Momen Murid SD Basuh Kaki Ibu di Hari Ibu

Momen Murid SD Basuh Kaki Ibu di Hari Ibu

Peringatan Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember setiap tahunnya digelar secara berbeda di lingkungan Sekolah Dasar Negeri Ahmad Yani, Tangerang. Para ibu dari siswa-siswi SD tersebut diundang hadir dan mengikuti prosesi peringatan Hari Ibu di sekolah tersebut. Mereka duduk di kursi di tengah lapangan SD itu. Kemudian murid-murid SD membasuh kaki ibu mereka masing-masing dengan air yang dicampur dengan bunga di sebuah baskom. Momen haru ini disaksikan Wali Kota Tangerang Sachrudin. “Sungkeman dan basuh kaki ibu itu sebagai simbol kasih sayang anak ke ibunya,” ujar Sachrudin dalam keterangan tertulis dari Pemkot Tangerang, Sabtu (23/12/2017). Sachrudin, yang hadir pada acara itu, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh tenaga pengajar yang telah menginisiasi acara tersebut, Jumat (22/12). “Ini jadi satu cara untuk mengedukasi putra-putri kita untuk menunjukkan rasa kasih sayang kepada orang tuanya,” kata Sachrudin. Dalam acara tersebut, Sachrudin berpesan agar seluruh anak senantiasa menunjukkan rasa perhatian dan kasih sayang kepada orang tuanya. “Jangan hanya pas Hari Ibu saja bilang ‘aku sayang ibu’ karena sayang sama orang tua itu harusnya setiap hari dan sepanjang hidup,” ucap dia. Di akhir sambutannya, Sachrudin menjelaskan bagaimana Pemerintah Kota Tangerang sangat peduli akan kesehatan ibu, yang dijamin melalui program Babar Bahagia. Program itu merupakan inovasi pelayanan publik yang komprehensif dari Dinas Kesehatan serta Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tangerang untuk memudahkan masyarakat yang bersalin di puskesmas mendapatkan dokumen akta kelahiran dan kartu keluarga serta jaminan kesehatan Kartu Indonesia Sehat. “Jadi ibunya sehat dan data kelahiran di RS sudah terintegrasi dengan data kependudukan dari Dukcapil,” tutup Sachrudin.

Baca juga : peringati hari ibu murid sd cuci kaki orangtuanya

Puluhan murid yang berasal dari perwakilan kelas III, IV, V dan VI membawa baskom plasti berisi air, mereka satu persatu menghampiri ibu masing-masing yang sudah duduk berderet di kursi yang telah disediakan guru mereka. Setelah itu mereka bareng-bareng mencuci kaki ibunya dan sungkeman seraya menyampaikan permohonan maaf atas kesalahannya yang selama ini diperbuat. Serta memohon doa agar diberikan keselamatan serta bisa melanjutkan sekolah sesuai dengan yang dicita-citakan. Usai mencuci kaki, semua murid ramai-tamai sungkeman kepada orangtua murid yang hadir dan seluruh guru mereka.

seperti di kutip dari http://www.pikiran-rakyat.com

Sementara itu sejumlah orang tua mengatakan acara cuci kaki ini adalah simbol pengabdian dan kasih sayang yang diberikan anak mereka. “Dalam agama acara cuci kaki tentu tidak ada atau mungkin di daerah lain juga tidak dikenal, namun ini adalah sebuah adat yang ada di daerah kami. Kalau ingin dimaafkan ibu dan ingin berkah dari ibu konon orang tua dulu selalu mencuci kakinya. Bahkan orang tua jaman dulu cucian kaki ini diminum katanya untuk melebur dosa.” kata Eli Widiawati salahs eorang orangtua murid.

seperti di kutip dari http://www.pikiran-rakyat.com

Hal senada juga diungkapkan orang tua murid lainnya Tuti yang datang ke sekolah bersama anaknya sambil membawa wadah plastik. “Walaupun acara ini dilakukan setahun sekali yang terpenting adalah mengingatkan anak agar berbakti kepada orang tuanya. Dan kegiatan seperti ini biasanya dikenang hingga mereka dewasan seperti halnya saya mengenang kegiatan semasa sekolah. Dan yang harus tetap diingat anak tentu adalah arti dari cuci kaki yakni pengabdian dan tetap harus sayang kepada orang tua,” ujar Tuti.(Tati Purnawati/A-147)***


Baca juga : Saat Para Siswa SLB Basuh Kaki Ibunda

MAGELANG, suaramerdeka.com – Rasa haru terpancar dari wajah ibu-ibu saat diperlakukan istimewa oleh anaknya yang menyandang disabilitas. Mereka mendapat hadiah istimewa berupa setangkai bunga yang dirangkai sendiri oleh anak-anak. Rasa haru makin menjadi, bahkan sampai air mata mengucur deras membasahi pipi saat tangan anak kesayangannya membasuh kaki dengan air bertabur bunga. Sang anak pun tak kuasa menangis tanda begitu mendalamnya cinta mereka pada sang ibu. Mereka yang hanyut dalam suasana begitu dramatis ini bukanlah sedang bermain teater. Anak-anak begitu ikhlas membasuh kaki ibu mereka sebagai bentuk cinta yang diungkapkan dalam peringatan Hari Ibu, 22 Desember di SLB-B YPPALB Kota Magelang, Kamis (21/12). ekitar 15 anak yang bersekolah di SLB-B YPPALB Kota Magelang memberi kado spesial pada ibu mereka di momen istimewa bertajuk “Kelas Orang Tua” ini. Tidak hanya memberi bunga dan membasuh kaki, anak-anak penyandang disabilitas ini juga menampilkan pertunjukan seni. “Saya benar-benar terharu, tidak bisa berkata-kata,” ujar Winasih (46), ibu dari Egidia Naila Khansa (13) yang menyandang tuna rungu usai acara. Dia mengaku, sangat terharu dengan ketulusan Egidia membasuh kakinya. Ia sampai meneteskan air mata, terlebih sempat mengingat pertama kali mendengar anaknya divonis tidak bisa berbicara sejak lahir. “Dulu saya bawa dia ke berbagai macam pengobatan, bahkan sampai ke orang pintar. Tapi, hasilnya nihil. Sempat down, tapi akhirnya saya sadar kalau ini sudah kehendak Allah SWT. Saya ikhlas dan benar-benar memerhatikannya sampai sekarang,” katanya. Di momen Hari Ibu, warga Kampung Jaranan, Kelurahan Panjang itu mengajak seluruh ibu yang bernasib sama dengannya untuk tidak putus asa. Para orang tua harus tetap semangat dan jangan menyia-nyiakan anaknya yang berkebutuhan khusus. “Perlakukan dengan baik. Saya sendiri sangat bangga pada anak saya dan selalu saya kedepankan,” tandasnya. Kepala SLB-B YPPALB Kota Magelang, Edy Purwanto mengutarakan, baru pertama kali ini menggelar acara dalam rangka Hari Ibu. Hal ini sejalan dengan program yang dicanangkan pemerintah terkait pemberdayaan orang tua dan anak dalam rangka peningkatan kapasitas. “Di acara ini kita ingin perlihatkan upaya anak dalam menyuguhkan hal terbaik pada ibu mereka. Anak-anak dari kelas SD sampai SMA beri bunga dan membasuh kaki ibu mereka,” jelasnya. Melalui kegiatan ini, ia berharap seluruh masyarakat tetap memerhatikan anak-anak ini. Anak-anak ini pada dasarnya sama dengan umumnya, mereka bisa berkarya dan punya hak yang sama dengan anak-anak lainnya. (Asef Amani /SMNetwork /CN41 )

Peringatan Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember setiap tahunnya digelar secara berbeda di lingkungan Sekolah Dasar Negeri Ahmad Yani, Tangerang. Para ibu dari siswa-siswi SD tersebut diundang hadir dan mengikuti prosesi peringatan Hari Ibu di sekolah tersebut. Mereka duduk di kursi di tengah lapangan SD itu. Kemudian murid-murid SD membasuh kaki ibu mereka masing-masing dengan air yang dicampur dengan bunga di sebuah baskom. Momen haru ini disaksikan Wali Kota Tangerang Sachrudin. “Sungkeman dan basuh kaki ibu itu sebagai simbol kasih sayang anak ke ibunya,” ujar Sachrudin dalam keterangan tertulis dari Pemkot Tangerang, Sabtu (23/12/2017). Sachrudin, yang hadir pada acara itu, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh tenaga pengajar yang telah menginisiasi acara tersebut, Jumat (22/12). “Ini jadi satu cara untuk mengedukasi putra-putri kita untuk menunjukkan rasa kasih sayang kepada orang tuanya,” kata Sachrudin. Dalam acara tersebut, Sachrudin berpesan agar seluruh anak senantiasa menunjukkan rasa perhatian dan kasih sayang kepada orang tuanya. “Jangan hanya pas Hari Ibu saja bilang ‘aku sayang ibu’ karena sayang sama orang tua itu harusnya setiap hari dan sepanjang hidup,” ucap dia. Di akhir sambutannya, Sachrudin menjelaskan bagaimana Pemerintah Kota Tangerang sangat peduli akan kesehatan ibu, yang dijamin melalui program Babar Bahagia. Program itu merupakan inovasi pelayanan publik yang komprehensif dari Dinas Kesehatan serta Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tangerang untuk memudahkan masyarakat yang bersalin di puskesmas mendapatkan dokumen akta kelahiran dan kartu keluarga serta jaminan kesehatan Kartu Indonesia Sehat. “Jadi ibunya sehat dan data kelahiran di RS sudah terintegrasi dengan data kependudukan dari Dukcapil,” tutup Sachrudin.

MAGELANG, KOMPAS.com – Isak tangis pecah tatkala belasan anak- anak berkebutuhan khusus (ABK) SLB-B YPPALB Kota Magelang, Jawa Tengah, membasuh kaki ibu mereka masing-masing. Suasana haru begitu terasa di antara alunan lagu milik penyanyi Melly Goeslow berjudul “Bunda”. Aksi membasuh kaki ibu itu adalah sebagai ungkapan anak-anak yang sangat mengasihi ibu mereka. Di balik kekurangan fisik, sejatinya mereka paham betul betapa beratnya memiliki anak yang berbeda dengan yang lain. Ungkapan tersebut menjadi cara mereka menyambut Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember 2017. Selain membasuh kaki, anak-anak usia SD-SMA itu juga memberikan bunga kepada ibu masing-masing. “Sungguh mengharukan, saya tak bisa berkata-kata. Ini kali pertama anak-anak membasuh kaki kami dengan tulus,” kata Winasih (46), ibu salah satu siswa penyandang tunarungu, Egidia Naila Khansa (13), usai kegiatan, Kamis (21/12/2017). Winasih menuturkan, momen istimewa bertajuk “Kelas Orang Tua” itu mengingatkannya pada masa lalu ketika buah hatinya pertama kali divonis tidak bisa mendengar dan berbicara sejak lahir. Hatinya sungguh pilu.

Related Posts

Comments are closed.