Kegigihan Priscilla dari Milan Cari Ibunya di Jakarta

Kegigihan Priscilla dari Milan Cari Ibunya di Jakarta

Priscilla Margaretha masih berupaya mencari keberadaan ibu kandungnya, Inah. Berbagai cara sudah dilakukan seperti mendatangi kantor Dinas Sosial DKI Jakarta, sampai mencari bidan yang membantu persalinan Inah saat melahirkan dia. Upaya lain yang dilakukan Priscilla yakni mengunduh dua video wawancara di salah satu stasiun televisi swasta nasional pada Senin (25/12) ke akun Facebook-nya. Dalam video tersebut Priscilla mengatakan sudah mendatangi rumah Inah di Jl Ciasem, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sebagaimana tertulis dalam surat adopsi. “Setelah saya datangi rumah di Jl Ciasem, sayangnya orang yang tinggal di sana sudah meninggal. Ada anak perempuannya namun tidak tinggal di sana. Saya dapat nomor telepon kakak wanita yang tinggal di sana. Tapi dia tidak mau memberitahu kami,” kata Priscilla. Priscilla kemudian mencari tahu keberadaan Budi Wahyuni, bidan yang membantu persalinan Inah saat melahirkan dia, untuk meminta surat adopsi yang asli. Namun sayang, bidan dimaksud sudah meninggal. “Saya kemudian tahu bidannya sudah meninggal. Lalu saya hanya bertemu dengan dengan asisten bidan. Tapi dia baru bekerja pada 1982. Dia coba mencari tahu siapa asisten yang berkerja pada 1979,” terang Priscilla. Jika mendapatkan surat adopsi yang asli, sambung Priscilla, dia akan meminta bantuan polisi melacak Inah melalui sidik jari. “Jika saya memiliki dokumen adopsi yang asli, saya bisa minta tolong polisi untuk mencarinya lewat sidik jari,” ujar dia. Dalam video tersebut, Priscilla juga mengutarakan harapannya. Dia berharap bisa bertemu dengan ibu kandungnya, atau paling tidak bertemu dengan keluarga Inah atau orang yang dekat dengan Inah. Ibu satu anak itu ingin sekali mendengar cerita Inah, dan menceritakan keluarganya. “Saya tidak akan menyerah mencarimu (Inah) dan saya berharap ada hasil dari usaha saya. Jika bertemu mungkin kamu bisa menceritakan atau orang yang kenal kamu bisa menceritakan. Saya ingin sekali bertemu, tahu tentang kamu, bisa menceritakan keluarga saya, anak saya, cucu kamu. Saya sangat berharap kamu senang, saya berharap bisa memeluk kamu dan menceritakan tentang saya,” papar Inah.

Baca juga : p1ebbd415 berpisah 38 tahun wanita ini datang dari milan cari ibunya

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Priscillia Margaretha bersama suami dan putra-nya menempuh perjalanan dari Milan, Italia ke Jakarta untuk mencari Ibu kandungnya. Hampir 38 tahun ia berpisah dengan sosok yang tak pernah dilihatnya sejak ia keluar dari rahim seorang ibu. Warga Negara Asing asal Belanda bernama Jaap Vermeij dan Maud Vermeij Van Ossenbruggen mengadopsinya sejak ia lahir. Saat sampai Jakarta, Priscillia langsung mendatangi Dinas Sosial DKI Jakarta untuk mendapat informasi tentang yayasan yang sempat menampungnya sementara. “Saya masih mencari Yayasan Mulia Cabang Jakarta untuk mengetahui keberadaan ibu saya. Mungkin mereka punya informasi tentang ibu,” ujar Priscillia melalui siaran tertulis Dinsos DKI, pada Sabtu (23/12). Informasi yang ia tahu hanya sebatas kelahiran dirinya pada hari Jumat 12 Oktober 1979 pukul 23.45 WIB. Persalinannya dibantu oleh Bidan Ny Budi Wahyuni, di Jalan Kebon Kacang Gg 31/1, Jakarta Pusat. Selain itu, Priscillia diberitahu Dinas terkait bahwa sang ibu bernama Inah. Saat melahirkan Ibu Inah berusia 19 Tahun. Melahirkan tanpa didampingi suami. Ibunya bekerja sebagai buruh harian dan beralamat di Jl Ciasem No 18, Kebayoran, Jakarta Selatan. Dua hari setelah kelahirannya, Ibu Inah menyerahkan Bayi Priscilla kepada Bidan Ny Budi Wahyuni yang membantu proses persalinannya. “Waktu itu Ibu menyerahkan saya kepada bidan karena merasa tidak mampu merawat dan membesarkan saya,” ujarnya. Pada Tanggal 20 Oktober 1979, Bidang Ny Budi Wahyuni menyerahkan bayi Priscilla kepada Yayasan Mulia Cabang Jakarta yang ditandatangani oleh Ketua Yayasan Mulia Cabang Jakarta tn MY Rachmat. Yayasan Mulia diketahui beralamat di Jl Haji Agus Salim No 57, Jakarta. Namun kini Yayasan Mulia sudah tidak ada. Tidak ada satu pun pihak yang bisa memberikan keterangan terkait Yayasan Mulia. “Saya berharap bisa segera bertemu dengan ibu saya,” kata Priscillia. Dinas Sosial DKI Jakarta mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk dapat menghubungi call center Dinsos DKI, jika masyarakat tahu akan keberadaan Inah. Hal ini sangat berguna untuk Pricilia.

Jakarta – Priscilla Margaretha masih berupaya mencari keberadaan ibu kandungnya, Inah. Berbagai cara sudah dilakukan seperti mendatangi kantor Dinas Sosial DKI Jakarta, sampai mencari bidan yang membantu persalinan Inah saat melahirkan dia. Upaya lain yang dilakukan Priscilla yakni mengunduh dua video wawancara di salah satu stasiun televisi swasta nasional pada Senin (25/12) ke akun Facebook-nya. Dalam video tersebut Priscilla mengatakan sudah mendatangi rumah Inah di Jl Ciasem, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sebagaimana tertulis dalam surat adopsi. “Setelah saya datangi rumah di Jl Ciasem, sayangnya orang yang tinggal di sana sudah meninggal. Ada anak perempuannya namun tidak tinggal di sana. Saya dapat nomor telepon kakak wanita yang tinggal di sana. Tapi dia tidak mau memberitahu kami,” kata Priscilla. Priscilla kemudian mencari tahu keberadaan Budi Wahyuni, bidan yang membantu persalinan Inah saat melahirkan dia, untuk meminta surat adopsi yang asli. Namun sayang, bidan dimaksud sudah meninggal. “Saya kemudian tahu bidannya sudah meninggal. Lalu saya hanya bertemu dengan dengan asisten bidan. Tapi dia baru bekerja pada 1982. Dia coba mencari tahu siapa asisten yang berkerja pada 1979,” terang Priscilla. Jika mendapatkan surat adopsi yang asli, sambung Priscilla, dia akan meminta bantuan polisi melacak Inah melalui sidik jari. “Jika saya memiliki dokumen adopsi yang asli, saya bisa minta tolong polisi untuk mencarinya lewat sidik jari,” ujar dia. Dalam video tersebut, Priscilla juga mengutarakan harapannya. Dia berharap bisa bertemu dengan ibu kandungnya, atau paling tidak bertemu dengan keluarga Inah atau orang yang dekat dengan Inah. Ibu satu anak itu ingin sekali mendengar cerita Inah, dan menceritakan keluarganya. “Saya tidak akan menyerah mencarimu (Inah) dan saya berharap ada hasil dari usaha saya. Jika bertemu mungkin kamu bisa menceritakan atau orang yang kenal kamu bisa menceritakan. Saya ingin sekali bertemu, tahu tentang kamu, bisa menceritakan keluarga saya, anak saya, cucu kamu. Saya sangat berharap kamu senang, saya berharap bisa memeluk kamu dan menceritakan tentang saya,” papar Inah. (zak/dkp)

Sempat diminta pindah oleh petugas Satpol PP, sejumlah PKL kembali lagi menempati trotoar Stasiun Tanah Abang. Mereka tetap protes karena tak dapat tenda untuk berdagang. Pantauan detikcom di Jalan Jati Baru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (22/12/2017) pukul 16.00 WIB, PKL yang sempat bergeser dari trotoar kembali lagi ke lapak awalnya. Bahkan terlihat seorang ibu-ibu PKL yang melontarkan makian ke petugas Satpol PP. Ia tak terima karena tidak diberi tenda. “Liat dong mukanye, muka siape yang dagang,” ujar ibu tersebut sambil melanjutkan perkataannya dengan kata-kata kasar. Satpol PP yang berada di lokasi juga tak bisa berbuat apa-apa lagi karena jumlah PKL yang kembali ke trotoar makin ramai. Mereka terlihat duduk dan berdiri sambil menghalau agar PKL tak menggelar dagangannya di tengah-tengah trotoar. Sebelumnya, siang tadi para petugas Satpol PP meminta PKL untuk pindah dari trotoar. Sempat ada perdebatan, PKL akhirnya mau pindah hingga trotoar bersih pada pukul 14.45 WIB.

Otoritas Israel memerintahkan untuk mendeportasi 2 pria asal Turki. Keduanya sempat ditangkap setelah aksi menolak keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Dilansir dari Reuters dan Al Jazeera, Selasa (26/12/2017), sebenarnya ada 3 orang Turki yang ditahan Israel. Identitas ketiganya adalah Abdullah Kizilirmak dan Mehmet Kargili yang dideportasi serta satu lagi bernama Adem Koc. Kizilirmak dan Kargili dituduh menyerang polisi Israel di dekat Kompleks Masjid Al Aqsa, Yerusalem saat demo. Sedangkan Koc dituduh mengganggu ketertiban umum. Juru bicara kepolisian Israel, Micky Rosenfeld mengatakan bahwa ketiganya telah merencanakan untuk mengambil bagian dalam sebuah demonstrasi. Ketiganya telah diadili dan divonis bebas. Sementara itu, seorang jubir Kemendagri Israel menyebut 2 pria Turki yang dideportasi memasuki kawasan Israel dengan paspor Belgia. Secara posisi politik, Presiden Turki Tayyip Erdogan jelas-jelas menentang keputusan Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sikap itu juga pernah disampaikan saat forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Istanbul, yang waktu itu dihadiri juga oleh Presiden Joko Widodo.

Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi menanggapi adanya toko kue yang menolak layanan pemesanan kue dengan tulisan Natal. Zainut Tauhid meminta masyarakat terus menjaga persaudaran di Indonesia. “MUI berpesan marilah kita terus menjaga ukhuwah atau persaudaraan di antara sesama anak bangsa. Baik persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyyah) maupun persaudaraan atas dasar kemanusiaan (ukhuwah basyariyyah). Karena sebagaimana kata Imam Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah bahwa ‘mereka yang bukan saudaramu dalam iman, mereka adalah saudaramu dalam kemanusiaan’,” kata Zainut saat dihubungi detikcom, Minggu (24/12/2017) malam. Pihaknya juga mengimbau masyarakat bersikap bijaksana dalam menyikapi perbedaan pendapat mengucapkan selamat Natal. Apalagi kata Zainut hal tersebut sebaiknya tak menjadi polemik yang mengganggu harmoni kerukunan antarumat beragama. “MUI mengimbau kepada masyarakat untuk arif dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan pendapat tersebut dan tidak menjadikan polemik yang justru bisa mengganggu harmoni hubungan antarumat beragama,” ucap dia. Menurut Zainut, MUI tak bisa melarang siapapun dalam berpendapat mengucapkan selamat natal haram atau tidak. “MUI tidak bisa melarang siapa pun yang memiliki pendapat bahwa mengucapkan selamat Natal itu hukumnya haram atau dilarang oleh agama. Hal itu didasarkan pada pendapat bahwa mengucapkan selamat Natal itu bagian dari keyakinan agama,” tutur dia. Dia juga mengatakan para ulama juga mempunyai beda pendapat dalam mengucapkan selamat Natal. Sebab ada ulama yang melarang dan memperbolehkan mengucapkan selamat Natal. MUI, menurut dia tak pernah mengeluarkan fatwa ucapan selamat Natal. “Para ulama dalam masalah ini juga berbeda pendapat, ada yang melarang dan ada yang membolehkan. Sehingga MUI mempersilakan kepada umat Islam untuk memilih pendapat mana yang paling sesuai dengan keyakinan hatinya. MUI sendiri belum pernah mengeluarkan fatwa tentang hal tersebut. Sehingga mengembalikan kepada umat Islam untuk mengikuti pendapat ulama yang sudah ada,” kata Zainut. “Begitu juga sebaliknya MUI tidak bisa melarang bagi yang berpendapat bahwa mengucapkan selamat Natal itu boleh dan tidak dilarang oleh agama. Karena berkeyakinan hal itu bukan bagian dari keyakinan agama tetapi sebatas memberikan penghormatan atas dasar hubungan kekerabatan, bertetangga, teman sekerja atau relasi antarumat manusia,” lanjut dia. Selain itu, dia juga mengaku tak menyalahkan pihak toko yang bernama Chocholicious yang menolak melayani pesanan kue dengan tulisan Natal. “Masalah tersebut di atas juga bisa menjawab viral yang beredar di masyarakat tentang adanya toko kue yang menolak untuk menuliskan ucapan selamat Natal karena berkeyakinan itu haram hukumnya. Untuk hal tersebut MUI tidak bisa melarangnya. Tetapi jika ada toko kue yang mau melayani pembeli untuk menuliskan ucapan selamat Natal, MUI juga tidak bisa menyalahkannya,” ujar dia. Foto: ibnu munsir Sebelumnya sempat viral di media sosial. Hal ini berawal dari ocehan salah satu pelanggan yang memesan kue dan meminta ada ucapan Natal untuk keluarganya. Namun pihak Toko Kue Chocholicious menolak. Terkait hal ini, pemilik toko, Rafika, mengatakan penolakan itu sudah menjadi komitmen perusahaannya sejak berdiri. Dia menjelaskan banyak permintaan kue dengan ucapan hari Natal, namun pihaknya meminta karyawanya untuk menjelaskan dengan baik dengan alasan hanya sebatas menjual kue dan tak menerima ucapan Natal.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengaku persoalan Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) yang belakangan ini menjadi masalah sudah terselesaikan. Ia mengaku, baik anggaran maupun tim gubernur tersebut dalam posisi aman. “Ya pokoknya semua aman. Sudah bisa terakomodasi. Timnya aman, anggarannya aman,” kata Sandi, di Kawasan Pondok Kacang, Tangerang Selatan, Banten, Senin (25/12/2017). Sandi memastikan tim gubernur tersebut akan tetap ada dan bekerja untuk membantu percepatan pembangunan dalam masa kepemimpinannya bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. “Jadi alhamdulillah kita harus move on karena esensinya semuanya sama. Kita bisa sukses mendelivery program ini yang nanti akan kita sesuaikan,” ujarnya. Saat ditanya, apakah anggaran yang akan digunakan merupakan anggaran yang berasal dari APBD 2018 atau dana operasional, Sandi mengatakan hal itu masih belum ditentukan. “Mungkin nanti ditentukan sama tim yang sekarang dipimpin Pak Sekda. Yang penting delivery, semua lapangan kerja tercipta, pendidikan berkualitas ke depan,” ujarnya. Sebelumnya, Sandi mengatakan pihaknya sudah bertemu dengan tim Kemendagri untuk membicarakan anggaran Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP). Dia menyebut Kemendagri batal mencoret anggaran tim tersebut dari APBD DKI Jakarta 2018. “(Anggaran tim gubernur) sepertinya, kelihatannya nggak (dicoret) ya. Ada jelas titik temu dan alhamdulillah,” kata Sandiaga usai menghadiri car free day di Rawamangun, Jl Pemuda, Jakarta Timur, Minggu (24/12).

Polisi tengah menggali keterangan Syafrizal yang menampung emas ilegal senilai Rp 8 miliar di Sintang, Kalbar. Dari hasil pemeriksaan, pelaku meraup untung sebesar Rp 238 juta dari 15,9 kilogram emas ilegal. “Jika dikalikan keuntungan per kilogramnya, SFZ meraup keuntungan sebesar 15 juta rupiah, dan dari hasil barang bukti emas ilegal seberat 15.9 kilogram yang diamankan Polres Sintang, SFZ dapat meraup keuntungan sebesar Rp 238.500.000 dalam kurun waktu 3 minggu,” kata Kapolsek Sintang Kota Iptu Ruslan Abdul Gani dalam keterangannya, Senin (25/12/2017). Dari pengakuannya, Syafrizal mendapatkan emas tersebut dari penambang ilegal. Ia membeli emas tersebut Rp 480 ribu per gram dan dijual Rp 495 ribu per gram. “Kalau estimasi harga, satu gram itu dijual kalau tak salah Rp 500 ribu sekian entah di ANTAM atau pegadaian. Dia beli dari penambang liar Rp 480 ribu dan dijual Rp 495 ribu,” kata Kapolda Kalbar Irjen Didi Haryono dikonfirmasi secara terpisah. Sebelumnya, penggerebekan terjadi pada Sabtu (23/12), di Jl MT Haryono, Sintang, sekitar pukul 13.00 WIB. Saat polisi menggerebek, di lokasi itu terjadi transaksi jual-beli emas ilegal. Saat penggerebekan polisi menemukan 15,9 kg emas yang terdiri dari 21 batang emasi dan 47 emas bulat. Syafrizal diduga melanggar pasal 161 UU No 4/2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara.

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Aufatul Khuzzah (19) meninggal dunia karena terserang penyakit difteri. Ia sebelumnya mengalami perawatan di RSUD di Kota Serang. Informasi tersebut disampaikan Humas UIN Syarif Hidayatullah, Feni Arifiani, Senin (25/12/2017) malam. Feni menyebut, Aufatul meninggal karena penyakit difteri. “Betul, yang bersangkutan mahasiswa kami (UIN) meninggal diduga akibat sebagaimana yang berkembang,” kata Feni. Feni juga menunjukkan bukti perawatan yang dilakukan Aufatul di RSUD di Kota Serang, Banten. Aufatul didiagnosa menderita penyakit tonsilitis difteri. Aufatul merupakan mahasiswi semester V Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal tersebut disampaikan oleh Feni. “Meninggalnya kapan, saya belum dapat infonya,” tutur Feni.

Related Posts

Comments are closed.