Mensos Idrus Marham: Saya akan Belajar dari Mbak Khofifah

Mensos Idrus Marham: Saya akan Belajar dari Mbak Khofifah

Menteri Sosial Idrus Marham antusias mengemban jabatan barunya. Ia mengaku bakal banyak belajar dari Khofifah Indar Parawansa, khususnya tentang program Jokowi mengurangi kemiskinan. “Saya akan banyak belajar dari Mbak Khofifah tentang langkah langkah yang diambil. Saya kira langkah-langkah yang dicapai pemerintah presiden Jokowi dapat mengurangi kemiskinan, jumlah kemiskinan yang menurut catatan yang ada kurang 1,2 juta yang sekarang ini ada 101 juta,” kata Idrus usai pelantikan di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (17/1/2017). Idrus sadar niat mengurangi kemiskinan itu harus dibarengi dengan program-program yang mendukung Nawacita Jokowi. Ia bertekad selama kepemimpinannya untuk mengaplikasikan motto kabinet Jokowi yakni kerja, kerja, kerja. “Nah, pengurangan kemiskinan ini itu tentu tidak secara tiba tiba ini melalui proses pelaksanaan program-program yang dilakukan pemerintah Presiden Jokowi. Tentu ke depan selama 1,5 tahun sebagai menteri yang baru saja dilantik, tentu akan saya sekali lagi kuncinya adalah dua, pertama akselerasi kerja-kinerja sesuai filosofi kabinet ini kerja, kerja, kerja,” urainya. Tak hanya itu, ia juga akan berkoordinasi dengan kementerian atau lembaga yang terkait untuk mengentaskan kemiskinan. Sehingga seluruh program yang menjadi Nawacita Jokowi bisa berjalan. “Yang kedua adalah sinergitas, kenapa karena untuk atasi kemiskinan ini bukan hanya kementerian sosial sebagai satu-satunya tapi ini tanggung jawab bersama. Bagaimana program-program yang ada jalan, dan punya implikasi terhadap pengurangan kemiskinan itu,” imbuhnya. Jokowi mengaku memilih Idrus karena cocok . Menanggapi Jokowi, Idrus menyebut kecocokannya adalah soal kerja. “Ya udah cocokannya kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja untuk rakyat, itulah kunci, kata kunci kerja, kerja, kerja, kerja, untuk rakyat, itu itu kata kunci,” ucapnya.

Menteri Sosial Idrus Marham antusias mengemban jabatan barunya. Ia mengaku bakal banyak belajar dari Khofifah Indar Parawansa, khususnya tentang program Jokowi mengurangi kemiskinan. “Saya akan banyak belajar dari Mbak Khofifah tentang langkah langkah yang diambil. Saya kira langkah-langkah yang dicapai pemerintah presiden Jokowi dapat mengurangi kemiskinan, jumlah kemiskinan yang menurut catatan yang ada kurang 1,2 juta yang sekarang ini ada 101 juta,” kata Idrus usai pelantikan di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (17/1/2017). Idrus sadar niat mengurangi kemiskinan itu harus dibarengi dengan program-program yang mendukung Nawacita Jokowi. Ia bertekad selama kepemimpinannya untuk mengaplikasikan motto kabinet Jokowi yakni kerja, kerja, kerja. “Nah, pengurangan kemiskinan ini itu tentu tidak secara tiba tiba ini melalui proses pelaksanaan program-program yang dilakukan pemerintah Presiden Jokowi. Tentu ke depan selama 1,5 tahun sebagai menteri yang baru saja dilantik, tentu akan saya sekali lagi kuncinya adalah dua, pertama akselerasi kerja-kinerja sesuai filosofi kabinet ini kerja, kerja, kerja,” urainya. Tak hanya itu, ia juga akan berkoordinasi dengan kementerian atau lembaga yang terkait untuk mengentaskan kemiskinan. Sehingga seluruh program yang menjadi Nawacita Jokowi bisa berjalan. “Yang kedua adalah sinergitas, kenapa karena untuk atasi kemiskinan ini bukan hanya kementerian sosial sebagai satu-satunya tapi ini tanggung jawab bersama. Bagaimana program-program yang ada jalan, dan punya implikasi terhadap pengurangan kemiskinan itu,” imbuhnya. Jokowi mengaku memilih Idrus karena cocok . Menanggapi Jokowi, Idrus menyebut kecocokannya adalah soal kerja. “Ya udah cocokannya kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja untuk rakyat, itulah kunci, kata kunci kerja, kerja, kerja, kerja, untuk rakyat, itu itu kata kunci,” ucapnya.

Presiden Joko Widodo menunjuk Idrus Marham sebagai Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa. Jokowi mengatakan pilihannya menunjuk Idrus karena kecocokan. “Ya karena cocok saja,” jawab Jokowi di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (17/1/2018). Jokowi menjawab saat ditanya soal pertimbangan memilih Idrus. Namun Jokowi tidak merinci kecocokan yang dimaksud. Dia meminta mengkonfirmasi langsung ke Idrus. “Tanya Pak Idrus sajalah,” kata Jokowi. Jokowi tidak mempermasalahkan Idrus yang sebelumnya menjabat Sekjen Golkar. Saat ini, Ketum Golkar Airlangga Hartarto belum menunjuk sekjen baru. “Di Golkar urusan di Golkar, tanyakan di sana karena proses di Golkar sendiri belum selesai. Kalau belum selesai jangan ditanyakan dulu. Proses di Golkar belum selesai,” ujarnya. Jokowi mengatakan urusan di Kemensos sangat banyak. Di antara yang harus dituntaskan adalah soal distribusi bantuan nontunai beras. “PKH itu banyak sekali, ini pekerjaan besar sekali. Kemudian pembagian beras sebagian ke bantuan nontunai. Kan perlu penanganan tak mudah, kalau hal seperti ini tak diambil alih orang yang betul ngerti lapangan,” jelasnya.

Sekjen Golkar demisioner Idrus Marham tiba di Istana Negara, Jakarta. Kedatangannya jelang dirinya dilantik sebagai Mensos. Idrus tiba di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (17/1/2017) pukul 08.20 WIB. Ia datang mengenakan jas berwarna hitam dan dasi merah serta peci. Ia langsung bersalaman dengan wartawan di lokasi. Setelah itu, ia langsung masuk ke dalam arena pelantikan. Idrus tampak tersenyum saat tiba. Mobil-mobil pejabat pun sudah parkir di Istana Negara. Sementara lalu lintas sekitar Istana cukup padat. Menurut undangan yang tersebar, selain Mensos juga ada posisi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang akan dilantik. Posisi ini menggantikan almarhum KH Hasyim Muzadi.

JAKARTA, KOMPAS.com – Hubungan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dengan Megawati Soekarnoputri memberi punya kisah tersendiri, baik dari sisi kehidupan maupun kancah perpolitikan. Dikutip dari buku Hak Gus Dur untuk Nyleneh karya E. Kosasih, Gus Dur menganggap Megawati sebagai adik. “Seperti adik saya,” kata Gus Dur, seperti ditulis dalam buku tersebut. Meski keduanya dekat dan akrab, tak jarang pula mereka bertengkar. Salah satunya, pada momentum jelang Pemilu 1997. Saat itu, Gus Dur pergi ke banyak tempat bersama Siti Hardianti Rukmana alias Mbak Tutut. Baca:  Pertemuan Terakhir Dua Sahabat, Gus Dur dan Gus Mus Gus Dur membawa Tutut masuk ke kantong-kantong massa Nahdlatul Ulama seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Lampung, dan memberi angin bagi Tutut untuk menarik warga Nahdliyin agar memilih Golkar. Megawati saat itu menyerukan kepada para pendukungnya untuk golput, tak memilih pada Pemilu 1997. Gus Dur pun kebakaran jenggot dan mengecam pernyataan Megawati. Hubungan Gus Dur-Megawati menegang. Sikap Gus Dur yang mengecam pernyataan Megawati kemudian mengundang antipati kalangan prodemokrasi. Gus Dur dicoret dari jajaran tokoh prodemokrasi. Tak hanya itu, kedekatan dengan Tutut berimbas pada sikap tegas Gus Dur membiarkan Megawati berjuang sendirian. Baca:  Cerita Fidel Castro yang ‘Ngakak’ Dengar Lelucon Gus Dur Saat peristiwa 27 Juli 1996 atau yang kerap disebut “Kudatuli”, Gus Dur menganjurkan Megawati untuk tidak melawan dan rujuk dengan pemerintah. Mas Dur Meski sempat merenggang, tak lama berselang hubungan Gus Dur dan Megawati kembali cair. Keduanya kerap saling melontarkan pujian. Gus Dur pernah memuji Megawati sebagai negarawan. “Orang mungkin bertanya-tanya, apa itu Mega? Kita kan tahu siapa Mega? Saya kok berpandangan lain, dan terbukti Mega memang punya bakat negarawan,” kata Gus Dur. Baca:  Saat Gus Dur Jadi “Gelandangan” di Ibu Kota Demikian pula Megawati. Jika Gus Dur menganggap Megawati seperti adiknya sendiri, Mega juga menganggap Gus Dur sebagai kakaknya dan punya panggilan spesial: Mas Dur. “Gus Dur adalah kakak sekaligus sahabat saya, saudara seiman yang saya hormati. Intelektualitas serta sikap mentalnya tidak perlu diragukan, bimbingannya terhadap umat sangat positif, terutama NU, kenegarawanannya perlu diteladani,” kata Megawati. Hubungan Gus Dur dan Megawati semakin erat memasuki era reformasi. Saat itu, NU belum membentuk partai sehingga Gus Dur mempersilakan warganya memilih PDI. Keduanya bahkan sempat mengikat janji. Pada Desember 1998, Gus Dur dan Megawati mengumumkan akan saling mendukung untuk menjadi calon presiden keempat. Baca:  Gara-gara Gus Dur, Gus Mus Jadi Penyair… Mereka juga sepakat menempatkan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai alternatif. “Janjinya, saya mendukung dia kalau saya sendiri tidak maju. Tadinya saya akan maju lebih dahulu, tetapi karena fisik tidak memungkinkan, ya Mbak Mega yang maju. Kalau nantinya Mbak Mega kesulitan, kemungkinannya adalah Sri Sultan HB X,” ungkap Gus Dur. Peluang Megawati menjadi presiden pun melambung. Dukungan itu juga menepis kekhawatiran Megawati ditolak karena faktor agama dan ideologi nasionalis. Jika ada kehawatiran seperti itu, Gus Dur dan sejumlah tokoh NU pasang badan membela Megawati. Kedekatan keduanya kemudian memunculkan pernyataan-pernyataan yang mengarah pada koalisi PKB, partai yang didirikan Gus Dur, dan PDI-P. Nasi goreng   Megawati mengakui kerap bertengkar dengan Gus Dur saat keduanya menjabat presiden dan wakil presiden. Dikutip dari pemberitaan Kompas.com , Kamis (13/7/2017), Megawati menyampaikan bahwa saat “berantem”, ia enggan bertemu dengan Gus Dur. Namun, pertengkaran tak berlangsung lama. Biasanya, Gus Dur yang selalu berinisiatif untuk mengajak damai. “Saya tahu pasti nanti pasti saya menang,” kata Megawati dalam acara Halaqah Nasional Ulama se-Indonesia di Jakarta, Kamis (13/7/2017). Jika sedang berantem, Gus Dur kerap menyambangi kediaman Megawati, namun tak memberi kabar. Setelah sampai di depan rumah Megawati, Gus Dur baru memberi kabar. Megawati pun tidak bisa menolak kedatangan Gus Dur. “Nanti telepon, ‘Mbak, lagi opo? ‘ ‘Di rumah, Mas’. ‘ Bikinkan saya nasi goreng ya saya sudah di depan pintu rumah ‘. Kalau baikan begitu. Lah saya terpaksa toh bikin nasi goreng,” ucap Megawati disambut tawa para ulama yang hadir.

Related Posts

Comments are closed.