Sandi: 10% dari 10 Ribu Orang Gangguan Jiwa di Jakarta Harus Dirawat

Sandi: 10% dari 10 Ribu Orang Gangguan Jiwa di Jakarta Harus Dirawat

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebut ada 10 ribu warga Ibu Kota yang mengalami gangguan jiwa. Sebagian kecil dari jumlah tersebut dikatakannya harus mendapatkan perawatan intensif. “Total ada 10 ribu di DKI yang terindikasi mengalami gangguan jiwa. Dan dari 10 ribu itu, 10 persen dari Dinas Kesehatan terindikasi harus mendapatkan perawatan,” kata Sandi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Sandi menuturkan ada berbagai penyebab warga Jakarta mengalami masalah kejiwaan. Utamanya, dikarenakan masalah ekonomi dan sosial. “(Penyebabnya) ada, satu himpitan ekonomi, sosial, keputusasaan. Ada stres, ada yang karena percintaan, ada yang depresi, ada yang skizofernia. Kalau yang skizofernia harus dirawat. Paling banyak (karena masalah) sosial, ekonomi dan keputusasaan,” papar Sandi. Namun, Sandi belum memiliki data detail mengenai sebaran warga yang mengalami gangguan jiwa. Kata dia, dari 6 wilayah di DKI, orang yang mengalami gangguan jiwa ada di Jakarta Barat dan Jakarta Utara. “Saya datanya belum dapat. Tapi di Jakarta Barat dan Jakarta Utara yang banyak,” terang Sandi. Wagub usungan Partai Gerindra dan PKS itu mengimbau kepada warga Jakarta mengenali tanda-tanda gangguan jiwa. Dan jangan malu untuk melapor ke pihak Pemprov DKI jika menemukan adanya gejala gangguan jiwa pada sanak keluarga ataupun lingkungan sekitar. “(Imbauannya) Kenali daripada gangguan jiwa, mulai dari suka menyendiri, suka galau-galau, suka senyum-senyum sendiri, suka sedih, depresi, nggak mau ketemu orang. Itu salah satu yang kelihatan dengan mata. Jadi, kita harus kenali dan sosialisasi ke masyarakat. Itu yang jadi PR buat kita untuk mengatasi gangguan kejiwaan ini,” papar Sandi. Sandi pun sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan DKI. Sandi ingin salah satu program Dinkes yakni Ketuk Pintu Layani Dengan Hati juga menangani masalah gangguan jiwa. “Jadi harus dikasih obat, harus dikasih treatment. Nah ini. Oleh karena itu, program Ketuk Pintu Layani Dengan Hati dari pemerintahan sebelumnya kita terusin, tapi kita perlebar bukan hanya penyakit yang biasa tapi juga penyakit jiwa,” tutur Sandi.

Baca juga :

Di era reformasi upaya perwujudan sistem hukum nasional terus dilanjutkan, yang meliputi: pertama, pembangunan substansi hukum, baik hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis telah mempunyai mekanisme untuk membentuk hukum nasional yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan aspirasi masyarakat; kedua, penyempurnaan struktur hukum yang lebih efektif terus dilanjutkan; ketiga, pelibatan seluruh komponen masyarakat yang mempunyai kesadaran hukum tinggi untuk mendukung pembentukan sistem hukum nasional yang dicita-citakan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Di bidang sistem peradilan pidana pengakuan terhadap eksistensi hukum adat, tertuang dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yaitu: “Hakim dan Hakim Konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”. Hal ini menjadi pintu masuk bagi seorang hakim untuk menggali, mengikuti dan memahami hukum adat (hukum yang hidup dalam masyarakat) dan menjadikannya sebagai dasar pertimbangan dalam memeriksa dan memutus perkara yang ditangani. Oleh sebab itu, hukum positif yang baik dan memiliki daya keberlakuan tinggi, maka harus sesuai dengan hukum yang hidup (the living law).

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Sejak berlakunya Undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951 tentang Tindakan-tindakan Sementara Untuk Menyelengga-rakan Kesatuan Susunan Kekuasaan dan Acara Pengadilan-Pengadilan Sipil (LN. 1951 Nomor 9), maka secara berangsur-angsur Inheemsche Rechtspraak (peradilan Pribumi/Peradilan Adat) dan Zelfbestuur Rechtspraak (Peradilan Swapraja) tersebut dihapus, kecuali peradilan desa (dorpsjustitie). Hal ini berarti, jika terjadi perselisihan adat (pelanggaran delik adat) yang mengadili seharusnya adalah pengadilan negeri, bukan peradilan adat. Namun dalam kenyataannya hakim di dalam memeriksa dan memutus perkara adat tidak semua mengetahui dan memahami nilai-nilai yang hidup pada masyarakat hukum adat setempat. Oleh karena itu menjadi suatu keharusan bahwa hakim dalam memutus perkara (perkara adat), wajib menggali dan memahami nilai-nilai hukum dan keadilan yang hidup dalam masyarakat (hukum adat yang berlaku). Hal ini bertujuan agar putusan hakim tersebut lebih mencerminkan rasa keadilan menurut masyarakat hukum adat setempat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Sejak berlakunya Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 35 tahun 2008 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua Menjadi Undang-undang (disingkat undang-undang Otsus), maka khusus Provinsi Papua dibentuk dan diberlakukan peradilan adat untuk menyelesaikan perkara adat (delik adat/hukum pidana adat) selain peradilan negara yang berlaku secara nasional selama ini. Selanjutnya upaya untuk memperkokoh kedudukan peradilan adat dan pelaksanaannya bagi masyarakat adat di Papua, maka disusunlah Peraturan Daerah Khusus (disingkat Perdasus) Papua Nomor 20 tahun 2008 tentang Peradilan adat di Papua.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Sekalipun Otsus dan Perdasus telah mengakui dan mengatur kewenangan kepada peradilan adat dalam menangani perkara adat di Provinsi Papua, namun dalam implementasinya penyelesaian delik adat tersebut dinilai masih belum optimal. Munculnya masalah dan perdebatan terkait dengan keberadaan peradilan adat tersebut, dipengaruhi oleh aspek teritorial, yaitu kondisi masyarakat hukum adat di Provinsi Papua memiliki sebuah tatanan hukum adat yang beragam antara masyarakat hukum adat yang satu dengan yang lain sesuai dengan kondisi di wilayah masing-masing. Hal ini berpengaruh terhadap proses atau cara penyelesaian kasus (delik adat) dan penerapan sanksi adatnya.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Masalah lain yang dihadapi dalam penyelenggaraan peradilan adat di Provinsi Papua adalah belum ada batasan yang jelas tentang jenis-jenis perkara (delik adat) yang dapat diselesaikan melalui peradilan adat tanpa melalui peradilan negara. Perkara-perkara yang diselesaikan peradilan adat tergantung pada ada tidaknya pengaduan masyarakat hukum adat. Sejauh ini nampak belum ada kerjasama/koordinasi dalam bentuk pelimpahan perkara-perkara yang dapat diselesaikan oleh peradilan adat. Padahal fungsi dari peradilan adat sesungguhnya dapat menjadi salah satu instrumen efektif untuk mengatasi masalah penumpukan perkara di pengadilan, dan sekaligus memperkuat dan memaksimalkan fungsi dari peradilan adat itu sendiri.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka dapat diduga kuat menimbulkan perbedaan prinsip, pandangan, dan kepercayaan masyarakat hukum adat dalam memahami hukum nasional dan keberadaan peradilan negara. Oleh karena itu untuk memberdayakan (merevitalisasi) peradilan adat sebagai lembaga penyelesaian delik adat, maka diperlukan adanya sinergitas dan harmonisasi antara hukum adat dan hukum nasional, sinergitas antara peradilan adat dan peradilan negara, antara aparat penegak hukum dan masyarakat hukum adat, serta semua pihak terkait termasuk masyarakat hukum adat, pemerintah pusat dan daerah, sehingga proses peradilan adat dapat memberikan rasa keadilan kepada semua pihak, dan dapat menanggulangi berbagai bentuk pelanggaran delik adat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Dengan demikian upaya penegakan hukum di Papua tidak hanya monopoli pengadilan negara saja, tetapi perlu diberikan ruang yang cukup kepada masyarakat hukum adat untuk memberdayakan (revitalisasi) peradilan adat sebagai lembaga adat yang berguna untuk menyelesaikan pelanggaran delik adat. Hal ini semata-mata untuk menjaga keseimbangan hubungan sosial dan menciptakan ketentraman serta kedamaian pada masyarakat hukum adat. Apalagi bila permasalahan hukum itu timbul di wilayah-wilayah yang belum terjangkau secara maksimal oleh aparat penegak hukum.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Berdasarkan kondisi yang telah dikemukakan tersebut, maka kehadiran Otsus dan Perdasus sesungguhnya merupakan peluang yang amat prospektif dan strategis untuk memberdayakan fungsi lembaga peradilan adat di Provinsi Papua. Oleh karena itu pengkajian secara mendalam terhadap persoalan ini dinilai sangat penting untuk dilakukan guna mendapatkan konsep metode dan sistem yang dapat dijadikan dasar bagi pemecahan masalah dalam memberdayakan atau mendayagunakan (merevitalisasi) peradilan adat di Provinsi Papua.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

1. Disertasi, Karolus Kopong Medan (2006), Universitas Diponegoro Semarang, berjudul “Peradilan Rekonsiliatif: Konstruksi Penyelesaian Kasus Kriminal Menurut Tradisi Masyarakat Lamaholot di Flores-Nusa Tenggara Timur”. Penelitian Karolus memfokuskan pada keutamaan dari peradilan rekonsiliatif untuk berupaya membangun kembali harmonisasi sosial dalam konteks yang lebih luas, baik secara individual, kolektif maupun dengan Yang Illahi dalam sebuah kosmologi sosial. Sedangkan penelitian ini lebih difokuskan pada upaya untuk mendayagunakan (revitalisasi) peradilan adat sebagai lembaga penyelesaian delik adat pada masyarakat hukum adat Provinsi Papua.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

2. Disertasi, Mohammad Jamin (2014), Universitas Brawijaya Malang, berjudul “Peradilan Adat: (Pergeseran Politik Hukum Perspektif Undang-undang Otonomi)”. Disertasi Mohammad Jamin, memfokuskan tentang politik hukum pengakuan terhadap kelembagaan, kewenangan dan putusan peradilan adat dalam sistem kekuasaan kehakiman di Indonesia pasca berlakunya Undang-undang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. Sedangkan penelitian ini lebih difokuskan pada pemberdayaan peradilan adat di Provinsi Papua, sehingga penyelesaian delik adat dapat berjalan lebih optimal dalam memberikan keadilan kepada masyarakat hukum adat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

3. Tesis, Guswan Hakim (2008), Universitas Hasanuddin Makassar, yang berjudul “Peranan Kalo Sara Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Pada Masyarakat Adat Suku Tolaki di Kabupaten Konawe (The Role of Kalo Sara as an Alternative Settlement of Disputes Tolaki Tribes of Konawi Regency)”. Fokus penelitian Guswan Hakim adalah jenis sengketa yang terjadi pada masyarakat adat suku Tolaki yang penyelesaiannya melalui lembaga Kalosara, sedangkan penelitian ini lebih difokuskan pada upaya pemberdayaan peradilan adat sebagai alternatif penyelesaian delik adat pada masyarakat hukum adat Papua.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Soepomo, berpendapat hukum adat diartikan sebagai “suatu hukum yang hidup, karena ia menjelmakan perasaan hukum yang nyata dari rakyat, serta hukum adat bersifat dinamis dan akan tumbuh serta berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakatnya.” Hukum adat bersifat dinamis dan akan tumbuh serta berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakatnya. Friedrich Carl von Savigny, menyebutnya sebagai Volksgeist (jiwa bangsa). Volksgeist berbeda-beda menurut tempat dan zaman yang dinyatakan dalam bahasa adat-istiadat dan organisasi sosial rakyat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Istilah masyarakat adat sering disamakan dengan istilah masyarakat hukum adat. Istilah masyarakat adat diambil dari terjemahan kata indigenous peoples, yang dibedakan dengan istilah masyarakat hukum adat yang merupakan terjemahan dari istilah Belanda yaitu rechtgemencshap. Istilah masyarakat adat mempunyai dimensi makna yang luas dari sekedar aspek hukum, padahal dalam masyarakat adat sangat erat terkait dengan dimensi kultural, religi dan sebagainya. Meskipun banyak ahli yang menyatakan bahwa istilah masyarakat hukum adat hanya akan mempersempit entitas masyarakat adat sebatas entitas hukum, tetapi secara yuridis justru istilah masyarakat hukum adat merupakan istilah yang tepat, dalam kaitannya dengan kajian ilmu hukum. Istilah masyarakat hukum adat telah lazim digunakan dalam kalangan hukum adat, dan memiliki ciri-ciri yang komprehensif.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Selanjutnya perbedaan juga terjadi pada penggunaan istilah “masyarakat hukum” dan “masyarakat hukum adat”, Kusumadi Pujosewojo mengartikan masyarakat hukum sebagai suatu masyarakat yang menetapkan, terikat dan tunduk pada tata hukumnya sendiri. Sedangkan masyarakat hukum adat adalah masyarakat yang timbul secara spontan di wilayah tertentu, berdirinya tidak ditetapkan atau diperintahkan oleh penguasa yang lebih tinggi atau penguasa lainnya, dengan rasa solidaritas sangat besar di antara anggota, memandang bukan anggota masyarakat sebagai orang luar dan menggunakan wilayahnya sebagai sumber kekayaan yang hanya dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh anggotanya.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

1. Geneologis: yaitu masyarakat hukum adat yang susunannya didasarkan atas pertalian keturunan atas azas kedarahan. Berdasarkan garis keturunan ini dapat dikategorikan lagi dalam 3 macam, yaitu: (a). Patrilineal, yaitu susunan masyarakatnya ditarik menurut garis keturunan dari Bapak (garis laki-laki), (b) Matrilineal yaitu susunan masyarakatnya ditarik menurut garis keturunan Ibu (garis perempuan), dan (c) Bilateral atau Parental yaitu seseorang menjadi anggota suatu masyarakat hukum adat yang bersangkutan karena ditarik dari garis keturunan orang tuanya yaitu Bapak dan Ibu bersama-sama sekaligus.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Provinsi Irian Jaya diganti menjadi “Papua” sesuai dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Kata “Papua” berasal dari bahasa melayu yang berarti “rambut keriting”, sebuah gambaran yang mengacu pada penampilan fisik suku-suku asli. Pada tahun 2004 Papua dibagi menjadi 2 (dua) Provinsi oleh Pemerintah Indonesia, bagian timur tetap memakai nama “Papua” yang Ibukota Provinsinya Kota Jayapura, sedangkan bagian barat bernama “Irian Jaya Barat” dan Sejak tanggal 18 April 2007 berubah nama menjadi Provinsi Papua Barat, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007 dengan Ibukota Provinsinya Manokwari.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Keadaan iklim di Papua sangat dipengaruhi oleh topografi daerah. Papua terletak tepat di sebelah selatan garis katulistiwa, oleh karena itu pada daerah yang bergunung-gunung memiliki iklim yang bervariasi dan berbeda dengan daerah Indonesia lainnya. Keadaan iklim Papua termasuk iklim tropis, dengan keadaan curah hujan sangat bervariasi terpengaruh oleh lingkungan alam sekitarnya. Di daerah pesisir barat dan utara beriklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 1.500 – 7.500 mm pertahun.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Menurut data sensus penduduk Tahun 2000 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terdapat 312 suku setelah diketemukannya 62 suku baru di Papua dan terdapat sekitar 250 bahasa. Sumber lain menyebutkan 253 bahasa, sementara Mohammad Jamin menyebut 263 bahasa lokal. Hal ini berbeda pula dengan data yang diperoleh dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Papua bahwa di Papua terdapat kurang lebih 386 macam bahasa, khusus di wilayah Provinsi Papua berjumlah 329 bahasa yang tersebar di 28 Kabupaten dan 1 Kota, dan selebihnya terdapat 57 bahasa di Provinsi Papua Barat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

“Hukum materiil sipil dan untuk sementara waktupun hukum materiil pidana sipil yang sampai kini berlaku untuk kaula-kaula daerah Swapraja dan orang-orang yang dahulu diadili oleh Pengadilan Adat, ada tetap berlaku untuk kaula-kaula dan orang itu dengan pengertian bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan pidana, akan tetapi tiada bandingnya dalam Kitab Hukum Pidana Sipil, maka dianggap diancam dengan hukuman yang tidak lebih dari tiga bulan penjara dan/atau denda lima ratus rupiah, yaitu sebagai hukuman pengganti bilamana hukuman adat yang dijatuhkan tidak diikuti oleh pihak yang terhukum dan penggantian yang dimaksud dianggap sepadan oleh Hakim dengan besar kesalahan terhukum, bahwa bilamana hukuman adat yang dijatuhkan itu menurut pikiran hakim melampaui padanya dengan hukuman kurungan atau denda yang dimaksud di atas, maka atas kesalahan terdakwa dapat dikenakan hukuman pengganti setinggi 10 tahun penjara, dengan pengertian bahwa hukuman adat yang menurut paham hakim tidak selaras lagi dengan jaman senantiasa diganti seperti tersebut di atas, bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan pidana yang ada bandingnya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Sipil, maka dianggap diancam dengan hukuman sama dengan hukuman bandingnya yang paling mirip kepada perbuatan pidana tersebut”.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Ada 3 (tiga) konklusi dasar dari ketentuan Pasal 5 ayat (3) sub b Undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951. Pertama, bahwa tindak pidana adat yang tiada bandingan atau padanan dalam KUHP tetapi sifatnya tidak berat atau dianggap tindak pidana adat yang ringan ancaman pidananya adalah pidana penjara dengan ancaman paling lama tiga bulan dan/atau denda sebanyak lima ratus rupiah (setara dengan kejahatan ringan), minimumnya sebagaimana tercantum dalam Pasal 12 KUHP yaitu 1 (satu) hari untuk pidana penjara dan pidana denda minimal 25 sen sesuai dengan ketentuan Pasal 30 KUHP. Akan tetapi, untuk tindak pidana adat yang berat ancaman pidana paling lama 10 (sepuluh) tahun, sebagai pengganti dari hukuman adat yang tidak dijalani oleh terdakwa.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

3. Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia, yaitu: Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 666 K/Pid/1984 tanggal 23 Februari 1985, yang berasal dari Putusan Pengadilan Negeri Luwuk Nomor 27/Pid/1983 jo Putusan Pengadilan Tinggi Palu Nomor 6/Pid/1984 tanggal 9 April 1984, dalam perkara hubungan kelamin di luar perkawinan. Selanjutnya Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1644 K/Pid/1988 tanggal 15 Mei 1991 dalam perkara yang berasal dari Putusan Pengadilan Negeri Kendari Nomor 17/Pid/B/1987/PN.Kdl tanggal 15 Juni 1987 jo Putusan Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara Nomor 32/Pid/B/1987/PT Sultra tanggal 11 Nopember 1987, dalam perkara perbuatan kesusilaan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Eksistensi sanksi pidana adat yang tercantum dalam konsep Rancangan Undang-undang (RUU) Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Tahun 2008 dinilai sebagai langkah maju dalam pembangunan hukum pidana Indonesia. Ketentuan tentang sanksi pidana adat dirumuskan dalam Pasal 54 ayat (1) huruf c RUU KUHP 2008, yaitu, “pemidanaan bertujuan untuk menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan keseimbangan, dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat”. Tegasnya, agar dapat terpenuhinya dimensi ini secara konkrit pada praktek penegakan hukum telah ditentukan pula adanya eksistensi pidana tambahan sebagaimana ketentuan Pasal 67 ayat (1) huruf e RUU KUHP 2008 berupa, “pemenuhan kewajiban adat setempat dan/ atau kewajiban menurut hukum yang hidup dalam masyarakat”. Asasnya, hakim menjatuhkan pidana tambahan tersebut apabila pelaku telah memenuhi ketentuan Pasal 1 ayat (3) dan (4) RUU KUHP 2008, bahwa seseorang dapat dipidana walaupun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan, tetapi perbuatan tersebut berdasarkan hukum yang hidup dalam masyarakat dinyatakan sebagai tindak pidana adat, sepanjang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan/atau prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh masyarakat bangsa-bangsa. Penjatuhan pidana tambahan sebagaimana diatur dalam Pasl 67 ayat (1) huruf e dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok, sebagai pidana yang berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana tambahan yang lain.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Istilah “peradilan“ (rechtspraak) pada dasarnya berarti “pembicaraan tentang hukum dan keadilan“ yang dilakukan dengan sistem persidangan (Permusyawaratan) untuk menyelesaikan perkara di luar pengadilan dan atau di muka pengadilan. Peradilan menurut Hilman Hadikusuma adalah perbuatan yang sifatnya menetapkan apakah sesuatu hal itu sesuai dengan hukum dan keadilan atau yang bersifat menyelesaikan sesuatu sesuai dengan hukum dan keadilan. Dengan kata lain peradilan adalah cara bagaimana menyelesaikan sesuatu masalah yang timbul dikarenakan adanya perbedaan pendapat atau adanya persengketaan. Apabila pembicaraan berdasarkan hukum adat, maka disebut “peradilan hukum adat “ atau “peradilan adat“ saja. Dengan demikian peradilan adat adalah cara yang berlaku menurut hukum adat dalam memeriksa, mempertimbangkan, memutuskan atau menyelesaikan suatu perkara kesalahan adat. Hukum adat tidak mengenal Instansi Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Penjara.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Menurut Hilman Hadikusuma, peradilan adat di Indonesia sudah ada sejak dahulu, jauh sebelum agama Islam masuk di Indonesia, masyarakat telah melaksanakan tata tertib peradilannya menurut hukum adat. Peradilan adat adalah penyelesaian perselisihan secara damai di luar pengadilan negara (resmi) tanpa berdasarkan peraturan tertulis dalam bentuk perundang-undangan negara, melainkan berdasarkan hukum adat yang dilaksanakan secara kekeluargaan, dengan cara musyawarah untuk mufakat diantara para pihak yang terlibat dalam perselisihan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Sejak tahun 1848 peradilan di Indonesia terdapat dualisme peradilan, yaitu menurut hukum barat (Eropah) yang dikodifikasi, dan menurut hukum adat, yaitu hukum Indonesia yang tidak dikodifikasi, yang tidak tertulis secara teratur, termasuk yang menyangkut hukum agama. Menurut Hilman bahwa sistem dualisme tersebut dikarenakan penduduk yang beranekaragam, sehingga peradilannya berbeda-beda, yaitu: Peradilan Gubenemen, Peradilan Pribumi (Peradilan Adat), Peradilan Swapraja, Peradilan Agama dan Peradilan Desa.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Kondisi tersebut mulai berubah pada waktu Pemerintah Republik Indonesia memberlakukan Undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951 tentang Tindakan-tindakan Sementara Untuk Menye-lenggarakan Kesatuan Susunan Kekuasaan dan Acara Pengadilan-pengadilan Sipil (LN.1951 Nomor 9). Melalui Undang-undang Darurat tersebut secara berangsur-angsur Inheemsche Rechtspraak (Peradilan Pribumi/Peradilan Adat) dan Zelfbestuur Rechtspraak (Peradilan Swapraja) dihapuskan. Peradilan yang terakhir dihapuskan adalah peradilan di Irian Barat berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 1966. Dari kelima macam peradilan yang diwarisi masa kolonial yang masih tersisa adalah Peradilan Gubernemen (sekarang Pengadilan Negeri); Peradilan Agama; dan Peradilan Desa. Hal ini berarti, masih tersisa satu peradilan yang tidak tergolong peradilan negara sebagai wadah bagi masyarakat untuk menyelesaikan persengketaan secara internal, di luar peradilan negara.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 19 Tahun 1964 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, dinyatakan bahwa peradilan di wilayah Republik Indonesia adalah peradilan negara yang ditetapkan dengan undang-undang. Dalam penjelasannya disebutkan, bahwa dengan berlakunya Undang-undang ini maka tidak ada lagi tempat bagi peradilan swapraja yang bersifat feodalistik atau peradilan adat yang dilakukan oleh bukan perlengkapan negara. Undang-undang ini dicabut dan kemudian digantikan dengan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Dalam Pasal 3 ayat (1) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 dinyatakan, bahwa ”semua peradilan di wilayah Republik Indonesia adalah peradilan negara dan ditetapkan melalui Undang-undang”. Dalam penjelasannya disebutkan selain pengadilan negara tidak diperkenankan lagi adanya peradilan yang dilakukan oleh bukan peradilan negara.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Menurut Pasal 50 ayat (1) Undang-undang Nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua bahwa: “Peradilan adat adalah peradilan perdamaian di lingkungan masyarakat hukum adat, yang mempunyai kewenangan memeriksa dan mengadili sengketa perdata adat dan perkara pidana di antara para warga masyarakat hukum adat yang bersangkutan”. Pengertian peradilan adat juga diatur dalam Pasal 1 angka 16 Peraturan Daerah Khusus Papua (Perdasus) Nomor 20 Tahun 2008 tentang Peradilan Adat di Papua, bahwa “Peradilan adat adalah suatu sistem penyelesaian perkara yang hidup dalam masyarakat hukum adat tertentu di Papua”. Selanjutnya yang dimaksud pengadilan adat menurut Pasal 1 angka 17 Peraturan Daerah Khusus Papua (Perdasus) Nomor 20 Tahun 2008 tentang Peradilan Adat di Papua bahwa Pengadilan adat adalah lembaga penyelesaian sengketa atau perkara adat dalam masyarakat hukum adat tertentu di Papua.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Pasal 50 ayat (2) UU Otsus menyatakan bahwa di samping kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diakui adanya peradilan adat di dalam masyarakat-masyarakat hukum adat tertentu. Penjelasan Pasal 51 Ayat (1) dalam ayat ini secara tegas diakui keberadaan dalam hukum nasional, lembaga peradilan dan pengadilan adat yang ada di Provinsi Papua, sebagai lembaga peradilan perdamaian antara para warga masyarakat hukum adat di lingkungan masyarakat hukum adat yang ada. Lebih lanjut dimuat pada Penjelasan Pasal 51 ayat (2) bahwa Pengadilan adat bukan badan peradilan negara, melainkan lembaga peradilan masyarakat hukum adat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

3. Ketiga, teori relativitas kultural (cultural relativist theory), teori ini adalah salah satu bentuk antitesis dari teori hak-hak alami (natural rights), yang berpandangan bahwa menganggap hak itu bersifat universal merupakan pelanggaran satu dimensi kultural terhadap dimensi kultural yang lain, atau disebut dengan imperalisme kultural (cultural imperalism). Manusia merupakan interaksi sosial dan kultural serta perbedaan tradisi budaya dan peradaban berisikan perbedaan cara pandang kemanusiaan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Keadilan restoratif memberikan kerangka kerja yang berbeda dalam memahami dan menanggapi tindak pidana. Tindak pidana dipahami sebagai perbuatan yang menimbulkan kerugian terhadap individu-individu dan masyarakat, serta bukannya sekadar pelanggaran undang-undang abstrak melawan negara, sehingga adalah sangat beralasan bila korban atau anggota masyarakat dan pelaku sendiri, dituntut untuk memainkan peranan penting dalam proses penyelesaiannya. Pemulihan hubungan emosional dan kerugian materiil adalah jauh lebih penting ketimbang penekanan pada hukuman terhadan pelaku tindak pidana sebagaimana berlaku sekarang ini.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Restorative Justice adalah suatu rangkaian proses penyelesaian masalah pidana di luar pengadilan yang bertujuan untuk merestore (memulihkan kembali) hubungan para pihak dan kerugian yang diderita oleh korban kejahatan. Hal ini diharapkan dapat dijadikan dasar pertimbangan bagi majelis hakim pengadilan untuk setidak-tidaknya memperingan sanksi pidana yang dijatuhkan terhadap pelaku tindak pidana. Restorative Justice dalam ilmu hukum pidana harus bertujuan untuk memulihkan kembali keadaan seperti semula atau sebelum terjadi kejahatan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Secara sederhana mediasi diartikan sebagai kegiatan menjembatani antara dua pihak yang bersengketa guna menghasilkan kesepakatan (agreement). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mediasi diartikan sebagai proses pengikutsertakan pihak ketiga dalam penyelesaian suatu perselisihan sebagai penasihat.16 Pengertian mediasi ini mengandung tiga unsur penting. Pertama, mediasi merupakan proses penyelesaian perselisihan atau sengketa yang terjadi antara dua pihak atau lebih. Kedua, pihak yang terlibat dalam penyelesaian sengketa adalah pihak-pihak yang berasal dari luar pihak yang bersengketa. Ketiga, pihak yang terlibat dalam penyelesaian sengketa tersebut bertindak sebagai penasihat dan tidak memiliki kewenangan apa-apa dalam pengambil keputusan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

1. Langkah pertama, yaitu: (a) adanya persetujuan dari kedua pihak baik korban maupun pelanggar (pelaku tindak pidana) dalam hal upaya mediasi dilakukan, (b) pelaku mengucapkan kesediaan untuk berhenti lebih lanjut melakukan tindakan yang mengakibatkan korban, untuk menghadiri suatu program therapeutic-counselling yang disediakan oleh suatu lembaga; institusi kesehatan masyarakat, dan untuk memulihkan setiap kerusakan yang dilakukan terhadap korban dari kekerasan/kekejaman. (kompensasi untuk korban juga termasuk didalamnya).

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

2. Langkah kedua, yaitu: (a) Jika tindakan-tindakan (langkah pertama) diketahui sejauh ini telah selesai dilaksanakan, lalu jaksa penuntut umum menghentikan kasusnya, menghentikan setiap penuntutan dan menarik kasus dari laporan, (b) bila ada yang dari kondisi-kondisi (kesepakatan korban dan pelaku) yang sebelumnya dilanggar dalam periode tiga tahun, kasus itu dikembalikan dan prosedur penegakan hukum dilanjutkan seperti langkah sebelum mediasi dilakukan (seolah-olah penyelesaian sengketa dengan penengahan belum pernah terjadi), dan (c) Tidak ada upaya mediasi lainnya diizinkan untuk tindak pidana yang sama.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Menurut Moh. Koesnoe, ada dua cara dalam menangani perkara adat yaitu dengan cara menyelesaikan dan memutus. Dalam “ajaran menyelesaikan”, bahwa penyelesaian suatu perkara haruslah sedemikian rupa sehingga pihak-pihak yang berselisih di kemudian hari dapat meneruskan kehidupan bersama kembali sebagaimana sebelumnya. Dalam ajaran menyelesaikan ini, asas kerukunan mendapat penekanan. Asas kerukunan ini berhubungan erat dengan nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari asas kerukunan ini dituangkan dalam “ajaran musyawarah mufakat”.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Dalam ajaran memutus lebih menitik beratkan pada pertimbangan-pertimbangan akal sehat dan lebih pada apa yang sebenarnya oleh sebab itu keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan, kebenaran dan keadilan. Di samping asas kerukunan yang menimbulkan ajaran menyelesaikan dan ajaran memutus di atas, Koesnoe juga mengungkap dua asas kerja lainnya yang biasa digunakan dalam mengadili perkara-perkara adat, yaitu asas kepatutan dan asas kelarasan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Dengan mempergunakan perbedaan-perbedaan antara bagian input, process, dan out put, maka akan tampak SPP secara lebih sistematis. Bagian input SPP adalah bagian pertama yang menyeleksi kamus-kamus pelanggaran hukum yang menjadi bahan masukan SPP, yaitu sejumlah kejahatan yang dilaporkan/ tercatat (reported crimes) sebagai bagian SPP yang berhubungan dengan korban, atau pelaku, atau bahkan keduanya. Sedang untuk kejahatan yang tidak dilaporkan/tersembunyi (unreported crimes/hidden crimes) hanya menjadi perkiraan atau menjadi dark number yang tidak dapat diseleksi sebagai bahan input.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Menurut Soerjono Soekanto, penegakan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral, sehingga dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor tersebut, yaitu: (1) Faktor Hukumnya sendiri, (2) Faktor Penegak Hukum, yaitu pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum, (3) Faktor Sarana atau Fasilitas yang mendukung penegakan hukum, (4) Faktor Masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan, dan (5) Faktor Kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

(1) Teori Etis. Teori ini diperkenalkan oleh Aristoteles, yang menyatakan bahwa tujuan hukum itu semata-mata untuk mewujudkan keadilan. Keadilan yang dimaksud adalah memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi bagian atau haknya. Nilai keadilan sifatnya relatif, sehingga tidak mungkin untuk menemukan sebuah keadilan yang mutlak (absolute justice). Aristoteles mengajarkan 2 macam keadilan, yaitu keadilan distributif dan keadilan komutatif. Namun pakar hukum lain membedakan dalam 6 macam, yaitu:

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

(2) Teori Utilitas. Teori ini diperkenalkan oleh Jeremy Bentham, James Mill, John Stuart Mill, dan Subekti, yang menegaskan bahwa tujuan hukum adalah untuk mewujudkan apa yang berfaedah atau yang sesuai dengan daya guna (efektif). Hal ini berarti tujuan hukum sedapat mungkin mendatangkan kebahagian yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Dalam teori utilitas ini selanjutnya diajarkan bahwa hanya dalam ketertibanlah setiap orang akan mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan kebahagiaan yang terbanyak.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Pada kenyataannya menurut Achmad Ali, bahwa tujuan hukum terkadang tidak dapat diwujudkan sekaligus bahkan sering terjadi benturan diantara ketiganya. Dari kenyataan seperti ini kemudian lahirlah ”asas prioritas tiga nilai dasar tujuan hukum” dari Gustav Radbruch . Asas prioritas merupakan asas yang mengemukakan bahwa dalam setiap masalah urutan prioritas dalam mewujudkan tujuan hukum adalah keadilan, kemudian kemanfaatan dan yang terakhir kepastian hukum. Idealnya bahwa tiga dasar tujuan hukum tersebut seyogianya diusahakan agar dalam setiap putusan hakim maupun oleh aparat penegak hukum lainnya dalam menjalankan tugas dan kewajibannya dapat terlaksana secara bersama-sama, dan jika tidak mungkin, maka harus diprioritaskan keadilannya lebih dulu, kemudian barulah kemanfaatannya, dan terakhir adalah kepastian hukumnya.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Menurut John Rawls teori keadilan dapat dibagi dua bagian yaitu: (1) penafsiran atas situasi awal dan perumusan berbagai prinsip yang bisa dipilih, serta (2) suatu argumentasi yang menyatakan prinsip mana yang bisa digunakan. Subjek utama dari prinsip keadilan sosial adalah struktur dasar masyarakat, tatanan institusi-institusi sosial utama dalam satu skema kerja sama. Prinsip keadilan bagi institusi tidak boleh dikacaukan dengan prinsip-prinsip yang diterapkan pada individu dan tindakan-tindakan mereka dalam situasi tertentu. John Rawls membagi 2 (dua) “prinsip keadilan”, yaitu:

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Menurut teori konsensus bahwa nilai-nilai adalah unsur utama dari kehidupan sosial. Tiap masyarakat; menjunjung nilai-nilai tertentu, dan nilai-nilai itulah yang menjadi pengikat satu masyarakat. Nilai-nilai yang dijunjung tinggi mewarnai bentuk pergaulan dan tata-krama umum, dan ketidaktenteraman dapat terjadi kalau ada perilaku anggota masyarakat tertentu “keluar” dari tata-krama umum, dan kepada persona yang demikian dianggap telah melanggar nilai-nilai yang hidup di masyarakat itu. Teori ini mengacu kepada penghargaan terhadap hukum yang dibuat berdasarkan nilai-nilai yang hidup di masyarakat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Teori ini dimungkinkan untuk mengadakan peninjauan dan pembahasan terhadap teori tujuan hukum acara pidana di atas dengan dampak yang bersifat individual dan bersifat sosial dalam penerapannya, sehingga terdapat keseimbangan perlindungan kepentingan individu di satu pihak dengan kepentingan masyarakat di lain pihak, serta sebagai wujud dasar kemanusiaan dalam sistem Pancasila. Norma yang dibuat dengan sengaja oleh pembuat undang-undang memuat ketentuan dan aturan selain untuk menjamin hak dan kewajiban perseorangan, juga untuk melindungi hak dan kewajiban orang lain dalam masyarakat. Hal ini dilakukan agar tercapai keselarasan hidup dalam masyarakat melalui saluran tertentu untuk menyelesaikan kepentingan bila terjadi pertentangan atau kemungkinan pertentangan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Ade Saptomo menjelaskan revitalisasi adalah upaya-upaya sistematis dari terutama, penekun hukum dan politik untuk mengerti, memahami, dan menghayati kembali nilai-nilai yang terkandung dalam hukum adat sebagai pedoman untuk bertindak dalam bidang sosial, budaya, politik, dan hukum. Dalam konteks politik, misalnya pemilihan pemimpin, adalah nilai budaya dalam hukum adat yang menjadi dasar bertindak untuk melahirkan pemimpin. Oleh karena itu pendekatan revitalisasi dapat ditempuh, melalui 3 (tiga) pendekatan, yaitu: pendekatan past tense, yaitu pendekatan yang merujuk pada apa, bagaimana, dimana dan mengapa yang ada pada masa lalu. Pendekatan present tense adalah pendekatan dengan melihat hukum adat dipahami sebagai waktu sekarang, yaitu hukum adat digambarkan sebagai gerakan dinamis yang diperankan oleh pelaku-pelaku hukum adat yang melewati batas-batas geografis, identitas suku dan situasional lainnya. Pendekatan future tense adalah pendekatan yang melihat hukum adat dipahami sebagai waktu mendatang dalam mengarungi dan menghadapi hukum negara maupun tatanan global sehingga tatanan adat menjadi bagian dari tatanan global.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Teori yang dijadikan dasar pijakan teoretis dalam mengkaji masalah yang diangkat dalam penelitian ini terbagi dalam Grand Theory yaitu Teori Hak Asasi Manusia (HAM) yang dielaborasi dengan teori Sistem Hukum. Midle Range Theory menyangkut Teori Sistem Peradilan Pidana yang dielaborasi dengan Konsep Mediasi, Konsep Penyelesaian Delik Adat, dan Konsep Keadilan Restoratif, dan Applied Theory menyangkut Teori Penegakan Hukum yang dielaborasi dengan Teori Tujuan Hukum, Teori Keadilan, Teori Konflik dan Teori Konsensus, Teori Keseimbangan, Pendekatan Revitalisasi, dan Konsep Kebijakan Hukum Pidana dan Pembangunan Hukum Nasional.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Konsep negara hukum merupakan wadah HAM, suatu negara yang berdasarkan atas hukum harus menjamin persamaan setiap individu, termasuk kemerdekaan individu untuk menggunakan hak asasinya. Negara hukum lahir sebagai hasil perjuangan individu untuk melepaskan dirinya dari keterikatan serta tindakan kesewenang-wenangan penguasa. Berdasarkan hal tersebut penguasa tidak boleh bertindak sewenang-wenang terhadap individu dan kekuasaannya harus dibatasi. Baik negara maupun individu adalah subjek hukum yang memiliki hak dan kewajiban. Oleh karena itu, dalam negara hukum, kedudukan dan hubungan individu dengan negara senantiasa dalam suasana keseimbangan. Kedua-duanya mempunyai hak dan kewajiban yang dilindungi hukum.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

HAM tidak dapat dipisahkan dari kekuasaan negara, fungsi negara, cara penggunaan dan pembatasan kekuasaan negara. Secara historis, hakikat HAM berkisar pada perhubungan antara manusia individu dengan negara. Hak asasi baru tumbuh ketika oleh manusia mulai diperhatikan dan diperjuangkan terhadap bahaya, akibat yang sangat mendalam yang ditimbulkan oleh kekuasaan negara. Negara Republik Indonesia mencantumkan pengaturan HAM dalam Amandemen Undang-Undang Dasar 1945, yaitu Pasal 27, Pasal 28A-J, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, dan Pasal 34.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Kegiatan penegakan hukum pada dasarnya adalah untuk memberikan perlindungan HAM yang menjadi tanggung jawab Negara. Dalam rangka mewujudkan proses hukum yang adil, maka penegakan hukum seyogianya tidak dipandang secara sempit, namun harus secara holistik. Dalam proses penegakan hukum ada dua aspek penting yang sering berbenturan, yakni aspek kepentingan umum dan aspek kepentingan individu. Aspek kepentingan umum di satu pihak menghendaki terciptanya ketertiban masyarakat (social order), sedangkan di lain pihak aspek kepentingan individu menghendaki adanya kebebasan individu. Oleh karena itu perlu adanya harmonisasi antara dua aspek kepentingan yang berbeda tersebut sehingga dapat tercipta ketertiban dan keadilan dalam masyarakat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Penyelesaian tindak pidana tidak harus berakhir di pengadilan, akan tetapi masih ada upaya lain yang lebih mudah sederhana tanpa mengurangi dari rasa keadilan itu sendiri. Mediasi pidana (mediasi penal) merupakan bentuk penyelesaian delik yang dilakukan di luar pengadilan. Para pihak yang bersengketa secara aktif untuk mengusahakan dilakukan sebuah penyelesaian secara musyawarah dan mufakat, dan menghasilkan suatu penyelesaian dalam sebuah perdamaian. Bentuk penyelesaian yang mempertemukan pelaku dan korban ini salah satu cara dalam konsep restorative justice (keadilan restoratif), yaitu bentuk penyelesaian yang bertujuan untuk memulihkan dan memperbaiki korban selaku pihak yang telah dirugikan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

4. Delik adat adalah Perbuatan yang dilarang dan diancam sanksi adat berdasarkan norma masyarakat hukum adat setempat, hal ini meliputi: (a) Perkara adat kesusilaan: hubungan cinta, seksual suka sama suka, pengingkaran janji kawin, zina, incest, perkawinan antar agama, kumpul kebo. (b) Perkara adat harta benda pencurian hasil kebun dan pengrusakan rumah adat (c) Perkara adat melanggar kepentingan pribadi: pengucapan kata-kata kotor, mencaci orang, memfitnah orang, menipu orang lain atau berbohong yang menimbulkan kerugian, menuduh tanpa bukti. (d) Perkara adat kelalaian: tidak melaksanakan kewajiban adat, tidak melakukan upacara adat, tidak menghadiri upacara adat, tidak menghadiri rapat adat, tidak membayar luran adat. (e) Perkara adat yang menyangkut tanah sepanjang berkaitan dengan hak ulayat. (f) Perkara adat yang menyangkut dengan pengangkatan anak yang tidak sah (tidak prosedural atau yang tidak melalui suatu sidang adat dan upacara adat).

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

5. Reaksi adat/Sanksi adat adalah kewajiban untuk mengembalikan keseimbangan yang terganggu akibat pelanggaran delik adat. Berbagai jenis reaksi adat/sanksi adat, antara lain: 1) pengganti kerugian materiil dalam berbagai rupa, seperti paksaan menikahkan gadis yang telah dicemarkan; 2) pembayaran uang adat atau denda adat; 3) melakukan upacara/selamatan untuk membersihkan masyarakat dari segala kotoran; 4) penutup malu/permintaan maaf; 5) Menyerahkan perempuan tebusan, dan 6) pengasingan atau pengusiran dari lingkungan masyarakat hukum adat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Penelitian ini dapat dikategorikan dalam jenis penelitian hukum sosiologis/empiris (socio legal research), yaitu jenis penelitian yang berorientasi pada aspek hukum dan aspek non hukum yakni mengkaji dan menganalisis bekerjanya hukum dalam masyarakat. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologi hukum dan penelitian ini juga dikaji dari penelitian hukum normatif walaupun porsinya sangat kecil dan tidak dominan, karena berkaitan dengan substansi hukum yang diterapkan dalam menyelesaikan pelanggaran delik adat yang terjadi.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Teknik pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara secara langsung dengan Kepala Suku atau Ondoafi, pelaku, korban, tetua adat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dengan menggunakan pedoman wawancara atau kuesioner. Selain wawancara, teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi. Sedangkan teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan mengumpulkan dari peraturan perundang-undangan yang terkait dengan judul, hasil-hasil penelitian, dan literatur-literatur hukum yang dapat mendukung keabsahan hasil penelitian ini.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Berdasarkan pandangan Lawrence M. Friedman, bahwa komponen struktur dari suatu sistem hukum mencakup berbagai institusi yang diciptakan oleh sistem hukum tersebut dengan berbagai macam fungsinya dalam rangka mendukung bekerjanya sistem tersebut, salah satunya adalah pengadilan. Apabila dikaitkan dengan sistem pemerintahan adat (peradilan adat) di Provinsi Papua, maka struktur dalam pemerintahan adat yang dimaksud adalah para pemimpin atau pengurus adat (dalam hal ini kepala suku, kepala keret/klen, ondoafi, kepala kampung, atau tetua adat).

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat adat di Provinsi Papua mengenal adanya dualisme sistem pemerintahan, yaitu pemerintahan formal dan pemerintahan non formal. Pemerintahan formal ini berupa pemerintahan desa, dan kedudukannya berada di bawah pemerintahan kecamatan/distrik. Sedangkan pemerintahan non formal ini disebut juga dengan pemerintahan adat (tradisional), yaitu suatu sistem pemerintahan asli atau pemerintahan adat yang sudah ada sejak jaman purbakala secara turun temurun. Sistem pemerintahan adat di masing-masing daerah/suku memiliki kepemimpinan adat sendiri-sendiri sesuai dengan tipe kepemimpinan yang dianut oleh masing-masing pemerintahan adat, misalnya tipe kepemimpinan Pria Berwibawa, kepemimpinan Raja, kepemimpinan Keondoafian (Kepala Klen), dan sistem kepemimpinan Campuran.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Berdasarkan wawancara dengan Philip Deda selaku Sekretaris Dewan Adat Suku Sentani Badan Peradilan Adat, bahwa sistem kepemimpinan pada Suku Sentani dikenal adanya sistem kepemimpinan Ondoafi. Kepemimpinan adat ini disebut ondoafi/ondofolo yang diperoleh melalui pewarisan langsung dari orang tua kepada anak laki-laki tertuanya hingga keturunan seterusnya. Sistem kepemimpinan masyarakat adat Suku Sentani oleh Philipus Kopeuw dan Elsa Suebu, disebut sebagai struktur pemerintahan adat yang berlapis tiga, yaitu kepala adat yang disebut Ondoafi/Ondofolo, kepala suku yang disebut koselo, dan kepala keret yang disebut akhona. Ondofolo membawahi 5 kepala suku, dan kepala suku membawahi 5 kepada keret. Kepala keret ini memimpin beberapa keluarga. Jadi kalau dibuat sandi pemerintahannya ada 155 (satu lima-lima). Jadi Ondoafi dan kepala-kepala suku adalah berdarah biru, sebab mereka termasuk keturunan para raja di Sentani dan kepemimpinannya bersifat hierarki.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Kesatuan sosial dalam kelompok kerabat (klen kecil) di Biak disebut dengan istilah “Keret”. Suatu keret terdiri dari sejumlah keluarga batih yang disebut “sim”, yang masing-masing keluarga batih menempati sim (kamar/bilik). Mnu (kampung) terdiri atas keret-keret (klen-klen kecil). Dasar-dasar yang menyatukan para warga suatu kampung adalah karena faktor kesamaan keturunan dan kepentingan ekonomi dan politik. Ciri-ciri sebuah Mnu adalah memiliki penduduk, bangunan-bangunan berupa rumah-rumah keret (aberdado), rumah-rumah upacara (rumsram), dan wilayah tertentu, dan memiliki pemimpin kampung (yang disebut Mananwir Mnu).

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Kainkain Karkara Mnu dalam perkembangannya mengalami perubahan menjadi Kainkain Karkara Biak. Secara etimologi Kainkain Karkara Biak memiliki arti sebagai berikut: kata kainkain, artinya duduk dan bermusyawarah, kata karkara artinya berbicara dan berpikir untuk mengambil keputusan terhadap masalah-masalah penting yang bermanfaat bagi masyarakat, dan kata Biak menunjukkan kepada suatu kesatuan daerah masyarakat hukum adat yang ditempati oleh orang Biak. Dengan demikian secara konseptual dapat disimpulkan bahwa Kainkain Karkara Biak adalah lembaga tempat bermusyawarah untuk berbicara, mencari jalan penyelesaian terhadap masalah-masalah yang penting dan bermanfaat bagi orang Biak.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Secara struktur hukum, maka lembaga penyelesaian delik adat bagi masyarakat hukum adat Biak dikenal dengan sebutan “Kainkain Karkara Biak”, sedangkan di masyarakat adat Suku Sentani dan Port Numbay Kota Jayapura dikenal dengan sebutan “Para-para Adat”, atau dikenal pula dengan sebutan “Obe Ongge”, dan dalam perkembangannya masyarakat adat di Sentani Timur menyebut dengan istilah Lembaga Adat “Kopemaho” (Kelompok/Forum Pemerhati Masyarakat Adat Ohey). Lembaga-lembaga adat tersebut merupakan tempat atau lembaga adat yang berfungsi untuk menyelesaikan kasus/delik adat di masing-masing suku, sehingga dalam proses penyelesaian sengketa adat, dijalankan oleh hakim adat dan pengurus adatnya. Lembaga adat tersebut menjadi alternatif masyarakat hukum adat untuk mencari keadilan dan mengembalikan keseimbangan yang terganggu, sehingga tercipta adanya ketentraman dan keharmonisan dalam masyarakat hukum adat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Dengan demikian struktur kelembagaan adat di Provinsi Papua yang selama ini sebagai tempat untuk menyelesaikan permasalahan adat sebagai bukti kuat bahwa peradilan adat di Provinsi Papua masih ada dan hidup dalam masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Struktur adat yang sudah terbentuk dan dijalankan oleh masing-masing suku dan keret tersebut bertanggung jawab atas segala sesuatu yag terjadi dalam wilayah adatnya. Kepala suku/ keret/ondoafi berwenang menyelesaikan sengketa adat atau pelanggaran delik adat, menjaga keamanan, memberikan perlindungan dan pengayoman warga adatnya terhadap kemungkinan terjadi gangguan di wilayah hukum adatnya.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Peradilan adat di Provinsi Papua berfungsi untuk menyelesaikan perkara (delik adat) di antara warga masyarakat hukum adat di wilayah masing-masing. Dalam praktek peradilan adat juga menyelesaikan delik adat yang melibatkan salah satu pihak berasal dari masyarakat hukum adat lain, ataupun menyelesaikan perkara yang melibatkan warga hukum adat yang berbeda antara suku yang satu dengan yang lain. Kendatipun peradilan adat telah berfungsi sebagai lembaga perdamaian di tingkat masyarakat hukum adat, namun dalam kenyataannya putusan peradilan adat tersebut bersifat tidak final, dan dapat dikatakan tidak menunjukkan adanya kewibawaannya (tidak berwibawa) sebagai lembaga peradilan adat yang sesungguhnya. Seharusnya peradilan adat memiliki kewibawaan dan kemandirian atas putusan yang telah diambil. Peradilan adat dikatakan memiliki kewibawaan apabila peradilan adat tersebut berfungsi sebagai lembaga peradilan yang dapat memberikan rasa keadilan, yang mencerminkan nilai-nilai kearifan, lembaga yang mampu mengembalikan keseimbangan (memulihkan keadaan) seperti semula, dan lembaga yang dapat menjaga, melindungi dan mengharmoniskan hubungan antar individu dalam masyarakat hukum adat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Seharusnya apabila berupaya mengembalikan kewibawaan peradilan adat, maka putusan peradilan adat yang telah dibuat harus bersifat final dan mengikat kedua belah pihak yang bersengketa, sehingga putusan peradilan adat tersebut tidak dapat dibatalkan oleh lembaga (peradilan) yang lain, misalnya peradilan negara (Pengadilan Negeri). Dengan demikian ketentuan Pasal 8 ayat (4) Peraturan Daerah Khusus Papua Nomor 20 Tahun 2008 tentang Peradilan Adat di Papua (Perdasus), yang memberikan peluang kepada salah satu pihak yang berkeberatan atas putusan pengadilan adat dapat mengajukan gugatan kepada Pegadilan Negeri, dapat dikatakan sebagai ketentuan yang kurang tepat dan menyimpang, karena telah mengaburkan keberadaan dan kewibawaan peradilan adat di Papua. Padahal di dalam Pasal 4 Perdasus secara tegas disebutkan bahwa kedudukan peradilan adat bukanlah merupakan bagian dari peradilan negara, melainkan lembaga peradilan adat yang berlaku dan berkedudukan di lingkungan masyarakat hukum adat di Papua. Oleh karena itu seolah-olah peradilan adat merupakan sub-ordinasi dari peradilan negara. Hal ini berarti kedudukan peradilan adat tidak lagi bersifat mandiri sebagai lembaga penyelesaian delik adat pada masyarakat hukum adat di Provinsi Papua, tetapi merupakan lembaga peradilan adat yang bersifat tidak final (sebagai peradilan adat yang terombang-ambing/mengambang), yang dapat dimintakan pemeriksaan ulang oleh pihak yang berkeberatan atas putusan pengadilan adat. Cita-cita yang selama ini ditumpukan kepada peradilan adat, yaitu asas kekeluargaan, musyawarah dan mufakat, dan asas sederhana, cepat dan biaya ringan tidak lagi dapat diwujudkan. Penyelesaian delik adat yang awalnya dapat memberikan rasa keadilan kepada masyarakat hukum adat tidak dapat berjalan secara optimal. Proses untuk mencari keadilan semakin jauh dan bertambah panjang, keseimbangan kosmis yang telah terganggu tidak lagi dapat dipulihkan seperti semula, suasana dan hubungan dalam masyarakat akan tetap terganggu, dan bahkan dapat menimbulkan rasa kecewa dan dendam sebelum ada upaya pemulihan dari pihak yang telah merusak keseimbangan tersebut.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Pertama, melakukan inventarisasi terhadap delik-delik adat yang masih berlaku dalam masyarakat hukum adat. Inventarisasi delik adat di Provinsi Papua merupakan suatu keharusan karena bertujuan untuk mengungkap jenis delik adat apa saja yang masih ada beserta sanksi adat yang masih diterapkan dalam menyelesaikan delik adat yang terjadi. Hasil dari inventarisasi tersebut diidentifikasi berdasarkan wilayah, dievaluasi, dan dikaji secara mendalam sehingga dapat diketahui secara pasti jenis delik adat (dan sanksi adat) apa saja yang masih relevan, dan jenis delik yang sudah tidak berlaku lagi (ditinggalkan/dihilangkan) karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan, prinsip-prinsip dan nilai-nilai kearifan masyarakat hukum adat. Hasil inventarisisi tersebut akan sangat berguna untuk menentukan arah kebijakan dalam rangka pemberdayaan fungsi peradilan adat yang lebih optimal dalam memberikan keadilan masyarakat hukum adat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Kedua, mempertegas kedudukan peradilan adat sebagai peradilan yang mandiri, bersifat final, dan bukan merupakan bagian dari peradilan negara. Hal ini berarti putusan peradilan adat tidak lagi dapat dibatalkan oleh peradilan negara, dan peradilan adat tidak dapat dimintakan banding ke peradilan lain, karena putusan peradilan adat mengikat para pihak untuk mematuhi dan mentaati sebagai putusan perdamaian yang telah melalui proses musyawarah mufakat. Hal ini semata-mata untuk menjaga kewibawaan peradilan adat sebagai lembaga penyelesaian delik adat yang mengedepankan prinsip kekeluargaan, musyawarah mufakat dan prinsip win-win solution kepada para pihak, serta mengutamakan upaya untuk memulihkan keseimbangan yang terganggu.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Ketiga, melakukan pembagian kewenangan yang jelas dalam hal memeriksa dan memutus suatu perkara. Berkaitan dengan pembagian kewenangan tersebut seharusnya peradilan adat hanya berwenang memeriksa dan memutus perkara yang berkaitan dengan masalah adat (delik adat) saja, sedangkan terhadap perkara lain yang tidak berkaitan dengan masalah adat menjadi kewenangan peradilan negara. Apabila ada pelanggaran delik adat yang diatur dalam hukum adat dan juga ada pelanggaran delik adat yang diatur dalam hukum pidana nasional, tetapi oleh para pihak telah dilakukan penyelesaian secara damai baik oleh para pihak ataupun melalui peradilan adat, maka seharusnya hal ini tidak perlu lagi pelakunya dituntut ke peradilan negara, karena kesalahan yang dilakukan pelaku telah ditebus dengan penyelesaian secara damai oleh para pihak, dan pelaku telah membayar denda adat kepada pihak korban atau keluarganya, di pengadilan adat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Demikian halnya apabila para pihak yang berperkara telah memilih penyelesaian perkara melalui peradilan adat, maka seharusnya ada konsekuensi yang jelas yaitu para pihak tidak dapat lagi menolak putusan pengadilan adat, dan peradilan negara juga tidak dapat memeriksa ulang perkara yang telah diputus oleh Pengadilan Adat, karena akan bertentangan dengan asas ne bis in idem, dan hakim Pengadilan Negeri wajib menolak perkara yang diajukan tersebut. Demikian halnya apabila para pihak menginginkan perkaranya diselesaikan melalui peradilan negara, maka konsekuensinya Hakim Pengadilan Negeri yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut, diwajibkan untuk berkonsultasi dengan tokoh adat atau kepala suku setempat berkaitan dengan penentuan sanksi adat yang dapat memulihkan dan mengembalikan keseimbangan yang terganggu tersebut, yang nantinya dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh hakim dalam memutus perkara tersebut. Hal ini berarti hakim harus mempertimbangkan secara hati-hati dan jika perlu menjatuhkan sanksi pidana pokok menurut hukum pidana dan sanksi pidana tambahan yang berupa sanksi adat kepada pelaku, sebagai bentuk pertanggungjawaban secara adat dan memulihkan keadaan yang telah terganggu.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Keempat, berupaya mempertahankan keberadaan peradilan adat sebagai lembaga penyelesaian delik adat yang sesuai dengan kondisi budaya dan tradisi masyarakat hukum adat di Provinsi Papua. Penyelesaian melalui peradilan adat dirasakan lebih mudah untuk dipahami karena senafas dengan akar budaya masyarakat hukum adat. Bahkan kasus pembunuhan sekalipun dapat diselesaikan secara damai dengan membayar sanksi adat/denda dan saling maaf-memaafkan, dan seolah-olah peradilan negara tidak diperlukan. Masyarakat hukum adat masih menghendaki adanya peradilan adat sebagai lembaga penyelesaian delik adat dibandingkan memilih penyelesaian melalui peradilan negara (formal). Peradilan adat sebagai lembaga penyelesaian delik adat diharapkan dapat sejalan atau bersinergi dengan peradilan umum dalam rangka penegakan hukum yang bermuara pada rasa keadilan, tetap mengedepankan nilai-nilai kearifan dalam masyarakat hukum adat, tidak melanggar hak asasi manusia, sesuai dengan asas kepatutan dan tidak menghilangkan nilai magis religiusnya. Oleh karena itu perlu dilakukan pemberdayaan peradilan adat agar output penyelesaian delik adat tersebut dapat memberikan hasil yang optimal terutama dalam memberikan rasa keadilan kepada semua pihak.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Pengakuan peradilan adat di Papua sebelum adanya Undang-undang Otonomi Khusus, tidak dapat dilepaskan dari sejarah peradilan dari masa ke masa yang telah dilalui selama ini. Secara filosofis, pengakuan peradilan adat terdapat dalam Pasal 18B ayat (2) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (disingkat UUD NRI Tahun 1945), bahwa: “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”. Selain itu Pasal 28I ayat (3) UUD NRI Tahun 1945, menyebutkan: “Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban”. Pengakuan dan penghormatan sebagaimana dituangkan dalam UUD NRI Tahun 1945 tersebut merupakan penghargaan dari negara terhadap nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Secara Sosiologis, peradilan adat telah dipraktekkan dalam masyarakat melalui hukum adat yang berlaku di masing-masing daerah sejak dahulu kala, dan bahkan sebelum agama Islam masuk di Indonesia. Secara yuridis, keberadaan hukum adat (peradilan adat) telah diakui dalam perundang-undangan sebagai berikut:

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

5. Pasal 10 dan Pasal 20 ayat (1) Undang-undang Nomor 19 tahun 1964 L.N. No.107 tahun 1964, tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman; Pasal 27 ayat (1) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman; Pasal 25 ayat (1) dan 28 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman; dan Pasal 5 ayat (1) Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa penyelenggaraan peradilan adat di Provinsi Papua mengacu pada Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 35 tahun 2008 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua, dan berdasarkan Peraturan Daerah Khusus Papua Nomor 20 Tahun 2008 tentang Peradilan Adat Di Papua. Keberadaan undang-undang Otsus dan Perdasus tersebut sebagai wujud pengakuan pemerintah terhadap keberadaan peradilan adat yang selama ini hanya diakui dari aspek politik dan administrasi, sedangkan dari aspek kekuasaan kehakiman tidak diakui. Selain itu sebagai upaya untuk memperkokoh kedudukan peradilan adat, menjamin kepastian, kemanfaatan, keadilan, menjaga harmonisasi dan keseimbangan kosmos, dan membantu pemerintah berkaitan dengan masalah penegakan hukum di Papua.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Keberadaan undang-undang Otsus bagi Provinsi Papua dan Perdasus tentang Peradilan Adat di Papua pada kenyataannya dinilai belum banyak memberikan perubahan terhadap penyelesaian delik melalui lembaga peradilan adat. Penyelenggaraan peradilan adat di Papua selama ini dinilai masih sama seperti sebelum ada undang-undang Otsus dan Perdasus, yaitu sesuai dengan kondisi dan budaya yang berlaku di masyarakat hukum adat masing-masing. Keberadaan undang-undang Otsus dan Perdasus belum dapat secara optimal memperkokoh fungsi peradilan adat dalam menyelesaikan delik adat yang terjadi. Secara umum dapat dikatakan walaupun ada perbedaan dalam hal cara penyelesaian kasus (delik adat) yang terjadi, tetapi pada prinsipnya terdapat persamaannya terutama dalam hal penerapan sanksi adat dan pemahaman terhadap nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat hukum adat setempat. Oleh karena itu konsep yang layak untuk ditawarkan guna memperkokoh peradilan adat adalah dengan menjadikan peradilan adat di Provinsi Papua lebih diberdayakan atau difungsikan lebih giat lagi sehingga fungsi peradilan adat sebagai lembaga penyelesaian delik adat dapat memberikan rasa keadilan yang optimal khususnya pihak yang dirugikan (korban), dan memberikan kedamaian dan ketentraman masyarakat pada umumnya. Dalam rangka mewujudkan revitalisasi peradilan adat, maka langkah yang dianggap tepat dilakukan adalah (1) melakukan inventarisasi jenis delik adat dan sanksi adatnya di masing-masing suku dan wilayah, (2) membentuk struktur peradilan adat sesuai dengan adat-istiadat, sistem kekerabatan, sistem kepemimpinan, dan organisasi sosial pada wilayah adatnya masing-masing, (3) menunjuk kepala adat atau pemimpin adat sebagai hakim adat, atau menunjuk seseorang yang dipandang layak dan memahami tatanan adat yang berlaku pada masyarakat hukum adat sebagai hakim adat sehingga dapat menyelesaikan delik adat yang terjadi dan dapat memberikan keadilan dan kepuasan kepada para pihak yang bersengketa, dan (4) melakukan perubahan dan perbaikan terhadap peraturan perundang-undangan (Otsus dan Perdasus) yang dinilai menyimpang dan tidak lagi memberikan kewibawaan keberadaan peradilan adat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Kenyataan lain yang tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat hukum adat di Provinsi Papua belum memiliki peraturan pidana adat (delik adat) secara tertulis (dicatat). Hal ini terbukti dari hasil penelusuran yang dilakukan, bahwa masing-masing suku mempunyai ciri khas dan kebudayaan yang berbeda-beda dalam menyikapi setiap sengketa/konflik adat (delik adat) yang terjadi. Masing-masing masyarakat hukum adat memiliki aturan/tatanan adat, dan sanksi adat sendiri-sendiri (walaupun ada kesamaannya, misalnya sanksi adat yang berupa ternak babi). Berdasarkan temuan di lapangan menunjukkan bahwa ternyata masyarakat hukum adat yang memiliki peraturan tentang hukum pidana adat (delik adat) secara tertulis dan tergolong lebih lengkap adalah Masyarakat Adat Napa (Biak) yang dikenal dengan “Sari Hukum Adat”, dan Masyarakat Hukum Adat Suku Jouw Warry Demta Kabupaten Jayapura dikenal dengan “Buku Panduan Hukum Adat (Dewan Adat Suku Jouw Warry)”. Sedangkan pada masyarakat hukum adat yang lain masih dalam tahap proses pembenahan dan penyusunan, misalnya Masyarakat hukum adat Suku Nafri, Suku Enggros Tobati di Kota Jayapura, dan Masyarakat Adat Suku Sentani Kabupaten Jayapura, sampai saat ini telah memiliki struktur pemerintahan adat sendiri, yang sudah terbentuk sejak dahulu dan sudah berjalan sesuai fungsinya. Hanya saja mereka belum memiliki peraturan pidana adat secara tertulis/tercatat dalam sebuah buku/undang-undang. Peraturan pidana adat selama ini hanya terbatas pada peraturan hukum adat berdasarkan ketentuan para leluhur/tetua adat terdahulu yang diikuti dan dihormati sebagai pedoman berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Pengurus peradilan adat secara rutin menangani perkara adat yang terjadi menurut aturan adat yang telah ada.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa Masyarakat Hukum Adat Napa (Biak) telah menyusun peraturan hukum adat ke dalam sebuah peraturan perundang-undangan yang dikenal dengan sebutan “Sari Hukum Adat”. Sari Hukum Adat ini merupakan pedoman yang wajib dipatuhi dan ditaati oleh masyarakat hukum adat Suku Biak dan juga oleh masyarakat lain di luar dari masyarakat hukum adat Biak. Dasar pertimbangan disusunnya “Sari Hukum Adat” bagi masyarakat Napa (Biak), ada 4 (empat) sasaran yang ingin dicapai, yaitu:

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Kedudukan Sari Hukum Adat bukanlah merupakan pengganti hukum nasional (hukum positif/hukum negara/Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)/hukum pidana), tetapi Sari Hukum Adat akan memposisikan sebagai hukum yang hanya berlaku bagi masyarakat adat (Suku Biak) atau dapat dipergunakan untuk menyelesaikan oleh masyarakat hukum adat lain yang membutuhkan keadilan melalui penyelesaian secara adat. Sari hukum adat dan hukum pidana nasional, keduanya akan berjalan seiring sejalan, bersinergi dan saling mendukung antara satu dengan yang lainnya.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Selanjutnya menurut hasil wawancara dengan Adolof Baransano dan Anthon Yarangga, bahwa Sari Hukum Adat adalah peraturan adat (dapat dikatakan sebagai KUHP-nya orang Biak) yang mengatur tentang hal-hal yang dilarang oleh adat dan lengkap dengan sanksi adat yang dapat dijatuhkan kepada seseorang/kelompok anggota/warga masyarakat adat Biak. Sanksi adat sebagaimana diatur dalam Sari Hukum Adat Biak ini bersifat fleksibel/elastis artinya tergantung pada permintaan korban dan persetujuan atau kemampuan dari si pelaku. Jadi sanksi adat ini dapat berubah lebih berat/banyak atau lebih ringan/sedikit. Sanksi adat dalam hal ini hanya sebagai pedoman saja, agar masyarakat mengetahui sanksi apa yang akan diterimanya jika sebagai pelaku pelanggaran delik adat. Dalam praktek Sari Hukum Adat Biak pernah juga digunakan untuk menyelesaikan kasus yang melibatkan antara warga adat Biak dengan warga dari suku lain (Jawa, Makassar, dan Batak), misalnya dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang menimbulkan kematian seseorang, kasus pengeroyokan (penganiayaan), kasus pengancaman dan kasus pengrusakan. Delik-delik adat sebagaimana yang diatur dalam Sari Hukum Adat Napa (Biak) tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman bagi institusi adat (pengurus/hakim adat) dalam menyelesaikan kasus adat (delik adat) yang terjadi di masyarakat adat Suku Biak.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Budaya hukum merupakan nilai-nilai, sikap serta perilaku anggota masyarakat dalam kehidupan hukum. Budaya hukum bekerja tidak berdiri sendiri, melainkan terkait erat dengan berbagai fungsi, pertama, sistem perundang-undangan yang belum tertata dengan baik, masih terdapatnya kekosongan-kekosongan, maupun kualitas yang belum baik, serta adanya perundang-undangan kolonial. Kedua, budaya hukum juga berkaitan dengan pengaruh-pengaruh dari sektor-sektor di luar hukum, dan pengaruh-pengaruh negatif pembangunan ekonomi, serta pengaruh dari melemahnya penghormatan (pelecehan) hukum. Ketiga, budaya hukum terpengaruh pada globalisasi kehidupan bangsa-bangsa di dunia.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Berkaitan dengan budaya hukum, Soerjono Soekanto sebagaimana dikutip M. Syamsudin, menyatakan budaya hukum merupakan budaya nonmaterial atau spiritual, yaitu nilai-nilai yang merupakan konsepsi abstrak mengenai apa yang baik (sehingga harus dianuti) dan apa yang buruk (sehingga harus dihindari). Nilai-nilai tersebut paling sedikit mempunyai tiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek konatif. Aspek kognitif adalah aspek yang berkaitan dengan rasio atau pikiran, aspek afektif adalah aspek yang berkaitan dengan perasaan atau emosi, sedangkan aspek konatif adalah aspek yang berkaitan dengan kehendak untuk berbuat atau tidak berbuat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Berkaitan dengan konsep budaya hukum sebagaimana yang telah dikemukakan, maka apabila dicermati dan dikaji secara mendalam hal ini erat sekali dengan kondisi masyarakat adat di Provinsi Papua yang menerapkan hukum adat sebagai dasar penyelesaian delik adat. Sikap dan perilaku masyarakat adat terhadap hukum dibangun atas dasar keyakinan bahwa tatanan adat yang telah diatur menjadi pedoman bertindak yang patut untuk diikuti dan ditaati. Delik adat yang telah dilanggar oleh warga adat akan dituntut pertanggungjawaban secara adat melalui lembaga peradilan adat (lembaga musyawarah adat).

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Masyarakat adat telah secara mendalam menjiwai keberadaan hukum adat di wilayahnya. Norma adat yang secara turun-temurun tersebut telah diakui dan dipercaya oleh masyarakat adat sebagai tatanan adat di wilayahnya. Nilai-nilai yang tercermin dalam tatanan adat tersebut telah membentuk pola perilaku masyarakat adat dalam kehidupan sehari-hari. Pola perilaku masyarakat didasarkan atas norma adat yang telah disepakati bersama dan telah hadir dan tumbuh di tengah-tengah masyarakat adat. Norma adat tersebut mengatur tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta mengatur tentang hal-hal yang baik dan yang buruk. Apabila ada yang melanggar norma yang telah ditentukan oleh masyarakat adat tersebut, maka bagi si pelanggar akan dikenakan sanksi adat sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Sikap kurang percaya yang ditunjukkan oleh masyarakat adat terhadap peradilan negara yang seringkali tidak memberikan kepuasan kepada masyarakat (dinilai merugikan masyarakat). Hal ini merupakan cermin dari budaya yang diyakini bahwa hukuman yang dijatuhkan oleh hakim negara tidak mampu mengembalikan suasana kosmis yang telah terganggu akibat adanya pelanggaran delik adat oleh pelaku. Hukuman (sanksi pidana) yang dijatuhkan oleh hakim negara (Pengadilan Negeri) kepada pelaku tindak pidana hanya dapat menebus kesalahan dan perbuatan sebagaimana diancam dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), dan bukan untuk mengembalikan keseimbangan alam yang telah tergoncang. Selain itu adanya pandangan masyarakat terhadap sanksi pidana adat itu sendiri yang berbeda dengan pemidanaan (sanksi pidana) dalam hukum pidana. Sanksi pidana dalam kajian ilmu hukum pidana hanya dapat dijatuhkan terhadap individu/perorangan (asas personal), dan pidana harus disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi si pelaku, sedangkan sanksi pidana adat adalah upaya yang ditujukan untuk mengembalikan keseimbangan kosmis yang telah terganggu, yang tidak saja dapat dipertanggung jawabkan kepada perorangan/individu, tetapi juga dapat dimintakan pertangung jawaban pidananya kepada kelompok/suku/ masyarakat adat. Tanggung jawab yang dibebankan kepada selain individu juga kelompok ini sering disebut dengan tanggung jawab komunal, yaitu, korban dapat menuntut ganti rugi adat kepada keluarga atau kepada suku dari pihak pelaku. Hal ini sangat beralasan karena corak dari hukum adat itu sendiri adalah kebersamaan (komunal), yaitu hubungan hukum antara anggota masyarakat didasarkan atas kebersamaan, kekeluargaan, tolong menolong dan gotong royong.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Secara filosofis tanggung jawab secara komunal ini merupakan tanggung jawab bersama akibat salah satu anggota keluarga yang menimbulkan kerugian kepada warga adat lainnya. Secara adat hal ini sangat dimungkinkan karena keluarga atau suku bertanggung jawab dan berwenang melindungi masyarakatnya dan wajib menanggung segala sesuatu dan akibatnya. Hal ini sebagai bentuk perwujudan dari hubungan yang sangat erat antara suku dan masyarakat adatnya. Para keluarga saling bergotong royong untuk membayar denda adat/sanksi adat, dan berusaha semaksimal mentaati putusan adat. Pemenuhan sanksi adat dilakukan semata-mata untuk menciptakan kedamaian dan mengembalikan keseimbangan kosmis yang terganggu seperti semula sebelum terjadi pelanggaran adat (delik adat).

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Berdasarkan teori sistem hukum sebagaimana yang telah dikemukakan, maka dapat ditegaskan bahwa keberadaan peradilan adat di Provinsi Papua telah secara nyata dapat dilihat dalam masing-masing sistem hukum tersebut. Keberadaan peradilan adat dapat diketahui dari struktur kelembagaan adat yang ada pada masyarakat adat yang bersangkutan, misalnya di Biak ada Mananwir yang bertindak sebagai hakim adat, ondoafi atau kepala suku/keret sebagai hakim adat di wilayah adatnya, semua fungsi yang ada pada struktur kelembagaan masyarakat tersebut mengindikasikan kuat keberadaan peradilan adat di masyarakat adat masih eksis, diakui dan hidup di tengah-tengah masyarakat adat. Secara nyata juga dapat dilihat dari substansi hukumnya, bahwa hukum adat (peradilan adat) itu masih ada dan menjelma sebagai sebuah norma adat yang memuat ketentuan tentang perbuatan-perbuatan yang baik dan yang buruk yang disertai dengan sanksi adat apabila ada yang melanggar ketentuan adat yang sudah disepakati dan ditetapkan oleh masyarakat adat setempat. Kemudian bukti nyata dalam budaya hukum dapat dilihat dari sikap dan perilaku dari masyarakat adat baik secara individu maupun kelompok/ masyarakat yang secara nyata dan sadar patuh dan taat terhadap ketentuan atau aturan adat tersebut. Budaya hukum masyarakat yang cenderung untuk menyelesaikan delik adat secara musyawarah dan kekeluargaan dengan melalui peradilan adat yang ada. Hal ini dikarenakan masyarakat merasakan kepuasan atas hasil putusan hakim adat dalam menyelesaikan pelanggaran delik adat karena dapat mengembalikan keseimbangan yang telah tergoncang.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Ayat (2): Apabila tanaman yang di persengketakan itu kelapa, maka hakim adat dapat membagi hak kepemilikan kedua belah pihak dalam dua kurun waktu tertentu masing-masing tiga (3) bulan. Di awal penyelesaiannya Hakim Adat akan memegang tangan pihak pertama untuk diletakannya di atas batang kelapa sambil berbicara agar kelapa dapat membuktikan secara alamiah, akan siapa pemiliknya agar dalam tiga bulan pertama itu buahnya berkelimpahan. Bila dalam tiga bulan pertama pohon kelapa kurang menghasilkan buah, dapat digulirkan pemilikan sementara kepada pihak kedua selama tiga bulan dengan cara demikian akan di ketahui siapa pimiliknya.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Memutuskan: 1). Keluarga besar tiga (3) pelaku dituntut denda sebesar Rp.70.000.000,- (Tujuh Puluh Juta Rupiah) ditambah sejumlah piring adat Biak (disesuaikan) disepakati 131 buah piring. 2). Pembayaran denda dilakukan satu kali dan lunas. 3). Kedua pihak yang berperkara sepakat untuk berdamai dan memohon kasusnya dicabut dari polisi karena sudah selesai. 4). Keluarga korban menyatakan tidak akan menuntut lagi pada keluarga pelaku dkk. 5). Keluarga pelaku dkk menyatakan telah bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya. 6). Bilamana ada pihak yang kemudian hari sengaja melanggar kesepakatan ini, maka akan dituntut kembali sesuai ketentuan hukum adat Papua, hukum agama, dan hukum pemerintah yang berlaku.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

2. Keputusan Dewan Adat Biak Kankain Karkara Byak Bar Sorido-KBS No.02.1/BA.O/I/2013. Bahwa untuk mencapai keseimbangan yang adil, nyaman dan bermartabat dalam menegakkan hukum adat Papua khususnya hukum adat Biak di kalangan masyarakat adat Byak yang berada di wilayah hukum adat Byak Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Supiori, maka setelah mempelajari dan mencermati latar belakang kasus kecelakaan lalu lintas di Jalan Sorido Raya (Bonmamor) yang mengakibatkan, kematian korban di RSUD Biak pada tanggal 24 Desember 2012 serta tuntutan dan gugatan keluarga korban terhadap keluarga pelaku, maka Dewan Adat Biak Bar Sorido-KBS mengacu kepada: Dasar Hukum UUD 1945 Bab IV Pasal 18 B ayat (1) dan ayat (2) (Amandemen ke-II), UU Otsus Papua No.21/2001 Bab IX Pasal 50 ayat (2) dan Pasal 51 ayat (1) s/d (8), Perdasus Papua No.20/2008 tentang Peradilan Adat di Papua.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Memutuskan, Menetapkan: 1. Keluarga pelaku dituntut keuarga (korban) denda sebesar Rp.45.000.000,- (Empat Puluh Lima Juta Rupiah) 2. Pembayaran tahap ke-I Rp.20 juta Lunas. 3. Pembayaran tahap ke-II Rp.25 juta dengan toleransi waktu bulan April 2013. 4. Kedua belah pihak yang berperkara sepakat untuk kasus yang ada dicabut dari dari polisi karena sudah selesai/berdamai. 5. Keluarga Korban menyatakan tidak akan menuntut keluarga pelaku sekarang atau di waktu kapanpun. 6. Bilamana ada pihak yang kemudian sengaja melanggar kesepakatan ini, maka akan dituntut kembali sesuai ketentuan hukum adat Biak yang berlaku dan hukum negara yang berlaku.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

1 .Denda sebesar Rp. 40 Juta 2. Ditambah satu Anak Perempuan. Tanggapan Keluarga pelaku pada dasarnya tetap menghormati dan menghargai tuntutan berdasarkan Adat Istiadat Biak Papua namun tuntutan Denda sebesar Rp.40 Juta dapat dipertimbangkan sehubungan dengan keluarga pelaku masih mempunyai sejumlah anak yang perlu dihidupi dan dibiayai. Sedangkan Adat Istiadat yang berbeda (Biak Papua-Makasar), maka sangat berat untuk dipertimbangkan tuntutan tambah dengan satu (1) Anak Perempuan. Persiapan keluarga pelaku yang ada Rp.20 Juta, dan Dua ( 2) buah piring besar.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Berdasarkan kedua kasus yang telah dipaparkan tersebut dapat dicermati, bahwa kasus tersebut jenisnya sama, yaitu mengakibatkan seseorang meninggal dunia. Kasus tersebut dalam tatanan hukum adat Biak disebut sebagai apiokem (pembunuhan), sehingga pelakunya dapat dijatuhi sanksi adat dengan menyerahkan seorang anak gadis kepada keluarga korban sebagai pengganti atau tebusan nyawa yang hilang (Bin Babyak). Delik ini dikenal dengan istilah “kepala ganti kepala atau darah ganti darah”, untuk mengembalikan keseimbangan yang terganggu tersebut. Selain harus menyerahkan seorang anak gadis juga masih ada tuntutan sejumlah uang, hal ini bagi pelaku tentu ada yang tidak mampu atau tidak sanggup untuk membayar sebagaimana yang dituntut keluarga korban. Oleh karena itu kedua belah pihak saling tawar menawar, negosiasi, dan musyawarah untuk mencapai mufakat atau kesepakatan, yang difasilitasi dan dimediasi oleh Dewan adat Biak. Tujuan sanksi adat ini secara filosofis adalah selain untuk menghilangkan rasa kesal, rasa marah dan dendam keluarga korban, juga untuk mengembalikan hubungan kemasyarakatan yang selama ini terjalin erat, dan mengembalikan keseimbangan kosmis yang terganggu akibat ada pelanggaran delik adat. Perempuan tebusan yang diserahkan kepada keluarga korban secara simbolik untuk mengganti nyawa yang telah hilang tersebut, dengan maksud untuk dikawini sebagai suami isteri. Jenis perkawinan tebusan ini menurut masyarakat adat Biak dinamakan Perkawinan Pengganti Korban Pembunuhan (Farbakbuk Bin Babyak), dan termasuk perkawinan luar biasa, karena wanita diberikan oleh keluarga pihak pelaku pembunuhan kepada pihak keluarga yang menjadi korban sebagai pengganti dengan maksud agar wanita tersebut kelak dalam perkawinannya melahirkan seorang anak sebagai pengganti korban dan selain dari itu berfungsi sebagai alat perdamaian dan sekaligus mengikat hubungan kekeluargaan di antara kedua keluarga yang bersangkutan serta menghilangkan dendam kesumat. Apabila pelaku juga meninggal di kemudian hari dan dinyatakan terbukti salah oleh kepala adat, maka pihak keluarga korban hanya meminta sejumlah uang yang disebut dengan istilah “uang darah” serta penyelesaianya dapat sampai ke polisi.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Proses perkawinan adat akibat adanya Farbakbuk Bin Babyak, ditiadakan termasuk maskawinnya dengan syarat apabila di kemudian hari wanita tersebut melahirkan seorang anak, maka suami diwajibkan untuk membayar maskawin (Ararem). Apabila ternyata anaknya perempuan, maka maskawin (ararem) nya sebagian diberikan kepada keluarga korban sebagai tanda. Sedangkan apabila melahirkan anak laki-laki, maka maskawinnya untuk orang tua wanita tebusan tersebut penuh, artinya tanpa dikurangi sedikitpun. Hal inilah sebenarnya makna filosofisnya, dari perempuan tebusan yang dituntut oleh keluarga korban, akhirnya hubungannya menjadi lebih erat dan bahkan menjadi satu keluarga.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

7. Delik Pencurian. Pelanggaran delik pencurian ini dendanya berupa uang dan manik-manik, uang yang dibayar tergantung nilai barang yang dicurinya. Selain itu dikenakan denda adat berupa a) Membayar denda adat yang bentuk dan nilainya sesuai putusan Ondoafi, serta pihak keluarga pemilik yang sah atas barang dimaksud. b) Mengembalikan barang tersebut kepada pemiliknya yang sah. Untuk masalah pencurian yang dilakukan oleh anak-anak hanya diberikan nasehat untuk tidak mengulangi lagi, serta untuk barang yang berharga saja yang biasanya melalui proses peradilan adat. Delik pencurian dapat memicu perang suku, apabila pencurian tersebut berkaitan dengan perempuan, hasil kebun, atau hasil hutan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Berdasarkan jenis delik yang telah dikemukakan tersebut, terlihat bahwa perbuatan sebagaimana diatur dalam hukum adat pada masyarakat adat Papua diatur pula dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Dalam menyikapi hal tersebut, maka penyelesaian dapat ditempuh melalui peradilan adat ataupun melalui peradilan umum (peradilan negara). Hal ini sesuai dengan kesepakatan para pihak yang bersengketa, yaitu penyelesaian melalui jalur non formal (di luar pengadilan) atau melalui jalur formal (pengadilan). Dalam undang-undang Otsus dan perdasus telah diberikan keleluasaan dalam memilih peradilan yang akan dipergunakan untuk menyelesaikan delik adat. Perkara yang tidak dapat diselesaikan melalui pengadilan adat, maka dapat diselesaikan melalui mekanisme peradilan umum. Hal ini dimungkinkan apabila salah satu pihak yang berperkara tersebut merasa keberatan atas putusan pengadilan adat yang telah memeriksanya, maka pihak yang keberatan dapat mengajukan tuntutan ke Pengadilan Negeri.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

e. Pencurian. Perbuatan mencuri merupakan perbuatan yang merendahkan harga diri seseorang, oleh karena itu para orang tua selalu menasihati anak-anaknya agar jangan mencuri, dan memberikan teladan baik dalam perkataan maupun perbuatan. Teladan dalam perkataan berarti orang tua atau keluarga selalu bijak dalam bertutur kata, sopan dan menghormati terhadap orang yang lebih tua. Teladan perbuatan berarti selalu menanamkan sifat bekerja keras dalam membuka kebun, menanam sagu, berburu, menangkap ikan, dan membangun rumah di wilayah hak ulayatnya. Pencurian merupakan perbuatan yang dapat menjadi penyebab sengketa dalam kehidupan masyarakat hukum adat, misalnya pencurian terhadap harta benda, hasil kebun, ternak/hewan piaraan atau di danau/laut, dan pencurian terhadap perempuan (perzinahan, perkosaan).

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Berdasarkan kelima jenis delik adat tersebut dapat dikategorikan sebagai pelanggaran yang sangat serius, maka pada umumnya diselesaikan dengan cara kekerasan (perang/perang suku). Berdasarkan hasil wawancara dengan Martinus Omba, bahwa di Papua perang antar suku pada umumnya dapat dibedakan dalam 2 (dua) jenis yaitu perang terbuka dan perang tersembunyi/terselubung. Perang terbuka dilakukan untuk membunuh pelaku yang telah melanggar norma adat dan sebagai wujud sanksi adat. Perang tertutup merupakan tindakan suatu keluarga atau marga untuk membalas kejahatan yang dialaminya (dilakukan oleh anggota keluarga atau orang sewaan) dan eksekusinya dilakukan secara rahasia. Sasaran balas dendam utamanya adalah pada pelanggar adat, apabila pelanggar adat tidak ditemukan, maka sasaran selanjutnya adalah saudaranya (kakak atau adik) sebagai korbannya.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Penyelesaian dengan cara kekerasan (perang suku) ini dalam perkembangannya sudah banyak ditinggalkan, hanya di wilayah tertentu misalnya: di wilayah sebelah utara dari Pegunungan Tengah (ditempati suku Damal, Dani, Dalem), sebelah selatan (suku Amungme dan Nduga), sebelah timur (suku Kupel dan Ngalum), dan sebelah barat (suku Moni dan ekagi) yang masih mempertahankan cara penyelesaian dengan melakukan perang suku. Perang suku pernah terjadi antara dua kampung yang melibatkan Suku Dani dan Suku Moni di Kampung Timika Gunung Jayanti Distrik Kuala Kencana Timika Kabupaten Mimika, pada bulan Mei 2014 lalu. Perang suku terjadi karena dipicu oleh sengketa lahan garapan antara kedua suku yang sama-sama merasa berhak atas lahan tersebut. Pengurus lembaga adat berusaha untuk menghimbau kedua kelompok agar menghentikan pertikaian dan membicarakan proses damai. Dasar pertimbangan penyelesaian kasus antar suku adalah tempat kejadian, siapa pelaku dan korbannya, dan siapa yang berwenang menyelesaikannya, serta aturan atau norma adat mana yang akan dipergunakan untuk menyelesaikan kasus tersebut. Apabila kedua belah pihak saling mempertahankan kebenaran, maka penyelesaian dengan cara perang suku tidak dapat dihindari.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Penyelesaian delik yang tidak berkaitan dengan tanah, perempuan, pembunuhan, pembakaran rumah, dan pencurian dapat diselesaikan secara damai. Tetapi dalam perkembangan saat ini delik adat tersebut sering diupayakan untuk diselesaikan perdamaian secara adat walaupun merupakan pelanggaran adat yang sangat berat/serius, misalnya kasus kecelakaan lalu lintas, pembunuhan, penganiayaan, membawa lari seorang gadis, pencurian, dan perzinahan, pada umumnya dapat diselesaikan secara adat dengan cara perdamaian oleh para pihak sendiri atau diselesaikan melalui pengadilan adat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Keberadaan pengadilan adat di Provinsi Papua pada dasarnya bukanlah pengadilan bertingkat, melainkan lembaga peradilan masyarakat adat yang berfungsi untuk memeriksa, mengadili dan memutus perkara adat yang diajukan. Susunan keanggotaan peradilan adat diatur menurut ketentuan hukum adat yang berlaku pada masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Penyelenggaraan peradilan adat diurus oleh fungsionaris adat (disebut hakim adat), yang dapat dibantu oleh pengurus adat sesuai dengan kondisi masyarakat hukum adat masing-masing. Masyarakat adat yang menganut sistem kepemimpinan pria berwibawa yang menjadi fungsionaris adat (hakim adat) adalah pimpinan adat atau secara tunggal, sistem kepemimpinan raja fungsionaris adatnya adalah raja, sistem keondoafian fungsionaris adat adalah ondoafi/kepala suku, sistem kepemimpinan campuran fungsionaris adatnya dipimpin oleh seorang Mananwir Mnu atau kepala kampung.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Mekanisme penyelesaian perkara adat, yaitu kewenangan untuk menerima, mengurus, mengadili, dan pengambilan putusan dilaksanakan menurut hukum adat dan masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Adapun putusan yang telah diambil oleh pengadilan adat, maka wajib dipatuhi oleh para pihak (pelaku delik adat). Tata cara pengambilan putusan dan pelaksanan putusan dilaksanakan menurut hukum adat dan masyarakat hukum adat yang bersangkutan sesuai dengan sistem kepemimpinan yang dianut, yang meliputi sistem kepemimpinan keondoafian, sistem kepemimpinan raja, sistem kepemimpinan pria berwibawa, dan sistem kepemimpinan campuran.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Penyelesaian secara perdamaian ditempuh dengan cara mediasi oleh pihak keluarga untuk menawarkan cara penyelesaian terbaik bagi kedua belah pihak. Penyelesaian delik pada dasarnya dapat ditempuh melalui mekanisme penyelesaian secara adat (non penal/non litigasi/mediasi), dan juga penyelesaian melalui pengadilan negeri (penal/litigasi). Bentuk penyelesaian pelanggaran terhadap delik adat yang ditempuh dengan cara penyelesaian secara adat, maka tahapan dan mekanismenya dimulai dari adanya laporan atau pengaduan yang dilakukan oleh pihak korban atau keluarganya kepada pengurus adat, oleh pengurus adat ditindaklanjuti dengan membuat surat pemanggilan atau pemberitahuan secara lisan tentang pokok permasalahan, tempat dan waktu dilakukan pertemuan atau rapat adat atau sidang adat. Setiap suku atau wilayah berbeda-beda cara dan mekanisme penyelesaiannya.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Menurut hasil wawancara dengan JJK. Mandibondibo, bahwa pada prinsipnya penyelesaian delik adat pada Bar Sorido Biak dilakukan dengan mengutamakan musyawarah mufakat. Mediasi penyelesaian delik adat dilakukan oleh Dewan Adat Biak Bar Sorido-KBS melalui lembaga Kainkain Karkara Byak (peradilan adat). Pihak pelaku dan korban dihadirkan dan dipertemukan dalam sidang adat yang biasanya di ruang dewan adat, atau di rumah adat (Kepala Kampung). Selanjutnya setelah para pihak hadir di hadapan Mananwir/fungsionaris adat/ hakim adat, para tokoh agama, tokoh adat dan warga masyarakat hukum adat, maka mananwir yang memimpin sidang adat memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada pihak korban (keluarga) untuk mengajukan/menyampaikan tuntutannya kepada pihak pelaku. Setelah itu pelaku diberikan kesempatan menanggapi tuntutan korban, apabila pelaku setuju dengan tuntutan yang diajukan oleh korban, maka hal tersebut dianggap telah terjadi kesepakatan sehingga dapat disahkan oleh Mananwir, dan dilanjutkan dengan proses pembayaran denda adat. Namun apabila terjadi saling tawar menawar tentang ketidakmampuan, keberatan dan alasan lainnya, maka sebelumnya hakim adat menahan dahulu konsep eksekusinya, dan diserahkan kepada para pihak untuk berunding mencari kesepakatan. Hakim adat dapat mengusulkan atau menawarkan solusi kepada kedua belah pihak agar terjadi kesepakatan, misalnya pelaku hanya mampu membayar denda adat setengah dari tuntutan korban dan sisanya akan dipenuhi di kemudian hari, dan ternyata pelaku sudah berusaha tetapi sampai tiga kali kesempatan masih belum mampu membayar denda adat, masih diberikan kesempatan lagi yang terakhir untuk berusaha mencari pelunasan pembayaran adat tersebut. Namun apabila ternyata pada kesempatan yang keempat sudah diberikan ternyata pelaku hanya mampu menyerahkan uang tambahan sebesar Rp.500.000,- (lima ratus ribu rupiah), maka hal tersebut oleh hakim adat dianggap sah, karena pemahamannya bahwa pelaku benar-benar sudah tidak mampu lagi dan tidak berdaya, sehingga prinsipnya adalah pembayaran yang kecil (nilai yang kecil) membayar yang besar (nilai yang besar). Dalam berita acara akan tetap ditulis sebesar yang dibayarkan pelaku tetapi nilainya dianggap sama dengan tuntutan yang diminta pihak korban, dan dianggap tidak ada sisa lagi dan bersifat final. Apabila korban tetap tidak mau menerima pembayaran dan tidak menerima ketidakmampuan akhir dari si pelaku, maka hakim adat meminta diberikan mandat untuk menyerahkan konsep untuk menyelesaikan kasus, agar kedua belah pihak dapat menerima konsep yang diajukan hakim adat tersebut, misalnya, dengan cara menambah sedikit denda adat yang disanggupi oleh pelaku tersebut sehingga pada akhirnya pihak korban menerima konsep yang dibuat oleh hakim adat. Setelah pelaku dan korban sama-sama sepakat, selanjutnya Mananwir menjatuhkan putusan berupa sanksi denda adat sesuai kesepakatan, dan mengumumkan cara pembayaran adatnya.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Proses pembayaran adat yang berupa barang atau uang akan diajukan pada sidang berikutnya, kecuali sanksi adat yang berupa permohonan maaf dapat langsung dilakukan di saat sidang adat. Pelaksanaan pembayaran adat berupa uang atau barang pada sidang berikutnya diserahkan kepada pimpinan sidang adat (hakim adat). Pimpinan sidang memanggil para pihak, kemudian tangan kedua belah pihak dipegang dan dipersatukan (berjabat tangan), sedangkan tangan pimpinan adat (mananwir) memegang kapur sirih dan pihak pelaku diwajibkan meminta maaf kepada korban (keluarganya) yang disambut pemberian maaf dari pihak korban atau keluarga. Kemudian sambil menengadahkan kepala ke atas kedua belah pihak mengucapkan janji dengan hati yang bersih dan suci berjanji dihadapan Tuhan, di atas kepala ada Tuhan dan manusia hidup dengan menginjakkan kaki diatas bumi, apabila diantara para pihak ada yang mengingkarinya, maka pihak yang mengingkarinya harus mengumpulkan kapur sirih yang telah ditiup tersebut. Secara simbolik hal ini mengandung makna yang sangat dalam, karena janji yang telah diucapkan tersebut harus ditepati dan ditaati oleh kedua belah pihak dan tidak bleh ada dendam lagi. Kemudian kapur sirih yang ada di tangan mananwir tersebut ditiup sehingga terbang berhamburan, hal ini berarti prosesi perdamaian dan pengucapan janji tersebut telah selesai dan kasus dianggap telah selesai dengan tuntas. Selama ini belum pernah ada kasus yang telah diselesaikan secara adat muncul kembali. Namun apabila ada kasus yang telah diselesaikan secara adat, kemudian ternyata muncul kembali, maka sanksi adatnya tentu akan bertambah berat dari sebelumnya.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Masyarakat hukum adat pada dasarnya mentaati sanksi adat berdasarkan putusan hakim adat, karena pertama, mereka merasa bahwa di luar pengadilan mereka diuntungkan dengan adanya pembayaran adat, kedua, mereka enggan untuk mengingkari janji atau sumpah yang telah diucapkan pada sidang adat, karena dengan mengingkari janji hukum adat tersebut, maka mereka akan merasa dikejar-kejar selama hidupnya. Prinsipnya sumpah dan janji yang disampaikan ketika berdamai itu dianggap memiliki nilai sakral. Oleh karena itu setelah menerima kesepakatan, maka dilakukan pengikat dan sekaligus menjadi larangan agar tidak dendam, bahkan tidak mengulanginya. Secara formalitas disiapkan pinang oleh pelaku untuk kemudian diserahkan kepada pihak korban, kemudian dilanjutkan dengan seremonial atau prosesi adat, seperti di Timika dikenal dengan acara patah anak panah, di Biak dilakukan dengan acara peniupan kapur sirih, di wilayah Kabupaten Jayawijaya (Wamena) ditandai dengan pesta bakar batu dan penyerahan hewan babi disertai tarian sebagai tanda perdamaian dan kasus dianggap selesai.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Penyelesaian secara musyawarah mufakat sudah lama dikenal dan dipraktekkan sejak dulu di masyarakat, begitu juga di masyarakat adat Provinsi Papua. Penyelesaian delik adat yang timbul di masing-masing suku berbeda-beda mekanisme dan cara yang dilakukan, tetapi pada umumnya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mengembalikan keadaan kosmis yang terganggu sehingga terciptanya kembali keharmonisan dan keserasian dalam kehidupan masyarakat. Adapun tahap-tahap penyelesaian delik adat di Provinsi Papua umumnya dilakukan dengan mekanisme, sebagai berikut:

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

1. Penyelesaian pada awalnya dilakukan oleh para pihak yang bersengketa, yaitu antara pelaku dan korban sepakat untuk bertemu dan saling duduk bersama untuk bermusyawarah dan berupaya mencari penyelesaian yang dipandang adil dan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Biasanya kedua belah pihak sama-sama menyadari kesalahan masing-masing dan sama-sama saling memaafkan sehingga bersepakat untuk berdamai dan tidak saling menuntut dan mendendam. Penyelesaian pada tahap ini belum melibatkan keluarga, tetapi kedua belah pihak bersepakat untuk menyelesaikan secara kekeluargaan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

2. Penyelesaian musyawarah antar keluarga, yaitu penyelesaian yang ditempuh oleh para pihak yang tidak mencapai kesepakatan dalam mencari solusi, kemudian diselesaikan secara adat melalui pihak keluarga pelaku dan keluarga korban. Para pihak bertemu di tempat rumah korban atau pelaku atau di rumah keluarga lain sesuai dengan kesepakatan bersama. Dalam pertemuan tersebut para pihak dan para anggota keluarga berkumpul dan bermusyawarah untuk mencari upaya penyelesaian yang seadil-adilnya bagi kedua belah pihak. Umumnya penyelesaian di tingkat keluarga ini sangat efektif pada saat keluarga masih ada ikatan kekerabatan sehingga kesepakatan akan lebih mudah dicapai dibandingkan dengan tidak ada ikatan kekerabatan. Oleh karena itu kedua belah pihak masih mempertahankan budaya penyelesaian melalui mekanisme menurut hukum adat. Pada saat penyelesaian delik adat mengalami hambatan atau kendala dan bahkan tidak dapat diselesaikan secara damai oleh para pihak atau di tingkat keluarga, maka persoalan tersebut dibawa ke tingkat suku/klen (penyelesaian antar suku/klen).

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

4. Penyelesaian melalui kepala suku, upaya penyelesaian ini dilakukan apabila cara penyelesaian antar para pihak, keluarga, dan mediasi tidak mencapai kesepakatan. Kepala suku bertindak sebagai penengah di antara para pihak yang bersengketa. Wakil dari suku/klen yang berupaya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Mereka datang dan duduk bersama di tempat/rumah pertemuan, kemudian membicarakan dan mendiskusikan untuk mencari solusi terbaik diantara kedua pihak (keluarga) yang sedang berselisih tersebut. Dalam pertemuan di tingkat suku/klen ini mereka akan mengungkapkan hal-hal terbaik dan bahkan terburuk apabila masalah ini tidak dapat diselesaikan di tingkat suku/klen tersebut. Pihak pelaku (keluarganya) berusaha untuk menyakinkan pihak korban (keluarganya) bahwa pelaku atau (keluarga) akan bertanggung jawab, dan menyampaikan permintaan maaf atas permasalahan yang terjadi. Apabila kedua belah pihak menyetujui dan sepakat, maka kepala suku/klen yang memimpin pertemuan adat tersebut selanjutnya memberikan putusan. Keputusan yang telah diambil oleh kepala suku/klen akan dipatuhi oleh para pihak, dan bila putusan tersebut tidak disepakati para pihak, maka akan diselesaikan ke peradilan adat yang melibatkan Ondoafi/kepala adat dan pengurus adat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

5. Penyelesaian melalui kepala adat (ondoafi), adalah upaya penyelesaian melalui lembaga peradilan adat. Kepala adat (Ondoafi/Mananwir) bertindak sebagai hakim adat yang berwenang untuk memeriksa dan memutus delik adat yang terjadi. Penyelesaian secara adat diawali dengan adanya laporan atau pengaduan dari masyarakat atau korbannya langsung kepada kepala adat (Ondoafi atau Mananwir), atau karena penyelesaian melalui suku atau keret tidak tercapai kesepakatan. Apabila kasusnya murni menyangkut delik adat yang tidak diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) atau hukum pemerintah (hukum negara), maka selanjutnya kasus langsung ditangani oleh kepala adat (ondoafi) dan pengurus adat. Tahap selanjutnya pengurus adat melakukan pemanggilan kepada pelaku dan korban, atau mendatangi tempat tinggal atau rumah pelakunya untuk hadir dalam sidang adat pada waktu yang telah ditentukan. Pada hari yang telah ditentukan pelaku dan korban datang/dibawa oleh pengurus adat ke rumah adat (lembaga musyawarah adat). Setelah pelaku (keluarganya) dan korban (keluarganya) dihadirkan di rumah adat, bersama pengurus adatnya, tokoh masyarakat, dan masyarakat selanjutnya dilakukan sidang adat. Dalam sidang adat tersebut pelaku dan korban atau keluarga yang mewakili diminta untuk menjelaskan duduk perkaranya atau menceritakan awal mula terjadinya kasus sehingga ada pihak yang merasa dirugikan. Diceritakan pula bahwa kasusnya sudah pernah dilakukan penyelesaian di tingkat keluarga dan kepala suku tetapi tidak tercapai kesepakatan. Setelah itu dihadirkan saksi-saksi yang mengetahui dan melihat terjadi pelanggaran adat tersebut. Setelah para saksi dan semua pihak didengar, maka giliran para mananwir atau penasihat adat atau tokoh atau tetua adat untuk menyampaikan pesan-pesan, nasihat, petunjuk, harapan untuk berdamai dan atau menawarkan solusi yang terbaik untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Setelah semua pihak setuju, maka selanjutnya hakim adat (Mananwir/Ondoafi) menjatuhkan putusan tentang sanksi adat (denda adat) ataupun pembebasan sanksi adat terhadap pelaku pelanggaran adat tersebut. Oleh karena itu pihak pelaku dituntut untuk jujur dan mengakui terus terang tentang perbuatan yang telah dilakukan terhadap korban, begitu juga terhadap korban dituntut untuk menceritakan sesungguhnya apa yang dialami akibat dari perbuatan yang dilakukan pelaku. Kejujuran ini sangat penting dalam penyelesaian di sidang adat, dan hal yang tidak kalah pentingnya lagi adalah pelaku dan korban harus dengan iklas dan sukarela untuk meminta maaf dan saling memaafkan terhadap perbuatan yang telah terjadi. Apabila kejujuran dan permintaan maaf ini berjalan dengan baik, maka penyelesaian adat tersebut akan sukses pula, dan tujuan untuk mengembalikan kosmis yang terganggu dapat dipulihkan dengan adanya pertanggungjawaban dari pelaku pelanggaran adat. Pada tingkat kepala adat (ondoafi) ini para pihak akan dengan sukarela mematuhi keputusan peradilan adat yang akan diambil. Apabila sanksi adat yang dijatuhkan kepada pelaku pelanggaran adat disetujui oleh pelaku dan korban (keluarga), maka tahap selanjutnya adalah penanda-tanganan atau berjabat tangan sebagai simbol atas persetujuan yang telah disepakati, dilanjutkan dengan pengangkatan sumpah di hadapan seluruh masyarakat yang hadir dalam sidang adat tersebut. Hasil perdamaian yang telah disepakati tersebut selanjutnya para pihak saling berjabat tangan dan berpelukan di hadapan hakim adat (Mananwir/ondoafi) dan dengan demikian maka perselisihan dinyatakan selesai dan tidak ada lagi saling dendam dan bermusuhan, dan kedua belah pihak dinyatakan sebagai satu keluarga/suku. Setelah sidang dinyatakan selesai maka pelaksanaan sanksi adat yang telah disepakati tersebut diserahkan di kepada hakim adat untuk selanjutnya diserahkan kepada korban atau keluarganya. Sejauh ini putusan hakim adat di lembaga Kankain Karkara Biak dan putusan dalam Para-para Adat Suku Sentani selalu dipatuhi dan dihormati oleh para pihak, dan merekapun percaya bahwa apa yang telah diputuskan oleh hakim peradilan adat merupakan penyelesaian yang terbaik bagi semua pihak, sehingga kondisi yang tergoncang selama ini dapat kembali normal seperti semula sebelum terjadi pelanggaran delik adat. Kepuasan yang dirasakan masyarakat adat atas putusan hakim peradilan adat tersebut mencerminkan rasa keadilan yang mendalam bagi para pihak yang berperkara, dan dapat memberikan nilai positif bagi masyarakat hukum adat di Provinsi Papua. Para pihak yang selama ini terlibat dalam suatu masalah adat, dapat berkumpul kembali dalam hubungan kekerabatan, dan kembali hidup dalam suasana yang damai, rukun dan tenteram, serta tidak ada lagi perasaan dendam, bermusuhan, dan saling curiga satu sama lain. Para pihak tidak lagi merasa ada yang menang atau ada yang kalah, mereka merasa sama-sama menang (win win Solution), sehingga suasana batin yang bersifat kosmis dapat terjaga dengan baik. Penyelesaian melalui peradilan adat merupakan penyelesaian yang sudah mendarah daging dan menjadi satu jiwa dalam masyarakat adat serta dipercaya dapat menyelesaikan masalah adat dengan baik dan memuaskan masyarakat hukum adat di Provinsi Papua.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Pada umumnya masalah-masalah yang menimbulkan perkara pidana di Provinsi Papua adalah awalnya berasal dari kasus perdata. Kasus perdata berujung pada kasus pidana, misalnya masalah perkawinan kemudian terjadi pembunuhan, kasus tanah berakhir dengan pembunuhan. Dengan demikian kasus perdata yang mengundang masalah pidana. Oleh karena itu dalam hukum adat tidak memisahkan unsur perdata adat dan pidana adat. Dalam praktik polisi selalu mempersoalkan masalah yang sudah terjadi kemudian memprosesnya hingga ke pengadilan. Sedangkan hukum adat mempersoalkan apa yang menjadi penyebabnya, dan melihat pada materi persoalan, seperti unsur-unsur yang memberatkan dan unsur yang meringankan. Misalnya kasus pembunuhan, semula kedua orang adalah teman, dan sudah sama-sama menikmati minuman keras akhirnya akibat pengaruh minuman keras keduanya tidak dapat mengendalikan diri hingga terjadi saling pukul. Dalam hal ini kesalahan seseorang harus dilihat sebagai cara untuk menentukan sanksi adat. Misalnya kasus pembunuhan di Biak sudah ditetapkan pemberatannya yaitu pembayaran dengan uang Rp.30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah) ditambah perempuan 1 orang. Sanksi adat ini berlaku bagi siapa saja yang melakukan delik tersebut dan berada di wilayah hukum adat Biak. Pelaku dilihat sebagai seorang pribadi yang melakukan sesuatu persoalan di jalan raya di wilayah hukum adat Sorido KBS Kota Biak. Denda adat yang berupa perempuan tersebut dinilai oleh banyak kalangan telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan melanggar norma-norma gerejani. Hal ini oleh masyarakat adat sesungguhnya tidak melanggar HAM dan melanggar norma gerejani, sebab adanya seorang wanita ini adalah untuk melahirkan jalur pengganti si korban, dengan demikian perempuan ini akan bertindak sebagai juru damai dan juru konsultasi ketika ada konflik, yang terulang antara dua kubu ini. Seorang wanita tersebut dapat memberikan nasihat kepada pihak yang akan bersengketa, dengan menunjukkan bahwa wanita tersebut sebagai bukti jika ada konflik dan menimbulkan korban, dan nanti akan ada lagi adik atau saudara dari para pihak yang akan menjadi wanita pengganti seperti dirinya, oleh karena itu cukuplah kasus ini seperti yang telah terjadi dan tidak perlu terjadi lagi. Dengan demikian wanita tersebut sebagai juru pendamai dan konsultasi bagi kedua belah pihak yang akan konflik. Sehingga atas dasar sebagai juru pendamai dan konsultasi inilah, maka di khusus di Biak denda berupa wanita merupakan pembayaran wajib yang harus dipenuhi oleh pihak pelaku. Sedangkan pelanggaran delik yang tidak menimbulkan kematian, dendanya hanya berupa uang dan piring sesuai dengan kesepakatan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Selanjutnya denda adat khusus delik zinah yang dilakukan antara bujang dengan bujang dibayar denda Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah), piring besar minimal 20 buah, piring kuah (mangkok) menyesuaikan minimal 20 buah, piring makan minimal sebanyak 24 buah (2 lusin), sedangkan si perempuan didenda separuh dari denda laki-laki, karena perempuan tersebut dianggap proaktif terhadap terjadinya delik tersebut. Denda tersebut dapat saja lebih rendah dari ketentuan tersebut, hal ini tergantung kemampuan para pelakunya. Zinah yang dilakukan oleh antara bujang dengan yang sudah berkeluarga (salah satunya telah telah berkeluarga), dendanya menjadi sebesar Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah), dan piring tetap. Sedangkan perempuannya jika ada unsur-unsur proaktif lebih dominan, dendanya separuh dari laki-laki, dan jika tidak ada unsur-unsur proaktif, maka perempuan tersebut dibebaskan dari denda adat. Zinah yang dilakukan oleh seseorang yang kedua-duanya telah berkeluarga, maka dendanya wajib Rp.15.000.000,- (lima belas juta rupiah), dan piring tetap. Hal ini karena tingkat persoalan mereka itu berbeda, para pelaku dapat membangkitkan emosional terutama terhadap suami pelaku dan isteri pelaku sebagai pihak yang dikhianati, tidak dihormati dan tidak dihargai sebagai suami ataupun isteri. Kemudian zinah di kalangan keluarga sendiri, seperti adik dengan isteri kakaknya, atau kakak dengan isteri adiknya, maka dendanya menjadi lebih berat yaitu Rp.20.000.000,- (dua puluh juta rupiah), piring besar sebanyak 50 buah, piring kuah 50 buah, piring makan bervariasi antara 5-10 lusin.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Piring ini fungsi lainnya dapat dianggap sebagai lambang suatu bentuk manusia, yaitu piring besar 1 buah sebagai kepala yang mengatur seperti kehidupan manusia untuk makan, minum, hidup dan berperilaku, piring kuah itu yang menyimpan semua yang dimakan dan melambangkan badan manusia, sedangkan piring makan melambangkan kaki, tangan yang bergerak mencari makan. Piring tersebut mempunyai fungsi nilai kulturnya adalah nilai kepala, badan, dan kaki tangan, karena perilaku yang tidak benar dibangun dari nilai kultur tersebut.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Di wilayah adat Provinsi Papua pembayaran sanksi adat atau denda adat adalah berupa benda atau barang, misalnya berwujud manik-manik, kapak batu (di Jayapura biasa disebut “Tomako Batu”), gelang batu (“Iir”). Selain barang/benda yang berwujud batu tersebut, masih ada barang lain yang dipakai sebagai pembayaran sanksi/denda adat, yaitu penyerahan hewan babi (jumlahnya ditentukan sesuai kesepakatan kedua belah pihak). Denda adat ini berfungsi sebagai penyeimbang keharmonisan yang telah dilanggar dan mengembalikan sejumlah nilai adat yang terabaikan, oleh karena itu benda-benda yang diberikan dalam sanksi/denda adat memiliki nilai yang sangat tinggi dan sakral. Tanpa adanya benda-benda adat yang diberikan, maka hubungan antar masyarakat hukum adat menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan sejumlah nilai yang selama ini dianut oleh masyarakat hukum adat menjadi terabaikan. Dalam banyak hal, pemberlakuan denda adat ini justru terjadi jalinan hubungan kekerabatan yang baru antara pihak pelaku dan pihak korban.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Namun dalam perkembangnya sanksi adat berwujud benda adat tersebut, semakin sulit diperoleh, dan bahkan semakin langka, misalnya piring adat (piring guci kuno), kapak batu, dan manik-manik batu. Oleh karena itu untuk mengatasi kesulitan tersebut, maka wujud benda adat sebagai alat pembayaran denda adat beralih wujud ke benda yang lain, misalnya dalam perkembangnya bergeser ke arah finasiil (uang), yang besar atau nilainya disesuaikan dengan nilai dari benda adat yang sudah langka tersebut. Dengan demikian apabila dicermati maka dapat dikatakan bahwa wujud barang yang dipergunakan sebagai alat pembayaran denda adat memang berubah dan bergeser semata-mata ke arah uang. Pergeseran ini memang tidak dapat dihindari karena keadaan (hukum adatnya) yang berubah. Meskipun demikian secara substansi nilai dan makna pembayaran denda adat tersebut tidak berubah (tetap). Bergesernya benda adat berubah ke nilai finansial justru dinilai sebagai hal yang meringankan, karena orang tidak lagi bersusah payah untuk mencari benda adat, tetapi cukup dengan membayar sejumlah uang yang nilainya disesuaikan dengan nilai-nilai kearifan dan kondisi masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Hal yang terpenting dari pembayaran benda adat yang bergeser ke nilai finansiil adalah makna dari sebuah pembayaran tersebut, semata-mata untuk menebus kesalahan yang dilakukan oleh pelaku dan sekaligus sebagai upaya untuk mengembalikan keseimbangan kosmis yang telah tergoncang seperti semula.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Selanjutnya berkaitan dengan penentuan sanksi adat, maka dalam proses sidang adat awalnya korban menuntut pelaku dengan sejumlah uang yang sangat tinggi, hal ini sesungguhnya merupakan sarana pendidikan kepada masyarakat supaya tidak melakukan perbuatan seperti itu (menimbulkan efek jera dan takut terhadap sanksi adat). Dalam sidang adat para pihak melakukan tawar menawar, sebagai upaya untuk meminta keringanan kepada korban/ keluarganya serta penyesalan yang mendalam kepada korban/keluarganya. Sehingga dalam proses tawar menawar tersebut terlihat adanya ketegangan antara kedua belah pihak, namun setelah ada nasehat dari para tokoh adat dan tetua-tetua adat, maka ketegangan tersebut dapat diredakan/ ditenangkan, sehingga akhirnya disepakati sanksi adat yang adil bagi kedua belah pihak. Sanksi adat yang awalnya terlihat sangat tinggi tetapi pada akhirnya tidak tinggi.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Upaya penyelesaian delik adat dilakukan oleh para pihak yang dimulai dengan permintaan maaf dan kesepakatan damai oleh pihak pelaku kepada korban. Pemberian maaf oleh korban merupakan kesepakatan dan jawaban atas permintaan maaf dari pelaku, yang pada umumnya disertai dengan upaya pemulihan kerugian yang berbentuk fisik, psikis ataupun berupa uang (tergantung kesepakatan). Dalam tataran peradilan adat pernyataan rasa penyesalan dan permintaan maaf pelaku merupakan elemen yang sangat penting untuk memulihkan gangguan keseimbangan yang terganggu, disamping elemen perbaikan dan pemulihan kerusakan serta kerugian yag dialami oleh korban. Bentuk sanksi adat yang dikenakan terhadap pelaku tidak hanya berupa pernyataan penyesalan dan permintaan maaf, tetapi dapat mencakup tindakan yang berupa perbaikan kerusakan dan pemberian ganti kerugian dalam bentuk barang atau benda yang diyakini memiliki nilai magis, uang (pembayaran denda adat), atau pembayaran bentuk yang lain misalnya: berupa hewan/binatang, atau bahkan perempuan sebagai pengganti jika ada korban yang meninggal.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Kebijakan berasal dari istilah “policy” (Inggris) atau “politiek” (Belanda), dan istilah kebijakan hukum pidana dapat pula disebut dengan istilah politik hukum pidana (“penal policy”, “criminal law policy” atau “srafrechtspolitiek”). Oleh Lilik Mulyadi, kebijakan (policy/politiek) diartikan sebagai prinsip-prinsip umum yang berfungsi untuk mengarahkan pemerintah (dalam artian luas termasuk penegak hukum) dalam mengelola, mengatur atau menyelesaikan urusan-urusan publik, masalah-masalah masyarakat atau bidang-bidang penyusunan peraturan perundang-undangan dan mengalokasikan hukum atau peraturan dengan suatu tujuan (umum) yang mengarah pada upaya mewujudkan kesejahteraan atau kemakmuran masyarakat (warga negara). Hal ini berarti bahwa dalam rangka melakukan revitalisasi peradilan adat di Provinsi Papua guna memantapkan strategi penanggulangan kejahatan yang integral dilakukan dengan mengadakan pendekatan yang berorientasi pada nilai. Nilai-nilai dimaksud adalah berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan maupun nilai-nilai budaya dan nilai-nilai moral keagamaan. Upaya pembaharuan hukum pidana (KUHP) Nasional yang sampai saat ini belum selesai, sangat memerlukan bahan kajian komparatif, karena masih ada sistem hukum lain yang sepatutnya dikaji untuk lebih memantapkan pembaharuan hukum pidana nasional. Khususnya berkaitan dengan kajian perbandingan dan penggalian dari hukum adat dan hukum agama, untuk dapat dijadikan sumber dalam pembentukan hukum pidana nasional yang sesuai dengan keinginan masyarakat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Kebijakan pemerintah yang telah memberikan ruang kelunakan terhadap penegakan hukum dengan lebih mengedepankan upaya non penal walaupun merupakan perkara tindak pidana akan tetapi penyelesaian perkaranya dapat diselesaikan dengan cara perdamaian, dinilai sebagai langkah yang baik apabila dikaitkan dengan ide pembaharuan hukum yang di dalamnya ada ide restoratif justice (keadilan restoratif). Hal ini oleh Suparmin, dinyatakan bahwa strategi restorative justice (pemulihan keadaan) dapat meningkatkan kepercayaan (trust), karena menunjukkan bahwa Polri bertindak sebagai fasilitator, bukan penghukum (penegak hukum) yang menjurus ke arah yang represif, melainkan mengutamakan ”perdamaian” (dalam penegakan keadilan masyarakat) bagi penanggulangan konflik dan ketidaktertiban yang sebagian besar timbul dari konflik kepentingan, dan berperan menghasilkan win-win situation.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Upaya pemerintah pusat dan daerah harus sejalan dalam penentuan garis kebijakan, hal ini terlihat dari upaya pemerintah yang telah mengakui peradilan adat dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu Pasal 18B ayat (2) dan Pasal 28I ayat (3). Kemudian pemberian otonomi khusus bagi Provinsi Papua berdasarkan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 35 tahun 2008 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua Menjadi Undang-Undang, maka bagi Provinsi Papua akan dibentuk dan diberlakukan peradilan adat untuk menyelesaikan perkara adat disamping adanya badan peradilan umum. Selajutnya upaya pemerintah daerah telah mengeluarkan Peraturan Daerah Khusus Papua Nomor 20 Tahun 2008 tentang Peradilan Adat di Papua.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Upaya yang tidak kalah pentingnya adalah upaya yang dilakukan masyarakat dalam memberikan sikapnya terhadap upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah daerah maupun pusat. Berkaitan dengan kebijakan pemerintah ini, maka dukungan masyarakat menjadi sangat penting untuk ikut terlibat dalam pembaharuan hukum pidana nasional ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu kesadaran dan kepatuhan hukum masyarakat menjadi sangat penting untuk menjaga ketertiban dan keamanan dalam masyarakat, dan mennunjang dalam penegakan hukum. Dengan demikian menurut A. Suriyaman Mustari Pide, kesadaran hukum menjadi pedoman bagi penegakan hukum dan ketaatan hukum (efektivitas hukum). Hal ini berarti kesadaran hukum masyarakat menjadi parameter utama dalam proses penataan hukum. Bukan rasa takut sanksinya dan juga karena adanya paksaan tetapi karena kesadaran bahwa hukum tersebut sesuai dengan nilai-nilai yang tumbuh, hidup dan berkembang dalam masyarakat, sehingga hukum harus ditaati.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Kebijakan hukum pidana yang harus diambil oleh pemerintah dalam rangka pembaharuan hukum pidana adalah dengan mengedepankan pembentukan hukum nasional yang bertitik tolak pada hukum yang hidup dalam masyarakat (living law). Pemerintah bukan hanya mengakui keberadaan hukum adat dalam proses peradilan pidana melalui kewenangan seorang hakim, tetapi harus dengan sungguh-sungguh mengakomodir hukum tradisional (hukum adat) ke dalam pembentukan hukum pidana nasional. Walaupun untuk memberlakukan hukum adat secara nasional adalah sesuatu yang tidak mungkin, tetapi paling tidak hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam hukum adat tersebut dapat diakomodasi kedalam substansi pembentukan hukum nasional. Misalnya dalam Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana Tahun 2008 (disingkat RUU KUHP 2008) telah mencatumkan ke dalam Pasal 67 ayat (1) huruf e, tentang pidana tambahan terdiri atas pemenuhan kewajiban adat setempat dan/atau kewajiban menurut hukum yang hidup dalam masyarakat. Pidana tambahan berupa pemenuhan kewajiban adat ini dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok dan dapat dijatuhkan kepada pelaku walaupun tidak tercantum dalam perumusan tindak pidana. Sementara Pasal 116 ayat (2) RUU KUHP 2008, yaitu pidana tambahan terdiri atas pemenuhan kewajiban adat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Upaya untuk memasukkan pidana tambahan berupa pemenuhan kewajiban adat tersebut merupakan langkah yang patut diberikan apresiasi, namun langkah tersebut belum dapat terwujud benar-benar menjadi sebuah KUHP hingga saat ini. Oleh karena itu perlu adanya keberanian dan menciptakan terobosan baru dalam melakukan perombakan di bidang hukum yang dinilai vital dan sangat mendesak, yaitu upaya pembentukan hukum pidana (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) secara nasional harus diprioritaskan, disamping bidang hukum yang lainnya yang masih dipengaruhi oleh hukum kolonial. Pembentukan hukum nasional yang dilakukan seyogyanya mengacu pada hukum yang hidup di masyarakat, sehingga dalam implementasinya dapat diterima oleh seluruh masyarakat dan dapat berjalan efektif dalam mengatur dan menanggulangi masalah kejahatan. Hal ini berarti bahwa hukum pidana nasional harus dapat mengakomodir hukum adat sebagai hukum asli bangsa Indonesia, sehingga apabila terdapat perkara/kasus yang berkaitan dengan masalah hukum adat, hakim tidak perlu repot dalam mencari dan menerapkan hukumnya. Selain itu pengakuan peradilan adat tidak cukup hanya diatur dalam undang-undang Otsus dan Perdasus, melainkan harus ada terobosan hukum yang baru untuk memperjelas dan mempertegas kedudukan peradilan adat dalam sistem peradilan pidana nasional. Salah satu langkah yang dinilai tepat adalah dengan merevisi peraturan perundang-undangan yaitu Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, khususnya Pasal 25 Tentang Badan Peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung meliputi badan peradilan dalam lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata usaha negara. Pengakuan peradilan adat yang selama ini diatur dalam undang-undang Otsus dan Perdasus yang khusus bagi Provinsi Papua, maka tentu dinilai tidak adil bagi provinsi lain yang juga hukum adat dan peradilan adatnya masih hidup dan sangat kuat diakui keberadaannya. Apabila pemerintah bercita-cita memperkokoh keberadaan peradilan adat, maka sudah seharusnya tidak hanya khusus bagi Provinsi Papua dan Aceh saja, tetapi berlaku juga bagi daerah lain (meskipun bukan merupakan daerah otonomi khusus, tetapi hukum adatnya masih hidup). Oleh karena itu konsep idealnya adalah:

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Kedua, peradilan adat menjadi bagian dari peradilan khusus, sehingga Pasal 27 Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, yang mengatur tentang pengadilan khusus hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung, yang meliputi pengadilan anak, pengadilan niaga, pengadilan hak asasi manusia, pengadilan tindak pidana korupsi, pengadilan hubungan industrial dan pengadilan perikanan (ditambah lagi peradilan adat) yang berada di lingkungan peradilan umum, serta pengadilan pajak yang berada di lingkungan peradilan tata usaha negara.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Ketiga, melakukan revitalisasi peradilan adat dalam sebuah bentuk dan struktur yang dapat diterima dan berlaku bagi seluruh masyarakat hukum adat di seluruh Indonesia. Oleh karena itu peradilan adat harus secara jelas dan tegas dinyatakan dalam peraturan perundang-undangan sebagai bagian dari sistem peradilan pidana Indonesia. Upaya untuk merevitalisasi peradilan adat yang dapat berlaku secara nasional bukanlah untuk bersaing dengan peradilan umum, tetapi semata-mata untuk memberikan peluang pada masyarakat hukum adat untuk menentukan cara menyelesaikan sengketa sesuai dengan nilai-nilai dan jiwa dalam hukum adat.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Keempat, seharusnya penyelesaian sengketa di luar pengadilan tidak saja dalam perkara perdata saja tetapi dimungkinkan juga terhadap perkara pidana, khususnya terhadap kategori tindak pidana aduan, tindak pidana ringan (tindak pidana yang kerugiannya dinilai kecil atau tidak membahayakan jiwa manusia), tindak pidana yang melibatkan pelakunya masih tergolong anak, tindak pidana berkaitan dengan hukum adat (delik adat) yang sudah diselesaikan melalui lembaga adat, tindak pidana kategori sebagai pelanggaran (bukan kejahatan), dan tindak pidana yang hanya diancam dengan pidana denda.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Kelima, Peradilan adat tetap dipertahankan dan dihidupkan kembali sesuai dengan bentuk aslinya dalam masyarakat adat, tetapi pengakuan terhadap keberadaan peradilan adat harus dipertegas dalam peraturan perundang-undangan tersendiri sehingga kedudukannya menjadi jelas bahwa peradilan adat sejajar dengan peradilan negara, dan memiliki putusan akhir yang final dan tidak dapat dibatalkan atau dilakukan pemeriksaan ulang oleh peradilan negara. Oleh karena itu perlu diatur secara jelas dan tegas tentang kewenangan dan jenis perkara yang dapat diselesaikan dan diputus oleh peradilan adat, sehingga dalam implementasinya tidak tumpang tindih dan terkesan tarik menarik kewenangan. Seolah-olah peradilan adat juga berwenang menyelesaikan dan memutus semua jenis delik baik yang diatur dalam hukum adat maupun dalam hukum pidana (KUHP). Padahal sesungguhnya kewenangan peradilan adat hanya terbatas pada pelanggaran yang berkaitan dengan adat saja (delik adat atau pelanggaran adat murni) yang tidak diatur dalam dalam KUHP. Apabila perbuatan yang diatur dalam hukum adat tetapi juga diatur dalam hukum pidana (KUHP), maka kewenangan peradilan adat hanya terbatas menyelesaikan dan memutus pelanggaran adatnya saja, sedangkan terhadap perbuatan yang sesuai dengan rumusan delik dalam KUHP menjadi kewenangan Pengadilan Negeri. Peradilan adat bukan merupakan peradilan tingkat pertama dan peradilan negara bukan peradilan banding peradilan adat. Perkara yang sudah diselesaikan peradilan adat dan sudah ada putusan hakim adat, perkaraya harus ditolak dan tidak dapat diajukan lagi peradilan negara, karena ini bertentangan dengan “asas nebis ini idem”, yaitu setiap orang tidak dapat dituntut untuk yang kedua kalinya oleh karena perkaranya telah diputuskan oleh hakim (hakim adat) dalam kasus yang sama dan telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap (Pasal 76 KUHP).

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Menurut Barda Nawawi Arief, kata ”pembangunan” sering diidentikkan atau terkait erat di dalamnya dengan berbagai istilah/ masalah ”pengembangan, pembaharuan, reformasi, pembinaan, penataan, pemantapan kembali, peninjauan, evaluasi/re-evaluasi”. Jadi tercakup di dalamnya pengertian ”development”, ”reform”, ”renovation”, ”rebuild”, ”reconstuction”, ”evaluation/re-evaluation”. Apabila dilihat dari sudut teoritik/konseptual tentang ”sistem hukum”, maka Sistem Hukum Nasional (disingkat SHN) dapat dikatakan sebagai kesatuan dari berbagai sub-sistem nasional, yaitu ”substansi hukum nasional”, ”struktur hukum nasional”, dan ”budaya hukum nasional”.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

Pembangunan hukum dilaksanakan melalui pembaruan hukum dengan tetap memperhatikan kemajemukan tatanan hukum yang berlaku dan pengaruh globalisasi sebagai upaya untuk meningkatkan kepastian dan perlindungan hukum, penegakan hukum dan HAM, kesadaran hukum, serta pelayanan hukum yang berintikan keadilan dan kebenaran, ketertiban, dan kesejahteraan dalam rangka penyelenggaraan negara yang makin tertib dan teratur sehingga penyelenggaraan pembangunan nasional akan makin lancar. Sejalan dengan arah politik hukum nasional tersebut di atas, maka sistem hukum pidana nasional perlu untuk dilakukan reevaluasi dan reorientasi dasar¬-dasar pemikiran yang disesuaikan dan berlandaskan pada nilai filosofis, sosiologis dan kultural bangsa Indonesia dengan memperhatikan perkembangan dunia secara global. Pembaruan hukum pidana harus dilakukan secara menyeluruh yang meliputi pembaruan konsep nilai, pokok-pokok pemikiran dan wawasan; pembaruan hukum pidana materiel, hukum pidana formil dan hukum pelaksanaan pidana, pembaruan organisasi dan tata laksana lembaga penegakan hukum, mekanisme, koordinasi dan kerjasama, sarana prasarana; kesadaran dan perilaku hukum serta pembinaan pendidikan hukum yang mengacu pada ilmu hukum pidana nasional.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

3. Keberadaan peradilan adat dalam konteks hukum pidana Indonesia masih menimbulkan dua makna, yaitu di satu sisi peradilan adat sebagai mekanisme penyelesaian delik melalui mekanisme peradilan adat, di sisi lain hal ini tidak sesuai dengan Undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951, yang mengatur bahwa penyelesaian delik adat yang tidak ada padanannya dalam KUHP atau perundang-undangan Indonesia, diselesaikan melalui mekanisme peradilan pidana, dan sanksi pidana yang dijatuhkan terbatas pada pidana kurungan maksimum 3 bulan atau denda. Oleh karena itu penyelesaian perkara pidana melalui mekanisme peradilan adat (di luar mekanisme peradilan formal) dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap asas legalitas dalam hukum acara pidana yang menentukan bahwa setiap perkara pidana harus diproses dalam sistem peradilan pidana. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa meskipun dianggap bertentangan dengan mekanisme formal yang berlaku, bentuk penyelesaian melalui peradilan adat dalam komunitas masyarakat tradisional masih menjadi alternatif atau pilihan utama dibandingkan dengan mekanisme peradilan formal.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

4. Terbatasnya akses masyarakat terhadap sistem hukum formal yang ada. Realitasnya bahwa masyarakat adat enggan atau ada perasaan takut apabila berhadapan dengan para aparat penegak hukum, terlebih lagi ketidakpahaman masyarakat terhadap mekanisme dalam berperkara di pengadilan yang serba prosedural, dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Masyarakat adat hanya memahami tradisi hukum yang berlaku dalam hukum adatnya dalam menyelesaikan masalah yang terjadi, sehingga munculnya sistem hukum formal akan menambah kebingungan ketika keadilan hakiki yang diharapkan tidak dapat dirasakan oleh masyarakat adat sebagai individu maupun kelompok.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

5. Kurang memadainya infrastruktur dan sumber daya yang dimiliki oleh sistem hukum formal menyebabkan kurangnya daya adaptasi dalam menyerap kebutuhan rasa keadilan masyarakat adat setempat. Hal ini yang menyebabkan masyarakat adat lebih memilih peradilan adat dibandingkan mekanisme menurut sistem hukum formal (peradilan formal/pemerintah). Penyelesaian melalui peradilan adat memiliki ciri khas yang tidak dimiliki peradilan negara, yaitu peradilan adat diproses oleh orang-orang dekat yang lebih dipercaya, prosesnya lebih sederhana dan cepat, melibatkan pihak korban secara langsung, dan dianggap lebih berkeadilan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

1. Eksistensi peradilan adat diakui, dihormati dan ditaati oleh masyarakat hukum adat di Provinsi Papua sebagai lembaga untuk menyelesaikan delik adat secara damai dan mampu memberikan rasa keadilan. Struktur hukumnya, dijalankan oleh kepala adat pada masing-masing wilayah. Secara substansi hukum, hukum adat masih ada/hidup dan berlaku sebagai norma adat yang disertai adanya sanksi adat bagi yang melanggarnya. Secara budaya hukum, bahwa sikap dan perilaku masyarakat hukum adat baik secara individu ataupun kelompok secara sadar patuh dan taat terhadap aturan/norma adat. Kedudukan peradilan adat Papua merupakan lembaga peradilan adat yang hanya berlaku di lingkungan masyarakat hukum adat setempat, dan bukan merupakan bagian dari peradilan negara. Putusan pengadilan adat bukan merupakan putusan yang final dan mandiri, karena apabila salah satu pihak yang berperkara berkeberatan atas putusan hakim adat dapat mengajukan pemeriksaan ulang ke Pengadilan Negeri. Kewibawaan pengadilan adat menjadi berkurang atau bahkan menjadi hilang ketika putusan hakim adat dibatalkan oleh peradilan negara, sehingga peradilan adat tidak lagi dapat memberikan rasa keadilan secara optimal.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

2. Penyelesaian delik adat di Provinsi Papua dilakukan dengan cara mediasi yang memiliki kesamaan dengan prinsip keadilan restoratif. Penyelesaian delik adat melalui lembaga adat/ pengadilan adat senantiasa berpedoman pada prinsip musyawarah dan mufakat serta dalam suasana kekeluargaan. Penyelesaian delik adat umumnya diselesaikan terlebih dahulu oleh pelaku dan korban, apabila tidak tercapai kesepakatan akan ditempuh melalui tingkat keluarga, penyelesaian melalui mediasi (mediatornya tokoh masyarakat, tokoh adat, atau dari aparat kepolisian), penyelesaian melalui kepala suku, dan penyelesaian terakhirnya melalui lembaga adat/pengadilan adat, yaitu kepala adat bertindak sebagai hakim adat yang berwenang untuk menyelesaikan dan memutus perkara adat (delik adat). Apabila di tingkat peradilan adat ternyata ada salah satu pihak yang tidak puas, maka perkaranya dapat diajukan ke Pengadilan Negeri.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

3. Upaya pemerintah dalam mensosialisasikan keberadaan hukum pidana adat sebagai hukum positif secara arif dan bijaksana pada masyarakat hukum adat di Provinsi Papua, telah ditempuh melalui kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah, yaitu kebijakan hukum pidana, dilakukan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, pemerintah daerah dan aparat penegak hukum dalam menentukan arah kebijakan yang lebih baik ke masa mendatang, yang mencakup kebijakan dalam perumusan dan pembentukan peraturan perundang-undangan, kebijakan dalam menerapkan sebuah peraturan perundang-undangan, dan kebijakan yang berkaitan dengan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berkaitan pembangunan hukum nasional pemerintah telah berupaya untuk melakukan kerjasama dengan aparat penegak hukum (polisi, jaksa, pengadilan, Lembaga Pemasyarakatan), masyarakat secara luas dan tokoh-tokoh masyarakat, untuk dapat mendukung keberadaan hukum adat dan peradilan adat agar dapat secara arif dan bijaksana menyelesaikan delik adat bagi masyarakat adat di Provinsi Papua, dan dapat memberikan rasa keadilan, terutama dalam mengembalikan terganggunya keseimbangan kosmis.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

1. Dibutuhkan adanya langkah untuk melakukan inventarisasi terhadap jenis-jenis delik adat yang masih ada/hidup/berlaku dan sanksi adatnya, melakukan upaya untuk mengembalikan kewibawaan pengadilan adat yang terjelma dalam putusannya sebagai putusan yang final dan mandiri, melakukan pembagian kewenangan yang jelas dalam memeriksa dan memutus perkara, dan berupaya mempertahankan peradilan adat sebagai lembaga penyelesian delik adat yang sesuai dengan kondisi budaya dan tradisi masyarakat hukum adat Papua. Dalam rangka mewujudkan langkah tersebut, terutama dalam hal mengembalikan dan menjaga kewibawaan terhadap peradilan adat Papua, maka seharusnya dilakukan perubahan Pasal 51 ayat (4) dan ayat (6) Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua, dan Pasal 8 ayat (4) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Peradilan Adat Di Papua, sehingga penyelesaian delik adat oleh hakim adat dapat memberikan hasil yang optimal terutama dalam memberikan rasa keadilan.

seperti di kutip dari https://budi399.wordpress.com

3. Kebijakan hukum pidana dan pembangunan hukum nasional yang dilakukan pemerintah seyogyanya diarahkan pada kebijakan yang memprioritaskan pada usaha memperbaharui hukum positif sehingga sesuai dengan nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Pembangunan hukum nasional semata-mata untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dan berupaya untuk melakukan harmonisasi, sinergitas dan sinkronisasi, sehingga eksistensi hukum adat dan peradilan adat tetap terjaga dan tidak terusik oleh adanya pikiran atau sikap yang mempertentangkan antara hukum adat dan hukum nasional.


Baca juga :

Karena Pancasila digali dari sosio-budaya bangsa Indonesia di rumuskan oleh para pendiri bangsa dan disepakati bersama oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai milik yang harus diamankan dari gangguan dari dalam dan luar negeri.  dan dilestarikan secara refresif dan preventif. Maka generasi penerus seluruh Indonesia memiliki kewajiban moral untuk mengamalkan, memahami, menghayati, dan melaksanakan  nilai-nilai Pancasila. Tanpa ini maka Pancasila akan merupakan rangkaian kata indah, beku, dan mati  yang tidak mempunyai arti bagi kehidupan bangsa.

seperti di kutip dari https://ferrycardoba.wordpress.com

Untuk menarik simpati bangsa Indonesia agar lebih meningkatkan bantuannya baik moril maupun materiil pada tanggal 7 September 1944  Perdana Menteri Jepang Kaiso Kuniaki memberikan janji kemerdekaan  kepada bangsa Indonesia, yaitu janji kemerdekaan tanpa syarat di kemudian hari.yang dituangkan dalam Maklumat Gunseikan (Pembesar Tertinggi Sipil dari Pemerintah Militer Jepang di Jawa dan Madura) Dalam maklumat itu sekaligus dimuat dasar pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)/ Dokuritsu Junbi Cosakai yang di umumkan oleh Panglima tentara ke-16 Letnan Jendral Keimakici Harada pada tanggal 1 Maret 1945,   Tugas badan ini adalah menyelidiki dan mengumpulkan usul-usul untuk selanjutnya dikemukakan kepada pemerintah Jepang untuk dapat dipertimbangkan bagi kemerdekaan Indonesia.

seperti di kutip dari https://ferrycardoba.wordpress.com

BPUPKI  dilantik 28 Mei 1945 bertepatan dengan hari kelahiran Kaisar Jepang. Adapun keanggotaan yang terbentuk berjumlah 67 orang dengan ketua Dr. K.R.T. Radjiman Widiodiningrat dan R.P Suroso dan seorang Jepang sebagai wakilnya Ichi Bangase ditambah 7 anggota Jepang yang tidak memiliki suara. Ir. Soekarno yang pada waktu itu juga dicalonkan menjadi ketua, menolak pencalonannya karena ingin memperoleh kebebasan yang lebih besar dalam perdebatan, karena biasanya peranan ketua sebagai moderator atau pihak yang menegahi dalam memberi keputusan tidak mutlak.

seperti di kutip dari https://ferrycardoba.wordpress.com

Intinya, rakyat Indonesia bagian Timur mengusulkan agar pada alinea keempat preambul, di belakang kata “ketuhanan” yang berbunyi “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dihapus. Jika tidak maka rakyat Indonesia bagian Timur lebih baik memisahkan diri dari negara RI yang baru saja diproklamasikan. Usul ini oleh Muh. Hatta disampaikan kepada sidang pleno PPKI, khususnya kepada para anggota tokoh-tokoh Islam, antara lain kepada Ki Bagus Hadikusumo, KH. Wahid Hasyim dan Teuku Muh. Hasan. Muh. Hatta berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Islam, demi persatuan dan kesatuan bangsa.

seperti di kutip dari https://ferrycardoba.wordpress.com

Kegagalan Konstituante untuk menyusun sebuah UUD yang akan menggantikan UUD Sementara yang disahkan 15 Agustus 1950 menimbulkan bahaya bagi keutuhan negara. Untuk itulah pada 5 Juli 1959 Presiden Indonesia saat itu, Sukarno, mengambil langkah mengeluarkan Dekrit Kepala Negara yang salah satu isinya menetapkan berlakunya kembali UUD yang disahkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945 menjadi UUD Negara Indonesia menggantikan UUD Sementara. Dengan pemberlakuan kembali UUD 1945 maka rumusan Pancasila yang terdapat dalam Pembukaan UUD kembali menjadi rumusan resmi yang digunakan.

seperti di kutip dari https://ferrycardoba.wordpress.com

Rumusan terakhir yang akan dikemukakan adalah rumusan yang beredar dan diterima secara luas oleh masyarakat. Rumusan Pancasila versi populer inilah yang dikenal secara umum dan diajarkan secara luas di dunia pendidikan sebagai rumusan dasar negara. Rumusan ini pada dasarnya sama dengan rumusan dalam UUD 1945, hanya saja menghilangkan kata “dan” serta frasa “serta dengan mewujudkan suatu” pada sub anak kalimat terakhir. rumusan ini pula yang terdapat dalam lampiran Tap MPR No II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa) dan  diterima oleh MPR, yang pernah menjadi lembaga tertinggi negara sebagai penjelmaan kedaulatan rakyat antara tahun 1960-2004, dalam berbagai produk ketetapannya, diantaranya:

seperti di kutip dari https://ferrycardoba.wordpress.com

Secara historis nilai – nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila sebelum dirumuskan dan disahkan menjadi dasar Negara Indonesia secara objektif historis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Sehingga asal nilai – nilai Pancasila tersebut tidak lain adalah dari bangsa Indonesia sendiri, atau dengan kata lain bangsa Indonesia sebagai kausa materialis Pancasila. Oleh karena itu berdasarkan fakta objektif secara historis kehidupan bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan nilai – nilai Pancasila. Atas dasar pengertian dan alasan histories inilah maka sangat penting bagi generasi penerus bangsa terutama kalangan intelektual kampus untuk,mengkaji, memahami dan mengembangkan berdasarkan pendekatan ilmiah, yang pada gilirannya akan memiliki suatu kesadaran serta wawasan kebangsaan yang kuat berdasarkan nilai – nilai yang dimiliki sendiri.

seperti di kutip dari https://ferrycardoba.wordpress.com

Pancasila adalah sebagai dasar Filsafat Negara dan pandangan Filosofis bangsa Indonesia. Oleh karena itu sudah merupakan suatu keharusan moral untuk secara konsisten merealisasikannya dalam setiap aspek  kehidupan bermasyarakat, berbagsa dan bernegara. Hal ini berdasarkan pada suatu kenyataan secara filosofis dan objektif bahwa bangsa Indonesia dalam hidup bermasyarakat dan bernegara mendasarkan pada nilai – nilai yang tertuang dalam sila – sila Pancasila yang secara Filosofis bangsa Indonesia sebelum mendairikannegara. Atas pengertian filosofis tersebut  maka dalam hidup bernegara nilai – nilai Pancasila merupakan dasar filsafat Negara.

seperti di kutip dari https://ferrycardoba.wordpress.com

Pendidikan Pancasila bertujuan untuk menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dengan sikap dan perilaku, (1) memiliki kemampuan untuk mengambil sikap yang bertanggungjawab sesuai dengan hati nuraninya, (2) memiliki kemampuan untuk mengenali masalah hidup dan kesejahteraan serta cara – cara pemecahannya, (3) mengenali perubahan – perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta (4) memiliki kemampuan untuk memaknai peristiwa sejarah dan nilai – nilai budaya bangsa untuk menggalang persatuan Indonesia.

seperti di kutip dari https://ferrycardoba.wordpress.com

Tujuan Nasional sebagaimana ditegaskan dalam Pembukaan UUD 1945 alenia keempat, menyatakan : “…………. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, …. Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial ….”. Tujuan Nasional sebagaimana ditegaskan dalam pembukaan itu diwujudkan melalui pelaksanaan penyelenggaraan Negara yang berkedaulatan rakyat dan demokratis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Penyelenggaraan Negara dilaksanakan melalui pembangunan Nasional dalam segala aspek kehidupan bangsa oleh penyelenggara Negara, yaitu lembaga tertinggi dan lembaga tinggi Negara bersama – sama segenap rakyat Indonesia di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia.

seperti di kutip dari https://ferrycardoba.wordpress.com

Fungsi etika politik dalam masyarakat terbatas pada penyediaan alat-alat teoretis untuk mempertanyakan serta menjelaskan legitimasi politik secara bertanggung jawab. Jadi, tidak berdasarkan emosi, prasargka dan apriori, melainkan secara rasional, obyektif, dan argumentatif. Etika politik tidak langsung mencampuri politik praktis. Tugas etika politik membantu agar pembahasan masalah-masalah ideologis dapat dijalankun secara obyektif. Etika politik dapat memberikan patokan orientasi dan pegangan normatif bagi mereka yang memang mau menilai kualitas tatanan dan kehidupan politik dengan tolak ukur martabat manusia atau mempertanyakan legitimasi moral sebagai keputusan politik. Suatu keputusan bersifat politic apabila diambil dengan memperhatikan kepentingan masyarakat secara keseluruhan.

seperti di kutip dari https://ferrycardoba.wordpress.com

Sila kedua : Kemanusiaan yg adil dan beradab yang merupakan refleksi lebih lanjut dari sila pertama memperlihatkan secara mendasar dari negara atas martabat manusia dan sekaligus komitmen untuk melindunginya. Asumsi dasar di batik prihsip kedua ini ialah bahwa manusia, karena kedudukannya yang khusus di antara ciptaan-ciptaan lainnya di dalam universum, mempunyai hak dan kewajiban untuk mengembangkan kesempatan untuk meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Dengan demikian, manusia secara natural dengan akal dan budinya mempunyai kewajiban untuk mengembangkan dirinya menjadi person yang bernilai.


Baca juga :

Dengan ketajaman otaknya ia banyak mempelajari filsafat dan cabang – cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah ia membaca  Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho -nya Al-Farabi (870 – 950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi. [5]

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Sewaktu berumur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana pernah mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibnu Sina mendapat sambutan baik sekali, dan dapat pula mengunjungi perpustakaan yang penuh dengan buku – buku yang sukar didapat, kemudian dibacanya dengan segala keasyikan. Karena sesuatu hal, perpustakaan tersebut terbakar, maka tuduhan orang ditimpakan kepadanya, bahwa ia sengaja membakarnya, agar orang lain tidak bisa lagi mengambil manfaat dari perpustakaan itu .[8]

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Dibidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia Islam menyanjungnya ia memang merupakan satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya sendiri, yang bukan pinjaman sehingga Roger Bacon, filosof kenamaan dari Eropa Barat pada Abad Pertengahan menyatakan dalam  Regacy of Islam -nya Alfred Gullaume; “Sebagian besar filsafat Aristoteles sedikitpun tak dapat memberi pengaruh di Barat, karena kitabnya tersembunyi entah dimana, dan sekiranya ada, sangat sukar sekali didapatnya dan sangat susah dipahami dan digemari orang karena peperangan-peperangan yang meraja lela di sebeleah Timur, sampai saatnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dan juga pujangga Timur lain membuktikan kembali falsafah Aristoteles disertai dengan penerangan dan keterangan yang luas. [9]

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Pemikiran ini berbeda dengan pemikiran kaum sufi dan kaum mu’tazilah. Bagi kaum sufi kemurnian tauhid mengandung arti bahwa hanya Tuhan yang mempunyai wujud. Kalau ada yang lain yang mempunyai wujud hakiki disamping Tuhan, itu mngandung arti bahwa ada banyak wujud, dan dengan demikian merusak tauhid. Oleh karena itu mereka berpendapat : Tiada yang berwujud selain dari Allah swt. Semua yang lainnya pada hakikatnya tidak ada. Wujud yang lain itu adalah wujud bayangan. Kalau dibandingkan dengan pohon dan bayangannya, yang sebenarnya mempunyai wujud adalah pohonnya, sedang bayangannya hanyalah gambar yang seakan – akan tidak ada. Pendapat inilah kemudian yang membawa kepada paham  wahdat al-wujud  (kesatuan wujud), dalam arti wujud bayangan bergantung pada wujud yang punya bayangan. Karena itu ia pada hakekatnya tidak ada; bayangan tidak ada. Wujud bayangan bersatu dengan wujud yang punya bayangan.

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Kalau kaum Mu’tazilah dalam usaha memurnikan tauhid pergi ke peniadaan sifat – sifat Tuhan dan kaum sufi ke peniadaan wujud selain dari wujud Allah swt, maka kaum filosof Islam yang dipelopori al-Farabi, pergi ke faham emanasi atau  al-faidh . Lebih dari mu’tazilah dan kaum sufi, al-Farabi berusaha meniadakan adanya arti banyak dalam diri Tuhan. Kalau Tuhan berhubungan langsung dengan alam yang tersusun dari banyak unsur ini, maka dalam pemikiran Tuhan terdapat pemikiran yang banyak. Pemikiran yang banyak membuat faham tauhid tidak murni lagi. [18]

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Jiwa rasional mencakup daya-daya yang khusus pada manusia. Jiwa rasional melaksanakan fungsi yang dinisbatkan pada akal. Ibnu Sina mendefinisikan jiwa rasional sebagai kesempurnaan pertama bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik, dimana pada suatu sisi ia melakukan berbagai prilaku eksistensial berdasarkan ikhtiar pikiran dan kesimpulan ide, namun pada sisi yang lain ia mempersepsi semua persoalan universal. Pada jiwa rasional mempunyai dua daya, yaitu daya akal praktis dan daya akal teoritis.

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Menurut Ibn Sina antara jasad dan jiwa memiliki korelasi sedemikian kuat, saling bantu membantu tanpa henti-hentinya. Jiwa tidak akan pernah mencapai tahap fenomenal tanpa adanya jasad. Begitu tahap ini dicapai ia menjadi sumber hidup, pengatur, dan potensi jasad, bagaikan nakhoda ( al-rubban ) begitu memasuki kapal ia menjadi pusat penggerak, pengatur dan potensi bagi kapal itu. Jika bukan karena jasad, maka jiwa tidak akan ada, karena tersedianya jasad untuk menerima, merupakan kemestian baginya wujudnya jiwa, dan spesifiknya jasad terhadap jiwa merupakan prinsip entitas dan independennya nafs. Tidak mungkin terdapat nafs kecuali jika telah terdapat materi fisik yang tersedia untuknya. Sejak pertumbuhannya, jiwa memerlukan, tergantung, dan diciptakan karena (tersedianya) jasad. Dalam aktualisasi fungsi kompleknya, jiwa mempergunakan dan memerlukan jasad, misalnya berpikir yang merupakan fungsi spesifiknya tak akan sempurna kecuali jika indera turut membantu dengan efeknya.

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Selanjutnya dalam pandangannya pikiran mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap fisik, berdasarkan pengalaman medisnya, Ibn Sina menyatakan bahwa sebenarnya secara fisik orang-orang sakit, hanya dengan kekuatan kemauannyalah dapat menjadi sembuh. Begitu juga orang yang sehat, dapat benar-benar menjadi sakit bila terpengaruh oleh pikirannya bahwa ia sakit. Demikian pula, jika sepotong kayu diletakkan melintang di atas jalan sejengkal, orang dapat berjalan di atas kayu tersebut dengan baik. Akan tetapi jika kayu diletakkan sebagai jembatan yang di bawahnya terdapat jurang yang dalam, orang hampir tidak dapat melintas di atasnya, tanpa benar-benar jatuh. Hal ini disebabkan ia menggambarkan kepada dirinya sendiri tentang kemungkinan jatuh sedemikian rupa, sehingga kekuatan alamiah jasadnya menjadi benar-benar seperti yang digambarkan itu.

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Korelasi antara jiwa dan jasad, menurut Ibn Sina tidak terdapat pada satu individu saja. Jiwa yang cukup kuat, bahkan dapat menyembuhkan dan menyakitkan badan lain tanpa mempergunakan sarana apapun. Dalam hal ini ia menunjukkan bukti fenomena hipnotis dan sugesti ( al-wahm al’amil ) serta sihir. Mengenai masalah ini, Hellenisme memandang sebagai benar-benar ghaib, sementara Ibn Sina mampu mengkaji secara ilmiah dengan cara mendeskripsikan betapa jiwa yang kuat itu mampu mempengaruhi fenomena yang bersifat fisik. Dengan demikian ia telah berlepas diri dari kecenderungan Yunani yang menganggap hal-hal tersebut sebagai gejala paranatural, pada campur tangan dewa-dewa.

seperti di kutip dari https://fatirnatsir.wordpress.com

Mereka melaksanakan berbagai riset di dalam alam semesta dan segala sesuatu yang menakjubkan di dalam dunia binatang dan tumbuh – tumbuhan. Melalui riset-riset itu mereka cukup banyak menyaksikan keajaiban – keajaiban di dalam ciptaan  Allah dan mereka menemukan kebijaksanaan-Nya sehingga akhirnya mereka mau tak mau mengakui adanya satu pencipta yang Maha Bijaksana. Walaupun demikian mereka tetap menyangkal adanya hari pengadilan, kebangkitan kembali dan kehidupan akhirat. Mereka tidak mengenal pahala dan dosa, karenanya mereka memuaskan nafsu – nafsu mereka seperti binatang.


Baca juga :

Ahmadiyah sudah ada di Nusantara sejak tahun 1920 an. Meskipun tidak plek sama dengan Islam Sunni maupun Syiah, ya selama masa itu sampai paska Suharto lengser keprabon, kaum Ahmadiyah ini aman2 saja. Perbedaan dulu cuma diperdebatkan ,didiskusikan saja, TANPA konflik fisik… Belakangan ini lain. Mereka ,kita tahu, digebuki, mesjid dan rumah2 mereka dibakar di beberapa tempat di Nusantara. Kekerasan pada siapa saja, setahu saya, tidak dibolehkan dinegara yang ber PERIKEMANUSIAAN ini.Hukum saja tidak membolehkan, apalagi … Tuhan.

seperti di kutip dari https://akigendengbanget.wordpress.com

Re hak asasi manusia : Memang selalu menurut … manusia. Itu karena kita hidup di dunia. Kalau kita hidup di surga mungkin hak asasi itu tidak diperlukan lagi. Tuhan itu sering … diam saja kalau ditanya … Doa kita tidak selalu di …dengar,apalagi dijawab. Hak asasi menurut Tuhan akan susah dicapai oleh manusia yang tidak selalu setuju dengan konsep Tuhan. Tuhan yang mana ? Tuhannya orang Samawi, Tuhannya orang Buddha ? – tidak relevan dalam agama ini – Tuhannya orang Hindu ? – Mereka punya banyak dewa2 yg disembah .

seperti di kutip dari https://akigendengbanget.wordpress.com

Kalau kita pakai bahasa (menurut) manusia yang mengevaluasi nanti kan ya manusia itu sendiri. Kebaikan menurut Tuhan itu kan ya (harus) ditafsirkan menurut manusia, bukan menurut Tuhan … Dari sejarah kita tahu orang2 Kristen/Katholik yang gebuk2an di abad14/15. Kita juga tahu orang Islam juga tidak selalu akur dengan orang Islam sendiri. Tahun 70 -80 an kita tahu ada perang antara Irak yang Sunni dan Iran yang Syiah. Lho itu orang2 yang berkitab suci yang sama ,tapi beda tafsirnya … Kalau sama kan tidak ada … perang …

seperti di kutip dari https://akigendengbanget.wordpress.com

Ngomong2, diantara orang Islam sendiri banyak yang … anti Ulil. Beliau pernah mendapat paket … bom. Gimana ini ? Islam satu, tapi pemahamannya kan lain2. Ada Islam menurut Ulil, menurut Gus Dur, menurut Cak Nurcholis Madjid, menurut Goenawan Mohamad,dll. Tapi ada juga Islam menurut Kahar Muzakkar,Kartosuwiryo,Abu Bakar Basyir,dll. Mana yang benar ? Saya tahu anda pernah menulis disini mengenai bagaimana mengerti paham yang ‘benar’. Lha, benar itu kan tetap subyektif. Benar menurut siapa ? Tidak ada paksaan dalam beragama, kata satu ayat. Prakteknya kan lain …


Baca juga :

Posisinya dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi bahasa Latin dan Yunani di Eropa. Bahasa Sanskerta berkembang menjadi banyak bahasa-bahasa modern di anakbenua India. Bahasa ini muncul dalam bentuk pra-klasik sebagai bahasa Weda. Yang terkandung dalam kitab Rgweda merupakan fase yang tertua dan paling arkhais. Teks ini ditarikhkan berasal dari kurang lebih 1700 SM dan bahasa Sanskerta Weda adalah bahasa Indo-Arya yang paling tua ditemui dan salah satu anggota rumpun bahasa Indo-Eropa yang tertua.

seperti di kutip dari https://lombokmusic.wordpress.com

Ketika istilah bahasa Sanskerta muncul di India, bahasa ini tidaklah dipandang sebagai sebuah bahasa yang berbeda dari bahasa-bahasa lainnya, namun terutama sebagai bentuk halus atau berbudaya dalam berbicara. Pengetahuan akan bahasa Sanskerta merupakan sebuah penanda kelas social dan bahasa ini terutama diajarkan kepada anggota kasta-kasta tinggi, melalui analisis saksama para tatabahasawan Sanskerta seperti Pāṇini. Bahasa Sanskerta sebagai bahasa terpelajar di India berada di samping bahasa-bahasa Prakreta yang merupakan bahasa rakyat dan akhirnya berkembang menjadi bahasa-bahasa Indo-Arya modern (bahasa Hindi, bahasa Assam, bahasa Urdu, Bengali dan seterusnya). Kebanyakan bahasa Dravida dari India, meski merupakan bagian rumpun bahasa yang berbeda, mereka sangat dipengaruhi bahasa Sanskerta, terutama dalam bentuk kata-kata pinjaman.

seperti di kutip dari https://lombokmusic.wordpress.com

adi : cantik, indah; ngadi-adi : rewel, nakal, banyak tingkah; adibusana : pakaian yang indah; adidaya : lebih berkuasa; adigang : menyombongkan kekuatan; adiguna : menyombongkan kepandaian; adigung : menyombongkan kebesaran; adikara : berwibawa, berkuasa; adilaga : perang; adiluhung : agung, anggun, bernilai lebih; adiluwih : lebih; adimuka : penguasa, pembesar; adinegara : negara yang lebih baik; adipati : bupati, vatsal; adiraga : bersolek, berhias; adiraja : pemaaf, pemurah; adiwarna : jenis yang lebih baik; adiwignya : orang pandai

seperti di kutip dari https://lombokmusic.wordpress.com

kala : 1 waktu, zaman; 2 kala (binatang); 3 nama dewa (Batara Kala); kala bénjing : besuk pagi; kala jengking : kalajengking; kalabendu : jaman yang buruk; kalabusana : seperangkat pakaian kebesaran; kalacakra : jenis jimat; kaladésa : perangkat desa; kaladuta : alamat buruk; kalakatha : ketam, kepiting; kalamangga : laba-laba; kala mangsa : kadang-kadang; kalamenjé : sejenis kala; kalamenjing : jakun; kalamenta : nama rumput; kalamudheng : nama perhitungan pencuri; kalanjana : nama rumput; kalan-kalan : kadang-kadang; kalandara : matahari; kalantara : sejenis buah petai; kalasangka : terompet sangkakala; kalawasana: akhir zaman; kalawija : abdi di istana; kalayuga, kaliyuga : zaman kaliyuga, zaman kesengsaraan

seperti di kutip dari https://lombokmusic.wordpress.com

kami : kami; kamibocahen : kekanak-kanakan; kamigilan : sangat jijik; kamijara : serai; kamijijèn : jijik sekali; kamikakon : kejang, kaku; kamikekelen : tertawa terpingkal-pingkal; kamilurusen : bertambah sedih lalu mati; kamipurun : sangat mau; kamirahan : kemurahan; kamirurusen : bertambah sedih lalu mati; kamisandhanen : sakit pada payudara; kamisasaten : terbeliak matanya; kamisepuh : kepala desa; kamisesegan : tersedan-sedan (menangis); kamitégan : tega, sampai hati; kamitenggengen : melihat tertegun; kamitigan : masak belum waktunya; kamitontonen : tertegun, heran melihat; kamituwa : kepala dusun; kamiwelasen : kasih sayang, perhatian

seperti di kutip dari https://lombokmusic.wordpress.com

maha : maha, tinggi; maha agung : maha agung; maha bala : kuat, perkasa sekali; maha bara : tidak lazim, mustahil; mahabaya : bahaya besar; mahaguru : mahaguru, guru besar; maha kuwasa : maha kuasa; maha luhur : maha luhur; maha mulya : maha mulia; mahamuni : pendita; maha pawitra: suci, luhur; maha prana : huruf besar pada huruf Jawa; maharaja: raja besar; maharatna : manikam; maharesmi : bulan; maharja : selamat; maharsi : maharesi; mahasiswa : siswa di perguruan tinggi; maha suci: maha suci; mahasura: pemberani, pahlawan; maha atma, mahatma : jiwa besar; maha wikan : maha mengetahui

seperti di kutip dari https://lombokmusic.wordpress.com

mata : mata, netra; mata deruk: jenis rumah adat tradisional; mata dhuwiten : mata duitan; mata éra : bolongan keranjang; mata itik : jenis rumah adat tradisional; mata iwak : nama tumbuhan; mata kucing : sebangsa damar; mata lélé : tumbuh daun (tembakau); mata loro : membela musuh, intelijen; mata-mata, mata pita, mata pitaya : intelijen; mata sapi : telur ceplok; mata walangen : silau sebab terlalu lama memandang; mata walikan : nama anyaman; mata yuyu : selalu ingin menangis

seperti di kutip dari https://lombokmusic.wordpress.com

nir : tidak, bebas; niradara: tidak dengan sopan, kurang ajar; nirantara: tidak berapa lama lewat, sebentar; nirasa : tidak enak, tak ada rasanya; nirsraya : melajang, tidak kawin, membujang; nirbawa: tak berwibawa; nirbaya: tidak bahagia; nirbaya, nirbita : lepas dari mara bahaya; nirdaya : hilang tenaga; nirdon : tiada hasilnya, gagal, urung, tak berguna; nirmala : selamat, lepas dari kecelakaan; nirwèsthi: tidak takut bahaya; nirwikara: tak berubah, tabah, berani

seperti di kutip dari https://lombokmusic.wordpress.com

para : 1 bagi; 2 para; paracampah: suka mencela, menghina; paracidra : pengkhianat, pendusta; paradata : jaksa; parahita : berguru, mengabdi; parajaya : salah, kalah; parakarta : selamat, sehat; parakasak: pemberian, hadiah; parakirna : buah-buahan pohon; parakrama : kawin, menikah; paranyai : abdi wanita di istana; parapadu : sengketa, berselisih; parasama : pilih kasih; parasatya : teman; paratantang : suka menantang, suka berkelahi; parawadulan : juru sandi; parawanten : sesajian

seperti di kutip dari https://lombokmusic.wordpress.com

pari : 1 padi; 2 hal, mengenai; paribasan : peribahasa; paribawa : wibawa, pengaruh; paributa : dihina, dihinakan; paricara : abdi, hamba (laki-laki); paricari : abdi perempuan; parigraha : 1 rumah; 2 istri, suami; 3 menyentuh; parihasa : penghinaan, celaan; parikena : cocok, berkenan; parikrama : sambutan, penghormatan; parikudu : mau sekali, seharusnya; parimaha : besar; parimarma, parimirma : kemurahan, belas kasih; paripadu : seharusnya, mau sekali; paripaos: peribahasa, ungkapan; paripeksa : terpaksa, seharusnya; paripolah : bertingkah polah; paripuja: penghormatan; paripurna : paripurna, sempurna, pensiun; paritrana : pertolongan, perlindungan; paritustha : senang, girang, puas; pariwanda : penghinaan, celaan; pariwara : berita, warta; paripasa : paksa

seperti di kutip dari https://lombokmusic.wordpress.com

pasang : 1 pasang, memasang; 2 pasang surut; pasang aliman tabé : mohon ijin, permisi; pasangan : 1 pasangan, jodoh; 2 pasangan dalam huruf Jawa untuk mematikan huruf di depannya; pasang angkuh : sombong, congkak; pasang gendéra : mengibarkan bendera ; pasang giri : sayembara; pasangliring : mengerling, menjeling; pasang grahita (-cipta) : menggunakan indra; pasang rakit : susunan, struktur, pengaturan; pasang ulat : menggunakan bahasa simbol; pasang semu : menggunakan bahasa simbol; pasang walat : mengenakan tulaknya

seperti di kutip dari https://lombokmusic.wordpress.com

salah : salah; salah cipta : salah cipta; salah deleng : salah lihat; salah éndah : salah tingkah, berbuat yang tidak perlu; salah gawé : salah kerja; salah gemèn : suka mencampuri urusan orang lain; salah graita : salah rasa; salah ilik: salah lihat; salah kapti : salah niat, salah tujuan; salah kardi : salah kerja; salah karya : salah kerja; salah kedadèn : salah kejadian, keliru; salah mangsa : salah iklim, salah musim; salah pandeleng : salah lihat; salah siji : salah satu; salah surup : salah tahu; salah tampa : salah terima, salah paham; salah ton(en) : salah lihat; salah urat : salah urat, kesleo; salah wèwèng : menyeleweng

seperti di kutip dari https://lombokmusic.wordpress.com

upa : sebutir nasi; upaboga : mencari makan, kelezatan, kenikmatan; upadamel: pekerjaan, kegiatan; upadana: pemberian; upadrawa: kesusahan kesengsaraan; upagawé : pekerjaan, kegiatan; upajati : nama tembang gedhe; upajiwa: penghasilan, penghidupan, nafkah, rezeki; upajiwana : nafkah, rezeki; upakara : merawat, memelihara; upakarti : 1 hasil kerja, karya; 2 penghargaan; upakarya : hasil kerja, karya; upakawis (dipun-) : (ing.) dipelihara, dirawat; upaksama: ampun, maaf; upalabi: pendapat, pengertian, pemilikan; upalamba : pendapat, pengertian, pemilikan; uparengga: perhiasan, hiasan; uparukti: pasang rakit, merakit; upasadana : penghormatan, penghargaan; upasaka: calon pendita; upasama : sabar, rendah hati; upasanta: sabar, rendah hati; upasantwa: penghibur; upasraya: minta pertolongan, bantuan; upasuba: hiasan untuk penghormatan; upawada: kemarahan, celaan


Baca juga :

adi : cantik, indah; ngadi-adi : rewel, nakal, banyak tingkah; adibusana : pakaian yang indah; adidaya : lebih berkuasa; adigang : menyombongkan kekuatan; adiguna : menyombongkan kepandaian; adigung : menyombongkan kebesaran; adikara : berwibawa, berkuasa; adilaga : perang; adiluhung : agung, anggun, bernilai lebih; adiluwih : lebih; adimuka : penguasa, pembesar; adinegara : negara yang lebih baik; adipati : bupati, vatsal; adiraga : bersolek, berhias; adiraja : pemaaf, pemurah; adiwarna : jenis yang lebih baik; adiwignya : orang pandai

seperti di kutip dari https://arifiantz.wordpress.com

kala : 1 waktu, zaman; 2 kala (binatang); 3 nama dewa (Batara Kala); kala bénjing : besuk pagi; kala jengking : kalajengking; kalabendu : jaman yang buruk; kalabusana : seperangkat pakaian kebesaran; kalacakra : jenis jimat; kaladésa : perangkat desa; kaladuta : alamat buruk; kalakatha : ketam, kepiting; kalamangga : laba-laba; kala mangsa : kadang-kadang; kalamenjé : sejenis kala; kalamenjing : jakun; kalamenta : nama rumput; kalamudheng : nama perhitungan pencuri; kalanjana : nama rumput; kalan-kalan : kadang-kadang; kalandara : matahari; kalantara : sejenis buah petai; kalasangka : terompet sangkakala; kalawasana: akhir zaman; kalawija : abdi di istana; kalayuga, kaliyuga : zaman kaliyuga, zaman kesengsaraan

seperti di kutip dari https://arifiantz.wordpress.com

kami : kami; kamibocahen : kekanak-kanakan; kamigilan : sangat jijik; kamijara : serai; kamijijèn : jijik sekali; kamikakon : kejang, kaku; kamikekelen : tertawa terpingkal-pingkal; kamilurusen : bertambah sedih lalu mati; kamipurun : sangat mau; kamirahan : kemurahan; kamirurusen : bertambah sedih lalu mati; kamisandhanen : sakit pada payudara; kamisasaten : terbeliak matanya; kamisepuh : kepala desa; kamisesegan : tersedan-sedan (menangis); kamitégan : tega, sampai hati; kamitenggengen : melihat tertegun; kamitigan : masak belum waktunya; kamitontonen : tertegun, heran melihat; kamituwa : kepala dusun; kamiwelasen : kasih sayang, perhatian

seperti di kutip dari https://arifiantz.wordpress.com

maha : maha, tinggi; maha agung : maha agung; maha bala : kuat, perkasa sekali; maha bara : tidak lazim, mustahil; mahabaya : bahaya besar; mahaguru : mahaguru, guru besar; maha kuwasa : maha kuasa; maha luhur : maha luhur; maha mulya : maha mulia; mahamuni : pendita; maha pawitra: suci, luhur; maha prana : huruf besar pada huruf Jawa; maharaja: raja besar; maharatna : manikam; maharesmi : bulan; maharja : selamat; maharsi : maharesi; mahasiswa : siswa di perguruan tinggi; maha suci: maha suci; mahasura: pemberani, pahlawan; maha atma, mahatma : jiwa besar; maha wikan : maha mengetahui

seperti di kutip dari https://arifiantz.wordpress.com

pari : 1 padi; 2 hal, mengenai; paribasan : peribahasa; paribawa : wibawa, pengaruh; paributa : dihina, dihinakan; paricara : abdi, hamba (laki-laki); paricari : abdi perempuan; parigraha : 1 rumah; 2 istri, suami; 3 menyentuh; parihasa : penghinaan, celaan; parikena : cocok, berkenan; parikrama : sambutan, penghormatan; parikudu : mau sekali, seharusnya; parimaha : besar; parimarma, parimirma : kemurahan, belas kasih; paripadu : seharusnya, mau sekali; paripaos: peribahasa, ungkapan; paripeksa : terpaksa, seharusnya; paripolah : bertingkah polah; paripuja: penghormatan; paripurna : paripurna, sempurna, pensiun; paritrana : pertolongan, perlindungan; paritustha : senang, girang, puas; pariwanda : penghinaan, celaan; pariwara : berita, warta; paripasa : paksa

seperti di kutip dari https://arifiantz.wordpress.com

pasang : 1 pasang, memasang; 2 pasang surut; pasang aliman tabé : mohon ijin, permisi; pasangan : 1 pasangan, jodoh; 2 pasangan dalam huruf Jawa untuk mematikan huruf di depannya; pasang angkuh : sombong, congkak; pasang gendéra : mengibarkan bendera ; pasang giri : sayembara; pasangliring : mengerling, menjeling; pasang grahita (-cipta) : menggunakan indra; pasang rakit : susunan, struktur, pengaturan; pasang ulat : menggunakan bahasa simbol; pasang semu : menggunakan bahasa simbol; pasang walat : mengenakan tulaknya

seperti di kutip dari https://arifiantz.wordpress.com

salah : salah; salah cipta : salah cipta; salah deleng : salah lihat; salah éndah : salah tingkah, berbuat yang tidak perlu; salah gawé : salah kerja; salah gemèn : suka mencampuri urusan orang lain; salah graita : salah rasa; salah ilik: salah lihat; salah kapti : salah niat, salah tujuan; salah kardi : salah kerja; salah karya : salah kerja; salah kedadèn : salah kejadian, keliru; salah mangsa : salah iklim, salah musim; salah pandeleng : salah lihat; salah siji : salah satu; salah surup : salah tahu; salah tampa : salah terima, salah paham; salah ton(en) : salah lihat; salah urat : salah urat, kesleo; salah wèwèng : menyeleweng

seperti di kutip dari https://arifiantz.wordpress.com

upa : sebutir nasi; upaboga : mencari makan, kelezatan, kenikmatan; upadamel: pekerjaan, kegiatan; upadana: pemberian; upadrawa: kesusahan kesengsaraan; upagawé : pekerjaan, kegiatan; upajati : nama tembang gedhe; upajiwa: penghasilan, penghidupan, nafkah, rezeki; upajiwana : nafkah, rezeki; upakara : merawat, memelihara; upakarti : 1 hasil kerja, karya; 2 penghargaan; upakarya : hasil kerja, karya; upakawis (dipun-) : (ing.) dipelihara, dirawat; upaksama: ampun, maaf; upalabi: pendapat, pengertian, pemilikan; upalamba : pendapat, pengertian, pemilikan; uparengga: perhiasan, hiasan; uparukti: pasang rakit, merakit; upasadana : penghormatan, penghargaan; upasaka: calon pendita; upasama : sabar, rendah hati; upasanta: sabar, rendah hati; upasantwa: penghibur; upasraya: minta pertolongan, bantuan; upasuba: hiasan untuk penghormatan; upawada: kemarahan, celaan


Baca juga :

Perlahan-lahan, umat manusia terbiasa dengan cuaca yang berubah dan cenderung menjadi ekstrem. Mengikuti pemberitaan, masih segar dalam ingatan bagaimana China dan Pakistan dihantam banjir dahsyat berkepanjangan, menelan korban ratusan nyawa. Sementara itu, di Rusia gelombang panas menimbulkan kebakaran hutan hebat. Sementara itu, di Tanah Air sendiri, pelajaran sekolah dasar yang membagi negeri dalam dua musim—kemarau dan hujan—sulit dipercaya lagi karena April-Oktober yang harusnya musim kemarau diwarnai hujan dengan curah tinggi.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Menarik memang fakta yang dikemukakan oleh Will. Bahkan, ketika manusia membakar habis semua bahan bakar fosil dan emisi karbonnya memenuhi atmosfer, Bumi akan mampu melarutkan sebagian besar karbon tersebut, mungkin setelah satu milenium, ke lautan. Kalau sudah dilarutkan, tingkat konsentrasi karbon paling hanya sedikit lebih tinggi daripada saat ini. Sisa karbon dioksida di atmosfer kemudian akan ditransfer ke batuan hingga dalam puluhan atau ratusan ribu tahun konsentrasi gas rumah kaca ini di laut dan udara akan kembali ke tingkat sebelum manusia muncul.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Dunia yang kita diami ini semakin lama semakin terancam kelestariannya. Bukan karena dunia memang sudah tua, namun karena ulah manusia yang menempatinya. Manusia telah merusak alam tempat mereka tinggal. Darat dan laut mereka eksploitasi tanpa mengindahkan masa depan anak-cucu mereka. Hutan digunduli, dan setiap harinya dunia kehilangan 10 ha hutannya karena dibabat manusia. Lautnya pun tidak disisakan. Pantai direklamasi sampai terumbu karangnya tempat biota laut hidup dan mencari makan musnah. Atau kalau bukan karena reklamasi pantai, maka laut dirusak terumbu karangnya oleh tangan-tangan serakah pencari ikan dengan bom atau racun. Contohnya, Indonesia memiliki terumbu karang terluas di dunia, yaitu 7.500 km, tapi yang baik tinggal 7%, 63% rusak parah, dan yang musnah 30%. Itu semua bukan karena alam, tetapi karena ulah manusia yang serakah dan tidak menghiraukan masa depan.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Keserakan manusia semakin menjadi-jadi setelah terjadi Revolusi Industri di Inggris lalu dipolitisasi oleh Negara. Perusakan atas nama kepentingan “pembangunan” dilakukan oleh sebuah Negara, baik di dalam negerinya sendiri maupun di negeri orang. Mereka tidak mau tahu bahwa meskipun perusakan itu dilakukan di negeri orang (lain) tapi dampaknya akan mengglobal, karena negaranya ada pada bulatan bumi yang sama. Sehingga apabila di belahan bumi lain rusak alamnya akan mempengaruhi iklim seluruh permukaan bumi. Manusia harus menyadari bahwa alam itu akam membentuk peradaban manusia, bukan sebaliknya. Oleh karena itulah maka di sini pun akan dibahas tentang ekumene , meskipun tidak terlalu lengkap.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Meskipun Revolusi Industri telah berlalu beberapa abad yang lampau, namun dampaknya akan terus terasa. Sekarang kita bisa merasakan bagaimana gerahnya bumi kita ini. Daerah yang tadinya sejuk –seperti Bandung—kini terasa panas. Apalagi daerah yang tadinya panas, semakin menyengat. Alam dan peradaban itu sesungguhnya saling mempengaruhi. Manusia yang menghargai alam dan mengelola alam dengan baik adalah manusia yang memiliki peradaban yang tinggi. Tetapi, karena kemajuan ilmu semakin menumbuhkan rasa kepenasaran manusia untuk mengembangkan keserakahannya dan egoismenya, maka timbullah keinginan untuk menguasai alam dan seluruh isinya, termasuk manusia di luar dirinya. Akibatnya, terjadilah perang di mana-mana. Ekumene , tempat peradaban manusia bersemi, terancam kelestariannya. Keserakahan manusia yang menciptakan budaya modern yang tidak menghargai sesama makhluk, baik manusia maupun non-manusia.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Demikian pentingnya permasalahan pelestarian alam ini, maka dalam buku yang tipis ini kita akan membahas tentang biosfir, ekumene, dan kebudayaan. Kebudayaan penting dibahas secara teoritis, supaya kita tahu mengapa manusia suka merusak alam, dan meskipun sudah banyak terjadi bencana yang ditimbulkannya, manusia tidak jera-jeranya terus saja –malahan secara sistematis— memporakporandakan bumi yang satu ini tanpa memikirkan bahwa anak-cucunya juga membutuhkannya. Kebudayaan modern ini bermula dari Revolusi Industri di Inggris. Oleh karena itulah, maka dalam pembahasannya, yang menjadikan objek dalam buku ini adalah negara yang secara langsung bersinggungan dengan Revolusi Industri. Indonesia, meskipun pernah dijajah oleh Belanda, tidak dibahas karena penjajah Belanda tidak mengakibatkan rakyat jajahannya memiliki budaya modern. Lain dengan Inggris dan Prancis, misalny .

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Volume biosfir secara rijid terbatas, dan hanya berisikan persediaan sumber-sumber yang terbatas pula, sehingga berbagai spesies kehidupan harus menata diri untuk mempertahankan hidupnya. Sebagian sumber –yang terbatas ini– bisa diperbaharui, dan sebagian lainnya tidak tergantikan. Spesies apapun yang memanfaatkan sumber-sumber yang dapat diperbaharui ataupun menguras sumber-sumber yang tidak dapat diganti, berarti sedang berusaha memusnakan dirinya sendiri. Jumlah spesies yang telah punah dan meninggalkan jejak-jejak dalam catatan geologis sangat banyak dibandingkan dengan jumlah yang masih bisa bertahan hidup.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Dalam hal luasnya, biosfir sangatlah kecil. Batas atasnya mungkin sama dengan ketinggian maksimum stratosfir yang masih bisa dilalui pesawat terbang. Batas bawahnya adalah kedalaman di bawah permukaan bagian solidnya yang masih bisa ditambang dan dibor oleh para insinyur. Ketebalan biosfir, antara dua batas itu, cukup tipis bila dibandingkan dengan panjang radius bola bumi yang dilapisinya, seperti kulit halus pada manusia. Dan bola bumi ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan palnet-palnet besar matahari lainnya. Bola bumi ini juga jauh sekali jaraknya dari palnet-planet tersebut yang “mengelilingi” matahari dalam ortbitnya masing-masing, yang sebenarnya tidak berbentuk bulat tetapi elips. Selanjutnya, matahari kita hanyalah salah satu dari matahari-matahari yang nyaris tidak terhingga jumlahnya yang membentuk galaksi kita, dan galaksi kita juga hanyalah salah satu dari galaksi-galaksi yang jumlahnya tidak diketahui (semakin banyak galaksi yang diketahui seiring dengan semakin canggihnya teleskop kita). Oleh karena itu, jika dibandingkan dengan dimensi-dimensi bagian dari kosmos fisik yang kita ketahui, dimensi-dimensi biosfir kita tak terhingga kecilnya.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Biosfir tidak sama tuanya dengan planet bumi yang diselimutinya. Biosfir adalah sebuah pertumbuhan yang tidak normal –orang bisa menyebutnya dengan lingkaran atau kerak—yang terjadi lama setelah lapisan kulit palnet bumi ini cukup dingin bagi komponen-komponennya, yang aslinya berupa gas untuk mencair dan memadat. Hampir bisa dipastikan bahwa hanya biosfirlah yang kini ada dalam tata surya kita, dan mungkin dalam tata surya kita ini tidak ada biosfir lain yang telah atau akan ada. Tentu saja tata surya ini, seperti biosfir kita, hanya sejumput yang sangat kecil dari bagian kosmos fisik yang telah diketahui. Mungkin matahari-matahari lain –yang banyak jumlahnya—memiliki planet-planet. Dan, di antara planet-planet ini ada sebagian yang, seperti planet-planet kita juga, mengelilingi matahari-mataharinya dengan suatu jarak di mana mereka, seperti planet-planet kita, dapat menumbuhkan biosfir-biosfir yang membungkus permukaannya. Tetapi, kalaupun sesungguhnya ada potensi biosfir-biosfir lain, kita tidak percaya begitu saja bahwa biosfir-biosfir ini benar-benar bisa didiami oleh makhluk-makhluk hidup, seperti biosfir kita. Dalam sebuah habitat yang potensial bagi kehidupan, potensialitas ini tidak selalu teraktualisasikan.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Konfigurasai fisik dari materi yang terstruktur secara organik telah diketemukan. Tetapi, sebagaimana telah diketahui sebelumnya, muatan-muatan fisik dari kehidupan, kesadaran, dan tujuannya tidak sama seperti juga kehidupan, kesadaran dan tujuan itu sendiri. Kita tidak tahu bagaimana atau mengapa kehidupan, kesadaran, dan tujuan telah ada mengitari permukaan planet kita. Namun kita mengetahui bahwa konstituen-konstituen material biosfir kita telah diredistribusikan secara spasial dan disusun kembali secara kimiawi akibat interaksi antara organisme hidup dan materi anorganik. Kita mengetahui bahwa terciptanya organisme-organisme “primnitif” menjadi filter yang menyaring radiasi yang secara terus-menerus membombardir biosfir kita dari matahari dan sumber-sumber eksternal lain, sehingga kekuatan radiasi tersebut bukan hanya dapat ditoleransi tetapi juga ramah terhadap bentuk-bentuik kehidupan yang “lebih tinggi” (istilah “lebih tinggi” ini berarti lebih dekat dengan bentuk kehidupan spesies homo sapiens –sebuah penggunaan kata yang sifatnya relatif dan subjektif).

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Kita juga mengetahui bahwa materi yang terkandung di dalam biosfir telah dan selalu bertukar tempat atau “didaur ulang” antara bagiannya yang, pada suatu momentum, tidak bernyawa sekaligus bernyawa. Dan, dalam bagian yang bernyawa, sebagian berupa flora dan sebagian lagi fauna. Dalam bagian yang berupa fauna, sebagian anggotanya non-manusia dan sebagian lagi manusia. Biosfir ini ada dan bertahan hidup berkat keseimbangan kekuatan-kekuatan sensitif yang mengatur dan mempertahankan diri. Konstituen-konstituen dari biosfir ini bersifat interdependen, dan manusia bergantung pada hubungannya dengan biosfir sisanya, sama seperti konstituen-konstituen kekinian yang lain.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Dengan berpikir, manusia dapat membedakan dirinya dari menusia lain, dari bagian biosfir lain, dan dari bagian alam semesta yang bersifat fisik dan spiritual. Watak manusia, termasuk kesadaran dan suara hati secara fisiknya, juga terletak di dalam biosfir, dan kita tidak mempunyai bukti bahwa manusia individual atau umat manusia secara keseluruhan memiliki, atau dapat memiliki, eksistensi yang melampaui kehidupannya sendiri di biosfir ini. Jika biosfir berhenti menjadi habitat bagi kehidupan, maka manusia, sejauh pengetahuan kita, akan mengalami kepunahan yang kemudian juga akan menimpa setiap bentuk kehidupan lain.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Jika kita berkesimpulan bahwa biosfir kita, yang selama ini menjadi satu-satunya habitat kita, juga merupakan satu-satunya habitat fisik yang selama ini kita miliki, maka sebenarnya kesimpulan tersebut mengingatkan kita untuk mengkonsentrasikan pikiran dan upaya pada biosfir ini: untuk meneliti sejarahnya, meramalkan prospeknya, dan untuk melakukan segala sesuatu yang dapat menjamin bahwa biosfir ini –bagi kita biosfir satu-satunya—akan tetap bisa ditempati sampai akhirnya tidak bisa ditempati lagi ( uninhabitable ) akibat kekuatan-kekuatan kosmis yang berada di luar kendali kita.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Kekuatan material manusia kini telah meningkat sedemikian pesat, sehingga dapat membuat biosfir menjadi tidak bisa ditempati lagi. Hal ini akan menghasilkan akibat yang mematikan dalam jangka waktu yang dapat diperkirakan, jika penduduk bumi ini tidak mengambil langkah-langkah bersama yang tepat dan hati-hati untuk mengurangi polusi dan eksploitasi yang membebani biosfir ini, karena kerakusan manusia yang berpikiran cupet. Di lain pihak, kekuatan material manusia tidak akan mampu untuk menjamin bahwa biosfir akan tetap bisa ditinggali jika kita sendiri tidak menahan diri untuk tidak merusaknya.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Kita harus menyadari, bahwa karena keterbatasannya, biosfir ini tidak sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri. Persediaan energi fisik biosfir –yang menjadi sumber materi kehidupan dan juga sumber kekuatan fisik yang ada di dalam alam tak bernyawa yang kini telah dimanfaatkan manusia—tidak berasal dari dalam biosfir sendiri. Energi fisik ini telah dan selalu dipancarkan ke biosfir dari matahari, dan juga dari sumber-sumber kosmis lain, dan peran biosfir ketika menerima radiasi vital dari luar batas-batasnya sekedar bersifat selektif.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Telah disebutkan sebelumnya bahwa biosfir ini menyaring radiasi yang membombardirnya. Biosfir meloloskan sinar-sinar yang memberi kehidupan dan menolak sinar-sinar yang mematikan. Tetapi radiasi yang melimpah di biosfir dari sumber-sumber eksternal ini akan terus melimpah ruah selama filternya tidak aus dan sejauh sumber-sumber radiasi itu tetap tidak berubah; dan matahari kita, seperti setiap matahari lain dalam kosmos bintang selalu mengalami perubahan sepanjang masa. Dimungkinkan bahwa, di kelak kemudian hari, sebagian perubahan kosmis ini, baik di matahari atau bintang-bintang lain akan mengubah proses radiasi yang diterima oleh biosfir sehingga membuat biosfir ini tidak bisa ditempati lagi. Jika biosfir kita ini terancam oleh bencana semacam ini, tampaknya kekuatan material manusia tidak akan mungkin cukup untuk menahan perubahan yang mematikan dalam sandiwara kekuatan-kekuatan kosmis ini.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Sekarang mari kita bahas komponen-komponen biosfir dan sifat hubungan-hubungan di antara mereka. Ada tiga komponen biosfir; pertama , materi yang tak pernah kunjung hidup meskipun memperoleh sebuah struktur organik; kedua , materi organik; ketiga , materi tak bernyawa yang pernah hidup dan pernah bersifat organik serta masih mempertahankan sebagian sifat dan kekuatan organiknya. Kita mengetahui bahwa biosfir ini lebih muda usianya daripada planet yang diselimutinya. Kita juga mengetahui bahwa, di dalam biosfir ini, kehidupan dan kesadaran tidak dimiliki oleh materi yang diasosiasikan dengan keduanya. Lapisan materi yang kini menjadi sebuah biosfir dahulu pernah sepenuhnya tidak bernyawa dan tidak sadar, sebagaimana sebagian terbesar materi bola bumi sekarang ini. Kita tidak tahu bagaimana atau mengapa bagian dari bahan material biosfir ini pada akhirnya menjadi tidak bernyawa, juga tidak tahu bagaimana atau mengapa, pada fase terkemudian, bagian materi yang hidup ini menjadi sadar. Kita dapat mengajukan pertanyaan balik yang sama: bagaimana dan mengapa kehidupan dan kesadaran menjelma? Tetapi atas dasar pertanyaan balik ini masih juga jauh dari diri kita.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Komponen eks-organik biosfir sangat besar, dan komponen ini menjadi sebagian sumber terpenting bagi berlangsungnya hidup manusia. Sebelumnya, sudah merupakan pengetahuan yang jamak bahwa batu-batu dan pulau-pulau karang dihasilkan oleh beribu-ribu binatang sangat kecil yang bertumpuk-tumpuk memadat dan menjadi batu tiruan. Selama berpuluh-puluh abad, proses yang dilakukan oleh binatang-binatang sangat kecil ini membentuk areal tanah kering yang cukup besar di dalam biosfir yang bisa ditempati oleh bentuk-bentuk kehidupan non-akuatik. Makhluk-makhluk hidup yang sangat kecil tetapi banyak sekali dan tidak kenal lelah ini telah membentuk sebuah agregat area daratan terpencil yang lebih kokoh daripada kekuatan aktivitas vulkanik tak bernyawa yang dahsyat, yang menandingi binatang-binatang kecil dalam membuat batu karang di bawah air, hingga tersembullah sebuah pulau di atas permukaan air laut.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Kini juga telah menjadi pengetahuan bersama bahwa batu bara adalah produk dari sisa-sisa pepohonan yang telah mati. Demikian juga, bahwa tanah yang subur berasal dari olahan tubuh-tubuh cacing dan peran berjenis-jenis bakteri yang menempatinya, yang dengan cara demikian mempertinggi kemampuan tanah untuk menyediakan makanan bagi tumbuh-tumbuhan. Tetapi, orang awam masih saja terkejut jika seorang geolog mengatakan kepadanya, bahwa batu kapur yang merusak mata dan terdapat di sebagian puncak gunung adalah hasil dari timbunan kerang atau tulang bianatang-binatang laut selama berabad-abad di dasar laut; dan bahwa timbunan-timbunan horizontal materi yang pernah bersifat organik direbahkan –dalam pengertian skala waktu para geolog—oleh kontraksi kerak bumi hingga dikerutkan menjadi bentuk-bentuk seperti yang sekarang ini. Orang awam ini lebih terkejut lagi jika dikatakan bahwa timbunan-timbunan obat pencahar subterranean yang banyak sekali mungkin merupakan materi eks-organik –katakanlah sejenis batu bara yang berbeda dengan bijih besi atau granit; bahan-bahan yang tidak pernah melewati fase organik dalam konfigurasi molekul-molekul konstituennya.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Jumlah materi eks-organik yang luar biasa banyak di biosfir ini menarik perhatian kita untuk mencermati beberapa aspek sejarah kehidupan yang membingungkan (yang disebut secara salah sebagai “evolusi”, yang berarti tidak asli, padahal sekadar “hamparan” dari sesuatu yang telah ada secara laten). Kehidupan telah terdiferensiasikan menjadi sejumlah genera (bentuk jamak dari genus) dan spesies yang berbeda-beda, dan setiap spesies direpresentasikan dengan sejumlah anggotanya. Berlipatgandanya spesies dan anggotanya ini menjadi syarat yang memungkinkan adanya kemajuan kehidupan dari yang relatif sederhana dan lemah menjadi organisme yang relatif kompleks dan kuat. Tetapi harga yang harus dibayar oleh kemajuan melalui pembagian dan diferensiasi ini adalah persaingan dan perseteruan.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Masing-masing spesies, dan masing-masing anggota dari setiap spesies, bersaing dengan yang lainnya untuk mendapat konstituen-konstituen biosfir, baik yang tidak bernyawa atau bernyawa, yang bagi spesies tertentu, merupakan sumber dalam arti sarana yang efektif untuk mempertahankan kehidupan. Dalam sebagian kasus, persaingan ini terjadi secara tidak langsung. Satu spesies, atau satu anggota spesies, membunuh spesies lain bukan dengan cara memangsa atau membasminya, tetapi dengan merebut banyak sekali suatu sumber yang, bagi kedua pesaing itu, merupakan salah satu kebutuhan hidup. Ketika anggota-anggota spesies fauna non-manusia ini saling berhadapan untuk memperebutkan makanan, air, atau pasangan lawan jenis, maka yang kalah dianggap meminta seperempat bagian dan akan menerimanya dari sang pemenang sebagai pengganti kekalahannya. Umat manusia hanya dianggap sebagai fauna yang saling bertarung sampai mati dan membunuh kaum perempuan, anak-anak, orang tua, dan lakli-laki “musuhnya”. Bentuk kekejaman manusia yang aneh ini dilanggengkan di Vietnam, dan kekejaman ini diabadikan –makanya sangat dikutuk—dalam karya seni terkenal yang digubah selama 5.000 tahun terakhir: misalnya, lukisan Narmer; relief gelap Eannatum; the stele of Naramsin dan monumen-monumen karya para penerus Assyria yang berusaha menyamainya; epos Yunani Homerik; dan tiang Trajan.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Oleh karena itu, proses maju kehidupan ini pada titik terbaiknya menjadi bersifat parasitik dan pada titik terburuknya menjadi bersifat predator. Dunia fauna menjadi parasit bagi dunia flora; binatang (biasanya non-laut) tidak akan hidup bila tumbuhan tidak ada sebagai sumber udara dan makanan pemberi hidupnya. Sebagian spesies binatang mempertahankan hidupnya dengan cara membunuh dan mengganyang binatang-binatang dari spesies lain; dan manusia menjadi salah satu karnivora semenjak diturunkan dari tempat berlindungnya di atas pepohonan dan menginjakkan kakinya di tanah untuk mengambil kesempatan membunuh atau dibunuh. Korban-korban dari proses maju kehidupan ini adalah spesaies-spesies yang telah musnah dan beberapa yang masih bisa bertahan hidup tetapi secara terus menerus disembelih. Manusia telah membudidayakan beberapa spesies binatang untuk diperas hasilnya –susu atau madu—selama binatang-binatang itu masih hidup dan kemudian dibunuh secara kasar untuk diambil dagingnya sebagai makanan, juga tulang, urat, kulit, dan bulunya sebagai bahan baku berbagai peralatan dan pakaian.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Umat manusia juga saling memangsa. Kanibalisme dan perbudakan telah dipraktekkan di masyarakat yang sangat maju –kanibalisme ini banyak terdapat di Meso-Amerika pra-Kolombia, misalnya, dan perbudakan di masyarakat Graeco-Yunani, Islam, dan Barat Modern. Seorang budak adalah manusia yang diperlakukan seolah-olah menjadi binatang piaraan, dan perlakuan aneh manusia pada binatang ini secara implisit diakui oleh gerakan untuk menghapuskan praktek perbudakan manusia selama dua abad terakhir. Lebih dari itu, pembebasan budak secara yuridis tidak benar-benar membebaskan mereka, karena seorang manusia yang bebas secara yuridis masih dapat dieksploitasi dengan hina. Sebuah kolonus Romawi abad ke-4 yang secara nominal bebas, dan juga sebuah Decurion Romawi kontemporer, secara de facto kurang bebas dibandingkan dengan seorang budak penggembala atau pimpinan budak atau juru tulis budak di rumah tangga kerajaan, atau dibandingkan dengan seorang mamluk (kata Arab ini berarti “direduksi menjadi sekedar benda”). Orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat yang dibebaskan secara yuridis pada tahun 1862, dengan alasan yang jelas, sebagian besar dari mereka kini justru merasa lebih buruk dibanding satu abad yang lalu, bahwa hak-hak asasi mereka ditolak oleh masyarakat kulit putih sebagai sesama warga negara –meskipun tahun 2009 presiden terpilih Amerika Serikat dari kalangan kulit hitam.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Kekejaman manusia yang paling keji adalah pembunuhan dalam bentuk ritual pengorbanan manusia. Pembunuhan telah banyak dikecam ketika motifnya iri hati atau kebencian pribadi. Pembunuhan sebagai hukuman juga telah ditolak secara progresif. Bukan hanya dendam kesumat pribadi tetapi juga eksekusi resmi sekarang telah dihapus di beberapa negara. Pembunuhan ritual juga dilarang dalam kasus-kasus persembahan korban manusia kepada dewa-dewa, di mana dewa-dewa itu dianggap sebagai dewa suatu sumber daya alam –misalnya dewa hujan, dewa panen, dewa ternak; tujuan pengorbanan itu untuk memperahankan kehidupan manusia. Namun demikian, sejak manusia menguasai alam non-manusia, dewa-dewa yang disembah secara taat dan fanatik, dan tanpa sesal itu telah digantikan oleh kekuasaan kolektif terorganisasi yang dengannya manusia menguasai alam non-manusia.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Negara-negara yang berdaulat telah menjadi puncak objek penyembahan manusia selama 5.000 tahun terakhir; dan objek-objek ini menjadi dewa-dewi yang meminta dan menerima banyak sekali pengorbanan manusia. Negara-negara yang berdaulat terus saja saling berperang, dan dalam peperangan ini masing-masing negara membutuhkan anak-anak muda terpilih untuk membunuh penguasa-penguasa negara “musuhnya” dengan resiko dirinya dibunuh oleh korban-korban yang diincarnya. Masih hangat dalam ingatan, dalam Perang Irak, tentara Amerika Serikat dan sekutunya yang menyerang Negara merdeka Irak, telah membunuh atau dibunuh dalam perang yang bukan hanya dianggap absah, tetapi juga bernilai guna bagi kemenangan penyerangnya. Pembunuhan dalam perang, juga dalam eksekusi hukuiman mati, secara paradoks dimaafkan sebagai “bukan pembunuhan”.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Apakah proses maju kehidupan di biosfir ini telah menjadi begitu dihargai di atas penderitaan? Apakah seorang manusia lebih bernilai daripada sebatang pohon, atau sebatang pohon lebih berharga daripada sejentik amuba? Proses maju kehidupan hanya akan mengunggulkan sebagian spesies, jika kita mengukur keunggulan ini dengan kekuasaan semata. Sejauh ini, manusia adalah spesies yang paling kuat, tetapi manusia itu sendiri berwatak jahat. Manusia itu khas dalam watak jahatnya, begitu juga manusia khas ketika menyadari apa yang sedang diperbuat dan dipilihnya.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Penyair William Blake, yang memandang makhluk hidup secara tradisional sebagai hasil ciptaan dewa mirip manusia, sangat terpesona dengan penciptaan harimau. Tetapi, seekor harimau, tidak seperti manusia dan dewa pencipta hipotetis, tidaklah berdosa. Ketika seekor harimau memuaskan rasa laparnya dengan cara membunuh dan memangsa korbannya, ia tidak merasa bersalah. Di lain pihak, akan menjadi suatu perbuatan yang sangat buruk, tidak sewajarnya dan tidak bermakna, jika seorang dewa menciptakan seekor haramau untuk memangsa kambing dan manciptakan manusia untuk membunuh haramau, serta menciptakan basil dan virus untuk mempertahankan kelangsungan spesiesnya dengan cara membunuh manusia en mase .

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Hati nurani ini terletak di dalam diri manusia. Kebencian hati nurani menusia terhadap kejahatan terbukti ketika manusia juga mampu berbuat kebaikan. Kita pun mengetahui dari pengalaman bahwa manusia dapat, dan kadang-kadang melakukannya, berbuat tidak egois dan tidak untuk kepentingannya sendiri sampai mengorbankan diri demi saudara-saudartanya. Kita juga mengetahui bahwa pengorbanan diri tidaklah menjadi kebenaran eksklusif manusia. Motif klasik pengorbanan diri adalah cinta seorang ibu kepada anak-anaknya, dan ibu manusia tidaklah sendirian dalam mengorbankan diri. Cinta pengorbanan diri ibu juga diketemukan dalam spesies-spesies mamalia lain serta burung.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Lebih jauh lagi, semua spesies yang mempertahankan kehidupannya dengan cara mereproduksi diri bekerja sama di antara dua anggotanya yang berlawanan jenis kelamin yang tidak secara langsung menguntungkan individu-individu itu, tetapi memberikan jasa bagi spesiesnya untuk menjaga dari kepunahan. Dengan sebuah pandangan panoramik, kita juga bisa melihat bahwa jalinan antara berbagai spesies hidup tidak semata-mata berupa persaingan dan konflik. Ketika hubungan antara dunia flora dan dunia fauna dalam satu aspek berupa pihak yang dieksploitasi dan parasit-preditor, dalam aspek lain dua dunia ini berlaku sebagai mitra yang bekerja demi kepentingan bersama untuk menjaga biosfir ini agar tetap bisa ditinggali oleh flora dan fauna. Jalinan kerja sama ini menjamin, misalnya, distribusi dan sirkulasi oksigen dan karbon dioksida dalam sebuah gerakan ritmis yang memungkinkan adanya kehidupan.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Makanya proses maju kehidupan di biosfir ini tampak dengan sendirinya menunjukkan dua kecenderungan yang saling antitetis dan bertentangan. Ketika seorang manusia meneliti sejarah biosfir sampai saat sekarang, dia menemukan bahwa biosfir telah melahirkan kejahatan dan kebaikan, kesalahan dan kebenaran. Dua kecenderungan ini tentu saja merupakan konsep-konsep eksklusif manusia. Hanya makhluk yang memiliki kesadaran yang dapat membedakan antara buruk dan baik, serta dapat memilih antara perbuatan yang salah dan yang benar. Konsep-konsep ini tidak dikenal oleh makhluk-makhluk hidup non-manusia, dan mereka dianggap buruk atau baik hanya oleh penilaian manusia.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Apakah ini berarti bahwa ukuran-ukuran etis dibuat secara arbitrer oleh kekuasaan manusia, dan bahwa kekuasaan ini tidak relevan dengan fata-fakta kehidupan dan oleh karenannya merupakan utopia? Kita mungkin terpaksa berkesimpulan seperti ini, jika manusia hanya menjadi pengamat dan penilai yang melihat dan menilai biosfir dari luar. Pastinya manusia adalah seorang pengamat sekaligus penilai. Peran-peran ini merupakan akibat wajar dari fakultas kesadarannya dan kekuatan serta kebutuhan berikut yang tidak terhindarkan untuk menentukan pilihan-pilihan etis dan membuat penilaian-penilaian etis. Namun manusia juga merupakan sebuah cabang pohon kehidupan. Kita adalah salah satu hasil dari proses maju kehidupan. Hal ini berarti bahwa ukuran dan penilaian etis manusia inheren di dalam biosfir dan oleh karenanya dalam keseluruhan realitas yang salah satu bagiannya adalah biosfir ini. Makanya kehidupan dan kesadaran, kebaikan dan keburukan tidak kurang realnya dibandingkan dengan ukuran-ukuran materi dalam biosfir. Meskipun kita menebak bahwa materi merupakan sebuah konstituen primordial dari realitas, tetap saja kita tidak memiliki alasan untuk menduga bahwa manifestasi-manifestasi non-material dari realitas tidak bersifat primordial.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Sampai saat ini, persaingan dan konflik yang merupakan satu aspek dari proses maju kehidupan telah menyebabkan punahnya banyak spesies, dan juga mengakibatkan kematian premature yang kejam dan menyakitkan bagi anggota seluruh spesies yang tidak terhingga jumlahnya. Manusia telah mengorbankan dirinya, selain menimbulklan kematian spesies predator pesaingnya dan mamusnahkan sejumlah spesies tanaman. Bahkan ikan hiu, bakteri dan virus tidak lagi menjadi tandingan bagi manusia sebagai antagonisnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini kehancuran spesies-spesies tertentu dan anggota individual spesiesnya tidak terlihat membawa ancaman bagi keberlangsungan hidupnya sendiri. Kini kepunahan sebagian spesies hidup telah membuka kesempatan bagi spesies lain untuk tumbuh.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Manusia menjadi spesies yang paling berhasil di antara seluruh spesies lain dalam menguasai konstituen-konstituen biosfir lain, baik yang tak bernyawa maupun yang bernyawa. Ketika fajar kesadarannya menyingsing, manusia menjumpai dirinya sebagai rahmat bagi alam non-manusia; dia berusaha untuk menjadikan dirinya sebagai penguasa alam non-maniusia, dan dia mencapai kemajuan secara progresif untuk tujuan ini. Selama 10.000 tahun yang silam, manusia menentang seleksi alam dengan cara menawarkan seleksi manusia agar bisa meraih kekuasaan tersebut. Dia membudidayakan tanaman dan binatang demi kepentingannya sendiri, dan dia berusaha membuang sebagian spesies lain yang dianggap tidak berguna. Dia menamakan spesies yang tidak diinginkannya itu sebagai “makhluk-makhluk liar dan hina”, dan ketika memberikan julukan pejoratif ini, sebenarnya dia sedang berusaha sekuat-kuatnya untuk membasmi makhluk-makhluk tersebut. Sejauh ini, manusia telah berhasil menggantikan seleksi alam dengan selekasi manusia, manusia telah mereduksi sejumlah spesies.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Namun demikian, selama fase pertama kariernya, yang berjalan sangat panjang, manusia tidak berbuat banyak seperti yang dilakukan sebagian makhluk hidup mitranya dari spesies lain. Piramida di Guzah dan Teotihuacan, dan gunung-gunung buatan manusia di Cholula dan Sakai, mengecilkan candi-candi dan katedral-klatedral serta “gedung-gedung pencakar langit” pada zaman selanjutnya, namun monument-monumen manusia yang paling masif masih relatif kecil dibandingkan dengan hasil kerja binatang-binatang kecil yang telah membentuk pulau-pulau karang. Menjelang fajar peradaban, sekitar 5.000 tahun yang lalu, manusia telah menyadari keunggulan kekuatannya di biosfir ini. Sebelum permulaan tahun Masehi, manusia telah mengetahui bahwa biosfir adalah sebuah selimut terbatas yang melingkupi permukaan sebuah bintang, yakni bola bumi. Sejak abad ke-15, bangsa-bangsa Eropa telah merekrut dan mendiami sebagian permukaan tanah biosfir yang dulunya masih jarang penduduknya. Sekalipun begitu, sampai generasi sekarang, manusia terus saja berperilaku seolah-oleh persediaan sumber-sumber biosfir yang tidak dapat diperbaharui, seperti bahan tambang, tidak akan habis, dan seolah-olah laut dan udara tidak bisa terkena polusi.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Yang benar adalah bahwa, sampai dua puluh lima tahun ketiga abad ke-20, manusia masih saja memandang rendah peningkatan kekuasaan modernnya yang mempengaruhi biosfir. Peningkatan ini diakibatkan oleh dua perkembangan baru: pertama, aktivitas penelitian ilmiah yang sistematis dan terencana serta penerapannya menjadi teknologi canggih; kedua , pemanfaatan energi fisik yang nyata atau laten dalam konstituen-konstituen biosfir tak bernyawa demi tujuan-tujuan kemanusiaan. Misalnya, energi air yang selalu mengalir ke bawah menuju laut yang sebelumnya berasal dari air laut yang naik ke atmosfir sebagai uap hujan. Semenjak pecahnya Revolusi Industri di Inggris dua ratus tahun yang lampau, daya gravitasi air, yang sebelumnya lebih kecuil manfaatnya dibanding penggilingan padi, telah dipergunakan untuk menjalankan mesin pabrik berbagai jenis komoditas material. Kekuatan air juga telah ditingkatkan dengan cara dikonversi menjadi kekuatan arus dan listrik. Listrik dapat dihasilkan dari kekuatan fisik air terjun alami atau buatan, tetapi air tidak dapat dikonversi menjadi uap tanpa dipanasi dengan pembakaran bahan bakar, dan semua ini telah digunakan bukan hanya untuk mengkonversi kekuatan air menjadi kekuatan uap dan listrik, tetapi juga untuk menggantikan penggunaan kekuatan air dalam bentuknya yang paling potensial sekalipun. Lebih dari itu, arang kayu sebagai bahan bakar pelengkap telah digantikan dengan bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui: batu bara, minyak tanah, dan kemudian uranium.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Uranium, bahan bakar yang baru dieksploitasi paling belakangan, mengeluarkan energi atom, tetapi, untuk memanipulasi kekuatan raksasa ini, manusia sejak tahun 1945 telah memulai reka-upayanya yang berakibat fatal bagi Phaethon setengah dewa mitis ini ketika manusia merampas kereta dewanya yang suci, yakni matahari. Kuda-kuda yang menarik kereta Helios meloncat tidak keruan ketika mengetahui bahwa saisnya diambil alih oleh tangan-tangan makhluk yang lemah. Kuda-kuda itu berjumpalitan semuanya, dan biosfir akan terbakar menjadi kerak jika Zeus tidak menyelamatkannya dari kehancuran dengan cara cepat-cepat menyemburkan halilintar yang menyambar remplacant anak dewa matahari yang lancung itu. Mitos Phaethon adalah sebuah alegori resiko yang manimpa manusia karena bermain-main dengan energi atom. Masih ditunggu apakah manusia akan mampu mamanfaatkan kekuatan materi yang dahsyat ini tanpa tertimpa kemalangan. Daya materinya tidak ada yang menandingi, tetapi sampah radioaktif ekornya beracun. Kini manusia telah membuat kekacauan dengan suatu proses yang dengannya biosfir –dewi bumi kehidupan– telah terisi oleh radiasi sinar matahari yang memberi kehidupan, bukannya mematikan. Prestasi teknologi ilmiah manusia ini, bersama dengan dampak-dampak Revolusi Industri sebagai prestasi sebelumnya yang lebih rendah, kini telah mengancam biosfir menjadi tidak lagi bisa ditempati.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Oleh karena itu, kita sekarang berdiri di titik balik sejarah biosfir dan sejarah pendek salah satu produk dan warganya, yakni manusia. Umat manusia adalah anak-anak pertama dari dewi bumi yang bisa menaklukkan ibunda kehidupannya ini dan merebutnya secara paksa dari tangan ayah kehidupan, yaitu matahari sebagai kekuatan yang menakutkan. Manusia telah membiarkan kekuatan ini terlepas dari biosfir, telanjang dan marah, untuk pertama kalinya sejak biosfir menjadi habitat kehidupan. Kini kita tidak tahu apakah manusia mau atau mampu menghindari perusakan Phaethon demi dirinya sendiri dan sesama makhluk-makhluk hidup lain.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Biosfir mampu melabuhkan kehidupan karena merupakan sebuah campuran yang bisa mengatur diri antara komponen-komponen yang saling melengkapi, dan, sebelum kelahiran manusia, tidak ada satupun komponen biosfir –organik, eks-organik atau anorganik— yang memperoleh kekuatan untuk merusak keseimbangan permainan kekuatan-kekuatan yang lembut teratur yang dengannya biosfir menjadi rumah kehidupan yang ramah. Spesies hidup pra-manusia yang terlalu lemah atau terlalu agresif untuk mengikuti irama biosfir dimusnakan oleh permainan irama ini jauh sebelum kelemahan atau agresivitasnya menjadi ancaman yang mengacaukan irama biosfir sebagai tempat bergantung bagi kehidupannya dan kehidupan semua spesies lain. Biosfir jauh lebih kuat daripada warga pra-manusianya.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Manusia adalah warga biosfir pertama yang lebih kuat daripada biosfir itu sendiri. Pencapaian kesadaran manusia telah memungkinkannya untuk membuat pilihan-pilihan dan oleh karenanya bisa merancang serta menerapkan rancangan-rancangnnya untuk mencegah alam agar tidak memusnahkan manusia sebagaimana alam telah memusnahkan spesies lain yang menyulitkan dan mengancam biosfir secara keseluruhan. Manusia dapat bertahan hidup sampai dia bahkan telah merusak biosfir jika memilih untuk merusaknya, tetapi, jika sekali lagi memang ini pilihannya dia tidak bisa mengelak dari pembalasan yang akan menimpanya. Seandainya manusia merusak biosfir, maka dia justru akan memusnakan dirinya serta semua bentuk kehidupan psikosomatik lain di depan wajah ibu kehidupan, dewi bumi.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Dari sini kita dapat melakukan sebuah penelitian retrospektif atas sejarah pertemuan antara dewi bumi dan manusia, anak-anaknya yang paling kuat dan enigmatik, selama ini. Enigma ini tersembunyi di dalam fakta misterius bahwa manusia di antara warga biosfir lain adalah juga warga dari realitas lain –sebuah realitas spiritual yang non-material dan tidak bisa dilihat. Dalam biosfir ini, manusia adalah makhluk psikosomatik yang berbuat di sebuah dunia materi dan terbatas. Di dunia aktivitas ini, tujuan manusia, semenjak sadar, ialah untuk menjadikan dirinya sebagai penguasa lingkungan non-manusianya, dan dalam keseharian kita manusia telah menuai keberhasilan atas usahanya –mungkin sampai dia tidak mampu melakukannya sendiri. Namun rumah lain yang ditempati manusia, yakni dunia spiritual, juga merupakan bagian integral dari total realitas. Dunia spiritual ini berbeda dari biosfir karena bersifat non-materi dan tidak terbatas. Dalam kehidupan spiritualnya manusia mengetahui bahwa misinya adalah untuk berusaha, bukan menjadi penguasa material atas lingkungan non-manusia, tetapi untuk menjadi penguasa spiritual atas dirinya sendiri.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Karena hidup, sebagaimana dia menjalani kehidupan sewajarnya, di biosfir sekaligus di dunia spiritual, manusia sebenarnya seorang amfibi, dan, di masing-masing dunianya di mana dia tinggal, manusia memiliki sebuah tujuan. Akan tetapi, manusia tidak dapat memburu kedua tujuan tersebut secara sekaligus, atau menjadi kedua ahli itu sepenuh hati. Salah satu tujuannya dan salah satu keseriusannya harus lebih didahulukan, atau bahkan harus diperlakukan secara eksklusif jika keduanya memang tidak bisa disandingkan dan direkonsiliasikan (biosfir atau spiritual?). Manakah yang harus dipilih? Perdebatan tentang masalah ini berlangsung secara terbuka di India semasa generasi Budha sekitar pertengahan millennium terakhir sebelum Masehi. Sementara di Barat perdebatan yang terbuka terjadi pada generasi St. Francis dari Assisi abad ke-13. Pada kesempatan tersebut, mengambil kedua pilihan yang saling berlawanan tersebut berarti mengambil jalan antara yang ditempuh oleh seorang ayah dan seorang anak. Isu ini yang diperdebatkan secara implisit sejak terbitnya fajar kesadaran; karena salah satu kebenaran dasar yang tersingkap oleh kesadaran manusia adalah ambivalensi moral watak manusia. Namun demikian, di sebagian besar waktu dan tempat sampai sekarang ini,orang-orang menghindar untuk membuka suatu persoalan yang mendiorong Budha dan St. Francis memutuskan ikatan-ikatan alamiahnya dengan keluarga mereka. Hanya pada generasi kitalah pilihan ini menjadi tak terhindarkan bagi umat manusia secara keseluruhan.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Pada generasi kita, persaingan antarmanusia untuk menguasai seluruh biosfir sedang menebarkan ancaman kekalahan bagi kamauan-kemauan manusia dengan cara merusak biosfir dan memusnahkan kehidupan, termasuk kehidupan manusia itu sendiri. Sejak abad ke-13 manusia Barat tampaknya telah menghargai Fransesco Bernardone, seorang santa yang menanggalkan warisan bisnis kekayaan keluarganya dan dihormati dengan stigma Kristus karena dukungannya pada Perempuan Miskin. Tetapi teladan yang diikuti oleh orang barat ini bukanlah St. Francis, orang Barat berusaha melebihi ayah sang santa, yakni Pietro Barnardone, seorang saudagar pakaian besar yang berhasil. Sejak meletusnya Revolusi Industri, manusia modern telah mendedikasikan dirinya secara lebih obsesif dibandingkan para pendahulunya dalam mencari tujuan yang telah digariskan sebelum kelahirannya.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Tampaknya seolah-olah manusia tidak akan dapat menyelamatkan dirinya dari pembalasan kekuasaan dan kerakusan materi jahatnya, kecuali dia dapat mengubah hatinya yang akan mendorongnya untuk menjauhi tujuan keduniawian dan mengikuti ideal yang sebaliknya. Penderitaannya sekarang akibat perbuatannya sendiri menghadapkan dirinya pada sebuah tantangan yang kokoh. Dapatkah manusia mengajak dirinya untuk menerima, sebagai aturan perilaku praktis bagi orang-orang dengan moralitas sewajarnya, ajaran-ajaran yang didakwahkan dan dipraktekkan oleh orang-orang saleh, yang sampai sekarang masih dipandang sebagai nasihat-nasihat kesempurnaan utopis bagi l’homme moyen sensual ? Perdebatan panjang tentang isu ini yang tampaknya mendekati klimaks pada zaman kita sekarang merupakan tema sejarah kekinian pertemuan antara manusia dengan dewi bumi.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Ekumene ( Oikoumene ) adalah sebuah istilah Yunani yang sudah menjadi kata sehari-hari pada Zaman Hellenis dalam sejarah Yunani. Ekumene berkembang, pertama-tama ke barat dan kemudian ke timur, dari domain aslinya membentang sampai laut Aegean. Ekspansinya ke arah barat sampai di pantai-pantai Atlantik di Eropa dan Afrika Barat Laut serta di pulau terbesar di Eropa Barat yang tidak berpantai, yakni Inggris. Ekspansi selanjutnya ke arah timur dibuka oleh penaklukan Aleksander Agung dan keruntuhan Kerajaan Persia Pertama, dan zaman pasca Aleksander dalam sejarah Helenis adalah masa ketika istilah “Ekumene” menjadi lazim. Makna harfiahnya adalah “Yang Didiami (bagian dari dunia)”, tetapi dalam prakteknya, orang-orang Yunani yang membuat dan menggunakan kata ini membatasi penerapannya pada wilayah dari bagian dunia yang didiami oleh apa yang disebut masyarakat “beradab”. Para anggota masyarakat jenis ini menyebut dirinya “beradab” sampai zaman kita sekarang, ketika pengalaman kita yang mengerikan dan memalukan atas kekejaman-kekejaman manusia telah mengajarkan kepada kita bahwa keberadaban tidak pernah menjadi sebuah fakta yang sungguh-sungguh terjadi, namun hanyalah suatu upaya atau cita-cita yang, hingga kini, selalu jauh dari sasarannya yang ambisius.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Bahkan dalam penggunaan aslinya yang terbatas, dimana orang-orang barbar di pinggir-pinggir peradaban diabaikan, ekumene Yunani pasca Aleksander hanya mencakup domain-domain peradaban yang telah akrab di mata orang-orang Yunani itu sendiri. Semenjak setidaknya awal generasi sejarawan Herodotus pada abad ke-5 SM, orang-orang Yunani kurang begitu menyadari keberadaan peradaban “Hyperborean” yang menjalin kontak dengan negara-negara-kota kolonial Yunani di sepanjang pantai utara Laut Hitam, melalui jalan kecil yang melintasi padang rumput Eurasia yang merupakan daerah pedalaman kontinental koloni-koloni maritim Yunani. Kita bisa menduga bahwa, sekalipun mereka disebut “orang-orang Hyperborean”, mereka menempati, bukannya “di luar Angin Utara”, tetapi bagian timur padang rumput tadi, dan mereka sebenarnya adalah orang-orang Cina, yang dikenal oleh orang-orang Yuanni dan Romawi pasca Aleksanderian sebagai “Seres” atau “Sinae”.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Sebelum sebagian besar dunia Graeco-Romawi bersatu secara politik dalam kerajaan Romawi, sutera diimpior ke dunia Graeco-Romawi melalui darat dan laut; tetapi apa yang disebut orang-orang “beradab” di ujung timur dan barat Dunia Kuno ini hanya sedikit mengetahui eksistensi mereka, demikian juga sebaliknya. Orang-orang Cina yang sama dengan “Ekumene” Yunani adalah “Semua yang berada di bawah langit, tetapi, bagi orang Cina, Ta Ch’in, replika Kerajaan Cina yang besar di ujung barat benua, sama kaburnya dengan orang-orang Sinae atau Seres atau Hyperborean bagi masyarakat Yunani dan Romawi. Dua ekstrimitas di benua ini saling berhubungan secara lambat –mula-mula bersifat sementara. Pada abad ke-13 melalui kerja sama di seluruh pantai di padang Eurasia di Kerajaan Mongol yang besar sekali tetapi usianya pendek, dan kemudian bersifat permanen semenjak sebelum berakhirnya abad ke-15 melalui pengembaraan laut oleh orang-orang Eropa Barat. Sementara itu, peradaban-peradaban Meso-Amerika dan Andean di Amerika Selatan tidak dikenal oleh penduduk Dunia Kuno sampai pendaratan pertama Columbus di Amerika yang menghadap ke Samudra Atlantik. Namun peradaban-peradaban Meso-Amerika dan Peru telah merekah menjadi kekuasaan besar klasik pada permulaan era Kristen, sedangkan periode anteseden “formatif” kebudayaan-kebudayaan tinggi Amerika mungkin telah dimulai –di Meso-Amerika—pada permulaan peradaban-peradaban Dunia Kuno kecuali Sumero-Akkadia dan Mesir Fir’aun.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Jika kita menggunakan istilah Ekumene dalam pengertian harfiah habitat manusia, kita dapat melihat bahwa luas ekumene yang sebenarnya lebih besar daripada wilayah dunia “beradab” yang dikenal oleh orang-orang Yunani dan Romawi, tetapi kita juga dapat melihat bahwa Ekumene yang komprehensif ini jauh lebih kecil dibanding biosfir kita. Sebagian terbesar dari permukaan biosfir berupa laut, dan selubung udaranya merupakan sebagian terbesar dari volume biosfir. Laut dipercaya sebagai habitat asli kehidupan, dan sampai sekarang laut masih kaya dengan flora dan fauna. Nenek moyang manusia telah mengetahui bagaimana cara melintasi permukaan sungai dan laut dengan perahu dan kapal, dan bagaimana cara menyelam –tidak terlalu dalam dan lama— di bawah permukaan laut; tetapi di atas, atau di dalam air; manusia hanyalah seorang pelancong; mereka bukan warga air –senyatanya mereka bukanlah spesies akuatik.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Pada abad ke-20, manusia telah menciptakan pesawat terbang; tetapi dalam mengarungi udara, manusia telah didahului bertahun-tahun yang lampau oleh serangga, burung, kelelawar, meski tidak ada kelelawar, burung, serangga atau manusia yang dapat hidup di udara sebagaimana ikan dan spesies mamalia air hidup di air. Di udara, tidak ada spesies hidup yang bisa menjadi lebih dari sekedar pelancong. Sebuah spesies bersayap mungkin bergantung pada bakat kemampuannya di udara untuk melangsungkan kehidupannya, tetapi tidak dapat melepaskan dasar-dasar kerja kelautan atau akuatik. Bahkan burung-burung dapat bertengger di atas kabel-kabel telepon dan membuat sarang dari tanah liat untuk merawat anak-anaknya.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Ekumene manusia seluruhnya berada di atas permukaan tanah biosfir, meskipun warga manusia di Ekumene kadang bergerak melewari permukaan air, dan sekarang juga melintasi udara, dalam melakukan perjalanan dari satu tempat ke tampat lain di Ekumene ini. Akan tetapi, Ekumene sangat tidak bisa menjadi co-existensive dengan permukaan tanah dan luas wilayahnya, di pesisir daratan kering, bergelombang sebagaimana diilustrasikan oleh kekeringan mematikan yang terjadi di Sahel, yakni sabuk pedalaman Savanah di Afrika antara bekas ujung selatan Sahara dan ujung utara hutan hujan tropis. Wilayah Ekumene yang bergelombang ini sebagian disebabkan oleh perubahan-perubahan fisiografis dan iklim yang tidak diciptakan manusia dan bahkan belum bisa dimodifikasi dengan kemampuan manusia yang ada, dan sebagian lagi disebabkan oleh perilaku manusia, baik yang disengaja maupun tidak. Agen-agen non-manusia yang telah membentuk ekumene menguasai manusia sampai 10.000-12.000 tahun terakhir.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Dalam sejarah planet bumi, perubahan-perubahan fisiografis dan iklim selama proses pembentukan planet ini besar sekali. Barangkali perubahan-perubahan ini merupakan yang paling ekstrim dan paling keras di permukaan bola bumi ini. Relik-relik tumbuhan dan binatang yang telah memfosil di lapisan kerak bumi yang pada zaman geologis berada di atas permukaan bumi sebelum munculnya manusia, menunjukkan bahwa daerah-daerah yang kini beriklim dingin atau sub-artik dahulunya beriklim tropis. Mengenai perubahan-perubahan iklim regional ini, terdapat beberapa alternatif penjelasan. Salah satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa sumbu bola bumi telah melengkung tajam, dan bahwa titik-titik di permukaan bumi yang kini menjadi kutub utara dan selatan dahulunya pernah berada tepat di atau di dekat ekuator; tetapi jika ini benar, maka kita mengalami kesulitan untuk mengetahui bagaimana bumi berusaha mempertahankan regularitas gerak rotasi dan orbit eliptikalnya tanpa terlempar oleh pergeseran sikap berdirinya yang niscaya itu. Penjelasan alternatif menyebutkan bahwa benua-benua yang ada sekarang mungkin telah bergerak melintasi permukaan bumi, seolah-olah seperti rakit-rakit yang bertebaran di sebuah rawa, bukannya seperti batu ubin yang bercokol di karang. Teori pergeseran continental ini, sebagaimana teori pergantian kutub, masih diperdebatkan dan mungkin tidak bisa diverifikasi, tetapi dalam bentuk tertentu tampaknya banyak diikuti dan dipercaya dengan pertimbangan bahwa, tidak seperti teori alternatif, teori pergeseran tersebut mendalilkan, bukan sebuah reorientasi keseluruhan bola bumi, tetapi sekedar perubahan konfigurasi kerak bumi.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Namun demikian, enigma tentang fosil-fosil tropis yang kini merupakan zona-zona non-tropis adalah masalah zaman geologis yang selama berjuta-juta tahun mendahului kemunculan hominid pertama. Fenomena iklim yang berbarengan dengan kemunculan hominid di biosfir ini merupakan serangkaian periode glasial yang bergantian dengan proses pelumeran selama zaman pleistosin –yaknia selama 2 juta tahun terakhir. Glasiasi terbaru (menjadi gegabah kalau kita berasumsi bahwa ini merupakan glasiasi pungkasan sepanjang zaman) melapangkan jalan terjadinya pencairan sekitar 12.000 atau 10.000 tahun yang silam.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Selama piriode-periode glasial, bongkahan-bongkahan es tampaknya tidak pernah menutupi selain bagian kecil dari permukaan tanah biosfir. Wilayah yang terglasiasi ini sebagian besar berada di dua kutub dunia, dengan beberapa bidang glasiasi terisolir di gunung-gunung tinggi yang tidak jauh dari ekuator. Namun demikian, glasiasi parsial ini sementara waktu terkecualikan dari sebagian tanah subur Ekumene (misalnya di Skane, di bagian kepulauan Denmark, di Midlothian, dan di Caithness) yang sangat produktif setelah diolah. Lebih dari itu, glasiasi-glasiasi lokal mengubah rasio antara laut dan daratan sehingga menjadi lebih banyak daratan. Begitu besar volume air terkumpul sementara dan tidak bergerak di dalam bongkahan-bongkahan es, sehingga permukaan laut turun cukup banyak di seluruh wilayah bumi. Dasar laut-laut yang dangkal tersembul ke atas dan kering; laut-laut yang sempit menjadi semakin sempit; beberapa selat terjembatani oleh tanah genting. Jika diukur dengan kedalaman tengah laut dan rasio laut-daratan di permukaan planet bumi ini, dampak global dari glasiasi-glasiasi lokal tersebut cukup kecil; tetapi dampak ini terasa cukup besar jika dilihat sebagai kesempatan ekspansi Ekumene manusia di sebuah zaman di mana sarana transportasi manusia tidak lebih dua kakinya dan di mana seni membuat kapal dan navigasi masih sangat belia.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Bahkan ketika kita bisa melakukan migrasi dengan mudah, berkat turunnya permukaan laut untuk sementara, keberanian hominid awal dalam memperluas Ekumene mengagumkan di mata manusia sekarang. Ini disebabkan, dalam satu setengah abad terakhir, kita telah menciptakan serangkaian alat angkut bermesin yang dimulai dengan kapal mesin dan rel kereta api lalu disusul dengan kendaraan darat bermesin dan pesawat terbang. Kita tidak akan begitu terkejut dengan ekspansi hominid ketika kita melihat prestasi-prestasi primata non- hominid terkait. Prestasi-prestasi primata non- hominid ini telah menjajah Amerika, Asia beserta semenanjung dan pulaunya yang tak berpantai. Di lain pihak, tidak ada genus dari keluarga hominid kecuali genus homo, dan tidak ada spesies dari gernus homo selain homo sapien yang telah mencapai benua Amerika lewat laut dari Afrika Timur dekat ekuator dan bagian selatan. Seluruh warga manusia pra-Columbian yang masih bertahan hidup di Amerika berasal dari wakikl-wakil homo sapien yang menuju Amerika lewat darat dari pedalaman selama glasiasi terbaru yang menimbulkan kesulitan itu. Orang-orang Amerika pra-Columbian datang dari pelosok timur laut Asia melalui sebuah tanah genting sementara yang kemudian tenggelam di bawah selat-selat Behring; hanya orang-orang Amerika pra-Columbian dan pionir-pionir Norse dari pelosok timur Eropa Asia yang telah berhasil melintasi Samudra Atlantik.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Jika homo sapien, seperti hominid-homonid sesamanya yang kini telah punah, pertama muncul di Afrika Timur yang beriklim tropis, maka jarak geografis yang dilalui oleh perjalanan kakinya dari sana menuju Tierra del Fuego pasti cukup panjang, demikian juga waktu tempuhnya. Lebih dari itu, manusia, seperti fauna lain, bersifat mobil; dia tidak diam saja di bumi, seperti kebanyakan flora biosfir; namun flora ini telah menyebar ke segala penjuru sama luasnya dengan penyebaran fauna untuk menyebarkan dirinya. Akan tetapi, ketika semua ini telah dipaparkan, ternyata rentang ekspansi yang dilakukan oleh manusia Zaman Batu luar biasa. Manusia telah sampai di Tierra del Fuego dan juga Australia setidaknya pada awal circa 6.000 SM, meskipun, bahkan ketika permukaan laut berada di titik terendah, perjalanan darat dari Asia ke Australia terhalangi oleh lautan selebar 30 mil antara Kalimantan dan Sulawesi. Tour de force manusia Zaman Batu yang paling mengagumkan adalah kolonisasi Polynesia, termasuk Pulau Easter. Dalam 500 tahun terakhir, orang-orang Eropa Barat dan jajahan-jajahannya di luar negeri telah mengeksplorasi seluruh permukaan biosfir. Mereka telah mencapai kutub utara dan selatan. Namun, kecual di dua daerah kutub ini, mereka menemukan tempat-tempat baru yang belum didiami oleh warga manusia pra-Eropa.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Zaman dulu, karena hidup di daerah-daerah tropis di mana tidak ada dedaunan yang menutupi tubuh telanjangnya dari sengatan matahari, manusia perlu menutupi tubuhnya dengan bulu tiruan; dan mereka juga perlu mengenakan pakaian untuk mempertahankan kehidupannya di daerah-daerah dingin atau sub-artik yang membuat beku tubuh manusia. Pemburu anjing laut Eskimo dan penggembala nomaden Arab menyelimuti tubuhnya tebal-tebal, orang Eskimo denga kulit dan orang Badui dengan pakaian wol. Penguasaan manusia atas api memungkinkan untuk memperluas Ekumenenya lebih jauh lagi. Pada saat sekarang, teknologi modern sedang dipakai untuk memperluas areal eksploitasi, jika bukan areal habitasi, menuju utara Rusia dan Kanada.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Luas konfigurasi Ekumene belum berubah secara mencolok sejak resesi glasia terakhir sekitar 12.000 atau 10.000 tahun yang silam. Permukaan tanah kering biosfir yang bisa ditempati hanya berisi sebuah benua, yakni Asia, beserta jazirah-jazirah dan pulau-pulaunya yang tak berpantai. Jazirah-jazirah Asia paling menonjol adalah Eropa, Arab, India, dan Indo-Cina. Jazirah Indo-Cina merupakan yang terbesar di atara keempat jazirah tersebut karena membentang dari Malaya sampai Australia dan Selandia Baru. Sebenarnya, bagian tengahnya melengkung dan sebagian tenggelam, dan Australia kini terpisah dari daratan pokok Asia oleh lautan sempit kepulauan Indonesia –kawasan selat dan pulau yang rumit sekali. Tiga pulau tanpa pantai Asia terbesar adalah Afrika dan dua Amerika. Pulau yang paling jauh adalah Antartika. Afrika dihubungkan ke Asia oleh tanah genting Suez, dan Amerika Selatan ke Amerika Utarq oleh tanah genting Panama. Dua tanah genting ini telah berubah menjadi selat-selat tiruan sejak ditembus oleh terusan-terusan buatan manusia. Selat alamiah yang terpenting adalah Selat Malaka, yang menjadi pemisah antara Samudra Hindia dan Pasifik.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Jalur-jalur komunikasi terbaik untuk mengantar penumpang atau muatan dari satu bagian ekumene ke bagian lainnya berada di luar batas-batas ekumene; karena media yang pakling kondusif adalah udara dan air; dan elemen-elemen ini bisa dilewati tetapi tidak bisa didiami. Sebelum terciptanya kereta api uap sebagai pengangkut dengan relnya pada abad ke-19, tranportaasi air (sungai dan alut) lebih cepat dan murah daripada tranportasi darat. Sebelum terciptanya rel kereta api, kekuatan penggerak perjalanan dan transportasi manusia adalah otot manusia itu sendiri dan binatang. Di lain pihak, di air, kekuatan otot manusia untuk mendayung perahu telah dilengkapi dengan layar yang memanfaatkan kekuatan angin sebelum menyingsing fajar peradaban. Angin merupakan kekuatan fisik tak bernyawa pertama yang dimanfaatkan oleh manusia; angin juga kekuatan alam pertama yang dicampakkan. Manusia menjadi kelebihan sumber daya ketika kekuatan-kekutan fisik tak bernyawa lain dimanfaatkan untuk mengoperasikan mesin.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Pada masa trasnsportasi air, garis komunikasi utama ditentukan oleh konfigurasi permukaan air di biosfir ini. Jalur air yang paling berharga adalah selat (selian Selat Malaka, ada pula terusan sempit yang menghubungkan Laut Hitam dengan Aegean, Selat Gibraltar, Selat Dover, dan terusan yang menghubungkan Laut Baltik dengan Laut Utara). Jalur air di daerah pedalaman yang berfungsi adalah sungai-sungai berarus lambat. Contoh klasiknya adalah sungai Nil di bawah Air Terjun Pertama. Di atas bentangan sungai Nil ini, sebuah perahu layar dapat bergerak begitu saja ketika ada di bagian hilir dan mengibarkan layar ketika ada di bagian hulu, karena di Mesir angin utara berhembus. Lebih dari itu, setelah Mesir terbuka bagi orang luar, tidak ada pemukiman atau lahan manusia atau bahkan pertambangan di Mesir yang jauh dari jalur air. Sebelum terciptanya rel kereta api, sarana komunikasi di Mesir lebih baik dari negara manapun.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Pada masa transfortasi air, permukaan tanah ekumene yang penting adalah yang menjadi rute pengangkutan dari satu laut atau sungai ke laut atau sungai lain. Mesir itu sendiri merupakan sebuah rute pengangkutan, sejak hulu Nil sampai Mediterraean, dan, dari sungai Nil sampai pantai Laut Merah, ada sebuah rute pengangkutan pendek dari lengan Delta paling timur sampai Suez melalui Wadi Tumilat, dan lainnya melalui Wadi Hammamat dari Coptos, di Mesir Atas, sampai Qusayr Lama (Leukos Limen). Sebenarnya rute pangangkutan yang melintasi Tanah Genting Suez antara Laut Merah dan Mediterranean adalah bagian dari sebuah area rute pengangkutan lebih luas yang mencakup Mesir ke barat dan Irak ke timur. Di area ini, Mediterranean, yang merupakan sebuah bendungan air Samudra Hindia, saling terpisahkan oleh tanah kering yang sempit, dan jalur dari Mediterranean sampai Laut Merah melalui sungai Nil ditiru oleh jalur ke Teluk Persia melalui Eufrat.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Jalur-jalur kuminikasi yang unik ini membuat Mesir dan Asia Barat Daya menjadi pusat “geopolitik” Ekumene di Dunia Kuno. Tentu saja tidaklah kebetulan jika daerah ini juga merupakan tempat lahirnya kebudayaan Neolitik pertama, dan kemudian dua peradaban paling awal. Dua rute pengangkutan lain juga memiliki nilai penting sejarah yang tinggi: rute antara sungai-sungai yang bermuara keLaut Baltik dan yang bermuara ke Laut Kaspia dan Laut Hitam, dan rute yang melintasi daratan Cina Utara antara daerah-daerah Yangtse rendah, Hwai, Sungai Kuning dan Pei Ho –sebuah rute pengangkutan yang telah diubah menjadi jalan sungai dengan cara menggali Terusan Agung. Namun demikian, rute-rute Cina dan Rusia berada di pinggir Ekumene Dunia Kuno. Nilai penting historis rute-rute ini diungguli oleh rute tengah antara Mediterranean dan Samudra Hindia.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Di rute Mesir dan Asia Barat Daya yang dominan ini, lalu lintas berfokus pada dua “jalan lingkar”. Salah satunya ada di Syria, antara tonjolan barat sungai Eufrat dan pojok timur laut Laut Mediterranean; jalan lingkar lainnya ada di Afganistan sekarang ini, sebuah hamparan Barisan Hindu Kush yang ditembus oleh jalan-jalan yang menghubungkan lembah-lembah atas sungai Oxus dan Jaxartes dengan lembah atas sungai Indus. Syria bagian utara dihubungkan oleh rute laut dan darat dengan Mesir; oleh laut dengan seluruh pantai Mediterranean dan bendungan-bendungannya dan, melalui tanah genting Gibraltar, dengan Samudra Atlantik; oleh darat, naik ke lembah utara jauh dua hulu sungai Eufrat, dengan Pintu-pintu Kaspia dan Lembah Oxus-Jaxartes dan India, dan, melaui Selat Malaka, dengan Samudra Pasifik. Afganistan dihubungkan dengan Mesopotamia dan Syria bagian utara dan melintasi padang rumput Eurasia; dengan Cina via Sinkiang; dengan India melalui jalan-jalan yang menembus Barisan Sulaiman.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Sebelum menciptakan rel-rel kereta api dan pesawat terbang, lalu lintas yang bertitik temu di, dan memencar dari, dua “jalan lingkar” tersebut di atas menggunakan transportasi air, lewat sungai atau laut yang memungkinkan. Ketika orang-orang dan muatan terpaksa berjalan lewat darat pada masa sebelum dimulainya mekanisasi, manusia berada dalam genggaman kekuasaan tanah lapang. Gunugn-gunung dapat dielakkan atau diatasi; hutan-hutan, baik yang dingin maupun tropis, merupakan penghalang besar; padang-padang rumput menjadi luar biasa kondusif. Sebenarnya, tiga kawasan padang rumput tiga terbesar yang saling bersambungan –Eurasia, Arab, dan Afrika Utara- menjadi hampir sama kondusifnya dengan laut itu sendiri ketika manusia membudidayakan binatang-binatang pengangkutan: keledai, kuda, dan, di atas semuanya, onta. Dengan bantuan bunatang tunggangan, binatang pembawa muatan, dan binatang penarik, manusia dapat melintasi padang rumput nyaris sama cepatnya dengan ketika manusia menyeberangi laut; tetapi penggunaan kedua sarana angkutan itu membutuhkan keteraturan dan disiplin. Sebuah karavan, seperti seekor biri-biri, harus memiliki seorang kapten, dan atruan-aturannya harus ditaati.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Bahkan ketika padang-padang rumput, serta laut dan sungai yang dilayari, dimanfaatkan untuk menjadi jalur komunikasi antarbagian Ekumene yang berbeda, media transportasi milik manusia ini tetap tidak mencukupi sampai terbitnya fajar Zaman Mesin. Bahkan dengan sarana-sarana yang tidak mencukupi ini, kerajaan-kerajaan hidup bersama dan dijalankan secara bersama dan berhasil, serta agama-agama yang para juru dakwahnya berusaha mengkonvensikan seluruh manusia memperoleh dan mempertahankan para pemeluknya di wilayah yang lebih luas di banding wilayah kerajaan sekular manapun. Kerajaan Persia Pertama, Kerajaan Cina, Kerajaan Romawi, Kekhalifahan Arab, dan tiga agama besar –Budha, Kristen dan Islam—adalah monumen-monumen kejayaan kekuasaan-kekuasaan manusia atas rintangan-rintangan fisik. Tetapi batas-batas keberhasilan mereka juga menunjukkan batas-batas sejauh mana praktek kehidupan masyarakat-masyarakat manusia tanpa bantuan alat-alat komunikasi mekanis yang telah diciptakan sejak permulaan abad ke-19.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Bukti paling kuat atas keterbatasan alat komunikasi sebelum permulaan abad mesin adalah sejumlah bahasa yang berbeda, dengan lokalitasnya di daerah-daerah Ekumene yang berlainan, yang tidak saling memiliki kesamaan.kata-kata adalah hasil dari sebuah fakultas manusia yang universal. Tidak pernah ada sebuah komunitas manusia yang tidak mempunyai kata-kata. Dua fakta ini secara bersamaan menunjukkan bahwa, sebelum homo sapien menyebar ke seluruh jengkal tanah biosfir dari Afrika Timur di khatulistiwa (jika daerah ini merupaakan tempat pemunculan pertama spesies genus homo), manusia secara keseluruhan pasti sedang dalam proses membuat bahasa, tapi belum sepenuhnya mampu mengembangkan potensialitasnya ini. Hipotesis ini akan menerangkan bagaimana semua komunitas manusia mempunyai bahasa, tapi bahasa-bahasa mereka, tidak seperti manusia yang berbicara dengannya, tidak seluruhnya saling bersaudara secara nyata. Tentu saja, hanya manusia, yang kita kenal melalui relik-relik selain tulang dan alat-alat, yang merupakan seluruh wakil dari satu-satunya spesies yang masih bertahan hidup. Kita tidak tahu, dan kita tidak mempunyai alat untuk menyibaknya, apakah spesies genus homo lain atau genera dari keluarga hominid belajar untuk berbicara, atau apakah kemampuan berbicara ini hanya khas homo sapien.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Di hutan-hutan tropis di Afrika Barat, sebelum hutan-hutan ini dibabad oleh orang-orang luar yang masuk ke Afrika ada berbagai bahasa yang kiranya tidak saling berhubungan secara dekat. Jangkauan masing-masing bahasa tersebut sangat terbatas. Warga kedua desa yang hanya dipisahkan oleh beberapa mil hutan mungkin tidak dapat saling berkomunikasi dengan kata-kata secara baik. Lingua franca mereka adalah gerak bisu. Bahasa-bahasa vokal yang kini hidup di Afrika Barat berasal dari luar: Bahasa Hausa, sebagai contoh, dari padang Afrika Utara dan bahasa Francis serta Inggirs dari daerah pantai.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Berkebalikan dengan hutan yang relatif sulit ditembus, laut mengantarkan bahasa-bahasa Melayu ke arah timur laut sampai di Philipina dan ke arah barat daya sampai di Madagaskar. Laut juga telah mengantarkan penyebaran bahasa Polynesia ke seluruh pulau Oceania, sama jauhnya jarak dari benua Asia dengan jarak antara pulau Easter dan Selandia Baru. Laut Mediterranean pernah mengantarkan penyebaran bahasa Punic, Yunani, dan Latin di sekitar pantai-pantainya, dan Samudra Atlantik menyebarkan bahasa Spanyol, Portugis, Inggris, dan Prancis dari Eropa Barat ke Amerika. Padang rumput juga mengantarkan penyebaran bahasa-bahasa nyaris sejauh yang dilakukan laut. Mula-mula bahasa-bahasa Indo-Eropa dan kemudian bahasa-bahasa Turki telah melintasi padang Eurasi dan menyebar melampaui pantai-pantainya dengan arah yang berlawanan. Bahasa Arab menyebar dari jazirah Arab melintasi padang Afrika Utara sampai ke pantai Samudra Atlantik.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Diseminasi bahasa melaui media non-manusia yang kondusif ini diperkuat oleh penyebaran manusia yang sengaja dalam bentuk aktivitas misionaris keagamaan, penaklukan militer, organisasi politik, dan perdagangan. Suku-suku dan para pengeran kerajaan Aramae tidak berdaya secara politik; mereka ditaklukkan oleh orang-orang Assyria; namun bahasa Aramaik tersebar ke seluruh Asia Barat Daya, dan huruf Aramaik tersebar sampai ke Mongolia dan Mansyuria, akibat penggunaan bahasa Aramaik di lingkungan pemerintahan Assyria dan Kerajaan Persia Pertama serta penggunaan liturgisnya oleh gereja-gereja Kristen Nestoria dan Manichae. Di lain pihak, keberhasilan bahasa Yunani dalam menggantikan bahasa Aramaik sebagai lingua franca di Asia Barat Daya dan Mesir merupakan akibat penaklukkan militer Kerajaan Persia Pertama oleh Alexander Agung, dan penaklukan militer juga menjadi agen penyebarluasan bahasa-bahasa romantik ke arah tumur sampai Rumania dan ke arah barat sampai Cile dari daerah kecil yang berbahasa asli Latin membentang ke bawah sampai sungai Tiber Italia.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Dalam sejarah Ekumene, rezim-rezim yang berbeda memainkan peran kepemimpinan pada waktu yang berbeda-beda pula. Jika Afrika Timur bagian khatulistiwa dan selatan sebenarnya merupakan tempat kelahiran hominid dan, di tengah-tengahnya, kelahiran spesies sapien dari genus homo, maka Afrika Timur dan Ekumene awalnya memiliki batas-batas yang sama. Sebelum berakhirnya Zaman Palaeolitik Tinggi, Ekumene telah meluas dari Afrika Timur melewati sebagian besar benua Asia, dan umat manusia sedang menjajah Amerika. Pada fase ini, peran kepemimpinan rezim-rezim tersebut tampak telah sampai di pinggiran selatan bongkahan es Eropa Utara, di mana para pemburu zaman Palaeolitik Tinggi menemukan hewan yang melimpah ruah sebelum es mencair. Namun demikian, keunggulan Eropa pada zaman ini mungkin hanyalah sebuah ilusi akibat kurangnya informasi yang kita miliki. Jika jejak-jekak yang ditinggalkan oleh manusia Palaeolitik Tinggi pada akhirnya diketemukan secara lengkap di belahan dunia selebihnya sebagaimana yang terlah ditemukan di Eropa, maka gambaran ini bisa jadi tampak lain.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Kita dapat meresa lebih pasti bahwa, pada Zaman Neolitik, peran kepemimpinan ini dimainkan oleh Asia Barat Daya dan batas-batas paling utara lembah Nil, dan bahwa Sumer –tanah baru di lembah rendah Tigris dan Eufrat—adalah tempat kelahiran perdagangan paling awal, meskipun, selama zaman Neolitik, bagian Asia Barat Daya ini tidak bisa ditempati. Abad k-13 ketika tanah baru yang melimpah ruah ini akhirnya tidak lagi produktif, menjadi saksi peran kepemimpinan di Ekumene yang dimainkan oleh Mongolia selama dua generasi pendek, berkat kondusivitas padang Eurasi dan mobilitas, keberanian serta kedisiplinan para penggembala nomaden Eurasia. Orang-orang Mongol itu menundukkan seluruh daerah penting benua Asia; hanya jazirah-jazirah dan pulau-pulaunya yang tak berpantai yang tetap tak terjamah. Kemudian, pada abad ke-15, peran pemimpin di Ekumene diambilalih oleh Eropa Barat ketika pasukan laut mereka menguasai samudranya –sebuah media kondusif yang jauh lebih luas daripada padang Eurasia.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Selama 1763-1871 yang luar biasa, terjadilah sebuah peristiwa terpenting dan fenomenal, yakni meningkatnya kekuasaan manusia yang drastis dan tiba-tiba atas sesama manusia dan alam semesta non-manusia. Peningkatan kekuasaan manusia ini dicapai berkat inovasi sosial dan inovasi teknologi. Efesiensi tentara dan buruh induistri meningkat karena mereka berdisiplin tinggi dan bekerja dengan mesin-mesin dan senjata-senjata yang tingkat kemampuannya sangat tinggi yang tidak pernah ada sebelumnya, serta karena pekerjaan mereka diatur secara baik.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Tentara professional yang berdisiplin mulai dibentuk di Barat menjelang berakhirnya abad ke-17. Dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya pada abad ke-18, rezimentasi yang telah diterapkan di barak-barak militer kemudian diterapkan dalam pabrik-pabrik, dan sebuah teknik yang telah dipakai untuk memberi lubang-lubang senjata diterapkan untuk membuat piston-piston pada mesin-mesin uap. Dalam bidang non-militer, peningkatan kekuasaan manusia yang tiba-tiba ini menjustifikasi sebuah revolusi, yakni revolusi teknologi dan ekonomi, meskipun permulaannya tidak diketahui secara persis sebagaimana meletusnya revolusi politik atau revolusi perang.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Revolusi tekbnologi dan ekonomi yang dimulai di Inggris pada seperempat ketiga abad ke-18 mengubah kehidupan pertanian, peternakan, dan industri. Padatahun 1871, revolusi ini telah menyebar ke luar Inggris hingga Eropa continental dan mulai masuk ke Amerika Utara dan Jepang. Pada awal millennium ke-2 ini, revolusi industri ini masih terus berlangsung dan belum tampak kapan akan berakhir. Namun, apa yang tampak jelas adalah bahwa pada saat itu Revolusi Industri telah membalikkan hubungan antara manusia dan biosfir.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Manusia, tentu saja, telah mengukuhkan keberadaannya di biosfir ini, tetapi sampai sekarang mereka, seperti semua makhluk hidup lain di biosfir ini, harus hidup dalam batas-batas toleransi biosfir. Spesies apa pun yang hidup melampaui batas-batas toleransi ini pasti beresiko musnah. Senyatanya, semua spesies, termasuk manusia, hidup di sini atas kemurahan hati biosfir. Akan tetapi, sekarang Revolusi Industri menyebabkan biosfir ini justru beresiko dimusnahkan oleh manusia. Mengingat manusia tinggal di biosfir ini dan tidak mungkin hidup tanpanya, daya upaya manusia untuk membuatnya tak bisa ditempati lagi sebenarnya merupakan ancaman yang dibuat oleh manusia terhadap kelangsungan hidupnya sendiri.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Peningkatan daya manusia selama dekade-dekade terakhir pada abad ke-18 terbatas di Inggris, tetapi prestasi Inggris ini telah disamai oleh prestasi negara-negara Barat lain pada 1871. Hal ini membuat Barat secara keseluruhan lebih maju daripada semua negara lain di ekumene ini. Dominasi dunia oleh Barat tersebut merupakan peristiwa terpenting kedua pada 1763-1871. Peristiwa terpenting ketiga adalah reaksi di sejumlah negara non-Barat terhadap tekanan yang dilakukan Barat. Peristiwa terpenting keempat atau terakhir yang patut dicatat adalah bergolaknya masalah-masalah domestik Barat sendiri. Dan, Revolusi Industri tidak dapat digambarnya hanya oleh salah satu peristiwa terpenting terasebut. Walaupun dimulai di sebuah negara Barat, Revolusi Industri merupakan sebuah peristiwa yang terjadi di biosfir yang sangat luas.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Tujuan para perancang Revolusi Pertanian dan Industri di Ingris adalah meningkatkan produksi kekayaan materi secara maksimal. Periastiwa ini berlangsung pada saat yang tepat, karena, satu generasi sebelumnya, jumlah penduduk Inggris dan beberapa negara Barat lain mulai bertambah secara cepat seperti pertambahan penduduk di Cina sejak abad ke-17. Akan tetapi para perancang revolusi tersebut tidak berniat mencukupi kebutuhan kolektif masyarakat mereka; peningkatan produksi itu dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan secara individual. Mereka berhasil meningkatkan GNP secara dramatis, tetapi juga meningkatkan ketidakmerataan distribusi keuntungan dan distribusi kepemilikan tanah dan tanaman sebagai instrumen-instrumen produksi.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Beberapa cara kerja tradisional yang relative tidak efesien –misalnya, pertanian berskala kecil dan kombinasi antara pertanian jenis ini dan industri berskala kecil pula, terutama pemintalan dan penenunan– macet total. Produksi, baik pertanian maupun industri, sekarang ditata dalam unit-unit berskala besar dengan peralatan yang canggih dan mahal. Perubahan-perubahan simultan ini mulai mendorong perpindahan penduduk dari desa-desa ke kota-kota industri baru. Pada saat yang sama, urbanisasi ini merenggut independensi ekonomi sebagian besar migran yang sebelumnya hidup mandiri. Seiring dengan pertambahan penduduk yang cepat, persentasi buruh yang hanya mampu menjual jasa (tenaga) meningkat tajam jika dibandingkan dengan persentase majikan dan orang yang bekerja mandiri.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Perubahan keadaan hidup dan kerja, serta perubahan distribusi pendapatan dan kekayaan menyebabkan naiknya GNP tetapi harus dibayar dengan terciptanya ketidakadilan dan penderitaan. Tidak ada standar objektif untuk menilai adil-tidaknya undang-undang parlemen yang mengatur pengalokasian dan pembatasan tanah yang sebelumnya milik umum jadi milik pribadi. Pembagian keuntungan industri di antara pemilik pabrik, investor dan juga buruh juga diperselisihkan. Yang jelas adalah bahwa pembatasan tanah jadi milik pribadi ini menyebabkan banyak pemilik tanah-tanah yang sempit di pedesaan tidak dapat memperoleh penghidupan dari tanah-tanah mereka itu, dan bahwa, ketika para bekas petani ini menjadi buruh industri, mereka juga hampir tidak mungkin hidup denga upah mereka.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Dalam sebuah buku yang berpengaruh, An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776), seorang professor Skotlandia, Adam Smith, menggariskan bahwa, jika setiap individu diberi kebebasan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya sendiri, masyarakat secara keseluruhan akan mencapai tingkat kemakmuran yang tertinggi. Sayangnya, syarat-syarat yang Adam Smith sendiri paparkan berkenaan dengan tesisinya itu diabaikan, dan bagaimanapun tesis tersebut tidak masuk akal. Peningkatan produktivitas melalui permainan bebas yang mewadahi sifat rakus disertai dengan pemborosan dan kekacauan dalam kompetisi, dan kompetisi ekonomi yang tak terbatas menciptakan jauh lebih banyak korban daripada pemenang.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Buruh industri menjadi kelas social baru yang teralienasi dari masyarakatnya yang menuntut kelas tersebut eksis tetapi tidak menyediakan aturan main yang adil. Satu-satunya senjata yang dimiliki buruh pabrik untuk mempertahankan diri adalah daya tawar kolektif terhadap majikan-majikan mereka. Syarat terbentuknya daya tawar kolektif yang kuat adalah solidaritas monolitik. Karenya, buruh terpaksa tunduk pada sebuah tirani mereka sendiri untuk melawan tirani majikan-majikan mereka yang mengungkung mereka. Para blackleg (buruh yang tetap bekerja ketika rekan-rekannya mogok) yang mengkhianati kekuatan kolektif mereka diintimidasi. Di Inggris, kekuatan kolektif buruh setelah dilarang pada 1799 dilegalkan pada 1824-5. Dan, sebenarnya perang antarkelas telah dimulai bersamaan dengan meledaknya Revolusi Industri, dan perang ini menyebar dari Inggris ke negara-negara lain.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Majikan dan pemilik pabrik sebagai musuh-musuh buruh bukan hanya berwatak bengis, tetapi juga pintar, berani, dan sulit dikalahkan. Richard Arkwright (1732-92), penemu mesin pintal, yang beroleh kekayaan dengan mematenkan temuan-temuan yang mungkin kini bukan hanya miliknya, lebih khas daripada James Watt (1736-1819), seorang penemu yang beruntung mendapatkan banyak mitra yang memungkinkan memperoleh sejumlah hadiah materi berkat kejeniusannya. Kebanyakan penemu, yang menjadi modal penting bagi Revolusi Industri, membuka kemungkinan bagi para memilik pabrik yang lebih cekatan untuk mendapatkan keuntungan materi. Kebanyakan penemu ini mencoba-coba cara membuat temuan-temuan secara empiris.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Watt adalah perkecualian: dia menguasai sain dan tekonologi seperti bertemu dengan jodohnya. Inspirasinya yang ditemukan di Universitas Glasgow berbuah di pabrik Matthew Boulton di Brimingham. Watt tidak mengenyam bangku kuliah, tetapi dia memperoleh keuntungan intelektual berkat persahabatannya dengan sorang profesor kimia, Joseph Black (1728-99). Pada abad ke-19, para akademisi ilmu kimia, khususnya di universitqas-universitas Jerman, mulai menerapkan ilmu mereka ke dalam proses-proses industri secara langsung dan sistematis.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Sebenarnya, alat-alat perlengkapan hidup sama tuanya dengan umur umat manusia itu sendiri, tetapi sebuah alat hanya melengkapi daya otot masnusia tanpa pernah bisa menggantikan tempatnya. Misalnya, daya tangan manusia dilengkapi dengan tombak, sekop, dayung, atau panah, tetapi alat-alat ini hanya bermanfaat ketika dipergunakan oleh manusia. Sebuah mesin membebaskan manusia dari pekerjaan fisik. Mesin ini bekerja untuk menusia dengan skala dan kecepatannya melampaui kemampuan fisik manusia. Ketika seorang manusia telah membuat sebuah mesin, dia cukup memencet tombol untuk menghidupkannya, kemudian mengawasi dan menjaganya agar tetap bekerja dengan baik. Sampan digerakkan dengan kekuatan fisik tangan manusia yang dibantu dengan dayung. Kapal layar digerakkan oleh angin, dan orang yang menjalankannya tidak membutuhkan kekuatan fisik untuk mendorongnya. Kapal layar adalah sebuah mesin, demikian juga –dengan definisi yang sama—senapan (yang berbeda dengan busur panah).

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Kapal layar diciptakan pada sekitar 5.000 tahun sebelum dimulainya Revolusi Industri di Inggris, tetapi, sebelum terjadinya Revolusi Industri, penggunaan mesin –yang berbeda dari penggunaan alat-alat [non mesin]—masih jarang. Sekarang, penggunaan mesin telah menjadi biasa, dan bentuk-bentuk energi fisik non-makhluk hidup yang ditiru dalam mesin tidak terbatas pada angin, air, letusan [gunung], dan uap. Pada 1844, listrik berhasil digunakan untuk mengirim pesan lewat telegraf. Penemuan alat-alat logam menciptakan sebuah pekerjaan baru, yaitu pandai besi. Penemuan mesin uap menciptakan pekerjaan baru lain, ayaitu tukang mesin.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Kekuatan angin dan air memiliki dua kelebihan: bersih dan tidak pernah habis. Berbeda halnya, uap harus dihasilkan dengan membakar bahan bakar, dan asap sebagai hasil sampingan dari pembakaran itu mengotori udara. Polusi ini niscaya dan mengerikan, tetapi polusi tersebut masih ditoleransi sejauh tidak lebih dari sekadar gangguan lokal. Belum sampai dua abad Revolusi Industri bergulir, umat manusia telah menyadari bahwa dampak-dampak dari mesinisasi mengancam biosfir. Polusi global, bukan lokal, dapat membuat biosfir tidak bisa ditempati lagi oleh semua spesies, dan manusia tidak mungkin lagi tinggal di sana jika sumber-sumber daya alam yang tidak tergantikan habis, padahal manusia tidak bisa hidup tanpa sumber-sumber ini.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Sebelum terjadi Revolusi Industri, manusia telah merusak beberapa bagian dari biosfir ini. Sebagai contoh, manusia membuat tanah-tanah di lereng bukit jadi tandus karena menebangi pohon-pohon sebagai tempat menyimpan air bagi tanah tersebut. Manusia merusak hutan lebih cepat daripada mereboisasinya, dan dia menambang logam-logam yang sama sekali tidak tergantikan. Sebelum, meniru energi fisik alam semestas kedalam mesin-mesin yang berskala sangat besar, sebenarnya menusia tidak mempunyai kuasa untuk merusak dan menghancurkan biosfir tanpa bisa memperbaikinya lagi. Pada saat itu, udara dan air masih menjadi sumber daya alam yang tak terbatas, dan persediaan kayu dan logam masih sangat banyak dibandingkan dengan kekuatan manusia untuk menghabiskannya. Saat itu, setelah menusia menghabiskan satu tambang dan membabat habis sebuah hutan, selalu ada tambang-tambang baru dan hutan-hutan perawan lain yang menunggu untuk dieksploitasi. Namun, dengan Revolusi Industri, manusia menjatuhkan ancaman terberat yang pernah ada terhadap biosfir. Termasuk terhadap manusia itu sendiri.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Sebelum Revolusi Industri, orang-orang Barat telah mulai menguasai sesama manusia. Pada abad ke-16, orang-orang Spanyol menundukkan penduduk Meso-Amerika dan Andean dan melenyapkan peradaban mereka. Selama 1757-64, Maskapai India Timur milik Inggris menguasai Bengali, Bihar, dan Orissa. Pada 1799-1818, maskapai Inggris ini menaklukkan seluruh anak benua India sampai ke sebelah tenggara sungai Sutlej. Mereka melakukannya secara leluasa karena menguasai laut dan arena. Pada 1809 membuat perjanjian dengan Rajit Singh, seorang pendiri Kerajaan Sikh, yang di dalamnya kedua belah pihak menerima sungai Sutlej sebagai batas antara wilayah-wilayah taklukkan mereka. Pada 1845-9, maskapai Inggris tersebut meneruskan upaya menaklukkan dan aneksasi terhadap Kerajaan Sikh di Punjab. Sementara itu, pada 1768-74, Rusia mengalahkan Kekhalifahan Ustmaniyah secara telak ;pada 1798 Prancis menduduki Mesir, dan pada 1830 mulai menaklukkan Algeria; pada 1840 tiga Negara Barat dan Rusia mengalahkan seorang raja muda Utsmaniyah yang berani di Mesir, yaitu Muhammad Ali, dari arah Syria dan Palestina. Pada 1839-42, maskapai Inggrias tersebut mengalahkan Cina secara dramatis. Dan, pada 1853, sebuah skuadron laut Amerika memaksa pemerintah Tokugawa untuk menerima pendaratannya ke Jepang. Jepang tahu bahwa dirinya tak berdaya untuk mencegah tamu tak diundang ini dengan kekuatan senjata.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Sebelum Revolusi Industri di Inggris, Tsar Rusia, Peter Agung, telah mengetahui bahwa satu-satunya cara yang dapat menyelamatkan negara non-Barat dari dominasi Barat adalah menciptakan sebuah tentara model baru seperti tentara-tentara Barat yang dibentuk pada zaman Peter. Peter juga menyadari bahwa tentara ala Barat ini harus didukung dengan teknologi, perekonomian, dan pemerintahan a la Barat juga. Kegemilangan dominasi militer Barat dan Rusia yang telah terbaratkan atas negara-negara non-Barat antara 1757 dan 1853 menggerakkan penguasa sebagian Negara yang merasa terancam untuk meniru apa yang telah dilakukan Peter Agung.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Contoh-contoh penguasa ternama yang melakukan westernisasi pada abad pertama sejak bergulirnya Revolusi Industri di Inggris adalah Rajit Singh (berkuasa 1799-1838), pendiri Negara Sihk penerus, di Punjab, kekhalifahan Afgan Abdali; Muhammad Akli, raja Padishah Utsmaniyah di Mesir sejak 1805 sampai 1848; Mahmud II, raja Padishah Ustmaniyah (berkuasa 1808-39); Raja Mongkut di Thailan (berkuasa 1851-68); dan sejumlah pimpinan Jepang yang, atas nama kekaisarannya, menghancurkan rezim Tokugawa dan mengambilalih pemerintah Jepang pada 1868. Para permimpin yang melakukan Westernisasi ini lebih berpengaruh dalam sejarah ekumene daripada pemimpin-pemimpin Barat saat itu. Mereka berhasil membatasi dominasi Barat dengan mengkapanyekan cara hidup Barat modern di negara-negara non-Barat.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Jika prestasi-prestasi semua negara Barat tersebut di atas luar biasa, para perancang Revolusi Meiji di Jepang pun sangat berhasil. Mereka adalah anggota-anggota kelas militer tradisional yang memiliki privilese, meskipun hidup miskin, yaitu samurai . Shogun Tokugawa ambruk setelah memberikan sedikit perlawanan. Kemudian, mayoritas samurai rela untuk melepaskan privilese mereka. Sekelompok kecil dari mereka yang memberontak pada 1877 dikalahkan dengan mudah oleh sebuah pasukan Jepang a la Barat baru yang beranggotakan para petani terlatih yang sebelum 1868, dilarang memiliki senjata.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Muhammad Ali dan Mahmud II tidak mengawali langkahnya dengan mulus. Sebagaimana Peter Agung, mereka merasa tidak dapat mulai membentuk tentara a la Barat sebelum membubarkan tentara tradisional mereka. Peter membasmi Streltsy Moskwa (“Pasukan Pemanah”) secara masal pada 1698-9; Muhammad Ali melenyapkan orang-orang Mamluk Mesir pada 1811, dan Mahmud II menghapus para janizary Utsmaniyah pada 1826. Semua tentara a la Barat yang baru ini menunjukkan sepak terjang yang bagus. Muhammad Ali mulai membangun angkatan daratnya yang baru pada 1819 dan angkatan lautnya pada 1821.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Pada 1825, semasa kauasaan Mahmud II. pasukan petani Mesir yang terlatih dengan baik nyaris berhasil menguasai kembali parapengacau Yunani yang berani tetapi tidak disiplin. Orang-orang Yunani ini bisa selamat berkat intervnsi Prancis, Inggris, dan Rusia yang menghancurkan pasukan Mesir dan Turki pada 1927 dan memaksa anak Muhammad Ali, Ibrahim, mengevakuasi orang-orang Yunani pada 1828. Pada 1833, Ibrahim menaklukkan Syria tetapi gagal masuk ke Istambul hanya karena intervensi Rusia demi kepentingan Mahmud II. Tentara Muhammad Ali lebih kuat daripada tentara Mahmud II, karena dia mulai membentuknya lebih awal. Mahmud II tidak dapat memulainya sebelum 1826, tahun ketika dia menghapuskan janizary . Namun, dalam perang Rusia-Turki pada 1828-9, tentara petaninya dengan model baru yang terlatih ini melakukan perlawanan yang jauh lebih liat daripada tentara Utsmaniah kuno dalam perang Rusia-Turki pada 1768-74, 1787-92, dan 1806-12.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Para penguasa non-Barat yang melaksanakan westernisasi negara-negara mereka tidak dapat melakukan hanya dengan bantuan segelintir penasihat dan pelatih Barat. Mereka harus menemukan atau menciptakan sekelompok pribumi mereka jadi sebuah kelas yang berpendidikan Barat yang dapat menghadapi orang-orang Barat dalam kedudukan yang kurang lebih setara dan dapat menjadi mediator antara Barat dan rakyat mereka yang belum terbaratkan. Pada abad ke-17 dan 18, pemerintah Utsmaniyah mendapatkan kelas baru seperti ini yang siap pakai, yakni penduduk Ustmaniyah Yunani yang telah mengenal Barat karena mereka menempuh pendidikan di sana atau menjalin hubungan dagang dengan orang-orang Barat.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Peter Agung di Rusia, Muhammad Ali di Mesir, dan maskapai Inggris di India harus menciptakan kelas mediator yang juga mereka butuhkan. Di Rusia kelas ini disebut intelligentsia , sebuah kata serapan dari bahasa Prancis yang mendapat akhiran dari bahasa Rusia. Selama 1763-1871, kelas intelligentsia tumbuh di setiap negara yang jatuh ke tangan kekuasaan Barat atau menyelamatkan diri dari penderitaan semacam ini dengan melakukan westernisasi untuk mempertahankan independensi politiknya. Seperti para pemilik pabrik dan buruh industri yang tumbuh di Inggris pada abad itu, kaum intellegetsia non-Barat adalah sebuah kelas baru, dan pada 1970-an kelas ini mengukuhkan perannya yang besar dalam sejarah umat manusia.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Intelligentsia dibentuk oleh pemerintah untuk memenuhi tujuan-tujuan pemerintah itu sendiri, tetapi kelas ini segera menyadari bahwa dirinya memegang posisi kunci di dalam masyarakatnya, dan dalam setiap kasus, kelas ini kemudian melangkah ke jalur yang independen. Pada 1821, invasi pangeran Yunani eks-Utasmaniyah, Aleksander Ypsilantis, atas kekhalifahan Utsmaniyah memberi pelajaran pada pemerintah Utsmaniyah bahwa kaum intelligentsia -nya tidak bisa diandalkan lagi. Pada 1825, konspirasi para petinggi militer Rusia yang berpendidikan Barat untuk menentang Tsar Nicholas I, tetapi kaum intelligentsia menunjukkan isyarat untuk tumbuh kembali. Ini terjadi bukan hanya di Rusia tetapi juga di sejumlah negara lain yang telah melakukan westernisasi.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Dibandingkan dengan Revolusi Industri di Inggris dan pengaruh Barat di negara-negara non-Barat, bidang-bidang kultural dan politik Barat pada 1763-1871 dinomorduakan –sangat buruk meskipun sebenarnya bidang-bidang ini berkembang jika dilihat dari sejarah perkembangan kedua bidang tersebut dalam konteks global. Pada abad ini, tokoh-tokoh seni peradaban Barat adalah orang-orang Jerman. Immanuel Kant (1724-1804) adalah filosof Barat terbesar, dan Goethe (1749-1832) adalah penyair Barat terbesar pada abad ini. Dua tokoh Jerman termasyhur ini lebih bersinar daripada dua meteor Inggris yang brilian, Shelley (1792-1822) dan Keats (1795-1821). Mozart (1756-91) dan Beethoven (1770-1827) membawa musik klasik Barat ke puncak kejayaannya. Perlu dicatat bahwa keunggulan budaya Jerman itu pada zaman modern dalam sejarah Barat berkebalikan dengan kekuatan politik dan kemakmuran ekionominya. Musik Jerman berkembang setelah berakhirnya Perang Tiga Puluh Tahun, tetapi kemudian layu setelah berdirinya Reich Kedua.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Dalam bidang sains, Edward Jenner (1749) membuktikan pada 1798 bahwa kekebalan terhadap penyakit cacar dapat diperoleh dengan vaksinasi, dan pada 1857 Louis Pasteur (1822-95) membuktikan keberadaan bakteri. Sebelum panyakit cacar dan bakteri diketahui, dua preditor yang memangsa manusia dan binatang piaraan ini telah menelan lebih banyak koraban jiwa daripada binatang-binatang karnivora yang telah manusia tundukkan pada zaman Palaeolitik Tinggi. Setelah teridentifikasi, akhirnya bakteri juga dapat diatasi oleh manusia. Sekarang tidak ada musuh yang mematikan bagi manusia di biosfir ini kecuali manusia itu sendiri.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Aplikasi sains jadi teknologi membuat manusia semakin dan semakin hebat. Aplikasinya jadi pengobatan preventip menyebabkan pertambahan populasi manusia di bosfir ini sangat akseleratif; dan penurunan angka kematian yang lebih cepat daripada angka kelahiran disusul dengan pemakaian alat-alat kontrasepsi. Pada tahun yang sama, 1798, ketika Jenner membuktikan kemanjuran vaksinasi cacar, T.R. Malthus menerbitkan bukunya, Essay on Population , dan buku ini mengilhami Charles Darwin (1809-82) untuk memaparkan konsepnya tentang perjuangan untuk mempertahankan hidup ( struggle for life ) sebagai sub judul dari The Origin of Species (1859).

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Satu abad sebelum Darwin, Buffon menyempal dari doktrin tradisional agama-agama Yahudi bahwa berbagai spesies makhluk hidup telah diciptakan sekali untuk selamanya, sebagai entitas-entitas yang berbeda dan kekal, oleh Tuhan yang Mahakuasa. Tesis Buffon bahwa keanekaragaman spesies merupakan hasil dari proses perubahan dalam rentang waktu yang lama diikuti dalam bidang geologi oleh Charles Lyell (1797-1875), yang karyanya, Principles of Geology (1830-3), juga telah dibaca Darwin. Tesis Darwin mengejutkan kaum Kristen Ortodoks. Kata-kata “seleksi” dan “kelangsungan ras-ras yang lebih kuat” ( preservation of favoured reces ) mengindikasikan mitos Yahudi tentang “orang-orang terpilih”. Meskipun Darwin membuang postuilat tentang Tuhan Sang Pencipta, dia menggantinya dengan hipotesis tentang seleksi alam impersonal pada serangkaian mutasi yang teramati tetapi tidak terjelaskan.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Gagasan revolusioner Darwin bukanlah penjelasannya tentang mekanisme perubahan biologis, tetapi pembuktiannya bahwa hidup di biosfir ini bersifat dinamis, bukan statis. Darwin membuktikan dalam biologi apa yang telah Hegel (1770-1831) tunjukkan dalam filsafat. Hegel menggambarkan hidup dalam proses perubahan dalam dimensi waktu. Dia menerjemahkan fenomena perilaku seksual –yang melahirkan keturunan dengan ciri-ciri yang berasal dari masing-masing induknya—ke dalam istilah-istilah intelektual: tesis, antitesis, dan sintesis. Mendel (1822-84) menemukan hukum-hukum genetika; dia dapat merumuskan hukum-hukum ini secara kuantitatif. Dia mempublikasikan temuan-temuannya ini pada 1864-6, tetapi temuan-temuannya tetap tidak dikenal sampai Darwin dibicarakan banyak orang. Temuan-temuannya itu tetap diabaikan sampai 1900.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Dalam bidang militer dan politik, abad ini menjadi saksi atas kemerdekaan Amerika Serikat setelah mengalami Perang Revolusi (1776-83); pemulihan persatuan dan kesatuan setelah Perang Sipil (1861-5); dan ekspansi geografisnya ke Amerika Utara menyusuri pantai-pantai (1783-1853). Abad yang sama juga manyaksikan upaya Prancis pada 1797-1815 melalui Napoleon untuk menyatukan kembali Dunia Barat secara politis di bawah dominasi Prancis yang sebelumnya pernah dilakukan Louis XIV dalam peperangan 1667-1713. Akibat dari kegagalan Napoleon adalah terbentuknya negara nasional Italia pada 1859-70 dan Jerman pada 1866-71. Maka, pada abad tersebut, penataan politik Dunia Barat sebagai sekumpulan negara nasional yang berdaulat dan merdeka mengalami kemajuan, tetapi upaya untuk menyatukan Barat secara politis justru menyebabkan kemunduran.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Perluasan territorial Prancis oleh Napoleon jauh lebih besar daripada yang pernah dilakukan oleh Louis XIV. Namun, dalam interval antara dua masa ekspansi militer Prancis yang berurutan ini, luas Dunia Barat bertambah sebanding dengan perluasan wilayah-wilayah taklukkannya. Louis XIV lebih berhasil dalam menguasai Dunia Barat dengan ukuran yang lebih sempit pada 1700 daripada Napoleon dalam menguasai Duinia Barat dengan ukuran yang jauh lebih luas pada1800. Sementara itu, Rusia, India, dan Amerika Utara telah dikuasai oleh Barat; wilayah geografis Rusia secara militer sebenarnya tak terbatas. Saat itu, wilayah-wilayah taklukkan Barat telah menjadi kekuatan ekonomi yang menentukan. Dan, selama perang-perang Napoleon, semua wilayahn taklukan ini berada dalam kekuasaan ekonomi Inggris berkat kemenangan atas Prancis di lautan.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Bekas koloni-koloni Inggris di Amerika Utara telah memerdekakan diri secara politis, tetapi mereka tetap mencari keuntungan melalui hubungan dagang dengan Inggris. Demikain juga yang terjadi di bekas koloni-koloni Spanyol dan Portugal di Amerika, ketika mereka meraik kemerdekaan secara insidental akibat invasi Napoleon ke Semenanjung Iberia. Sumber-sumber material di luar Barat adalah bahan bakar perang bagi Inggris dan juga buah dari kemenangannya atas Napoleon. Pada 1821, bekas dominion-dominion Spanyol di Amerika, dan bekas dominion Portugal, yakni Brasil, menyusul kemerdekaan Amerika Serikat secara politis. Namun, secara ekonomis, negara-negara Amerika Latin menjadi, dan Amerika Serikat terus menjadi, bagian pasar luar negeri bagi produk-produk industri mekanis Inggris.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Beberapa revolusi yang meletus di Dunia Barat selama 1763-1871 memiliki ciri yang berlainan. Revolusi Industri di Inggris bersifat teknologis, ekonomis, sosial, bukan politis, meskipun mempunyai imbas politis non-revolusi ketika pada 1832 sebuah plakat reformasi yang dikeluarkan parlemen Inggris mulai mengalihkan kekuasaan politiknya dari para pemilik tanah pedesaan ke kelas menengah urban. Revolusi yang mengubah bekas koloni-koloni Inggris di Amerika Utara jadi Amerika Serikat bukanlah revolusi teknologi, ekonomi, atau sosial, tetapi revolusi politik. Revolusi Prancis yang dimulai pada 1789 bersifat politik, ekonomi, dan sosial. Revolusi Prancis ini mengalihkan kekuasaan politik dari raja ke kelas menengah urban, dan mengalihkan kepemilikan tanah dari kaum aristokrat ke kaum petani secara besar-besaran.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Di Inggris pada saat yang sama, para pemilik tanah yang sempit dipaksa jadi kaum buruh tani yang berupah, atau dipaksa keluar dari tempat tinggalnya di pedesaan untuk menjadi buruh industri yang berupah juga. Sebaliknya, di Amerika Serikat, para pemilik tanah tetap bertahan dan bahkan menguasai tanah-tanah yang masih perawan sampai ke barat, yang diikuti oleh para imigran yang haus tanah dari desa-desa Eropa. Amerika Serikat tetap merupakan, dan Prancis menjadi, sebuah komunitas warga yang mandiri kecuali sebagian besar budak hitam Afrika di negara-negara bagian selatan Amerika Serikat dan sebagian kecil buruh urban yang seragam di Prancis.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Perbudakan atas orang-orang Afrika dan importasi mereka ke permukiman-permukiman Eropa di Amerika sama buruknya dengan akibat penemuan “Dunia Baru” Eropa Barat oleh Columbus sebagai penaklukan atau pengusiran penduduk Amerika pra-Columbus. Selama 1763-1871, status yuridis perbudakan dihapus di sebagian besar Amerika: di Haiti antara 1793 dan 1803, di seluruh kerajaan kolonial Prancis pada 1848, dan di kerajaan kolonial Brasil pada 1833, di Amerika Serikat pada 1863, dan di Brasil secara perlahan-lahan antara 1871 dan 1888. Penghapusan perbudakan di Haiti dilakukan dengan revolusi dan perang selama sepuluh tahun, sedangkan di Amerika Serikat dengan perang saudara pada 1861-5. Namun, penghapusan perbudakan, baik dengan cara damai maupun kekerasan, meninggalkan masalah ekonomi dan sosial.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Di Amerika Serikat, dan di Prancis sampai 1871, para pekerja industri yang berupah masih menjadi penduduk minoritas. Pembukaan tanah-tanah perawan di Amerika Serikat dan penguasaan tanah yang luas oleh kaum petani di Prancis menyelamatkan dua negara Barat ini dari migrasi massif para pekerja bekas warga desa di kota-kota. Di Inggris migrasi seperti ini merupakan konsekuensi dari Enclosure Act . Akan tetapi, di Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris buruh industri tetap teralienasi dari “kemapanan” kelas menengah, dan mereka tidak dapat memperbaiki nasib mereka baik dengan cara damai maupun kekerasan.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Kelas menengah yang merancang Revolusi Prancis pada 1789 mengeksploitasi kebencian golongan proletariat urban, tetapi mereka tidak melakukan apapun untuk mengurangi penderitaan golongan proletariat itu. Alih-alih mengurangi penderitaan, dalam hal ini mereka justru berperilaku seperti musuh-musuh mereka di Inggris. Kelas menengah Prancis memangkas belenggu-belenggu tradisional terhadap kebebasan usaha ekonomi swasta., yang sebelumnya melindungi kelompok masyarakat ekonomi lemah. Slogan laissez-faire, laissez-passer –yakni, hapus pembatasan terhadap produksi industri dan hapus bea cukai untuk transportasi barang-barang—menggema di Prancis, tetapi segera saja sebuah undang-undang yang melarang tuntutan-tuntutan tersebut dibuat di Prancis pada 1791, delapan tahun sebelum pembuatan undang-undang serupa di Inggris.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Di Prancis upaya-upaya golongan ploretariat Paris untuk mengubah revolusi politik jadi revolusi sosial dilumpuhkan oleh kekuatan militer pada 1795, 1848, dan 1871. Gerakan kaum buruh urban Prancis dimentahkan oleh kelas menengah dan kaum petani. Di Inggris buruh industri menaruh harapan pada unionisme perdagangan dan reformasi politik yang telah lebih maju daripada apa yang telah dicapai pada 1832. Gerakan Chartis pada 1837-48 semata-mata bertujuan politik, dan, meskipun Chartisme lama kelamaan mereda, reformasi politik lanjutan terjadi di Inggris pada1867-72. Akan tetapi, pemberian hak suara kepada kelas pekerja industri Inggris, seperti pembebasan budak secara yuridis di Amerika, mengecewakan mereka karena tidak segera menghasilakn perbaikan kehidupan mereka secara mendasar.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Kesengsaraan kaum buruh industri dan persetujuan kelas menengah secara diam-diam atas ketidakadilan sosial; ini membangkitkan kemarahan Karl Marx (1818-83) dan mendorongnya untuk menciptakan agama Yahudi keempat, yakni Marxisme. Marxisme –sebagaimana Budhisme— secara teoritis bersifat atheistic, tetapi –sebagaimana Darwinisme— menciptakan tiruan bagi Yahweh, Tuhan Yahudi. Tuhan tiruan buatan Darwin adalah alam semesta, yang aksi selektifnya melanggengkan “ras-ras yang lebih kuat”. Tuhan tiruan buatan Marx adalah “keniscayaan historis” ( historical necessity ), dan “orang-orang terpilihnya” adalah golongan ploretariat industrial. Marx coba menghibur golongan proletariat yang sedang menderita dengan menunjukkan keniscayaan sebuah revolusi yang baik yang di dalamnya konflik antara kelas proletariat dan kelas menengah akan berakhir dengan terbentuknya masyarakat tanpa kelas.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Selama 1763-1871, Inggris memainkan peran utama, baik dalam kebaikan maupun keburukan, bukan hanya di Barat tetapi juga di seluruh dunia. Dalam babakan sejarah Barat sebelumnya, Inggris keluar sebagai pemenang perang atas Prancis untuk menguasai Amerika Utara dan India. Dengan kemenangan ini, Inggris membuka jalan bagi bekas koloni-koloninya di Amerika Utara untuk menumbangkan kekuasaan Inggris dan menjadi Amerika Serikat yang merdeka dengan wilayah seluas Kerajaan Rusia. Inggis sendiri kini menyatukan seluruh anak benua India secara politis untuk pertama kalinya dalam sejarah, dan berhasil menegakkan kembali cengkramannya ketika pasukan India Maskapai India Timur meraih kemenangan pada 1857-9.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Inggris juga membagi keuntungan, atau tanggung jawab, dengan Rusia dan Spanyol setelah mengalahkan Napoleon. Kegagalan upaya terakhir untuk menyatukan Dunia Barat secara politik menjadikan Dunia Barat terbagi-bagi jadi sejumlah Negara lokal merdeka yang berdaulat pada abad ketika Revolusi Industri melengkapi banyak negara dengan alat-alat perang yang luar biasa destruktif. Ketika menyerang dan mengalahkan Cina pada 1839-42, Inggris memberikan pukulan yang mematikan pada sebuah rezim yang telah memberikan kedamaian dan stabilitas bagi banyak sekali penduduk Cina selama hampir dua millennium.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Pada awal milenium kedua ini, solah-olah biosfir terancam bahaya banjir, polusi, dan, mungkin pada puncaknya, tidak mungkin lagi ditempati lagi oleh bentuk kehidupan apa pun akibat ulah salah satu makhluk dan penghunuinya sendiri, yaitu manusia. Kalau kita melihat ke belakang, tampaknya bahwa kekuasaan manusia atas biosfir telah meningkat dengan cepat. Sebelum menjadi “manusia”, manusia tidak mempunyai senjata dan baju besi yang telah terpasang di tubuhnya, tetapi dia dikaruniai akal yang dapat berpikir dan membuat rencana,. Dia memiliki dua organ fisik, akal dan tangan, yang merupakan instrumen material bagi pemikiran, rencana, dan upaya untuk mencapai tujuan dengan aksi fisik.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Telah disebutkan sebelumnya bahwa alat-alat kehidupan sama tuanya dengan pemikiran manusia. Kemampuan untuk membuat dan menggunakan alat-alat memungkinkan manusia memenangkan persaingan hidup di biosfir ini selama Zaman Palaeolitik Tinggi, mungkin 70.000/40.000 tahun yang lampau, manusia menguasai biosfir, tetapi baru pada awal Revolusi Industri –dua ratus tahun yang lampau—manusia menjadi penguasa yang dominan. Dalam dua abad terakhir, manusia telah memperbesar kekuasaan materialnya sehingga dia mengancam keselamatan biosfir, tetapi, sayangnya, dia tidak mengasah potensi spiritualnya. Kesenjangan antara kekuasaan material dan spiritual semakin lebar, dan ini sungguh memprihatinkan. Mengasah potensi spiritual manusia adalah satu-satunya cara yang memungkinkan untuk menyelamatkan biosfir –dan manusia itu sendiri—dari kehancuran akibat kerakusannya yang telah dilengkapi dengan kemampuan yang luar biasa.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Pada akhir abad kedua puluh, dampak kemampuan destruktif manusia yang luar biasa itu ditunjukkan oleh sejumlah gejala. Populasi manusia di biosfir bertambah sangat cepat, dan pertambahan penduduk itu terkonsentrasi di kota-kota besar. Karena mayoritas penduduk masih miskin, pertumbuhan kota-kota tersebut terutama berupa proliferasi kota-kota kecil kumuh yang parisitis yang ditempati oleh kaum migran pengangguran, dan memiliki kemungkinan untuk menjadi pengangguran, dari desa-desa sebagai tempat tinggal dan kerja meyoritas umat manusia sejak ditemukannya pertanian pada awal Zaman Neolitik.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Kota-kota ini menyebarkan perangkap ke seluruh dunia yang berupa alat-alat mekanis melalui jalur darat dan udara secara cepat. Penduduk minoritas yang memproduksi komoditas-komoditas industri, atau bahan-bahan makanan dan bahan-bahan mentah organik, dengan proses-proses mekanis yang semakin canggih dan berdaya tinggi ini mengotori air dan udara yang menyelimuti biosfir dengan limbah-limbah buangan, belum lagi ketika mereka merusak flora dan fauna (manusia dan non-manusia) dengan operasi-operasi militer yang sangat destruktif.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Pada 1871 dan mungkin bahkan 1944, sebelum ditemukannya teknologi untuk memecah atom, masih sulit dipahami jika seluruh laut dan atmosfir bumi dapat terkena polusi yang mematikan akibat tindakan sebuah produk biosfir, yaitu manusia. Kemampuan manusia untuk membuat biosfir tak dapat ditinggali lagi tampak jelas dalam pemusnahan sejumlah spesies non-manusia yang belum dijinakkan. Sementara itu, manusia itu sendiri dan binatang-binatang peliharaan tidaklah kebal dari ancaman tersebut. Sebagian dari mereka juga sedang teracuni oleh bahan-bahan yang dihasilkan secara taksengaja dari aktivitas-aktivitas manusia yang disengaja.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Bagi penduduk Barat, Agustus 1914 menjadi awal sebuah trauma. Periode 1914-sekarang adalah masa kesengsaraan bagi seluruh umat manusia akibat perbuatan mereka sendiri. Dalam periode ini, dua perang dunia meletus sebagai sebuah kejahatan yang mahadahsyat dan mematikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Genosida dilakukan orang-orang Turki terhadap penduduk Armenia, orang-orang Jerman terhapat Yahudia, orang-orang Hindu terhadap orang-orang Muslim India dan sebaliknya, orang-orang Serbia terhadap Muslim Chechna. Orang-orang Palestina, Tibet, dan mayoritas penduduk pribumi Afrika di bagian selatan juga menjadi korban.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Orang-orang Barat tidak ingin melihat berakhirnya perang; sebagian dari mereka –misalnya di Jerman dan negara-negara Balkan— berharap tidak hanya meletusnya kembali peperangan tetapi juga coba-coba memicunya. Akan tetapi, perang-perang yang terbayang dalam benak orang-orang Jerman yang sangat gemar berperang adalah perang-perang pendek semacam perang Bismarckian, bukan perang-perang Napoleon yang panjang, atau Perang Tiga Puluh Tahun yang dahsyat pada tahun 1618-48 di Jerman, atau perang saudara yang hebat pada 1861-5 di Amerika Serikat.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Perang Cina-Jepang pada 1894-5, perang Spanyol-Amerika pada 1898, Perang Afrika Selatan pada 1899-1902, dan Perang-perang Balkan pada 1912-13 senyatanya bersifat lokal dan pendek. Bahkan, Perang Rusia-Turki pada 1877-8 dan Perang Rusia-Jepang pada 1904-5 hanyalah konflik-konflik regional yang tidak meliputi banyak wilayah dunia. Kerusakan dan kehancuran hidup manusia yang luas akibat berbagai penindasan (1850-73) rezim T’ai-p’ing dan pemberontakan-pemberontakan lain di Cina terhadap rezim Manchu tidak lagi di klim oleh orang-orang Barat sebagai penderitaan khas masyarakat Oriental ketika dan di mana masyarakat itu belum dikuasai oleh kaum Kristen.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Misalnya, pembebasan budak di Rusia pada 1861, dan mulai –pada 1871—di hapusnya perbudakan di negara perbudakan terakhir, Brasil, tampak seperti tonggak-tonggak sejarah yang agung menuju milenum baru. Akan tetapi, pembebasan budak-budak di Rusia tidak memuaskan kerakusan mereka atas kepemilikan tanah, dan pembebasan budak-budak hitam secara yuridis pun tidak serta merta menghapus prasangka, diskriminasi, dan konflik rasial. Sementara itu, buruh industri yang telah bebas secara yuridis tidak juga melakukan revolusi sosial Marxis di manapun, tetapi di negara-negara Barat kehidupan ekonomi mereka membaik secara pelan-pelan, dan perbaikan kehidupan mereka ini disertai dengan perbaikan kondisi-kondisi kerja mereka.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Namun, pekerjaan mekanis semakin tidak memuaskan secara spiritual seiring dengan setiap jengkal kemajuan teknologi. Penemuan ban-berjalan dan perakitan mesin meningkatkan produktivitas dan menurunkan “harga” spiritualitas yang mengubah menusia jadi komponen-komponenm mesin “yang diatur secara ilmiah”. Kehidupan buruh industri kini secara material lebih baik, tetapi sekalipun telah disogok untuk menjadi budak-budak pabrik seperti ini, mereka masih teralienasi secara spiritual dari masyarakatnya yang menuntut kelas sosial baru ini untuk memenuhi tujuan-tujuan kelas menengah.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Terbentuknya negara nasional Jerman dan Italia secara utuh pada 1870-1 tampak menstabilkan struktur politik ekumene. Negara nasional yang berdaulat sekarang dianggap sebagai sebuah unit politik standar, dan sejak 1871 tidak ada perang lagi kecuali Perang Rusia-Jepang pada 1904-5, yang melibatkan dua kekuasaan besar atau lebih. Perang Rusia dengan Turki pada 1877-8 dan dengan Jepang pada 1904-5 masing-masing berakhir tanpa melibatkan Ingris. Lembah Oxus-Jaxartes dan Turkmenistan, sampai ke perbatasan-perbatasan Barat Laut Afganistan, telah dianeksasi oleh Rusia pada 1865-85, dan saat itu Perang Rusia-Inggris tidak jadi meletus.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Antara 1881 dan 1904, semua negara Afrika, kecuali dua negara yang masih bebas dari kekuasaan Eropa Barat pada 1871 berada di bawah kendali Inggris, Prancis, Jerman, Belgia, atau Portugal secara langsung atau tidak langsung tanpa timbul peperangan di antara negara-negara itu dalam bersaing menguasai wilayah Afrika. Abyssinia (setelah bernama Ethiopia, yang awalnya menembati daerah Sudan Timur sekarang ini) turut ambil bagian dalam perebutan wilayah Afrika ini, dan berhasil mengalahkan Italia secara terlak pada 1896. Liberia, sebuah pemukiman kolonial bagi budak-budak hitam Amerika yang telah bebas, tetap merdeka berkat perlindungan Amerika Serikat. Namun, semua negara dan penduduk Afrika lainnya kehilangan kemerdekaannya.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Hal tersebut tampaknya merupakan pertanda baik bagi terciptanya perdamaian antara dua kekuasaan besar. Setelah Kaisar Jerman, Willian II memecat Bismarck pada 1890, dia mulai menunjukkan isyarat-isyarat provokatif. Meskipun demikian, seolah-olah ekumene terus hidup damai dan tertib berkat kerja sama dua kekuasaan besar tersebut. Sekarang terdapat delapan negara besar, dan hanya tiga di antaranya –Rusia, Amerika Serikat, dan Jepang—yang berada di luar Eropa. Walaupun negara-negara Eropa itu berdaulat, pada 1911 tak sebuah negara Eropa pun kecuali Rumania dan Turki meminta agar orang asing yang masuk ke wilayah mereka membawa paspor. Di pedalaman Yunani, orang dapat menukar uang emas dengan uang perak Prancis, Italia, Belgia, atau Yunani. Batas-batas politik belum menjadi batas-batas atau hambatan-hambatan moneter bagi pertualang-petualang pribadi.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Akan tetapi, ada beberapa tanda yang manakutkan dalam gambaran damai tersebut. Prancis tidak terima dengan wilayahnya yang hilang yang terpaksa diserahkannya kepada Jerman pada 1871. Penduduk wilayah ini juga tidak senang menjadi warga Reich Jerman Kedua; wilayah ini masih berstatus sebagai Reichsland ; pemerintah kekaisaran Jerman memberikan status otonom bagi salah satu bagian milik Reich; Bismarck dihantui dengan “mimpi buruk koalisi”, dan setelah dia “jatuh”, mimpi buruk itu segera menjadi kenyataan. Prancis dan Rusia segera membuat sebuah perjanjian yang dilengkapi dengan konvensi militer pada 1892-3; Prancis dan Inggris membuat perjanjian pada 1904; dan Rusia dan Inggris melakukannya pada 1907. Pada 1898, Jerman mulai bersaing dengan Inggris di laut. Rencana-rencana yang kompetitif untuk mobilisasi dan operasi-operasi laut dan militer selanjutnya sedang disusun oleh lima negara Eropa tersebut dan Rusia.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Semenjak berdirinya Italia dan Jerman sebagai negara nasional yang utuh pada 1870-1, negara nasional dianggap sebagai sebuah unit politik yang alamiah, normal, dan benar. Namun, anggapan ini tidak kuat mengingat orang-orang Eropa Timur belum memperoleh negara-negara nasional sendiri meskipun orang-orang Eropa Barat, termasuk orang-orang Belgia yang dwibahasa dan Swis yang catur bahasa, telah memiliki negara-negara nasional sendiri. Orang-orang Polandia, sebagai contoh, tidak mempunyai negara merdeka sendiri; mereka adalah penduduk Rusia, Prusia, atau Austria. Negara-negara nasional Yunani, Bulgaria, Serbia, dan Rumania berusaha mendapatkan “wilayah-wilayah tak tertebus” yang masih dikuasai oleh Utsmaniyahdan Habsburg.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Monarki Habsburg yang multinasional sebagai salah satu dari delapan negara besar merupakan anomali di sebuah dunia yang menjadikan negara-negara nasional sebagai unit-unit politik standar. Di Kekaisaran Rusia, sekitar sepertiga penduduknya bukanlah orang-orang yang berkebangsaan Rusia Agung. Negara nasional Jerman meliputi penduduk minoritas Polandia, Denmark, dan Prancis yang belum terasimilasi. Italia masih memiliki “wilayah-wilayah yang tak tertebus” (istilah ini berasal dari bahasa Italia) di perbatasannya dengan monarki Habsburg. Pendeknya, “prinsip penentuan jadi negara sendiri”, yang memberikan stabilitas politik bagi Eropa Barat setelah berlaku di sini pada 1871, sekarang menjadi sebuah ideal yang eksplosif dan subversif di Eropa Timur.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Dan struktur politik ekumene di malam meletusnya Perang Dunia I tersayat-sayat oleh kegagalan Eropa Timur menyesuaikan diri dengan negara-negara nasional Eropa Barat yang sampai sekarang menjadi standar yang diterima secara luas. Akan tetapi, keadaan politik dunia tetap genting sekalipun, sebelum 1914, semua “wilayah-wilayah tak tertebus” telah disatukan dengan negara-negara nasional berdasarkan kehendak mereka sendiri, dan sekalipun semua wilayah taklukan telah berubah menjadi negara-negara nasional yang berdaulat. Ekumene telah terbagi-bagi secara politis jadi unit-unit lokal yang saling independen, dan, karenyanya, terseret ke dalam sebuah konflik yang tak terselesaikan antara tuntutan-tuntutan politik manusia dan kebutuhan-kebutuhan ekonomi mereka.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Negara nasioanal lokal adalah sebuah ideal politik bagi masyarakat Barat dan masyarakat-masyarakat lain yang terus bertambah jumlahnya yang mengadopsi lembaga-lembaga [politik] Barat. Kekuatan nasionalisme orang-orang Barat ditunjukkan oleh perlawanan mereka yang berhasil terhadap upaya-upaya suksesif Charles V, Philip II, Louis XIV, dan Napoleon untuk menyatukan Wilayah Kristen Ortodoks Timur secara politis sebagaimana pada masa Theodosius I dan Charlemagne. Namun, ideal poliitik negara nasional menjadi sebuah anakronisme ekonomi sejak timbulnya ekumene baru melalui penguasaan teknik navigasi oleh orang-orang Cina, Portugal, dan Spanyol pada abah ke-15. Univikasi ekonomi ekumene, yang telah dimulai oleh orang-orang Portugal dan Spanyol, didorong selangkah lebih maju oleh Revolusi Industri di Inggris.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Sampai saat itu, kebanyakan barang yang diperjualbelikan dalam perdagangan dunia adalah barang-barang mewah. Namun, akibat Revolusi Industri, perdagangan tersebut semakin merncakup barang-barang kebutuhan hidup. Para pengusaha Inggris yang membidani lahirnya Revolusi Industri memperoleh keuntungan dari investasi mereka dalam pembuatan mesin-mesin dengan melakukan “lokakarya dunia” di Inggris. Sejak saat itu, Inggris secara gencar mengekspor produk-produk manufaktur, dan mengimpor bahan-bahan mentah dan makhluk, dalam skala global. Perdagangan dunia ini melanggengkan ketegangan-ketegangan global ketika, pada 1871, Jerman, Amerika Serikat, dan negara-negara lain mencabut mobnopoli Inggris dengan mengikuti langkah-langkah para pengusahanya.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Awal unifikasi ekonomi ekumene ditandai dengan penemuan kapal layar Portugal yang dapat berlayar dalam jangka waktu lama. Penyempurnaan-penyempurnaan kapal layar ini dirayakan dengan pembentukan Uni Telegraf Internasional (International Telegraphic Union) pada 1864 dan Uni Pos Internasional (International Postal Union) pada 1875. Pada saat itu, umat manusia bersandar pada unifikasi ekonomi global, tetapi tetap enggan, dalam bidang politik, untuk meninggalkan pertikaian antarnegara. Keadaan yang canggung ini terus berlangsung sekalipun menimbulkan malapetaka yang disebabkannya sejak 1914. Dislokasi masalah-masalah kemanusiaan sebagai konsekuensinya menjadi luar biasa ekstrim sehingga kini mengancam kelumpuhan seluruh umat manusia kecuali minoritas petani dan peternak yang masih bertahan hidup dengan apa yang mereka hasilkan atau kumpulkan untuk mereka sendiri, tanpa terpengaruh oleh pasar dunia.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Tubuh, tinggi, dan kecepatan kapal layar Barat modern disempurnakan selama setengah abad (1840-90), ketika ia kalah bersaing dengan kapal uap, pesaingnya yang telah diciptakan oleh Revolusi Industri. Zaman ini juga merupakan zaman terakhir bagi musik “klasik” Barat, yang mencapai puncak kejayaannya pada pergantian abahd ke-18 menuju abad ke-19 dalam karya-karya Beethoven. Gaya lukisan Barat modern mencapai puncaknya ketika, setelah 1600, keunggulannya diambil alih dari orang-orang Italia dan Fleming oleh orang-orang Spanyol dan Belanda. Kapal layar “klasik” dicampakkan setelah Watt secara pasti menyempurnakan kapal uap.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Gaya lukisan naturalis digusur oleh penemuan fotografi. Selama 43 tahun (1871-1913) yang kelihatannya tenang dan makmur, para pelukis dan komposer secara sengaja memecahkan sebuah tradisi panjang dan mencari-cari bentuk-bentuk ekspresi yang sangat berbeda. Jelaslah bahwa mereka merasakan gaya seni “klasik” mereka telah berakhir, seperti penambangan batu bara yang ketinggalan zaman atau kedinastian Cina yang usang. Pada pada akhir abahd ke-20, tampak bahwa para seniman Barat mulai menyadari, selama berlangsungnya iklim yang tenang, badai yang menghantam generasi Barat mendatang. Seniman-seniman itu memiliki antene psikis yang sensitif terhadap, dan dapat merasakan, peristiwa-peristiwa yang akan terjadi.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Jika kita coba secara seimbang mengulas balik pengalaman-pengalaman dan perilaku-perilaku umat manusia pada periode 1871-1913, hal pertama yang harus dicatat adalah banyaknya penemuan dan penciptaan yang luar biasa. Orang-orang Barat telah membuat temuan-temuan dan ciptaan-ciptaan berharga selama tiga abad sebelumnya, dan pada awal abad ini mereka telah melampaui prestasi-prestasi temuan dan ciptaan sebelumnya. Freud (1856-1939) menjelaskan perilaku bawah sadar dalam psikis manusia. Einstein (1879-1955) membuktikan bahwa fisika Newton memiliki keterbatasan dalam menjelaskan realitas. Einstein melebarkan sayap fisika dengan mengakui bahwa proses pengamatan adalah proses interaksi. Pengamat adalah bagian dari kosmos fisik yang geraknya dalam ruang dan waktu sedang diamatinya.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Penemuan keberadaan dan sifat elektron oleh J.J. Thomson pada 1897 menunjukkan bahwa kata “atom” adalah sebuah nama yang salah. Sebuah atom terbukti bukanlah sebuah entitas yang tak terbagi; ia adalah miniature tata surya. Strukturnya ditemukan oleh Ernest Rutherford (1871-1937) pada 1904. Dia mengidentifikasi nucleus atom, dan dia berhasil memecahnya pada 1919. Komposisi nucleus itu sendiri diungkap oleh penemuan James Chadwick tentang keberadaan dan sifat netron pada 1932. Temuan-temuan dalam fisika ini telah mendorong para fisikawan, atas inisiatif Niels Bohr (1885-1962), untuk mengakui sebuah kebenaran epistimologis. Sebuah peristiwa yang identik dapat dialami dengan dua cara yang bukan hanya berbeda tatapi tidak saling kompitabel dan tidak dapat dialami secara simultan. Namun, kedua cara ini sahih dan sangat diperlukan.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Karet dipakai untuk membuat bola bagi olahraga-olahraga keras di Meso-Amerika sebelum Cortes mendarat di sana. Minyak tanah menjadi sebuah bahan rahasia bagi senjatam mematikan Kekaisaran Romawi Timur, yaitu “api Yunani”. Periode 1871-1913 menyaksikan dua bahan mentah ini yang digunakan, secara berurutan, untuk membuat ban dan sebagai bahan bakar mesin-mesin pembakaran-dalam. Hal ini memungkinkan pembuatan mobil dan pesawat terbang yang dapat menempuh perjalanan panjang, dan temuan aviasi ini membuat manusia jadi makhluk di biosfir yang mampu terbang selain serangga, burung, dan kelelawar.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Temuan dan ciptaan terpenting yang dibuat selama seratus tahun terakhir adalah dalam ilmu kedokteran dan bedah. Kemajuan penggunaan obat bius (ditemukan pada 1840-an) memungkinkan para ahli bedah melakukan operasi-operasi yang sebelumnya mustahil, dan ini berpouncak pada transplantasi organ. Nyamuk diketahui sebagai pembawa demam kuning pada 1881 dan malaria pada 1897-9, dan temuan-temuan ini memungkinkan pencegahan terhadap kedua penyakit tersebut. DDT ( dichloro-diphenyl-trichloreothane ) ditemukan pada 1942 untuk membunuh serangga, yang merupakan pesaing pokok non-manusia bagi manusia untuk menguasai biosfir.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Temuan-temuan dan ciptaan-ciptaan Barat ini merupakan buah yang hebat dari semangat, imajinasi, dan akal manusia, tetapi pengaruh-pengaruh temuan dan ciptaan tersebut pada kehidupan manusia bersifat ambivalen. Misalnya, teknik aviasi Barat yang baru, jika digabungkan dengan temuan bahan peledak Cina yang lebih dahulu, memungkinkan negara-negara yang suka berperang menjatuhkan bom-bom dari udara. Senjata pemusnah ini dapat menyapu bersih baik tentara musuh maupun penduduk sipil yang telah, dengan perjuangasn keras sejak berakhirnya abad ke-17, dibedakan demi melindungi penduduk sipil dalam keadaan perang.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Kurang dari setengah abad setelah ditemukannya elektron pada 1897, dan hanya tiga belas tahun setelah ditemukannya netron pada 1932, dua bom berkekuatan amat besar dengan pemecahan nucleus-nukleus dan atom-atomnya dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Mobil memberi manusia mobilitas supertinggi yang tidak pernah dicapai sebelumnya, dan ini berakibat pada perluasan kota ke wilayah-wilayah pedesaan dan pada kemacetan jalan. Pada 2009, asap buangan mobil dan pesawat terbang mengancam rusaknya atmosfir bumi sehingga tidak dapat dihirup oleh manusia.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Penurunan angka kematian dan bertambah panjangnya usia harapan hidup berkat kemajuan ilmu kedokteran dan bedah yang luar biasa adalah berita gembira yang ditanggapi secara tak menyenangkan. Penurunan angka kematian, yang lebih cepat daripada penurunan angka kelahiran, menyebabkabn pertambahan penduduk dunia semakin tinggi. Kecanggihan medis untuk memperpanjang usia manusia menimbulkan pro dan kontra. Pertanyaan apakan perpanjangan ini akan atau tidak akan menciptakan kejahatan dalam kasus ini atau itu menimbulkan persoalan-persoalan moral yang sebelumnya tak terbayangkan oleh para dokter, pasien, keluarga, dan tenam-teman pasien.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Sebelum meletusnya Revolusi Industri, dua peran pokok pemerintah adalah menegakkan dan menjaga hukum dan ketertiban dalam negeri, dan memerangi pemerintah-pemerintah dan negara-negara asing. Kondisi kerja dan kehidupan sebuah kelas sosial baru, yakni kaum buruh pabrik mekanis, yang tidak manusiawi akibat Revolusi Industri memaksa pemerintah memainkan peran ketiganya: menjamin kesejahteraan sosial rakyatnya. Undang-undang pertama tentang perlindungan buruh pabrik dibuat di Inggris pada 1802. Di Jerman antara 1883 dan 1889, Bismarck memperluas peran sosial pemerintah dengan membuat undang-undang yang menjamin pemberian asuransi kepada orang-orang sakit, para korban kecelakaan, manula (manusia lanjut usia), dan orang-orang lemah lainnya. Standar-standar kemanusiaan Jerman yang baru ini ditiru oleh Inggris sebelum pecahnya Perang Dunia I.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Pengakuan bahwa pemerintah berkewajiban mencukupi kesejahteraan rakyatnya adalah sebuah kemajuan etis yang baik dalam bidang politik. Sekarang, sebagian besar negara industri menjadi sebuah organisasi kesejahteraan, selain organisasi penegak hukum dan penggelar perang. Akan tetapi, negara kesejahteraan ( welfare state ) masih menjadi sebuah isu kontroversial. Penyediaan layanan-layanan publik bagi mayoritas penduduk miskin menuntut pemungutan pajak pendapatan tambahan yang tinggi terhadap minoritas penduduk yang kaya. Oleh karena itu, penentangan kelompok minoritas terhadap undang-undang tentang jaminan kesejahteraan rakyat bukannya tidak membawa kepentingan tertentu, sehingga keberatan mereka yang bersifat etis dan psikologis itu mengundang kecurigaan.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Keberatan mereka adalah bahwa negara kesejahteraan akan melemahkan semangat para penerima layanan publik tersebut, dan pada akhir abad ke-20 pengalaman menunjukkan bahwa keberatan yang kedengarannya bagus itu sebagian dipicu oleh berbagai peristiwa. Di sejumlah negara yang telah begitu jauh memberikan layanan publik bagi kesejahteraan rakyat, pemahaman bahwa manusia itu sendirilah yang bertanggung jawab untuk mencukupi hidupnya melemah, standar kecakapan kerja menurun, dan –yang lebih membingungkan—kenaikan standar hidup diimbangi dengan menurunnya norma kejujuran. Selain itu, tumbuhlah sebuah minoritas miskin residual –sebagian adalah imigran sementara atau permanen dari negara-negara miskin—dengan kehidupan, terutama perumaham mereka, yang sangat buruk.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Di negara-negara yang masih didominasi oleh sektor ekonomi swasta dan yang pemerintahannya “demokratis” (yakni parlementer), undang-undang tentang kesejahteraan rakyat dengan dukungan serikat-serikat kerja memungkinkan mayoritas pekerja industri mengubah perimbangan daya tawar antara mereka dan kelas menengah. Para pekerja di kantor-kantor layanan publik yang bertugas memenuhi kebutuhan-kebutuhan material harian rakyat sekarang memiliki daya tawar yang sangat kuat. Para pekerja yang dimaksud adalah buruh pelabuhan, penambang, dan buruh di instansi-instansi penyedia listrik dan air dan pembuangan sampah. Sementara itu,daya tawar guru melemah, sebab guru tidak dapat segera melumpuhkan kehidupan masyarakat dengan mogok kerja, meskipun dalam jangka panjang peran sosial mereka setidaknya sama besar dengan peran buruh.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Para pedagang dengan daya tawar yang tinggi menjadi penguasa tertinggi dalam rezim ekonomi swasta. Mereka menentang gagasan untuk membatasi kebebasan penawaran kolektif. Keinginan mereka untuk mengeksploitasi daya tawar mereka yang semakin tinggi demi keuntungan mereka sendiri adalah alamiah, dan ini juga selaras dengan filosofi laissez-faire , yang pertama-tama diteriakkan oleh para pengusaha kelas menengah tetapi merugikan buruh industri. Sekarang, jelaslah bahwa mekanisme kerja secara progresif di seluruh dunia membuat kehidupan ini tidak toleran terhadap siapa saja, jika mekanisasi itu tidak diimbangi dengan peningkatan intervensi pemerintah secara progresif juga (inilah sosialisme, sebuah ideologi yang diimani kaum buruh industri secara lancing).

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Jika serikat-serikat kerja yang memiliki posisi tawar yang strategis menegaskan kekuatan mereka di negara-negara yang berpemerintahan parlementer, di Uni Sovyet buruh industri dan buruh tani diatur oleh pemerintahan yang otoriter. Pemerintah Uni Sovyet menganut ideologi Marx tetapi tidak mengubah praktik-praktik pendahulunya, Tsar. Lenin (Vladimir Ilyich Ulianov, 1870-1924), salah seorang tokoh besar abad ke-19, mengguling rezim yang dibangun di atas kekuatan tentara dengan mendirikan rezim yang lebih kuat tetapi sama karakternya. Lenin dan para penerusnya di Kremlin juga mengikuti langkah Peter Agung dalam memodernisasi teknologi Rusia secepat mungkin.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Revolusi Rusia pada 1917 dimotori oleh minoritas intelligentsia Marxis sayap (“mayoritarian”) Bolshevik dan dibantu oleh kaum petani. Kaum petani Rusia ingin memiliki tanah, sedangkan kaum petani Prancis telah memperolehnya selama Revolusi Prancis pada 1798-97. Akan tetapi, di Rusia Komunis tanah dengan cepat dinasionalisasi dan digarap dalam unit-unit yang berskala besar. Tujuan kebijakan ini sama dengan tujuan dibuatnya Enclosure Acts di Inggris, yaitu untuk meningkatkan produktivitas. Namun, di Uni Sovyet sampai sebelum berhembusnya glasnost dan perestroika yang dihembuskan pemimpin terakhirnya, Mikail Gorbachev, kebijakan tersebut tetap mendapatkan perlawanan pasif dari kaum petani.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Dengan cara otoriter, Uni Sovyet, sebagaimana Inggris pada waktu itu, adalah sebuah negara kesejahteraan, yang berkebalikan dengan rezim Tzar sebelumnya di Rusia. Misalnya, pemberantasan buta huuruf telah dilakukan secara besar-besaran, dan kekayaan telah didistribusikan secara lebih merata. Akan tetapi, semua negara kesejahteraan, apapun warna ideologis mereka, tetap menjadi negara-negara penggelar perang. Dua perang dunia, 1914-18 dan 1939-45, melebihi perang-perang saudara di Cina pada 1850-73 dalam hal jumlah korban dan besarnya kerusakan yang ditimbulkan. Semua perang itu jahat, termasuk perang-perang singkat Bismarckian dengan tujuan-tujuan yang terbatas. Kejahatan dua perang dunia pada abad ke-20 diperburuk oleh “genosida” (pemusnahan penduduk sipil). Dalam Perang Dunia I, pasukan Turki melakukan genosida terhadap penduduk Armenia, sedangkan dalam Perang Dunia II tentara Jerman melakukannya terhadap kaum Yahudi.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Insiden-insiden dalam Perang Dunia itu yang memperlihatkan kejahatan dan kedunguan manusia dan masih bisa dibaca oleh anak cucu kita secara jelas adalah perlawanan rakyat Turki pada 1919-22 terhadap para pemenang Perang Dunia I, dan perlawanan rakyat Inggris pada 1940-1 terhadap tentara Jerman yang saat itu menjadi pemenang untuk sementara waktu. Rakyat kedua bangsa ini memiliki semangat untuk melawan, meskipun mereka menghadapi kebengisan dan tidak melihat kemungkinan untuk mengelak dari kekalahan dan kehancuran. Mereka beruntung memiliki pemimpin-pemimpin –Kamal Ataturk dan Winston Churchill—yang membangkitkan semangat bersama untuk mengatasi kesulitan pada saat yang genting itu.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Ataturk memimpin rakyat Turki bukan hanya untuk memenangkan perang demi mempertahankan kelangsungan hidup mereka, tetapi juga untuk melakukan Westernisasi yang revolusioner guna melanjutkan apa yang telah dirintis oleh Mahmud II. Ataturk, seperti Lenin, adalah seorang intelligentsia yang menumbangkan rezim yang membentuk kelas ini di negaranya. Ataturk juga bertindak seperti Lenin dalam menggunakan kekerasan untuk menuntaskan pekerjaan penting. Mahatma Gandhio (1869-1948) juga seorang intelligentsia yang melakukan revolusi politik. Namun strateginya adalah non-kekerasan dan non-kerja sama, dan tujuan ekonominya adalah, bukan mengantarkan India ke dunia industri dengan segenap peralatan mekaniknya, melainkan memotong ikatan-ikatan ekonomi India dari dunia industry tersebut.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Rakyat India tidak memenuhi seruan Gandhi untuk kembali ke metode-metode produksi industr pramekanis, dan akhirnya mereka gagal mewujudkan ideal dan praktik Gandhi untuk menghindari penggunaan kekerasan. Ketika, pada 1947, Inggris pergi dari India dan Kerajaan India-Inggris dibagi menjadi Uni India dan Pakistan, orang-orang Hindu dan Muslim saling melakukan genosida sembari saling memisahkan diri. Pada akhirnya, inilah biaya penghapusan imperialisme Barat di anak benua India yang harus dibayar mahal.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Penguasa-penguasa Barat yang menjajah rakyat non-Barat bersalah atas berbagai perilaku kejam mereka –misalnya, pembunuhan rakyat India oleh pasukan Inggris di Amritsar pada 1919, dan luka dan cacat yang menimpa orang-orang yang masih bisa bertahan hidup. Akan tetapi, penghapusan kerajaan-kerajaan kolonial juga disertai dengan perilaku kejam terhadap rakyat yang diberi kemerdekaan. Di anak benua India, pembantaian orang-orang Muslim dan Hindu secara timbal balik pada 1947 kemudian disusul di Bangladesh dengan pembantaian serupa antara kaum Muslim yang berbahasa Urdu dan yang berbahasa Bengali. Sebelum tentara India menyerang tentara Pakistan di Bangladesh, telah ada rasa permusuhan di perbatasan barat antara dua negara-penerus Kerajaan India-Inggris itu. Kevakuman akibat dihapusnya kerajaan-kerajaan kolonial Eropa Barat membuka jalan pecahnya perang-perang saudara dan aksi-aksi kekerasan terhadap penduduk sipil Vietnam, Sudan Selatan, Burundi, Kongo, dan Nigeria. Meledaknya aksi kekerasan ini adalah biaya pembebasan politik yang harus dibayar. Kerajaan-kerajaan kolonial ini dipaksakan kepada penduduk taklukan demi tujuan-tujuan pendiri kerajaan itu sendiri. Namun, pembentukan kerajaan-kerajaan kolonial ini mempunyai sebuah dampak insidental, yaitu memberi penduduk taklukan perdamaian domestik selama rezim-rezim asing itu masih berkuasa.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Pada akhir abad ke-20 wilayah-wilayah non-Eropa di bawah kekuasaan negara-negara Eropa Barat telah berkurang sehingga tinggal beberapa semenanjung dan pulau, kecuali wilayah-wilayah taklukan Portugal di daratan utama Afrika. Akan tetapi, di Afrika Selatan, orang-orang asli Eropa yang independen secara politis masih menguasai mayoritas penduduk Afrika, dan di Palestina rumah-rumah dan harta benda orang-orang pribumi Arab Palestina diambilalih oleh warga Israel imigran. Selain itu, di sejumlah negara Afrika, kekuasaan Eropa Barat telah digantikan oleh dominasi sekelompok penduduk lokal Afrika atas tetangga-tetangga mereka yang lemah. Cengkraman bekas Kekaisaran Rusia dan Cina atas penduduk Asia non-Rusia dan non-Cina memperkenalkan rezim-rezim komunis kepada mereka. Kerajaan-kerajaan kolonial darat milik dua negara kontinental ini hidup lebih lama daripada kerajaan-kerajaan kolonial transmarine milik negara-negara Eropa Barat yang seumur jagung.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Sebelumnya telah disebutkan bahwa secara politis ekumene terbagai menjadi negara-negara lokal yang berdaulat, sedangkan di bidang teknologi dan ekonomi ekumene menjadi sebuah satu-kesatuan global. Ketidaksesuaian di bidang politik pada satu pihak dan di bidang teknologi dan ekoniomi pada pihak lain ini adalah akar penderitaan umat manusia. Maka, sebenarnya sekarang ini dibutuhkan suatu bentuk pemerintahan global untuk menjaga perdamaian antara sebuah komunitas lokal dan komunitas lainnya, dan untuk membangun kembali keseimbangan antara manusia dan bagian dari biosfir lainnya. Sebab, sekarang ini keseimbangan tersebut telah dirusak oleh semakin besarnya kekuatan material manusia akibat dari Revolusi Industri.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Kebesaran dan impersonalitas peristiwa-peristiwa yang berskala global itu menakutkan. Generasi yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan kelangsungan hidup umat manusia justru mengancamnya dengan memecah belah keutuhan kehidupan dunia jadi semakin banyak bagian yang lebih kecil. Bertambah banyaknya negara lokal berdaulat seiring dengan bertambah banyaknya “disiplin” akademis, dan halm ini membuat dunia bisnis tidak bisa diatur dan informasi tidak bisa dimengerti. Kekacauan ini tidak sedang diatasi, tetapi justru dibiarkan menggurita sampai pada tingkat yang sama sekali tidak bisa dikendalikan.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Umat manusia sedang mengalami krisis yang sama buruknya dengan dua perang dunia terdahulu. Keadaan ini sangat membingungkan. Senyatanya, manusia masih mempunyai harapan untuk bertahan hidup di boisfir ini selama 2.000 juta tahun mendatang, jika perilakunya tidak terlalu cepat membuat biosfir ini segera tak bisa ditinggali lagi. Kini, manusia mempunyai kekuatan material untuk membuat biosfir ini segera tak bisa ditinggali lagi. Karenyanya, mungkin orang-orang yang masih bisa menghir upudara segar sebentar lagi akan dilibas oleh bencana buatan manusia yang menghancurkan biosfir dan manusia beserta seluruh bentuk kehidupan lainnya.

seperti di kutip dari https://aners.wordpress.com

Masa depan biosfir ini tidak diketahui karena ia belum datang. Potensi-potensi biosfir ini sesungguhnya tak terbatas. Maka, masa depan tidak dapat diprediksi dengan menghitung-hitung masa lampau. Apa yang telah terjadi kemarin niscaya dapat terulang kembali, jika kondisi-kondisinya tetap sama. Akan tetapi, masa lampau tidak mesti terulang; keterulangan ini hanyalah salah satu dari kemungkinan-kemungkinannya yang tak diketahui jumlahnya. Sebagian kemungkinan tidak terlihat karena tidak memiliki preseden, dan memang sebelumnya tidak ada preseden yang mengindikasikan betapa besarnya kekuasaan manusia atas biosfir selama dua abad lebih (sejak 1763). Dalam situasi yang membingungkan ini, hanya ada satu prediksi yang pasti benar. Manusia, anak dari bumi sang ibu pertiwi, tidak akan membunuh ibunya sendiri jika ia peduli kepadanya. Dan, hukumaan atas pembunuhan ini, jika benar-benar terjadi, adalah pembinasaan diri manusia itu sendiri.


Baca juga :

Lee Pil Mo as Yoon Sang Woo Dia adalah pilot pesawat junior dan mantan tunangan Shin Young. Dia seorang pria romantis dengan kepribadian mempesona, dia juga suka olah raga. Meskipun ia masih mencintai Shin Young, Shin Young sekarang berkencan dengan pria yang berusia 12 tahunlebih muda darinya. Sang Woo mencoba memperbaiki hubungannya dengan Shin Young tapi tidak berhasil. Lalu suatu hari ia bertemu dengan pemilik rumahnya yang sudah menikah dan berusia 8 tahun lebih tua. Mereka terlibat affair. Ternyata wanita itu adalah ibu dari pacar Shin Young yang sekarang. (Nah lo..)

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Song Yi adalah seorang gadis dengan hati yang murni dengan temperamen buruk. Dia ditipu dan dipermalukan oleh “sahabat” Hee Won sebagai seorang anak. Sejak saat itu, Hee Won selalu menjadi putri dan sukses sementara orang mengira Song Yi sebagai anak jahat. Ketika Song Yi tidak punya pekerjaan, Hee Won diperkenalkan ke taman hiburan bahwa dia bertanggung jawab atas. Di sana ia menemukan teman masa kecilnya dan mantan menghancurkan Hyun Sung, Hee Won yang telah “mencuri” ketika mereka masih anak-anak. Sejak saat itu, Hee Won mencoba mempermalukan Song Yi berkali-kali, membingkai dirinya dalam banyak situasi yang Hee Won telah menciptakan dirinya sendiri. Untuk membalas Hee Won, dia memutuskan untuk memecah kereta api yang meluncurkan taman sehingga Won Hee akan disalahkan. La tidak tahu bahwa ia menimbulkan lebih banyak kerusakan dan bahwa kereta terbakar. Apa yang lebih buruk adalah bahwa putra presiden taman itu di kereta api. Dikuasai oleh rasa bersalah, Song Yi risiko hidupnya sendiri untuk menyelamatkan kehidupan Seung Joon. Seung Joon jatuh cinta dengan Song Yi berani untuknya semangat dan sikap menarik, tapi apa yang akan terjadi pada hubungan mereka ketika Hee Won memperlihatkan kepada dunia tentang apa yang telah dilakukan?

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Sinopsis Maeng Sun-yi mengorbankan masa kecilnya dan pemuda untuk merawat ayahnya, yang mulai minum banyak setelah ibunya meninggalkan mereka ketika ia berusia 10, dan dua adik. Dia bahkan menyerahkan pendidikan sendiri karena ia harus bekerja keras untuk mendapatkan iuran kedua saudaranya. Dia menikah dengan seorang pria bernama bulan Ban Sung-, lima tahun lebih muda, dan memiliki dua anak perempuan dengan dia. Hidupnya terus hadiahnya dengan penderitaan tak berujung tapi dia hanya percaya bahwa itu adalah “kebahagiaan”. Suatu hari suaminya jatuh cinta dengan wanita yang diceraikan menarik dan menuntut perceraian dari Sun-yi. kakak Sun-yi muda, Maeng Young-yi, adalah wanita karir yang sukses. Dia kencan cinta pertamanya Lee Jung-do, yang kini menikah dengan wanita lain dan yang putus dengan dia demi karirnya di masa lalu.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Cast : Kim Jae Won as Choi Kwan Woo Kim Ha Neul as Kim Chae Won Jung Sung Hwan as Lee Eun Suk (Chairman’s son) Kim Yoo Mi as Choi Yun Hee (Kwan Woo’s sister) Han Hye Jin as Yoon Ji Soo (Kwan Woo’s classmate) Kim Hae Sook as Oh Young Suk (Kwan Woo’s mother) Hyun Suk as Choi Jang Soo (Kwan Woo’s father) Go Myung Hwan as Kim Bong Kyun Shim Yang Hong as Kim Dae Kun (Chae Won’s father) Park Won Sook as President Yoon Mi Hee (Chae Won’s mother) Kim Yong Gun as Chairman Lee Young Kyu (Eun Suk’s father) Ahn Yeon Hong as Suh Min Joo (Chae Won’s roommate) Moon Ji Yoon as Choi Jang Bi (Kwan Woo’s brother) Lee Byung Joon as Choi Gong Myung (Kwan Woo’s half-brother) Jung Kyung Soon as a female teacher who smokes Kang Rae Yun as So Young’s friend Kim Kyo Chul Lee Eung Kyung

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Chae Won (Kim Ha Neul) dan Kwan Woo (Kim Jae Won) bertemu untuk pertama kalinya di sebuah desa pinggir pantai festival bunga pedesaan. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama, bukan dalam mimpi mereka telah mereka tahu bahwa Chae Won adalah guru di sekolah tinggi Kwan Woo’s. Kedua kalinya mereka bertemu berada di kelas dimana mereka menyadari situasi dan menjadi bingung dan malu. Kisah cinta antara dua orang muda adalah tumpang tindih dengan kisah sukses penuh air mata Kwan Woo dan ini mengilhami para pemirsa dengan emosi tinggi.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Sinopsis : Sad Sonata adalah sebuah kisah cinta tentang dua laki-laki dan satu perempuan. Kaum muda Joon-muda (Kwon Sang Woo), yang dibesarkan oleh ibunya yang menjual minuman keras untuk tentara Amerika, bertemu orang buta Hae-in (Kim Hee Sun) dan mereka menjadi kekasih masa kanak-kanak. Kemudian, Hae-in berimigrasi ke Amerika Serikat berikut bibi dan pamannya [tentara Amerika yang menikah bibinya]. Di sana ia bertemu dengan Gun-woo (Yeon Jung Hoon), yang merupakan teman Joon-muda terbaik dan anak orang yang sangat kaya. Setelah dia menerima surat dari Hwa-jung mengatakan bahwa Joon-muda sudah mati, dia menerima Gun-woo cinta. Setelah operasi, Hae-in yang dapat melihat lagi. Cerita mengambil lagi ketika Joon-komposer muda, penyanyi Hae-In, dan produser musik Gun-woo semua bertemu lagi.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Adaptasi modern kisah Chun Hyang berfokus pada kisah cinta antara Chun Hyang dan Mong Ryong. Chun Hyang (diperankan oleh Han Chae Young) dikisahkan sebagai pelajar SMA yang cerdas, baik hati, pekerja keras, berbakat dalam mendesain perhiasan dan tegas. Dilahirkan dari keluarga miskin dan memiliki seorang ibu yang berprofesi sebagai penyanyi di klab malam, Chun Hyang berjuang keras untuk tetap menjadi rangking 1 di sekolah seraya bekerja paruh waktu guna mencukupi kebutuhan hidup dan biaya kuliah di masa datang.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Saat mengunjungi Chun Hyang yang sedang sakit di rumahnya karena keisengannya, Mong Ryong tanpa sengaja meminum minuman keras yg dikiranya sari buah dan kemudian mabuk, hingga tidur di sebelah Chung Hyang yang sedang sakit sampai pagi. Akibat hal tersebut, orang tua mereka sangat malu dan bermaksud menikahkan mereka dan mereka harus tetap melanjutkan sekolah. Padahal, Mong Ryong masih mencintai kakak kelasnya di Seoul, Chae Rin (Park Shi Eun). Setelah ditolak Chae Rin, keduanya memutuskan untuk menikah dan tetap bersekolah. Chae Rin perlahan merasa kehilangan Mong Ryong dan meminta pemuda itu kembali padanya. Di lain pihak, Chun Hyang mulai mendapatkan simpati dari Byun Hak Doo (Uhm Tae Woong), pemilik sebuah preusan entertainment yang tampan dan kaya raya namun berhati dingin. Saat simpati tersebut berubah menjadi obsesi, Direktur Byun mencari berbagai cara untuk memisahkan Chun Hyang dan Mong Ryong yang sedikit demi sedikit mulai saling mencintai.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Berbagai gangguan datang dari Chae Rin dan Direktur Byun namun mereka malah semakin dekat dan akhirnya bermaksud menggelar resepsi pernikahan. Dirktur Byun tidak terima dengan keadaan ini dan merancang sebuah jebakan agar Mong Ryong dipenjara. Dia mendapatkan janji Chun Hyang untuk meninggalkan Mong Ryong dan bertunangan dengannya seta berangkat ke Jepang bersama sebagai syarat agar Mong Ryong dibebaskan. Chun Hyang bercerai dari Mong Ryong dan naik pesawat bersama Direktur Byun ke Jepang. Namun ia berhasil lari dari Direktur Byun dan memulai hidup barunya, menjalankan bisnis aksesoris hingga menjadi menjadi seorang bos perusahaan aksesoris di Busan.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Waktu terus berlalu, Mong Ryong kini adalah seorang jaksa dan mengira Chun Hyang masih di Jepang. Direktur Byun terus mencari Chun Hyang dan akhirnya berhasil mendapatkan gadis itu tengah menghadiri pernikahan sahabat dekatnya semasa SMA secara sembunyi-sembunyi. Direktur Byun meminta Chun Hyang kembali padanya, namun ditolak dan Chun Hyang mengancam akan pergi ke luar negeri. Mong Ryong akhirnya berhasil menemukan Chun Hyang dan mulai mengusut kembali kasus yang pernah membuat ia dipenjara. Akhirnya dalam sebuah konferensi pers, Direktur Byun mengakui perbuatannya dan merelakan Chun Hyang dan Mong Ryong kembali bersama.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Style Drama ini akan mulai tayang di Indonesia pada tanggal 24 FEB, Senin-Jumat 15.00 Wib di indosiar. So, gue tampilin sinopsis nya!! Broadcast Network: SBS Director: Oh Jong Rok  Scriptwriter: Ku Ji Won, Moon Ji Young Novelist: Baek Young Ok  Producer: Yeh In Munhwa  Cast: Ryu Si Won , Lee Ji Ah, Kim Hye Soo, Lee Yong Woo , Han Chae Ah, Kim Si Hyang  Episode :16 episode. Official site: Debuts 1 August 2009, at 9:55 PM Korea Time as Sat/Sun drama (replacing Brilliant Legacy/Shining Inheritance)

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Seo Jung Lee baru – baru ini bergabung dengan sebuah perusahaan majalah mode yang bernama “STYLE”. Bosnya, Editor Park, dibenci oleh karyawannya karena kebiasaan buruknya yang suka marah – marah. Seperti yang diketahui, Seo Jong pun sedang mencoba untuk menjajaki perusahaan ini meskipun dia menyadari bahwa dunia mode bukanlah tempat yang menarik. Romance, pengkhianatan, persaingan, dan kebohongan semua datang bersama pada tempat ini. Namun, ia bertemu Seo Woo Jin yang membantu dirinya selama masa-masa sulit ini. Lalu apakah dia tahu kalau sebenarnya Jin Woo adalah mantan pacar bosnya.Bagaimana hal ini akan mempengaruhi pekerjaan Seo Jung di dunia mode?

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Style adalah sebuah novel yang ditulis oleh Baek Young-ok, seorang mantan wartawan mode.Pada Style, si karakter utama, Lee Seo Jung adalah wartawan wanita di sebuah majalah fashion. Ini akan memberikan suatu pengetahuan tentang dunia fashion dan kemewahan terhadap orang – orang awam.Ini juga berkaitan dengan politik kantor, persaingan sengit di dunia mode dan industri. Style telah disamakan dengan The Devil Wears Prada, cerita fiksi tentang seorang perempuan muda yang mempunyai pengalaman bekerja untuk sebuah majalah fashion top di New York.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Yoo Min-woo adalah seorang pria yang sudah tidak percaya akan cinta, pasalnya menjelang pernikahan, nyawa sang tunangan Eun-hye melayang akibat sebuah kecelakaan. Namun, semuanya berubah saat ia bertemu dengan Shim Hye-won, gadis yang memiliki masalah pada jantungnya. Pertemuan yang terjadi di lokasi pegunungan tersebut membuat pria itu heran campur bingung, pasalnya Hye-won memiliki banyak persamaan dengan tunangannya yang telah tiada, sampai-sampai Min-woo mengira gadis itu adalah reinkarnasi dari Eun-hye. Hye-won sendiri bingung karena hatinya kerap bergetar saat melihat sosok pemuda itu.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Belakangan baru ketahuan apa yang menjadi penyebab perubahan sikap Hye-won : rupanya gadis itu mendapat transplantasi jantung dari donor yang tak lain adalah Eun-hye. Hal inilah yang diduga membuat sifat dan kesukaan gadis itu semakin mirip sang donor, dan membuat hubungan Hye-won dan Min-woo yang nyaris bersatu jadi berantakan. Hye-won bingung dan mengganggap rasa berdebar-debar ketika berpapasan dengan Min-woo adalah keinginan pendonornya, bukan keinginannya sendiri. Ia merasa hatinya dikuasai oleh si pendonor : Eun-hye.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Sinopsis : Yeon Woo (Song Hye Kyo) dibesarkan dalam keluarga bahagia yang penuh kasih. Suatu hari, ayahnya telah meninggal secara misterius, dan ibunya menikah lagi seorang pria yang 10 tahun lebih muda dari dia. Kemalangan pernah datang sendiri-sendiri. Ibunya meninggal karena penyakit Wilson dan ayah tirinya kabur dengan uang. Min Ho (Ryu Seung Bum), seorang teman lama miliknya, selalu ada untuk menghiburnya. Min Ho memutuskan untuk menjadi seorang polisi untuk menangkap seorang pembunuh yang membunuh ayah Yeon Woo’s. Eun Sup (Jo Hyun Jae) datang kembali ke Korea dengan tujuan tunggal untuk menghentikan kekasihnya Soo Ah (Choi Yoo Jung) dari menikah, tapi Soo Ah memberinya penolakan langsung. Untuk membuat masalah lebih buruk, ayahnya mengirim orang ke hotel untuk menangkapnya. Dia lari dari hotel dan dia sengaja jatuh ke jalur kereta bawah tanah dan menjadi sadar. Yeon Woo melihat seluruh pemandangan di platform dan menyelamatkan nyawanya. Eun Sup bertanya apakah ia bisa tinggal di tempatnya sementara karena ia tidak punya tempat untuk pergi. Jadi Yeon Woo, Min Ho dan Eun Sup semua mulai tinggal di rumah yang sama.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Seperti kebanyakan drama Korea yang lain, Winter Sonata merupakan kisah percintaan yang mampu membius penontonnya. Kisah drama ini adalah tentang cinta pertama mempunyai kekuatan yang sangat besar. Kekuatan itu mampu menyatukan dua sejoli meski banyak hal menjadi perintang hubungan mereka. Hampir bisa dipastikan Anda pasti menyukai serial Korea buatan tahun 2002 ini. Selain jalinan cerita yang yang dikemas sangat indah, latar belakang musim dingin merupakan paronama yang sangat menawan untuk ditonton.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Bae Yong-jun sebagai  Kang Joon-sang/Lee Ming-hyeong   Pria yang sama namun mempunyai sifat yang bertolak-belakang. Joon-sang adalah seorang pria dengan kecerdasan di atas rata-rata namun hidupnya dipenuhi kemuraman dan sangat tertutup sampai ia bertemu Yoo-jin. ‘Kematian’ membawanya ke Amerika dengan identitas baru sebagai Joon-sang, seorang pria penuh senyum, ramah, dan sensitif. Nasib membuatnya kembali jatuh cinta dengan Yoo-jin meski tidak mengingat sedikitpun tentang masa lalunya sampai menjelang akhir cerita.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Choi Ji-woo sebagai  Jung Yoo-jin Sifat cerianya semasa remaja ikut mati bersama dengan meninggalnya Joon-sang, Yoo-jin menjelma menjadi seorang pekerja keras. Pertunangannya dengan Sang-hyuk berantakan setelah bertemu dengan Min-hyung yang sangat mirip dengan Joon-sang. Meski sempat bimbang, akhirnya ia dengan mantap memilih untuk bersama Joon-sang, hanya untuk menemui kenyataan pahit bahwa pria yang dicintainya kemungkinan adalah kakak tirinya. Setelah semuanya terungkap, kekuatan cinta akhirnya mempersatukannya dengan Joon-sang setelah melewati rintangan selama 14 tahun.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Park Yong-ha sebagai  Kim Sang-hyuk Pria pendiam yang mencintai Yoo-jin sejak masih kecil. Ia merasa terganggu oleh kehadiran Joon-sang yang mampu memikat gadis pujaannya. Menemani Yoo-jin melewati masa berkabung dan nyaris menikahi gadis itu, sifatnya mulai berubah seiring dengan kemunculan Min-hyung. Kebenciannya pada pria itu semakin bertambah setelah mengetahui Min-hyung adalah Joon-sang yang juga kakak tirinya. Namun menjelang akhir cerita, ia juga yang memohon supaya Joon-sang tidak meninggalkan Yoo-jin.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Sinopsis Lee Se-na adalah putri hanya dari latar belakang kaya. Karena dibesarkan dimanjakan, dia percaya bahwa dia bisa mendapatkan apa pun yang dia inginkan jika dia menetapkan hatinya untuk itu. Dia bertemu Han Seung-Woo, seorang diplomat buatan sendiri, yang tidak-begitu-diam-diam jatuh cinta dengan anak temannya Yoon-su, saat ini di Jepang dengan tunangannya, rekan Seung-Woo Jin-Hui. Se-na langsung jatuh cinta pada Seung-Woo, yang bertanya apa dia berpikir arti pernikahan. Dalam pernikahan berikutnya mereka, nilai-nilai mereka dipertanyakan sebagai kepercayaan yang lengkap Se-na di Seung-Woo menghancurkan dengan realisasi kebahagiaan Yoon-su dan hubungan Seung-Woo, dan Seung-Woo di perkawinan menghancurkan dengan ketidakpercayaan Se-na’s memperdalam dan sendiri hubungan dengan Jin-Hui.

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Cast * Kim Jae Won as Han Seung Wan * Eugene as Jung Se Jin * Lee Ji Hoon as Min Do Hyun * Han Eun Jung as Lee Chae Young * Joo Hyun as Han Bum Soo (Seung Wan’s father) * Sun Woo Yong Nyeo as Yoon Tae Hee (Seung Wan’s mother) * Kim Hye Ok as Pyo Jae Kyung (Se Jin’s mother) * Choi Joon Yong as Han Seung Pil (Seung Wan’s older brother) * Yoon Hyun Sook as Baek Hyun Joo (Seung Pil’s wife) * Kim Hyo Jin as Jung Il Jin (Se Jin’s older sister) * Kim Seung Min as So Chang Myung (Seung Wan & Do Hyun’s flying academy classmate) * Jung Da Bin as Han Shin Bi (Seung Wan and Se Jin’s daughter) * Lee Hye Sook as Do Hyun’s stepmother

seperti di kutip dari https://avrilend.wordpress.com

Sinopsis : Han Seung Wan dan Se Jung Jin menabrak satu sama lain di bandara dan tidak sengaja mengambil paspor masing-masing. Mereka bertemu lagi dan Seung Wan dan Se Jin akhirnya menghabiskan hari bersama-sama. Keduanya harus berurusan dengan komplikasi cinta, mereka akhirnya mabuk dan memiliki satu malam berdiri. Kembali di Korea, Se Jin menemukan dia sedang hamil dan daun untuk memiliki bayi sendiri. Setahun kemudian, adik clueless Se Jin akhirnya menumpahkan rahasia untuk Seung-Wan di pesta pertunangan nya, muncul dengan bayi perempuannya. Seung-wan dan Se Jin kemudian dipaksa menikah oleh keluarga masing-masing. cinta yang rumit terjadi antara Do Hyun, Se Jin, Chae Young dan Seung-Wan. Sisa dari cerita berputar di sekitar perjalanan keluarga dalam belajar untuk mengambil tanggung jawab, dan belajar untuk saling mencintai.


Baca juga :

Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450. Ayah beliau adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar . Jamaluddin Akbar adalah seorang Muballigh dan Musafir besar dari Gujarat , India yang sangat dikenal sebagai Syekh Mawlana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Mawlana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath , ulama besar di Hadramawt, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucu beliau Imam Husayn.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pertemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir , tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika itu, pertemuan mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro , Karawang (tempat belajar Nyai Subang Larang ibunda dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh Kahfi , Cirebon (tempat belajar Kiyan Santang kakanda dari Rara Santang).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana beliau memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo . Pada masa ini beliau berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Mawlana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dalam perundingan terakhir yang sangat menentukan dari riwayat Pakuan ini, sebagian besar para Pangeran dan Putri-Putri Raja menerima opsi ke 1. Sedang Pasukan Kawal Istana dan Panglimanya (sebanyak 40 orang) yang merupakan Korps Elite dari Angkatan Darat Pakuan memilih opsi ke 2. Mereka inilah cikal bakal Penduduk Baduy Dalam sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga karena keturunan dari 40 pengawal istana Pakuan. Anggota yang tidak terpilih harus pindah ke pemukiman Baduy Luar .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sejarah membuktikan hingga penyelidikan yang dilakukan para Arkeolog asing ketika masa penjajahan Belanda, bahwa istana Pakuan dinyatakan hilang karena tidak ditemukan sisa-sisa reruntuhannya. Sebagian riwayat yang diyakini kaum Sufi menyatakan dengan kemampuan yang diberikan Allah karena doa seorang Ulama yang sudah sangat sepuh sangat mudah dikabulkan, Syarif Hidayat telah memindahkan istana Pakuan ke alam ghaib sehubungan dengan kerasnya penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tidak menerima Islam ataupun sekadar keluar dari wilayah Istana Pakuan.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kerajaan Sumedang Larang (kini Kabupaten Sumedang ) adalah salah satu dari berbagai kerajaan Sunda yang ada di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Terdapat kerajaan Sunda lainnya seperti Kerajaan Pajajaran yang juga masih berkaitan erat dengan kerajaan sebelumnya yaitu ( Kerajaan Sunda-Galuh ), namun keberadaan Kerajaan Pajajaran berakhir di wilayah Pakuan , Bogor , karena serangan aliansi kerajaan-kerajaan Cirebon, Banten dan Demak (Jawa Tengah). Sejak itu, Sumedang Larang dianggap menjadi penerus Pajajaran dan menjadi kerajaan yang memiliki otonomi luas untuk menentukan nasibnya sendiri.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama Hindu , yang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung ( Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII. Kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela , diganti menjadi Himbar Buana , yang berarti menerangi alam, dan kemudian diganti lagi menjadi Sumedang Larang (Sumedang berasal dari Insun Medal/Insun Medangan yang berarti aku dilahirkan, dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun , seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran Santri (1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi , seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya, Pangeran Santri. Beliau menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata/Rangga Gempol I atau yang dikenal dengan Raden Aria Suradiwangsa menggantikan kepemimpinannya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620 M Sumedang Larang dijadikannya wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung , dan statusnya sebagai ‘kerajaan’ dirubahnya menjadi ‘kabupaten’. Hal ini dilakukannya sebagai upaya menjadikan wilayah Sumedang sebagai wilayah pertahanan Mataram dari serangan Kerajaan Banten dan Belanda , yang sedang mengalami konflik dengan Mataram. Sultan Agung kemudian memberikan perintah kepada Rangga Gempol beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang , Madura . Sedangkan pemerintahan untuk sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Agama Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana disebarkan di pelosok kepulauan Melayu dan Palembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pada tahun 1017 , 1025 , dan 1068 , Sriwijaya telah diserbu raja Chola dari kerajaan Colamandala (India) yang mengakibatkan hancurnya jalur perdagangan. Pada serangan kedua tahun 1025, raja Sri Sanggramawidjaja Tungadewa ditawan. Pada masa itu juga, Sriwijaya telah kehilangan monopoli atas lalu-lintas perdagangan Tiongkok – India . Akibatnya kemegahan Sriwijaya menurun. Kerajaan Singhasari yang berada di bawah naungan Sriwijaya melepaskan diri. Pada tahun 1088 , Kerajaan Melayu Jambi , yang dahulunya berada di bawah naungan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya taklukannya. Kekuatan kerajaan Melayu Jambi berlangsung hingga dua abad sebelum akhirnya melemah dan takluk di bawah Majapahit.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kerajaan Melayu Jambi adalah nama sebuah kerajaan tua di Nusantara. Kerajan Melayu Jambi pernah ditaklukan oleh kerajaan besar yang ada diindonesia seperti Sriwijaya , Singhasari , dan Majapahit . Sebelumnya kerajaan ini mempunyai peran penting di sumatera dan selalu bersahabat dengan negara tetangga seperti Cina, dan lain-lain. Dan juga merupakan kerajaan besar terletak di propinsi Jambi saat ini. Dan pernah pula setelah Sriwijaya diujung tanduk setelah ditaklukan majapahit menjadi bagian dari melayu Jambi,sampai pada memeluk kesultanan Islam, dan sampai pada kolonialis Belanda tiba.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Di tahun 1288, Kerajaan Dharmasraya , termasuk Kerajaan Sriwijaya , menjadi taklukan Kerajaan Singhasari di era Raja Kertanegara , dengan mengirimkan Senopati Mahisa/Kebo/Lembu Anabrang , dalam ekspedisi PAMALAYU 1 dan 2. Sebagai tanda persahabatan, Dara Jingga menikah dengan Senopati dari Kerajaan Singasari tersebut. Mereka memiliki putra yang bernama Adityawarman , yang di kemudian hari mendirikan Kerajaan Pagaruyung , dan sekaligus menjadi penerus kakeknya, Mauliwarmadhewa sebagai penguasa Kerajaan Dharmasraya berikut jajahannya, termasuk eks Kerajaan Sriwijaya di Palembang . Anak dari Adityawarman, yaitu Ananggavarman / Ananggawarman menjadi penguasa Palembang di kemudian hari. Sedangkan Dara Jingga dikenal sebagai Bundo Kandung / Bundo Kanduang oleh masyarakat Minangkabau .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Setelah melaksanakan tugasnya dengan sebaik baiknya, Mahesa/Kebo/Lembu Anabrang yang telah mempersunting Dara Jingga yang melahirkan Adityawarman kembali ke pulau Jawa untuk menemui Baginda Kertanegara. Setelah sampai di pulau Jawa, ternyata Baginda Kertanegara telah tewas, dan Kerajaan Singasari telah musnah oleh Jayakatwang, Raja Kediri. Jayakatwang itu sendiri telah tewas dibunuh pasukan Mongol yang akhirnya diserang oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit yang merupakan lanjutan dari Kerajaan Singasari.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Raden Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal , keturunan keempat dari Ken Arok dengan Ken Dedes , pendiri Singhasari . Ia dibesarkan di lingkungan kerajaan Singhasari. Raden Wijaya kemudian menikah dengan empat puteri dari raja Kertanagara , yaitu: Tribuaneswari (Sri Parameswari Dyah Dewi Tribuaneswari), Narendraduhita (Sri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita), Pradjnya Paramita (Sri Jayendra Dyah Dewi Pradjnya Paramita), Gayatri (Sri Jayendra Dyah Dewi Gayatri) dan juga menikahi Dara Petak yang merupakan putri dari Raja Mauliwarmadewa dari Kerajaan Dharmasraya

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Atas anjuran Arya Wiraraja, Raden Wijaya berpura-pura tunduk kepada Jayakatwang, sambil meminta sedikit daerah untuk tempat berdiam. Jayakatwang yang tidak berprasangka apa-apa mengabulkan permintaan Raden Wijaya. Sang Raden diijinkan membuka hutan Tarik. Dengan bantuan sisa-sisa tentaranya dan pasukan Madura, ia membersihkan hutan itu sehingga layak ditempati. Pada saat saat itu, seorang tentara yang haus mencoba memakan buah Maja yang banyak terdapat pada tempat itu dan menemukan bahwa ternyata rasanya pahit . Sejak itu, daerah tersebut diberi nama “Majapahit”.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pada bulan November 1292 , pasukan Mongol mendarat di Tuban dengan tujuan membalas perlakuan Kertanagara atas utusan Mongol. Namun, Kertanegara telah meninggal. Raden Wijaya memanfaatkan bersekutu dengan Mongol untuk menyerang Singhasari yang kini dikuasai Jayakatwang. Setelah kekuatan Jayakatwang dihancurkan, tahun 1293 Raden Wijaya balik menyerang pasukan Mongol, dan akhirnya Mongol meninggalkan tanah Jawa. Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit bergelar Kertarajasa Jayawardhana, yang pusat istananya di daerah Trowulan (sekarang di wilayah Kabupaten Mojokerto ).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Raden Wijaya dikenal memerintah tegas dan bijak. Aria Wiraraja yang banyak berjasa ikut mendirikan Majapahit, diberi daerah status khusus (Madura) dan diberi wilayah otonom di Lumajang hingga Blambangan . Nambi (putera Arya Wiraraja) diangkat menjadi patih (perdana menteri), Ranggalawe diangkat sebagai Adipati Tuban, dan Sora menjadi penguasa Dhaha (Kadiri). Dijadikannya Nambi sebagai patih membuat Ranggalawe tidak puas, karena ia merasa lebih berhak. Tahun 1295 Ranggalawe mengadakan pemberontakan, namun dapat dipadamkan.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pada masa kekuasaan Jayanagara terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Sora (1311). Tahun 1316 , Nambi (mantan patih periode Raden Wijaya) memberontak di daerah Lumajang, namun berhasil dipadamkan. Tahun 1319 , pemberontakan yang dipimpin Kuti memaksa Jayanagara untuk keluar dari Istana. Selama dalam pelarian, Jayanegara ditemani pengawalnya, Gajah Mada . Gajah Mada memiliki taktik dengan menyebar rumor bahwa Raja Jayanegara telah meninggal. Rumor ini mengakibatkan rakyat tak menyukai Kuti, hingga akhirnya Kuti keluar dari istana dan kembali diduduki oleh Jayanegara. Tahun 1328, Jayanegara meninggal tanpa keturunan, dan diduga Gajah Mada turut berperan. Terdapat legenda yang mengatakan Jayanagara telah menculik istri Gajah Mada, hingga Gajah Mada marah dan menyuruh tabib pribadi kerajaan untuk membunuh Jayanagara ketika sakit.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dengan Kerajaan Pajajaran (Negeri Sunda). Di mana Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit adalah keturunan Pajajaran dari Dyah Lembu Tal yang bersuamikan Rakeyan Jayadarma menantu Mahesa Campaka . Rakeyan Jayadarma sendiri adalah kakak dari Rakeyan Ragasuci yang menjadi raja di Kawali . Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3 . Di mana dalam Babad Tanah Jawi sendiri, Wijaya disebut pula Jaka Susuruh dari Pajajaran .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dengan demikian Prabu Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar putri Citraresmi. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Sebenarnya dari pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri keberatan, terutama dari Mangkubuminya sendiri, Hyang Bunisora Suradipati karena tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Suatu hal yang dianggap tidak biasa menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik karena saat itu Majapahit sedang melebarkan kekuasaan (diantaranya dengan menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Gajah Mada mendapatkan jabatan Mahapatih atas karirnya militernya di Majapahit, beliau mengawali karirnya sebagai prajurit pada kesatuan pengawal kerajaan Bhayangkara yang merupakan pasukan elit Majapahit. Beliau mendesak Raja Hayam Wuruk untuk menerima Putri Citraresmi bukan sebagai pengantin tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Maharaja Hayam Wuruk sendiri bimbang atas permasalah itu karena Gajah Mada adalah Mahapatih (Perdana Menteri) yang diandalkan Majapahit saat itu.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Belum lagi Maharaja Hayam Wuruk memberikan putusannya, Mahapatih Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke pesanggrahan Bubat dan mengancam Maharaja Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Maharaja Linggabuana menolak tekanan itu, dan terjadilah peperangan yang tidak seimbang yang melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan pasukan yang besar dengan Maharaja Linggabuana dengan pasukan Balamati pengawal kerajaan yang berjumlah sedikit, bersama pejabat kerajaan dan para menteri yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Maharaja Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan serta Putri Citraresmi.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Maharaja Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan ( darmadyaksa ) dari Bali -yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan perikahan antara maharaja Hayam Wuruk dengan putri Citraresmi untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi Pejabat Sementara Raja Negeri Sunda serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda ) agar diambil hikmahnya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Namun akibat peristiwa Bubat ini (mungkin dalam dunia politik sekarang dikatakan Skandal Bubat ), dikatakan dalam suatu catatan bahwa Hubungan Maharaja Hayam Wuruk dengan Mahapatihnya menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat mahapatih sampai wafatnya ( 1364 ). Sementara akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda. Sebagian lagi mengatakan yang dimaksud adalah larangan menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Tumapel merupakan daerah di bawah wilayah Kerajaan Kadiri . Penguasa Tumapel waktu itu Tunggul Ametung , yang memiliki istri bernama Ken Dedes . Ken Arok , seorang rakyat jelata yang kemudian menjadi prajurit Tunggul Ametung , berikeinginan untuk menguasai Tumapel. Ken Arok kemudian membunuh Tunggul Ametung dengan keris yang dipesan dari Mpu Gandring . Ken Arok kemudian menjadi pengganti Tunggul Ametung dengan dukungan rakyat Tumapel. Ken Dedes pun menjadi istri Ken Arok . Ia dimahkotai dengan gelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi . Tak lama kemudian, Ken Dedes melahirkan puteranya hasil perkawinannya dengan Tunggul Ametung , yang diberi nama Anusapati . Dari selir bernama Ken Umang , Ken Arok memiliki anak bernama Tohjaya .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kekuatan Singhasari yang terfokus pada persiapan pasukan untuk mengantisipasi balasan Mongol, membuat lengah pertahanan dalam negeri. Akibatnya kesempatan ini digunakan oleh Jayakatwang memberontak terhadap Singhasari. Jayakatwang adalah menantu Wisnuwardhana , yang kurang suka dengan peralihan kekuasaan Singhasari ke tangan Kertanagara . Kertanagara akhirnya meninggal ketika mempertahankan istananya ( 1292 ). Pertempuran ini digambarkan jelas dalam Prasasti Kudadu yang ditemukan di lereng Gunung Butak, Mojokerto .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Ken Arok kemudian menjadi prajurit yang mengabdi kepada Tunggul Ametung di Tumapel. Ken Arok sangat menginginkan menjadi raja dan memperistri Ken Dedes. Akhirnya Ken Arok memesan sebuah keris pada Mpu Gandring untuk membunuh Tunggul Ametung. Mpu Gandring menolak menyelesaikan pembuatan keris tersebut hingga Ken Dedes yang waktu itu mengandung, melahirkan putranya. Ken Arok tidak mau tahu, hingga pada suatu saat ketika mengetahui pembuatan keris belum juga selesai, Ken Arok menusuk Mpu Gandring dengan keris yang belum jadi hingga tewas.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Ken Arok kemudian menjadi pengganti suksesor Tunggul Ametung dengan dukungan rakyat Tumapel. Ken Dedes pun menjadi istri Ken Arok. Ia dimahkotai dengan gelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi . Tak lama kemudian, Ken Dedes melahirkan puteranya hasil perkawinannya dengan Tunggul Ametung, yang diberi nama Anusapati . Sementara itu, hasil perkawinan Ken Arok dan Ken Dedes membuahkan anak bernama Mahesa Wong Ateleng , Panji Saprang, Agnibhaya dan Dewi Rimbu . Dari selir bernama Ken Umang , Ken Arok memiliki anak bernama Tohjaya , Panji Sudhatu, Panji Wergola dan Dewi Rambi.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Langkah selanjutnya adalah penyerbuan ke pusat Kerajaan Kadiri. Ken Arok memanfaatkan situasi politik yang kurang kondusif waktu itu, dan beraliansi dengan para brahmana karena tidak setuju pada kehendak Sri Kertajaya yang ingin mendewakan diri dan disembah selayaknya para dewa. Raja Kertajaya yang juga dikenal dengan nama Prabu Dandang Gendis , akhirnya dapat dikalahkan pada tahun 1222 dalam perang Ganter, dan sejak itu tamatlah riwayat Kerajaan Kadiri, kerajaan yang didirikan oleh Airlangga .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Ketika Anusapati telah cukup dewasa, ia mengetahui bahwa pembunuh ayahnya (Tunggul Ametung) adalah Ken Arok. Melalui tangan seorang pengalasan dari desa Batil, Anusapati memerintahkan pembunuhan terhadap Ken Arok. Akhirnya pada tahun 1227 ia membunuh Ken Arok, dan kemudian Anusapati membunuh pengalasan tersebut sebagai tindakan untuk menutup mulut. Sang Anusapati kemudian menjadi suksesor Kerajaan Singhasari. Ken Arok dicandikan di Kagenengan, candi ini merupakan candi tertua diantara duapuluh tujuh candi keluarga wangsa Rajasa, wangsa yang didirikan oleh Ken Arok yang menjadi cikal-bakal raja raja di tanah Jawa.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Salah satu politik luar negerinya yang terkenal adalah “Ekspedisi Pamalayu” yang bertujuan untuk memperkuat pengaruh dan persahabatan antara Singhasari dengan kerajaan-kerajaan di Sumatera dan memperkuat pengaruhnya di selat Malaka yang merupakan jalur ekonomi dan politik penting. Pada tahun 1275, Kertanagara mengirim utusan ke Melayu. Raja Kertanegara mengirimkan Arca Amoghapasa sebagai tanda dijalinkannya hubungan diplomatik (1286). Pada tahun 1284, Kertanagara mengadakan ekspedisi ke Bali, dan sejak itu Bali menjadi wilayah Kerajaan Singhasari.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pada masa kekuasaannya, Kertanagara memindah tugaskan dua tokoh penting Singhasari pada masa raja Wisnuwardhana : Mpu Raganata (mantan mahapatih) dan Aria Wiraraja (mantan penasihat keamanan). Mpu Raganata dipandang terlalu vokal, karena mengkritisi kebijakan Kertanagara yang lebih mengutamakan ekspedisi luar negerinya dibanding stabilitas politik dalam negeri. Menurut salah satu catatan sejarah Kidung Panji Wijayakrama , salah satu penyebab pemberontakan yang terjadi di Singhasari dipicu oleh ketidaksenangan Aria Wiraraja yang dipindahtugaskan sebagai gubernur di Sumenep, Madura .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pemberontakan lain juga dilakukan oleh Jayakatwang , yakni menantu Wisnuwardhana . Jayakatwang kurang suka dengan peralihan kekuasaan ke Kertanagara, karena ia mengklaim sebagai keturunan langsung raja-raka kuno Kadiri , serta ingin melakukan balas dendam terhadap Singhasari yang telah menghancurkan Kadiri. Kekuatan Singasari yang terfokus pada persiapan pasukan untuk mengantisipasi balasan Mongol, membuat lengah pertahanan dalam negeri. Akibatnya kesempatan ini digunakan oleh Jayakatwang memberontak terhadap Singasari. Kertanagara akhirnya meninggal dalam pemberontakan tersebut (1292).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Raja terakhir Kediri adalah Kertajaya , ( 1185 – 1222 ). Kertajaya dikenal sebagai raja yang kejam, bahkan meminta rakyat untuk menyembahnya. Ini ditentang oleh para Brahmana. Sementara itu, di Tumapel (wilayah bawahan Kediri di daerah Malang) terjadi gejolak politik: Ken Arok membunuh penguasa Tumapel Tunggul Ametung dan mendirikan Kerajaan Singhasari. Ken Arok kemudian memanfaatkan situasi politik di Kediri, ia beraliansi dengan Brahmana, dan lalu menghancurkan Kediri. Dengan meninggalnya Kertajaya, Kediri menjadi wilayah Kerajaan Singhasari .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Setelah beberapa tahun berada di hutan, akhirnya pada tahun 1019 , Airlangga berhasil mempersatukan wilayah kerajaan Medang yang telah pecah, membangun kembali kerajaan, dan berdamai dengan Sriwijaya. Kerajaan baru ini dikenal dengan Kerajaan Kahuripan , yang wilayahnya membentang dari Pasuruan di timur hingga Madiun di barat. Airlangga memperluas wilayah kerajaan hingga ke Jawa Tengah dan Bali. Pada tahun 1025 , Airlangga memperluas kekuasaan dan pengaruh Kahuripan seiring dengan melemahnya Sriwijaya. Pantai utara Jawa, terutama Surabaya dan Tuban, menjadi pusat perdagangan yang penting untuk pertama kalinya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Setelah beberapa tahun berada di hutan, akhirnya pada tahun 1019 , Airlangga berhasil mempersatukan wilayah kerajaan Medang yang telah pecah, membangun kembali kerajaan, dan berdamai dengan Sriwijaya. Kerajaan baru ini dikenal dengan Kerajaan Kahuripan , yang wilayahnya membentang dari Pasuruan di timur hingga Madiun di barat. Airlangga dikenal sebagai model toleransi beragama, sebagai pelindung agama Hindu Syiwa dan Buddha. Airlangga memperluas wilayah kerajaan hingga ke Jawa Tengah dan Bali. Pada tahun 1025 , Airlangga memperluas kekuasaan dan pengaruh Kahuripan seiring dengan melemahnya Sriwijaya. Pantai utara Jawa, terutama Surabaya dan Tuban, menjadi pusat perdagangan yang penting untuk pertama kalinya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Mpu Sindok , adalah raja terakhir dari Dinasti Sanjaya , yang berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 928-929. Diduga karena letusan Gunung Merapi , pada tahun 929 Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur . Ibukota baru tersebut adalah Watugaluh , di tepi Sungai Brantas , sekarang kira-kira adalah wilayah Kabupaten Jombang (Jawa Timur). Kerajaan baru ini tidak lagi disebut Mataram, melainkan disebut Medang (meski beberapa literatur masih menyebut Mataram). Mpu Sindok juga merupakan pendiri Dinasti Isyana , sehingga kerajaan baru tersebut kadang juga disebut Isyana .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Mataram Kuno merupakan sebutan untuk dua dinasti, yakni Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra , yang berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan. Dinasti Sanjaya yang bercorak Hindu didirikan oleh Sanjaya pada tahun 732 . Beberapa saat kemudian, Dinasti Syailendra yang bercorak Buddha Mahayana didirikan oleh Bhanu pada tahun 752 . Kedua dinasti ini berkuasa berdampingan secara damai. Nama Mataram sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis di masa raja Balitung .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dinasti Syailendra diduga berasal dari daratan Indocina (sekarang Thailand dan Kamboja ). Dinasti ini bercorak Budha Mahayana, didirikan oleh Bhanu pada tahun 752. Pada awal era Mataram Kuno, Dinasti Syailendra cukup dominan dibanding Dinasti Sanjaya. Pada masa pemerintahan raja Indra (782-812), Syailendra mengadakan ekspedisi perdagangan ke Sriwijaya . Ia juga melakukan perkawinan politik: puteranya, Samaratungga , dinikahkan dengan Dewi Tara , puteri raja Sriwijaya. Pada tahun 790 , Syailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (Kamboja), kemudian sempat berkuasa di sana selama beberapa tahuan. Peninggalan terbesar Dinasti Syailendra adalah Candi Borobudur yang selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Samaratungga ( 812 – 833 ).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Tak banyak yang diketahui sejarah Dinasti Sanjaya sejak sepeninggal Raja Sanna . Rakai Pikatan , yang waktu itu menjadi pangeran Dinasti Sanjaya, menikah dengan Pramodhawardhani (833-856), puteri raja Dinasti Syailendara Samaratungga . Sejak itu pengaruh Sanjaya yang bercorak Hindu mulai dominan di Mataram, menggantikan Agama Buddha. Rakai Pikatan bahkan mendepak Raja Balaputradewa (putera Samaratungga dan Dewi Tara). Tahun 850 , era Dinasti Syailendra berakhir yang ditandai dengan larinya Balaputradewa ke Sriwijaya .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sri Maharaja Rakai Pikatan adalah raja Kerajaan Mataram Kuno dari Dinasti Sanjaya dan merupakan pengganti dari Sri Maharaja Rakai Garung . Ia memiliki ambisi untuk menguasai seluruh wilayah Jawa Tengah , meskipun untuk itu ia harus berharapan dengan kerajaan Syailendra yang dipimpin oleh Raja Balaputradewa . Ia meminang putri mahkota Syailendra yang bernama Pramodhawardhani , sehingga kelak diharapkan tahta kerajaan Syailendra bisa jatuh ke tangannya. Sayangnya, rencana Rakai Pikatan tidak berhasil dan perang saudara tetap terjadi. Meskipun demikian, hasil perang memihak kepadanya, dan Raja Balaputeradewa yang kalah lalu menyingkir ke Sriwijaya .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Mpu Sindok , adalah raja terakhir dari Dinasti Sanjaya , yang berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 928-929. Diduga karena letusan Gunung Merapi , pada tahun 929 Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur . Ibukota baru tersebut adalah Watugaluh , di tepi Sungai Brantas , sekarang kira-kira adalah wilayah Kabupaten Jombang (Jawa Timur). Kerajaan baru ini tidak lagi disebut Mataram, melainkan disebut Medang (meski beberapa literatur masih menyebut Mataram). Mpu Sindok juga merupakan pendiri Dinasti Isyana , sehingga kerajaan baru tersebut kadang juga disebut Isyana .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh adalah dua kerajaan yang merupakan pecahan dari Kerajaan Tarumanagara . Dalam catatan perjalanan Tome Pires ( 1513 ), disebutkan bahwa dayo (dayeuh) Kerajaan Sunda terletak dua hari perjalanan dari Pelabuhan Kalapa yang terletak di muara Sungai Ciliwung . Keterangan mengenai keberadaan kedua kerajaan ini juga terdapat pada beberapa prasasti. Prasasti di Bogor banyak bercerita tentang Kerajaan Sunda sebagai pecahan Tarumanagara, sedangkan prasasti di daerah Sukabumi bercerita tentang keadaan Kerajaan Sunda sampai dengan masa Sri Jayabupati.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sunda sebagai nama kerajaan tercatat dalam dua buah prasasti batu yang ditemukan di Bogor dan Sukabumi . Kehadiran Prasasti Jayabupati di daerah Cibadak sempat membangkitkan dugaan bahwa Ibukota Kerajaan Sunda terletak di daerah itu. Namun dugaan itu tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah lainnya. Isi prasasti hanya menyebutkan larangan menangkap ikan pada bagian Sungai Cicatih yang termasuk kawasan Kabuyutan Sanghiyang Tapak. Sama halnya dengan kehadiran batu bertulis Purnawarman di Pasir Muara dan Pasir Koleangkak yang tidak menunjukkan letak ibukota Tarumanagara.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Telah diungkapkan di awal bahwa nama Sunda sebagai kerajaan tersurat pula dalam prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi. Prasasti ini terdiri atas 40 baris sehingga memerlukan empat (4) buah batu untuk menuliskannya. Keempat batu bertulis itu ditemukan pada aliran Sungai Cicatih di daerah Cibadak . Tiga ditemukan di dekat Kampung Bantar Muncang, sebuah ditemukan di dekat Kampung Pangcalikan. Keunikan prasasti ini adalah disusun dalam huruf dan bahasa Jawa Kuno . Keempat prasasti itu sekarang disimpan di Museum Pusat dengan nomor kode D 73 (dari Cicatih), D 96, D 97 dan D 98. Isi ketiga batu pertama (menurut Pleyte):

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Selamat. Dalam tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, Ahad, Wuku Tambir. Inilah saat Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa, membuat tanda di sebelah timur Sanghiyang Tapak. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan jangan ada yang melanggar ketentuan ini. Di sungai ini jangan (ada yang) menangkap ikan di sebelah sini sungai dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak sebelah hulu. Di sebelah hilir dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak pada dua batang pohon besar. Maka dibuatlah prasasti (maklumat) yang dikukuhkan dengan Sumpah.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sumpah yang diucapkan oleh Raja Sunda lengkapnya tertera pada prasasti keempat (D 98). Terdiri dari 20 baris, intinya menyeru semua kekuatan gaib di dunia dan disurga agar ikut melindungi keputusan raja. Siapapun yang menyalahi ketentuan tersebut diserahkan penghukumannya kepada semua kekuatan itu agar dibinasakan dengan menghisap otaknya, menghirup darahnya, memberantakkan ususnya dan membelah dadanya. Sumpah itu ditutup dengan kalimat seruan, “I wruhhanta kamung hyang kabeh” (Ketahuilah olehmu parahiyang semuanya).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Tanggal pembuatan Prasasti Jayabupati bertepatan dengan 11 Oktober 1030. Menurut Pustaka Nusantara, Parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun (952 – 964) saka (1030 -1042 M). Isi prasasti itu dalam segala hal menunjukkan corak Jawa Timur . Tidak hanya huruf, bahasa dan gaya, melainkan juga gelar raja yang mirip dengan gelar raja di lingkungan Keraton Darmawangsa. Tokoh Sri Jayabupati dalam Carita Parahiyangan disebut dengan nama Prabu Detya Maharaja. Ia adalah raja Sunda ke-20 setalah Maharaja Tarusbawa.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Tarusbawa adalah sahabat baik Bratasenawa alis Sena (709 – 716 M), Raja Galuh ketiga. Tokoh ini juga dikenal dengan Sanna, yaitu raja dalam Prasasti Canggal (732 M), sekaligus paman dari Sanjaya . Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya. Bratasenawa alias Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora dalam tahun 716 M. Purbasora adalah cucu Wretikandayun dari putera sulungnya, Batara Danghyang Guru Sempakwaja, pendiri kerajaan Galunggung. Sedangkan Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sebenarnya Purbasora dan Sena adalah saudara satu ibu karena hubungan gelap antara Mandiminyak dengan istri Sempakwaja. Tokoh Sempakwaja tidak dapat menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Raja Galuh karena ompong. Sementara, seorang raja tak boleh memiliki cacat jasmani. Karena itulah, adiknya yang bungsu yang mewarisi tahta Galuh dari Wretikandayun. Tapi, putera Sempakwaja merasa tetap berhak atas tahta Galuh. Lagipula asal-usul Raja Sena yang kurang baik telah menambah hasrat Purbasora untuk merebut tahta Galuh dari Sena.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Patih itu bernama Bimaraksa yang lebih dikenal dengan Ki Balangantrang karena ia merangkap sebagai senapati kerajaan. Balangantrang ini juga cucu Wretikandayun dari putera kedua bernama Resi Guru Jantaka atau Rahyang Kidul, yang tak bisa menggantikan Wretikandayun karena menderita “kemir” atau hernia. Balangantrang bersembunyi di kampung Gègèr Sunten dan dengan diam-diam menghimpun kekuatan anti Sanjaya. Ia mendapat dukungan dari raja-raja di daerah Kuningan dan juga sisa-sisa laskar Indraprahasta, setelah kerajaan itu juga dilumatkan oleh Sanjaya sebagai pembalasan karena dulu membantu Purbasora menjatuhkan Sena.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sanjaya mendapat pesan dari Sena, bahwa kecuali Purbasora, anggota keluarga Keraton Galuh lainnya harus tetap dihormati. Sanjaya sendiri tidak berhasrat menjadi penguasa Galuh. Ia melalukan penyerangan hanya untuk menghapus dendam ayahnya. Setelah berhasil mengalahkan Purbasora, ia segera menghubungi uwaknya, Sempakwaja, di Galunggung dan meminta beliau agar Demunawan, adik Purbasora, direstui menjadi penguasa Galuh. Akan tetapi Sempakwaja menolak permohonan itu karena takut kalau-kalau hal tersebut merupakan muslihat Sanjaya untuk melenyapkan Demunawan.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sanjaya sendiri tidak bisa menghubungi Balangantrang karena ia tak mengetahui keberadaannya. Akhirnya Sanjaya terpaksa mengambil hak untuk dinobatkan sebagai Raja Galuh. Ia menyadari bahwa kehadirannya di Galuh kurang disenangi. Selain itu sebagai Raja Sunda ia sendiri harus berkedudukan di Pakuan. Untuk pimpinan pemerintahan di Galuh ia mengangkat Premana Dikusuma, cucu Purbasora. Premana Dikusuma saat itu berkedudukan sebagai raja daerah. Dalam usia 43 tahun (lahir tahun 683 M), ia telah dikenal sebagai raja resi karena ketekunannya mendalami agama dan bertapa sejak muda. Ia dijuluki Bagawat Sajalajaya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kedudukan Premana serba sulit, ia sebagai Raja Galuh yang menjadi bawahan Raja Sunda yang berarti harus tunduk kepada Sanjaya yang telah membunuh kakeknya. Karena kemelut seperti itu, maka ia lebih memilih meninggalkan istana untuk bertapa di dekat perbatasan Sunda sebelah timur Citarum dan sekaligus juga meninggalkan istrinya, Pangrenyep. Urusan pemerintahan diserahkannya kepada Tamperan, Patih Galuh yang sekaligus menjadi “mata dan telinga” Sanjaya. Tamperan mewarisi watak buyutnya, Mandiminyak yang senang membuat skandal. Ia terlibat skandal dengan Pangrenyep, istri Premana, dan membuahkan kelahiran Kamarasa alias Banga (723 M).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Perang besar sesama keturunan Wretikandayun itu akhirnya bisa dilerai oleh Raja Resi Demunawan (lahir 646 M, ketika itu berusia 93 tahun). Dalam perundingan di keraton Galuh dicapai kesepakatan: Galuh diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga. Demikianlah lewat perjanjian Galuh tahun 739 ini, Sunda dan Galuh yang selama periode 723 – 739 berada dalam satu kekuasan terpecah kembali. Dalam perjanjian itu ditetapkan pula bahwa Banga menjadi raja bawahan. Meski Banga kurang senang, tetapi ia menerima kedudukan itu. Ia sendiri merasa bahwa ia bisa tetap hidup atas kebaikan hati Manarah.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Raja Sri Jayabupati pernah mengalami peristiwa tragis. Dalam kedudukannya sebagai Putera Mahkota Sunda keturunan Sriwijaya dan menantu Dharmawangsa, ia harus menyaksikan permusuhan yang makin menjadi-jadi antara Sriwijaya dengan mertuanya, Dharmawangsa. Pada puncak krisis ia hanya menjadi penonton dan terpaksa tinggal diam dalam kekecewaan karena harus “menyaksikan” Dharmawangsa diserang dan dibinasakan oleh Raja Wurawuri atas dukungan Sriwijaya . Ia diberi tahu akan terjadinya serbuan itu oleh pihak Sriwijaya, akan tetapi ia dan ayahnya diancam agar bersikap netral dalam hal ini. Serangan Wurawuri yang dalam Prasasti Calcutta (disimpan di sana) disebut pralaya itu terjadi tahun 1019 M.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

G.P. Rouffaer ( 1919 ) dalam Encyclopedie van Niederlandsch Indie edisi Stibbe tahun 1919. Pakuan mengandung pengertian “paku”, akan tetapi harus diartikan “paku jagat” (spijker der wereld) yang melambangkan pribadi raja seperti pada gelar Paku Buwono dan Paku Alam. “Pakuan” menurut Fouffaer setara dengan “Maharaja”. Kata “Pajajaran” diartikan sebagai “berdiri sejajar” atau “imbangan” (evenknie). Yang dimaksudkan Rouffaer adalah berdiri sejajar atau seimbang dengan Majapahit . Sekalipun Rouffaer tidak merangkumkan arti Pakuan Pajajaran, namun dari uraiannya dapat disimpulkan bahwa Pakuan Pajajaran menurut pendapatnya berarti “Maharaja yang berdiri sejajar atau seimbang dengan (Maharaja) Majapahit”. Ia sependapat dengan Hoesein Djajaningrat (1913) bahwa Pakuan Pajajaran didirikan tahun 1433.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

R. Ng. Poerbatjaraka (1921) . Dalam tulisan De Batoe-Toelis bij Buitenzorg (Batutulis dekat Bogor) ia menjelaskan bahwa kata “Pakuan” mestinya berasal dari bahasa Jawa kuno “pakwwan” yang kemudian dieja “pakwan” (satu “w”, ini tertulis pada Prasasti Batutulis). Dalam lidah orang Sunda kata itu akan diucapkan “pakuan”. Kata “pakwan” berarti kemah atau istana. Jadi, Pakuan Pajajaran, menurut Poerbatjaraka, berarti “istana yang berjajar”(aanrijen staande hoven).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

H. Ten Dam (1957) . Sebagai Insinyur Pertanian, Ten Dam ingin meneliti kehidupan sosial-ekonomi petani Jawa Barat dengan pendekatan awal segi perkembangan sejarah. Dalam tulisannya, Verkenningen Rondom Padjadjaran (Pengenalan sekitar Pajajaran), pengertian “Pakuan” ada hubungannya dengan “lingga” (tonggak) batu yang terpancang di sebelah prasasti Batutulis sebagai tanda kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa dalam Carita Parahyangan disebut-sebut tokoh Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal yang dianggapnya masih mempunyai pengertian “paku”.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Ia berpendapat bahwa “pakuan” bukanlah nama, melainkan kata benda umum yang berarti ibukota (hoffstad) yang harus dibedakan dari keraton. Kata “pajajaran” ditinjaunya berdasarkan keadaan topografi. Ia merujuk laporan Kapiten Wikler (1690) yang memberitakan bahwa ia melintasi istana Pakuan di Pajajaran yang terletak antara Sungai Besar dengan Sungai Tanggerang (disebut juga Ciliwung dan Cisadane). Ten Dam menarik kesimpulan bahwa nama “Pajajaran” muncul karena untuk beberapa kilometer Ciliwung dan Cisadane mengalir sejajar. Jadi, Pakuan Pajajaran dalam pengertian Ten Dam adalah Pakuan di Pajajaran atau “Dayeuh Pajajaran”.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dalam naskah Carita Parahiyangan ada kalimat berbunyi “Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata” (Sang Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu pakuan Sanghiyang Sri Ratu Dewata).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sanghiyang Sri Ratu Dewata adalah gelar lain untuk Sri Baduga. Jadi yang disebut “pakuan” itu adalah “kadaton” yang bernama Sri Bima dan seterunya. “Pakuan” adalah tempat tinggal untuk raja, biasa disebut keraton, kedaton atau istana. Jadi tafsiran Poerbatjaraka lah yang sejalan dengan arti yang dimaksud dalam Carita Parahiyangan, yaitu “istana yang berjajar”. Tafsiran tersebut lebih mendekati lagi bila dilihat nama istana yang cukup panjang tetapi terdiri atas nama-nama yang berdiri sendiri. Diperkirakan ada lima (5) bangunan keraton yang masing-masing bernama: Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati. Inilah mungkin yang biasa disebut dalam peristilahan klasik “panca persada” (lima keraton). Suradipati adalah nama keraton induk. Hal ini dapat dibandingkan dengan nama-nama keraton lain, yaitu Surawisesa di Kawali , Surasowan di Banten dan Surakarta di Jayakarta pada masa silam.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pendapat Ten Dam (Pakuan = ibukota ) benar dalam penggunaan, tetapi salah dari segi semantik . Dalam laporan Tome Pires (1513) disebutkan bahwa bahwa ibukota kerajaan Sunda itu bernama “Dayo” (dayeuh) dan terletak di daerah pegunungan, dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa di muara Ciliwung. Nama “Dayo” didengarnya dari penduduk atau pembesar Pelabuhan Kalapa. Jadi jelas, orang Pelabuhan Kalapa menggunakan kata “dayeuh” (bukan “pakuan”) bila bermaksud menyebut ibukota. Dalam percakapan sehari-hari, digunakan kata “dayeuh”, sedangkan dalam kesusastraan digunakan “pakuan” untuk menyebut ibukota kerajaan.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dalam kropak (tulisan pada lontar atau daun nipah) yang diberi nomor 406 di Mueseum Pusat terdapat petunjuk yang mengarah kepada lokasi Pakuan. Kropak 406 sebagian telah diterbitkan khusus dengan nama Carita Parahiyangan. Dalam bagian yang belum diterbitkan (biasa disebut fragmen K 406) terdapat keterangan mengenai kisah pendirian keraton Sri Bima, Punta, Narayana Madura Suradipati. “Di inya urut kadatwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebolta ku Maharaja Tarusbawa deung Bujangga Sedamanah. Disiar ka hulu Cipakancilan. Katimu Bagawat Sunda Mayajati. Ku Bujangga Sedamanah dibaan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa”.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Bila kembali ke catatan Scipio yang mengatakan bahwa jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku itu bersih dan di mana-mana penuh dengan pohon buah-buhan, maka dapat disimpulkan bahwa kompleks “Unitex” itu pada jaman Pajajaran merupakan “Kebun Kerajaan”. Tajur adalah kata Sunda kuno yang berarti “tanam, tanaman atau kebun”. Tajur Agung sama artinya dengan “Kebon Gede atau Kebun Raya”. Sebagai kebun kerajaan, Tajur Agung menjadi tempat bercengkerama keluarga kerajaan. Karena itu pula penggal jalan pada bagian ini ditanami pohon durian pada kedua sisinya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dari Tajur Agung Winkler menuju ke daerah Batutulis menempuh jalan yang kelak (1709) dilalui Van Riebeeck dari arah berlawanan. Jalan ini menuju ke gerbang kota (lokasi dekat pabrik paku “Tulus Rejo” sekarang). Di situlah letak Kampung Lawang Gintung pertama sebelum pindah ke “Sekip” dan kemudian lokasi sekarang (bernama tetap Lawang Gintung). Jadi gerbang Pakuan pada sisi ini ada pada penggal jalan di Bantar Peuteuy (depan kompleks perumahan LIPI). Dulu di sana ada pohon Gintung.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Di dekat jalan tersebut Winkler menemukan sebuah batu besar yang dibentuk secara indah. Jalan berbatu itu terletak sebelum Winkler tiba di situs Bautulis, dan karena dari batu bertulis perjalanan dilanjutkan ke tempat arca (“Purwa Galih”), maka lokasi jalan itu harus terletak di bagian utara tempat batu bertulis (prasasti). Antara jalan berbatu dengan batu besar yang indah dihubungkan oleh “Gang Amil”. Lahan di bagian utara Gang Amil ini bersambung dengan Bale Kambang (rumah terapung). Bale kambang ini adalah untuk bercengkrama raja. Contoh bale kambang yang masih utuh adalah seperti yang terdapat di bekas Pusat Kerajaan Klungkung di Bali.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

o   Dari tempat prasasti, Winkler menuju ke tempat arca (umum disebut Purwakalih, 1911 Pleyte masih mencatat nama Purwa Galih). Di sana terdapat tiga buah patung yang menurut informan Pleyte adalah patung Purwa Galih, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung. Nama trio ini terdapat dalam Babad Pajajaran yang ditulis di Sumedang (1816) pada masa bupati Pangeran Kornel, kemudian disadur dalam bentuk pupuh 1862. Penyadur naskah babad mengetahui beberapa ciri bekas pusat kerajaan seperti juga penduduk Parung Angsana dalam tahun 1687 mengetahui hubungan antara “Kabuyutan” Batutulis dengan kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi . Menurut babad ini, “pohon campaka warna” (sekarang tinggal tunggulnya) terletak tidak jauh dari alun-alun.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Peneliti lain seperti Ten Dam menduga letak keraton di dekat kampung Lawang Gintung (bekas) Asrama Zeni Angkatan Darat. Suhamir dan Salmun bahkan menunjuk pada lokasi Istana Bogor yang sekarang. Namun pendapat Suhamir dan Salmun kurang ditunjang data kepurbakalaan dan sumber sejarah. Dugaannya hanya didasarkan pada anggapan bahwa “Leuwi Sipatahunan” yang termashur dalam lakon-lakon lama itu terletak pada alur Ciliwung di dalam Kebun Raya Bogor. Menurut kisah klasih, “leuwi” (lubuk) itu biasa dipakai bermandi-mandi para puteri penghuni istana. Lalu ditarik logika bahwa letak istana tentu tak jauh dari “Leuwi Sipatahunan” itu.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pantun Bogor mengarah pada lokasi bekas Asrama Resimen “Cakrabirawa” (Kesatrian) dekat perbatasan kota. Daerah itu dikatakan bekas Tamansari kerajaan bernama “Mila Kencana”. Namun hal ini juga kurang ditunjang sumber sejarah yang lebih tua. Selain itu, lokasinya terlalu berdekatan dengan kuta yang kondisi topografinya merupakan titik paling lemah untuk pertahanan Kota Pakuan. Kota Pakuan dikelilingi oleh benteng alam berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya. Hanya bagian tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula ditemukan sisa benteng kota yang paling besar. Penduduk Lawang Gintung yang diwawancara Pleyte menyebut sisa benteng ini “Kuta Maneuh”.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Selanjutnya benteng tersebut mengikuti puncak lembah Ciliwung. Deretan kios dekat simpangan Jalan Siliwangi – Jalan Batutulis juga didirikan pada bekas fondasi benteng. Di bagian ini benteng tersebut bertemu dengan benteng Kota Dalam yang membentang sampai ke Jero Kuta Wetan dan Dereded. Benteng luar berlanjut sepanjang puncak lereng Ciliwung melewati kompleks perkantoran PAM, lalu menyilang Jalan Raya Pajajaran, pada perbatasan kota, membelok lurus ke barat daya menembus Jalan Siliwangi (di sini dahulu terdapat gerbang), terus memanjang sampai Kampung Lawang Gintung.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kejatuhan Prabu Kertabumi (Brawijaya V) Raja Majapahit tahun 1478 telah mempengaruhi jalan sejarah di Jawa Barat. Rombongan pengungsi dari kerabat keraton Majapahit akhirnya ada juga yang sampai di Kawali. Salah seorang diantaranya ialah Raden Baribin saudara seayah Prabu Kertabumi. Ia diterima dengan baik oleh Prabu Dewa Niskala bahkan kemudian dijodohkan dengan Ratna Ayu Kirana (puteri bungsu Dewa Niskala dari salah seorang isterinya), adik Raden Banyak Cakra (Kamandaka) yang telah jadi raja daerah di Pasir Luhur. Disamping itu Dewa Niskala sendiri menikahi salah seorang dari wanita pengungsi yang kebetulan telah bertunangan.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dengan demikian, Dewa Niskala telah melanggar dua peraturan sekaligus dan dianggap berdosa besar sebagai raja. Kehebohan pun tak terelakkan. Susuktunggal (Raja Sunda yang juga besan Dewa Niskala) mengancam memutuskan hubungan dengan Kawali. Namun, kericuhan dapat dicegah dengan keputusan, bahwa kedua raja yang berselisih itu bersama-sama mengundurkan diri. Akhirnya Prabu Dewa Niskala menyerahkan Tahta Kerajaan Galuh kepada puteranya Jayadewata. Demikian pula dengan Prabu Susuktungal yang menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda kepada menantunya ini (Jayadewata).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima Tahta Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar Prabu Guru Dewapranata. Yang kedua ketika ia menerima Tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya, Susuktunggal. Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dan dinobatkan dengar gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Jadi sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah “sepi” selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang berpindah tempat dari timur ke barat. Untuk menuliskan situasi kepindahan keluarga kerajaan dapat dilihat pada Pindahnya Ratu Pajajaran

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda”.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Nah, orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah “seuweu” Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat? Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasa Galuh. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus “langsung” dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar PRABU, sedangkan Jayadewata bergelar Maharaja (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

” Perang antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda itu terjadi di desa Bubat. Perang ini dipicu oleh ambisi Maha Patih Gajah Mada yang ingin menguasai Kerajaan Sunda. Pada saat itu sebenarnya antara Kerajaan Sunda dan Majapahit sedang dibangun ikatan persaudaraan, yaitu dengan menjodohkan Dyah Pitaloka dengan Maharaja Hayamwuruk. Nah Rombongan Kerajaan Sunda ini di gempur oleh pasukan Mahapatih Gajah Mada yang menyebabkan semua pasukan Kerajaan Sunda yang ikut rombongan punah. Akibat perang Bubat inipula, maka hubungan antara Mahapatih Gajah Mada dan Maharaja Hayamwuruk menjadi renggang “.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

“Pare dondang” disebut “panggeres reuma”. Panggeres adalah hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha. Reuma adalah bekas ladang. Jadi, padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen dan kemudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru, menjadi hak raja atau penguasa setempat (tohaan). Dongdang adalah alat pikul seperti “tempat tidur” persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. Dondang harus selalu digotong. Karena bertali atau bertangkai, waktu digotong selalu berayun sehingga disebut “dondang” (berayun). Dondang pun khusus dipakai untuk membawa barang antaran pada selamatan atau arak-arakan. Oleh karena itu, “pare dongdang” atau “penggeres reuma” ini lebih bersifat barang antaran.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dalam kropak 630 disebutkan “wwang tani bakti di wado” (petani tunduk kepada wado). Wado atau wadwa ialah prajurit kerajaan yang memimpin calagara. Sistem dasa dan calagara ini terus berlanjut setelah jaman kerajaan. Belanda yang di negaranya tidak mengenal sistem semacam ini memanfaatkanna untuk “rodi”. Bentuk dasa diubah menjadi “Heerendiensten” (bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar). Calagara diubah menjadi “Algemeenediensten” (dinas umum) atau “Campongdiesnten” (dinas Kampung) yang menyangkut kepentingan umum, seperti pemeliharaan saluran air, jalan, rumah jada dan keamanan. Jenis pertama dilakukan tanpa imbalan apa-apa, sedangkan jenis kedua dilakuan dengan imbalan dan makan. “Preangerstelsel” dan “Cultuurstelsel” yang keduanya berupa sistem tanam paksa memanfaatkan tradisi pajak tenaga ini.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan sektor-sektor pemerintahan. Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon. Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya, Subanglarang, adalah seorang muslimah dan ketiga anaknya — Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang, dan Raja Sangara — diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Nagara Kretabhumi I/2 dan sumber Portugis mengisahkan bahwa Surawisesa pernah diutus ayahnya menghubungi Alfonso d’Albuquerque (Laksamana Bungker) di Malaka. Ia pergi ke Malaka dua kali (1512 dan 1521). Hasil kunjungan pertama adalah kunjungan penjajakan pihak Portugis pada tahun 1513 yang diikuti oleh Tome Pires, sedangkan hasil kunjungan yang kedua adalah kedatangan utusan Portugis yang dipimpin oleh Hendrik de Leme (ipar Alfonso) ke Ibukota Pakuan. Dalam kunjungan itu disepakati persetujuan antara Pajajaran dan Portugis mengenai perdagangan dan keamanan.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Perjanjian Pajajaran – Portugis sangat mencemaskan Sultan Trenggana , Sultan Demak III. Selat Malaka, pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Samudra Pasai . Bila Selat Sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara di selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam putus. Trenggana segera mengirim armadanya di bawah pimpinan Fadillah Khan yang menjadi Senapati Demak.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Fadillah Khan memperistri Ratu Pembayun, janda Pangeran Jayakelana. Kemudian ia pun menikah dengan Ratu Ayu, janda Sabrang Lor (Sultan Demak II). Dengan demikian, Fadillah menjadi menantu Raden Patah sekaligus menantu Susuhunan Jati Cirebon. Dari segi kekerabatan, Fadillah masih terhitung keponakan Susuhunan Jati karena buyutnya Barkta Zainal Abidin adalah adik Nurul Amin, kakek Susuhunan Jati dari pihak ayah. Selain itu Fadillah masih terhitung cucu Sunan Ampel (Ali Rakhmatullah) sebab buyutnya adalah kakak Ibrahim Zainal Akbar ayah Sunan Ampel. Sunan Ampel sendiri adalah mertua Raden Patah (Sultan Demak I).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Perang Cirebon – Pajajaran berlangsung 5 tahun lamanya. Yang satu tidak berani naik ke darat, yang satunya lagi tak berani turun ke laut. Cirebon dan Demak hanya berhasil menguasai kota-kota pelabuhan. Hanya di bagian timur pasukan Cirebon bergerak lebih jauh ke selatan. Pertempuran dengan Galuh terjadi tahun 1528. Di sini pun terlihat peran Demak karena kemenangan Cirebon terjadi berkat bantuan Pasukan meriam Demak tepat pada saat pasukan Cirebon terdesak mundur. Laskar Galuh tidak berdaya menghadapi “panah besi yang besar yang menyemburkan kukus ireng dan bersuara seperti guntur serta memuntahkan logam panas”. Tombak dan anak panah mereka lumpuh karena meriam. Maka jatuhlah Galuh. Dua tahun kemudian jatuh pula Kerajaan Talaga, benteng terakhir Kerajaan Galuh.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dengan kedudukan yang mantap di timur Citarum, Cirebon merasa kedudukannya mapan. Selain itu, karena gerakan ke Pakuan selalu dapat dibendung oleh pasukan Surawisesa, maka kedua pihak mengambil jalan terbaik dengan berdamai dan mengakui kedudukan masing-masing. Tahun 1531 tercapai perdamaian antara Surawisesa dan Syarif Hidayat. Masing-masing pihak berdiri sebagai negara merdeka. Di pihak Cirebon, ikut menandatangani naskah perjanjian, Pangeran Pasarean (Putera Mahkota Cirebon), Fadillah Khan dan Hasanudin (Bupati banten).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dalam suasana seperti itulah ia mengenang kebesaran ayahandanya. Perjanjian damai dengan Cirebon memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan rasa hormat terhadap mendiang ayahnya. Mungkin juga sekaligus menunjukkan penyesalannya karena ia tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran yang diamanatkan kepadanya. Dalam tahun 1533, tepat 12 tahun setelah ayahnya wafat, ia membuat sasakala (tanda peringatan) buat ayahnya. Ditampilkannya di situ karya-karya besar yang telah dilakukan oleh Susuhunan Pajajaran. Itulah Prasasati Batutulis yang diletakkannya di Kabuyutan tempat tanda kekuasaan Sri Baduga yang berupa lingga batu ditanamkan. Penempatannya sedemikian rupa sehingga kedudukan antara anak dengan ayah amat mudah terlihat. Si anak ingin agar apa yang dipujikan tentang ayahnya dengan mudah dapat diketahui (dibaca) orang. Ia sendiri tidak berani berdiri sejajar dengan si ayah. Demikianlah, Batutulis itu diletakkan agak ke belakang di samping kiri Lingga Batu.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Baik Pakuan maupun Tanjung Barat terletak di tepi Ciliwung. Diantara dua kerajaan ini terletak kerajaan kecil Muara Beres di Desa Karadenan (dahulu Kawung Pandak). Di Muara Beres in bertemu silang jalan dari Pakuan ke Tanjung Barat terus ke Pelabuhan Kalapa dengan jalan dari Banten ke daerah Karawang dan Cianjur. Kota pelabuhan sungai ini jaman dahulu merupakan titik silang. Menurut Catatan VOC tempat ini terletak 11/2 perjalanan dari Muara Ciliwung dan disebut jalan Banten lama (oude Bantamsche weg)].

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Hasanudin dari Banten sebenarnya ikut menandatangani perjanjian perdamaian Pajajaran-Cirebon, akan tetapi itu dia lakukan hanya karena kepatuhannya kepada siasat ayahnya (Susuhunan Jati) yang melihat kepentingan Wilayah Cirebon di sebelah timur Citarum. Secara pribadi Hasanudin kurang setuju dengan perjanjian itu karena wilayah kekuasaannya berbatasan langsung dengan Pajajaran. Maka secara diam-diam ia membentuk pasukan khusus tanpa identitas resmi yang mampu bergerak cepat. Kemampuan pasukan Banten dalam hal bergerak cepat ini telah dibuktikannya sepanjang abad ke-18 dan merupakan catatan khusus Belanda , terutama gerakan pasukan Syekh Yusuf .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Ratu Dewata masih beruntung karena memiliki para perwira yang pernah mendampingi ayahnya dalam 15 kali pertempuran. Sebagai veteran perang, para perwira ini masih mampu menghadapi sergapan musuh. Di samping itu, ketangguhan benteng Pakuan peninggalan Sri Baduga menyebabkan serangan kilat Banten (dan mungkin dengan Kalapa) ini tidak mampu menembus gerbang Pakuan. [Alun-alun Empang sekarang pernah menjadi Ranamandala (medan pertempuran) mempertaruhkan sisa-sisa kebesaran Siliwangi yang diwariskan kepada cucunya].

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Penyerang tidak berhasil menembus pertahanan kota, tetapi dua orang senapati Pajajaran gugur, yaitu Tohaan Ratu Sangiang dan Tohaan Sarendet. [Kokohnya benteng Pakuan adalah pertama merupakan jasa Banga yang pada tahun 739 menjadi raja di Pakuan yang merupakan bawahan Raja Galuh. Ia ketika itu berusaha membebaskan diri dari kekuasaaan Manarah di Galuh. Ia berhasil setelah berjuang selama 20 tahun dan keberhasilannya itu di awali dengan pembuatan parit pertahanan kota. Kemudian keadaan Pakuan ini diperluas pada jaman Sri Baduga seperti yang bisa ditemukan pada Pustaka Nagara Kretabhuni I/2 yang isinya antara lain (artinya saja).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

“Sang Maharaja membuat karya besar, yaitu membangun telaga besar yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan jalan ke Wanagiri, memperteguh kedatuan, memberikan desa (perdikan) kepada semua pendeta dan pengiringnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat. Kemudian membuat kaputren (tempat isteri-isteri-nya), kesatrian (asrama prajurit), satuan-satuan tempat (pageralaran), tempat-tempat hiburan, memperkuat angkatan perang, memungut upeti dari raja-raja bawahan dan kepala-kepala desa dan menyusun Undang-undang Kerajaan Pajajaran”

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Selain hal di atas, juga lokasi Pakuan yang berada pada posisi yang disebut lemah duwur atau lemah luhur (dataran tinggi, oleh Van Riebeeck disebut “bovenvlakte”). Pada posisi ini, mereka tidak berlindung di balik bukit, melainkan berada di atas bukit. {Pasir Muara di Cibungbulang merupakan contoh bagaimana bukit rendah yang dikelilingi tiga batang sungai pernah dijadikan pemukiman “lemah duwur” sejak beberapa ratus tahun sebelum masehi}. Lokasi Pakuan merupakan lahan lemah duwur yang satu sisinya terbuka menghadap ke arah Gunung Pangrango. Tebing Ciliwung, Cisadane dan Cipaku merupakan pelindung alamiah.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Tipe lemah duwur biasanya dipilih sama masyarakat dengan latar belakang kebudayaan huma (ladang). Kota-kota yang seperti ini adalah Bogor, Sukabumi dan Cianjur. Kota seperti ini biasanya dibangun dengan konsep berdasarkan pengembangan perkebunan. Tipe lain adalah apa yang disebut garuda ngupuk. Tipe seperti ini biasanya dipilih oleh masyarakat dengan latar belakang kebudayaan sawah. Mereka menganggap bahwa lahan yang ideal untuk pusat pemerintahan adalah lahan yang datar, luas, dialiri sungai dan berlindung di balik pegunungan. Kota-kota yang dikembangkan dengan corak ini misalnya Garut, Bandung dan Tasikmalaya. Sumedang memiliki dua persyaratan tipe ini. Kutamaya dipilih oleh Pangeran Santri menurut idealisme Pesisir Cirebon karena ia orang Sindangkasih (Majalengka) yang selalu hilir mudik ke Cirebon. Baru pada waktu kemudian Sumedang dikukuhkan dengan pola garuda ngupuk pada lokasi pusat kota Sumedang yang sekarang.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kemudian raja ini melakukan pelanggaran yang sama dengan Dewa Niskala yaitu mengawini “estri larangan ti kaluaran” (wanita pengungsi yang sudah bertunangan). Masih ditambah lagi dengan berbuat skandal terhadap ibu tirinya yaitu bekas para selir ayahnya. Karena itu ia diturunkan dari tahta kerajaan. Ia hanya beruntung karena waktu itu sebagian besar pasukan Hasanuddin dan Fadillah sedang membantu Sultan Trenggana menyerbu Pasuruan dan Panarukan . Setelah meninggal, Ratu Sakti dipusarakan di Pengpelengan.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dan berakhirlah jaman Pajajaran ( 1482 – 1579 ). Itu ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana, tempat duduk kala seorang raja dinobatkan, dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf. Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm itu terpaksa diboyong ke Banten karena tradisi politik waktu itu “mengharuskan” demikian. Pertama, dengan dirampasnya Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Kedua, dengan memiliki Palangka itu, Maulana Yusuf merupakan penerus kekuasaan Pajajaran yang “sah” karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kata “palangka” secara umum berarti tempat duduk ( bahasa Sunda , pangcalikan ), yang secara kontekstual bagi kerajaan berarti “tahta”. Dalam hal ini adalah tahta penobatannya itu tempat duduk khusus yang hanya digunakan pada upacara penobatan. Di atas palangka itulah si (calon) raja diberkati (diwastu) oleh pendeta tertinggi. Tempatnya berada di kabuyutan kerajaan, tidak di dalam istana. Sesuai dengan tradisi, tahta itu terbuat dari batu dan digosok halus mengkilap. Batu tahta seperti ini oleh penduduk biasanya disebut batu pangcalikan atau batu ranjang (bila kebetulan dilengkapi dengan kaki seperti balai-balai biasa). Batu pangcalikan bisa ditemukan, misalnya di makam kuno dekat Situ Sangiang di Desa Cibalanarik , Kecamatan Sukaraja , Tasikmalaya dan di Karang Kamulyan bekas pusat Kerajaan Galuh di Ciamis . Sementara batu ranjang dengan kaki berukir dapat ditemukan di Desa Batu Ranjang , Kecamatan Cimanuk , Pandeglang (pada petakan sawah yang terjepit pohon).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Ukiran bendera dan sepasang lebah itu dengan jelas ditatahkan pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan mengasyikkan di antara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para ahli diduga sebagai “huruf ikal” yang masih belum terpecahkan bacaaanya sampai sekarang. Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan). Keterangan pustaka dari Cirebon tentang bendera Tarumanagara dan ukiran sepasang “bhramara” (lebah) sebagai cap pada mahkota Purnawarman dalam segala “kemudaan” nilainya sebagai sumber sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Prasasti Pasir Muara yang menyebutkan peristiwa pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu dibuat tahun 536 M. Dalam tahun tersebut yang menjadi penguasa Tarumanagara adalah Suryawarman (535 – 561 M) Raja Tarumanagara ke-7. Pustaka Jawadwipa , parwa I, sarga 1 (halaman 80 dan 81) memberikan keterangan bahwa dalam masa pemerintahan Candrawarman (515-535 M), ayah Suryawarman, banyak penguasa daerah yang menerima kembali kekuasaan pemerintahan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaannya terhadap Tarumanagara. Ditinjau dari segi ini, maka Suryawarman melakukan hal yang sama sebagai lanjutan politik ayahnya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Baik sumber-sumber prasasti maupun sumber-sumber Cirebon memberikan keterangan bahwa Purnawarman berhasil menundukkan musuh-musuhnya. Prasasti Munjul di Pandeglang menunjukkan bahwa wilayah kekuasaannya mencakup pula pantai Selat Sunda. Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3 (halaman 159 – 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbolinggo) di Jawa Tengah. Secara tradisional Cipamali (Kali Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kehadiran Prasasti Purnawarman di Pasir Muara, yang memberitakan Raja Sunda dalam tahun 536 M, merupakan gejala bahwa Ibukota Sundapura telah berubah status menjadi sebuah kerajaan daerah. Hal ini berarti, pusat pemerintahan Tarumanagara telah bergeser ke tempat lain. Contoh serupa dapat dilihat dari kedudukaan Rajatapura atau Salakanagara (kota Perak), yang disebut Argyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150 M. Kota ini sampai tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I – VIII).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M, misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Putera tokoh Manikmaya ini tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam tahun 612 M.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Di tahun 1288, Kerajaan Dharmasraya , termasuk Kerajaan Sriwijaya , menjadi taklukan Kerajaan Singhasari di era Raja Kertanegara , dengan mengirimkan Senopati Mahisa/Kebo/Lembu Anabrang , dalam ekspedisi PAMALAYU 1 dan 2. Sebagai tanda persahabatan, Dara Jingga menikah dengan Senopati dari Kerajaan Singasari tersebut. Mereka memiliki putra yang bernama Adityawarman , yang di kemudian hari mendirikan Kerajaan Pagaruyung , dan sekaligus menjadi penerus kakeknya, Mauliwarmadhewa sebagai penguasa Kerajaan Dharmasraya berikut jajahannya, termasuk eks Kerajaan Sriwijaya di Palembang . Anak dari Adityawarman, yaitu Ananggavarman / Ananggawarman menjadi penguasa Palembang di kemudian hari. Sedangkan Dara Jingga dikenal sebagai Bundo Kandung / Bundo Kanduang oleh masyarakat Minangkabau .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Menurut Hikayat Deli , seorang pemuka Aceh bernama Muhammad Dalik berhasil menjadi laksamana dalam Kesultanan Aceh . Muhammad Dalik, yang kemudian juga dikenal sebagai Gocah Pahlawan dan bergelar Laksamana Khuja Bintan (ada pula sumber yang mengeja Laksamana Kuda Bintan), adalah keturunan dari Amir Muhammad Badar ud-din Khan, seorang bangsawan dari Delhi , India yang menikahi Putri Chandra Dewi, putri Sultan Samudra Pasai . Dia dipercaya Sultan Aceh untuk menjadi wakil bekas wilayah Kerajaan Haru yang berpusat di daerah sungai Lalang-Percut.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pada tahun 1858 , Tanah Deli menjadi milik Belanda setelah Sultan Siak, Sharif Ismail , menyerahkan tanah kekuasaannya tersebut kepada mereka. Pada tahun 1861 , Kesultanan Deli secara resmi diakui merdeka dari Siak maupun Aceh. Hal ini menyebabkan Sultan Deli bebas untuk memberikan hak-hak lahan kepada Belanda maupun perusahaan-perusahaan luar negeri lainnya. Pada masa ini Kesultanan Deli berkembang pesat. Perkembangannya dapat terlihat dari semakin kayanya pihak kesultanan berkat usaha perkebunan terutamanya tembakau dan lain-lain. Selain itu, beberapa bangunan peninggalan Kesultanan Deli juga menjadi bukti perkembangan daerah ini pada masa itu, misalnya Istana Maimun .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kolano Marhum (1465-1486), penguasa Ternate ke-18 adalah raja pertama yang memeluk Islam bersama seluruh kerabat dan pejabat istana. Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-1500). Beberapa langkah yang diambil Sultan Zainal Abidin adalah meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan Sultan, Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan, syariat Islam diberlakukan, membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama. Langkah-langkahnya ini kemudian diikuti kerajaan lain di Maluku secara total, hampir tanpa perubahan. Sultan Zainal Abidin pernah memperdalam ajaran Islam dengan berguru pada Sunan Giri di pulau Jawa, disana beliau dikenal sebagai “Sultan Bualawa” (Sultan Cengkih).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Di masa pemerintahan Sultan Bayanullah (1500-1522), Ternate semakin berkembang, rakyatnya diwajibkan berpakaian secara islami, teknik pembuatan perahu dan senjata yang diperoleh dari orang Arab dan Turki digunakan untuk memperkuat pasukan Ternate. Di masa ini pula datang orang Eropa pertama di Maluku, Loedwijk de Bartomo (Ludovico Varthema), tahun 1511, Portugis pertama kali menginjakkan kaki di Maluku dibawah pimpinan Fransisco Serrao , atas persetujuan Sultan, Portugis diizinkan mendirikan pos dagang di Ternate.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Tindak tanduk Portugis yang semakin kurang ajar dan semena-mena membuat Sultan Khairun (1534-1570) bertekad mengusir Portugis dari Maluku, ketika diambang kekalahan, secara licik Gubernur Portugis, Lopez de Mesquita mengundang Sultan Khairun ke meja perundingan dan akhirnya dengan kejam membunuh Sultan yang datang tanpa pengawalnya. Pembunuhan Sultan Khairun semakin mendorong rakyat Ternate untuk menyingkirkan Portugis, bahkan seluruh Maluku kini mendukung kepemimpinan dan perjuangan Sultan Baabullah (1570-1583), pos-pos Portugis di seluruh Maluku dan wilayah timur Indonesia digempur, setelah peperangan selama 5 tahun, akhirnya Portugis meninggalkan Maluku untuk selamanya tahun 1575. Kemenangan rakyat Ternate ini merupakan kemenangan pertama putera-putera Nusantara atas kekuatan barat. Dibawah pimpinan Sultan Baabullah, Ternate mencapai puncak kejayaannya, wilayah membentang dari Sulawesi Utara dan Tengah di bagian barat hingga kepulauan Marshall dibagian timur, dari Philipina (Selatan) dibagian utara hingga kepulauan Nusa Tenggara dibagian selatan. Sultan Baabullah dijuluki “penguasa 72 pulau” yang semuanya berpenghuni hingga menjadikan kesultanan Ternate sebagai kerajaan islam terbesar di Indonesia timur, disamping Aceh dan Demak yang menguasai wilayah barat dan tengah Nusantara kala itu.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sepeninggal Sultan Baabullah Ternate mulai melemah, Spanyol yang telah bersatu dengan Portugis tahun 1580 mencoba menguasai kembali Maluku dan menyerang Ternate, peperangan dengan Spanyol memaksa Sultan Ternate meminta bantuan Belanda tahun 1603. Belanda akhirnya secara perlahan-lahan menguasai Ternate, meskipun para Sultan berikutnya terus menentang kedudukan Belanda namun mereka gagal dan kedudukan Belanda tetap kuat di Maluku, kegagalan mereka justru membuat Ternate semakin terpuruk, Ternate terpaksa tunduk lewat berbagai perjanjian yang menguntungkan Belanda, wilayah kekuasaan Ternate satu persatu jatuh ke tangan Belanda, kewenangan Sultan dibatasi hingga hanya menjadi simbol belaka dan sejak itu Ternate pun akhirnya terkucil dari dunia Internasional.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Bayanullah dibesarkan dalam lingkungan Islam yang ketat. Sejak resmi menjadi kerajaan Islam di masa kakeknya Kolano Marhum (periode 1465-1486), Ternate tak henti-hentinya melakukan perubahan dengan mengadopsi segala hal yang berbau islami. Sultan Bayanullah menetapkan Syariat Islam sebagai hukum dasar kerajaan. Seluruh rakyat Ternate diwajibkan memakai pakaian yang menutup aurat. Ia membentuk struktur baru dan lembaga pemerintahan sesuai Islam yang segera diadopsi oleh kerajaan-kerajaan lain di Maluku. Tindakannya ini berhasil membawa Maluku keluar dari alam Animisme ke Monoteisme (Islam).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Di masanya tiba orang Eropa pertama di Maluku, Ludovico Varthema (Loedwijk de Bartomo) tahun 1506. Tahun 1511 armada Portugis untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Maluku dibawah pimpinan Fransisco Serrao . Kedatangan Portugis yang awalnya untuk berdagang ini disambut dengan sukacita oleh Sultan Bayanullah dan bahkan menjadikan mereka sebagai penasihat kerajaan. Langkah yang sama juga ditempuh mertua sekaligus saingannya Sultan Almansur (periode 1500-1526) dari Tidore yang juga berlaku serupa terhadap orang-orang Spanyol .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Tahun 1526 ayah Sultana Nukila, Sultan Almansur dari Tidore mangkat dan meninggalkan tahta yang lowong, satu-satunya pewaris yang berhak adalah cucunya yakni putera mahkota Ternate Dayalu yang barui saja dinobatkan menjadi Sultan Ternate, Sultana Nukila menginginkan tahta Ternate dan Tidore dipersatukan dibawah puteranya itu tapi Portugis tentu saja tidak senang atas maksud ini karena penyatuan Ternate dan Tidore akan semakin menyulitkan mereka dalam upaya menguasai Maluku. Maka Gubernur Portugis membujuk Wali Raja Taruwese untuk menentang usul tersebut dan menjanjikan dukungan atas tuntutannya atas tahta Ternate.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sultan Abu Hayat II naik tahta menggantikan kakaknya Sultan Dayalu /Hidayatullah (periode 1522-1529) yang tewas dalam perang saudara melawan Wali Raja Teruwese (periode 1521-1529). Sultan Abu Hayat II membenci Portugis dan tak jarang terlibat konflik dengan mereka yang sering lancang mencampuri urusan kerajaan. Suatu ketika di tahun 1531 ia dituduh sebagai dalang pembunuhan terhadap Gubernur Portugis Gonzalo Pereira dan ditangkap, ia sempat dibebaskan sebelum akhirnya dibuang ke Malaka dimana ia menutup usia setahun kemudian.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sultan Tabariji pun bernasib sama, karena sering cekcok dengan Gubernur Portugis Vicente de Fonseca maka ia dilengserkan dan dibuang ke Goa-India. Sebagai gantinya Portugis menunjuk Sultan Khairun (periode 1534-1570), saudara tiri Tabariji. Di India , Tabariji dipaksa masuk Kristen dan ditekan untuk menyerahkan sebagian daerah kekuasaannya meliputi Ambon , Buru dan Seram kepada Portugis. Mantan Sultan muda yang malang inipun terpaksa menyetujui dan hendak dipulangkan ke Ternate dan dipulihkan sebagai raja oleh Portugis. Namun maksud itu ditentang keras oleh segenap rakyat Ternate dan Sultan Ternate yang baru Khairun. Upaya Portugis inipun gagal ketika akhirnya Tabariji meninggal dalam perjalanan pulang ke Ternate dari Malaka.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Di masa awal pemerintahannya pengaruh Portugis telah kuat merasuk dalam sendi-sendi kesultanan, dikarenakan sejak masa Sultan Bayanullah Portugis telah diberi kedudukan dan hak istimewa sebagai mitra dan penasihat kesultanan. Lambat laun kekuasaan dan pengaruh mereka semakin besar hingga tak jarang mereka turut campur dalam urusan kesultanan. Ternate pun tak ubahnya boneka Portugis. Sultan manapun yang dianggap menentang kehendak Portugis, difitnah kemudian dibunuh atau diasingkan ke negeri yang jauh.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sultan Khairun menaiki tahta dalam usia belia sehingga oleh Portugis dipandang remeh sebagai “bocah” yang mudah dikendalikan namun kemudian ternyata anggapan itu salah besar. Sementara itu di Goa-India selama dalam tahanan mantan Sultan Tabariji ditekan oleh Portugis untuk menyerahkan sejumlah daerahnya termasuk Ambon, Buru dan Seram kepada Portugis dengan imbalan hak-hak dan kedudukannya akan dikembalikan. Tabariji akhirnya menyetujui dan hendak dipulangkan dan dipulihkan sebagai Sultan Ternate. Kejadian ini kontan membuat berang rakyat Ternate dan Sultan Khairun dengan tegas menolak perjanjian berat sebelah itu. Beruntung bagi Sultan Khairun karena Tabariji meninggal dalam perjalanan pulang ke Ternate sehingga perjanjiannya dengan Portugis dengan begitu menjadi absurd dan Ternate terhindar dari ancaman perang saudara.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Walaupun membenci Portugis dan menyadari kekurang ajaran mereka, Sultan Khairun tidak semerta-merta memutuskan hubungan dengan Portugis karena menyadari kedudukan Portugis di Maluku ketika itu sangat kokoh dan lagi pengaruh Portugis dalam istana sudah sedemikian kuat sehingga perlu baginya untuk tetap mengadakan hubungan dengan mereka sembari memperkuat dirinya sendiri. Untuk itu Sultan pun giat mencari dukungan dari luar. Melalui Aceh sebagai perantara Sultan pun kemudian menjalin hubungan dengan kekaisaran Turki Usmani musuh Portugis di Eropa darimana ia memperoleh persenjataan, meriam-meriam dan cendekiawan yang didatangkan ke Ternate.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Tahun 1546 datang seorang misionaris terkenal, Saint Francis Xavier atau Franciscus Xaverius ke Ternate. Sultan kemudian memberi ijin untuk kegiatan misionaris di Maluku dengan syarat kegiatan misionaris hanya ditujukan bagi rakyat Ternate yang masih menganut animisme, apapun tindakan untuk mempengaruhi orang islam beralih agama dilarang. Namun belakangan peraturan itu dilanggar. Portugis menggunakan kegiatan misionaris sebagai tameng dalam upayanya merongrong Ternate, sejumlah kerajaan kecil yang telah dikristenkan dihasut untuk menentang Ternate, rakyat kerajaan-kerajaan kecil itu yang muslim dipaksa beralih agama. Tindak-tanduk Portugis ini menimbulkan kemarahan Sultan Khairun yang akhirnya secara terang-terangan mengumumkan perang terhadap Portugis. satu persatu kerajaan-kerajaan kecil yang memberontak ditundukan disamping itu Sultan Khairun juga mengirimkan sejumlah armada lautnya untuk membantu Demak dan Aceh menggempur Portugis di Malaka. Benteng tempat kedudukan Gubernur Portugis di Ternate dikepung, sedang kedudukan Portugis di daerah lain diserang. Sultan Khairun sengaja menahan diri untuk tidak memberangus pusat Portugis Maluku di Ternate dengan harapan mereka akan menyadari kekeliruannya dan memohon damai.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Tahun 1558 sementara Benteng Portugis di Ternate dikepung, Sultan Khairun menunjuk puteranya pangeran Laulata sebagai Salahakan (Gubernur) Ambon dan bertugas memukul kedudukan Portugis di Maluku selatan serta menaklukan banyak daerah baru untuk Ternate. Raja Muda Portugis di Goa kemudian mengirim armada besar ke Ambon dibawah pimpinan Henrique De Sa untuk memukul mundur pasukan Ternate, dan untuk beberapa lama upaya mereka berhasil sebelum Sultan Khairun kembali mengirim ekspedisi ke Ambon dan dengan bantuan orang-orang Jawa dan muslim Hitu kekuatan Portugis di Maluku selatan berhasil diberangus tahun 1567 .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sultan Khairun dikenal sangat toleran. Rakyat Ternate yang telah memeluk Kristen dibiarkan menjalankan ibadahnya secara bebas, pusat-pusat kegiatan misionaris serta pembangunan gereja-gereja kembali diperbolehkan dibuka di Maluku. Namun suasana damai ini diam-diam dimanfaatkan Portugis untuk menyusun kembali kekuatan. tahun 1569 Portugis membangun kembali benteng mereka di Ambon dan menyusun kekuatan menunggu waktu untuk bangkit kembali. Tokoh sentral dalam perlawanan terhadap Portugis di Maluku adalah Sultan Khairun dan ini disadari betul oleh mereka, untuk menguasai Maluku tokoh ini harus dilenyapkan. Maka dengan tipu muslihat Gubernur Lopez de Mesquita mengundang sang Sultan untuk berkunjung ke Bentengnya. Tanggal 25 Februari 1570 Sultan Khairun memenuhi undangan itu, percaya akan niat baik Portugis sang Sultan datang dengan hanya ditemani segelintir pengawal, tak disangka dia dibokong dan dibunuh beserta pengawalnya atas perintah sang Gubernur. Gubernur De Mesquita berharap dengan matinya Sultan Khairun, rakyat Maluku akan patah semangat dan tercerai berai namun tak menyangka sama sekali perbuatannya ini justru akan membawa kehancuran bagi Portugis di Maluku.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Nama asli beliau Raden Abdul Qadir putra Raden Muhammad Yunus dari Jepara . Raden Muhammad Yunus adalah putra seorang Muballigh pendatang dari Parsi yang dikenal dengan sebutan Syekh Khaliqul Idrus . Muballigh dan Musafir besar ini datang dari Parsi ke tanah Jawa mendarat dan menetap di Jepara di awal 1400-an masehi. Silsilah Syekh ini yang bernama lengkap Abdul Khaliq Al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy (wafat di Parsi) bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri (wafat di Palestina) bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari (wafat di Madina) bin Syekh Abdul Wahhab (wafat di Mekkah) bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi (wafat di Parsi) bin Imam Besar Hadramawt Syekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam. Imam Faqih Muqaddam seorang Ulama besar sangat terkenal di abad 12-13 M yang merupakan keturunan cucu Nabi Muhammad , Sayyidus Syuhada Imam Husayn (Qaddasallohu Sirruhu) putra Imam Besar Sayyidina Ali bin Abi Talib Karromallohu Wajhahu dengan Sayyidah Fatimah Al Zahra .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Setelah menetap di Jepara, Syekh Khaliqul Idrus menikah dengan putri seorang Muballigh asal Gujarat yang lebih dulu datang ke tanah Jawa yaitu dari keturunan Syekh Mawlana Akbar , seorang Ulama , Muballigh dan Musafir besar asal Gujarat, India yang mempelopori dakwah di Asia Tenggara . Seorang putra beliau adalah Syekh Ibrahim Akbar yang menjadi Pelopor dakwah di tanah Campa (di delta Sungai Mekong , Kamboja ) yang sekarang masih ada perkampungan Muslim . Seorang putra beliau dikirim ke tanah Jawa untuk berdakwah yang dipanggil dengan Raden Rahmat atau terkenal sebagai Sunan Ampel . Seorang adik perempuan beliau dari lain Ibu (asal Campa) ikut dibawa ke Pulau Jawa untuk ditawarkan kepada Raja Brawijaya sebagai istri untuk langkah awal meng- Islam -kan tanah Jawa.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Raja Brawijaya berkenan menikah tapi enggan terang-terangan masuk Islam. Putra yang lahir dari pernikahan ini dipanggil dengan nama Raden Patah. Setelah menjadi Raja Islam yang pertama di beri gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah. Disini terbukalah rahasia kenapa beliau Raden Patah diberi gelar Alam Akbar karena ibunda beliau adalah cucu Ulama Besar Gujarat Syekh Mawlana Akbar yang hampir semua keturunannya menggunakan nama Akbar seperti Ibrahim Akbar, Nurul Alam Akbar, Zainal Akbar dan banyak lagi lainnya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kembali ke kisah Syekh Khaliqul Idrus, setelah menikah dengan putri Ulama Gujarat keturunan Syekh Mawlana Akbar lahirlah seorang putra beliau yang bernama Raden Muhammad Yunus yang setelah menikah dengan seorang putri pembesar Majapahit di Jepara dipanggil dengan gelar Wong Agung Jepara. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putra yang kemudian terkenal sangat cerdas dan pemberani bernama Abdul Qadir yang setelah menjadi menanntu Sultan Demak I Raden Patah diberi gelar Adipati bin Yunus atau terkenal lagi sebagai Pati Unus yang kelak setelah gugur di Malaka di kenal masyarakat dengan gelar Pangeran Sabrang Lor.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Setelah Raden Abdul Qadir beranjak dewasa di awal 1500-an beliau diambil mantu oleh Raden Patah yang telah menjadi Sultan Demak I. Dari Pernikahan dengan putri Raden Patah, Abdul Qadir resmi diangkat menjadi Adipati wilayah Jepara (tempat kelahiran beliau sendiri). Karena ayahanda beliau (Raden Yunus) lebih dulu dikenal masyarakat, maka Raden Abdul Qadir lebih lebih sering dipanggil sebagai Adipati bin Yunus (atau putra Yunus). Kemudian hari banyak orang memanggil beliau dengan yang lebih mudah Pati Unus.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sehubungan dengan intensitas persaingan dakwah dan niaga di Asia Tenggara meningkat sangat cepat dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis di tahun 1511 , maka Kesultanan Demak mempererat hubungan dengan kesultanan Banten – Cirebon yang juga masih keturunan Syekh Mawlana Akbar Gujarat. Karena Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah adalah putra Abdullah putra Nurul Alam putra Syekh Mawlana Akbar, sedangkan Raden Patah seperti yang disebut dimuka adalah ibundanya cucu Syekh Mawlana Akbar yang lahir di Campa. Sedangkan Pati Unus neneknya dari pihak ayah adalah juga keturunan Syekh Mawlana Akbar.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Hubungan yang semakin erat adalah ditandai dengan pernikahan yang ke02 Pati Unus dengan Ratu Ayu putri Sunan Gunung Jati tahun 1511. Tak hanya itu, Pati Unus kemudian diangkat sebagai Panglima Gabungan Armada Islam membawahi armada Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon, diberkati oleh mertuanya sendiri yang merupakan Pembina umat Islam di tanah Jawa, Syekh Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati. Gelar beliau yang baru adalah Senapati Sarjawala dengan tugas utama merebut kembali tanah Malaka yang telah jatuh ke tangan Portugis.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Tahun 1512 giliran Samudra Pasai yang jatuh ke tangan Portugis. Hal ini membuat tugas Pati Unus sebagai Panglima Armada Islam tanah jawa semakin mendesak untuk segera dilaksanakan. Maka tahun 1513 dikirim armada kecil, ekspedisi Jihad I yang mencoba mendesak masuk benteng Portugis di Malaka tapi gagal dan balik kembali ke tanah Jawa. Kegagalan ini karena kurang persiapan menjadi pelajaran berharga untuk membuat persiapan yang lebih baik. Maka direncanakanlah pembangunan armada besar sebanyak 375 kapal perang di tanah Gowa , Sulawesi yang masyarakatnya sudah terkenal dalam pembuatan kapal.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Memasuki tahun 1521, ke 375 kapal telah selesai dibangun, maka walaupun baru menjabat Sultan selama 3 tahun Pati Unus tidak sungkan meninggalkan segala kemudahan dan kehormatan dari kehidupan keraton bahkan ikut pula 2 putra beliau (yang masih sangat remaja) dari pernikahan dengan putri Raden Patah dan seorang putra lagi (yang juga masih sangat remaja) dari seorang selir dengan risiko kehilangan segalanya termasuk putus nasab keturunan, tapi sungguh Allah membalas kebaikan orang-orang yang berjuang di jalannya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Armada Islam gabungan tanah Jawa yang juga menderita banyak korban kemudian memutuskan mundur dibawah pimpinan Raden Hidayat, orang kedua dalam komando setelah Pati Unus gugur. Satu riwayat yang belum jelas siapa Raden Hidayat ini, kemungkinan ke-2 yang lebih kuat komando setelah Pati Unus gugur diambil alih oleh Fadhlulah Khan (Tubagus Pasai) karena sekembalinya sisa dari Armada Gabungan ini ke Pulau Jawa , Fadhlullah Khan alias Falathehan alias Fatahillah alias Tubagus Pasai-lah yang diangkat Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai Panglima Armada Gabungan yang baru menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Putra pertama dan ketiga Pati Unus ikut gugur, sedangkan putra kedua, Raden Abdullah dengan takdir Allah untuk meneruskan keturunan Pati Unus, selamat dan bergabung dengan armada yang tersisa untuk kembali ke tanah Jawa. Turut pula dalam armada yang balik ke Jawa, sebagian tentara Kesultanan Malaka yang memutuskan hijrah ke tanah Jawa karena negerinya gagal direbut kembali dari tangan penjajah Portugis. Mereka orang Melayu Malaka ini keturunannya kemudian membantu keturunan Raden Abdullah putra Pati Unus dalam meng-Islam-kan tanah Pasundan hingga dinamai satu tempat singgah mereka dalam penaklukan itu di Jawa Barat dengan Tasikmalaya yang berarti Danau nya orang Malaya ( Melayu ).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sedangkan Pati Unus, Sultan Demak II yang gugur kemudian disebut masyarakat dengan gelar Pangeran Sabrang Lor atau Pangeran (yang gugur) di seberang utara. Pimpinan Armada Gabungan Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon segera diambil alih oleh Fadhlullah Khan yang oleh Portugis disebut Falthehan, dan belakangan disebut Fatahillah setelah mengusir Portugis dari Sunda Kelapa 1527. Di ambil alih oleh Fadhlullah Khan adalah atas inisiatif Sunan Gunung Jati yang sekaligus menjadi mertua karena putri beliau yang menjadi janda Sabrang Lor dinikahkan dengan Fadhlullah Khan.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dengan selamatnya putra Pati Unus yang kedua yaitu Raden Abdullah, maka sungguh Allah hendak melestarikan keturunan para Syahid, seperti yang terjadi pada pembantaian cucu nabi Muhammad , Imam Husain dan keluarganya ternyata keturunan beliau justru menjadi berkembang besar dengan selamatnya putra beliau Imam Zaynal Abidin . Bukan kebetulan pula bila Pati Unus pun seperti yang disebut diatas adalah keturunan Imam Husayn cucu Nabi Muhammad SAW, karena hanya Pahlawan besar yang melahirkan Pahlawan besar.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Ketika armada Islam mendaratkan pasukan Banten di teluk Banten, Raden Abdullah diajak pula untuk turun di Banten untuk tidak melanjutkan perjalanan pulang ke Demak. Para komandan dan penasehat armada yang masih saling berkerabat satu sama lain sangat khawatir kalau Raden Abdullah akan dibunuh dalam perebutan tahta mengingat sepeninggal Pati Unus, sebagian orang di Demak merasa lebih berhak untuk mewarisi Kesultanan Demak karena Pati Unus hanya menantu Raden Patah dan keturunan Pati Unus (secara patrilineal) adalah keturunan Arab seperti keluarga Kesultanan Banten dan Cirebon, sementara Raden Patah adalah keturunan Arab hanya dari pihak Ibu sedangkan secara patrilineal (garis laki-laki terus menerus dari pihak ayah, Brawijaya) adalah murni keturunan Jawa (Majapahit).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kebanggaan Orang Jawa sebagai orang Jawa walaupun sudah menerima Islam berbeda dengan sikap orang Pasundan setelah menerima Islam berkenan menerima Raja mereka dari keturunan Arab seperti Sultan Cirebon Sunan Gunung jati dan putranya Sultan Banten Mawlana Hasanuddin . Kebanggaan orang Jawa sebagai bangsa yang punya identitas sendiri, dengan gugurnya Pati Unus, membuka kembali konflik lama yang terpendam dibawah kewibawaan dan keadilan yang bersinar dari Pati Unus. Kisah ini nyaris mirip dengan gugurnya Khalifah umat Islam ketiga di Madinah , Umar bin Khattab yang segera membuka kembali konflik lama antara banyak kelompok yang sudah lama saling bertikai di Mekah dan Madinah.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sebagian riwayat turun temurun menyebutkan Pangeran Yunus (Raden Abdullah putra Pati Unus) ini kemudian dinikahkan oleh Mawlana Hasanuddin dengan putri yang ke III, Fatimah. Tidak mengherankan, karena Kesultanan Demak telah lama mengikat kekerabatan dengan Kesultanan Banten dan Cirebon . Selanjutnya pangeran Yunus yang juga banyak disebut sebagai Pangeran Arya Jepara dalam sejarah Banten, banyak berperan dalam pemerintahan Sultan Banten ke II Mawlana Yusuf (adik ipar beliau) sebagai penasehat resmi Kesultanan . Dari titik ini keturunan beliau selalu mendapat pos Penasehat Kesultanan Banten , seperti seorang putra beliau Raden Aryawangsa yang menjadi Penasehat bagi Sultan Banten ke III Mawlana Muhammad dan Sultan Banten ke IV Mawlana Abdul Qadir.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Ketika penaklukan Kota Pakuan terakhir 1579 , Raden Aryawangsa yang masih menjadi Panglima dalam pemerintahan Sultan Banten ke II Mawlana Yusuf (yang juga paman beliau sendiri karena Ibunda beliau adalah kakak dari Mawlana Yusuf yang dinikahi Raden Abdullah putra Pati Unus) mempunyai jasa besar, sehingga diberikan wilayah kekuasaan Pakuan dan bermukim hingga wafat di desa Lengkong (sekarang dekat Serpong ). Raden Aryawangsa menikahi seorang putri Istana Pakuan dan keturunannya menjadi Adipati Pakuan dengan gelar Sultan Muhammad Wangsa yang secara budaya menjadi panutan wilayah Pakuan yang telah masuk Islam ( Bogor dan sekitarnya), tapi tetap tunduk dibawah hukum Kesultanan Banten.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Seperti yang disebut diatas, Raden Aryawangsa kemudian lebih banyak berperan di Kesultanan Banten sebagai Penasehat Sultan , setelah beliau wafat kiprah keluarga Pati Unus kemudian diteruskan oleh putra dan cucu beliau para Sultan Pakuan Islam hingga Belanda menghancurkan keraton Surosoan di zaman Sultan Ageng Tirtayasa ( 1683 ), dan membuat keraton Pakuan Islam ,sebagai cabang dari Keraton Banten, ikut lenyap dari percaturan politik dengan Sultan yang terakhir Sultan Muhammad Wangsa II bin Sultan Muhammad Wangsa I bin Raden Aryawangsa bin Raden Abdullah bin Pangeran Sabrang Lor bin Raden Muhammad Yunus Jepara ikut menyingkir ke pedalaman Bogor sekitar Ciampea .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Raden Surya dikirim ayahnya, Raden Abdullah putra Pati Unus yang telah menjadi Penasehat Kesultanan Banten untuk membantu laskar Islam Cirebon dalam usaha peng Islaman Priangan Timur. Raden Surya memimpin dakwah (karena hampir tanpa pertempuran) hingga mencapai daerah Sukapura dibantu keturunan tentara Malaka yang hijrah ketika Pati Unus gagal merebut kembali Malaka dari penjajah Portugis. Beristirahatlah mereka di suatu tempat dan dinamakan Tasikmalaya yang berarti danaunya orang Malaya (Melayu) karena didalam pasukan beliau banyak terdapat keturunan Melayu Malaka.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Raden Surya di tahun 1580 ini di angkat oleh Sultan Cirebon II Pangeran Arya Kemuning atau dipanggil juga Pangeran Kuningan (putra angkat Sunan Gunung Jati, karena putra kandung Pangeran Muhammad Arifin telah wafat) sebagai Adipati Galuh Islam. Akan tetapi seiring dengan makin melemahnya kesultanan Cirebon sejak wafatnya Sunan Gunung Jati pada tahun 1579, maka wilayah Galuh Islam berganti-ganti kiblat Kesultanan. Pada saat 1585-1595 wilayah Sumedang maju pesat dengan Prabu Geusan Ulun memaklumkan diri jadi Raja memisahkan diri dari Kesultanan Cirebon. Sehingga seluruh wilyah Priangan taklukan Cirebon termasuk Galuh Islam bergabung ke dalam Kesultanan Sumedang Larang . Inilah zaman keemasan Sumedang yang masih sering di dengungkan oleh keturunan Prabu Geusan Ulun dari dinasti Kusumahdinata .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Di sekitar tahun 1620 salah seorang putra Raden Suryadiningrat menjadi kepala daerah Sukapura beribukota di Sukakerta bernama Raden Wirawangsa setelah menikah dengan putri bangsawan setempat. Raden Wirawangsa kelak di tahun 1635 resmi menjadi Bupati Sukapura diangkat oleh Sultan Agung Mataram karena berjasa memadamkan pemberontakan Dipati Ukur. Raden Wirawangsa diberi gelar Tumenggung Wiradadaha I yang menjadi cikal bakal dinasti Wiradadaha di Sukapura (Tasikmalaya). Gelar Wiradadaha mencapai yang ke VIII dan dimasa ini dipindahkanlah ibukota Sukapura ke Manonjaya . Bupati Sukapura terakhir berkedudukan di Manonjaya adalah kakek dari kakek kami bergelar Raden Tumenggung Wirahadiningrat memerintah 1875-1901. Setelah beliau pensiun maka ibukota Sukapura resmi pindah ke kota Tasikmalaya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Akan tetapi Arya Penangsang tidak lama berkuasa karena mendapat banyak tentangan dari para tokoh masyarakat dan adipati lainnya, diataranya Ratu Kalinyamat yang suaminya Adipati Jepara konon juga dibunuh oleh suruhan Arya Penangsang. Adipati Pajang Joko Tingkir yang juga menantu Sultan Terenggono, bersama-sama dengan Ki Ageng Pemanahan dan putranya Sutawijaya lalu menyerang dan berhasil menyingkirkan Arya Penangsang. Joko Tingkir kemudian mendirikan Kesultanan Pajang dan naik tahta dengan gelar Sultan Adiwijaya . Ia memindahkan keraton ke Pajang , Jawa Tengah .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Riwayatnya banyak digali dari Babad Tanah Jawi . Di situ dikisahkan, Joko Tingkir merupakan pemuda dusun yang berasal dari Desa Tingkir (sekarang menjadi bagian dari Kota Salatiga ). Ia melamar menjadi prajurit di Demak, yang karena kesaktiannya karirnya melejit menjadi penyeleksi prajurit baru. Setelah melalui perjuangan yang berliku, Mas Karebet menikah dengan Ratu Mas Cempa putri Sultan Trenggana yang penguasa ketiga Kesultanan Demak Bintara. Selanjutnya, Joko Tingkir diberi kekuasaan untuk memimpin daerah Pajang semasa Demak diperintah oleh Sunan Prawoto , saudara iparnya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Jaka Tingkir yang secara politik telah kuat menyatakan diri sebagai penguasa Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya . Karena ambisi Arya Penangsang untuk menyingkirkan semua keturunan Raden Patah demi mengamankan tahta Demak, Joko Tingkir meminta bantuan menantunya, Sutawijaya yang putra Ki Ageng Pemanahan , untuk menyingkirkan Arya Penangsang. Permintaan ini akan disanggupi asalkan Sutawijaya diberi separuh wilayah Mentaok (di sebelah tenggara kota Yogyakarta kini) apabila berhasil dalam misinya. Karena akhirnya berhasil, Joko Tingkir memberi hak itu kepada Sutawijaya pada tahun 1568 . Demak menjadi kadipaten di bawah Pajang dengan adipati Arya Pengiri (putra Sunan Prawata).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kadipaten Mataram yang dibangun Sutawijaya di Hutan Mentaok berkembang pesat, bahkan lama-kelamaan menjadi sekuat Pajang hingga Sutawijaya enggan mengakui kekuasaan Pajang. Timbullah konflik antara Sultan Hadiwijaya dan Sutawijaya. Sepulang dari suatu pertemuan di Mataram, Sultan Hadiwijaya tewas terjatuh dari gajah. Maka, kesempatan ini diambil Sutawijaya untuk memaklumkan Mataram sebagai pemegang kekuasaan Peristiwa ini terjadi pada tahun 1587 . Pajang selanjutnya hanya menjadi kadipaten di bawah Mataram, dengan adipati Raden Benawa (putra Hadiwijaya yang juga ipar Sutawijaya). Berakhirlah era Pajang.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sutawijaya naik tahta setelah ia merebut wilayah Pajang sepeninggal Hadiwijaya dengan gelar Panembahan Senopati . Pada saat itu wilayahnya hanya di sekitar Jawa Tengah saat ini, mewarisi wilayah Kerajaan Pajang . Pusat pemerintahan berada di Mentaok , wilayah yang terletak kira-kira di timur Kota Yogyakarta dan selatan Bandar Udara Adisucipto sekarang. Lokasi keraton (tempat kedudukan raja) pada masa awal terletak di Banguntapan , kemudian dipindah ke Kotagede . Sesudah ia meninggal (dimakamkan di Kotagede ) kekuasaan diteruskan putranya Mas Jolang yang setelah naik tahta bergelar Prabu Hanyokrowati.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pemerintahan Prabu Hanyokrowati tidak berlangsung lama karena beliau wafat karena kecelakaan saat sedang berburu di hutan Krapyak . Karena itu beliau juga disebut Susuhunan Seda Krapyak atau Panembahan Seda Krapyak yang artinya Raja (yang) wafat (di) Krapyak . Setelah itu tahta beralih sebentar ke tangan putra keempat Mas Jolang yang bergelar Adipati Martoputro . Ternyata Adipati Martoputro menderita penyakit saraf sehingga tahta beralih ke putra sulung Mas Jolang yang bernama Mas Rangsang .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sesudah naik tahta Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo . Namun ia lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung . Letak keraton Mataram pada masa ini dipindah ke Pleret (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Bantul ). Pada masanya wilayah Mataram diperluas hingga mencakup hampir seluruh pulau Jawa dan Madura. Akibatnya terjadi gesekan dengan VOC yang berpusat di Batavia . Maka terjadilah beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC. Setelah beliau wafat (dimakamkan di Imogiri ), penggantinya adalah putranya yang bergelar Amangkurat (Amangkurat I, Sunan Tegalarum).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kekacauan politik baru dapat diselesaikan setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan (Nga)yogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada tahun 1755. Pembagian wilayah ini tertuang dalam perjanjian Giyanti (nama diambil dari lokasi penandatanganan, di sebelah timur kota Karanganyar, Jawa Tengah). Berakhirlah era Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah. Walaupun demikian sebagian masyarakat Jawa beranggapan bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah “ahli waris” dari Kesultanan Mataram.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Nama aslinya ialah Danang Sutowijoyo yang juga dikenal sebagai Sutawijaya . Ia adalah putra Ki Gede Pemanahan yang berjasa membantu Jaka Tingkir membunuh Aryo Penangsang , adipati Jipangpanolan dalam krisis politik di Kesultanan Demak Bintoro pada masa akhir pemerintahan Sultan Trenggana .Setelah Jaka Tingkir menjadi Raja bergelar Sultan Hadiwijaya yang akhirnya mendirikan Kesultanan Pajang , beliau kemudian dianugerahi tanah Mentaok (di Kotagedhe , Yogyakarta sekarang). Bersama-sama ayahnya ia memerintah daerah itu. Karena keraton Sutawijaya berada di sebelah utara pasar maka dia bergelar Ngabehi Loring Pasar (Yang dipertuan di Sebelah Utara Pasar)

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Setelah Ki Gede Pemanahan meninggal tahun 1575 M. Sutawijaya memberontak kepada Pajang tahun 1582 M dan membuat Mataram merdeka dari Pajang. Di Pajang sendiri, setelah mangkatnya Sultan Hadiwijaya, tahta berpindah pada putranya Pangeran Benowo , namun ia dikudeta Aryo Pangiri , adipati Demak dan dijadikan adipati di Jipangpanolan. Pangeran Benowo kalah, lalu ia minta bantuan Sutawijaya untuk membantunya melawan Aryo Pangiri. Setelah mengalahkan Aryo Pangiri, Pangeran Benowo menyerahkan pusaka Pajang pada Sutawijaya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Tahun 1586 M, Sutawijaya akhirnya mengangkat dirinya jadi sultan dengan gelar Panembahan Senopati , Khalifatullah Sayyidin Penatagama ( Khalifah /penguasa dan penata agama). Gelar Khalifatullah Sayyidin Penatagama ini juga diberikan pada raja-raja Mataram sesudahnya bahkan pada kerajaan-kerajaan di Surakarta dan Yogyakarta seperti Sultan Hamengkubuwono dari Yogyakarta. Beliau juga mendirikan Kesultanan Mataram yang berpusat di Kotagedhe. Gelar Panembahan Senopati digunakannya karena dia menghormati Pangeran Benowo yang merupakan penerus yang sah Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang sehingga dia tidak memakai gelar Sultan .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sultan Agung beberapa kali melancarkan peperangan antara Mataram dengan VOC. Tercatat dua kali Sultan Agung mengadakan serangan ke VOC di Batavia, yaitu pada tahun 1628 dan 1629. Bahkan serangan kedua dipersiapkan dengan baik di antaranya dengan kekuatan Dipati Ukur dan pemenuhan logistik dengan dibukanya areal persawahan di sekitar Karawang , Cirebon , dan daerah pantai utara Jawa serta pengerahan armada angkatan lautnya. Namun dua kali serangan Sultan Agung menemui kegagalan. Selain melakukan serangan ke Batavia, beliau melakukan perluasan daerah di antaranya menaklukan Kadipaten Path’i ( Pati ) dan melakukan diplomasi persahabatan dan persekutuan dengan Panembahan Ratu dari Kesultanan Cirebon .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pada masa Sultan Agung, budaya yang dikembangkan di Jawa menurut para sejarawan Indonesia kontemporer adalah budaya pedalaman jawa yang berciri kejawen, feodal dan berbau mistik. Ini berbeda dengan kebudayaan pada masa-masa sebelumnya yang berciri perniagaan dengan kesultanan dan daerah yang tumbuh di pesisir utara Jawa, terutama dilihat dari letak ibukotanya yang berada di pedalaman Jawa dan berorientasi kepada laut selatan yang bersifat mistis dengan kepercayaan pada Nyi Roro Kidul , penguasa gaib di laut selatan pulau Jawa yang konon memiliki perjanjian menikah dengan Raja-raja Mataram semenjak masa Panembahan Senapati sebagai bagian dari persekutuan mistis. Para sejarawan dan budayawan Sunda menyatakan sejak Sultan Agung menguasai daerah-daerah Priangan di Jawa Barat (kecuali daerah Kesultanan Banten), bahasa Sunda memiliki tingkatan yang sama dengan bahasa Jawa khususnya di Wilayah Mataraman yakni dikenal istilah bahasa sunda halus dan bahasa sangat halus yang sebelumnya tidak dikenal.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Amangkurat I diangap telah memerintahkan penyingkiran terhadap penguasa-penguasa lokal yang dianggapnya tidak terlalu berguna, dalam hal ini termasuk Pangeran Pekik dari Surabaya yang tak lain adalah mertuanya sendiri. Ia juga menutup pelabuhan dan menghancurkan kapal-kapal di kota-kota pesisir, untuk mencegah berkembangnya kekuatan mereka karena kesejahteraan yang meningkat. Demi meningkatkan kemashuran, Amangkurat I memilih untuk meninggalkan istana Sultan Agung di Kartasura (terbuat dari kayu), serta memindahkan ibukota dan mendirikan istana baru (terbuat dari bata merah) yang lebih megah di Plered .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pada pertengahan 1670, ketidak-puasan terhadap Amangkurat I telah berubah menjadi pemberontakan terbuka, yang diawali dari daerah Jawa Timur dan terus ke daerah pedalaman Jawa. Putra mahkota yang bernama Adipati Anom (nantinya menjadi Amangkurat II ), merasa bahwa jiwanya terancam di lingkungan istana setelah ia mengambil salah seorang selir ayahnya dengan bantuan Pangeran Pekik dari Surabaya. Dipihak lain, kejadian tersebut menimbulkan kecurigaan Amangkurat I terhadap adanya konspirasi antara anaknya dengan pihak Surabaya, yaitu dengan memanfaatkan posisi penting sang putra mahkota yang juga merupakan cucu dari Pangeran Pekik.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Untuk menghadapi kecurigaan tersebut, Adipati Anom kemudian bekerjasama dengan Panembahan Rama dari Kajoran, yaitu letaknya di sebelah barat Magelang . Panembahan Rama mengusulkan agar ia membiayai menantunya, yaitu Raden Trunajaya seorang pangeran dari Madura , untuk melakukan pemberontakan. Amangkurat I dan Adipati Anom kemudian melarikan diri dari ibukota, dan meninggalkan Pangeran Puger untuk memimpin perlawanan. Trunajaya dan pasukannya, yang juga dibantu para pejuang Makasar pimpinan Karaeng Galesong , ternyata akhirnya dapat menguasai istana kerajaan di Mataram pada pertangahan 1677. Diperkirakan terjadi perselisihan antara Trunajaya dan Adipati Anom, sehingga Trunajaya tidak jadi menyerahkan kekuasaan kepada Adipati Anom sebagaimana yang direncanakan sebelumnya dan malah melakukan penjarahan terhadap istana Kartasura.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Setelah mengambil rampasan perang dari istana, Trunajaya kemudian meninggalkan keraton Mataram dan kembali ke pusat kekuasaannya di Kediri , Jawa Timur . Kesempatan ini diambil oleh Pangeran Puger untuk menguasai kembali keraton yang sudah lemah, dan mengangkat dirinya menjadi raja di Plered dengan gelar Susuhunan ing Alaga. Dengan demikian sejak saat itu terpecahlah kerajaan Mataram. Tak lama setelah kejadian tersebut, Amangkurat I meninggal dunia dalam pelariannya dan kemudian dimakamkan di Tegalarum pada tahun 1677 itu juga. Ia kemudian digantikan oleh sang putra mahkota dengan gelar Amangkurat II.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat , membuatnya menjadi pelabuhan dan “jembatan” antara kebudayaan Jawa dan Sunda sehingga tercipta suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari , Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban ( Bahasa Sunda : campuran), karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Ketika kakeknya Ki Gedeng Tapa yang penguasa pesisir utara Jawa meninggal, Walangsungsang tidak meneruskan kedudukan kakeknya, melainkan lalu mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Pangeran Cakrabuana, yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman, tampil sebagai “raja” Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulailah oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka , Kuningan , Kawali (Galuh), Sunda Kelapa , dan Banten . Setelah Sunan Gunung Jati wafat, terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam Cirebon. Pada mulanya calon kuat pengganti Sunan Gunung Jati ialah Pangeran Dipati Carbon, Putra Pangeran Pasarean, cucu Sunan Gunung Jati. Namun, Pangeran Dipati Carbon meninggal lebih dahulu pada tahun 1565.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat keraton yang selama Sunan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah, pemerintahan dijabat oleh Fatahillah atau Fadillah Khan. Fatahillah kemudian naik takhta, dan memerintah Cirebon secara resmi menjadi raja sejak tahun 1568. Fatahillah menduduki takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung dua tahun karena ia meninggal dunia pada tahun 1570, dua tahun setelah Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Panembahan Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan, yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram . Banten merasa curiga sebab Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram ( Amangkurat I adalah mertua Panembahan Girilaya). Mataram dilain pihak merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri, karena Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten adalah sama-sama keturunan Pajajaran. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Girilaya di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya di Mataram.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dengan kematian Panembahan Girilaya, maka terjadi kekosongan penguasa. Sultan Ageng Tirtayasa segera menobatkan Pangeran Wangsakerta sebagai pengganti Panembahan Girilaya, atas tanggung jawab pihak Banten. Sultan Ageng Tirtayasa kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu Trunojoyo , yang saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari Mataram. Dengan bantuan Trunojoyo, maka kedua putra Panembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan dan dibawa kembali ke Cirebon untuk kemudian juga dinobatkan sebagai penguasa Kesultanan Cirebon.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya ini dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di ibukota Banten. Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing. Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan ( paguron ), yaitu tempat belajar para intelektual keraton. Dalam tradisi kesultanan di Cirebon, suksesi kekuasaan sejak tahun 1677 berlangsung sesuai dengan tradisi keraton , di mana seorang sultan akan menurunkan takhtanya kepada anak laki-laki tertua dari permaisurinya. Jika tidak ada, akan dicari cucu atau cicitnya. Jika terpaksa, maka orang lain yang dapat memangku jabatan itu sebagai pejabat sementara.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kehendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan keluarnya besluit ( Bahasa Belanda : surat keputusan) Gubernur Jenderal Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya tidak berhak atas gelar sultan, cukup dengan gelar pangeran. Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu Kesultanan Kacirebonan, pecahan dari Kesultanan Kanoman. Sementara tahta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sesudah kejadian tersebut, pemerintah Kolonial Belanda pun semakin dalam ikut campur dalam mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan dari keraton-keraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926, dimana kekuasaan pemerintahan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan disahkannya Gemeente Cheirebon (Kota Cirebon), yang mencakup luas 1.100 Hektar, dengan penduduk sekitar 20.000 jiwa (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun 1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektar.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pada saat Proklamasi Kemerdekaan RI, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII mengirim kawat kepada Presiden RI, menyatakan bahwa Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman menjadi bagian wilayah Negara Republik Indonesia, serta bergabung menjadi satu mewujudkan satu kesatuan Daerah Istimewa Yogyakarta . Sri sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII kemudian menjadi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Ø  1613 – Mas Jolang wafat kemudian digantikan oleh Pangeran Aryo Martoputro . Tetapi karena sering sakit kemudian digantikan oleh kakaknya Raden Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman dan juga terkenal dengan sebutan Prabu Pandita Hanyakrakusuma . Pada masa Sultan Agung kerajaan Mataram mengalami perkembangan pada kehidupan politik , militer , kesenian, kesusastraan, dan keagamaan. Ilmu pengetahuan seperti hukum , filsafat , dan astronomi juga dipelajari.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Ø  1645 – 1677 – Setelah wafatnya Sultan Agung , kerajaan Mataram mengalami kemerosotan yang luar biasa. Akar dari kemerosotan itu pada dasarnya terletak pada pertentangan dan perpecahan dalam keluarga Kerajaan Mataram sendiri yang dimanfaatkan oleh VOC . Puncak dari perpecahan itu terjadi pada tanggal 13 Februari 1755 yang ditandai dengan Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta . Dalam Perjanjian Giyanti tersebut dinyatakan bahwa Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan atas Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono Senapati Ingalaga Abdul Rakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah atau lebih populer dengan gelar Sri Hamengkubuwana I

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sri Hamengkubuwana I ( 6 Agustus 1717 – 24 Maret 1792 ) terlahir dengan nama Raden Mas Sujana yang merupakan adik Susuhunan Mataram II; Pakubuwana II di Surakarta . Sultan Hamengkubuwana I dalam sejarah terkenal sebagai Pangeran Mangkubumi pada waktu sebelum naik tahta kerajaan Ngayogyakarta, putra Sunan Prabu dan saudara muda Susuhunan Pakubuwana II. Karena berselisih dengan Pakubuwana II, masalah suksesi, ia mulai menentang Pakubuwana II (1747) yang mendapat dukungan Vereenigde Oost Indische Compagnie atau lebih terkenal sebagai Kompeni Belanda (perang Perebutan Mahkota III di Mataram).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dalam pertempurannya melawan kakaknya, Pangeran Mangkubumi dengan bantuan panglimanya Raden Mas Said , terbukti sebagai ahli siasat perang yang ulung, seperti ternyata dalam pertempuran-pertempuran di Grobogan , Demak dan pada puncak kemenangannya dalam pertempuran di tepi Sungai Bagawanta. Disana Panglima Belanda De Clerck bersama pasukannya dihancurkan (1751). peristiwa lain yang penting menyebabkan Pangeran Mangkubumi tidak suka berkompromi dengan Kompeni Belanda. Pada tahun 1749 Susuhunan Pakubuwana II sebelum mangkat menyerahkan kerajaan Mataram kepada Kompeni Belanda; Putra Mahkota dinobatkan oleh Kompeni Belanda menjadi Susuhunan Pakubuwana III .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Menurut perjanjian Giyanti itu kerajaan Mataram dipecah menjadi dua, ialah kerajaan Surakarta yang tetap dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwana III dan kerajaan Ngayogyakarta dibawah Pangeran Mangkubumi diakui sebagai Sultan Hamengkubuwana I yang bergelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah dengan karatonnya di Yogyakarta. Atas kehendak Sultan Hamengkubuwana I kota Ngayogyakarta (Jogja menurut ucapan sekarang) dijadikan ibukota kerajaan. Kecuali mendirikan istana baru, Hamengkubuwana I yang berdarah seni mendirikan bangunan tempat bercengrama Taman Sari yang terletak di sebelah barat istananya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Hamengkubuwana II ( 7 Maret 1750 – 2 Januari 1828 ) atau terkenal pula dengan nama lainnya Sultan Sepuh . Dikenal sebagai penentang kekuasaan Belanda, antara lain menentang gubernur jendral Daendels dan Raffles , sultan menentang aturan protokoler baru ciptaan Daendels mengenai alat kebesaran Residen Belanda, pada saat menghadap sultan misalnya hanya menggunakan payung dan tak perlu membuka topi, perselisihan antara Hamengkubuwana II dengan susuhunan surakarta tentang batas daerah kekuasaan juga mengakibatkan Daendels memaksa Hamengkubuwono II turun takhta pada tahun 1810 dan untuk selanjutnya bertahta secara terputus-putus hingga tahun 1828 . Hamengkubuwono III , Hamengkubuwono IV dan Hamengkubuwono V sempat bertahta saat masa hidupnya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dengan besar hati Hamengkubuwono VII mengikuti kemauan sang anak (mikul dhuwur mendem djero) yang secara politis telah menguasai kondisi didalam pemerintahan kerajaan, Didalam pengasingannya sang Raja pernah bersabda ” Tidak pernah ada Raja yang mati di keraton setelah saya” kita tidak tau maksud dari perkataan raja tetapi yang jelas raja Hamengkubuwono VIII meninggal dunia di tengah perjalanan di luar kota dan Hamengkubuwono IX meninggal di Amerika Serikat.Karena kepercayaan masyarakat Jawa tempo dulu suatu kebanggan kalo mereka meninggal di rumah sendiri .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sejak 1946 beliau pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno . Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin. Pada tahun 1973 beliau diangkat sebagai wakil presiden . Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN .

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dalam kajian sejarah Karaton Surakarta akan ditelusuri dan dideskripsikan latar belakang dan proses menemukan lokasi Karaton, pemindahannya, pembangunannya serta perkembangannya baik dari segi fisik bangunan maupun segi nonfisik. Deskripsi historis berdasarkan sumber informan, dokumen-dokumen karya sastra dan sebagainya diharapkan memberikan pengetahuan yang lebih mendalam tentang Karaton Surakarta. Dari pengetahuan ini orang/masyarakat akan tumbuh kesadaran akan warisan budaya tersebut dan memiliki persepsi tertentu terhadap obyek tersebut.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sebelumnya perlu dijelaskan mengenai pengertian Karaton. Menurut KRHT Wirodiningrat (Kantor Sasono Wilopo), ada tujuh pengertian (saptawedha) yang tercakup dalam istilah Karaton. Pertama, Karaton (Karaton) berarti kerajaan. Kedua, Karaton berarti kekuasaan raja yang mengandung dua aspek: kenegaraan (Staatsrechtelijk) dan magischreligieus. Ketiga, Karaton berarti penjelmaan “Wahyu nurbuwat” dan oleh karena itu menjadi pepunden dalam Kajawen. Keempat, Karaton berarti istana, kedaton “Dhatulaya” (rumah). Kelima, bentuk bangunan Karaton yang unik dan khas mengandung makna simbolik yang tinggi, yang menggambarkan perjalanan jiwa ke arah kesempurnaan. Keenam, Karaton sebagai Cultuur historische instelling (lembaga sejarah kebudayaan) menjadi sumber dan pemancar kebudayaan. Ketujuh, Karaton sebagai Badan (juridische instellingen), artinya Karaton mempunyai barang-barang hak milik atau wilayah kekuasaan (bezittingen) sebagai sebuah dinasti.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Ketika Sunan Paku Buwana II (1726 – 1749) kembali dari Ponorogo (1742), baginda menyaksikan kehancuran bangunan istana. Hampir seluruh bangunan rusak berat, bahkan banyak yang rata dengan tanah akibat ulah para pemberontak Cina. Bagi Sunan, keadaan tersebut mendorong niatnya untuk membangun sebuah istana yang baru, sebab istana Kartasura sudah tidak layak lagi sebagai tempat raja dan pusat kerajaan. Niat ini kemudian disampaikan kepada para punggawa kerajaan. Patih R. Ad. Pringgalaya dan beberapa bangsawan diajak berembug tentang rencana pembangunan istana baru tersebut. Raja berkehendak membangun istana baru di tempat yang baru. Raja menghendaki, istana yang baru itu berada di sebelah timur istana lama, dekat dengan Bengawan Sala. Hal ini dilakukan di samping untuk menjahui pengaruh para pemberontak yang mungkin masih bersembunyi di kartasura, juga untuk menghapus kenangan buruk kehancuran istana Kartasura.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Setelah diadakan pembicaraan seperlunya tentang rencana Sunan tersebut, akhirnya Sunan mengutus utusan yang terdiri dari ahli negara, pujangga dan ahli kebatinan untuk mencari tempat yang cocok bagi pembangunan istana baru. Para utusan tersebut diberi wewenang dan kekeuasaan untuk bersama-sama mencari dan memilih tempat yang cocok untuk istana batu, baik sacara lahiriah maupun batiniah. Utusan itu terdiri dari Mayor Hohendorp, Adipati Pringgalaya, dan Adipati Sindurejo (masing-masing sebagai Patih Jawi’Patih Luar’ dan Patih Lebet ‘Patih Dalam’), serta beberapa orang bupati. Utusan itu diikuti oleh Abdi Dalem ahli nujum, Kyai T. Hanggawangsa, RT Mangkuyuda, dan RT Puspanegara.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

1.       Desa kadipala; daerahnya datar, kering, akan tetapi para ahli nujum tidak menyetujui, sebab walaupun kelak kerajaan Jawa tumbuh menjadi kerajaan yang besar, berwibawa dan adil makmur, namun akan cepat rusak dan akhirnya runtuh. Sebagai tanda, maka ditempat itu dibangun sebuah panggung (Kopel). Sekarang panggung itu dikelilingi oleh bangunan dan gudang kayu jati milik seorang Cina, Jap Kam Mlok (Tikno Pranoto, tth: 27). Letaknya di depan bekas Rumah Sakit Kadipala, di sebelah utara jalan Dr. Rajiman.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Setelah diadakan permusyawaratan, para utusan akhirnya memilih desa Sala sebagai calon tunggal untuk tempat pembangunan istana baru, dan keputusan ini kemudian disampaikan kepada Sunan di Kartasura. Setelah Sunan menerima laporan dari para utusan tersebut, kemudian memerintahkan beberapa orang Abdi Dalem untuk meninjau dan memastikan tempat itu. Utusan  itu ialah Panembahan Wijil, Abdi Dalem Suranata, Kyai Ageng Khalifah Buyut, Mas Pangulu Fakih Ibrahim, dan Pujangga istana RT. Tirtawiguna (Tus Pajang, 1940:19-21). Sesampainya di desa Sala, utusan tersebut menemukan suatu tempat yang tanahnya berbau harum, maka disebut desa Talangwangi (tala = tanah; wangi = harum), terletak di sebelah barat laut desa Sala (sekarang menjadi kampung Gremet). Setelah tempat tersebut diukur untuk calon lokasi istana, ternyata kurang luas, maka selanjutnya para utusan melakukan “samadhi” (bertapa) untuk memperoleh ilham (“wisik”) tentang cocok atau tidaknya tempat tersebut dijadikan pusat istana. Mereka kemudian bertapa di Kedhung Kol (termasuk kampung Yasadipuran sekarang).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Setelah beberapa hari bertapa, mereka memperoleh ilham bahwa desa Sala sudah ditakdirkan oleh Tuhan menjadi pusat kerajaan baru yang besar dan bertahan lama (Praja agung kang langgeng). Ilham tersebut selanjutnya memberitahukan agar para utusan menemukan Kyai Gede Sala (sesepuh desa Sala). Orang itulah yang mengetahui ‘sejarah’ dan cikal bakal desa Sala . Perlu diketahui, bahwa nama Kyai Gede Sala berbeda dengan Bekel Ki Gede Sala, seorang bekel yang menepalai desa Sala pada jman Pajang. Sedang Kyai Gede Sala adalah orang yang mengepalai desa Sala pada jaman kerajaan Mataram Kartasura (Pawarti Surakarta, 1939:6-7).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Selanjutnya Kyai Gede Sala menceritakan tentang desa Sala sebagai berikut. Ketika jaman Pajang, salah seorang putera Tumenggung Mayang, Abdi Dalem kerajaan Pajang, bernama Raden Pabelan, dibunuh di dalam istana, sebaba ketahuan bermain asmara dengan puteri Sekar Kedaton atau Ratu Hemas, puteri Sultan Hadiwijaya, raja Pajang (Atmodarminto, 1955:83;Almanak Cahya Mataram, 1921:53;Dirjosubrata, 1928: 75-76). Selanjutnya mayat raden Pabelan dihanyutkan (“dilarung”) di sungai Lawiyan (sungai Braja), hanyut dan akhirnya terdampar di pinggir sungai dekat desa Sala. Bekel Kyai Sala yang saat itu sebagai penguasa desa Sala, pagi hari ketika ia pergi kesungai melihat mayat. Kemudian mayat itu didorong ke tengah sungai agar hanyut. Memang benar, mayat itu hanyut dibawa arus air sungai Braja. Pagi berikutnya, kyai Gede Sala sangat heran karena kembali menemukan mayat tersebut sudah di tempatnya semula. Sekali lagi mayat itu dihanyutkan ke sungai. Namun anehnya, pagi berikutnya peristiwa sebelumnya berulang lagi. Mayat itu kembali ke tempat semula, sehingga Kyai Gede Sala menjadi sangat heran. Akhirnya ia “maneges”, minta petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa atas peristiwa itu. Setelah tiga hari tiga malam bertapa, Kyai Gede Sala mendapat ilham atau petunjuk. Ketika sedang bertapa, seakan-akan ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda gagah. Pemuda itu mengatakan, bahwa dialah yang menjadi mayat itu dan mohon dengan hormat kepada Kyai Gede Sala agar dia dikuburkan di situ. Namun sayang, sebelum sempat menanyakan tempat asal dan namanya,pemuda itu telah raib/menghilang. Akhirnya Kyai Gede Sala menuruti permintaan pemuda tersebut, dan mayatnya dimakamkan di dekat desa Sala. Karena namanya tidak diketahui, maka mayat itu desebut Kyai Bathang (bathang = mayat). Sedangkan tempat makamnya disebut Bathangan (makam itu sekarang berada di kawasan Beteng Plaza, Kelurahan Kedung Lumbu). Dengan adanya Kyai Bathang itu, desa Sala semakin raharja (Sala = raharja_, kehidupan rakyatnya serba kecukupan dan tenang tenteram (Roorda, 1901:861).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sesudah Sunan Paku Buwana II menerima laporan, maka segera memerintahkan kepada Kyai Tohjaya dan Kyai Yasadipura (I), serta RT. Padmagara, untuk mengupayakan agar desa Sala dapat dibangun istana baru. Ketigautusan tersebut kemudian pergi ke desa Sala. Sesampainya di desa Sala, mereka berjalan mengelilingi rawa-rawa yang ada disekeliling desa Sala. Akhirnya mereka dapat menemukan sumber Tirta Amerta Kamandanu (air kehidupan, sumber mata air). Hal itu dilaporkan kepada Sunan, dan kemudian Sunan memutuskan bahwa desa Sala-lah yang akan dijadikan pusat istana baru. Sunan segera memerintahkan agar pembangunan istana segera dimulai. Atas perintah Sunan, seluruh Abdi Dalem dan Sentana dalem membagi tugas: Abdi Dalem mancanegara Wetan dan Kilen dimintai balok-balok kayu, jumlahnya tergantung pada luas wilayahnya. Balok-balok kayu tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam rawa di desa Sala sampai penuh. Meskipun demikian belum dapat menyumbat mata air rawa tersebut, bahkan airnya semakin deras.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Demikian akhirnya Kyai Gede Sala memperoleh ganti rugi sebesar sepuluh ribu ringgit (saleksa ringgit) dari Sunan. Selanjutnya Kyai Gede Sala bertapa di makam Kyai Bathang. Di dalam bertapa itu Kyai Gede Sala memperoleh “Sekar Delima Seta” (putih) dan daun lumbu (sejenis daun talas). Kedua barang tersebut dimasukkan ke dalam sumber mata air (Tirta Amerta Kamandanu). Sesudah itu dilakukan kerja bhakti (gugur gunung) menutup rawa. Akhirnya pekerjaan itu selesai dengan cepat. Penghuninya dipindahkan dan dimukimkan kembali di tempat lain (“wong cilik ing desa Sala kinen ngalih marang ing desa Iyan sami”). Kemudian pembangunan dimulai dengan menguruk tanah yang tidak rata dan dibuat gambar awal dengan mengukur panjang dan lebarnya (“ingkur amba dawane”). Puluhan ribu (leksan) buruh bekerja di proyek pembangunan itu. Dinding-dinding pertama dibangun dari bambu karena waktunya mendesak. Adapun desain umumnya mencontoh model Karaton Kartasura (“anelad Kartasura”) (Lombard, III: 109).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Mengapa pilihan jatuh di desa Sala, ada beberapa alasan yang dapat diajukan, baik dilihat secara wadhag atau fisik-geografis maupun alasan magis-religius. Desa Sala letaknya dekat dengan Bengawan Sala, yang sejak lama mempunyai arti penting dalam hubungan sosial, ekonomi, politik, dan militer antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebuah sumber menyebutkan, Bengawan Sala atau atau Bengawan Semanggi mempunyai 44 bandar (Fery Charter abad ke-14), salah satunya bernama Wulayu atau Wuluyu atau sama dengan desa Semanggi (bandar ke-44). Dalam Serat Wicara Keras disebutkan, Bengawan Sala sebagai Bengawannya orang Semanggi (bandingkan dengan Babad Tanah Jawi). Alasan lainnya, di desa Sala cukup tenaga kerja untuk membuat Karaton karena dikelilingi oleh desa Semanggi, Baturana, dan Babudan (dua desa yang terakhir merupakan tempat Abdi Dalem pembuat babud permadani pada jaman Kartasura). Desa Sala sendiri zaman Padjang dibawah bekel Kyai Sala. Alasan politis juga dapat dimasukkan, terutama dalam menjaga kepentingan VOC. Untuk mengawasi Mataram maka VOC membangun benteng di pusat kota Mataram yang mudah dijangkau dari Semarang sebagai pintu gerbang ke pedalaman.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sementara itu terdapat sejumlah alasan magis-religius seperti berikut ini. Pertama, desa Sala terletak di dekat tempuran, yaitu bertemunya Sungai Pepe dan Bengawan Sala. Tempuran merupakan tempat magis dan sakral. Dismping itu, kata Sala atau Qala dihubungkan dengan bangunan suci. Kata itu berarti ruangan atau bangsal besar dan telah disebut-sebut dalam OJO no. XLIII (920) dengan istilah Kahyunan. Di Qala tedapat sekolah Prahunan (sekarang kampung praon) di dekat muara Sungai Pepe, yang artinya bangunan suci di Hemad (I Hemad atau Ing Hemad, Ing Gemad = Gremet). “Ning peken ri hemad”, artinya di pasar ngGremet, tempat dilakukan upacara penyumpahan mendirikan tempat swatantra perdikan di Sala.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pembangunan Karaton segera dimulai setelah rawa-rawa berhasil dikeringkan dan tempatnya dibersihkan. Untuk mengurug Karaton, tanahnya diambil dari desa Talawangi. (dalam sebuah sumber lain disebutkan, “hawit iku pada kalebu hing jangka, sak mangsa-mangsa ndandani Kadaton bakal njupuk hurug lemah Kadipala (Tetedakan sangking Buk Ha: Ga, Sana Pustaka). Jadi tanah Talawangi dan tanah Sala kedua-duanya dipakai untuk pembangunan Karaton. Karaton telah berdiri meskipun belum dipagari batu dan baru dari bambu (jaro bethek). Sirnaning Resi Rasa Tunggal (1670) menandai saat pengerjaan Karaton selesai, meskipun nampak tergesa-gesa.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Kata Surakarta sendiri lebih dicari akarnya pada kata atau kerajaan sebelumnya, Kartasura dan Kerta. Kartasura (Jaman Amangkurat II) dulu bernama Wanakerta = berani berperang. Sedangkan Kerta atau Karta = tenteram, pusat Mataram jaman kejayaannya. Jadi keturunan Mataram mengharapkan kejayaan dan ketentraman kembali Mataram seperti ketika beribukota di Karta. Ada pendapat lain yang mengatakan, kata Sala berasal dari desa ala, artinya desa yang jelek. Dan, Karta Sura artinya bukan Karta dan Sura, karena fakta membuktikan bahwa Kartasura tidak banyak membawa kegahagiaan. Sedangkan kata Surakarta sering kali juga dihubungkan dengan Batavia atau Jayakarta. Orang Jawa Barat menyebut bandar ini dengan nama Surakarta. Untuk menghormati Kompeni, maka Sunan menamakan Karatonnya yang baru dengan Surakarta (Hadiningrat).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Setelah tanah diratakan, Sunan memerintahkan agar dilakukan pengukuran calon istana (kutha). Petugasnya adalah : Mayor Hohendrop, Patih R. Ad. Pringgalaya, Kyai T. Puspanagara, Kyai T. Hanggawangsa, Kyai T. Mangkuyuda, dan Kyai T. Tirtawiguna. Petugas pengukur calon istana ialah Panembahan Wijil dan Kyai Khalifah Buyut. Pengukur “adu manis”-nya istana ialah Kyai Yasadipura dan Kyai Tohjaya. Untuk mempertinggi pusat istana, maka mengambil tanah dari Talawangi, Kadipala dan Sanasewu. Para tukang (abdi dalem Kalang) diperintahkan dan dikerahkan untuk membangun istana. Lurah Undhagi (tukang kayu) dipimpin oleh Kyai Prabasena dibantu oleh Kyai Karyasana, Kyai Rajegpura, Kyai Sri Kuning, ditambah tenaga dari mancanegara. Sebagai penanggungjawab adalah R. Ad. Pringgalaya dengan dibantu para Bupati Jawi dan Lebet. Permulaan pembangunan itu ditandai dengan sengkalan “Jalma Sapta Amayang Buwana = 1670 Jawa (1744 M)

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sedang jenis “sajen” yang diadakan ialah: gecok kelapa, bekakak ikan, bumbu sekapur peyon atau robyongan: bunga sirih lengkap, rokok boreh. Jenis tumpeng: megana, urubing damar, tatrah, rabah, rerajungan, rukini, kelut, litut, gicing. Disamping masih ada sayuran, ikan, daging dan segala macam jenang : jenang abang, putih, selaka, mangkur, kiringan, ngongrong, dodol, a lot, bakmi, bandeng, lemu kaleh, kalong, jada, wajik, pudhak pondhoh, ketan manca warna atau pala kirna, pala gumantung, pala kesimpar, pala kependhem, dan pala andheng. Kemudian berbagai macam telur, ayam, itik, burung, ikan dan sebagainya. Berbagai macam benang, kain batik, selendang, kain kerik dan masih banyak lagi jenis sajian lainnya. ( Pawarti Surakarta, 1939 : 10-11) Kemudian tiga jenis emas, perak, binatang hidup.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

6.     Abdi Dalem Bupati Anom Anon-Anon beserta Panewu, Mantrinya, terdiri dari: Abdi Dalem: kemasan, greji, pandhe, sayang, gemblak (gembleg), puntu, samak, tukang laras, tukang warangka, tukang ukir, jlagra, slembar, gupyuh, tukang cekathak, tukang pasppor, tukang landheyan (tempat tombak), undhagi, bubut, kendhi, niyaga, badhut, dhalang, tukang sungging, tukang natah wayang, tukang cat, tukang prada, tledhel, kebon dharat, mengiringi gamelan terdiri dari: Kyai Surak, Kyai Sekar Delima, Kyai Sekar Gadhung, diberi payung kuning.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

12.  Para punakawan, Hurdenas, ponylompret Belanda, tombak milik Sunan, kiri kanan mengapit benda-benda upacara kerajaan: banyak dhalang sawung galing dibawa oleh Abdi Dalem Gandhek Mantri Anom, berpayung kuning. Disambung benda-benda pusaka kerajaan: bendhe (canang) Kyai Bicak. Pembawanya naik kuda berpayung kuning. Disambung Abdi Dalem Gajah Mati dengan membawa Carak Kyai Nakula Sadewa, cemeti milik raja, Kyai Pecut, Kemudian Raja diiringi oleh Abdi Dalem Keparak kIwa Tengen dengan membawa benda-benda upacara Kerajaan. Kemudian para prajurut Tamtama, kiri kanan masing-masing dua ratus orang prajurit. Disambung oleh Abdi Dalem Prajurit Mertalulut dan Singanagara, membawa pusaka oleh Abdi Dalem Keparak Kiwa Tengen berjumlah empat pulih orang, berkuda diiringi benda-benda upacara Kabupaten.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

13.  Abdi Dalem Keputren: Nyai Tumenggung atau Nyai Lurah Keparak Jawi dan Lebet naik tandu/kremun atau tandu kajang dan ada yang berkuda, beserta anak buah. Disambung para Wedana, Panewu, Mantri, Kliwon beserta anak buah. Kemudian istri Patih Pringgalaya dan Patih Danurejo. Disambung Abdi Dalem Bedaya Srimpi Manggung Ketanggung atau pembawa benda-benda upacara, para Ratu serta para emban dan para Nyai. Kemudian Permaisuri Sunan diiringi oleh Abdi Dalem Gedhong Kiwa Tengen empat orang, Abdi Dalem Kliwon, Panewu, Mantri Jajar. Disamping putera-puteri Sunan dan para Selir (Priyatun Dalem), para istri Bupati Mancanagara, semua Keputren ini sebagian besar naik tandu, kremunjoli atau jempana.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

15.  Para Abdi Dalem Perempuan, bekerja dapur beserta perlengkapan dapur, Abdi Dalem Krapyak, dengan membawa beras, ayam, dan sato iwen lain, upeti para Adipati Mancanagara. Kemudian Abdi Dalem Jajar beserta perlengkapan rumah tangga, Abdi Dalem Pamajegan membawa kayu bakar, arang, sapit, sajen, tampah (niru), tebok, ancak, seruk (bakul), tumbu, sapu, godhong (daun), ethong, lesung, lempong, alu ujon, kukusan, irus, solet, dan sejenis peralatan dapur lainnya. Kemudian pusaka Dalem Dandang Kyai Dhudha, pusaka Panjang Kyai Blawong, Kendhil Kyai Marica, dijaga oleh Nyai Gandarasa yang naik tandu, diiringi oleh Bupati Gading Mataram besarta anak buahnya. Kemudian disambung oleh Galadhag Pacitan membawa batu, tempat minum harian milik Raja, Sela Gilang, teras bagi Siti Hinggil Sela Gilang di Bangsal Pangrawit, Bangsal Manguntur Tangkil dan batu-batu pasalatan (untuk sembahyang), padasan, para perdikan Mancanagara, mimbar, bedhug Masjid Besar Kyai Rembeg. Semua benda-benda pusaka tersebut diberi payung kuning, diletakkan di atas gendhaga.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Yang turut di dalam perpindahan tersebut kurang lebih ada 50 ribu orang (limang leksa). Didalam perjalanan tersebut sangat lambat. Jarak antara istana Kartasura sampai desa Sala memakat waktu kurang tujuh jam. Jalan yang dilalui, mula-mula merupakan jalan setapak melewati hutan dan semak belukar. Hutan dan semak belukar itu ditebas untuk dijadikan jalan perpindahan. Jalan itu sekarang adalah jalan Pasar Klewer ke barat terus sampai ke kartasura, melalui alun-alun Kerajaan Pajang, dan berangkat dari Alun-alun Kartasura.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dengan naskah itu, tampak bahwa persyaratan nujum lebih penting dari pada topografi tanah. Di samping itu, istana ditetapkan sebagai bagian utama. Kita juga diberitahu bahwa pemberkatan tanah itu hanya dapat dilakukan dengan bantuan pelbagai benda keramat yang dialihkan dari Karaton terdahulu, yaitu keempat pohon waringin, bangsal pangrawit-yang sangat keramat karena mengandung bongkah batu yang dianggap bekas singgasana Hayam Wuruk (hal ini menjamin keterkaitannya dengan Majapahit)- seperti juga berbagai pusaka yang merupakan jaminan bahwa wahyu benar-benar ada pada raja yang sedang memerintah.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Sedangkan di luar tembok istana ditempatkan kerabat raja (Hadiwijaya, Suryahamijaya), dan perlengkapan putera-puteri raja (Karatonan, tulisan, kuplukan, dan sebagainya). Abdi Dalem Keparak Kiwa dan Tengen ditempatkan di luar istana. Begitu pula benteng Belanda, rumah para pembesar Belanda. Sedangkan para prajurit ditempatkan pada batas kota (Sarageni, Mertalulut, Singanegara, Jayataka, Miji Pinilih, dan sebagainya). Penampatan itu per golongan atau kelompok. Maka terciptalah nama-nama kampung didasarkan pada nama kelompok Abdi Dalem (Kalangan, Jagalan, Metalulutan, Saragenen, Gandekan Kiwa, Baluwarti, dan lain-lain). Hal ini untuk memudahkan mengingatnya.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Tradisi pemberian nama pada setiap masyarakat bangsa tidak mesti sama. Hal ini disebabkan adanya perbedaan budayanya. Orang Indian menggunakan tradisi Totemisme, orang Cina menggunakan tradisi She, dan sebagainya. Pada orang Jawa, tradisi pemberian nama agak unik. Apabila kata bin atau binti menunjukkan tradisi Islam bila bin atau ibn menunjukkan keturunan laki-laki, maka binti adalah untuk anak perempuan. Di beberapa suku bangsa sering menggunakan nama marga untuk menunjukkan keluarga besar, Klan atau sukunya. Misalnya marga Harahap, Sihombing, Nainggolan dan sebagainya dan biasanya digunakan oleh beberapa suku bangsa di Sumatera Barat dan Tengah. Fungsi marga ini sama seperti She dalam tradisi Cina

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Pada masa Jawa Hindu, yaitu masa antara abad ke 5 – 11 pengaruh Hinduisme masih sangat kuat. Maka nama-nama yang dipakai bernafaskan keagamaan Hindu. Bahkan ada unsur awatara ( penitisan atau inkarnasi ) masuk ke dalam pemberian nama tersebut. Hingga hal ini memudahkan bagi kita untuk menetapkan yang bersangkutan itu menganut agama apa. Namun demikian, akibat kurangnya data sejarah, kita sangat sulit untuk dapat menemukan nama masa kanak-kanak ( nama pribadi ). Nama-nama yang kita peroleh dari sumber sejarah yang kita temukan berupa prasasti, merupakan nama ketika berkuasa ( period name ) atau mungkin bahkan nama Prabasuyasa atau percandian ( temple name ). Hanya pada masa awal Mataram Hindu, nama-nama yang kita temukan kelihatannya seperti nama pribadi, bukan nama jabatan ( sebagai penguasa ) misalnya : Purnawarman, Sanjaya, Sanaha, Pancapana, Warak, Garung, Pikatan dan sebagainya yang semuanya berciri nama pribadi.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Selanjutnya kita temukan nama Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu atau Rakai Watukura Ishwara Kesawasawatungga ( Samarattungga ) yang bernafaskan Syiwaisme adalah nama untuk raja Balitung dari Kerajaan mataram Hindu. Sesudah masa Balitung ini, maka nama raja-raja biasanya menggunakan nama ketika memerintah ( period name ) serta nama percandiannya ( temple name ) Misalnya : Dakshatama Bahubraja Pratipakshaya untuk raja Daksa, juga bernafaskan Syiwaisme. Pangganti Raja Daksa ialah Rakai Layang Dyah Tulodong Shri Sajjanasanmaturaga Tunggadewa untuk raja Tulodong, dan Rakai Pangkaya Dyah Wawa Shri Wijayalokanamatungga untuk raja Wawa. Nama-nama tersebut merupakan nama percandian ( temple name )

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Selanjutnya pada masa Jawa Timur, terutama pada masa Medang Kahuripan dan Kediri mulai terjadi sedikit perubahan. Pada masa ini sifat Hinduisme sudah agak berkurang dan mengarah ke Hindu Jawa. Sifat kewisnuan nampak kuat disamping unsur Asli  mulai muncul. Latar belakang pemakaian nama Dewa (Iswara, Vajra, Ishana, Dewa, Lokeswara, Uttunggadewa, dan sebagainya) menunjukkan masih kuatnya pengaruh ajaran inkarnasi dalam Hinduisme. Peristiwa demikian ini terjadi lagi pada masa Islam yang dengan menggunakan nama-nama seprti Muhammad, Fatahillah, Abdul Mufakir, Yusuf dan sebagainya menunjukkan nafas keislaman.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Masa Medang Kahuripan maupun Kediri masih nampak adanya pengaruh inkarnasi tersebut. Ternyata di dalam gelar berikut: Sri Dharmawangsateguh Anantawikramatunggadewa untuk raja Dharmawangsa Teguh, Rakai Halu Shri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa untuk raja Airlangga. Kemudian muncul sebutan digdaya, bhuwana, bumi, menunjukkan gaya kejayaan. Misalnya; Shri Maharaja Rake Sirikan, Shri Kameswara Sakalabhuwana Mustikarana Sarwaniwaryawirya Parakrama Didayutunggadewa untuk Raja Kameswara II, Sang Mahapanji Jayabaya Sri Dharmeswara Madusudanawatara-ninditha Suhersinga untuk Raja Jayabaya, dan sebagainya. Disamping itu muncul nama Juru Dyah dan Prasanta (Jodeh dan Santa); Sabda Palon dan Naja Genggong; Si Dudul dan Si Dulet; Dora dan Sembada; Duduga dan Prayoga adalah nama-nama Abdi kinasih raja atau pangeran yang menjadi tokoh utama dalam suatu cerita. Juga nama-nama berlatar belakang Totemisme, ialah suatu kepercayaan asli dengan menggunakan nama-nama hewan atau keadaan alam, seperti: Lembu Amilihur, Lembu Amisani, Lembu ampal, Lembu Tal, Gajah Mada, Gajah Enggon, Kebo Ijo Kebo Nabrang, Kebo Tengah, Kudamerta, Kuda Waneng Pati, Kuda Lalayean, Candrakirana, Sekartaji, Hayam Wuruk, Kencana Wungu, Damarwulan, Minakjingga, dan lain-lain yang berkembang pada masa Kediri, Singasari dan Majapahit. Bersamaan dengan itu munculpula nama-nama Jawa: Tohjaya, Kertanagara, Ranggalawe, Sora, Nambi, Semi, Kuti, Jayanegara dan lain-lain.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Selanjutnya tentang ada beberapa pengertian: “Toponimy is the study of toponimis” (Random House Dictionary, 1968: 1386). M.J. Koenens (1938 – 1038) mengatakan bahwa toponimi adalah pengetahuan tentang nama-nama (plastsnamen kunde). Arti dari kedua pendapat tersebut antara lain ialah ilmu yang bergerak dalam pengetahuan tentangpenelitian nama-nama tempat. Dari kedua pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa dengan pengetahuan toponimi kita dapat menentukan atau menunjukkan nama-nama atas tempat-tempat tertentu dan akhirnya dapat kita tentukan peta geografisnya. Dengan toponimi pula kita dapat menentukan pola-pola berpikir dan merasa diri penduduk di suatu tempat atau lokal atau daerah tertentu pula pada suatu waktu. Bahkan nama suatu tempat, desa atau kota saja dibuatkan suatu cerita untuk mengesahkan tentang nama tempat, desa atau kota tersebut.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Demikian uniknya Wong Sala atau Wong Jawa dalam soal nama.Pembahasan terhadap tradisi pemberian nama baik orang maupun tempat akan mengangkat usaha menemukan gejala-gejala masa lampau yang berproses menjadi hasil karya dalam bidang budaya masyarakat, terutama masyarakat Jawa. Maka dalam pembahasan tradisi pemberian nama ini akan menyangkut pula masalah: pertama, kapan Kutha Sala tumbuh dan bagaimana latar belakang sejarahnya yang kemudian berkembang menjadi Pusat Kebudayaan Jawa dan Kerajaaan Surakarta Hadiningrat; kedua, latar belakang budaya yang manakah yang melahirkan nama-nama perkampungan di kota Surakarta berbeda dengan nama-nama perkampungan di kota-kota lain kerajaan Kejawen (Vorstenladen).

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat, terletak di ujung timur jalan utama yang membelah kota Solo, yaitu jalan Slamet Riyadi. Apabila kitamemasuki kompleks kraton dari arah utara, disebelah kiri dan kanangapura, akan tampak satu pasang patung yang merupakan salah saru cirikhas, daerah ini disebut Gladak. Dibelakang gapura tersebut akan tampak dua buah pohon beringin, dan setelah melewati kedua pohon tersebut, akan tampak satu tanah lapang yang luas dan ditengah lapangan tersebut jugaakan terlihat satu pasang pohon beringin. Daerah tersebut disebut Alun-alun Lor.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Setelah dari bangsal Sasana Sumewa, bila kita lanjutkan perjalanan kearah keraton akan dijumpai subuah pagar ( kori ) yang disebut kori Renteng, yang berarti keruwetan harta benda, kori Margu yang berarti ragu-ragu, kori Brojonolo yang berarti ketajaman hari dan kori Kamandoengan yang berartib erhenti. Keberadaan kori-kori tersebut dimaksudkan agar para tamu keratonsebelum memasuki wilayah keraton diharapkan dapat melepas keruwetan dunia, ragu-ragu, lebih mengutamakan ketajaman hati dan dapat memasuki keratondengan hati yang bersih.Setelah memasuki beberapa kori, akan kita lihat satu pintu gerbang lagiyang terbagi menjadi tiga bagian, yang pertama adalah pintu khusus tamu kerajaan, pintu khusus keluarga kerajaan dan pintu khusus pengunjungkeraton. Setelah itu kita akan melihat beberapa bangsal, seperti disebelah timur dinamakan bangsal Marcokondo, yang digunakan sebagai bangsal pengadilan kantor, dan tempat penobatan pegawai keraton. Bangsal disebelahbarat dinamakan bangsal Morokoco, yang digunakan sebagai tempat penobatanpegawai sipil keraton.

seperti di kutip dari https://panduummat.wordpress.com

Dari bangsal-bangsal tersebut kita bisa melihat sebuah bangunan miripdengan menara yang disebut dengan Panggung Songgobuwono, panggung tersebutberbentuk segi delapan, yang merupakan terpengaruh dari agama Budha. Padapanggung tersebut juga terdapat lima ruangan, dimana itu merupakan pengaruh dari agama Islam. Ruangan paling atas dari panggung tersebut sering digunakan untuk pertemuan antara Paku Buwono VI dengan Pangeran Diponegoro.Menurut kepercayaan, bangunan ini juga digunakan untuk pertemuan antara raja Surakarta dengan Ratu Laut Selatan. Bangunan yang lain disebut Sri

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebut ada 10 ribu warga Ibu Kota yang mengalami gangguan jiwa. Sebagian kecil dari jumlah tersebut dikatakannya harus mendapatkan perawatan intensif. “Total ada 10 ribu di DKI yang terindikasi mengalami gangguan jiwa. Dan dari 10 ribu itu, 10 persen dari Dinas Kesehatan terindikasi harus mendapatkan perawatan,” kata Sandi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Sandi menuturkan ada berbagai penyebab warga Jakarta mengalami masalah kejiwaan. Utamanya, dikarenakan masalah ekonomi dan sosial. “(Penyebabnya) ada, satu himpitan ekonomi, sosial, keputusasaan. Ada stres, ada yang karena percintaan, ada yang depresi, ada yang skizofernia. Kalau yang skizofernia harus dirawat. Paling banyak (karena masalah) sosial, ekonomi dan keputusasaan,” papar Sandi. Namun, Sandi belum memiliki data detail mengenai sebaran warga yang mengalami gangguan jiwa. Kata dia, dari 6 wilayah di DKI, orang yang mengalami gangguan jiwa ada di Jakarta Barat dan Jakarta Utara. “Saya datanya belum dapat. Tapi di Jakarta Barat dan Jakarta Utara yang banyak,” terang Sandi. Wagub usungan Partai Gerindra dan PKS itu mengimbau kepada warga Jakarta mengenali tanda-tanda gangguan jiwa. Dan jangan malu untuk melapor ke pihak Pemprov DKI jika menemukan adanya gejala gangguan jiwa pada sanak keluarga ataupun lingkungan sekitar. “(Imbauannya) Kenali daripada gangguan jiwa, mulai dari suka menyendiri, suka galau-galau, suka senyum-senyum sendiri, suka sedih, depresi, nggak mau ketemu orang. Itu salah satu yang kelihatan dengan mata. Jadi, kita harus kenali dan sosialisasi ke masyarakat. Itu yang jadi PR buat kita untuk mengatasi gangguan kejiwaan ini,” papar Sandi. Sandi pun sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan DKI. Sandi ingin salah satu program Dinkes yakni Ketuk Pintu Layani Dengan Hati juga menangani masalah gangguan jiwa. “Jadi harus dikasih obat, harus dikasih treatment. Nah ini. Oleh karena itu, program Ketuk Pintu Layani Dengan Hati dari pemerintahan sebelumnya kita terusin, tapi kita perlebar bukan hanya penyakit yang biasa tapi juga penyakit jiwa,” tutur Sandi.

JAKARTA,iNews.id – Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan ada 4.000 warga Ibu Kota mengidap gangguan jiwa. Dari jumlah itu ada sekitar 10 persen perlu dilakukan rawat inap di rumah sakit. Politisi Partai Gerindra ini mengatakan, pola hidup masyarakat Jakarta yang di bawah tekanan kerja sering kali menjadi penyebab terganggunya jiwa mereka. Bahkan, kemacetan yang selalu mewarnai aktivitas mereka kerap kali membuat orang menjadi stres. “Baru-baru saja dengan ketok pintu layanan dengan hati sudah terindentifikasi 4.000 warga Jakarta mengalami gangguan jiwa dan perlu perawatan,” kata Sandi di Balai Kota Jakarta, Rabu (28/2/2018). Menurut dia, pemprov tengah menyiapkan sepuluh persen perawat dari total orang dengan gangguan jiwa. “Dari 4.000 ini kalau kita ekstrapolasi ada 11.000 dan sepuluh persennya perlu dirawat inap,” ujar dia. Pemprov juga tengah mengkaji adanya pembangunan Jakarta Institute for Mental Health (JIMH). Sandi mengaku telah berkoordinasi dengan seorang pakar dari Harvard Medical School Boston Amerika bernama Profesor Bairen. “Diperlukan secara urgensi tinggi, yaitu Jakarta Institute for Mental Health yang akan kita gagas karena dengan intervensi yang kita lakukan,” tuturnya. Pemprov DKI Jakarta rencananya memanfaatkan Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) di Duren Sawit sebagai lokasi JIMH. Program ini juga kerja sama dengan pemerintah pusat. “ Nah ini kita ingin menggagas suatu kerja sama dengan pemerintah pusat dan juga RSKD Duren Sawit yang lagi dibangun sekarang untuk memastikan fenomena ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) ini bisa terantisipasi dengan baik ke depan,” kata Sandi.

Sandi di RPHU Rorotan (Foto: Moh Fajri/kumparan) Maraknya penyerangan terhadap ulama oleh orang yang diduga mengalami gangguan jiwa menimbulkan keresahan tersendiri di masyarakat. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno sendiri mengatakan di Jakarta saja, saat ini ada sekitar 4.000 warga yang terindikasi gangguan jiwa. “Baru-baru saja, dengan ketok pintu layanan dengan hati, sudah terindentifikasi 4.000 warga Jakarta yang mengalami gangguan jiwa dan perlu perawatan. Dari 4.000 ini kalau kita ekstrapolasi (perluas data -red), ada 11.000 dan 10 persennya perlu dirawat inap,” kata Sandi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu, (28/2). Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut Sandi sudah menyiapkan Jakarta Institute for Mental Health (JIMH) berkoordinasi dengan Profesor dari Harvard Medical School, Boston, Amerika. Nantinya, JIMH akan merawat warga yang terindikasi mengalami gangguan jiwa. “Diperlukan secara urgensinya tinggi yaitu Jakarta Institute for Mental Health (JIMH) yang akan kita gagas karena dengan intervensi yang kita lakukan,” terang Sandi. Sandi menjelaskan saat ini pihaknya sedang menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) di Duren Sawit sebagai lokasi JIMH. Selain itu pihak Pemprov akan menjajaki kerja sama dengan pemerintah pusat untuk mengantisipasi orang dengan gangguan jiwa. “Nah ini kita ingin menggagas suatu kerja sama dengan pemerintah pusat dan juga dengan RSKD Duren Sawit yang lagi di bangun sekarang untuk memastikan fenomena orang dengan gangguan jiwa ini bisa terantisipasi dengan baik ke depan,” ungkapnya.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno angkat bicara terkait maraknya teror orang gila yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Apalagi, sebut Sandi, ada 4.000 orang yang teridentifikasi mengidap gangguan jiwa di Ibu Kota. Faktor penyebab gangguan kejiwaan itu, ujar Sandi, antara lain beban hidup yang terlalu tinggi, tekanan ekonomi dan sosial, hingga masalah pendidikan. “Dengan [program] ketok pintu layanan dengan hati, sudah teridentifikasi 4.000 warga Jakarta yang mengalami gangguan jiwa dan perlu perawatan. Dari 4.000 ini kalau kita ekstrapolasi ada 11 ribu dan 10 persennya perlu dirawat inap,” ungkapnya di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Menurut Sandi, diperlukan intervensi pemerintah dalam penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) untuk mencegah kekerasan dan teror orang gila terjadi di Jakarta. Lantaran itulah Pemprov DKI menggagas institut kesehatan mental atau Jakarta Institute for Mental Health di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, Jakarta Timur. Tempat itu direncanakan bakal jadi pusat kajian masalah kejiwaan yang berada di bawah koordinasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta serta bekerja sama dengan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa DKI Jakarta, dokter Nova Riyanti Yusuf (Noriyu). “Kemarin kami kedatangan profesor dari Harvard Medical School Boston, Amerika. Menyampaikan bahwa diperlukan secara urgensinya tinggi yaitu Jakarta Institute for Mental Health yang akan kami gagas,” ujarnya. Ia berjanji bakal mempercepat pembangunan institusi tersebut dan menggandeng pemerintah pusat untuk menanggulangi masalah kejiwaan di Jakarta. “Kami ingin menggagas suatu kerja sama dengan pemerintah pusat dan juga dengan RSKD Duren Sawit yang lagi dibangun sekarang untuk memastikan fenomena ODGJ ini bisa terantisipasi dengan baik ke depan,” tuturnya.

Related Posts

Comments are closed.