Polri-FBI Tak Temukan Jho Low Saat Amankan Yacht Rp 3,5 Triliun

Polri-FBI Tak Temukan Jho Low Saat Amankan Yacht Rp 3,5 Triliun

Bareskrim Polri bersama penyidik dari FBI merampungkan penggeledahan kapal super yacht Equanimity. Sayangnya, pada saat digeledah penyidik, pemilik kapal yang juga terdakwa korupsi USD 1 miliar asal Malaysia, Jho Low, tak ditemukan. “(Jho Low) Belum kita temukan,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga saat dihubungi detikcom, Rabu (28/2/2018). Saat ditanya perihal negara mana yang sempat disinggahi oleh kapal Yacht sebelum ke Bali, Daniel menuturkan pihaknya akan perlu mengkaji log book-nya terlebih dahulu. Ia menuturkan, terkait hal itu pihaknya tidak bisa menyampaikan dalam waktu dekat. “Itu kita belum baca (log book) karena kita baru turun dari kapal. Jadi nanti biarkan anak-anak membaca dulu karena tebal sekali. Jadi tidak bisa dijelaskan dalam waktu dekat sebelum kita baca,” tuturnya. Seperti diketahui, kapal Yacht Rp 3,5 triliun itu diamankan di Pelabuhan Benoa, Bali, diketahui masuk sejak November 2017 lalu. Kapal ini telah mengunjungi 5 destinasi wisata di Indonesia. “(Kapal yacht sudah) ke wilayah perairan di Sorong, Raja Ampat, di NTT, NTB, Bali, dan Maluku,” ujar Agung di Bareskrim Polri, Gedung KKP, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2). Yacht ini ditangkap pada Rabu (28/2) di perairan Tanjung Benoa, Bali. Di atas kapal tersebut ada sebanyak 34 orang yang turut diamankan. Yacht itu disebut terkait investigasi skandal korupsi lembaga investasi negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB). 1MDB Malaysia tengah diselidiki terkait dugaan tindak pidana pencucian uang di sedikitnya 6 negara termasuk Amerika Serikat, Swiss, dan Singapura.

Baca juga :

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bersama penyidik dari FBI meninggalkan kapal super yacht Equanimity. Kapal pabrikan Belanda itu diduga dibeli oleh terdakwa korupsi USD 1 miliar asal Malaysia, Jho Low. Pantauan detikcom di perairan Tanjung Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (28/2/2018), Bareskrim Polri dan sedikitnya empat pria yang diduga dari FBI menaiki Equanimity pada pukul 13.30 Wita. Lalu pada pukul 20.00 Wita, sejumlah orang yang disebut berasal dari Biro Investigasi Federal itu keluar dari kapal mewah seharga Rp 3,5 triliun tersebut. Di antara Equanimity dan kapal patroli berukuran sedang milik Polairud Polda Bali, mereka harus menggunakan perahu karet. Orang yang tidak berkepentingan juga tidak diperkenankan menaiki kapal yang telah berada di Indonesia sejak November 2017 itu. Sedikitnya lima orang lebih dulu meninggalkan Equanimity. Para penyidik Mabes Polri meninggalkan Equanimity 5 menit setelahnya. Belum ada keterangan dari pihak Mabes Polri. Namun mereka keluar setelah berada di atas kapal selama 6 jam lebih. Para penyidik membawa selusin tas berupa koper hitam dan tas hitam. Belum diketahui isinya, namun keberadaan dua instansi tersebut adalah untuk melakukan penyitaan terhadap kapal berbendera negara Persemakmuran Inggris tersebut. “Mereka (AS) minta ke pemerintah kita bahwa keberadaan kapal di sini dan kita sudah minta izin untuk melakukan penyitaan,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bersama penyidik dari FBI meninggalkan kapal super yacht Equanimity. Kapal pabrikan Belanda itu diduga dibeli oleh terdakwa korupsi USD 1 miliar asal Malaysia, Jho Low. Pantauan detikcom di perairan Tanjung Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (28/2/2018), Bareskrim Polri dan sedikitnya empat pria yang diduga dari FBI menaiki Equanimity pada pukul 13.30 Wita. Lalu pada pukul 20.00 Wita, sejumlah orang yang disebut berasal dari Biro Investigasi Federal itu keluar dari kapal mewah seharga Rp 3,5 triliun tersebut. Di antara Equanimity dan kapal patroli berukuran sedang milik Polairud Polda Bali, mereka harus menggunakan perahu karet. Orang yang tidak berkepentingan juga tidak diperkenankan menaiki kapal yang telah berada di Indonesia sejak November 2017 itu. Sedikitnya lima orang lebih dulu meninggalkan Equanimity. Para penyidik Mabes Polri meninggalkan Equanimity 5 menit setelahnya. Belum ada keterangan dari pihak Mabes Polri. Namun mereka keluar setelah berada di atas kapal selama 6 jam lebih. Para penyidik membawa selusin tas berupa koper hitam dan tas hitam. Belum diketahui isinya, namun keberadaan dua instansi tersebut adalah untuk melakukan penyitaan terhadap kapal berbendera negara Persemakmuran Inggris tersebut. “Mereka (AS) minta ke pemerintah kita bahwa keberadaan kapal di sini dan kita sudah minta izin untuk melakukan penyitaan,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

INILAHCOM, Jakarta – Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri mengungkap barang bukti hasil kejahatan pencucian uang di Amerika Serikat, berupa super yacht seharga Rp 3,5 triliun. Kapal mewah itu ditemukan di Tanjung Benoa, Bali setelah empat tahun diburu FBI. “Hari ini kami dari Bareskrim Polri melakukan penyitaan terhadap kapal Equanimity di Pelabuhan Benoa Bali,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Mabes Polri, Brigjen Agung Setya saat dikonfirmasi, Rabu (28/2/2018). Menurut Agung, pihaknya menerima surat dari FBI pada 21 Februari yang meminta bantuan Polri melakukan pencarian atas keberadaan kapal tersebut. “Kapal ini kita sita terkait dengan tindak pidana pencucian uang yang terjadi di Amerika, yang kasusnya sedang diselidiki oleh FBI. Kapal ini sudah dicari beberapa tahun yang lalu dan ternyata ada di Benoa hari ini, lalu kita lakukan penyitaan,” ujarnya. Agung menambahkan, kapal tersebut diketahui masuk ke Indonesia pada November 2017. FBI kemudian melakukan koordinasi dengan Kepolisian Republik Indonesia untuk melakukan penyitaan. “Jadi FBI Amerika melakukan joint investigation dengan Bareskrim. Bareskrim membantu,” jelasnya. Pengungkapan bukti kejahatan tersebut, kata Agung, merupakan yang terbesar sepanjang pengungkapan jajarannya. Kapal tersebut ditaksir senilai USD 250 juta atau setara Rp 3,5 triliun. Saat ini kasus tersebut sudah selesai di pengadilan dan barang bukti super yacht itu dinyatakan sebagai hasil kejahatan pencucian uang. Kajahatan tersebut juga melibatkan beberapa negara seperti Amerika, Swiss, Malaysia, dan Singapura. Sampai saat ini, tim Bareskrim Mabes Polri, bersama FBI dan Dit Pol Air Polda Bali, masih melakukan pengecekan ke dalam kapal pesiar tersebut.[van].

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Turin – Juventus melangkah ke final Coppa Italia setelah mengalahkan Atalanta 1-0 di leg kedua semifinal. Gol tunggal Bianconeri lahir dari penalti Miralem Pjanic. Berkat kemenangan ini, Juventus lolos dengan keunggulan agregat 2-0 setelah sebelumnya juga menang 1-0 di markas Atalanta. Menjamu Atalanta di Allianz Stadium, Turin, Rabu (28/2/2018), Juventus tak diperkuat Gonzalo Higuain, Federico Bernardeschi, Juan Cuadrado, dan Mattia De Sciglio. Sementara itu, Paulo Dybala kurang fit untuk jadi starter dan cuma main di babak kedua. Atalanta tampil lebih mendominasi di babak pertama. Tim tamu banyak menguasai bola dan mencoba untuk menekan Juventus. Tapi, mereka tak membuat banyak peluang bersih. Sebaliknya, Juventus justru punya peluang emas, yang gagal dituntaskan oleh Mario Mandzukic. Penampilan Juventus membaik di babak kedua. Akan tetapi, mereka butuh sebuah penalti di menit ke-75 untuk mencetak gol. Pjanic yang jadi eksekutor berhasil menjebol gawang Atalanta. Juventus kini tinggal menunggu lawan di final. Mereka akan bertemu AC Milan atau Lazio di partai puncak yang akan digelar di Olimpico pada 9 Mei 2018. Jalannya Pertandingan Juventus punya peluang untuk unggul pada menit ke-16. Namun, Blaise Matuidi gagal menjangkau bola tendangan bebas Pjanic. Mandzukic menyia-nyiakan sebuah peluang emas di menit ke-35. Striker asal Kroasia itu tinggal menghadapi Etrit Berisha di kotak penalti, tapi penyelesaiannya terlalu lemah dan dengan mudah digagalkan oleh kiper Atalanta itu. Percobaan yang dilakukan oleh Kwadwo Asamoah di menie-menit akhir babak pertama juga tak mengubah keadaan. Tembakan bek kiri Juventus itu cuma mengenai sisi luar jala gawang Atalanta. Tak ada gol yang tercipta hingga turun minum. Skor masih 0-0. Claudio Marchisio tak bisa memaksimalkan kesempatan yang didapatnya pada awal babak kedua. Tembakan gelandang Juventus itu terlalu mudah untuk diantisipasi oleh Berisha. Marchisio kembali mendapatkan peluang di menit ke-60. Dia mencuri bola dan melepaskan tembakan, tapi usahanya tak menemui sasaran. Serangan balik Atalanta di menit ke-64 nyaris berbuah gol ketika Alejandro Gomez lolos sendirian di wilayah Juventus. Melihat Gianluigi Buffon maju meninggalkan sarangnya, Gomez menembak dari jarak jauh. Sial buat dia, tembakannya cuma mengenai tiang gawang. Tak berselang lama, Gomez kembali mengancam gawang Juventus. Tapi, tembakan kerasnya dari luar kotak penalti meleset dari sasaran. Sebuah aksi Douglas Costa di menit ke-67 juga nyaris membawa Juventus memimpin. Sepakan Costa dari luar kotak penalti berada di luar jangkauan Berisha, tapi bola cuma menghantam mistar. Wasit menghadiahkan penalti untuk Juventus pada menit ke-75 setelah Matuidi dijatuhkan oleh Gianluca Mancini di mulut gawang. Pjanic maju sebagai algojo tendangan 12 pas dan sukses mengirimkan bola ke dalam gawang. Tembakannya ke arah tengah mengecoh Berisha. Juve pun unggul 1-0. Di sisa waktu, nyaris tak ada peluang bersih tercipta. Keunggulan Juventus terjaga hingga laga usai. Susunan Pemain Juventus: Buffon; Lichtsteiner, Benatia, Chiellini, Asamoah; Marchisio (Khedira 68′), Pjanic, Matuidi; Douglas Costa (Dybala 83′), Mandzukic, Alex Sandro (Barzagli 84′) Atalanta: Berisha; Mancini (Rizzo 76′), Caldara, Masiello; Hateboer, De Roon, Freuler (Barrow 87′), Spinazzola; Cristante; Ilicic (Cornelius 64′), Gomez (mfi/nds)

Bareskrim Polri bersama penyidik dari FBI merampungkan penggeledahan kapal super yacht Equanimity. Sayangnya, pada saat digeledah penyidik, pemilik kapal yang juga terdakwa korupsi USD 1 miliar asal Malaysia, Jho Low, tak ditemukan. “(Jho Low) Belum kita temukan,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga saat dihubungi detikcom, Rabu (28/2/2018). Saat ditanya perihal negara mana yang sempat disinggahi oleh kapal Yacht sebelum ke Bali, Daniel menuturkan pihaknya akan perlu mengkaji log book-nya terlebih dahulu. Ia menuturkan, terkait hal itu pihaknya tidak bisa menyampaikan dalam waktu dekat. “Itu kita belum baca (log book) karena kita baru turun dari kapal. Jadi nanti biarkan anak-anak membaca dulu karena tebal sekali. Jadi tidak bisa dijelaskan dalam waktu dekat sebelum kita baca,” tuturnya. Seperti diketahui, kapal Yacht Rp 3,5 triliun itu diamankan di Pelabuhan Benoa, Bali, diketahui masuk sejak November 2017 lalu. Kapal ini telah mengunjungi 5 destinasi wisata di Indonesia. “(Kapal yacht sudah) ke wilayah perairan di Sorong, Raja Ampat, di NTT, NTB, Bali, dan Maluku,” ujar Agung di Bareskrim Polri, Gedung KKP, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2). Yacht ini ditangkap pada Rabu (28/2) di perairan Tanjung Benoa, Bali. Di atas kapal tersebut ada sebanyak 34 orang yang turut diamankan. Yacht itu disebut terkait investigasi skandal korupsi lembaga investasi negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB). 1MDB Malaysia tengah diselidiki terkait dugaan tindak pidana pencucian uang di sedikitnya 6 negara termasuk Amerika Serikat, Swiss, dan Singapura.

Bareskrim Polri bersama penyidik dari FBI meninggalkan kapal super yacht Equanimity. Kapal pabrikan Belanda itu diduga dibeli oleh terdakwa korupsi USD 1 miliar asal Malaysia, Jho Low. Pantauan detikcom di perairan Tanjung Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (28/2/2018), Bareskrim Polri dan sedikitnya empat pria yang diduga dari FBI menaiki Equanimity pada pukul 13.30 Wita. Lalu pada pukul 20.00 Wita, sejumlah orang yang disebut berasal dari Biro Investigasi Federal itu keluar dari kapal mewah seharga Rp 3,5 triliun tersebut. Di antara Equanimity dan kapal patroli berukuran sedang milik Polairud Polda Bali, mereka harus menggunakan perahu karet. Orang yang tidak berkepentingan juga tidak diperkenankan menaiki kapal yang telah berada di Indonesia sejak November 2017 itu. Sedikitnya lima orang lebih dulu meninggalkan Equanimity. Para penyidik Mabes Polri meninggalkan Equanimity 5 menit setelahnya. Belum ada keterangan dari pihak Mabes Polri. Namun mereka keluar setelah berada di atas kapal selama 6 jam lebih. Para penyidik membawa selusin tas berupa koper hitam dan tas hitam. Belum diketahui isinya, namun keberadaan dua instansi tersebut adalah untuk melakukan penyitaan terhadap kapal berbendera negara Persemakmuran Inggris tersebut. “Mereka (AS) minta ke pemerintah kita bahwa keberadaan kapal di sini dan kita sudah minta izin untuk melakukan penyitaan,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga.

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bersama penyidik dari FBI meninggalkan kapal super yacht Equanimity. Kapal pabrikan Belanda itu diduga dibeli oleh terdakwa korupsi USD 1 miliar asal Malaysia, Jho Low. Pantauan detikcom di perairan Tanjung Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (28/2/2018), Bareskrim Polri dan sedikitnya empat pria yang diduga dari FBI menaiki Equanimity pada pukul 13.30 Wita. Lalu pada pukul 20.00 Wita, sejumlah orang yang disebut berasal dari Biro Investigasi Federal itu keluar dari kapal mewah seharga Rp 3,5 triliun tersebut. Di antara Equanimity dan kapal patroli berukuran sedang milik Polairud Polda Bali, mereka harus menggunakan perahu karet. Orang yang tidak berkepentingan juga tidak diperkenankan menaiki kapal yang telah berada di Indonesia sejak November 2017 itu. Sedikitnya lima orang lebih dulu meninggalkan Equanimity. Para penyidik Mabes Polri meninggalkan Equanimity 5 menit setelahnya. Belum ada keterangan dari pihak Mabes Polri. Namun mereka keluar setelah berada di atas kapal selama 6 jam lebih. Para penyidik membawa selusin tas berupa koper hitam dan tas hitam. Belum diketahui isinya, namun keberadaan dua instansi tersebut adalah untuk melakukan penyitaan terhadap kapal berbendera negara Persemakmuran Inggris tersebut. “Mereka (AS) minta ke pemerintah kita bahwa keberadaan kapal di sini dan kita sudah minta izin untuk melakukan penyitaan,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bekerja sama dengan FBI menangkap yacht seharga Rp 3,5 triliun di Pelabuhan Benoa, Bali. Berikut alur koordinasi di antara kedua kepolisian lintas negara tersebut: Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dirtipideksus) Brigjen Agung Setya menceritakan koordinasi berawal datangnya sejumlah anggota FBI pada Rabu (21/2) lalu ke Bareskrim Polri. Anggota FBI itu kemudian membawa sebuah surat berisi permohonan kerja sama melacak dan menangkap yacht Equanimity hasil dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Dia datang FBI, kabari ke saya bahwa ada hal yang ingin didiskusikan, dan menunjukkan satu dokumen surat perintah pencarian dari pengadilan AS tentang perintah melakukan pencarian terhadap kapal Equanimity ini,” ujar Agung di Bareskrim Polri, gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Dalam pertemuan itu, anggota FBI juga menjelaskan adanya dugaan masuknya uang hasil kejahatan alias dirty money ke sistem perbankan AS. Dari dugaan itu, FBI pun melakukan penyelidikan dan menemukan alat bukti TPPU dengan wujud kapal. “Amerika menyatakan uang yang masuk ke sistem perbankan mereka adalah uang kotor yg kemudian dilakukan penyidikan oleh FBI dan kemudian FBI menemukan bahwa uang yang masuk ke AS itu digunakan untuk membeli kapal ini,” kata Agung. Selanjutnya, Tim Satgas Money Laundry Dirtipideksus Bareskrim Polri melakukan kajian hasil pertemuan itu. “Kami mendalami lagi kenapa kapal ini dicari dan kemudian apa legal standing- nya itu kami kaji,” ucap Agung. Polri-FBI pun berhasil menemukan kapal supermewah ini tengah bersandar di wilayah perairan Lombok hari ini. Dari lombok kemudian digiring ke Pelabuhan Benoa, Bali, untuk dilakukan penggeledahan. “Ketika kami tangkap sedang bersandar di Lombok, ” ujar Agung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Bareskrim Polri bersama penyidik dari FBI meninggalkan kapal super yacht Equanimity. Kapal pabrikan Belanda itu diduga dibeli oleh terdakwa korupsi USD 1 miliar asal Malaysia, Jho Low. Pantauan detikcom di perairan Tanjung Benoa, Denpasar, Bali, Rabu (28/2/2018), Bareskrim Polri dan sedikitnya empat pria yang diduga dari FBI menaiki Equanimity pada pukul 13.30 Wita. Lalu pada pukul 20.00 Wita, sejumlah orang yang disebut berasal dari Biro Investigasi Federal itu keluar dari kapal mewah seharga Rp 3,5 triliun tersebut. Di antara Equanimity dan kapal patroli berukuran sedang milik Polairud Polda Bali, mereka harus menggunakan perahu karet. Orang yang tidak berkepentingan juga tidak diperkenankan menaiki kapal yang telah berada di Indonesia sejak November 2017 itu. Sedikitnya lima orang lebih dulu meninggalkan Equanimity. Para penyidik Mabes Polri meninggalkan Equanimity 5 menit setelahnya. Belum ada keterangan dari pihak Mabes Polri. Namun mereka keluar setelah berada di atas kapal selama 6 jam lebih. Para penyidik membawa selusin tas berupa koper hitam dan tas hitam. Belum diketahui isinya, namun keberadaan dua instansi tersebut adalah untuk melakukan penyitaan terhadap kapal berbendera negara Persemakmuran Inggris tersebut. “Mereka (AS) minta ke pemerintah kita bahwa keberadaan kapal di sini dan kita sudah minta izin untuk melakukan penyitaan,” kata Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Silitonga.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

INILAHCOM, Jakarta – Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri mengungkap barang bukti hasil kejahatan pencucian uang di Amerika Serikat, berupa super yacht seharga Rp 3,5 triliun. Kapal mewah itu ditemukan di Tanjung Benoa, Bali setelah empat tahun diburu FBI. “Hari ini kami dari Bareskrim Polri melakukan penyitaan terhadap kapal Equanimity di Pelabuhan Benoa Bali,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Mabes Polri, Brigjen Agung Setya saat dikonfirmasi, Rabu (28/2/2018). Menurut Agung, pihaknya menerima surat dari FBI pada 21 Februari yang meminta bantuan Polri melakukan pencarian atas keberadaan kapal tersebut. “Kapal ini kita sita terkait dengan tindak pidana pencucian uang yang terjadi di Amerika, yang kasusnya sedang diselidiki oleh FBI. Kapal ini sudah dicari beberapa tahun yang lalu dan ternyata ada di Benoa hari ini, lalu kita lakukan penyitaan,” ujarnya. Agung menambahkan, kapal tersebut diketahui masuk ke Indonesia pada November 2017. FBI kemudian melakukan koordinasi dengan Kepolisian Republik Indonesia untuk melakukan penyitaan. “Jadi FBI Amerika melakukan joint investigation dengan Bareskrim. Bareskrim membantu,” jelasnya. Pengungkapan bukti kejahatan tersebut, kata Agung, merupakan yang terbesar sepanjang pengungkapan jajarannya. Kapal tersebut ditaksir senilai USD 250 juta atau setara Rp 3,5 triliun. Saat ini kasus tersebut sudah selesai di pengadilan dan barang bukti super yacht itu dinyatakan sebagai hasil kejahatan pencucian uang. Kajahatan tersebut juga melibatkan beberapa negara seperti Amerika, Swiss, Malaysia, dan Singapura. Sampai saat ini, tim Bareskrim Mabes Polri, bersama FBI dan Dit Pol Air Polda Bali, masih melakukan pengecekan ke dalam kapal pesiar tersebut.[van].

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Turin – Juventus melangkah ke final Coppa Italia setelah mengalahkan Atalanta 1-0 di leg kedua semifinal. Gol tunggal Bianconeri lahir dari penalti Miralem Pjanic. Berkat kemenangan ini, Juventus lolos dengan keunggulan agregat 2-0 setelah sebelumnya juga menang 1-0 di markas Atalanta. Menjamu Atalanta di Allianz Stadium, Turin, Rabu (28/2/2018), Juventus tak diperkuat Gonzalo Higuain, Federico Bernardeschi, Juan Cuadrado, dan Mattia De Sciglio. Sementara itu, Paulo Dybala kurang fit untuk jadi starter dan cuma main di babak kedua. Atalanta tampil lebih mendominasi di babak pertama. Tim tamu banyak menguasai bola dan mencoba untuk menekan Juventus. Tapi, mereka tak membuat banyak peluang bersih. Sebaliknya, Juventus justru punya peluang emas, yang gagal dituntaskan oleh Mario Mandzukic. Penampilan Juventus membaik di babak kedua. Akan tetapi, mereka butuh sebuah penalti di menit ke-75 untuk mencetak gol. Pjanic yang jadi eksekutor berhasil menjebol gawang Atalanta. Juventus kini tinggal menunggu lawan di final. Mereka akan bertemu AC Milan atau Lazio di partai puncak yang akan digelar di Olimpico pada 9 Mei 2018. Jalannya Pertandingan Juventus punya peluang untuk unggul pada menit ke-16. Namun, Blaise Matuidi gagal menjangkau bola tendangan bebas Pjanic. Mandzukic menyia-nyiakan sebuah peluang emas di menit ke-35. Striker asal Kroasia itu tinggal menghadapi Etrit Berisha di kotak penalti, tapi penyelesaiannya terlalu lemah dan dengan mudah digagalkan oleh kiper Atalanta itu. Percobaan yang dilakukan oleh Kwadwo Asamoah di menie-menit akhir babak pertama juga tak mengubah keadaan. Tembakan bek kiri Juventus itu cuma mengenai sisi luar jala gawang Atalanta. Tak ada gol yang tercipta hingga turun minum. Skor masih 0-0. Claudio Marchisio tak bisa memaksimalkan kesempatan yang didapatnya pada awal babak kedua. Tembakan gelandang Juventus itu terlalu mudah untuk diantisipasi oleh Berisha. Marchisio kembali mendapatkan peluang di menit ke-60. Dia mencuri bola dan melepaskan tembakan, tapi usahanya tak menemui sasaran. Serangan balik Atalanta di menit ke-64 nyaris berbuah gol ketika Alejandro Gomez lolos sendirian di wilayah Juventus. Melihat Gianluigi Buffon maju meninggalkan sarangnya, Gomez menembak dari jarak jauh. Sial buat dia, tembakannya cuma mengenai tiang gawang. Tak berselang lama, Gomez kembali mengancam gawang Juventus. Tapi, tembakan kerasnya dari luar kotak penalti meleset dari sasaran. Sebuah aksi Douglas Costa di menit ke-67 juga nyaris membawa Juventus memimpin. Sepakan Costa dari luar kotak penalti berada di luar jangkauan Berisha, tapi bola cuma menghantam mistar. Wasit menghadiahkan penalti untuk Juventus pada menit ke-75 setelah Matuidi dijatuhkan oleh Gianluca Mancini di mulut gawang. Pjanic maju sebagai algojo tendangan 12 pas dan sukses mengirimkan bola ke dalam gawang. Tembakannya ke arah tengah mengecoh Berisha. Juve pun unggul 1-0. Di sisa waktu, nyaris tak ada peluang bersih tercipta. Keunggulan Juventus terjaga hingga laga usai. Susunan Pemain Juventus: Buffon; Lichtsteiner, Benatia, Chiellini, Asamoah; Marchisio (Khedira 68′), Pjanic, Matuidi; Douglas Costa (Dybala 83′), Mandzukic, Alex Sandro (Barzagli 84′) Atalanta: Berisha; Mancini (Rizzo 76′), Caldara, Masiello; Hateboer, De Roon, Freuler (Barrow 87′), Spinazzola; Cristante; Ilicic (Cornelius 64′), Gomez (mfi/nds)

VIVA  – Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri menemukan barang bukti hasil kejahatan pencucian uang yang terjadi di Amerika Serikat. Barang bukti adalah sebuah kapal pesiar atau super yacht seharga Rp3,5 triliun. Kapal mewah itu ditemukan di Tanjung Benoa, Bali setelah empat tahun diburu FBI. “Hari ini kami dari Bareskrim Polri melakukan penyitaan terhadap kapal Equanimity di Pelabuhan Benoa Bali,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Tipideksus) Bareskrim Mabes Polri, Brigjen Pol Agung Setya ketika dikonfirmasi, Rabu 28 Februari 2018. Menurut Agung, pihaknya menerima surat dari FBI pada 21 Februari yang meminta bantuan Polri melakukan pencarian atas keberadaan kapal tersebut. “Kapal ini kami sita terkait dengan tindak pidana pencucian uang yang terjadi di Amerika, yang kasusnya sedang diselidiki oleh FBI. Kapal ini sudah dicari beberapa tahun yang lalu dan ternyata ada di Benoa hari ini, lalu kami lakukan penyitaan,” katanya. Agung menambahkan, kapal tersebut diketahui masuk ke Indonesia pada November 2017. FBI kemudian melakukan koordinasi dengan penegak hukum Indonesia untuk melakukan penyitaan. “Jadi FBI Amerika melakukan joint investigation dengan Bareskrim. Bareskrim membantu,” kata Agung. Pengungkapan bukti kejahatan tersebut, kata Agung, merupakan yang terbesar sepanjang pengungkapan jajarannya. Kapal tersebut ditaksir senilai US$250 juta atau setara Rp3,5 triliun. Saat ini, kasus tersebut sudah selesai di pengadilan dan barang bukti super yacht itu dinyatakan sebagai hasil kejahatan pencucian uang. Hingga saat ini, tim Bareskrim Mabes Polri, bersama FBI dan Dit Pol Air Polda Bali, masih melakukan pengecekan ke dalam kapal pesiar tersebut.

Related Posts

Comments are closed.