Sebut Hoax Sudah Ada Sejak Dulu, Polisi Contohkan April Mop

Sebut Hoax Sudah Ada Sejak Dulu, Polisi Contohkan April Mop

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menyebut berita bohong atau hoax sudah ada sejak dulu. Ia mencontohkan salah satu contoh hoax adalah April Mop. “Hoax ini bukan baru sekali ini. Dulu ada April Mop. Setiap 1 April beredar berita bohong,” kata Setyo di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (1/3/2018). Hal itu disampaikan Setyo saat menjadi salah satu pembicara dalam talkshow bertajuk ‘Pencemaran Nama Baik Melalui Hoax Pada Media Sosial’. Setyo mengatakan meski fenomena soal berita bohong sudah ada sejak lama, namun media sosial membuat penyebarannya menjadi lebih cepat. “Kenapa dulu nggak seheboh sekarang? Sekarang gunakan media sosial tanpa permisi masuk HP masing-masing. Banyak juga orang ketika mendapatkan itu ragu-ragu. Namun yang kirim om saya, kakek saya, masa nggak percaya,” ucapnya. Untuk mencegah maraknya penyebaran berita bohong, Setyo menyatakan kepolisian mengedepankan literasi kepada pengguna internet. Ia juga mengaku terkejut saat ini ada pihak yang memanfaatkan berita bohong untuk mendapat keuntungan, seperti Saracen yang diungkap beberapa waktu lalu. “Strategi Polri mengedepankan literasi. Setiap dua bulan sekali ada temu netizen di beberapa provinsi. Selain literasi kita juga lakukan antisipasi menggunakan perangkat infrastruktur yang ada,” ucapnya. “Kita nggak menyangka ada satu korporasi yang menyediakan hoax,” imbuhnya. Selain Setyo, ahli psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel juga menyebut berita bohong sudah lama ada. Ia mencontohkan soal mitos atau legenda yang ada di masyarakat. “Kalau hoax yang disebar di cerita rakyat di komik disebut namanya mitos, ada juga disebut namanya legenda,” sebut Reza. Berikutnya, Panitera Muda Pidana MA, Suharto meminta para pengguna internet berhati-hati jika menerima pesan yang berisi pencemaran nama baik. Menurutnya, banyak yang tidak sadar terlibat sudah membantu penyebaran hoax di masyarakat saat menggunakan ponsel. “Kalau ada WA yang bermuatan pencemaran nama baik, anda ikut distribusikan, mentransmisikan, membuat dapat diakses jadi harus hati-hati. Kita nggak sengaja dengan jempol kita sudah bagian dari mencemarkan nama orang karena kita menyebar berita yang kontennya menyerang nama orang lain,” jelas Suharto.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menyebut berita bohong atau hoax sudah ada sejak dulu. Ia mencontohkan salah satu contoh hoax adalah April Mop. “Hoax ini bukan baru sekali ini. Dulu ada April Mop. Setiap 1 April beredar berita bohong,” kata Setyo di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (1/3/2018). Hal itu disampaikan Setyo saat menjadi salah satu pembicara dalam talkshow bertajuk ‘Pencemaran Nama Baik Melalui Hoax Pada Media Sosial’. Setyo mengatakan meski fenomena soal berita bohong sudah ada sejak lama, namun media sosial membuat penyebarannya menjadi lebih cepat. “Kenapa dulu nggak seheboh sekarang? Sekarang gunakan media sosial tanpa permisi masuk HP masing-masing. Banyak juga orang ketika mendapatkan itu ragu-ragu. Namun yang kirim om saya, kakek saya, masa nggak percaya,” ucapnya. Untuk mencegah maraknya penyebaran berita bohong, Setyo menyatakan kepolisian mengedepankan literasi kepada pengguna internet. Ia juga mengaku terkejut saat ini ada pihak yang memanfaatkan berita bohong untuk mendapat keuntungan, seperti Saracen yang diungkap beberapa waktu lalu. “Strategi Polri mengedepankan literasi. Setiap dua bulan sekali ada temu netizen di beberapa provinsi. Selain literasi kita juga lakukan antisipasi menggunakan perangkat infrastruktur yang ada,” ucapnya. “Kita nggak menyangka ada satu korporasi yang menyediakan hoax,” imbuhnya. Selain Setyo, ahli psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel juga menyebut berita bohong sudah lama ada. Ia mencontohkan soal mitos atau legenda yang ada di masyarakat. “Kalau hoax yang disebar di cerita rakyat di komik disebut namanya mitos, ada juga disebut namanya legenda,” sebut Reza. Berikutnya, Panitera Muda Pidana MA, Suharto meminta para pengguna internet berhati-hati jika menerima pesan yang berisi pencemaran nama baik. Menurutnya, banyak yang tidak sadar terlibat sudah membantu penyebaran hoax di masyarakat saat menggunakan ponsel. “Kalau ada WA yang bermuatan pencemaran nama baik, anda ikut distribusikan, mentransmisikan, membuat dapat diakses jadi harus hati-hati. Kita nggak sengaja dengan jempol kita sudah bagian dari mencemarkan nama orang karena kita menyebar berita yang kontennya menyerang nama orang lain,” jelas Suharto.

Related Posts

Comments are closed.