Menhan: Lebih Bagus Ba’asyir Jadi Tahanan Rumah

Menhan: Lebih Bagus Ba’asyir Jadi Tahanan Rumah

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menilai pilihan pemindahan ustaz Abu Bakar dari Lapas Gunung Sindur menjadi tahanan rumah sebagai hal yang tepat. Hal itu melihat kondisi Ba’asyir yang kini sakit. “Saya kemarin ke sana (bertemu di Ponpes). Sudah beberapa lama Presiden prihatin. Abu Bakar Ba’asyir kan sudah tua, sudah sakit-sakitan, kaki bengkak-bengkak. Kalau ada apa-apa ditahan kan apa kata dunia,” ujar Ryamizard di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (1/3/2018). “Atas kemanusiaan Presiden supaya dia dipindahkan dekat-dekat Solo saja. Tahanan dulu lah. Kalau dibebaskan saya rasa itu yang lain-lain mungkin,” lanjutnya. Selain alasan kesehatan, lanjut Ryamizard mengatakan, pilihan tahanan rumah menjadi hal tepat karena persoalan keamanan. “Tahanan rumah saja bagus. Beliau (Jokowi) setuju. Tahanan rumah kan ketemu anak-cucu. Bukan apa-apa. Keamanan dia biar kita tanggung juga. (Misalkan) beliau kita bebaskan nanti kalau ada apa-apa pemerintah lagi,” kata Ryamizard. Ryamizard mengatakan, pengamanan disiapkan apabila Ba’asyir menjadi tahanan rumah. Hanya saja soal kepastian kapan tahanan rumah itu akan dilakukan belum ada jawaban pasti. “Dia (Ba’asyir) sudah berjanji nggak ada baiat-baiat. Apalagi menjurus mengajak orang. Nggak lah. Saya belum tahu (kapan menjadi tahanan rumah). Saya penyambung saya. Yang lain urusan polisi dan Kumham,” ujar Ryamizard. Sebelumnya, Ustaz Abu Bakar Ba’asyir diizinkan meninggalkan Lapas Gunung Sindur untuk berobat sementara waktu di luar lapas. “Hasil telaah medis, maka pelaksanaan rujukan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir bin Abud Ba’asyir dapat dilaksanakan dengan ketentuan berlaku dan terlebih dahulu berkoordinasi dengan BNPT dan Densus 88 Antiteror dan pihak-pihak lain,” kata Direktur Perawatan Kesehatan dan Rehabilitasi Asminan Mirza Zulkarnain dalam keterangan tertulis, Rabu (28/2/2018). Tim medis menyatakan Ba’asyir mengalami sakit chronic venous insufficiency bilateral atau disebabkan kelainan pembuluh darah vena berkelanjutan.

Baca juga :

Tidak ada orang yang dianggap paling bedebah dalam sejarah politik modern Amerika selain Harvey LeRoy ‘Lee’ Atwater. Dia adalah ahli strategi, tukang plintir  (spin doctor)  nomor wahid, jagoan dalam hal intrik, jenius dalam memanipulasi. Lee Atwater adalah seorang operator politik. Dia bukan politisi. Tapi dia mampu mendudukkan politisi pada satu jabatan tertentu. Atwater adalah ‘Darth Vader’-nya politik Amerika. Orang yang sangat tega dan ganas, yang mampu melakukan apa saja agar klien-nya terpilih.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Lee Atwater memulai karirnya sebagai konsultan politik di selatan Amerika. Ini adalah daerah yang dalam sejarah perang saudara Amerika dikenal sebagai wilayah ‘Confederate.’ Penduduk wilayah ini anti-penghapusan perbudakan. Ini karena sebagian besar wilayahnya adalah wilayah pertanian. Salah satu warisan dari perbudakan ini adalah politik ras. Namun, sekalipun daerah-daerah ini sangat tersegregasi menurut warna kulit, politik ras tidak muncul ke permukaan hingga tahun 1960an. Sebelum itu, daerah-daerah ini adalah wilayah partai Demokrat. Karena orang kulit hitam tidak bisa memilih, maka pemilih kulit putih lebih mengutamakan kelas. Demokrat, yang progresif dan berorientasi pada kelas pekerja, selalu menjadi mayoritas di situ. Namun itu tidak berlaku di akhir tahun 1960an.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Adalah Richard Nixon yang mengubah peta politik di wilayah tersebut. Setelah UU Hak-hak Sipil  (Civil Rights Act)  disahkan Presiden Lyndon B. Johnson (Demokrat) tahun 1964, diskriminasi terhadap orang kulit hitam dihapuskan. Yang paling penting dari UU ini, selain penghapusan diskriminasi atas dasar ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, atau kebangsaan, adalah pemberian hak memilih untuk orang kulit hitam. UU ini mengubah semua dimensi politik di wilayah Selatan. Nixon memperhatikan ini dengan cermat. Dia memanipulasi politik di wilayah itu untuk menarik suara kaum kulit putih. Dan itu berhasil dengan baik.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Strategi untuk menggalang suara berdasarkan ras ini dikenal dengan nama ‘the Southern strategy.’ Karena diskriminasi atas nama apapun dilarang secara hukum, maka para operator politik bekerja dengan bahasa ‘kode.’ Mereka tidak mengungkapkan secara terbuka kebenciannya kepada orang kulit hitam, tetapi lewat kode-kode, seperti, misalnya, kerawanan sosial (artinya: orang kulit hitam itu kriminal); kupon makanan (orang kulit hitam itu pemalas dan jadi beban karena pajak yang Anda bayar dipakai untuk mensubsidi makanan mereka); rumah bersubsidi; jaminan sosial, dan lain sebagainya. Politik ini juga dikenal dengan nama politik ‘siulan anjing’  (dog whistle politics) . Karena ada siulan anjing yang frekuensi suaranya hanya bisa didengar oleh anjing tapi tidak oleh manusia.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Inilah keahlian Lee Atwater. Dia memulai karirnya dengan menjadi operator politik senator Strom Thurmond dari negara bagian South Carolina. Senator ini terkenal sebagai pendukung politik segregasi dan penentang pemberian hak-hak sipil untuk kaum kulit hitam. Namun, beberapa bulan setelah dia meninggal, terungkap bahwa dia memiliki seorang putri dari seorang perempuan kulit hitam yang bekerja di rumahnya (sangat khas Amerika!). Saat bekerja untuk Senator Thurmond inilah Lee Atwater mengembangkan bakatnya sebagai bedebah politik. Dia membikin konferensi pers dengan menanam beberapa orang reporter palsu di antara reporter betulan. Reporter palsu ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan lawan politiknya. Dia juga mengirim surat-surat langsung ke pemilih  (direct mail)  yang memberikan informasi palsu tentang lawan politiknya. Lee juga ahli dalam memanipulasi media. Dia akan memberikan informasi  off the record  tentang lawan politiknya kepada media – dan karena dia memiliki kualitas kepribadian yang demikian meyakinkan maka si wartawan merasa tidak perlu melakukan  cross-checking . Dia juga membikin survey-survey palsu yang menunjukkan keunggulan calonnya. Survey-survey ini diharapkan akan memunculkan  ‘band-wagon effect’  yaitu efek seperti gerbong yang menarik gerbong lainnya.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Lee Atwater berjasa membantu kemenangan Ronald Reagan di wilayah Selatan, yang kemudian membawa Reagan ke tampuk kepresidenan pada 1980. Lee kemudian ikut ke Washington dan menjadi wakil direktur urusan politik Gedung Putih. Dia juga wakil manajer kampanye pemilihan kembali Reagan tahun 1984. Manajer kampanye Reagan saat itu, Ed Rollins, menyebut Atwater menjalankan ‘taktik-taktik kotor’ khususnya terhadap calon wakil presiden Geraldine Ferraro (perempuan pertama yang menjadi calon wakil presiden Amerika!). Atwater mengampanyekan bahwa orangtua Geraldin Ferraro pernah ditahan karena berjualan togel (toto gelap).

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Prestasi utama Atwater adalah pada 1988 ketika dia menjalankan kampanye George H.W. Bush Sr. Ketika itu, kampanye Bush hancur berantakan. Opini publik pada musim panas menunjukkan posisi Bush pada angka -17 persen. Namun saat pemilihan bulan November, Lee Atwater menjungkirbalikkan keadaan itu. Lawan Bush, Gubernur negara bagian Massachusetts, Michael Dukakis, diserang dengan taktik paling kotor yang pernah dipakai dalam pemilu AS. Lee Atwater memproduksi sebuah  video kampanye  yang menggambarkan seorang terpidana yang bernama Willie Horton. Di sana digambarkan Bush sebagai orang yang pro hukuman mati; sementara Dukakis adalah anti-hukuman mati. Tidak itu saja, Dukakis disebutkan mendukung program yang membolehkan tahanan keluar penjara saat akhir pekan. Di sinilah Willie Horton mengambil peranan. Pria kulit hitam ini dihukum seumur hidup, tetapi boleh menikmati ‘liburan’ akhir pekan keluar penjara. Semasa ‘liburan’ itulah Horton menyerang dua orang yang berpasangan, membacok, dan memperkosa yang perempuan.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Kampanye model ini tidak terjadi sekali dua kali saja. Hampir setiap periode pemilihan pasti diwarnai oleh kampanye hitam ini. Ada yang ditempuh dengan bisik-bisik, ada juga lewat bombardir iklan TV yang menyesatkan. Ambillah contoh kampanye Senator John McCain pada tahun 2000. Saat kampanye penyisihan ( primary campaign ) untuk menjadi calon Partai Republik, McCain harus menghadapi tuduhan bahwa dia memiliki anak kulit hitam hasil hubungan gelapnya. McCain memang memiliki putri angkat yang berasal dari Bangladesh. Pahlawan perang Vietnam ini memang sedang memperoleh momentum karena kemenangannya di New Hampsire. Lawannya adalah George W. Bush Jr, yang kemudian menjadi presiden. Ketika pemilihan di South Carolina, McCain harus menghadapi tuduhan ini, yang disebarkan lewat selebaran dari rumah ke rumah. Inilah yang membuatnya terjungkal dan George Bush menjadi calon presiden dari Partai Republik.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Hal yang sama juga dialami John Kerry pada tahun 2004. Kerry, seorang veteran perang Vietnam, menerima medali  the purple heart  karena terluka di Vietnam. Pada kampanye pemilihan presiden melawan George Bush, Kerry diserang lewat iklan kampanye oleh kelompok yang menamakan dirinya  Swift Boat Veterans for Truth . Kelompok ini mempertanyakan medali yang diterima Kerry, terutama karena Kerry pernah bersaksi di depan Kongres tentang kekejaman tentara Amerika di Vietnam. Para veteran, yang terluka atau yang pernah ditawan itu bertanya, ‘Jika Kerry tidak loyal terhadap kawan seperjuangannya, bagaimana dia bisa loyal terhadap negara?’

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Ada satu hal yang juga penting digarisbawahi baik pada kampanye hitam ataupun kampanye negatif. Yang diserang bukan bagian yang lemah dari lawan politiknya. Namun, justru yang paling kuat. Dukakis diserang karena kebijakannya yang ingin memperbaiki sistem ‘pemasyarakatan.’ Dia justru ingin sistem yang lebih manusiawi. McCain diserang karena integritasnya, baik sebagai mantan tawanan perang Vietnam, maupun karena sikapnya yang terus terang. Tuduhan memiliki anak dari hasil hubungan gelap adalah serangan yang paling fatal atas integritas dan kejujurannya. Kerry diserang, persis karena statusnya sebagai penerima medali  purple heart . Dia menjadi pengritik perang Vietnam. Posisi ini sebenarnya sangat populer di kalangan masyarakat Amerika. Namun, para ahli strategi di pihak Bush dengan buas mengeskploitasinya menjadi titik lemah Kerry, yakni dengan menghubungkannya dengan loyalitas terhadap kawan seperjuangan. Bush berhasil mengeksploitasi sentimen nasionalisme.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

“Jokowi! Jokowi! Orangnya belum sunat!” Demikianlah celoteh anak-anak kecil yang didengar oleh sastrawan AS Laksana di dekat rumahnya. Tentu saja ini diucapkan sambil bermain. Namun ada sesuatu yang serius di sini. Permainan anak-anak itu menjadi sebuah pertanda bahwa  smear campaign  (kampanye fitnah) yang dilancarkan oleh kubu lawan Jokowi itu bekerja dengan baik. Dia sudah sampai ke tingkat anak-anak. Jika para orangtua hanya mendengarnya lewat bisik-bisik, anak-anak meneruskannya menjadi pengumuman.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Yang jelas, kampanye hitam hadir dalam pemilihan presiden Indonesia 2014. Bahkan, dia hadir dalam skala yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Kampanye hitam lebih banyak ditujukan kepada kandidat Joko Widodo (Jokowi) ketimbang Prabowo Subianto. Mengapa? Ini karena problem berbeda yang dihadapi oleh kedua calon. Masalah utama yang harus dihadapi oleh Prabowo Subianto adalah data, terutama data sejarah yang berupa rekam jejaknya pada masa lalu. Sementara, tantangan utama Joko Widodo adalah kampanye hitam baik dalam bentuk disinformasi, tuduhan rasial dan agama, maupun rekam jejak dalam kehidupan publiknya sebagai politisi.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Prabowo Subianto memiliki beban ‘data masa lalu’ yang cukup berat, yang mungkin tidak akan berhenti dipertanyakan, bahkan kalau dia terpilih menjadi presiden. Namun, di balik semua itu, Prabowo jelas figur yang lebih dikenal oleh publik Indonesia ketimbang Jokowi. Jika Prabowo bagaikan sebuah buku novel, maka Jokowi bagaikan buku kosong yang perlu ditulis. Semua orang tahu akan sepak terjang Prabowo, mulai dari kakeknya, ayahnya, dan mertuanya (Suharto). Juga rekam jejaknya sebagai perwira militer, tingkah lakunya dalam banyak kasus pelanggaran HAM, dan kehidupannya sesudah dipecat dari dinas militer. Terlebih lagi, setelah ‘dipecat dengan hormat’ dari dinas militer, Prabowo menghabiskan hampir seluruh karirnya untuk berkampanye menjadi Presiden Republik Indonesia.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Sebaliknya, Jokowi adalah figur yang baru melejit ke publik selama dua tahun terakhir ini. Sebelum itu dia hanya dikenal di lingkup Surakarta, Jawa Tengah, di mana dia menjadi walikota. Dia mulai mendapat perhatian luas dari publik saat dia mencalonkan diri untuk gubernur DKI Jakarta. Sejak saat itu, karir politiknya menanjak tajam. Namun, tidak banyak orang kenal siapa dia. Pengetahuan publik hanya terbatas pada apa yang dia kerjakan sebagai walikota Surakarta dan sebentar menjadi gubernur DKI Jakarta. Itulah sebabnya, Jokowi itu bagaikan buku kosong yang butuh untuk diisi tulisan. Di sinilah lawan dan sekutu politiknya berusaha untuk mengisi halaman-halaman buku itu. Lawan dan kawan politik Jokowi berusaha memberikan definisi tentang siapa Jokowi sebenarnya.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Hal yang sama berlaku untuk Jokowi. Lawan-lawan politiknya berusaha mendefinisikan Jokowi sebagai Kristen dan keturunan Cina. Dia dituduh menyembunyikan identitas kekeristenan dan kecinaannya. Dalam kampanye fitnah tersebut, nama asli Jokowi adalah Herbertus Handoko Joko Widodo bin Oey Hong Liong (Noto Mihardjo). Foto Jokowi saat menikah beredar yang mengungkapkan bahwa dia adalah keturunan Cina yang menyembunyikan identitas sukunya  (a closet Chinese) . Sementara itu juga beredar iklan dukacita, lengkap dengan aksara Cina. Iklan itu juga menginsinuasi bahwa Jokowi adalah Kristen keturunan Cina.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Kampanye hitam ini adalah fitnah  (smear campaign)  secara membabi buta. Jika kampanye hitam di Amerika pada umumnya ditujukan kepada orang kulit putih dan memainkan ketakutan rasial mereka, maka di Indonesia kampanye ini secara khusus ditujukan kepada kalangan Muslim. Kampanye ini memainkan perasaan kalangan Muslim Indonesia, terutama ketakutan akan dikuasai oleh Kristen. Setelah Suharto tumbang, sektarianisme berdasarkan agama memang menguat di Indonesia. Ini menyumbang pada ketakutan bahwa umat Islam akan diperintah oleh orang beragama Kristen. Sementara, sentimen anti-Cina pun masih kuat di bawah permukaan. Sekalipun setelah Suharto jatuh kerusuhan rasial anti-Cina sangat berkurang drastis namun prasangka rasial terhadap orang Cina masih sangat kuat. Prasangka rasial ini memang tidak muncul ke permukaan. Tapi dia menjadi semacam ‘ hidden transcript ’ di kalangan masyarakat Indonesia. Dia dibicarakan di ruang-ruang keluarga, di dalam suasana yang akrab, dan jarang muncul ke publik. Namun ia ada.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Seiring dengan berjalannya kampanye pemilihan presiden, tekanan kampanye hitam ini makin menghebat. Serangan terhadap Jokowi tidak saja berlangsung dari mulut ke mulut dan lewat media sosial. Ia kemudian ditingkatkan ke dalam bentuk tabloid yakni  Obor Rakyat . Tabloid ini secara samar-samar memiliki kaitan dengan kampanye Prabowo-Hatta. Tabloid ini pun diedarkan dengan target yang jelas, yakni kalangan Islam khususnya basis-basis Islam tradisional, Nahdlatul Ulama (NU). Isinya sebagian besar memperkuat apa yang sudah didengar sebelumnya.  Obor Rakyat  agaknya akan menjadi cara baru kampanye di Indonesia. Dia menyamarkan diri sebagai karya jurnalistik, walaupun sesungguhnya dia  menunggangi  dunia jurnalisme untuk melancarkan kampanye hitam.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Di atas permukaan, serangan paling awal terhadap Jokowi adalah sebagai presiden ‘boneka.’ Uniknya, dia tidak dituduh sebagai boneka asing (baru kemudian tuduhan itu muncul) tetapi sebagai boneka Megawati Sukarnoputri, ketua PDIP, partai yang mencalonkan Jokowi. Kubu Prabowo-Hatta tahu persis bahwa kekuatan Jokowi bukan karena dukungan PDIP terhadap dirinya. Kekuatan utamanya adalah populisme yang melintasi garis partai. Jokowi maju bertarung untuk kursi kepresidenan karena ‘diwajibkan’  (conscripted)  oleh kalangan independen.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Namun serangan yang paling berhasil adalah dalam bentuk kampanye hitam (atau lebih tepatnya  smear campaign  – kampanye fitnah). Kampanye ini dilakukan oleh kelompok-kelompok di luar tim kampanye resmi. Serangannya pun sangat frontal dan mematikan. Dia menusuk langsung ke  psyche  masyarakat Indonesia, memainkan ketakutan-ketakutan sektarian dan rasial. Kampanye model ini dipakai karena hasilnya luar biasa bagus. Kampanye hitam, selain memberikan definisi tentang siapa Jokowi itu juga berfungsi untuk mobilisasi. 1  Orang-orang yang ketakutan akan berbondong-bondong memenuhi bilik-bilik suara.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Sedemikian miripnya serangan-serangan dan organisasi kampanye Prabowo-Hatta dengan pola-pola kampanye di Amerika, tentu membuat kita bertanya-tanya: Adakah campur tangan operator politik yang berpengalaman dalam politik Amerika dalam mengelola kampanye Prabowo? Selama ini, pers Indonesia meributkan bahwa kubu Prabowo Subianto mendapatkan bantuan dari konsultan politik Amerika dari Partai Republik yang bernama, Rob Allyn. Kubu Prabowo membantah bahwa Allyn memberikan konsultasi. Namun mereka tidak membantah kalau Allyn bekerja untuk perusahan yang dikontrak oleh tim kampanye kubu Prabowo. 2

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Rob Allyn mungkin bukan figur yang penting dalam politik Amerika. Satu-satunya prestasi paling penting Allyn adalah membuat Gubernur George W. Bush terpilih kembali di Texas tahun 1994. Allyn lebih banyak menangani politisi lokal di AS. Namun, Allyn dan perusahan konsultannya memiliki nama besar di luar AS. Dia berhasil menaikkan Vincente Fox menjadi presiden Meksiko tahun 2000. 3  Sejak itu, Allyn mengembangkan usahanya di luar AS. Dia mulai bergerak di Indonesia diperkirakan sekitar tahun 2004, dengan menjadi konsultan politik untuk Partai Golkar. 4  Saat ini, Allyn mengaku kepada  Dallas Observer bahwa dia hidup selama sembilan bulan dalam setahun di Indonesia.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Pertama,  terhadap lawan politiknya. Seorang politisi yang terpilih menduduki satu jabatan, tetap memerlukan lawannya ketika dia memerintah. Jika kampanye adalah persoalan memecah-belah dan berusaha mencari suara yang terbanyak, memerintah ( governing ) adalah persoalan mempersatukan. Politisi yang dikalahkan dengan kampanye hitam akan sulit menghilangkan ‘rasa getir’ kekalahannya itu. Demikian pula pendukung-pendukungnya. Jika ini terjadi, persoalan memerintah menjadi makin sulit; oposisi semakin sulit untuk diajak bekerja sama; dan pada akhirnya akan menentukan berhasil tidaknya pemerintah yang berkuasa.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Kedua,  adalah ke dalam koalisi pihak yang memerintah itu sendiri. Kebanyakan kampanye hitam dilakukan secara rahasia, oleh kelompok rahasia, dan disokong oleh dana-dana gelap. Setelah berkuasa, maka penguasa harus berurusan dengan kelompok-kelompok rahasia yang membantunya menaikkan dirinya ke kekuasaan. Sangat lumrah kelompok-kelompok ini tidak puas, dan akhirnya membuka semua aib pihak yang berkuasa dan menjadikannya skandal. Kerahasian ( secretiveness ) selalu memiliki harga mahal yang harus dibayar.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Pemerintahan yang dihasilkan lewat kampanye hitam berlebihan akan terus menerus berada dalam  mode  kampanye dan tidak sempat memerintah. Untuk itu, presiden terpilih harus tetap dikelilingi oleh konsultan-konsultan politik. Jika dia menang dalam pemilihan 9 Juli nanti, Presiden Prabowo Subianto mungkin juga harus mencari konsultan politik yang baru, yakni konsultan yang menangani cara memerintah. Kali ini, mungkin konsultan tersebut harus datang dari Russia, mengingat betapa kuatnya Presiden Putin berkuasa di sana.***


Baca juga :

Diskursus gerakan Islam radikal, fundamentalisme Islam, dan terrorisme Islam dalam ruang public internasional menjadi sangat mengemuka pasca munculnya tragedy kemanusiaan 11 September 2001. Tepatnya, pasca terjadinya peristiwa ledakan WTC, gedung pentagon, dan gedugn capitol di Amerika Serikat. Ketiga entitas tersebut dipahami oleh bayak kalangan –terlebih kalangan Barat- sebagai aksi jaringan kelompok internasional Islam radikal fundamentalisme.[1] Menurut David Zaidan dalam artikelnya, The Islamic fundamentalist view of life as a perennial battle, tragedy tersebut diyakini pelaku utamanya adalah Oesama bin Laden dan jaringan teroris yang dibetuknya (Alqaeda).[2]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Gerakan Islam dimaksudkan segala aktifitas rakyat yang bersifat bersama (jama’ah) dan terorganisasi, yang berupa mengembalikan Islam agar kembali memimpin masyarakat dan mengarahkan kehidupan mereka dalam segala aspeknya.[3] Berdirinya negara Islam barangkali merupakan tujuan paling penting bagi para tokoh pergerakan kebangkitan Islam, namun, ini tidaklah berarti bahwa semua tokoh kebangkitan berpandangan sama mengenai apa itu negara Islam dan bagaimana menjalankannya.[4] Namun, Kelompok Islam radikal, dalam konteks Indonesia, meyakini adanya relasi integral antara Islam dengan negara, dengan argumen bahwa Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk politik.[5]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Dalam konteks Indonesia, ditengah berjalannya proses penyidikan yang dipimpin Indonesia, serangan yang terjadi di Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 kian menampakkan diri sebagi hasil karya Jama’ah Islamiyah(JI). Mekipun demikian, banyak kalangan[6] yang meragukan keberadaan JI di Indonesia termasuk Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah atau Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia KH A. Aziz Masyhuri. Ia belum pernah mendengar tentang JI di Indonesia, dan sepengetahuannya hanya ada di Pakistan yang kemunculannya karena tekanan umat lain (Yahudi), sedangkan di Indonesia tekanan semacam itu tidak dijumpai[7] Namun apa itu Jama’ah Islamiyah,bagaimana cara organisasi ini beroperasi serta apa sasaran atau targetnya? Inilah fokus permasalahan yang akan dikaji.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Salah satu konsep untuk memahami fenomena fundamentalisme Jama’ah Islamiyah adalah dengan memposisikannya sebagai bagian dari gerakan sosial ( social movement ). Fokus konsep ini bertitik tolak dari dari paradigma gerakan sosial lama ( old social movement paradigm ) yang tidak menyertakan agama sebagai satu-satunya faktor pendorong konflik, melainkan juga kelas ( class ) sebagai faktor utama munculnya gerakan sosial. Cara pemahaman seperti inilah yang kemudian disebut dengan class interpretation. [9]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Untuk melihat gerakan fundamentalisme JI, juga dapat dilihat dari teori perlawanan (oppositionalism) atau teori perjuangan (fight) yang melihat fundamentalisme dari lima cirri perlawanan. Pertama, fight back; perlawanan dilakukan terhadap kelompok yang mengancam keberadaan atau identitas yang menjadi taruhan hidupnya. Kedua, figh for; berjuang untuk menegakkan cita-cita yang mencakup persoalan hidup secara umum, seperti keluarga dan istitusi lainnya. Ketiga, fight with;berjuang dengan kerangka nilai atau identitas tertentu yang diambil dari warisan masa lalu maupun konstruksi baru. Keempat, faight against; berjuang melawan musuh-musuh tertentu yang muncul dalam bentuk komunitas atau tata sosial keagamaan yang dipandang menyimpang. Kelima, fight under; berjuang atas nama tuhan atau ide-ide yang lain.[10]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Ada problem terminologi yang perlu ditegaskan terlebih dahulu, yaitu antara Jama’ati Islam dan Jama’ah Islamiyah.[11] Adapun Jama’ati Islami[12] didirikan oleh Abul A’la Al-Maududi pada tahun 1940 sekaligus ia dipilih sebagai ketuanya hingga tahun 1972. Pada tahun 1947 , waktu dua negara anak benua India itu didirikan-Pakistan dan India-Jama’at juga terbagi dua Jama’at-I Islam India dan Jama’at-I Islam Pakistan, ia memusatkan perhatiannya untuk mendirikan suatu negara Islam dan masyarakat Islam yang sebenarnya dinegeri itu.[13]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Sedangkan Jama’ah Islamiyah (JI) adalah organisasi yang dibentuk oleh Abdullah Sungkar di Malaysia pada 1994 atau 1995, tidak untuk dirancukan dengan istilah umum Jama’ah Islamiyah yang artinya hanya “komunitas Islami”. Organisasi tersebut secara resmi dimasukkan dalam daftar organisasi teroris di PBB pada 23 Oktober 2002.[15] Menurut Mustofa Alsayyid, disinilah nampak sisi pandang yang berbeda tentang definisi terorisme yang dipahami oleh barat (AS) dan orang Islam.[16] Orang arab (Islam), sudah mempelajari bahwa terorisme itu tidak bisa dikalahkan denganbersandar pada kekuatan militer.[17] Konversi, pemaksaan dari bangsa lain adalah asing bagi Islam. Bahkan perkembangan dukungan masa depan terhadap perlawanan terorisme itu sendiri akan menjadi sulit.[18]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Serangan tanggal 12 Oktober 2002 di Bali yang menewaskan hampir 200 orang merupakan rangkaian peristiwa peledakan bom di Indonesia dan Filipina yang paling dahsyat yang diduga dilakukan Jama’ah Islamiyah(JI). JI, sebuah organisasi yang didirikan di Malaysia oleh warga Indonesia yang terkait al-Qaeda. JI memiliki jaringan pendukung diseluruh Indonesia, Malaysia, Singapura dan Filipina Selatan. JI juga diduga telah mengadakan kontak dengan organisasi Muslim di Thailand dan Burma. Pun negara kaya minyak Brunei boleh jadi sudah diliriknya sebagai sumber dukungan atau tempat pelarian. Laporan ini merupakan lanjutan dari laporan ICG bulan Agustus 2002, yang mengkaji asal-usul sejarah dan intelektual dari orang-orang yang terkait JI.[20]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Melihat luasnya jaringan JI seperti itu, maka pertemuan antara kecenderungan terorisme internasional dan domestik, menurut Bruce Hoffman merupakan alasan yang mendorong pertumbuhan teroris sangat variatif dan komplek. Disamping faktor secara umum adalah; termotifasi oleh bentuk perintah agama, meningkatnya kemampuan dan wewenang teroris itu sendiri ikut mendorong pada bentuk professional. Terorisme karena motivasi agama lebih besar volumenya daripada motivasi etnis, nasionalisme, sparatisme ataupun idiologi. Implikasi motivasi seperti ini sebagaimana ditunjukkan oleh gerakan kaum syi’ah.[21]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Menurut pemerintah Singapura, JI: Merupakan organisasi teroris regional yang bekerja secara rahasia, dibentuk oleh mendiang ulama warga Indonesia Abdullah Sungkar. Setelah kematiannya, kedudukan amir JI dipegang oleh seorang warga Indonesia, yaitu Abu Bakar Ba’asyir. JI bertujuan mendirikan negara Islam diseantero Asia Tenggara, dengan menggunakan cara-cara teroris dan revolusi. Organisasi JI terdiri dari empat distrik atau wilayah (mantiqi) yang masing-masing terdiri dari beberapa ranting (wakalah). JI Singapura merupakan jaringan tingkat wakalah dibawah mantiqi JI Malaysia yang pernah diketuai Hambali (alias Riduan Isamuddin) hingga paruh kedua tahun 2001. Kepemimpinan mantiqi Malaysia kemudian dialihkan setelah Hambali dicari oleh pihak berwajib Malaysia sehubungan dengan tindak kekerasan yang dilakukan Kumpulan Militant Malaysia (KMM). Selanjutnya kepemimpinan mantiqi Malaysia diambil alih oleh seorang ustaz bernama Mukhlas.[24]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Sejak tahun 1970an, Abdullah Sungkar sudah mengisyaratkan perlunya organisasi baru yang dapat bekerja lebih efektif guna mencapai sebuah negara Islam, dan organisasi tersebut ia namakan Jamaah Islamiyah. Unsur-unsur kuncinya adalah perekrutan, pendidikan, ketaatan, dan jihad. Namun terjadi perselisihan dan debat didalam gerakan Darul Islam (DI) mengenai siapa yang layak memimpin organisasi tersebut dan tempatnya didalam gerakan secara lebih umum. JI yang dibentuk di Malaysia mengikuti perselisihan didalam kepemimpinan Darul Islam ketika Sungkar berpisah dengan seorang pemimpin DI yang berkedudukan di Indonesia bernama Ajengan Masduki. Tampaknya, organisasi JI yang baru, memiliki struktur jauh lebih rapat ketimbang yang lain dimana ia pernah terlibat di masa lalu. [25]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Organisasi JI tersebut merupakan jelmaan sebuah hibrida ideologi. Ada pengaruh kuat dari kelompok Islam radikal di Mesir, dalam arti struktur organisasi, kerahasiaan, dan misi jihadnya. Gerakan Darul Islam pada yang didirikan tahun 1950an masih tetap menjadi ilham yang kuat, akan tetapi ada warna anti-Kristen yang menonjol pada ajaran-ajaran JI yang bukan ciri Darul Islam. Menurut orang-orang yang dekat dengan Abdullah Sungkar, hal itu akibat hubungan masa lalunya dengan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), yang oleh seorang ilmuwan disebut “memiliki obsesi hampir paranoid, yang melihat upaya-upaya misionaris Kristen sebagai ancaman terhadap Islam, serta orientasi yang kian kuat kepada Timur Tengah, terutama Arab Saudi”.[26]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Seorang murid Sungkar menuturkan bahwa ia kerap membandingkan perjuangan kaum Muslimin di Indonesia dengan perjuangan Rasul di Mekkah. Seperti Rasul, yang harus menganut strategi perjuangan diam-diam, maka setiap upaya untuk berjuang secara terbuka menegakan sebuah negara Islam bakal ditumpas oleh musuh-musuh Islam.[27] Ajaran Sungkar disebarkan tidak saja melalui JI tetapi juga pada pesantren yang turut didirikannya di Malaysia bernama Pondok Pesantren Luqmanul Hakiem di Johor. Amrozi, pelaku pada kasus bom Bali, pernah menjadi siswa pada sekolah ini.[28]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Dalam berita acara pemeriksaannya, Abu Bakar Ba’asyir berkata bahwa pihak berwajib di Malaysia menuduh persantren tersebut memiliki orientasi Wahabi.[29] Ketika Abdullah Sungkar wafat pada November 1999, tak lama setelah ia kembali ke Indonesia, Ba’asyir menggantikannya sebagai ketua JI. Akan tetapi banyak anak buah Sungkar yang direkrut di Indonesia, terutama kaum pemuda yang lebih militan, sangat tidak puas dengan peralihan kepemimpinan ke tangan Ba’asyir. Kelompok yang lebih muda tersebut diantaranya termasuk Riduan Isamuddin alias Hambali; Abdul Aziz alias Imam Samudra, yang ditangkap di Jawa Barat pada 21 November 2002; Ali Gufron alias Muchlas (kakak Amrozi, seorang pelaku kunci dalam kasus bom Bali, yang tertangkap pada 3 December); dan Abdullah Anshori, alias Abu Fatih. Mereka menganggap Ba’asyir terlalu lemah, terlalu bersikap akomodatif, serta terlalu mudah dipengaruhi orang lain.[30] Menurut Magnus Rastorp, disininah terlihat betapa pentingnya peran dari pemimpin rohani dalam organisasi teroris Islam, sebagaimana ditunjukkan oleh peran Syekh Umar Abdurrahman Mesir dalam fatwanya untuk membantai Anwar Sadat dan memusuhi orang barat yang berada di Mesir.[31]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Perpecahan tersebut kian memburuk ketika Ba’asyir bersama Irfan Awwas Suryahardy dan Mursalin Dahlan, keduanya aktivis Muslim dan mantan tahanan politik, mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pada Agustus 2000.[32] Menurut kaum radikal, konsep MMI telah menyimpang dari ajaran-ajaran Abdullah Sungkar. Misalnya, mereka menganggap hal itu merupakan pengkhianatan terhadap ijtihad politik atau analisa politik Sungkar agar JI tetap bekerja di bawah tanah hingga muncul saat yang tepat untuk menegakkan negara Islam. Tapi, Abu Bakar Ba’asyir berdalih bahwa keterbukaan yang terjadi pasca Soeharto membuka peluang-peluang baru; jika peluang tersebut tidak diraih, maka hal itu bukan saja langkah yang salah, bahkan sebuah dosa. Kaum radikal membantah bahwa sistim politik mungkin saja lebih terbuka saat ini, namun masih dikuasai kaumkafir. Mereka gundah karena MMI menyambut baik wakil-wakil dari partai politik Muslim yang berupaya mendirikan syariah Islam, karena menurut ajaran Sungkar, setiap akomodasi yang diberikan terhadap sistim politik yang non Islam dapat mencemari umat yang taat, dan hal itu dilarang. Bagi para pengikut Sungkar, adalah hal yang haram ketika Fuad Amsyari, sekretaris MMI mengusulkan perjuangan menegakan syariat Islam sebaiknya melalui jalur parlemen seperti DPR serta pemilihan calon dari partai Islam ketimbang menjadi golput pada pemilihan umum. Kemarahan kaum radikal bertambah ketika Ba’asyir menggugat pemerintah Singapura pada awal tahun ini, karena hal itu berarti seolah-olah mengakui legitimasi dari sebuah sistim hukum yang non Islam.[33]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Falsafah yang dianut kaum radikal tersebut dapat di peroleh dari situs internet yang disampaikan Imam Samudra kepada para wartawan. Situs ini mencerminkan gagasan-gagasan dibalik perjuangan JI.[34] Pasca pengakuan Omar Al-Faruq yang kemudian dimuat Timeedisi September 2002, terjadi pertemuan antara MMI dengan JI. MMI menyampaikan pandangan Abu Bakar Ba’asir yang melihat aksi perjuangan bersenjata seperti peledakan bom sebaiknya ditunda. Pasalnya, itu akan memberikan dampak negatif bagi gerakan Islam.[35]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Kaitan-kaitan serta afiliasi JI di seluruh Sumatera boleh jadi lebih rumit daripada di daerah lain di Indonesia. Di Aceh terjadi persilangan kepentingan dengan oknum-oknum dan organisasi yang sudah lama dihubungkan dengan intelijen Indonesia. Cukup memandang peta untuk melihat bagaimana Sumatera menjadi persimpangan jalan bagi orang-orang yang berlalu lalang dari dan menuju semenanjung Malaysia.[36] Posisi strategis Aceh seperti itu menurut Samantha dijadikan barometer bagi Indonesia masa sekarang maupun dekade berikutnya. Reformasi Indonesia dapat meminta kembali posisinya sebagai pemimpin bagian Asia tenggara.[37] Karenanya, Indonesia harus bisa menyediakan suatu contoh bahwa demokrasi dan Islam tidak berselisih.[38]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Pulau Batam dilepas pantai Singapura merupakan tempat berlindung yang aman bagi kegiatan penyelundup. Disana juga banyak orang Aceh menjual ganja dengan imbalan berbagai barang, termasuk senjata. Lampung, teleh jadi basis gerakan Darul Islam yang kuat sejak 1970an. Gerakan ini sempat dipimpin Abdul Qadir Baraja, seorang guru Pondok Ngruki dan rekan dekat Abu BakarBa’asyir, yang ikut hadir pada kongres pendirian Majelis Mujahidin Indonesia. Way Jepara di Lampung juga merupakan lokasi dari apa yang disebut sekolah satelit Pondok Ngruki, yang pada tahun 1989 menjadi titik pusat sebuah benturan berdarah antara warga pesantren dengan TNI.[39]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Secara historis, kaitan JI dengan Aceh ini dapat dilihat dari anggapa JI terhadap aksi pemberontakan Darul Islam yang terjadi di daerah itu (1953-1962) dan melalui pemimpinnya Teungku Daud Beureueh dan rekan-rekannya. [41] Tak seperti pemimpin gerakan Darul Islam di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, Beureueh diizinkan menjalani kembali kehidupan sipil setelah penyerahannya dan hingga wafatnya pada tahun 1987 masih tetap merupakan tokoh yang dihormati di Aceh. Semua orang Aceh sama memandang Beureueh sebagai pahlawan. Akan tetapi jika GAM melihatnya sebagai perintis gerakan kemerdekaan Aceh, maka pemimpin JI menganggapnya sebagai pembela negara Islam. Anggota gerakan Darul Islam menganggap pemimpin gerakan di Jawa Barat, Sekarmadji Kartosuwirjo, sebagai imam pertama dari Negara Islam Indonesia (NII).

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Menjelang kematiannya pada 1962, Kartosuwirjo dilaporkan menunjuk Daud Beureueh sebagai imam kedua NII. Belakangan, Daud Beureueh disebut-sebut menunjuk Abu Hasbi Geudong, seorang Aceh yang bertempur disampingnya sebagai penggantinya. Putera Abi Hasbi Geudong, Teungku Fauzi Hasbi, seorang pembelot dari GAM yang dianggap pengkhianat oleh pimpinan GAM saat ini, membagi waktunya antara Medan, Jakarta, dan Kuala Lumpur dan secara reguler bertemu dengan pimpinan Jama’ah Islamiyah di Malaysia. Menurut penuturannya, ia menganggap Hambali bagaikan puteranya sendiri. Yang lebih aneh lagi bagi seseorang yang memiliki kaitan dengan pimpinan JI, ia pun pernah dekat dengan Kopassus sejak ia pertama kali menyerahkan diri di tahun 1977 kepada perwira Kopassus saat itu, Letnan Satu Syafrie Sjamsuddin – kini Mayor Jenderal Syafrie Syamsuddin, Kapuspen Mabes TNI.[42]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Menurut salah seorang yang dekat dengan orang-orang yang mengambil bagian dalam kamp pelatihan di Pandeglang, yang dikelola pelaku bom Bali Imam Samudra di Banten pada 2001, perekrutan untuk mujahid Poso dan Ambon berlangsung sebagai berikut; Seorang anggota kelompok Samudra memulai pembicaraan dengan siswa-siswa dari madrasah aliyah negeri. Madrasah tersebut lokasinya bisa didalam pesantren atau bisa juga terpisah. Siswa-siswa diundang hadir pada pertemuan dimana si pembahas memperlihatkan CD video tentang perang di Ambon dan Poso yang dibuat KOMPAK, organisasi yang berafiliasi dengan para mujahidin. Biasanya video tersebut berhasil memancing kemarahan besar pada orang yang melihatnya karena kebrutalan dan tindakan tidak berperikemanusiaan yang diperlihatkan pihak Kristen.[43]

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Meskipun JI belum pada tingkatan sebagaimana gambaran tersebut, aksi bom malam natal dengan tingkat profesionalisme yang lebih kecil dibandingka aksi bom Bali, namun peristiwa bom malam Natal pada Desember 2000 itu penting untuk dikaji sebagai contoh tentang luasnya aksi jangkauan jaringan JI.[48] Polisi juga menyimpulkan dan bahwa motivasinya adalah untuk menimbulkan teror diantara umat Kristen. Namun demikian, dalam penyelidikan yang dilakukan jurnalis dari majalah mingguan Tempo, diisyaratkan bahwa motivasinya adalah membalas umat Kristen atas pembunuhan terhadap umat Muslim.[49] Keduanya ada benarnya, akan tetapi pada saat itu tidak terbersit di benak orang, kaitan antara peledakan bom malam Natal dengan Jama’ah Islamiyah atau jaringan disekitar Pondok Ngruki.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

JI diyakini didirikan oleh Abdullah Sungkar di Malaysia pada sekitar tahun 1994/ 1995 untuk tujuan mendirikan sebuah negara Islam. JI merupakan jelmaan sebuah hibrida ideology, diilhami oleh berbagai gerakan lainnya semisal kelompok Islam radikal mesir, gerakan Darul Islam (DI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dimana gerakan-gerakan ini memandang upaya misionaris Kristen sebagai ancaman terhadap Islam. Ajaran Sungkar tidak saja disebarkan melalui JI, tetapi juga pada pesantrennya yang bernama Luqmanul Hakim di Johor Malaysia.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Abdullah Sungkar ikut mendirikan Pondok Ngruki (pesantren Almukmin) pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Setelah Sungkar wafat, maka Ba’asyir menggantikan posisinya sebagai ketua JI. Reaksi kaum muda JI yang militan semisal Hambali dan Imam Samudra, Ali Ghufron, Abu Fatih dll menilai Ba’asyir terlalu lemah, terlalu akomodatip dan mudah dipengaruhi orang lain, tidak setuju dengan aksi bersenjata serta peledakkan bom. Akibatnya mereka sering tidak memperdulikan Ba’syir dan pada puncak perselisihannya, ketika Ba’syir mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang mereka nilai sebagai pengkhianatan ijtihad politik dimana JI seharusnya bekerja dan beroperasi “dibawah tanah” hingga muncul saat yang tepat untuk menegakkan negara Islam.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

JI tampaknya beroperasi dengan menggunakan system sel dengan struktur organisasi yang khusus dan longgar. Para pemikir utamanya adalah pengikut setia almarhum Abdullah Sungkar. Sebagian besar dari mereka warganegara Indonesia yang menetap di Malaysia, serta para veteran perang Afganistan dan alumni latihan militer di Afganistan pasca Soviet jatuh. Lapis keduanya adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang sama. Mereka ditugaskan jadi koordinator di lapangan, dan bertanggungjawab atas pengiriman uang dan bahan peledak, serta merekrut orang-orang setempat untuk dibawahinya selaku pemimpin tim dari para operator lapangan. Lapis paling bawah, yaitu orang-orang yang mengendarai mobil, mengintai sasaran, menempatkan bom. Merekalah yang paling sering menghadapi bahaya penangkapan, cidera fisik, atau kematian. Umumnya mereka dipilih beberapa saat sebelum serangan dilakukan. Kebanyakan orang-orang ini adalah pemuda dari pesantren atau madrasah. Sekolah-sekolah yang menyediakan orang tersebut seringkali dipimpin oleh guru agama yang terkait gerakan Darul Islam tahun 1950an, atau dengan Pondok Ngruki.

seperti di kutip dari https://indonesiapoliticalreviews.wordpress.com

Seringkali proses perekrutan didahului diskusi soal Maluku dan Poso. Diskusi itu biasanya disertai tayangan video tentang pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di daerah-daerah itu. Konflik-konflik tersebut tidak saja memberi arti yang kongkret terhadap konsep jihad, yang merupakan unsur kunci dalam ideologi JI, namun juga merupakan tempat yang mudah dicapai bagi orang-orang yang direkrut untuk menimba pengalaman praktis dalam berperang. Perang terhadap terorisme yang dipimpin AS kini tampaknya menggantikan Maluku dan Poso sebagai obyek kemarahan JI. Apalagi setelah konflik disana mulai mereda. Orang-orang Barat di Bali dijadikan sasaran baru serangan JI. Peristiwa ini bisa jadi petunjuk adanya pergeseran serangan dari orang Kristen kepada orang Barat.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menilai pilihan pemindahan ustaz Abu Bakar dari Lapas Gunung Sindur menjadi tahanan rumah sebagai hal yang tepat. Hal itu melihat kondisi Ba’asyir yang kini sakit. “Saya kemarin ke sana (bertemu di Ponpes). Sudah beberapa lama Presiden prihatin. Abu Bakar Ba’asyir kan sudah tua, sudah sakit-sakitan, kaki bengkak-bengkak. Kalau ada apa-apa ditahan kan apa kata dunia,” ujar Ryamizard di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (1/3/2018). “Atas kemanusiaan Presiden supaya dia dipindahkan dekat-dekat Solo saja. Tahanan dulu lah. Kalau dibebaskan saya rasa itu yang lain-lain mungkin,” lanjutnya. Selain alasan kesehatan, lanjut Ryamizard mengatakan, pilihan tahanan rumah menjadi hal tepat karena persoalan keamanan. “Tahanan rumah saja bagus. Beliau (Jokowi) setuju. Tahanan rumah kan ketemu anak-cucu. Bukan apa-apa. Keamanan dia biar kita tanggung juga. (Misalkan) beliau kita bebaskan nanti kalau ada apa-apa pemerintah lagi,” kata Ryamizard. Ryamizard mengatakan, pengamanan disiapkan apabila Ba’asyir menjadi tahanan rumah. Hanya saja soal kepastian kapan tahanan rumah itu akan dilakukan belum ada jawaban pasti. “Dia (Ba’asyir) sudah berjanji nggak ada baiat-baiat. Apalagi menjurus mengajak orang. Nggak lah. Saya belum tahu (kapan menjadi tahanan rumah). Saya penyambung saya. Yang lain urusan polisi dan Kumham,” ujar Ryamizard. Sebelumnya, Ustaz Abu Bakar Ba’asyir diizinkan meninggalkan Lapas Gunung Sindur untuk berobat sementara waktu di luar lapas. “Hasil telaah medis, maka pelaksanaan rujukan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir bin Abud Ba’asyir dapat dilaksanakan dengan ketentuan berlaku dan terlebih dahulu berkoordinasi dengan BNPT dan Densus 88 Antiteror dan pihak-pihak lain,” kata Direktur Perawatan Kesehatan dan Rehabilitasi Asminan Mirza Zulkarnain dalam keterangan tertulis, Rabu (28/2/2018). Tim medis menyatakan Ba’asyir mengalami sakit chronic venous insufficiency bilateral atau disebabkan kelainan pembuluh darah vena berkelanjutan.

Ryamizard mengatakan Jokowi cukup prihatin dengan kondisi kesehatan Ustaz Ba’asyir. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu melakukan pertemuan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/3). Salah satu hal yang dibahas adalah mengenai terpidana Abu Bakar Ba’asyir. Ryamizard, yang sebelumnya telah mengunjungi Pondok Pesantren Ngruki milik Ba’asyir, menuturkan Presiden Jokowi memang cukup prihatin dengan kondisi Ba’asyir yang sakit-sakitan dan mengalami bengkak di kaki. Hal itu dikhawatirkan membuat sakit yang menimpa Ba’asyir semakin parah.

seperti di kutip dari http://www.republika.co.id

Selain itu, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena penyakit tersebut justru bisa menjadi omongan yang tidak menggenakan bagi pemerintah. “Makanya dengan sisi kemanusiaan Presiden (Jokowi), supaya dipindahkan untuk tahanannya. Namun untuk dibebaskan secara langsung belum ada,” kata Ryamizard di Istana Negara, Kamis (1/3). Ryamizard menuturkan, keinginan untuk memberikan kemudahaan bagi Ba’asyir, baik untuk dirawat mapun dipindahkan ke tempat tahanan yang lebih layak, sudah dipikirkan. Ini memperhatikan dengan kondisi Ba’asyir yang sudah rentan sehingga membutuhkan perawatan yang lebih baik. Terkait pemindahan tempat tahanan, Ryamizard menyebutkan Ba’asyir bisa saja dipindahkan ke tempat tahanan yang ada di Solo. Bahkan tidak menutup kemungkinan dia akan menjadi tahanan rumah.  Opsi ini lebih bagus dijalankan karena nantinya Ba’asyir bisa dirawat oleh anak atau cucu dan keluarga terdekat. Meski demikian, pemerintah tetap memperhitungkan secara matang keamanan untuk Ba’asyir.  Namun, dia menuturkan, dengan adanya kemungkinan izin dari Presiden Jokowi untuk memberikan keringanan kepada Ba’asyir, pemerintah berharap ada tindakan baik pula yang dilakukan Ba’asyir ke depan. Dia menyebutkan Ba’asyir pun sejauh ini telah menyetujui permintaan tersebut. “Ya kan dia sudah janji. Jangan ngomong nanti apalagi menjurus mengajak orang untuk (meneror), nggaklah . Itu janji, saya rasa bagus,” ujar Ryamizard. Meski sudah mulai mendapatkan lampu hijau untuk berpindah tempat tahanan, Ryamizard belum bisa memastikan kapan Ba’asyir bisa dipindahkan dari tempatnya sekarang ditahan, Gunung Sindur, Bogor.

Related Posts

Comments are closed.