Peta Kekuatan Sementara Jokowi Vs Prabowo untuk Pilpres 2019

Peta Kekuatan Sementara Jokowi Vs Prabowo untuk Pilpres 2019

Baca juga :

Tahun 1845, tiga tahun sebelum diumumkannya Manifes Partai Komunis, Marx menulis 11 Tesis Tentang Feurbach. Tulisan ini mempunyai arti historis dalam perkembangan filsafat materialisme. Dengan tesis-tesis ini, Marx mengkritik dan mengembangkan materialisme Feurbach. Bagi kita di Indonesia, justru dewasa ini, menguasai dan menggunakan materialisme, yaitu cara berfikir yang ilmiah, adalah cara untuk mengenal dan memahami kenyataan, membedakan yang benar dan yang salah, melawan kepalsuan, melawan pembodohan, melawan jahiliah, melawan ke-edanan..

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Dengan mengkritik Feurbach; Marx merobah materialisme yang pasif, yang kontemplatif, yang bersifat renungan, yang hanya untuk tafakur, menjadi materialisme militan, menjadi alat berfikir yang aktif. Menjadikannya senjata ampuh perjuangan klas, yaitu materialisme dialektis. Ini tak hanya punya arti teoretis, tapi bahkan punya arti praktis, yaitu membimbing fikiran manusia untuk bertindak maju. Dalam tesis-tesisnya ini, Marx mengkritik Feurbach dengan menyatakan, bahwa “kekurangan utama materialisme yang ada sampai sekarang – termasuk materialisme Feurbach – adalah bahwa benda, kenyataan, kesan panca-indera difahami hanya dalam bentuk objek atau pandangan, hasil renungan, tetapi tidak sebagai aktivitas alat perasa panca-indera manusia, yaitu praktek….”. (K.Marx dan F.Engels, Izbranniye Proizvyedyeniya V Tryokh Tomakh, Tom I — Pilihan Karya Dalam Tiga Jilid, Jilid I, Moskwa, Izdatyelstvo Politicyeskoi Lityeraturhi, 1966, hal. 1). Dengan mengangkat tinggi arti praktek, dalam tesis ini Marx menyatakan bahwa Feurbach “tidak mencengkam arti penting aktivitas yang ‘revolusioner’, aktivitas yang ‘praktis-kritis’ ”.(Idem). Dalam tesis-tesis ini, Marx juga menulis, bahwa “masalah apakah kebenaran objektif terdapat pada fikiran manusia adalah bukan satu masalah teori, tetapi satu masalah praktek. Dalam praktek lah orang harus membuktikan kebenaran fikirannya, yaitu bahwa fikirannya adalah kenyataan dan kekuatan, adalah bersifat duniawi”.(Idem). Di samping itu Marx menulis, bahwa “terjadinya secara bersamaan perobahan lingkungan dan perobahan aktivitas manusia hanyalah dapat dipahami secara rasional sebagai praktek revolusioner.” (Idem, hal. 2) Seterusnya Marx menulis, bahwa “Feurbach bertolak dari kenyataan swa-alienasi keagamaan, yaitu dari terbagi-duanya dunia menjadi dunia keagamaan, dunia khayal dan dunia nyata. Dia berkarya tentang meleburnya dunia keagamaan kedalam dasarnya yang sekular. Dia tidak mencatat kenyataan, bahwa sesudah karyanya selesai, masalah yang utama masih harus dikerjakan. Yaitu kenyataan bahwa dasar sekular memisahkan dirinya dari dirinya sendiri dan membawa dirinya kedalam awan sebagai kerajaan yang bebas, hanya dapat dijelaskan dengan swa-alienasi dan swa-berkontradiksi dari dasar sekular ini. Yang terakhir ini harus difahami dalam kontradiksinya dan kemudian direvolusionerkan dalam praktek dengan pelenyapan kontradiksi. Jadi misalnya, begitu keluarga duniawi ditemukan sebagai rahasia dari seluruh keluarga suci, maka keluarga duniawi itu harus dikritik dalam teori dan direvolusionerkan dalam praktek.”(Idem, hal 2). Lagi-lagi dengan mengangkat arti penting praktek, selanjutnya, Marx menulis, bahwa “Tidak puas dengan pemikiran abstrak , Feurbach berpaling pada renungan yang dapat dirasakan; tetapi dia tidak menganggap sesuatunya yang dapat dirasakan itu sebagai hal praktis, sebagai aktivitas perasaan manusia”. (Idem, hal. 2) Lebih lanjut Marx menulis, bahwa “Oleh karena itu, Feurbach tidak melihat bahwa ‘perasaan keagamaan’ itu sendiri adalah produk kemasyarakatan dan bahwa perseorangan yang abstrak, yang dia analisa terdapat pada kenyataan bentuk masyarakat yang khusus”.(Idem, hal.3). Lagi-lagi dengan mengangkat arti penting praktek, Marx menulis, bahwa “Penghidupan kemasyarakatan pada pokoknya adalah praktis. Semua keajaiban yang menyesatkan teori menjadi mistisisme mendapatkan pemecahan yang rasional dalam praktek kemanusiaan dan dalam praktek yang dapat difahami”.(Idem, hal.3) Seterusnya Marx menulis bahwa “Puncak yang tercapai oleh materialisme kontemplatif (materialisme renungan, materialisme tafakur), yaitu materialisme yang tidak memahami bahwa perasaan adalah aktivitas praktek, adalah renungan seorang individu dalam ‘masyarakat madani’ ” (Idem, hal.3). Selanjutnya ditulis Marx bahwa “Titik tolak materialisme kuno adalah masyarakat ‘madani’, titik tolak materrialisme baru adalah masyarakat manusia yang baru, atau kemanusiaan yang dimasyarakatkan”.(Idem, hal. 3). Paling akhir, dalam tesis ke-sebelas, Marx menulis bahwa “Para filosof hanyalah menginterpretasi dunia dengan berbagai caranya, akan tetapi masalahnya adalah merobah dunia itu”.(Idem, hal.3). Tesis terakhir ini mempunyai arti menjungkir-balikkan tugas filsafat. Menjungkir-balikkan materialisme kontemplatif, materialisme renungan, materialisme tafakur menjadi materialisme militan untuk merobah dunia.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Merobah dunia ! Tiga tahun kemudian, tahun 1848, Marx dan Engels memaparkan gagasan merobah dunia itu dalam Manifes Partai Komunis. Dunia ketika itu sedang dikuasai oleh feodalisme dan burjuasi pemilik kapital yang baru berkembang. Dunia dengan penghisapan feodal yang sudah mencapai puncaknya, dan penghisapan kapital yang sedang berkembang pesat, akan dirobah menjadi dunia tanpa penghisapan oleh manusia atas manusia. Sungguh satu gagasan raksasa. Gagasan untuk membebaskan manusia dari penghisapan feodal dan penghisapan kapital. Disinilah arti historis Tesis-Tesis Tentang Feurbach yang ditulis Marx 160 tahun yang lalu. Maka selanjutnya, materialisme pun berkembang menjadi materialisme historis, yaitu pentrapan materialisme dialektis dalam ilmu kemasyarakatan. Inilah alat berfikir, senjata perjuangan bagi manusia untuk merobah dunia.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Ludwig Feurbach (1804-1872) berjasa mengembangkan tradisi revolusioner materialisme abad ke-XVII dan abad ke-XVIII. Yang dimaksudkan dengan filsafat antropologis oleh Feurbach adalah filsafat yang mengutamakan manusia. Prinsip antropologis dinyatakan oleh Feurbach dengan mengutamakan kesatuan alam kemanusiaan. Menurut Feurbach manusia adalah produk alam dan bahagian dari alam. Alam, materi adalah satu-satunya substansi, dan adalah substansi sejati, yang berada diluar manusia, dan yang menciptakan manusia. Feurbach berpendapat, bahwa filsafat baru harus merobah manusia serta alam sebagai basis manusia, menjadi sasaran satu-satunya yang universal dan paling tinggi dalam filsafat. Karena itu, antropologi, termasuk fisiologi, baginya menjadi ilmu yang universal. Feurbach memandang masalah ruang dan waktu secara materialis. Ruang dan waktu adalah syarat-syarat dasar, adalah bentuk-bentuk dan perwujudan substansi. Materi bukan hanya ada, tetapi juga bergerak dan berkembang. Tanpa ruang dan waktu, maka gerak dan perkembangan adalah tidak mungkin. Tanpa ruang dan waktu tak mungkin ada materi.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Disamping itu, dinyatakannya bahwa alam itu kongkrit, bersifat material, dapat diraba dan dirasa. Materi tak dapat dibasmi, selalu ada, akan tetap ada, yaitu adalah abadi, tanpa awal dan tanpa akhir, adalah tak berhingga. Dengan mengikuti Spinoza, Feurbach menyatakan, bahwa alam adalah sebab-musabab itu sendiri. Materi adalah primer, ide adalah sekunder. Pandangan ini adalah bertolak belakang dengan pandangan Hegel yang menjadikan ide absolut sebagai yang utama, sebagai sumber segala-galanya. Dengan demikian, mengenai masalah terpokok dalam filsafat, yaitu masalah hubungan antara ide dan materi, dipecahkan oleh Feurbach secara materialis, ….. dengan mengutamakan materi.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Menurut Feurbach, alam adalah banyak segi. Manusia mengenalnya liwat syaraf perasa, hingga mengenal air, api, listrik, sinar, magnetisme, tumbuh-tumbuhan, dunia dan seterusnya. Itulah sebahagian dari substansi dengan berbagai kwalitas. Substansi tanpa kwalitas adalah omong kosong. Kwalitas tak terpisahkan dari substansi sesuatunya. Alam, materi adalah satu-satunya substansi dan adalah hakekat substansi yang terdapat di luar manusia, dan yang melahirkan manusia. Satu-satunya dasar manusia adalah jasmani. Ambillah dari manusia jasmaninya, akan terambil jiwanya, terambil semangatnya. Jasmani adalah bahagian dari dunia objektif dan adanya jiwa adalah tergantung pada jasmani. Ini adalah pandangan monisme antropologis, yang berlawanan dengan pandangan dualisme. Pandangan dualisme mensetarakan jasmani dan jiwa – jasmani adalah dari alam material, dan jiwa adalah dari alam spiritual. Pandangan monisme antropologis dari Feurbach ini adalah pandangan materialis.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Feurbach membawa maju ajaran materialis dalam teori pengenalan, dalam epistemologi. Feurbach menyatakan, bahwa “perasaan saya adalah subjektif, tetapi dasarnya, sebab-musababnya adalah objektif”. Sejarah pengenalan menunjukkan pada kaum materialis Jerman, bahwa batas-batas pengenalan manusia selalu bertambah luas; bahwa dalam perkembangannya, akal manusia memungkinkan kita untuk menemukan rahasia-rahasia alam. Kaum agnostisis berpendapat, bahwa alam terbentuk sedemikian rupa hingga tak mungkin manusia mengenal sesungguhnya alam itu. Berlawanan dengan kaum agnostisis, Feurbach menyatakan, bahwa “apa yang belum kita ketahui sekarang, akan diketahui oleh anak-cucu kita di kemudian hari”. Dengan demikian, Feurbach secara tajam menentang agnostisisme Kant.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Feurbach menjadikan perasaan sebagai titik-tolak pengenalan. Menurut dia, “adalah sepenuhnya tepat, bahwa empirisisme memandang sumber-sumber ide-ide kita pada perasaan”. “Saya berfikir dengan bantuan perasaan, terutama dengan bantuan pandangan, — saya mendasarkan dalil, kesimpulan saya pada sesuatunya yang material, yang kita tangkap (serap) liwat alat perasa bahagian luar. Bukannya benda berasal dari fikiran, tetapi fikiran berasal dari benda. Dan benda pun adalah tak lain dan tak bukan apa yang terdapat di luar kepala saya”. Maka materi, alam bukan saja adalah dasar dari jiwa, tetapi bahkan dasar prinsip dari semua pengetahuan dari filsafat. Benda, materi adalah tak lain dan tak bukan sesuatu yang secara nyata ada di luar kita, sedangkan fikiran mengenai benda itu adalah pencerminan (bayangannya) dalam kepala manusia.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Feurbach membuktikan, bahwa jika tidak ada materi yang terdapat secara objektif di luar kita, maka syaraf perasa kita tidak akan tersentuh. Oleh karena itu, materi, alam, — bukan hanya adalah basis dari jiwa, tapi juga dasar permulaan dari semua pengenalan dan filsafat. Menurut Feurbach, perasaan bukanlah memisahkan manusia dari dunia luar, tetapi menghubungkannya, karena perasaan adalah hasil pengaruh benda-benda luar terhadap alat perasa manusia. Pengenalan ilmiah dimulai dengan pengamatan dan cita-rasa. Dia menyatakan, bahwa “tak ada perasaan tanpa kepala, tanpa akal dan pemikiran” Manusia harus bertolak dari “perasaan sebagai sesuatunya yang paling sederhana, yang jelas-jemelas dan tak disangsikan lagi”, kemudian memasuki masalah “objek-objek yang rumit dan jauh dari mata”. Menurut Feurbach, peranan akal adalah menghubungkan pengenalan cita-rasa dari pengalaman yang sepotong-sepotong dengan bahagian lain dari kenyataan di luar pengalaman. Sebagaimana halnya hubungan antara kata-kata menjadi fikiran, demikian pula data-data yang ditangkap perasaan hanya dapat difahami jika ia dihubungkan, disusun dengan bantuan akal. “Dengan perasaan, kita membaca bukunya alam, tetapi memahaminya bukanlah dengan perasaan”. Dengan bantuan akal, kita menghubungkan sebab dan akibat, sebab-sebab dan tindak tanduk antara gejala-gejala, hanyalah karena mereka “menurut kenyataannya, secara materiil, secara kenyataan terdapat tepat dalam hubungan sedemikian antara sesamanya”. Feurbach juga menyatakan, bahwa “hanya fikiran yang riil, yang objektif yang memastikan dan membikin tepat renungan perasaan, hanyalah dalam keadaan yang demikian, pemikiran adalah pemikiran objektif dan kebenaran”.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Feurbach membuang dualisme antara renungan cita-rasa dan pertimbangan akal, yang merupakan ciri dari epistemologi Kant. Menurut Feurbach, pertimbangan akal, bukanlah sumber yang berdiri sendiri dari pengenalan. Semua prinsip dan kategori-kategorinya bukanlah ditimbanya dari dirinya sendiri tetapi dari perasaan berdasarkan pengalaman. Kant mencari ukuran kebenaran pada pemikiran yang murni. Sebaliknya, Feurbach menemukan kebenaran dalam kehidupan, dalam kenyataan, dalam praktek. “Sesuatunya yang disangsikan yang tak dapat selesai dan dikerjakan oleh teori, akan diselesaikan oleh praktek”.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Tetapi Feurbach tidak sampai memahami praktek menurut pemahaman materialis tentang praktek kemasyarakatan manusia. Hubungan antara sesama manusia hanya difahami Feurbach sebagai hubungan dalam “gens”, yaitu hubungan kemasyarakatan yang bersumber pada hubungan keluarga, hubungan fisiologis. Gens, puak, suku adalah organisasi kemasyarakatan dasar dalam susunan masyarakat komune-primitif, organisasi yang merupakan kesatuan dari pada keluarga-keluarga seketurunan. Asal mulanya diorganisasi secara keibuan, — secara matriarchaat, kemudian berobah menjadi patriarchaat dalam proses berkembangnya masyarakat komune-primitif. Gens memiliki seorang kepala, mendiami suatu daerah tertentu dan mempunyai nama tertentu.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Feurbach memahami praktek manusia sebagai “makan dan minum”, bukanlah praktek berproduksi, bukanlah tindakan-tindakan revolusioner. Dalam pemahaman Feurbach tentang praktek terkandung antropologisme dan naturalisme. Ukuran kebenaran dia lihat dalam “gens”. Dia menyatakan, bahwa “jika saya berfikir sesuai dengan patokan-patokan gens, berarti saya adalah berfikir sebagaimana manusia umumnya. …. Kebenaran adalah apa yang sesuai dengan hakekat gens, palsu adalah apa yang bertentangan dengan itu. Hukum lain dari kebenaran tidak ada” Demikianlah, Feurbach tidak bisa melangkah lebih jauh dari pemahamannya yang abstrak dan pasif tentang praktek kemasyarakatan manusia.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Dalam seluruh karyanya, pada pokoknya Feurbach menempatkan masalah agama dalam pusat perhatiannya. Dia menulis, bahwa dalam semua karyanya, dia tidak pernah “melepaskan masalah agama dan teologi dari pandangan”, bahkan menjadikan “agama dan teologi sebagai tema pokok fikiran serta kehidupannya.” Feurbach berusaha mengangkat obor akal, supaya manusia akhirnya dapat merobah permainan kekuatan-kekuatan yang fantastis, yang dipergunakan penguasa agama untuk menindas manusia. Fikirannya selalu terlibat dalam hal, supaya merobah manusia dari serba percaya menjadi manusia yang berfikir, dari serba hidup sembahyang menjadi kaum pekerja.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Feurbach mencatat bahwa peranan alam dalam hidup manusia adalah sangat besar. Alam adalah sebab-musabab, adalah dasar, sumber eksistensi manusia. Alam mengharuskan lahir dan hidupnya manusia. Manusia – bahagian dari alam, dan hanya bisa terdapat dalam alam, adalah berkat alam. Alam adalah ibu kandung manusia. Feurbach menyatakan, bahwa arti alam yang demikian bagi manusia adalah menjadi sebab, hingga alam menjadi objek pertama dari agama, menjadi Tuhan pertama dari manusia. Agama tertua dari manusia – adalah agama yang memuja alam, agama “alamiah”. Bagi manusia-manusia purba, hanyalah alam yang menjadi subjek pemujaan keagamaan. Agama zaman purbakala menunjukkan manusia dan satunya manusia dengan alam, menunjukkan ketergantungan manusia pada alam. Perasaan ketergantungan adalah dasar dari agama. Manusia semenjak kelahirannya dalam sejarah, selalu dalam syarat-syarat tertentu berada dalam ketergantungan bukan dari alam secara umum, tetapi dari alam tertentu, dari alam negerinya, dan tempat kelahirannya. Manusia-manusia purba, oleh karena itu menjadikan alam kongkrit yang mengitarinya sebagai objek agamanya. Manusia-manusia purba memuja dalam agama mereka syarat-syarat alam dan gejala-gejala alam dari mana kehidupan mereka tergantung. Maka oleh karena itu, Feurbach menyatakan, bahwa menurut kenyataan sejarah, manusia-manusia purba memuja sungai, gunung dan laut tanah-airnya. Orang Mesir purbakala berpendapat, bahwa asal-usul semua kehidupan, termasuk manusia adalah sungai Nil. Rakyat Yunani purba percaya, bahwa semua sumber sungai, danau, laut terdapat di samudera raya. Rakyat Persia purba menganggap, bahwa semua gunung berasal dari gunung Alborda. Manusia Meksiko purba memuja Tuhan dari garam. Demikianlah, bagi manusia-manusia purba, Tuhan mereka berasal dari alam sekitar atau iklim yang mengitarinya. Feurbach menyatakan, bahwa manusia yang masih kurang pengalaman dan kurang pendidikan bahkan menganggap negerinya itulah dunia, atau pusat bumi.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Pandangan-pandangan Feurbach mempunyai arti besar dalam hal memasukkan pengertian antropologis manusia dalam ajaran tentang moral. Feurbach mencatat, bahwa semua usaha manusia adalah menuju kebahagiaan. Bahagia atau sengsara, sukacita atau duka nestapa diketahui liwat perasaan. Bagi Feurbach, perasaan adalah syarat pertama bagi moral. Di mana tidak ada perasaan, di sana tidak ada perbedaan bahagia dan sengsara, antara kebaikan dan kejelekan, antara suka dan duka, di sana tidak ada moral. Ajaran tentang moral merupakan puncak ajaran Feurbach tentang masyarakat. Dalam hal inilah terletak keterbatasan filsafat Feurbach. Prinsip dasar moral dari Feurbach adalah kecenderungan hati manusia terhadap sesamanya, yang dimiliki sebagai sifat alamiah dari manusia, yaitu sifat menginginkan kebahagiaan. Menurut Feurbach, supaya manusia jadi bahagia, mereka harus saling mencintai. Kata ‘cinta’ bagi Feurbach adalah azimat sakti, bahan ramuan mujarab mengobati semua penyakit. Feurbach mengajarkan cinta yang menyeluruh dalam masyarakat yang terbagi dalam berbagai klas yang antagonistik. Cinta sesama manusia adalah puncak ajaran moral Feurbach. Di samping itu, dalam berbagai kesempatan secara tepat Feurbach menulis, bahwa “orang di dalam istana berfikiran lain daripada yang di dalam gubuk”. Tetapi dia salah menilai orang yang melarat dengan menyatakan lebih lanjut, bahwa “jika karena kelaparan, karena kesengsaraan, orang tidak mempunyai isi di dalam tubuhnya, akan begitu juga dia tidak mempunyai isi untuk moral di dalam kepalanya, di dalam jiwanya maupun hatinya”. Moral Feurbach adalah moral burjuasi, yang mengajarkan perdamaian klas, yang menutup-nutupi kontradiksi kepentingan-kepentingan klas, yang memadamkan dan menegasi perjuangan klas. Karena itu, materialisme Feurbach adalah materialisme yang tidak berjuang, materialisme yang pasif. Inilah yang disebut materialisme kontemplatif .

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Demikianlah materialisme Feurbach, materialisme antropologis dan kontemplatif, yang mengabaikan praktek kemasyarakatan manusia, yang menentang agama dan berpaling pada ‘cinta’ sesama manusia dan lari dari perjuangan klas, yang mengkritik idealisme Hegel, menentang agnostisisme Kant serta yang tidak memahami arti penting perjuangan politik. Walaupun pandangannya materialis, Feurbach tidak menggunakan metodologi dialektika, tidak menggunakan hukum pokok dialektika – kesatuan dan perjuangan dari segi-segi yang berlawanan. Materialisme Feurbach adalah materialisme metafisis. Keterbatasan materialisme Feurbach tidaklah mengurangi akan arti historisnya. Materialisme Feurbach memberikan pengaruh yang mendalam atas Marx dan Engels pada masa pembentukan pandangan-pandangan filsafatnya. Marx dan Engels mengambil dari materialisme Feurbach hanya “inti pokoknya”, mengembangkannya lebih lanjut menjadi filsafat ilmiah materialisme dialektis dan membuang lapisannya yang bersifat idealis dan metafisis.***

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Dengan sebelas Tesis Marx tentang Feurbach, materialisme jadi berkembang. Lebih setengah abad sesudah Marx menulis tesis itu, tahun 1908, Lenin menulis karya filsafat: Materialisme Dan Empiriokritisisme. Karya Lenin ini lebih mengembangkan lagi materialisme. Lebih diperdalam pengertian tentang kenyataan dan fikiran, tentang hubungan materi dan fikiran, tentang perasaan, tentang ruang dan waktu, tentang kebenaran relatif dan kebenaran absolut, tentang kausalitas. Dinyatakan, bahwa “materi adalah kategori filsafat untuk menamakan kenyataan objektif.”. Lenin menulis, bahwa “pemecahan masalah filsafat secara materialis hanyalah mungkin atas dasar titik tolak dialektis terhadap perasaan”. “Sifat perasaan yang dialektis adalah kesatuan subjektif dan objektif, hakekatnya ….. perasaan adalah gambaran (rupa, wajah) subjektif dari dunia objektif” (V.I.Lenin: Polnoye Sobraniye Socinyenii, izdaniye pyatoye, tom 18, Matyerializm I Empiriokriticizm, Kumpulan Karya Lengkap , cetakan kelima, jilid 18, Materialisme Dan Empiriokritisisme, Moskwa, 1961)

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Dalam karyanya ini, Lenin juga mengungkap masalah pemahaman tentang kebenaran. Materialisme dialektis mengakui adanya kebenaran absolut. “Pengakuan akan kebenaran objektif yang tidak tergantung pada manusia dan kemanusiaan, berarti mengakui kebenaran absolut” (Idem). Tapi pengakuan akan kebenaran absolut terjadi (terwujud) tidaklah secara sekali gus, tidak segera lengkap menyeluruh, bukannya tidak bersyarat; tetapi setapak demi setapak, setingkat demi setingkat, berangsur-angsur, secara relatif, yaitu kebenaran absolut tampil dalam bentuk kebenaran relatif. Walaupun demikian, meskipun kebenaran itu relatif, tak terelakkan didalamnya ada unsur keabsolutan. Bagi materialisme dialektis tidak terdapat batas yang tak terseberangi antara kebenaran relatif dan kebenaran absolut. Lenin meneliti saling hubungan antara kebenaran relatif dengan kebenaran absolut. Lenin merumuskan salah satu hukum dasar ajaran tentang kebenaran: kebenaran absolut terbentuk dari jumlah himpunan kebenaran-kebenaran relatif; setiap tingkat dalam perkembangan pengetahuan bertambah butir baru pada jumlah kebenaran absolut itu. Lenin memaparkan, bahwa materialisme sebelum Marx adalah metafisis atau relativisme. Materialisme metafisis tidak memahami saling hubungan antara keabsolutan dan kerelatifan. Relativisme mempertentangkan kebenaran relatif dengan kebenaran absolut. Lenin mengungkap masalah gerak yang tak terpisahkan dari materi. Materi secara keharusan terdapat dalam semua gerak. Gerak materi tak mungkin terdapat tanpa ruang dan waktu. Siapa yang mengakui eksistensi realitas objektif, maka tak bisa lain harus mengakui juga realitas objektif dari waktu dan ruang. Lenin mengungkap pemahaman filosofis hakekat ruang dan waktu, dan tafsiran filosofis tentang kausalitas (pertalian antara sebab dan akibat). Penyangkalan (penegasian) atas realitas objektif ruang dan waktu, tak bisa lain akan menghasilkan penyelewengan dari pendirian materialisme dalam masalah kausalitas. Demikian pula pemahaman yang tidak benar, yang subjektif tentang kausalitas akan menghasilkan kesimpulan yang tidak benar, yang idealistis mengenai masalah dasar filsafat. Materialisme Dan Empiriokritisisme karya Lenin ini memperkaya ajaran Marxis tentang peranan praktek dalam teori pengenalan (epistemologi). Dikemukakan masalah hubungan tak terpisahkannya teori pengenalan materialisme dialektis dengan praktek. Digaris-bawahinya bahwa praktek haruslah yang pertama dan merupakan titik-pandangan dasar dari teori pengenalan, bahwa kriteria praktek haruslah termasuk kedalam dasar teori pengenalan.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Lebih seperempat abad sesudah Lenin menulis Materialisme Dan Empiriokritisisme, tahun 1937, pemahaman tentang pentingnya arti praktek, arti mencari kebenaran dari kenyataan itu dijabarkan secara rinci oleh Mao Zedong dalam karya filsafatnya TENTANG PRAKTEK. Dengan populer Mao Zedong memaparkan tentang proses perkembangan pengetahuan manusia, mulai dari adanya kontak dengan hal-ihwal dunia luar, melakukan sintese dari bahan-bahan tanggapan pancaindera, sampai membentuk konsepsi. Mao Zedong menulis, “pengetahuan mulai dari pengalaman”. (Mao Tjetung, Pilihan Karja, jilid pertama, TENTANG PRAKTEK, Pustaka Bahasa Asing, Peking, 1967, hal 397-416). Diajukannya, bahwa filsafat Marxis materialisme dialektis mempunyai dua ciri yang paling menonjol. Yang satu ialah watak klasnya – ia secara terang-terangan mengabdi kepada proletariat. Yang lainnya ialah sifat kepraktekannya – ia menekankan ketergantung teori pada praktek, menekankan bahwa dasar teori adalah praktek dan teori pada gilirannya mengabdi pada praktek. Untuk sepenuhnya mencerminkan sesuatu dalam keseluruhannya, untuk mencerminkan hakekatnya, mencerminkan hukum-hukum internya, adalah perlu melalui pemikiran, menyusun kembali dan mengolah bahan-bahan tanggapan pancaindera yang kaya itu dengan membuang ampasnya dan mengambil sarinya, menyisihkan yang palsu dan mempertahankan yang benar, bertolak dari segi yang satu ke segi yang lain dan dari bagian luar ke bagian dalam, guna membentuk suatu sistim konsepsi dan teori – adalah perlu membuat suatu lompatan dari pengetahuan persepsi ke pengetahuan rasional. Menggaris-bawahi tesis kesebelas Marx tentang Feurbach, Mao Zedong menulis, bahwa masalah yang terpenting tidak terletak pada pengertian akan hukum-hukum dunia objektif dan karena itu sanggup menerangkan dunia, melainkan terletak pada pentrapan pengetahuan tentang hukum-hukum objektif itu untuk secara aktif merubah dunia. Menurut Marxisme, teori adalah penting, dan pentingnya teori itu dinyatakan sepenuhnya dalam perkataan Lenin: “Tanpa teori revolusioner, tak mungkin ada gerakan revolusioner”. Dengan demikian, Mao Zedong kian mempertegas ajaran Marx, bahwa pengenalan atas dunia adalah untuk merobahnya. Inilah materialisme dialektis, cara berfikir, senjata perjuangan, yang diperlukan bagi manusia yang berjuang.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Sudah berlalu lebih satu setengah abad, semenjak Tesis-Tesis Tentang Feurbach ini ditulis Marx. Materialisme kian menunjukkan keunggulan dalam filsafat. Kebenaran filsafat materialisme telah mengalami ujian dalam sejarah. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi, mulai dari penemuan-penemuan dalam astronomi, fisika, kimiah, biologi, ilmu kedokteran, penemuan dan penggunaan energi nuklir, penjelajahan ruang angkasa, ilmu dan tekhnologi informatika, ilmu genetika dan lain-lain telah mendemonstrasikan kemenangan-kemenangan materialisme atas agnostisisme dan idealisme. Berkat materialisme, manusia kian mengenal dan menguasai hukum-hukum alam. Kian bisa mengolah dan mengobah alam demi kepentingan umat manusia.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Satu setengah abad semenjak Marx menulis Tesis-Tesis Tentang Feurbach dan semenjak Manifes Partai Komunis diumumkan, materialisme dialektis telah menunjukkan keunggulan atas agnostisisme dan idealisme. Dari pandangan materialisme historis, perkembangan sejarah satu setengah abad ini adalah masa kebangkrutan feodalisme dan kemerosotan burjuasi. Burjuasi berada dalam kedudukan defensif, membela diri terhadap ofensif gagasan sosialisme yang baru tampil. Kehancuran Komune Paris, dan keambrukan URSS serta berbagai negara sosialis lainnya di Eropa, dibantainya kaum komunis Indonesia tahun 1965-1966 adalah kegagalan sementara dari gerakan sosialisme dan komunisme dunia. Ini bukanlah menunjukkan bangkrutnya gagasan merobah dunia yang dipaparkan Manifes Partai Komunis, bukanlah bangkrutnya materialisme historis yang jadi filsafat Marxisme.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Lahirnya berbagai negara nasional di Asia dan Afrika sehabis Perang Dunia kedua, telah menunjukkan ambruknya sistim imperialisme. Kekalahan Amerika dalam Perang Korea yang mengorbankan 57.120 pasukan AS terbunuh dan luka-luka dan Perang Vietnam yang mengorbankan 40.000 tentara AS terbunuh dan hampir 4000 kapal terbang AS musnah dengan menelan biaya 136 milyar dollar AS menunjukkan, bahwa kekuatan militer yang canggih pun tak bisa membendung perkembangan komunisme di Asia Timur dan Asia Tenggara. Invasi bersenjata dikomandoi CIA di Playa Giron tahun 1961 menunjukkan kegagalan memalukan dari operasi CIA. Blokade selama hampir setengah abad terhadap Kuba yang dijalankan Amerika Serikat mendemonstrasikan kegagalan politik Amerika membasmi pemerintah revolusioner Kuba. Merosotnya kejayaan Inggeris Raya dari imperium yang menguasai dunia sampai awal abad ke-XX menjadi kini tinggal kekuasaan United Kingdom di pulau England menunjukkan kebangkrutan sistim imperialisme Inggeris. Dalam satu setengah abad, jelas jemelas dunia sudah berobah banyak. Tapi perobahan ini masih jauh dari tuntas. Imperialisme yang merajai dunia sampai pertengahan abad ke-XX, kini berobah jadi neo-kolonialisme. Neo-kolonialisme lebih jahat ketimbang imperialisme, karena penghisapan dijalankan liwat penguasa-penguasa setempat, hingga rakyat yang ditindas tidak berhadapan langsung dengan burjuasi asing, tetapi dengan burjuasi negerinya sendiri. Neo-kolonialisme yang dikomandoi Amerika Serikatlah yang memainkan peranan dalam menggulingkan Bung Karno dan terjadinya pembantaian di Indonesia tahun 1965.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Usainya PERANG DINGIN bukanlah menunjukkan sistim demokrasi liberal lebih unggul dari sosialisme. Sosialisme tidaklah punah di muka bumi. Tiongkok bersama Vietnam, Korea Utara dan Kuba bertahan membela sistim sosialisme. Tiongkok dengan tegas berkali-kali menyatakan, bahwa pembangunan sosialisme berkepribadian Tiongkok dilakukan dengan jalan damai, Tiongkok membutuhkan perdamaian dunia demi pembangunan ekonominya. Boleh dikatakan, kini gagasan Lenin memenangkan sosialisme atas kapitalisme liwat perlombaan secara damai, sedang berlangsung dan berada dalam ujian. Berkenankah burjuasi internasional yang dikepalai Amerika Serikat menempuh jalan damai, berlomba dan bersaing dengan gagasan sosialisme dalam koeksistensi secara damai ?.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Indonesia yang sudah empat dasawarsa dikuasai kediktatoran militeris orba, jadi dirundung malapetaka pembodohan, hingga kita kini hidup di Zaman Edan, zaman jahiliyah. Begitu edannya zaman kita, hingga terjadilah “sang pembunuh dengan bangga menyatakan memberi maaf kepada si terbunuh”, “sang pengkhianat Panca Sila menuduh lawannya mengkhianati Panca Sila” ! Jelas sekali, jargon-jargon politik orba adalah jargon-jargon yang anti demokrasi, yang fasistis. Menjadikan Panca Sila “satu-satunya asas bernegara, berbangsa dan bermasyarakat “, menjadikan Panca Sila “sumber dari segala sumber” adalah bertentangan dengan ajaran Bung Karno, bahwa Panca Sila adalah dasar negara.. Putusan-putusan seminar ke-II Angkatan Darat yang melahirkan doktrin Tri Ubaya Shakti, gagasan Dwi-fungsi ABRI yang anti-demokrasi, yang mengharuskan penggantian istilah Tionghoa dengan Cina bertujuan membangkitkan kebencian atas warga negara suku Tionghoa, pembantaian dan pemenjaraan jutaan warganegara tak bersalah tanpa diadili adalah pelanggaran hak-hak asasi manusia yang tak ada bandingannya dalam sejarah. Sesudah ambruknya URSS, anti Tiongkok merupakan benang merah dari the policy of containment Amerika. Dalam strateginya membendung komunisme dunia, kaum kanan Amerika Serikat secara tangguh sampai kini masih menggalakkan terus gagasan adanya “ancaman Tiongkok”. Inilah mentalitas PERANG DINGIN yang masih gentayangan, walaupun PERANG DINGIN dinyatakan sudah usai.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Politik orba terhadap Tiongkok dibawah kekuasaan Soeharto adalah sesungguhnya mengabdi pada realisasi the policy of containment di Indonesia, realisasi politik pembendungan komunisme, adalah pelaksanaan strategi PERANG DINGIN. Kebijaksanaan orba berkembang sampai melarang penggunaan bahasa dan aksara Tionghoa, mengharuskan mengganti istilah Tionghoa dengan kata Cina demi membangkitkan kebencian pada suku Tionghoa, melarang sekolah-sekolah dan surat-surat kabar berbahasa Tionghoa, melarang rakyat melangsungkan pesta Hari Raya Imlek, bahkan menggalakkan penggantian nama Tionghoa dengan nama Indonesia. Tak bisa diartikan lain, bahwa ini adalah politik rasialis anti demokrasi yang fasistis.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Dengan melaksanakan pembasmian kaum komunis dan Sukarnois, Soeharto dan kaum kanan Angkatan Darat telah menjadi eksekutor, pelaksana tangguh dari the policy of containment di Indonesia. Di bawah kekuasaan orba Soeharto terbinalah zaman jahiliyah, zaman pembodohan, ZAMAN EDAN. Dengan cara pembodohan, cara propaganda a la Goebels , berlangsung pemalsuan sejarah. Panca Sila bukan lagi jadi alat pemersatu bangsa, tapi jadi alat pentungan membasmi lawan politik orba dengan menggunakan tuduhan “anti-Panca Sila” atau “pengkhianatan atas Panca Sila”. Yang melawan rezim orba dituduh ”anti-Panca Sila” atau “mengkhianati Panca Sila”. Semboyan ancaman tentang “bahaya laten komunisme” pun digalakkan. “Pengkhianatan atas Panca Sila” dan “awas bahaya laten komunisme” adalah senjata orba membangkitkan histeria anti-komunisme. Walaupun Soeharto sudah lengser, mentalitas PERANG DINGIN itu kini masih bersimaharajalela. Dan kita kian terjerumus kedalam zaman jahiliah, ZAMAN EDAN.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Kenapa bisa berlangsung pembodohan dalam waktu sekian lama ? Kuncinya adalah: dicabutnya kebebasan rakyat untuk berfikir dan bersuara. Disamping itu telah dipaksakan cara berfikir yang tak ilmiah. Kebenaran tidak didasarkan pada kenyataan, pada hasil pemikiran rakyat, tapi didasarkan pada pandangan penguasa. Penguasa orba lah yang menguasai kebenaran. Hitam atau putih tergantung pada kemauan penguasa orba. Selama berkuasanya rezim orba, berkumandanglah ucapan-ucapan yang tidak masuk akal seperti: “Bung Karno adalah dalang G30S”, “Bung Karno adalah Gestapu Agung”, “Bung Karno menyelewengkan Panca Sila dengan gagasan Nasakom”, “Panca Sila bukanlah hasil galian Bung Karno”, karena itu peringatan 1 Juni sebagai hari lahirnya Panca Sila adalah dilarang, Panca Sila dikeramatkan hingga ada “Hari kesaktian Panca Sila”, “PKI adalah dalang G30S”, “PKI memberontak menggulingkan pemerintah”, “para anggota Gerwani berpesta-pora menyiksa para jenderal korban G30S”, “mata jenderal dicungkil, kemaluannya dipotong”….. dan sebagainya. Semua ini menjadi bahasa kekuasaan, yang membangkitkan histeria anti-komunisme. Pendapat yang menentang kebohongan ini, dinyatakan “anti Panca Sila”. Sejarah pun ditentukan berdasarkan pandangan orba. Kediktatoran orba memaksa rakyat menerima segala yang ditetapkan penguasa. Pandangan yang berbeda dengan pandangan orba dihukum sebagai “menentang Panca Sila”. Dan sebentar-sebentar didengungkan semboyan “bahaya laten komunisme sedang mengancam”. Rakyat hidup dalam suasana ketakutan dan terus-menerus terancam. Tak diperbolehkan bersuara yang berbeda dengan suara orba. Maka pembodohan dan jahiliyah melanda bangsa Indonesia.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Metode berfikir yang salah ikut menyumbang bagi menjalarnya pembodohan. Banyak terjadi orang berfikir bagaikan “meributkan ranting tanpa meneliti pohon”, “meributkan pohon tanpa meneliti hutan”, “meributkan Aidit tanpa meneliti NSC AS – Politbiro PERANG DINGIN – yang sudah memutuskan untuk menyingkirkan Sukarno”. Metode berfikir seperti ini pada hakekatnya adalah eklektisisme. Menggunakan eklektisisme berarti berfikir dengan bergumul pada satu kenyataan yang merupakan bahagian dari satu objek yang besar, merangkai-rangkai berbagai kenyataan, tapi melupakan kenyataan pokok yang hakiki, terus mengambil kesimpulan sesuai dengan selera si penyimpul. Eklektisisme yang menyesatkan itu sering terdapat dalam banyak hal, terutama dalam meneliti peristiwa Indonesia 1965. Peristiwa Indonesia 1965 adalah peristiwa politik. Inti masalah dalam peristiwa Indonesia tahun 1965 adalah soal penggulingan Bung Karno, sebagaimana diputuskan oleh NSC Amerika Serikat. Pemusatan riset seharusnya ditujukan pada NSC Amerika Serikat, tentang tindak tanduknya terhadap Indonesia, terutama terhadap Bung Karno. Pembantaian sekian banyak manusia Indonesia yang merupakan pelanggaran hak-hak asasi manusia yang paling biadab dalam sejarah adalah akibat dari keputusan NSC itu. Dengan eklektisisme tidaklah mungkin dicapai pembongkaran dalang kejahatan ini.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Eklektisisme berguna untuk pemutar-balikkan kenyataan, untuk pembohongan, yang bermuara pada hasutan dan fitnah. Pakai eklektisisme sering disebarkan tuduhan, bahwa PKI telah mengkhianati bangsa dengan tiga kali melakukan pemberontakan. Tuduhan ini muncul dengan pembeberan sejumlah fakta tanpa hubungan dialektis, dan berakhir dengan fitnah tersebut. Walaupun banyak tulisan membantahnya, masih sering diuar-uarkan fitnah ini. Pemberontakan tahun 1926 adalah terhadap kolonialisme Belanda. Tak ada sedikit pun berbau mengkhianati bangsa. Justru ini adalah sikap patriotik, memelopori pembelaan terhadap bangsa Indonesia yang dijajah, memelopori perjuangan kemerdekaan bangsa. Peristiwa Madiun tahun 1948 bukanlah pemberontakan terhadap pemerintah Indonesia. Latar belakangnya adalah Red Drive Proposals yang didalangi Amerika Serikat untuk menyingkirkan kekuatan kiri terutama komunis dari pemerintah Indonesia. Dalam peristiwa ini hampir semua pimpinan utama PKI terbunuh, termasuk Musso dan mantan Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin. Ini adalah permulaan Perang Dingin melanda Indonesia. PKI telah jadi korban perdana Perang Dingin.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Peristiwa tahun 1965 tidak bisa dinyatakan sebagai pemberontakan PKI terhadap negara Indonesia. PKI mendukung, bahkan ikut dalam pemerintahan Sukarno. Justru PKI lah yang menginginkan berlangsungnya pemilihan umum, tetapi dijegal oleh kekuatan kanan Angkatan Darat dengan dipelopori A.H.Nasution. Untuk maju ke kedudukan memerintah, PKI tidak berkepentingan menggulingkan Pemerintah Sukarno, lebih-lebih lagi melakukan pemberontakan. Ketakutan akan menangnya PKI jika berlangsung pemilihan umum mendorong Amerika Serikat untuk lebih cepat menggulingkan Bung Karno. Dalam Buku Putih Koptamtib tahun 1978, dideretkan fakta-fakta sejarah yang sengaja dipilih, dengan meninggalkan fakta-fakta Amerika Serikat berusaha menggulingkan Bung Karno. Ini adalah contoh penggunaan eklektisisme untuk memfitnah PKI sebagai dalang G30S dalam rangka merebut kekuasaan negara. Dengan metodologi eklektisisme yang menyesatkan itu pula Nugroho Notosusanto menerangkan, bahwa Panca Sila bukanlah hasil galian Bung Karno. Dengan demikian, Panca Sila bisa dipisahkan dari Bung Karno. Pancasila jadi bisa diinterpretasi menurut kemauan rezim orba.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Fitnah yang lebih tidak masuk akal lagi adalah tuduhan PKI mengkhianati Panca Sila yang termasuk sering diuar-uarkan penguasa orba untuk mengobarkan histeria anti komunis. Dalam sejarah, justru PKI lah, bersama dengan PNI yang dengan tangguh membela Panca Sila sebagai dasar negara, sampai berlangsunngnya dua kali pemungutan suara dalam sidang Konstituante di Bandung. Demikian edannya zaman orba, hingga mereka yang menentang Panca Sila dalam Konstituante ini jadi penyangga kekuasaan orba, dan menuduh PKI anti Pancasila. Demikianlah, Indonesia dilanda pembodohan, dilanda jahiliyah.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Reformasi sesudah lengsernya Soeharto menghasilkan kebebasan menulis. Mulut yang selama ini dirajut jadi terbuka. Bermunculanlah tulisan-tulisan membela hak-hak asasi manusia, mengutuk kebiadaban rezim orba. Tapi operasi intel yang merupakan salah satu ciri kediktatoran militer giat beraksi membela orba. Perang syaraf, rekayasa-rekayasa yang dikobarkan operasi intel menghasilkan disinformasi dalam masyarakat. Intrig dan fitnah berkembang biak. Untuk memalsu sejarah, ditampilkan secara rekayasa berbagai saksi yang orang dan ucapannya sulit dicek kebenarannya.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Masalah sejarah yang selama ini dipalsukan orba, jadi sasaran kritik. Sebaliknya, banyak pula muncul tulisan-tulisan yang tidak pasti kebenarannya, yang tidak berdasarkan kenyataan, memanipulasi peristiwa sejarah. Sementara penulis memanipulasi sejarah dengan berselimut kata-kata agaknya, barangkali, bukan tidak mungkin, siapa tahu, ada perkiraan, kira-kira, bisa dipercaya, ada yang mengatakan, diduga keras, boleh jadi, sudah bisa ditebak, tampaknya, entah benar entah tidak.. Dengan didahului kata-kata“entah benar entah tidak”, menghadapi Peristiwa Madiun, Hatta sebagai Perdana Menteri sudah secara kongkrit menyatakan, bahwa di Madiun telah didirikan Negara Sovyet. Betapa pun jelas jemelasnya pembohongan, sang penulis atau pembicara bisa terlindung jadi tak bersalah, karena bertudung kata-kata bersayap itu.

seperti di kutip dari https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Nenek moyang kita mengajarkan, bahwa “Pikir itu pelita hati”. Artinya, dengan berfikir hati pun terang. Tanpa berfikir, gelaplah dunia. Dalam kegelapan berlangsunglah pembodohan. Terbinalah zaman jahiliyah. Untuk melawan pembodohan, haruslah merebut dan membela kebebasan berfikir. Lenyapkan kebiasaan yang serba gampang percaya. Otak harus digunakan untuk berfikir. Untuk bisa berfikir tepat, diperlukan sikap kritis serta cara berfikir yang tepat. Inilah satu-satunya jalan untuk melawan pembodohan. Maka diperlukan penggalakan cara berfikir yang ilmiah, yaitu mencari kebenaran dari kenyataan, segala-galanya bertolak dari kenyataan. Inilah materialisme. Dan berfikir bukanlah hanya untuk mengenal serta memahami keadaan atau dunia. Tapi yang lebih penting adalah untuk merobah keadaan dan merobah dunia.


Baca juga :

“Pemerintahan Presiden Joko Widodo telah memulai reformasi kebijakan untuk memperbaiki iklim investasi. Kami berharap pemerintah dapat melanjutkan upaya ini dengan mengeluarkan berbagai kebijakan yang mempercepat pembangunan infrastruktur, mengurangi biaya logistik, dan memperkuat proses implementasi anggaran,” kata Deputy Country Director ADB Indonesia, Edimon Ginting. “Terdapat sejumlah risiko, baik internal seperti pendapatan yang lebih rendah, dan eksternal seperti potensi melemahnya pertumbuhan mitra perdagangan utama serta kenaikan suku bunga Amerika Serikat, namun pemerintah telah memiliki berbagai persiapan untuk mengelola risiko tersebut.”

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Menghidupkan kembali sektor manufaktur adalah salah satu tantangan kebijakan terbesar bagi Indonesia setelah commodity boom memudar. Indonesia memerlukan sumber pertumbuhan ekspor baru untuk mengembalikan pertumbuhan PDB di atas 6%. Meski demikian, sektor manufaktur masih terkendala oleh berbagai faktor, antara lain infrastruktur yang semakin tidak memadai, ketidakpastian aturan, dan biaya logistik yang tinggi. Terkait biaya logistik, pemerintah berencana untuk mengatasinya dengan berinvestasi besar-besaran pada infrastruktur pelabuhan dan transportasi, serta memperbaiki iklim investasi dengan layanan perizinan investasi satu atap.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

By now, every Brazil investor knows about the corruption scandal involving politicians, privately held construction companies and oil major Petrobras . Moody’s MCO +2.17% stripped it of investment grade status on Feb. 24. It’s destroyed investor sentiment in the company, the nation’s biggest. Petrobras was also the largest recipient of foreign direct investment. But with the company dialing down its expansion plans, fewer dollars will be flowing into Brazil. Last month, Seadrill announced it was taking a $1 billion Petrobras order of its books.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Menurut Ben, hasil survey ini bakal memperkaya pemahaman tentang kelas menengah di kawasan Asia sebaga bahan untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka. Khusus kondisi di Indonesia yang masyarakat kelas menengahnya punya keyakinan yang positif, AIA bakal meningkatkan ketersediaan perencana finansial yang tepat melalui agen dan Bancassurance Consultant premier. “Kami menyediakan berbagai produk yang kami rancang khusus untuk memenuhi kebutuhan tabungan dan proteksi jangka panjang masyarakat kelas menengah,” ujarnya.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Moody’s views were presented at Moody’s 2015 Outlook for the Indonesian sovereign, banking and corporates held today in Jakarta. As part of this 2015 outlook series, Moody’s hosted a briefing on Malaysian sovereign, banking and corporates held on 4 February in Kuala Lumpur, and on Asia Pacific banks, sovereigns, and corporates in Hong Kong and Singapore in January. In addition, there will be briefings later in February in Australia on its banking, infrastructure and corporate sectors, and in Japan on the insurance sector.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Dari laporan World Bank yang bertajuk “Doing Business 2015”, Rabu (28/1/2015), ada beberapa poin yang menjadi indikator penilaian yang dikeluarkan oleh World Bank. Poin tersebut, di antaranya kemudahan perizinan konstruksi, ketersediaan energi listrik, dan kemudahan dalam kepemilikan properti. Selain itu juga ada kemudahan dalam pembangunan usaha, perlindungan terhadap pemegang saham, dan tarif pajak yang wajar. Dalam penilaiannya, World Bank mengacu pada sebuah istilah yang disebut dengan skor DTF.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

JAKARTA okezone  – Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) mencatat untuk pertama kalinya negara China masuk dalam lima besar investor di Indonesia. Realisasi triwulan IV-2014 China berhasil menduduki peringkat ke-4 dengan nilai investasi USD500 juta.”Untuk pertama kalinya muncul Tiongkok dalam lima besar di triwulan ini,” kata Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (28/1/2015).Azhar menjelaskan, hal tersebut dikarenakan China sedang melakukan proyek besar pada akhir 2014. Sehingga, nilai investasi yang disumbangkan juga cukup besar.”Ini menarik karena beberapa proyek China sudah terealisasi dan cukup besar. Satu semen di Kalimantan Selatan, satu listrik di daerah Sumatera,” kata Azhar.Menurut Azhar, nantinya diharapkan investor China semakin lama akan semakin tinggi. Terlebih lagi, diperkirakan China akan melakukan investasi lagi di daerah Sulawesi.”Di Sulawesi juga nanti banyak investor China. Kita mengharapkan investor China semakin lama semakin tinggi,” kata dia.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Menurut dia, pembangunan akan dibagi ke dalam tiga tahapan. Pembangunan tahapan pertama dengan luas lahan 100 hektare dengan kapasitas produksi 600.000 ton, pembangunan tahapan pertama diharapkan rampung akhir tahun 2015. Pembangunan tahapan kedua dengan luas lahan 200 hektare dengan kapasitas produksi 1,2 juta ton, pembangunan tahapan kedua diharapkan rampung akhir tahun 2017. Sedangkan, pembangunan tahapan ketiga dengan luas lahan 200 hektare dengan kapasitas produksi 1,2 juta ton, pembangunan tahapan ketiga diharapkan rampung akhir tahun 2019.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

TEMPO.CO , Jakarta – Kelangkaan bahan bakar minyak di berbagai daerah rupanya tak hanya menimpa produk bersubsidi, tapi juga nonsubsidi. Salah seorang pengendara di Tegal, Jawa Tengah, Teguh Iman Santoso, 25 tahun, mengeluhkan sulitnya mencari BBM sejak kemarin. Karyawan perusahaan badan usaha milik negara itu mengaku sudah berkeliling ke sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di sekitar tempat tinggalnya, namun tak mendapatkan keinginannya. “Tidak cuma Premium, Pertamax juga tidak ada,” katanya kepada Tempo , Senin, 25 Agustus 2014.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Indonesia recorded a trade deficit of US$305mn in June 2014, lower than consensus of US$387mn. It had turned around to a slight surplus of US$69.9mn in May. In 1H14, the trade shortfall reached US$1.13bn,compared to US$3.31bn in 1H13. Exports and imports rose on both mom and yoy basis. In June, Indonesia exported US$15.42bn of goods, up 4% mom and 4.45% yoy. A combination of rising demand and higher prices likely contributed to that increase. In addition, we saw an mom increase in the prices of Indonesia’s crude oil. As for imports, the statistics office reported a 6.44% mom increase in June to US$15.72bn. On a yoy basis, the rise was 0.54%.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Guru besar ekonomi UGM Prof Sri Adiningsih menilai bahwa pertumbuhan ekonomi yang melambat pada kuartal II-2014 lebih disebabkan karena investor yang wait and see karena adanya pemilihan presiden (pilpres). “Pemilihan presiden pasti memberikan dampak terhadap investor yang melakukan wait and see . Namun soal pilpres belum tuntas karena masih ada kubu yang melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Kalau belum berujung, maka investor akan jauh lebih lama menunggunya sampai ada kepastian presiden baru,” ujarnya, kemarin.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Indonesia, as the biggest economy in Southeast Asia, can take advantage of freer trade under the AEC. Its automotive sector can assemble and ship cars locally and internationally, rivaling Thailand’s. Japanese vehicle makers have been increasing their investments in Indonesia recently, recognizing that demand for cars, trucks and motorcycles remains strong. The nation’s youthful population and cheap labor costs make it an attractive investment destination for such overseas companies as Foxconn Technology Group, which makes iPhones and iPads for Apple.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Indonesia, with a population of more than 250 million people, faces many challenges in order to move up into developed-nation status. Recently the World Bank designated Indonesia as the 10th biggest economy in the world in terms of purchasing power parity. Yet the bank’s own data from 2011 suggest that poverty remains a problem, with 43 percent of the population living on less than $2 a day. More and more Indonesians, though, will break into middle-income status as people increasingly move to cities from rural areas, leaving farming jobs for employment in the manufacturing and services sectors.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

“Indonesia has the key ingredients, but you have to put these ingredients together and up your game,” he said. “Many countries are coming to invest. We’ve seen massive interest from Japanese companies here, not just to sell here, but also to import from here. That’s why opening the market is a very important turning point, much like the European Union was a very important attraction for investors from America to invest in Europe. Before that, countries were competing with each other. Now you have a larger reach in market. There’s an alternative to investing in India or China.”

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

LAST year Indonesia was struck by the financial storm that pummelled emerging markets, earning itself a place among the so-called “fragile five” of the developing world. When in May the Federal Reserve began discussing plans to scale back its asset purchases, the prospect of higher yields in rich countries made investors reluctant to pour more money into emerging economies. Indonesia’s currency sank in value, along with those of other countries that had been prime destinations for rich-world cash.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

This year other emerging markets suffered a similar slump, caused by the Fed’s decision to go ahead with the mooted “taper”. Central banks in Turkey, India and South Africa have all hiked interest rates to defend their battered currencies. Yet Indonesia’s rupiah has rallied by 3.3% against the dollar—the most among major emerging-market currencies. Jakarta’s main stockmarket is trading close to four-month highs. And foreign funds have bought $1 billion more local bonds and shares this year than they have sold.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Indonesia appears to owe its turnaround to timing. It earned its spot among the fragile five thanks to its large current-account deficit, which widened to a record $10 billion, or 4.4% of GDP, last summer. But in August its central bank abandoned efforts to prop up its currency and allowed it to float, leading to a depreciation of about 14% in real, trade-weighted terms from May to now. The weaker rupiah made Indonesia’s exports cheaper in foreign markets and imports more costly. The deficit has since dropped by more than half, to $4 billion, or 2% of GDP, at the end of 2013. In December Indonesia recorded its biggest monthly trade surplus for two years; merchandise exports rose by 10.3% year-on-year (see chart).

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Other central banks waited too long to respond to market turmoil and then overreacted. Turkey raised rates by 5.5 percentage points in a single day, hoping to cow traders into laying down arms. Bank Indonesia had raised rates earlier, by contrast, and more gradually: enough to cool domestic demand but not enough to touch off a recession. The combination of higher rates and a cheaper currency nurtured a rebalancing. Despite slower consumption growth, annual GDP growth accelerated to 5.7% in the fourth quarter, boosted by exports. Indonesia no longer looks so fragile.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

On February 11th Indonesia’s parliament passed a new trade law giving authorities far-reaching powers to restrict exports and imports. Its dubious aim is to protect local producers from foreign competition while developing higher-value industries. Bayu Krisnamurthi, the deputy trade minister, bragged that it showed that Indonesia was “not adopting a free market”. The law is only the latest in a series of ill-considered trade policies, which includes a recent ban on exports of mineral ores that puts at risk some $5 billion a year in foreign-exchange receipts.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

The turn toward protectionism is linked to this year’s parliamentary and presidential elections—laissez-faire economics is unpopular in Indonesia. Yet with global capital in a fickle mood, governments cannot assume that markets will shrug off electioneering. Indonesia owes the striking turn of fortunes in its economic performance to rather orthodox economic policies. The central bank let market forces operate freely, allowing the rupiah to depreciate to the point where exports have become competitive again. If the authorities continue on their protectionist course they may convince investors that Indonesia remains fragile after all. And pushing the economy back into financial turmoil is unlikely to be a vote-winner.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

“Nanti kuartal II- 2014 jangan kaget current account nya defisitnya akan mengalami peningkatan. Tapi itu temporer karena nanti triwulan III dan IV akan turun, over all nya itu nanti akan pada kisaran bisa 2-2,5% itu sepanjang tahun 2014. Kita akan continue untuk terapkan beberapa policy yang kita buat kemarin untuk kurangi impor karena defisitnya masih diatas 3 %, tapi sampai situasinya itu sudah lebih stabil dalam kisaran 2-2,5 % baru nanti policy itu kita lihat lagi, baru kita evaluasi lagi,” pungkasnya.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Menerbitkan obligasi global berdenominasi dolar AS tahun ini, bahkan dalam denominasi rupiah sekalipun, memang berisiko. Dari sisi internal, fundamental ekonomi kita sedang menghadapi ujian berat, terutama dari defisit neraca perdagangan yang menyebabkan nilai tukar rupiah terus tertekan. Demi menyelamatkan rupiah yang terdepresiasi kelewat dalam, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terpaksa memperlambat laju pertumbuhan ekonomi dan sektor riil dengan menaikkan suku bunga guna mengerem konsumsi. Tahun ini, Indonesia juga bakal ‘dipanaskan’ oleh ingar-bingar Pemilu 2014 yang bisa menyebabkan risiko negara (country risk) Indonesia naik.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Kita juga maklum bahwa menerbitkan obligasi global saat ini adalah keputusan cerdik. Selagi ekonomi AS belum pulih dan para pelaku pasar masih galau terhadap prospek ekonomi dunia, kita perlu mencuri ‘start’. Dengan iming-iming kupon dan imbal hasil (yield) lebih atraktif, SUN RI tentu menjadi pilihan investasi yang menarik. Investor yang berpikir rasional bakal menjatuhkan pilihan pada SUN seri RI0124 dan RI0144 yang menawarkan kupon 5,875-6,750% dengan yield 5,950-6,850% ketimbang SUN AS yang mematok kupon 2,750-3,750 dengan yield di bawah 4% untuk tenor yang sama.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Kita percaya utang pemerintah yang mencapai 26% terhadap produk domestik bruto (PDB) masih terkelola dengan baik (manageable), apalagi rasionya jauh lebih rendah dibanding negara-negara lain. APBN juga masih terkelola secara hati-hati (prudent) dan berkesinambungan (sustainable) dengan defisit yang –lagi-lagi— jauh lebih kecil dari negara-negara lain. Itu sebabnya, utang pemerintah mendapat rating BBB- dengan prospek stable dari lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings, BB+ (stable) dari Standard and Poor’s/S&P, dan Baa3 (stable) dari Moody’s Investors Service.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Rupiah yang tak bertenaga akan membuat keropos sendi-sendi perekonomian nasional. Tingginya ketergantungan kita terhadap produk impor menjadikan ekonomi Indonesia rentan digoyang inflasi akibat kenaikan harga produk impor (imported inflation). Inilah yang antara lain memaksa BI berkali-kali menaikkan BI rate dan mengeluarkan berbagai instrumen moneter untuk menambah likuiditas dolar di dalam negeri —selain meredam inflasi. Ini pula yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi dan sektor riil seperti ‘dikorbankan’.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Pemerintah juga harus memperkuat fundamental industri nasional dengan membangun industri dasar dan industri barang modal. Langkah lain yang perlu ditempuh adalah mengurangi konsumsi BBM dan mengantisipasi crash industri tambang mineral sehubungan bakal dilarang atau dibatasinya ekspor bahan mineral. Di luar itu semua, pemerintah dan segenap komponen bangsa tentu harus bersama-sama menjaga agar Pemilu 2014 berlangsung aman, lancar, serta menghasilkan pemimpin unggul yang dapat membawa bangsa ini ke era gemah ripah loh jinawi.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Peran subsidi dalam mengatasi ketimpangan sosial sebetulnya belum jelas. Menurut IMF, rumah tangga berpendapatan lebih tinggi adalah pihak yang paling diuntungkan dari subsidi energi. Dengan demikian, subsidi ini justru meningkatkan ketimpangan sosial. Studi pemerintah Indonesia mendapati sekitar 80% bensin bersubsidi digunakan oleh keluarga kelas menengah yang memiliki mobil. Pemerintah bertekad membatasi penggunaan bensin bersubsidi untuk mobil pribadi, namun mengakui penerapan aturan ini masih sulit.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

TEMPO.CO, Jakarta – Pengusaha eksportir Indonesia belum merasakan dampak ekonomi dari terganggunya operasional pemerintah (shutdown) Amerika Serikat (AS), seiring belum juga disepakatinya anggaran Negeri Abang Sam tersebut oleh Kongres. “Sementara belum, sebagian besar kontrak-kontrak dengan AS jangka menengah panjang, per tiga bulan, enam bulan. Kalau kontrak garmen juga sifatnya pada musim-musim yang ada,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi, kepada Tempo, Rabu, 9 Oktober 2013.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Sementara itu, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Cooperation and Development/OECD) dalam laporan terbarunya yang dipublikasikan kemarin menyebutkan, Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi paling pesat di antara negara-negara utama Asia Tenggara dengan kisaran 6% per tahun pada periode 2014-2018. Selain itu, Indonesia berpotensi menjadi negara maju atau berpenghasilan tinggi dalam dalam 30 tahun mendatang, lebih lambat dari Tiongkok (13 tahun), namun lebih cepat dibandingkan India (46 tahun).

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Pemerintahan Amerika Serikat terhenti sementara akibat pembahasan anggaran yang mentok di tingkat kongres. Penghentian stimulus quantitative easing oleh bank sentral Amerika Serikat merupakan salah satu faktor penyebab guncangnya kondisi perekonomian di sejumlah negara berkembang termasuk Indonesia. Sejak rencana pencabutan stimulus diumumkan, pasar mulai khawatir akan adanya capital outflow atau arus modal keluar dalam jumlah besar. Kondisi ini menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar dan sempat membuat indeks harga saham anjlok.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Jika ada contoh mengonsumsi produk dalam negeri dari kalangan elite yang ada di pemerintahan dan legislatif, rakyat akan mengikuti. Apakah alas kaki, pakaian, ikan pinggang, mobil, dan handphone yang digunakan elite pemerintah dan legislatif adalah produk dalam negeri? Jika ingin memberikan dampak yang besar, kita tantang para menteri, gubernur, bupati, dan anggota DPR, DPRD I, dan DPRD II menggunakan mobil murah dan ramah lingkungan. Pengggunaan low cost and green car (LCGC) itu sekaligus menurunkan pemakaian BBM.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Pada tahun 2015, ekonomi Indonesia kembali bangkit seiring dengan perbaikan ekonomi dunia. Tahun depan, kondisi ekonomi tidak sebaik tahun ini, namun tetap relatif lebih baik dari rata-rata negara pasar berkembang lainnya. Pemilu legislatif dan pemilu presiden tahun depan diperkirakan akan menambah likuiditas pada perekonomian meski tidak digunakan untuk belanja modal. Paling tidak, belanja masyarakat akan meningkat dan akan sangat positif bagi perekonomian jika gagasan “buying Indonesian” menjadi kenyataan.

seperti di kutip dari https://iaminvestor.wordpress.com

Namun, ada satu hal yang pasti. Situasi seperti ini sesungguhnya merupakan saat yang tepat untuk menguji kekuatan sebuah business model. Inilah saatnya yang tepat untuk keluar dari perangkap-perangkap lama karena di “titik belok” seperti saat inilah “orang-orang di dalam” bisa diajak bicara untuk “keluar”. Dan dalam peradaban “transient” seperti saat ini, sesungguhnya bukan konteks ekonomi-politiklah yang harus ditakuti pengusaha, melainkan “perubahan” yang muncul tiba-tiba dari pendatang-pendatang baru atau pemain-pemain di luar industri yang mengubah seluruh peta usaha. Mereka datang dengan bisnis model baru yang lebih fit dengan kemauan konsumen dan perubahan business landscape.

PDIP menambah kekuatan dukungan ke Presiden Joko Widodo yang diusung sebagai capres 2019. PDIP menjadi partai kelima yang memberikan dukungan untuk Jokowi. “Dengan ini saya nyatakan calon presiden dari PDI Perjuangan, Ir Joko Widodo, Metal! Metal! Pasti Menang Total,” teriak Megawati seperti dilihat detikcom dari akun Twitter PDI Perjuangan, Jumat (23/2/2018). Sebelum PDIP, sudah ada empat partai, yaitu Golkar, NasDem, PPP, dan Hanura yang telah mendeklarasikan dukungannya. Sementara itu partai koalisi pemerintah lainnya seperti PKB, dan PAN masih belum mendeklarasikan dukungannya. Dengan dukungan lima partai tersebut, Jokowi sudah punya modal maju di Pilpres 2019. Hal ini sesuai dengan persyaratan maju pilpres di UU Pemilu, yakni syarat presidential threshold (PT) atau syarat parpol/gabungan parpol bisa mengusung capres adalah memiliki 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara sah nasional dalam pemilu sebelumnya. Untuk Pemilu 2019, hasil Pemilu 2014-lah yang menjadi dasarnya. Pada Pemilu 2014, Golkar meraih 14,75 persen suara, NasDem 6,72 persen suara, PPP 6,53 persen suara, dan Hanura 5,26 persen suara. Sementara itu, PDIP, yang merupakan partai pemenang Pemilu 2014, memiliki 18,95 persen. Dengan begitu, total dukungan yang sudah dikantongi Jokowi saat ini sebesar 52,21 persen. Dukungan kepada Jokowi itu belum termasuk dari partai-partai baru yakni Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Perindo dan PKPI yang merupakan partai di luar DPR. Hanya saja, PKPI hingga saat ini masih berjuang untuk menjadi partai peserta pemilu 2019 setelah dinyatakan tidak lolos oleh KPU. Selain Jokowi, capres lain yang digadang-gadang untuk maju adalah Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. PKS sudah memberi sinyal siap bergandengan tangan lagi dengan Gerindra di Pilpres 2019. PAN yang merupakan partai koalisi pemerintah, juga diprediksi akan bergabung dengan oposisi. Bahkan PAN pula yang membuka wacana soal ‘Koalisi 212’ yang merupakan hasil penggabungan nomor urut PAN di Pemilu 2019, yaitu 12, dan nomor urut 2 milik Gerindra. Berkaca pada Pilpres 2014 lalu, Gerindra meraih 11,81 persen suara, kemudian PKS 6,79 persen suara, dan PAN 7,59 persen suara. Jika koalisi ini benar terbentuk maka jumlah dukungan yang sudah dikantongi Prabowo adalah 26,19 persen. Menurut UU Pemilu, dengan jumlah ini, Prabowo juga sudah mendapatkan tiket untuk maju sebagai capres. Dengan niat Gerindra kembali mengusung Prabowo Subianto, terbuka peluang duel Jokowi versus Prabowo terulang pada Pilpres 2019. Partai Demokrat, yang selalu menyebut berada di tengah, tampaknya sulit membuat poros baru. Sementara itu, PKB dan Demokrat yang belum menentukan sikap memiliki total kekuatan sekitar 19,23 persen. Dengan rincian PKB sebesar 9,04 persen, dan Demokrat sebesar 10,19 persen suara. Jika kedua partai ini merapat ke oposisi, jumlah dukungan suara untuk Prabowo pun masih belum bisa mengalahkan Jokowi. Meski begitu Partai Gerindra tetap optimistis untuk menang. “Nanti di Hambalang, saya undang kalian. Di situ kalian akan dengar pidato saya, hati saya sesungguhnya, keresahan saya yang sesungguhnya, kesedihan saya yang sesungguhnya!” ucap Prabowo di hadapan kader Gerindra.

DPR mengetok palu ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold di UU Penyelenggaraan Pemilu sebesar 20-25 persen. Ketua Harian DPP Golkar Nurdin Halid mengatakan dalam Pilpres 2019 belum tentu Joko Widodo (Jokowi) akan kembali bertarung dengan Ketum Gerindra Prabowo Subianto. “Wah itu belum tentu. Kan dengan ambang batas 25 persen itu kan bisa 3-4 calon, tidak bisa dikatakan itu (seperti) pertarungan Pak Jokowi dan Pak Prabowo,” ujar Nurdin di kantor DPP Golkar, Jalan Neli Murni, Slipi, Jakarta Barat, Jumat (21/7/2017). Nurdin menyebut kemungkinan Jokowi vs Prabowo itu sangat dipengaruhi dinamika partai politik. “Itu tergantung nanti dinamika di partai politik,” kata Nurdin. Seperti diketahui, paripurna DPR telah mengesahkan UU Pemilu dengan opsi paket A, yakni presidential threshold 20-25 persen,parliamentary threshold 4 persen, sistem pemilu terbuka, dapil magnitude DPR 3-10, dan metode konversi suara sainte lague murni. Keputusan itu diambil secara bulat oleh 6 fraksi di DPR yakni, PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, Hanura, PPP. Sementara sebanyak 4 fraksi yakni Gerindra, PKS, PAN dan Demokrat memilih walk out dalam paripurna. Dengan ketentuan presidential threshold sebesar 20 persen itu, tak ada partai politik yang mengusung capres sendiri. Hingga saat ini, sudah ada tiga parpol seperti Golkar, Nasdem dan PPP, yang menyatakan dukungannya untuk Jokowi. Dukungan tiga parpol ini saja sudah cukup memberi tiket Jokowi sebagai capres 2019. Sementara itu, PKS sudah mensinyalir untuk mengusung Prabowo pada Pilpres 2019 mendatang.

Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto diprediksi bakal bertarung kembali di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Sebelumnya, tiga tahun lalu mereka bersaing di Pilpres 2014 dan selanjutnya mereka diprediksi akan bertemu di Pilpres 2019. Baik Jokowi dan Prabowo sudah mengantongi ‘tiket’ maju ke Pilpres 2019. Keduanya sama-sama telah mendapatkan dukungan di atas ambang batas pencapresan yakni 20 persen kursi di parlemen, sesuai Undang-undang Pemilu yang baru disahkan DPR pada Jumat dini hari pekan lalu Jokowi mendapatkan dukungan dari Golkar (16,25% kursi di DPR), NasDem (6,25% kursi) dan PPP (6,96%). Gabungan perolehan kursi DPR ketiga partai itu sebesar 29,46 persen. Adapun Prabowo Subianto mendapatkan dukungan dari Gerindra (13,04% kursi di DPR) dan PKS (7,14%). Total perolehan kursi dua partai ini di DPR adalah sebesar 20,18% kursi di DPR. Peneliti CSIS Arya Fernandes mengatakan melihat peta dukungan sementara itu, peluang Jokowi kembali bertarung di Pilpres melawan Prabowo cukup besar. Tentunya jika Gerindra bisa memastikan bahwa PKS mendukung Prabowo. “Jika Gerindra bisa memastikan dukungan PKS, maka peluang Jokowi lawan Prabowo di Pilpres 2019 cukup besar,” kata Arya saat berbincang dengan detikcom, Minggu malam (23/7/2017). Soal dukungan PKS ke Prabowo tersebut, Waketum Gerindra Fadli Zon memberikan penjelasan. Dia memang belum menyebutkan kepastian bahwa PKS akan berkoalisi di Pilpres 2019. Namun sejak Pilpres 2014 lalu hingga sekarang, kata Fadli, Gerindra dan PKS sudah terjalin dalam sejumlah kerja sama. Misalnya di Pilkada DKI. Bukan tidak mungkin koalisi itu akan terjalin ke Pilpres 2019. “Ini kan masih lama. Mungkin tahun depan (ada kepastian),” kata Fadli. “Insyaallah Pak Prabowo siap maju Pilpres 2019,” tambah Fadli.

Merdeka.com – Pertarungan Pemilu Presiden 2019 masih dua tahun lagi. Namun beberapa lembaga survei telah melakukan prediksi tentang keinginan masyarakat di pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Indo Barometer misalnya yang memanaskan pertarungan politik di Pilpres 2019. Kandidat terkuat, masih dipegang penuh oleh incumbent Joko Widodo alias Jokowi. Pesaing terberatnya, Prabowo Subianto malah tertinggal jauh dari sisi elektabilitas dan popularitas di survei. Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari mengatakan, Jokowi masih menjadi primadona untuk memimpin Indonesia. Sehingga jika pesta demokrasi diselenggarakan pada hari ini, maka mantan Wali Kota Solo itu akan kembali mendapatkan kepercayaan. “Jika head to head Jokowi versus Prabowo, maka Jokowi 50,2 persen dan Prabowo 28,8 persen. Belum putuskan atau tidak menjawab atau rahasia sekitar 20 persen,” kata Qodari di Hotel Grand Sahid Jaya, Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (22/3). Pada Pilpres 2014 lalu, Jokowi memang berhasil mengalahkan Prabowo, namun dengan perolehan suara yang tipis. Jokowi meraih 70.997.833 suara (53 persen) dan Prabowo 62.576.444 suara (46 persen). Partai Gerindra sendiri telah memastikan bakal kembali mengusung Prabowo di 2019. Partai pendukung Jokowi, seperti NasDem dan Hanura serta Golkar juga telah menyatakan dukungan untuk kembali mendukung Jokowi. Namun, soal dukungan masih dapat berubah, tergantung peta politik jelang pendaftaran calon 2019 nanti. Qodari mengungkapkan, ada lima barometer yang digunakan masyarakat untuk menentukan siapa Presiden mereka. Di mana hasil survei ini bukan merupakan jawaban pilihan, melainkan tanggapan langsung dari masyarakat tentang alasan memilih Presiden. “Lima alasan tertinggi memilih capres; dekat dengan rakyat 22,4 persen; terbukti kerjanya 18,8 persen; berjiwa sosial dan baik 9,3 persen; membawa perubahan 9,3 persen; dan berani 6,2 persen,” terangnya. Survei dilaksanakan di 34 provinsi di seluruh Indonesia pada 4-14 Maret 2017. Jumlah responden 1.200 orang, dengan margin of error plus minus 3 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Responden dipilih dengan metode multistage random sampling untuk menghasilkan responden yang mewakili seluruh populasi publik dewasa Indonesia. Pengumpulan data dengan wawancara tatap muka secara langsung dengan menggunakan kuesioner. Selain nama Jokowi dan Prabowo, ada juga nama baru seperti Basuki T Purnama (Ahok), Agus Harimurti Yudhoyono dan Ridwan Kamil. Mereka nama yang diyakini diinginkan rakyat untuk ikut bertarung di Pilpres 2019. “Calon presiden terkuat jika Pilpres hari ini adalah Jokowi dengan 45,6 persen jauh di atas Prabowo Subianto 9,8 persen, Basuki Tjahaja Purnama 8,7 persen; Ridwan Kamil 3,5 persen; Agus Harimurti Yudhoyono 2,5 persen,” katanya. Dia mengungkapkan, ada beberapa nama juga yang masuk dalam bursa tetapi tidak memiliki presentase tinggi. Seperti Anies Baswedan, Megawati Soekarnoputri, Gatot Nurmantyo dan Tommy Soeharto. Walaupun begitu, nama Agus tetap yang paling fenomenal. “Nama Agus ternyata muncul, ikut pentas daerah sudah ada di pentas nasional dan sudah masuk lima besar,” tutupnya. [rnd]

Merdeka.com – Polmark Indonesia melakukan survei terhadap elektabilitas bakal calon presiden di Pemilu 2019 mendatang. Hasilnya, Presiden Joko Widodo masih berada di urutan paling atas, kedua Prabowo Subianto dan ketiga Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dalam surveinya, Polmark menanyakan kepada responden, jika pemilu hari ini siapa yang akan dipilih. Hasilnya, Jokowi meraih 41,2 persen. Prabowo 21,0 persen dan Agus Harimurti jauh di bawah dengan 2,9 persen. Berikutnya Anies Baswedan 2,2 persen. “Survei ini bukan dibiayai Jokowi dan Prabowo dan bukan juga dibiayai mereka yang duduk di depan (narasumber). Lalu kemudian pihak yang kerja sama dengan kami tidak bersedia dipublikasikan. Dia hanya mempersilakan hasil survei kami dipublikasikan,” kata CEO PolMark Eep Saefulloh di kawasan SCBD, Jakarta , Minggu (22/10). Posisi kelima Hary Tanoesudibjo 2,0 persen. Keenam Gatot Nurmantyo 2,0 persen dan ketuju Jusuf Kalla 1,9 persen. Kedelapan Megawati 1,1 persen, kesembilan Rhoma Irama 1,0 persen dan Mahfud MD 0,6 persen.

Related Posts

Comments are closed.