process).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adapun wahyu dalam hal ini yang dapat dipahami sebagai wahyu langsunng (al-Qur’an) ataupun wahyu yang tidak langsung (al-Sunnah), kedua-duanya memiliki fungsi dan kedudukan yang sama meski tingkat akurasinya berbeda karena disebabkan oleh proses pembukuan dan pembakuannya. Kalau al-Qur’an langsung ditulis semasa wahyu itu diturunkan dan dibukukan di masa awal islam, hanya beberapa waktu setelah Rosul Allah wafat (masa Khalifah Abu Bakar), sedangkan al-hadis atau al-Sunnah baru dibukukan pada abat kedua hijrah (masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz), oleh karena itu fungsi dan kedudukan wahyu dalam memahami Islam adalah:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pengertian teori menurut Marx dan Goodson ialah aturan menjelaskan proposisi atau seperangkat proposisi yang berkaitan dengan beberapa fenomena alamiah dan terdiri atas representasi simbolik dari (1) hubungan-hubungan yang dapat diamati diantara kejadian-kejadian (yang diukur), (2) mekanisme atau struktur yang diduga mendasari hubungan-hubungan demikian, dan (3) hubungan-hubungan yang disimpulkan serta mekanisme dasar yang dimaksudkan untuk data dan yang diamati tanpa adanya manifestasi hubungan empiris apa pun secara langsung.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Firdinata , salah satu fungsi penting teori adalah memberikan penjelasan tentang gejala-gejala, baik bersifat alamiah maupun bersifat sosial. Pemenuhan fungsi itu tidak hanya dilakukan dengan mengemukakan, melukiskan gejala-gejala, melainkan disertai dengan keterangan tentang gejala tersebut baik dengan membandingkan, menghubungkan, memilah-milah, atau mengkombinasikannya. Hal ini menegaskan bahwa fungsi teori adalah menjelaskan keterkaitan antara kajian teoritis dengan hal-hal yang sifatnya empiris.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam penjelasan terhadap gejala-gejala, dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, seperti melalui penjelasan logis, penjelasan sebab akibat, penjelasan final (menerangkan sebuah proses berdasarkan tujuan yang ingin dicapai), penjelasan fungsional (cara kerja), penjelasan historis atau genensis (berdasarkan terjadinya), serta melalui penjelasan analog (dengan menganalogkan melalui struktur-struktur yang lebih dikenal). Khusus dalam kaitan dengan penelitian atau pengembangan ilmu, fungsi teori adalah sebagai landasan dalam merumuskan hipotesis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Karena itu pula, sekali teori telah dibangun dan diterima oleh kalangan ilmuwan dalam bidangnya, maka teori akan melaksanakan berbagai fungsinya. Fungsi teori dalam hal ini untuk mengantar sesorang kepada kepeduliannya untuk mengamati hubungan-hubungan yang terjadi, membantu dalam mengumpulkan dan menyusun data yang relevan, menjelaskan kebenaran operasional (mengarahkan kepada ramalan-ramalan yang dapat diuji dan diverifikasi), penggunaan istilah-istiah tertentu secara konsisten, dalam membangun metode-metode baru sesuai dengan situasi yang terjadi atau dalam mengevaluasi metode-metode yang telah dibangun sebelumnya, serta dalam membantu menjelaskan perilaku yang terjadi pada individu dan bagaimana cara-cara mengatasinya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

5. membuat predikasi. Meskipun kejadian yang diamati berlaku pada masa lalu, namun berdasarkan data dan hasil pengamatan ini harus dibuat suatu perkiraan tentang keadaan yang bakal terjadi apabila hal-hal yang digambarkan oleh teori juga tercermin dalam kehidupan di masa sekarang. Fungsi prediksi ini terutama sekali penting bagi bidang-bidang kajian komunikasi seperti perundingan dan perubahan sikap, komunikasi dalam organisasi, dinamika kelompok kecil, periklanan, perhubungan awam dan media massa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

6. fungsi heuristik. Ertinya bahawa teori yang baik harus mampu merangsang penelitian selanjutnya. Hal ini dapat terjadi apabila konsep dan penjelasan teori cukup jelas dan operasional sehingga dapat dijadikan pegangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya. Apakah suatu teori yang dibentuk ada potensi untuk menghasilkan penelitian atau teori-teori lainnya yang berkaitan. Sebagaimana telah dijelaskan diawal suatu teori merupakan hasil konstruksi atau ciptaan manusia, maka suatu teori sangat terbuka untuk diperbaiki.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Syamsudin serero tujuan penelitian adalah menemukan teori. Hasil proses penelitian adalah teori. Teori membuat manusia mempunyai ilmu pengetahuan. Mencari teori-teori konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian merupakan langkah kedua setelah masalah penelitian dirumuskan. Setiap penelitian yang kita laksanakan haruslah berlandaskan pada teori yang sesuai dengan topik atau permasalahan yang kita teliti agar penelitian yang kita lakukan mempunyai dasar yang kuat dan tidak sekedar asal-asalan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Labovitz dan Hagedorn juga menambahkan bahwa teori merupakan anggapan dasar (rationale) yang menentukan bagaimana dan mengapa variabel dan pernyataan-pernyataan relasional tertentu saling terkait. Misalnya, mengapa variabel bebas X (independent variable X) mempengaruhi atau berpengaruh terhadap variabel Y. Teori akan memberikan penjelasan mengenai prediksi tersebut. Dengan demikian, teori digunakan untuk menjelaskan sebuah model atau seperangkat konsep dan proposisi yang sesuai dengan kejadian yang sebenarnya atau sebagai dasar melakukan suatu tindakan yang terkait dengan sebuah peristiwa tertentu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Posisi teori dalam penelitian kuantitatif adalah menjadi faktor yang sangat penting dalam proses penelitian itu sendiri, teori digunakan untuk menuntun peneliti menemukan masalah, menemukan hipotesis, menemukan konsep-konsep, menemukan metodologi dan menemukan alat analisis data. Selain itu, teori juga digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel.Penelitian kuantitatif meyederhanakan kompleksitas gejala degan mereduksi ke dalam ukuran yang dapat ditangani dan diukur. Ukuran dari gejala yang dapat ditangani dan diukur. Ukuran dari gejala yang ditangani dan diukur itu dikenal sebagai variabel.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam penelitian kuantitatif variable dan hubungannya nampak dari rumusan masalahnya. Variable adalah hal pokok yang dipersoalkan dalam penelitian kuantitatif. Seluruh kegiatan penelitian, termasuk dalam pengembangan teori, akan memusatkan pengkajiannya terhadap variable. Oleh karenanya teori yang dikembangkan dalam penelitian kuantitatif adalah mengenai variable dan hubungannya. Teori aka memandu ke arah pengumpulan data variable dan perumusan dugaan sementara jawaban atas pertanyaan penelitian yang merupakan hubungan variabel.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam penelitian kuantitatif, teori dikembangkan sebagai usaha mencari jawaban pertanyaan penelitian. Usaha pencarian jawaban pertanyaan penelitian dengan mengembangkan teori akan menghasilkan dua hal. Pertama, teori memberikan pemahaman terhadap variabel-variabel yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian. Pemahaman terhadap variabel-variabel diperluka sebagai panduan untuk mengumpulkan data. Data-data tentang variabel kemudian akan digunakan untuk melakukan pembuktian secara empirik atas kebenaran dari hipotetik teori. Jawaban pertanyaan penelitian yang dilakukan dengan melakukan pengujian meggunakan data-data empirik akan mengkonfirmasi kebenaran hipoteik teori dengan pembuktian empiris. Kedua, pengembangan teori diperlukan untuk memperoleh panduan dalam pengujian dengan mengajukan hipotesa yang kebenarannya tenatif dan berlaku pada tingkat teoritik. Kebenaran sementara yang diajukan dalam pernyataan hipotesis itu kemudian akan diuji meggunakan data yang dikumpulkan secara empiris. Kebenaran manusia tidak pernah merupakan kebenaran mutlak.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam penelitian kuantitatif, teori mejadi sumber bagi pengajuan hipotesis. Teori menjadi premis-premis dasar yang menjadi landasan penyusunan kerangka berpikir. Kerangka berpikir menjadi landasan bagi peneliti untuk mengajukan dugaan kebenaran hipoesis. Kebenaran hipotesis masih bersifat dugaan yang masih harus diuji dengan menggunakan data-data empiris. Hipotesis merupakan kebenaran pada tingkat teori yang sementara diterima sambil menunggu dilakukan pegujian data-data yang dikumpulkan. Hipotesis dugaan diajukan berdasarkan argumentasi kebenaran yang dibangun dalam keragka berpikir merupakan kesimpulan kebenaran yang ditarik secara logis dari teori-teori sebagai premis. Dalam hubungan ini maka dapat dikatakan bahwa teori merupakan sumber hipotesis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kalau variable yang diteliti ada enam, maka jumlah teori yang dikemukakan juga ada enam. Deskripsi teori berisi tentang penjelasan terhadap variable-variabel yang diteliti melalui pendefinisian dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabelyang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah. Pendeskripsian teori akan memberikan gambaran apakah peneliti menguasai teori dan kontek yang diteliti atau tidak. Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam merumuskan hipotesis, peneliti harus 1) mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan.2) mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki.3) mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuai dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebuah penelitian yang dilakukan tentu saja memiliki tujuan yang jelas, yaitu untuk menemukan pemecahan dari suatu permasalahan atau fakta-fakta. Meskipun tidak dapat memberikan jawaban secara lansung dari permasalahan atau fakta yang di investigasi, namun hasil dari sebuah penelitian nantinya harus dapat berkontribusi dalam menyelesaikan masalah atau fakta tersebut. Tujuan dari sebuah penelitian harus lebih dari sekedar menunjukkan perbedaan yang ada diantara subject yang menjadi contoh atau sample penelitian.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Paling tidak, ada empat bangsa yang dianggap cukup maju baik secara teknologi maupun kemapanan ekonomi. Misalnya, kaum ‘Ad (kaum Nabi Hud as.) yang digambarkan oleh Al-Qur’an sebagai bangsa yang sudah maju yang belum pernah ada sebelumnya. Begitu juga kaum Tsamud (kaum Nabi Sholeh as.), mereka memiliki keahlian untuk memahat gunung-gunung cadas, baik untuk hiasan semacam relief-relief maupun untuk tempat tinggal dengan arsitektur yang cukup mengagumkan untuk ukuran saat itu. Bahkan, mungkin sampai saat ini. Kemudian bangsa Madyan (kaum Nabi Syu’aib as.), mereka hidup di kawasan yang subur dan memiliki dua keahlian yang sangat menonjol, yaitu berdagang dan bercocok tanam, yang memungkinkan mereka bisa maju secara ekonomi. Dan terakhir adalah bangsa Mesir, yang dipimpin oleh seorang Raja, yang dikenal dengan Fir’aun. Fir’aun memiliki pengaruh dan kekuasaan yang sangat besar dan kuat. Ia menguasai tanah Mesir dan hajat hidup rakyat Mesir.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Namun, keempat bangsa besar di atas pada akhirnya dihancurkan oleh Allah SWT. Dalam hal ini, Al-Qur’an menyebut mereka sebagai bangsa yang kafir, zalim, fasik, dan kizb (mendustakan kebesaran Allah SWT). Sepintas pernyataan Al-Qur’an tersebut mengarah kepada kesalahan teologis. Maksudnya, mereka dihancurkan karena secara teologis, akidah mereka berbeda dengan akidah para Rasul. Namun, menurut Imam al-Razi, seorang mufasir ensiklopedis, bahwa sebab-sebab kehancuran mereka bukan bersifat teologis, tetapi bersifat sosiologis. Misalnya kaum ‘Ad disebabkan oleh keangkuhan intelektual yang sudah membudaya; kaum Tsamud disebabkan oleh budaya hedonistic; bangsa Madyan disebabkan oleh kecurangan dalam berbisnis (kejahtan ekonomi); sedangkan Fir’aun disebabkan oleh arogansi kekuasaan sehingga cenderung bersikap tiranik dan menindas. Atau dengan istilah lain, Allah akan mengabaikan kebenaran akidah jika tidak tercermin didalam realitas sosialnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ayat di atas bukan sekedar memaparkan hancurnya sebuah bangsa tertantu yang ada pada masa lalu, tetapi ayat ini merupakan bisa dipahami sebagai teori umum tentang kehancuran bangsa. Dalam hal ini, Al-Qur’an secara khusus menyebutkan kata mutraf yang oleh para pakar dipahami sebagai orang yang cenderung berlaku seenaknya dan berfoya-foya disebabkan kemewahan dan kemegahan yang dimiliki. Mereka juga merupakan kelompok yang mudah melupakan nilai-nilai kemasyarakatan, melecehkan ajaran-ajaran agama; bahkan, menindas orang-orang yang lemah. Mereka terbiasa “menikmati” perilaku dosanya tanpa merasa bersalah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari gambaran diatas bisa dipahami bahwa mutraf adalah orang-orang yang memiliki “sesuatu” yang berpotensi melahirkan penyimpangan-penyimpangan sosial tersebut. Dan, “sesuatu” yang dimaksud adalah harta dan kekuasaan. Sebab, kedua hal inilah yang paling dipercaya memiliki pengaruh kuat bagi kehidupan masyarakat. Jika demikian, maka kata mutraf dapat diidentifikasi sebagai kelompok yang menguasai ekonomi (elit ekonomi) dan pemegang kekuasaan (elit penguasa/politik). Hal ini cukup logis, sebab kedua kelompok tersebut pada kenyataannya paling berpotensi menciptakan budaya-budaya buruk bagi masyarakat, sekaligus berpotensi melakukan ketidakadilan, penindasan, dan penyelewengan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hubungan rasional antara kelompok mutraf dan eksistensi bangsa dijelaskan oleh Maheruddin Shiddiqi, sarjana Muslim dari Pakistan : “Ketika masyarakat terbiasa hidup mewah dan dikelilingi dengan kemewahan, mereka akan terbiasa memperoleh kemudahan dan kesenangan, yang selanjutnya cenderung mengendurkan kontrol spiritual dan disiplin sosialnya. Longgarnya kontrol ini akan mengakibatkan mereka mudah melakukan ketidakadilan dan tidak berperikemanusiaan terhadap hak-hak orang-orang lemah dan tidak berdaya”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Secara ilustratif, dijelaskan oleh Quraish Shihab, “Apabila penguasa suatu negeri hidup berfoya-foya, maka ini akan menjadikan mereka melupakan tugas-tugasnya serta mengabaikan hak-hak orang kebanyakan, membiarkan mereka hidup miskin. Inilah yang mengundang kecemburuan sosial, sehingga merenggangkan hubungan masyarakat dan mengakibatkan timbulnya perselisihan dan pertikaian yang melemahkan sendi-sendi bangunan masyarakat, yang pada gilirannya meruntuhkan sistem yang diterapkan oleh penguasa-penguasa tersebut. Ketika itulah akan runtuh dan hancur masyarakat atau negeri tersebut”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Atau secara logis, dijelakan oleh Imam al-Razi, “Ketika seseorang mendapat berbagai kenikmatan, melebihi yang lain, maka sudah sewajarnya jika ia lebih dituntut untuk bersyukur kepada Allah. Ketika perilaku mereka justru semakin buruk dari hari ke hari; sementara Allah SWT. masih terus memeberinya nikmat, maka wajar saja jika mereka layak dibinasakan. Namun begitu, bukan berarti Islam melarang manusia untuk menikmati kesenangan-kesenangan yang wajar. Yang ditentang oleh Islam adalah ketika kenikmatan itu menjadikan dirinya tidak mau lagi menjalani reksiko dan berkorban demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat manusia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di samping mutraf, sebenarnya masih ada kelompok lain yang bisa diidentifikasikan memiliki peran yang cukup signifikan dalam kehancuran bangsa, yaitu mala’. Di dalam Al-Qur’an, kata mala’ disebutkan sebanya 30 kali. Mala’ adalah kelompok yang dpandang mulia oleh masyarakat. Mereka dipenuhi oleh kebanggaan dan kebesaran. Al-Qur’an menggambarkan mala’ sebagai kelompok yang berada di sekeliling penguasa. Memang tidak semua mala’ itu buruk, namun kecenderungan kelompok mala’ dinyatakan oleh Al-Qur’an sebagai kelompok yang senantiasa “menjilat” sang penguasa. Bahkan, demi memuaskan nafsu serakahnya, mereka tidak segan-segan melakukan cara-cara kotor, provokatif, dan intimidatif. Mereka pun berupaya keras untuk menghalangi tegaknya kebenaran dan keadilan. Dan untuk mewujudkan tujuan tersebut, mereka tidak segan-segan melontarkan tuduhan yang nista dan tidak benar kepada para penegak kebenaran dan keadilan, kalau perlu dengan “menyihir” dan mempengaruhi lewat ide-ide “sesat” yang dibungkus dengan sangat rapi dan indah, juga memecah-belah serta membodohi pihak-pihak lain. (Qs. 7: 60, 66 dan Qs. 11:27).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Apabila ketiga kelompok tersebut berkolusi serta melakukan konspirasi-konspirasi busuk maka tidak ada satu pun yang mampu menghentikannya, kecuali Allah. Ini artinya bangsa tersebut sudah memenuhi syarat-syarat kehancuran”. Inilah yang dimaksud dengan pernyataan Al-Qur’an : “maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri tiu sehancur-hancurnya (Qs. 17:16). Bahwa kemudian siapa yang bisa mengukur kalau kezaliman itu sudah memenuhi syarat-syarat kehancuran sudah mencapai 100% atau belum tentu saja hanya Allah yang mengetahuinya. Namun yang pasti efek dari kehancuran tersebut akan sangat dahsyat dan meluas. Bukan saja menimpa mereka yang berperilaku zalim tetapi merebak ke seluruh sendi kehidupan masyarakat, termasuk menimpa anak-anak dan orang-orang yang tidak bersalah. Inilah sunnatullah (ketetapan Allah) di dunia yang tidak akan mengalami perubahan dan penyimpangan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Memang benar. Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu sendiri mengubah apa yang ada di dalam diri mereka sendiri. Namun, perubahan disini bukan dalam tataran pranata-pranata sosial, tetapi perubahan mental dan karakter. Gerakan penanaman sejuta pohon, tentu saja sesuatu yang berguna bagi kelangsungan bangsa ini, namun siapa yang menjamin kalau pohon yang sudah tinggi itu kelak tidak akan digunduli lagi dan ditebang secara ilegal serta penuh keserakahan, jika mentalnya masih mental masa lalu. Oleh karena itu, membangun sebuah bangsa yang habis terpuruk, bukan berarti mengubah “nasib” tetapi “membangun kembali” bangunan yang sudah porak poranda. Dalam hal ini, Al-Qur’an menekankan pada perubahan sikap mental dan karakter yang selanjutnya bisa mempengaruhi perilaku (Qs. 13:11).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

1.Tahap sukses atau tahap konsolidasi, dimana otoritas negara didukung oleh masyarakat (`ashabiyyah) yang berhasil menggulingkan kedaulatan dari dinasti sebelumnya. 2.Tahap tirani, tahap dimana penguasa berbuat sekehendaknya pada rakyatnya. Pada tahap ini, orang yang memimpin negara senang mengumpulkan dan memperbanyak pengikut. Penguasa menutup pintu bagi mereka yang ingin turut serta dalam pemerintahannya. Maka segala perhatiannya ditujukan untuk kepentingan mempertahankan dan memenangkan keluarganya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada tahap ini, negara tinggal menunggu kehancurannya. Tahap-tahap itu menurut Ibnu Khaldun memunculkan tiga generasi, yaitu: 1. Generasi Pembangun, yang dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk dibawah otoritas kekuasaan yang didukungnya. 2. Generasi Penikmat, yakni mereka yang karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan, menjadi tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara. 3. Generasi yang tidak lagi memiliki hubungan emosionil dengan negara.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Keinginan hidup dengan makmur dan terbebas dari kesusahan hidup ditambah dengan ‘Ashabiyyah di antara mereka membuat mereka berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita mereka dengan perjuangan yang keras. Impian yang tercapai kemudian memunculkan sebuah peradaban baru. Dan kemunculan peradaban baru ini pula biasanya diikuti dengan kemunduran suatu peradaban lain (Muqaddimah: 172). Tahapan-tahapan di atas kemudian terulang lagi, dan begitulah seterusnya hingga teori ini dikenal dengan Teori Siklus.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Admin situs ada lima Hal Penghancur Peradaban, sebuah peradaban besar yang sangat maju dengan istana – istana yang megah, ilmu pengetahuan sangat dihargai, semua orang haus akan ilmu pengetahuan.sebuah peradaban yang sangat tinggi dapat hancur dan musnah,hal ini bukanlah bualan belaka, hancurnya sebuah peradaban pernah di alami eropa dan peradaban islam. mengapa sebuah peradaban yang sangat maju , bahkan dengan teknologi yang sangat tinggi. kehancuran peradaban ternyata sangat manusiawi, yaitu hancurnya moral dan akhlak masyarakatnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut teori ini, negara merupakan suatu bentuk susunan tata paksa yang sesuai jika diterapkan dalam tatanan kehidupan masyarakat yang masih primitif. Teori ini tidak cocok bagi masyarakat modern yang beradab dan bertatakrama. Para penganut teori ini berkeyakinan bahwa pada suatu saat negara pasti akan lenyap dan muncul lah masyarakat yang penuh kebebasan dan kemerdekaan, tanpa paksaan, tanpa pemerintahan, serta tanpa negara. Anarkisme atau dieja anarkhisme yaitu suatu paham yang mempercayai bahwa segala bentuk negara, pemerintahan, dengan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menumbuh suburkan penindasan terhadap kehidupan, oleh karena itu negara, pemerintahan, beserta perangkatnya harus dihilangkan atau dihancurkan. Penganut teori ini antara la\in William Godwin, Joseph Proudhon, Kropotkin, dan Michael Bakounin.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Penganut teori ini dapat di bedakan menjadi dua golongan, yaitu golongan pertama yang berpandangan bahwa untuk menghapuskan atau melenyapkan “tata paksa” harus dilakukan dengan cara menghancurkan organisasi tersebut bersama perlengkapan dan pendukungnya, maksudnya untuk melenyapkan negara harus dengan jalan terorisme (Joseph Proudhon, Kropotkin, dan Michael Bakounin). Menurut mereka untuk menjamin kebebasan manusia tidak perlu ada negara, karena negara dianggap sebagai “alat pemaksa” yang dapat mengekang kebebasan, karenanya negara dengan pemerintahannya harus dihapuskan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti pandangan-pandangan dari Karl Marx. Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem politik. Penganut teori ini disebut Marxis. Teori ini merupakan dasar teori komunisme modern. Teori ini tertuang dalam buku Manisfesto komunis yang dibuat oelh Marx dan sahabatnya, Friedrich Engels. Merxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proleter. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum, sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum kapitalis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya “ kepentingan pribadi” dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari Marxisme. Para penganutnya adalah orang-orang komunis, dan pelopornya adalah Karl Marx. Menurut Marx ini negara dipandang sebagai “alat pemaksa” dari kelas yang kuat terhadap kelas yang lemah. Lahirnya negara adalah perjuangan kelas. Kelas yang menang artinya kelas yang kuat, membutuhkan susunan tata paksa Negara sebagai alat untuk memaksakan kehendaknya kepada kelas yang kalah (kelas lemah). Karena itu jika dalam pertentangan kelas yang menang akan berusaha melenyapkan kelas yang kalah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Uni Soviet memang salah satu negara yang hebat dulu, Uni Soviet menguasai teknologi teknologi canggih, khususnya dalam mengembangkan senjata perangnya. Sedangkan Afghanistan tidak terlalu maju perkembangan teknologinya, tetapi mereka sangat menguasai alam, menggunakan taktik yang memanfaatkan alam negara mereka. Jadi saat Uni Soviet akan menyerang, negara Afghanistan membuat bunker-bunker didalm tanah yang berisi senjata-senjata yang ditempatkan di tempat-tempat kemungkinan datangnya tentara Uni Soviet. Tentara Uni Soviet tidak pernah mengetahui itu, mereka sangat tidak menguasai alam yang akan ditempuhnya. Jadi deh beratus-ratus ribu tentara Uni Soviet mati, tidak kembali dari Afganistan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jaman sekarang, yang lagi memimpin dunia dengan peradabannya yang gemilang adalah Amerika. Negri PamanSam ini benar-benar menjadi pusat perhatian dan trend center dunia. Mulai dari cara berpakaian masyarakatnya, makanan, pekerjaan, hingga tatanan sosial, sistem kenegaraan, perpolitikan, ekonomi, dan lain sebagainya benar-benar ditiru oleh sebagaian negara-negara di dunia ini. Mereka merasa kemajuan Amerika patut diteladani dengan meniru berbagai hal yang menurut mereka dapat memajukan peradaban mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jaman dulu kala juga begitu, peradaban besar menjadi objek teladan bagi negara atau bangsa lain. Sebut saja peradaban besar seperti Imperium Romawi dan Imperium Abbasyiah. Kenapa Ane bilang Imperium Romawi dan Imperium Abbasyiah? Ya…Karena dua kerajaan inilah yang merupakan masa keemasan peradaban Barat dan peradaban Timur, kadang ada juga yang menyebutnya masa kejayaan antara kebudayaan yang mewakili peradaban Kristen dan peradaban Islam. Imperium Romawi adalah kekaisaran yang terkuat dan termaju pada zamannya, banyak daerah yang mereka taklukkan dan dijadikan daerah jajahan. Begitu juga dengan Imperium Abbasyiah, luas kerajaannya meliputi daratan Asia dan Afrika…Sungguh peradaban yang menakjubkan…

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Civis Romanus Sum (artinya: Saya Orang Romawi) adalah kalimat yang dipakai oleh Orang Romawi dan menunjukkan kebanggaan orang-orang Romawi pada imperiumnya di masa puncak kejayaannya. Kegemilangan peradaban Romawi menjadikan Eropa sebagai cahaya dunia masa lampau. Kekaisaran Romawi ini berdiri dari tahun 27 SM hingga 476 M. Kota-kotanya sangat besar dengan istana-istana yang megah dan pilar-pilar raksasa. Ekonominya juga sangat makmur. Ilmu pengetahuan berkembang pesat dan sekolah-sekolah tersedia buat semua orang. Akan tetapi, kehebatan mereka membuat mereka lupa diri. Dengan kekayaan berlimpah yang dimilikinya, para kaisar Roma sibuk bermewah-mewahan dan memuaskan nafsunya sendiri. Di masa-masa yang penuh kemegahan seperti ini, tidak ada yang bakal menyangka Roma akan jatuh…

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Orang-orang Romawi dilanda penyakit. Saat para penguasa makan, mejanya dipenuhi makanan-makanan lezat yang berlimpah dan tidak akan habis dimakan dalam dua hari. Mereka makan sampai perutnya buncit dan kelelahan. Semua makanan itu juga tidak dihidangkan sembarangan, tapi harus dihidangkan dalam perlengkapan mewah yang terbuat dari emas dan perak. Sambil makan, mereka para penguasa itu, dihibur oleh pelayan-pelayan cantik dan para penyanyi yang berpakaian setengah telanjang sambil menari-nari dengan mesum. Sungguh menyenangkan memang, tapi masalahnya siapa lagi yang sempat memikirkan kerajaan?

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kerajaan makin tak terurus. Sementara itu, Rakyat yang melihat perangai para penguasa yang demikian, akhirnya menjadikan mereka lemah dan terlena. Pemerintahan diseluruh negeri diisi oleh orang-orang yang bekerja dengan tidak jelas dan korup. Rakyat mengisi waktu luang tidak lagi dengan belajar, berpikir, dan memperbaiki diri, namun sibuk menonton hiburan-hiburan vulgar dan brutal di Collosseum. Di sana terdapat pertarungan antar para jagoan gladiator atau antara gladiator dengan binatang-binatang buas. Mereka sepertinya merasakan kesenangan dan kepuasan waktu melihat darah yang merah berceceran di arena. Sungguh Miris….

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Orang-orang Barbar, yang sudah sejak lama menghuni batas-batas Romawi di utara Eropa, melihat semua ini. Roma sudah lemah dan ini waktu bagi mereka. Akhirnya mereka menyerbu masuk ke jantung kekaisaran. Romawi yang besar akhirnya runtuh. Kaisar Romawi terakhir, Romulus Augustus, diturunkan oleh pemimpin suku Jerman bernama Odoacer pada 476 M. Akhirnya setelah ditaklukkan, segala lambang kejayaan Romawi di Eropa, hancur. Pusat pemerintahan yang indah dengan kolom-kolom yang megah, arena koloseum raksasa yang bisa menampung puluhan ribu penonton, dan perpustakaan-perpustakaan besar yang berisi pengetahuan-pengetahuan hebat sepanjang sejarah, hanya tinggal kenangan. Buku-buku karya filusuf dan pemikir paling jenius pun tidak luput dari pemusnahan-dibakar menjadi abu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Peradaban Islam dan Bangsa Arab adalah bangsa yang unggul. Para pemimpinnya adalah pemimpin yang unggul. “Paling unggul jika dibandingkan dengan pemimpin bangsa yang lainnya”. Dan keunggulan itu kan harus ditunjukkan kepada dunia. Itu bisa dilakukan dengan membangun istana-istana raksasa yang lebih megah dan lebih indah, bahkan lebih dari istana-istana Romawi. Ini pasti akan membuat para penguasa lain terkagum-kagum dan iri. Lagi pula kekayaan kekhalifahan yang berlimpah-limpah memungkinkan semua itu. Dengan kekayaannya yang hampir tak terbatas, khalifah mampu membangun istana-istana besar. Contohnya khalifah Al-Mutawakkil yang membangun tidak hanya satu atau dua istana besar, tapi belasan istana di Kota Samarra (120 Km Utara kota Bagdad). Al-Mutawakkil juga membangun mesjid terbesar di dunia pada saat itu di kota tersebut.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dengan kekayaan dan kekuasaan yang besar seperti itu, pasti juga mudah mendapatkan satu hal yang paling diinginkan semua laki-laki, yaitu wanita. Bukan sembarang wanita tentu saja, tetapi wanita-wanita tercantik dari seluruh negeri, yang menarik hati, cantik rupawan, halus tutur katanya, dan enak diajak berbincang-bincang. Mereka diberi tempat istimewa di istana bernama Harem. Wanita-wanita itu tentu tidak keberatan menjadi simpanan khalifah karena semua kebutuhan mereka terjamin dan terpenuhi di istana. Pada saat itu adalah hal yang biasa bagi khalifah untuk memiliki harem yang berisi puluhan bahkan ratusan wanita. Karena jumlahnya sangat banyak, para wanita tersebut saling berupaya merebut perhatian Sang Khalifah. Walau di sana disediakan pakaian yang indah-indah, banyak dari wanita-wanita cantik ini yang merasa tidak perlu memakai pakaian sama sekai kalau sedang berada di dalam harem.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Akan tetapi yang lebih sering berlebihan adalah dalam cara menikmati hidup. Orang-orang makin suka berpesta pora apalagi pada saat ada tamu kerajaan. Makanan-makanan lezat disajikan dalam jumlah yang tidak habis dimakan dalam waktu 3 hari. Semua orang bisa makan sampai perutnya buncit dan kelelahan. Para Khalifah juga hanya mau makan menggunakan pering, sendok, garpu yang dibuat dari emas dan dihiasi batu-batu intan permata. Sambil makan, mereka dihibur oleh wanita-wanita penari perut dengan busana yang minim dan menerawang. Mereka juga tidak minum air biasa. Mereka minum khamr. Sejenis minuman keras yang terlarang pada masa Nabi Muhammad, tetapi pada saat itu, sudah menjadi hal yang biasa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Semua kenikmatan dunia ini, benar-benar kenikmatan yang nyaris tidak terbatas. Siapa yang tidak ingin? Akan tetapi, masalah segera timbul. Semakin dahsyat kenikmatannya semakin besar juga keinginan banyak orang untuk terus menikmati dan mempertahankan kenikmatan tersebut, kalau perlu dengan cara yang licik bahkan dengan membunuh. Keinginan yang terus menumpuk dalam jiwa akhirnya berubah menjadi sesuatu yang berbahaya, yaitu nafsu. Kehidupan ekonomi terus berjalan, ilmu pengetahuan terus berkembang, namun urusan yang bikin kepala pusing seperti urusan rakyat, tak lagi terpikirkan oleh para khalifah dan penguasa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Akhirnya lama kelamaan, baik para pemimpin, para penguasa, hingga rakyat yang telah terbuai dengan kemewahan dan kejayaan tidak lagi memikirkan peperangan. Mereka lebih memilih untuk menikmati hidup dengan tuntunan nafsu mereka sendiri. Akhirnya lama-lama negara ini menjadi korup dan terjadi pembusukan disetiap lini. Tentara pun merasa sudah makmur, tidak memiliki semangat perang, dan ingin bersenang-senang. Hasilnya, pada tahun 1258 M, Khalifah terakhir yang malang, Al-Musta’sim, harus bertekuk lutut terhadap penyerangan Bangsa Mongol. Bangsa Mongol pada saat itu dipimpin oleh Hulagu Khan. Pasukan Hulagu Khan ini berhasil mematahkan setiap pertahanan pasukan Khalifah, di tiap daerah imperium Abbasyiah. Mereka merengsek maju dan akhirnya mengalahkan pasukan terakhir yang menjaga Ibu Kota. Setelah mengalahkan pasukan penjaga ibu kota, Ratusan ribu tentara Mongol ini mulai membanjiri gerbang kota Bagdad. Dengan tubuh yang masih dipenuhi darah segar musuhnya, mereka melihat Bagdad dengan segala kesenangannya, kekayaannya, harta karunnya, emas, permata, dan wanita-wanitanya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Langit serasa gelap hari itu. Bagdad seperti memasuki sebuah mimpi buruk yang paling gelap dan mengerikan. Laki-laki, perempuan, orang tua, dan anak-anak kecil diseret kejalan dan dibantai satu demi satu dengan pedang. Mayat-mayat memenuhi seluruh jalanan sampai sudut-sudut kota Bagdad. Darah dari tubuh-tubuh yang tersayat mengalir ke jalan-jalan kota seperti aliran air waktu hujan. Lebih dari satu juta orang dibantai hanya dalam waktu beberapa hari. Perpustakaan dan sekolah-sekolah semuanya juga tidak luput untuk dihancurkan. Jutaan buku ilmu pengetahuan terbaik di dunia yang susah payah dikumpulkan selama beratus tahun berdirinya Imperium Abbasyiah, dibakar atau paling tidak dihanyutkan kesungai Tigris. Akhirnya peradaban besar pun hilang tinggal kenangan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Itulah sekelumit mengenai keruntuhan peradaban besar di jaman dulu. Peradaban ini lah yang dapat dikatakan mewakili peradaban Barat dan peradaban Timur di masa jayanya. Di sini terlihat kalau hancurnya mereka karena diri mereka sendiri. Logikanya mereka tidak akan hancur kalau kuat dari dalam dan tidak membusuk di berbagai lini. Bagaimana pun serangan dari bangsa lain, peradaban kuat tidak akan gampang untuk ditaklukkan. Sejarah ini pasti akan terus berputar seperti Roda Setan, terus akan terjadi dan berulang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada jaman sekarang dinegara-negara yang mengaku diri mereka hebat, maju, dan berkuasa, ada kecendrungan bahwa mereka sudah memiliki ciri-ciri seperti peradaban besar jaman dulu, membusuk di berbagai bidang dan menunggu kehancuran. Bahkan yang parahnya, negara belum maju pun alias berkembang, juga ikut-ikutan menyontoh negara maju dan mengikuti arah pembusukan ini. Nafsu terus dijejali tanpa ada batasan, orang-orang lebih memilih untuk terus berkuasa, memupuk kekayaan dan menikmati kenikmatan duniawi. Anak-anak dan pemuda lebih senang menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting dari pada belajar, berpikir, dan mengoreksi diri. Para penguasa ingin tetap berkuasa dan menikmati hidup dengan berpesta pora dan main wanita. Hubungan sesama jenis dilegalkan dan dibilang sebagai bentuk dukungan terhadap HAM.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perang Dunia II, atau Perang Dunia Kedua (biasa disingkat menjadi PDII atau PD2), adalah sebuah perang global yang berlangsung mulai tahun 1939 sampai 1945. Perang ini melibatkan banyak sekali negara di dunia —termasuk semua kekuatan besar—yang pada akhirnya membentuk dua aliansi militer yang saling bertentangan: Sekutu dan Poros. Perang ini merupakan perang terluas dalam sejarah yang melibatkan lebih dari 100 juta orang di berbagai pasukan militer. Dalam keadaan “perang total”, negara-negara besar memaksimalkan seluruh kemampuan ekonomi, industri, dan ilmiahnya untuk keperluan perang, sehingga menghapus perbedaan antara sumber daya sipil dan militer. Ditandai oleh sejumlah peristiwa penting yang melibatkan kematian massal warga sipil, termasuk Holocaust dan pemakaian senjata nuklir dalam peperangan, perang ini memakan korban jiwa sebanyak 50 juta sampai 70 juta jiwa. Jumlah kematian ini menjadikan Perang Dunia II konflik paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Haryo Prasodjo Genosida adalah sebuah pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap suatu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkan bangsa atau kelompok tersebut. Kata genoside pertama kali digunakan oleh Raphael Lemkhin, seorang pengacaara Polandia yang mengajukan proposal mengenai genosida pada konferensi International Unification of Criminal Law yang ke lima pada tahun 1933. Dalam konferensi yang berlangsung di Madrid, spanyol tersebut, Lemkhin mengajukan agar tindakan penghancuran ras, agama, etnis dikatakan sebagai bentuk tindakan kejahatan internasional. Namun, usaha Lemkhin tersebut tidak berhasil. Sebelas tahun kemudian, Lemkhin memperkenalkan kata genosida dalam sebuah buku yang diterbitkannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Terdapat banyak kasus yang menjelaskan mengenai tanda-tanda terjadinya genosida. Namun peristiwa-peristiwa tersebut tidak dikatakan sebagai genosida yang harus dicegah dan diatasi. Invasi Iraq yang dipimpin oleh Saddam Husein ke Kuwait juga menelan banyak korban jiwa pada masa perang teluk. Invasi Amerika ke Irak serta isolasi yang dilakukan Amerika dan PBB terhadap Irak telah mengakibatkan kematian kurang lebih 1000 penduduk sipil setiap harinya akibat kekurangan gizi dan obat-obatan dan 500 rakyat yang mengungsi mencari perlindungan ke negara lain karena ketakutan akan timbulnya perang. Namun peristiwa-peristiwa tersebut tidak dikatakan sebagai tindakatan genosida. Dalam konvensi genosida, tindakan yang dikatakan sebagai genosida memiliki pengertian yang luas.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Suku aborigin sudah mulai mendiami daerah australia semenjak sekian lama. Ketikabritania raya menginvasi australia dan ditemukannya australia oleh penjelajah james cook.Maka dimulailah pembantaian terhadap orang aborigin tahun 1788.Pada tahun 1770, James Cook mendarat di pantai timur Australia dan mengambilalih daerahtersebut dan menamakannya sebagai New South Wales, sebagai bagian dari Britania Raya.Kolonisasi Inggris di Australia, yang dimulai pada tahun 1788, menjadi bencana besar bagipenduduk aborigin Australia. Wabah penyakit dari eropa, seperti cacar, campak dan influenzamenyebar di daerah pendudukan. Para pendatang, menganggap penduduk aborigin Australiasebagai nomad yang dapat diusir dari tempatnya untuk digunakan sebagai kawasan pertanian.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tifus adalah salah satu dari beberapa penyakit serupa yang disebabkan oleh bakteri yang ditularkan oleh kutu. Namanya berasal dari bahasa Yunani typhos, yang berarti berasap atau malas, menggambarkan keadaan pikiran mereka yang terkena dampak dari tifus. Rickettsia adalah endemik di host binatang pengerat, termasuk tikus, dan menyebar ke manusia melalui tungau, kutu dan caplak. Vektor Arthropoda tumbuh subur dalam kondisi kebersihan yang buruk, seperti yang ditemukan di penjara atau kamp-kamp pengungsi, di antara para tunawisma, atau sampai pertengahan abad ke-20, pada tentara di lapangan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Gambaran pertama tifus itu mungkin ditemukan pada tahun 1083 di sebuah biara dekat Salerno, Italia. Sebelum vaksin dikembangkan dalam Perang Dunia II, tifus merupakan penyakit yang berbahaya bagi manusia dan telah bertanggung jawab untuk sejumlah epidemi sepanjang sejarah. Selama tahun kedua Perang Peloponnesia (430 SM), negara-kota Athena di Yunani kuno dilanda epidemi dahsyat, yang dikenal sebagai Wabah Athena, yang menewaskan antara lain, Pericles dan dua putra sulungnya. Sahabat anehdidunia.com wabah kembali lagi, pada tahun 429 SM dan pada musim dingin tahun 427/6 SM.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di Amerika, sebuah epidemi tifus membunuh putra Franklin Pierce di Concord, New Hampshire pada 1843 dan juga menyerang Philadelphia pada tahun 1837. Beberapa epidemi terjadi di Baltimore, Memphis dan Washington DC antara 1865 dan 1873. Selama Perang Dunia I tifus menyebabkan tiga juta kematian di Rusia bahkan lebih banyak lagi di Polandia dan Rumania. Kematian umumnya antara 10 sampai 40 persen dari orang yang terinfeksi, dan penyakit tifus merupakan penyebab utama kematian bagi mereka yang merawat si sakit. Setelah perkembangan vaksin selama Perang Dunia II, epidemi hanya terjadi di Eropa Timur, Timur Tengah dan sebagian Afrika.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Trisna Nurdiaman , kompleksitas permasalahan masyarakat kota sebagai akibat dari kemajuan teknologi, mekanisasi, industrialisasi, dan globalisasi memicu terjadinya berbagai tindakan sosial yang tidak selaras dengan aturan hukum dan norma sosial yang berlaku. Ketidak mampuan seorang individu untuk beradaptasi dalam lingkungan sosial masyarakat perkotaan yang hiperkompleks menyebabkan kebingungan, kecemasan, dan berbagai konflik baik secara eksternal maupun internal. Maka terjadilah tindakan-tindakan sosial yang menyalahi aturan dan menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat atau sering disebut dengan kriminalitas.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Teori ini merupakan kombinasi antara faktor internal dan faktor eksternal, yaitu dimana suatu faktor kejahatan tidak hanya muncul dari individu itu sendiri, melainkan juga karena pengaruh lingkungan sosial terhadap individu tersebut. Ferri menyatakan bahwa kejahatan itu tidak hanya disebabkan oleh konstitusi biologis yang ada pada diri individu saja, akan tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor dan pengaruh-pengaruh eksternal. Menurutnya kejahatan disebabkan oleh kombinasi dari kondisi individu dan kondisi sosial. Namun, faktor individulah yang paling dominan dalam penentuan pola-pola kriminal.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Negara sebagai asosiasi dan sistem pengendalian sosial dipandang ikut mempengaruhi terjadinya suatu kejahatan. Beberapa filsuf dan negarawan seperti Plato, Aristoteles dan Thomas More memandang bahwa struktur ketatanegaraan dan falsafah negara menentukan ada atau tidaknya suatu kejahatan. Jika susunan negara baik dan pemerintahannya bersih, serta mampu melaksasnakan tugas memerintah rakyat dengan adil, maka kejahatan tidak akan berkembang. Sebaliknya jika pemerintahan korup dan tidak adil, maka banyak orang memenuhi kebutuhannya yang inkonvensional dan kriminal.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Herman , Indonesia sudah berada di ambang kehancuran akibat tindakan korupsi yang semakin merajalela. Korupsi terus menggerogoti para elite politik bahkan merambah ke ranah hukum. Jika masalah ini dibiarkan, maka negara ini akan menemukan kehancuran kerena perbuatan yang dinamakan korupsi. Kita semua tahu beberapa kasus yang hingga kini belum terungkap dengan jelas, seperti kasus BLBI 47,5 triliun, kasus Bank Century, mafia pajak, mafia hukum, kasus Sesmenpora yang melibatkan bendahara umum partai berkuasa dan terakhir kita dikagetkan dengan masalah kursi haram DPR yang juga melibatkan politisi Partai Demokrat, Andi Nurpati. Betapa kompleknya masalah korupsi di negeri ini yang membuat wajah negeri ini semakin suram dan semakin diambang kehancuran.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Penegak hukum juga tidak luput dari masalah korupsi. Penangkapan hakim Syarifuddin oleh Komisi Pemberantasa Korus (KPK) adalah sebuah bukti nyata bahwa hukum kita bisa dibeli oleh siapa saja yang memimiliki uang. Penangkapan itu semakin menambah buruknya penegakan hukum di negeri ini. Bagaimana bisa bangsa ini keluar dari ancaman korupsi apabila sapu yang mereka miliki juga kotor. Para penegak hukum yang seharusnya menjadi panglima dalam pemberantasa korupsi malah ikut terjebak dalam kasus korupsi. Hal ini menurut saya adalah bukti kegagalan dan ketidakseriusan pemimpin dalam memimpin bangsa. Bahaya korupsi yang telah mengakar harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah untuk menyelematkan bangsa ini. Ketegasan hukum dan keadilan adalah syarat mutlak yang mesti dimiliki negara terutama penegak hukum.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jika kita cermati, masalah korupsi sebenarnya sudah menjadi budaya di negeri ini, mulai dari tingkat daerah hingga pusat. Malah di era demokrasi saat ini tindakan korupsi sudah menjadi hal yang biasa dipraktekkan oleh para pemimpin bangsa. Dan lucunya lagi para penegak hukum juga terlibat dalam praktek suap-menyuap. Di samping itu, pemerintah terkesan lamban, tebang pilih dan tidak tegas dalam memberantas korupsi yang merupakan salah satu penyebab kenapa tindakan korupsi terus merajalela. Kita lihat saja kasus yang menyeret salah satu kader Partai Demokrat, Mohammad Nazaruddin, yang terus mangkir dan kabur ke Singapur akibat ketidaktegasan pemerintah dalam menangani kasus yang menimpanya. Tidak ada tindakan serius dari pemerintah untuk menangkap para koruptor. Pemerintah seakan tidak memiliki keberanian ketika berhadapan dengan para koruptor kelas kakap.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tertangkapnya hakim Syarifuddin, menambah potret buram penegakan hukum di Indonesia. Hakim Syarifuddin diduga telah membebaskan 39 terdakwa korupsi dan terakhir dia juga membebaskan gubernur Bengkulu, Agusrin Najamudin. Membudayanya korupsi di negeri ini karena lemahnya penegakan hukum dan miskinnya keteladanan dari para pemimpin bangsa. Ancaman korupsi harus mendapatkan perhatian yang serius dari semua kalangan khususnya pemerintah agar bangsa ini tidak mengalami kehancuran akibat ketidakadilan dalam penegakan hukum. Jika budaya korupsi ini tidak cepat diberantas, penulis khawatir bangsa ini akan mengalami kemunduran dalam segala aspek keghidupan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kita masih ingat dengan negeri Saba’ yang hancur akibat korupsi yang merajalela. Korupsi di negeri ini sudah lama membudaya, sejak era Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi tindakan korupsi semakin subur. Di era reformasi ini penyakit korupsi tidak hanya menimpa elit pemerintahan saja, akan tetapi hampir semua elit pemerintahan sudah terjangkit penyakit korupsi. Penegakan hukum seakan tumpul jika berhadapan dengan koruptor kelas kakap, seperti pejabat pemerintah. Ketegasan penegakan hukum juga menjadi penyebab tindakan korupsi semakin tumbuh subur di republik ini. Negeri ini memiliki kekayaan alam yang melimpah, namun hancur akibat ulah sebagian pemimpin yang sudah menjadikan korupsi sebagai tradisi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Untuk mengantisipasi kehancuran bangsa akibat bahaya korupsi, menurut saya harus ada ketegasan dalam penegakan hukum dan keteladanan dari para pemimpin. Keteladanan merupakan keniscayaan yang mesti diberikan para pemimpin supaya tidak terancam perilaku KKN serta menindak dengan tegas bagi siapa saja yang tersangkut masalah korupsi. Keadaan ini membuat masyarakat menjadi frustasi dan menambah image negatif terhadap keberadaan negeri sampai hilang kepercayaan akan apa yang telah dilakukan pemerintah dalam pengembangan negara ini di samping lagi penanganan kasus korupsi yang tidak pernah tuntas.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Direktur Pukat FH UGM, Zainal Arifin Mochtar, menyebutkan tindak korupsi yang terjadi pada 2010 lalu masih memperlihatkan pola kecenderungan yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Begitu juga untuk tahun 2011 juga akan menunjukkan kecenderungan yang masih serupa. Namun demikian, pada tahun ini akan menjadi sangat mengkhawatirkan. Walaupun sama bahayanya dengan tahun 2010, tetapi pada 2011 kondisinya bisa lebih mengkhawatirkan seperti fenomena gunung es. Di tahun 2011, akan banyak timbunan kasus baru yang merupakan akumulasi dari tahun-tahun sebelumnya yang belum sempat terselesaikan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar masyarakat luas memperhatikan apa yang mereka perjuangkan. Tindakan teror tidaklah sama dengan vandalisme, yang motifnya merusak benda-benda fisik. Teror berbeda pula dengan mafia. Tindakan mafia menekankan omerta, tutup mulut, sebagai sumpah. Omerta merupakan bentuk ekstrem loyalitas dan solidaritas kelompok dalam menghadapi pihak lain, terutama penguasa. Berbeda dengan Yakuzaatau mafia Cosa Nostrayang menekankan kode omerta, kaum teroris modern justru seringkali mengeluarkan pernyataan dan tuntutan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Prof. M. Cherif Bassiouni, ahli Hukum Pidana Internasional, bahwa tidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secara universal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas makna Terorisme tersebut. Oleh karena itu menurut Prof. Brian Jenkins, Phd., Terorisme merupakan pandangan yang subjektif. Tidak mudahnya merumuskan definisi Terorisme, tampak dari usaha Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan membentuk Ad Hoc Committee on Terrorism tahun 1972 yang bersidang selama tujuh tahun tanpa menghasilkan rumusan definisi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tantangan utama yang dihadapi penuntut dalam kasus melawan Streicher dan Fritzsche adalah membuktikan adanya hubungan sebab-akibat langsung antara aktivitas penyebar propaganda Nazi dan pelaksanaan kebijakan agresi atau pembantaian massal. Sekali lagi, benarkah ada kaitan langsung antara kata dan perbuatan? Dalam dua kasus ini, kasus Streicher terbukti lebih kuat: Der Stürmer yang terbit selama dua puluh dua tahun memberi cukup bukti tentang kebencian Streicher yang fanatik terhadap Yahudi dan dorongan untuk melakukan tindakan terhadap mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pengadilan memvonis Streicher dengan hukuman mati di tiang gantungan. Pada tanggal 16 Oktober 1946 pukul 2:12 pagi, dia digiring ke tiang gantungan. Persidangan pasca perang menegaskan peran penting propaganda dalam mempertahankan dukungan publik terhadap rezim Nazi dan dalam membenarkan penindasan terhadap kaum Yahudi dan korban lainnya selama era Holocaust. Penuntutan terhadap penyebar propaganda atas “kejahatan terhadap kemanusiaan” menjadi preseden penting yang diajukan oleh badan-badan dan pengadilan internasional hingga saat ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tetapi seperti digambarkan dalam Al-Qur’an yang menceritakan tidak semua umat menerima Al-Qur’an yang merupakan petunjuk (hudan), dan jalan lurus (shirat) yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Manusia ada yang hati tertutup (kufur), tidak menerima risalah Allah Azza wa Jalla, dan menolaknya dengan terang-terangan. Mereka yang menolak risalah Allah itu, mereka yang yang mengikuti hawa nafsunya sebagai jalan hidupnya. Ketika menolak din (agama) Allah, mereka binasa. Di negeri-negeri yang umatnya terang-terangan menolak din Allah dihancurkan. Bahkan bukan hanya dihancurkan mereka itu, tetapi mendapatkan siska yang amat dahsyat dari Allah Rabbul Alamin, akibat perbuatan mereka yang zalim. (QS. Al-A’raf : 4, 5)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tentu, yang pertama dilaknat oleh Allah Ta’ala, tak lain, adalah Iblis, yang membangkang, karena sifatnya yang sombong. Kesombongan Iblis itu, tak lain karena merasa dirirnya lebih mulia dibanding dengan Adam As, karena Iblis diciptakan dari api, sedangkan Adam As dari tanah. Jadi kekafiran lahir, dapat pula dari adanya asal usul. Inilah yang banyak terjadi sekarang ini, di mana manusia juga mengikuti jejak Iblis, yang mengagungkan asal-usul (keturunan), bukan yang menjadi ukuran keimanan dan ketakwaannya. Maka, Iblis diusir dari surga oleh Allah, karena sikapnya yang sombong dan ingkar itu. (QS. Al-A’raf : 12,13)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kaum Nabi Hud As, yang dikenal dengan kaum ‘Ad, yang juga menolak untuk beriman kepada Allah. Mereka menola ajakan Nabi Hud As, yang diutus menyampaikan risalah dari Allah Ta’ala, yang kemudian ditolak oleh para pemimpin kaumnya itu. Nabi Hud As jug dituduh kurang waras (gila), dan terus menola ajakan Nabi Hud, meskipun beliau mengatakan tentang risalah Allah Ta’ala itu, tetapi kaum tetap menolaknya, dan kemudian dihancurkan seluruhnya sampai ke akar-akarnya dengan kejadian yang dahsyat, datangnya angin topan. Mula-mula kekeringan yang panjang yang mematikan seluruh tanaman mereka, kemudian datang awan hitam yang menggumpal diatas awan, yang dikiran akan datangnya huja, ternyata topan. (QS. Al-A’raf : 65, 66, 71).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Masih dalam kisah, tentang Nabi Syu’aib As, yang menyuruh kaumnya ta’at kepada Allah, dan tidak berlaku curang dengan cara mengurangi timbangan, tetapi kaumnya itu tetap sombong, dan tidak mau mengikuti syariah yang diperintahkan Allah kepada mereka. Tetapi, lagi-lagi kaumnya Nabi Syu’aib bersama denga para pemukanya, mengusir Nabi Syu’aib, kecuali Nabi Syu’aib mau kembali ke agama mereka yang sesat itu, dan Allah menurunkan adab terhadap mereka berupa gempa yang amat dahsyat, yang memusnahkan kaumnya Nabi Syu’aib. (QS. Al-A’raf : 85, 88, 90, 91).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Terakhir, kaumnya Nabi Musa As, yang telah diselamatkan dari kehancuran, akibat selalu ingkar dan berbuat zalim. Kaumnya Nabi Musa As ini diselamatkan dari kekejaman Fir’aun, dan mereka selamat dari bahaya kehancuran, tetapi mereka tetap tidak mau beriman, dan selalu berbuat kekafiran, seperti membuat patung sapi, yang kemudian mereka sembah. Inilah kisah antara Nabi Musa As, kaumnya, dan Fir’aun, yang dimenangkan oleh Nabi Musa As, dan kaumnya. Tetapi lagi-lagi mereka ingkar dan kafir, dan menolak untuk beriman kepada Allah. Mereka tetap menyembah berhala. (QS. Al-A’raf : 150, 155, 162, 167).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah. Yang demikian itu adalah karena telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata lalu mereka kafir; maka Allah mengazab mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Keras hukuman-Nya.Dan Sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata,kepada Firaun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: ” (Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta”.. Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: “Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka”. Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). Qs. Al-Mukmin ayat 21-25

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Surat Mukmin ayat 21 sampai 25 di atas merupakan penjelasan tentang hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan umat-umat terdahulu, yang mendustakan para utusan Allah dan ingkar kepada ajaran Allah Swt. Kalau ayat sebelumnya memberikan keterangan tentang akhir dan akibat yang diterima oleh orang-orang kafir di hari kiamat, ayat ini nampaknya mengajak kepada Muhammad dan umatnya untuk belajar dari Pelajaran kisah terdahulu sebagai penegasan dan menguatkan kembali tentang cerita-cerita kehancuran umat terdahulu (sebelum Muhammad), dikarenakan mereka mendustakan ajaran Allah. Dan yang lebih penting lagi untuk membesarkan Hati Rasulullah dalam melaksanakan dakwahnya (Shawi al-Maliki, Beirut: 2002, IV, 8-9). Untuk itu ayat 21 tersebut dimulai dengan perintah untuk memperhatikankejadian di muka bumi tentang keadaan umat-umat terdahulu “ A Wa Lam Yasiru fi al’Ardli ”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Maksud dari umat-umat terdahulu di sini adalah umat-umat sebelum Muhammad yang mendustkan para utusan Allah, seperti kaum ‘Ad, Tsamud dan yang sama dengan mereka. Mereka-mereka (umat terdahulu) selain mendustakan Allah sebenarnya mempunyai kelebihan yang disebut dengan al-Qur’an “ Kanu Hum Asyadda Minhum Quwwatan wa Atsaran fi al-Ardli”( Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi). Al-Suyuti dan al-Mahalli, dalam Hasyiyah al-Shawi, Beirut: 2002). Artinya umat terdahulu dibanding dengan kafir Makkah sebenarnya lebih kuat dan lebih banyak berbuat. Buktinya mereka banyak mempunyai peninggalan-peninggalan bersejarah seperti istana, situs-situs, rumah-rumah dan lain-lain. Potensi kekuatan dan kreativitas itu dikarenakan tidak didukung dengan keyakinan ajaran tauhid, lebih-lebih mengingkari dan mendustkan ajaran-ajaran yang dibawa oleh para utusan Allah, maka Allah memberikan adzab disebabkan dosa-dosa mereka itu. Dan selamanya tidak ada yang akan dapat melindungi mereka dari madhab Allah, baik siksa di dunia lebih-lebih di akhirat kelak.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dilanjutkan oleh ayat setelahnya, penyebab kehancuran dan siksaan yang diberikan kepada umat terdahulu (orang-orang kafir) adalah mereka mengingkari bayyinat, bukti-bukti atau mukjizat yang di bawa oleh utusan Allah Swt. Misalnya mukjizat Nabi Isa AS, mukjizat Muhammad Saw, mukjizat Musa AS dan lain-lain. Bukti-bukti atau mukjizat itu dibawa oleh para utusan Allah untuk melemahkan dan membuktikan kebenaran ajaran Allah, yang tidak mungkin untuk dilawan atau ditandingi oleh siapapun. Sehingga ketika mengungkap tentang datangnya utusan Allah yang membawa mukjizat, Allah mengakhirinya dengan “Innahu Qawwiyun Syadid al-‘iqab” (sesungguhnya Allah dzat maha kuat dan maha keras siksanya). Artinya kebenaran mukjizat dan bukti-bukti yang dibawa oleh Rasulullah tidak akan ada yang mampu menandinginya, baik dari sisi hujjahnya (sebagai pedomannya), kekuatannya untuk melemahkan musuh-musuhnya (mu’jizat), kejelasan keteranganya (bayyinat), ataupun keindahan maknanya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebagai contoh pelajaran umat terdahulu adalah diutusnya Musa AS kepada Fir’aun, menteri Haman, dan Qarun. Dalam ayat 23-24 ketiganya disebut secara bersamaan sebagai representasi orang-orang terdahulu dari umat Musa yang melakukan kekafiran dan pendustaan kepada Rasulullah di akhir kehidupan mereka. Walaupun sebenarnya mereka pada masa sebelumnya juga termasuk orang yang beriman. Hal ini mengindikasikan perbuatan mereka mempunyai persamaan dengan iblis, yang semual termasuk makhluq yang taat kepada Allah Swt(al-Shawi, 9). Dikarenakan sifat angkuh, sombong dan kedengkiannya, akhirnya iblis termasuk orang yang durhaka terhadap perintah Allah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ketiga tokoh kekafiran yang disebut ayat 23-24 diatas merupakan representasi keingkaran yang disebabkan oleh duniawi. Fir’aun adalah seorang raja, yang menjadi kafir karena kekuasaannya (al-Mulk), Haman adalah seorang wazir, menteri yang durhaka juga karena pejabatnya, dan Qarun adalah seorang yang kaya dengan materi harta benda, kemudian kafir dan mendustkan ajaran tauhid disebabkan kekayaannya (Ibid). Ini memberikan pelajaran kepada kita tentang simbol-simbol kekafiran duniawi dapat menjelma dari apapun yang ada di dunia ini. Kalaupun al-Qur’an disini menyebut dari tiga perkara, yaitu kekuasaan, jabatan, dan harta, maka sebenarnya perkara-perkara yang dapat menyebabkan orang durhaka kepada ajaran Allah tidak hanya tiga hal tersebut. Segala sesuatu yang ada di dunia ini dapat menyebabkan seseorang durhaka kepada perintah-perintah Allah, bisa berupa wanita (syahwat), pekerjaan, anak yang banyak, kedudukan dan yang semacamnya. Wal hasil segala sesuatu yang ada di dunia dapat menyebabkan seseorang ingkar kepada Allah dan Rasulnya. Maka Rasullah pernah bersabda,”Hubbu al-Dunya Ra’sukulli Khathi’atin”, (mencintai dunia pangkal segala kesalahan).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bentuk-bentuk arogansi dan kekafiran Fir’aun dan teman-temannya adalah, dia memerintahkan kepada bala tentaranya untuk membunuh bayi laki-laki dan meninggalkan bayi perempuan yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. Dijelaskan oleh al-Shawi al-Maliki, perintah membunuh kepada bayi laki-laki ini dilakukan Fir’aun untuk yang kedua kalinya setelah Musa AS diangkat menjadi Rasul, untuk mencegah manusia tidak beriman mengikuti ajaran Musa. Karena kejahatannya dan kekafirannya ini Allah mengirim berbagai macam siksa kepada fir’aun dan kaumnya, mulai dari paceklik, banyaknya penyakit, angin kencang dan lain-lain, samapai akhirnya mereka keluar dari Mesir dan ditenggelamkan Allah di lautan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berkaitan dengan kata al-fasâd dalam ayat ini, para mufassir berusaha mendeskripsikan kerusakan yang dimaksud. Al-Biqa’i menjelaskannya sebagai berkurangnya semua yang bermanfaat bagi makhluk. Menurut al-Baghawi dan al-Khazin, fasâd adalah kekurangan hujan dan sedikitnya tanaman. Al-Nasafi memberikan contoh berupa terjadinya paceklik; minimnya hujan, hasil panen dalam pertanian, dan keuntungan dalam perdagangan; terjadinya kematian pada manusia dan hewan; banyaknya peristiwa kebakaran dan tenggelam; dan dicabutnya berkah dari segala sesuatu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jika dicermati, penjelasan beberapa mufassir itu hanya merupakan contoh kejadian yang tercakup dalam fasad. Artinya, kerusakan yang dimaksud ayat ini bukan hanya peristiwa yang disebutkan itu. Sebab, sebagaimana ditegaskan asy-Syaukani, at-ta’rîf (bentuk ma’rifah) pada kata al-fasâd menunjukkan li al-jins (untuk menyatakan jenis). Artinya, kata tersebut mencakup semua jenis kerusakan yang ada di daratan maupun di lautan. Semua kerusakan dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, moral, alam, dan sebagainya termasuk dalam cakupan kata al-fasâd.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kemudian Allah Swt. berfirman: liyudzîqahum ba’dha al-ladzî ‘amilû (supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari [akibat] perbuatan mereka). Ibnu Jarir ath-Thabari menjelaskan bahwa frasa ini memberikan pengertian: Agar Dia menimpakan kepada mereka hukuman atas sebagian perbuatan dan kemaksiatan yang mereka lakukan. Al-Baghawi juga mengatakan bahwa itu adalah hukuman atas sebagian dosa yang telah mereka kerjakan. Pendek kata, kerusakan yang timbul akibat kemaksiatan dan kemungkaran itu merupakan hukuman bagi pelakunya di dunia sebelum mereka mendapat hukuman di akhirat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Telah maklum, dunia kini sedang dilanda krisis ekonomi. Meningkatnya pengangguran, banyaknya perusahaan yang bangkrut dan gulung tikar, meluasnya kemiskinan, anjloknya daya beli masyarakat, dan berbagai dampak ikutan lainnya telah menjadi ancaman yang mencemaskan bagi dunia. Meskipun berbagai langkah telah ditempuh untuk mengatasinya, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda berhasil. Kalaupun suatu saat tampak reda, itu hanyalah bersifat sementara. Krisis yang sama, bahkan lebih besar akan kembali berulang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di samping mengandung berita, ayat tersebut juga bermakna celaan bagi orang-orang musyrik. Dijelaskan Fakhruddin ar-Razi, aspek hubungan tersebut dengan sesudahnya (ayat 41), bahwa syirik merupakan sebab kerusakan. Dalam ayat sesudahnya (ayat 42) manusia diperintahkan untuk memperhatikan kesudahan kaum yang menyekutukan-Nya. Akibat buruk yang dialami kaum musyrik sebelumnya kian mengukuhkan bahwa kerusakan yang merata di daratan dan di lautan itu disebabkan oleh kemusyrikan dan kekufuran. Tak aneh jika Qatadah dan as-Sudi pun menafsirkan kata fasâd dalam ayat ini sebagai syirik.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Patut ditegaskan, syariah Islam bersifat sempurna, mengatur totalitas aspek kehidupan manusia (lihat QS al-Nahl [16]: 86, al-Maidah [5]: 3). Syariah mengatur seluruh hubungan manusia, baik dengan Tuhannya, dirinya; maupun sesamanya. Di samping berisi hukum-hukum tentang ibadah, makanan, pakaian, dan akhlak; syariah juga memberikan sistem pemerintahan, ekonomi, pendidikan, politik luar negeri, pidana, dan sebagainya. Semua hukum itu wajib diterapkan. Jika itu dikerjakan, kerusakan akan lenyap, berganti dengan kehidupan penuh berkah (Lihat: QS al-A’raf [7]: 96).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam ekonomi, ideologi ini melahirkan sistem ekonomi kapitalisme. sistem ekonomi ini menjadikan riba, pasar saham, pemberlakuan mata uang kertas, dan kebebasan kepemilikan sebagai pilarnya; yang semaunya melanggar syariah. Faktanya, semua pilar itu menjadi penyebab terjadinya krisis ekonomi global. Ketamakan sistem ekonomi juga menyebabkan kerusakan alam yang amat parah. Nyatalah, kerusakan global tidak akan bisa diatasi kecuali mengubah sistemnya secara total: dari sekularisme-kapitalisme menuju Islam, di bawah naungan daulah Khilafah ‘ala Minhâj an-Nubuwwah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Karena ilmu adalah cahaya yang Allah pancarkan ke dalam hati. Sedangkan kemaksiatan akan memadamkan cahaya tersebut. Ketika Imam Syafi’i menimba ilmu dari Imam Malik dan membacakan kitab di hadapan beliau, Imam Malik kagum dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya. Lalu beliau berkata, “Sungguh, aku melihat bahwa Allah telah menyinari hatimu dengan cahaya, maka janganlah engkau padamkan ia dengan kegelapan maksiat!” Imam Syafi’i sendiri pernah berkata, “Aku pernah mengeluhkan jeleknya hafalanku kepada Waqi’. Beliau membimbingku agar aku meninggalkan kemaksiatan. Beliau berkata, “Ketahuilah, ilmu adalah suatu keutamaan, dan keutamaan Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Orang yang berbuat maksiat akan mendapatkan kegalauan di hatinya. Kegalauan itu tidak akan hilang walaupun seluruh nikmat duniawi ia miliki. Namun kegalauan itu sendiri tidak akan dirasakan kecuali oleh seorang hamba yang dihatinya masih ada kehidupan. Sebab, goresan luka tidak akan dirasa sakit oleh seonggok mayat. Maka seandainya tidak ada alasan lain untuk meninggalkan dosa kecuali karena takut dari rasa gelisah yang ditimbulkannya, niscaya alasan itu sudah cukup bagi orang berakal untuk meninggalkannya. Seorang laki-laki pernah mengeluhkan kegelisahan hatinya kepada seorang yang ‘arif. Orang yang ‘arif itu berkata, “Apabila engkau diliputi kegelisahan karena dosa-dosamu, maka tinggalkanlah dosa-dosa itu. Itu akan membuatmu merasa tenang.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kegelisahan akibat maksiat akan menjadi lebih terasa ketika seorang pelaku maksiat bermuamalah dengan orang-orang shalih. Kalau kegelisahan itu semakin kuat, ia akan semakin menjauh dari mereka, enggan bermajelis dengan mereka, tidak dapat mengambil manfaat dari mereka, dan menjadi semakin dekat dengan golongan setan sesuai dengan kadar kemaksiatannya. Kegelisahan itu juga akan mengendap di hatinya dan berdampak buruk pada hubungannya dengan anak, istri dan sahabat-sahabatnya. Bahkan pada hubungan antara dia dengan dirinya sendiri. Kegelisahan tersebut bisa jadi terlihat oleh orang lain. Sebagian salaf mengatakan, “Sesungguhnya jika aku bermaksiat kepada Allah, niscaya aku akan melihat dampaknya pada tingkah laku hewan tunggangan dan istriku.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Orang yang bermaksiat akan mendapati kegelapan di hatinya secara hakiki. Ia akan merasakannya sebagaimana ia merasakan kegelapan malam yang gulita. Kegelapan maksiat di dalam hatinya seperti gelapnya malam dalam pandangan mata. Karena ketaatan adalah cahaya dan kemaksiatan adalah kegelapan. Apabila kegelapan itu semakin kuat, semakin bertambah pula kebingungannya. Sehingga ia akan terjatuh dalam bid’ah, kesesatan dan perkara-perkara yang membinasakan dalam keadaan tidak menyadarinya. Bak orang buta yang berjalan sendirian di kegelapan malam. Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu mengatakan, “Sesungguhnya kebaikan itu akan memunculkan sinar di wajah, cahaya di hati, keluasan dalam rejeki, kekuatan di badan dan kecintaan di hati orang. Dan sesungguhnya keburukan itu mengakibatkan kesuraman di wajah, kegelapan di hati, kelemahan di badan, kekurangan dalam rejeki dan kemurkaan di hati orang.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dampak buruk maksiat yang membuat hati menjadi lemah merupakan hal yang sudah jelas. Ia akan terus membuat hati menjadi lemah sampai kehidupan hati itu hilang sama sekali. Sedangkan dampak buruk maksiat yang membuat badan menjadi lemah, adalah karena kekuatan seorang mukmin sesungguhnya bersumber dari hatinya. Semakin kuat hatinya, semakin kuat pula badannya. Sedangkan orang yang jahat, walaupun badannya kuat, sesungguhnya ia adalah orang yang paling lemah. Perhatikan bagaimana kekuatan perang yang dimiliki bangsa Persia dan Romawi ternyata tak dapat menolong mereka pada saat mereka sangat membutuhkannya. Yaitu ketika mereka berhadapan dengan orang-orang beriman. Justru orang-orang berimanlah yang akhirnya dapat menguasai mereka dengan sebab kekuatan badan dan hati mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Seandainya tidak ada hukuman untuk sebuah dosa kecuali terhalangnya seseorang dari satu amal shalih yang berakibat terputusnya ia dari amal shalih berikutnya dan berikutnya, maka sungguh dengan sebab dosa tersebut, ia terhalang dari amal shalih yang banyak. Padahal setiap amal shalih itu lebih baik baginya daripada dunia dan seisinya. Hal ini seperti orang yang memakan satu makanan yang mengakibatkan kemudaratan untuk dirinya, dan membuatnya terhalang untuk memakan sekian banyak makanan lain yang lebih baik.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sungguh, kemaksiatan itu akan diikuti oleh kemaksiatan lain yang semisal. Sehingga ia akan membuat seseorang sulit untuk memisahkan diri atau keluar dari lingkaran kemaksiatan tersebut. Sebagian salaf mengatakan, “Sesungguhnya di antara hukuman atas suatu perbuatan buruk adalah perbuatan buruk berikutnya, dan di antara balasan atas suatu perbuatan baik adalah perbuatan baik berikutnya.” Apabila seorang hamba telah berbuat satu kebaikan, maka kebaikan yang lain akan berkata, “Kerjakan aku juga!” Dan ketika ia mengerjakannya, kebaikan yang ketiga akan berkata seperti itu pula, dan begitu seterusnya. Sehingga berlipat-lipatlah keuntungannya dan semakin bertambahlah kebaikan-kebaikannya. Demikian pula halnya dengan kemaksiatan. Hingga pada akhirnya ketaatan atau kemaksiatan itu akan menjadi kepribadian yang senantiasa melekat, dan perangai yang mandarah daging pada diri seseorang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebaliknya, orang jahat yang suka berbuat maksiat, apabila ia meninggalkan kemaksiatan dan mengerjakan amal shalih, jiwanya akan terasa sesak, dan pikirannya akan menjadi kacau, sampai ia kembali mengerjakan kemaksiatan itu. Dan sungguh, betapa banyak pelaku kemaksiatan yang terus menerus melakukan perbuatan maksiatnya, bukan karena ia mendapatkan kenikmatan dari perbuatannya itu, namun karena ia merasa sakit ketika tidak melakukannya. Sampai-sampai ada dari mereka yang mengatakan, “Beberapa gelas khamar aku minum dengan begitu nikmat. Sedangkan gelas-gelas berikutnya aku minum untuk mengobati rasa sakit akibat dari beberapa gelas itu.” Yang lainnya juga berkata, “Obat dari sakitku adalah penyebab penyakitku itu sendiri, sebagaimana pecandu khamar berobat dengan khamarnya.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dan Adam pun mendurhakai Rabb-nya, maka ia sesat. Kemudian Rabb-nya (Adam) memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberi Adam petunjuk. Allah berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dariKu, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, ia tidak akan seat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia:”Ya, Rabb-ku, mengapa Engkau menghimpun aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang bisa melihat”. Allah berfirman:”Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari inipun kamu dilupakan”. Dan demikanlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Rabb-nya. Dan sesungguhnya adzab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal [Thaha:121-127].

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Maksudnya, dia akan mendapatkan kesengsaraan dan kesusahan. Dalam tafsirnya (3/164), Ibnu Katsir berkata: “Di dunia, dia tidak akan mendapatkan ketenangan dan ketenteraman. Hatinya gelisah yang diakibatkan kesesatannya. Meskipun dhahirnya nampak begitu enak, bisa mengenakan pakaian yang ia kehendaki, bisa mengkonsumsi jenis makanan apa saja yang ia inginkan, dan bisa tinggal dimana saja yang ia kehendaki; selama ia belum sampai kepada keyakinan dan petunjuk, maka hatinya akan senantiasa gelisah, bingung, ragu dan masih terus saja ragu. Inilah bagian dari kehidupan yang sempit”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Alangkah seringnya kita melihat dan mendengar berita tentang orang yang memiliki harta yang sangat banyak, mati bunuh diri dengan terjun dari tempat-tempat yang tinggi (atau gedung-gedung). Apa yang menyebabkan mereka melakukan itu? (Sudah puaskah mereka menikmati harta kekayaannya, Pent)? Pasti, penyebabnya adalah sempitnya kehidupan yang menderanya akibat berpaling dari dzikrullah. Kalau orang-orang yang berpaling dari dzikrullah itu tidak bertaubat, maka akibatnya mereka akan dikumpulkan pada hari kiamat di padang Mahsyar dalam keadaan buta. Allah berfirman.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Dan (ingatlah), ketika kamu (Bani Israil) berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabb-mu, agar Dia mengeluarkan bagi kami, apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pastilah kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpakan kenistaan dan kehinaan kepada mereka, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. [Al Baqarah:61].

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ada seorang laki-laki datang kepada Zubair bin Bikar. Dia berkata kepada Zubair: “Wahai, Abu Abdillah. Dari manakah saya memulai berihram?” Zubair menjawab: “Dari Dzul Hulaifah (nama tempat), dari tempat mulai berihramnya Rasulullah.” Orang tadi berkata: “Saya ingin berihram dari masjid.” Abu Abdillah berkata: “Janganlah anda melakukannya”. Orang tadi berkata: “Saya ingin berihram dari masjid, dari dekat kubur itu.” Abu Abdillah berkata: “Janganlah anda melakukannya, saya khawatir akan terjadi fitnah (musibah) pada dirimu.” Orang tadi berkata lagi: “Fitnah (musibah) macam apa? Saya hanya menambah beberapa mil saja?” Abu Abdillah berkata: “Fitnah manakah yang lebih besar dari pada pendapatmu (yang menganggap bahwa) engkau telah mencapai keutamaan yang telah ditinggalkan Rasulullah? Saya pernah mendengar Allah berfirman:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Allah telah menetapkan kerendahan dan kehinaan bagi orang yang menyelisihi perintah Allah dan RasulNya. Siapa yang ingin mengetahui tafsir yang sebenarnya dari hadits ini, hendaklah ia melihat kenyataan, maka dia akan mendapatkan apa yang telah diberitakan Rasulullah. Orang-orang muslim pada saat ini telah terhina. Di segala penjuru dunia, mereka dikuasai oleh musuh-musuh. Bukan itu saja, bahkan musuh-musuh itu melakukan pembunuhan dan penyiksaan terhadap mereka, padahal musuh-musuh itu mengetahui bahwa umat Islam itu tidak sedikit. Akan tetapi, (keadaan) umat Islam seperti apa yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Buih, seperti buih air bah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adapun atsar (riwayat) ulama’ Salaf (yang menyebutkan pengaruh perbuatan maksiat), Ibnu Al Jauzi berkata dalam kitab Talbisul Iblis (227): Dari Abu Abdillah bin Al Jalla’, dia berkata: “Aku sedang melihat seorang anak Nashrani yang tampan wajahnya, lalu lewat di depan saya Abu Abdillah Al Balkha, dia berkata,“Kenapa berhenti?” Saya menjawab,”Wahai, paman. Tidakkah anda melihat bentuk ini? Bagaimana ia bisa disiksa dengan api?” Lalu dia menepukkan kedua tangannya di bahuku sambil berkata: “Sungguh kamu akan menanggung akibatnya.” Al-Jalla’ berkata: “Sayapun menanggung risikonya empat puluh tahun kemudian. Saya lupa (hapalan) Qur’an”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Syirik menghinakan kemuliaan manusia, menurunkan derajat dan martabatnya. Sebab Allah menjadikan manusia sebagai hamba Allah di muka bumi. Allah memuliakannya, mengajarkan seluruh nama-nama, lalu menundukkan baginya apa yang ada di langit dan di bumi semuanya. Allah telah menjadikan manusia sebagai penguasa di jagad raya ini. Tetapi kemudian ia tidak mengetahui derajat dan martabat dirinya. Ia lalu menjadikan sebagian dari makhluk Allah sebagai Tuhan dan sesembahan. Ia tunduk dan menghinakan diri kepadanya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam sebuah masyarakat yang akrab dengan perbuatan syirik, “barang dagangan” dukun, tukang nujum, ahli nujum, ahli sihir dan yang semacamnya menjadi laku keras. Sebab mereka mendakwahkan (mengklaim) bahwa dirinya mengetahui ilmu ghaib yang sesungguhnya tak seorangpun mengetahuinya kecuali Allah. Jadi dengan adanya mereka, akal kita dijadikan siap untuk menerima segala macam khurofat/takhayul serta mempercayai para pendusta (dukun). Sehingga dalam masyarakat seperti ini akan lahir generasi yang tidak mengindahkan ikhtiar (usaha) dan mencari sebab serta meremehkan sunnatullah (ketentuan Allah).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Yaitu dhalim terhadap hakikat yang agung yaitu (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah). Adapun orang musyrik mengambil selain Allah sebagai Tuhan serta mengambil selainNya sebagai penguasa. Syirik merupakan kedhaliman dan penganiayaan terhadap diri sendiri. Sebab orang musyrik menjadikan dirinya sebagai hamba dari makhluk yang merdeka. Syirik juga merupakan kezhaliman terhadap orang lain yang ia persekutukan dengan Allah karena ia telah memberikan sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Syirik mengajarkan kepada para pengikutnya untuk mengandalkan para perantara, sehingga mereka meremehkan amal shalih. Sebaliknya mereka melakukan perbuatan dosa dengan keyakinan bahwa para perantara akan memberinya syafa’at di sisi Allah. Begitu pula orang-orang kristen melakukan berbagai kemungkaran, sebab mereka mempercayai Al-Masih telah menghapus dosa-dosa mereka ketika di salib. Sebagian umat Islam mengandalkan syafaat Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam tapi mereka meninggalkan kewajiban dan banyak melakukan perbuatan haram. Padahal Rasul Shallallaahu alaihi wa Sallam berkata kepada putrinya:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Itulah berbagai kerusakan dan bahaya yang ditimbulkan perbuatan syirik. Yang jelas Syirik merupakan penyebab turunnya derajat dan martabat manusia ke tempat paling hina dan paling rendah. Karena itu Wahai hamba Allah, yang beriman … Marilah kita bertaubat atas segala perbuatan syirik yang telah kita perbuat dan marilah kita peringatkan dan kita jauhkan masyarakat di sekitar kita, anggota keluarga kita, sanak famili kita, dari syirik kerusakan dan bahayanya. Agar kehinaan dan kerendahan yang menimpa ummat Islam segera berakhir, agar kehinaan dan kerendahan ummat Islam diganti menjadi kemuliaan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Atau apakah belum jelas bagi orang-orang yang mewarisi suatu negeri sesudah penduduk (negeri) itu (lenyap)? Bahwa kalau menghendaki, pastilah Kami mengadzab mereka karena dosa-dosa mereka; dan Kami mengunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran)? Demikianlah negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu. Kami menceritakan sebagian kisahnya kepadamu. Sungguh rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak (juga) beriman kepada sesuatu yang telah mereka dustakan sebelumnya. Demikianlah Allah mengunci hati-hati orang-orang kafir. Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati bahwa kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” [Al-A’raf: 100-102]

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Itulah beberapa berita tentang negeri-negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu sebagian masih memiliki bekas-bekas, ada (pula) yang telah musnah. Dan tidaklah Kami menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Oleh karena itu, sesembahan apapun yang mereka seru yang bukan Allah tiadalah bermanfaat sedikit pun bagi mereka tatkala perintah (adzab) Rabb-mu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah sesuatu kepada mereka, kecuali kebinasaan belaka. Dan demikianlah adzab Rabb-mu apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya sangatlah pedih lagi keras. Sesungguhnya, pada keadaan yang demikian itu, benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada adzab akhirat. Itulah hari ketika semua manusia dikumpul untuk (menghadap kepada-)Nya, dan itulah hari yang disaksikan (oleh seluruh makhluk).” [Hud: 100-103]

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Dan (Kami telah membinasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan para rasul. Kami menenggelamkan mereka dan menjadikan (kisah) mereka itu sebagai pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan adzab yang pedih bagi orang-orang zhalim; dan (Kami telah membinasakan) kaum ‘Ad, Tsamud, dan penduduk Rass, serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan, dan masing-masing benar-benar telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” [Al-Furqan: 37-39]

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Sesungguhnya bagi kaum Saba`, ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun yang berada di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Dikatakan kepada mereka), ‘Makanlah kalian berupa rezeki yang Rabb kalian (anugerahkan) dan bersyukurlah kalian kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabb-mu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun.’ Akan tetapi, mereka berpaling maka Kami mendatangkan banjir besar kepada mereka dan mengganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pepohonan) yang berbuah pahit, pohon Atsl, dan sedikit pohon Sidr. Demikianlah, Kami membalas mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan adzab (yang demikian itu), kecuali hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” [Saba`: 15-17]

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang saya khawatirkan terhadap kalian. Akan tetapi, saya mengkhawatirkan bahwa dunia akan dihamparkan untuk kalian sebagaimana telah dihamparkan untuk umat-umat sebelum kalian, kemudian kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba-berlomba mendapatkannya, kemudian kalian pun dibinasakan oleh dunia itu sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah dibinasakan olehnya.” Diriwayatkan oleh Al- Bukhary, Muslim, At-Tirmidzy, dan Ibnu Majah dari Al-Miswar bin Makhramah radhiyallahu ‘anhuma.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam Muqaddimahnya, Ibn Khaldun membuat prediksi bahwa sejarah suatu negeri biasanya mengalami lima fase; fase pendirian, fase pembangunan, fase puncak, fase kemunduran, dan fase kehancuran. Fase pendirian dibangun oleh para founding fathers (para pendiri) yang dengan cita-cita dan semangat perjuangan mengerahkan seluruh daya dan kekuatan, mampu mewujudkan bangunan sebuah negeri. Fase kedua, diprediksikan oleh Ibn Khaldun, sebagai fase pembangunan oleh generasi penerusnya. Pada fase ini, terjadi pembangunan yang pesat, karena generasi ini mampu menghayati nilai perjuangan para pendiri yang kemudian dipraktikkan dalam mewujudkan kejayaan. Fase ketiga, negeri itu berada pada fase puncak kejayaan. Generasi ini adalah generasi yang memetik hasil perjuangan. Generasi ini mulai melupakan nilai perjuangan. Generasi ini menjadi generasi penikmat tanpa tahu jerih payah dan proses perjuangan. Fase berikutnya adalah fase kemunduran, karena generasi yang memimpin negeri itu sudah melupakan nilai perjuangan dan hanya menjadi penikmat buah kejayaan. Akhirnya, sampailah waktunya fase kelima, yaitu fase kehancuran, di mana negeri itu nyaris tinggal puing-puing, hancur tercabik-cabik tidak mampu bangkit lagi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Al Qur’an memandang kejayaan dan kehancuran sebagai sunnatullah, yaitu karena ada faktor-faktor yang membawa kepada kejayaan dan kehancuran itu. Bila faktor-faktor kejayaan diikuti maka jayalah negeri itu, bangsa menjadi maju dan dinamis. Al Qur’an menggambarkannya sebagai baldah thayyibah wa Rabb Ghafûr (negeri yang baik dan Tuhan penuh pengampunan, Q.S. Saba’ [34] : 15). Tapi bila faktor-faktor kejayaan tidak diindahkan, ditentang dan didustakan, maka kehancuran akan menimpa bangsa dan negeri tersebut. Allah akan menunjukkan kuasa-Nya, “maka sungguh akan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” (Q.S. Al Isrâ’ [17] : 16).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam Al Qur’an, terdapat beberapa kata untuk menunjuk pada kehancuran suatu negeri, bangsa, atau generasi, antara lain dari akar kata: halaka (menghancurkan) terdapat dalam 71 ayat, fasada (merusak) terdapat dalam 50 ayat, dan kata dammara (membinasakan) terdapat dalam 8 ayat. Secara umum, kehancuran itu terjadi karena ulah tangan manusia itu sendiri (Q.S. al-Rû [30] : 41), bermewah-mewah dan bermegah-megah (Q.S. Al Mukminûn [33] : 33, 64, Al Anbiyâ’ [21] : 13, Hûd [11] : 116, Az Zukhruf [43] : 23), berlaku zalim (Q.S. Ali Imrân [3] : 117, Al An’âm [6] : 47, Al Anfâl [8] : 54), dan mendustakan kebenaran (Q.S. At Taubah [9] : 42). Dengan kuasa Allah, kehancuran itu terjadi dengan berbagai cara. Mungkin kehancuran itu berupa bencana alam seperti hujan dan banjir seperti yang terjadi pada kaum Nabi Nuh; gempa, angin topan dan tsunami pada kaum Ad, Fir’aun, Tsamud; bencana berupa penyakit seperti yang terjadi pada kaum Nabi Shaleh, Luth, dan Musa; atau diserang musuh seperti yang terjadi pada Fir’aun dan para pejabat tingginya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kekayaan dan kemewahan berperan besar dalam meruntuhkan sebuah bangsa. Apalagi bila yang memiliki gaya hidup bermewah-mewah dan bermegah-megah itu adalah para penguasa, para penegak hukum, para pengambil kebijakan, para tokoh agama, dan para pemimpin dari berbagai lapisan masyarakat. Hal itu, demikian menurut Buya Hamka, karena mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kesempatan luas untuk mendapatkan berbagai fasilitas (Hamka, Tafsir Al-Azhar, jilid XV, h. 33-34). Kekayaan negara mestinya diatur sedemikian rupa untuk kesejahteraan rakyat, supaya tidak terjadi ketimpangan sosial dan agar terwujud pemerataan secara berkeadilan. Tapi kehancuran terjadi, karena mereka merampas habis kekayaan negara untuk kepentingan pribadi, keluarga, kroni, kelompok, dan partainya. Rakyat hanya mendapatkan sisa-sisa dan ampasnya saja. Kepentingan mereka menjadi fokus perhatian. Kepentingan rakyat hanya untuk menaikkan popularitas. Fasilitas mereka dibangun dengan biaya fantastis mahal, menghabiskan anggaran negara yang sangat besar. Fasilitas rakyat dibuat sambil lalu dan asal-asalan. Mereka berperilaku korup untuk memuaskan syahawât (keinginan-keinginan nafsu). Mereka tidak tersentuh hukum karena penegak hukum berada dalam genggamannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Cinta harta dimiliki setiap orang, apapun posisi, jabatan, pekerjaan, dan keahliannya. Cinta harta merupakan fitrah dan naluriah, bahkan menjadi sunnatullah dalam kehidupan manusia. Firman Allah: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan (kendaraan mewah), binatang-binatang ternak, dan sawah ladang, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik.” (Q.S. Ali Imrân [3] : 14). Tetapi bila cinta harta sudah menjadi gaya hidup, tujuan akhir, dengan menghalalkan segala cara, apalagi bila pelakunya adalah para pemimpin negeri, para penegak kebenaran, para tokoh agama, maka tinggal tunggu saat kehancurannya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Fitnah harta yang terjadi di kalangan penguasa tidak hanya menimpa diri dan keluarganya, tapi menimpa bangsa secara keseluruhan. Akibatnya, rakyat menderita, bangsa terpuruk, dan kekayaan hanya berkutat pada sedikit elit penguasa saja. Maka Al Qur’an menyeru kepada mereka agar dapat memeratakan kekayaan kepada semua supaya tidak hanya dirasakan oleh kelompok elit (Q.S. Al Hasyr [59] : 7). Bermegah-megah dengan kekayaan adalah fitnah (cobaan) yang diberikan Allah kepada manusia hingga mereka lalai, kufur nikmat, hingga membawa kehancuran.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Agar kehancuran tidak terjadi pada bangsa kita, karena semakin banyaknya penguasa di negeri ini hidup dalam kemewahan, maka harus muncul ulû baqiyyah (orang-orang yang masih memiliki keutamaan) yang mampu tampil menumpas al-fasâd (kerusakan dan kejahatan) di berbagai lini, seperti korupsi, suap, manipulasi, eksploitasi, koptasi, dan kapitalisasi. Harus ada orang-orang yang hadir untuk mencegah al-munkar (kemungkaran) dan memerintahkan al-ma’rûf (kebaikan), tampil sebagai pemimpin dan tokoh yang bersih, jauh dari gaya hidup mewah, hubb al-dunyâ (cinta harta duniawi), dan rakus kekuasaan. Allah mengingatkan: “Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (Q.S. Hûd [11] : 116)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Para penegak hukum yang tidak menjalankan tugasnya sesuai dengan hukum yang berlaku karena ada campur tangan pihak penguasa atau pihak-pihak lain, maka keadilan tidak akan pernah ditegakkan. Mereka adalah orang-orang yang akan dimurkai Allah, malaikat dan kaum mukminin seluruhnya. Mereka itu adalah orang-orang yang menjual ayat Allah dengan harga yang murah. Sebuah hadits riwayat Abu Dâwud menegaskan, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa memberikan pertolongan kepada orang yang melanggar hukum hingga tidak jadi mendapat hukuman, maka dia telah melanggar ketentuan Allah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Barangsiapa bertengkar mempertahankan sesuatu yang batil sedang dia mengetahui kebatilan itu, maka dia selalu berada dalam murka Allah hingga berhenti bertengkar. Barangsiapa berbicara tentang agama seorang muslim padahal dia tidak mengetahuinya, maka dia akan ditenggelamkan ke dalam tanah liat yang menghancurkan hingga dia berhenti berbicara.” Rasulullah ditanya apa yang dimaksud dengan tanah liat yang menghancurkan itu? Rasulullah menjawab: “Ia adalah inti siksaan penduduk neraka”. Beliau kemudian menyebutkan bahwa orang-orang yang sering melakukan hal di atas adalah para hakim, para saksi, dan para penuntut, mereka adalah para pelaku hukum.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Para penguasa dengan sengaja melakukan kezaliman bekerjasama dengan hakim sebagai sebuah persekongkolan jahat dalam kezaliman yang dapat menjurus kepada al-madzâlim al-musytarakah (kezaliman terstruktur). Kezaliman yang dilakukan secara bersama-sama dalam rangka pembodohan, pemiskinan, dan penindasan terhadap hak-hak rakyat. Persekongkolan untuk merampas tanah rakyat, menggusur usaha kaum lemah, dan merampok harta negara. Allah mengutuk persekongkolan jahat itu sebagai al-ta’âwun ‘alâ al-itsm wa al-‘udwân (kerjasama dalam dosa dan permusuhan, Q.S. Al Mâidah [5] : 2), seperti kerjasama dalam tindak pembunuhan, merampas hak orang, atau menganiaya orang; membebaskan orang yang bersalah dan memenjarakan orang yang benar.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Rasulullah Saw dalam sebuah hadits bersabda: “Kekuasan itu akan kekal bersama orang kafir jika dilakukan dengan penuh keadilan, dan kekuasan itu akan hancur bersama orang yang dzalim.” Siapapun orang yang memegang kekuasaan, jika pemerintahan itu dilaksanakan dengan penuh keadilan, keterbukaan dan kejujuran, maka kekuasaan itu akan terus berjalan dengan baik. Tetapi jika kekuasaan itu dijalankan dengan penuh rekayasa, permainan dan kedzaliman, maka kekuasan itu akan hancur walaupun yang menjalankannya adalah seorang yang terpandang, atau orang yang mempunyai kharisma, dan lain sebagainya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hilangnya rasa malu akan menghancurkan bangsa dan negara. Bila rasa malu sudah hilang, yang tersisa adalah rasa iri, dengki, rakus dan cinta dunia, maka semua aturan agama akan dilanggar. Keadilan dicampakkan. Semua manusia dianggap rendah. Tuhanpun dilawannya. Rasa malu itu telah terkikis habis. Hadits Rasulullah Saw yang cukup terkenal menyebutkan: al-hayâ’u min al-îmân (malu itu sebagian dari iman). Rasulullah Saw menjelaskan: “Orang yang ingin malu dengan sebenar-benarnya di hadapan Allah Swt, hendaklah menjaga pikiran dan hatinya. Hendaklah ia menjaga perutnya dan apa yang dimakannya. Hendaklah ia mengingat mati dan fitnah kubur.” Menurut Muadz Bin Jabal r.a, sebuah Hadits Qudsi meriwayatkan soal rasa malu Tuhan ini. “Hamba-Ku telah berlaku tidak adil terhadap diri-Ku. Ia meminta kepada-Ku, tetapi Aku malu untuk tidak mengabulkan keinginannya. Padahal ia tidak pernah malu bermaksiat kepada-Ku.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kita harus memiliki rasa malu. Kita hadirkan kembali rasa malu yang sudah lama hilang dalam hati kita. Betapa dahsyatnya rasa malu ini, sampai-sampai Tuhan Yang Maha Perkasa sekalipun memiliki sifat tersebut. Sifat malu sesungguhnya merupakan kunci paling fundamental untuk menakar tingkat kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya. Bila seseorang sudah tidak punya rasa malu, maka ia akan berbuat apa saja. Dengan mudah menindas, memeras, kejam kepada rakyat, mengeksploitir kemiskinan untuk kekayaan pribadi, dan merampok uang rakyat. Puncaknya adalah kehancuran bangsa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Masihkah kita memiliki rasa malu kepada Allah Swt saat kita disodorkan lembaran-lembaran mata uang kepada istri kita untuk dibelikan bahan makanan, tetapi uang tersebut hasil memeras atau hasil korupsi yang akan segera menjadi darah daging dalam tubuh anak-anak kita? Masihkah tersisa rasa malu terhadap Allah Swt ketika makanan sudah tersaji, tetapi itu jelas-jelas hak orang lain? Adakah rasa malu, ketika para penguasa makan kenyang, sementara rakyat kelaparan? Penguasa tidur di rumah mewah, rakyat tidur tanpa rumah? Penguasa duduk di kursi mewah, rakyat duduk di kursi rusak? Penguasa naik mobil mewah, rakyat naik angkutan umum yang dekil berhimpit-himpitan? Mari menjaga rasa malu supaya bangsa ini tidak hancur.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sejatinya al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengatahuan yang pertama kali. Pada masa berkembangnya Islam dulu, banyak para pakar muslim yang menjadi orang hebat karena selalu berpegang teguh pada al-Qur’an. Kita mengatahui saat itu kaum Muslimin masih sangat memegang teguh al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan. Kejaayaan Islam dan para pemikir Islam ini tentu mengundang pertanyaan dari para cendiakawan Eropa. Mereka penasaran dan mulai mempelajari bahasa Arab agar bisa menerjemahkan buku-buku karangan umat Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Al Qur’an merupakan salah satu mujizat yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk digunakan sebagai petunjuk bagi umat manusia hingga akhir zaman. Sebagai petunjuk dari Allah tentulah isi dari Al Quran tidak akan menyimpang dari Sunatullah (hukum alam) sebab alam merupakan hasil perbuatan Allah sedangkan Al Qur’an adalah merupakan hasil perkataan Allah. Karena Allah bersifat Maha segala-galanya maka tidaklah mungkin perkataan Allah tidak sejalan dengan perbuatan-Nya. Apabila pada suatu malam yang cerah kita memandang ke langit maka akan tampaklah oleh kita bintang-bintang yang sangat banyak jumlahnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Al-Qur’an adalah mukjizat Allah yang membuat manusia tidak kuasa untuk mendatangkan yang semisal dengannya atau bahkan sebagiannya saja. Sifat kemukjizatan Al-Qur’an ini merupakan objek kajian yang luas, yang telah dan selalu dikaji oleh orang-orang sejak zaman dulu hingga sekarang. Bentuk-bentuknya sangat beragam, diantaranya, I’jaz bayani wa adabi (I’jaz secara bahasa dan sastra). I’jaz model ini telah banyak ditulis oleh ulama’ terdahulu, diantaranya oleh Imam Abu Bakar al-Baqilani. Ada juga bentuk I’jaz lain yang diisyaratkan oleh ulama’ terdahulu dan diperluas oleh ulama’ masa kini. Yaitu, kandungan Al-Qur’an berupa syariat-syariat, arahan-arahan, dan ajaran-ajaran yang menyatukan antara idealism dan realita, rohani dan materi, dunia dan akhirat, serta kebebasan individu dan kepentingan masyarakat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Yayat Hidayat , dalam konsep filsafat Islam, obyek kajian ilmu itu adalah ayat-ayat Tuhan sendiri, yaitu ayat-ayat Tuhan yang tersurat dalam kitab suci yang berisi firman-firman-Nya, dan ayat-ayat Tuhan yang tersirat dan terkandung dalam ciptaan-Nya yaitu alam semesta dan diri manusia sendiri. Kajian terhadap kitab suci dan kembali melahirkan ilmu agama, sedangkan kajian terhadap alam semesta, dalam dimensi fisik atau materi, melahirkan ilmu alam dan ilmu pasti, termasuk di dalamnya kajian terhadap manusia dalam kaitannya dengan dimensi fisiknya, akan tetapi kajiannya pada dimensi non fisiknya, yaitu perilaku, watak dan eksistensinya dalam berbagai aspek kehidupan, melahirkan ilmu Humaniora, sedangkan kajian terhadap ketiga ayat-ayat Tuhan itu yang dilakukan pada tingkatan makna, yang berusaha untuk mencari hakikatnya, melahirkan ilmu filsafat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Oleh karena itu, jika dilihat pada obyek kajiannya, maka agama, ilmu dan filsafat adalah berbeda, baik dalam hal metode yang ditempuhnya, maupun tingkat dan sifat dari kebenaran yang dihasilkannya. Akan tetapi jika dilihat dari sumbernya, maka ketiganya berasal dari sumber yang Satu, yaitu ayat-ayat-Nya. Dalam kaitan ini, maka ketiganya pada hakikatnya saling berhubungan dan saling melengkapi. Ilmu dipakai untuk memecahkan persoalan-persoalan teknis, filsafat memberikan landasan nilai-nilai dan wawasan yang menyeluruh, sedangkan agama mengantarkan kepada realitas pengalaman spiritual, memasuki dimensi yang Ilahi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Agama dilihat dari segi doktrin, kitab suci dan eksistensi kenabian, adalah bidang kajian ilmu agama, akan tetapi jika dilihat dari pemahaman, pemikiran dan pentafsiran manusia terhadap doktrin, kitab suci, Tuhan dan kenabian itu, maka kajian atas pemikiran dan pemahaman manusia tersebut dapat masuk pada kajian ilmu humaniora. Sedangkan kajian filsafat dapat memberikan penjelasan dan konsep mengenai Tuhan, doktrin dan kenabian, tetapi sifatnya spekulatif, dan hanya agama yang dapat memberikan tata cara yang teknis bagaimana berhubungan dengan Tuhan dan menghayati ajaran-ajaran-Nya, yang dibawa oleh para Nabi utusan-Nya dan yang tertuang dalam kitab suci.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Prof. Dr. K.H. Ahsin Sakho Muhammad, MA. mengatakan: “Pada intinya adalah memetakan dunia Islam dewasa ini menghendaki fungsi al-Qur’an dalam menata dunia. Hal itu dikarenakan beberapa hal di antaranya; Revolusi di Eropa yang menghasilkan kemajuan-kemajuan teknologi, di Amerika terjadi pengeboman WTC, Seting baru ajaran Islam yang sesuai dengan kehendak Barat, ajaran liberal untuk memenuhi tuntutan Barat, kaum muslimin kurang diuntungkan dengan bergaining yang dilakukan oleh Barat baik dari segi politik, ekonomi maupun soial. Dari segi politik; adanya konflik Palestina dan Israel, dari segi ekonomi; ekonomi liberal yang bebas yang tidak menyejahterakan negara-negara berkembang, orientasi ekonomi lebih pada komersialisme dan kapitalisme, sehingga akibatnya yang kaya semakin kaya dan yang miskin menjadi lebih miskin.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari segi sosial; kebebasan berekspresi yang berlebihan yang tidak merefleksikan nilai-nilai agama, adat maupun etika bernegara. Al-Qur’an sebagai kitab hidayah (petunjuk/bimbingan) untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh Allah SWT. I’jaz dalam al-Qur’an sebagai hidayah, saat ada yang menyerang al-Qur’an maka al-Qur’an tampil menantang untuk membuat yang semisal al-Qur’an. Al-Qur’an menjadi kitab yang revolusioner yang mampu merubah masyarakat. Peradaban dunia baru dapat muncul yang memiliki tata nilai yang bagus, baik dari segi social, ekonomi, politik dan lain sebagainya yang dapat diraih dari al-Qur’an. Nilai-nilai mulia yang terkandung dalam al-Qur’an agar diaplikasikan dengan baik oleh masyarakat”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bukan merupakan rahasia lagi, apa yang kita dengar dan saksikan pada jaman sekarang ini, yaitu kondisi yang memprihatinkan dan penderitaan yang menimpa kaum muslimin di berbagai penjuru dunia saat ini, berupa penindasan, penganiayaan, penghinaan dan lain-lain. Semua ini seolah-olah mengesankan bahwa agama Islam ini bukanlah agama yang tinggi dan mulia, dan tidak adanya pertolongan dari Allah Ta’ala kepada kaum muslimin, sehingga mereka tidak memiliki daya dan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa, mereka senantiasa menyembah-Ku (samata-mata) dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik” (QS An Nuur:55).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kalau kita perhatikan dan renungkan dengan seksama ayat-ayat tersebut di atas, kita dapati bahwa Allah Ta’ala tidak hanya menyebutkan janji-Nya untuk memberikan kemuliaan, ketinggian dan pertolongan-Nya bagi kaum muslimin, tetapi Allah Ta’ala juga mengisyaratkan adanya syarat yang harus dipenuhi oleh kaum muslimin agar janji Allah Ta’ala tersebut dapat terwujud. Syarat itu adalah berpegang teguh dengan petunjuk dan agama Allah Ta’ala, dengan kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman dan pengamalan yang benar.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Syaikh Abdurrahman As Sa’di dalam menafsirkan ayat di atas berkata, “…Adapun agama Islam sendiri, maka sifat (yang Allah sebutkan dalam ayat) ini (kemenangan dan ketinggian) akan terus ada padanya di setiap waktu, karena tidak mungkin ada yang mampu mengalahkan dan melawannya, (kalau ada yang berusaha untuk melawannya) maka Allah akan mengalahkannya dan menjadikan ketinggian serta kemenangan untuk agama ini. Sedangkan orang-orang yang menisbatkan diri kepada agama ini (kaum muslimin), jika mereka menegakkan agama ini, dan mengambil petunjuk serta bimbingan dari cahayanya untuk kebaikan agama dan (urusan) dunia mereka, maka demikian pula tidak ada seorangpun yang mampu melawan mereka, dan mereka pasti akan mengalahkan pemeluk agama lainnya, (akan tetapi) jika mereka tidak memperdulilkan agama ini, dan hanya mencukupkan diri dengan menisbatkan diri kepadanya (tanpa berusaha memahami dan mengamalkannya dengan benar), maka yang demikian tidak bermanfaat bagi mereka (untuk menguatkan kedudukan mereka), (bahkan) ketidakperdulian mereka terhadap agama ini merupakan sebab (utama) kekalahan dan kerendahan mereka di hadapan musuh-musuh mereka, kenyataan ini diketahui oleh orang yang mencermati keadaan manusia dan mengamati kondisi kaum muslimin di awal (kedatangan Islam) sampai di akhirnya”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kemudian, lebih jelas dalam ayat yang keempat Allah menyebutkan bahwa janji kekuasaan di muka bumi, keteguhan agama dan keamanan hanya Allah peruntukkan bagi orang-orang yang beriman (dengan benar) dan mengerjakan amal shaleh, yang mana landasan utama iman yang benar dan amal shaleh yang terbesar adalah mentauhidkan (mengesakan) Allah dalam beribadah dan menjauhi perbuatan syirik, sehingga Allah menyebutkan keadaan orang-orang yang terwujud pada mereka janji Allah tersebut: “…Mereka senantiasa menyembah-Ku (samata-mata) dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam sebuah bahasan di , dijelaskan bahwa Islam pernah menjadi sebuah kejayaan dan kebesaran peradaban umat, yakni dinasti Abbasyiah yang membawa islam sebagai sebuah agama dan peradaban yang sangat terkenal dan masyur dimasanya. Harun Al Rasyid, beliau adalah khalifah dinasti Abbasiyah, berkuasa pada tahun 786. Beliau mampu membawa kejayaan islam terutama dalam bidang ilmu dan teknologi. Masa itu lahirlah para ilmuan besar seperti ibnu sina (Avicenna). Pada masa dinasti Utsmaniah (abad 14), wilayah kekuasaan islam juga sangat luas hingga wilayah eropa, yaitu Spanyol dan Prancis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kejayaan tersebut saat ini menjadi sebuah kenangan dan cerita sejarah yang membanggakan ditengah kondisi umat islam khususnya di Indonesia yang “terpuruk”dan umumnya di seluruh dunia. Hal ini bukan tanpa sebab, secara umum khotib melihat ada dua penyebab “terpuruk”nya umat islam di negeri ini. Pertama kelemahan internal, umat sudah jauh dari Al-Quran dan Hadits sehingga cinta dunia dan takut kematian, maksudnya umat islam terkena penyakit wahn. Kedua adalah peng-kondisian yang sengaja terus diupayakan oleh orang-orang dan kelompok serta negara-negara yang sangat membenci Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“Hampir terjadi keadaan yang mana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya”. Salah seorang sahabat bertanya; “Apakah karena sedikitnya kami ketika itu?” Nabi menjawab, Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa’ (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Dan pasti Allah akan mencabut rasa segan yang ada di dalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn”. Kata para sahabat, “Wahai Rasulullah, apa Wahn itu? Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati”. (Syekh Albany menshahihkan hadits ini – HR. Abu Daud, Kitab al-Malahim, Bab, Fi Tadaa’al Umam ‘Alal Islam)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Hadits di atas memaparkan berita Rasulullah mengenai keadaan umat Islam di akhir zaman. Unsur-unsur kekuatan ummat Islam bukan pada banyaknya jumlah dan kekuatannya, pasukan kavalerinya dan kesombongannya, pasukan infantrinya dan para komandannya, tapi pada aqidahnya dan manhajnya. Karena ummat ini adalah ummat tauhid dan pengusung panji-panji tauhid. Apakah engkau tidak perhatikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas, ketika menjawab pertanyaan salah seorang sahabatnya tentang jumlah, “Bahkan kalian ketika itu banyak!”Perang Hunain adalah contoh nyata bagi umat islam disetiap masa.“Dan hari Hunain ketika kalian merasa takjub dengan jumlah kalian yang banyak, tapi itu tidak berguna bagi kalian sedikitpun”. (QS. At Taubah: 26)

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menurut Abdurrahman al-Jibrin , terdapat perbedaan antara prilaku orang yang keadaannya memiliki iman dengan prilaku orang yang tidak beriman kepada Allah, hari Akhir dan apa yang ada di dalamnya berupa pahala dan siksaan. “Maka orang yang membenarkan adanya hari Akhir akan beramal dengan melihat timbangan langit bukan dengan timbangan bumi, dan dengan perhitungan akhirat bukan dengan perhitungan dunia.” Dia memiliki prilaku yang istimewa di dalam kehidupannya, kita bisa menyaksikan keistiqamahan di dalam dirinya, luasnya pandangan, kuatnya keimanan, keteguhan di dalam segala cobaan, kesabaran di dalam setiap musibah, dengan mengharap pahala dan ganjaran, serta yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Masa terus berlalu, dan datanglah suatu keanehan, maka pengingkaran terjadi semakin besar. Kita dapat menyaksikan pengingkaran yang menyeluruh terhadap sesuatu yang ada di belakang materi yang dirasakan panca indera, sebagaimana dinyatakan oleh kaum komunis marxis (atheis) yang mengingkari adanya pencipta, tidak beriman kepada Allah dan tidak mengimani adanya hari Akhir. Faham ini mengatakan bahwa kehidupan hanyalah materi belaka! Tidak ada hal lain di belakang materi yang bisa dirasakan ini; karena pemimpin mereka (Marxis) berpendapat tidak adanya tuhan! Dan kehidupan hanya sebatas materi! Oleh karena itu, keberadaan mereka bagaikan hewan; tidak bisa memahami makna kehidupan dan tujuan mereka diciptakan, bahkan mereka tersesat lagi binasa. Jika mereka bersatu pun, maka sebenarnya mereka berada di bawah bayangan rasa takut dari kekuasaan hukum.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Orang musyrik tidak mengharapkan adanya kebangkitan setelah kematian. Dia menginginkan kehidupan dunia yang terus-menerus, sementara orang Yahudi mengetahui segala kehinaan yang akan mereka dapatkan di akhirat, disebabkan apa yang mereka perbuat terhadap ilmu yang mereka ketahui. Manusia seperti ini dan yang serupa dengannya adalah manusia yang paling buruk. Sehingga Anda akan dapati sesuatu yang menyebar di kalangan mereka berupa keserakahan, ketamakan, memaksa rakyat dan menjadikannya budak, dan mengambil kekayaan mereka karena kerakusan untuk menikmati kehidupan dunia. Karena itulah nampak dari mereka hilangnya akhlak, dan prilaku yang seperti hewan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perjuangan kebangkitan Islam harus disertai perbuatan berlandaskan iman dan taqwa. Prinsip, jargon dan semboyan “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” adalah hal yang seharusnya dimiliki oleh setiap umat islam yang yaqin, serta merupakan keharusan bagi setiap orang yang mengaku beragama Tauhid , Betapa indahnya Islam bila berhiaskan Iman Betapa indahnya Iman bila berhiaskan Taqwa, dan betapa indahnya kehidupan ini bila hari demi hari kita lalui dengan suka dan ceria. Adalah kitab Al Quran Dan Sunnah Rosulullah yang Suci, Disucikan dan Mensucikan yang seharusnya dijadikan rujukan setiap Muslim dalam mengetahui , menata dan menjalankan berbagai hal dalam kehidupan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Empire, Imparatoroglu, atau Kekaisaran adalah sebuah istilah yang menunjukkan kerajaan dengan kekuasaan yang sangat luas. Kita mengenal Kekaisaran Romawi (Roman Empire), Kekaisaran Jerman (Holy Roman Empire), atau Kekaisaran Cina (berbagai dinasti). Osmanli atau Utsmani merupakan kata yang menunjukkan nasab/silsilah dari penguasa kerajaan tersebut, yaitu anak cucu Utsman (Osman dalam bahasa Turki). Penggunaan nasab/silsilah sebagai nama bagi kerajaan memang lazim digunakan pada saat itu, misal Kekhalifahan Abbasiyah (keturunan Abbas R.A) atau Fatimiyah (Keturunan Fatimah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Utsmani/Ottoman sesungguhnya adalah sebuah bentuk kerajaan/kesultanan. Sejarahnya hampir sama dengan sejarah awal berdirinya Kerajaan Metaram Islam. Kisah itu dimulai dari Ertughrul, leluhur para sultan Ottoman. Ertughrul adalah termasuk bangsa turki yang bermigrasi dari Asia Tengah ke daerah Anatolia. Di wilayah ini pada saat itu terdapat dua kekuasaan politik yaitu Bani Seljuq dan Byzantium. Ertughrul bersama pasukan dan pengikutnya bergabung dan mengabdi kepada Sultan Bani Seljuq. Ia kemudian diberi daerah Ekisyehir di daerah antara Seljuq dan Byzantium, antara Anatolia dan Nice.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Seperti lazimnya sistem pengisian jabatan di zaman dahulu, yaitu dengan penunjukkan dan setelahnya diwarisi turun temurun, kepemimpinan Ertughrul diwarisi oleh anaknya Osman. Osman bergelar Osman Gazi atau panglima Osman karena pada kenyataannya Osman memang setingkat panglima dalam hirarki di Bani Seljuq. Saat kekuasaan Bani Seljuq melemah, para panglima yang dulunya diberi daerah kekuasaan oleh Sultan Seljuq mendirikan kesultanan sendiri, yang disebut Kesultanan Ghazi. Ini mirip dengan pendirian Kesultanan Pajang dan Metaram saat Kesultanan Demak Bintoro melemah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Suatu hari saat sedang menginap di tempat Edebali, Osman bermimpi, ia melihat bulan turun ke dada Edebal. Cahayanya berkembang hingga ke dada Osman. Dari sana tumbuh pohon yang besar, hijau, dan banyak cabangnya. Bayangan pohon tersebut menutupi seluruh dunia. Esoknya Osman segera menanyakan tafsiran mimpinya kepada Edebali. Lalu Syaikh menyatakan bahwa Alloh telah memberikan kekuasaan kepada Osman dan anak-anaknya. Dunia akan berada di bawah perlindungan anak cucunya. Selain itu, mimpi mengisyarakan Syaikh agar menikahkan putrinya kepada Osman. Ternyata tafsiran Syaikh atas mimpi ini menjadi kenyataan. Keturunan Osman memang memerintah wilayah yang sangat luas, dari Jazirah Arab ke Wina, dari Aljazair ke Iraq. Membentang di tiga benua.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Setelah Osman wafat, beliau digantikan oleh Orhan. Seperti ayahnya, Orhan bergelar Sultan Orhan Ghazi. Beliau memiliki beberapa isteri dan beberapa di antaranya adalah ningrat Byzantum. Misalnya Teodora, putri dari Kaisar Byzantium John VI Kantakouzenos. Atau isteri keduanya, Holofira, yang merupakan puteri Pengeran Byzantium di Yarhisar. the daughter of the Byzantine Prince of Yarhisar. Legendanya, Holofira ini meninggalkan upacara pernikahannya dengan Pangeran Bilecik dan beralih ke Orahan. Saya membayangkan ini seperti kisah-kisah cinta masa kini. Mungkin Orhan itu orangnya tampan sehingga Holofira kepincut sampai-sampai meninggalkan upacara pernikahannya. Setelah menikah dengan Orhan, Holofira menjadi muslimah dan berganti nama menjadi Nilufer Hatun. Nilufer inilah yang melahirkan Murad, penggati Orhan nantinya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ceritanya, Raja John VI ini awalnya tidak memiliki ambisi menjadi Kaisar, tetapi ia orang yang berpengaruh di kalangan pemerintahan. Ia hanya menjadi kepala pemerintahan administratif sampai calon kaisar yang masih muda naik tahta. Tetapi beberapa kalangan dekat Ratu, ibu dari calon kaisar yang masih kecil, curiga pada motivasi dari John VI, juga sang Rati sendiri. Sehingga saat John VI berkunjung ke Morea, pasukannya di ibu kota dihancurkan dan ia dinyatakan sebagai kriminal. Kaisar yang kecilpun segera dinobatkan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selain itu, Murad memang sudah pantas untuk menyematkan gelar itu pada dirinya, saat itu, kekuasaan Ottoman telah berkembang hingga ke seberang benua, yaitu Eropa. Dengan wilayah yang luas tersebut, berarti Kerajaan Ottoman telah menaklukkan berbagai kota, seperti Nice, Edirne, dll. Para raja/pembesar kerajaan tersebutpun telah takluk kepada Ottoman. Sehingga tidak salah Murad menaikkan gelarnya dari Ghazi (panglima) menjadi Hudavendigar (kaisar). Karena pertama menggunakan gelar ini, Murad lebih dikenal sebagai Sultan Murad Hudavendigar Han.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Seperti dalam tulisan sebelumnya, Timur akhirnya berhasil menangkap Sultan Yildirim Beyazid Han. Setelah berhasil mengalahkan Beyazid Sang Petir, Timur mengakui Mehmed Celebi anak Beyazid sebagai penguasa sah Ottoman. Tetapi saudara-saudaranya menolak mengakui kekuasaan Mehmed, maka terjadilah masa perpecahan dalam kekuasaan Ottoman. Anak-anak Beyazid mengkalim wilayah kekuasaannya sendiri. Suleyman Celebi menjadi Sultan Edirne, Isa Celebi di Bursa, dan Mehmed Celebi di Amasya. Mereka berperang satu sama lain untuk memperbutkan tahta Ottoman. Masa ini disebut sebagai masa Interregnum (Fetret Devli).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Setelah berhasil mengkonsolidasikan kekuatan di dalam, Mehmed kemudian kembali merapikan wilayah Ottoman yang berantakan akibat Interegnum. Ia mulai dari wilayah Anadolu (Anatolia). Pada 1414 ia menaklukkan Izmir, Negeri Candar, Cilcia, dan Saruhan. Karaman yang mencoba menyerang Bursa berhasil ditepis. Setelah konsolidasi Anatolia, ia mengarah ke Rumelia (Eropa). Di Eropa Memed berhasil mengembalikan kekuasaan Ottoman dan kemudian menjadikan Wallachia membayar pajak pada Ottoman. Selain itu beliau juga melanjutkan pembangunan angkatan laut Ottoman.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Segera setelah Murad II naik tahta, Byzantium mendeklarasikan Musthafa sebagai pewaris sah Beyazid Yildirim. Tetapi ini bersyarat bahwa Musthafa harus menyerahkan kota-kota penting jika ia naik tahta. Dengan bantuan Byzantium Musthafa berhasil mendarat di Rumelia dan mengalang kekuatan di sana. Banyak pasukan Ottoman yang kemudian mendukungnya. Murad lalu mengrim pasukan di bawah Jenderal Senior, Beyezid Pasha. Tetapi Musthafa Sang Penipu berhasil membunuh Sang Jenderal dan iapun mendeklarasikan diri sebagai Sultan Edirne.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Melihat peluang sultan yang masih muda, rival Ottoman, Hungaria bersama Venice dan didukung Paus Eugene IV mempersiapkan Pasukan Salib baru untuk menyerang Ottoman. Melihat keadaan ini Mehmed II meminta ayahnya yang telah pensiun untuk memimpin pasukan menghadapi Pasukan Salib tersebut. Murad II menolak, lalu Mehmed mengirimkan surat yang sangat terkenal yang berbunyi, “Jika Engkau adalah sultan maka sudah sepantasnya Engaku memimpin pasukanmu dalam situasi yang sulit ini, maka majulah ke depan dan pimpin pasukanmu. Tetapi jika sayalah yang Sultan, maka saya mengingatkan Engkau untuk patuh kepada perintah Sultan, dan perintah saya adalah, Pimpinlah pasukan!.” Membaca surat ini Murad II tidak bisa menolak.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebenarnya Murad II adalah seorang yang tidak suka berperang. Ini terlihat dari keinginannya untuk mundur dari kepemimpinan. Tetapi keadaan memaksanya untuk terus berperang sebagaimana dalam kisah di atas. Selain pencapian militer, dalam bidang sosial, di zaman Murad dibangun ratusan masjid, sekolah, jembatan, dan istana. Salah satu bangunan peninggalan Murad II yangbisa dilihat adalah Bursa Muradiye Complex, yang terdiri dari masjid, makam, madrasah, pemandian, dan taman. Murad II sendiri sebenarnya adalah seorang seniman dengan nama pena Muradi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Negara ini didirikan oleh Bani Utsman, yang selama lebih dari enam abad kekuasaannya (1299 – 1923) dipimpin oleh 36 orang sultan, sebelum akhirnya runtuh dan terpecah menjadi beberapa negara kecil. Kesultanan ini menjadi pusat interaksi antar Barat dan Timur selama enam abad. Pada puncak kekuasaannya, Kesultanan Utsmaniyah terbagi menjadi 29 propinsi. Dengan Konstantinopel (sekarang Istambul) sebagai ibukotanya, kesultanan ini dianggap sebagai penerus dari kerajaan-kerajaan sebelumnya, seperti Kekaisaran Romawi dan Bizantium. Pada abad ke-16 dan ke-17, Kesultanan Usmaniyah menjadi salah satu kekuatan utama dunia dengan angkatan lautnya yang kuat. Kekuatan Kesultanan Usmaniyah terkikis secara perlahan-lahan pada abad ke-19, sampai akhirnya benar-benar runtuh pada abad 20. Setelah Perang Dunia I berakhir, pemerintahan Utsmaniyah yang menerima kekalahan dalam perang tersebut, mengalami kemunduran di bidang ekonomi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ertuğrul bersekutu dengan pihak Kesultanan Seljuk yang kalah pada saat itu dan kemudian membalikkan keadaaan memenangkan perang. Atas jasa beliau, Sultan Seljuk menghadiahi sebuah wilayah di Eskişehir. Sepeninggal Ertuğrul pada tahun 1281, Osman I menjadi pemimpin dan tahun 1299 mendirikan Kesultanan Utsmaniyah. Osman I kemudian memperluas wilayahnya sampai ke batas wilayah Kekaisaran Bizantium. Ia memindahkan ibukota kesultanan ke Bursa, dan memberikan pengaruh yang kuat terhadap perkembangan awal politik kesultanan tersebut. Diberi nama dengan nama panggilan “kara” (Bahasa Turki untuk hitam) atas keberaniannya, Osman I disukai sebagai pemimpin yang kuat dan dinamik bahkan lama setelah beliau meninggal dunia, sebagai buktinya terdapat istilah di Bahasa Turki “Semoga dia sebaik Osman”. Reputasi beliau menjadi lebih harum juga disebabkan oleh adanya cerita lama dari abad pertengahan Turki yang dikenal dengan nama Mimpi Osman, sebuah mitos yang mana Osman diinspirasikan untuk menaklukkan berbagai wilayah yang menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Setelah Osman I meninggal, kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah kemudian merambah sampai ke bagian Timur Mediterania dan Balkan. Setelah kekalahan di Pertempuran Plocnik, kemenangan kesultanan Utsmaniyah di Perang Kosovo secara efektif mengakhiri kekuasaan Kerajaan Serbia di wilayah tersebut dan memberikan jalan bagi Kesultanan Utsmaniyah menyebarkan kekuasaannya ke Eropa. Kesultanan ini kemudian mengontrol hampir seluruh wilayah kekuasaan Bizantium terdahulu. Wilayah Kekaisaran Bizantium di Yunani luput dari kekuasaan kesultanan berkat serangan Timur Lenk ke Anatolia tahun 1402, menjadikan Sultan Bayezid I sebagai tahanan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sepeninggal Timur Lenk, Mehmed II melakukan perombakan struktur kesultanan dan militer, dan menunjukkan keberhasilannya dengan menaklukkan Kota Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1453 pada usia 21 tahun. Kota tersebut menjadi ibukota baru Kesultanan Utsmaniyah. Sebelum Mehmed II terbunuh, pasukan Utsmaniyah berhasil menaklukkan Korsika, Sardinia, dan Sisilia. Namun sepeninggalnya, rencana untuk menaklukkan Italia dibatalkan. Mehmed II menaklukkan kota Konstantinopel yang menjadi ibukota baru kesultanan tahun 1453

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pewaris takhta Selim, Suleiman yang Agung (1520-1566) melanjutkan ekspansi Selim. Setelah menaklukkan Beograd tahun 1521, Suleiman menaklukkan Kerajaan Hongaria dan beberapa wilayah di Eropa Tengah. Ia kemudian melakukan serangan ke Kota Wina tahun 1529, namun gagal menaklukkan kota tersebut setelah musim dingin yang lebih awal memaksa pasukannya untuk mundur. Di sebelah timur, Kesultanan Utsmaniyah berhasil menaklukkan Baghdad dari Persia tahun 1535, mendapatkan kontrol wilayah Mesopotamia dan Teluk Persia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di bawah pemerintahan Selim dan Suleiman, angkatan laut Kesultanan Utsmaniyah menjadi kekuatan dominan, mengontrol sebagian besar Laut Mediterania. Beberapa kemenangan besar lainnya meliputi penaklukkan Tunis dan Aljazair dari Spanyol; Evakuasi umat Muslim dan Yahudi dari Spanyol ke wilayah Kesultanan Utsmaniyah sewaktu inkuisisi Spanyol; dan penaklukkan Nice dari Kekaisaran Suci Romawi tahun 1543. Penaklukkan terakhir terjadi atas nama Prancis sebagai pasukan gabungan dengan Raja Prancis Francis I dan Barbarossa. Prancis dan Kesultanan Utsmaniyah, bersatu berdasarkan kepentingan bersama atas kekuasaan Habsburg di selatan dan tengah Eropa, menjadi sekutu yang kuat pada masa periode ini. Selain kerjasama militer, kerjasama ekonomi juga terjadi antar Prancis dan Kesultanan Utsmaniyah. Sultan memberikan Prancis hak untuk melakukan dagang dengan kesultanan tanpa dikenai pajak. Pada saat itu, Kesultanan Utsmaniyah dianggap sebagai bagian dari politik Eropa, dan bersekutu dengan Prancis, Inggris, dan Belanda melawan Habsburg Spanyol, Italia, dan Habsburg Austria.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sepeninggal Suleiman tahun 1566, beberapa wilayah kekuasaan kesultanan mulai menghilang. Kebangkitan kerajaan-kerajaan Eropa di barat beserta dengan penemuan jalur alternatif Eropa ke Asia melemahkan perekonomian Kesulatanan Utsmaniyah. Efektifitas militer dan struktur birokrasi warisan berabad-abad juga menjadi kelemahan dibawah pemerintahan Sultan yang lemah. Walaupun begitu, kesultanan ini tetap menjadi kekuatan ekspansi yang besar sampai kejadian Pertempuran Wina tahun 1683 yang menandakan berakhirnya usaha ekspansi Kesultanan Utsmaniyah ke Eropa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kerajaan-kerajaan Eropa berusaha mengatasi kontrol monopoli jalur perdagangan ke Asia oleh Kesultanan Utmaniyah dengan menemukan jalur alternatif. Secara ekonomi, pemasukan Spanyol dari benua baru memberikan pengaruh pada devaluasi mata uang Kesultanan Utsmaniyah dan mengakibatkan inflasi yang tinggi. Hal ini memberikan efek negatif terhadap semua lapisan masyarakat Utsmaniyah. Di Eropa Selatan, sebuah koalisi antar kekuatan dagang Eropa di Semenanjung Italia berusaha untuk mengurangi kekuatan Kesultanan Utsmaniyah di Laut Mediterania. Kemenangan koalisi tersebut di Pertempuran Lepanto (sebetulnya Navpaktos,tapi semua orang menjadi salah mengeja menjadi Lepanto) tahun 1571 mengakhiri supremasi kesultanan di Mediterania. Pada akhir abad ke-16, masa keemasan yang ditandai dengan penaklukan dan perluasan wilayah berakhir.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pertempuran lepanto dimana pasukan angkatan Laut Utsmani mengalami kekalahan dan armada lautnya hancur melawan koalisi negara eropa yang tergabung dalam holy league. Meskipun demikian Wazir agung Ottoman (Mehmet Sokullu Pasha) dengan sesumbar masih dapat mengatakan “You come to see how we bear our misfortune. But I would have you know the difference between your loss and ours. In wresting Cyprus from you, we deprived you of an arm; in defeating our fleet, you have only shaved our beard. An arm when cut off cannot grow again; but a shorn beard will grow all the better for the razor“

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di medan perang, Kesultanan Utsmaniyah secara perlahan-lahan tertinggal dengan teknologi militer orang Eropa dimana inovasi yang sebelumnya menjadikan faktor kekuatan militer kesultanan terhalang oleh konservatisme agama yang mulai berkembang. Perubahan taktik militer di Eropa menjadikan pasukan Sipahi yang dulunya ditakuti menjadi tidak relevan. Disiplin dan kesatuan pasukan menjadi permasalahan disebabkan oleh kebijakan relaksasi rekrutmen dan peningkatan jumlah Yenisaris yang melebihi pasukan militer lainnya. Murad IV (1612-1640), yang menaklukkan Yereva tahun 1635 dan Baghdad tahun 1639 dari kesultanan Safavid, adalah satu-satunya Sultan yang menunjukkan kontrol militer dan politik yang kuat di dalam kesultanan. Murad IV merupakan Sultan terakhir yang memimpin pasukannya maju ke medan perang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pemberontakan Jelali (1519-1610) dan Pemberontakan Yenisaris (1622) mengakibatkan ketidakpastian hukum dan pemberontakan di Anatolia akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, dan berhasil menggulingkan beberapa pemerintahan. Namun, abad ke-17 bukan hanya masa stagnasi dan kemunduran, tetapi juga merupakan masa kunci di mana kesultanan Utsmaniyah dan strukturnya mulai beradaptasi terhadap tekanan baru dan realitas yang baru, internal maupun eksternal. Kesultanan Wanita (1530-1660) adalah periode di mana pengaruh politik dari Harem Kesultanan sangat besar, di mana ibu dari Sultan yang muda mengambilalih kekuasaan atas nama puteranya. Hürrem Sultan yang mengangkat dirinya sebagai pewaris Nurbanu, dideskripsikan oleh perwakilan Wina Andrea Giritti sebagai wanita yang saleh, berani, dan bijaksana. Masa ini berakhir sampai pada kekuasaan Sultan Kösem dan menantunya Turhan Hatice, yang mana persaingan keduanya berakhir dengan terbunuhnya Kösem tahun 1651. Berakhirnya periode ini digantikan oleh Era Köprülü (1656-1703), yang mana kesultanan pada masa ini pertama kali dikontrol oleh beberapa anggota kuat dari Harem dan kemudian oleh beberapa Perdana Menteri (Grand Vizier).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebetulnya, kedua hal di atas bisa diatasi saat kekholifahan dipegang orang kuat dan keimanannya tinggi, tapi kesempatan ini tak dimanfaatkan dengan baik. Suleiman II-yang dijuluki al-Qonun, karena jasanya mengadopsi UU sebagai sistem khilafah, yang saat itu merupakan khilafah terkuat-malah menyusun UU menurut mazhab tertentu, yakni mazhab Hanafi, dengan kitab Pertemuan Berbagai Lautan-nya yang ditulis Ibrohimul Halabi (1549). Padahal khilafah Islam bukan negara mazhab, jadi semua mazhab Islam memiliki tempat dalam 1 negara dan bukan hanya 1 mazhab. Dengan tak dimanfaatkannya kesempatan emas ini untuk perbaikan, 2 hal tadi tak diperbaiki.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Contoh: dengan diambilnya UU oleh Suleiman II, seharusnya penyimpangan dalam pengangkatan kholifah bisa dihindari, tapi ini tak tersentuh UU. Dampaknya, setelah berakhirnya kekuasaan Suleimanul Qonun, yang jadi khalifah malah orang lemah, seperti Sultan Mustafa I (1617), Osman II (1617-1621), Murad IV (1622-1640), Ibrohim bin Ahmed (1639-1648), Mehmed IV (1648-1687), Suleiman II (1687-1690), Ahmed II (1690-1694), Mustafa II (1694-1703), Ahmed III (1703-1730), Mahmud I (1730-1754), Osman III (1754-1787), Mustafa III (1757-1773), dan Abdul Hamid I (1773-1788). Inilah yang membuat militer, Yennisari-yang dibentuk Sultan Ourkhan-saat itu memberontak (1525, 1632, 1727, dan 1826), sehingga mereka dibubarkan (1785).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selain itu, majemuknya rakyat dari segi agama, etnik dan mazhab perlu penguasa berintelektual kuat. Sehingga, para pemimpin lemah ini memicu pemberontakan kaum Druz yang dipimpin Fakhruddin bin al-Ma’ni. Ini yang membuat politik luar negeri khilafah-dakwah dan jihad-berhenti sejak abad ke-17, sehingga Yennisari membesar, lebih dari pasukan dan peawai pemerintah biasa, sementara pemasukan negara merosot. Ini membuat khilafah terpuruk karena suap dan korupsi. Para wali dan pegawai tinggi memanfaatkan jabatannya untuk jadi penjilat dan penumpuk harta.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ditambah dengan menurunnya pajak dari Timur Jauh yang melintasi wilayah khilafah, setelah ditemukannya jalur utama yang aman, sehingga bisa langsung ke Eropa. Ini membuat mata uang khilafah tertekan, sementara sumber pendapatan negara seperti tambang, tak bisa menutupi kebutuhan uang yang terus meningkat. Paruh kedua abad ke-16, terjadilah krisis moneter saat emas dan perak diusung ke negeri Laut Putih Tengah dari Dunia Baru lewat kolonial Spanyol. Mata uang khilafah saat itu terpuruk; infasi hebat. Mata uang Baroh diluncurkan khilafah tahun 1620 tetap gagal mengatasi inflasi. Lalu keluarlah mata uang Qisry di abad ke-17. Inilah yang membuat pasukan Utsmaniah di Yaman memberontak pada paruh kedua abad ke-16. Akibat adanya korupsi negara harus menanggung utang 300 juta lira.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sejak jatuhnya Konstantinopel di abad 15, Eropa-Kristen melihatnya sebagai awal Masalah Ketimuran, sampai abad 16 saat penaklukan Balkan, seperti Bosnia, Albania, Yunani dan kepulauan Ionia. Ini membuat Paus Paulus V (1566-1572) menyatukan Eropa yang dilanda perang antar agama-sesama Kristen, yakni Protestan dan Katolik. Konflik ini berakhir setelah adanya Konferensi Westafalia (1667). Saat itu, penaklukan khilafah terhenti. Memang setelah kalahnya khilafah atas Eropa dalam perang Lepanto (1571), khilafah hanya mempertahankan wilayahnya. Ini dimanfaatkan Austria dan Venezia untuk memukul khilafah. Pada Perjanjian Carlowitz (1699), wilayah Hongaria, Slovenia, Kroasia, Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia lepas; masing-masing ke tangan Venezia dan Habsburg. Malah khilafah harus kehilangan wilayahnya di Eropa pada Perang Krim (abad ke-19), dan tambah tragis setelah Perjanjian San Stefano (1878) dan Berlin (1887).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menghadapi kemerosotan itu, khilafah telah melakukan reformasi (abad ke-17, dst). Namun lemahnya pemahaman Islam membuat reformasi gagal. Sebab saat itu khilafah tak bisa membedakan IPTek dengan peradaban dan pemikiran. Ini membuat munculnya struktur baru dalam negara, yakni perdana menteri, yang tak dikenal sejarah Islam kecuali setelah terpengaruh demokrasi Barat yang mulai merasuk ke tubuh khilafah. Saat itu, penguasa dan syaikhul Islam mulai terbuka terhadap demokrasi lewat fatwa syaikhul Islam yang kontroversi. Malah, setelah terbentuk Dewan Tanzimat (1839 M) semakin kokohlah pemikiran Barat, setelah disusunnya beberapa UU, seperti UU Acara Pidana (1840), dan UU Dagang (1850), tambah rumusan Konstitusi 1876 oleh Gerakan Turki Muda, yang berusaha membatasi fungsi dan kewenangan kholifah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di dalam negara, ahlu dzimmah-khususnya orang Kristen-yang mendapat hak istimewa zaman Suleiman II, akhirnya menuntut persamaan hak dengan muslimin. Malahan hak istimewa ini dimanfaatkan untuk melindungi provokator dan intel asing dengan jaminan perjanjian antara khilafah dengan Bizantium (1521), Prancis (1535), dan Inggris (1580). Dengan hak istimewa ini, jumlah orang Kristen dan Yahudi meningkat di dalam negeri. Ini dimanfaatkan misionaris-yang mulai menjalankan gerakan sejak abad ke-16. Malta dipilih sebagai pusat gerakannya. Dari sana mereka menyusup ke Suriah(1620) dan tinggal di sana sampai 1773.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Gerakan misionaris dan orientalis itu merupakan bagian tak terpisahkan dari imperialisme Barat di Dunia Islam. Untuk menguasainya – meminjam istilah Imam al-Ghozali – Islam sebagai asas harus hancur, dan khilafah Islam harus runtuh. Untuk meraih tujuan pertama, serangan misionaris dan orientalis diarahkan untuk menyerang pemikiran Islam; sedangkan untuk meraih tujuan kedua, mereka hembuskan nasionalisme dan memberi stigma pada khilafah sebagai Orang Sakit (sickman). Agar kekuatan khilafah lumpuh, sehingga agar bisa sekali pukul jatuh, maka dilakukanlah upaya intensif untuk memisahkan Arab dengan lainnya dari khilafah. Dari sinilah, lahir gerakan patriotisme dan nasionalisme di Dunia Islam. Malah, gerakan keagamaan tak luput dari serangan, seperti Gerakan Wahabi di Hijaz.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Nasionalisme dan separatisme telah dipropagandakan negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Rusia. Itu bertujuan untuk menghancurkan khilafah Islam. Keberhasilannya memakai sentimen kebangsaan dan separatisme di Serbia, Hongaria, Bulgaria, dan Yunani mendorongnya memakai cara sama di seluruh wilayah khilafah. Hanya saja, usaha ini lebih difokuskan di Arab dan Turki. Sementara itu, KeduBes Inggris dan Prancis di Istambul dan daerah-daerah basis khilafah-seperti Baghdad, Damsyik, Beirut, Kairo, dan Jeddah-telah menjadi pengendalinya. Untuk menyukseskan misinya, dibangunlah 2 markas. Pertama, Markas Beirut, yang bertugas memainkan peranan jangka panjang, yakni mengubah putra-putri umat Islam menjadi kafir dan mengubah sistem Islam jadi sistem kufur. Kedua, Markas Istambul, bertugas memainkan peranan jangka pendek, yaitu memukul telak khilafah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

KeduBes negara Eropapun mulai aktif menjalin hubungan dengan orang Arab. Di Kairo dibentuk Partai Desentralisasi yang diketuai Rofiqul ‘Adzim. Di Beirut, Komite Reformasi dan Forum harfiah dibentuk. Inggris dan Prancis mulai menyusup ke tengah orang Arab yang memperjuangkan nasionalisme. Pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tahun 1855, negara-negara Eropa-khususnya Inggris-memaksa khilafah Utsmani mengamandemen UUD, sehingga dikeluarkanlah Naskah Hemayun (11 Februari 1855). Midhat Pasha, salah satu anggota Kebatinan Bebas diangkat jadi perdana menteri (1 September 1876). Ia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD menurut Konstitusi Belgia. Inilah yang dikenal dengan Konstitusi 1876. Namun, konstitusi ini ditolak Sultan Abdul Hamid II dan Sublime Port-pun enggan melaksanakannya karena dinilai bertentangan dengan syari’at. Midhat Pashapun dipecat dari kedudukan perdana menteri.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pendudukan Inggris di kawasan ini juga dimanfaatkan untuk mendongkrak popularitas Mustafa Kemal Pasha-yang sengaja dimunculkan sebagai pahlawan pada Perang Ana Forta (1915). Ia-agen Inggris, keturunan Yahudi Dunamah dari Salonika-melakukan agenda Inggris, yakni melakukan revolusi kufur untuk menghancurkan khilafah Islam. Ia menyelenggarakan Kongres Nasional di Sivas dan menelurkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan negeri Islam lainnya dari penjajah, sekaligus melepaskannya dari wilayah Turki Utsmani. Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dll mendeklarasikan konsensus kebangsaan sehingga merdeka. Saat itu sentimen kebangsaan tambah kental dengan lahirnya Pan-Turkisme dan Pan Arabisme; masing-masing menuntut kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri atas nama bangsanya, bukan atas nama umat Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sejak tahun 1920, Mustafa Kemal Pasha menjadikan Ankara sebagai pusat aktivitas politiknya. Setelah menguasai Istambul, Inggris menciptakan kevakuman politik, dengan menawan banyak pejabat negara dan menutup kantor-kantor dengan paksa sehingga bantuan kholifah dan pemerintahannya mandeg. Instabilitas terjadi di dalam negeri, sementara opini umum menyudutkan kholifah dan memihak kaum nasionalis. Situasi ini dimanfaatkan Mustafa Kemal Pasha untuk membentuk Dewan Perwakilan Nasional – dan ia menobatkan diri sebagai ketuanya – sehingga ada 2 pemerintahan; pemerintahan khilafah di Istambul dan pemerintahan Dewan Perwakilan Nasional di Ankara. Walau kedudukannya tambah kuat, Mustafa Kemal Pasha tetap tak berani membubarkan khilafah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Setelah resmi dipilih jadi ketua parlemen, Pasha mengumumkan kebijakannya, yaitu mengubah sistem khilafah dengan republik yang dipimpin seorang presiden yang dipilih lewat Pemilu. Tanggal 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun ambisinya untuk membubarkan khilafah yang telah terkorupsi terintangi. Ia dianggap murtad, dan rakyat mendukung Sultan Abdul Mejid II, serta berusaha mengembalikan kekuasaannya. Ancaman ini tak menyurutkan langkah Mustafa Kemal Pasha. Malahan, ia menyerang balik dengan taktik politik dan pemikirannya yang menyebut bahwa penentang sistem republik ialah pengkhianat bangsa dan ia melakukan teror untuk mempertahankan sistem pemerintahannya. Kholifah digambarkan sebagai sekutu asing yang harus dienyahkan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ada sebuah episode memilukan dalam cerita besar kekaisaran Utsmani (Ottoman). Berawal dari kegengsian dan keinginan melawan habis inggris dan rusia. Bersamaan dengan hadirnya Jerman sebagai sekutu besar Ottoman akhirnya melibatkan kekaisaran Islam itu untuk terjun dalam perang dunia I atau the great war. Suatu peperangan dahsyat yang dianggap sebagai perang yang mengakhiri segala perang. The great war berlangsung dari tahun 1914 sampai 1918. Mengira mempunyai sekutu yang tangguh akhirnya Ottoman dengan percaya diri masuk dalam lingkaran setan dengan membombardir sebuah pelabuhan milik rusia. Dengan demikian, Ottoman resmi masuk dalam Perang Dunia I.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Benteng kuno megiddo muncul dalam perjanjian baru sebagai armagedon, lokasi pertempuran millennium antara kekuatan yang baik dan jahat. Pertempuran megiddo adalah nama yang diberikan untuk serbuan akhir pasukan sekutu terhadap ottoman di palestina dan suriah. Pasukan sekutu terdiri dari pasukan inggris, india, australia, selandia baru dan tambahan sedikit pasukan perancis dan armenia. Pasukan ini dipimpin jendral sir edmund allenby. Sedangkan pasukan otoman dipimpin oleh jendral otto liman von sanders.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Serangan infantri yang dilancarkan kemudian membuat kewalahan para pasukan ottoman yang kalah jumlah di garis depan. Divisi ke 60, yang berada di sebelah kiri, maju 7000 m atau sekitar 4 mil dalam dua setengah jam pertama,melanggar dan melalui kedua garis pertahanan ottoman hingga sampai jembatan di nehl el falik. Hal ini memungkinkan kavaleri untuk maju. Pada hari akhir pertama itu korps xxi telah merebut sebagian besar jalur kereta api yang membujur ke utara kearah tul keram. Tentara ke 8 ottoman berusaha untuk mundur malaui tul keram namun dihentikan oleh serangan kombinasi dari udara.kemajuan yang pesat lagi dialami oleh 5th australian light horse dan divisi ke 50, yang pada akhir hari itu telah maju 17 mil sampai Tul Keram.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di akhir hari yang kedua, tentara ke 8 turki telah dihancurkan dan tentara ke 7 berada dalam bahaya yang serius. Dengan jaringan kereta api yang diblokir, kesempatan satu-satunya untuk lolos adalah ke timur menuju nablus, di sepanjang jalan yang mengarah ke bewah fara wadi ke lembah yordan. Wilayah ini sebenarnya telah menjadi target korps xx, tetapi serangan mereka yang dimulai tanggal 19 september sore belum berhasil seperti koleganya di sayap kiri. Pada tanggal 20 september korps xx membuat kemajuan sangat sedikit. Kesempatan pada malam menuju tanggal 21 september itu digunakan turki untuk memulai evakuasi menuju Nablus.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

kemenangan mutlak dari para pasukan yang dipimpin allenby dicapai melalui komando yang ketat, peperangan yang mengejutkan mobilitas tinggi dan penghancuran komunikasi musuh. Hanya dalam beberapa hari allenby telah menghancurkan kekuatan militer ottoman. Dari 19-26 oktober pasukannya telah maju lebih dari 483 km kearah utara dan berhasil menawan 75.000 tahanan, 360 senjata dan semua transportasi dan perlengkapannya. Kota-kota utama mulai dari damaskus, beirut, homs, aleppo semua jatuh ketangan tentara allenby. Sekutu hanya kehilangan kurang dari 5000 orang kerajaan turki ottoman mencapai titik kehancuran. Mereka menyatakan kedamaian sepihak yang kemudian diakhiri di mudros pada 30 oktober 1918. Kemudian dalam perjanjian versailles, tanah turki ottoman dirampas secara besar-besaran. Palestina, suriah, iraq dan mesir dilucuti dari kekuasaan ottoman

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada awalnya, pasukan Ottoman mirip dgn Beylik lain di Anatolia, pasukan itu antara lain Kavaleri Musellem dan Yaya Infantry, dan tak lupa pula para Ghazi. Pada masa Orhan Ghazi (Orhan Bey)-Putra Osman I- mulai dibentuk pasukan Kapikhalki (Qapikulu/Kapikulu)sebagai pengawal pribadi, yg terdiri dari para full time infantry menggantikan pasukan berkuda yg cenderung setia pada klan tertentu (nantinya Qapikulu ini berubah menjadi kesatuan kavaleri yg mengawal Sultan). Pasukan ini terinspirasi dari pasukan Bizantium yg bernama Murtatoi, yg pada masa itu adalah infantry archer yg efektif.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sulit untuk membedakan mana sejarah dan legenda pembentukan Janissari. Legenda mengatakan bahwa Janissari dibentuk pada masa Orhan Ghazi. Latar belakang pembentukan ini adalah fakta bahwa pasukan Ottoman dikumpulkan dari berbagai macam klan, yang kesetiaannya dipertanyakan. Di samping itu pada setiap kampanye militer, para pasukan yg berasal dari klan2 ini meminta jatah barang rampasan yg jumlahnya besar. Oleh karena itu, Orhan Ghazi meminta pendapat dari para penasehatnya untuk membuat suatu pasukan baru yg hanya loyal kepada Ottoman. Penasehat tersebut adalah Alaeddin, Ali Pasha, dan Çandarlı Kara Halil Hayreddin Pasha. Alaeddin mengusulkan supaya dibentuk suatu pasukan yg profesional, yang dibayar secara rutin dan siap jika sewaktu2 ada pertempuran, maka dibentuklah Piyade/Yaya Infantry.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Akhirnya dibentuklah suatu pasukan baru yg dinamakan Janissari (Yeniçeri).Tidak jelas bagaimana terminologi Janissari (Yenicheri=Pasukan baru) ini muncul. Apakah terpengaruh oleh nama kesatuan dari Bizantium tadi atau memang kebetulan “pasukan baru” dalam bahasa Turki adalah Yeniçeri. Battalion (Orta) pertama Janissari awalnya adalah suplemen bagi Yaya Infantry. Berbeda dgn legenda, beberapa sumber sejarah menyatakan bahwa Putra Orhan Ghazi, yaitu Sultan Murad I yg pertama kali merekrut Janissari.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Beberapa ahli hukum Ottoman mencoba menjustifikasi bahwa sistem Devshirme ini legal dengan alasan bahwa leluhur anak2 yg direkrut itu adalah orang taklukan dan mereka (org Slav & Albania) baru memeluk agama Kristen setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dengan keyakinan bahwa dgn merekrut mereka dan konversi mereka menjadi Muslim maka akan menyelamatkan mereka dari neraka. Berbeda dari Inkuisisi Spanyol yg menerapkan ide konversi ini secara brutal sehingga menimbulkan perlawanan dari para Muslim dan Yahudi Andalusia, Devshirme seringkali diikuti oleh keluarga Kristen secara sukarela karena memberikan janji dan harapan akan kehidupan yg lebih baik. Namun sistem ini banyak mendapat banyak pertentangan dari para ulama pada masa itu, karena menganggap bahwa sistem ini merupakan suatu bentuk kesewenang2an dari penguasa dan tidak seharusnya penguasa menganggap para Kafir Dzimmi sebagai properti pribadinya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Namun, show must go on, sistem ini tetap diterapkan oleh para Sultan Ottoman hingga penghapusannya tahun 1648. Awalnya, Balkan dan daerah minoritas Kristen di Anatolia menjadi daerah yang terkena sistem ini. Balkan menjadi daerah yg paling banyak menyumbangkan anak yg direkrut melalui Devshirme. Secara kasar, dari setiap 40 keluarga diambil 1 pemuda. Awalnya, perekrutan ini diadakan setiap 5 tahun sekali, namun dalam perkembangannya Devshirme dilakukan tiap tahun. Dalam satu tahun bisa didapat 1000-3000 pemuda tiap tahun, hingga pada suatu masa dimana jumlah pemuda yg didapat dari Devshirme tidak mampu lagi mencukupi jumlah pasukan yg ada maka mulai direkrutlah pasukan dari kalangan Muslim sendiri. Yang direkrut dgn Devshirme adalah anak dan pemuda yg berusia 8-20 tahun, yg kebanyakan dari daerah pedesaan miskin dan tidak berpendidikan, jarang yg berasal dari kota atau yg berpendidikan. Keluarga yg hanya memiliki 1 anak lelaki dan keluarga Yahudi bebas dari Devshirme. Keluarga Yunani juga mendapat keringanan dalam Devshirme. Karena dengan adanya Devshirme ini, taraf hidup dan karir menjadi menanjak maka banyak keluarga Kristen dan bahkan Muslim sendiri yg secara sukarela menyerahkan anak mereka, bahkan banyak yg menyuap untuk memasukkan anak2 mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selanjutnya setelah terpilih, para anak dan pemuda ini dibagi menjadi 2 kelompok, yg pertama disebut sebagai Iç Oĝlan (inner boys) yang kecakapannya di atas rata2, yg berpeluang menduduki jabatan tinggi setelah melalui pendidikan militer. Yang kedua disebut sebagai Acemi Oĝlan (Foreign boys) yg akan menjadi prajurit Janissari biasa. Berbeda pada Acemi Oĝlan yg hanya dididik dgn seni kemiliteran murni dan pelajaran agama, Iç Oĝlan akan mendapatkan pelajaran berupa etiket, tata krama, kesusastraan, militer, agama, seni beladiri, pelajaran bahasa Arab dan Persia, dan musik bagi yg berbakat, dan lain2. Setelah itu mereka akan dididik sesuai spesialisasinya. Tanggung jawab pendidikan Iç Oĝlan dipegang oleh Kapi Agha dan Hoca.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Korps atau Ocak Janissari masuk ke dalam struktur Kapikulu Askerleri (Pasukan Sultan). Ocak atau Korps Janissari ini terdiri dari 196 Orta dan secara umum dibagi menjadi beberapa 3 bagian yaitu Cemaat (assembly-110 Orta), Beyliks atau Böluk (division-61/62 Orta), dan Sekban atau Seğmen (Dog Handler-33/34 Orta). Di dalam Cemaat terdapat pasukan elit bernama Solak Ortas. Di dalam Solak Ortas terdapat Műteferrika yg beranggotakan putra vassal atau pejabat tinggi kemiliteran. Masing2 Orta mempunyai ciri khas sendiri2 sesuai dgn asal, tugas, dan atribut masing2.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sultan akan memilih sendiri Yeniçeri Ağasi (Agha Janissari). Agha Janissari ini adalah figur yg mempunyai kekuasaan yg luar biasa, bahkan Wazir Agung pun tidak berhak untuk memberi perintah kepadanya. Agha Janissari hanya menerima perintah langsung dari Sultan. Untuk menentukan semua keputusan di internal korps Janissari, Agha Janissari berkonsultasi dulu dengan Divan (Dewan) yg terdiri Kul Kâhyasi, Sekbanbaşi, 3 CO (Commanding Officer) dari 3 Orta elit yaitu Zağarcibaşi, Samsuncuibaşi, Turnacibaşi, dan juga Başçavuş (Provost-nya Janissari).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selain struktur di atas, di setiap kota benteng seperti Baghdad, Erzurum, Jerussalem, Van, Khadin, dll milik Ottoman jg punya struktur sendiri. Setiap Janissari di kota tersebut dipimpin oleh Serhad Ağasi (Frontier Agha). Di provinsi Ottoman di Afrika Utara, Janissari mempunyai struktur tersendiri, dan mempunyai Divan (Dewan) sendiri, yg berdiri otonom dari pemerintahan Istanbul. Lama kelamaan Janissari juga direkrut sendiri oleh para Beylerbey/Sançakbey, contohnya di Damascus ada dua macam Janissari, yg pertama Janissari resmi kesultanan Ottoman dan yg kedua Janissari yg menjadi pasukan pribadi Bey atau Pasha.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Simbol lain yg tidak biasa, tapi merefleksikan filosofi Janisari adalah sebuah Kazan, yaitu kuali tembaga besar, yg dianggap harga yg paling berharga masing2 Orta. Sekali sehari, para Janissari makan makanan (Pilav) yg dimasak dgn Kazan. Dgn menutup Kazan ini, menandakan para Janissari sedang melakukan pembangkangan, dan jika berkumpul di sekitarnya menandakan mereka mencari perlindungan. Setiap Orta mempunyai Kazan sendiri2. Kazan ini dibawa dalam parade dan peperangan. Dalam parade, jika Kazan muncul maka semua Janissari wajib untuk bersikap hening. Dalam pertempuran, Kazan berfungsi sebagai semacam rally point jika dalam kesulitan. Jika kehilangan Kazan maka setiap Orta tersebut harus menanggung malu jika berhadapan dengan Orta yg lain.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sepatu Janissari umumnya dari kulit berwarna merah kecuali perwira Senior yg memakai sepatu berwarna kuning. Ikat pinggang jg menentukan status seorang Janissari. Sebagai contoh, dalam Korps Bostanci terdapat 9 tingkatan, dengan urutan dari bawah ke atas sebagai berikut : biru (1st), putih (2nd), kuning (3rd), campuran biru dan putih (4th), kain putih halus (5th), sutra putih (6th), kain hitam halus (7th), hitam pekat (8th & 9th). Pada awalnya, Janissari memakai full armor, tetapi pada abad ke 16 mereka sudah mulai meninggalkan full armor kecuali untuk pasukan yg bertugas dalam pengepungan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada awalnya, Janissari adalah infantry archer yg dilengkapi dengan busur dan crossbow (çanra). Dalam perkembangannya mereka juga memakai banyak senjata seperti pedang, gada, kapak, hingga senjata api. Pedang yg dipakai antara lain Yoldaş, Kiliç (pedang) yg melengkung, scimitar, yatağan (pedang dengan lengkungan ganda), & meş (rapier). Gada yg dipakai antara lain gürz, şeşper, koçbaşi. Janissari juga kadang memakai pole-arm yg disebut sebagai harba dan turpan. Janissari orta tertentu (Baltaci) juga memakai balta (halberd).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Prajurit Ottoman biasanya menggunakan senjata yg didapat dari rampasan perang dan juga yg diimpor dari Eropa. Pemasok senjata utama bagi Ottoman adalah Inggris dan Belanda yg notabene adalah negara Kristen Protestan. Mereka memasok bubuk mesiu, laras Arquebus, bahan baku pedang, dll. Sebagai balasannya, Ottoman mengekspor laras senapan yg terkenal terbaik pada masanya, selain itu Ottoman juga mengajarkan penggunaan artileri kepada negara Kristen Protestan yg pada waktu itu bermusuhan dgn Negara Eropa yg Katolik.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Janissari menerima gaji setiap 3-4 kali pertahun, jumlah yg mereka terima awalnya sangat kecil namun mereka mendapatkan baju dan kain wool yg berkualitas, mendapatkan pasokan makanan yg lengkap, dan uang yg cukup untuk membeli peralatn militer yg baru. Janissari juga kan mendapatkan bonus gaji dan medali atas keberanian mereka di medan perang. Awalnya, yg dianggarkan untuk Janissari meliputi 10% dari belanja total militer Ottoman, namun pada masa Sultan Mehmed II naik menjadi 15%, dgn adanya kenaikan gaji Janissari.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selama beberapa abad Janissari menjadi korps infantri yg paling ditakuti di Eropa. Mereka jauh lebih disiplin dari lawan2 mereka dari Eropa. Janissari mempunyai suatu kode kehormatan yg mungkin mirip dgn kode etik knight atau samurai. Mereka menghormati para pemberani dan ada suatu kompetisi dalam pertempuran untuk mendapatkan medali kehormatan. Ada medali yg dinamakan çelenk yg hanya diberikan kepada Janissari yg punya keberanian extra untuk melawan musuh yg lebih superior. Janissari yg gugur di medan pertempuran mendapat gelar Şahid, keluarga yg ditinggalkan akan mendapat uang pensiun, anak laki2nya akan diberi pekerjaan, dan anak perempuannya akan dicarikan suami. Setiap anggota Janissari yg cacat akan menjadi anggota kehormatan Ortanya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada awal abad 17, Janissari mempunyai pengaruh yg besar terhadap pemerintah, baik di Ibukota maupun di wilayah lainnya. Mereka akan memberontak jika ada upaya2 untuk memodernisasi struktur tentara. Sluruh kebijakan yg kesultanan didikte oleh Janissari. Jika ada sultan yg tidak sesuai dengan kepentingan mereka akan dikudeta dan digantikan oleh Sultan lain. Mereka memonopoli kepemilikan tanah, birokrasi, & perdagangan. Mereka juga mulai memasukkan anak2 mereka ke dalam struktur Janissari tanpa harus melalui pelatihan militer sehingga mengurangi kekuatan militer utama Ottoman.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada 1622, para Janissari adalah ancaman serius bagi stabilitas Kesultanan. Melalui keserakahan mereka dan ketidakdisiplinan, mereka menjadi pasukan yg tidak efektif menghadapi kekuatan Eropa. Pada 1622, sultan remaja, Osman II, setelah kekalahan dalam perang melawan Polandia, menyalahkan Janissari atas kekalahan tersebut. Beliau mulai membatasi peran Janissari dan menolak untuk “tunduk pada budak sendiri”. Sultan Genc Osman mencoba membubarkan korps Janissari. Pada musim semi, rumor berkembang bahwa Sultan mempersiapkan pasukan untuk bergerak melawan mereka, Janissari memberontak dan menjadikan Sultan sebagai tawanan. Sultan Genc Osman akhirnya terbunuh oleh Wazir Agung Davut Pasha dgn cara dipencet testisnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Anggaran kesultanan untuk membiayai gaji Janissari sedemikian besarnya, walaupun banyak diantara mereka yg bukan prajurit, bahkan Sultan harus membayar gaji Janissari yg sudah wafat. Keefektifitasan mereka sebagai pasukan tempur menurun jauh. Satu2nya yg takut akan kekuatan Janissari hanyalah rakyat Ottoman sendiri. Kisah ini mirip dengan Praetorian Guardnya Romawi. Janissari yg awalnya penjaga Kesultanan akhirnya menjadi pagar makan tanaman, yg awalnya pelindung Kesultanan malah menjadi ancaman terbesar gabi eksistensi Kesultanan. Perbatasan utara Kekaisaran Ottoman perlahan-lahan mulai menyusut ke selatan setelah Pertempuran kedua Wina tahun 1683, salah satunya disebabkan oleh kelemahan Janissari.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada tahun 1807, Janissari memberontak dan menggulingkan Sultan Selim III, yg mencoba untuk memodernisasi tentara. Mustafa Bayrakdar (Mustafa Bayraktar, yg ironisnya adalah mantan anggota Janissari), Pasha dr Rustchuk, yg mendukung kebijakan modernisasi Sultan gagal untuk menggagalkan pemberontakan ini karena tidak datang di Istanbul tepat waktu dgn 40.000 pasukannya. Janissari menaikkan Sultan Mustafa IV ke atas tahta. Ketika Mustafa Bayrakdar datang, dy akhirnya menurunkan Mustafa IV dan menggantinya dengan Sultan Mahmud II.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di bawah Sultan Mahmud II, Mustafa Bayrakdar (Alemdar Mustafa Pasha) mereformasi militer dan membentuk suatu pasukan baru serupa Nizam-i-Cedid, yg dinamakan Sekban-i-Cedid. Lagi2 Janissari mengancam akan melakukan pemberontakan atas usaha modernisasi ini. Sultan Mahmud II yg pada waktu itu belum punya kekuasaan riil akhirnya melakukan kompromi dgn Janissari dan menyerahkan Alemdar Mustafa Pasha. Alemdar Mustafa Pasha akhirnya terbunuh dengan cara meledakkan gudang mesiu beserta 400 Janissari yg mengepungnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Keadaan mulai berubah pada tahun 1826. Sultan Mahmud II sudah cukup matang. Beliau mengeluarkan suatu fatwa bahwa akan dibentuk suatu pasukan baru untuk menandingi kekuatan Eropa. Beliau sadar bahwa dgn fatwa ini Janissari akan memberontak. Tapi kali ini Sultan Mahmud II sudah siap. Pasukan kavaleri Sipahi sudah disipakan di Ibukota untuk berjaga2. Ketika Janissari yg tanpa persiapan melakukan pemberontakan dgn menyerang istana, Sipahi yg lebih siap dan membawa perlengkapan tempur yg lengkap mampu memukul mundur Janissari dan memaksa mereka kembali ke barak. Janissari yg terperangkap di dalam barak ditembaki dengan artileri dan mengakhiri riwayat mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Fakta lainnya adalah penggunaan kata ”warung”, yang merupakan kata dalam bahasa Jawa, juga perlu dikaji pengaruh kebiasaan orang Jawa terkait dengan kehadiran warung itu. Meski demikian, sangat mungkin juga ”warung kopi” diambil oleh orang Aceh dari orang Medan yang lebih banyak menamai tempat nongkrong itu sebagai warung kopi dan sering disingkat warkop dibanding menggunakan nama kedai, lapo, kios, dan lain-lain. Orang Medan mengenal kata ”warung” kemungkinan karena kehadiran orang Jawa di pantai timur Sumatera.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Panta Rei Ouden Menei. Semuanya mengalir dan berputar. Demikian pula Sriwijaya. Kerajaan besar Budha yang berpusat di selatan Sumatera ini pada akhir abad ke-14 M mulai memasuki masa suram. Invasi Majapahit (1377) atas Sriwijaya mempercepat kematiannya. Satu persatu daerah-daerah kekuasaan Sriwijaya mulai lepas dan menjadi daerah otonom atau bergabung dengan yang lain. Raja, adipati, atau penguasa setempat yang telah memeluk Islam lalu mendirikan kerajaan Islam kecil-kecil. Beberapa kerajaan Islam di Utara Sumatera bergabung menjadi Kerajaan Aceh Darussalam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Menyaksikan Portugis dan Spanyol sukses dalam ekspedisinya, bangsa-bangsa Eropa lainnya tertarik untuk mengekor. Perancis, Inggris, dan Jerman kemudian juga mencoba untuk mengirimkan armadanya masing-masing untuk menemukan dunia baru yang kaya-raya. Misi kerajaan-kerajaan Eropa ini sampai sekarang kita kenal dengan sebutan “Tiga G”: Gold, Glory, dan Gospel. Emas yang melambangkan Eropa tengah mencari daerah kaya untuk dijajah, Glory dan Gospel dinisbatkan untuk penyebaran dan kejayaan agama Kristen.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sejarahwan Belanda J. Wils mencatat jika pendirian pos-pos misionaris awal di Nusantara selalu mengikuti gerak maju armada Portugis-Spanyol, “…pos-pos misi yang pertama-tama di Indonesia secara praktis jatuh bersamaan dengan garis-garis perantauan pencarian rempah-rempah dan ‘barang-barang kolonial’. Dimulai dari Malaka, yang ditaklukkan pada tahun 1511, perjalanan menuju ke Maluku (Ambon, Ternate, Halmahera), dan dari situ selanjutnya ke Timor (1520), Solor dan Flores, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara (1544, 1563), dan berakhir di paling Timur Pulau Jawa (1584-1599).”2

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Peran Sriwijaya digantikan oleh Kesultanan Aceh Darussalam yang berasal dari penggabungan kerajaan-kerajaan Islam kecil seperti Kerajaan Islam Pereulak, Samudera Pase/Pasai, Benua, Lingga, Samainra, Jaya, dan Darussalam. Ketika Portugis merebut Goa di India, lalu Malaka pun akhirnya jatuh ke tangan Portugis, maka kerajaan-kerajaan Islam yang telah berdiri di pesisir utara Sumatera seperti kerajaan Aceh, Daya, Pidie, Pereulak (Perlak), Pase (Pasai), Teumieng, dan Aru dengan sendirinya merasa terancam armada Salib Portugis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perkembangan yang kurang menguntungkan ini terus dipantau oleh Panglima Perang Kerajaan Islam Aceh, Ali Mughayat Syah. Panglima Perang yang juga putera mahkota Kerajaan Aceh ini yakin jika Portugis pasti akan menyerang kerajaannya. Mughayat Syah memaparkan hal ini kepada Sultan Alaiddin Syamsu Syah yang sudah uzur. Sultan sadar, untuk menghadapi Portugis, maka Kerajaan Aceh harus dipimpin oleh seorang yang muda, cekatan, dan cakap. Akhirnya Sultan Alaiddin Syamsu Syah segera melantik anaknya sebagai penggantinya. Ali Mughayat Syah pun menjadi raja baru dengan gelar Sultan Alaiddin Mughayat Syah. Sultan yang baru ini memandang, untuk mengusir Portugis dari seluruh daratan pantai utara Sumatera, dari Daya hingga ke Pulau Kampai, seluruh kerajaan-kerajaan Islam yang kecil-kecil itu harus bersatu dalam kerajaan yang besar dan kuat. Maka begitu jadi sultan, Alaiddin Mughayat segera mengumumkan berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam yang wilayah kekuasaannya meliputi Aru hingga ke Pancu di pantai utara, dan dari Daya hingga ke Barus di pantai Barat dengan beribukota kerajaan di Banda Aceh Darussalam. Padahal saat itu kerajaan-kerajaan Aru, Daya, Pase, Pidie, dan sebagainya masih diperintah oleh raja-raja lokal. Lewat peperangan yang gigih akhirnya laskar Islam ini berhasil menghalau Portugis bersama para sekutu lokalnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Diikat kesatuan akidah yang kuat, Aceh Darusalam mengikatkan diri dengan kekhalifahan Islam Turki Ustmaniyah. Sebuah arsip Utsmani berisi petisi Sultan Alaiddin Riayat Syah kepada Sultan Sulayman Al-Qanuni, yang dibawa Huseyn Effendi, membuktikan jika Aceh mengakui penguasa Utsmani di Turki sebagai kekhalifahan Islam. Dokumen tersebut juga berisi laporan soal armada Salib Portugis yang sering mengganggu dan merompak kapal pedagang Muslim yang tengah berlayar di jalur pelayaran Turki-Aceh dan sebaliknya. Portugis juga sering menghadang jamaah haji dari Aceh dan sekitarnya yang hendak menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Sebab itu, Aceh mendesak Turki Utsmaniyah mengirim armada perangnya untuk mengamankan jalur pelayaran tersebut dari gangguan armada kafir Farangi (Portugis).4

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sultan Sulayman Al-Qanuni wafat pada 1566 M digantikan Sultan Selim II yang segera memerintahkan armada perangnya untuk melakukan ekspedisi militer ke Aceh. Sekitar bulan September 1567 M, Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis, diperintahkan berlayar menuju Aceh membawa sejumlah ahli senapan api, tentara, dan perlengkapan artileri. Pasukan ini oleh Sultan diperintahkan berada di Aceh selama masih dibutuhkan oleh Sultan Aceh.5 Walau berangkat dalam jumlah amat besar, yang tiba di Aceh hanya sebagiannya saja, karena di tengah perjalanan, sebagian armada Turki dialihkan ke Yaman guna memadamkan pemberontakan yang berakhir pada 1571 M.6

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di Aceh, kehadiran armada Turki disambut meriah. Sultan Aceh menganugerahkan Laksamana Kurtoglu Hizir Reis sebagai gubernur (wali) Nanggroe Aceh Darussalam, utusan resmi Sultan Selim II yang ditempatkan di wilayah tersebut.7 Pasukan Turki tiba di Aceh secara bergelombang (1564-1577) berjumlah sekitar 500 orang, namun seluruhnya ahli dalam seni bela diri dan mempergunakan senjata, seperti senjata api, penembak jitu, dan mekanik. Dengan bantuan tentara Turki, Kesultanan Aceh menyerang Portugis di pusatnya, Malaka.8

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

“(Portugis) juga menguasai pelabuhan (Pasai) di pulau besar yang disebut Syamatirah (Sumatera)… Dikatakan, mereka mempunyai 200 orang kafir di sana (Pasai). Dengan 200 orang kafir, mereka juga menguasai pelabuan Malaka yang berhadapan dengan Sumatera…. Karena itu, ketika kapal-kapal kita sudah siap dan, Insya Allah, bergerak melawan mereka, maka kehancuran total mereka tidak akan terelakkan lagi, karena satu benteng tidak bisa menyokong yang lain, dan mereka tidak dapat membentuk perlawanan yang bersatu.”

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sultan Alaiddin Riayat Syah Al-Qahhar dilantik pada 1537 M dan bertekad untuk membebaskan pedalaman Sumatera dari kaum kafir. Dengan bantuan pasukan Turki, Arab, Malabar, dan Abesinia, Aceh masuk ke pedalaman Sumatera. Sekitar 160 mujahidin Turki dan 200 Mujahidin Malabar menjadi tulang punggung pasukan. Mendez Pinto, pengamat perang antara pasukan Aceh dengan Batak, melaporkan komandan pasukan seorang Turki bernama Hamid Khan, keponakan Pasya Utsmani dari Kairo. Sejarahwan Universitas Kebangsaan Malaysia, Lukman Thaib, memperkuat Pinto dan menyatakan ini merupakan bentuk nyata ukhuwah Islamiyah antar umat Islam yang memungkinkan bagi Turki melakukan serangan langsung terhadap tentara Salib di wilayah sekitar Aceh.10

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Intelektual Aceh Nurudin Ar-Raniri dalam kitab monumentalnya berjudul Bustanul Salathin meriwayatkan, Sultan Alaiddin Riayat Syah Al-Qahhar mengirim utusan ke Istanbul untuk menghadap “Sultan Rum”. Utusan ini bernama Huseyn Effendi yang fasih berbahasa Arab. Ia datang ke Turki setelah menunaikan ibadah haji.12 Pada Juni 1562 M, utusan Aceh tersebut tiba di Istanbul untuk meminta bantuan militer Utsmani guna menghalau Portugis. Di perjalanan, Huseyn Effendi sempat dihadang armada Portugis. Setelah berhasil lolos, ia pun sampai di Istanbul yang segera mengirimkan bala-bantuan yang diperlukan, guna mendukung Kesultanan Aceh membangkitkan izzahnya sehingga mampu membebaskan Aru dan Johor pada 1564 M.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam peperangan di laut, armada perang Kesultanan Aceh terdiri dari kapal perang kecil yang mampu bergerak dengan gesit dan juga kapal berukuran besar. Sejarahwan Court menulis, kapal-kapal ini sangat besar, berukuran 500 sampai 2000 ton. Kapal-kapal besar dari Turki yang dilengkapi meriam dan persenjataan lainnya dipergunakan Aceh untuk menyerang penjajah dari Eropa yang ingin merampok wilayah-wilayah Muslim di seluruh Nusantara. Aceh benar-benar tampil sebagai kekuatan maritim yang besar dan sangat ditakuti Portugis di Nusantara karena mendapat bantuan penuh dari armada perang Turki Utsmani dengan segenap peralatan perangnya.13

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M), di mana Kerajaan Aceh Darussalam mencapai masa kegemilangan, juga pernah mengirimkan satu armada kecil, terdiri dari tiga kapal, menuju Istanbul. Rombongan ini tiba di Istanbul setelah berlayar selama 12,5 tahun lewat Tanjung Harapan. Ketika misi ini kembali ke Aceh, mereka diberi bantuan sejumlah senjata, dua belas penasehat militer Turki, dan sepucuk surat yang merupakan sikap resmi Kekhalifahan Utsmaniyah yang menegaskan bahwa antara kedua Negara tersebut merupakan satu keluarga dalam Islam. Kedua belas pakar militer itu diterima dengan penuh hormat dan diberi penghargaan sebagai pahlawan Kerajaan Islam Aceh. Mereka tidak saja ahli dalam persenjataan, siasat, dan strategi militer, tetapi juga pandai dalam bidang konstruksi bangunan sehingga mereka bisa membantu Sultan Iskandar Muda dalam membangun benteng tangguh di Banda Aceh dan istana kesultanan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selain Aceh, sejumlah kesultanan di Nusantara juga telah bersekutu dengan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, seperti Kesultanan Buton, Sulawesi Selatan. Salah satu Sultan Buton, Lakilaponto, dilantik menjadi ‘sultan’ dengan gelar Qaim ad-Din yang memiliki arti “penegak agama”, yang dilantik langsung oleh Syekh Abdul Wahid dari Mekkah. Sejak itu, Sultan Lakiponto dikenal sebagai Sultan Marhum. Penggunaan gelar ‘sultan’ ini terjadi setelah diperoleh persetujuan dari Sultan Turki (ada juga yang menyebutkan dari penguasa Mekkah).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jika kita bisa menelusuri lebih dalam literatur klasik dari sumber-sumber Islam, maka janganlah kaget bila kita akan menemukan bahwa banyak sekali kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara ini sesungguhnya merupakan bagian dari kekhalifahan Islam di bawah Turki Utsmaniyah. Jadi bukan sekadar hubungan diplomatik seperti yang ada di zaman sekarang, namun hubungan diplomatik yang lebih didasari oleh kesamaan iman dan ukhuwah Islamiyah. Jika satu negara Islam diserang, maka negara Islam lainnya akan membantu tanpa pamrih, semata-mata karena kecintaan mereka pada saudara seimannya. Bukan tidak mungkin, konsep “Ukhuwah Islamiyah” inilah yang kemudian diadopsi oleh negara-negara Barat-Kristen (Christendom) di abad-20 ini dalam bentuk kerjasama militer (NATO, North Atlantic Treaty Organization), dan bentuk-bentuk

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Salah satu yang diatur adalah perayaan hari besar agama Islam. Di akhir bulan Sya’ban, misalnya, ketika shalat tarawih akan diadakan untuk pertama kalinya, maka di halaman Masjid Raya Baiturahman, raja memerintahkan agar dipasang meriam 21 kali pada pukul lima lebih sedikit. Tiap 1 Syawal, pukul lima pagi setelah sholat Subuh, juga dipasang meriam 21 kali sebagai tanda Hari Raya Idul Fitri. Hari Raya Haji pun demikian. Setiap hari besar Islam, kerajaan mengadakan acara yang semarak yang sering dikunjungi oleh tamu-tamu agung dari negeri lain.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebelum Nabi Muhammad wafat pada tanggal 8 Juni 632 M, seantero Jazirah Arab telah dapat ditaklukkan di bawah kekuasaan Islam. Usaha ekspansi ke luar jazirah Arab kemudian dimulai oleh khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar Shiddiq. Setelah melewati masa-masa sulit di awal pemerintahannya karena harus menumpas pemberontakan kaum murtad dan pembangkang zakat, Abu Bakar kemudian mulai mengirimkan kekuatan militer ke berbagai negeri di luar jazirah Arab. Khalid bin Walid yang dikenal dengan gelar Pedang Allah, dikirim ke Irak sehingga dapat menduduki Al-Hirah pada tahun 12 H yang waktu itu di bawah kekuasaan Imperium Persia. Sedangkan ke Palestina, Abu Bakar mengirimkan balatentara di bawah pimpinan Amr bin al-Ash. Sementara ke Syam, sang khalifah mengirimkan balatentara di bawah pimpinan tiga orang, yaitu Yazid bin Abi Sufyan, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan Syurahbil bin Hasanah. Karena mendapat perlawanan sengit pasukan Romawi yang menguasai wilayah itu, pasukan Islam pun kewalahan. Akhirnya untuk menambah kekuatan militer yang dipimpin ketiga jenderal itu, Khalid bin Walid yang telah berhasil menaklukkan Irak diperintahkan Abu Bakar untuk meninggalkan negara itu dan berangkat ke Syam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Setelah Khalid bin Walid berhasil menaklukkan Syam, ia kemudian bersama Yazid bin Abi Sufyan dan Syurahbil bin Hasanah berangkat menuju Palestina untuk membantu Amr bin al-Ash dalam menghadapi pasukan Romawi. Kedua pasukan pun akhirnya terlibat peperangan yang sengit di daerah Ajnadin. Karena itulah, peperangan ini dalam sejarah Islam dikenal dengan nama Perang Ajnadin. Meski kemenangan di pihak Islam, tapi banyak juga pasukan Islam yang gugur. Setelah Abu Bakar wafat pada tahun 13 H karena sakit, ekspansi tetap dilanjutkan oleh khalifah berikutnya, Umar bin Khattab. Pada era Umarlah gelombang ekspansi pertama pun dimulai. Wilayah demi wilayah di luar jazirah dapat ditaklukkan. Pada tahun 14 H, Abu Ubaidah bin al-Jarrah bersama Khalid bin Walid dengan pasukan mereka berhasil menaklukkan kota Damaskus dari tangan kekuasaan Bizantium. Selanjutnya, dengan menggunakan Suriah sebagai basis pangkalan militer, ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan Amr bin al-Ash. Sedangkan ke wilayah Irak, Umar bin Khattab mengutus Sa’ad bin Abi Waqqash untuk menjadi gubernur di sana.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada tahun 640 M, Babilonia juga dikepung oleh balatentara Islam. Sedangkan pasukan Bizantium yang menduduki Heliopolis mampu dikalahkan sehingga Alexandria dikuasai oleh pasukan Islam pada tahun 641 M. Tak pelak, Mesir pun jatuh ke tangan imperium Islam. Amr bin al-Ash yang menjadi komandan perang Islam lantas menjadikan tempat perkemahannya yang terletak di luar tembok Babilon sebagai ibukota dengan nama Al-Fustat. Di masa gelombang ekspansi pertama ini, Al-Qadisiyah, sebuah kota yang terletak dekat Al-Hirah di Irak, dapat dikuasai oleh imperium Islam pada tahun 15 H. Dari kota itulah, ekspansi Islam berlanjut ke Al-Madain (Ctesiphon), ibukota Persia hingga dapat dikuasai. Karena Al-Madain telah jatuh direbut pasukan Islam, Raja Sasan Yazdagrid III akhirnya menyelamatkan diri ke sebelah Utara. Selanjutnya pada tahun 20 H, kota Mosul yang notabene masih dalam wilayah Irak juga dapat diduduki.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Gelombang ekspansi pertama di era Umar bin Khattab menjadikan Islam sebagai sebuah imperium yang tidak hanya menguasai jazirah Arab, tapi juga Palestina, Suriah, Irak, Persia, dan Mesir. Saat pemerintahan Umar bin Khattab berakhir karena ia wafat terbunuh pada tahun 23 H, Usman bin Affan sebagai khalifah ketiga tetap meneruskan kebijakan penaklukan ke berbagai wilayah di luar jazirah Arab. Meski pada zaman Umar bin Khattab telah dikirim balatentara ke Azerbaijan dan Armenia, pada era Usman bin Affan lah, yaitu pada tahun 23 H, kedua wilayah baru berhasil dikuasai saat ekspansi dipimpin oleh al-Walid bin Uqbah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ketika Usman bin Affan menghadapi turbulensi politik di dalam negeri hingga akhirnya ia mati terbunuh pada tahun 35 H, Ali bin Abi Thalib pun naik ke tampuk kekuasaan sebagai khalifah keempat. Sayang suhu politik di pusat kekuasaan Islam semakin tinggi sehingga terjadi beberapa pemberontakan seperti yang dipimpin oleh Aisyah dalam Perang Jamal pada tahun 36 H. Tak ayal, Ali bin Thalib mau tak mau harus menumpas pemberontakan tersebut. Pada gilirannya, hal itu menguras kekuatan militer Islam sehingga akhirnya gelombang pertama ekspansi Islam ke luar jazirah Arab pun berhenti.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Mu’awiyah mengutus Uqbah bin Nafi untuk mengadakan ekspansi Islam ke wilayah Afrika Utara hingga berhasil merebut Tunis. Di sanalah pada tahun 50 H, Uqbah mendirikan kota baru bernama Qairawan yang selanjutnya terkenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Islam. Tidak cukup sampai di situ, Mu’awiyah juga berhasil mengadakan perluasan wilayah Islam dari Khurasan sampai Sungai Oxus dan Afghanistan sampai ke Kabul. Angkatan laut Muawiyah juga dengan gagah berani menyerang Konstantinopel, ibu kota Bizantium.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bersama balatentaranya, al-Ghafiqi menyerang kota-kota seperti Bordeux dan Poitiers. Dari kota Poiters, al-Ghafiqi berangkat untuk menyerang kota Tours. Tetapi dalam perjalanan itu antara kedua kota itu, ia bisa ditahan oleh Charles Martel. Ekspansi ke Perancis pun gagal. Al-Ghafiqi bersama pasukannya akhirnya mundur kembali ke Spanyol. Meski sempat gagal karena ditahan Charles Martel, pasukan Islam tetap berupaya menyerang beberapa wilayah di Perancis, seperti Avignon dan Lyon pada tahun 743 M.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kemajuan juga terjadi pada bidang sastra bahasa dan seni musik. Pada masa inilah lahir seorang sastrawan dan budayawan terkenal, seperti Abu Nawas, Abu Athahiyah, Al Mutanabby, Abdullah bin Muqaffa dan lain-lainnya. Karya buah pikiran mereka masih dapat dibaca hingga kini, seperti kitab Kalilah wa Dimna dan lain sebagainya. Sementara tokoh terkenal dalam bidang musik yang kini karyanya juga masih dipakai adalah Yunus bin Sulaiman, Khalil bin Ahmad, pencipta teori musik Islam, Al farabi dan lain-lainnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di antara perbedaan karakteristik yang sangat mancolok antara pemerintahan Dinasti Umayyah dengan Dinasti Abbasiyah, terletak pada orientasi kebijakan yang dikeluarkannya. Pemerintahan Dinasti Umayyah orientasi kebijakan yang dikeluarkannya selalu pada upaya perluasan wilayah kekuasaan. Sementara pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah, lebih menfokuskan diri pada upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, sehingga masa pemerintahan ini dikenal sebagai masa keemasan peradaban Islam. Meskipun begitu, usaha untuk mempertahankan wilayah kekuasaan tetap merupakan hal penting yang harus dilakukan. Untuk itu, pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah memperbaharui sistem politik pemerintahan dan tatanan kemiliteran. Agar semua kebijakan militer terkoordinasi dan berjalan dengan baik, maka pemerintah Dinasti Abbasiyah membentuk departemen pertahanan dan keamanan, yang disebut Diwanul Jundi. Departemen inilah yamg mengatur semua yang berkaitan dengan kemiliteran dan pertahanan keamanan. Pembentukan lembaga ini didasari atas kenyataan politik militer bahwa pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, banyak terjadi pemberontakan dan bahkan beberapa wilayah berusaha memisahkan diri dari pemerintahan Dinasti Abbasiyah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Keberahasilan umat Islam pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan sains dan peradaban Islam secara menyeluruh, tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung. Di antaranya adalah kebijakan politik pemerintah Bani Abbasiyah terhadap masyarakat non Arab (Mawali), yang memiliki tradisi intelektual dan budaya riset yang sudah lama melingkupi kehidupan mereka. Mereka diberikan fasilitas berupa materi atau finansial dan tempat untuk terus melakukan berbagai kajian ilmu pengetahuan malalui bahan-bahan rujukan yang pernah ditulis atau dikaji oleh masyarakat sebelumnya. Kebijakan tersebut ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang membawa harum dinasti ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang berlangsung lebih kurang lima abad (750-1258 M), dicatat sebagai masa-masa kejayaan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam ini, khususnya kemajuan dalam bidang ilmu agama, tidak lepas dari peran serta para ulama dan pemerintah yang memberi dukungan kuat, baik dukungan moral, material dan finansial, kepada para ulama. Perhatian yang serius dari pemerintah ini membuat para ulama yang ingin mengembangkan ilmu ini mendapat motivasi yang kuat, sehingga mereka berusaha keras untuk mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan dan perdaban Islam. Diantara ilmu pengetahuan agama Islam yang berkembang dan maju adalah ilmu hadist, ilmu tafsir, ilmu fiqih dan tasawuf.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebelum daulah Bani Abbasiyah berdiri, terdapat 3 tempat yang menjadi pusat kegiatan kelompok Bani Abbas, antara satu dengan yang lain mempunyai kedudukan tersendiri dalam memainkan peranannya untuk menegakkan kekuasaan keluarga besar paman Nabi SAW yaitu Abbas Abdul Mutholib (dari namanya Dinasti itu disandarkan). Tiga tempat itu adalah Humaimah, Kufah dan Khurasan. Humaimah merupakan kota kecil tempat keluarga Bani Hasyim bermukim, baik dari kalangan pendukung Ali maupun pendukung keluarga Abbas. Humaimah terletak berdekatan dengan Damsyik. Kufah merupakan kota yang penduduknya menganut aliran Syi‘ah pendukung Ali bin Abi Tholib. Ia bermusuhan secara terang-terangan dengan golongan Bani Umayyah. Demikian pula dengan Khurasan, kota yang penduduknya mendukung Bani Hasyim. Ia mempunyai warga yang bertemperamen pemberani, kuat fisiknya, tegap tinggi, teguh pendirian tidak mudah terpengaruh nafsu dan tidak mudah bingung dengan kepercayaan yang menyimpang. Disinilah diharapkan dakwah kaum Abbassiyah mendapatkan dukungan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di bawah pimpinan Muhammad bin Ali al-Abbasy, gerakan Bani Abbas dilakukan dalam dua fase yaitu : 1) fase sangat rahasia; dan 2) fase terang-terangan dan pertempuran (Hasjmy, 1993:211). Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat rahasia. Propaganda dikirim keseluruh pelosok negara, dan mendapat pengikut yang banyak, terutama dari golongan yang merasa tertindas, bahkan juga dari golongan yang pada mulanya mendukung Bani Umayyah. Setelah Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim, maka seorang pemuda Persia yang gagah berani dan cerdas bernama Abu Muslim al-Khusarany, bergabung dalam gerakan rahasia ini. Semenjak itu dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan, kemudian cara pertempuran. Akhirnya bulan Zulhijjah 132 H Marwan, Khalifah Bani Umayyah terakhir terbunuh di Fusthath, Mesir. Kemudian Daulah bani Abbasiyah resmi berdiri.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada zaman Abbasiyah konsep kekhalifahan berkembang sebagai sistem politik. Menurut pandangan para pemimpin Bani Abbasiyah, kedaulatan yang ada pada pemerintahan (Khalifah) adalah berasal dari Allah, bukan dari rakyat sebagaimana diaplikasikan oleh Abu Bakar dan Umar pada zaman khalifahurrasyidin. Hal ini dapat dilihat dengan perkataan Khalifah Al-Mansur “Saya adalah sultan Tuhan diatas buminya“. Pada zaman Dinasti Abbasiyah, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya. Sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Bani Abbasiyah I antara lain:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Selanjutnya periode II, III, IV, kekuasaan Politik Abbasiyah sudah mengalami penurunan, terutama kekuasaan politik sentral. Hal ini dikarenakan negara-negara bagian (kerajaan-kerajaan kecil) sudah tidak menghiraukan pemerintah pusat, kecuali pengakuan politik saja. Panglima di daerah sudah berkuasa di daerahnya, dan mereka telah mendirikan atau membentuk pemerintahan sendiri misalnya saja munculnya Daulah-Daulah kecil, contoh; Daulah Bani Umayyah di Andalusia atau Spanyol, Daulah Fatimiyah. Pada masa awal berdirinya Daulah Abbasiyah ada 2 tindakan yang dilakukan oleh para Khalifah Daulah Bani Abbasiyah untuk mengamankan dan mempertahankan dari kemungkinan adanya gangguan atau timbulnya pemberontakan yaitu: pertama, tindakan keras terhadap Bani Umayah. dan kedua pengutamaan orang-orang turunan persi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Bani Abbasiyah pada waktu itu dibantu oleh seorang Wazir (perdana mentri) atau yang jabatanya disebut dengan Wizaraat. Sedangkan wizaraat itu dibagi lagi menjadi 2 yaitu: 1) Wizaraat Tanfiz (sistem pemerintahan presidentil ) yaitu wazir hanya sebagai pembantu Khalifah dan bekerja atas nama Khalifah. 2) Wizaaratut Tafwidl (parlemen kabimet). Wazirnya berkuasa penuh untuk memimpin pemerintahan. Sedangkan Khalifah sebagai lambang saja. Pada kasus lainnya fungsi Khalifah sebagai pengukuh Dinasti-Dinasti lokal sebagai gubernurnya Khalifah (Lapidus,1999:180). Selain itu, untuk membantu Khalifah dalam menjalankan tata usaha negara diadakan sebuah dewan yang bernama Diwanul Kitaabah (sekretariat negara) yang dipimpin oleh seorang Raisul Kuttab (sekretaris negara). Dan dalam menjalankan pemerintahan negara, wazir dibantu beberapa raisul diwan (menteri departemen-departemen). Tata usaha negara bersifat sentralistik yang dinamakan An-Nidhamul Idary Al-Markazy. Selain itu, dalam zaman Daulah Abbassiyah juga didirikan angkatan perang, amirul umara, baitul maal, organisasi kehakiman., Selama Dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri Dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750 M sampai 754 M. Karena itu, pembina sebenarnya dari Daulah Abbasiyah adalah Abu Ja’far al-Mansur (754–775 M). Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, yaitu Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762M. Dengan demikian, pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah berada ditengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al-Mansur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat wazir sebagai koordinator departemen. Jabatan wazir yang menggabungkan sebagian fungsi perdana menteri dengan menteri dalam negeri itu selama lebih dari 50 tahun berada di tangan keluarga terpandang berasal dari Balkh, Persia (Iran). Wazir yang pertama adalah Khalid bin Barmak, kemudian digantikan oleh anaknya, Yahya bin Khalid. Yang terakhir ini kemudian mengangkat anaknya, Ja’far bin Yahya, menjadi wazir muda. Sedangkan anaknya yang lain, Fadl bin Yahya, menjadi Gubernur Persia Barat dan kemudian Khurasan. Pada masa tersebut persoalan-persoalan administrasi negara lebih banyak ditangani keluarga Persia itu. Masuknya keluaraga non Arab ini ke dalam pemerintahan merupakan unsur pembeda antara Daulah Abbasiyah dan Daulah Umayyah yang berorientasi ke Arab.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Khalifah al-Mansur juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara di samping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abd al-Rahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa Dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar untuk mengantar surat, pada masa al-Mansur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku Gubernur setempat kepada Khalifah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Khalifah al-Mansur juga berusaha menaklukan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintahan pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama genjatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Pada masa al-Mansur pengertian Khalifah kembali berubah. Konsep khilafah dalam pandangannya – dan berlanjut ke generasi sesudahnya – merupakan mandat dari Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekedar pelanjut nabi sebagaimana pada masa al Khulafa’ al-Rasyidin. Popularitas Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman Khalifah Harun al Rasyid (786-809 M) dan putranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan dokter dan farmasi didirikan. Tingkat kemakmuran paling tinggi terwujud pada zaman Khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi (Yatim, 2003:52-53).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Al-Makmun, pengganti al-Rasyid dikenal sebagai Khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Ia juga mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa al-Makmun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Al-Muktasim, Khalifah berikutnya (833-842 M) memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan. Demikian ini di latar belakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa al-Ma’mun dan sebelumnya. Keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah, Dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang-orang Muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. Dengan demikian, kekuatan militer Dinasti Bani Abbasiyah menjadi sangat kuat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam periode ini, sebenarnya banyak gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Dinasti Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas dan lain-lain semuanya dapat dipadamkan. Dalam kondisi seperti itu para Khalifah mempunyai prinsip kuat sebagai pusat politik dan agama sekaligus. Apabila tidak, seperti pada periode sesudahnya, stabilitas tidak lagi dapat dikontrol, bahkan para Khalifah sendiri berada dibawah pengaruh kekuasaan yang lain.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Kehidupan mewah para Khalifah ini ditiru oleh para hartawan dan anak-anak pejabat. Demikian ini menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin. Kondisi ini memberi peluang kepada tentara profesional asal Turki yang semula diangkat oleh Khalifah al-Mu’tasim untuk mengambil alih kendali pemerintahan. Usaha mereka berhasil, sehingga kekuasaan sesungguhnya berada di tangan mereka, sementara kekuasaan Bani Abbas di dalam Khilafah Abbasiyah yang didirikannya mulai pudar, dan ini merupakan awal dari keruntuhan Dinasti ini, meskipun setelah itu usianya masih dapat bertahan lebih dari empat ratus tahun.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Khalifah Mutawakkil (847-861 M) yang merupakan awal dari periode ini adalah seorang Khalifah yang lemah. Pada masa pemerintahannya orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat. Setelah Khalifah al-Mutawakkil wafat, merekalah yang memilih dan mengangkat Khalifah. Dengan demikian kekuasaan tidak lagi berada di tangan Bani Abbas, meskipun mereka tetap memegang jabatan Khalifah. Sebenarnya ada usaha untuk melepaskan diri dari para perwira Turki itu, tetapi selalu gagal. Dari dua belas Khalifah pada periode kedua ini, hanya empat orang yang wafat dengan wajar, selebihnya kalau bukan dibunuh, mereka diturunkan dari tahtanya dengan paksa. Wibawa Khalifah merosot tajam. Setelah tentara Turki lemah dengan sendirinya, di daerah-daerah muncul tokoh-tokoh kuat yang kemudian memerdekakan diri dari kekuasaan pusat, mendirikan Dinasti-Dinasti kecil. Inilah permulaan masa disintregasi dalam sejarah politik Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada periode ini, Daulah Abbasiyah berada di bawah kekuasaan Bani Buwaih. Keadaan Khalifah lebih buruk dari sebelumnya, terutama karena Bani Buwaih adalah penganut aliran Syi’ah. Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Bani Buwaih membagi kekuasaannya kepada tiga bersaudara : Ali untuk wilayah bagian selatan negeri Persia, Hasan untuk wilayah bagian utara, dan Ahmad untuk wilayah Al- Ahwaz, Wasit dan Baghdad. Dengan demikian Baghdad pada periode ini tidak lagi merupakan pusat pemerintahn Islam karena telah pindah ke Syiraz di masa berkuasa Ali bin Buwaih yang memiliki kekuasaan Bani Buwaih. Meskipun demikian, dalam bidang ilmu pengetahuan Daulah Abbasiyah terus mengalami kemajuan pada periode ini. Pada masa inilah muncul pemikir-pemikir besar seperti al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Ibnu Maskawaih, dan kelompok studi Ikhwan as-Safa. Bidang ekonomi, pertanian, dan perdagangan juga mengalami kemajuan. Kemajuan ini juga diikuti dengan pembangunan masjid dan rumah sakit. Pada masa Bani Buwaih berkuasa di Baghdad, telah terjadi beberapa kali kerusuhan aliran antara Ahlussunnah dan Syi’ah, pemberontakan tentara dan sebagainya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Nizam al-Mulk, perdana menteri pada masa Alp Arselan dan Malikhsyah, mendirikan Madrasah Nizamiyah (1067 M) dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad. Cabang-cabang Madrasah Nizamiyah didirikan hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan. Madrasah ini menjadi model bagi perguruan tinggi dikemudian hari. Dari madrasah ini telah lahir banyak cendekiawan dalam berbagai disiplin ilmu. Di antara para cendekiawan Islam yang dilahirkan dan berkembang pada periode ini adalah Al-Zamakhsari, penulis dalam bidang Tafsir dan Ushul al-Din (teologi), Al-Qusyairi dalam bidang tafsir, Al-Ghazali dalam bidang ilmu kalam dan tasawwuf, dan Umar Khayyam dalam bidang ilmu perbintangan. Dalam bidang politik, pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa propinsi dengan seorang Gubernur untuk mengepalai masing-masing propinsi tersebut. Pada masa pusat kekuasaan melemah, masing-masing propinsi tersebut memerdekakan diri. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri, dan sedikit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali, terutama untuk negeri Irak. Kekuasaan mereka tersebut berakhir di Irak di tangan Khawarizm Syah pada tahun 590 H/ 1199 M.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Disamping itu, zaman pemerintahan Abbasiyah awal itu juga melahirkan Ilmu Tafsir al-Quran dan pemisahnya dari Ilmu Hadits. Sebelumnya, belum terdapat penafsiran seluruh al-Quran, yang ada hanyalah Tafsir bagi sebagian ayat dari berbagai surah, yang dibuat untuk tujuan tertentu (Syalaby, 1997:187). Dalam negara Islam di masa Bani Abbassiyah berkembang corak kebudayaan, yang berasal dari beberapa bangsa. Apa yang terjadi dalam unsur bangsa, terjadi pula dalam unsur kebudayaan. Dalam masa sekarang ini berkembang empat unsur kebudayaan yang mempengaruhi kehidupan akal/rasio yaitu Kebudayaan Persia, Kebudayaan Yunani, Kebudayaan Hindi dan Kebudayaan Arab dan berkembangnya ilmu pengetahuan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. Selanjutnya digantikan oleh Abu Ja’far al-Manshur (754-775 M), yang keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah. Untuk memperkuat kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir dibunuh karena tidak bersedia membaiatnya, al-Manshur memerintahkan Abu Muslim al-Khurasani melakukannya, dan kemudian menghukum mati Abu Muslim al-Khurasani pada tahun 755 M, karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator dari kementrian yang ada, Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara di samping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekadar untuk mengantar surat. Pada masa al-Manshur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosphorus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama gencatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oxus, dan India.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Ar-Rasyid Rahimahullah (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Al-Ma’mun, pengganti Harun Ar-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah). Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Al-Mu’tasim, khalifah berikutnya (833-842 M), memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah, dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat. Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan Zindiq di Persia, gerakan Syi’ah, dan konflik antarbangsa dan aliran pemikiran keagamaan, semuanya dapat dipadamkan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis, dan berdiskusi. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Di samping itu, kemajuan itu paling tidak, juga ditentukan oleh dua hal, yaitu:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

1. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia, sebagaimana sudah disebutkan, sangat kuat di bidang pemerintahan. Di samping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat, dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

2. Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma’mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut, terutama melalui gerakan terjemahan, bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum, tetapi juga ilmu pengetahuan agama. Dalam bidang tafsir, sejak awal sudah dikenal dua metode, penafsiran pertama, tafsir bi al-ma’tsur, yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat. Kedua, tafsir bi al-ra’yi, yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra’yi, (tafsir rasional), sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat memengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Imam-imam madzhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Imam Abu Hanifah Rahimahullah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah, kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Karena itu, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf, menjadi Qadhi al-Qudhat di zaman Harun Ar-Rasyid. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah, Imam Malik Rahimahullah (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi’i Rahimahullah (767-820 M), dan Imam Ahmad ibn Hanbal Rahimahullah (780-855 M) yang mengembalikan sistem madzhab dan pendapat akal semata kepada hadits Nabi serta memerintahkan para muridnya untuk berpegang kepada hadits Nabi serta pemahaman para sahabat Nabi. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga dan memurnikan ajaran Islam dari kebudayaan serta adat istiadat orang-orang non-Arab. Di samping empat pendiri madzhab besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak para mujtahid lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan madzhab-nya pula. Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang, pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Aliran-aliran sesat yang sudah ada pada masa Bani Umayyah, seperti Khawarij, Murji’ah dan Mu’tazilah pun ada. Akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas. Teologi rasional Mu’tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani Umayyah. Namun, pemikiran-pemikirannya yang lebih kompleks dan sempurna baru mereka rumuskan pada masa pemerintahan Bani Abbas periode pertama, setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran filsafat dan rasionalisme dalam Islam. Tokoh perumus pemikiran Mu’tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf (135-235 H/752-849M) dan al-Nazzam (185-221 H/801-835M). Asy’ariyah, aliran tradisional di bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari (873-935 M) yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali terpengaruh oleh logika Yunani. Ini terjadi, karena Al-Asy’ari sebelumnya adalah pengikut Mu’tazilah. Hal yang sama berlaku pula dalam bidang sastra. Penulisan hadits, juga berkembang pesat pada masa Bani Abbas. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh tersedianya fasilitas dan transportasi, sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. Al-Farghani, yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus, menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama ar-Razi dan Ibnu Sina. Ar-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. Ibnu Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Di antara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsami, yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen, terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya bendalah yang mengirim cahaya ke mata. Di bidang kimia, terkenal nama Jabir ibn Hayyan. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Di bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, yang juga mahir dalam bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. Kata aljabar berasal dari judul bukunya, al-Jabr wa al-Muqoibalah. Dalam bidang sejarah terkenal nama al-Mas’udi. Dia juga ahli dalam ilmu geografi. Di antara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma’aadzin al-Jawahir.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat, antara lain al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat, yang terkenal di antaranya ialah asy-Syifa’. Ibnu Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga di sana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme. Pada masa kekhalifahan ini, dunia Islam mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. Salah satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang pengetahuan, sastra, dan filosofi dari Yunani, Persia, dan Hindustan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Banyak golongan pemikir lahir zaman ini, banyak di antara mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim. Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu, dan ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa. Tambahan pula, pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi, matematika, dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy. Ilmu-ilmu ini kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan sebagainya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sistem pemerintahan yang diterapkan bani Abbasiyah masih sama dengan pendahulunya, bani Umayyah dengan sistem kekuasaan absolutisme. Mereka mengangkat dan mengumumkan seorang atau dua orang putra mahkota atau saudaranya sendiri untuk terus mempertahankan kepemerintahan. Kebijakan menerapakan sistem seperti ini tentu saja menimbulkan kecemburuan dan kebencian diantara sesama keluarga. Sebagai contoh, tatkala al-Manshur naik tahta, dia mengumumkan Mahdi sebagai putra mahkota pertama dan menunjuk Isa ibn Musa, kemenakannya sebagai putra mahkota kedua. Saat itu juga al-Manshur mengasingkan Isa sama sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah pertama al-Shaffah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Popularitas daulah bani Abbasiyah mencapai puncak peradaban dan kemakmurannya di zaman Harun al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak, dimanfaatkan Harun untuk keperluan sosial. Istana-istana besar, rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter dan farmasi didirikan. Bahkan menurut sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa sebenarnya Harun ingin menggabungkan laut tengah dengan laut merah. Namun Yahya ibn Khalid (dari keluarga barmak) tidak menyetujui gagsan itu. Pada masa al-Ma’mun menjadi khalifah, ia banyak mendirikan sekolah-sekolah. Salah satu karya terbesarnya adalah pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang sangat besar.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Baghdad, kota kuno yang didirikan oleh orang-orang Persia, merupakan tempat perdagangan yang kerap kali dikunjungi oleh pedagang dari India dan Cina. Para Insinyur, tukang batu, dan para pekerja tangan didatangkan dari Syiria, Bashra, Kufa untuk membantu didalam memperindah kota. Bahkan di daerah pinggir kota ini sudah terbagi menjadi empat bagian pemukiman yang masing-masing mempunyai seorang pemimpin yang dipercaya untuk mendirikan pasar di pemukimannya. Demikianlah di zaman Abbasiyah pertama. Baghdad menjadi kota terpenting di dunia sebagai sentral perdagangan, ilmu pengetahuan dan kesenian. Masjid-masjid dan bangunan-bangunan lain semakin bertambah banyak dan menjadi hal menarik dalam kesenian muslim.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dari ketiga dinasti di atas, Dinasti Utsmani adalah yang pertama berdiri sekaligus yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua dinasti lainnya. Perjalanan panjang dan berliku selama 643 tahun kerajaan Turki Utsmani telah menampilkan 39 orang Sultan dengan model kepemimpinan yang berbeda-beda. Tetapi seperti Dinasti lainnya, hukum sejarah juga berlaku, bahwa masa pertumbuhan yang diiringi dengan masa perkembangan dan masa gemilang biasanya berakhir dengan masa kemunduran atau bahkan kehancuran.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Nama kerajaan Utsmaniyah itu diambil dari dan dibangsakan kepada nenek moyang mereka yang pertama yaitu Sultan Utsman bin Erthoghrul yang diperkirakan lahir tahun 1258. Ketika bangsa Mongol menyerang Kerajaan Saljuk, yang mengakibatkan meninggalnya Sultan Alaudin. Setelah meninggalnya Sultan Alaudin, Utsman memproklamarkan dirinya sebagai Sultan di wilayah yang didudukinya. Utsman bin Erthoghrul sering disebut Utsman I. Utsman Ibnu Erthoghrul memerintah dari tahun 1290-1326 M Utsman I memilih Bursa sebagai pusat dan ibukota kerajaan yang sebelumnya berpusat di Qurah Hisyar atau Iskisyihar.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Untuk memperluas wilayah dan kekuasaan, Utsman mengirim surat kepada raja-raja kecil di Asia Tengah yang belum ditaklukkan bahwa sekarang dia raja yang besar dan memberi penawaran agar raja-raja kecil itu memilih salah satu diantara tiga perkara, yakni; Islam, membayar Jizyah dan diperangi. Setelah menerima surat itu, sebagian ada yang masuk Islam ada juga yang mau membayar Jizyah dan ada juga yang memilih menentang dan bersekutu dengan Bangsa Tartar, akan tetapi Utsman tidak merasa gentar dan takut menghadapinya. Utsman dan anaknya Orkhan memimpin tentaranya dalam menghadapi bangsa Tartar, setelah mereka dapat ditaklukkan banyak dari penduduknya yang memeluk agama Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ekspansi Bayazid I sempat berhenti karena adanya tekanan dan serangan dari pasukan Timur Lenk ke Asia kecil, seorang raja keturunan bangsa Mongol yang telah memeluk agama Islam yang berpusat di Samarkand. Ia bermaksud menaklukkan negeri-negeri barat seperti yang dilakukan oleh nenek moyangnya. Akhirnya perang yang menentukan terjadi di Ankara. Bayazid bersama anaknya, Musa dan Erthogol dikalahkan oleh Timur Lenk. Bayazid mati dalam tawanan Timur tahun 1402. Kekalahan ini membawa dampak yang sangat buruk bagi Dinasti Utsmani yaitu banyaknya penguasa-penguasa Seljuk di Asia kecil yang melepaskan diri. Tetapi Setelah Muhammad I naik tahta dan memimpin wilayah Utsmani dapat disatukan kembali.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perekonomian kesultanan juga mengalami kemajuan berkat kontrol wilayah jalur perdagangan antara Eropa dan Asia. Bahkan mereka dikenal sebagai bangsa yang penuh semangat, memiliki kekuatan yang besar dan menghuni tempat yang strategis. Setelah Bayazid II mengundurkan diri karena lebih cendurung berdamai dengan musuh dan terlalu mementingkan kehidupan tasawuf dan juga tidak disukai oleh masyarakat maka ia pun digantikan oleh putranya Sultan Salim I yang mempunyai kecakapan dalam memerintah dan seorang ahli strategi perang. Lalu Sultan Salim I menggerakkan pasukannya ke Timur sehingga berhasil menaklukkan Persia, Syiria.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada awalnya kerajaan Turki Utsmani hanya memiliki wilayah yang sangat kecil, namun dengan adanya dukungan militer, Kerajaan yang besar bisa bertahan dalam kurun waktu yang lama. Masa pemerintahan Sulaiman (Al-Qanuni) bin Salim puncak perluasan dan kebesarannya. Dia menguasai Beograd, kepulauan Rodhesia, semenanjung Krym dan Ibukotanya Valachie, menerobos Eropa, hingga sampai Wina ibukota Austria. Dia melakukan pengepungan dua kali, menaklukkan Hungaria, membunuh orang-orang Portugis di pesisir India, dan mengalahkannya pada tahun 934 H. Bahkan beliau menaklukkan menaklukkan Mesir, Afrika Utara hingga ke Al-Jazair, di Asia hingga ke Persia yang meliputi Lautian Hindia, Laut Arab, Laut Merah, Laut Tengah, Laut Hitam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada masa Sulaiman (Al-Qanuni) bin Salim adalah puncak keemasan dan kejayaan kerajaan Turki Utsmani. Ia digelari Al-Qanuni karena jasanya dalam mengkaji dan menyusun kembali sistem undang-undang kesultanan Turki Utsmani dan perlaksanaannya secara teratur dan tanpa kompromi menurut keadaan masyarakat Islam Turki Utsmani yang saat itu mempunyai latar belakang dan sosial-budaya yang berbeda. Pergaulan antar bangsa menimbulkan berbagai konflik kecil dan ini bisa mengganggu keselamatan umat Islam walaupun satu agama. Hal ini menyebabkan Sulaiman I menyusun dan mengkaji budaya masyarakat Islam Turki Utsmani yang berasal dari Eropa, Persia, Afrika dan Asia Tengah untuk disesuaikan dengan undang-undang Syariah Islamiyah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sulaiman bukan hanya Sultan yang paling terkenal dari kalangan Sultan-Sultan Turki Utsmani, akan tetapi pada awal abad ke 16 ia adalah kepala negara yang paling terkenal di seluruh dunia. Ia seorang Sultan yang shaleh, ia mewajibkan rakyat muslim harus shalat lima kali dan berpuasa di bulan ramadhan, jika ada yang melanggar tidak hanya dikenai denda namun juga sanksi badan. Sulaiman juga berhasil menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Turki, pada saat Eropa terjadi pertentangan antara Katholik kepada Khalifah Sulaiman, mereka diberi kebebasan dalam memilih agama dan diberikan tempat di Turki Utsmani.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada akhir kekuasaan Sulaiman I kerajaan Utsmani berada diantara dua kekuatan yaitu Monarki Austria di Eropa dan Kerajaan Safawi di Asia. Sepeninggal Sulaiman tahun 1566, beberapa daerah kekuasaan kesultanan mulai melepaskan diri termasuk juga kebangkitan kerajaan-kerajaan Eropa di Barat dan dengan ditemukannya jalur alternatif Eropa ke Asia melemahkan perekonomian Kesultanan Utsmaniyah. Melemahnya kerajaan Utsmani pada periode awal sebagaian besar disebabkan oleh persoalan internal atau domestik.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Disamping Efektifitas militer, struktur birokrasi dan sistem pemerintah serta warisan berabad-abad juga menjadi penyebab kelemahan pemerintahan. Di tengah kemundurannya, Turki Utsmani masih sempat melebarkan sayap kekuasaannya. Upaya yang dilakukan semasa pemerintahan Murad III (1574-1595) berhasil membuat daerah Kaukasus dan Azerbaijan direbut. Dengan kedua daerah penaklukan baru ini, Turki Utsmani mencapai luas bentangan geografis yang terbesar sepanjang sejarahnya. Walau bagaimanapun, kemunduran Turki sudah tak bisa dibendung lagi. Keberhasilan merebut Kaukasus dan Azerbaijan hanya berumur pendek. Kedua daerah kekuasaan baru tersebut kembali lepas tahun 1603.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Walaupun begitu, kesultanan ini tetap menjadi kekuatan ekspansi yang besar sampai kejadian Pertempuran Wina tahun 1683 yang menandakan berakhirnya usaha ekspansi Kesultanan Utsmaniyah ke Eropa. Setelah perang ini Turki harus rela kehilangan sebagian besar daerah Balkan dan Laut Hitam akibat perang berkepanjangan. Selama abad ke 18 M tanda-tanda kemunduran daulah Utsmaniyah semakin nampak jelas kelihatan, mulai dari politik, masa transisi penaklukan dan perdamaian yang dimanfaatkan oleh kekuatan asing terutama oleh Austria dan Rusia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kelemahan Militer Turki semakin nyata kelihatan ketika terjadi konflik dengan Rusia yang telah dimulai sejak 1768 M. Sistem administrasi Utsmani stagnan selama beberapa periode, yang menyebabkan hilangnya pengaruh otoritas pemerintahan pusat. Pada abad ke 19 M telah muncul banyak gerakan pembaharuan yang kurang lebih merupakan aplikasi tanzimat. Tanzimat berasal dari bahasa Arab yang mengadung arti mengatur, menyusun dan memperbaiki, dan di zaman itu memang banyak diadakan peraturan undang-undang baru. Salah satu pemukanya adalah Mustafa Sami yang menurut pendapatnya kemajuan Eropa dihasilkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, atau toleransi beragama dan kemampuan orang Eropa melepaskan diri dari ikatan-ikatan agama.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sikap otoriter yang dipakai Sultan dan Menteri-menterinya dalam melaksanakan tanzimat mendapat kritik keras. Kehancuran imperium Utsmani merupakan transisi yang lebih kompleks dari masyarakat Islam-imperial abad 18 M menjadi negara-negara nasional modern. Rezim Utsmani menguasai wilayah yang sangat luas, meliputi Balkan, Turki, Timur Tengah Arab, Mesir, dan Afrika Utara. Puncak kemunduran Turki Utsmani terjadi pada 1850-1922. Demikian lemahnya Turki hingga digambarkan sebagai “Orang sakit dari Eropa”.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Turki terlibat Perang Dunia I, untuk bergabung bersama Jerman-sebuah pilihan yang salah dan keliru yang mengakibatkan pada kekalahan dan keterpurukan yang lebih dalam. Di dalam negeri, kekalahan tersebut membangkitkan gerakan nasionalis Turki yang telah muak dengan kemerosotan moral yang dialami oleh pemimpin mereka. Dipelopori oleh Turki muda yang tampil setelah undang-undang Utsmaniyah yang tadinya berlandaskan syuro menjadi model kekuasaan mutlak. Kemudian Musthofa Kamal menggabungkan diri ke dalam organisasi ini dan menuntut kembali pengembalian undang-undang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Rentang sejarah antara tahun 923-1342 H dari sejarah Islam merupakan masa Utsmaniyah. Hal ini karena kekuasaan Utsmaniyah merupakan periode terpanjang dari halaman sejarah Islam. Selama 6 abad pemerintah Utsmaniyah telah memainkan peran yang sangat penting karena sebagai satu-satunya yang menjaga dan melindungi kaum muslimin. Merupakan pusat Khilafah Islamiyah, karena merupakan pemerintah Islam terkuat. Kemajuan dan perkembangan wilayah kerajaan Utsmani yang luas berlangsung dengan cepat dan diikuti oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan lain yang penting, diantaranya :

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perang dengan Bizantium merupakan awal didirikannya pusat pendidikan dan pelatihan militer, sehingga terbentuklah kesatuan militer yang disebut dengan Jenissari atau Inkisyariah. Selain itu kerajaan Utsmani membuat struktur pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi di tangan Sultan yang dibantu oleh Perdana Menteri yang membawahi Gubernur. Gubernur mengepalai daerah tingakat I. Di bawahnya terdapat beberapa bupati. Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, di masa Sultan Sulaiman I dibuatlah UU yang diberi nama Multaqa Al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Utsmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasanya ini, di ujung namanya ditambah gelar al-Qanuni.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sedangkan di bidang Ilmu Pengetahuan di Turki Utsmani tidak begitu menonjol karena mereka lebih fokus pada pengembangan kekuatan militer, sehingga dalam khasanah Intelektual Islam tidak ada Ilmuan yang terkemuka dari Turki Utsmani. Namun demikian mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah-indah, seperti Masjid Jami’ Sultan Muhammad Fatih, Masjid Agung Sulaiman dan Masjid Abi Ayyub Al-Ansyari, seluruh masjid ini dihiasi dengan kaligrafi yang indah-indah. Salah satu masjid yang indah kaligrafinya adalah mesjid Aya Sopia yang kaligrafinya menutupi gambar-gambar kristiani sebelumnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• Suka Menolong muslim lainnya. Mereka telah mendatangi Eropa Timur untuk meringankan tekanan kaum nasrani terhadap Andalusia. Mereka juga mengusir Portugis di negeri-negeri muslim. Mereka juga menggagalkan usaha Portugis menguasai Tanah Haram. Disamping itu keberanian, ketangguhan dan kepandaian taktik yang dilakukan olah para penguasa Turki Utsmani sangatlah baik, serta terjalinnya hubungan yang baik dengan rakyat kecil, sehingga hal ini pun juga mendukung dalam memajukan dan mempertahankan kerajaan Turki Utsmani.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kemunduran Turki Utsmani terjadi setelah wafatnya Sulaiman Al-Qonuni. Hal ini disebabkan karena banyaknya kekacauan yang terjadi setelah Sultan Sulaiman meninggal diantaranya perebutan kekuasaan antara putera beliau sendiri. Para pengganti Sulaiman sebagian besar orang yang lemah dan mempunyai sifat dan kepribadian yang buruk. Juga karena melemahnya semangat perjuangan prajurit Utsmani yang mengakibatkan kekalahan dalam mengahadapi beberapa peperangan. Ekonomi semakin memburuk dan sistem pemerintahan tidak berjalan semestinya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• Luasnya Wilayah Kekuasaan Perluasan wilayah yang begitu cepat yang terjadi pada daerah kerajaan Utsmani, menyebabkan pemerintahan merasa kewalahan dalam melakukan administrasi pemerintahan, terutama pasca pemerintahan Sultan Sulaiman. Sehingga administrasi pemerintahan kerajaan Utsmani menjadi semberawut. Penguasa Turki Utsmani lebih mengutamakan ekspansi, dengan mengabaikan penataan sistem pemerintahan. Hal ini menyebabkan wilayah-wilayah yang jauh dari pusat mudah diserang dan direbut oleh musuh sehingga sebagian berusaha melepaskan diri.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Masalah kepemimpinan umat, sebagai pengganti Rasulullah adalah masalah yang pertama kali muncul dan menimbulkan pertentangan yang hebat diantara kaum muslim serta menjadikan salah satu cobaan dalam persatuan umat Islam. Berawal dari pergolakan politik Ustman bin Affan yang ditandai dengan pecahnya perang saudara antara khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Siti Aisyah di satu pihak dan antara Ali bin Abi Thalib dilain pihak. Perselisihan ketiga kubu tersebut melahirkan kelompok baru yang yang mengarah pada munculnya golongan-golongan dengan mempercayai suatu doktrin masing-masing yang dianutnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam pandangan kaum Syiah, kelompoknya tersebut muncul karena adanya permasalahan dalam pergantian khilafah Nabi SAW. Mereka menolak dipilihnya kekhalifahan Abu Bakar, Umar bi Khattab, dan Usman bin Affan karena mereka menganggap bahwa yang berhak menggantikan Nabi hanyalah Ali bin Abi Thalib karena beliau memiliki hubungan keluarga dengan Nabi. Diceritakan dalam peristiwa Ghadir Khumm bahwa ketika dalam perjalanan pulang dari haji terakhir, nabi memilih Ali sebagai penggantinya dan juga sebagai pelindung (wali) para umat. Tetapi kenyataannya berbeda.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dalam bukunya, Harun Nasution yang berjudul Ensiklopedi Islam Indonesia dijelaskan bahwa ketika keluarga dan sahabat tengah sibuk mengurus pemakaman nabi, terdapat kelompok lain berkumpul di masjid guna memilih pimpinan kaum muslimin dengan tanpa adanya kesepakatan dari ahlul bait, keluarga, ataupun para sahabat. Dari kejadian itulah timbul suatu ketegangan di sebagian kalangan sebagai akibat penolakan hal tersebut. Mereka tetap bersikukuh bahwa pengganti Nabi dan penguasa keagamaan yang sah adalah Ali.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Konsepsi imamah Syi’ah Asy’ariyah, bahwa imamah adalah seperti kenabian dimana tugasnya adalah melanjutkan tugas nabi sebagai pemberi petunjuk pada umat manusia tentang hal-hal yang memberi kontribusi dalam kebahagiaan akhirat. Bagi mereka, Tuhan harus berlaku adil dengan manusia. Cara merealisasikan adil itu adalah dengan menetapkan imamah. Pada dasarnya manusia tidak akan pernah luput dari dosa, maka dengan adanya imamah maka manusia akan diadilkan dengan adanya pembimbing yang akan mengantarkan manusia ke arah kebahagiaan akhirat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebagai tindak lanjut dari pemilihan imamah ini, Syi’ah Asy’ariyah mengharapkan seorang imam yang ma’shum atau terjaga dari kesalahan. Maksudnya adalah terpeliharanya dari dosa dan maksiat. Walaupun mampu untuk melaksanakan perbuatan tercela tapi tidak sampai terjerumus serta meninggalkan syariat Allah. Selain itu juga terdapat ajaran yang bernama taqiyah yaitu melakukan suatu perbuatan yang berlawanan dengan apa yang diyakininya demi menjaga keselamatan dan kehormatan diri, harta atau nyawanya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Seperti halnya Syi’ah Asy’ariyah, naman Syi’ah Sab’iyah di artikan dengan banyaknya imam yang dinisbatkan dalam kelompoknya. Terdapat tujuh imam yang telah diakui yaitu Ali, Hasan, Husein, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq, dan Ismail bin Ja’far. Menurut pendapat mereka, setelah Ja’far Ash-Shadiq (imam yang ke enam) maka imam itu tidak berpindah kepada putranya, Musa al Kazhim (seperti yang dikatakan Syi’ah Asy’ariyah) melainkan berpindah kepada anaknya yang lain yaitu Ismail bin Ja’far. Dari sinilah kelompok ini diberi nama Syi’ah Ismailiyah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Doktrin imamah dalam pandangan Syi’ah Sab’iyah bahwa imam adalah seseorang yang menuntun pada pengetahuan (ma’rifah) dan dengan pengetahuan tersebut maka orang muslim akan menjadi seorang mukmin yang sebenar-benarnya. Manusia tidak akan bisa menjalankan kehidupannya tanpa adanya bimbingan berdasarkan islam. Seseorang yang dapat memberi bimbingan tersebut adalah orang yang telah ditunjuk oleh Allah dan Rosul-Nya. Bahwasannya imam adalah penunjukan melalui wasiat yang berantai. Beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang imam dalam pandangan Syiah Sab’iyah (Syi’ah Ismailiyah) adalah:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Alamut, sebagai benteng pertahanan yang dimiliki oleh Hasyasyin dipandang mempunyai peranan penting dalam melakukan serangan-serangan mendadak ke berbagai arah yang mengejutkan benteng-benteng pertahanan lawan. Organisasi rahasia mereka, yang didasarkan atas ajaran Ismailiyyah, mengembangkan agnostisisme yang bertujuan untuk mengantisipasi anggota baru dari kekangan ajaran, mengajari mereka konsep keberlebihan para nabi dan menganjurkan mereka agar tidak mempercayai apa pun serta bersikap berani untuk menghadapi apa pun.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, kemudian Abu Bakar mengirim kekuatan ke luar Arabia. Khalid ibn Walid dikirim ke Iraq dan dapat menguasai wilayah al-Hirah di tahun 634 M yang waktu itu di bawah kekuasaan Imperium Persia. Sedangkan ke Palestina, Abu Bakar mengirimkan balatentara di bawah pimpinan Amr bin al-Ash. Sementara ke Syam, sang khalifah mengirimkan balatentara di bawah pimpinan tiga orang, yaitu Yazid bin Abi Sufyan, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan Syurahbil bin Hasanah. Karena mendapat perlawanan sengit pasukan Romawi yang menguasai wilayah itu, pasukan Islam pun kewalahan. Akhirnya untuk menambah kekuatan militer yang dipimpin ketiga jenderal itu, Khalid bin Walid yang telah berhasil menaklukkan Irak diperintahkan Abu Bakar untuk meninggalkan negara itu dan berangkat ke Syam. Setelah Khalid bin Walid berhasil menaklukkan Syam, ia kemudian bersama Yazid bin Abi Sufyan dan Syurahbil bin Hasanah berangkat menuju Palestina untuk membantu Amr bin al-Ash dalam menghadapi pasukan Romawi. Kedua pasukan pun akhirnya terlibat peperangan yang sengit di daerah Ajnadin.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Setelah Abu Bakar wafat pada tahun 13 H karena sakit, ekspansi tetap dilanjutkan oleh khalifah berikutnya, Umar bin Khattab. Pada era Umarlah gelombang ekspansi pertama pun dimulai. Wilayah demi wilayah di luar jazirah dapat ditaklukkan. Pada tahun 14 H, Abu Ubaidah bin al-Jarrah bersama Khalid bin Walid dengan pasukan mereka berhasil menaklukkan kota Damaskus dari tangan kekuasaan Bizantium. Selanjutnya, dengan menggunakan Suriah sebagai basis pangkalan militer, ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan Amr bin al-Ash. Sedangkan ke wilayah Irak, Umar bin Khattab mengutus Sa’ad bin Abi Waqqash untuk menjadi gubernur di sana.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Gelombang ekspansi pertama di era Umar bin Khattab menjadikan Islam sebagai sebuah imperium yang tidak hanya menguasai jazirah Arab, tapi juga Palestina, Suriah, Irak, Persia, dan Mesir. Saat pemerintahan Umar bin Khattab berakhir karena ia wafat terbunuh pada tahun 23 H, Usman bin Affan sebagai khalifah ketiga tetap meneruskan kebijakan penaklukan ke berbagai wilayah di luar jazirah Arab. Meski pada zaman Umar bin Khattab telah dikirim balatentara ke Azerbaijan dan Armenia, pada era Usman bin Affanlah, yaitu pada tahun 23 H, kedua wilayah baru berhasil dikuasai saat ekspansi dipimpin oleh al-Walid bin Uqbah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kemudian ekspansi dilanjutkan pada masa Bani Umayyah. Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan perluasan wilayah dimulai dengan menaklukan Tunisia, kemudian ekspansi ke sebelah timur, dengan menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Sedangkan angkatan lautnya telah mulai melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Sedangkan ekspansi ke timur ini kemudian terus dilanjutkan kembali pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik bin Marwan mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkanabad, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan di zaman Al-Walid bin Abdul-Malik. Masa pemerintahan al-Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. Setelah Aljazair dan Maroko dapat ditundukan, Tariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam, dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko (magrib) dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Cordoba, dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Cordoba. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di zaman Umar bin Abdul-Aziz, serangan dilakukan ke Perancis melalui pegunungan Pirenia. Serangan ini dipimpin oleh Aburrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeaux, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours. Namun, dalam peperangan yang terjadi di luar kota Tours, al-Ghafiqi terbunuh, dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Disamping daerah-daerah tersebut di atas, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah (mediterania) juga jatuh ke tangan Islam pada zaman Bani Umayyah ini.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Islam mengandung ajaran-ajaran dasar yang tidak hanya mempunyai sangkut-paut dengan soal hubungan manusia dengan Tuhan dan soal hidup manusia sesudah hidup pertama sekarang. Tetapi Islam, sebagaimana kata H.A.R. Gibb, adalah agama yang mementingkan soal pembentukan masyarakat yang berdiri sendiri lagi mempunyai sistem pemerintahan, undang-undang dan lembaga-lembaga sendiri. Dengan kata lain, seperti kata Philip K. Hitti, Islam bisa dilihat dari tiga corak, yaitu corak aslinya sebagai agama; kemudian menjadi suatu negara (state), dan akhirnya sebagai suatu kebudayaan. Islam di Mekkah memang baru mempunyai corak agama, tetapi di Medinah coraknya bertambah dengan corak negara. Dalam corak negara itulah, Islam pun kian lama penyebarannya kian meluas. Sedangkan Islam di Bagdad, corak agama dan negara itu ditambahkan lagi dengan corak kebudayaan dan peradaban.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Terdapat keyakinan yang kuat tentang kewajiban menyampaikan ajaran-ajaran Islam sebagai agama baru ke seluruh dunia. Keyakinan itulah yang bersemayam dalam hati para sahabat Nabi Muhammad seperti Abu Bakar, Umar, dan lain-lain. Keyakinan tersebut kemudian diperkuat dengan faktor suku-suku Arab di zaman Jahiliyah yang cenderung pemberani serta gemar berperang antara sesama mereka. Namun karena suku-suku itu telah dipersatukan dalam Islam sehingga mereka tidak lagi berperang satu sama lain, maka mereka pun memilih pihak lain sebagai “musuh” bersama, yaitu orang-orang non-Islam di luar jazirah Arab. Dengan demikian, Islam pun menjadi kekuatan militer baru di dunia yang mampu mengalahkan dua kekuatan dunia waktu itu, yaitu Imperium Romawi (Bizantium) dan Imperium Persia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Bizantium dan Persia, dua kekuatan yang menguasai Timur Tengah pada waktu itu, mulai memasuki masa kemunduran dan kelemahan.. Kelemahan itu timbul bukan hanya karena peperangan, yang semenjak beberapa abad senantiasa telah terjadi antara keduanya, tetapi juga karena faktor-faktor dalam negeri. Jika di daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Bizantium terdapat pertentangan-pertentangan agama; di Persia di samping pertentangan agama terdapat pula persaingan antara anggota-anggota keluarga raja untuk merebut kekuasaan. Hal-hal ini membawa kepada pecahnya keutuhan masyarakat di kedua negara itu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kebijakan-kebijakan pihak Kerajaan Bizantium untuk memaksakan aliran keagamaan membuat rakyat merasa kehilangan kemerdekaan beragama. Di samping itu, rakyat juga dibebani dengan pajak yang tinggi guna menutupi anggaran perang Kerajaan Bizantium dengan Kerajaan Per¬sia. Hal-hal ini membuat timbulnya perasaan tidak senang dari rakyat di daerah-daerah yang dikuasai Bizantium terhadap kerajaan ini. Kondisi rakyat demikian menjadi memudahkan Islam untuk diterima sebagai agama dan penguasa alternatif yang diharapkan mampu membebaskan mereka.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adanya permintaan dari wilayah tertentu kepada Imperium Islam saat itu untuk membebaskan mereka dari rezim tiran yang berkuasa di wilayah tersebut. Hal ini misalnya terjadi pada kasus ekspansi Islam di Spanyol. Saat itu penguasa Kristen di sana bertindak lalim kepada rakyatnya sehingga kedatangan pasukan Islam di sana betul-betul diharapkan agar membebaskan mereka dari penindasan sang penguasa. Apalagi ke manapun kekuatan Islam datang, ia mem-proklamirkan ajakan kebebasan manusia dari penyembahan kepada selain Allah, dan memandang seluruh manusia sama serta menghormatinya apapun warna kulit dan rasnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Al-Ma’mun, pengganti Harun Ar-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah). Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Al-Mu’tasim, khalifah berikutnya (833-842 M), memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah, dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang-orangq muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat. Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan Zindiq di Persia, gerakan Syi’ah, dan konflik antarbangsa dan aliran pemikiran keagamaan, semuanya dapat dipadamkan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Lembaga-lembaga yang sudah ada pada masa sebelumnya kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis, dan berdiskusi. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Di samping itu, kemajuan itu paling tidak, juga ditentukan oleh dua hal, yaitu:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia, sebagaimana sudah disebutkan, sangat kuat di bidang pemerintahan. Di samping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat, dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma’mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kedua, tafsir bi al-ra’yi, yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra’yi, (tafsir rasional), sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat memengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Imam-imam madzhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Imam Abu Hanifah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah, kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Karena itu, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf, menjadi Qadhi al-Qudhat di zaman Harun Ar-Rasyid.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Berbeda dengan Imam Abu Hanifah, Imam Malik (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi’i (767-820 M), dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780-855 M) yang mengembalikan sistem madzhab dan pendapat akal semata kepada hadits Nabi serta memerintahkan para muridnya untuk berpegang kepada hadits Nabi serta pemahaman para sahabat Nabi. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga dan memurnikan ajaran Islam dari kebudayaan serta adat istiadat orang-orang non-Arab.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Teologi rasional Mu’tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani Umayyah. Namun, pemikiran-pemikirannya yang lebih kompleks dan sempurna baru mereka rumuskan pada masa pemerintahan Bani Abbas periode pertama, setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran filsafat dan rasionalisme dalam Islam. Tokoh perumus pemikiran Mu’tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf (135-235 H/752-849M) dan al-Nazzam (185-221 H/801-835M). Asy’ariyah, aliran tradisional di bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari (873-935 M) yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali terpengaruh oleh logika Yunani. Ini terjadi, karena Al-Asy’ari sebelumnya adalah pengikut Mu’tazilah. Hal yang sama berlaku pula dalam bidang sastra. Penulisan hadits, juga berkembang pesat pada masa Bani Abbas. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh tersedianya fasilitas dan transportasi, sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Banyak golongan pemikir lahir zaman ini, banyak di antara mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim. Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu, dan ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa. Tambahan pula, pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi, matematika, dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy. Ilmu-ilmu ini kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan sebagainya

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• Sekularisme, saat ini di dunia Islam bukanlah menjadi sesuatu yang asing lagi. Dapat dikatakan bahwa sekularisme kini telah menjadi bagian dari tubuhnya, atau bahkan menjadi tubuhnya itu sendiri. Ibarat sebuah virus yang menyerang tubuh manusia, dia sudah menyerang apa saja dari bagian tubuhnya itu. Bahkan yang lebih hebat, virus itu telah menghabisi seluruh tubuh inangnya dan menjelma menjadi wujud sosok baru, bak menjelma menjadi sebuah monster yang besar dan mengerikan, sehingga sudah sulit sekali dikenali wujud aslinya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• Akibat panjangnya rantai sekularisme dalam tubuh ummat ini, ummat Islam sudah sangat mengalami kesulitan untuk mendeteksi keberadaannya. Sehingga tidak aneh jika ada banyak dari kalangan ummat Islam yang merasa tersinggung dan marah jika dituduh sebagai sekuler atau menjalankan sekularisme dalam kehidupan pribadi atau dalam bernegara. Mereka akan menolak mentah-mentah tuduhan itu. Mereka merasa jijik dan najis dengan sekularisme itu, dan merekapun akan menolak dengan tegas jika diseru untuk menjalankan sekularisme dalam kehidupannya. Namun kenyataan yang sesungguhnya, mereka sudah berkubang dalam limbah sekularisme itu sendiri. Menyedihkan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• Inti dari faham sekularisme menurut An-Nabhani (1953) adalah pemisahan agama dari kehidupan (faşlud-din ‘anil-hayah). Menurut Nasiwan (2003), sekularisme di bidang politik ditandai dengan 3 hal, yaitu: (1). Pemisahan pemerintahan dari ideologi keagamaan dan struktur eklesiatik, (2). Ekspansi pemerintah untuk mengambil fungsi pengaturan dalam bidang sosial dan ekonomi, yang semula ditangani oleh struktur keagamaan, (3). Penilaian atas kultur politik ditekankan pada alasan dan tujuan keduniaan yang tidak transenden.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• lia. Perjanjian itu telah mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun antara Katholik dan Protestan di Eropa. Perjanjian tersebut juga telah menetapkan sistem negara merdeka yang didasarkan pada konsep kedaulatan dan menolak ketundukan pada otoritas politik Paus dan Gereja Katholik Roma (Papp, 1988). Inilah awal munculnya sekularisme. Sejak itulah aturan main kehidupan dilepaskan dari gereja yang dianggap sebagai wakil Tuhan. Asumsinya adalah bahwa negara itu sendirilah yang paling tahu kebutuhan dan kepentingan warganya, sehingga negaralah yang layak membuat aturan untuk kehidupannya. Sementara itu, Tuhan atau agama hanya diakui keberadaannya di gereja-gereja saja.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• Altwajri memberi contoh penentangan para pemikir Barat terhadap faham keagamaan yang paling fundamental di bidang aqidah adalah ditandai dengan munculnya berbagai aliran pemikiran seperti: pemikiran Marxisme, Eksistensialisme, Darwinisme, Freudianisme dsb., yang memisahkan diri dari ide-ide metafisik dan spiritual tertentu, termasuk gejala keagamaan. Pandangan pemikiran seperti ini akhirnya membentuk pemahaman baru berkaitan dengan hakikat manusia, alam semesta dan kehidupan ini, yang berbeda secara diametral dengan faham keagamaan yang ada. Mereka mengingkari adanya Pencipta, sekaligus tentu saja mengingkari misi utama Pencipta menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan ini. Mereka lebih suka menyusun sendiri, melogikakannya sediri, dengan kaidah-kaidah filsafat yang telah disusun dengan rapi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• Dalam bidang pemerintahan, yang dianggap sebagai pelopor pemikiran modern dalam bidang politik adalah Niccola Machiavelli, yang menganggap bahwa nilai-nilai tertinggi adalah yang berhubungan dengan kehidupan dunia dan dipersempit menjadi nilai kemasyhuran, kemegahan dan kekuasaan belaka. Agama hanya diperlukan sebagai alat kepatuhan, bukan karena nilai-nilai yang dikandung agama itu sendiri (Nasiwan, 2003). Disamping itu muncul pula para pemikir demokrasi seperti John Locke, Montesquieu dll. yang mempunyai pandangan bahwa pemerintahan yang baik adalah pemerintahan konstitusional yang mampu membatasi dan membagi kekuasaan sementara dari mayoritas, yang dapat melindungi kebebasan segenap individu-individu rakyatnya. Pandangan ini kemudian melahirkan tradisi pemikiran politik liberal, yaitu sistem politik yang melindungi kebebasan individu dan kelompok, yang didalamnya terdapat ruang bagi masyarakat sipil dan ruang privat yang independen dan terlepas dari kontrol negara (Widodo, 2004). Konsep demokrasi itu kemudian dirumuskan dengan sangat sederhana dan mudah oleh Presiden AS Abraham Lincoln dalam pidatonya tahun 1863 sebagai: “pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” (Roberts & Lovecy, 1984).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• Dalam bidang ekonomi, mucul tokoh besarnya seperti Adam Smith, yang menyusun teori ekonominya berangkat dari pandangannya terhadap hakikat manusia. Smith memandang bahwa manusia memiliki sifat serakah, egoistis dan mementingkan diri sendiri. Smith menganggap bahwa sifat-sifat manusia seperti ini tidak negatif, tetapi justru sangat positif, karena akan dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan secara keseluruhan. Smith berpendapat bahwa sifat egoistis manusia ini tidak akan mendatangkan kerugian dan merusak masyarakat sepanjang ada persaingan bebas. Setiap orang yang menginginkan laba dalam jangka panjang (artinya serakah), tidak akan menaikkan harga di atas tingkat harga pasar (Deliarnov, 1997).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• Dalam bidang sosiologi, muncul pemikir besarnya seperti Auguste Comte, Herbert Spencer, Emile Durkheim dsb. Sosiologi ingin berangangkat untuk memahami bagaimana masyarakat bisa berfungsi dan mengapa orang-orang mau menerima kontrol masyarakat. Sosiologi juga harus bisa menjelaskan perubahan sosial, fungsi-fungsi sosial dan tempat individu di dalamnya (Osborne & Loon, 1999). Dari sosiologi inilah diharapkan peran manusia dalam melakukan rekayasa sosial dapat lebih mudah dan leluasa untuk dilakukan, ketimbang harus ‘pasrah’ dengan apa yang dianggap oleh kaum agamawan sebagai ‘ketentuan-ketentuan’ Tuhan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• Di bidang akademik, kerangka keilmuan yang berkembang di Barat mengacu sepenuhnya pada prinsip-prinsip sekularisme. Hal itu paling tidak dapat dilihat dari kategorisasi filsafat yang mereka kembangkan yang mencakup tiga pilar utama pembahasan, yaitu (Suriasumantri, 1987): filsafat ilmu, yaitu pembahasan filsafat yang mengkaji persoalan benar atau salah; filsafat etika, pembahasan filsafat yang mengkaji persoalan baik atau buruk; filsafat estetika, pembahasan filsafat yang mengkaji persoalan indah atau jelek.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• Perkembangan sekularisme di Barat ternyata tidak hanya berhenti di tanah kelahirannya saja, tetapi terus berkembang dan disebarluaskan ke seantero dunia, termasuk di dunia Islam. Seiring dengan proses penjajahan yang mereka lakukan ide-ide sekularisme terus ditancapkan dan diajarkan kepada generasi muda Islam. Hasilnya sungguh luar biasa, begitu negeri-negeri Islam mempunyai kesempatan untuk memerdekakan diri, bentuk negara dan pemerintahan yang di bangun ummat Islam sepenuhnya mengacu pada prinsip sekularisme dengan segala turunannya. Mulai dari pengaturan pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, termasuk tentunya adalah dalam pengembangan model pendidikannya. Boleh dikatakan hampir tidak ada satupun bagian dari penataan negeri ini yang terbebas dari prinsip sekularisme tersebut.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• Bahkan di garda terakhir, yaitu di lembaga pendidikan formal Islam di dunia Islam-pun tidak luput dari serangan sekularisme tersebut. Pada awalnya (di Indonesia tahun 1970-an), pembicaraan mengenai penelitian agama, yaitu menjadikan agama (lebih khusus adalah agama Islam) sebagai obyek penelitian adalah suatu hal yang masih dianggap tabu (Mudzhar, 1998). Namun jika kita menengok perkembangannya, khususnya yang meyangkut metodologi penelitiannya, maka akan kita saksikan bahwa agama Islam benar-benar telah menjadi sasaran obyek studi dan penelitian. Agama telah didudukkan sebagai gejala budaya dan gejala sosial. Penelitian agama akan melihat agama sebagai gejala budaya dan penelitian keagamaan akan melihat agama sebagai gejala sosial (Mudzhar, 1998).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• Jika sebuah ide telah menjadi sebuah raksasa yang menggurita, maka tentunya akan sangat sulit untuk melepaskan belenggu tersebut darinya. Terlebih lagi ummat Islam sudah sangat suka dan jenak dengan tata kehidupan yang sangat sekularistik tersebut. Dan sebaliknya, mereka justru sangat khawatir dan takut jika penataan negara ini harus diatur dengan syari’at Islam. Mereka khawatir, syari’at Islam adalah pilihan yang tidak tepat untuk kondisi masyarakat nasional dan internasional saat ini, yang sudah semakin maju, modern, majemuk dan pluralis. Mereka khawatir, munculnya syari’at Islam justru akan menimbulkan konflik baru, terjadinya disintegrasi, pelanggaran HAM, dan mengganggu keharmonisan kehidupan antar ummat beragama yang selama ini telah tertata dan terbina dengan baik (menurut mereka).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

• Ayat-ayat di atas memberitahu dengan jelas kepada manusia, mulai dari siapa sesungguhnya Pencipta manusia, kemudian untuk apa Pencipta menciptakan manusia hidup di dunia ini. Hakikat hidup manusia di dunia ini tidak lain adalah untuk menerima ujian dari Allah SWT, berupa perintah dan larangan. Allah juga memberi tahu bahwa datangnya petunjuk dari Allah untuk hidup manusia bukanlah pilihan bebas manusia (sebagaimana prinsip HAM), yang boleh diambil, boleh juga tidak. Akan tetapi, merupakan kewajiban asasi manusia (KAM), sebab jika manusia menolaknya (kafir) maka Allah SWT telah menyiapkan siksaan yang sangat berat di akherat kelak untuk kaum kafir tersebut.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Terhadap pengertian ini, diperkuat lagi oleh Philip K. Hitti bahwa Perang Salib itu adalah perang keagamaan selama hampir dua abad yang terjadi sebagai reaksi umat Kristen di Eropa terhadap umat Islam di Asia yang dianggap sebagai pihak penyerang. Perang ini terjadi karena sejak tahun 632 M. (Nabi SAW. wafat) sampai meletusnya Perang Salib, sejumlah kota-kota penting dan tempat suci umat Kristen telah diduduki umat Islam seperti Suriah, Asia Kecil (Turki Modern), Spanyol dan Sisilia. Perang tersebut merupakan suatu ekspedisi militer dan terorganisir untuk merebut kembali tempat suci di Palestina.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dilihat dari setting perkembangan sejarah, perang salib bisa kita letakkan pada bagian pertengahan dalam sejarah panjang interaksi timur dan barat, fakta geografis tentang perbedaan antara timur dan barat hanya bisa dipertimbangkan sebagai faktor penting terjadinya perang salib jika disandingkan dengan pertentangan agama, suku, bangsa, dan perbedaan bahasa. Kenyataanya, perang salib secara khusus menggambarkan reaksi orang Kristen di eropa terhadap muslim di timur, yang telah menguasai wilayah Kristen sejak tahun 632, tidak hanya di Suriah dan Asia kecil, tetapi juga di Spanyol dan Sisilia.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, peristiwa penting dalam gerakan ekspansi yang dilakukan oleh Alp Arselan adalah peristiwa Manzikart, tahun H (1071 M). Tentara Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi, Ghuz, Al-Akraj, Al-hajr, Prancis, dan Armenia. Peristiwa besar ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian terhadap umat Islam, yang kemudian mencetuskan perang salib. Kebencian itu bertambah setelah dinasti Saljuk dapat merebut Baitul Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan dinasti Fathimiyah yang berkedudukan di mesir.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Adapun penyebab langsung dari Perang Salib Pertama adalah permohonan Kaisar Alexius I kepada Paus Urbanus II untuk menolong Kekaisaran Byzantium dan menahan laju invasi tentara Muslim ke dalam wilayah kekaisaran tersebut. Hal ini dilakukan karena sebelumnya pada tahun 1071, Kekaisaran Byzantium telah dikalahkan oleh pasukan Seljuk yang dipimpin oleh Sultan Alp Arselan di Pertempuran Manzikert, yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 40.000 orang, terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, al-Akraj, al-Hajr, Perancis dan Armenia. Dan kekalahan ini berujung kepada dikuasainya hampir seluruh wilayah Asia Kecil (Turki modern).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kejatuhan Edessa ini menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang Salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh raja Perancis Louis VII dan raja Jerman Condrad II. Keduanya memimpin pasukan salib untuk merebut wilayah Kristen di Syria. Akan tetapi, gerak maju mereka dihambat oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Louis VII dan Condrad II sendiri melarikan diri pulang ke negerinya. Nuruddin wafat tahun 1174 M. Pimpinan perang kemudian dipegang oleh Salahudin Al-Ayyubi yang berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah di mesir tahun 1175 M. Hasil peperangan Salahudin Al-Ayyubi yang terbesar adalah merebut kembali Yerussalem pada tahun 1187 M. Dengan demikian, kerajaan latin di Yerussalem yang berlangsung selama 88 tahun telah berakhir.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Mereka pun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa, raja Jerman, Richard The Lion Hart, raja Inggris, dan Philip Augustus, dan raja Perancis. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M. meskipun mendapat tantangan berat dari Salahudin Al-Ayyubi, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi, mereka tidak berhasil memasuki palestina. Pada tanggal 2 November 1192 M, dibuat perjanjian antara tentara salib dengan Salahudin Al-Ayyubi yang disebut dengan Shulh al-Ramlah. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa orang-orang Kristen yang pergi berziarah ke Bait al-Maqdis tidak akan di ganggu.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Tentara salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut mesir lebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan dapat bantuan dari orang-orang Kristen Qibthi. Pada tahun 1219 M, mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir dari dinasti Ayyubiyah waktu itu, al-Malik al-Kamil, membuat perjanjian dengan Frederick. Isinya antara lain Frederick bersedia malepaskan Dimyat, sementara al-Malik al-Kamil melepaskan Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum muslimin disana dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syria. Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum muslimin pada tahun 1247 M, dimasa pemerintahan Malikus Shalih, penguasa mesir selanjutnya. Ketika mesir dikuasai oleh dinasti Mamalik yang menggantikan dinasti Ayyubiyah pimpinan perang dipegang oleh Barbars dan Galawun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum muslimin, tahun 1291 M.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sebelum islam hadir sebagai sebuah kekuatan politik, kondisi geografis daerah hijaz sangat strategis dan menguntunkan karena menjadi rute perdagangan antara Persia dan roma serta daerah jajahan keduanya. Di samping itu, selama berabad-abad wilayah selatan dan timur jazirah arab juga menjadi rute perdagangan antara roma dan india yang terkenal sebagai rute perdagangan selatan. Hal ini menimbulkan munculnya pedagang-pedagang musiman di sepanjang rute ini. Perdagangan merupakan dasar perekonomian di jazirah arab sebelum islam datang. Prasyarat untuk melakukan transaksi adalah alat pembayaran yang dapat dipercaya. Jazirah Arabia dan wilayah-wilayah tetangganya berada langsung dibawah kekuaasaan Persia dan Roma atau minimal berada dalam pengaruh keduanya. Mata uang yang dipergunakan Negara-negara tersebut adalah dirham dan dinar. Dengan kian kuatnya politik kedua Negara tersebut, alat pembayarannya pun makin dipercaya diwilayah kekuasaannya. Karena faktor itulah, bangsa Persia dan Romawi menjadi mitra dagang utama orang-orang Arab.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Koin dirham dan dinar mempunyai berat yang tetap dan memiliki kandunga emas yang tetap. Akan tetapi pada masa-masa selanjutnya beratnya berubah, kandungannya juga berbeda dari satu wilayah dengan wilayah yang lain. Secara alamiah transaksi yang berada di daerah kekaisaran Romawi menggunakan dinar sebagai alat tukar, sedangkan di kekaisaran Persia menggunakan dirham. Ekspansi Persia dan Romawi menyebabkan ini menyebabkan pertukaran uang meningkat. Bahkan pada masa Ali, dinar dan dirham merupakan satu-satunya mata uang yang dipergunakan. Dirham memiliki nilai yang tetap. Karena itu, tidak ada masalah dalam perputaran uang. Jika dirham di nilai sebagai satuan, maka dinar adalah perkalian dari dirham.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada bagian ini akan dibicarakan tentang mata uang, dinar dan dirham. Yang merupakan satun moneter Persia dan Romawi. Pada masa Nabi kedua mata uang ini diimpor dari Persia dan Romawi. Karena tidak adanya tarif dan bea masuk, uang diimpor dalam jumlah besar, dimana nilai emas dan perak pada kepingan dinar dan dirham sama dengan nilai nominal uangnya. Karena itu keduanya dapat dibuat perhiasan atau ornamen. Dapat disimpulkan bahwa pada awal periode islam penawaran dan pendapatan uang sangat elastis.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Faktor lain yang memiliki pengaruh terhadap stabilitas nilai uang adalah pemercepatan peredaran uang. Dapat dipahami bahwa setelah HIjrah, secara bertahap pemercepatan peredaran uang cenderung meningkat. Keberhasikan kaum muslimin pada perang-perangnya menguatkan rasa percaya diri dan optimisme tentang masa depan yang lebih baik bagi kaum muslimin. Setelah perdamaian Hudaibiya, optimisme semakin meningkat. Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa peningkatan volume aktifitas ekonomi mempercepat peredaran uang.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Perpindahan kaum mulimin dari Makkah ke Mdinah tidak dibekali dengan kekayaan ataupun simpanan dan juga keahlian, ini menciptakan keseimbangan ekonomi yang rendah. Sementara itu peperangan telah banyak menyerap jumlah tenaga kerja yang seharusnya dapat dipergunakan untuk pekerjaan yang produktif. Oleh karena itu masalah utama yang dihadapi Nabi jika dilihat dari sudut pandang fiskal adalah pengaturan pengeluaran untuk biaya perang yang rata-rata tiap dua bulan sekali, belum lagi penyediaan biaya hidup bagi setiap kaum muslimin turut menambah beban finansial. Dalam satu kesempatan nabi melakukan peminjaman setelah penaklukan Makkah. Kebijakan lain yang diambil nabi adalah memberikan kesempatan yang lebih besar kepada kaum muslimin dalam melakukan aktifitas produktif dan ketenagakerjaan. Serta mendorong kerjasama antara Muhajirin dan Anshar.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Salah satu tujuan khusus perekonomian pada awal perkembangan Islam adalah penginvestasian tabungan yang dimiliki masyarakat. Hal ini diwujudkan dengan dua cara, yaitu : mengembangkan peluang investasi yang syar’I secara legal, dan mencegah kebocoran atau penggunaan tabungan untuk tujuan yang tidak islami. Pada awal keislaman, pemerintah dengan berbagai cara menyediakan fasilitas yang berorientasi investasi untuk masyarakat. Pertama, memberikan berbagai kemudahan bagi produsen untuk berproduksi. Kedua, memberikan keuntungan pajak terutama bagi unit produksi baru. Ketiga, meningkatkan efisiensi produksi sector swasta dan peran serta masyarakat dalam berinvestasi yang dilakukan dengan memperkenalkan teknik produksi dan keahlian baru kepada kaum muslim.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian diatas adalah bahwa tidak ada satupun instrumen kebijakan moneter yang digunakan saat ini diberlakukan pada awal periode keislaman. Instrument yang digunakan saat ini untuk mengatur jumlah uang beredar adalah dengan jual beli surat berharga (operasi pasar terbuka). Sudah jelas bahwa pasar terbuka tidak ada dalam sejarah perekonomian pada awal perkembangannya. Metode lain yang digunakan saat ini adalah menaikkan atau menurunkan tngkat bunga bank, praktek ini tidak dilakukan pada masa awal Islam karena termasuk dalam kategori riba.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Di kalangan para orientalis, timbul asumsi yang menyatakan bahwa pada masa awal pemerintahan Islam, harta rampasan perang mempunyai peran yang sangat signifikan dalam menopang kehidupan kaum muslimin. Asumsi tersebut lahir dari fakta lemahnya kondisi ekonomi kaum muslimin pada masa-masa awal pendirian Negara Madinah. Kehidupan masyarakat Madinah yang secara ekonomi sangat memprihatinkan, menurut para orientalis, mendorong Nabi melakukan perampasan terhadap kafilah Makkah yang melewati Madinah menuju Syria. Berangkat dari asumsi ini, para orientalis berpendapat bahwa kebutuhan untuk meningkatkan sumber daya ekonomi dan keuangan telah menjadi factor pendorong bagi kaum muslimin untuk menyerang dan merampas kepemilikan orang Yahudi, Kristen, serta berbagai suku bangsa Arab lain yang berada di Utara dan Timur.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ekspedisi tahun pertama yang dilakukan kaum muslimin sebanyak 74 kali, atau lebih dalam riwayat lain. Seluruh ekspedisi tersebut baik ghazwah maupun saraya bukanlah gerakan militer, tetapi hanya misi politik atau perjalanan dakwah. Ekspedisi tahun kedua adalah dimulai dengan peperangan melawan bani Qainuqa. Setelah melalui proses yang panjang orang-orang yahudi Qainuqa menyerah kepada kaum muslimin. Hasil dari peperangan ini terdiri dari persenjataan dan peralatan pertambangan emas, dan ada satu harta rampasan yang paling berharga yaitu sebuah benteng pemukiman bangsa yahudi dan sejumlah besar pasar yang merupakan salah satu pusat perdagangan di kota Madinah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ekspedisi tahun ketiga, terdapat tujuh kali ekspedisi yang dilakukan kaum muslimin pada tahun ini. Dari tujuh ekspedisi hanya tiga yang menghasilkan keuntungan ekonomis. Diantaranya adalah ghazwah Kudur, ini adalah perang pertama yang menghasilkan harta rampasan. Lalu saraya Zaid bin Harits yang dikirim ke Qaradah oleh Nabi untuk menghadang sebuah kafilah Makkah di jalur timur dan berhasil mengambil seluruh barang dagangannya. Namun hasil sebaliknya terjadi ketika perang Uhud, dalam perang ini awalnya kaum muslimin meraih kemenangan namun akhirnya mereka kalah.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ekspedisi keempat, juga sebanyak tujuh kali ekspedisi, dua diantaranya menghasilkan harta rampasan perang. Ekspedisi tahun kelima adalah sebanyak lima kali dimana tiga diantaranya menghasilkan harta rampasan perang. Salah satu diantara perang yang berhasil itu dipimpin langsung oleh Nabi yang menuju mata air Muraisy untuk menyerang bani Musthaliq cabang dari Khuza’ah. Suku ini sedang merencanakan penyerangan ke Madinah yang mungkin di bantu oleh orang-orang Makkah. Setelah peristiwa ini Nabi menikahi Juwairiyah, putri Harits bin Abi Dhirar, kepala suku setempat. Ekspedisi tahun keenam, terdapat tiga ghazwah dan 18 saraya. Namun tidak ada satu ghazwah pun yang mendapatkan hasil materi, dan hanya 7 saraya yang berhasil mendapatkan keuntungan materi.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Ekspedisi ketujuh, dalam ekspedisi ini kaum muslimin melakukan 14 kali ekspedisi yang terdiri dari 6 ghazwahdan 8 saraya. Salah satu ghazawah terjadi bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji pada saat nabi ke Makkah. Sehingga tidak mendapatkan harta rampasan apapun pada saat itu. Namun sebagian besar ekspedisi pada tahun ini menghasilkan harta rampasan perang. Ekspedisi tahun kedelapan, pada tahun ini hanya enam ekspedisi yang menghasilkan harta rampasan perang. Ekspedisi tahun kesembilan, berhasil mendapatkan harta rampasan perang baik dalam jumlah kecil maupun besar. Ekspedisi tahun kesepuluh, pada tahun ini hanya terjadi satu kali ekspedisi, yaitu saraya Ali bin Abi Thalib ke Yaman yang berhasil memperoleh harta rampasan berupa hewan ternak, tawanan, baju, dan lain-lain.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sekarang kita bisa tahu seberapa besar kontribusi harta rampasan perang untuk meningkatkan perekonomian kaum muslimin Madinah. Terdapat asumsi umum, kita telah melihat kenyataan bahwa harta rampasan perang yang besar akan memperkaya kaum muslimin, tetapi disisi lalin fakta-fakta juga menunjukkan agar kita mengecek kebenaran dari perhitungan tersebut. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan adalah satu faktor dan pertimbangan penting yang seharusnya tetap kita tanamkan dalam pemikiran kita ketika menentukan ukuran pembagian harta rampasan perang dalam perekonomian Islam, yaitu bahwa sampai saat ini belum terdapat perhitungan yang cukup memadai dan komprehensif untuk masalah harta rampasan.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Masa pertengahan ditandai dengan kemunduran total imperium di Baghdad. Ibarat orang yang menderita penyakit akut dan tengah menunggu ajalnya. Maka, sudah barang tentu akan mudah ditebak, bila kemudian hari pemerintahan pusat di Baghdad tidak dapat mempertahankan wilayah kekuasaannya. Kondisi seperti ini dimulai dengan adanya pemberontakan-pemberontakan dan lepasnya kontrol kekuasaan secara politik di seluruh wilayah Islam. Otoritas Islam di Spanyol merdeka penuh dengan diproklamirkannya sistem kekhalifahan sendiri oleh ‘Abd al-Rahman al-Dakhil (w 788 M/172 H). Begitu pula yang terjadi pada Daulah Fatimiyah di Mesir. Pemberontakan ini merupakan awal aspirasi pembentukan dinasti-dinasti kecil di Timur dan Barat Baghdad. Dinasti-dinasti kecil disini adalah semula wilayah tingkat satu yang biasa dikepalai oleh wali atau amir (gubernur) atas penunujukan pemerintah pusat. Selanjutnya pusat memberikan jaminan otonomi terhadap wilayahnya. Namun, pada perkembangannya wilayah tersebut sedikit demi sedikit sengaja melepaskan diri dari pemerintaha pusat (disintegration, dismembered) sehingga oleh beberapa sejarawan disebut dengan dinasti-dinsati kecil (petty dynasties atau smaller dynasties).

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Dinasti-dinasti kecil yang terdapat di Barat Baghdad antaralain: Dinasti Idris (172-311 H/ 788-932 M), Dinasti Aghlabi (184-296 H/800-909 M), Dinasti Thuluni (254-292 H/ 868-905 M), Dinasti Ikhsidi (323-358 H/ 935-969 M) dan Dinasti Hamdani (296-394 H/ 905-1004 M). Sedangkan yang terdapat di Timur Baghdad antaralain: Dinasti Thahiri (205-259 H/ 821-875 M), Dinasti Saffari (254-290 H/ 867-903 M) dan Dinasti Samani (261-389 H/ 87-999 M). Kemunculan dinasti-dinasti kecil ini membuat kekhalifahan Banni Abbas sebagai simbol kekuatan politik Islam dalam menghadapi persoalan-persoalan disintegrasi yang menjadi salah satu penyebab kemunduran pemerintahan Baghdad.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Begitu banyak peristiwa dan corak pemerintahan yang terjadi di masa pertengahan ini. Selain kekuasaan Abbasiyah yang sungguh mencolok, juga karena keikutsertaan dinasti-dinasti kecil dalam memeriahkan perjalanan Sejarah Islam di dunia. Pada setiap masa pasti ada fase kejayaan dan juga kemunduran (kemerosotan). Kemunduran yang terjadi pada masa pertengahan ini tidak sekaligus, namun berangsur-angsur dan memakan waktu yang cukup lama. Beberapa faktor yang menjadi penyebab kemunduran masa pertengahan antaralain:

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kebencian itu makin menjadi setelah Dinasti Saljuk dapat merebut baitul maqaddis dari tangan Fatimiyah di Mesir. Penguasa Saljuk menerapkan peraturan (merugikan) bagi umat Kristen yang ingin berziarah kesana. Peraturan ini dirasakan sangat berat dan terlalu mengada-ada. Oleh karena itu, penguasa tertinggi umat Kristen yang saat itu bernama Paus Urbanus II untuk menggelar perang suci. Perang ini dikenal dengan Perang Salib dan dilakukan selama tiga periode. Akibat dari Perang Salib ini, umat Islam menderita banyak sekali. Kerugian ini mengakibatkan melemahnya kekuatan politik Islam.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Sekalipun ia dikenal sebagai pemimpin yang kejam dan ganas, sebagai seorang Muslim Timur Lenk juga memperhatikan pengembangan Islam. Dalam beberapa literatur dipaparkan bahwa ia adalah serang penganut Syi’ah yang taat dan menyukai Tarekat Naqsyabandiyah. Dalam perjalannya, ia selalu membawa serta ulama-ulama, sastrawan dan seniman. Ulama dan ilmuwan sangat dihormatinya. Belum diketahui waktu yang tepat meninggalnya Timur Lenk, hanya ada data yang mengatakan bahwa kedudukannya diperebutkan dan digantikan oleh anaknya Syah Rukh. Cukup bangus pemerintahan yang dijalankan oleh Syah Rukh, namun ini tidak bertahan lama dan digantikan oleh ‘Abd al-Latif.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Pada tahun 1249 keluarga Ayyubiyah diruntuhkan oleh sebuah pemberontakan oleh salah satu resimen budak (mamluk)-nya, yang membunuh penguasa Ayyubiyah. Kekuasaan saat itu berada di tangan perempuan bernama Syajar al-Durr janda al-Shalih dari Dinasti Ayyubiyah. Selama delapan tahun dia berkuasa sebelum akhirnya mengangkat nama ‘Izzuddin Aybag sebagai sultan (atabeg al-askar) yang baru sekaligus suaminya. Pada awal-awal pemerintahan Aybag sibuk memberantas legitimasi Ayyubiyah yang berada di Suriah. Sebelum akhirnya ia membunuh istrinya (Syajar) dan kekuasaan seluruhnya berada di tangan Aybag.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Kemajuan-kemajuan yang terjadi di dalam Dinasti Mamluk meliputi: Bidang Pemerintahan, Perekonomian, Ilmu Pengetahuan, Pembangunan serta Seni dan Sastra. Awal Kemunduran Dinasti Mamluk dipicu karena tampuk pemerintahan yang dipegang oleh kaum Burji. Kaum Burji mayoritas berasal dari wilayah Siskasius. Kaum ini secara tegas menolak pewarisan kekuasaan. Mereka menganggap bahwa sultan hanyalah primus inter pares dengan kekuatan nyata berada di tangan penguasa militer (oligari militer). Kekuasaan yang telah menjadi tanggung jawab ini tidak sepenuhnya berhasil. Faktor yang melatabelakangi adalah rendahnya tingkat moral yang dimiliki tiap-tiap sultan. Kemewahan dan kebiasaan berfoya-foya menyebabkan pajak dinaikkan. Akibatnya, semangat kerja menurun dan perekonomian tidak stabil.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Beberapa khalifah Umayyah yang pernah berkuasa diketahui hidup mewah dan berlebih-lebihan. Hal ini menimbulkan rasa antipati rakyat kepada mereka. Kehidupan dalam istana Bizantium agaknya mempengaruhi gaya hidup mereka. Yazid bin Muawiyah (Yazid I), misalnya, dikabarkan suka berhura-hura dengan memukul gendang dan bernyanyi bersama para budak wanita sambil minum minuman keras. Yazid bin Abdul Malik (Yazid II) juga tidak lebih baik dari Yazid I. Ia suka berfoya-foya dengan budak wanita. Putranya, al-Walid II, ternyata tidak berbeda dengan ayahnya.

seperti di kutip dari https://filsafatindonesia1001.wordpress.com

Setelah itu, Samarkand berada di bawah Keemiran Bukhara. Pada 1868 M, Samarkand ditaklukan Rusia dan menjadi bagian dari Uni Soviet hingga 1991. Sejak Uni Soviet pecah, Samarkand pun menjadi bagian dari negara Uzbekistan. Secara geografis, Samarkand merupakan salah satu kota tua dan utama di wilayah Transoksania, yakni daerah antara Sungai Amudarya (Oxus) dan Syrdarya di Asia Tengah. Kini Samarkand menjadi salah satu provinsi di Uzbekistan. Kota itu berada di ketinggian 702 meter. Pada 2005 populasi penduduknya mencapai 412 ribu jiwa.

Lely Lismawati (39) ditemukan tewas dengan luka di bagian kepala di rumahnya, Perum Seroja RT 03 RW 05, Harapan Jaya, Kota Bekasi. Lely tewas akibat dianiaya Saadin Muksin (40), suaminya. “Pelaku suami korban,” kata Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota dalam keterangannya, Rabu (1/3/2018). Jasad Lely ditemukan sekitar pukul 09.30 WIB. Dedy menambahkan, saat ditemukan, kondisi jasad Lely mengalami luka akibat benda tumpul di kepala dan luka pada bibir. “Terdapat luka bekas pukulan benda tumpul di bagian kepala dan luka bibir atas sebelah kanan bekas pukulan,” kata Dedy. Lely Lismawati (39) ditemukan tewas dengan luka di bagian kepala di rumahnya, Perum Seroja RT 03 RW 05, Harapan Jaya, Kota Bekasi. (Istimewa) Menurut Dedy, saat penganiayaan, tidak ada saksi yang melihat. Kedua anak korban juga masih berada di sekolah. Namun, berdasarkan keterangan saksi, dari rumah korban terdengar keributan sekitar pukul 07.30 WIB. “Dari keterangan saksi bahwa sekitar pukul 07.30 WIB terdengar ribut dari dalam rumah korban, tapi dia nggak berani masuk,” ungkapnya. Pelaku saat ini sudah ditangkap dan ditahan di Polres Metro Bekasi Kota. “Pelaku saat ini sudah diamankan di Polres Metro Bekasi Kota,” ujar dia.

TEMPO.CO , Bekasi – Seorang pelayan kafe, Rosidah, 37 tahun, yang tinggal di Cikarang Timur tewas diduga karena dianiaya oleh suaminya. Rosidah ditemukan sekarat di rumah kontrakannya, Jalan Raya Tegal Danas, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Selasa malam, 25 Juli 2017. Namun tak lama kemudian, korban tewas di rumah sakit akibat luka memar di sekujur tubuhnya.Ketua RT setempat, Ical mengatakan, korban ditemukan dalam kondisi sekarat sekitar pukul 20.00 WIB di dalam rumah kontrakannya. Baca: Terungkap Motif Pembunuhan Istri WN Jepang di Lippo Cikarang Melihat korban masih bernafas, warga lalu membawanya ke Rumah Sakit Medirosa Pasir Gombong, Cikarang. “Sampai rumah sakit, meninggal dunia,” katanya, Rabu, 26 Juli 2017.

seperti di kutip dari https://metro.tempo.co

Ical mengatakan, sebelumnya terdengar suara gaduh dari dalam rumah kontrakan. Namun, selang berapa lama kemudian, suaminya Edi Yanto meminta bantuan kepada warga. “Suaminya ikut mengantar ke rumah sakit,” kata dia. Baca: Polisi Selidiki Pembunuhan Istri Warga Negara Jepang di Bekasi   Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Bekasi Ajun Komisaris Rizal Marito mengatakan, polisi tak butuh lama mengungkap kasus tersebut. Menurut dia, pelakunya tak lain merupakan suaminya sendiri. “Ikut mengantar ke rumah sakit hanya alibi,” kata dia. Menurut dia, polisi mengungkap kasus tersebut setelah melakukan penyelidikan, dengan memintai keterangan sejumlah saksi. Hasilnya, pelaku dicurigai merupakan suaminya sendiri, karena orang terakhir bersama dengan korban. “Tersangka sudah mengakui perbuatannya,” ujar dia. Baca: Pembunuhan Sopir Bajaj, Dua Anggota Ormas Ditangkap   Adapun motifnya, kata dia, tersangka nekat melakukan penganiayaan lantaran dibakar api cemburu. Sebab, korban bekerja sebagai pelayan di sebuah tempat hiburan malam. Karena itu, keduanya terlibat cek-cok mulut hingga berujung pada penganiyaan korban. “Kami masih mendalami motifnya,” kata dia. Tersangka kini mendekam di sel tahanan Polsek Cikarang Timur untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Penyidik menjeratnya dengan pasal 351 Kitab Undang-undang Hukum Pidana ancamannya di atas 10 tahun penjara. ADI WARSONO

Lely Lismawati (39) ditemukan tewas dengan luka di bagian kepala di rumahnya, Perum Seroja RT 03 RW 05, Harapan Jaya, Kota Bekasi. Lely tewas akibat dianiaya Saadin Muksin (40), suaminya. “Pelaku suami korban,” kata Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota dalam keterangannya, Rabu (1/3/2018). Jasad Lely ditemukan sekitar pukul 09.30 WIB. Dedy menambahkan, saat ditemukan, kondisi jasad Lely mengalami luka akibat benda tumpul di kepala dan luka pada bibir. “Terdapat luka bekas pukulan benda tumpul di bagian kepala dan luka bibir atas sebelah kanan bekas pukulan,” kata Dedy. Lely Lismawati (39) ditemukan tewas dengan luka di bagian kepala di rumahnya, Perum Seroja RT 03 RW 05, Harapan Jaya, Kota Bekasi. (Istimewa) Menurut Dedy, saat penganiayaan, tidak ada saksi yang melihat. Kedua anak korban juga masih berada di sekolah. Namun, berdasarkan keterangan saksi, dari rumah korban terdengar keributan sekitar pukul 07.30 WIB. “Dari keterangan saksi bahwa sekitar pukul 07.30 WIB terdengar ribut dari dalam rumah korban, tapi dia nggak berani masuk,” ungkapnya. Pelaku saat ini sudah ditangkap dan ditahan di Polres Metro Bekasi Kota. “Pelaku saat ini sudah diamankan di Polres Metro Bekasi Kota,” ujar dia.

Korban mengalami luka serius di bagian kepala. ”Korban mengembuskan napas terakhir pada Sabtu(27/1) pukul 11.45 WIB. Se belumnya dia sudah dirawat selama empat hari di RS Polri Kramat Jati,” ujar Kapolsek Beji Kompol Yenni Angraeni kemarin. Saat ini pelaku telah di tang – kap berikut barang bukti martil. PelakudijeratPasal44UUNo23 Tahun 2004 tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Pasal 351 KUHP. Penganiayaan tersebut ber mula ketika F, 80, suami kor ban, naik pitam. Saat itu kor ban tidak memberinya ma – kan, padahal F harus minum obat.

seperti di kutip dari http://koran-sindo.com

Pelaku sudah berkali-kali meminta makanan kepada istrinya, tetapi tak digubris. Kesaldengansikapistri nya, F mengambil martil yang ada di rumahnya. Pelaku me mukul sang istri berkali-kali hingga terjatuh. Korban pun ber lumuran darah. ”Saya khilaf dan emosi. Martil di ember saya ambil buat mukul,” kata F di hadapan polisi. Melihat kondisi Kartini yang bersimbah darah, anakanaknya langsung membawa korban ke rumah sakit. Semen – tara F yang panik memukul dirinya hingga mengalami luka di keningnya.

seperti di kutip dari http://koran-sindo.com

Di bagian lain, geng motor kembali berulah di wilayah hu – kum Bekasi. Kali ini seorang pe – lajarSMAterkaparakibatdi bacok geng motor di Jalan Raya Seroja RT 03/18, Kelurah an Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, kemarin. Muham – madJafarSofyan, 16, meng alami luka bacok di bagian paha kiri sehingga dievakuasi ke Rumah Sakit Seto Hasbadi Bekasi. Kapolrestro Bekasi Kota Kombes Pol Indarto menga ta – kan, pengeroyokan itu terjadi di depan cuci steam motor Orange. Korban bersama dela – pan temannya sedang kumpul, tiba-tiba mereka dihampiri kelompok bermotor. Anggota geng motor yang diperkirakan berjumlah 20 orang itu datang sambil membawa berbagai senjata tajam.

seperti di kutip dari http://koran-sindo.com

Mereka menantang kelom – pok korban yang sedang ber – kum pul. Takut menjadi kor ban kekerasan, Jafar bersama teman-temannya berusaha ka – bur. Sayangnya korban ber hasil dikepung hingga di kero yok oleh para pelaku. Salah satu pelaku langsung menge luar kan celurit, kemudian membacok – kan celurit ke paha kiri korban. Tak hanya itu, pelaku mem – bacok kepala korban. Melihat korbannya terkapar, pelaku bergegas melarikan diri. Teman korban meminta pertolongan warga untuk mem bawa korban ke rumah sakit. Polisi yang mendapat laporan bergegas ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

seperti di kutip dari http://koran-sindo.com

”Ka – sus nya masih ditangani penyi – dik. Kami sedang memburu pelakunya,” kata Indarto. Berdasarkan keterangan korban, anggota geng motor berasal dari Kampung Pisang Batu, Kecamatan Medan Satria dan kabur ke sekitar Pasar Bungur. Polisi berhasil menangkap 26 remaja yang diduga pelaku pembacokan dan pengeroyokan korban. Pengembangan pun terus dilakukan. Dua remaja lainnya langsung ditangkap anggota Polrestro Bekasi Kota yang sedang menggelar patroli. Ada – pun tujuh orang lagi ditangkap anggota Polsek Bekasi Utara.

Related Posts

Comments are closed.