Kuliah Umum di STT REM, KSAL Singgung Generasi yang Manja

Kuliah Umum di STT REM, KSAL Singgung Generasi yang Manja

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi menerangkan konsep kepemimpinan tidak lepas dari tiga faktor yakni pengetahuan, ketrampilan dan karakter. Menurutnya, seorang pemimpin harus memahami ketiga ranah itu. “Jadi konsep kepimpinan dalam militer itu menang kita tidak akan lepas dari tiga ranah kok. Ranah kognitif, psikomotor, dan attitude. Bagaimana dia merespons semua ini. Sebenarnya basic-basic pendididkan tapi memang kadang kita tidak mem-breakdown ini jadi bagian-bagian mana yang bisa diterapkan zaman sekarang,” kata Laksamana TNI Ade Supandi. Hal tersebut disampaikan Ade saat memberi kuliah umum dengan tema ‘Leadership Milenial’ di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Rahmat Emmanuel (REM), Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (2/2/2018). Kuliah umum tersebut dihadiri oleh para mahasiswa, dosen dan sejumlah alumni STT Rahmat Emmanuel. Dia mengatakan meskipun orang sekarang memahami suatu teknologi tapi tanpa dibekali dengan pengetahuan yang mumpuni, tidak akan bisa. Untuk itu, pengetahuan-pengetahuan yang sepadan itu harus diberikan kepada para generasi sekarang. “Pengetahuan yang paling gampang itu sesuatu yang dia bisa terlihat, kalau tidak bisa lihat cuma di kepala nggak bakal bisa. Karena itu, dalam konsep transformasi pengetahuan, metode itu harus dipahami. Apakah itu dengan mata, telinga dan tangan. Kalau suatu pengetahuan lebih gampang diterima dengan omongan, ya pakai omongan, kalau dia harus perbuatan, yang dengan contoh,” terangnya. Ade menjelaskan faktor kedua adalah keterampilan. Dia menilai para generasi milenial sekarang ini cenderung manja dan tidak mandiri. “Kemudian keterampilan itu, sama ini, yang kita nggak pernah melakukan pada anak-anak kita. Kemanjaan di lingkungan pendidikan itu akibatnya dia tidak bisa mandiri,” ucapnya. Sebab, menurut Ade, para orang tua sekarang jarang melatih psikomotor anaknya untuk bersikap mandiri sehingga ketika dewasa akan kebingungan menghadapi sesuatu. Ade pun mencontohkan bagaimana pengusaha besar milik keluarga, banyak yang menjual perusahaannya karena anaknya tidak bisa melanjutkan bisnis tersebut. “Banyak pengusaha besar tidak bisa bertahan dalam mememilihara perusahannya, kenapa? Karena tidak melatih, karena anaknya tahu kesuksesan orang tua sekarang tapi bagaimana orang tua dulu mengalami hal yang sulit. Sekarang sudah naik mobil, mungkin dulu bapaknya naik becak kepanasan, anak ini nggak tahu. Begitu dia menghadapi persoalan bisnis tidak ngerti itu banyak terjadi banyak perusahaan besar khususnya family bisnis,” urainya. Ade menambahkan faktor ketiga yang tak kalah penting adalah karakter. Dia pun meminta untuk para generasi sekarang membangun karakter yang baik dan kuat. Jika seorang tidak memilik karakter yang baik dan kuat, menurut Ade tidak akan berhasil. “Sikap karakter ini yang harus dibangun, kalau tidak kita akan selalu kalah global competitiveness. Di manapun kalau manusianya tidak punya kemampuan baik, tidak akan jadi,” kata Ade.

Presiden Jokowi diacungi ‘kartu kuning’ oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) 2018, Zaadit Taqwa, saat menghadiri Dies Natalis ke-68 UI. BEM UI menyatakan aksi itu merupakan bentuk peringatan. Kepala Kajian dan Aksi Strategi BEM UI, Alfian Tegar Prakasa, mengatakan BEM UI menggelar aksi #KartuKuningJokowi terkait kedatangan Jokowi ke UI. Aksi digelar sejak pagi di Stasiun UI dan di dalam Balairung UI. “Banyak orang melakukan aksi dengan ricuh, tapi kami menghindari itu semua dengan aksi simbolis. Makanya kami menggunakan kartu kuning sebagai simbolis untuk bisa memberi pesan kepada Presiden Jokowi, bahwa di tahun terakhirnya masih banyak evaluasi yang harus dikerjakan,” kata Alfian saat dihubungi detikcom lewat telepon, Jumat (2/2/2018). “Aksi simbolis itu adalah bentuk peringatan kepada Presiden Jokowi,” ia menegaskan. Alfian menerangkan ada 3 hal penting yang dikritik BEM UI. Mereka meminta Presiden Jokowi mengevaluasi hal ini. Tuntutan tersebut adalah: 1. Tuntaskan persoalan gizi buruk di Asmat, Papua. 2. Menolak dengan tegas rencana pengangkatan Pj gubernur dari kalangan Polri aktif. 3. Menolak draf Permendikti tentang Organisasi Mahasiswa yang dianggap sangat membatasi pergerakan mahasiswa. “Kami meminta Presiden Jokowi menuntaskan permasalahan tersebut,” ujarnya.

Lucia, seorang konsumen properti di pulau reklamasi dipolisikan pengembang atas dugaan fitnah dan pencemaran nama baik. Lucia menegaskan ucapannya itu bukanlah sebuah fitnah. Perkataan fitnah yang dimaksud pelapor adalah ketika pada tanggal 12 Desember 2017, Lucia dan sejumlah konsumen Golf Island datang ke marketing galery PIK2. Untuk diketahui, pengelola PIK2 dan Golf Island berbeda pengembang. “Saya memang ada menyebutkan bahwa ‘pengembangnya tidak tanggung jawab’, saya bilang saya enggak fitnah,” kata Lucia di Jakarta, Jumat (2/2/2018). Para konsumen ingin mengetahui kejelasan properti yang mereka beli di Golf Island, seiring dengan dicabutnya moratorium. Para konsumen saat itu baru mengetahui bahwa pengembang belum mengantongi izin SIPPT. “Kalau Pergub No 88/2008 itu mewajibkan sebelum launching dan memasarkan (pengembang) wajib punya HGB, SIPPT, ARK dan mengajukan IMB. Bahwa IMB belum keluar enggak masalah, tetapi sudah ada persyaratan tab. Nah ketika moratorium dicabut kami baru tahu,” terang Lucia. Pada awal pemasaran, konsumen telah menanyakan soal perizinan kepada marketing. “Waktu awal beli kami dibilang ‘oh sudah, ada izinnya udah’, kami masa ‘ya udah kasih lihat dong izinnya’, kami cuma konsumen biasa enggak ngerti apa-apa,” tutur Lucia. Sementara konsumen merasa kesulitan bertemu dengan direksi saat itu. Setelah tiga puluh menit menunggu di kantor marketing PIK2 itu, namun konsumen tidak bisa bertemu dengan direksi pengembang Golf Island, para konsumen pun emosi. “Jadi emosi konsumen pada naik, itu bukan dipicu oleh kami loh, itu dipicu oleh jawaban yang tidak konsisten tersebut. Kemudian ada yang merekam tanpa seizin kami, kan kami juga takut itu disebar luaskan. Kami berusaha ‘eh hapus ya’, kamu itu siapa enggak mau ngaku,” sambungnya. Lucia menegaskan dirinya tidak bermaksud memfitnah atau pun mencemarkan nama baik siapa pun. Justru konsumen hanya ingin mendapatkan kepastian dari pengembang. “Kami kan konsumen. Kalau saya menyampaikan bahwa pengembang tidak tanggung jawab menurut saya tidak fitnah, pengembang yang tidak punya izin kemudian ketika ada masalah dan tidak juga mencari win-win solution dengan konsumennya buat saya itu pengembang yang tidak tanggung jawab, mungkin orang lain juga bisa menilai. Jadi saya nggak melakukan fitnah menurut saya,” urainya.

Aksi mahasiswa UI mengacungkan ‘kartu kuning’ ke Presiden Jokowi jadi sorotan. Si mahasiswa itu adalah Ketua BEM UI Muhammad Zaadit Taqwa. Zaadit merupakan mahasiswa jurusan Fisika Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI. Dia angkatan 2014. Dikutip dari capaian.rumahkepemimpinan.org, Zaadit merupakan aktivis kampus. Dia pernah menjabat Ketua Himpunan Mahasiswa Departemen Fisika (HMDF) 2016. Kemudian, tahun ini, dia terpilih sebagai Ketua BEM UI periode 2018. Soal karakternya, dikutip dari farhanmersal.wordpress.com, Zaadit tergolong pemuda ceria. Di situs itu diungkap juga Zaadit akrab disapa Babeh. “Babeh, seorang yang katanya pernah kurus ini merupakan pribadi yang ceria, tenang, sering bercanda, kritis dan tentunya selalu tersenyum walau hati menangis (?) hahaha,” demikian potongan testimoni soal Zaadit dari situs itu. Sebelumnya, Zaadit berdiri dan mengacungkan kertas sebesar map berwarna kuning ke arah Presiden. Peristiwa itu terjadi ketika Jokowi berfoto bersama rektor dan para profesor UI di acara Dies Natalis ke-68 di Balairung UI, Depok, Jumat (2/2/2018). Zaadit Taqwa. Foto: @zaaditt/instagram Saat momen foto bareng itu, Zaadit yang berkemeja batik berdiri sambil mengacungkan ‘kartu kuning’. Lantas anggota Paspampres yang ada di lokasi menghalau dan menggiring Zaadit ke luar ruangan. Zaadit kemudian diserahkan ke pihak keamanan kampus.

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi #KartuKuningJokowi terkait kedatangan Presiden Jokowi ke UI. Aksi itu kemudian dibubarkan aparat. Pihak BEM UI pun memprotes aksi itu dibubarkan. Mereka menilai tidak ada yang salah dengan aksi mereka karena diadakan dengan damai. BEM UI mengadakan aksi #KartuKuningJokowi terkait kedatangan Jokowi ke UI dalam rangka Dies Natalis ke-68 UI. Aksi diadakan di dua lokasi, yakni di dalam Balairung UI dan di Stasiun UI. “Gerakan hari ini kita berdasarkan rencana terbagi menjadi dua. Saya sebagai koordinator lapangan di stasiun dan Zaadit (Ketua BEM UI 2018 Zaadit Taqwa-red) untuk gerakan simbilis di dalam Balairung. Simbol yang kami angkat kartu kuning untuk Jokowi,” kata Kepala Kajian dan Aksi Strategi BEM UI, Alfian Tegar Prakasa, saat dihubungi detikcom lewat telepon, Jumat (2/2/2018). Ketua BEM UI Zaadit Taqwa dihalau Paspampres saat mengacungkan ‘kartu kuning’ ke Jokowi di acara Dies Natalis ke-68 UI di Balairung. Alifan mengatakan, aksi BEM UI di Stasiun UI juga ikut dibubarkan. “Saya sendiri yang menjadi korlap di stasiun. Itu pun kami melakukan aksi yang sangat, sangat, sangat damai. Kami menyesuaikan dengan regulasi yang ada. Kami tidak menempel spanduk di tembok, kami membawanya. Kami juga berada di pinggir,” jelas Alfian. “Tapi waktu itu, ketika kami melakukan aksi damai tersebut di pinggir jalan, tiba-tiba langsung ada aparat yang meringkus kami. Akhirnya aksi yang tadinya ingin berjalan damai terpaksa dibuat ribut, atau ricuh. Padahal kami hanya ingin menyampaikan pesan terbaik kami, saran terbaik kami kepada Presiden Jokowi yang hari ini bersilaturahmi ke Universitas Indonesia,” sambungnya memaparkan. Ditambahkan Alfian, dirinya dan Zaadith kemudian dibawa ke gedung keamanan UI. “Tadi saya dan Zaadith langsung dibawa ke gedung keamanan UI, di situ kami diminta biodata dan lain-lain ya untuk ditembuskan kepada Polri, Paspampres dan lain-lain. Kami diminta data dan diajak berdiskusi lebih lanjut mengenai gerakan hari ini. Untuk masalah ke depannya kami belum mengetahui seperti apa, tapi sejauh ini itu lah yang diminta pihak universitas, Polri dan lain-lain,” jelasnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendatangi acara Dies Natalis ke-68 Universitas Indonesia. Setelah Jokowi menyampaikan sambutan, seorang mahasiswa mengacungkan ‘kartu kuning’. Terkait hal ini, Kepala Humas dan Komunikasi Informasi Publik (KIP) Universitas Indonesia, Rifelly Dewi Astuti mengatakan mahasiswa tersebut sudah diserahkan ke pihak kampus. Awalnya si mahasiswa sempat dihalau oleh Paspampres. Dia meminta publik tak terlalu menyoroti insiden tersebut. “(Kondisi mahasiswa) nggak apa-apa. Baik-baik saja. Sudah selesai ya,” kata Rifelly saat dihubungi detikcom, Jumat (2/2/2018). “Coba dilihat acaranya tadi aman, baik, bagus. Itu loh yang dilihat. Jangan hal-hal yang membuat jadi kurang baik. Padahal kan tadi baik-baik saja,” sambungnya. Rifelly belum mengetahui secara pasti soal identitas mahasiswa tersebut. Dia mengatakan saat ini insiden tersebut sudah ditangani Direktur Kemahasiswaan UI. “Saya kurang tahu, tadi saya belum contact ya sama ininya. Tapi salah satu ketua BEM, mungkin ya. Tapi kan ketua BEM-nya banyak ya. Ada ketua BEM UI, ketua BEM fakultas juga. Tapi sudah tak apa kok. Sudah ditangani Direktur Kemahasiswaan,” ucap dia. Sebelumnya, kedatangan Jokowi ke Kampus UI menuai pro dan kontra. Ajakan menolak kehadiran Jokowi ke Kampus UI tersebar di grup percakapan WhatsApp. Namun, pihak kampus menegaskan situasi di Kampus UI, Depok, aman dan terkendali dalam menyambut kehadiran Jokowi. “Semua aman dan terkendali,” katanya.

Ketua BEM UI 2018 Zaadit Taqwa menggelar jumpa pers. Dia menjelaskan soal aksinya mengacungkan ‘kartu kuning’ kepada Jokowi di acara Dies Natalis ke-68 UI. “Di dalam Balairung sendiri, yang saya lakukan saat itu adalah meniup pluit kemudian mengacungkan kartu kuning,” kata Zaadit di Pusgiwa Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Jumat (2/2/2018). Menurut dia, selain aksinya memberi ‘kartu kuning’ ke Jokowi, BEM UI juga menggelar aksi damai #KartuKuningJokowi di Stasiun UI. Mereka berharap kritik mereka bisa sampai ke Jokowi lewat aksi itu. Zaadit mengatakan, ‘kartu kuning’ itu adalah peringatan kepada Jokowi, bahwa masih banyak tugas-tugas Jokowi yang belum selesai dan harus dikerjakan. “Kalau di pertandingan sepakbola, kartu kuning itu sebagai peringatan untuk pemain untuk lebih berhati-hati menjaga dirinya, begitu juga dengan Pak Jokowi, ini menjadi peringatan untuk berhati-hati bahwa mahasiswa tidak tinggal diam,” ujarnya. Zaadit menjelaskan, ada 3 hal yang menjadi sorotan BEM UI. Pertama adalah soal kasus gizi buruk di Asmat, Papua, yang sudah menelan banyak korban jiwa. “Pertama terkait kasus gizi buruk di asmat, seperti kita ketahui sampai hari ini sudah ada 72 orang korban meninggal di kasus luar biasa tersebut,” jelasnya. Zaadit juga mengkritisi soal wacana pengangkatan penjabat gubernur dari kalangan Polri aktif. Selain itu, BEM UI juga menolak draf Permendikti tentang organisasi mahasiswa yang dinilai akan mengekang dan membatasi pergerakan mahasiswa. Zaadit memberi Jokowi ‘kartu kuning’ ke Jokowi di acara Dies Natalis ke-68 UI. Aksinya itu kemudian dihalau Paspampres. Pihak Istana sendiri mengatakan, Jokowi tidak tersinggung dengan kejadian tersebut.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiga Uno akan bertemu kembali dengan sopir angkot Tanah Abang. Pihak Pemprov DKI telah menyiapkan dua opsi solusi untuk para sopir angkot tersebut. “Solusi yang akan kita tawarkan ada dua,” ujar Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Andri Yansah kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (2/2/2018). Terkait hal itu, Sandi akan menemui para sopir Angkot pukul 14.00 WIB nanti untuk melakukan audiensi. Pihaknya, lanjut Andri akan menawarkan opsi-opsi untuk peningkatan pendapatan para sopir angkot. “Karena hasil audiensi dengan pak Wagub, yang jadi topik utama adalah masalah pendapatan yang menurun. Nah sekarang bagaimana pendapatannya itu tidak menurun bahkan bagaimana pendapatannya itu justru meningkat, itu saja isunya,” papar Andri. Menurut Andri, para sopir angkot melakukan aksi demo itu karena pendapatannya menurun dengan ditutupnya Jl Jatibaru, Tanah Abang tersebut. Sementara Andri menolak menjelaskan, apakah nantinya pihak Pemprof DKI Jakarta akan membuka kembali jalan tersebut. “Kita tidak bicara buka/tutup (Jl Jatibaru), kita bicara bagaimana agar pendapatan mereka meningkat,” imbuh Andri.

Related Posts

Comments are closed.