Konjen RI Jenguk Dua Pelawak Jatim yang Ditahan di Hong Kong

Konjen RI Jenguk Dua Pelawak Jatim yang Ditahan di Hong Kong

Konjen RI untuk Hong Kong Tri Tharyat menjenguk dua pelawak asal Jawa Timur, Yudho Prasetyo (Cak Yudho) dan Deni Afriandi (Cak Percil), yang ditahan terkait penyalahgunaan visa. Tri memastikan kondisi kedua pelawak tersebut dalam keadaan baik dan sehat. Tri mengatakan Cak Percil dan Cak Yudho telah dikunjungi banyak rekan dari sesama warga Indonesia sejak ditahan pada 6 Februari lalu. Dia meminta kedua pelawak tersebut bersikap kooperatif dengan pihak otoritas Hong Kong menjelang sidang lanjutan pada 7 Maret mendatang. “Saya berharap semoga dalam persidangan mendatang, kasus ini dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, sehingga Cak Yudho dan Cak Percil dapat segera bebas dan berkumpul kembali dengan keluarganya di Tanah Air,” ujar Tri dalam keterangan tertulisnya. Sebagaimana diketahui, Cak Percil dan Cak Yudho kini berada di penjara Lai Chi Kok, Hong Kong. Keduanya ditangkap pada Minggu (4/2). Keduanya mulai disidang pada Selasa (6/2) lalu. Keduanya didakwa telah melanggar UU Imigrasi Hong Kong dengan tampil melawak di sebuah acara dan menerima bayaran dengan hanya berbekal visa turis. Dua pelawak dari grup Guyon Maton itu digerebek saat baru akan memulai acara menghibur masyarakat WNI pada Minggu (4/2) di daerah Tsim Sha Tsui, Hong Kong. UU Imigrasi Hong Kong melarang semua orang yang datang ke kota itu dengan visa turis untuk menjadi pembicara, penghibur, atau hadir di sebuah acara dengan menerima bayaran. Jika datang ke sebuah acara dan menerima bayaran, orang yang bersangkutan tak cukup hanya berbekal visa turis. Orang tersebut harus mengajukan visa hiburan ke Imigrasi Hong Kong. Untuk mendapatkan visa hiburan, orang yang bersangkutan harus memiliki organisasi sponsor atau penjamin yang berdomisili dan berizin resmi di Hong Kong dan membayar biaya yang sama dengan biaya visa kerja. Sementara itu, visa turis tidak mengharuskan adanya sponsor dan diberikan secara cuma-cuma selama 30 hari untuk semua WNI yang bersangkutan akan masuk melalui gerbang imigrasi di bandara atau pelabuhan Hong Kong.

Konjen RI untuk Hong Kong Tri Tharyat menjenguk dua pelawak asal Jawa Timur, Yudho Prasetyo (Cak Yudho) dan Deni Afriandi (Cak Percil), yang ditahan terkait penyalahgunaan visa. Tri memastikan kondisi kedua pelawak tersebut dalam keadaan baik dan sehat. Tri mengatakan Cak Percil dan Cak Yudho telah dikunjungi banyak rekan dari sesama warga Indonesia sejak ditahan pada 6 Februari lalu. Dia meminta kedua pelawak tersebut bersikap kooperatif dengan pihak otoritas Hong Kong menjelang sidang lanjutan pada 7 Maret mendatang. “Saya berharap semoga dalam persidangan mendatang, kasus ini dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, sehingga Cak Yudho dan Cak Percil dapat segera bebas dan berkumpul kembali dengan keluarganya di Tanah Air,” ujar Tri dalam keterangan tertulisnya. Sebagaimana diketahui, Cak Percil dan Cak Yudho kini berada di penjara Lai Chi Kok, Hong Kong. Keduanya ditangkap pada Minggu (4/2). Keduanya mulai disidang pada Selasa (6/2) lalu. Keduanya didakwa telah melanggar UU Imigrasi Hong Kong dengan tampil melawak di sebuah acara dan menerima bayaran dengan hanya berbekal visa turis. Dua pelawak dari grup Guyon Maton itu digerebek saat baru akan memulai acara menghibur masyarakat WNI pada Minggu (4/2) di daerah Tsim Sha Tsui, Hong Kong. UU Imigrasi Hong Kong melarang semua orang yang datang ke kota itu dengan visa turis untuk menjadi pembicara, penghibur, atau hadir di sebuah acara dengan menerima bayaran. Jika datang ke sebuah acara dan menerima bayaran, orang yang bersangkutan tak cukup hanya berbekal visa turis. Orang tersebut harus mengajukan visa hiburan ke Imigrasi Hong Kong. Untuk mendapatkan visa hiburan, orang yang bersangkutan harus memiliki organisasi sponsor atau penjamin yang berdomisili dan berizin resmi di Hong Kong dan membayar biaya yang sama dengan biaya visa kerja. Sementara itu, visa turis tidak mengharuskan adanya sponsor dan diberikan secara cuma-cuma selama 30 hari untuk semua WNI yang bersangkutan akan masuk melalui gerbang imigrasi di bandara atau pelabuhan Hong Kong.

Polisi menangkap seorang pengedar sabu berinisial F (29). F kerap menjual barang haram tersebut di kawasan Manggarai Selatan, Tebet, Jakarta Selatan. Kapolsek Tebet Kompol Maulana menerangkan penangkapan bermula dari adanya laporan penyalahgunaan narkoba dari masyarakat. Polisi mendapatkan informasi bahwa sabu yang diedarkan itu berasal dari F, yang berada di kawasan Mangga Besar, Jakarta Pusat. Setelah itu, polisi berpura-pura membeli sabu kepada F. Transaksi disepakati dilakukan di kawasan Mangga Besar pada Selasa (20/2) pukul 01.00 WIB. “Pada saat itulah, anggota Unit Reskrim Polsek Tebet dipimpin Kanit Reskrim Iptu Iwan melakukan penangkapan terhadap F,” ujar Maulana dalam keterangannya, Selasa (20/2/2018). Maulana menjelaskan, dari tangan F, polisi menyita dua plastik kecil berisi sabu, timbangan, dan satu kantong plastik. F langsung dibawa ke Mapolsek Tebet untuk pemeriksaan lanjutan. Atas perbuatannya, F disangkakan Pasal 114 ayat 1 sub Pasal 112 ayat 1 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Jakarta – Konjen RI untuk Hong Kong Tri Tharyat menjenguk dua pelawak asal Jawa Timur, Yudho Prasetyo (Cak Yudho) dan Deni Afriandi (Cak Percil), yang ditahan terkait penyalahgunaan visa. Tri memastikan kondisi kedua pelawak tersebut dalam keadaan baik dan sehat. Tri mengatakan Cak Percil dan Cak Yudho telah dikunjungi banyak rekan dari sesama warga Indonesia sejak ditahan pada 6 Februari lalu. Dia meminta kedua pelawak tersebut bersikap kooperatif dengan pihak otoritas Hong Kong menjelang sidang lanjutan pada 7 Maret mendatang. “Saya berharap semoga dalam persidangan mendatang, kasus ini dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, sehingga Cak Yudho dan Cak Percil dapat segera bebas dan berkumpul kembali dengan keluarganya di Tanah Air,” ujar Tri dalam keterangan tertulisnya. Sebagaimana diketahui, Cak Percil dan Cak Yudho kini berada di penjara Lai Chi Kok, Hong Kong. Keduanya ditangkap pada Minggu (4/2). Keduanya mulai disidang pada Selasa (6/2) lalu. Keduanya didakwa telah melanggar UU Imigrasi Hong Kong dengan tampil melawak di sebuah acara dan menerima bayaran dengan hanya berbekal visa turis. Dua pelawak dari grup Guyon Maton itu digerebek saat baru akan memulai acara menghibur masyarakat WNI pada Minggu (4/2) di daerah Tsim Sha Tsui, Hong Kong. UU Imigrasi Hong Kong melarang semua orang yang datang ke kota itu dengan visa turis untuk menjadi pembicara, penghibur, atau hadir di sebuah acara dengan menerima bayaran. Jika datang ke sebuah acara dan menerima bayaran, orang yang bersangkutan tak cukup hanya berbekal visa turis. Orang tersebut harus mengajukan visa hiburan ke Imigrasi Hong Kong. Untuk mendapatkan visa hiburan, orang yang bersangkutan harus memiliki organisasi sponsor atau penjamin yang berdomisili dan berizin resmi di Hong Kong dan membayar biaya yang sama dengan biaya visa kerja. Sementara itu, visa turis tidak mengharuskan adanya sponsor dan diberikan secara cuma-cuma selama 30 hari untuk semua WNI yang bersangkutan akan masuk melalui gerbang imigrasi di bandara atau pelabuhan Hong Kong. (fdu/ams)

Beijing, (Antara) – Konsul Jenderal RI di Hong Kong Tri Tharyat membesuk dua pelawak asal Jawa Timur yang ditahan di penjara Lai Chi Kok atas tuduhan penyalahgunaan visa, Rabu. “Kami ingin memastikan hak-hak yang dimiliki kedua orang tersebut telah dipenuhi oleh otoritas di Hong Kong,” kata Tri kepada Antara di Beijing. Yudo Prasetyo alias Cak Yudo dan Deni Afriandi alias Cak Percil ditahan karena dianggap melanggar Undang-Undang Imigrasi Hong Kong dengan menerima honor sebagai pengisi acara yang digelar oleh komunitas tenaga kerja Indonesia, Minggu (4/2). Kedua komedian tersebut memasuki wilayah Hong Kong, Jumat (2/2), dengan menggunakan visa turis. Pihak otoritas Hong Kong menemukan bukti yang cukup atas adanya pelanggaran izin tinggal bagi penyelenggara acara dan penyalahgunaan visa turis bagi pengisi acara. Pihak panitia penyelenggara telah diinterogasi oleh aparat setempat dan dilepaskan dari tahanan, namun dengan kewajiban melapor kepada Imigrasi Hong Kong secara berkala. Kedua pelawak tersebut telah disidangkan di Pengadilan Shatin, Hong Kong, Selasa (6/2). KJRI Hong Kong berjanji akan terus mendampingi kedua terdakwa hingga perkaranya benar-benar tuntas. “Saya berharap hal ini menjadi peristiwa terakhir sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi seluruh WNI di Hong Kong. Saya juga mengimbau para WNI di Hong Kong menjadi tamu yang baik dan mematuhi hukum yang berlaku,” ujar Tri. Sebelumnya, dai yang sedang naik daun, Ustaz Abdul Somad, dideportasi dari Hong Kong saat hendak mengisi ceramah agama atas undangan komunitas TKI pada 23 Desember 2017.(*)

TEMPO.CO , Madiun – Pelawak kondang asal Madiun, Jawa Timur, Syakirun alias Kirun, meminta pemerintah mengirim duta budaya secara rutin untuk pentas di luar negeri, yang banyak dituju para buruh migran. Dalam setahun, setidaknya 1-2 kali pementasan untuk mengobati kerinduan para tenaga kerja Indonesia (TKI) terhadap seni budaya negara asalnya. “Barangkali TKI haus dengan seni budaya kita. Sehingga mereka punya gawe dhewe-dhewe (sendiri-sendiri),” kata dia saat dihubungi Tempo , Jumat, 9 Februari 2018. Hal itu disampaikan Kirun menanggapi dua  pelawak  Indonesia yang ditahan pemerintah  Hong Kong  atas tuduhan penyalahgunaan visa. Yudo Prasetyo alias Yudo dan Deni Afriandi alias Cak Percil ditahan karena dianggap melanggar Undang-Undang Imigrasi Hong Kong dengan menerima honor sebagai pengisi acara, yang digelar komunitas TKI pada Ahad, 4 Februari 2018. Baca: Pelawak Jawa Timur Ditahan di Hong Kong, Kemlu Beri Perlindungan

seperti di kutip dari https://nasional.tempo.co

Yudo dan Percil merupakan pelawak muda binaan Kirun di pedepokan seninya. Mereka mengisi acara Ketoprak Kirun di stasiun televisi JTV Surabaya tiap pekan. Keduanya juga sering menjadi bintang tamu pementasan wayang kulit. Kirun membenarkan Yudo dan Percil sempat belajar di Depot Seni Kirun, Madiun, selama beberapa tahun. Mereka akhirnya memutuskan keluar dan membentuk kelompok lawak Guyon Maton. Pementasan dilakoni di sejumlah kota. “Mereka cukup berpotensi. Tapi mbok ya sebelum tampil ke luar negeri memberi tahu yang  sudah berpengalaman agar bisa diarahkan,” ucap Kirun. Simak: Dua Pelawak Ditahan, Kemlu Diminta Aktif Sosialisasi Soal Visa Kedua komedian itu memasuki wilayah Hong Kong pada Jumat, 2 Februari 2018, dengan visa turis. Penangkapan  itu, menurut Kirun, akibat ketidaktahuan Yudo dan  Percil tentang hukum di Hong Kong. “Saya ikut prihatin. Anak-anak (Yudo dan Percil) jangan hanya bisa membanyol, tapi harus tahu hukum,” ujarnya. Sebagai bentuk kepedulian terhadap dua bekas anak didiknya itu, Kirun berencana menjenguk mereka di Hong Kong pada Maret mendatang. Kirun juga mengapresiasi sikap pemerintah yang memberikan pendampingan hukum bagi dua pelawak asal Ngawi dan Banyuwangi, Jawa Timur, itu. Lihat: Pelawak Indonesia Siap Bayar Denda untuk Bebaskan Cak Yudo dan Cak Percil Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri telah menjanjikan jaminan pendampingan hukum bagi Yudo dan Percil. “Konsul jenderal kita di Hong Kong sudah mendapat akses kekonsuleran dan bertemu dengan kedua pelawak kita. Yang pasti, kita akan memberi pendampingan hukum kepada yang bersangkutan,” ujar Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal di Jakarta, Kamis, 8 Februari 2018. NOFIKA DIAN NUGROHO

Related Posts

Comments are closed.