Salat Sejam, Jemaah Istiqlal Bisa Saksikan Super Blue Blood Moon

Salat Sejam, Jemaah Istiqlal Bisa Saksikan Super Blue Blood Moon

Fenomena trilogi super blue blood moon malam ini merupakan fenomena langka 1,5 abad sekali. Umat Muslim yang melaksanakan salat sunah khusuf (gerhana) di Masjid Istiqlal juga dapat menyaksikannya. Kepala Bagian Humas dan Protokol Masjid Istiqlal, Abu Hurairah Abdul Salam menjelaskan kepada detikcom, Rabu (31/1/2018), salat sunah khusuf (gerhana) nanti diperkirakan berlangsung satu jam. “Ya di Istiqlal paling sejam juga selesai,” kata Abu Hurairah. Salat akan dimulai pukul 20.00 WIB. Sejam berikutnya berarti pukul 21.00 WIB. Dia menyatakan prosesi ibadah sunah ini tak akan memakan waktu sampai gerhana bulan berakhir. Jadi jemaah masih bisa meliha gerhana. “Bisa. Kalau mau melihat gerhana di Istiqlal, pelatarannya gede. Silakan saja,” kata Abu Hurairah. Menurut BMKG, super blue blood moon akan dimulai pukul 17.49 WIB, gerhana sebagian dimulai pukul 19.48 WIB, gerhana total mulai pukul 19.51-21.08 WIB, gerhana sebagian berakhir 21.11 WIB, dan seluruh proses gerhana berakhir 23.09 WIB. Ini peristiwa langka, terjadi terakhir 152 tahun lalu. Imam salat gerhana nanti adalah Tuan Guru Ahmad Husni Ismail selaki Imam Rawatib Masjid Istiqlal. Disusul kemudian, ada khotbah yang disampaikan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar. Doa penutup akan dipimpin oleh Imam Rawatib, Muhasyim Abdul Majid.

Fenomena trilogi super blue blood moon malam ini merupakan fenomena langka 1,5 abad sekali. Umat Muslim yang melaksanakan salat sunah khusuf (gerhana) di Masjid Istiqlal juga dapat menyaksikannya. Kepala Bagian Humas dan Protokol Masjid Istiqlal, Abu Hurairah Abdul Salam menjelaskan kepada detikcom, Rabu (31/1/2018), salat sunah khusuf (gerhana) nanti diperkirakan berlangsung satu jam. “Ya di Istiqlal paling sejam juga selesai,” kata Abu Hurairah. Salat akan dimulai pukul 20.00 WIB. Sejam berikutnya berarti pukul 21.00 WIB. Dia menyatakan prosesi ibadah sunah ini tak akan memakan waktu sampai gerhana bulan berakhir. Jadi jemaah masih bisa meliha gerhana. “Bisa. Kalau mau melihat gerhana di Istiqlal, pelatarannya gede. Silakan saja,” kata Abu Hurairah. Menurut BMKG, super blue blood moon akan dimulai pukul 17.49 WIB, gerhana sebagian dimulai pukul 19.48 WIB, gerhana total mulai pukul 19.51-21.08 WIB, gerhana sebagian berakhir 21.11 WIB, dan seluruh proses gerhana berakhir 23.09 WIB. Ini peristiwa langka, terjadi terakhir 152 tahun lalu. Imam salat gerhana nanti adalah Tuan Guru Ahmad Husni Ismail selaki Imam Rawatib Masjid Istiqlal. Disusul kemudian, ada khotbah yang disampaikan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar. Doa penutup akan dipimpin oleh Imam Rawatib, Muhasyim Abdul Majid.

Umat Islam Ibu Kota dipersilakan menunaikan salat sunah gerhana (khusuf) di Masjid Istiqlal. Bila tak ingin ketinggalan, datanglah sebelum salat isya digelar. “Silakan ajak saudara, keluarga, teman, dan tetangga. Kami akan melaksanakan salat gerhana selepas salat isya,” kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Masjid Istiqlal, Abu Hurairah Abdul Salam, kepada detikcom , Rabu (31/1/2018). [Gambas:Video 20detik] Salat sunah dua rakaat itu akan digelar pada pukul 20.00 WIB. Imam salat adalah Tuan Guru Ahmad Husni Ismail selaku Imam Rawatib Masjid Istiqlal. Disusul kemudian, ada khotbah yang disampaikan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar. Doa penutup akan dipimpin oleh Imam Rawatib Muhasyim Abdul Majid. “Imbauan bagi masyarakat Ibu Kota yang ingin melaksanakan salat sunah khusuf atau salat gerhana, diusahakan agar datang melaksanakan salat isya, karena pelaksanaannya setelah salat isya langsung,” kata Abu Hurairah. Persiapan salat gerhana di Istiqlal (Danu/detikcom) Sore ini terlihat masyarakat sudah ada di pelataran Masjid Istiqlal dan menikmati suasana. Para pedagang kaki lima sudah bersiap menjajakan sajian makanan. Ada pula penjual aksesori hingga kacamata hitam. [Gambas:Video 20detik] Gerhana bulan ini disebut sebagai gerhana bulan biru darah super ( super blue blood moon ). Menurut BMKG, super blue blood moon akan dimulai pada pukul 17.49 WIB, gerhana sebagian dimulai pukul 19.48 WIB, gerhana total pada pukul 19.51-21.08 WIB, gerhana sebagian berakhir 21.11 WIB, dan seluruh proses gerhana berakhir pada 23.09 WIB. Ini peristiwa langka dan terakhir kali terjadi 152 tahun silam.

Fenomena langka gerhana bulan, super blue blood moon , akan terjadi malam nanti. Masyarakat di Indonesia dapat melihat secara langsung fenomena langka itu. Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhammad Sadly mengatakan proses gerhana akan mulai terjadi pada pukul 17.49 WIB dan berakhir pada pukul 23.09. Sedangkan proses gerhana total akan dimulai pada pukul 19.51 WIB dan berakhir pada pukul 21.08 WIB. “Durasi dari fase totalitas, yaitu dari fase gerhana total mulai (U2) hingga gerhana total berakhir (U3), berlangsung selama 1 jam 16,8 menit,” ujar Sadly dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom , Rabu (31/1/2018). Sadly menjelaskan wilayah Indonesia yang dapat mengamati keseluruhan proses gerhana super blue blood moon adalah Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. [Gambas:Video 20detik] Lalu, di mana saja titik lokasi pengamatan BMKG terhadap super blue blood moon nanti malam? Berikut ini daftarnya: 1. Stageof Mata Ie Banda Aceh di Area Gedung TDMRC, Aceh 2. Bawil I Medan & Stageof Tuntungan Medan di halaman Kantor Stageof Tuntungan 3. Stageof Padang Panjang di Area Jam Gadang, Bukittinggi 4. Stageof Kepahiyang, Bengkulu di Halaman Kantor 5. Stageof Tangerang di Masjid Raya Al-A’zhom Kota Tangerang 6. BMKG Pusat di Dermaga Hati Taman Impian Jaya Ancol Jakarta 7. Stageof Bandung di Halaman kantor 8. Stageof Yogyakarta di Halaman kantor 9. Stageof Karangkates di Halaman Masdjid Al Ikhlas Karangkates, Jawa Timur 10. Bawil III Denpasar di Rooftop kantor Balai III 11. Stageof Mataram di Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center Mataram 12. Stageof Waingapu di Halaman Kantor 13. Stageof Kupang di Halaman Mesjid Nurul Hidayah, Kupang 14. Stageof Gowa di Halaman Kantor kantor 15. Bawil IV Makassar di Anjungan Pantai Losari Makassar 16. Stageof Palu di Halaman Kantor 17. Stageof Manado di Halaman Kantor 18. Stageof Ternate di Halaman Kantor 19. Stageof Ambon di Area Patung Christina Martha Tiahahu, Ambon 20. Stageof Angkasa Jayapura di Halaman Kantor 21. STMKG di Roof top Lab Geofisika STMKG, Pondok Betung, Tangerang Selatan 22. Bawil II Ciputat di Pantai Anyer 23. Stageof Sorong Papua Barat di halaman kantor [Gambas:Video 20detik]

Pada Rabu malam (31/01), jika cuaca cerah, Anda akan melihat Bulan yang berbeda dari biasanya. Penampakan tersebut adalah bagian dari fenomena alam yang disebut “super blue blood moon”. BBC mencoba menjawab sejumlah pertanyaan yang mungkin ada di benak Anda tentang peristiwa langka ini: Kenapa namanya begitu rumit? Dinamakan ‘super blue blood moon’ karena peristiwa tersebut merupakan gabungan dari tiga fenomena bulan sekaligus. ‘Supermoon’ karena Bulan akan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi (perigee), sehingga tampak 14% lebih besar dan 30% lebih terang dari biasanya. Adapun ‘blue moon’ adalah julukan bagi purnama yang muncul kedua kalinya dalam satu bulan kalender. Pada tanggal 31 Januari juga akan terjadi gerhana bulan, yaitu peristiwa ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada garis sejajar. Bulan akan ditutupi bayangan Bumi, membuatnya tampak kemerahan seperti darah, sehingga disebut ‘blood moon’. Hal ini karena sinar matahari menembus atmosfer Bumi sebelum sampai ke Bulan. Gas-gas di atmosfer menyebarkan cahaya biru, dan meloloskan cahaya merah. Terjadinya tiga fenomena ini secara bersamaan adalah kejadian langka, terakhir kali terjadi 152 tahun lalu. Kapan dan di mana fenomena ini bisa diamati? (BBC) Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) , gerhana bulan akan dimulai pada pukul 18:48 WIB dan mencapai puncaknya pada 20:30 WIB. Gerhana diperkirakan berlangsung sekitar empat jam. Fenomena ini bisa diamati di seluruh wilayah Indonesia, dan sebagian besar permukaan bumi. Masyarakat di Pulau Jawa bagian timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Papua dan sekitarnya bisa menyaksikan seluruh tahapan gerhana; sementara sisanya hanya melihat fase total dan parsial saja. Sedangkan mereka yang berada di Amerika Selatan dan Afrika tidak bisa melihatnya sama sekali. Bagaimana cara melihatnya? (BBC) Fenomena ‘super blue blood moon’ dapat diamati dengan mata telanjang. Bulan purnama akan terlihat berwarna merah dan lebih besar dari biasanya. Kepala Lapan Thomas Djamaluddin menerangkan, mula-mula hanya sisi timur dari bulan purnama akan kelihatan; kemudian Bulan tampak penuh pada fase total sekitar pukul 19:52 WIB sampai 21:08 WIB. Proses gerhana berakhir dengan lepasnya purnama dari bayangan Bumi pada pukul 22:11 WIB. Apa dampaknya terhadap Bumi? Menurut kepala Lapan Thomas Djamaluddin, pada 31 Januari efek Bulan purnama terhadap Bumi akan jauh lebih kuat dari biasanya. Gravitasi bulan dan matahari mempengaruhi pasang air laut. Ketika terjadi gerhana bulan – yang mana posisi Bumi berada di tengah matahari dan bulan – ditambah jarak bulan yang sangat dekat dengan bumi, pasang air laut akan mencapai maksimum. Dampak ini dapat dirasakan di daerah pantai yang landai, seperti di beberapa daerah di pantai utara Jawa. “Jika terjadi cuaca buruk di laut yang menimbulkan gelombang tinggi, banjir rob akan melimpah semakin jauh ke daratan,” kata Thomas. Ia menambahkan, dampak lainnya yaitu jika terjadi banjir akibat hujan lebat di daratan, banjir akan lama surutnya karena dampak pasang maksimum. Apa yang dilakukan para ilmuwan untuk memanfaatkan fenomena langka ini? Bagi para ilmuwan di badan antariksa Amerika Serikat NASA, gerhana pada 31 Januari menjadi kesempatan untuk mengamati apa yang terjadi ketika permukaan Bulan mendingin dengan cepat. Ketika gerhana bulan, penurunan temperaturnya begitu drastis seakan-akan permukaan Bulan berubah dari sepanas oven menjadi sedingin freezer hanya dalam beberapa jam. Hasil pengamatan dalam kondisi ini akan membantu mereka memahami karakteristik regolit yaitu campuran tanah dan batuan di permukaan Bulan dan perubahannya dari waktu ke waktu. Selama gerhana, para ilmuwan juga akan mengamati Bulan dengan menggunakan kamera termal, mempelajari wilayah yang biasanya tak terlihat. Sementara di Indonesia, gerhana bulan lebih dijadikan sarana edukasi. Lapan membuka fasilitasnya bagi masyarakat yang ingin melihat gerhana lewat teleskop di beberapa daerah antara lain Bandung, Sumedang, Garut, Pasuruan, Biak, Pontianak, dan Bukittinggi. Di Jakarta, Planetarium Taman Ismail Marzuki dan Taman Mini Indonesia Indah juga akan khusus dibuka di malam gerhana. Thomas mengatakan, dahulu gerhana bulan sering dimanfaatkan untuk penelitian kualitas udara; contohnya ketika gunung Tambora meletus pada 1815. Tapi sekarang para ilmuwan menggunakan metode lain yang lebih mangkus untuk mengukur kualitas udara global.

JAKARTA,iNews.id – Warga yang sedang merayakan malam tahun baru di Masjid Istiqlal digegerkan seorang bocah 3,5 terjepit di sela-sela pagar pembatas tempat wudhu. Bocah bernama Naura Nafida Akmal itu menangis setelah kepalanya tidak bisa lepas dari sela-sela pagar. Ayah Naura, Dwi mengatakan, usai salat Magrib, Naura bermain sendiri di sekitar tempat wudhu masjid. Tiba-tiba, gadis asal Tangerang itu berteriak dan menangis. Kepala Naura terjepit di sela-sela besi teralis pagar dalam kondisi membungkuk. Teriakan dan tangisan Naura pun mengundang jemaah di dalam masjid, termasuk Dwi yang sedang di dalam masjid.   “Dia menggelendoti pagar, tiba-tiba kepalanya masuk dan tersangkut,” kata Dwi. Warga dan jemaah masjid pun berusaha mengeluarkan kepala Naura dengan menarik badannya. Namun tarikan itu justru membuat Naura semakin menangis. Warga pun memanggil petugas pemadam kebakaran Jakarta Pusat. Sekitar 30 menit, petugas datang dengan membawa gergaji. Empat petugas yang datang ke lokasi harus memotong pagar agar bisa mengeluarkan kepala Naura. Evakuasi terhadap Naura berjalan dramatis. Petugas berhati-hati saat memotong pagar besi. Sekitar satu jam, Naura akhirnya bisa keluar dari sela-sela besi dan mengalami luka memar di bagian kepala.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Balap liar di jalan raya yang tak jauh dari Istana Merdeka ternyata masih marak. Jumat (27/5) dini hari, puluhan pengendara memacu motornya dengan kecepatan tinggi melalui rute Jalan Merdeka Timur-Jalan Merdeka Utara-Jalan Perwira-Jalan Lapangan Banteng Barat-Jalan Pejambon dan memutar lagi ke Jalan Merdeka Timur atau Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Ironisnya, meski lokasi balap hanya selemparan pandang dari Istana Merdeka, tak ada satu petugas kepolisian yang berjaga untuk melarang aksi balap liar.

seperti di kutip dari http://www.republika.co.id

Harun (45 tahun) pedagang makanan di Jalan Pejambon mengaku sudah menyaksikan dua kali kecelakaan tunggal dalam kurun waktu tak sampai 3 jam. Untung saja, nyawa masih terselamatkan. Ia mengaku kesal dengan adanya balap liar di area Gambir. Namun, menurutnya, tak banyak yang bisa dilalukan warga kecuali berharap ketegasan aparat kepolisian. Karyono (57 tahun), seorang supir ojek yang biasa mangkal di Pejambon pun merasakan hal yang sama dengan Harun. Bahkan, ia mengaku sempat menghitung sepanjang 2016 lalu ada 7 kecelakaan fatal yang terjadi selama balap liar. Itu pun, katanya, hanya insiden yang ia saksikan sendiri yang ia hitung, belum termasuk kecelakaan lain yang tidak ia lihat. “Antara kesal dan kasihan melihatnya. Balapan kok di jalan raya,” kata dia. Berdasarkan pantauan Republika.co.id di Jalan Merdeka Timur, memasuki pukul 01.30 WIB balap liar masih berlangsung. Salah seorang peserta balap yang sempat terjatuh dari motornya, sebut saja Budi (21 tahun), mengakui bahwa kegiatan mereka bukan pada tempatnya. Warga sempat memarahinya lantaran balapan di lokasi yang salah. Ia sendiri sempat berjanji untuk memberi tahu kawan-kawannya agar tidak melanjutkan balap liar. Namun kenyataannya hingga pukul 02.00 WIB puluhan motor masih saja meliuk-liuk kencang di antara kendaraan pribadi yang kebetulan sedang melintas. “Kasihan warga yang memang sedang lewat. Jadi takut. Saya saja, dulu biasa narik ojek sampai pagi. Sekarang nggak ah. Takut,” kata Karyoni lagi. Sementara itu, Ahmad (35 tahun), seorang petugas di halte Trans Jakarta Gambir II mengaku terganggu dengan adanya kegiatan balap liar. Menurut pengamatannya selama bertugas, balap liar di area Gambir marak dilakukan setiap Kamis malam hingga Jumat dini hari dan Jumat malam hingga Sabtu dini hari, setiap pekannya. “Sayangnya polisi tidak rutin patroli. Paling Sabtu saja. Itu juga tidak selalu. Nggak tahu kenapa,” katanya. Ahmad menyebutkan, beberapa waktu lalu bahkan sempat terjadi kecelakaan fatal di dekat halte Trans Jakarta Masjid Istiqlal. Namun ia tak yakin apakah pengendara selamat atau tidak. “Sayang nyawa kan harusnya. Saya lihat warga sini juga udah dongkol. Tapi bisa apa,” katanya lagi. Ia juga menceritakan bahwa setiap Sabtu dini hari kerap kali penonton balap liar membludak hingga depan Halte Trans Jakarta. Namun, petugas Trans Jakarta memilih mengalah dari pada timbul keributan. Republika sempat melaporkan adanya balap liar kepada Polsek Gambir melalui layanan aduan 24 jam. Namun, selang satu jam setelah aduan tetap tidak ada satu pun petugas kepolisian yang datang untuk membubarkan balap liar. “Kami harap polisi tegas. Apa mau nunggu ada korban,” ujar Ahmad.

Related Posts

Comments are closed.