Selama 3 Bulan TNI Obati Anak-anak Penderita Campak di Asmat

Selama 3 Bulan TNI Obati Anak-anak Penderita Campak di Asmat

Satgas Kesehatan Kejadian Luar Biasa (KLB) TNI bersama jajaran Dinas Kesehatan Pemkab Asmat, Papua, menjelajahi distrik-distrik yang ada di Kabupaten Asmat. Mereka hendak memberikan pelayanan kesahatan kepada anak-anak penderita campak dan gizi buruk. “Pada tanggal 19 Januari 2018, para dokter spesialis dan paramedis bersama personel Puskesmas setempat mendatangi rumah-rumah warga dengan melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan pemberian vaksin kepada anak-anak,” kata Dansatgas Kesehatan TNI KLB Asmat Brigjen TNI Asep Setia Gunawan dalam keterangan yang diterima detikcom , Sabtu (20/1/2018). Ada ribuan anak dari sejumlah distrik di Asmat yang mendapatkan layanan kesehatan seperti pemberian vaksin. Khusus untuk perawatan terhadap anak-anak penderita campak akan dilakukan rutin selama 3 bulan. “Tim Kesehatan Daerah, baik dari TNI khususnya dari Kodam XVII/Cenderawasih akan tetap di sini, kita targetkan sampai tiga bulan untuk penanganan campak selanjutnya gizi buruk. Ini konsepnya akan berlanjut oleh pemerintah daerah,” ujar Asep. Asep menuturkan anak-anak yang ada di distrik-distrik di Kabupaten Asmat banyak yang menderita gizi buruk. Selain itu, wabah campak dan difteri juga menyerang mereka. “Data sementara berdasarkan laporan Posko Satgas Kesehatan TNI KLB tanggal 17-19 Januari 2018, sekitar 4.006 warga Asmat telah mendapatkan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan tersebut di antaranya imunisasi 3.511 orang, penanganan gizi buruk 55 orang, pengobatan campak 397 orang, malaria 4 orang, TBC 4 orang, dyapesia 3 orang dan pengobatan tetanus 2 orang,” papar Asep. Selain memberikan layanan kesehatan, Satgas Kesehatan KLB TNI juga memasok bahan kebutuhan warga. Sejumlah bahan yang dipasok di antaranya beras, susu, dan biskuit. “Satgas Kesehatan TNI KLB juga mendistribusikan beberapa logistik yaitu TB 1 (biskuit) 2.100 box, FD 3 (susu) 1.968 box, T2A (nasi) 840 kaleng, T2B (nasi) 1.140 kaleng, T2C (nasi) 1.130 kaleng, makanan tambahan balita 1.344 box, makanan tambahan ibu hamil 588 box, Biskuit Malkist 28 bungkus, beras 280 kg, Biskuat 48 bungkus, pakaian bekas 8 koli dan minyak goreng 900 ml 16 botol,” terang Asep.

Satgas Kesehatan Kejadian Luar Biasa (KLB) TNI bersama jajaran Dinas Kesehatan Pemkab Asmat, Papua, menjelajahi distrik-distrik yang ada di Kabupaten Asmat. Mereka hendak memberikan pelayanan kesahatan kepada anak-anak penderita campak dan gizi buruk. “Pada tanggal 19 Januari 2018, para dokter spesialis dan paramedis bersama personel Puskesmas setempat mendatangi rumah-rumah warga dengan melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan pemberian vaksin kepada anak-anak,” kata Dansatgas Kesehatan TNI KLB Asmat Brigjen TNI Asep Setia Gunawan dalam keterangan yang diterima detikcom , Sabtu (20/1/2018). Ada ribuan anak dari sejumlah distrik di Asmat yang mendapatkan layanan kesehatan seperti pemberian vaksin. Khusus untuk perawatan terhadap anak-anak penderita campak akan dilakukan rutin selama 3 bulan. “Tim Kesehatan Daerah, baik dari TNI khususnya dari Kodam XVII/Cenderawasih akan tetap di sini, kita targetkan sampai tiga bulan untuk penanganan campak selanjutnya gizi buruk. Ini konsepnya akan berlanjut oleh pemerintah daerah,” ujar Asep. Asep menuturkan anak-anak yang ada di distrik-distrik di Kabupaten Asmat banyak yang menderita gizi buruk. Selain itu, wabah campak dan difteri juga menyerang mereka. “Data sementara berdasarkan laporan Posko Satgas Kesehatan TNI KLB tanggal 17-19 Januari 2018, sekitar 4.006 warga Asmat telah mendapatkan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan tersebut di antaranya imunisasi 3.511 orang, penanganan gizi buruk 55 orang, pengobatan campak 397 orang, malaria 4 orang, TBC 4 orang, dyapesia 3 orang dan pengobatan tetanus 2 orang,” papar Asep. Selain memberikan layanan kesehatan, Satgas Kesehatan KLB TNI juga memasok bahan kebutuhan warga. Sejumlah bahan yang dipasok di antaranya beras, susu, dan biskuit. “Satgas Kesehatan TNI KLB juga mendistribusikan beberapa logistik yaitu TB 1 (biskuit) 2.100 box, FD 3 (susu) 1.968 box, T2A (nasi) 840 kaleng, T2B (nasi) 1.140 kaleng, T2C (nasi) 1.130 kaleng, makanan tambahan balita 1.344 box, makanan tambahan ibu hamil 588 box, Biskuit Malkist 28 bungkus, beras 280 kg, Biskuat 48 bungkus, pakaian bekas 8 koli dan minyak goreng 900 ml 16 botol,” terang Asep.

Kabupaten Asmat – Satgas Kesehatan Kejadian Luar Biasa (KLB) TNI bersama jajaran Dinas Kesehatan Pemkab Asmat, Papua, menjelajahi distrik-distrik yang ada di Kabupaten Asmat. Mereka hendak memberikan pelayanan kesahatan kepada anak-anak penderita campak dan gizi buruk. “Pada tanggal 19 Januari 2018, para dokter spesialis dan paramedis bersama personel Puskesmas setempat mendatangi rumah-rumah warga dengan melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan pemberian vaksin kepada anak-anak,” kata Dansatgas Kesehatan TNI KLB Asmat Brigjen TNI Asep Setia Gunawan dalam keterangan yang diterima detikcom , Sabtu (20/1/2018). Ada ribuan anak dari sejumlah distrik di Asmat yang mendapatkan layanan kesehatan seperti pemberian vaksin. Khusus untuk perawatan terhadap anak-anak penderita campak akan dilakukan rutin selama 3 bulan. “Tim Kesehatan Daerah, baik dari TNI khususnya dari Kodam XVII/Cenderawasih akan tetap di sini, kita targetkan sampai tiga bulan untuk penanganan campak selanjutnya gizi buruk. Ini konsepnya akan berlanjut oleh pemerintah daerah,” ujar Asep. Asep menuturkan anak-anak yang ada di distrik-distrik di Kabupaten Asmat banyak yang menderita gizi buruk. Selain itu, wabah campak dan difteri juga menyerang mereka. “Data sementara berdasarkan laporan Posko Satgas Kesehatan TNI KLB tanggal 17-19 Januari 2018, sekitar 4.006 warga Asmat telah mendapatkan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan tersebut di antaranya imunisasi 3.511 orang, penanganan gizi buruk 55 orang, pengobatan campak 397 orang, malaria 4 orang, TBC 4 orang, dyapesia 3 orang dan pengobatan tetanus 2 orang,” papar Asep. Selain memberikan layanan kesehatan, Satgas Kesehatan KLB TNI juga memasok bahan kebutuhan warga. Sejumlah bahan yang dipasok di antaranya beras, susu, dan biskuit. “Satgas Kesehatan TNI KLB juga mendistribusikan beberapa logistik yaitu TB 1 (biskuit) 2.100 box, FD 3 (susu) 1.968 box, T2A (nasi) 840 kaleng, T2B (nasi) 1.140 kaleng, T2C (nasi) 1.130 kaleng, makanan tambahan balita 1.344 box, makanan tambahan ibu hamil 588 box, Biskuit Malkist 28 bungkus, beras 280 kg, Biskuat 48 bungkus, pakaian bekas 8 koli dan minyak goreng 900 ml 16 botol,” terang Asep. (zak/rna)

Satgas Kesehatan Kejadian Luar Biasa (KLB) TNI bersama jajaran Dinas Kesehatan Pemkab Asmat, Papua, menjelajahi distrik-distrik yang ada di Kabupaten Asmat. Mereka hendak memberikan pelayanan kesahatan kepada anak-anak penderita campak dan gizi buruk. “Pada tanggal 19 Januari 2018, para dokter spesialis dan paramedis bersama personel Puskesmas setempat mendatangi rumah-rumah warga dengan melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan pemberian vaksin kepada anak-anak,” kata Dansatgas Kesehatan TNI KLB Asmat Brigjen TNI Asep Setia Gunawan dalam keterangan yang diterima detikcom , Sabtu (20/1/2018). Ada ribuan anak dari sejumlah distrik di Asmat yang mendapatkan layanan kesehatan seperti pemberian vaksin. Khusus untuk perawatan terhadap anak-anak penderita campak akan dilakukan rutin selama 3 bulan. “Tim Kesehatan Daerah, baik dari TNI khususnya dari Kodam XVII/Cenderawasih akan tetap di sini, kita targetkan sampai tiga bulan untuk penanganan campak selanjutnya gizi buruk. Ini konsepnya akan berlanjut oleh pemerintah daerah,” ujar Asep. Asep menuturkan anak-anak yang ada di distrik-distrik di Kabupaten Asmat banyak yang menderita gizi buruk. Selain itu, wabah campak dan difteri juga menyerang mereka. “Data sementara berdasarkan laporan Posko Satgas Kesehatan TNI KLB tanggal 17-19 Januari 2018, sekitar 4.006 warga Asmat telah mendapatkan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan tersebut di antaranya imunisasi 3.511 orang, penanganan gizi buruk 55 orang, pengobatan campak 397 orang, malaria 4 orang, TBC 4 orang, dyapesia 3 orang dan pengobatan tetanus 2 orang,” papar Asep. Selain memberikan layanan kesehatan, Satgas Kesehatan KLB TNI juga memasok bahan kebutuhan warga. Sejumlah bahan yang dipasok di antaranya beras, susu, dan biskuit. “Satgas Kesehatan TNI KLB juga mendistribusikan beberapa logistik yaitu TB 1 (biskuit) 2.100 box, FD 3 (susu) 1.968 box, T2A (nasi) 840 kaleng, T2B (nasi) 1.140 kaleng, T2C (nasi) 1.130 kaleng, makanan tambahan balita 1.344 box, makanan tambahan ibu hamil 588 box, Biskuit Malkist 28 bungkus, beras 280 kg, Biskuat 48 bungkus, pakaian bekas 8 koli dan minyak goreng 900 ml 16 botol,” terang Asep.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Satgas Kesehatan Kejadian Luar Biasa (KLB) TNI bersama jajaran Dinas Kesehatan Pemkab Asmat, Papua, menjelajahi distrik-distrik yang ada di Kabupaten Asmat. Mereka hendak memberikan pelayanan kesahatan kepada anak-anak penderita campak dan gizi buruk. “Pada tanggal 19 Januari 2018, para dokter spesialis dan paramedis bersama personel Puskesmas setempat mendatangi rumah-rumah warga dengan melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan pemberian vaksin kepada anak-anak,” kata Dansatgas Kesehatan TNI KLB Asmat Brigjen TNI Asep Setia Gunawan dalam keterangan yang diterima detikcom , Sabtu (20/1/2018). Ada ribuan anak dari sejumlah distrik di Asmat yang mendapatkan layanan kesehatan seperti pemberian vaksin. Khusus untuk perawatan terhadap anak-anak penderita campak akan dilakukan rutin selama 3 bulan. “Tim Kesehatan Daerah, baik dari TNI khususnya dari Kodam XVII/Cenderawasih akan tetap di sini, kita targetkan sampai tiga bulan untuk penanganan campak selanjutnya gizi buruk. Ini konsepnya akan berlanjut oleh pemerintah daerah,” ujar Asep. Asep menuturkan anak-anak yang ada di distrik-distrik di Kabupaten Asmat banyak yang menderita gizi buruk. Selain itu, wabah campak dan difteri juga menyerang mereka. “Data sementara berdasarkan laporan Posko Satgas Kesehatan TNI KLB tanggal 17-19 Januari 2018, sekitar 4.006 warga Asmat telah mendapatkan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan tersebut di antaranya imunisasi 3.511 orang, penanganan gizi buruk 55 orang, pengobatan campak 397 orang, malaria 4 orang, TBC 4 orang, dyapesia 3 orang dan pengobatan tetanus 2 orang,” papar Asep. Selain memberikan layanan kesehatan, Satgas Kesehatan KLB TNI juga memasok bahan kebutuhan warga. Sejumlah bahan yang dipasok di antaranya beras, susu, dan biskuit. “Satgas Kesehatan TNI KLB juga mendistribusikan beberapa logistik yaitu TB 1 (biskuit) 2.100 box, FD 3 (susu) 1.968 box, T2A (nasi) 840 kaleng, T2B (nasi) 1.140 kaleng, T2C (nasi) 1.130 kaleng, makanan tambahan balita 1.344 box, makanan tambahan ibu hamil 588 box, Biskuit Malkist 28 bungkus, beras 280 kg, Biskuat 48 bungkus, pakaian bekas 8 koli dan minyak goreng 900 ml 16 botol,” terang Asep.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Satgas Kesehatan Kejadian Luar Biasa (KLB) TNI bersama jajaran Dinas Kesehatan Pemkab Asmat, Papua, menjelajahi distrik-distrik yang ada di Kabupaten Asmat. Mereka hendak memberikan pelayanan kesahatan kepada anak-anak penderita campak dan gizi buruk. “Pada tanggal 19 Januari 2018, para dokter spesialis dan paramedis bersama personel Puskesmas setempat mendatangi rumah-rumah warga dengan melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan pemberian vaksin kepada anak-anak,” kata Dansatgas Kesehatan TNI KLB Asmat Brigjen TNI Asep Setia Gunawan dalam keterangan yang diterima detikcom , Sabtu (20/1/2018). Ada ribuan anak dari sejumlah distrik di Asmat yang mendapatkan layanan kesehatan seperti pemberian vaksin. Khusus untuk perawatan terhadap anak-anak penderita campak akan dilakukan rutin selama 3 bulan. “Tim Kesehatan Daerah, baik dari TNI khususnya dari Kodam XVII/Cenderawasih akan tetap di sini, kita targetkan sampai tiga bulan untuk penanganan campak selanjutnya gizi buruk. Ini konsepnya akan berlanjut oleh pemerintah daerah,” ujar Asep. Asep menuturkan anak-anak yang ada di distrik-distrik di Kabupaten Asmat banyak yang menderita gizi buruk. Selain itu, wabah campak dan difteri juga menyerang mereka. “Data sementara berdasarkan laporan Posko Satgas Kesehatan TNI KLB tanggal 17-19 Januari 2018, sekitar 4.006 warga Asmat telah mendapatkan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan tersebut di antaranya imunisasi 3.511 orang, penanganan gizi buruk 55 orang, pengobatan campak 397 orang, malaria 4 orang, TBC 4 orang, dyapesia 3 orang dan pengobatan tetanus 2 orang,” papar Asep. Selain memberikan layanan kesehatan, Satgas Kesehatan KLB TNI juga memasok bahan kebutuhan warga. Sejumlah bahan yang dipasok di antaranya beras, susu, dan biskuit. “Satgas Kesehatan TNI KLB juga mendistribusikan beberapa logistik yaitu TB 1 (biskuit) 2.100 box, FD 3 (susu) 1.968 box, T2A (nasi) 840 kaleng, T2B (nasi) 1.140 kaleng, T2C (nasi) 1.130 kaleng, makanan tambahan balita 1.344 box, makanan tambahan ibu hamil 588 box, Biskuit Malkist 28 bungkus, beras 280 kg, Biskuat 48 bungkus, pakaian bekas 8 koli dan minyak goreng 900 ml 16 botol,” terang Asep.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Pemerintah Kabupaten Asmat memperluas jangkauan tim untuk mengobati penderita campak dan memberi bantuan makanan tambahan ke 23 distrik. Pada sisi lain, bantuan dari pemerintah pusat di Jakarta juga mulai mengalir ke pedalaman Asmat. Kepala Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat, Steven Langi, mengatakan pendataan empat tim terpadu penanggulangan campak dan gizi buruk mencatat setidaknya sudah 63 anak meninggal sejak September 2017 lalu hingga saat ini. Namun jumlah tersebut kemungkinan semakin bertambah seiring dengan diperluasnya jangkauan tim terpadu yang diturunkan untuk memberikan penanganan dan memberi bantuan makanan tambahan. “Sementara tim bergerak menyusur lapangan, dengan memusatkan semuanya ke 23 distrik, jadi bukan cuma di distrik yang ditemukan [kasus campak dan gizi buruk] tapi menyusur ke seluruh distrik,” ujar Steven kepada BBC Indonesia, Selasa (16/01). Steven menyatakan bahwa dari keseluruhan korban jiwa, empat anak meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats dan 59 anak yang meninggal berasal dari tiga distrik, yakni Fayit, Aswi, dan Pulau tiga. Mengingat banyaknya korban jiwa, maka jangkauan tim terpadu yang sebelumnya terpusat ke tujuh distrik kini diperluas untuk mencapai 23 distrik guna mencegah agar wabah campak dan gizi buruk tidak semakin parah. “Ada beberapa tim yang sudah berangkat, ada tim yang masih stand by menunggu koordinasi karena kita juga harus membagi, bukan cuma pengobatan tapi juga membagi bantuan bahan makanan. Laporan sementara dari Dinas Kesehatan Kabupaten Papua, 471 orang terkena campak dan gizi buruk.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sebelumnya, Uskup Aloysius Murwito dari Keuskupan Agats-Asmat menuturkan bahwa 13 anak-anak dengan kondisi minim gizi meninggal di Kampung As dan Kampung Atat, distrik Pulau Tiga pada bulan Desember lalu. Kebanyakan dari korban meninggal sebelum sempat dilarikan ke rumah sakit lantaran jarak antara kampung tersebut dengan Agats, ibu kota Asmat, yang hanya bisa ditempuh dengan menggunakan transportasi air. Jika menggunakan perahu cepat, jarak kedua lokasi bisa ditempuh dalam waktu tiga jam namun bagi penduduk setempat yang mendayung perahu tradisional, mereka maka akan memerlukan bermalam dalam perjalanan. Menurutnya, kondisi geografis di wilayah itu sudah tentu menjadi tantangan utama. Di sisi lain, mutu kesehatan di Asmat juga rendah. “Misalnya saja, di As, Atat ini sudah beberapa bulan petugas pustu (puskesmas pembantu) tidak ditempat,” ujar Aloysius. “Itu bukan lagu baru, tapi sudah lagu lama. Dedikasi dari petugas itu lemah,” imbuhnya. Bantuan Mulai Mengalir Di sisi lain bantuan dari pemerintah pusat di Jakarta mulai berdatangan untuk penangangan kejadian luar biasa campak dan gizi buruk di pedalaman Papua tersebut, antara lain dari Kementerian Sosial, TNI, dan Pemerintah Kota Surabaya. Menurut Steven, Pemerintah Kota Surabaya sangat cepat merespon wabah campak dan gizi buruk yang terjadi Asmat dengan bantuan dari Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, yang sudah dikirim pada Sabtu (13/01) lalu. “Mereka yang pertama mengirim bantuan dari luar.” “Mereka mengirim susu untuk kebutuhan bayi dan obat-obatan serta nutrisi khusus bagi mereka yang mengalami malnutrisi,” imbuhnya.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Lebih lanjut, Steven menjelaskan tim dokter dari TNI Angkatan Darat juga sudah tiba di Asmat dengan sekitar 10 dokter spesialis yang akan menangani pasien yang dirawat di RSUD Agats. Dokter spesialis tersebut antara lain menangani penyakit dalam, penyakit kulit, dokter anak dan ahli gizi. “Kemudian nanti ada juga tim yang diturunkan di lapangan,” jelas Steven. Tim medis yang diturunkan ke lapangan akan menurunkan bantuan makanan dan obat-obatan dengan perkiraan 10 ton. Untuk memudahkan distribusi bantuan ke pedalaman Asmat, TNI juga menerjunkan helikopter guna menjangkau di titik yang sulit di wilayah Asmat. Sementara sebagian dari bantuan vaksin campak dan 16.000 kaleng makanan siap saji dari Kementerian Sosial yang dikirim dari Jakarta pada Minggu (14/01) sudah tiba di Asmat pada Senin (16/01) malam. Selain itu, pemerintah Provinsi Papua juga mengirimkan tiga ton beras, 200 lembar selimut, 200 lembar matras, dua tenda keluarga dan 50 paket peralatan makanan.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Tim Satgas mengevakuasi 14 anak penderita campak dan gizi buruk dengan menggunakan kapal milik Sat Polair milik Polres Mimika dari Distrik (Kecamatan) Astj menuju Agats, ibu kota Kabupaten Asmat. Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Muatofa Kamal menjelaskan, sebelumnya pihaknya mendistribusikan bahan makanan seperti biskuit, susu buat anak balita, air mineral, beras, minyak goreng dan bahan makanan lainnya. Kemudian tim melakukan pemeriksaan medis hingga akhirnya mengevakuasi 14 anak-anak ke RSUD Agats.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Jakarta, CNN Indonesia — Wabah campak dan gizi buruk yang melanda Kabupaten Asmat, Papua menyebabkan banyak anak Asmat meninggal dunia dan lainnya dirawat di rumah sakit. Kejadian ini menimbulkan keprihatinan dari banyak pihak termasuk Ikatan Dokter Indonesia (IDI). “Kami turut berduka cita atas meninggalnya generasi-generasi penerus bangsa di Asmat. Persoalan KLB Difteri belum tuntas dan sekarang dikagetkan dengan KLB campak,” kata Prof Ilham Oetama Marsis, Ketua Umum Pengurus Besar IDI dalam pernyataannya yang diterima CNNIndonesia.com.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

“Hal ini harus ditangani dengan serius dan komprehensif. IDI tetap mendukung langkah yang diarahkan Presiden.” Kejadian ini pun membuat para pihak terkait termasuk Kemenkes berupaya untuk mengirimkan bantuan tenaga kesehatan dan logistik. “Kami dari Kementerian Kesehatan mengirimkan 39 tenaga kesehatan untuk melakukan pengobatan, dan imunisasi serta mengatasi KLB gizi buruk dan campak,” jelas Oscar Primadi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementrian Kesehatan, di Kementrian Kesehatan, Jakarta, pada Selasa (16/1). Tenaga kesehatan yang dikirimkan oleh kemenkes terdiri dari 11 orang dokter spesialis, empat orang dokter umum, tiga perawat, dua penata anestesi, dan 19 tenaga kesehatan yang terdiri dari ahli gizi, kesehatan lingkungan, dan surveilens. “Tim yang diturunkan Kemenkes sebagian besar dokter adalah juga anggota IDI,” kata Ilham. IDI sendiri, seperti diungkapkan Muh. Adib Khumaidi, dokter sekaligus Sekjen PB IDI, siap untuk membantu mengatasi wabah campak di Asmat. “PB IDI selalu siap jika pemerintah membutuhkan dukungan tambahan,” katanya. Adib menambahkan bahwa PB IDI melalui Komite Tanggap bencana dan Komite Penanggulangan Penyakit menular sudah berkoordinasi dengan IDI wilayah Papua dan IDI Kabupaten Asmat untuk memberikan dukungan dan bantuan di lokasi kejadian. “Keterlibatan Ikatan Dokter Spesialis Anak Indonesia (IDAI) di dalam tim Kemenkes juga merupakan bagian dari dari IDI,” ucapnya.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Kemenkes gandeng TNI dan Polda Papua Kemenkes bekerjasama dengan TNI dan Polda Papua untuk mengatasi KLB gizi buruk dan campak. Menkes Nila Moeloek dalam pernyataanya yang diterima CNNIndonesia.com mengungkapkan bahwa kerjasama tersebut menjadi bukti kepedulian dan perhatian pemerintah terhadap penderita gizi buruk dan campak.  “Kerjasama ini merupakan integrasi pemerintah dalam upata pengendalian KLB gizi buruk dan campak. Semoga kerjasama ini bisa mempermudah upaya pengendalian dan menekan penderita gizi buruk dan campak,” katanya. Panglima Kodam Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI George Elnadus Supit menyatakan, pihak TNI juga telah menerjunkan 53 personel tenaga medis yang tergabung dalam satgas kesehatan TNI untuk menangani wabah penyakit campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

“Pasukan hari ini sudah berangkat dari Halim. Ada bantuan tenaga medis dan bantuan makanan,” ujar Supit saat ditemui di Mabes TNI AD, Jakarta Pusat, Senin (15/1). Selain itu, Polda Papua dan jajarannya memberikan bantuan dengan memberikan tenaga medis dan juga bahan makanan serta sandang yang dibutuhkan. Tim ini dipimpin oleh Kabid Dokkes Polda Papua.  Bantuan Polda ini diharapkan juga bisa membantu memetakan daerah-daerah yang mengalami krisis kesehatan.  “Setiap bantuan kesehatan adalah yang memang mereka (penderita gizi buruk dan campak di Asmat) butuhkan. Semoga dengan adanya bantuan dari TNI, Polda, dan terutama upaya dari Kemenkes jumlah KLB gizi buruk dan campak bisa ditekan,” kata Menkes. (chs)

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Jakarta, CNN Indonesia — Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak dan masalah gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak. Pemerintah bersama lintas sektor mengirimkan bantuan dan pendampingan terhadap pemerintah daerah dalam mengatasi KLB tersebut. Dilaporkan sebelumnya, Kemenkes mengirimkan bantuan berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk Balita kurus, dan PMT ibu hamil kurang energi kronis (KEK) melalui udara dari Bandara Halim Perdanakusuma dengan pesawat Hercules. Selain itu, dikirim juga 39 tenaga kesehatan yang 11 orang di antaranya merupakan dokter spesialis, yakni 1 dokter spesialis bedah, spesialis kulit kelamin, spesialis anestesi, spesialis obgyn, dan spesialis gizi klinik, 3 dokter spesialis anak, 3 dokter spesialis penyakit dalam, dan 4 dokter umum.  Dokter Spesialis Anak, Dimas Dwi Saputro mengatakan strategi pengobatan campak dan gizi buruk dilakukan dengan mendiagnosis tepat sejak awal. Diagnosis gizi buruk langsung dinilai pada anak dengan klinis sangat kurus, tampak tulang iga pada badannya, tampak gelambir kulit pada bokongnya (seperti baggy pants), dan wajah keriput seperti orang tua. “Selanjutnya kita tentukan klasifikasinya, apa gizi buruk saja atau campak saja, atau campak disertai gizi buruk,” ujar Dimas di Agats, Papua, seperti disampaikan pernyataan resmi Kemenkes yang diterima redaksi CNNIndonesia.com , pada Jumat (19/1).

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Dimas menambahkan, diagnosis tepat sejak awal penting dilakukan agar pengobatan dapat segera diberikan. “Pasien dengan demam dan ruam yang berawal dari kepala lalu menjalar ke seluruh tubuh, disertai gejala ISPA atau diare, dan belekan, perlu dicurigai sebagai campak,” kata Dimas Selanjutnya, bila terdiagnosis campak, pasien lansung ditangani infeksinya dengan antibiotik, lalu diberikan asupan nutrisi optimal, dan diberikan vitamin A. Terapi komplikasi campak seperti diare, pneumonia, dehidrasi karena asupan kurang, penurunan kesadaran, juga diberikan jika hal-hal tersebut ditemukan. “Untuk gizi buruk, kami berikan nutrisi susu dengan formulasi khusus yang kami buat sendiri, yaitu susu formula ditambah gula, ditambah minyak dan mineral mix. Sayangnya minyak dan mineral mix tidak tersedia di sini sehingga hanya susu dan gula saja. Tujuannya memberikan kalori dengan formula F75 dan F100 (susu dengan kalori yang padat untuk kejar tumbuh),” jelas Dimas.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Selain itu, kata dia, diberikan pula antibiotik pada penderita gizi buruk dengan infeksi, dan vitamin A, asam folat. Pemantauan kenaikan berat badan pun dilakukan setiap pagi. Dimas mengatakan KLB campak yang terjadi di Asmat disebabkan oleh imunisasi yang tidak lengkap, serta kondisi geografis. Ketidaktahuan orang tua akan jadwal imunisasi dan sulit melakukan edukasi pada orang tua, membuat semakin rendah cakupan imunisasinya. Namun demikian, masyarakat diimbau lakukan perilaku hidup bersih dan sehat setiap hari agar mencegah penularan sakit infeksi. Mencukupi asupan makanan yang sesuai jumlah, jenis makanan, dan jadwal makan. Selain pengobatan, dokter spesialis anak di RSUD Agats, Kabupaten Asmat, Papua ini juga memberi contoh cara membuat susu. Banyak orang tua di Asmat tidak paham membuat susu. “Edukasi dan memberi contoh membuat susu, karena banyak orang tua yang tidak paham membuat susu. Hal ini berpengaruh pada asupan nutrisi yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak,” ujarnya.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Selain itu, kata Dimas, selama ia ditugaskan di RSUD Agats, ia akan memberikan edukasi hal-hal dasar yang menjadi pencegah timbulnya penyakit seperti, yakni perilaku hidup bersih sehat, seperti cuci tangan yang baik dan benar, serta etika batuk di tempat umum agar tidak menjadi sumber penularan penyakit. Dimas pun memastikan pemberian makan tepat jadwal kepada pasien, tepat jumlah, dan tepat kebutuhan. Pada Kamis (18/1), telah dilakukan visitasi pasien di rawat inap, selain penderita campak dan gizi buruk, ada pula pasien yang terkena penyakit malaria, diare akut, pneumonia, dan anemia berat. “Di ruang bayi, ada bayi prematur kembar usia kehamilan 31 minggu, beratnya 900 gram dan 1000 gram. Saat ini keduanya masih dipantau karena risiko hipotermia, kuning (hiperbilirubinemia),” jelas Dimas. Kondisi secara umum semua pasien anak stabil, Dimas mengatakan, ada 3 pasien anak Hb di bawah 4. Kebetulan dengan gizi buruk sehingga memerlukan transfusi. Transfusi pun diberikan dengan peralatan sederhana tapi optimal. “Pasien rawat inap didominasi anak-anak, namun ruang isolasi untuk campak tidak ada, sehingga kami membuat ruang rawat khusus anak sakit campak,” ucap Dimas. Dimas berharap adanya edukasi yang dilakukan kepada ibu pasien dapat meningkatkan pemahaman soal pentingnya asupan gizi anak dan menjaga kesehatan keluarga.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Kemenkes mengirimkan tenaga kesehatan yang dibagi 3 tim untuk diberangkatkan menuju Distrik Sawa Erma, Pulau Tiga, dan Kolof Brasa. Nantinya mereka memberikan pelayanan kesehatan, serta obat dan PMT sebagai upaya pengendalian gizi buruk dan KLB campak di tiga distrik itu. Selain Kemenkes, bantuan lintas sektor datang dari TNI dengan mengirimkan obat, PMT, alat kesehatan, dan 53 personel tim medis yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kesehatan TNI yang terdiri dari dokter spesialis dan paramedis. Tim medis TNI itu tersebar di 9 titik pelayanan untuk menjangkau 19 distrik.  Sementara, Polda Papua dan jajarannya dilaporkan memberikan bantuan dengan menerjunkan tenaga medis, serta bantuan berupa bahan makanan dan sandang yang diperlukan masyarakat. Dipimpin Kabid Dokkes Polda Papua, adanya bantuan ini diharapkan selain melakukan tindakan medis nantinya juga bisa melakukan pemetaan daerah-daerah yang mengalami krisis kesehatan. (rah)

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

ASMAT – Bupati Asmat Elisa Kambu menyebut jumlah korban meninggal akibat kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk selama empat bulan terakhir di Kabupaten Asmat, Papua, mencapai 67 anak. Sementara jumlah pasien yang terpapar penyakit campak mencapai 600 orang. Bahkan Elisa Kambu menyebut ada tiga warga Kampung Kasuari lagi yang baru saja terkena penyakit campak tersebut, hingga Kamis (18/1/2018). “Hari ini ada lima pasien dari Kampung Kasuari yang direncanakan siap dievakuasi ke RSUD Asmat karena kondisi mereka kritis,” kata Bupati Asmat, Kamis (18/1/2018). Untuk pasien gizi buruk, kata dia, berjumlah 11 orang, namun dua pasien diantaranya sudah dibawa ke Puskesmas ATS untuk mendapatkan perawatan secara insentif. Saat ini, kata bupati, ada kasus baru lagi yakni penyakit tetanus, namun tim bhakti kesehatan Mabes TNI sudah menangani penyakit tersebut, dengan cara memberikan pengobatan secara rutin kepada pasien yang terkena penyakit Tetanus. Akibat musibah tersebut sudah menelan korban jiwa sebanyak 67 orang. Bupati Elisa Kambu menjelaskan, terkait tim medis sudah diterjunkan ke 240 Kampung di 19 Distrik yang ada di Asmat, dan terkait obat obatan dan bahan makanan pihaknya bersama TNI Polri sudah distribusikan dari jauh jauh hari ke setiap posko yang ada di 19 Distrik. (sms)

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Pada tanggal 19 Januari 2018, para dokter spesialis dan paramedis bersama personel Puskesmas setempat mendatangi rumah-rumah warga dengan melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan pemberian vaksin kepada anak-anak. Data pengobatan yang sudah tercatat oleh Satgas Kesehatan TNI KLB, diantaranya : 980 anak Kampung Kasuari, 110 anak Kampung Sohomae, 257 anak Kampung Suagai, 131 anak Kampung Yerfun, 181 Kampung Amagais, 219 anak Kampung Amaru, 82 anak Kampung Amkai, 18 anak Kampung Suru-Suru, 4 (empat) anak Kampung Berimono, 2 (dua) anak Kampung Tomor, 1 (satu) anak Kampung TII, 5 (lima) anak Kampung Munu, 3 (tiga) anak Kampung Ocemet dan 1 (satu) anak Kampung Pirian.  Sementara untuk pengobatan penderita gizi buruk sebanyak 11 orang, pelayanan rawat inap 53 orang, pengobatan terhadap penderita campak 7 orang.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Data sementara berdasarkan laporan Posko Satgas Kesehatan TNI Kejadian Luar Biasa (KLB) tanggal 17 s.d 19 Januari 2018, sekitar 4.006 warga Asmat telah mendapatkan pelayanan kesehatan dari Satgas TNI bekerjasama dengan Kemenkes RI dan Dinas Kesehatan Pemda setempat.  Pelayanan kesehatan tersebut, diantaranya imunisasi 3.511 orang, penanganan gizi buruk 55 orang, pengobatan campak 397 orang, malaria 4 (empat) orang, TBC 4 (empat) orang, dyapesia 3 (tiga) orang dan pengobatan tetanus 2 (satu) orang.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Jakarta, CNN Indonesia — Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak dan masalah gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak. Pemerintah bersama lintas sektor mengirimkan bantuan dan pendampingan terhadap pemerintah daerah dalam mengatasi KLB tersebut. Dilaporkan sebelumnya, Kemenkes mengirimkan bantuan berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk Balita kurus, dan PMT ibu hamil kurang energi kronis (KEK) melalui udara dari Bandara Halim Perdanakusuma dengan pesawat Hercules. Selain itu, dikirim juga 39 tenaga kesehatan yang 11 orang di antaranya merupakan dokter spesialis, yakni 1 dokter spesialis bedah, spesialis kulit kelamin, spesialis anestesi, spesialis obgyn, dan spesialis gizi klinik, 3 dokter spesialis anak, 3 dokter spesialis penyakit dalam, dan 4 dokter umum.  Dokter Spesialis Anak, Dimas Dwi Saputro mengatakan strategi pengobatan campak dan gizi buruk dilakukan dengan mendiagnosis tepat sejak awal. Diagnosis gizi buruk langsung dinilai pada anak dengan klinis sangat kurus, tampak tulang iga pada badannya, tampak gelambir kulit pada bokongnya (seperti baggy pants), dan wajah keriput seperti orang tua. “Selanjutnya kita tentukan klasifikasinya, apa gizi buruk saja atau campak saja, atau campak disertai gizi buruk,” ujar Dimas di Agats, Papua, seperti disampaikan pernyataan resmi Kemenkes yang diterima redaksi CNNIndonesia.com , pada Jumat (19/1).

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Dimas menambahkan, diagnosis tepat sejak awal penting dilakukan agar pengobatan dapat segera diberikan. “Pasien dengan demam dan ruam yang berawal dari kepala lalu menjalar ke seluruh tubuh, disertai gejala ISPA atau diare, dan belekan, perlu dicurigai sebagai campak,” kata Dimas Selanjutnya, bila terdiagnosis campak, pasien lansung ditangani infeksinya dengan antibiotik, lalu diberikan asupan nutrisi optimal, dan diberikan vitamin A. Terapi komplikasi campak seperti diare, pneumonia, dehidrasi karena asupan kurang, penurunan kesadaran, juga diberikan jika hal-hal tersebut ditemukan. “Untuk gizi buruk, kami berikan nutrisi susu dengan formulasi khusus yang kami buat sendiri, yaitu susu formula ditambah gula, ditambah minyak dan mineral mix. Sayangnya minyak dan mineral mix tidak tersedia di sini sehingga hanya susu dan gula saja. Tujuannya memberikan kalori dengan formula F75 dan F100 (susu dengan kalori yang padat untuk kejar tumbuh),” jelas Dimas.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Selain itu, kata dia, diberikan pula antibiotik pada penderita gizi buruk dengan infeksi, dan vitamin A, asam folat. Pemantauan kenaikan berat badan pun dilakukan setiap pagi. Dimas mengatakan KLB campak yang terjadi di Asmat disebabkan oleh imunisasi yang tidak lengkap, serta kondisi geografis. Ketidaktahuan orang tua akan jadwal imunisasi dan sulit melakukan edukasi pada orang tua, membuat semakin rendah cakupan imunisasinya. Namun demikian, masyarakat diimbau lakukan perilaku hidup bersih dan sehat setiap hari agar mencegah penularan sakit infeksi. Mencukupi asupan makanan yang sesuai jumlah, jenis makanan, dan jadwal makan. Selain pengobatan, dokter spesialis anak di RSUD Agats, Kabupaten Asmat, Papua ini juga memberi contoh cara membuat susu. Banyak orang tua di Asmat tidak paham membuat susu. “Edukasi dan memberi contoh membuat susu, karena banyak orang tua yang tidak paham membuat susu. Hal ini berpengaruh pada asupan nutrisi yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak,” ujarnya.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Selain itu, kata Dimas, selama ia ditugaskan di RSUD Agats, ia akan memberikan edukasi hal-hal dasar yang menjadi pencegah timbulnya penyakit seperti, yakni perilaku hidup bersih sehat, seperti cuci tangan yang baik dan benar, serta etika batuk di tempat umum agar tidak menjadi sumber penularan penyakit. Dimas pun memastikan pemberian makan tepat jadwal kepada pasien, tepat jumlah, dan tepat kebutuhan. Pada Kamis (18/1), telah dilakukan visitasi pasien di rawat inap, selain penderita campak dan gizi buruk, ada pula pasien yang terkena penyakit malaria, diare akut, pneumonia, dan anemia berat. “Di ruang bayi, ada bayi prematur kembar usia kehamilan 31 minggu, beratnya 900 gram dan 1000 gram. Saat ini keduanya masih dipantau karena risiko hipotermia, kuning (hiperbilirubinemia),” jelas Dimas. Kondisi secara umum semua pasien anak stabil, Dimas mengatakan, ada 3 pasien anak Hb di bawah 4. Kebetulan dengan gizi buruk sehingga memerlukan transfusi. Transfusi pun diberikan dengan peralatan sederhana tapi optimal. “Pasien rawat inap didominasi anak-anak, namun ruang isolasi untuk campak tidak ada, sehingga kami membuat ruang rawat khusus anak sakit campak,” ucap Dimas. Dimas berharap adanya edukasi yang dilakukan kepada ibu pasien dapat meningkatkan pemahaman soal pentingnya asupan gizi anak dan menjaga kesehatan keluarga.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Kemenkes mengirimkan tenaga kesehatan yang dibagi 3 tim untuk diberangkatkan menuju Distrik Sawa Erma, Pulau Tiga, dan Kolof Brasa. Nantinya mereka memberikan pelayanan kesehatan, serta obat dan PMT sebagai upaya pengendalian gizi buruk dan KLB campak di tiga distrik itu. Selain Kemenkes, bantuan lintas sektor datang dari TNI dengan mengirimkan obat, PMT, alat kesehatan, dan 53 personel tim medis yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kesehatan TNI yang terdiri dari dokter spesialis dan paramedis. Tim medis TNI itu tersebar di 9 titik pelayanan untuk menjangkau 19 distrik.  Sementara, Polda Papua dan jajarannya dilaporkan memberikan bantuan dengan menerjunkan tenaga medis, serta bantuan berupa bahan makanan dan sandang yang diperlukan masyarakat. Dipimpin Kabid Dokkes Polda Papua, adanya bantuan ini diharapkan selain melakukan tindakan medis nantinya juga bisa melakukan pemetaan daerah-daerah yang mengalami krisis kesehatan. (rah)

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Pemerintah Kabupaten Asmat memperluas jangkauan tim untuk mengobati penderita campak dan memberi bantuan makanan tambahan ke 23 distrik. Pada sisi lain, bantuan dari pemerintah pusat di Jakarta juga mulai mengalir ke pedalaman Asmat. Kepala Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat, Steven Langi, mengatakan pendataan empat tim terpadu penanggulangan campak dan gizi buruk mencatat setidaknya sudah 63 anak meninggal sejak September 2017 lalu hingga saat ini. Namun jumlah tersebut kemungkinan semakin bertambah seiring dengan diperluasnya jangkauan tim terpadu yang diturunkan untuk memberikan penanganan dan memberi bantuan makanan tambahan. “Sementara tim bergerak menyusur lapangan, dengan memusatkan semuanya ke 23 distrik, jadi bukan cuma di distrik yang ditemukan [kasus campak dan gizi buruk] tapi menyusur ke seluruh distrik,” ujar Steven kepada BBC Indonesia, Selasa (16/01). Steven menyatakan bahwa dari keseluruhan korban jiwa, empat anak meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats dan 59 anak yang meninggal berasal dari tiga distrik, yakni Fayit, Aswi, dan Pulau tiga. Mengingat banyaknya korban jiwa, maka jangkauan tim terpadu yang sebelumnya terpusat ke tujuh distrik kini diperluas untuk mencapai 23 distrik guna mencegah agar wabah campak dan gizi buruk tidak semakin parah. “Ada beberapa tim yang sudah berangkat, ada tim yang masih stand by menunggu koordinasi karena kita juga harus membagi, bukan cuma pengobatan tapi juga membagi bantuan bahan makanan. Laporan sementara dari Dinas Kesehatan Kabupaten Papua, 471 orang terkena campak dan gizi buruk.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sebelumnya, Uskup Aloysius Murwito dari Keuskupan Agats-Asmat menuturkan bahwa 13 anak-anak dengan kondisi minim gizi meninggal di Kampung As dan Kampung Atat, distrik Pulau Tiga pada bulan Desember lalu. Kebanyakan dari korban meninggal sebelum sempat dilarikan ke rumah sakit lantaran jarak antara kampung tersebut dengan Agats, ibu kota Asmat, yang hanya bisa ditempuh dengan menggunakan transportasi air. Jika menggunakan perahu cepat, jarak kedua lokasi bisa ditempuh dalam waktu tiga jam namun bagi penduduk setempat yang mendayung perahu tradisional, mereka maka akan memerlukan bermalam dalam perjalanan. Menurutnya, kondisi geografis di wilayah itu sudah tentu menjadi tantangan utama. Di sisi lain, mutu kesehatan di Asmat juga rendah. “Misalnya saja, di As, Atat ini sudah beberapa bulan petugas pustu (puskesmas pembantu) tidak ditempat,” ujar Aloysius. “Itu bukan lagu baru, tapi sudah lagu lama. Dedikasi dari petugas itu lemah,” imbuhnya. Bantuan Mulai Mengalir Di sisi lain bantuan dari pemerintah pusat di Jakarta mulai berdatangan untuk penangangan kejadian luar biasa campak dan gizi buruk di pedalaman Papua tersebut, antara lain dari Kementerian Sosial, TNI, dan Pemerintah Kota Surabaya. Menurut Steven, Pemerintah Kota Surabaya sangat cepat merespon wabah campak dan gizi buruk yang terjadi Asmat dengan bantuan dari Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, yang sudah dikirim pada Sabtu (13/01) lalu. “Mereka yang pertama mengirim bantuan dari luar.” “Mereka mengirim susu untuk kebutuhan bayi dan obat-obatan serta nutrisi khusus bagi mereka yang mengalami malnutrisi,” imbuhnya.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Lebih lanjut, Steven menjelaskan tim dokter dari TNI Angkatan Darat juga sudah tiba di Asmat dengan sekitar 10 dokter spesialis yang akan menangani pasien yang dirawat di RSUD Agats. Dokter spesialis tersebut antara lain menangani penyakit dalam, penyakit kulit, dokter anak dan ahli gizi. “Kemudian nanti ada juga tim yang diturunkan di lapangan,” jelas Steven. Tim medis yang diturunkan ke lapangan akan menurunkan bantuan makanan dan obat-obatan dengan perkiraan 10 ton. Untuk memudahkan distribusi bantuan ke pedalaman Asmat, TNI juga menerjunkan helikopter guna menjangkau di titik yang sulit di wilayah Asmat. Sementara sebagian dari bantuan vaksin campak dan 16.000 kaleng makanan siap saji dari Kementerian Sosial yang dikirim dari Jakarta pada Minggu (14/01) sudah tiba di Asmat pada Senin (16/01) malam. Selain itu, pemerintah Provinsi Papua juga mengirimkan tiga ton beras, 200 lembar selimut, 200 lembar matras, dua tenda keluarga dan 50 paket peralatan makanan.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Tim Satgas mengevakuasi 14 anak penderita campak dan gizi buruk dengan menggunakan kapal milik Sat Polair milik Polres Mimika dari Distrik (Kecamatan) Astj menuju Agats, ibu kota Kabupaten Asmat. Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Muatofa Kamal menjelaskan, sebelumnya pihaknya mendistribusikan bahan makanan seperti biskuit, susu buat anak balita, air mineral, beras, minyak goreng dan bahan makanan lainnya. Kemudian tim melakukan pemeriksaan medis hingga akhirnya mengevakuasi 14 anak-anak ke RSUD Agats.

Pemerintah Kabupaten Asmat memperluas jangkauan tim untuk mengobati penderita campak dan memberi bantuan makanan tambahan ke 23 distrik. Pada sisi lain, bantuan dari pemerintah pusat di Jakarta juga mulai mengalir ke pedalaman Asmat. Kepala Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat, Steven Langi, mengatakan pendataan empat tim terpadu penanggulangan campak dan gizi buruk mencatat setidaknya sudah 63 anak meninggal sejak September 2017 lalu hingga saat ini. Namun jumlah tersebut kemungkinan semakin bertambah seiring dengan diperluasnya jangkauan tim terpadu yang diturunkan untuk memberikan penanganan dan memberi bantuan makanan tambahan. “Sementara tim bergerak menyusur lapangan, dengan memusatkan semuanya ke 23 distrik, jadi bukan cuma di distrik yang ditemukan [kasus campak dan gizi buruk] tapi menyusur ke seluruh distrik,” ujar Steven kepada BBC Indonesia, Selasa (16/01). Steven menyatakan bahwa dari keseluruhan korban jiwa, empat anak meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats dan 59 anak yang meninggal berasal dari tiga distrik, yakni Fayit, Aswi, dan Pulau tiga. Mengingat banyaknya korban jiwa, maka jangkauan tim terpadu yang sebelumnya terpusat ke tujuh distrik kini diperluas untuk mencapai 23 distrik guna mencegah agar wabah campak dan gizi buruk tidak semakin parah. “Ada beberapa tim yang sudah berangkat, ada tim yang masih stand by menunggu koordinasi karena kita juga harus membagi, bukan cuma pengobatan tapi juga membagi bantuan bahan makanan. Laporan sementara dari Dinas Kesehatan Kabupaten Papua, 471 orang terkena campak dan gizi buruk.

seperti di kutip dari http://www.bbc.com

Sebelumnya, Uskup Aloysius Murwito dari Keuskupan Agats-Asmat menuturkan bahwa 13 anak-anak dengan kondisi minim gizi meninggal di Kampung As dan Kampung Atat, distrik Pulau Tiga pada bulan Desember lalu. Kebanyakan dari korban meninggal sebelum sempat dilarikan ke rumah sakit lantaran jarak antara kampung tersebut dengan Agats, ibu kota Asmat, yang hanya bisa ditempuh dengan menggunakan transportasi air. Jika menggunakan perahu cepat, jarak kedua lokasi bisa ditempuh dalam waktu tiga jam namun bagi penduduk setempat yang mendayung perahu tradisional, mereka maka akan memerlukan bermalam dalam perjalanan. Menurutnya, kondisi geografis di wilayah itu sudah tentu menjadi tantangan utama. Di sisi lain, mutu kesehatan di Asmat juga rendah. “Misalnya saja, di As, Atat ini sudah beberapa bulan petugas pustu (puskesmas pembantu) tidak ditempat,” ujar Aloysius. “Itu bukan lagu baru, tapi sudah lagu lama. Dedikasi dari petugas itu lemah,” imbuhnya. Bantuan Mulai Mengalir Di sisi lain bantuan dari pemerintah pusat di Jakarta mulai berdatangan untuk penangangan kejadian luar biasa campak dan gizi buruk di pedalaman Papua tersebut, antara lain dari Kementerian Sosial, TNI, dan Pemerintah Kota Surabaya. Menurut Steven, Pemerintah Kota Surabaya sangat cepat merespon wabah campak dan gizi buruk yang terjadi Asmat dengan bantuan dari Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, yang sudah dikirim pada Sabtu (13/01) lalu. “Mereka yang pertama mengirim bantuan dari luar.” “Mereka mengirim susu untuk kebutuhan bayi dan obat-obatan serta nutrisi khusus bagi mereka yang mengalami malnutrisi,” imbuhnya.

seperti di kutip dari http://www.bbc.com

Lebih lanjut, Steven menjelaskan tim dokter dari TNI Angkatan Darat juga sudah tiba di Asmat dengan sekitar 10 dokter spesialis yang akan menangani pasien yang dirawat di RSUD Agats. Dokter spesialis tersebut antara lain menangani penyakit dalam, penyakit kulit, dokter anak dan ahli gizi. “Kemudian nanti ada juga tim yang diturunkan di lapangan,” jelas Steven. Tim medis yang diturunkan ke lapangan akan menurunkan bantuan makanan dan obat-obatan dengan perkiraan 10 ton. Untuk memudahkan distribusi bantuan ke pedalaman Asmat, TNI juga menerjunkan helikopter guna menjangkau di titik yang sulit di wilayah Asmat. Sementara sebagian dari bantuan vaksin campak dan 16.000 kaleng makanan siap saji dari Kementerian Sosial yang dikirim dari Jakarta pada Minggu (14/01) sudah tiba di Asmat pada Senin (16/01) malam. Selain itu, pemerintah Provinsi Papua juga mengirimkan tiga ton beras, 200 lembar selimut, 200 lembar matras, dua tenda keluarga dan 50 paket peralatan makanan.

Tim Satgas mengevakuasi 14 anak penderita campak dan gizi buruk dengan menggunakan kapal milik Sat Polair milik Polres Mimika dari Distrik (Kecamatan) Astj menuju Agats, ibu kota Kabupaten Asmat. Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Muatofa Kamal menjelaskan, sebelumnya pihaknya mendistribusikan bahan makanan seperti biskuit, susu buat anak balita, air mineral, beras, minyak goreng dan bahan makanan lainnya. Kemudian tim melakukan pemeriksaan medis hingga akhirnya mengevakuasi 14 anak-anak ke RSUD Agats.

Jakarta, CNN Indonesia — Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak dan masalah gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak. Pemerintah bersama lintas sektor mengirimkan bantuan dan pendampingan terhadap pemerintah daerah dalam mengatasi KLB tersebut. Dilaporkan sebelumnya, Kemenkes mengirimkan bantuan berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk Balita kurus, dan PMT ibu hamil kurang energi kronis (KEK) melalui udara dari Bandara Halim Perdanakusuma dengan pesawat Hercules. Selain itu, dikirim juga 39 tenaga kesehatan yang 11 orang di antaranya merupakan dokter spesialis, yakni 1 dokter spesialis bedah, spesialis kulit kelamin, spesialis anestesi, spesialis obgyn, dan spesialis gizi klinik, 3 dokter spesialis anak, 3 dokter spesialis penyakit dalam, dan 4 dokter umum.  Dokter Spesialis Anak, Dimas Dwi Saputro mengatakan strategi pengobatan campak dan gizi buruk dilakukan dengan mendiagnosis tepat sejak awal. Diagnosis gizi buruk langsung dinilai pada anak dengan klinis sangat kurus, tampak tulang iga pada badannya, tampak gelambir kulit pada bokongnya (seperti baggy pants), dan wajah keriput seperti orang tua. “Selanjutnya kita tentukan klasifikasinya, apa gizi buruk saja atau campak saja, atau campak disertai gizi buruk,” ujar Dimas di Agats, Papua, seperti disampaikan pernyataan resmi Kemenkes yang diterima redaksi CNNIndonesia.com , pada Jumat (19/1).

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

Dimas menambahkan, diagnosis tepat sejak awal penting dilakukan agar pengobatan dapat segera diberikan. “Pasien dengan demam dan ruam yang berawal dari kepala lalu menjalar ke seluruh tubuh, disertai gejala ISPA atau diare, dan belekan, perlu dicurigai sebagai campak,” kata Dimas Selanjutnya, bila terdiagnosis campak, pasien lansung ditangani infeksinya dengan antibiotik, lalu diberikan asupan nutrisi optimal, dan diberikan vitamin A. Terapi komplikasi campak seperti diare, pneumonia, dehidrasi karena asupan kurang, penurunan kesadaran, juga diberikan jika hal-hal tersebut ditemukan. “Untuk gizi buruk, kami berikan nutrisi susu dengan formulasi khusus yang kami buat sendiri, yaitu susu formula ditambah gula, ditambah minyak dan mineral mix. Sayangnya minyak dan mineral mix tidak tersedia di sini sehingga hanya susu dan gula saja. Tujuannya memberikan kalori dengan formula F75 dan F100 (susu dengan kalori yang padat untuk kejar tumbuh),” jelas Dimas.

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

Selain itu, kata dia, diberikan pula antibiotik pada penderita gizi buruk dengan infeksi, dan vitamin A, asam folat. Pemantauan kenaikan berat badan pun dilakukan setiap pagi. Dimas mengatakan KLB campak yang terjadi di Asmat disebabkan oleh imunisasi yang tidak lengkap, serta kondisi geografis. Ketidaktahuan orang tua akan jadwal imunisasi dan sulit melakukan edukasi pada orang tua, membuat semakin rendah cakupan imunisasinya. Namun demikian, masyarakat diimbau lakukan perilaku hidup bersih dan sehat setiap hari agar mencegah penularan sakit infeksi. Mencukupi asupan makanan yang sesuai jumlah, jenis makanan, dan jadwal makan. Selain pengobatan, dokter spesialis anak di RSUD Agats, Kabupaten Asmat, Papua ini juga memberi contoh cara membuat susu. Banyak orang tua di Asmat tidak paham membuat susu. “Edukasi dan memberi contoh membuat susu, karena banyak orang tua yang tidak paham membuat susu. Hal ini berpengaruh pada asupan nutrisi yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak,” ujarnya.

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

Selain itu, kata Dimas, selama ia ditugaskan di RSUD Agats, ia akan memberikan edukasi hal-hal dasar yang menjadi pencegah timbulnya penyakit seperti, yakni perilaku hidup bersih sehat, seperti cuci tangan yang baik dan benar, serta etika batuk di tempat umum agar tidak menjadi sumber penularan penyakit. Dimas pun memastikan pemberian makan tepat jadwal kepada pasien, tepat jumlah, dan tepat kebutuhan. Pada Kamis (18/1), telah dilakukan visitasi pasien di rawat inap, selain penderita campak dan gizi buruk, ada pula pasien yang terkena penyakit malaria, diare akut, pneumonia, dan anemia berat. “Di ruang bayi, ada bayi prematur kembar usia kehamilan 31 minggu, beratnya 900 gram dan 1000 gram. Saat ini keduanya masih dipantau karena risiko hipotermia, kuning (hiperbilirubinemia),” jelas Dimas. Kondisi secara umum semua pasien anak stabil, Dimas mengatakan, ada 3 pasien anak Hb di bawah 4. Kebetulan dengan gizi buruk sehingga memerlukan transfusi. Transfusi pun diberikan dengan peralatan sederhana tapi optimal. “Pasien rawat inap didominasi anak-anak, namun ruang isolasi untuk campak tidak ada, sehingga kami membuat ruang rawat khusus anak sakit campak,” ucap Dimas. Dimas berharap adanya edukasi yang dilakukan kepada ibu pasien dapat meningkatkan pemahaman soal pentingnya asupan gizi anak dan menjaga kesehatan keluarga.

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

Kemenkes mengirimkan tenaga kesehatan yang dibagi 3 tim untuk diberangkatkan menuju Distrik Sawa Erma, Pulau Tiga, dan Kolof Brasa. Nantinya mereka memberikan pelayanan kesehatan, serta obat dan PMT sebagai upaya pengendalian gizi buruk dan KLB campak di tiga distrik itu. Selain Kemenkes, bantuan lintas sektor datang dari TNI dengan mengirimkan obat, PMT, alat kesehatan, dan 53 personel tim medis yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kesehatan TNI yang terdiri dari dokter spesialis dan paramedis. Tim medis TNI itu tersebar di 9 titik pelayanan untuk menjangkau 19 distrik.  Sementara, Polda Papua dan jajarannya dilaporkan memberikan bantuan dengan menerjunkan tenaga medis, serta bantuan berupa bahan makanan dan sandang yang diperlukan masyarakat. Dipimpin Kabid Dokkes Polda Papua, adanya bantuan ini diharapkan selain melakukan tindakan medis nantinya juga bisa melakukan pemetaan daerah-daerah yang mengalami krisis kesehatan. (rah)

Pada tanggal 19 Januari 2018, para dokter spesialis dan paramedis bersama personel Puskesmas setempat mendatangi rumah-rumah warga dengan melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan pemberian vaksin kepada anak-anak. Data pengobatan yang sudah tercatat oleh Satgas Kesehatan TNI KLB, diantaranya : 980 anak Kampung Kasuari, 110 anak Kampung Sohomae, 257 anak Kampung Suagai, 131 anak Kampung Yerfun, 181 Kampung Amagais, 219 anak Kampung Amaru, 82 anak Kampung Amkai, 18 anak Kampung Suru-Suru, 4 (empat) anak Kampung Berimono, 2 (dua) anak Kampung Tomor, 1 (satu) anak Kampung TII, 5 (lima) anak Kampung Munu, 3 (tiga) anak Kampung Ocemet dan 1 (satu) anak Kampung Pirian.  Sementara untuk pengobatan penderita gizi buruk sebanyak 11 orang, pelayanan rawat inap 53 orang, pengobatan terhadap penderita campak 7 orang.

seperti di kutip dari https://www.gatra.com

Data sementara berdasarkan laporan Posko Satgas Kesehatan TNI Kejadian Luar Biasa (KLB) tanggal 17 s.d 19 Januari 2018, sekitar 4.006 warga Asmat telah mendapatkan pelayanan kesehatan dari Satgas TNI bekerjasama dengan Kemenkes RI dan Dinas Kesehatan Pemda setempat.  Pelayanan kesehatan tersebut, diantaranya imunisasi 3.511 orang, penanganan gizi buruk 55 orang, pengobatan campak 397 orang, malaria 4 (empat) orang, TBC 4 (empat) orang, dyapesia 3 (tiga) orang dan pengobatan tetanus 2 (satu) orang.

Related Posts

Comments are closed.