Polisi Gelar Prarekonstruksi Perampokan yang Sekap Bayi Besok

Polisi Gelar Prarekonstruksi Perampokan yang Sekap Bayi Besok

Polres Metro Jakarta Barat akan menggelar prarekonstruksi kasus perampokan dengan menyekap bayi di sebuah perumahan elit, di Villa kedoya, Jakarta Barat, besok. Ada 17 adegan yang akan diperagakan. “Besok prarekonstruksi pukul 10.00 WIB (Sabtu 20/1), kita akan melakukan 17 adegan, saat prarekonstruksi,” ujar Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat AKBP Edy Sitepu kepada wartawan di Mapolres Jakarta Barat, Jalan Letjen S Parman, Jumat (12/1/2018). Dua tersangka P dan O yang sudah ditangkap akan dihadirkan dalam prarekonstruksi itu. Semua barang bukti juga akan dihadirkan. Selain itu, rencananya korban Steven (31) beserta anaknya, Grevi (1) juga akan dilibatkan untuk membantu prarekontruksi tersebut. Perampokan ini terjadi pada Minggu (3/12/2017). Perampok menyekap korban. Mereka mengacungkan senjata api rakitan untuk menakuti korban. Setelah itu, mereka mengambil uang ratusan juta rupiah di brangkas dan barang elektronik.

Polres Metro Jakarta Barat akan menggelar prarekonstruksi kasus perampokan dengan menyekap bayi di sebuah perumahan elit, di Villa kedoya, Jakarta Barat, besok. Ada 17 adegan yang akan diperagakan. “Besok prarekonstruksi pukul 10.00 WIB (Sabtu 20/1), kita akan melakukan 17 adegan, saat prarekonstruksi,” ujar Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat AKBP Edy Sitepu kepada wartawan di Mapolres Jakarta Barat, Jalan Letjen S Parman, Jumat (12/1/2018). Dua tersangka P dan O yang sudah ditangkap akan dihadirkan dalam prarekonstruksi itu. Semua barang bukti juga akan dihadirkan. Selain itu, rencananya korban Steven (31) beserta anaknya, Grevi (1) juga akan dilibatkan untuk membantu prarekontruksi tersebut. Perampokan ini terjadi pada Minggu (3/12/2017). Perampok menyekap korban. Mereka mengacungkan senjata api rakitan untuk menakuti korban. Setelah itu, mereka mengambil uang ratusan juta rupiah di brangkas dan barang elektronik.

Polda Banten bakal memelototi beberapa pelanggaran dalam Pilkada Serentak 2018 di Banten. Salah satunya pembentukan Satgas Money Politics untuk menghindari adanya politik uang dalam pilkada. Polisi, Bawaslu, dan Kejaksaan akan bekerja sama untuk memburu para pelaku politik uang dalam proses pemilihan kepala daerah yang ada di 4 kabupaten/kota di Banten. “Satgas Money Politics yang nanti kita harapkan bisa mendukung rekan-rekan dari Bawaslu untuk mendapatkan pelaku-pelaku yang melakukan kecurangan. Tentu aturannya tetap harus menggunakan undang-undang tindak pidana,” kata Kapolda Banten Brigjen Listyo Sigit Prabowo seusai acara Rapat Koordinasi Sentra Gakkumdu, Kota Serang, Jumat (19/1/2018). Jika undang-undang tindak pidana pemilu tidak bisa diterapkan terhadap pelaku politik uang, satgas gabungan itu akan menerapkan undang-undang pidana lain. “Namun, manakala tidak bisa menggunakan undang-undang tindak pidana pemilu, maka kita akan terapkan undang-undang yang lain,” ujarnya. Selain Satgas Money Politics, Polda Banten menyiapkan Satgas Cyber guna berselancar di dunia maya untuk menemukan para pelaku kampanye hitam di media sosial. Jika para pelaku tersebut terbukti melakukan kampanye bersifat SARA, pihak kepolisian bakal menerapkan Undang-Undang Pemilu untuk menjerat pelaku. “Kemudian Satgas Cyber ini untuk mengantisipasi terkait dengan adanya penggunaan media sosial yang digunakan untuk melakukan pelanggaran atau upaya-upaya black campaign upaya untuk menyerang antara satu dan yang lain dengan menggunakan media sosial ini juga sudah ada aturannya di PKPU Tahun 2017 bahwa ada larangan terhadap peserta kampanye untuk melakukan hal-hal yang bersifat menyinggung masalah SARA dan sifat lainnya, ini harus akun resmi,” kata dia. Selain itu, Sigit mengatakan, akun resmi milik pasangan calon harus terlebih dahulu terdaftar di KPU. Jika terdapat akun tidak resmi melakukan kampanye hitam, polisi tidak akan segan-segan menjerat dengan UU ITE. “Terhadap pelanggaran mereka ini diterapkan undang-undang tindak pidana pemilu. Namun, yang tidak resmi, anonim di luar yang resmi kita akan terapkan UU ITE,” tandasnya.

Pelarangan penggunaan cantrang bagi para nelayan menimbulkan kontroversi. Selama belum ada solusi, Polri sendiri melarang jajaran menindak nelayan yang menggunakan cantrang. Salah satunya Polda Papua Barat, yang mengeluarkan surat pelarangan mempidanakan nelayan pengguna cantrang. Kapolri Jenderal Tito Karnavian membenarkan adanya surat yang dikeluarkan Polda Papua Barat ini. “Ya betul,” ujar Jenderal Tito setelah meresmikan gedung Promoter di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (19/1/2018). Kapolri menegaskan imbauan untuk tidak menindak nelayan cantrang ini berlaku bagi kepolisian daerah se-Indonesia. “Seluruh Indonesia, saya perintahkan (untuk tidak menindak nelayan cantrang dahulu),” imbuhnya. Sikap Polri ini mengacu pada kebijakan Presiden Joko Widodo yang akhirnya memperbolehkan nelayan menggunakan cantrang dalam mengambil ikan, selama menunggu solusi lain. “Ada kebijakan dari Bapak Presiden untuk kita berikan jalan keluar kepada para nelayan dan ini sudah didialogkan kemarin, dialognya jelas bahwa sambil mencari solusi untuk mekanisme cara menangkap ikan yang ramah lingkungan sementara tidak dilakukan tindakan dulu kepada nelayan cantrang,” ungkapnya. Kebijakan presiden itu, lanjut Kapolri, diambil dengan mempertimbangkan sisi kemanusiaan. Hal ini juga agar tidak menimbulkan dampak yang lebih luas bagi para nelayan pencari ikan. “Bicara kemanusiaan, artinya ini kan nelayan menyangkut masalah perut ini ya masalah harkat martabat hidup yang sangat mendasar untuk keluarganya, kalau sekadar dilarang begitu saja tapi tidak diberikan solusi ya mereka lapar, makanya demo, kapal dibakar oleh mereka sendiri dan seterusnya,” terang Tito. Menurut Tito, Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini tengah mencari solusi untuk menggantikan metode pengambilan ikan bagi para nelayan tradisional apakah dengan aquaculture dan lain sebagainya. Sementara menunggu ada solusi lain, Kapolri memerintahkan jajaran tidak menindak nelayan cantrang. “Saya selaku Kapolri tentu dengan adanya kebijakan itu, memerintahkan kepada jajaran kepolisian untuk tidak melakukan penangkapan (nelayan) cantrang sampai waktu tertentu ketika solusi sudah ditemukan,” tutup Tito.

Aksi perampokan oleh sopir taksi online Aldy Erlangga (19) terhadap karyawati bank Mega Anisa (27) terungkap. Aksi sadis pelaku dilakukan lantaran tergiur ponsel korban. Aldy ditangkap di kediamannya oleh personel Satreskrim Polrestabes Bandung yang dipimpin Kasatreskrim AKBP M Yoris Maulana pada Kamis (18/1) malam. Usai ditangkap, Aldy langsung dibawa ke Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung. Sambil menundukkan kepala dengan pakaian tahanan berwarna oranye, Aldy bercerita tentang aksi sadisnya itu. “Saya lihat HP-nya (handphone),” ujar Aldy. Saat masuk ke dalam mobil yang telah dipesan Mega pada Rabu (17/1), korban sendiri menggenggam ponsel merek Iphone plus berwarna emas. Ponsel itulah yang membuat Aldy nekat melakukan aksi sadisnya. “Tergiur saja sama HP-nya. Tadinya mau anter pulang saja, enggak ada niat, tapi lihat HP-nya,” kata dia. [Gambas:Video 20detik] Berbekal parang yang telah disiapkan, Aldy langsung mengarahkan senjata itu ke leher korban. Bahkan, ujung parang itu menempel di leher Mega. Tak hanya itu, Aldy juga meminta secara paksa agar korban memakai borgol besi. Lantaran tak bisa memakainya, Aldy ikut membantu memasangkan. Aldy mengaku tak ada niatan melakukan aksi tersebut. Bahkan ia juga mengaku parang dan borgol tidak disiapkan secara sengaja. “Itu buat jaga-jaga saja. Memang suka dibawa. (Sajam dan borgol) ada di rumah saya bawa,” tuturnya. Aldy juga mengaku tak ada niatan untuk membawa kabur korban. Namun lantaran panik, Aldy membawa korban hingga ke Cileunyi. “Tadinya mau diturunin di Cileunyi,” kata dia. Aldy mengaku aksi sadisnya dilatar belakangi kebutuhan ekonomi. Ponsel yang ia ambil dari Mega juga rencananya akan dijual. “Penghasilan selama ini kurang. Dari Uber cuma tiga juta (rupiah) sebulan,” ucap Aldy.

Merdeka.com – Berkas perkara kasus perampokan di Pulomas akan segera dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Timur. Berkas tersebut akan dioper ke Kejari Jaktim pekan depan. “Infonya berkasnya mungkin baru minggu depan dilimpahkan kejari jakarta timur. Kalau P21-nya belum tahu, kan baru mau dilimpahkan. Tahap 1,” ujar kuasa hukum tersangka Djarot Widodo usai dihubungi, Jumat (10/3). Sementara itu, Djarot menyampaikan kalau berkas untuk para tersangka dibuat terpisah. Namun, Djarot enggan menjelaskan kenapa berkas tersebut dibuat terpisah. “Berkasnya dipisah,” kata Djarot. Seperti diberitakan, kasus ini sempat menjadi sorotan masyarakat, di mana para tersangka melakukan perampokan juga pembunuhan di komplek mewah, wilayah Pulomas, Jakarta Timur. Para pelaku menyekap para korban yang berjumlah 11 orang di dalam kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter. Dari 11 orang tersebut, 6 harus meregang nyawa karena kehabisan oksigen. Dalam kasus ini, kepolisian telah menangkap Ius Pane, Erwin Situmorang, dan Alfins Bernius Sinaga. Sedangkan, tersangka Ramlan meregang nyawa usai ditembak mati lantaran melawan saat ditangkap.

Related Posts

Comments are closed.