Pujian dan Kritik untuk Wajah Baru Tanah Abang ala Anies

Pujian dan Kritik untuk Wajah Baru Tanah Abang ala Anies

Pemprov DKI memberlakukan kebijakan dengan memperbolehkan Pedagang Kaki Lima (PKL) berjualan di trotoar dan jalan di depan Stasiun Tanah Abang. Puji dan kritikan diberikan untuk wajah baru Tanah Abang ala Gubernur DKI Anies Baswedan itu. Kebijakan Anies dan Wagub DKI Sandiaga Uno ini tak pelak membuat para pedagang di Pasar Tanah Abang kesal. Akibat memperbolehkan PKS berdagang di jalan, para pedagang pasar juga ingin ikut berdagang menjadi PKL. “Kalau zaman Pak Ahok (Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama) nggak boleh. Zaman pak Anies itu longgar. Kalau di bawah diperbolehkan, kami juga akan turun,” ujar Pedagang Sepatu di Pasar Tanah Abang, Blok G Nasri, Jumat (22/12). Dirinya mengaku omzet penjualannya turun sejak PKL menempati jalan di kawasan strategis tempat penumpang turun dari stasiun. Nasri mengaku akan segera turun untuk kembali menjadi PKL lagi bila kondisi penjualan di tokonya terus memburuk. “Dulu kan kita kena gusuran pas zaman Pak Yos (Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso) kalau gini secepatnya akan turun,” ungkap dia. Berbeda dengan Nasri, para PKL justru semringah dengan Kebijakan Pemprov DKI. Omzet para PKL pun langsung naik secara signifikan. “Naiknya besar, biasanya sehari dapatnya Rp 500 ribu, sampai tadi jam 12 aja udah Rp 1 juta,” ungkap PKL yang berjualan jaket jeans, Erna Maulina, Jumat (22/12). Ada 400 PKL yang difasilitasi Pemprov DKI untuk bisa berjualan di jalanan. Erna menceritakan, dia biasa berjualan di kawasan Jati Baru dan kerap diusur Satpol PP. Foto: Haris Fadhil/detikcom “Cepat sekali prosesnya. Kita hanya disuruh bawa dan KTP dan meterai kemudian tanda tangan . Jualan sampai kapan nggak tahu,” tuturnya. Untuk memfasilitasi para PKL itu, Pemprov DKI pun mengeluarkan kebijakan untuk merekayasa Jalan di depan Stasiun Tanah Abang. Sampai pukul 18.00 WIB, tak ada kendaraan yang boleh melintas kecuali Bus TransJakarta ‘Tanah Abang Explorer’. Hal ini mendapat kritikan dari Komisioner Ombudsman RI Adrianus Meliala. Dalam kritiknya, Adrianus menyampaikan penutupan jalan di Tanah Abang untuk mengakomodasi 400 PKL berpotensi melanggar aturan perundang-undangan. “Jalan ada UU (undang-undang)-nya, jalur pedestrian ada UU-nya. Kalau sekarang (jalur) pedestrian dipakai untuk PKL dan jalan juga mau ditutup untuk PKL, ya berarti UU mesti diubah dong,” kata Adrianus, Selasa (18/12). Sementara itu, kebijakan Anies mendapat dukungan dari jajarannya seperti dari Kepala Seksi Operasi Satpol PP DKI, Harry Apriyanto. Dia meminta semua pihak untuk memberi dukungan kepada Anies. “Ini programnya sudah bagus pak gubernur, ayo didukung. Kalau cuma 1-2 orang nggak mendukung, ya jadi nggak bagus lagi nanti. Saya minta kerjasamanya,” ucap Harry, Jumat (22/12). Kritikan juga datang dari Pengamat Transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno. Dia menganggap penutupan jalan di depan Stasiun Tanah Abang tidak tepat. Kebijakan tersebut menyebabkan sejumlah trayek angkutan umum di kawasan itu diubah. Sayang jalan yang dibangun mahal hanya untuk PKL. Hal yang keliru jika jalan digunakan untuk berdagang, seperti PKL lagi,” sebut Djoko, Jumat (22/12). Di sisi lain, kebijakan Anies mendapat apresiasi dari Wakil Ketua DPRD DKI Abraham Lunggana. Pria yang akrab disapa Lulung ini bahkan ikut mendampingi Anies saat meninjau penataan kawasan Tanah Abang, kemarin. “Bagus, semua organ hidup hari ini. Efektif, siapa bilang nggak efektif. Semua masyarakat harus memberikan apresiasi, karena ini adalah program yang sangat membahagiakan para pelaku UKM,” tukas Lulung.

Baca juga : Ahok.Ingin.Dirikan.Rusunawa.Ala.India.di.Stasiun.Kereta

JAKARTA, KOMPAS.com  — Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama merencanakan pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) terpadu di lahan milik PT KAI. Idenya ialah meniru rusunawa di India. Untuk itu, Basuki bersama dengan jajaran direksi PT KAI meninjau Stasiun Kampung Bandan bersama jajaran direksi PT KAI dan pejabat satuan kerja perangkat daerah (SKPD) DKI, Rabu (10/6/2015) ini.  “Kami sudah menyepakati MoU ( memorandum of understanding ). Kerja sama aset-aset berharga milik PT KAI juga akan bagus dan sebagian akan kami jadikan rusunawa. Konsepnya seperti yang ada di India,” kata Basuki di Stasiun Kota, Jakarta, Rabu. Konsep itu adalah pembangunan rusunawa di atas stasiun kereta api. Dua stasiun kereta yang akan dibangun rusunawa adalah Stasiun Kampung Bandan dan Stasiun Manggarai. Apabila di India pembangunan rusunawa di pinggir rel kereta, konsep yang akan diterapkan di Jakarta adalah pembangunan rusunawa yang di bagian bawahnya dipergunakan untuk depo kereta api dan pasar rakyat. “Jadi, orang-orang itu supaya hemat biaya hidupnya, dia harus tinggal dekat stasiun kereta api supaya dia bisa langsung naik kereta,” kata Basuki. “Nanti, ke depannya, PT KAI juga bisa bikin tiket bulanan yang untuk pelanggan, nanti bisa dibuat khusus, misalnya ada diskon untuk penghuni rusunawa dan rusun ini nanti tidak ada parkiran mobil serta motor,” kata Basuki.  Basuki merencanakan pembangunan rusunawa di atas stasiun ini selesai secepatnya dan berjumlah sebanyak-banyaknya. Selain pembangunan rusunawa, Pemprov DKI dan PT KAI berencana membangun loopline (jalur melingkar) di rel Kampung Bandan. Pembangunan loopline ini masuk ke dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) 2011-2030 sehingga Commuter Line akan terintegrasi dengan mass rapid transit (MRT). “Makanya, MRT kan dirancang lebar relnya sama dengan kereta api. Kami juga lagi berpikir agar kereta api punya saham di PT MRT Jakarta dan nantinya Pemprov DKI punya saham di PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek) gitu ,” kata Basuki.  Tinjauan ke Stasiun Kampung Bandan dilakukan dengan menumpangi kereta lori motor yang hanya berkapasitas 12 penumpang.


Baca juga : Di+ambang+Perceraian+dan+Terlilit+Utang+Jadi+Alasan+Tukang+Ojek+Habisi+Nyawa+SPG+Cantik nvWKky

Kasubdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Antonius Agus saat merilis kasus pembunuhan Dini Oktaviani, seorang perempuan yang ditemukan tewas di Apartemen Laguna Tower, Jakarta Utara, Rabu (13/9/2017). Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Polisi menangkap Peri Sugianto (27), pembunuh Dini Oktaviani, seorang perempuan yang ditemukan tewas di Apartemen Laguna Tower, Jakarta Utara, Rabu (13/9/2017). Peri merupakan pengemudi ojek online langganan Dini. Pembunuhan bermula ketika Peri terlilit utang. Ia meminta bantuan Dini untuk dicarikan orang yang dapat meminjamkannya uang senilai Rp 1 juta. Namun, karena gelap mata dan melihat harta benda yang dimiliki Dini, Peri tega mencekik korban dari belakang hingga tewas. Peri tergiur untuk mengambil beberapa barang milik Dini. Kasubdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Antonius Agus mengatakan, keterangan itu, berdasarkan pengakuan dari Peri. “Pertama pelaku tidak punya uang, banyak utang, dan melihat ada HP di meja apartemen korban. Keinginan dia untuk menguasai harta korban,” ujar Anton, di Mapolda Metro Jaya, Semanggi, Jakarta Selatan, Jumat (22/9/2017). Selain terlilit utang dengan jumlah besar, ucap Anton, Peri yang sudah memiliki istri di ambang perceraian. “Dia juga lagi proses cerai, ada masalah keluarga,” ujar Anton. Dini yang berprofesi sebagai sales promotion girl diduga dibunuh, Rabu (13/9/2017). Sedangkan, polisi menangkap Peri di Pasar Anyar, Sawah Besar, Jakarta Barat, Kamis (21/9/2017). “Pelaku dijerat Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dan atau Pasal 365 KUHP tentang Pencurian Disertai Kekerasan dengan ancaman 15 tahun penjara,” ujar Anton.

Pemprov DKI memberlakukan kebijakan dengan memperbolehkan Pedagang Kaki Lima (PKL) berjualan di trotoar dan jalan di depan Stasiun Tanah Abang. Puji dan kritikan diberikan untuk wajah baru Tanah Abang ala Gubernur DKI Anies Baswedan itu. Kebijakan Anies dan Wagub DKI Sandiaga Uno ini tak pelak membuat para pedagang di Pasar Tanah Abang kesal. Akibat memperbolehkan PKS berdagang di jalan, para pedagang pasar juga ingin ikut berdagang menjadi PKL. “Kalau zaman Pak Ahok (Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama) nggak boleh. Zaman pak Anies itu longgar. Kalau di bawah diperbolehkan, kami juga akan turun,” ujar Pedagang Sepatu di Pasar Tanah Abang, Blok G Nasri, Jumat (22/12). Dirinya mengaku omzet penjualannya turun sejak PKL menempati jalan di kawasan strategis tempat penumpang turun dari stasiun. Nasri mengaku akan segera turun untuk kembali menjadi PKL lagi bila kondisi penjualan di tokonya terus memburuk. “Dulu kan kita kena gusuran pas zaman Pak Yos (Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso) kalau gini secepatnya akan turun,” ungkap dia. Berbeda dengan Nasri, para PKL justru semringah dengan Kebijakan Pemprov DKI. Omzet para PKL pun langsung naik secara signifikan. “Naiknya besar, biasanya sehari dapatnya Rp 500 ribu, sampai tadi jam 12 aja udah Rp 1 juta,” ungkap PKL yang berjualan jaket jeans, Erna Maulina, Jumat (22/12). Ada 400 PKL yang difasilitasi Pemprov DKI untuk bisa berjualan di jalanan. Erna menceritakan, dia biasa berjualan di kawasan Jati Baru dan kerap diusur Satpol PP. Foto: Haris Fadhil/detikcom “Cepat sekali prosesnya. Kita hanya disuruh bawa dan KTP dan meterai kemudian tanda tangan . Jualan sampai kapan nggak tahu,” tuturnya. Untuk memfasilitasi para PKL itu, Pemprov DKI pun mengeluarkan kebijakan untuk merekayasa Jalan di depan Stasiun Tanah Abang. Sampai pukul 18.00 WIB, tak ada kendaraan yang boleh melintas kecuali Bus TransJakarta ‘Tanah Abang Explorer’. Hal ini mendapat kritikan dari Komisioner Ombudsman RI Adrianus Meliala. Dalam kritiknya, Adrianus menyampaikan penutupan jalan di Tanah Abang untuk mengakomodasi 400 PKL berpotensi melanggar aturan perundang-undangan. “Jalan ada UU (undang-undang)-nya, jalur pedestrian ada UU-nya. Kalau sekarang (jalur) pedestrian dipakai untuk PKL dan jalan juga mau ditutup untuk PKL, ya berarti UU mesti diubah dong,” kata Adrianus, Selasa (18/12). Sementara itu, kebijakan Anies mendapat dukungan dari jajarannya seperti dari Kepala Seksi Operasi Satpol PP DKI, Harry Apriyanto. Dia meminta semua pihak untuk memberi dukungan kepada Anies. “Ini programnya sudah bagus pak gubernur, ayo didukung. Kalau cuma 1-2 orang nggak mendukung, ya jadi nggak bagus lagi nanti. Saya minta kerjasamanya,” ucap Harry, Jumat (22/12). Kritikan juga datang dari Pengamat Transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno. Dia menganggap penutupan jalan di depan Stasiun Tanah Abang tidak tepat. Kebijakan tersebut menyebabkan sejumlah trayek angkutan umum di kawasan itu diubah. Sayang jalan yang dibangun mahal hanya untuk PKL. Hal yang keliru jika jalan digunakan untuk berdagang, seperti PKL lagi,” sebut Djoko, Jumat (22/12). Di sisi lain, kebijakan Anies mendapat apresiasi dari Wakil Ketua DPRD DKI Abraham Lunggana. Pria yang akrab disapa Lulung ini bahkan ikut mendampingi Anies saat meninjau penataan kawasan Tanah Abang, kemarin. “Bagus, semua organ hidup hari ini. Efektif, siapa bilang nggak efektif. Semua masyarakat harus memberikan apresiasi, karena ini adalah program yang sangat membahagiakan para pelaku UKM,” tukas Lulung.

Merdeka.com – Komponis dan juga pianis Ananda Sukarlan salah satu alumni yang mendapat Penghargaan Kanisius dalam rangka memperingati 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius di Hall D JIExpo Kemayoran, Jakarta , Sabtu (11/11) malam. Namun saat Gubernur DKI Anies Baswedan berpidato, Ananda dan beberapa alumni lain walk out (WO) dari ruangan tersebut. Ananda mengaku walk out sebagai bentuk kritik kepada panitia Kanisius tersebut. Karena menurut Ananda, jabatan yang diraih Anies diraih dengan cara yang tidak fair. Dia menegaskan tak ada muatan politis dalam aksinya kemarin. Ananda menyebut tindakan itu sebagai kritik almamaternya untuk lebih selektif mengundang tamu di masa depan. “Saya itu mengkritik (konstrukttif) justru almamater saya sendiri loh. Untuk lebih selektif mengundang di masa depan. Self criticism,” kata Ananda dikutip dari akun twitter @anandasukarlan, Senin (13/11). “Saya WO bukan supaya keren, bang. Saya sudah keren sebelum WO, bahkan lahirpun sudah keren,” tambah dia. Ternyata tindakan Ananda tersebut mendapat kecaman dari berbagi pihak termasuk budayawan Franz Magnis-Suseno. Romo Magnis, panggilan akrabnya, menyebut tindakan itu memalukan. “Namun apa yang terjadi kemudian – bukan salah Panitia! – menurut saya memalukan dan sangat saya sesalkan. Yaitu, begitu Gubernur bicara, sebagian besar hadirin, mengikuti Bapak Ananda Sukarlan, meninggalkan ruang,” tulis Romo Magnis dikutip merdeka.com, Selasa (14/11). “Andaikata Gubernur mengatakan sesuatu yang tidak senonoh/jahat/menghina, walkout dapat dibenarkan. Tetapi walkout kemarin menunjukkan permusuhan terhadap pribadi Gubernur merupakan suatu penghinaan publik. Kok bisa? Di negara mana pun, di luar pertemuan polltik, hal itu jarang terjadi.” Romo Magnis menuturkan Ananda memiliki hak untuk menolak Anies. Namun dia sangat menyayangkan sebagian peserta menggunakan kesempatan acara Kanisius untuk menunjukkan permusuhan terhadap Gubernur DKI. “Saudara Ananda Sukarlan berhak menolak Anies. Sebagai seorang Muslim ia tidak perlu dicurigai bersikap sektarian. Namun saya tetap tidak dapat menyetujui kelakuannya. Tamu harus dihormati, tamu datang karena diundang panitia, maka semua yang ikut undangan panitia, harus menghormati tamu pun pula kalau secara pribadi tidak menyetujuinya. Silahkan panitia dikritik. Tetapi menginisiasikan suatu demonstrasi penghinaan terbuka terhadap Gubernur DKI saya anggap penyalahgunaan kesempatan.” Senada dengan Romo Magnis, budayawan Eros Djarot mengkritik apa yang dilakukan Ananda Sukarlan dan sejumlah rekannya. Eros menyebut hal itu sebagai ‘kekerasan’ budaya. Eros pun bertanya apakah meninggalkan tamu undangan saat berpidato juga termasuk dalam nilai-nilai di Kanisius? “Saya yakini bukan ajaran dan perilaku yang berpijak pada ajaran sang Juru Selamat… yang begitu indah dan menghadiahkan kepada kehidupan ini musik yang penuh cinta kasih sehingga setiap telinga yang mendengar akan merasakan betapa damai itu indah…memaafkan itu indah…menebar kasih itu indah…!” tulis Eros. Eros mengungkapkan kritik tersebut dari seorang sahabat yang bermusik hanya dengan pengetahuan dan kebisaan yang sangat sederhana dan terbatas. “Tapi menjadi pengagum Jesus sang pejuang kemanusiaan yang penuh damai sehingga layak saya jadikan sumber inspirasi di banyak lagu-lagu yang saya ciptakan…. Sekalipun saya pengikut Muhammad SAW,” tambahnya. [ded]

Jakarta Pusat, Minggu 12 November 2017 – Dalam rangka memperingati 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius, sekolah yang konsisten sampai sekarang hanya untuk laki-laki yang bertempat di Menteng Raya ini untuk pertama kalinya memberikan Penghargaan Kanisius ke 5 alumni dari berbagai generasi. 5 alumni ini tersaring dari 95 finalis yang menjadi kandidat. Mereka adalah Ananda Sukarlan (komponis & pianis), Derianto Kusuma (pendiri Traveloka), Romo Magnis Suseno (tokoh Jesuit), Irwan Ismaun Soenggono (tokoh pembina Pramuka) dan Dr. Boenjamin Setiawan (pendiri Kalbe Farma).

seperti di kutip dari https://www.kaskus.co.id

Hadir dan memberi pidato pembuka di acara akbar di JIFest yang dihadiri oleh ribuan alumni Kanisius kemarin, Sabtu 11 November ini adalah gubernur Jakarta, Anies Baswedan. Saat ia memberi pidato, Ananda Sukarlan berdiri dari kursi VIPnya dan walk out menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap pidato Anies. Aksi ini kemudian diikuti oleh ratusan alumni dan anggota hadirin lainnya. Setelah memberikan pidatonya yang disambut dengan dingin oleh hadirin yang tinggal, Anies Baswedan meninggalkan tempat. Hadirin yang tadinya walk out pun memasuki ruangan kembali.

seperti di kutip dari https://www.kaskus.co.id

Saat pemberian penghargaan kepada 5 tokoh ini, Ananda mendapat giliran untuk pidato selama 10 menit. Di pidato itu setelah ia mengucapkan terimakasih, ia juga mengkritik panitya penyelenggara. “Anda telah mengundang seseorang dengan nilai-nilai serta integritas yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan kepada kami. Walaupun anda mungkin harus mengundangnya karena jabatannya, tapi next time kita harus melihat juga orangnya. Ia mendapatkan jabatannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kanisius. Ini saya tidak ngomong politik, ini soal hati nurani dan nilai kemanusiaan”, katanya.

Related Posts

Comments are closed.