Kesulitan Berobat, Zulfikar TKI di Malaysia akan Dipulangkan

Kesulitan Berobat, Zulfikar TKI di Malaysia akan Dipulangkan

Seorang TKI bernama Zulfikar asal Desa Teupin Reusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara mengidap penyakit serius di bagian matanya. Pria yang bekerja di Doosmer kawasan Pucong, Taman Mutiara Indah, Malaysia ini tidak ada biaya untuk mengobati matanya hingga bernanah. “Saya dapat kabar dari Abu Saba, ketua grup Kesatuan Aneuk Nanggroe Aceh (KANA) di Malaysia bahwa Zulfikar sedang menderita penyakit serius bagian matanya. Tapi tidak ada biaya untuk mengobatinya,” kata Anggota DPD RI, Sudirman kepada detikcom, Sabtu (27/1/2018). Sudirman bercerita, mulanya Zulfikar mengalami gatal-gatal di bagian mata, karena terus digaruk, matanya kemudian membengkak dan bernanah. Zulfikar sudah sempat periksa ke dokter dan dinyatakan gejala alergi obat dan penyakit tipes. Ia pun disarankan untuk operasi karena matanya sudah bernanah. Namun, keterbatasan keuangan menghambat proses operasi itu. Apalagi, di Malaysia ongkos berobat cukup mahal. “Saya bersama Abu Saba, Tengku Yusri dan seluruh warga Aceh di Malaysia mengambil kesimpulan untuk membawa pulang ke Aceh. Saya dan dibantu Anggota DPR Aceh, Tarmizi Panyang akan membantu memulangkannya agar bisa menjalani pengobatan di Aceh,” tambah Sudirman, senator asal Aceh ini. Terkait niatan itu, Sudirman sudah berkomunikasi dengan Kepala BP3TKI Aceh Jaka Prasetio, Kadis Sosial Aceh Alhudri, serta M. Zaman selaku pengawas RS Zainol Abidin Banda Aceh. Mereka sepakat akan terus membantu apa yang menjadi kebutuhan Zulfikar nantinya. “Insyaallah. Hari Selasa (30/1), Zulfikar tiba di Aceh dari Kuala Lumpur menuju Bandara Sultan Iskandar Muda. Nantinya, dia langsung melanjutkan pengobatan agar segera sembuh dari penyakitnya,” ucap Sudirman.

Seorang TKI bernama Zulfikar asal Desa Teupin Reusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara mengidap penyakit serius di bagian matanya. Pria yang bekerja di Doosmer kawasan Pucong, Taman Mutiara Indah, Malaysia ini tidak ada biaya untuk mengobati matanya hingga bernanah. “Saya dapat kabar dari Abu Saba, ketua grup Kesatuan Aneuk Nanggroe Aceh (KANA) di Malaysia bahwa Zulfikar sedang menderita penyakit serius bagian matanya. Tapi tidak ada biaya untuk mengobatinya,” kata Anggota DPD RI, Sudirman kepada detikcom, Sabtu (27/1/2018). Sudirman bercerita, mulanya Zulfikar mengalami gatal-gatal di bagian mata, karena terus digaruk, matanya kemudian membengkak dan bernanah. Zulfikar sudah sempat periksa ke dokter dan dinyatakan gejala alergi obat dan penyakit tipes. Ia pun disarankan untuk operasi karena matanya sudah bernanah. Namun, keterbatasan keuangan menghambat proses operasi itu. Apalagi, di Malaysia ongkos berobat cukup mahal. “Saya bersama Abu Saba, Tengku Yusri dan seluruh warga Aceh di Malaysia mengambil kesimpulan untuk membawa pulang ke Aceh. Saya dan dibantu Anggota DPR Aceh, Tarmizi Panyang akan membantu memulangkannya agar bisa menjalani pengobatan di Aceh,” tambah Sudirman, senator asal Aceh ini. Terkait niatan itu, Sudirman sudah berkomunikasi dengan Kepala BP3TKI Aceh Jaka Prasetio, Kadis Sosial Aceh Alhudri, serta M. Zaman selaku pengawas RS Zainol Abidin Banda Aceh. Mereka sepakat akan terus membantu apa yang menjadi kebutuhan Zulfikar nantinya. “Insyaallah. Hari Selasa (30/1), Zulfikar tiba di Aceh dari Kuala Lumpur menuju Bandara Sultan Iskandar Muda. Nantinya, dia langsung melanjutkan pengobatan agar segera sembuh dari penyakitnya,” ucap Sudirman.

Pekanbaru – Polresta Pekanbaru kembali meraih penghargaan role model penyelenggara pelayanan publik dari Menpan RB. Sebelumnya pada 2017 meraih predikat zona integritas Wilayah Bebas Korupsi (WBK). Awal tahun 2018 kini kembali menerima piagam penghargaan Role Model Penyelenggara Pelayanan Publik, dengan hasil evaluasi terhadap 72 kabupaten/kota Role Model. Polresta Pekanbaru mendapat predikat baik sesuai KepMenPan Nomor 21 Tahun 2017 tentang penetapan Provinsi, kabupaten/kota, Kementrian/Lembaga, dan Unit Penyelenggara Pelayanan Publik sebagai Lokasi Penyelenggaraan Evaluasi Pelayanan Publik Tahun 2017. “Prestasi ini sebuah amanah besar yang harus dijaga Polresta dan jajaran. Nama baik menjadi pemicu untuk bisa berbuat lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat ,” kata Kapolresta Pekanbaru Kombes Susanto kepada detikcom, Sabtu (27/1/2018). Penghargaan itu diberikan MenPAN-RB melalui deputi bidang pelayanan publik Diah Natalisa di kantor Kemenpan RB, Senayan, Jakarta pada 24 Januari 2018. Santo bersyukur dedikasi dan kerja keras anak buahnya mendapat apresiasi. “Allhamdulilah, dengan meraih predikat WBK dan piagam penghargaan Polresta kategori ‘Baik’ kita akan terus berupaya lebih baik untuk mengukir prestasi Polresta dan jajaran,” kata Santo. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Menpan RB atas kepercayaan yang diberikan kepada Polresta Pekanbaru. Penghargaan ini akan menjadi pemicu ke depan untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat di Pekanbaru dan berkomitmen untuk ke depannya prestasi ini juga harus dipertahankan,” pungkas Santo. (cha/ams)

Aksi kriminalitas pada malam hari kerap menghantui para pengguna jalan raya. Untuk mencegah pelaku kejahatan di jalanan, Satuan Lalu Lintas Polres Aceh Besar membentuk tim elite reaksi cepat. Anggota tim ini memiliki kemampuan di atas rata-rata Polantas umumnya. Tim yang beranggotakan empat polantas pilihan ini diberi nama “Dolphin team”. Mereka bertugas pada malam hari untuk mencegah tindak kriminal seperti pelemparan batu ke bus, peredaran narkoba, penjambretan, serta tindakan asusila. Para anggota tim ini setiap malam berpatroli secara acak di wilayah hukum Polres Aceh Besar. Meski jumlah anggota sedikit, namun Polantas yang terlibat dalam tim ini sudah dibekali kemampuan di atas rata-rata. Di antaranya punya kemampuan bela diri aktif (Muaythai dan Jiu-Jitsu), menembak reaksi, reaksi cepat TPTKP Laka, pertolongan pertama korban kecelakaan, penyelamatan korban bencana alam, dan tentu menguasai hal-hal berkaitan dengan tugas Polantas. “Tujuan keberadaan mereka hanyalah sebatas menyelamatkan masyarakat, melindungi masyarakat, dan atas dasar kemanusiaan,” kata Kasat Lantas Polres Aceh Besar, Iptu Sandy Titah Nugraha saat berbincang, Sabtu (27/1/2018). Menurut Sandy, sasaran utama dari tim Dolphin tersebut di antaranya hunting pelanggaran yang intensitas kecelakaan tinggi seperti overload, mobil membawa alat berat tanpa pengawalan dan membahayakan, bus-bus malam yang ugal-ugalan. Selain itu, mereka juga bertanggung jawab mencegah terjadinya balap liar, mengejar pelaku penjambretan, menggagalkan dan mengamankan pelaku transaksi narkotika di jalan raya. “Mereka juga bertugas menolong masyarakat yang kesusahan dan dalam keadaan bahaya di malam hari. Tim ini bertanggung jawab di bawah Kasat Lantas, di mana mereka bergerak khusus di malam hari dengan rute patroli secara acak dan waktu secara acak,” jelas Sandy. Selama bertugas, mereka sudah pernah menangkap seorang tersangka yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Satuan Narkoba Polres Aceh Besar. Menurut Sandy, tersangka berhasil diciduk setelah polisi mencurigai gerak gerik mobil yang dikendarainya meluncur dengan kecepatan tinggi. Ceritanya, saat itu, Rabu (24/1) sekitar pukul 03.00 WIB, Polisi memberhentikan dan memeriksa kelengkapan surat-surat kendaraan mobil yang dikendarai sopir bernama Ridwan (32) serta pasangannya. Namun Ridwan tidak dapat menunjukkan surat kendaraan. Pasangannya dalam mobil seketika panik. “Ketika diperiksa tim Dolphin, laki-laki tersebut mengaku baru saja mengkonsumsi sabu bersama pasangannya dan hendak kembali ke Montasik untuk membayar uang paket sabu yang baru mereka pakai,” ungkap Sandy. Mendapati adanya pengguna narkoba, anggota tim Dolphin selanjutnya menyerahkan tersangka ke SatNarkoba Polres Aceh Besar. “Tersangka ternyata pengedar sabu yang telah buron sejak 11 April 2017 berdasarkan nomor LP/38/IV/2017/Aceh/Res Abes,” jelas Sandy. “Kita membentuk tim ini karena tindak kriminal, peredaran narkoba, penjambretan, serta tindakan asusila, bencana alam dapat terjadi sewaktu waktu dan membutuhkan kehadiran petugas,” kata Sandy.

Pemprov DKI Jakarta mewacanakan pengoperasian becak di lingkungan perkampungan warga. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan jumlah becak di Jakarta tak lebih dari 500 unit. “Di Jakarta jumlahnya nggak lebih dari 500, menurut pak wali (Wali Kota Jakarta Utara Husein Murad-red) tadi dan mayoritas ada di Jakarta Utara,” kata Sandi saat ditemui di kantor Kecamatan Koja, Jalan Mangga, Jakarta Utara, Sabtu (27/1/2018). Sandi mengaku sudah berkoordinasi dengan Husein mengenai pemeliharaan becak di Jakarta Utara. Seperti arahan Gubernur DKI Anies Baswedan, becak pendatang tidak boleh beroperasi di Jakarta. “Tadi sudah koordinasi dengan pak wali, dengan pak camat, becak yang datang dari daerah wilayah Indonesia ke Jakarta tak diperbolehkan. Jadi akan dipulangkan. Yang kami lakukan adalah mendata yang sudah ada di Jakarta ber-KTP DKI dan diberi pelatihan, dikasih stiker,” papar Sandi. Anies sebelumnya menuturkan para tukang becak DKI tidak ingin becak pendatang masuk ke Ibu Kota. Dia menyebut sudah memberikan perintah ke Satpol PP supaya menahan becak-becak dari luar daerah yang hendak masuk ke Jakarta. “Dan apa yang terjadi becak-becak yang di sini pun menolak (becak pendatang), jadi kita cepat dapat laporan karena becak yang ada di sini pun tidak menghendaki kedatangan becak baru,” ujar Anies di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, kemarin. [Gambas:Video 20detik]

Pemprov DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan melarang becak dari luar daerah. Hal ini diantisipasi Satpol PP dengan menjaga wilayah perbatasan. “Jadi Pak Gubernur dan Pak Sandi sudah memutuskan becak dari luar Jakarta tak dapat beroperasi. Dan saya sudah perintahkan Kasatpol Kota untuk jaga, baik masuk dengan sendiri maupun pakai truk,” kata Kasatpol PP DKI Jakarta Yani Wahyu saat dihubungi detikcom, Jumat (26/1/2018) malam. Dia memastikan becak dari luar daerah tak diperbolehkan masuk. “Kalau ada yang ketahuan, kita tangkap,” tegasnya. Terkait informasi adanya tukang becak dari luar daerah yang masuk Jakarta, Yani mengatakan belum mendapatkan informasi yang valid. Dia mengatakan akan mengecek kebenaran informasi tersebut ke anak buahnya. “Itu baru dapat informasi. Tapi itupun belum valid. Saya nanti akan pastikan ke petugas lapangan,” ujarnya. Yani menegaskan belum ada informasi masuknya tukang becak dari Indramayu, Jawa Barat. Dia mengatakan setelah menangkap tukang becak yang ketahuan, petugas akan memulangkan mereka ke daerah asal. “Belum, belum. Pokoknya kita jaga terus. Kalau ada yang masuk terpaksa kita pulangkan ke daerah asalnya,” tutur Yani. Hal serupa dikatakan Wakadishub DKI Jakarta Sigit Wijayanto. Sigit mengaku belum mendapatkan informasi soal masuknya tukang becak dari luar Jakarta. “Kami berkomunikasi dengan wadah yang ada di antara mereka. Sebaja (Serikat Becak Jakarta), JRMK (Jaringan Rakyat Miskin Kota), dan Rujak. Mereka juga menyatakan tidak ada becak dari luar kota yang masuk ke Jakarta,” ungkap Sigit. Sigit mengatakan akan bekerja sama dengan pihak Satpol PP untuk mengantisipasi datangnya tukang becak. Selain itu Dishub juga akan mendata tukang becak yang sudah ada di Jakarta.

Warga Jalan Talib II dan Talib III, Tamansari, Jakarta Barat mulai membereskan puing-puing sisa kebakaran di rumah mereka. Mereka bersama-sama mengamankan barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Pantauan detikcom, Sabtu (27/1/2018) sekitar pukul 09.30 WIB, tak tampak lagi kobaran api atau kepulauan asap di lokasi. Namun, satu unit mobil damkar masih tampak siaga. Warga setempat terlihat sibuk membersihkan puing-puing sisa kebakaran. Mereka juga menaruh perabot mereka di pinggir jalan. Sejumlah warga juga tampak sibuk menghubungi kerabat mereka. Mereka mengabarkan kondisi, dan mencari tempat untuk mengungsi. “Barang-barang pada abis semua, Ini lagi bingung mau ngungsi di mana,” ujar salah seorang warga di RT 12/03 Krukut, Tamansari, Jakbar. Selain membereskan barang-barang, sebagian warga juga mengumpulkan sumbangan untuk korban kebakaran. Mereka menaruh kardus di jalan-jalan untuk menampung sumbangan.

Listrik di Desa Kraton dan Desa Panjang, Pekalongan, Jawa Tengah, padam. Padamnya listrik di dua desa ini disebabkan seekor ayam. Bagaimana bisa? Hal ini diketahui dari seorang pengguna Twitter yang bertanya kepada pihak PLN Pekalongan. Dia mengaku tak bisa mandi karena pompa di rumahnya tak bisa mengalirkan air karena listrik mati. “min pemadaman kok pagi-pagi gini. SAYA MAU MANDI AIR GA NYALA. lokasi pekalongan utara kelurahan kandang panjang,” cuit pemilik akun @kidangRIOT seperti dilihat detikcom, Sabtu (27/1/2018). Pihak PLN Pekalongan pun membalas cuitan tersebut. Mereka mengatakan listrik padam karena ada seekor ayam yang tersengat aliran listrik. “Info padam dari titik polres kota pekalongan sampai ke utara daerah pantai karena ada hewan (ayam) yg lompat dr atap lalu mengenai jaringan. Sedang dalam penormalan petugas kami. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya,” jawab admin @plnpekalongan. [Gambas:Twitter] Dikonfirmasi mengenai hal ini, operator aplikasi pengaduan dan keluhan terpadu (APKT) PLN Rayon Pekalongan Kota, Helmi, membenarkan hal tersebut. Peristiwa ini terjadi pada Jumat (26/1) kemarin. Listrik sempat padam selama 30 menit. “Sekitar pukul 06.30 WIB nyala. Padamnya dari jam 06.00 WIB,” ucap Helmi saat dihubungi. Dia mengatakan setelah mendapatkan informasi tersebut, petugas langsung mengecek ke lokasi. Sempat ada suara ledakan ketika ayam tersebut tersengat listrik. Ayam yang tersengat listrik (Foto: Dok. PLN Pekalongan Kota ) “Kami lokalisir dan menemukan informasi dari warga sekitar, ya. Ada suara ledakan karena ayam tersebut mengenai jaringan. Lalu kita cek konstruksi jaringan. Setelah dinyatakan konstruksi jaringan aman, setelah itu dinyalakan kembali,” ucap dia. Dia mengatakan saat itu hanya terjadi putus jaringan. Diduga ayam tersebut tersengat listrik karena melompat dari rumah warga. “Tiang listrik itu normal ya tingginya sekitar 5 meter. Tapi mungkin di Jeruk Sari, di situ kan banyak yang baru ditinggikan. Jadi tiang semakin rendah. Dan permukiman warga sekitar memang padat dan bertingkat. Jadi mungkin ayam lompat dari situ,” ujar Helmi. Helmi mengatakan peristiwa serupa sempat terjadi. Tak hanya ayam, burung hingga monyet pun pernah tersengat listrik. “Pernah ada kejadian lain. Burung merpati (pernah), ular juga pernah. Monyet peliharaan juga yang kalau orang sini sebutnya ronggeng ketek atau topeng monyet,” tuturnya.

AQA (16), santri salah satu pondok pesantren di Tarogong Kaler, Garut mengalami kecelakaan di Jalan Raya Sukabumi – Sukaraja, sekitar pukul 07.00 WIB, Sabtu (27/1/2018). Kendaraan Toyota Avanza yang dikemudikannya terguling. Beruntung ia hanya mengalami luka ringan. Informasi dihimpun peristiwa itu bermula saat korban yang mengemudikan Toyota Avanza bernomor polisi B 1931 SQP melajur dari arah Cianjur/Sukaraja menuju Sukabumi. Saat melintasi jalan lurus di lokasi kejadian sebuah motor keluar dari dalam gang dan membuat korban mengerem mendadak. “Dia kaget melihat motor, karena kecepatannya tinggi mobilnya dia hilang kendali sempat nabrak trotoar, marka jalan lalu terguling ke samping,” kata Agus Wisman (32) warga di lokasi kejadian. Warga kemudian mengevakuasi korban dari dalam kendaraannya setelah itu warga ramai-ramai membalikan kendaraan korban yang sebelumnya terguling, Agus sempat melihat korban mengeluarkan darah. “Hidungnya berdarah, dia diselamatkan air bag kalau enggak ada itu pasti kepalanya kebentur setir,” lanjutnya. Foto: Syahdan Alamsyah Polisi kemudian mendatangi lokasi. Selain marka jalan sebuah tiang penunjuk arah dievakuasi polisi karena menghalangi jalan. “Korban santri salah satu pondok pesantren di Garut warga Sukabumi. Dia dalam perjalanan nengok kakeknya yang sakit. Dugaan sementara dia mengantuk kemudian kehilangan kendali saat menginjak rem, kecelakaan tunggal,” kata Aiptu Hadi Mulyanto, Kasubnit 1 Unit Lakalantas Polres Sukabumi Kota. Korban dibawa ke RSUD R Syamsudin SH, sementara kendaraannya diamankan di Kantor Unit Lakalantas. “Kita masih memintai keterangan saksi-saksi. Korban sudah kita bawa ke rumah sakit, mobilnya kita amankan ke kantor Lakalantas,” jelasnya.

Related Posts

Comments are closed.