Ketua MPR Minta Aparat Tangkap Pembuat Konten Hoax

Ketua MPR Minta Aparat Tangkap Pembuat Konten Hoax

Ketua MPR Zulkifli Hasan meminta dugaan penyebaran berita bohong ( hoax) oleh grup Moslem Cyber Army (MCA) diusut tuntas. Ia meminta aparat penegak hukum menangkap pembuat konten hoax . “Tidak hanya MCA, siapa saja. Kita minta kepada aparat keamanan itu, yang membuat kontennya itu yang diburu. Karena orang-orang di kampung ini kan nggak ngerti. Dia men- share – share saja gitu. Nah, kalau itu yang dikejar itu, haduh bisa ramai gitu,” kata Zulkifili di Kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Menurutnya banyak masyarakat yang sekedar menyebar atau meneruskan berita bohong yang diterima. Para pembuat konten berita bohong lah yang bersalah. “Jadi sasaran utama yang membuat narasi, yang memproduksi,” ucap Ketua Umum PAN ini. Zulkifli juga meminta masyarakat agar mengecek semua berita yang diterima sebelum menyebarkannya. Salah satunya dengan bertanya pada tokoh masyarakat dan aparat keamanan soal kebenaran suatu berita. “Saya juga mengimbau seluruh rakyat Indonesia sekarang ini kalau ada, karena tahun politik, ada masuk di HP kita berita coba dicek dulu. Jangan langsung share nanti tahu-tahu kena UU ITE. Kalau ragu tanya tokoh masyarakat, tanya aparat keamanan,” pungkas Zulkifli. Sebagaimana diketahui, Bareskrim Polri menangkap 14 orang yang diduga menyebarkan hoax, ujaran kebencian, dan isu provokatif. Enam orang di antara mereka berperan sebagai admin di dalam grup WhatsApp ‘The Family MCA’.

Ketua MPR Zulkifli Hasan meminta dugaan penyebaran berita bohong ( hoax) oleh grup Moslem Cyber Army (MCA) diusut tuntas. Ia meminta aparat penegak hukum menangkap pembuat konten hoax . “Tidak hanya MCA, siapa saja. Kita minta kepada aparat keamanan itu, yang membuat kontennya itu yang diburu. Karena orang-orang di kampung ini kan nggak ngerti. Dia men- share – share saja gitu. Nah, kalau itu yang dikejar itu, haduh bisa ramai gitu,” kata Zulkifili di Kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Menurutnya banyak masyarakat yang sekedar menyebar atau meneruskan berita bohong yang diterima. Para pembuat konten berita bohong lah yang bersalah. “Jadi sasaran utama yang membuat narasi, yang memproduksi,” ucap Ketua Umum PAN ini. Zulkifli juga meminta masyarakat agar mengecek semua berita yang diterima sebelum menyebarkannya. Salah satunya dengan bertanya pada tokoh masyarakat dan aparat keamanan soal kebenaran suatu berita. “Saya juga mengimbau seluruh rakyat Indonesia sekarang ini kalau ada, karena tahun politik, ada masuk di HP kita berita coba dicek dulu. Jangan langsung share nanti tahu-tahu kena UU ITE. Kalau ragu tanya tokoh masyarakat, tanya aparat keamanan,” pungkas Zulkifli. Sebagaimana diketahui, Bareskrim Polri menangkap 14 orang yang diduga menyebarkan hoax, ujaran kebencian, dan isu provokatif. Enam orang di antara mereka berperan sebagai admin di dalam grup WhatsApp ‘The Family MCA’.

REPUBLIKA.CO.ID, SAMARINDA — Wakil Ketua MPR RI Mahyudin mengapresiasi langkah aparat kepolisian yang berhasil mengungkap dan menangkap kelompok yang menyebarkan informasi bohong atau hoax di media sosial bernama Saracen. “Pemerintah terutama aparat penegak hukum harus tegas apabila ada warga yang menyebarkan isu SARA dan yang mengancam persatuan serta kesatuan bangsa,” kata Mahyudin usia menghadiri acara sosialisasi Empat Pilar MPR, di Universitas 17 Agustus 1945, Samarinda, Kamis (24/8). Dia menilai aparat hukum bisa langsung menindak tindakan tersebut, tanpa perlu menunggu ada laporan pengaduan karena bukan masuk delik aduan. Namun, Mahyudin enggan berspekulasi lebih jauh terkait pihak yang berada dibalik sindikat Saracen tersebut, dan menyerahkan sepenuhnya pengungkapan pihak yang menunggangi sindikat meresahkan publik kepada penegak hukum. “Saya tidak tahu apakah ada pihak yang menunggangi kelompok tersebut, namun aparat bisa menyelidiki secara nenyeluruh dan kalau terbukti ada yang menunggangi harus diproses hukum,” ujarnya. Politisi Partai Golkar itu meyakini sindikat tersebut adalah kelompok yang tidak menginginkan bangsa Indonesia bersatu dan maju karena menginginkan bangsa Indonesia terpecah belah. Menurut dia, sejak Indonesia merdeka hingga saat ini masih ada pihak-pihak yang menginginkan perpecahan di Indonesia, sehingga aparat hukum harus tegas dan masyarakat ikut bantu waspadai hal tersebut. Sebelumnya Direktorat Tindak Pidana Siber Mabes Polri meringkus sindikat penyedia jasa pembuat konten bermuatan kebencian dan hoax yang menggunakan nama Saracen. Polisi mengamankan tiga orang yakni MFT (43 tahun), JAS (32), dan SRN (32) yang memiliki peran yang berbeda dan ditangkap di tiga lokasi berbeda. Masing-masing memiliki peran yang berbeda-beda, misalnya, MFT merupakan ketua grup Saracen, berperan merekrut para anggota menggunakan daya tarik berbagai unggahan yang bersifat provokatif menggunakan isu SARA sesuai perkembangan tren media sosial. JAS (32) yang ditangkap di Pekanbaru, Riau, dipercaya oleh kelompok karena memiliki kemampuan untuk memulihkan akun anggotanya yang diblokir. Selain itu JAS juga membuat berbagai akun baik yang bersifat real atau menggunakan identitas asli, semi-anonymous atau separuh nyata dan separuh anomin alias tidak menggunakan identitas, maupun anonymous atau tidak menggunakan identitas asli. Lalu SRN (32) yang ditangkap di Cianjur, Jawa Barat, berperan sebagai Koordinator Grup Wilayah dan melakukan ujaran kebencian dengan melakukan posting atas namanya sendiri maupun membagikan ulang posting dari anggota Saracen lain yang bermuatan penghinaan dan SARA.

REPUBLIKA.CO.ID, SAMARINDA — Wakil Ketua MPR RI Mahyudin mengapresiasi langkah aparat penegak hukum yang berhasil mengungkap kelompok sindikat penebar ujaran kebencian dan SARA di media sosial bernama Saracen. Menurut Mahyudin, pemerintah dan juga aparat penegak hukum sudah seharusnya tegas terhadap pihak-pihak yang sengaja menebarkan isu mengancam persatuan dan kesatuan. “Penebar perpecahan masyarakat maka harus ditindak sesuai hukum,” ujar Mahyudin usai melakukan sosialisasi empat Pilar MPR RI di Samarinda, Kalimantan Timur pada Kamis  (24/8).

seperti di kutip dari http://www.republika.co.id

Ia juga menilai, aparat hukum bisa langsung menindak tanpa perlu menunggu ada laporan pengaduan. “Sebab itu bukan delik aduan, UU sudah ada sehingga harus diproses secara hukum,” ungkapnya. Mahyudin enggan berspekulasi lebih jauh terkait pihak yang berada di balik sindikat Saracen tersebut. Ia menyerahkan sepenuhnya pengungkapan pihak yang menunggangi sindikat meresahkan publik kepada penegak hukum Namun demikian ia meyakini, sindikat tersebut adalah kelompok yang tidak menginginkan bangsa Indonesia bersatu dan maju. “Bisa jadi sponsor di belakang yang tidak ingin lihat Indonesia bersatu, karena ancaman ingin pecah belah bangsa selalu ada mulai dari Indonesia merdeka, nggak pernah berhenti sampai sekarang sehingga aparat hukum harus tegas dan masyarakat ikut bantu waspadai hal itu,” ujar Politikus Partai Golkar tersebut. Direktorat Tindak Pidana Siber Polri meringkus sindikat penyedia jasa pembuat konten bermuatan kebencian dan hoax yang menggunakan nama Saracen.  Polisi mengamankan tiga orang yakni MFT (43 tahun), JAS (32), dan SRN (32) yang memiliki peran masing-masing dan ditangkap di tiga lokasi berbeda. Kasubdit I Direktorat Siber Polri Kombes Irwan Anwar mengatakan MFT ditangkap di Koja, Jakarta Utara merupakan ketua grup Saracen. Dia bergerak di bidang Media Informasi dan berperan merekrut para anggota menggunakan daya tarik berbagai unggahan yang bersifat provokatif menggunakan isu SARA sesuai perkembangan tren media sosial. Selanjutnya, JAS (32) yang ditangkap di Pekanbaru, Riau, dipercaya oleh kelompok karena memiliki kemampuan untuk memulihkan akun anggotanya yang diblokir. JAS juga membuat berbagai akun baik yang bersifat real atau menggunakan identitas asli, semi-anonymous atau separuh nyata dan separuh anomin alias tidak menggunakan identitas, maupun anonymous atau tidak menggunakan identitas asli. Kemudian, SRN (32) yang ditangkap di Cianjur, Jawa Barat, berperan sebagai Koordinator Grup Wilayah. SRN melakukan ujaran kebencian dengan mengunggah atas namanya sendiri maupun membagikan ulang unggahan dari anggota Saracen lain yang bermuatan penghinaan dan SARA. Pengungkapan tersangka bermula ketika Satgas Patroli Siber melakukan monitoring dan penyelidikan terhadap para pelaku. Dalam penyelidikannya, kepolisian mengetahui diketahui bahwa pelaku memang sering mengunggah ujaran kebencian dan hoaks bermuatan SARA yang meresahkan di media sosial. Irwan menuturkan terhadap ketiga pelaku ini, polisi menjerat dengan dugaan melakukan tindak pidana ujaran kebencian dan/atau hate speech dengan konten Sara. “Sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 junto pasal 28 undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang ite dengan ancaman hukuman 6 tahun,” ujar dia. Polisi pun mengamankan beberapa barang bukti seperti 50 simcard berbagai operator, 5 hardisk CPU dan sebuah HD laptop, 4 handphone, 5 flashdisk, dan 2 memory card milik JAS. Kemudian milik SRN berupa sebuah HP Lenovo, memory card, 5 simcard, dan flash disk serta milik SRN meliputi Laptop, Hardisk, HP Asus ZR3, HP Nokia, tiga simcard, dan satu Memory Card.

Peristiwa 28 Feb 2018 17:53 Bamsoet mengatakan, pada tahun politik ini makin banyak pihak yang tidak senang dengan keutuhan NKRI. Peristiwa 28 Feb 2018 17:43 Tantangan desa saat ini adalah masalah tingginya angka stunting di Indonesia. Peristiwa 28 Feb 2018 17:32 Ketua PT Manado, Sudiwardono, didakwa menerima uang sejumlah 80 ribu dolar Singapura dari anggota DPR Fraksi Partai Golkar, Aditya Anugrah Moha. Peristiwa 28 Feb 2018 17:03 KPK memeriksa Wali Kota Kendari dan enam orang lainnya di ruangan penyidik Ditresksrimsus Polda Sulawesi Tenggara. Peristiwa 28 Feb 2018 16:42 Dari 23 calon hakim agung yang lolos seleksi kualitas, tidak ada yang lolos seleksi di kamar tata usaha negara. Peristiwa 28 Feb 2018 16:26 Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta dan PT Pelabuhan Tegar Indonesia tanda tangan MoU kontrak kerja sama, Rabu (28/2/2018) Peristiwa 28 Feb 2018 16:23 KPK masih memeriksa Wali Kota Kendari, Adriatma Dwi Putra (ADP), dan ayahnya, Asrun yang merupakan calon Gubernur Sulawesi Tenggara. Peristiwa 28 Feb 2018 16:19 Setelah meluncurkan emas Hello Kitty pada Desember 2017 lalu, PT Antam Tbk (ANTAM) menjalin kerjasama perdagangan baru dengan Jepang untuk produk emas batangan 1 kilogram (gold-kilo bar) Peristiwa 28 Feb 2018 16:02 Pengungkapan bukti kejahatan tersebut, kata Agung, merupakan yang terbesar sepanjang pengungkapan jajarannya. Peristiwa 28 Feb 2018 15:56 Kelompok tersebut diduga telah memproduksi dan menyebarkan konten-konten berbau SARA dan berita hoax.

Related Posts

Comments are closed.