Sopir Angkot Tanah Abang Mengeluh, Sandi: Mestinya Tak Mengganggu

Sopir Angkot Tanah Abang Mengeluh, Sandi: Mestinya Tak Mengganggu

Sejumlah sopir angkot mengaku pendapatannya menurun karena tidak dapat mengangkut penumpang yang turun di depan Stasiun Tanah Abang. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan nantinya para sopir akan terbiasa dengan pengalihan arus yang dilakukan. Menurutnya, berdasarkan data Pemprov DKI, pengaturan yang dilakukan di Tanah Abang tak akan mengganggu. Dia menyebut penataan yang dilakukan sudah didasari data integrasi. “Kita pastikan mereka terbiasa dengan flow seperti ini karena, berdasarkan data yang kami miliki, mestinya tidak mengganggu karena ada data terintegrasinya,” kata Sandiaga di Jl Jatibaru Raya, Jakarta Pusat, Selasa (26/12/2017). Ia mengaku akan mengkaji data yang ada terkait penurunan pendapatan sopir angkot dan ojek pangkalan yang mata pencariannya bersumber dari penumpang di sekitar stasiun. “Jadi nanti kita akan lihat dulu. Kita tidak mau anekdotal. Kita mau berbasis data semuanya dan teman-teman ojek pangkalan ini kebanyakan warga sini, ojek pangkalan itu dari masyarakat sini yang kita harus tangkap apakah mereka betul-betul mengalami penurunan pendapatan,” kata Sandi. Ia mengaku akan meninjau kembali penataan kawasan Tanah Abang ini. Sebab, jika pendapatan PKL meningkat, hal itu tidak boleh menurunkan mata pencarian warga lainnya. Sandi mengatakan akan memastikan akan berpihak kepada masyarakat kecil. “Sementara PKL naik kan tidak boleh mereka (yang lain) malah turun. Kita harus adil dan mereka yang kemarin ini tujuan kami memastikan sebelum ini termarjinalkan menjadi sasaran dari kebijakan yang berpihak pada ekonomi akar rumput,” ucap Sandi. “Keinginan kita untuk tidak memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin. Tapi untuk memastikan lapangan kerja tercipta dan jurang itu yang pemerintah pusat Pak Jokowi pesan sekali ini embrio masalah sosial kalau mereka tidak ditangani dengan baik,” ungkapnya. Sementara itu, guna menanggapi soal kemacetan dampak ditutupnya Jalan Jatibaru Raya, Sandi mengaku hasil studi tentang kemacetan akan keluar 4 hari lagi. Ia yakin hasil studi itu menyebut jalan yang ditutup tidak menimbulkan kemacetan. “Ada studinya sekitar 3-4 hari lagi tentang evaporasi kemacetan kalau jalan ditutup itu bukan menambah macet, tapi malah hilang. Kita evaluasi semua satu per satu, jangan dipukul rata gini ,” ucapnya.

Baca juga : Desi.Siswa.SMK.Penjual.Slondok.Masih.Menunggak.SPP

SLEMAN, KOMPAS.com  — Kisah Desi Priharyana (17), siswa SMKN 2 Yogyakarta, yang bersekolah sembari berjualan slondok dan menjaga toko pada malam hari membukakan mata banyak orang tentang apa arti keuletan, kegigihan, dan bakti anak kepada orangtua. Yang luput dari perhatian khalayak, ternyata ia belum tahu berapa biaya sekolahnya per bulan karena hingga kini ia masih menunggak SPP sejak permulaan tahun ajaran baru Juli 2013 lalu. Dalam kondisi orangtuanya yang tak lagi mampu membiayai sekolahnya, Desi tak putus asa. Menyerah juga tak ada dalam kosakata hidupnya. Terlebih lagi, ibunya juga sudah meninggal sedari ia kecil sehingga kini ia hidup bersama ayahnya yang mulai menua dan satu adik perempuannya. Sejak SMP, remaja asal Toino, Pendowoharjo, Sleman, ini berjualan slondok, cemilan yang terbuat dari singkong yang dipilin dan dibentuk seperti donat berukuran mungil lalu digoreng. Di daerah lain, slondok dikenal sebagai lanting. Dari hasil berjualan penganan ringan ini, Desi bisa membiayai sekolahnya sendiri , membeli sepeda untuk “kendaraan operasional bisnis” yang sekaligus mengantarnya pergi pulang ke sekolah. Ia juga masih menyisihkan penghasilannya dengan memberikan adiknya uang jajan setiap hari. Sebagai anak, Desi nyaris tak pernah merepotkan orangtuanya. Tanpa menyombongkan diri, ia mengaku tidak pernah meminta apa pun dari orangtuanya yang bersifat materi. “Saya hanya minta doa restu dari mereka,” ujarnya. Ketika kisahnya dimuat oleh Kompas.com dan kemudian beredar di media sosial, ia mengaku kewalahan menerima panggilan telepon. ” Buuaanyaaak banget yang menelepon, Pak. Kebanyakan mau wawancara,” katanya melalui telepon yang dikutip dari IDEBISNIS . “Besok-besok saya mungkin harus menitipkan HP saya ini ke BK (Bimbingan Konseling) biar nggak mengganggu pelajaran,” tambahnya. Saat dihubungi IDEBISNIS (23/1/2014), ia tengah dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju ke rumahnya. “Tinggal kira-kira empat kilo lagi sampai rumah, kok,” ujarnya tanpa nada mengeluh. IDEBISNIS yang sejak semalam (22/1/2014) telah coba menghubungi Desi melalui telepon dan SMS, baru sehari setelahnya mendapatkan jawaban melalui SMS. Dalam SMS balasannya, tak lupa Desi mencantumkan pesan: (psn slondok sms ke 08XXXXXX). Semula, IDEBISNIS menghubungi Desi karena ada pembaca yang menanyakan bagaimana membantu Desi. Namun, ketika ditanyakan berapa biaya sekolahnya per bulan, ia mengaku belum tahu karena sejak bulan Juli 2013 sampai sekarang, ia belum sanggup membayarnya. “Mungkin kira-kira sekitar 100.000 per bulan, besok saya tanyakan ke bagian tata usaha sekolah,” katanya.   Inspiratif Selain kisahnya yang menginspirasi dan menggugah banyak orang , terlihat juga bahwa Desi adalah pebisnis ulet dalam skala mikro. Ia berbisnis untuk menghidupi dirinya dan adiknya, dan meringankan orangtuanya yang sudah tidak lagi bekerja karena sudah tua. Desi menjual slondoknya di tempat-tempat yang ia lewati dalam perjalanan dari rumah ke sekolah sehingga distribusinya terjaga setiap hari, dan ia tak kesulitan untuk membagi waktu antara menunaikan tugas sekolah dan menjalankan bisnis . Bahkan, kepada orang yang belum dikenalnya pun, ia sudah memasarkan slondoknya sebagaimana terbaca dari pesan SMS kepada IDEBISNIS . Dari slondok itu pulalah kini ia bisa memiliki peralatan kerja, yakni sebuah sepeda ontel tua, keranjang dari bambu yang menggantung di boncengan sepedanya, juga sebuah ponsel. “Ini semua dari slondok,” akunya jujur. Ia juga memperlakukan relasi bisnisnya secara baik, bahkan menjadikannya peluang. Dari toko plastik langganannya, ia mendapat tawaran untuk menjadi penjaga malam toko itu. “Saya masih bisa belajar sambil menjaga toko. Lumayan bisa buat tambah-tambah,” ujarnya. Peluang itu bisa didapatnya karena pemilik toko plastik itu melihat dia dapat dipercaya. Dari pos polisi di perempatan Jetis persis di depan sekolahnya, ia mendapatkan langganan yang rutin membeli slondoknya.

Sejumlah sopir angkot mengaku pendapatannya menurun karena tidak dapat mengangkut penumpang yang turun di depan Stasiun Tanah Abang. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan nantinya para sopir akan terbiasa dengan pengalihan arus yang dilakukan. Menurutnya, berdasarkan data Pemprov DKI, pengaturan yang dilakukan di Tanah Abang tak akan mengganggu. Dia menyebut penataan yang dilakukan sudah didasari data integrasi. “Kita pastikan mereka terbiasa dengan flow seperti ini karena, berdasarkan data yang kami miliki, mestinya tidak mengganggu karena ada data terintegrasinya,” kata Sandiaga di Jl Jatibaru Raya, Jakarta Pusat, Selasa (26/12/2017). Ia mengaku akan mengkaji data yang ada terkait penurunan pendapatan sopir angkot dan ojek pangkalan yang mata pencariannya bersumber dari penumpang di sekitar stasiun. “Jadi nanti kita akan lihat dulu. Kita tidak mau anekdotal. Kita mau berbasis data semuanya dan teman-teman ojek pangkalan ini kebanyakan warga sini, ojek pangkalan itu dari masyarakat sini yang kita harus tangkap apakah mereka betul-betul mengalami penurunan pendapatan,” kata Sandi. Ia mengaku akan meninjau kembali penataan kawasan Tanah Abang ini. Sebab, jika pendapatan PKL meningkat, hal itu tidak boleh menurunkan mata pencarian warga lainnya. Sandi mengatakan akan memastikan akan berpihak kepada masyarakat kecil. “Sementara PKL naik kan tidak boleh mereka (yang lain) malah turun. Kita harus adil dan mereka yang kemarin ini tujuan kami memastikan sebelum ini termarjinalkan menjadi sasaran dari kebijakan yang berpihak pada ekonomi akar rumput,” ucap Sandi. “Keinginan kita untuk tidak memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin. Tapi untuk memastikan lapangan kerja tercipta dan jurang itu yang pemerintah pusat Pak Jokowi pesan sekali ini embrio masalah sosial kalau mereka tidak ditangani dengan baik,” ungkapnya. Sementara itu, guna menanggapi soal kemacetan dampak ditutupnya Jalan Jatibaru Raya, Sandi mengaku hasil studi tentang kemacetan akan keluar 4 hari lagi. Ia yakin hasil studi itu menyebut jalan yang ditutup tidak menimbulkan kemacetan. “Ada studinya sekitar 3-4 hari lagi tentang evaporasi kemacetan kalau jalan ditutup itu bukan menambah macet, tapi malah hilang. Kita evaluasi semua satu per satu, jangan dipukul rata gini ,” ucapnya.

Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno menuju Tanah Abang (Foto: Adhim Mugni/kumparan) Para sopir angkot mengeluhkan kebijakan Pemprov DKI Jakarta dalam menata kawasan Tanah Abang. Mereka kecewa rute angkot dipindah sehingga pemasukan berkurang. Dalam penataan baru kawasan Tanah Abang, Pemprov DKI memindahkan jalur angkot dan seluruh kendaraan umum yang melintasi Jalan Jatibaru. Selama pukul 08.00-18.00 WIB, ruas jalan itu hanya dapat dilintasi bus Tanah Abang Explorer yang berlaku gratis untuk semua warga. Bagian lajur kiri Jalan Jatibaru dipasang tenda-tenda PKL untuk berjualan. Selepas pukul 18.00 WIB seluruh tenda dibongkar, bus Tanah Abang Explorer berhenti beroperasi, dan angkot-angkot dapat kembali melintas. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, menanggapi keluhan para sopir angkot tersebut. Di sela-sela tinjauannya ke kawasan Pasar Tanah Abang, Sandi meminta para sopir angkot untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan Pemprov DKI tersebut. “Kita pastikan mereka terbiasa dengan flow seperti ini karena berdasarkan data yang kami miliki mestinya tidak mengganggu karena ada data terintegrasinya,” kata Sandi di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (26/12). Pasar Tanah Abang (Foto: Adhim Mugni/kumparan) Sandi mengatakan, pihaknya akan terus mengevaluasi penataan Tanah Abang. Sandi memastikan Pemprov DKI selalu mendengarkan aspirasi masyarakat. “Jadi nanti kita akan lihat dulu, kita enggak mau anekdotal. Kita mau berbasis data semuanya dan teman-teman ojek pangkalan ini kebanyakan warga sini, yang kita harus tangkap apakah mereka betul-betul mengalami penurunan pendapatan,” tutur Sandi. Kemacetan di Tanah Abang (Foto: Adhim Mugni/kumparan) Dia menegaskan, tujuan penataan kawasan Tanah Abang adalah demi kesejahteraan masyarakat. Menurutnya penataan Tanah Abang adalah untuk tidak memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin. “Kita harus adil dan mereka yg kemarin ini tujuan kami memastikan sebelum ini termarginalkan menjadi sasaran dari kebijakan yang berpihak pada ekonomi akar rumput,” tuturnya.

Related Posts

Comments are closed.