Pilih Indoor, PGI Tak Ikut Perayaan Natal Pemprov DKI di Monas

Pilih Indoor, PGI Tak Ikut Perayaan Natal Pemprov DKI di Monas

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyatakan sikap untuk tidak ikut dalam perayaan Natal Pemprov DKI Jakarta yang akan digelar di Monas, Jakarta Pusat. PGI pun menyampaikan alasannya. “Pertama kami melihat Monas ini sudah dibangun sebagai tempat tidak dalam rangka kepentingan pengumpulan massa yang mau mendorong kepentingan tertentu. Jadi kami mau Monas ini dijaga dipelihara memang justru jadi monumen yang bisa memperkokoh kehidupan bersama,” kata Ketua Umum PGI wilayah DKI Jakarta, Manuel Raintung, dalam konferensi pers di Graha Oikumene PGI, Salemba, Jakarta Pusat, Jumat (15/12/2017). Raintung mengatakan pihaknya sudah 4 kali mengadakan pertemuan dengan Pemprov DKI Jakarta terkait perayaan di Monas. Dalam pertemuan tersebut PGI menyarankan agar penyelenggaraan Natal berlangsung di tempat tertutup. “Sudah 4 kali sampai terakhir tanggal 11 Desember. Tapi untuk kelanjutannya kami belum bisa sampaikan apa jadi di Monas atau tidak. Tapi yang jelas PGI menyarankan kepada gubernur tidak dilaksanan outdoor tapi indoor,” jelasnya. Untuk tempat tertutup perayaan Natal, PGI menyarankan untuk dilaksanakan di 2 tempat yakni Jiexpo Kemayoran dan Glodok Kemayoran. Meski demikian, PGI tidak menyalahkan jika ada lembaga gereja lain yang ingin tetap ikut perayaan Natal di Monas. “Kita kan sebagai lembaga harus punya sikap. Dalam hal ini kalau ada lembaga lain yang ingin ikut di Monas ya silakan,” jelasnya. Dari 7 lembaga keumatan Kristen yang ada di Jakarta baru PGI yang menentukan sikap menolak perayaan Natal di Monas. Ketujuh lembaga tersebut yakni PGI, PGLII (Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia), Gereja Pentakosta, Gereja Advent, Gereja Baptis, Gereja Ortodoks dan Bala Keselamatan. “Yang baru ambil sikap baru PGI,” katanya lagi. Raintung juga mengatakan pihaknya akan membuat surat imbauan kepada umat Kristen khususnya di Jakarta untuk merayakan Natal secara sederhana. “Karena inisiasi dari Pemprov, kami akan menyampaikan ke Pemprov, nanti kami akan buat surat imbauan kepada umat untuk merayakan Natal dengan kesederhanaan,” ujarnya.

Baca juga :

Apakah saat ini media benar-benar sudah terkena imbas dari sebuah rekomendasi oleh seorang pengamat dari barat , Ariel Kohen, berikut: “AS harus menyediakan dukungan kepada media lokal untuk membeberkan contoh-contoh negatif dari aplikasi syariah)”. Sedangkan ide-ide yang harus terus menerus diangkat ialah menjelekkan citra Islam: perihal demokrasi dan HAM, poligami, sanksi kriminal, keadilan Islam, minoritas, pakaian wanita,kebolehan suami untuk memukul istri.” (Cheril Benard, Cicil democratic Islam, partners, resources, and strategies, the rand corporation halaman.1-24).

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Suatu contoh kehidupan sebuah masyarakat yang begitu indah. Hingga membuat orang barat sekalipun memberikan kredit positif, simak saja penuturan TW Arnold  dalam The Preaching of Islam berikut: “ Ketika Konstantinopel kemudian dibuka oleh keadilan Islam pada 1453, Sultan Muhammad II menyatakan dirinya sebagai pelindung Gereja Yunani. Penindasan pada kaum Kristen dilarang keras dan untuk itu dikeluarkan sebuah dekrit yang memerintahkan penjagaan keamanan pada Uskup Agung yang baru terpilih, Gennadios, beserta seluruh uskup dan penerusnya. Hal yang tak pernah didapatkan dari penguasa sebelumnya. Gennadios diberi staf keuskupan oleh Sultan sendiri. Sang Uskup juga berhak meminta perhatian pemerintah dan keputusan Sultan untuk menyikapi para gubernur yang tidak adil,”.

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Jika kita simak pada kotak biru di atas, maka akan didapatkan informasi bahwa umat Kristiani lah yang menjadi korban dalam bom di Ambon. Padahal jika mengutip media Islami, maka jelas sekali bahwa ada masjid terbakar, balita meninggal di pengungsian serta tujuh korban bentrokan di Ambon. Bahkan di antara tujuh korban tersebut, ada korban dari kalangan non-muslim. Maka penulis mencoba mengetik keyword tentang bom pasar mardika (yang terjadi di malam sebelum terjadinya bom Solo) di google dan di detiksearch.

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Ternyata hasil yang didapat pada pencarian berita detik untuk ledakan Pasar Mardika di google adalah berita-berita kadaluarsa. Bahkan dalam berita-berita kadaluarsa tersebut adalah berita-berita yang pelakunya dari kalangan acang. Tidak ada berita tentang ledakan Pasar Mardika (sebuah pasar di wilayah umat Islam). Begitu pula ketika penulis mencari hasil pencarian di detiksearch. Berita-berita tentang ledakan Pasar Mardika adalah berita kadaluarsa dan hanya berjumlah sedikit. Lain halnya jika berita ledakan Kepunton, maka hasilnya adalah berita-berita berjumlah banyak dengan tingkat update yang tinggi.

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Jika kalian berdagang dengan sistem ‘inah dan kalian telah disibukkan dengan mengikuti ekor sapi (membajak sawah) serta ridha dengan bercocok tanam, maka Allah timpakan kehinaan atas kalian dan tidak akan mencabut kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian’,” (Hasan, HR Abu Dawud [3462], Ahmad [II/28,42 dan 84]. Ad-Dulabi dalam al-Kunaa walAsmaa’ [II/65], al-Baihaqi [V/136], Ibnu Adi dalam al-Kaamil [V/1998], Abu Umayyah ath-Thurthusi dalam Musnad Ibnu ‘Umar [22], ath-Thabrani [13583 dan 13585], Abu Ya’la [5659] dan Abu Nu’aim dalam Hilyah [I/313-314]).

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hampir terjadi keadaan yang mana umat-umat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya”. Salah seorang sahabat berkata: “Apakah karena sedikitnya Kami pada waktu itu?” Nabi berkata: “Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ‘ghutsa’ (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Pasti Allan akan cabut rasa segan yang ada dalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa ‘wahn’”. Kata para sahabat: “Wahai Rasulullah apa rasa ‘wahn’ itu?” Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati” (HR Abu Daud No.4297, Ahmad 5/278, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 1/182 dengan dua jalan dan dengan keduanya hadits ini menjadi shahih). [sksd]

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Musuh lama yang menjadi lawan abadi MetroTV nampaknya tetaplah Islam. Untuk itu sebisa mungkin dengan segala kekuatan yang ada MetroTV selalu berusaha untuk membendung gerakan-gerakan Islam dengan memanfaatkan JIL untuk mengcounternya. Seringkali beritanya yang menyangkut terorisme dan ormas Islam yang dianggap radikal diekspos habis-habisan untuk memancing emosi ormas Islam sekaligus melakukan character asassination. Namun ketika kelompok yang disudutkan memberikan argumentasinya, videonya tidak ditampilkan secara utuh. Begitu juga dengan acara yang menampilkan beragam narasumber, MetroTV hanya menghadirkan satu narasumber dari kelompok Islam untuk ‘dikeroyok’ oleh narasumber-narasumber lain yang berpaham SEPILIS.

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Salah satu yang tampak jelas arogansi MetroTV adalah berita tentang demo #IndonesiaTanpaJIL kemarin, Jumat. Dalam situs nya MetroTV memasang foto anti FPI dalam postingan berita yang saya nilai tidak pas dengan judul beritanya. Lagipula, demo tersebut bukan hanya dikuti FPI, tetapi dari beragam gabungan ormas, artis, dan komunitas anak punk underground. Jelas, liberalisasi pemikiran ala Nasdem yang diblowup lewat saluran media mainstream MetroTV sangat bertentangan dengan Islam. Jadi selama ada gerakan ormas Islam yang menolak paham SEPILIS, sang bos ‘besar’ tetap merasa gerah di singgasananya.

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Salam hangat para hamba Republik Wayangku tercinta, kesempatan kali ini saya ingin mengkritisi pemberitaan situs berita online Kompas.com. Kompas.com adalah media berita versi online dari harian Kompas. Awal pertama membaca kompas, saya sangat mengapresiasi, Kompas saya harapkan menjadi salah satu sumber informasi yang up to date dan berimbang. Namun, akhir-akhir ini saya melihat kompas (dalam hal ini adalah Kompas.com) memberikan berita yang sangat tak berimbang sama sekali. Saya merasa jika Kompas.com memberikan berita yang lebay. Dibuat-buat dan tak berdasarkan fakta yang kongkrit. Saya heran mengapa akhir-akhir ini Kompas.com sangat gencar memberitakan Anas Urbaningrum sebagai koruptor, padahal di media lain tak segencar kompas.com. Ada apakah gerangan? . Kedua, saya sama sekali tak melihat ada kabar yang menjelekkan seorang Dahlan Iskan dari kompas.com, yang ada malah seakan-akan kompas.com sangat mendukung Dahlan Iskan. Padahal dimana-mana sudah santer diberitakan jika Dahlan Iskan bukanlah sosok malaikat, malahan banyak dosa yang dia buat. Tapi yang saya lihat justru jika tak ada kabar yang menjelekkan Dahlan Iskan. Di kompasiana, Dahlan bahkan menjadi bulan-bulanan para penulis. Ketiga, saya juga sangat jarang melihat ada pemberitaan yang membahas tentang Amerika Serikat dan kebobrokannya. Ada apakah dengan kompas.com? mengapa sudah sangat tak berimbang? Mari kita telisik.

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Saya akan menguraikan satu per satu asumsi dan realitanya, kemudian di akhir argument saya akan menarik benang merah antara kompas.com – pro AS – pro Dahlan – anti Islam – anti Anas. Dalam menilisik kebenaran atau ketidakbenaran asumsi tersebut, saya menggunakan dua variable pertanyaan. Yang pertama, kompas dan kompas.com sangat pro Amerika? Kedua, jika benar pro Amerika, maka bisa dipastikan jika kompas / kompas.com membawa misi untuk mengganyam muslim? Apalagi pendiri kompas adalah Jakob Oetama, sosok pemimpin Katolik dan dulu pernah mendapat kecaman karena memuat berita dengan Arswendo Atmowiloto yang isinya menjelekkan orang Islam, sehingga para tokoh Islam pada waktu itu seperti Cak Nurcholis Majid, Amien Rais dsb menjadi marah. Well, mari kita mulai. Pertama saya akan mencari benang merah kompas/kompas.com dengan asumsi pro Amerika. Masih ingatkah dengan tulisan Faizal Assegaf tentang kebusukan Jakob Oetama dan kompas yang berujung pada pemblokiran akun Faizal di Kompasiana? Perseteruan Faizal assegaf dan Jacob Oetama berujung pada pembekuan akun faizal assegaf. Faizal assegaf yang biasa disapa bang ical adalah seorang penulis yang dahulunnya sering menulis di kompasiana. Tulisannya yang sering menjadi kontroversi meledak saat tulisannya yang mengeritiki Jacob oetama (pemimpin media kompas dimana kompasiana bernaung). Tulisan faizal assegaf mengklaim bahwa media kompas berbasis komersial atau industri pers kapitalisme. Dalam tulisannya, faizal assegaf menuding kompas adalah industri pers yang dibangun atas dasar semangat kelompok dan kapitalisme dan pro Amerika. Berbagai anggapan miring tentang kompas bermunculan pada kalangan bloger, yang menganggap kompas adalah media berzaman orba yang sangat anti krtikan, alasan yang sangat konyol bahwa tidak boleh kritik Jacob oetama membuat kebebasan berdemokrasi diantara bloger kompasiana seolah terbatasi. Aneh, mengapa harus sebegitu lebay-nya? Bukankah ini demokrasi? Bukankah pers sendiri yang bilang bahwa setiap orang bebas berpendapat? Pers lewat tindakan Jakob sudah menjilat ludahnya sendiri.

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Lantas pernahkah kompas dan kompas.com memuat berita yang menjelekkan AS? Sangat jarang. Bahkan yang dimuat hanya berita yang pro AS. Saya teringat ketika kompas.com memuat tulisan R William Liddle Profesor Emeritus Ohio State University, Ohio, AS yang isinya memaparkan kecemerlangan AS dan dukungannya terhadap Israel. Kompas.com memuatnya secara mentah tanpa ada komentar apapun. Aapakah ini bentuk dukungan terhadap AS? Entahlah. Pada Rabu, 15 Agustus 2012 pukul 17.00, koran menurunkan sebuah berita bertajuk “Demo Anti AS Macetkan Jalan Thamrin”. Pada intinya koran menuding ribuan demonstran yang turun ke jalan-jalan memperingati hari solidaritas internasional Palestina, atau kerap disebut Hari Al Quds, sebagai biang kerok kemacetan di jantung metropolitan. Koran menulis: “aksi unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia … menyebabkan lalu lintas di jalan MH Thamrin macet parah. Hinggal pukul 16:30 WIB, kemacetan panjang terjadi khususnya dari arah Monas menuju kawasan Jalan Sudirman. Kompas hanya mengungkap separuh cerita. Ini yang mereka sembunyikan ke khalayak pembaca. Jika fakta itu menunjukkan rabun akut pada redaksi Kompas, paparan koran soal demonstrasi besar di depan Kedutaan Amerika Serikat kental dengan tudingan, prasangka dan propaganda.mKoran menulis: “Sebelum tiba di lokasi Bundaran HI, para pengunjuk rasa lebih dulu berunjuk rasa di Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Para demonstran tampak menyanyikan yel-yel bernada hujatan serta cacian kepada AS dan Israel. “Amerika musuh Islam, Amerika musuh Allah,” teriak pengunjuk rasa”. Kompas benar soal banjir hujatan di depan pintu gerbang Kedutaan Amerika. Yang koran sembunyikan adalah fakta bahwa hujatan itu punya konteks besar – dan reporter Kompas tahu soal ini.

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Israel? Kompas hanya tak punya nyali menuliskan isi orasi demonstran Hari Al Quds. Toh, fakta kebiadaban dan penjajahan Israel atas Palestina sudah sebanyak air lautan yang menampir pesisir pantai. Soalnya memang lagi-lagi prasangka. Koran seperti sengaja mendorong pembacanya tak bersimpati pada demonstrasi solidaritas Palestina dengan ‘mengaitkannya’ dengan soal-soal klise macam kemacetan di Bundaran HI. Adakah yang terakhir karena Kompas ingin menyembunyikan fakta kalau demonstran Al Quds sore itu menyuarakan penentangan keras terhadap rencana pembangunan gedung baru Kedutaan Amerika; yang berbarengan dengan rencana Kedutaan Amerika menghancurkan gedung bersejarah Perdana Menteri Sjahrir yang mereka okupasi diam-diam selama beberapa dekade?. Demonstrasi di depan Kedutaan Amerika sore itu jadi saksi betapa ribuan demonstran berebut menorehkan teken penentangan pada rencana Kedutaan Amerika. Ini kali pertama dalam sejarah penentangan itu dibubuhkan di selembar kain besar dan disaksikan banyak wartawan. Sayang, Kompas sama sekali tak menyebutkannya — walau sepatah kata!

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Tampaknya sudah lengkap dosa kompas dan kompas.com. Maaf, tapi belum. Setelah beberapa realitas di atas, saya akan membeberkan bagaimana Kompas dan Kompas.com tak simpatik dengan Islam, seperti dogma Kristen dan Katolik. Kompas sering diplesetkan dengan Komando Pastor. Tentulah ada dasarnya. Ketika surat kabar ini didirikan, situasi menuntut jika dimana tiap-tiap surat kabar mempunai afiliasi politik menghaaruskan Kompas memiliki afiliasi politik juga. Maka Kompas berafiliasi dengan partai Katolik karena Jakob Oetama adalah tokoh Katolik. Meski Kompas berusaha meminimalisir kesan sebagai media non Islam yang ‘memusuhi’ Islam, nampaknya sulit menghilangkan label yang entah sejak kapan terlanjur melekat. Secara sosio-psikologis sebenarnya Kompas sama saja dengan Koran Tempo, Rakyat Merdeka, Suara Merdeka, Media Indonesia, Jawa Pos dan sebagainya. Jika kemarahan umat Islam lebih sering tertuju pada koran yang dipimpin Jacob Oetama ini, tentulah bukan karena terbesar tirasnya, sehingga terbesar pula pengaruhnya dibanding koran-koran lain. Tetapi, “ideologis” Kompas memang sulit diingkari, lebih sering menyerang rasa keadilan dan menyayat hati umat Islam. Diskriminatif. Dalam kasus eksekusi mati Tibo dkk, misalnya, Kompas hampir seratus persen menjadi corong bagi mereka yang menolak eksekusi mati terhadap Tibo dkk, sebagaimana tercermin melalui berbagai opini yang dipublikasikannya. Dalam pemberitaan, Kompas hampir tidak pernah memberikan ruang bagi mereka yang pro eksekusi mati Tibo dkk. Padahal, sudah jelas Tibo dkk membunuh ratusan santri ponpes Walisongo, Poso, dengan tangannya sendiri. Dalam hal Tibo dkk hanyalah wayang yang dimainkan aktor intelektual, itu lain persoalan. Yang jelas secara pidana Tibo dkk memang terbukti membantai ratusan orang. Keberpihakan terhadap mereka yang kontra eksekusi mati Tibo, menunjukkan bahwa sebagai media nasional Kompas tidak punya hati nurani. Kompas bukan saja mengabaikan amanat hati nurani rakyat yang menjadi mottonya, tetapi juga telah melukai rasa keadilan umat Islam. Pembantaian terhadap umat Islam di Ambon dan Poso, justru digerakkan dan diberkati oleh Gereja, karena umat Nasrani di sana merasa sebagai pihak mayoritas. Menjelang eksekusi mati terhadap dirinya, Tibo mengungkapkan Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), pimpinan pendeta Damanik, yang berpusat di Tentena ini, terlibat dalam pembantaian umat Islam Poso.

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Contoh lain, dalam kasus pro-kontra RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Kompas jelas-jelas mengambil posisi kontra RUU-APP. Berbagai pemberitaan yang berkenaan dengan itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Kompas diskriminatif. Opini yang ditampilkan juga berpihak. Misalnya, Kompas edisi 29 Maret 2006 menampilkan opini Siswono Yudhohusodho berjudul Negara dan Keberagaman Budaya. Siswono yang pada intinya menolak RUU APP karena menganggapnya salah satu produk hukum yang sangat beraroma Syari’at Islam. Menurut Siswono, “sebagai konsekuensi negara kesatuan (unitarian) yang menempatkan seluruh wilayah negara sebagai kesatuan tunggal ruang hidup bangsa, sebuah RUU juga harus didrop bila ada satu saja daerah yang menyatakan menolaknya karena tidak cocok dengan adat istiadat dan budaya setempat. RUU APP sudah ditolak di Bali dan Papua”. Argumen Siswono jelas terlihat dungu. Ia tidak saja mengabaikan konsep demokrasi, tetapi mendorong munculnya tirani minoritas atas mayoritas. Bukankah Bali dan Papua minoritas? Melalui opininya itu, Siswono melalui sengaja menekankan supaya umat Islam yang mayoritas bila hendak membuat aturan bagi umat Islam, harus terlebih dulu meminta persetujuan masyarakat Bali dan Papua. Bila mereka menolak, berarti aturan itu harus juga ditolak sebagai konsekuensi dari konsep unitarian (negara kesatuan). Sebaliknya, bila orang Papua mau berkoteka, atau bila umat Hindu Bali mau menjalankan ritual musyriknya serta memaksakan penerapan ‘syariat’ Hindu kepada non Hindu di Bali, itu harus didukung dalam rangka melestarikan keluruhan budaya bangsa. Logika dungu seperti itu, dipublikasikan Kompas, tentu bukan tanpa maksud. Tidak bisa disalahkan bila ada yang menafsirkan hal itu dilakukan Kompas dalam rangka memprovokasi umat Islam. Patut juga dipertanyakan, apa kualifikasi yang dimiliki Siswono sehingga gagasan dan logika dungunya layak ditampilkan di Kompas, dan dalam rangka mewakili kalangan siapa?

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Ketika wacana Perda Syari’at mengemuka, Kompas lagi-lagi menempati posisi strategisnya, yaitu menolak! Dalam kaitan ini, Kompas mempublikasikan argumen dan logika dungu untuk memprovokasi, kali ini dengan menampilkan Eros Djarot, yang tidak jelas apa kualifikasi yang dimilikinya sehingga ditampilkan sebagai salah satu suara yang layak didengar. Kemudia ada kasus Senang yang menggegerkan, yang disebut-sebut Zainuddin M.Z. adalah sebuah peristiwa susulan setelah Monitor memuat angket. Majalah Senang, yang berada di bawah payung Gramedia–yang notabene dalam supervisi Wendo–dinilai memuat gambar yang memvisualkan Nabi Muhammad dalam rubriknya, Ketok Magic. Sebelum reaksi membesar, Jakob Oetama buru-buru menutup Senang. Apa boleh buat, telunjuk-telunjuk marah tak serta merta melipat, malah justru makin diacung-acungkan ke Gramedia. Tak sebatas dimaki. Gramedia pun dituding telah melakukan konspirasi ideologis untuk menghina Islam. Kemudian ada Ariel Heryanto dalam salah satu tulisannya berjudul Nadine, pada Kompas Minggu 30 Juli 2006, menyuarakan sikap anti Arab, seolah-olah istilah Arab digunakan untuk gagah-gagahan sebagaimana orang dungu menggunakan istilah asing (bahasa Inggris) supaya terkesan keren. Ariel menulis, “dulu istilah-istilah asing itu sering dipakai pada saat tidak diperlukan. Istilah itu sengaja dipilih pemakainya justru karena banyak yang tidak paham, supaya tampak keren atau hebat. Mirip istilah Arab yang sekarang mulai bertebaran dan naik pamornya di Indonesia. Atau istilah Sansekerta di zaman Orde Baru”. Aneh, tudingan bahwa terjadi Arabisasi atau Islamisasi atas sejumlah Perda Anti Maksiat yang diproduksi daerah tertentu melalui mekanisme demokrasi sekuler, jelas memutarbalikkan fakta. Tidak sekadar memutarbalikkan fakta, isu Islamisasi dan Arabisasi sengaja diluncurkan untuk menutupi keadaan sebenarnya, yaitu gencarnya westernisasi dan yahudiisasi terhadap banyak segi kehidupan rakyat Indonesia.

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Then, apa bagaimana dengan pemberitaan timpang yang memperlihatkan pro Dahlan Iskan dan anti Anas Urbaningrum?. Dahlan Iskan adalah orang yang sangat dekat dengan Jakob Oetama. Mereka berdua adalah pemilik dua media terbesar negeri ini. Bahkan ketika Dahlan menjadi menteri, Jakob dengan mantapnya mengatakan jika ia akan menjadi orang pertama yang akan menyokong Dahlan. Hingga saat ini, saya sangat jarang membaca ada berita dari Kompas yang memojokkan seorang Dahlan Iskan, sama halnya ketika Kompas memberikan kabar kasus orang lain. Apa yang diberitaka oleh Kompas terhadap Dahlan, keseluruhannya bisa dikatakan sangat mendukung apa saja yang dilakukan Dahlan. Bahkan acapkali memuji-muji perilaku dan karakter individu Dahlan Iskan sebagai seorang yang sangat baik. Anda bisa melihat sendiri dalam kompas.com bagaimana pemberitaan tentang Dahlan sangat banyak, melebihi porsi pembahasan berita yang lain. Aneh. Saya bahkan kesulitan mencari berita di kompas.com yang isinya menjelekkan Dahlan Iskan, atau minimal mengkritisi kebijakannya. Tidak percaya? Silahkan Anda cek sendri dengan mata kepala Anda. Dahlan adalah teman akrab Jakob, pemilik Kompas. Itu adalah modal pertama. Yang kedua, kedua tokoh ini sangat pro Amerika. Sudah bukan rahasia umum lagi jika media-media seperti Kompas, Koran Tempo, Rakyat Merdeka, Suara Merdeka, Media Indonesia, Jawa Pos berafiliasi ke AS. Anda bisa melihat kisah perjalanan mereka kalau tidak percaya. Bahkan ketika ada kebocoran data wikilieaks, pernah terungkap jika AS mendanai pembiayaan operasional media-media tersebut sebagai “teropong” mereka di Indonesia. Luar biasa. Bagaimana dengan Anas? Dia adalah golongan kuat tokoh Muslim di era sekarang. Seperti uraian di atas, jika agenda kompas adalah adalah agenda AS yang kontra umat Muslim dan agenda para ortodokers gereja, maka bisa dipastikan jika Anas menjadi blacklist mereka. Sama halnya dengan Cak Nur, Amin Rais, dan para tokoh muslim Indonesia yang dianggap akan menjadi representasi kebangkitan umat Muslim di Indonesia. Dan berita mengenai Anas yang sangat santer dibeberkan oleh Kompas dan Kompas.com, sangat mengindikasikannya. Tak ada pemberitaan yang berimbang mengenai Anas. Pernahkah kompas / kompas.com mengulas sosok Anas seperti halnya mereka mengulas Dahlan Iskan?? Saya tak menemukannya. Anas dijelek-jelekan dengan bukti-bukti yang absurd, kompas dan kompas.com selalu membahas kejelekan Anas, tapi tak mencantumkan sumber yang jelas dan data yang valid. Semuanya serba opini tendensius, bahkan mereka mengacuhkan bukti, saksi dan fakta hukum di pengadilan. Heran, mengapa kompas dan kompas.com berbuat demikian? Apakah mereka sudah kehilangan jati diri mereka sebagai media yang putih? seperti slogan mereka yang menyatakan bahwa Kompas adalah media paling terpercaya di Indonesia. Entahlah. Saya bukan penganut agama yang fanatis, saya hanya merasa prihatin dengan kompas. Dan satu hal lagi, ini hanya opini, bukan kebenaran yang hakiki. Jikalau kompasiana tak berkenan dan memblokir akun ini, maka itu semakin memperlihatkan bahwa kebebasan berpendapat sudah mati. Sekian, wassalam.


Baca juga :

Para muslim Indonesia yang cerdas dan terhormat, mungkin diantara kalian yang menganggap bahwa “tidak apa-apa” punya pemimpin yang nonmuslim. Kalian pikir itu adalah pikiran yang sangat modern dan bernuansa Bhinneka, apalagi didukung oleh citra calon yang (katanya) baik. Kalian juga beranggapan bahwa pemimpin nonmuslim pasti akan bersikap toleran terhadap warga muslim. Tapi apa kalian tahu seberapa mengerikannya kalau ternyata pemimpin nonmuslim itu tidak amanah? Silakan baca yang sudah aku rangkum di bawah:

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Ternyata sejak Tahun 1970 mata pelajaran agama yang diberikan adalah Katolik, tak peduli apapun agamanya, yang jelas setiap siswa wajib mengikuti pelajaran ini, termasuk ujian praktik dan ujian tulis bahkan acara doa bersama tiap pagi yang dilaksanakan dalam tata cara Katolik. Padahal menurut pengakuan 2 orang siswa muslim di SMK ini, Ade Rahmat dan Puguh, dari total 315 siswa hanya 95 orang yang beragama Katolik, sementara 220 lainnya adalah muslim. Saat Puguh dan kawan lainnya sesama muslim meminta waktu lain pada pihak sekolah untuk disediakan waktu belajar agama islam, sekolah menolak dengan tegas. Kepala SMK Grafika, Mateus Sumadiyono berkelit ketika diwawancarai mengenai tindak diskriminasi dan pemaksaan sistematik ada di sekolahnya.

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Tidak berhenti di sini, tumpukan fakta diskriminasi dan intimidasi mayoritas muslim oleh minoritas banyak ditemui di Indonesia. Di Cirebon misalnya, Geeta School melarang siswinya mengenakan kerudung, padahal sekolah tersebut adalah sekolah umum. Bahkan ketika ada seorang siswi yang bersikeras memakai kerudung, pihak sekolah memisahkan dan mengisolirnya seorang diri di ruang BK selama 13 hari (6-18 Januari 2012). Warsono, Ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia juga menegaskan bahwa sebuah perusahaan besi baja di Surabaya sama sekali tidak memberi kesempatan bagi buruh yang beragama islam untuk melaksanakan ibadah shalat Jum’at.

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

“Kami staf Kemenkes tidak setuju dengan kebijakan kemenkes dengan pekan kondom nasional. Saya sangat malu punya Menteri kesehatan yang Pro Terhadap Seks Bebas. Visi Utamanya mengkondomisasi Indonesia. Anda bisa bayangkan Mahasiswa atau anak muda yang Nikah muda justru di Hujat bahkan BKKBN mengkampanyekan Gerakan KB dan anti nikah muda wanita min 21 dan pria 25 thn. Sedangkan bus kondom kini sudah masuk ke kampus UGM mereka hendak membagikan kondom gratis dan mensosialisasikan kondom dan parahnya lagi ini semua dibiayai negara. Bukan itu cara untuk mengurangi HIV tapi dengan Pembinaan moral untuk membentuk generasi yang mulia.” Demikian isi pesan tersebut.

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

Itu bukan kata-kata buatan manusia atau sengaja disusupkan, tapi sudah ada dalam Al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu. Dan bukan hanya satu-dua ayat yang melarangnya, tapi banyak ayat, jadi memang sudah pasti benar. Jangan menelan mentah-mentah semua alasan MANUSIA yang dibuat-buat untuk membikin kalian melenceng dari Al-Quran. Apa kalian bangga disebut “cerdas” oleh MANUSIA namun tidak menaati hukum Allah yang notabene adalah TUHAN dalam Al-Quran? Buktikan bahwa kalian cerdas dengan mengetahui siapa yang kalian prioritaskan dalam hidup. Kalau kalian muslim yang baik, maka Allah dan Al-Quran adalah jawabannya.

seperti di kutip dari https://nessiaprincess.wordpress.com

“DAN BERPEGANGLAH KALIAN SEMUANYA KEPADA TALI (AGAMA) ALLAH, DAN JANGANLAH BERCERAI-BERAI. DAN INGATLAH AKAN NIKMAT ALLAH KEPADA KALIAN KETIKA KALIAN DAHULU (MASA JAHILIYAH) BERMUSUH-MUSUHAN, MAKA ALLAH MEMPERSATUKAN HATI KALIAN, LALU JADILAH KALIAN KARENA NIKMAT ALLAH ORANG-ORANG YANG BERSAUDARA. DAN KALIAN TELAH BERADA DI TEPI JURANG NERAKA, LALU ALLAH MENYELAMATKAN KALIAN DARIPADANYA. DEMIKIANLAH ALLAH MENERANGKAN AYAT-AYAT-NYA KEPADA KALIAN, AGAR KALIAN MENDAPAT PETUNJUK.”. (QS. ALI IMRAN: 103)


Baca juga :

Selain coklat, bunga adalah hadiah terbaik yang biasa diberikan saat perayaan hari kasih sayang. Namun ketika datang ke Toko Bunga , tak jarang para pria bingung untuk memilih, bunga apa yang paling bagus dan pas diberikan pada pasangannya. Tak usah bingung karena Eileen Johnson seorang ahli merangkai bunga dari Flower School of New York dan Seorang Instruktur dari New York School of Flower Design, Michael Gaffney memberikan tips, bagaimana memilih bunga yang pas sebagai hadiah di hari Valentine. 1. Pilih bunga yang mekar dan besar Semakin besar dan mekar karangan bunga yang diberikan semakin baik. “Bagi sebagian besar penerima, besar bunga berarti cinta yang besar,” katanya Gaffney. “Terutama pada Hari Valentine, pria harus memilih bunga yang besar dan berwarna menyolok. Karangan bunga seperti ini bisa mewakili isi hati si pemberi.” 2. Jangan terpaku pada satu warna Menurut Gaffney, “Tidak ada kata CINTA yang diidentikkan dengan satu warna seperti pink dan mawar merah.” Karena itu bukan satu-satunya warna pada bunga. Dan banyak sekali jenis bunga yang bisa menjadi pilihan . “Setelah 20 tahun di ritel, aku yakin wanita tidak peduli apakah itu merah dan putih.” Sebuah bunga dicampur dengan sedikit warna merah sama baiknya. Dan tak ada salahnya menambahkan jenis tanaman anthuriums merah atau anggrek dalam rangkaian bunga. Ini bisa menjadi karangan bunga yang lebih seksi dan menarik. Atau pilih bunga dengan warna favorit pasangan Anda. 3. Cari harga diskon Biasanya jika bertepatan dengan hari Valentine banyak toko bunga yang menawarkan harga diskon. Sehingga Anda bisa mencampur bunga dengan harga yang mahal dan murah. Tapi tetap pilih bunga yang segar. 4. Cari bunga yang bertangkai panjang Menurut Gaffney, “It’s all about the show!” Cari bunga yang bertangkai panjang , seperti mawar, bunga lili dan anggrek. Bunga bertangkai panjang bisa terlihat memberi volume penuh dalam rangkainnya. Sebuah Casablanca lily, misalnya, dapat mengangkut empat untuk lima bunga pada satu tangkai. Bunga dengan tangkai panjang juga bisa bertahan lebih lama dan tidak mudah layu jika ditambahkan air. 5. Jangan lupa pilih juga yang beraroma Lebih besar tidak selalu lebih baik: “Bahkan jika buket kecil, asalkan memiliki aroma alam yang indah, sempurna untuk Hari Valentine,” kata Johnson. “Bayangkan betapa romantisnya bunga pemberian Anda dengan aroma yang memikat. Biasanya bunga beraroma berasal dari warna merah, muda, putih atau warna ungu. Swlamat berburu di Toko Bunga … • VIVAnews

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyatakan sikap untuk tidak ikut dalam perayaan Natal Pemprov DKI Jakarta yang akan digelar di Monas, Jakarta Pusat. PGI pun menyampaikan alasannya. “Pertama kami melihat Monas ini sudah dibangun sebagai tempat tidak dalam rangka kepentingan pengumpulan massa yang mau mendorong kepentingan tertentu. Jadi kami mau Monas ini dijaga dipelihara memang justru jadi monumen yang bisa memperkokoh kehidupan bersama,” kata Ketua Umum PGI wilayah DKI Jakarta, Manuel Raintung, dalam konferensi pers di Graha Oikumene PGI, Salemba, Jakarta Pusat, Jumat (15/12/2017). Raintung mengatakan pihaknya sudah 4 kali mengadakan pertemuan dengan Pemprov DKI Jakarta terkait perayaan di Monas. Dalam pertemuan tersebut PGI menyarankan agar penyelenggaraan Natal berlangsung di tempat tertutup. “Sudah 4 kali sampai terakhir tanggal 11 Desember. Tapi untuk kelanjutannya kami belum bisa sampaikan apa jadi di Monas atau tidak. Tapi yang jelas PGI menyarankan kepada gubernur tidak dilaksanan outdoor tapi indoor,” jelasnya. Untuk tempat tertutup perayaan Natal, PGI menyarankan untuk dilaksanakan di 2 tempat yakni Jiexpo Kemayoran dan Glodok Kemayoran. Meski demikian, PGI tidak menyalahkan jika ada lembaga gereja lain yang ingin tetap ikut perayaan Natal di Monas. “Kita kan sebagai lembaga harus punya sikap. Dalam hal ini kalau ada lembaga lain yang ingin ikut di Monas ya silakan,” jelasnya. Dari 7 lembaga keumatan Kristen yang ada di Jakarta baru PGI yang menentukan sikap menolak perayaan Natal di Monas. Ketujuh lembaga tersebut yakni PGI, PGLII (Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia), Gereja Pentakosta, Gereja Advent, Gereja Baptis, Gereja Ortodoks dan Bala Keselamatan. “Yang baru ambil sikap baru PGI,” katanya lagi. Raintung juga mengatakan pihaknya akan membuat surat imbauan kepada umat Kristen khususnya di Jakarta untuk merayakan Natal secara sederhana. “Karena inisiasi dari Pemprov, kami akan menyampaikan ke Pemprov, nanti kami akan buat surat imbauan kepada umat untuk merayakan Natal dengan kesederhanaan,” ujarnya.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengungkapkan perayaan Natal bersama di Monas, yang rencananya digelar pada 5 Januari 2018, akan diundurkan. Diundurnya acara yang digelar Pemprov DKI tersebut atas permintaan sejumlah aras gereja di Jakarta. “Rencana tanggal 5, mereka minta mundur dua sampai tiga minggu,” kata Sandi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (14/12/2017). Sandi menuturkan sejumlah perwakilan gereja mengaku khawatir mepetnya waktu pelaksanaan Natal bersama tersebut membuat acara yang rencananya akan dihadiri 12 ribu orang itu akan tidak optimal. Karena itu, mereka meminta perayaan Natal bersama diundurkan hingga pertengahan atau akhir Januari 2018. “Saya bilang, kalau umat Kristiani menginginkan itu ditunda dua tiga minggu, ya saya serahkan,” ujarnya. Untuk diketahui, sejumlah atas gereja di Jakarta bersama adik Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, datang menemui Sandi di Balai Kota. Kedatangan mereka untuk menyatakan dukungan terhadap perayaan Natal bersama di Monas sekaligus meminta diundurkannya jadwal acara tersebut.

Kakorlantas Polri Irjen Royke Lumowa memimpin rapat kerja teknis (rakernis) fungsi lalu lintas untuk analisa dan evaluasi kinerja tahun 2017. Royke meminta jajarannya memperbaiki kultur dalam bertugas. Rakernir itu digelar di gedung Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (14/12/2017). Pertemuan ini sekaligus untuk persiapan operasi lilin 2017 dan rencana program kerja tahun 2018. Royke mengimbau untuk meningkatkan kinerja di tahun berikut sebagai upaya pengemban fungsi lalu lintas di tingkat Polres dan Polda. Royke juga meminta jajarannya mencari kelemahan tahun ini untuk perbaikan di 2018. “Terima kasih sudah bekerja di 2017. Tentu banyak kekurangan namun wajar dalam pekerjaan. Ke depannya pelayanan kita harus menjadi lebih baik. Ingat, kita garda terdepan pada pengamanan lalu lintas, kita harus memperbaiki kultur,” kata Royke dalam keterangannya. Pejabat utama Korlantas Polri, 33 Dirlantas Polda, Kasubdit Gakkum Polda , Kasubdit Kamsel Polda, dan Kasubdit Bagian Operasi Polda hadir dalam kesempatan ini. Pada kesempatan ini, Royke juga memberikan penghargaan kepada Polda yang sudah berinovasi baik di bidang IT dan ide kreatif. Rakernis fungsi lalu lintas ini akan berlangsung Jumat (15/12).

Sejumlah ormas mengancam akan menggelar aksi lanjutan jika event Djakarta Warehouse Project (DWP) tetap digelar. Sejauh ini, pihak kepolisian belum menerima pemberitahuan terkait rencana demo tersebut. “Belum, yang tadi sudah kita amankan, yang besok belum monitor,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono saat dimintai konfirmasi, Kamis (14/12/2017). Argo juga mengimbau kepada massa yang akan berdemo untuk menyalurkan pendapatnya sesuai dengan aturan yang berlaku dan tidak membuat kegaduhan. Pengunjung yang hendak datang ke lokasi pun diminta untuk tertib dan tidak membawa barang-barang terlarang. “Intinya bahwa untuk masyarakat yang menonton, atau penonton untuk tidak membuat gaduh, membawa senja tajam, miras, kemudian yang tidak setuju artinya sampaikan saluran yang tepat, kepentingan polisi untuk mengademkan suasana,” terang Argo. Senada dengan pernyataan Argo, Kapolres Jakarta Pusat mengatakan pihaknya pun belum menerima pemberitahuan terkait rencana demo dari sejumlah ormas termasuk Bang Japar. “Iya belum kalau ke Polres Jakarta Pusat,” tuturnya. Sebelumnya, sejumlah ormas termasuk Bang Japar menggelar demo menolak konser DWP di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (14/12). Mereka pun berencana untuk melakukan aksi lanjutan jika acara tersebut tetap digelar. “Ya kalau misalkan tetap akan berjalan, kami dengan sekemampuan kami, baik dari sekala kecil maupun besar, kita berharap pasti ada pertolongan-pertolongan dari teman-teman yang memang menolak, pasti kami akan lakukan aksi yang lebih besar lagi apabila itu tetap dilaksanakan,” kata Ketua Umum Bang Japar Indonesia Aries Isnan Ridho di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (14/12).

Polisi menyiapkan rekayasa lalu lintas di sekitar lokasi event Djakarta Warehouse Project (DWP) di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat. Rekayasa lalin akan dilakukan secara situasional. “Situasional melihat perkembangan di lapangan, kita nggak boleh mengatakan ini, tahunya yang datang sedikit,” kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Halim Pagarra saat dimintai konfirmasi, Kamis (14/12/2017) malam. Halim mengatakan ada tiga bentuk rekayasa lalin yang akan diberlakukan. Pemberlakukan jenis rekayasa lalin itu disesuaikan dengan banyaknya pengunjung yang datang ke konser DWP. “Ya, kita lakukan pengaturan seperti biasa, ada anggota nanti kalau terjadi kepadatan, kita rekayasa lantas. Rekayasa lantas itu ada tiga, satu pengalihan arus kita lakukan, kedua buka tutup arus lalu lintas, ketiga contraflow,” tuturnya. Secara terpisah, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengimbau kepada setiap pengunjung untuk tetap menjaga ketertiban. Pengunjung juga dilarang untuk membawa senjata tajam dan minuman keras (miras). “Intinya bahwa untuk masyarakat yang menonton, atau penonton untuk tidak membuat gaduh, membawa senja tajam, miras, kemudian yang tidak setuju artinya sampaikan saluran yang tepat, kepentingan polisi untuk mengademkan suasana,” imbuh Argo. DWP akan digelar hari ini sampai hari Sabtu (16/12) di JIExpo Kemayoran, Jakpus. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menginstruksikan jajaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta Satpol PP memantau gelaran DWP supaya tak melanggar aturan. “Jadi saya instruksikan kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menurunkan aparatnya untuk memastikan seluruh aturannya ditaati. Kami juga akan minta pihak Kepolisian membantu pengamanan dan memastikan bahwa semua aturan yang ada di Republik ini ditaati. Satpol PP juga akan diinstruksikan,” kata Anies seusai menghadiri acara Asia Pacific Leaders Forum on Open Government 2017, di Hotel Borobudur, Jl Lapangan Banteng Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (14/12).

Pemprov DKI akan mengukuhkan 1.900 pasukan pink malam ini. Pasukan pink merupakan pasukan yang bertugas untuk mengelola Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Apa saja tugasnya? Kepala Dinas Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAP) DKI Jakarta, Dien Emawati, mengungkapkan, pengelolaan RPTRA tersebut di antaranya mengajari anak-anak di lingkungan RPTRA. Tak hanya anak-anak, pasukan pink juga bertugas mengajari remaja, dewasa, dan lansia. “Nanti malam pengukuhan ya. Pasukan pink itu sebetulnya sudah ada 2 tahun yang lalu. Dia yang menjadi pengelola RPTRA. Fungsinya satu, mengajari anak-anak, bukan anak saja. Tapi dari mulai anak, remaja, lansia, dewasa,” katanya saat dihubungi detikcom, Selasa (10/10/2017). Selain itu, pasukan pink juga bertugas memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang ada di RPTRA. Misalnya, menjadwalkan kegiatan-kegiatan RPTRA. “Misalnya futsal. Kan lapangan futsal peminatnya banyak sekali itu. Nah itu dijadwal dari jam sekian sekian siapa, sekian sekian siapa,” tuturnya. Tugas berikutnya adalah menjaga bagian indoor dan outdoor RPTRA. Di bagian indoor, pasukan pink akan mengelola perpustakaan, ruang laktasi, dan PKK Grossmart. Selain itu, mereka juga akan mengelola kegiatan pelatihan baik dari pemerintah maupun dari swasta. Dien mengungkapkan, setiap RPTRA memiliki 6 pasukan pink. Nantinya, pasukan pink itu akan bekerja dengan sistem shift. “Dia jaganya shift. Dari jam 05.00 pagi dibuka sampai jam 10.00 malem. Kan jam 05.00 pagi untuk olahraga karena ada jogging track tuh,” ungkapnya. Dien menambahkan, pasukan pink ini harus memiliki hati yang baik. Hal itu dilakukan karena pasukan pink berhubungan langsung dengan masyarakat. “Ngajari anak. Kemudian etika membuang sampah sembarangan, etika bertutur kata sesama teman. Itu kan kalau interaksi sesama teman kan kadang ada yang nakal gitu ada yang berantem. Nah ditangani pengelola tadi. Dididik supaya anak anak tadi bisa baik mau membaca di perpustakaan. Mau bersahabat bergaul dengan temannya dan sebagainya. Jadi memang harus yang benar-benar punya hati,” jelasnya. Dien mengatakan, fokus melayani masyarakat secara langsung ialah hal yang membedakan pasukan pink dengan pasukan pelangi lain yang sudah dimiliki Pemprov DKI. “Kalau orange kan PPSU. PPSU kan menangani sampah. Kalau ada pohon yang roboh ditebang. Kalau biru itu kan PU air ya. Jadi kalau mampet saluran dan sebagainya, nguras saluran dan sebagainya. Nah yang pink ini ke arah manusia,” ujarnya. Sementara terkait status kepegawaian, Dien mengungkapkan status pasukan pink sama dengan pasukan pelangi lainnya. Pasukan pink juga berstatus pegawawi harian lepas. Meski demikian, Dien mengatakan, pasukan pink memiliki standar lebih tinggi dibanding pasukan lainnya. Dien juga mengungkapkan, pasukan pink ini mendapatkan gaji standar UMP dengan 13 kali gaji yang berasal dari APBD. Selain itu juga mendapatkan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. “Dialokasikan di APBD melalui lurah. DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran)-nya DPA lurah. Jadi yang kontrak mereka itu lurah. Tapi diseleksi dilakukan perekrutan oleh provinsi,” ungkapnya. Menurutnya, dilakukannya proses seleksi tersebut karena pasukan pink membutuhkan standar yang tinggi. Tim seleksi pasukan pink tersebut terdiri dari empat komponen, yaitu PPAP, lurah, PKK, kemudian konsultan SDM dari pihak luar. “Sehingga kita mendapatkan pengelola pengelola yang baik yang punya hati. Untuk merubah perilaku-perilaku yang tidak baik di RPTRA,” ujarnya. Selain harus memiliki hati yang baik, pasukan pink juga harus minimal D3. Selain itu, pasukan pink juga harus merupakan warga sekitar RPTRA. “Nah yang penting pengelola itu adalah masyarakat sekitar kelurahan tadi. Itu syaratnya. Supaya dia care. Kalau dia nggak care terhadap RPTRA ya kan sudah nanti. Sustainabilitasnya yang kita butuhkan itu,” terangnya. Proses seleksi pasukan pink tersebut terbagi 4 seleksi. Seleksi pendidikan oleh lurah, kemudian wawancara dan Leaderless Group Discussion (LGD) terakhir psikotes oleh pihak Pemprov. “Kemudian nanti dinilai secara keseluruhan. Baru nanti dirangking. Misalnya 1 RPTRA dapat 12 (calon pasukan pink). Disortir rangking tertinggi. Ini nilainya seperti ini silakan dikroscek kembali. Misalnya ternyata dia perokok berat nggak kita terima karena di RPTRA itu tanpa asap rokok. Kemudian ini nilainya bagus tapi perilakunya nggak bagus. Jadi ada checking terakhir,” tuturnya. Untuk diketahui, nanti malam, Pemprov DKI akan meresmikan 100 RPTRA di DKI Jakarta. Peresmian tersebut sekaligus untuk mengukuhkan 1.900 pasukan pink yang nantinya akan mengelola RPTRA.

Dalam satu hari, Mahkamah Konstitusi (MK) membuat dua putusan mengejutkan. Putusan itu adalah memperbolehkan antar-rekan kantor menikah dan pemidanaan LGBT dan kumpul kebo jadi kewenangan DPR-pemerintah. Putusan memperbolehkan sesama teman dalam satu kantor menikah yang diajukan 8 karyawan. Kedelapan orang itu meminta agar Pasal 153 ayat 1 huruf f UU Ketenagakerjaan dibatalkan sepanjang frasa ‘kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama’. MK mengabulkan gugatan mereka. “Mengadili, mengabulkan permohonan para pemohon untuk seluruhnya,” putus Ketua MK Arief Hidayat, dalam sidang di gedung MK, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (14/12/2017). Putusan ini sontak membuat gembira karyawan atau serikat dan membuat kecewa pengusaha. Namun, MK memiliki pertimbangan bahwa pernikahan tidak boleh dilarang oleh siapa pun, apalagi hanya karena masalah pekerjaan. “Perkawinan adalah takdir yang tidak dapat direncanakan dan dielakkan oleh karena itu menjadikan sesuatu yang bersifat takdir sebagai syarat untuk mengesampingkan pemenuhan HAM dalam hal ini hak atas pekerjaan serta hak untuk membentuk keluarga, tidak dapat diterima sebagai alasan yang sah secara konstitusional sesuai dengan pasal 28 J UU 1945,” ujar hakim konstitusi Aswanto dalam pertimbangannya. Berikutnya, MK menolak mengadili gugatan soal LGBT dan kumpul kebo yang diajukan Guru besar IPB Euis Sunarti. MK menyatakan perumusan delik LGBT dalam hukum pidana Indonesia masuk wewenang DPR-Presiden. “Mahkamah tidak memiliki kewenangan untuk merumuskan tindak pidana baru sebab kewenangan tersebut berada di tangan Presiden dan DPR. MK tidak boleh masuk ke dalam wilayah politik hukum pidana,” ujar anggota majelis, hakim Maria Farida dalam pertimbangannya. Putusan ini membuat Euis kecewa. Euis pun menyatakan akan mencari jalan lain untuk berjuang. “Kami tentu sedih karena kami berharap banyak ini lembaga yang memang kami harapkan karena kami bergerak dari masyarakat dari level bawah mengetahui besarnya masalah ini di lapangan,” kata Euis seusai sidang pengucapan putusan.

Ernest Prakasa menyampaikan permohonan maaf atas kicauannya di twitter tentang pertemuan Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan ulama kondang asal India Ustaz Zakir Naik. Ernest menyampaikan klarifikasi terkait alasannya memberikan tweet tersebut. Dalam tweetnya, Ernest sempat mengkritik pertemuan Wapres Jusuf Kalla dengan Ustaz Zakir Naik. Dengan menyebutkan sumber rujukan, Ernest menyebut Ustaz Zakir Naik sebagai penyumbang dana ke organisasi ISIS. Dengan memberikan sumber yang diambilnya, Ernest mengaku salah degan terlalu cepat mempercayai sumber tersebut. “Berkaitan dgn twit saya ttg Zakir Naik & ISIS, berikut adalah salah satu artikel yg saya kutip:,” tulis Ernest dalam akun twitternya @ernestprakasa seperti dilihat detikcom Senin (6/3/2017), dengan menampilkan situs yang menjadi sumbernya. Ernest menyebutkan artikel dalam sumber tersebut melacak aliran dana dari Zakir Naik ke salah seorang anggota ISIS di Suriah. Aliran dana ini dikatakan terkait teror bom di Dhaka. “Setelah merenungkan, saya merasa saya salah karena terlalu percaya pada artikel tersebut tanpa riset yg lebih mendalam,” ujar Ernest di tweet berikutnya. “Pertanyaan yg saya ajukan ke diri sendiri sejak tadi adalah: Bagaimana jika artikel tadi tidak benar? Apa saya menyebarkan hal yg salah?,” lanjut Ernest. Dengan hati yang tulus Ernest menyampaikan permohonan maafnya atas ketergesaannya percaya pada media yang belum ternama. Dia kemudian memohon maaf jika menyakiti hati orang yang membaca tweetnya tersebut. Permohonan maaf itu disampaikannya tanpa adanya tekanan dari pihak manapun. “Memaafkan atau tidak adalah 100% hak teman2. Yg bisa saya lakukan skrg adalah introspeksi agar hal ini jgn terjadi lagi di kemudian hari,” imbuhnya. “Buat teman2 yg melabeli saya “anti Islam”, saya sih pasrah aja. Mungkin itu konsekuensi yg harus saya tanggung, ya sudah. Sejak lahir hingga remaja saya tinggal di lingkungan Betawi Muslim. Agama saya tidak pernah mrk permasalahkan. Knp saya hrs benci Islam? Jd sekali lagi, saya minta maaf atas kekhilafan saya yg telah membuat teman2 sakit hati. Saya berjanji akan lebih berhati-hati. Salam,” tutupnya. Dalam akun twitternya, Ernest juga telah menghapus tweetnya tentang pertemuan Wapres Jusuf Kalla dengan Ustaz Zakir Naik.

Zaman Badja, ada 50-70 titik banjir. Ketinggian air rata-rata 80 cm. Ini zaman terparah soal banjir. Tetap disebut “genangan” oleh media-media mainstream. Di era Sutiyoso, banjir besar pecah setiap 3-4 tahunan. Ruma-ruma di Tanjung Duren, Rawa Buaya dll tenggelam sampai atap. Di era Badja, Jakarta kering. Ngga banjir. Tapi cuma di internet. Di alam nyata, hujan sebentar, genangan air di mana-mana. Definisi banjirnya diubah. Air setinggi leher orang dewasa disebut “genangan”. Ternyata, “banjir” cuma hilang dalam kosa kata saja. Gandaria City jadi banjir setelah mall dibangun. Di era Ahok, Istana dan Balai Kota turut tergenang. Atap Bioskop Planet Hollywood jebol. Air menyeruak masuk. Anies-Sandi disalahin. Laah, kok jadi salah Anies-Sandi. Otak Ahokers memang error. Macet diperparah dengan operasi driver online. Providernya terapkan bonus di jam-jam sibuk. Otomatis, motor dan mobil online seliweran di zona-zona bisnis. Semua fenomena ini bersifat natural sosiologis. Program biopori dan pembatasan ojek online mungkin bisa kurangi problem. Kemarin Gubernur Anies Baswedan turun ke lokasi-lokasi genangan air. Dukuh Bawah sudah disedot. Ada 4 unit pompa rusak. Pegawai Pemda loyalis Ahok dituding netizen lalai urus pompa. Mereka minta Bang Anies bersihkan unsur-unsur Ahokers dari tubuh SKPD dan ASN DKI Jakarta. “MUTASI mereka ke Pulau Seribu,” teriak banyak status. Ada yang bilang, kirim mereka ke Afrika. Banjir di era Anies-Sandi memang beda. Benar; terasa santun. Ngga ada lagi gubernur yang cari kambing hitam. Ngga ada lagi caci-maki salahkan LBH dan LSM. Sampai lewat pukul 10 malam, Bang Anies masih di area banjir Jatipadang. Genangan airnya sepaha. Dia datangi ruma-ruma warga. Inspeksi langsung pompa air dan tanggul yang jebol. Setiap hari dia kerja sampe larut malam. Pagi sebelum pukul 7 sudah ada lagi di Balai Kota. Setiap hari begitu. Ngga ada liburnya. Pagi ini, 12 Desember 2017, saat saya bangun tidur, Jakarta sudah kering. Kicau burung terdengar. Dedaunan menghijau. Segar. Normal. Kembali seperti biasa. Banjir sudah diatasi dengan cepat. THE END

Related Posts

Comments are closed.