Pengungkapan Kasus Muslim Cyber Army, Fadli: Upaya Matikan Demokrasi

Pengungkapan Kasus Muslim Cyber Army, Fadli: Upaya Matikan Demokrasi

Polisi mengungkap jaringan Muslim Cyber Army (MCA), yakni grup penyebar hoax di media sosial. Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai upaya pengungkapan ini terlihat seperti langkah mematikan demokrasi di Indonesia. “Ini adalah upaya untuk mematikan demokrasi. Harus betul-betul dicek apa yang dimaksud dengan hoax . Apakah ini bagian dari kebebasan berpendapat atau apa,” kata Fadli di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/3/2018). Menurut Fadli, pendapat-pendapat dari kelompok yang kontra terhadap pemerintah selalu diciduk kepolisian dalam waktu singkat. Fadli pun meminta polisi bersikap adil terhadap pihak yang menyebarkan hoax atau ujaran kebencian di media sosial. “Kalau misalnya memang pihak cyber police mau melakukan pemberantasan terhadap hoax , kita setuju tapi harus betul-betul adil,” ujarnya. “Ini yang disisir ini adalah selalu pihak yang dianggap menantang pemerintah. Sementara kalau yang menjelek-jelekan dari pihak yang nonpemerintah atau pihak oposisi itu tidak di- follow up sampai sekarang,” sambung Wakil Ketua Umum Gerindra itu. Seperti diketahui, MCA ini merupakan kelompok terstruktur yang menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian. Ada empat jaringan yang bekerja, yakni menampung, merencanakan, menyebar, dan menyerang kelompok lain agar hoax berhasil disebar kepada masyarakat. Bareskrim Polri menangkap enam tersangka pelaku lainnya, di antaranya ML (39) seorang karyawan yang ditangkap di Jakarta, RS (38) seorang karyawan yang ditangkap di Bali, RC yang ditangkap di Palu, Yus yang ditangkap di Sumedang, dan dosen UII TAW (40) yang ditangkap di Yogyakarta. Mereka dijerat Pasal 45A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan/atau Pasal juncto Pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau Pasal 33 UU ITE.

Polisi mengungkap jaringan Muslim Cyber Army (MCA), yakni grup penyebar hoax di media sosial. Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai upaya pengungkapan ini terlihat seperti langkah mematikan demokrasi di Indonesia. “Ini adalah upaya untuk mematikan demokrasi. Harus betul-betul dicek apa yang dimaksud dengan hoax . Apakah ini bagian dari kebebasan berpendapat atau apa,” kata Fadli di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/3/2018). Menurut Fadli, pendapat-pendapat dari kelompok yang kontra terhadap pemerintah selalu diciduk kepolisian dalam waktu singkat. Fadli pun meminta polisi bersikap adil terhadap pihak yang menyebarkan hoax atau ujaran kebencian di media sosial. “Kalau misalnya memang pihak cyber police mau melakukan pemberantasan terhadap hoax , kita setuju tapi harus betul-betul adil,” ujarnya. “Ini yang disisir ini adalah selalu pihak yang dianggap menantang pemerintah. Sementara kalau yang menjelek-jelekan dari pihak yang nonpemerintah atau pihak oposisi itu tidak di- follow up sampai sekarang,” sambung Wakil Ketua Umum Gerindra itu. Seperti diketahui, MCA ini merupakan kelompok terstruktur yang menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian. Ada empat jaringan yang bekerja, yakni menampung, merencanakan, menyebar, dan menyerang kelompok lain agar hoax berhasil disebar kepada masyarakat. Bareskrim Polri menangkap enam tersangka pelaku lainnya, di antaranya ML (39) seorang karyawan yang ditangkap di Jakarta, RS (38) seorang karyawan yang ditangkap di Bali, RC yang ditangkap di Palu, Yus yang ditangkap di Sumedang, dan dosen UII TAW (40) yang ditangkap di Yogyakarta. Mereka dijerat Pasal 45A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan/atau Pasal juncto Pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau Pasal 33 UU ITE.

Polri terus menelusuri siapa pihak yang memanfaatkan jasa Muslim Cyber Army MCA) untuk menyebarkan berita palsu ( hoax ) dan ujaran kebencian. Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan pihaknya akan membuktikan siapa yang memesan jasa MCA. “Masalah MCA masih didalami lagi karena akan ke luar negeri kita akan kerjasamakan dengan kepolisian Korea Selatan, mereka kan punya liaison officer (LO), LO itu atase polisi di Indonesia, sementara kita kan nggak punya melalui Interpol nanti,” ujar Setyo kepada wartawan di Mabes Polri, Jl. Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (1/3/2018). Menurut Setyo, jika anggota MCA mengaku hanya iseng dan tidak ada yang memesan, pihaknya pun akan tetap mendalami. “Jadi dibuktikan dulu bahwa dia mendapatkan order dari siapa, kalau memang ada perintah. Tapi kalau dia hanya sendiri mengunggah dan mengatakan ‘saya hanya iseng’, nah ini didalami lagi keisengannya seperti apa,” katanya. Setyo berpesan agar masyarakat berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Ia meminta masyarakat selalu bijak dalam mengunggah posting- an sesuatu. “Kita akan ungkap semua jadi ini pesan kepada publik yang menggunakan media sosial agar menggunakan media sosial secara bijak jangan lagi main ujaran kebencian, fitnah, apalagi provokasi,” jelas dia. Saat disinggung mengenai apakah pembentukan kelompok MCA ini memiliki motif menjelang pilkada, Setyo mengatakan ada indikasi terbentuknya kelompok ini dalam menjelang pilkada. “Pasti, pasti ada (berkaitan pilkada) ini kan Pak Kapolri mengingatkan bahwa awal tahun 2018 ini semua partai memanaskan mesinnya semua yang berkepentingan pemilukada memanaskan mesinnya, tapi jangan sampai overheat ,” ucap dia. Mengenai pelaku utama dan pemilik modal penyebar hoax kelompok MCA ini, Setyo mengatakan belum bisa berindikasi siapa pelakunya. Namun pihaknya telah menemukan beberapa orang yang berkaitan mengenai akun MCA. “Kalau saya bilang indikasi tentunya ada, data-data awal saya tidak bisa mengatakan indikasi atau tidak tapi fakta yang ada kita temukan beberapa orang terkena, beberapa antara satu akun dengan akun yang lain atau pemegang akun tersebut ternyata ada kaitannya. Nanti akan terungkap kalau sudah didalami dan dikorek lebih dalam oleh penyidik. Insyaallah ini nanti kita ungkap tuntas,” tutur Setyo.

RMOL. Setara Institute mengapresiasi Bareskrim Polri khususnya Direktorat Tindak Pidana Siber yang telah membongkar kelompok produsen dan penyebar konten hoax dan ujaran kebencian bernuansa SARA di dunia maya bernama Muslim Cyber Army (MCA). Saya mendorong tim Polri untuk membongkar kelompok ini dari aktor intelektual dan produsen, serta para pemesannya dari kelompok pemain politik , kata Ketua Setara Institute Hendardi, Kamis (1/3). Tim Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polr Baca tapak asal هذه الصفحة هي مجرد قاریء تلقائي للأخبار باستخدام خدمة الـ RSS و بأن نشر هذه الأخبار هنا لاتعني تأییدها علی الإطلاق.

Ilustrasi Kabar24.com , JAKARTA–Mabes Polri masih melakukan penyelidikan mendalam terkait tewasnya mantan Wakapolda Sumatera Utara Kombes Pol (Purn) Agus Samad. Almarhum meninggal di ‎kediaman pribadinya di Bukit Dieng Permai Blok MB/9 Kota Malang, Jawa Timur. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto ‎mengemukakan polisi melibatkan sejumlah pihak untuk mengusut tuntas kematian mantan Wakapolda yang masih misterius itu. Selain melibatkan  tim teknis puslabfor Polri, Polres Malang, dan Polda Jatim, juga diturunkan anjing pelacak untuk membantu pengusutan. “Saat ini tim penyidik Polres maupun Polda setempat ‎sedang menyelidiki kasus ini,” tutur Setyo, Rabu (28/2/2018). Dia optimistis dalam waktu dekat pengungkapan perkara tersebut akan menemukan titik terang dan pelaku dapat segera diringkus. Pasalnya, ujarnya, polisi sudah menemukan sejumlah barang bukti. “Kami sudah mendapatkan bukti-bukti yang signifikan. Semoga dalam waktu dekat ini bisa segera terungkap,” katanya. Seperti diketahui, mantan Wakapolda Sumatera Utara Kombes Pol (Purn) Agus Samad ditemukan tewas bersimbah darah. Pergelangan kaki korban yang berusia 71 tahun itu diketahui terikat tali rafia.

Related Posts

Comments are closed.