Partai Tommy Soeharto Ikut Pemilu, Ini Respons Puan Maharani

Partai Tommy Soeharto Ikut Pemilu, Ini Respons Puan Maharani

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani menanggapi lolosnya Partai Berkarya besutan Tommy Soeharto. Puan menyambut baik berpartisipasinya partai baru. “Ya enggak apa-apa. Dalam artian semua partai juga berkeinginan dalam pesta demokrasi ke depan untuk bisa menjadi salah satu pemenang yang ada di tahun 2019,” kata Puan saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (20/2/2018). Puan juga menganggap wajar pernyataan partai-partai yang bertekad untuk menang. Karena tujuan dari partai politik memang untuk kemenangan. “Jadi kalau kemudian enggak menyampaikan keinginannya untuk menang buat apa ada partai politik,” kata dia. Baca Juga: Para Jenderal di Belakang Pangeran Cendana Partai Berkarya lolos menjadi partai peserta pemilu 2019 dengan nomor urut 7. Partai besutan Tommy Soeharto ini menargetkan meraih 78 kursi di DPR. “Segenap pengurus kader partai segera menyiapkan diri, khususnya untuk pencalegan. Fokus utama kita pada 2019, kader kita jadi anggota legislatif di tingkat DPR. Makanya kita kerja keras untuk itu agar mendapatkan kursi sebanyak-banyaknya,” kata Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya Tommy Soeharto.

Baca juga : golkar tak persoalkan partai baru tommy soeharto

JAKARTA. Ketua DPP Partai Golkar Zainudin Amali mengatakan, Golkar tak mempermasalahkan Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto yang membentuk partai baru. Ia menekankan, pembentukan partai adalah hak setiap orang asalkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. “Siapa pun punya hak untuk menyatakan pendapat, pandangan politik. Enggak apa,” ujar Amali di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/10). “Nah, ujiannya saat pemilu. Banyak partai yang muncul, tapi begitu muncul pemilu cuma 10. Jadi silakan,” sambungnya. Seperti dikutip antaranews.com , Kementerian Hukum dan HAM mengesahkan Partai Berkarya yang turut dicetuskan Tommy. Sekretaris Jenderal DPP Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang mengatakan, Partai Berkarya sudah berbadan hukum dan sah sebagai partai politik sesuai SK Menkumham Nomor: M.HH-20.AH.11.01 tahun 2016. SK pengakuan Partai Berkarya disebut sudah ditandatangani Menteri Hukum dan HAM sejak 13 Oktober 2016. Mengenai pengaruh Tommy di Golkar, Amali mengatakan, setiap kader memiliki pengaruh masing-masing. Adapun Tommy belum menyatakan sikap secara resmi terkait hal ini. “Beliau di Dewan Pembina. Bareng Pak Ical (Aburizal Bakrie). Semua orang bertarung di Golkar, minimal kepada dirinya sendiri. Semuanya sama saja. Enggak ada tokoh yang berpengaruh. Semua sama,” tuturnya. Sementara itu, dikutip dari situs resmi partai, berkarya.id, Partai Berkarya yang semula bernama Partai Beringin Karya (Berkarya) adalah kelanjutan dari pembaruan, perubahan, serta kerja sama antara Partai Nasional Republik (Nasrep) dan Partai Beringin Karya yang dilahirkan kembali 15 Juli 2016. Tanggal itu bertepatan dengan hari lahir Tommy Soeharto sebagai Ketua Majelis Tinggi atau Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya. Dalam waktu dekat, Partai Berkarya akan melaksanakan rapat pimpinan nasional untuk mengevaluasi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, kepengurusan, serta program kerja. Selain itu, juga berupaya membentuk sayap-sayap partai, utamanya sayap pemuda dan perempuan. (Nabilla Tashandra) Sumber : Kompas.com Editor : Sanny Cicilia Berita terbaru Nasional


Baca juga : tommy soeharto cetuskan partai berkarya

JAKARTA. Kementerian Hukum dan HAM mengesahkan keberadaan Partai Berkarya yang turut dicetuskan putra bungsu Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto). Tommy Soeharto pada masa ayahnya berkuasa juga seorang fungsionaris Golongan Karya yang kemudian menjadi Partai Golongan Karya. Banyak sekali “alumni” Partai Golkar yang kemudian mendirikan atau menjadi fungsionaris partai politik baru.  Beberapa tahun setelah reformasi bergulir, keluarga Cendana memang tidak pernah lagi tampil secara formal dalam panggung politik nasional.  “Pada Senin 17 Oktober 2016 hari ini Partai Berkarya sudah berbadan hukum dan sah sebagai partai politik sesuai SK Menkumham Nomor: M.HH-20.AH.11.01 tahun 2016,” ujar Sekretaris Jenderal DPP Partai Berkarya, Badaruddin Andi Picunang, di Jakarta, Senin petang (18/10). SK Menteri Hukum dan HAM itu tentang pengesahan Partai Berkarya beserta susunan pengurus DPP Partai Berkarya periode 2016-2021.  “SK pengakuan Partai Berkarya sudah ditandatangani Menteri Hukum dan HAM sejak 13 Oktober 2016,” ujar Pinucang.  Dia menjelaskan Partai Berkarya itu hasil penggabungan Partai Nasional Republik dan Partai Beringin Karya. Partai politik terakhir ini juga sebetulnya turut dibidani Tommy Soeharto, yang di dalam struktur organisasinya menjadi ketua Dewan Pembina. Selain Tommy, turut tampil nama mantan politisi Partai NasDem yang juga bekas Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Laksamana TNI (Purnawirawan) Tedjo Purdijatno, yang ditunjuk sebagai ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya. Partai Berkarya dipimpin Ketua Umum DPP Partai Berkarya, Neneng A Tutty, Wakil Ketua Umum DPP Partai Berkarya, Yockie Hutagalung, dan Sekretaris Jenderal DPP Partai Berkarya, Badaruddin Picunang.  Purdijatno mengatakan, dengan disahkannya badan hukum Partai Berkarya oleh Kementerian Hukum dan HAM, maka mereka siap bekerja dan berjuang memenuhi persyaratan verifikasi Komisi Pemilihan Umum guna bisa mengikuti Pemilu 2019. “Kami akan segera bekerja untuk memenuhi persyaratan verifikasi KPU di mana kami harus menyiapkan ini semua,” ujar dia. Dia mengatakan, Partai Berkarya akan segera menggelar munas selambatnya akhir 2016 guna melihat kembali anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai.  Secara terpisah Wakil Ketua Umum DPP Partai Berkarya, Yockie Hutagalung, mengatakan, ada harapan dari para pengurus agar Tommy Soeharto dipilih menjadi ketua umum DPP Partai Berkarya. “Karena partai ini butuh seorang komandan. Tentu ada harapan agar beliau menjadi ketua umum Partai Berkarya,” jelas Hutagalung. Sumber : Antara Editor : Sanny Cicilia Berita terbaru Nasional


Baca juga : tommy soeharto bersafari ke kiai kiai habib jelaskan tujuannya

Bondowoso- Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto melakukan silaturahmi ke sejumlah pesantren, kiai, dan habib di Jawa Timur selama dua hari, Sabtu dan Minggu, 28-29 Oktober 2017. Ia berkunjung ke sejumlah habib, kiai dan pesantren itu di Pasuruan, Situbondo, Bondowoso, dan Probolinggo. Habib Ali, Juru bicara Tommy Soeharto dalam kegiatan itu mengatakan, silaturahmi ke kiai merupakan rutinitas biasa. “Seperti yang dilakukan di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta hingga di luar Jawa. Tujuannya hanya untuk mempersatukan kepentingan-kepentingan,” kata Habib Ali. Ia menyatakan telah mendampingi anak Presiden Soeharto ini, sejak 19 tahun lalu ini. Habib Ali mengatakan Tommy Soeharto melakukan silaturahmi ke kiai dan habib yang dulu pernah menjalin hubungan dengan bapaknya. “Selain itu tidak ada kepentingan lainnya. Adapun mengenai Partai Berkarya, itu kemauan dari orang-orang dekat beliau. Mereka ini orang-orang yang ingin ada perubahan,” katanya. Karena bukan kader Partai Berkarya, Habib Ali tidak bisa menjelaskan platform partai itu. “Platformnya berbeda dengan partai yang lain,” katanya tanpa menyebutkan bagaimana platform partai besutan Tommy ini. Menurut Habib Ali, ada harapan pada diri Tommy terhadap ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, serta ormas nasional seperti Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan Indonesia, untuk benar-benar kembali ke jati diri bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.

seperti di kutip dari https://nasional.tempo.co

Menurut Habib, Tommy melakukan perjalanan ke Jawa Timur karena mendapatkan panggilan dari kiai-kiai. “Dari dulu dipanggil. Ia mendapat panggilan dari beberapa kiai di Kraksaan, karena pernah didatangi kedua orang tua beliau,” katanya. Perjalanan silaturahmi itu di antaranya ke Pesantren Salafiyah di Pasuruan pimpinan Habib Taufik. Menurut Habib Ali, Habib Taufik adalah ketua para habib se-Jawa Timur, serta Ketua Alumni Pesantren se-Jawa Timur, dan kiai yang disegani di Jawa Timur. Tommy juga bertandang ke Pesantren Syafi’iyah di Situbondo. Pesantren ini dikenal sebagai pesantren yang memiliki ikatan dekat dengan Soeharto karena penguasa Orde Baru ini beberapa kali berkunjung ke sana. Kiai Arsyad, pengasuh pesantren itu, mengidolakan Soeharto. Selain itu, Tommy juga bertamu ke Pesantren Al Ishlah di Bondowoso. Selanjutnya, pada Minggu, 29 Oktober 2017, Tommy menghadiri haul Habib Husein Al Hamid.di Brani, Probolinggo. Lalu, ia berkunjung ke Pesantren Syech Abdul Qadir Jailani. Dari situ, Tommy bersilaturahmi ke Pesantren Umi Toha. Yayasan Keluarga Cendana pernah membangun masjid di kompleks pesantren ini, untuk mengenang Nyonya Tien Soeharto.


Baca juga : tommy soeharto memang dewan pembina partai berkarya cBRP

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Berkarya, Badarudin Andi Picunang memastikan posisi Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto sebagai Ketua Dewan Pembina di parpolnya. Menurut Badar, posisi Tommy di Partai Berkarya tidak perlu lagi diperdebatkan. Hal itu ia sampaikan menjawab pernyataan Erwin Kallo selaku kuasa hukum Tommy Soeharto yang meragukan posisi kliennya di partai tersebut. “Itu hak semua orang untuk berbicara dan berpendapat. Orang-orang dekat HMP (Hutomo Mandala Putra) banyak dan punya peran masing-masing. Pengacara juga begitu, ada bidang masing-masing. Ada yang khusus bidang usaha, keluarga, aset, sosial dan lain-lain,” kata Badar kepada Tirto , Minggu (17/12/2017). Sebelumnya, pada Jumat (15/12/2017) Erwin berkata, Partai Berkarya bukan besutan Tommy Soeharto. Dia malah menuding pengurus partai tersebut mencomot nama kliennya untuk meraih simpati massa. Erwin mengklaim, kliennya sama sekali tidak pernah membicarakan Partai Berkarya. Erwin juga berkata pernah menanyakan status partai baru tersebut kepada Tommy, namun pertanyaan itu tidak dijawab. “Siapa bilang itu partainya? Enggak. [Posisi Tommy di Berkarya] Lihat di mana? Ya itu kan bisa-bisa Ketuanya sama Sekjennya untuk cari massa,” kata Erwin. Badar pun memilih tidak memperpanjang tanggapan atas pernyataan Erwin. Ia mengaku, Partai Berkarya sedang fokus pada upaya menggugat Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI. “Kami lagi fokus membenahi partai ini biar bisa ikut Pemilu 2019. Konsentrasi sekarang lagi bolak-balik Bawaslu persiapan gugatan Berita Acara KPU yang menggugurkan kami di tahapan administrasi,” ujarnya. KPU telah menetapkan 12 partai politik yang lolos tahap verifikasi administrasi dan berhak mengikuti pemeriksaan faktual. Awalnya, ada 14 parpol yang mengikuti seleksi administrasi. Dua parpol yang dinyatakan gugur pada tahap verifikasi administrasi adalah Partai Berkarya dan Partai Garuda. Partai yang dinyatakan lolos ke tahap verifikasi faktual adalah Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Demokrat, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Golongan Karya (Partai Golkar) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Selain itu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Nasdem (NasDem), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Persatuan Indonesia (Perindo), dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai Berkarya dan Partai Garuda merupakan dua parpol baru yang belum pernah mengikuti pemilu sebelumnya. Berkarya adalah parpol yang didirikan pada 15 Juli 2016, sementara tidak banyak informasi bisa diperoleh untuk mengetahui sejarah Garuda.

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani menanggapi lolosnya Partai Berkarya besutan Tommy Soeharto. Puan menyambut baik berpartisipasinya partai baru. “Ya enggak apa-apa. Dalam artian semua partai juga berkeinginan dalam pesta demokrasi ke depan untuk bisa menjadi salah satu pemenang yang ada di tahun 2019,” kata Puan saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (20/2/2018). Puan juga menganggap wajar pernyataan partai-partai yang bertekad untuk menang. Karena tujuan dari partai politik memang untuk kemenangan. “Jadi kalau kemudian enggak menyampaikan keinginannya untuk menang buat apa ada partai politik,” kata dia. Baca Juga: Para Jenderal di Belakang Pangeran Cendana Partai Berkarya lolos menjadi partai peserta pemilu 2019 dengan nomor urut 7. Partai besutan Tommy Soeharto ini menargetkan meraih 78 kursi di DPR. “Segenap pengurus kader partai segera menyiapkan diri, khususnya untuk pencalegan. Fokus utama kita pada 2019, kader kita jadi anggota legislatif di tingkat DPR. Makanya kita kerja keras untuk itu agar mendapatkan kursi sebanyak-banyaknya,” kata Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya Tommy Soeharto.

ILUSTRASI. Nomor urut Partai Berkarya KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menghadapi pemilihan umum 2019, pengamat politik melihat ada peluang bagi Partai Berkarya yang didirikan oleh Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, putra mantan presiden RI kedua Soeharto. Bukan karena menggadang nama keluarga Cendana, namun karena kekecewaan masyarakat pada para elit politik saat ini. Sebagai informasi, Partai Berkarya yang didirikan pada Juli 2016 dan disahkan pemerintah pada bulan Oktober 2016 akan mengikuti pemilihan umum tahun depan. Partai ini dipimpin oleh Neneng A. Tutty, dan posisi Sekretaris Jenderal dijabat oleh Badaruddin Andi Picunang. Sedangkan posisi Ketua Majelis Tinggi dan Dewan Pembina Partai dipegang oleh Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto. Pengamat Politik UNJ & Direktur Puspol Indonesia Ubedilah Badrun menyampaikan, setidaknya terdapat tiga alasan yang membuat masyarakat akan condong pada partai-partai yang mengusung nama keluarga Cendana. Pertama , masyarakat melihat performa partai politik yang selama ini berkuasa dinilai cukup mengecewakan masyarakat, terutama banyaknya kasus korupsi yang menerpa elit partai politik. Kedua , Soeharto nampaknya masih memiliki loyalis yang cukup kuat hingga saat ini karena ternyata imaginasi publik pada masa jayanya Soeharto masih belum hilang. Publik yang lain cenderung melupakan praktik diktator rezim orba tersebut. Ketiga , tokoh penting partai baru seperti Partai Berkarya adalah putra Soeharto yang bisa menjadi tumpuan dahaga publik pada kepemimpinan Soeharto. “Tommy Soeharto masih belum sepenuhnya pulih dari citra buruk masa lalunya, tetapi publik nampaknya mulai realistis untuk membuka pintu politik bagi Tommy yang perlahan mulai menunjukkan kemampuan politiknya,” jelas Ubedilah kepada Kontan.co.id, Senin (19/2). Kepiawaian Tommy dalam berpolitik terbukti mampu membawa partai berkarya lolos dan ikut pemilu 2019. Kondisi ini berbeda dengan partai Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto, menantu Soeharto dan partai Garuda yang mengusung Ahmad Ridha Sabana, Presiden Direktur PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) . Menurut Ubedilah, performa buruk Golkar sebagai partai besutan Soeharto banyak menuai kekecewaan dalam 10 tahun terakhir ini sehingga dimungkinkan pemilih Golkar yang kecewa akan beralih ke Partai Berkarya. Sedangkan peluang partai Garuda untuk mendulang suara ada karena Sekjen Partai Garuda Abdullah Masyuri memiliki jaringan ke pasar-pasar tradisional se-Indonesia. Adapun dukungan dari putri keluarga Soeharto bisa tersalurkan karena memiliki TPI. “Tetapi masih sangat sulit untuk menandingi ketokohan Tommy,” jelas Ubedillah. Reporter Tane Hadiyantono Editor : Sofyan Hidayat PEMILU 2019 VIDEO Berita terbaru Nasional

JAKARTA, Indonesia – Seperti biasanya, Anies Baswedan pandai mengolah kata. Saat hadir dalam acara Haul Presiden RI Ke-2 Soeharto dan Peristiwa 11 Maret, calon gubernur DKI Jakarta itu antara lain mengatakan bahwa dengan hadir di acara tersebut dia bisa belajar sejarah masa depan . Menurut Anies Baswedan, Soeharto merupakan sosok pemimpin yang mengutamakan pembangunan. Anies menilai, setiap manusia memang memiliki kekurangan, termasuk Soeharto. “Tapi banyak pelajaran kepemimpinan yang bisa kita ambil dari figur Pak Harto,” kata dia, Di Mesjid At Tin, Sabtu malam (11/3/2017). Pernyataan itu sebenarnya nuansanya netral. Tidak merujuk ke “baik” ataupun “buruk”.

seperti di kutip dari https://www.rappler.com

Beredarnya “meme” gambar Soeharto dengan kalimat, “penak jamanku, tho”, atau enak di zaman saya kan? Berlangsung sejak paruh kedua pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lembaga Indo Barometer pernah mengadakan survei dengan 1.200 responden pada tahun 2011, dan salah satu hasilnya adalah Presiden Soeharto paling populer, diikuti oleh Presiden SBY. Yang mengkritik survei ini mengatakan bahwa jelas saja Soeharto lebih populer karena dia memerintah selama 32 tahun. SBY memerintah enam tahun saat itu. Presiden RI diantara Soeharto dan SBY tak ada yang berkuasa satu periode penuh.

seperti di kutip dari https://www.rappler.com

Pada Pemilu Legislatif 2014, Titiek Soeharto yang kembali aktif di Partai Golkar, meraih kursi di DPR RI mewakili daerah pemilihan Daerah Istimewa Yogyakarta. Titiek aktif berkampanye untuk Prabowo Subianto yang notabene mantan suaminya, dalam pilpres 2014. Partai Golkar mendukung Prabowo Subianto melawan Joko “Jokowi” Widodo. Prabowo kalah. Di Partai Golkar yang didirikan ayahnya, Titiek menjabat sebagai wakil ketua umum di era kepengurusan Aburizal Bakrie 2014-2019. Aburizal kemudian digantikan oleh Setya Novanto. Sebelum menjadi wakil ketua umum, Titiek adalah salah satu dari ketua.

seperti di kutip dari https://www.rappler.com

Di kalangan internal Partai berlambang Beringin itu, masuknya Titiek ke politik praktis dianggap memiliki dua misi. Pertama, mempertahankan trah Soeharto. Kedua, memastikan Partai Golkar berjalan ke arah yang benar sebagaimana digariskan Soeharto dan pendiri lainnya. “Golkar itu berdiri sebagai kendaraan untuk mempertahankan kekuasaan (Soeharto), dan berjalan baik selama 30 tahun dengan roh kekaryaan. Rakyat melihat hasil karyanya, berupa pembangunan. Ketika reformasi tiba, rakyat masih memilih karena rohnya terlihat sama. Kekaryaan. Sekarang kan sudah jauh dari roh itu,” demikian salah satu pengurus harian Golkar ketika ditanyai Rappler.

seperti di kutip dari https://www.rappler.com

SK Kemhukham juga mengesahkan susunan pengurus Partai Berkarya 2016-2021. Di parpol ini Tommy Soeharto menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina. Mantan Menkopolkam di era Presiden Jokowi, Tedjo Edhy Purdijatno menjadi Ketua Dewan Pertimbangan. Tedjo Edhy Purdijatno yang pernah menjabat Kepala Staf Angkatan Laut di era Presiden SBY itu adalah kader Partai NasDem saat diangkat Jokowi menjadi menkopolkan. Jokowi mencopot Tedjo Edhi dan menggantinya dengan Luhut Binsar Panjaitan dalam reshuffle jilid 1 kabinet Jokowi .

seperti di kutip dari https://www.rappler.com

Fenomena keluarga tokoh politik, apalagi yang pernah menjadi presiden ingin melestarikan dinastinya sebenarnya terjadi di mana-mana termasuk di kawasan negeri tetangga seperti Filipina. Putra mantan Presiden Ferdinand Marcos, Senator Ferdinand “Bongbong” Marcos, nyaris menjadi wakil presiden dalam Pemilu 2016 di negeri itu. Dia kalah tipis dibandingkan Leni Robredo. Presiden Rodrigo Duterte secara terbuka mendukung Bongbong Marcos ketimbang Leni Robredo. Pemilihan presiden dan wapres di Filipina dilakukan terpisah, meski simultan. Tak heran jika hubungan Duterte dan Wapres Leni Robredo tergolong buruk saat ini.

seperti di kutip dari https://www.rappler.com

Selain keluarga Soeharto, yang nampak jelas ingin mempertahankan kelanjutan dinasti politiknya di tingkat nasional adalah keluarga Presiden pertama, Sukarno dan Presiden ke-6, SBY. Megawati Sukarnoputri yang menjabat ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), menyodorkan putrinya, Puan Maharani, sebagai menteri di kabinet Jokowi. Puan menjabat menteri koordinator bidang pembangunan manusia dan kebudayaan. Sebelumnya, Puan sudah menjadi unsur pimpinan PDIP di DPR, sebagai ketua fraksi.

seperti di kutip dari https://www.rappler.com

SBY? Sudah jelas. Putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono, memilih pension awal dari dinas militer untuk berlaga di Pilkada Jakarta . Meskipun akhirnya gagal di putaran pertama pada Pilkada 15 Februari 2017, pamor Agus sudah melambung ke jajaran politisi yang populer. Mengingat Partai Demokrat yang minim sosok populer, kuat dugaaan Agus akan melanjutkan kepemimpinan di parpol yang didirikan antaralain oleh Ibunya, Ani Yudhoyono, untuk menjadi kendaraan politik SBY pada pilpres 2004. Pilkada Jakarta 2017 dipastikan sebagai uji kekuatan jelang Pilpres 2019

seperti di kutip dari https://www.rappler.com

“Jangan ada yang mengambil langkah mengail di air keruh dan memunculkan kegaduhan. Reaksi membabi buta akan menjadi blunder yang merusak soliditas partai menuju tahun politik,” kata Agung, yang menurut sumber di Golkar, belakangan kompak dengan Setya Novanto. Padahal sebelumnya, terutama saat pileg dan pilpres, Novanto kompak dengan Ical Bakrie. Agung mengakui ada skenario yang menginginkan Setya Novanto dinonaktifkan dari jabatan ketua umum dan menunjuk pelaksana tugas. Skenario lain adalah wacana musyawarah nasional luar biasa.

seperti di kutip dari https://www.rappler.com

Begitulah kita mencoba memahami bagaimana Jokowi menempatkan sosok-sosok yang lekat dengan aroma Orde Soeharto di sekelilingnya. Ahok yang tadinya ingin diusung jalur independen, kemudian pindah haluan didukung PDIP dan parpol termasuk Partai Golkar. Anies Baswedan yang dalam Pilpres 2014 di kubu Jokowi-JK dan kini bermesraan dengan Prabowo dan Titiek, duduk semeja dengan Tommy dan Rhizieq Shihab. Ya, jangan kaget juga kalau nanti di putaran kedua Pilkada Jakarta, 19 April, SBY dan Agus Yudhoyono cenderung berpihak ke Ahok ketimbang ke Anies yang didukung Prabowo. Melihat manuver politik jangan baper- an. – Rappler.com

Related Posts

Comments are closed.