Presiden PKS hingga Sudrajat Merapat ke Kediaman Prabowo

Presiden PKS hingga Sudrajat Merapat ke Kediaman Prabowo

Presiden PKS Sohibul Iman hingga Cagub Jawa Barat Sudrajat merapat ke kediaman Ketum Gerindra Prabowo Subianto. Sejumlah elite-elite partai lainnya pun terpantau ikut datang ke rumah mantan Danjen Kopassus itu. Sohibul tiba di rumah Prabowo, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (1/3/2018), pukul 12.06 WIB. Tak ada keterangan yang disampaikan oleh Sohibul saat tiba di lokasi. Suasana di kediaman Ketum Gerindra Prabowo Subianto Foto: Kanavino/detikcom Tak lama berselang, hadir pula Ketua Komisi IV DPR Edhy Prabowo yang juga Wakil Ketua Umum Gerindra. Edhy mengenakan pakaian warna khaki khas Gerindra. Setelah itu, Ketua DPD Gerindra DKI M Taufik datang pukul 12.19 WIB. Dia mengenakan pakaian berwarna hitam. Selanjutnya, Anggota Dewan Pembina Gerindra Djoko Santoso pun datang pukul 12.45 WIB. Sebelumnya, Cagub Jawa Barat Sudrajat tiba lebih dulu yaitu pukul 11.40 WIB. Dia juga tak berkomentar apapun soal pertemuan hari ini. Seperti diketahui, Sudrajat dan Ahmad Syaikhu maju di Pilgub Jawa Barat 2018. Pasangan dengan nomor urut 3 itu diusung oleh Partai Gerindra, PKS dan PAN.

Baca juga : Prabowo Bertepuk Sebelah Tangan

Sepekan sebelum akhir tahun lalu, Prabowo mengundang Yenny Wahid ke kediamannya di Jalan Kertanegara, Jakarta. Kata Yenny, dalam pertemuan itu Gerindra menawarinya maju sebagai cagub Jawa Timur. Yenny tak langsung menjawab tawaran tersebut. Pikir-pikir dulu, katanya. Kabar ini pun mendapat respons luar biasa dari kalangan Nahdliyin. Sebagian besar berharap Yenny tidak menerima tawaran tersebut. Meski satu dua ada yang mendukung. Sepekan lebih berpikir, Yenny akhirnya mantap membuat keputusan. Tadi malam, perempuan bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid ini kembali menemui Prabowo untuk menyampaikan keputusannya. Usai bertemu, Yenny muncul bersama Prabowo di depan pintu. Apa keputusannya? Intinya, Yenny menolak lamaran Gerindra. Alasan penolakannya dia sampaikan juga di akun Twitter miliknya @yennywahid. Pertama, dia mengucapkan apresiasi yang sangat dalam atas tawaran dari Prabowo dan keluarga besar Gerindra. “Namun dengan sangat terpaksa, saya harus menyampaikan: saya tidak menolak tawaran pak Prabowo namun saya tidak mendapatkan izin dari para sesepuh untuk maju,” kata Yenny. Yenny mengaku punya tugas kesejarahan yaitu meneruskan perjuangan Gus Dur untuk menjaga keutuhan umat, terutama umat Nahdlatul Ulama (NU). Karenanya, harus berdiri mengayomi semua kandidat, bukannya malah terjun ikut bertempur. “NU telah memberikan kader-kader terbaiknya dalam Pilgub Jatim, tugas kita adalah mendoakan pemimpin yang terpilih bisa membawa maslahat dan kebaikan bagi masyarakat Jatim, dan memastikan agar tidak ada perpecahan dikalangan umat,” jelasnya. Selain larangan dari sesepuh NU, Yenny menyebut penolakan itu juga atas hasil pertimbangannya sendiri dengan merujuk dalil aqli (akal) dan naqli (rujukan Al Quran dan hadits) sebagai pedoman dalam mengambil keputusan. “Tradisi NU itu ada dua dalil yang dipakai, aqli dan naqli. Jadi akal dipakai rasional dan spiritual. Selanjutnya kita memohon kepada Tuhan,” ujarnya. Bagaimana tanggapan Prabowo? Eks Danjen Kopassus itu sedih karena tawarannya tidak diterima. Selama ini, Prabowo menilai Yenny sebagai kader bangsa yang memiliki wawasan luas. Meski demikian, dia tetap menghargai sikap Yenny. “Beliau tidak diizinkan oleh keluarganya. Saya menilai beliau adalah kader bangsa yang terkemuka yang punya wawasan sangat luas. Saya selalu berharap memberi sumbangan kepada kita semua. Saya sedih dan menghormati, tapi bagaimana lagi,” ujar Prabowo. Penolakan ini membuat peta politik Pilgub Jawa Timur belum berubah. Untuk sementara masih ada dua cagub, Pertama pasangan Saifullah Yusuf-Azwar Anas yang didukung PDIP dan PKB. Kedua, pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak yang diusung Demokrat, Golkar, Nasdem dan Hanura. Sementara, Gerindra, PKS dan PAN masih belum menemukan calon. Usai Yenny pergi, para petinggi PAN dan PKS merapat ke kediaman Prabowo. Hadir Ketum PAN Zukifli Hasan dan Presiden PKS Sohibul Iman. Keduanya tiba sekitar pukul 8 malam. Ditanya mau membahas apa, Sohibul hanya melempar senyum. Sementara Zulkifli menyebut, kedatangannya untuk membahas Pilkada Jawa Timur. Kata dia, pertemuan ini adalah tindaklanjut dari pertemuan sebelumnya di DPP PKS beberapa waktu lalu. “Waktu itu kan kita jumpa di tempat PKS, sekarang di rumah Pak Prabowo. Tentunya finalisasi Pilkada,” ujar Zulkifli. Dia menyebut, Pilkada yang akan difinalisasi yakni Pilkada Jabar, Jateng, Kaltim, Sumatera Utara dan Maluku Utara. Selain finalisasi lima Pilkada itu, Zulkifli berharap, pertemuan kali ini juga dapat mengambil kesimpulan untuk Pilkada Jawa Timur. Dia berharap, kader PAN, seperti Bupati Bojonegoro Suyoto, Bupati Lamongan Masfuk, hingga anggota DPR Anang Hermansyah dipilih oleh koalisi tersebut. “Nanti bagaimana, kami tunggulah pendapat Pak Prabowo seperti apa,”  ujarnya. Zulkifli enggan berkomentar soal penolakan Yenny Wahid untuk diusung sebagai cagub di Pilkada Jawa Timur. “Oh saya tidak tahu. Yang saya tahu kami ada alternatif,” pungkasnya. ***

Presiden PKS Sohibul Iman dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan merapat ke kediaman Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. Dua tokoh partai itu datang untuk membahas Pilkada Serentak 2018. Pantauan detikcom di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (3/1/2018), Sohibul datang pukul 19.40 WIB. Dia tak banyak berkomentar dan langsung masuk ke rumah Prabowo. Tak lama berselang, Zulkifili datang pukul 20.10 WIB. Dia didampingi oleh Ketua DPP PAN Yandri Susanto. Zulkifli sempat menjelaskan mengenai kedatangannya ke rumah Prabowo malam ini. Menurutnya, dia hendak berdiskusi dengan Prabowo dan Sohibul terkait kesepakatan untuk bersama-sama di lima wilayah Pilkada Serentak 2018. “Jadi ini saya kira silaturahmi. Yang kedua, kita jumpa di tempat PKS, sekarang di rumah Prabowo. Tentu finalisasi pilkada, yang lima wilayah itu kan. Yang sudah disepakati, finalisasi,” kata Zulkifli. Zulkifli pun akan memperjuangkan agar kadernya bisa diusung di Pilgub Jatim. Sejumlah nama akan ditawarkan dalam pembahasan nanti. “Kalau saya membawa Jawa Timur kalau bisa kita ngusung calon sendiri,” tuturnya. “Menanggapi hal itu, saya nggak tahu. Yang saya tahu, kita ada alternatif. Kalau dari saya itu ada, Masfuk, Yoto, Anang, banyak juga orang top,” sambungnya.

Merdeka.com – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto telah menetapkan Mayjen (Purn) Sudrajat sebagai calon gubernur (cagub) yang akan diusung di Pilkada Jawa Barat (Jabar) 2018 mendatang. Untuk pendamping atau calon wagub, belum ditetapkan sampai saat ini. Untuk calon pendamping Sudrajat, Prabowo mengatakan, akan diserahkan pada partai koalisi. Dia akan mencoba melobi PAN dan PKS untuk merapat. “Tentunya kita sekarang harus keliling dan terutama harus melobi kawan-kawan kita PKS, PAN. Dan mungkin partai-partai lain kita juga terbuka dan harus konsultasi dengan para pendukung kita,” katanya saat jumpa pers di kediamannya di Bukit Hambalang, Kabupaten Bogor, Sabtu (9/12). Dia pun masih enggan mengungkapkan siapa calon pendamping yang ideal bagi Sudrajat apakah dari sipil, santri atau kalangan lainnya. “Sebentar lagi (ditentukan). Yang sekarang kita putuskan calon gubernur dulu terus nanti kita adakan musyawarah dengan kawan-kawan dari PKS dan PAN,” jelasnya. “Kawan-kawan dari koalisi yang akan menentukan,” tambahnya. Dipilihnya Sudrajat yang berlatar belakang militer karena dinilai memiliki pengalaman yang cukup dan diyakini bisa membawa Jabar ke arah yang lebih baik. Dipilihnya Sudrajat juga atas dukungan dan persetujuan tokoh agama dan tokoh masyarakat Jabar. Prabowo mengatakan, para ulama berpesan kepada Sudrajat untuk berkomitmen menjauhi perilaku korupsi . “Pesan masyarakat dan ulama kepada beliau tidak boleh korupsi, tidak boleh melanggar komitmen pengabdian kepada rakyat dan kita yakin beliau ingin mengabdi kepada rakyat dan tak ingin apa-apa lagi,” jelasnya. [fik]

TEMPO.CO, Jakarta – Geliat politik menjelang pemilihan gubernur Jawa Barat atau Pilgub Jabar 2018 semakin memanas setelah beberapa partai menarik ulur dukungan kepada beberapa kandidat yang sempat digadangkan sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat. Sampai saat ini tampak ada tiga poros yang akan maju dalam kontestasi politik merebut kursi nomor wahid di Jawa Barat itu. Poros pertama adalah koalisi Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sudah mantap akan mengusung Mayor Jenderal Purnawirawan Sudrajat dan Ahmad Syaikhu. Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto resmi menunjuk Sudrajat sebagai kandidat bakal calon gubernur pada pilgub Jabar 2018 lewat keputusan yang ditekennya pada Kamis malam, 7 Desember 2017 di kediaman Prabowo, Hambalang, Sentul, Jawa Barat. Baca: Demokrat dan Golkar Mesra di Pilgub Jabar, Begini Tanggapan PDIP Kemudian PAN dan PKS pun merapat. PKS yang sebelumnya akan mendukung Deddy Mizwar dalam pilgub Jabar itu pun menceraikan aktor senior Indonesia itu demi bergabung ke kubu Prabowo. Presiden PKS Sohibul Iman mengatakan salah satu alasan mereka berkoalisi adalah keberhasilan mereka dalam memenangi pemilihan kepala daerah DKI Jakarta tahun ini. “Ada semangat kami ingin melanjutkan apa yang kita raih di putaran kedua pilkada DKI,” kata dia pada Senin, 25 Desember 2017.

seperti di kutip dari https://pilkada.tempo.co

Poros kedua adalah koalisi yang dibentuk oleh Golkar dengan mengusung Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Dedi disebut akan berduet dengan calon usungan Partai Demokrat, Deddy Mizwar. Baca: PKS Cabut Dukungan, Deddy Mizwar: Sudah Ada Feeling Semula, Golkar mendukung Wali Kota Ridwan Kamil saat posisi Ketua Umum Partai Golkar masih dijabat oleh Setya Novanto. Namun saat kepemimpinan beralih kepada Airlangga Hartarto, Partai Golkar kembali mengusung kadernya Dedi Mulyadi. ”Saya kira tidak akan kembali lagi kepada Ridwan Kamil,” kata Airlangga Hartarto, Rabu, 27 Desember 2017. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Sjarifuddin Hasan menyampaikan partainya sudah melakukan pembahasan untuk berkoalisi dengan Golkar. Namun kedua partai belum memutuskan siapa yang menjadi calon gubernur dan siapa wakilnya. Dua partai ini pun belum mengumumkan secara resmi pasangan calon itu. “Mohon doanya saja, sesegera mungkinlah,” kata Sjarif. Poros ketiga adalah kubu Ridwan Kamil yang sampai saat ini masih didukung oleh Partai Nasdem, PPP, dan PKB. Setelah, wacana koalisi Dedi Mulyadi dan Deddy Mizwar, Patai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai partai pemenang yang bisa mengusung calon sendiri di Jawa Barat pun beralih membuka diri untuk bergabung dengan kubu yang mendukung Ridwan Kamil. Namun, sampai saat ini, Ridwan Kamil belum memutuskan siapa yang akan menjadi pendampingnya di pilgub Jawa Barat. Sikap Ridwan Kamil tersebut membuat partai pengusungnya gerah dan berpikir ulang untuk mengevaluasi dukungan, jika pria yang kerap disapa Emil itu terlalu lama memutuskan siapa pendampingnya. “PKB hanya ingin mengingatkan jika politik itu dinamis,” kata politikus PKB, Maman Imanulhaq. Jika Ridwan masih dalam keragu-raguannya, menurut Maman, dia bisa bernasib sama seperti Deddy Mizwar di pilgub Jabar setelah Gerindra menarik gerbong dukungan partai pendukungnya. “Emil bisa terancam jomblo,” ujarnya.

Prabowo Usung Sudrajat Jadi Cagub Jabar Jakarta detikNews – Ketum Gerindra Prabowo Subianto mengumumkan Mayjen (Purn) Sudrajat jadi cagub Jabar 2018 di kediamannya. Seperti apa suasana deklarasi tersebut? Pengumuman Sudrajat jadi cagub Jabar diumumkan di kediamannya di Hambalang, Jabar, Sabtu (9/12/2017). Prabowo melibatkan ulama saat mengumumkan cagub Jabar. Menurutnya, peran ulama sangat besar di masyarakat. Saat mendukung Sudrajat, Prabowo menitip pesan supaya cagub yang diusungnya tak korupsi. Prabowo belum mengumumkan sosok cawagub. Ia masih berkomunikasi dengan parpol lainnya seperti PAN, PKS, dan Partai Demokrat. “Kita sudah ada untuk berunding (dengan SBY), tapi tentunya ada pertimbangan mereka (Partai Demokrat),” ujar Prabowo Sebelum pengumuman cagub Jabar, sejumlah ulama hingga para tokoh merapat ke kediaman Prabowo di Hambalang. Like, Share, Comment & Subscribe THANKS!

Ketua Umum PKS Sohibul Iman dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto saat mengumumkan kandidat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur di lima provinsi di kantor DPP PKS, Jakarta, 27 Desember 2017. Lima provinsi itu adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara. TEMPO/Ahmad Faiz TEMPO.CO, Jakarta – Geliat politik menjelang pemilihan gubernur Jawa Barat atau Pilgub Jabar 2018 semakin memanas setelah beberapa partai menarik ulur dukungan kepada beberapa kandidat yang sempat digadangkan sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat. Sampai saat ini tampak ada tiga poros yang akan maju dalam kontestasi politik merebut kursi nomor wahid di Jawa Barat itu.

Ridwan Kamil misalnya, sempat mendapat dukungan dari Golkar sebelum akhirnya terjadi polemik di internal partai beringin itu yang sekaligus berdampak pada bergantinya haluan partai dari yang awalnya mengusung Ridwan Kamil-Daniel Muttaqien di Pilgub Jabar menjadi Dedi Mulyadi. Nama Dedi Mulyadi sendiri awalnya sudah santer akan diusung Golkar, namun batal karena Golkar memilih Ridwan Kamil. Pergantian ketua Golkar dari Setya Novanto ke Airlangga Hartarto justru menguntungkannya dan mengembalikan rekomendasi yang sempat batal tadi.

seperti di kutip dari http://www.pikiran-rakyat.com

Tak mau kehabisan akal, Gerindra yang mundur meninggalkan koalisi akhirnya memunculkan jagoan baru yang bisa dibilang saat itu namanya belum banyak dibicarakan. Jagoan itu adalah Mayjen (Purn) Sudrajat yang sebelumnya aktif di militer dan menjadi salah satu pendukung Prabowo pada Pilpres 2014. Diusungnya Sudrajat sekaligus mengajak dua partai lain, yakni PKS dan PAN untuk bergabung bersama Gerindra. Tak disangka, lewat proses yang cukup rumit, PKS bersedia meninggalkan Deddy Mizwar dan menarik kadernya, Ahmad Syaikhu untuk mendampingi Sudrajat .

Related Posts

Comments are closed.