Sandi Soroti 10 Ribu Warga DKI yang Mengidap Gangguan Jiwa

Sandi Soroti 10 Ribu Warga DKI yang Mengidap Gangguan Jiwa

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyoroti masalah gangguan jiwa yang mengidap 10 ribu warga Ibu Kota. Sandi tak menampik bahwa ada keluarganya yang juga mengalami depresi. “Kenapa saya sangat interest? Karena saya sudah berulang kali katakan bahwa di anggota keluarga saya banyak yang mengalami depresi, gangguan daripada stres dan lain sebagainya,” kata Sandi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Sandi mencontohkan apa yang terjadi di Jepang. Sandi berharap apa yang terjadi di Jepang, tidak terjadi di Jakarta. “Di Jepang banyak, malah di Jepang ada taman untuk bunuh diri. Di sini alhamdulillah belum ke arah sana dan kita harus cegah, nggak boleh sampai ke arah sana. Juga dengan gangguan jiwa ini nggak boleh berujung kekerasan pada anggota masyaraakat lainnya,” papar Sandi. Sandi pun meminta warga tidak terlena dengan masalah gangguan jiwa. Warga harus ikut membantu pemerintah mengatasi masalah tersebut. “Ini yang menurut saya, kita harus bergerak dan jangan hilang momentum kita, mumpung ada UU. Kita punya keberpihakan kepada orang dengan gangguan jiwa. Kita sekarang mau ke arah promotif-preventif. Ini kesempatan kita untuk melahirkan sebuah terobosan untuk mendeteksi gangguan jiwa,” terang Sandi.

Baca juga : isu orang gila marak sandi masalah mental perlu diurus pemerintah cFrE

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno angkat bicara terkait maraknya teror orang gila yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Apalagi, sebut Sandi, ada 4.000 orang yang teridentifikasi mengidap gangguan jiwa di Ibu Kota. Faktor penyebab gangguan kejiwaan itu, ujar Sandi, antara lain beban hidup yang terlalu tinggi, tekanan ekonomi dan sosial, hingga masalah pendidikan. “Dengan [program] ketok pintu layanan dengan hati, sudah teridentifikasi 4.000 warga Jakarta yang mengalami gangguan jiwa dan perlu perawatan. Dari 4.000 ini kalau kita ekstrapolasi ada 11 ribu dan 10 persennya perlu dirawat inap,” ungkapnya di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Menurut Sandi, diperlukan intervensi pemerintah dalam penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) untuk mencegah kekerasan dan teror orang gila terjadi di Jakarta. Lantaran itulah Pemprov DKI menggagas institut kesehatan mental atau Jakarta Institute for Mental Health di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, Jakarta Timur. Tempat itu direncanakan bakal jadi pusat kajian masalah kejiwaan yang berada di bawah koordinasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta serta bekerja sama dengan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa DKI Jakarta, dokter Nova Riyanti Yusuf (Noriyu). “Kemarin kami kedatangan profesor dari Harvard Medical School Boston, Amerika. Menyampaikan bahwa diperlukan secara urgensinya tinggi yaitu Jakarta Institute for Mental Health yang akan kami gagas,” ujarnya. Ia berjanji bakal mempercepat pembangunan institusi tersebut dan menggandeng pemerintah pusat untuk menanggulangi masalah kejiwaan di Jakarta. “Kami ingin menggagas suatu kerja sama dengan pemerintah pusat dan juga dengan RSKD Duren Sawit yang lagi dibangun sekarang untuk memastikan fenomena ODGJ ini bisa terantisipasi dengan baik ke depan,” tuturnya.


Baca juga :

detikTravel Community – Anda pasti tahu Observatorium Bosscha di Lembang yang sebenarnya tak lepas dari nama KAR Bosscha. Dialah orang yang sangat berjasa dalam pendirian observatorium tersebut. Mari mengenal kehidupannya dari dekat. Berbicara tentang Karel Albert Rudolf (KAR) Bosscha atau biasa disebut Bosscha, ingatan kita akan melayang pada observatorium atau tempat peneropongan bintang di Lembang. Namanya diabadikan di sana, karena Bosscha sangat berjasa dalam pendirian observatorium tersebut. Namun, sebenarnya jejak peninggalan Bosscha bukan hanya di Lembang. Peninggalan pria Belanda yang lahir pada tanggal 15 Mei 1865 tersebut antara lain berada di Pangalengan, Kabupaten Bandung. Di sana terdapat perkebunan teh yang sangat luas dan kini menjadi tempat agrowisata Malabar yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara VIII. Di sini wisatawan dapat menikmati keindahan panorama kebun teh dan menghirup segarnya udara pegunungan. Selain indah, area kebun teh juga sering dipakai untuk acara tea walk atau jalan-jalan di kebun teh yang biasanya dilakukan beramai-ramai. Sekedar istirahat di kebun teh pun juga dapat menenangkan pikiran. Selain itu, terdapat House of Bosscha atau rumah bergaya kolonial yang pernah menjadi tempat peristirahatan Bosscha. Rumah besar berjendela banyak dengan halaman yang sangat luas di keempat sisinya, merupakan tempat tinggal yang sangat ideal untuk beristirahat. Bagaimana tidak, sisi depan dan samping kanan terdapat sebuah taman. Sedangkan di sisi sebelah kiri, terdapat halaman yang sangat luas dengan rumput hijau dan taman bermain yang berbatasan dengan kebun teh. Sementara itu di bagian belakang rumah, selain ada taman juga menghadap ke kebun teh. Khususnya untuk kamar pribadi Bosscha, benar-benar sangat nyaman. Terdapat beberapa jendela yang menghadap ke tiga sisi halaman, berupa taman dan kebun teh. Di kamar besar tersebut terdapat tempat tidur ukuran king size dan sebuah meja kerja. Bosscha meninggal pada tanggal 26 November 1928. Tak jauh dari House of Bosscha, terdapat makam Bosscha yang hingga kini tetap terjaga kebersihannya. Lokasinya sendiri berada di tengah-tengah area kebun teh. Di depan makam terdapat prasasti yang bertuliskan penjelasan singkat tentang Bosscha beserta karya-karyanya. Karyanya sendiri adalah Technische Hogeschool, yang saat ini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung. Sosieteit Concordia, saat ini dikenal sebagai Gedung Merdeka Konferensi Asia Afrika. Observatorium Bosscha, tempat peneropongan bintang yang memiliki lensa terbesar di dunia saat itu (1926). Selain menikmati sejuknya udara pegunungan dan keindahan kebun teh, kita dapat sekaligus menelusuri beberapa jejak peninggalan KAR Bosscha. Bila ingin menginap bersama keluarga maupun teman-teman, tersedia guest house di area House of Bosscha. Jadi datanglah ke Pangalengan, sebuah kota kecil arah Selatan kota Bandung yang berjarak sekitar 45 kilometer.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebut ada 10 ribu warga Ibu Kota yang mengalami gangguan jiwa. Sebagian kecil dari jumlah tersebut, dikatakannya, harus mendapatkan perawatan intensif. “Total ada 10 ribu di DKI yang terindikasi mengalami gangguan jiwa. Dan dari 10 ribu itu, 10 persen dari Dinas Kesehatan terindikasi harus mendapatkan perawatan,” kata Sandi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Sandi menuturkan ada berbagai penyebab warga Jakarta mengalami masalah kejiwaan. Yang paling utama adalah akibat masalah ekonomi dan sosial. “(Penyebabnya) satu, impitan ekonomi, sosial, keputusasaan. Ada stres, ada yang karena percintaan, ada yang depresi, ada yang skizofrenia. Kalau yang skizofrenia, harus dirawat. Paling banyak (karena masalah) sosial, ekonomi, dan keputusasaan,” papar Sandi. Namun Sandi belum memiliki data detail mengenai sebaran warga yang mengalami gangguan jiwa. Kata dia, dari enam wilayah di DKI, orang yang mengalami gangguan jiwa ada di Jakarta Barat dan Jakarta Utara. “Saya datanya belum dapat. Tapi di Jakarta Barat dan Jakarta Utara yang banyak,” terang Sandi. Wagub usungan Partai Gerindra dan PKS itu mengimbau kepada warga Jakarta mengenali tanda-tanda gangguan jiwa. Dia juga meminta warga tidak malu melapor kepada pihak Pemprov DKI jika menemukan adanya gejala gangguan jiwa pada sanak keluarga ataupun lingkungan sekitar. “(Imbauannya) kenali gangguan jiwa, mulai suka menyendiri, suka galau-galau, suka senyum-senyum sendiri, suka sedih, depresi, nggak mau ketemu orang. Itu salah satu yang kelihatan dengan mata. Jadi kita harus kenali dan sosialisasi ke masyarakat. Itu yang jadi PR buat kita untuk mengatasi gangguan kejiwaan ini,” papar Sandi. Sandi pun sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan DKI. Sandi ingin salah satu program Dinkes, yakni Ketuk Pintu Layani dengan Hati, juga menangani masalah gangguan jiwa. “Jadi harus dikasih obat, harus dikasih treatment . Nah ini. Oleh karena itu, program Ketuk Pintu Layani dengan Hati dari pemerintahan sebelumnya kita terusin , tapi kita perlebar bukan hanya penyakit yang biasa tapi juga penyakit jiwa,” tutur Sandi. [Gambas:Video 20detik]

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyoroti masalah gangguan jiwa yang mengidap 10 ribu warga Ibu Kota. Sandi tak menampik bahwa ada keluarganya yang juga mengalami depresi. “Kenapa saya sangat interest? Karena saya sudah berulang kali katakan bahwa di anggota keluarga saya banyak yang mengalami depresi, gangguan daripada stres dan lain sebagainya,” kata Sandi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Sandi mencontohkan apa yang terjadi di Jepang. Sandi berharap apa yang terjadi di Jepang, tidak terjadi di Jakarta. “Di Jepang banyak, malah di Jepang ada taman untuk bunuh diri. Di sini alhamdulillah belum ke arah sana dan kita harus cegah, nggak boleh sampai ke arah sana. Juga dengan gangguan jiwa ini nggak boleh berujung kekerasan pada anggota masyaraakat lainnya,” papar Sandi. Sandi pun meminta warga tidak terlena dengan masalah gangguan jiwa. Warga harus ikut membantu pemerintah mengatasi masalah tersebut. “Ini yang menurut saya, kita harus bergerak dan jangan hilang momentum kita, mumpung ada UU. Kita punya keberpihakan kepada orang dengan gangguan jiwa. Kita sekarang mau ke arah promotif-preventif. Ini kesempatan kita untuk melahirkan sebuah terobosan untuk mendeteksi gangguan jiwa,” terang Sandi.

Jakarta, CNN Indonesia — Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebut 20 persen warga DKI Jakarta mengalami gangguan kejiwaan. Karena itulah penting dibangun sebuah pusat kajian masalah kejiwaan di ibu kota. Rencananya, pusat kajian tersebut akan dibangun di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit bernama Jakarta Institute for Mental Health yang khusus untuk menangani masalah kejiwaan. Sandiga mengatakan, angka 20 persen tersebut merupakan data yang dihimpun Dinas Kesehatan DKI Jakarta. “Jadi di sini, teman-teman ada lebih dari 10 orang, ada dua orang yang jiwanya terganggu,” kata Sandiaga usai rapat terkait pembanguna Pusat Kajian Masalah Kejiwaan, Selasa (23/1) di Balai Kota. Sandiaga bahkan berseloroh, dirinya bisa jadi salah satu dari dari dua orang yang mengalami gangguan jiwa tersebut. Dalam rapat tersebut hadir Kepala Dinas Kesehatan DKI Koesmedi Priharto, Direktur Utama RSKD Duren Sawit dr Julaga HC Lumban Tobing, dan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa DKI Jakarta Nova Riyanti Yusuf. Sandi mengatakan, isu kesehatan jiwa menjadi sangat penting karena sekarang marak ditemukan kasus bunuh diri, persekusi, serta kekerasan terhadap anak dan perempuan. “Itu adalah puncak dari gunung es terhadap masalah kedehatan jiwa,” katanya. Beban hidup di Jakarta, lanjut Sandi, juga rentan mengakibatkan depresi karena tingginya tekanan ekonomi, sosial, dan pendidikan. Hal ini menciptakan banyak keluhan hidup dari masyarakat. Sementara itu Nova Riyanti Yusuf berharap masyarakat tak ragu untuk berkonsultasi masalah kejiwaan pada ahlinya. Apalagi saat ini seluruh masalah kejiwaan sudah ditanggung oleh BPJS Kesehatan dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Warga pun tinggal datang ke puskesmas atau rumah sakit yang bekerja sama dengan fasilitas pemerintah itu.  (sur)

RMOL. Rusia menggelar pemungutan suara awal bagi warga negaranya yang tinggal di daerah terpencil atau bekerja di kapal atau stasiun kutub awal pekan ini. Jadwal pemilu Rusia sendiri ditetapkan pada tanggal 18 Maret mendatang. Namun undang-undang Rusia tentang pemilihan presiden mengarahkan bahwa pemilihan awal bisa dimulai lebih awal dari 20 hari sebelum tanggal ditetapkan untuk memungkinkan awak kapal dan penumpang kapal yang berada di pelabuhan asing atau ekspedisi jangka panjang, staf di pen Baca tapak asal هذه الصفحة هي مجرد قاریء تلقائي للأخبار باستخدام خدمة الـ RSS و بأن نشر هذه الأخبار هنا لاتعني تأییدها علی الإطلاق.

Related Posts

Comments are closed.