Pekerjaan Moslem Cyber Army: Dari Karyawan, PNS Dinkes hingga Dosen

Pekerjaan Moslem Cyber Army: Dari Karyawan, PNS Dinkes hingga Dosen

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri terus menelusuri jaringan pelaku penyebaran berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech) yang berasal dari kelompok Moslem Cyber Army (MCA). Setidaknya ada 14 orang ditangkap terkait kasus penyebaran hoax dan hate speech. Enam orang di antaranya berperan sebagai admin di grup WhatsApp ‘The Family MCA’. Keenam orang ini memiliki beragam jenis pekerjaan. Di antara mereka ada yang bekerja sebagai PNS di Dinas Kesehatan Pangkalpinang hingga menjadi dosen tak tetap di Universitas Islam Indonesia. “Pada pukul 09.15 WIB telah dilaksanakan penangkapan di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Berinisial RSD (34), pekerjaan PNS,” kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran lewat keterangan tertulisnya, Selasa (27/2) lalu. RSD ditangkap pada Senin (26/2) kemarin. Berdasarkan data yang dihimpun, pria ini diketahui bekerja sebagai pegawai Dinkes Pangkalpinang, tepatnya di Puskesmas Selindung. Selain RSD, ada TAW yang ditangkap personel Sat Reskrim Polres Majalengka dan Dit Reskrimum Polda Jabar di Jakarta Utara pada Senin (26/2) malam. Personel langsung menggiring TAW yang berprofesi sebagai dosen tersebut ke Polres Majalengka. Selanjutnya, TAW diserahkan ke Dittipid Siber Bareskrim agar penyelidikan dan penyidikan dilakukan secara terpusat. Selain RSD dan TAW, 4 pelaku lainnya yakni ML (39) seorang karyawan yang ditangkap di Jakarta, RS (38) seorang karyawan yang ditangkap di Bali, RC yang ditangkap di Palu, dan Yus yang ditangkap di Sumedang. Seperti diketahui, kelompok MCA ini merupakan kelompok terstruktur yang menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian. Ada 4 jaringan yang bekerja bertugas untuk menampung, merencanakan, menyebar dan menyerang kelompok lain agar hoaks berhasil disebar kepada masyarakat. Mereka dijerat pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan/atau pasal Jo pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau pasal 33 UU ITE.

Baca juga :

TAW (40), dosen di Yogyakarta yang juga anggota Muslim Cyber Army (MCA), ditangkap setelah menyebar berita hoax muazin Majalengka dibunuh orang gila. Lalu seperti apa kebenaran kasusnya? Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana mengatakan kasus pembunuhan terhadap korban bernama Bahro (ditulis TAW di Facebook Bahron) terjadi pada Kamis (15/2). Namun polisi memastikan Bahro bukan muazin dan pelaku bukan orang gila. “Iya, korban bukan seorang muazin dan pelakunya bukan orang gila,” ujar Umar via pesan singkat, Selasa (27/2/2018). Umar mengatakan Bahro merupakan warga biasa yang tinggal di Blok Rebo RT 003 RW 002 Desa Sindang, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka. Sementara itu, pelaku berjumlah tiga orang, yang merupakan pelaku tindak kriminal. Umar menjelaskan kasus pembunuhan Bahro berawal saat tiga pelaku, yaitu R (40), S (40), dan JJ (44), yang telah ditangkap, merampok kediaman Bahro. Para pelaku mendapat informasi bahwa di rumah tersebut terdapat barang berharga. “Tetapi, saat masuk ke dalam rumah, barang yang diincar tidak ditemukan. Karena sudah mencari tapi barang tidak ketemu, diduga tersangka meminta informasi dari pemilik rumah soal penyimpanan barang berharga itu,” tuturnya. Korban tidak memberitahukan tempat penyimpanan barang berharga tersebut. Hingga akhirnya pelaku menganiaya Bahro, yang mengakibatkan korban meninggal dunia di lokasi kejadian. “Korban meninggal dunia dengan luka di wajah, ada lilitan lakban hitam di leher, pergelangan tangan kanan dan kiri serta kaki korban,” katanya. “Jadi tidak ada, informasi yang disebarkan dan diviralkan TAW tidak sesuai alias hoax ,” kata Umar.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

TAW (40), dosen di Yogyakarta yang juga anggota Muslim Cyber Army (MCA), ditangkap setelah menyebar berita hoax muazin Majalengka dibunuh orang gila. Lalu seperti apa kebenaran kasusnya? Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana mengatakan kasus pembunuhan terhadap korban bernama Bahro (ditulis TAW di Facebook Bahron) terjadi pada Kamis (15/2). Namun polisi memastikan Bahro bukan muazin dan pelaku bukan orang gila. “Iya, korban bukan seorang muazin dan pelakunya bukan orang gila,” ujar Umar via pesan singkat, Selasa (27/2/2018). Umar mengatakan Bahro merupakan warga biasa yang tinggal di Blok Rebo RT 003 RW 002 Desa Sindang, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka. Sementara itu, pelaku berjumlah tiga orang, yang merupakan pelaku tindak kriminal. Umar menjelaskan kasus pembunuhan Bahro berawal saat tiga pelaku, yaitu R (40), S (40), dan JJ (44), yang telah ditangkap, merampok kediaman Bahro. Para pelaku mendapat informasi bahwa di rumah tersebut terdapat barang berharga. “Tetapi, saat masuk ke dalam rumah, barang yang diincar tidak ditemukan. Karena sudah mencari tapi barang tidak ketemu, diduga tersangka meminta informasi dari pemilik rumah soal penyimpanan barang berharga itu,” tuturnya. Korban tidak memberitahukan tempat penyimpanan barang berharga tersebut. Hingga akhirnya pelaku menganiaya Bahro, yang mengakibatkan korban meninggal dunia di lokasi kejadian. “Korban meninggal dunia dengan luka di wajah, ada lilitan lakban hitam di leher, pergelangan tangan kanan dan kiri serta kaki korban,” katanya. “Jadi tidak ada, informasi yang disebarkan dan diviralkan TAW tidak sesuai alias hoax ,” kata Umar.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

TAW (40), dosen di Yogyakarta yang juga anggota Muslim Cyber Army (MCA), ditangkap setelah menyebar berita hoax muazin Majalengka dibunuh orang gila. Lalu seperti apa kebenaran kasusnya? Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana mengatakan kasus pembunuhan terhadap korban bernama Bahro (ditulis TAW di Facebook Bahron) terjadi pada Kamis (15/2). Namun polisi memastikan Bahro bukan muazin dan pelaku bukan orang gila. “Iya, korban bukan seorang muazin dan pelakunya bukan orang gila,” ujar Umar via pesan singkat, Selasa (27/2/2018). Umar mengatakan Bahro merupakan warga biasa yang tinggal di Blok Rebo RT 003 RW 002 Desa Sindang, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka. Sementara itu, pelaku berjumlah tiga orang, yang merupakan pelaku tindak kriminal. Umar menjelaskan kasus pembunuhan Bahro berawal saat tiga pelaku, yaitu R (40), S (40), dan JJ (44), yang telah ditangkap, merampok kediaman Bahro. Para pelaku mendapat informasi bahwa di rumah tersebut terdapat barang berharga. “Tetapi, saat masuk ke dalam rumah, barang yang diincar tidak ditemukan. Karena sudah mencari tapi barang tidak ketemu, diduga tersangka meminta informasi dari pemilik rumah soal penyimpanan barang berharga itu,” tuturnya. Korban tidak memberitahukan tempat penyimpanan barang berharga tersebut. Hingga akhirnya pelaku menganiaya Bahro, yang mengakibatkan korban meninggal dunia di lokasi kejadian. “Korban meninggal dunia dengan luka di wajah, ada lilitan lakban hitam di leher, pergelangan tangan kanan dan kiri serta kaki korban,” katanya. “Jadi tidak ada, informasi yang disebarkan dan diviralkan TAW tidak sesuai alias hoax ,” kata Umar.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

TAW (40) dosen di Yogyakarta yang juga anggota Muslim Cyber Army (MCA) ditangkap usai menyebar berita hoax muazin Majalengka dibunuh orang gila. Lalu, seperti apa kebenaran kasusnya? Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana mengatakan kasus pembunuhan terhadap korban bernama Bahro (ditulis TAW di Facebook Bahron) terjadi pada Kamis (15/2) lalu. Namun polisi memastikan Bahro bukan muazin dan pelaku bukan orang gila. “Iya, korban bukan seorang muazin dan pelakunya bukan orang gila,” ujar Umar via pesan singkat, Selasa (27/2/2018). Umar mengatakan Bahro merupakan warga biasa yang tinggal di Blok Rebo RT 003 RW 002 Desa Sindang, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka. Sementara pelaku berjumlah tiga orang yang merupakan pelaku kriminal. Umar menjelaskan kasus pembunuhan terhadap Bahro berawal saat tiga pelaku yaitu R (40), S (40) dan JJ (44) yang telah ditangkap merampok kediaman Bahro. Para pelaku mendapat informasi bahwa di rumah tersebut menyimpan barang berharga. “Tetapi saat masuk ke dalam rumah barang yang diincar tidak ditemukan. Karena sudah dicari tidak ketemu, diduga tersangka meminta informasi dari pemilik rumah soal penyimpanan barang berharga itu,” tuturnya. Korban tidak memberitahukan tempat penyimpanan barang berharga tersebut. Hingga akhirnya, pelaku melakukan penganiayaan terhadap Bahro yang mengakibatkan korban meninggal dunia di lokasi kejadian. “Korban meninggal dunia dengan luka di wajah, ada lilitan lakban hitam di leher, pergelangan tangan kanan dan kiri serta kaki korban,” katanya. “Jadi tidak ada informasi yang disebarkan dan diviralkan TAW tidak sesuai alias hoax,” kata Umar.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

TAW (40) dosen di Yogyakarta yang juga anggota Muslim Cyber Army (MCA) ditangkap usai menyebar berita hoax muazin Majalengka dibunuh orang gila. Lalu, seperti apa kebenaran kasusnya? Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana mengatakan kasus pembunuhan terhadap korban bernama Bahro (ditulis TAW di Facebook Bahron) terjadi pada Kamis (15/2) lalu. Namun polisi memastikan Bahro bukan muazin dan pelaku bukan orang gila. “Iya, korban bukan seorang muazin dan pelakunya bukan orang gila,” ujar Umar via pesan singkat, Selasa (27/2/2018). Umar mengatakan Bahro merupakan warga biasa yang tinggal di Blok Rebo RT 003 RW 002 Desa Sindang, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka. Sementara pelaku berjumlah tiga orang yang merupakan pelaku kriminal. Umar menjelaskan kasus pembunuhan terhadap Bahro berawal saat tiga pelaku yaitu R (40), S (40) dan JJ (44) yang telah ditangkap merampok kediaman Bahro. Para pelaku mendapat informasi bahwa di rumah tersebut menyimpan barang berharga. “Tetapi saat masuk ke dalam rumah barang yang diincar tidak ditemukan. Karena sudah dicari tidak ketemu, diduga tersangka meminta informasi dari pemilik rumah soal penyimpanan barang berharga itu,” tuturnya. Korban tidak memberitahukan tempat penyimpanan barang berharga tersebut. Hingga akhirnya, pelaku melakukan penganiayaan terhadap Bahro yang mengakibatkan korban meninggal dunia di lokasi kejadian. “Korban meninggal dunia dengan luka di wajah, ada lilitan lakban hitam di leher, pergelangan tangan kanan dan kiri serta kaki korban,” katanya. “Jadi tidak ada informasi yang disebarkan dan diviralkan TAW tidak sesuai alias hoax,” kata Umar.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Polisi menangkap seorang wanita berinisial TAW (40) yang menyebarkan hoax di media sosial tentang dibunuhnya muazin di Majalengka oleh orang gila. TAW juga diketahui anggota dari Muslim Cyber Army (MCA). “Dari hasil membuka gadgetnya, memang betul yang bersangkutan anggota MCA,” ucap Direktur Reserse Kriminal Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana via pesan singkat, Selasa (27/2/2018). TAW ditangkap personel Sat Reskrim Polres Majalengka dan Dit Reskrimum Polda Jabar di kawasan Jakarta Utara pada Senin (26/2) malam. Personel langsung menggiring TAW yang berprofesi sebagai dosen tersebut ke Polres Majalengka. Umar menuturkan kasus bermula saat adanya informasi di medsos Facebook yang ditulis akun Tara Dev Sams pada Sabtu (17/2) lalu. Ia menulis berita yang isinya soal muazin dianiaya orang diduga gila. TAW menulis di postingan Facebook-nya: “SIAPA KEMAREN YANG KEPANASAN SUARA ADZAN ?? dan seorang Muadzin jadi korban (yang katanya) orang gila. Innalillahi wa innailahi Rojiun, nama beliau bpk Bahron seorang muadzin di desa sindang kec. Cikijing. Majalengka Jawa Barat. Modus perampokan disertai pembunuhan…Mungkin kah orang gila lagi pelakunya? KEBENARAN AKAN MENEMUKAN JALANNYA DAN ITULAH KEPEDIHAN BAGI PARA PENCIPTA & PEMAIN SANDIWARA INI.. ALLAH MAHA MEMBALAS…aamiin,” tulis TAW berdasarkan data Polres Majalengka.” Dari hasil penyidikan, polisi memastikan tidak ada korban muazin dan pelaku orang gila. Namun unggahan TAW di Facebook telah membuat resah warga Majalengka. Polisi kemudian memburu pengunggah berita tersebut. Hingga akhirnya, polisi menemukan identitas dan menangkap TAW. “Warga menjadi resah dan takut sehingga menimbulkan kegaduhan dan rasa kebencian seseorang atau salah satu pihak. Dari pengakuannya, dia merupakan dosen di UII (Universitas Islam Indonesia),” kata Umar. Dari penangkapan tersebut, polisi turut menyita barang bukti berupa sebuah tablet dan akun email pelaku.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Polisi menangkap enam orang pelaku penyebaran berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech) yang tergabung dalam kelompok Muslim Cyber Army. Salah satu pelaku yang ditangkap berprofesi sebagai PNS. “Pada pukul 09.15 WIB telah dilaksanakan penangkapan di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Berinisial RSD (34), pekerjaan PNS,” kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran lewat keterangan tertulisnya, Selasa (27/2/2018). RSD ditangkap pada Senin (26/2) kemarin. Berdasarkan data yang dihimpun, pria ini diketahui bekerja sebagai pegawai Puskesmas Selindung. Darin tangan pelaku disita barang bukti berupa sebuah laptop merek Dell, sebuah flashdisc merek Sundisk, sebuah flashdisc Thosiba warna putih 8 GB, sebuah HP Asus Zenfone, sebuah HP Samsung J Prime, Sebuah CD GT Pro, dan sebuah iPad. Selain RSD, pelaku lainnya yakni ML (39) seorang karyawan yang ditangkap di Jakarta, RS (38) seorang karyawan yang ditangkap di Bali, RC yang ditangkap di Palu, dan Yus yang ditangkap di Sumedang. Sementara itu, pelaku lain yang ditangkap di Yogyakarta masih didata di Bareskrim. Keenam pelaku ditangkap Direktorat Tindak Pidana Siber Polri bersama Direktorat Keamanan Khusus Badan Intelejen Khusus (Dit Kamsus BIK). Polisi menyebut mereka punya peran penting di grup WhatsApp ‘The Family MCA’. “Anggota MCA ini kan ada ratusan ribu. Tapi kita tangkap yang biangnya saja,” ucap Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar saat dikonfirmasi terpisah. Mereka dijerat pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan/atau pasal Jo pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau pasal 33 UU ITE.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Polemik baliho tentang penyambutan imam besar FPI yang dibuat oleh FPI Madura ini tidak ada habisnya, banyak yang ahli nahwu dan shorrof mendadak latah dan inbox admin mengajarkan tentang wau athof dan lain … Lainnya sebagainya. Berikut kami jelaskan, sebelum anda membahas tentang wau athof, coba anda jelaskan secara gamblang tulisan yang kami kurung “DAN RASULNYA” lalu bandingkan dengan ma’na yang anda tuliskan dalam status anda “DAN SINGA UTUSANNYA ALLAH” bagi orang awam kedua kalimat tersebut secara bahasa indonesia sangat berbeda pengertiannya. Dan bagi kami kalimat bahasa arab yang ditulis tersebut memang tidak ada masalah, yang kami permasalahkan adalah tulisan makna dari kalimat tersebut yang dengan sengaja meringkas menjadi “SINGANYA ALLAH DAN RASULNYA” tidak ditulis lengkap sebagaimana anda tuliskan dalam status anda, yang tentunya oleh masyarakat awam akan dipahami sebagai Singa Alloh dan Rasulnya/Utusannya. Saran dari admin, tidak semua orang indonesia paham ilmu nahwu, jadi berhati-hatilah dalam menulis. Sekian terimakasih.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Pelaku penyebar berita bohong yang menyatakan, seorang muazin dibunuh ditangkap oleh Polres Majalengka, Jawa Barat. Tersangka diketahui berprofesi sebagai seorang dosen di Yogyakarta.  “Kita lakukan penyelidikan terhadap kasus ini dan ternyata penyebar berita bohong ini akhirnya ditemukan berinisial TAW seorang dosen Bahasa Inggris di Yogyakarta. Tersangka diamankan di Jakarta Utara,” kata Kepala Polres Majalengka, AKBP Noviana Tursanurohmad, di Majalengka, Selasa (27/2/2018).   Penangkapan tersangka dilakukan setelah Markas Besar Kepolisian Indonesia dan Polres Majalengka menyelidiki dan menyidik terkait viralnya di media sosial mengenai kasus pembunuhan di Cikijing Kabupaten Majalengka yang dianggap seorang muazin. Menurut Tursanurohmad, saat ditangkap, Facebook milik tersangka itu sudah dibagikan lebih dari 7.000 dan dikomentari 1.700 komentar. Dia menjelaskan, tersangka juga mengaku tidak pernah mengecek dan mendalami terlebih dahulu kebenaran berita itu hingga membuat berita bohong. “Pengakuan tersangka, dia itu bukan yang pertama menyebarkan, tapi silakan saja berkilah, nanti kita buktikan di pengadilan,” tuturnya.   “Tapi berdasarkan Tim Cyber Polri tersangkalah yang pertama menyebarkan berita tersebut,” katanya.   Dalam penangkapan, kata dia, polisi tidak mempersoalkan gambar, namun berita bohonglah yang menjadi pegangannya hingga menjadi viral ke seluruh negeri. “Tersangka membuat status bersifat provokatif, seorang muazin meninggal dunia oleh orang gila, padahal faktanya itu bukan muazin tapi warga biasa,” ujarnya.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Majalengka – TAW (40), dosen di Yogyakarta yang juga anggota Muslim Cyber Army (MCA), ditangkap setelah menyebar berita hoax muazin Majalengka dibunuh orang gila. Lalu seperti apa kebenaran kasusnya? Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana mengatakan kasus pembunuhan terhadap korban bernama Bahro (ditulis TAW di Facebook Bahron) terjadi pada Kamis (15/2). Namun polisi memastikan Bahro bukan muazin dan pelaku bukan orang gila. “Iya, korban bukan seorang muazin dan pelakunya bukan orang gila,” ujar Umar via pesan singkat, Selasa (27/2/2018). Umar mengatakan Bahro merupakan warga biasa yang tinggal di Blok Rebo RT 003 RW 002 Desa Sindang, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka. Sementara itu, pelaku berjumlah tiga orang, yang merupakan pelaku tindak kriminal. Umar menjelaskan kasus pembunuhan Bahro berawal saat tiga pelaku, yaitu R (40), S (40), dan JJ (44), yang telah ditangkap, merampok kediaman Bahro. Para pelaku mendapat informasi bahwa di rumah tersebut terdapat barang berharga. “Tetapi, saat masuk ke dalam rumah, barang yang diincar tidak ditemukan. Karena sudah mencari tapi barang tidak ketemu, diduga tersangka meminta informasi dari pemilik rumah soal penyimpanan barang berharga itu,” tuturnya. Korban tidak memberitahukan tempat penyimpanan barang berharga tersebut. Hingga akhirnya pelaku menganiaya Bahro, yang mengakibatkan korban meninggal dunia di lokasi kejadian. “Korban meninggal dunia dengan luka di wajah, ada lilitan lakban hitam di leher, pergelangan tangan kanan dan kiri serta kaki korban,” katanya. “Jadi tidak ada, informasi yang disebarkan dan diviralkan TAW tidak sesuai alias hoax ,” kata Umar. (bbn/nvl)


Baca juga :

Kata-kata tersebut kerap menjadi pembenaran bagi mereka yang meja kerjanya tidak rapi. Seraya menambahkan bahwa meja kerja orang sekaliber Albert Einstein, Thomas Alfa Edison ataupun Steve Jobs pun jauh dari kata rapi. Argumen ini diperkuat dengan berbagai penelitian terkait. Misalnya peneliti di University of Minnesota (USA) menguji seberapa baik responden dapat mengemukakan gagasan baru saat bekerja di lingkungan yang rapi dan berantakan. Hasilnya, gagasan yang jauh lebih menarik dan kreatif muncul dari responden di meja kerja yang berantakan. Sementara responden di meja kerja yang rapi cenderung mengikuti peraturan dan enggan mencoba hal baru. Penelitian lain dari University of Northwestern (USA) juga menemukan bahwa orang dengan meja kerja berantakan lebih dapat menyimpulkan inspirasi kreatif dan mampu memecahkan masalah lebih cepat ketimbang orang yang meja kerjanya rapi.

seperti di kutip dari http://purwoudiutomo.com

Tapi bukankah berantakan tanda malas membereskan? Dan lingkungan kerja yang sehat adalah lingkungan kerja yang bersih dan rapi? Ada benarnya, namun tidak sepenuhnya. Sebelumnya perlu kita pahami perbedaan antara lingkungan kerja, tempat kerja, dan meja kerja. Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar pekerja pada saat bekerja, baik berbentuk fisik atau nonfisik, langsung atau tidak langsung, yang dapat memengaruhi diri dan pekerjaannya saat bekerja. Lingkungan kerja yang baik tentu akan berdampak positif terhadap pekerjaan. Dan lingkungan kerja ini juga mencakup aspek nonfisik, misalnya hubungan kerja dengan atasan, rekan atau bawahan.

seperti di kutip dari http://purwoudiutomo.com

Adapun definisi tempat kerja menurut OHSAS 18001 (standar internasional untuk penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja) adalah lokasi manapun yang berkaitan dengan aktivitas kerja di bawah kendali organisasi (perusahaan). Tempat kerja ini perlu dikelola untuk menghilangkan pemborosan ( waste ) sehingga sumber daya bisa optimal. Salah satu metodologi penataan dan pemeliharaan tempat kerja yang banyak dikenal adalah 5S, yang merupakan gerakan untuk mengadakan pemilahan ( seiri ), penataan ( seiton ), pembersihan ( seiso ), penjagaan kondisi yang mantap ( seiketsu ), dan penyadaran diri akan kebiasaan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik ( shitsuke ). Di Indonesia, metode 5S ini diadopsi menjadi 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) yang merupakan suatu program terstruktur yang secara sistematis menciptakan ruang kerja ( workplace ) yang bersih, teratur dan terawat dengan baik. 5R juga bertujuan meningkatkan moral, kebanggaan dalam pekerjaan serta rasa kepemilikan dan tanggung jawab pekerja. 5R digunakan juga dalam konsep Lean Management lainnya, seperti: Single Minute Exchange of Dies (SMED), Total Productive Maintenance (TPM) , dan Just In Time (JIT) .

seperti di kutip dari http://purwoudiutomo.com

Tempat kerja adalah bagian dari lingkungan kerja, tempat kerja yang baik akan meningkatkan produktivitas kerja. Pekerjaan bisa terhambat karena kesulitan menemukan alat kerja, mobilitas pun terganggu jika penataan ruang kerja tidak efektif dan efisien. Lalu bagaimana dengan meja kerja yang tentunya juga merupakan bagian dari lingkungan kerja? Meja kerja bisa menjadi bagian dari tempat kerja ( workplace ) yang harus memenuhi standar tertentu, misalnya untuk meja perakitan ( assembly table ) dan meja pengemasan ( packing table ). Namun meja kerja bisa jadi merupakan area pribadi yang lebih menggambarkan tentang karakter personal dibandingkan dengan kualitas pekerjaan. Dalam buku “ Snoop: What Your Stuff Says About You”, Sam Gosling, profesor psikologi University of Texas (USA) menuliskan bahwa salah satu alasan ruang fisik, termasuk meja kerja seseorang, dapat mengungkapkan sesuatu adalah karena hal-hal itu pada dasarnya merupakan perwujudan dari sejumlah tingkah laku sepanjang waktu. Lebih jauh lagi, Lily Bernheimer, peneliti di University of Surrey (UK) dan Direktur Space Works Consulting, telah mengembangkan lima jenis kepribadian meja untuk sebuah perusahaan Inggris, Headspace Group. Dari hasil kajian Gosling dan psikolog kepribadian maupun lingkungan, meja kerja dapat menunjukkan lima potret dasar kepribadian: ekstrover, penyetuju, berhati-hati, cemas, dan terbuka untuk pengalaman.

seperti di kutip dari http://purwoudiutomo.com

Sebagai area pribadi, meja kerja tidak harus rapi. Karena ‘rapi’ disini sifatnya menjadi relatif, tidak perlu distandardisasi. Craig Knight, seorang psikolog dan pendiri Haddington Knight (sebuah perusahaan di Inggris yang menggunakan sains untuk meningkatkan kinerja usaha) telah melakukan penelitian mendalam dalam personalisasi ruang kerja. Knight menemukan bahwa para pekerja yang meletakkan sedikitnya satu foto atau tanaman di meja mereka akan 15% lebih produktif . Para pekerja yang bisa menghias meja kerja seperti yang mereka inginkan akan 25% lebih produktif dibandingkan mereka yang bekerja di meja yang lebih kosong. Tiga peneliti lain yang menulis di Jurnal Psikologi Lingkungan juga mendapati bahwa dengan membuat tempat kerja lebih personal  akan memberikan kontrol lebih dan rasa kepemilikan di lingkungan kerja. “ Menciptakan sebuah tempat milik pribadi di sebuah lingkungan kerja milik publik akan berkontribusi dalam kognitif positif dan kondisi afektif seseorang, yang kemudian menghasilkan sumber daya mental yang meningkat, dan dapat mengatasi dengan lebih baik gangguan yang berpotensi melemahkan karena rendahnya privasi. ” tulis mereka.

seperti di kutip dari http://purwoudiutomo.com

“ It’s pointless to have a nice clean desk, because it means you’re not doing anything ”, demikian ungkap Michio Kaku, seorang Profesor Fisika, yang rasa-rasanya senada dengan apa yang dikatakan Albert Einstein di awal. Ketika sebagian orang nyaman dengan meja kerja yang tertata rapi, sebagian yang lain justru menemukan gairah beraktivitas dalam meja kerja yang ‘ramai’. Seperti halnya pilihan cara belajar, kondisi meja kerja kerapkali hanya merupakan pilihan cara bekerja. Tidak harus sama antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. Pernyataan bahwa meja kerja boleh saja berantakan ketika dipakai namun harus kembali bersih ketika ditinggalkan terdengar bijak namun sebenarnya tidaklah tepat. Tidak sedikit orang yang sengaja tidak merapikan mejanya untuk mengingatkannya bahwa ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Merapikan mejanya justru membuatnya lupa akan pekerjaannya. Bukankah untuk mengingat lebih mudah (dan rapi) cukup dengan membuat note kecil di tempat yang mudah terlihat? Kembali ke pilihan cara bekerja. Tidak semua orang sama. Bruce Mau, seorang desainer Kanada pun berkata, “ Don’t clean your desk. You might find something in the morning that you can’t see tonight .”. Sekali lagi, tidak rapi tidak sama dengan tidak produktif.

seperti di kutip dari http://purwoudiutomo.com

“ If your company has a clean-desk policy, the company is nuts and you’re nuts to stay there ”, demikian ungkap Tom Peters, seorang penulis tentang praktik manajemen bisnis. Terdengar ekstrim. Namun dapat dimaklumi jika kita melihat meja kerja sebagai tempat aktualisasi yang punya privacy . Karenanya tak mengherankan banyak perusahaan menyediakan tempat khusus untuk bertemu dengan pihak internal atau eksternal, tidak membawanya ke meja kerja kecuali untuk alasan khusus. Meja kerja harus nyaman untuk mendukung produktivitas, namun parameter kenyamanan ini tentu beragam. Tidak harus semua orang mejanya serapi Bill Gates (Microsoft) atau seberantakan Steve Jobs (Apple), sesuaikan saja dengan karakteristik masing-masing orang untuk optimalisasi kerja. Namun perlu diingat, tidak rapi berbeda dengan kotor dan jorok. Sampah yang berserakan atau kotoran dimana-mana bukan kebiasaan produktif. Alih-alih menjadi kreatif dan kian produktif, yang ada malah menambah tingkat stress dan jadi sumber penyakit. Pun ada irisan, malas tidaklah sama dengan kreatif. Jadi, ayo (berhenti) rapikan meja kerja kita!

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri terus menelusuri jaringan pelaku penyebaran berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech) yang berasal dari kelompok Moslem Cyber Army (MCA). Setidaknya ada 14 orang ditangkap terkait kasus penyebaran hoax dan hate speech. Enam orang di antaranya berperan sebagai admin di grup WhatsApp ‘The Family MCA’. Keenam orang ini memiliki beragam jenis pekerjaan. Di antara mereka ada yang bekerja sebagai PNS di Dinas Kesehatan Pangkalpinang hingga menjadi dosen tak tetap di Universitas Islam Indonesia. “Pada pukul 09.15 WIB telah dilaksanakan penangkapan di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Berinisial RSD (34), pekerjaan PNS,” kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran lewat keterangan tertulisnya, Selasa (27/2) lalu. RSD ditangkap pada Senin (26/2) kemarin. Berdasarkan data yang dihimpun, pria ini diketahui bekerja sebagai pegawai Dinkes Pangkalpinang, tepatnya di Puskesmas Selindung. Selain RSD, ada TAW yang ditangkap personel Sat Reskrim Polres Majalengka dan Dit Reskrimum Polda Jabar di Jakarta Utara pada Senin (26/2) malam. Personel langsung menggiring TAW yang berprofesi sebagai dosen tersebut ke Polres Majalengka. Selanjutnya, TAW diserahkan ke Dittipid Siber Bareskrim agar penyelidikan dan penyidikan dilakukan secara terpusat. Selain RSD dan TAW, 4 pelaku lainnya yakni ML (39) seorang karyawan yang ditangkap di Jakarta, RS (38) seorang karyawan yang ditangkap di Bali, RC yang ditangkap di Palu, dan Yus yang ditangkap di Sumedang. Seperti diketahui, kelompok MCA ini merupakan kelompok terstruktur yang menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian. Ada 4 jaringan yang bekerja bertugas untuk menampung, merencanakan, menyebar dan menyerang kelompok lain agar hoaks berhasil disebar kepada masyarakat. Mereka dijerat pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan/atau pasal Jo pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau pasal 33 UU ITE.

Abdul Rohim Ba’asyir, putra kandung Abu Bakar Ba’asyir, mengatakan ayahnya akan dibawa dari Lapas Gunung Sindur ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Hal ini dilakukan untuk pemeriksaan kesehatan terpidana kasus terorisme tersebut. Pantauan detikcom , Kamis (1/3/2018), di RSCM Kencana, Jalan Pangeran Diponegoro No. 71, Salemba, Jakarta Pusat, belum terlihat kendaraan taktis kepolisian. Pengamanan dari pihak kepolisian juga belum terlihat jelang kedatangan Ba’asyir. Foto: Samsudhuha Wildansyah/detikcom Lalu lintas di Jl Pangeran Diponegoro sendiri terpantau ramai lancar. Hingga saat ini di RSCM Kencana aktifitas normal masih berlangsung. Foto: Samsudhuha Wildansyah/detikcom Sebelumnya, Koordinator Tim Pembela Muslim (TPM) Achmad Michdan mengatakan Ba’asyir akan menajalani pemeriksaan kesehatan pada pagi hari. “Rencananya pemeriksaan kesehatan di RSCM nanti jam 10.00 WIB,” tutur Michdan saat dikonfirmasi terpisah. Sebelumnya diberitakan, Abu Bakar Ba’asyir diizinkan meninggalkan Lapas Gunung Sindur. Direktorat Jenderal Permasyarakatan (Ditjenpas) Kemenkumham mengabulkan permohonan pihak Ba’asyir untuk berobat sementara waktu di luar lapas. Foto: Samsudhuha Wildansyah/detikcom Tim medis menyatakan Ba’asyir mengalami sakit chronic venous insufficiency bilateral atau disebut kelainan pembuluh darah vena berkelanjutan. Tim medis juga menyarankan agar Ba’asyir mendapat perawatan di luar lapas. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin meminta agar Abu Bakar Ba’asyir mendapat perawatan di RSCM. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyetujui permintaan tersebut. Selain itu, Ma’ruf Amin berharap jika bisa Abu Bakar Ba’asyir juga diberi grasi alias pengurangan hukuman oleh Presiden Jokowi.

Keputusan SMAN 1 Semarang “mengeluarkan” 2 siswanya dinilai tidak mendidik dan terkesan lepas tanggungjawab. Seharusnya kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah justru memberikan sanksi ke Kepala Sekolahnya. Hal itu diungkapkan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Bambang Sadono yang siang tadi ditemui orang tua 2 siswa yang bersangkutan di kantor DPD Jateng, Jalan Imam Bonjol, Kota Semarang. Siswa bernama AN dan MA itu dikeluarkan dari SMAN 1 dengan tuduhan kekerasan saat melakukan kegiatan latihan dasar kepemimpinan (LDK) OSIS SMAN 1 Semarang. AN dan MA yang merupakan pengurus OSIS dikatakan melakukan bullying terhadap juniornya. “Dinas pendidikan jangan malah memberi sanksi ke muridnya, tapi ke Kepala Sekolahnya. Dia harus tanggungjawab, tidak diam-diam saja terus anaknya dipersoalkan,” kata Bambang di kantor DPD Jateng, Rabu (28/2/2018). “Ini juga mengancam masa depan anaknya, ini tidak mendidik,” imbuhnya. Kepala Sekolah SMAN 1 Semarang, Endang sebelumnya mengatakan keputusannya itu untuk memutus mata rantai kekerasan di sekolahnya. Menurut Bambang, seharusnya kegiatannya yang harus dihentikan bukan anaknya yang dikeluarkan karena kegiatan OSIS pasti ada izin dan ada guru pengawas yang bertanggungjawab. “Ini bukan anak-anak bodoh, lho. Kalau bodoh tidak masuk pengurus OSIS. Kalau salah ada yang mengarahkan, ya yang salah gurunya, ini lempar tanggungjawab,” tegasnya. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah dalam permasalahan ini hanya memberikan fasilitas tempat pindah sekolahan agar 2 siswa yang saat ini duduk di kelas XII itu bisa mengikuti ujian nasional. Padahal anak-anak tersebut masih ingin menjadi siswa SMAN 1 Semarang. Para orangtua siswa yang terkena masalah itu juga dipanggil ke kantor Badan Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Jateng untuk dimediasi dengan pihak sekolah, komite, dewan pendidikan, dan dinas pendidikan. Namun dalam pertemuan tersebut kepala dinas dan orangtua tidak hadir sehingga belum ada keputusan. Padahal hari Kamis (1/3) besok merupakan hari terakhir pendaftaran Ujian Nasional (UN). Sementara itu siswa bernama AN mengaku masih ingin bersekolah di SMAN 1 Semarang. Namun sejak ia dan orangtuanya dipanggil pihak sekolah dan disodori pengunduran diri, ia selalu diminta pulang saat masuk sekolah. Padahal surat itu belum ditandatangani. “Kalau masih bisa di SMAN 1 Semarang tidak apa-apa meski nanti rasanya agak berbeda. Sulit sekali masuk ke sini,” kata putri penjual roti keliling itu. AN dan MA diminta mengundurkan diri tanpa ada peringatan sebelumnya. Keputusan sekolah itu dianggap orangtua siswa syarat kejanggalan. Oleh sebab itu para orangtua masih berusaha agar sekolah mengevaluasi keputusan itu.

Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut terjadi kekeliruan dalam nalar politik di Indonesia. Salah satunya terlihat saat ada kritik yang diberikan terhadap tokoh politik. “Jangan tiba-tiba dikritik, misalnya saya kritik Pak Jokowi, kemudian pendukungnya bilang atau Pak Jokowi bilang, ‘Ya sudah, Anda sudah kerjakan apa?’. Kritik kok kita disuruh kerja. Kritik ya kritik saja, jangan dibalikkan. Kalau saya mengkritik, jangan dikembalikan. Kalau begitu, tukaran saja, saya yang jadi presiden, Pak Jokowi jadi dosen atau jadi Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah. Nalar kita kebalik-balik,” kata Dahnil di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Menurutnya, ormas dan akademisi memang seharusnya mengingatkan para politikus. Dahnil sendiri menyebut politikus sebagai kesatria. “Memang kami yang di ormas, di OKP, di kampus ya kerjaan kami ini. Kerjaan kami mengingatkan para kesatria. Mereka maju ke medan perang. Mereka maju untuk bertarung, yang sering melakukan perubahan ya mereka ini,” ujarnya Selain itu, Dahnil menyebut ada fenomena kemunculan ‘fans boy’ dan ‘fans girl’ terhadap tokoh politik. Para ‘fans’ politikus ini disebut Dahnil kerap membela habis-habisan para politikus yang disukai. “Anak muda di Indonesia berubah hanya menjadi fans club, fans boy, fans girl . Anak-anak muda yang masuk politik jadi fans boy, fans girl . Ada orang mati-matian bela Ahok. Ahok salah, Ahok benar, pokoknya Ahok benar,” sebut Dahnil. “Mereka tidak adu gagasan. Mereka tweet war karena orang per orang. Tiba-tiba ada fans boy AHY. Semua yang dilakuin benar. Tiba-tiba ada fans boy Jokowi, semua yang dilakukan benar. Tiba-tiba ada fans boy Zulkifli Hasan, tiba-tiba semuanya benar. Ada fans boy Bang Rizal Ramli. Jadi kehilangan akal sehat,” tuturnya. Dahnil lantas menyinggung soal politik dinasti di Indonesia. Menurutnya, politik dinasti terjadi akibat pasar politik yang tidak kompetitif. “Pasar politik kita tidak kompetitif. Yang bisa masuk ke pasar adalah yang punya modal. Yang punya darah ‘ningrat’ secara politik. Pasar politik kita bukan pasar politik kompetitif, pasar politik yang oligopoli,” ujar dia.

Misi perdamaian Wakil Presiden Jusuf Kalla di Afghanistan harus mengagendakan kerjasama ekonomi. Sebab konflik tak berkesudahan di negara itu salah satunya akibat kesejahteraan dan akses pendidikan yang rendah. Tanpa dibarengi isu ekonomi, menurut pengamat Timur Tengah Dini Y. Sulaeman, upaya perdamaian di Afganistan sulit diwujudkan. “Selama ini ada banyak yang bergabung dengan kelompok Taliban karena faktor ekonomi. Mereka adalah kalangan miskin dan tidak memiliki akses pendidikan sehingga mudah direkrut,” kata Dina saat berbincang dengan detik.com , Selasa malam (27/2/2018). Menurut penulis buku Prahara Suriah dan Salju di Aleppo itu, Taliban merupakan kelompok dominan yang tidak setuju dengan pemerintah. Beberapa kelompok garis keras berada di bawah naungan kelompok ini. Mereka melakukan penyerangan, aksi teror, hingga menduduki kota dan menyelenggarakan pemerintahan sendiri. Bank Dunia menuliskan Afganistan merupakan negara termiskin berdasar pendapatan nasional bruto (GNI). Data yang dirilis oleh Bank Dunia pada akhir 2017 menyebutkan GNI Afganistan berada di bawah 1.005 dollar AS. Angka itu menempatkan Afghanistan di posisi 31 sebagai negara miskin di dunia. Rentannya kondisi ekonomi dan sosial ini diperparah dengan kepentingan beberapa kelompok untuk meraup keuntungan atas penguasaan minyak dan opium. Menurut Dina, mereka justru diuntungkan dengan konflik ini karena dapat melakukan monopoli tanpa campur tangan pemerintah. “Kalau ekonomi diperkuat dan pendidikan semakin bagus maka peluang orang keluar dari kelompok radikal akan lebih besar. Tentu yang dilakukan adalah dengan membantu pembangunan,” jelasnya. Afganistan sendiri merupakan daerah yang cukup unik. Mereka terbagi dalam delapan suku, yakni Pashtun/ Patan sebagai mayoritas, Tajik, Hazara, Uzbek, Aimaq, Turkmen, Asia Selatan (ada 28 kelompok suku), dan Baloch. Namun banyaknya suku ini bukan merupakan penyebab utama konflik yang berkecamuk. Pengamat Timur Tengah, Zuhairi Misrawi, menyebutkan kelompok islam garis keras seperti Taliban dan sisa-sisa ISIS dari Suriah dan Irak-lah yang perlu mendapat perhatian dalam upaya perdamaian. “Kalau kami melihat konflik yang menonjol adalah oleh Taliban, mereka menolak pemerintah dan mengadakan pemerintahan sendiri. Paling tidak upaya perdamaian harus melalui proses melobi mereka,” jelasnya. Upaya untuk mempelajari perdamaian ala Indonesia juga pernah dilakukan oleh kelompok ulama Afganistan dengan membentuk ormas seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Pemberitaan Situs NU pada 5 Mei 2016 menyebutkan mereka membentuk NU Afghanistan yang memiliki perwakilan di 22 provinsi di negara itu. Mereka tak memiliki hubungan organisasi dengan NU di Indonesia.

Jabatan Komjen Budi Waseso (Buwas) sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) digantikan Irjen Heru Winarko. Buwas menghormati keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih Heru sebagai penggantinya. “Sudah lulus. Pengabdian selesai. Ini keputusan Pak Presiden. Pilihan terbaik yang sudah menjadi kriteria dipilih Pak Presiden. Pasti pengganti lebih baik dari saya,” ujar Buwas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). Buwas mengatakan, Kepala BNN penggantinya memiliki tugas untuk memberantas narkoba hingga ke akar-akarnya. Sosok Heru dinilai tepat untuk mengisi posisi itu. “Untuk memberantas narkoba harus orang-orang yang memiliki integritas bagus. Profesional. Itu mutlak,” ujar Buwas. Pelantikan Heru berlangsung di Istana Negara, Kamis (1/3/2018) pukul 09.00 WIB. Turut hadir sejumlah menteri Kabinet Kerja Jokowi dan pejabat negara di antaranya Ketua KPK Agus Rahardjo, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan, Ketua DPR Bambang Soesatyo, Wakil Ketua DPR Fadli Zon, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPD Oesman Sapta Odang dan mantan Kepala BNN Komjen Budi Waseso. Pengambilan sumpah dilakukan langsung oleh Jokowi. “Demi Allah saya bersumpah akan setia dan taat kepada UUD RI 1945 serta akan menjalankan peraturan perundang-undangan dengan sebaik-baiknya serta akan menjalan peraturan perundang undngan dengan selurus lurusnya demi darma bakti saya bangsa dan negarasya kepada bangsa dan negara,” ucap Heru.

Irjen Heru Winarko akan dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) yang baru hari ini. Sebelumnya, ia menjabat sejumlah posisi di Polri hingga KPK. Heru merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1985. Rekam jejak kariernya di kepolisian diawali dengan menjabat sebagai Kapolres Metro Jakarta Pusat. Heru kemudian bertugas di Mabes Polri dan beberapa kali menempati posisi. Dia menjabat sebagai Wakil Direktur (Wadir) II Ekonomi Khusus (Eksus) Bareskrim Polri pada 2009 dan Wadir III tindak pidana korupsi pada 2010. Dari Bareskrim, Heru kemudian ditunjuk untuk menjadi Asisten Deputi (Asdep) 4/ V Kamnas Kemenko Polhukam pada tahun 2010. Dua tahun kemudian, dia dipercaya menjabat sebagai Kapolda Lampung menggantikan Brigjen Pol Jodie Rooseto. Tiga tahun berselang, Heru kembali ke Kemenko Polhukam. Dia ditunjuk sebagai staf khusus Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan. Dia merupakan staf ahli bidang ideologi dan konstitusi Menko Polhukam. Pada September 2015, Heru dilantik sebagai Deputi Penindakan KPK hingga akhirnya ditunjuk Presiden Jokowi pada hari ini sebagai Kepala BNN. Sebelumnya, ada 3 nama yang diisukan menjadi Kepala BNN, antara lain Kalemdikpol Polri Komjen Moechgiyarto, Kabareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukmanto, dan Deputi Penindakan KPK Irjen Heru Winarko. Soal pergantian Komjen Budi Waseso (Buwas), Jokowi sudah menerima masukan dari pihak terkait, seperti Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Informasi yang didapat detikcom, dari tiga nama itu, Jokowi memilih Deputi Penindakan KPK Irjen Heru Winarko sebagai Kepala BNN yang baru menggantikan Budi Waseso. Namun belum diketahui apa yang menjadi landasan Jokowi memilih Heru. Berdasarkan informasi yang disampaikan Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, pelantikan akan dilakukan di Istana Negara, Jakarta, pukul 09.00 WIB. Kepala BNN yang dilantik akan menggantikan Komjen Budi Waseso, yang akan masuk masa pensiun pada Maret tahun ini.

Ketua Komisi Informasi Publik (KIP) Provinsi Sulawesi Selatan, Aswar Hasan meminta KPU Kota Palopo untuk terbuka dalam mengelola anggaran Pilwalkot. Sebab, dananya cukup besar yaitu mencapai Rp 24 miliar. “Karena kalau dilihat bulat-bulat, angka Rp 24 miliar itu sangat besar. Jadi KPU harus meyakinkan masyarakat bahwa dana itu benar-benar akuntabel, ” kata Aswar Hasan usai mengunjungi Kantor KPU Palopo di Jalan Pemuda Raya Kelurahan Takkalala,Kecamatan Wara Selan, Kota Palopo, Kamis (1/3/2018). Dosen Komunikasi Unhas ini menegaskan pentingnya keterbukaan atau tranparansi tata kelola anggaran Pilkada Kota Palopo oleh KPU. Menurut Aswar transparansi penting dilakukan sebagai salah satu prinsip untuk mewujudkan penyelenggaraan Pilkada yang efektif dan efisien. Karenanya itu, publik perlu tahu dana sebesar itu akan digunakan untuk apa saja pada penyelenggaraan pesta demokrasi di daerah tersebut. Sikap transparansi oleh KPU dapat dilakukan dengan menyampaikan peruntukan dan argumentasi sejumlah dana yang dikucurkan tersebut. Sehingga, Pilkada yang akan dijalani ke depan tidak mudah disusupi, maupun ditemukan penyimpangan-penyimpangan. “Harus tahu peruntukannya buat apa saja dan bagaimana komposisi alokasinya. Apakah memang prioritas sesuai kebutuhan ataukah sifatnya hanya komplementari. Bagaimana signifikansinya dalam menunjang kebutuhan pembiayaan penyelenggaraan Pilkada,” kata dia. KPU memang menyebutkan sebesar 60 persen dari total anggaran digunakan untuk membayar honorarium. Meski begitu, tambah Aswar, publik akan tidak bisa langsung menelan bulat statement tersebut. “Nah misal yang 40 persen sisanya, itu harus dibuka kepada publik. Untuk apa saja, dan mengapa jumlah itu segitu,” pungkasnya Untuk dana Pilkada serentak tahun 2018 untuk Kota Palopo berkisar Rp 24 miliar. Jumlah itu untuk Pilgub Sulsel dan Pilwalkot Palopo. Dari APBD provinsi sekitar Rp 4,2 miliar, sedangkan hibah yang diambil dari APBD Kota Palopo sebesar Rp 19,4 miliar lebih.

Salah satu hal yang diwacanakan adalah pengaturan jam kerja pegawai negeri sipil (PNS) dan meliburkan siswa sekolah. “Tadi dipikirkan ada beberapa intervensi salah satunya meliburkan anak sekolah atau bagaimana kalau di- rolling masuk kerjanya itu misal dari PNS itu mulai kerja jam 6.30 pagi sampai jam 2 siang begitu loh,” ujar Sandi di Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Jumat (19/1/2018). Meski demikian hal ini masih sebatas wacana. Sandi menunggu hingga hasil simulasi pengaturan lalu lintas dilakukan.

Related Posts

Comments are closed.