Novanto: Demi Tuhan, Saya Tak Terima Jam Tangan Richard Mille

Novanto: Demi Tuhan, Saya Tak Terima Jam Tangan Richard Mille

Setya Novanto membantah kesaksian Andi Agustinus alias Andi Narogong soal penerimaan jam tangan Richard Mille. Terdakwa kasus korupsi proyek e-KTP itu juga membantah meminta jatah 5 persen untuk DPR. “Kenapa tadi saya tanyakan tipe 01-02 kan ada tahun pembelian. Apalagi November ulang tahun saya. Demi Tuhan saya nggak pernah menerima bulan November tahun 2012,” ujar Novanto ketika menanggapi kesaksian Andi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (22/1/2018). Selain itu, Novanto juga mengaku tak pernah mengambil kembali jam tangan itu saat diservis di Beverly Hills, Amerika Serikat (AS). Apalagi, menurutnya, jika dijual, harga jam tangan itu semakin mahal. “Pernah diperbaiki saya ngambil , kalau ngambil mestinya ada surat karena Richard Mille ketat sekali. Kalau dijual, saya sering jual bekas, bukan lebih murah, makin lama makin lebih mahal,” ucap Novanto. Kemudian, Novanto juga membantah telah meminta jatah 5 persen untuk DPR di kantor Equility Tower, Jakarta. Menurut dia, Chairuman Harahap-lah yang menagih jatah 5 persen untuk DPR. “Ada dua hal yang penting, di Equilty mengenai saya minta 5 persen nggak benar sudah dibenarkan Pak Andi, Saudara Chairuman Harahap yang minta,” kata Novanto. Terkait jatah untuk anggota DPR, Novanto mengaku akan menyampaikannya dalam sidang selanjutnya. Dia pun telah mencatat siapa saja orang yang dimaksudnya itu.

Baca juga : Mereka+Patungan+Beli+Jam+Tangan+Rp1+3+Miliar+untuk+Novanto 1prmn9

Setya Novanto (Photo : Anadolu Ajansi/Eko Siswono Toyudho) VIVA  – Terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong mengaku pernah memberikan jam tangan Richard Mille seharga Rp1,3 miliar kepada Ketua DPR, Setya Novanto. Jam tangan tersebut merupakan hadiah ulang tahun Novanto. Selain itu, Andi mengakui hadiah arloji mewah tersebut sekaligus ucapan terima kasih atas bantuan Setya Novanto yang telah meloloskan anggaran proyek e-KTP di DPR RI. Hal itu diungkapkan Andi saat memberikan keterangan sebagai terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis, 30 November 2017. “Itu ucapan terima kasih atas anggaran,” kata Andi. Menurut Andi, mulanya salah satu pengusaha yang ikut dalam proyek e-KTP, Johannes Marliem, mengajaknya untuk memberikan hadiah kepada Novanto. Waktu itu bertepatan dengan tanggal ulang tahun Novanto, 12 November 2012. Diketahui, Andi Narogong dan Direktur Biomorf Lone LLC, Johannes Marliem merupakan salah satu penggarap e-KTP 2011. “Marliem bilangnya ini mau ulang tahun Pak Novanto, bagaimana kalau kita patungan beli jam,” lanjut Andi. Menindaklanjuti ajakan Marliem, Andi memberikan uang Rp650 juta, atau separuh dari harga jam tangan kepada Marliem. Kemudian, Marliem membelikan jam tangan itu di Amerika Serikat. “Saat diberikan, Pak Novanto senang. Saya bilang, ‘Ini ada hadiah kami berdua atas bantuan Bapak selama ini’,” kata Andi. (ase)

Setya Novanto membantah kesaksian Andi Agustinus alias Andi Narogong soal penerimaan jam tangan Richard Mille. Terdakwa kasus korupsi proyek e-KTP itu juga membantah meminta jatah 5 persen untuk DPR. “Kenapa tadi saya tanyakan tipe 01-02 kan ada tahun pembelian. Apalagi November ulang tahun saya. Demi Tuhan saya nggak pernah menerima bulan November tahun 2012,” ujar Novanto ketika menanggapi kesaksian Andi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (22/1/2018). Selain itu, Novanto juga mengaku tak pernah mengambil kembali jam tangan itu saat diservis di Beverly Hills, Amerika Serikat (AS). Apalagi, menurutnya, jika dijual, harga jam tangan itu semakin mahal. “Pernah diperbaiki saya ngambil , kalau ngambil mestinya ada surat karena Richard Mille ketat sekali. Kalau dijual, saya sering jual bekas, bukan lebih murah, makin lama makin lebih mahal,” ucap Novanto. Kemudian, Novanto juga membantah telah meminta jatah 5 persen untuk DPR di kantor Equility Tower, Jakarta. Menurut dia, Chairuman Harahap-lah yang menagih jatah 5 persen untuk DPR. “Ada dua hal yang penting, di Equilty mengenai saya minta 5 persen nggak benar sudah dibenarkan Pak Andi, Saudara Chairuman Harahap yang minta,” kata Novanto. Terkait jatah untuk anggota DPR, Novanto mengaku akan menyampaikannya dalam sidang selanjutnya. Dia pun telah mencatat siapa saja orang yang dimaksudnya itu.

Terdakwa kasus korupsi e-KTP, Andi Agustinus alias Andi Narogong, mengaku pernah memberikan jam tangan Richard Mille kepada Setya Novanto. Andi mengaku patungan bersama Johannes Marliem untuk membeli jam tangan seharga Rp 1,3 miliar itu. Menurut Andi, jam tangan itu diberikan pada 2012. Saat itu, Andi menyebut inisiatif datang dari Marliem–yang saat ini telah meninggal dunia. “Waktu itu inisiatif Johannes Marliem ingin membelikan hadiah ulang tahun,” ujar Andi saat bersaksi di sidang terdakwa Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (22/1/2018). Saat itu, Andi mengaku memberikan Rp 650 juta kepada Marliem. Kemudian, Marliem membeli jam tangan itu di Los Angeles, Amerika Serikat (AS). “Saya patungan sama Marliem, lalu dia beli di Amerika Serikat,” ucap Andi. Kemudian, ketika kasus korupsi e-KTP mulai digarap KPK, Andi menyebut Novanto mengembalikan jam tangan itu. Andi pun menjualnya ke Mal Blok M seharga Rp 1 miliar. “Tahun 2017 awal dikembalikan pada saya karena ada ribut-ribut e-KTP. Saya jual sekitar Rp 1 miliar,” ucap Andi. Setelah itu, jaksa menampilkan percakapan antara anggota FBI dan Marliem. Dalam percakapan itu, Marliem mengakui pemberian jam tangan itu kepada Novanto serta menyebut sempat ada kerusakan pada jam tangan tersebut. Jaksa kemudian bertanya tentang ucapan Marliem soal jam tangan yang sempat rusak itu. Andi membenarkannya. Menurutnya, jam tangan itu sempat rusak dan diperbaiki oleh Marliem di Beverly Hills, AS. “Jadi jam dikasih ke saya lalu saya kasih ke Marliem karena rusak. Dibawa Marliem ke Beverly Hills, Amerika Serikat, dibetulin lalu diambil sama Novanto di Amerika sama Marliem,” kata Andi. Berikut ini percakapan Johanes Marliem dengan anggota FBI pada 2017: Marliem : I actually give it this to KPK and I said that well what happened is I give it to Andi and then what happened is broken in difference store Male : Well I heard that you said it broke Marliem : Ya it broke and then when I actually brought to a service go back to the store Male : who send it back to you Marliem : Andi Male : And you give it to Andi or you made with Andi Marliem : Emmmhh I give it I give it to Andi Male : Where in Indonesia? Marliem : In Indonesia Male : So you made him and you give it to him? What is the purpose? Marliem : He want he ask me to go buy from the US because at the time is cheaper Male ; Did he give the money for it? Marliem : He give it Male :. Ok Marliem : And then is ok go buy so I give it to him Male : Mmmhh how much the watch cost? Marliem : About hundred something hundred twenty hundred thirty Male : So I need you talk about the bribery and you talk about what you did know that other people probably put you in this position force you to do it and didn’t give you any option I understand that I probably put you the same thing if I was in your position but that’s what I need you to talk about Marliem : I’m sorry sir if you asking me if I bribe any officers directly? The answer is Male : Directly or indirectly give or them gift or anything you know what a bribe is Marliem : Yeah Male : You nobody know what a CPA as on my stay my operating this room when you mention it two or three times already so that’s what I’m talking about Marliem : For a gift there’s nothing more than an iPad as a gift to the other this is why we…. Male : What about the watch? Marliem : The watch that one is to Andi Male : More has to tell Andi Marliem : So Andi ask me to go buy it and this is what I actually I expense to Male : Ok

JAKARTA, iNews.id – Sidang lanjutan perkara dugaan korupsi proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) menghadirkan sejumlah sakis. Dalam sidang tersebut, terdakwa Setya Novanto membantah pernah menerima jam tangan Richard Mille dari Johannes Marliem dan Andi Agustinus alias Andi Narogong. Dia juga membantah kesaksian Andi yang menyebut jam tangan tersebut pernah diperbaiki. Dia menuturkan, jika jam tangan tersebut benar diperbaiki, seharusnya pemiliknya yang mengambil. “Saya demi Tuhan tidak pernah menerima pada November 2012. Kenapa tadi saya menayakan mengenai jenis 01-02. Karena itu ada tahun pembelianya, dan apalagi tadi November ulang tahun saya,” ujar pria yang bisa disapa Setnov itu di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Senin, 22 Januari 2018 malam. BACA JUGA:   Lebih dari 13 Jam, Sidang Setnov Masih Berlangsung hingga Pukul 23.00 Sebelumnya Andi Narogong, mengaku pernah memberikan jam tangan Richard Mille kepada Setya Novanto sebagai hadiah ulang tahun. Andi mengaku patungan bersama Johannes Marliem untuk membeli jam tangan seharga Rp 1,3 miliar itu. Menurutnya, jam itu diberikan pada 2012 dengan inisiatif Marliem. Andi mengaku memberikan Rp650 juta ke Marliem. Kemudian, Marliem membeli jam tangan itu di Los Angeles, Amerika Serikat (AS). “Saya patungan sama Marliem, lalu dia beli di Amerika Serikat,” kata Andi. Kemudian ketika kasus korupsi e-KTP mulai bergulir di KPK, Andi menyebut Novanto mengembalikan jam tangan itu. Andi pun menjualnya ke Mall Blok M seharga Rp1 miliar pada awal 2017.

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengacara Setya Novanto , Maqdir Ismail menyebut kliennya tersebut memiliki dua jam tangan bermerek Richard Mille. Menurut Maqdir, sepasang jam tangan mewah itu masih disimpan oleh Setya Novanto. “Dia (Novanto) punya sendiri, ada dua begitu, yang dia punya ada dua,” ujar Maqdir seusai menjadi pembicara dalam diskusi Polemik di Cikini, Jakarta, Sabtu (16/12/2017). Sebelumnya, Setya Novanto didakwa menerima uang 7,3 juta dollar Amerika Serikat oleh jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain itu, dalam dakwaan, Novanto disebut menerima sebuah jam tangan merek Richard Mille tipe RM 011 seharga 135.000 dollar AS. Menurut jaksa, jam tangan yang harganya sekitar Rp 1,3 miliar itu diberikan oleh pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong dan Johannes Marliem. Pemberian itu sebagai ucapan terima kasih karena telah meloloskan anggaran proyek e-KTP di DPR RI.

Related Posts

Comments are closed.