ORI Minta Rektor UHO Dipecat, Menristek Dikti: Nggak Ada Plagiarisme

ORI Minta Rektor UHO Dipecat, Menristek Dikti: Nggak Ada Plagiarisme

Ombudsman RI (ORI) meminta Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohamad Nasir mencopot gelar dan jabatan Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara, Muh Zamrun Firihu yang diduga melakukan plagiarisme. Menurut Nasir, yang bisa menilai ini hanyalah ahli di bidang akademik. “Ombudsman itu lihatlah pada ahlinya. Kami pun seorang profesor di bidang akademik, saya serahkan pada ahlinya. Saya sudah bentuk tim independen, ada dari ITB, UI, ahli fisika, itu kemudian di-review. Sebelum saya lantik rektor itu sudah saya review lagi, karena laporan itu sudah lama masuk,” kata Nasir di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, Selasa (29/1/2018). Nasir berpendapat, ada yang tidak tepat dari cara investigasi Ombudsman. Masalah ini akhirnya bergulir akibat karya Zamrun di-review rekan sejawatnya di UHO. Menurutnya, hal ini rawan menimbulkan conflict of interest. Maka dari itu, Nasir membentuk tim independen dari Direktorat Sumber Daya, Direktorat Pembelajaran, Direktorat Kelembagaan Tim. Tim yang dibentuknya juga melibatkan Eselon 1. “Ternyata setelah dites, nggak ada apa-apanya, plagiarisme juga nggak ada. Malah dia hasilnya sangat baik. Kalau dalam penilaian, itu dia termasuk yang levelnya 2, artinya kalau 1 paling tinggi lalu 2, 3, 4, 5, itu dia di 2. Tinggi (nilainya),” papar Nasir. Walau posisi Nasir sebagai menteri, dia tahu diri untuk tidak ikut campur atau mengintervensi. Dia lebih bersikap hati-hati sebab ada kekhawatiran itu bukan bidang yang dia kuasai betul. Nasir menyebut cara pandang Ombudsman yang salah. “Ini cara melihatnya yang salah. Jadi kalau Ombudsman melihatnya, pada pengadministrasiannya itu, bukan di dalamnya. (Padahal) Di dalamnya ini bukan ranah kita. Ini adalah expert judgement (penilaian ahli) seseorang. Ini saya pun sebagai menteri tidak akan intervensi masalah ini,” tuturnya. Lagi pula, laporan itu diketahuinya sudah lama ada. Hanya saja kini diangkat kembali. “Laporan itu (sudah ada) sebelum diangkat (sebagai rektor) itu. Ini dibawa terus. Jangan dibawa ke ranah yang tidak jelas. Kembalikan ke ranah yang benar, akademik. Serahkan pada ahlinya. Kalau bukan kepada ahlinya, tunggu kehancuran,” pungkasnya menutup. Muh Zamrun Firihu yang juga guru besar Ilmu Fisika dilaporkan oleh 30 orang guru besar. Zamrun kemudian dinyatakannya melanggar kode etik profesi pendidik yang menjunjung tinggi profesionalitas dan integritas intelektual. “Menurut saya, cabut gelarnya, hilangkan jabatannya,” kata komisioner Ombudsman Laode Ida, di Gedung ORI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (29/1). Secara etika, Zamrun dinilai sudah tak pantas lagi menjabat dan menyandang gelar profesor. Ada tiga karya ilmiah Zamrun yang diperiksa kadar plagiatnya. Ini berdasarkan permintaan keterangan dari pihak pelapor. Pelapor adalah 30 orang guru besar. Berikut adalah tiga judul karya ilmiah dari guru besar ilmu fisika itu yang diperiksa oleh pihak Ombudsman: 1. Microwaves Enhanced Sintering Mechanisms in Alumina Ceramic Sintering Experiments. 2. 2.45 GHZ Microwave Drying of Cocoa Bean. 3. Role of Triple Phonon Excitations in Large Angle Quasi-elastic Scattering of Very Heavy Mass Systems. “Yang kami persandingkan ada tiga jurnal. Dari abstrak sampai kesimpulan dijiplak. Bayangkan itu! Abstrak sampai kesimpulan dijiplak, jadi apa isinya?” kata Laode sambil tertawa. Pelapor menyampaikan bahwa berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan melalui scopus.com dan plagiarism checker Small SEO Tools, terdapat bukti bahwa Zamrun melakukan plagiat terhadap karya peneliti lain. Situs turnitin juga mendeteksi adanya plagiarisme di karya Zamrun. Selain pemeriksaan dokumen, Ombudsman juga meminta keterangan pelapor dan pendapat para ahli. Para ahli di antaranya ialah Dr V Henry Soelistyo Budi, Prof Dr Agus Sardjono, Rahayu Suriati Hidayat, Bambang Trimansyah, Rocky Gerung, dan Prof Zaki Su’ud.

Ombudsman RI (ORI) meminta Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohamad Nasir mencopot gelar dan jabatan Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara, Muh Zamrun Firihu yang diduga melakukan plagiarisme. Menurut Nasir, yang bisa menilai ini hanyalah ahli di bidang akademik. “Ombudsman itu lihatlah pada ahlinya. Kami pun seorang profesor di bidang akademik, saya serahkan pada ahlinya. Saya sudah bentuk tim independen, ada dari ITB, UI, ahli fisika, itu kemudian di-review. Sebelum saya lantik rektor itu sudah saya review lagi, karena laporan itu sudah lama masuk,” kata Nasir di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, Selasa (29/1/2018). Nasir berpendapat, ada yang tidak tepat dari cara investigasi Ombudsman. Masalah ini akhirnya bergulir akibat karya Zamrun di-review rekan sejawatnya di UHO. Menurutnya, hal ini rawan menimbulkan conflict of interest. Maka dari itu, Nasir membentuk tim independen dari Direktorat Sumber Daya, Direktorat Pembelajaran, Direktorat Kelembagaan Tim. Tim yang dibentuknya juga melibatkan Eselon 1. “Ternyata setelah dites, nggak ada apa-apanya, plagiarisme juga nggak ada. Malah dia hasilnya sangat baik. Kalau dalam penilaian, itu dia termasuk yang levelnya 2, artinya kalau 1 paling tinggi lalu 2, 3, 4, 5, itu dia di 2. Tinggi (nilainya),” papar Nasir. Walau posisi Nasir sebagai menteri, dia tahu diri untuk tidak ikut campur atau mengintervensi. Dia lebih bersikap hati-hati sebab ada kekhawatiran itu bukan bidang yang dia kuasai betul. Nasir menyebut cara pandang Ombudsman yang salah. “Ini cara melihatnya yang salah. Jadi kalau Ombudsman melihatnya, pada pengadministrasiannya itu, bukan di dalamnya. (Padahal) Di dalamnya ini bukan ranah kita. Ini adalah expert judgement (penilaian ahli) seseorang. Ini saya pun sebagai menteri tidak akan intervensi masalah ini,” tuturnya. Lagi pula, laporan itu diketahuinya sudah lama ada. Hanya saja kini diangkat kembali. “Laporan itu (sudah ada) sebelum diangkat (sebagai rektor) itu. Ini dibawa terus. Jangan dibawa ke ranah yang tidak jelas. Kembalikan ke ranah yang benar, akademik. Serahkan pada ahlinya. Kalau bukan kepada ahlinya, tunggu kehancuran,” pungkasnya menutup. Muh Zamrun Firihu yang juga guru besar Ilmu Fisika dilaporkan oleh 30 orang guru besar. Zamrun kemudian dinyatakannya melanggar kode etik profesi pendidik yang menjunjung tinggi profesionalitas dan integritas intelektual. “Menurut saya, cabut gelarnya, hilangkan jabatannya,” kata komisioner Ombudsman Laode Ida, di Gedung ORI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (29/1). Secara etika, Zamrun dinilai sudah tak pantas lagi menjabat dan menyandang gelar profesor. Ada tiga karya ilmiah Zamrun yang diperiksa kadar plagiatnya. Ini berdasarkan permintaan keterangan dari pihak pelapor. Pelapor adalah 30 orang guru besar. Berikut adalah tiga judul karya ilmiah dari guru besar ilmu fisika itu yang diperiksa oleh pihak Ombudsman: 1. Microwaves Enhanced Sintering Mechanisms in Alumina Ceramic Sintering Experiments. 2. 2.45 GHZ Microwave Drying of Cocoa Bean. 3. Role of Triple Phonon Excitations in Large Angle Quasi-elastic Scattering of Very Heavy Mass Systems. “Yang kami persandingkan ada tiga jurnal. Dari abstrak sampai kesimpulan dijiplak. Bayangkan itu! Abstrak sampai kesimpulan dijiplak, jadi apa isinya?” kata Laode sambil tertawa. Pelapor menyampaikan bahwa berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan melalui scopus.com dan plagiarism checker Small SEO Tools, terdapat bukti bahwa Zamrun melakukan plagiat terhadap karya peneliti lain. Situs turnitin juga mendeteksi adanya plagiarisme di karya Zamrun. Selain pemeriksaan dokumen, Ombudsman juga meminta keterangan pelapor dan pendapat para ahli. Para ahli di antaranya ialah Dr V Henry Soelistyo Budi, Prof Dr Agus Sardjono, Rahayu Suriati Hidayat, Bambang Trimansyah, Rocky Gerung, dan Prof Zaki Su’ud.

Related Posts

Comments are closed.