Soal Cawapres Prabowo, Gerindra: Idealnya Nasionalis-Religius

Soal Cawapres Prabowo, Gerindra: Idealnya Nasionalis-Religius

Gerindra belum memutuskan bakal cawapres untuk mendampingi Prabowo Subianto di Pilpres. Namun Gerindra mengatakan, cawapres ideal Prabowo adalah sosok religius. “Memang beliau (Prabowo) nasionalis. Tidak bermaksud mengabaikan agama. Dia Pancasila. Pertimbangan agama tentu jadi pertimbangan. Tapi bukan satu-satunya. Idealnya memang nasionalis-religius,” kata Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (12/1/2018). Foto: Ahmad Riza Patria (Andhika Prasetia/detikcom) Gerindra terus mencermati situasi terkini sebelum memutuskan cawapres untuk Prabowo. Tak menutup kemungkinan ada figur baru yang diusung jadi cawapres. “Kami belum menginventarisasi nama-nama wapres (untuk Prabowo). Tapi yang pasti, kami belajar dari Pilpres sebelumnya. Yang pasti kami akan lihat hasil survei,” ucap Riza. “Kita lihat saja sekarang nama-namanya yang berkembang siapa. Tapi kan tidak menutup kemungkinan ada nama baru,” imbuhnya. Prabowo saat duet dengan Hatta Radjasa di Pilpres 2014. (Foto: dok. detikcom) Riza menegaskan, sangat tak mungkin Gerindra mengusung Prabowo menjadi cawapres. Apa alasannya? “Masa mau jadi wapres? Sudah berjuang pagi, siang, malam, bertahun-tahun berkorban segala macam. Kalau jadi wapres kan tidak bisa memperjuangkan visi, misi, program, gagasan, ide,” kata Riza.

Alumni 212 kecewa terhadap Gerindra, PKS, dan PAN karena nama-nama yang mereka sodorkan di pilkada serentak tak diakomodasi. Mereka akan berkonsultasi dengan Habib Rizieq. “Ya dalam konteks itu kita kecewa, tapi kita masih berproses untuk saling menasihati,” kata pembina Presidum Alumni 212, Eggi Sudjana. Hal itu disampaikan Eggi setelah mengikuti demonstrasi di depan kantor Facebook, Jl Gatot Subroto, Jumat (12/1/2018). Eggi menyatakan tidak ada istilah ‘pecah’. Komunikasi dengan tiga partai yang dianggap merepresentasikan umat Islam itu akan terus dilakukan. “Saya sebagai penasihat 212 tidak ada istilah ‘pecah’, cuma kita akan lebih intens menasihati partai yang kita anggap koalisi umat koalisi umat itu kan Gerindra, PKS, PAN. Tapi di beberapa tempat sudah bagus, di tempat lain yang sudah rekomendasi teman-teman ulama ini tidak diperhatikan dan itu kita belum rapat lagi bagaimana,” kata Eggi. Eggi mengatakan Alumni 212 akan segera berkomunikasi dengan Habib Rizieq yang saat ini masih berada di Arab Saudi. Apa langkah yang diambil ditentukan dari hasil pembicaraan dengan pembina GNPF MUI tersebut. “Dalam waktu dekat, kita akan rapat. Kita koordinasi dengan Habib Rizieq dulu. Karena kita ulama ini dipimpin Habib Rizieq,” kata Eggi.

La Nyalla, yang gagal maju di Pilgub Jatim, menuding Ketum Gerindra Prabowo Subianto sudah meminta miliaran Rupiah. Melihat lagi ke belakang, Gerindra sempat menerbitkan surat tugas untuk La Nyalla yang kemudian dibalas. Surat tugas itu diterbitkan pada 10 Desember 2017 lalu atau sekitar sebulan sebelum pendaftaran Pilkada 2018 dibuka. Ada 4 poin dalam surat yang ditandatangani oleh Prabowo dan Sekjen Gerindra Ahmad Muzani. Ini isi suratnya: Kepada Yth La Nyalla Matalitti (Calon Gubernur Jawa Timur) di Tempat Salam Indonesia Raya…! 1. Usulan Saudara tentang pencalonan Gubernur Jawa Timur Periode 2018-2023 saat ini sedang diproses di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai GERINDRA 2. Melalui surat tugas ini, Saudara diminta memastikan dukungan dari partai lain untuk melengkapi persyaratan pencalonan 3. Melalui surat tugas ini, Saudara diminta menyiapkan kelengkapan pemenangan 4. Apabila sampai tanggal 20 Desember 2017 Saudara tidak mampu memenuhi persyaratan nomor 2 dan 3, maka surat ini otomatis tidak berlaku 5. Demikian disampaikan untuk disampaikan dengan sebaik-baiknya Jakarta, 10 Desember 2017 DEWAN PIMPINAN PUSAT PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA (DPP PARTAI GERINDRA) Ketua Dewan Pemmbina/Ketua Umum H. Prabowo Subianto Sekretaris Jenderal H. Ahmad Muzani Hingga deadline 20 Desember 2017, La Nyalla ternyata tidak bisa memenuhi syarat dari Gerindra karena tidak mendapat dukungan PAN meski sudah menjalin komunikasi. Akhirnnya, dia menyurati Prabowo yang isinya pengembalian mandat terkait pencalonan dirinya di Pilgub Jatim 2018. Ini isi surat dari La Nyalla ke Prabowo: Ketua Umum Partai Gerindra Bapak Prabowo Subianto Di Jakarta Assalamu’alaikum Wr. Wb. Seiring dengan berakhirnya batas waktu surat penugasan kepada saya untuk melakukan upaya politik dengan mencari dukungan koalisi partai pengusung di Pilgub Jatim, maka perlu saya sampaikan beberapa hal di bawah ini: Saya telah berupaya menjalin komunikasi politik dengan Partai Amanat Nasional (PAN) guna memenuhi syarat pencalonan. Saya juga telah bertemu dan berkomunikasi langsung dengan Ketua Umum PAN, Saudara Zulkifli Hasan. Hingga batas waktu penugasan dari Partai Gerindra, belum ada keputusan dan sikap politik dari Ketua Umum PAN, Saudara Zulkifli Hasan terkait diri saya. Atas hal tersebut, saya kembalikan mandat penugasan tersebut kepada Bapak selaku pemberi tugas. Selanjutnya, sebagai kader, saya serahkan semua keputusan politik kepada Partai Gerindra. Demikian surat ini saya sampaikan. Terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Jakarta, 21 Desember 2017 La Nyalla Mahmud Mattalitti Pada akhirnya, Gerindra mengusung Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur di Pilgub Jatim. La Nyalla yang tidak mendapat tiket lalu blak-blakkan menuding Prabowo meminta puluhan miliar Rupiah.

Kasus pelecehan seksual terhadap perempuan kembali terjadi. Pelaku bahkan beraksi di ruang publik. Seperti dialami oleh seorang perempuan berinisial AM (22). AM saat itu sedang melintas di Jalan Kuningan Datuk Margonda, Beji, Depok, Jawa Barat, Kamis (11/1) kemarin sekitar pukul 14.29 WIB. “Iya, kejadiannya kemarin,” ujar AM saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (12/1/2018). Peristiwa itu terekam kamera CCTV di rumah salah satu warga. Dalam rekaman CCTV yang tersebar di media sosial, tampak pelaku menaiki motor, melintasi korban yang sedang berjalan kaki. “Saya dari rumah mau ke Stasiun Pondok Cina saat itu,” kata AM. Tiba-tiba, datang pelaku bermotor B 3720 EA memelankan motornya ketika mendekati korban. Selanjutnya pelaku dengan tangan kirinya meremas payudara korban. Seketika korban kaget dan meneriakinya. Namun pelaku terlanjut melarikan diri dengan motornya. [Gambas:Video 20detik]

Seorang perempuan menghadiri resepsi pernikahan mantan kekasihnya, Nokies Febrianto, dan menyanyikan lagu dalam acara itu. Nokies tiba-tiba pingsan mengetahui kedatangan mantannya. Siapa perempuan tersebut? Mantan yang membuat Nokies tak kuasa menahan romantika masa lalunya itu bernama Novi. Kala itu, Novi membawakan lagu daerah Bugis yang berjudul ‘Balo Lipa’, yang berarti motif sarung. Lagu itu memiliki makna mendalam yang bermakna ‘luntur, cinta yang mudah hilang’. Lagu ini mengekspresikan jiwa yang perih ketika harus menyaksikan sang mantan duduk di pelaminan. Berikut ini isi lagu ‘Balo Lipa’ yang disadur detikcom , Jumat (12/1/2018): Lemmusa nyawamu anri Musolangi atikku Engkamu tudang botting Riyolo matakku Bennengngi wisseng Memeng Mappoji balo lipami Rimulanna mopa Nade’ tosirampe Nade’ tosirampe Reff. Kessipparo adammu Riwettu siolota Nakkullenaro anri Musolangi atikku Monro ale ale Madoko watakkale Bennengngi wisseng Memeng Mappoji balo lipami Rimulanna mopa Nade’ tosirampe Nade’ tosirampe Terjemahan syair lagu di atas adalah: Sungguh tega dirimu adik Kau sakiti hatiku Kau duduk bersanding di pelaminan Di depan mataku Andai saja kutahu Sejak dahulu Kau suka aku bagai motif sarung Pada awalnya, aku tak akan memulai hubungan Tak akan saling mengingat Tak akan saling mengingat Sungguh manis kata-katamu di depanku Di masa lalu Teganya dirimu Kau sakiti hatiku Tinggallah aku sendiri Merenungkan nasib diri Andai saja kutahu sejak dahulu Kau suka aku bagai motif sarung Pada awalnya, aku tak akan memulai hubungan Tak akan saling mengingat Tak akan saling mengingat Sebagaimana diberitakan, pernikahan itu digelar di Kecamatan Penrang, Kabupaten Wajo, Sulsel, pada Rabu (10/1) lalu.

Presidium Alumni 212 kecewa karena nama-nama calon kepala daerah yang diajukan ditolak oleh koalisi Gerindra-PAN-PKS. Wakil Ketua Umum Gerindra Ferry Juliantono menyatakan permohonan maaf. “Usulan yang disampaikan tentu dipertimbangkan dengan semua aspeknya. Kami minta maaf dengan segala hormat tidak bisa memuaskan semua pihak,” ujar Ferry saat dihubungi, Jumat (12/1/2018). Ia pun menyampaikan alasan nama-nama kandidat kepala daerah usulan ulama itu tidak diusung oleh partainya. Menurut Ferry, penolakan tersebut semata-mata karena realitas politik yang tidak memungkinkan. “Karena memang ada keterbatasan partai dalam realitas politik yang ada dalam demokrasi liberal. Ini perjuangan kita semua ke depan supaya demokrasi di Indonesia lebih baik,” katanya. Pernyataan Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Al Khaththath yang juga almuni 212 dapat dilihat di 20detik.com [Gambas:Video 20detik] Ferry menilai ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh partai untuk mengusung seorang calon kepala daerah. Di antaranya kecukupan jumlah kursi di DPRD, pertimbangan hasil survei, dan keputusan yang harus melibatkan partai lain. “Realitas politik mensyaratkan tentang kecukupan jumlah kursi yang membuat kita harus kompromi serta mempertimbangkan hasil survei yang ada,” tutur Ferry. “Ada yang berada di luar kekuasaan partai secara otonom dan tentu terkadang tidak bisa memuaskan,” imbuhnya. Namun Ferry menyampaikan tetap bersimpati terhadap aksi bela Islam yang telah dilakukan Presidium Alumni 212. Ia berharap para ulama dan Presidium Alumni 212 dapat memahami keputusan partainya. “Partai Gerindra memiliki sikap yang jelas dengan menentang UU Ormas dan tentu bersimpati terhadap gerakan bela Islam,” ucapnya. “Saya mengharapkan teman-teman memahami ini dan tidak mengurangi keikhlasan nilai perjuangan yang ada dengan kekecewaan yang dilatarbelakangi karena soal pilkada. Insyaallah Pak Prabowo dan Partai Gerindra konsisten memperjuangkan keadilan,” sambung Ferry. Kekecewaan Alumni 212 terhadap PKS-PAN-Gerindra awalnya diungkap oleh Sekjen Forum Umat Islam Al-Khaththath. Pria bernama asli Gatot itu mengungkapkan, dari 5 tokoh yang disorongkan Alumni 212 ke PKS-PAN-Gerindra, tak satu pun diusung menjadi calon kepala daerah. “Jadi, dari lima nama, salah satunya Mas La Nyalla, itu tidak satu pun yang diberi rekom. Kita kan menganggap para ulama sudah memperjuangkan dengan pengerahan Aksi Bela Islam 212 yang sangat fenomenal dan kita di Jakarta sudah berhasil memunculkan Gubernur Anies-Sandi,” ujar Al-Khaththath kemarin. Mengenai nama-nama 5 tokoh yang diajukan tersebut, Ferry pun enggan membeberkan. “Saya lupa persisnya,” tandasnya.

Ketua Presidium Alumni 212 Slamet Maarif menilai ada pihak yang diuntungkan dari perseteruan La Nyalla Mattalitti dengan Gerindra-Prabowo. Slamet menilai rezim Jokowi diuntungkan. “Kini rezim Jokowi senang sekali dengan perseteruan ini. Tetaplah tenang dan istikamah menegakkan spirit 212, memperjuangkan Al-Maidah 51 dengan menjaga persatuan umat yang sudah terbina dalam 212,” kata Slamet dalam pernyataan tertulis, Jumat (12/1/2018). Slamet mengatakan, meski Alumni 212 kecewa terhadap PKS-PAN-Gerindra yang menolak calon-calon kepala daerah rekomendasi para ulama, kekecewaan itu harus disikapi dengan bijak. Jika kekecewaan itu dibiarkan berlarut-larut, dia khawatir umat mengalami kerugian. “Dengan arahan ulama dan imam kita, insyaallah dalam Mukernas akhir Januari ini akan diambil keputusan resmi PA 212,” ujar Slamet.

TEMPO.CO , Jakarta – Pemilu Presiden masih 2019, namun aroma persaingan sudah terasa di sepanjang tahun 2017. Sejumlah lembaga survei menyigi tokoh-tokoh yang diprediksi maju dalam pemilihan. Hasilnya, di sejumlah jajak pendapat pertarungan masih diwarnai antara Presiden Joko Widodo  atau Jokowi di posisi teratas, jauh di atas pesaing terdekatnya, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto,  Ketua Umum Partai Gerindra yang juga rivalnya di tahun 2014. Popularitas dan Elektabilitas Jokowi sebagai petahana menurut Direktur Indo Barometer Muhammad Qodari, membuat cemas partai politik yang hendak menantanganya. Dari sekian partai politik, hanya Gerindra yang memunculkan pesaing Jokowi untuk kursi Presiden yaitu Prabowo. Alhasil, maka isu paling sensitif dan sengit justru soal rebutan wakil presiden. “Kursi calon wakil presiden lebih beragam dan banyak nama,” katanya. Baca:  Survei Indo Barometer: Jokowi 34,9 Persen, Prabowo 12,1 Persen Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago menganggap meski baru dua nama capres yang menonjol, Pangi menyakini ada poros ketiga yang dibentuk partai yang tidak mendukung dua tokoh itu. “Hanya ada tiga kemungkinan itu, dan jika poros ketiga ingin mengusung calon mestinya adalah antitesis dari sosok Jokowi atau Prabowo,” kata Pangi saat dihubungi Tempo pada Ahad, 24 Desmeber 2017.

seperti di kutip dari https://nasional.tempo.co

Pangi mengatakan peta dukungan terlihat sejak pengesahan Rancangan Undang-Undang Pemilu dengan Presiden Treshold 20 persen, bisa dilihat sebagai peta suara dukungan kepada Jokowi. Partai yang mendukung UU tersebut, yaitu PDIP, Golkar, NasDem, PPP, Hanura, dan PKB, cenderung akan mengarahkan dukungan pada Jokowi. Sementara itu, empat partai lain, yaitu Gerindra, Demokrat, PKS, dan PAN, yang memilih walkout dalam sidang itu, diprediski akan mengusung kandidat pesaing Jokowi. Baca:  Pengamat Prediksi Bakal Ada 3 Poros Ini di Pilpres 2019 Banyak nama calon wapres beredar di banyak partai. Demokrat misalnya, rajin mengusung nama Agus Harimurty setelah kekalahan Agus di Pilkada DKI. Ada puka Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo. “Tapi banyak kemungkinan akan terjadi dalam dua tahun ini, entah Prabowo akan menyerahkan mandat kepada calon lain, kita tidak bisa prediksi sekarang,” ujarnya. Nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga muncul. Siapa pun yang dipilih Jokowi atau Prabowo, tentulah sangat menentukan bukan hanya karena wakil presiden, tapi apakah calon pendamping melengkapi pasangannya atau tidak. Terutama yang memiliki ceruk pemilih yang tak ada dalam dirinya. “Kalau Jokowi nasional sekuler, maka wakilnya harus nasional religius,” kata Pangi. TIM TEMPO

Merdeka.com – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menghadiri aksi bela Rohingya 169 yang digelar di depan Patung Kuda, Jakarta Pusat. Dia sempat mengucapkan rasa belasungkawa dan solidaritas atas peristiwa kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya yang berada di Rakhine, Myanmar. Namun siapa yang menyangka, mantan Danjen Kopassus ini sempat menghibur massa aksi yang sudah mulai berkumpul sejak pukul 09.00 Wib. Dengan mengenakan kaca mata dan topi berlambang Partai Gerindra, dia mulai berorasi. Saat menaiki panggung, Prabowo nampak percaya diri. Bahkan, dia sempat berkelakar soal perbedaan Partai Gerindra dengan PKS. Walaupun berbeda secara ideologi, kedua partai yang selalu menjalin koalisi ini sebenarnya tidak memiliki perbedaan yang mendasar. Prabowo mengatakan, PKS merupakan partai religius dan agamis. Sedangkan partai Gerindra adalah partai nasionalis kebangsaan. Pernyataan ini disampaikan di depan massa Aksi bela rohingya 169 yang digelar di depan Patung Kuda, Jakarta Pusat. “Tau bedanya partai agamis atau religius dengan kebangsaan? Bedanya gak terlalu banyak. PKS itu adalah partai religius yang nasionalis. Gerindra adalah partai nasionalis yang religius,” katanya, Sabtu (16/9). Selain itu, Prabowo juga sempat membuat seluruh peserta aksi tertawa. Dia menjelaskan, PKS yang merupakan partai religius lebih banyak salat dan ada baca buku. “Kalau Gerindra itu partai kebangsaan, banyak bacanya ada salat-nya. Gue gak berani bilang banyak salatnya, (tapi) masih ada,” ujarnya. Mantan suami Titiek Soeharto ini juga menyinggung kebiasaan kader PKS yang kerap rapat menggunakan kopiah. Seakan tidak mau kalah, dia mengklaim memiliki satu walaupun sedang bokek. “PKS kalau kumpul pakai kopiah, saya juga pakai kopiah. Mana kopiah saya. Jangan dibilang partai kebangsaan gak punya kopiah. Kopiah gue mana nih,” katanya sontak membuat massa aksi tertawa. Sempat ditawarkan menggunakan kopiah salah satu panitia, namun ditolak oleh Prabowo. “Jangan suka pakai kopiah orang lain, nanti disangka gak punya lagi. Kita apa ya, bokek bokek masih bisa beli kopiah,” ujarnya. Mantan menantu Presiden Soeharto ini bahkan, terang-terangan meniru bagaimana sistem pengkaderan PKS. Sebab dia melihat, kader PKS lebih militan dibandingkan dari Partai Gerindra. “Terus saya tanya, ‘gimana ya PKS kok bisa militan? Pak kaderisasinya di gunung-gunung pak. Pakai tenda.’ Jadi saya nyontek kaderisasi dari PKS,” ujarnya sambil tertawa. Setelah mengetahui informasi tersebut, dia lantas membikin model pelatihan kaderisasi dengan gaya PKS. Yakni di alam terbuka dan menginap di tenda. “Tapi saya lihat, terutama ibu-ibu PKS, disiplin banget. Kader-kader saya, waduh, udah langsung ke warung itu. Tapi akan saya tegur,” tutup Prabowo. [fik]

Related Posts

Comments are closed.