Novel Baswedan Hanya Bisa Ditemui Tamu Mulai Asar Hingga Magrib

Novel Baswedan Hanya Bisa Ditemui Tamu Mulai Asar Hingga Magrib

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan keluarga Novel Baswedan sepakat untuk membatasi waktu kunjungan tamu yang ingin membesuk. Jam kunjungan yang diizinkan KPK hanya dari asar hingga magrib. “Bang Novel juga akan menerima tamu cuma dari jam nanti dari asar sampai magrib. Jadi kami sudah sepakat, asar sampai magrib saja nerima tamunya. Jadi di luar itu kalau ada tamu-tamu akan kita tolak ya. Pengamanan tolak kalau tamu ada yang datang di luar asar dan magrib ya kalau itu sudah ada janji atau apa itu bisa dikonfirmasi dulu ke keluarga,” kata Kepala Biro Umum KPK Syarief Hidayat di Jalan Deposito T8, RT 03/10, Kelapa Gading, Pegangsaan Dua, Jakarta Utara, Kamis (22/2/018). Syarief menekankan, janji yang sudah dibuat untuk bertemu juga masih harus dikomunikasikan dengan pihak keluarga. Bila keluarga mengizinkan, maka tamu tersebut diterima. “Kalau keluarga nggak (terima tamu) ya sudah. Tapi asar dan magrib akan terima tamu,” ujarnya. Untuk pengamanan, KPK menempatkan 4 anggota Pamdal KPK di depan rumah Novel. KOKAM Muhammadiyah juga ikut membantu pengamanan di sekitar rumah Novel. “Sampai dengan ini mungkin cuma 4 orang tapi ada teman-teman dari KOKAM juga bantu. Tadi Pak Dahnil bilang mau naruh KOKAM,” kata Syarief.

Baca juga : novel baswedan presiden ikut bertanggung jawab

“Abi, ayo jalan sama Umi,” tutur Zara Khadeeja (7), yang menatap mata Novel Baswedan lekat-lekat. Novel tersenyum, lalu memeluk putrinya itu erat sekali, sambil menjawab. “Nanti ya, Abi mau bicara sebentar dengan tamu.” Kening Zara berkerut, tapi sesudah itu mengangguk. “Iya deh Abi,” katanya pelan. Ia kemudian bergegas menghampiri Sang Ibu. Zara dengan tiga kakak dan satu adiknya itu sedang berada di Singapura untuk menjenguk Novel. Mereka merindukan Sang Ayah karena sudah hitungan bulan tak jumpa. “Kebetulan pesantren anak-anak libur, jadi bisa jenguk,” kata Rina Emilda, istri Novel. Jika dihitung-hitung, sudah 200 sekian hari Novel di Singapura untuk pengobatan. Kedua matanya rusak akibat disiram air keras orang tak dikenal April lalu. Kasus penyiraman itu pun belum menemui titik terang jua. “Logika saya mengatakan, (penanganan kasus) ini enggak akan serius,” ujar Novel ketika ditemui Heru Triyono untuk wawancara di Masjid Al-Falah, Cairnhill Road, Singapura, Jumat (3/11/2017). Kondisi mata Novel memang belum baik. Mata kanannya sudah bisa lihat, meski masih rabun. Untuk baca, dia butuh bantuan kacamata. Sementara mata kiri, kondisinya menonjol dan berwarna kuning. Bentuk menonjol itu karena ada gusi yang sedang ditanam, untuk menumbuhkan selaput mata–sebelum dilakukan operasi. “Saya juga belum tahu sembuhnya kapan,” ujar Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini. Aktivitas Novel di Singapura memang cuma terfokus pada pemulihan matanya. Pada hari tertentu ia harus kontrol ke ahli retina, ahli mata glaukoma dan juga dokter gigi. Kegiatan lainnya adalah salat dan mengaji di Masjid Al-Falah. Ia mengaku sesekali saja memantau perkembangan kasusnya. Saat saya temui, Novel baru selesai salat Asar di Masjid Al-Falah. Dia memakai baju panjang sampai mata kaki dan peci. Selama satu jam kami berbincang–dengan suara perlahan–sambil bersandar di dinding surau. Sore itu, semuanya seperti biasa-biasa saja. Malah Novel masih bisa tertawa, meski tetap merasa takut. “Kalau kamu takut, sebetulnya musuh kamu itu lebih takut lagi,” ujar pria berusia 40 ini. Berikut perbincangannya:

seperti di kutip dari https://beritagar.id

Sudah 200 sekian hari kasus Anda belum ada perkembangan. Apakah Anda percaya kasus ini bisa tuntas? Inginnya percaya. Tetapi fakta-fakta yang saya dapat membuat logika mengatakan (penuntasan kasus) ini enggak akan serius. Bisa jadi kasus Anda ini bakal senasib dengan kasus penganiayaan aktivis ICW Tama Langkun, yang juga belum jelas sampai kini? Pada saat pertama kali bicara pun saya sudah bilang, (kasus) ini tidak akan diungkap. Ternyata, apa yang saya sampaikan benar. Soalnya kasus penyerangan kategori hit and run cukup sulit diungkap. Hal itu Kabareskrim Ari Dono yang mengatakan… Sekarang mana ada sih pelaku yang hit dan diam, semuanya hit and run . Saya tanya, penyerangan mana yang hit dan diam? Anda tahu perampokan nasabah bank? Itu hit and run. Anda tahu penyerangan air keras yang di Rawamangun? Itu juga hit and run . Jadi semuanya hit and run . Kenapa hit and run yang ini jadi beda? Jujur saja lah. Kalau memang takut dan enggak berani, bilang saja. Enggak perlu alasan dengan cara bohong. Bohongnya di mana? Sulit untuk saya sampaikan, dan sebetulnya sudah saya jelaskan. Kalau saya ulang-ulang kan enggak bagus. Anda kecewa terhadap proses penyidikan kasus ini? Yang jadi pertanyaan bagi saya: kapan polisi mulai membenahi internalnya? Jika polisi sudah berani berbenah, maka kasus ini tak akan jadi problem . Kalau selalu ingin pencitraan, ya begini yang terjadi. Tetapi polisi ada niat memperkuat pemberantasan korupsi dengan membentuk Densus Antikorupsi? Kebiasaan kita kan bikin lembaga, namun tidak pernah dievaluasi. Pertanyaannya, Densus itu efektivitasnya seperti apa? Polisi pun belum pernah mampu, atau saya pakai kata “berani” lebih tepatnya, untuk ungkap korupsi di internalnya sendiri. Belum pernah kan? Hanya diungkap apabila ada pejabat atau anggotanya yang melawan “institusi”, nah itu baru diungkap. Benarkah dugaan bahwa pembentukan Densus itu hanya “pesanan”? Kalau saya yang ngomong pesanan nanti akan ramai. Masih belum percaya juga dengan mantan institusi Anda itu? Ketika korupsi di internal masih banyak, bagaimana bisa diberi kepercayaan untuk memberantas korupsi. Mana mungkin sapu kotor dipakai untuk membersihkan. Itu keprihatinan kita semua. Kita berharap polisi diawaki orang yang betul-betul ingin berbenah nantinya. Penuntasan kasus Anda ini jadi pertaruhan kredibilitas Kapolri lho , pasti dia serius… Iya, harus begitu. Menjadi pertaruhan politik Presiden Jokowi juga kah dalam pandangan Anda? Mungkin pertaruhan untuk mengungkapnya juga sama besar. Mungkin dipilih juga mana yang lebih menyenangkan atau lebih aman. Bagi saya, dengan segala yang terjadi ini, saya sudah ikhlaskan. Cuma, apakah negara hanya diam? Problem -nya disitu. Kebetulan kan saat ini Presidennya Pak Jokowi dan Kapolrinya Pak Tito. Apakah beliau-beliau ingin membuat sejarah seperti itu. Artinya Anda ikhlas jika kasus ini akhirnya tidak terungkap? Saya ikhlas. Cuma saya ingatkan, ketika tidak diungkap, berarti negara membiarkan kasus seperti ini akan terjadi lagi. Negara membiarkan orang bayaran dengan mudah melakukan hal serupa atau bahkan lebih buruk. Apakah begitu yang diharapkan? Itu sangat buruk dan memalukan. Walau enggak terungkap, Anda tetap akan bekerja sebagai Penyidik KPK? Ya tidak masalah. Kalau orang bilang saya harus move on , saya sudah melakukannya. Tetapi saya tetap tidak terlalu berharap kasus ini terungkap. Jika berharap, saya hanya akan kecewa nantinya. Lebih baik saya ikhlas. Dalam pandangan Anda, apakah ada kemungkinan kasus ini terungkap, meskipun itu kecil? Kemungkinan tetap ada. Ini cuma masalah mau atau tidak. Kalau Presiden memandang ini penting, dia bisa beri perhatian khusus dengan menekankan (kasus) ini kepada pimpinan Polri untuk mengungkap. Enggak ada yang sulit. Kalau sulit, saya susah memahaminya. Mungkin sulit karena kasus Anda ini diduga menyentuh orang-orang penting… Kembali ke tadi. Ini masalah kemauan, bukan masalah bisa atau enggak. Saya kira teknologi dan segala macam itu membuat kita enggak sulit untuk mengungkap. Apalagi pengalaman, jaringan dan lain-lain. Menurut Anda, posisi Presiden dan Kapolri tersandera dalam kepentingan-kepentingan tertentu? Saya enggak mau berasumsi. Tetapi, sudah semestinya, Presiden sebagai pemimpin negara ikut bertanggung jawab. Ingat, masalah ini bukan masalah saya saja. Saya pun sudah ikhlas. Namun, ini masalah sejarah, yang suatu saat akan jadi catatan. Kemudian, jadi pertanyaan besar juga bagaimana komitmen negara terhadap pemberantasan korupsi.

seperti di kutip dari https://beritagar.id

Apakah KPK mendukung penuh Anda? Mereka mendukung saya dan membantu banyak sekali. Tapi mereka seperti maju mundur untuk mendorong pembentukan tim gabungan pencari fakta kasus Anda… Saya juga melihat untuk perkara SN juga enggak solid. Mestinya pimpinan mendedikasikan seluruhnya untuk kepentingan negara. Tetapi, jika ukurannya begitu, nanti kita jadi berprasangka kepada pimpinan A atau B, ya kan? Sepertinya, tidak solidnya KPK karena ada konflik internal, termasuk konflik antara Anda dan Aris Budiman, benar? Akan jadi rumit ketika loyalitas itu bukan cuma untuk KPK. Contoh, ada lembaga tertentu atau kementerian tertentu yang orangnya ada di KPK. Ternyata orang ini menjaga kepentingan kementerian atau lembaganya tersebut. Tentu, orang ini akan memiliki perbedaan cara pandang dan sikap dengan kita. Loyalitas kita kan memberantas korupsi, tapi orang ini ya belum tentu. Proses komunikasi di internal KPK memangnya enggak lancar ya, bagaimana komunikasi Anda dengan Aris? Komunikasi kita baik dan lancar. Hanya saja, menjadi berbeda ketika ada kepentingan. Maksudnya, apakah kepentingan tersebut menyebabkan pengusutan sebuah kasus jadi terhambat? Begini. Seumpama ada pejabat A didapati terkait sebuah kasus, maka orang di KPK yang satu kantor dengan si pejabat A akan memiliki pertimbangan berbeda terhadap kasus itu. Ini rusak dan tidak boleh terjadi di KPK. Soal titip menitip orang di KPK ini apakah sudah lama terjadi? Bukan menitip ya, orang dari lembaga tertentu memang ditugaskan di sana (KPK). Nah orang ini yang sedikit banyak menutup-nutupi (sebuah kasus). Sama saja kan bahasanya, ya menitip juga kalau begitu… Nitip ya bahasanya? Ya kurang lebih he-he . Intinya ini menjadi hal buruk di KPK, dan akan jadi masalah kalau enggak objektif, kan repot kalau semua didasari kepentingan. Apakah pertarungan kepentingan itu pasti terjadi dalam setiap kasus yang ditangani KPK? Enggak, beberapa saja. Cuma, ketika itu ada, maka akan jadi hal buruk. Sekali ada orang yang berani berbuat begitu, besok-besok ada yang meniru. Ya, mumpung belum terlalu jauh, saya sampaikan saja hal ini. Tempo menulis ada dua penyidik KPK yang diduga telah merusak serta menghilangkan bukti, bagaimana itu bisa terjadi? Itu baru kali ini terjadi. Saya juga baru tahu. Ini suatu hal yang serius dan sangat-sangat keterlaluan. Sejak lama ada wacana KPK akan mengangkat penyidik sendiri. Mungkin enggak itu terealisasi? Memang idealnya punya sendiri. Bukan karena saya sudah keluar dari Polri, bukan ya. Di lembaga antikorupsi negara lain yang berhasil seperti Singapura, Hongkong dan Australia, mereka tidak melibatkan polisi. Jadi, pertanyaannya begini, lembaga antikorupsi negara mana yang melibatkan polisi dan berhasil? Enggak ada. Polisi dalam hal ini bukan cuma polisi Indonesia ya, polisi di negara manapun punya kewenangan yang banyak dan punya peluang korupsi. Btw enggak semua hal baik itu terkait Anda, dalam pledoi Miryam Haryani, Anda dituding melakukan intimidasi, benar kah? Enggak benar omongan itu. Satu-satunya ibadah yang paling mudah ya itu: tanpa berbuat apapun tetapi dapat pahala. Apa itu? Difitnah. Anda diam saja tapi dapat pahala. Jadi kenapa harus marah jika difitnah. Kalau saya justru alhamdulillah. Anda juga dibilang Miryam begitu arogan karena menyatakan dia bukanlah siapa-siapa… Saya terbiasa periksa orang itu enggak sendiri. Pasti ada orang lain dan merekamnya dengan benar. Kalau saat itu ada problem , kenapa waktu itu (Miryam) bisa tertawa. Masa ada orang diintimidasi tetapi becanda dan tertawa. Kenapa Anda enggak mencoba klarifikasi? Dari dulu saya sering menghadapi fitnah. Saya juga tidak suka mengklarifikasi, karena untuk apa mengklarifikasi. Saya biarkan saja, kecuali fitnah itu sudah membuat keburukan bagi banyak orang. Kalau Ali bin Abu Thalib bilangnya begini: kamu enggak perlu mengklarifikasi atas omongan-omongan yang enggak benar, karena musuhmu enggak akan percaya, sementara yang kenal dengan kamu juga enggak perlu klarifikasi itu. Terus untuk apa klarifikasi? Ok. Anda juga diduga melakukan pencemaran nama baik lewat email dengan menyebut Aris Budiman direktur tak berintegritas? Bohong itu. Pada akhir kalimat (email) saya menyampaikan, bahwa bapak (Aris) masih punya kesempatan untuk berbuat baik. Masa saya dibilang mengolok-olok. Pangkal persoalan Anda dengan Aris sebenarnya apa, hingga muncul email itu? Dia akan mengambil Kombes-Kombes untuk masuk KPK. Ini maunya apa? Mau memperkuat atau mengendalikan? Saya enggak yakin itu untuk memperkuat. Kalau mau memperkuat kenapa enggak ditaruh di Direktorat Tipikor Mabes Polri saja. Dari mana Anda tahu motif Aris adalah mengendalikan? Saya tahu, cuma saya enggak enak menyampaikannya apa motifnya. Lihat saja berapa banyak sih kasus terkait polisi yang disetop sama beliau. Jangan bicara integritas kalau begitu.

seperti di kutip dari https://beritagar.id

Sebenarnya apa pandangan Anda ketika tahu Setya Novanto lepas dari status tersangka korupsi e-KTP? Saya tahu pihak-pihak mana saja yang berjuang mati-matian untuk buat dia aman sampai 2019. Jadi, ketika itu terjadi, saya tidak kaget. Cuma saja, mereka kan enggak tahu kalau bukti itu tidak hilang. Enggak lama, kita akan bisa proses lagi (SN). Ada yang menduga teror terhadap Anda terkait posisi Anda sebagai penyidik kasus e-KTP. Selain di Jakarta, apakah di Singapura teror itu juga datang? Di sini ketat soal teror. Kalau mereka berani, risikonya cukup tinggi. Peneror di Singapura bisa kena hukum gantung. Makanya orang enggak akan berani melakukan teror di sini. Oh, sebab itu Anda merasa aman berada di Singapura? Apapun yang terjadi itu takdir Allah. Kalau diserang, ya itu takdir Allah, enggak perlu repot. Allah enggak pernah lalai dengan semua yang terjadi–karena Dia kontrol penuh semuanya. Jadi saya enggak perlu khawatir. Bukannya teror sudah mengarah ke anak-anak Anda juga. Beberapa waktu lalu mereka diikuti ketika ke mini market , enggak khawatir? Iya, anak yang nomor dua dan tiga diikuti. Saya bilang ke mereka bahwa mereka hanya perlu ikhtiar dan berhati-hati. Enggak perlu takut, karena enggak akan terjadi apapun kecuali Allah yang menginginkan. Bagaimana caranya memberi pemahaman ke anak-anak soal teror ini? Mereka menyadari dan kemudian bisa memahami apa yang harus dan sedang saya lakukan. Saya mengajarkan anak-anak meningkatkan iman, takwa dan tauhid. Justru dengan kejadian ini membuat saya mudah menjelaskan keyakinan terhadap Allah kepada mereka. Anda sama sekali enggak takut menghadapi teror ini? Takut pasti. Sampai sekarang pun saya takut, bukan enggak takut. Yang jadi fokus saya adalah bagaimana saya bisa menunda rasa takut itu. Maksudnya, ketika saya takut, tapi saya tetap maju–melawan korupsi. Di Alquran dibilang, kalau kamu takut, sebetulnya musuh kamu itu takut juga, bahkan lebih buruk. Karena apa? Allah kasih pertolongan yang berbuat baik, yang berbuat jahat enggak ditolong. Apa rencana paling dekat setelah Anda sembuh? Tentu saya akan bergabung lagi dengan kawan-kawan untuk pemberantasan korupsi.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan keluarga Novel Baswedan sepakat untuk membatasi waktu kunjungan tamu yang ingin membesuk. Jam kunjungan yang diizinkan KPK hanya dari asar hingga magrib. “Bang Novel juga akan menerima tamu cuma dari jam nanti dari asar sampai magrib. Jadi kami sudah sepakat, asar sampai magrib saja nerima tamunya. Jadi di luar itu kalau ada tamu-tamu akan kita tolak ya. Pengamanan tolak kalau tamu ada yang datang di luar asar dan magrib ya kalau itu sudah ada janji atau apa itu bisa dikonfirmasi dulu ke keluarga,” kata Kepala Biro Umum KPK Syarief Hidayat di Jalan Deposito T8, RT 03/10, Kelapa Gading, Pegangsaan Dua, Jakarta Utara, Kamis (22/2/018). Syarief menekankan, janji yang sudah dibuat untuk bertemu juga masih harus dikomunikasikan dengan pihak keluarga. Bila keluarga mengizinkan, maka tamu tersebut diterima. “Kalau keluarga nggak (terima tamu) ya sudah. Tapi asar dan magrib akan terima tamu,” ujarnya. Untuk pengamanan, KPK menempatkan 4 anggota Pamdal KPK di depan rumah Novel. KOKAM Muhammadiyah juga ikut membantu pengamanan di sekitar rumah Novel. “Sampai dengan ini mungkin cuma 4 orang tapi ada teman-teman dari KOKAM juga bantu. Tadi Pak Dahnil bilang mau naruh KOKAM,” kata Syarief.

jpnn.com , JAKARTA – Penyiraman air keras yang dialami penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan diharapkan menjadi pembelajaran dalam hal pengamanan penyidik KPK. Menurut mantan Ketua KPK Abraham Samad , harus ada ada pengamanan berlapis untuk penyidik KPK agar kejadian Novel tidak terulang lagi. “Seharusnya memang seperti itu (pengamanan berlapis). Karena saya lihat pengamanan di KPK agak minimalis,” kata dia di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (22/2). Samad yang juga seorang advokat ini menambahkan, negara wajib melindungi pihak yang memberantas korupsi. Menurut dia, kalau negara tidak hadir, pemberantasan korupsi bakal terganggu. “Kita tidak mau koruptor itu menang, mengalahkan republik ini. Oleh karena itu kita harus terus maju, semangat, dan harus terus memberikan dukungan kuat bagi KPK,” sambung dia. (mg1/jpnn)

Menurutnya tidak ada unsur pidana dari perbuatan melempar anjing untuk santapan buaya. Polisi mengimbau ke masyarakat agar tidak melakukan hal serupa.”Nggak (nggak ada unsur pidana). Mungkin imbauan saya, untuk hewan itu jangan diini, misalnya anjing, kalau misalnya bangkai ya nggak apa-apa, ini masih hidup,” ujarnya.Ulah seorang pria pelempar anjing terekam dalam video berdurasi 36 detik yang diunggah ke YouTube pada Rabu (21/2). Di dalam video tampak seorang pria mengenakan kaos putih dan celana pendek yang menenteng anjing hidup.Pria itu lalu melemparkannya ke sungai. Anjing itu terlihat berupaya bertahan di air. Tak lama, anjing itu disambar buaya.(idh/fdn)

seperti di kutip dari https://webcepat.ga

Pimpinan DPR Hormati Apa Pun Keputusan Jokowi soal UU MD3 Pemberhentian Bupati Kebumen Tunggu Keputusan Mendagri KPK: Kembalinya Novel Jadi Vitamin dan Penguat Semangat Respons Jokowi Soal Inpres Perdagangan Antar Daerah Sutiyoso Bicara Modus Pura-pura Gila di Kasus Penyerangan Ulama Aisyah Dibayar untuk Terbang ke Macau, Tempat Tinggal Kim Jong-Nam Akan Dimediasi dengan PBB, KPU Minta Parpol Terima Putusan Bawaslu Pengendara Motor di Wales Tewas Usai Helmnya Ditabrak Burung Kasus Jerat Pakai Perempuan di Depok, 6 Orang Kembali Ditangkap Polri Sudah Kantongi Sejumlah Jenderal Calon Kepala BNN Jokowi Temui Solihin GP Bahas Pilkada Jabar hingga Citarum Novel Baswedan Hanya Bisa Ditemui Tamu Mulai Asar Hingga Magrib Viral! Curhat Keluarga Pasien Koma yang Merasa Dipaksa Pulang dari RS Sadis! Pria Ini Lempar Anjing Jadi Santapan Buaya di Sungai Polisi Cari Pria yang Lempar Anjing ke Sungai untuk Santapan Buaya Cerita Sahabat Soal Novel yang Puasa Saat Pulang ke Jakarta Pungli untuk Suap, Plt Kadinkes Jombang Mengaku Diancam Dipecat Eka, Si Bocah Malang Dapat Uluran Tangan dari Polres Lamongan Hilang Kendali, Kopaja Terobos Taman Latuharhary Menteng Polisi Selidiki Penyebar Hoax Ulama Karawang Diteror Golkar: Masyarakat Jangan Terprovokasi Isu Penyerangan Ulama NasDem: Jokowi Bisa Terbitkan Perppu untuk Batalkan UU MD3 Bersihkan Longsoran, 5 Relawan Terluka Kena Bongkahan Bambu Menteri Puan Evaluasi Penanganan KLB Campak di Asmat Fahri Hamzah: Selamat Datang, Tuan Novel Baswedan Polisi Bubarkan Anak Sekolah yang Hendak Tawuran di Kampung Melayu Risma Siapkan Rp 17 M untuk Bebaskan Lahan Kebun Raya Mangrove Listrik di Lokasi Longsor yang Tewaskan 5 Orang di Brebes Dipadamkan Tim Cyber Troops Polda Jatim Antisipasi Kampanye Hitam Lewat Medsos Ridwan Kamil Pastikan Taat Aturan KPU Soal Tempat Kampanye Jaksa ke Saksi: Novanto Bilang ‘Kalau Gue Dikejar KPK, Fee Rp 20 M’? Abraham Samad Nilai Perlu Pengamanan Berlapis untuk Penyidik KPK Tiba di Bali, Jokowi akan Tinjau Program Padat Karya Kedapatan Membawa Sabu, Dua Pemuda Mengaku-aku Sebagai Wartawan Pejabat Kontroversial Korut Akan Hadiri Penutupan Olimpiade di Korsel Terungkap! Johannes Marliem Ngaku ke FBI Kirim Uang via Money Changer Pengganti OSO di MPR Ditetapkan Bareng Tambahan Satu Pimpinan DPD Abraham Samad Nilai TGPF Satu-satunya Pilihan Tuntaskan Kasus Novel Guru SD di Surabaya Dibekuk terkait Dugaan Pelecehan 65 Siswa Tak Trauma, Novel Baswedan akan Terus Salat Subuh di Masjid

Related Posts

Comments are closed.