Menagih Janji Antikorupsi Jokowi, TGPF Kasus Novel Perlu Dibentuk

Menagih Janji Antikorupsi Jokowi, TGPF Kasus Novel Perlu Dibentuk

Pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan belum juga terungkap. Presiden Joko Widodo didesak membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mengungkap kasus ini. Sahabat Novel yang juga Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak kembali menyinggung penanganan penyiraman air keras terhadap Novel. Ia meminta Jokowi membentuk TGPF agar bisa membantu kepolisian mengungkap kasus teror tersebut dengan cepat. “Ini bukan (hanya) penyerangan terhadap Novel, (tapi juga) penyerangan terhadap agenda pemberantasan korupsi, penyerangan terhadap Anda-Anda, terhadap saya, terhadap negeri ini. Maka, penting TGPF itu. Kenapa penting? Karena polisi selama 10 bulan ini tidak menunjukkan perkembangan penyidikan yang positif,” kata Dahnil di kantor PP Pemuda Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Rabu (28/2). Permintaa pembentukan TGPF Novel juga disuarakan Ketua KPK Agus Rahardjo. Menurut Agus, TGPF dibutuhkan untuk membantu polisi. “Kalau keinginan bahwa kasus ini harus tuntas, itu (TGPF) sangat penting,” ujar Agus dalam acara Mata Najwa yang disiarkan Trans7, Rabu (28/2). Soal pembentukan tim gabungan pencari fakta, Novel pun menginginkan hal itu dibentuk. Menurut Novel, pembentukan tim pencari fakta adalah wujud dari seriusnya pemerintah dan polisi untuk mengungkap kasus ini. “Tapi, kalau kita abaikan (kasus ini), ya tidak usah (dibentuk tim pencari fakta). Kalau penting, ya Pak Presiden harusnya bentuk,” kata Novel. Jokowi juga sudah menanggapi terkait perkembangan kasus Novel. Ia terus meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menjelaskan perkembangan kasus ini. “Ya ini saya akan terus kejar di Kapolri, di Polri agar kasus ini menjadi jelas dan tuntas siapa pun pelakunya. Sampai saat ini akan kita kejar terus, akan kita kejar terus Polri. Dan Polri juga sudah saya sampaikan, kalau Polri sudah gini (angkat tangan) baru kita mulai step yang lain,” ucap Jokowi, Selasa (20/2).

Pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan belum juga terungkap. Presiden Joko Widodo didesak membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mengungkap kasus ini. Sahabat Novel yang juga Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak kembali menyinggung penanganan penyiraman air keras terhadap Novel. Ia meminta Jokowi membentuk TGPF agar bisa membantu kepolisian mengungkap kasus teror tersebut dengan cepat. “Ini bukan (hanya) penyerangan terhadap Novel, (tapi juga) penyerangan terhadap agenda pemberantasan korupsi, penyerangan terhadap Anda-Anda, terhadap saya, terhadap negeri ini. Maka, penting TGPF itu. Kenapa penting? Karena polisi selama 10 bulan ini tidak menunjukkan perkembangan penyidikan yang positif,” kata Dahnil di kantor PP Pemuda Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Rabu (28/2). Permintaa pembentukan TGPF Novel juga disuarakan Ketua KPK Agus Rahardjo. Menurut Agus, TGPF dibutuhkan untuk membantu polisi. “Kalau keinginan bahwa kasus ini harus tuntas, itu (TGPF) sangat penting,” ujar Agus dalam acara Mata Najwa yang disiarkan Trans7, Rabu (28/2). Soal pembentukan tim gabungan pencari fakta, Novel pun menginginkan hal itu dibentuk. Menurut Novel, pembentukan tim pencari fakta adalah wujud dari seriusnya pemerintah dan polisi untuk mengungkap kasus ini. “Tapi, kalau kita abaikan (kasus ini), ya tidak usah (dibentuk tim pencari fakta). Kalau penting, ya Pak Presiden harusnya bentuk,” kata Novel. Jokowi juga sudah menanggapi terkait perkembangan kasus Novel. Ia terus meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menjelaskan perkembangan kasus ini. “Ya ini saya akan terus kejar di Kapolri, di Polri agar kasus ini menjadi jelas dan tuntas siapa pun pelakunya. Sampai saat ini akan kita kejar terus, akan kita kejar terus Polri. Dan Polri juga sudah saya sampaikan, kalau Polri sudah gini (angkat tangan) baru kita mulai step yang lain,” ucap Jokowi, Selasa (20/2).

Kapolri Jenderal Tito Karnavian sudah menyiapkan sistem dan metode kerja Densus Antikorupsi. Opsi pertama, Densus Tipikor dibuat satu atap dengan Kejaksaan Agung dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dengan sistem ini, Densus Tipikor akan dijalankan oleh 3 lembaga, tidak hanya Polri. Dengan kendali 3 lembaga, kepemimpinan Densus Tipikor akan dijalankan melalui prinsip kolektif kolegial sehingga sulit diintervensi. Sementara opsi kedua yakni Densus Tipikor tidak perlu satu atap. Namun tetap dipimpin oleh Perwira Tinggi Polri bintang dua seperti Detasemen Khusus 88 Anti-teror.

Mantan Ketua KPK Abraham Samad meminta agar pimpinan KPK segera mengusulkan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mencari pelaku penyerangan penyidik KPK Novel Baswedan. “Kami minta pimpinan KPK segera mengusulkan ke Presiden Indonesia untuk membuat Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) karena saya sangat yakin dalam rentang waktu 10 bulan dan pelaku belum ditemukan, tidak ada jalan lain selain satu-satunya jalan mengungkap dan menemukan pelaku penyerangan Novel adalah dibentuk TGPF,” kata Abraham di gedung KPK Jakarta, Kamis (22/2/2018). Novel Baswedan tiba di gedung KPK sekitar pukul 13.05 WIB. Ia turun dari mobil didampingi oleh Wakil Ketua KPK Laode M Syarif yang sudah menjemputnya di bandara Soekarno Hatta. Selain Laode, para pegawai KPK dan aktivis antikorupsi juga menyambut Novel dengan kompak berpakaian putih, termasuk di dalamnya Abraham Samad juga mengenakan kemeja putih yang memberikan pelukan saat bertemu Novel. “Karena saya yakin, bila tidak dibentuk (TGPF), kasus Novel akan berlalu begitu saja seperti yang dialami pegawai KPK lain dan aktivis antikorupsi lain, jadi harus sesegera mungkin pemerintah membentu TGPF karena ini satu-satunya cara untuk menemukan pelaku penyerangan Novel,” jelas Abraham. Senada dengan Abraham, pengacara Novel, Saor Siagian juga mengatakan bahwa hingga lebih dari 10 bulan, belum ada kemajuan berarti dari investigasi yang dilakukan pihak kepolisian. “Saya katakan ke Kapolri, awalnya saya berpikir dia dikerjai anak buahnya, tapi sebagai pengacara Novel, setelah 10 bulan tidak ada ‘progress’ maka kita minta kepada Kapolri agar kasus ini segera dituntaskan, kalau tidak martabat kita sebagai negara hukum dan martabat Kapolri akan dipertanyakan. Saya minta Kapolri ini utang bersama yang harus dituntaskan,” kata Saor. Pada kesempatan itu aktivis antikorupsi juga menyerahkan petisi yang didukung oleh 65 ribu orang orang yang meminta agar dibentuk TGPF untuk membongkar kasus penyerangan kepada Novel Baswedan. Novel disiram air keras oleh dua orang pengendara motor pada 11 April 2017 seusai shalat subuh di Masjid Al-Ihsan dekat rumahnya. Ia kemudian dibawa ke Singapura untuk menjalani pengobatan di kedua matanya. Selama Novel menjalani perawatan, polisi belum berhasil menangkap pelaku penyiraman. Beberapa orang sempat diamankan karena diduga sebagai pelaku, tapi mereka kemudian dilepaskan karena tidak ada bukti. Polda Metro Jaya sudah merilis dua sketsa wajah yang diduga kuat sebagai pelaku, namun belum ada hasil dari penyebaran sketsa wajah tersebut.

Penyidik senior KPK Novel Baswedan sudah tiba di Indonesia. Dia tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada sekitar pukul 11.10 WIB, Kamis (22/2). Dia tiba dari Singapura dengan ditemani oleh istri dan anak serta beberapa orang dari KPK. Novel Baswedan menuju KPK. (Foto: Dok. Istimewa) Di bandara, Novel dijemput langsung oleh pimpinan KPK dan beberapa pegawai KPK. Pimpinan yang menjemput Novel adalah Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif. Juru bicara KPK Febri Diansyah pun terlihat berada di lokasi Namun, Novel Baswedan tidak keluar melalui pintu kedatangan seperti penumpang lain. Ia keluar melalui loading deck bandara. Rombongan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan sebelumnya. Novel Baswedan menuju KPK. (Foto: Dok. Istimewa) Setidaknya ada 5 mobil rombongan itu. Mereka meninggalkan bandara pada sekitar pukul 11.20 WIB dan langsung menuju gedung KPK. Novel Baswedan bersiap pulang ke Indonesia. (Foto: Twitter/@haris_azhar) Para pegawai KPK juga sudah bersiap menyambut kedatangan Novel Baswedan. Sejumlah penggiat anti-korupsi itu juga terlihat berdatangan ke gedung KPK guna menyambut Novel. Kronologi penyiraman air keras Novel Baswedan (Foto: Bagus Permadi/kumparan)

Novel melanjutkan, dirinya pernah diberitahu anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri yang melakukan investigasi dan menemukan indikasi pelaku. Dia menerima foto orang yang diduga pelaku. Novel kemudian mengirim foto itu ke adiknya untuk diperlihatkan kepada beberapa orang yang pada saat kejadian ada di sekitar lokasi. Hasilnya, banyak orang yang mengenali foto tersebut. “Mereka meyakini orang tersebut sebagai pelaku (pengintai atau eksekutor). Foto tersebut kemudian saya berikan kepada Kapolda dan Rudy (Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya). Kejadian sekitar tanggal 19 April 2017,” kata Novel. Novel pun menyebut soal dugaan keterlibatan jenderal ketika diwawancara majalah berita  Time  pada 10 Juni 2017. Kepada majalah ternama asal Amerika Serikat tersebut Novel menduga ada jenderal yang terlibat. Dirinya meyakini dugaan keterlibatan jenderal lantaran 2 bulan penyelidikan kasusnya tak memperlihatkan perkembangan berarti. Namun, dalam pemeriksaan polisi di Singapura itu Novel pun bungkam saat ditanya soal sosok jenderal tersebut. Pada 5 Agustus 2018 Anggota Tim Advokasi Novel, Alghiffari Aqsa, mengatakan nama jenderal baru akan diungkapkan Novel bila dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Atas permintaan tersebut, Polri menolak pembentukan TGPF. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri kala itu Brigjen Rikwanto mengatakan, pihaknya tak ingin pembentukan TGPF menjadi kebiasaan dalam penanganan kasus-kasus pidana. “TGPF ini jangan dibiasakan. Nanti siapapun yang merasa agak lama penanganan kasusnya menuntut TGPF,” kata Rikwanto, di Markas Besar Polri, Jakarta, 6 November 2017. Menurut Rikwanto, penanganan sebuah kasus yang memakan waktu di kepolisian merupakan hal yang wajar. Penyidik pun, lanjut dia, tidak memiliki niat untuk memperlambat proses penyidikan kasus yang terjadi pada 11 April 2017 itu. Jokowi Kembali Tagih Polri Presiden Jokowi pun sempat kembali menagih janji Polri menuntaskan kasus teror penyiraman air keras terhadap Novel pada 3 November 2017. Dia menegaskan semua masalah harus gamblang, jelas, dan tuntas. Dia pun berkata akan memanggil Tito kembali untuk memberikan penjelasan. Namun, panggilan dari Jokowi kepada Tito tak kunjung terdengar. Joko Widodo.. (CNN Indonesia/Christie Stefanie) Dua pekan kemudian, 24 November 2017, Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis mendatangi Gedung KPK untuk menemui pemimpin lembaga antirasuah itu dan memberikan keterangan pers secara bersama-sama.  Idham menyatakan, pihaknya telah mengantongi ciri-ciri dua terduga pelaku teror penyiraman air keras terhadap Novel. Dari sketsa wajah yang ditunjukkan Idham, salah satu terduga pelaku memiliki ciri-ciri berambut cepak dan berkulit gelap. Sementara terduga pelaku lainnya berambut gondrong berkulit putih. Pada awal Desember 2017, kepolisian menggandeng Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil untuk melacak identitas pelaku penyiraman air keras. Namun hingga kini upaya tersebut juga belum membuahkan hasil. Awal Januari silam, Polda Metro Jaya telah menyebarkan empat buah sketsa wajah terduga pelaku teror penyiraman air keras terhadap Novel ke seluruh markas kepolisin satuan wilayah. Meski belum diketahui identitasnya, keempat nama tersebut telah dinyatakan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) alias berstatus buronan. Selain itu, Polda Metro Jaya juga membuka saluran telepon siaga (hotline) bagi masyarakat yang mengetahui keberadaan atau identitas dari terduga pelaku yang ada pada sketsa itu yakni 081398844474. Namun, menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, polisi belum mendapatkan informasi yang cukup berarti dari ribuan penelepon yang telah menghubungi nomor tersebut. Kini, Novel akan kembali ke Indonesia setelah selama 10 bulan menjalani perawatan mata kiri di Singapura. Dalam sebuah video yang diterima  CNNIndonesia.com  dari Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, Novel menegaskan bahwa Tuhan akan menunjukkan jalan kebenaran bagi dirinya, walaupun sejumlah pihak berupaya menutupi peristiwa yang ia alami.  Dia mengajak seluruh elemen masyarakat mulai dari aktivis, aparat penegak hukum, dan pegiat antikorupsi tetap fokus dan berani. “Jangan takut, jangan ragu, tetap semangat karena tidak akan ada keburukan yang kita peroleh,” katanya. Novel juga sempat mengucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah memberikan dukungan dan doa, serta kepada Presiden Joko Widodo yang telah membantu pengobatannya selama di Singapura. “Segala hal yang telah terjadi adalah suatu kebaikan yang itu takdir Allah dan pasti baik. Saya tidak berpikir bahwa hal ini suatu yang buruk. Terima kasih,” kata Novel di akhir video. (kid/sur)

Penyidik KPK Novel Baswedan didampingi istrinya Rina Emilda memasuki mobil setibanya dari Singapura di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (22/2/2018). – ANTARA/Muhammad Iqbal Kabar24.com , JAKARTA – Penyidik KPK Novel Baswedan tiba di gedung KPK Jakarta. Novel didampingi Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dan Juru Bicara Febri Diansyah. Novel tiba pada Kamis (22/2/2018) pukul 13.05 WIB mengenakan kaus putih, jaket hitam, celana biru dan masih mengenakankaca mata. Ratusan pegawai KPK dan aktivis antikorupsi berpakaian putih ikut menyambut kedatangan Novel. Mantan Ketua KPK Abraham Samad juga sudah tiba di KPK untuk menyambut Novel. Dokter yang merawat Novel di Singapura mengatakan bahwa Novel dapat menjalani rawat jalan pascaoperasi tambahan pada 13 Februari 2018 yaitu operasi penggantian jaringan selaput gusi yang menjadi implan di mata Novel Selanjutnya kontrol untuk pengobatan Novel akan dilakukan dalam waktu sekitar tiga pekan lagi. Novel disiram air keras oleh dua orang pengendara motor pada 11 April 2017 seusai sholat subuh di Masjid Al-Ihsan dekat rumahnya namun hingga saat 10 bulan 11 hari sejak penyerangan Novel, pelaku penyerangan belum juga ditemukan. Presiden Joko Widodo mengatakan akan terus mengejar Kapolri untuk menemukan pelaku penyiraman. “Saya akan terus kejar di Kapolri agar kasus ini menjadi jelas dan tuntas siapapun pelakunya. Akan kita kejar terus Polri,” kata Presiden pada Selasa (20/2/2018). Sejumlah pihak termasuk Novel juga mengusulkan untuk dibentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mengusut kasus itu tapi pembentukan TGPF belum juga dilakukan. “Dan Polri juga sudah menyampaikan (kemajuan penyidikan), kalau Polri sudah ‘gini’ (menyerah) baru kita akan ‘step’ yang lain,” kata Presiden sambil mengangkat kedua tangannya menunjukkan orang tanda menyerah. Pihak Polri sudah memeriksa Novel sebagai saksi korban pada 14 Agustus 2017 di KBRI Singapura. Saat itu Novel juga didampingi oleh tim KPK termasuk Ketua KPK Agus Rahardjo dan tim penasihat hukumnya. Selama Novel menjalani perawatan, polisi belum berhasil menangkap pelaku penyiraman. Beberapa orang sempat diamankan karena diduga sebagai pelaku, tapi mereka kemudian dilepaskan karena tidak ada bukti. Polda Metro Jaya sudah merilis dua sketsa wajah yang diduga kuat sebagai pelaku, namun belum ada hasil dari penyebaran sketsa wajah tersebut Sumber : Antara

Related Posts

Comments are closed.