Kasus Persekusi, Polisi Akan Cek Kerja Intel Polres Bekasi

Kasus Persekusi, Polisi Akan Cek Kerja Intel Polres Bekasi

Polri mengatakan pihaknya mengetahui adanya penjualan obat tak berizin dan kadaluarsa di Pondok Gede, Kota Bekasi setelah melihat massa FPI mengepung bangunan toko tersebut. Polri akan mengecek kekuatan Satuan Intelijen Polresta Bekasi. “Ketahuannya (ada toko obat yang jual obat tak berizin dan kadaluarsa) setelah FPI melakukan persekusi itu. Nanti kita cek Intelnya Bekasi, apakah mereka tidak mengetahui atau pura-pura tidak tahu,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto kepada wartawan di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (2/1/2018). Setyo menerangkan saat masyarakat mengetahui ada pelanggaran hukum yang terjadi, maka langkah selanjutnya adalah menginformasikan masalah tersebut ke aparat penegak hukum. Setyo mengakui Polri juga membutuhkan informasi dari masyarakat. “Kita juga perlu informasi dari masyarakat. Kalau masyarakat tahu, lapor saja ke polisi. Kalau polisi sudah dilaporkan kemudian tidak melakukan tindakan, nah itu salah dan laporkan saja ke Propam,” ujar Setyo. Setyo menjelaskan jika masyarakat menangani sendiri dugaan pelanggaran hukum yang mereka ketahui, maka sikap tersebut salah. Sebab, hanya aparat yang dapat menindak pelanggar hukum. “Tapi kalau dia tidak dilapori dan mengambil tindakan sendiri, itu nggak boleh dan melanggar hak asasi orang lain. Dan kelompok manapun tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan upaya paksa dan yang melakukan upaya paksa itu, yang dilindungi oleh undang-undang, adalah aparat penegak hukum di Indonesia. Adalah Polri,” terang Setyo. Setyo menambahkan tidak ada satupun LSM yang dilindungi hukum ketika melakukan tindak kekerasan terhadap satu pihak lainnya. “Sekarang banyak ada LSM yang mengatakan pengawas-lah, inilah dan mereka tidak punya perlindungan hukum untuk melakukan itu,” jelas Setyo. “Kalaupun dia melakukan penindakan itu, ditangkap oleh polisi. Dia melakukan pengancaman, ditangkap juga,” ujar Setyo. Rabu (27/12/2017), sebuah toko obat didatangi sekelompok anggota FPI. Toko tersebut akhirnya juga disambangi polisi. Toko tersebut diduga kuat menjual obat keras tanpa izin dan obat kadaluarsa. Keesokan harinya polisi menetapkan salah satu anggota FPI berinisial B sebagai tersangka tindak pidana pengeroyokan dan perbuatan tidak menyenangkan terhadap pemilik dan penjaga toko. “Rabu, 27 Desember kemarin ada penindakan. Jadi warga masyarakat resah karena ada toko obat yang tidak berizin menjual obat-obatan jenis tipe G yang masuk kategori obat terlarang sekaligus banyak obat kadaluarsa. Maka warga masyarakat berinisiatif menghubungi Polsek Pondok Gede,” ujar Pendamping hukum FPI Bekasi, Aziz Yanuar kepada detikcom saat dikonfirmasi, Sabtu (30/12/2017). “Saat dihubungi, Polsek beralasan tidak bisa mendampingi karena sedang menjaga iring-iringan Presiden yang lewat. Tapi ternyata mereka menjaganya dekat toko obat itu. Nah setelah itu mereka datang bersama-sama dengan Polsek Pondok Gede, personelnya 3 orang ke lokasi, TKP yang jual,” imbuh Aziz. Sementara itu Kapolresta Bekasi Kombes Indarto menjelaskan kondisi yang berbeda dengan yang dijelaskan Aziz. Indarto menceritakan berdasarkan penyelidikan, telah terjadi tindak main hakim yang dilakukan 15-20 menit sebelum polisi akhirnya datang ke lokasi. “Jadi 15-20 menit sebelum polisi datang, kebetulan ada polisi yang lagi melakukan pengamanan, tahu ada gerombolan orang itu langsung, oknum ke sana. Anggota melihat ada FPI yang masuk ke tokonya itu, langsung mereka dicegah, disuruh keluar,” terang Indarto. Dia menceritakan B masuk toko itu tanpa izin, membentak pemilik dan penjaga toko, hingga menyuruh pemilik dan penjaga toko duduk di lantai. “Perbuatannya antara lain masuk tanpa izin ke toko, bentak-bentak sampai ketakutan penjualnya. Yang masuk memang beberapa orang, tapi di luar sudah banyak oknum FPI. Tersangka duduk di atas kursi, si (pemilik dan penjual) toko obat disuruh duduk di lantai,” Indarto menggambarkan situasi sweeping yang terjadi.

Polri mengatakan pihaknya mengetahui adanya penjualan obat tak berizin dan kadaluarsa di Pondok Gede, Kota Bekasi setelah melihat massa FPI mengepung bangunan toko tersebut. Polri akan mengecek kekuatan Satuan Intelijen Polresta Bekasi. “Ketahuannya (ada toko obat yang jual obat tak berizin dan kadaluarsa) setelah FPI melakukan persekusi itu. Nanti kita cek Intelnya Bekasi, apakah mereka tidak mengetahui atau pura-pura tidak tahu,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto kepada wartawan di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (2/1/2018). Setyo menerangkan saat masyarakat mengetahui ada pelanggaran hukum yang terjadi, maka langkah selanjutnya adalah menginformasikan masalah tersebut ke aparat penegak hukum. Setyo mengakui Polri juga membutuhkan informasi dari masyarakat. “Kita juga perlu informasi dari masyarakat. Kalau masyarakat tahu, lapor saja ke polisi. Kalau polisi sudah dilaporkan kemudian tidak melakukan tindakan, nah itu salah dan laporkan saja ke Propam,” ujar Setyo. Setyo menjelaskan jika masyarakat menangani sendiri dugaan pelanggaran hukum yang mereka ketahui, maka sikap tersebut salah. Sebab, hanya aparat yang dapat menindak pelanggar hukum. “Tapi kalau dia tidak dilapori dan mengambil tindakan sendiri, itu nggak boleh dan melanggar hak asasi orang lain. Dan kelompok manapun tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan upaya paksa dan yang melakukan upaya paksa itu, yang dilindungi oleh undang-undang, adalah aparat penegak hukum di Indonesia. Adalah Polri,” terang Setyo. Setyo menambahkan tidak ada satupun LSM yang dilindungi hukum ketika melakukan tindak kekerasan terhadap satu pihak lainnya. “Sekarang banyak ada LSM yang mengatakan pengawas-lah, inilah dan mereka tidak punya perlindungan hukum untuk melakukan itu,” jelas Setyo. “Kalaupun dia melakukan penindakan itu, ditangkap oleh polisi. Dia melakukan pengancaman, ditangkap juga,” ujar Setyo. Rabu (27/12/2017), sebuah toko obat didatangi sekelompok anggota FPI. Toko tersebut akhirnya juga disambangi polisi. Toko tersebut diduga kuat menjual obat keras tanpa izin dan obat kadaluarsa. Keesokan harinya polisi menetapkan salah satu anggota FPI berinisial B sebagai tersangka tindak pidana pengeroyokan dan perbuatan tidak menyenangkan terhadap pemilik dan penjaga toko. “Rabu, 27 Desember kemarin ada penindakan. Jadi warga masyarakat resah karena ada toko obat yang tidak berizin menjual obat-obatan jenis tipe G yang masuk kategori obat terlarang sekaligus banyak obat kadaluarsa. Maka warga masyarakat berinisiatif menghubungi Polsek Pondok Gede,” ujar Pendamping hukum FPI Bekasi, Aziz Yanuar kepada detikcom saat dikonfirmasi, Sabtu (30/12/2017). “Saat dihubungi, Polsek beralasan tidak bisa mendampingi karena sedang menjaga iring-iringan Presiden yang lewat. Tapi ternyata mereka menjaganya dekat toko obat itu. Nah setelah itu mereka datang bersama-sama dengan Polsek Pondok Gede, personelnya 3 orang ke lokasi, TKP yang jual,” imbuh Aziz. Sementara itu Kapolresta Bekasi Kombes Indarto menjelaskan kondisi yang berbeda dengan yang dijelaskan Aziz. Indarto menceritakan berdasarkan penyelidikan, telah terjadi tindak main hakim yang dilakukan 15-20 menit sebelum polisi akhirnya datang ke lokasi. “Jadi 15-20 menit sebelum polisi datang, kebetulan ada polisi yang lagi melakukan pengamanan, tahu ada gerombolan orang itu langsung, oknum ke sana. Anggota melihat ada FPI yang masuk ke tokonya itu, langsung mereka dicegah, disuruh keluar,” terang Indarto. Dia menceritakan B masuk toko itu tanpa izin, membentak pemilik dan penjaga toko, hingga menyuruh pemilik dan penjaga toko duduk di lantai. “Perbuatannya antara lain masuk tanpa izin ke toko, bentak-bentak sampai ketakutan penjualnya. Yang masuk memang beberapa orang, tapi di luar sudah banyak oknum FPI. Tersangka duduk di atas kursi, si (pemilik dan penjual) toko obat disuruh duduk di lantai,” Indarto menggambarkan situasi sweeping yang terjadi.

Subdit Reskrimum Polda Jabar dan Polres Sukabumi berhasil melacak jejak para pelaku pembunuh dan perampok sopir taksi online yang mayatnya dibuang di area perkebunan Sukabumi, Jawa Barat. Polisi melakukan pelacakan berkoordinasi dengan penyedia jasa aplikasi taksi online untuk mengetahui siapa pemesan terakhir taksi online yang di sopiri korban Mulud (63). Baca Juga: Dalang Pembunuhan Sopir Taksi Online di Sukabumi Seorang Mahasiswa Sejumlah informasi kemudian diperoleh hingga akhirnya polisi membekuk YAS alias Vino otak pelaku pembunuhan dan perampokan tersebut. “Kita berkoordinasi dengan penyedia layanan taksi online, nomor telepon pelaku berikut sejumlah data lain kita peroleh hingga akhirnya kita bisa menelusuri jejaknya,” kata Kasatreskrim Polres Sukabumi, AKP Dhoni Erwanto, kepada detikcom melalui sambungan telepon, Selasa (2/1/2018). Vino ditangkap saat akan melarikan diri ke Yogyakarta, pria yang berstatus mahasiswa itu kedapatan tengah menunggu bus di Terminal Kampung Rambutan. Vino sempat akan melarikan diri, tidak mau kehilangan buruannya polisi akhirnya terpaksa melumpuhkannya dengan timah panas. “Dia kita tembak, selain melawan dia juga berusaha lari dari kejaran petugas” sambung Dhoni. Dikutip dari pesanan terakhir pelaku, diketahui jika Vino dan dua temannya masing-masing Ram, UH alias Ogah memesan kendaraan korban pada tanggal 16 Desember 2017. Alamat penjemputan di Villa Asia, Bojonggede Bogor. “Pelaku minta diantar ke Perkebunan Teh Cirangsad, Tangerang Selatan. Memesan sekitar jam 00.13 WIB dan orderan terselesaikan jam 05.27 WIB,” lanjut Dhoni. Diduga pelaku yang menekan tanda penyelesaian order, karena tujuan akhir perjalanan mereka hanya sampai Leuwiliang, Bogor tempat korban dihabisi nyawanya oleh para pelaku. Setelah korban tewas tiga pelaku Vino, Ram dan Ogah membawa mayat korban dan membuangnya di Sukabumi. “Barang dan mayat korban dibuang terpisah, waktu penemuan barang korban dan mayat juga berurutan. Kita langsung bergerak menggelar penyelidikan hingga akhirnya tiga pelaku berhasil kita tangkap,” pungkasnya.

Proyek Jalan di Antasari, Jakarta Selatan, roboh. Proyek yang roboh itu adalah girder. Lokasi proyek yang roboh itu berada di dekat pertigaan Antasari-TB Simatupang. Kasatlantas Polres Jaksel, AKBP Edy Surasa, saat dimintai konfirmasi detikcom membenarkan kejadian tersebut. “Yang roboh proyek girder,” ujar Edy, Selasa (2/1/2018). Belum diketahui penyebab girder tersebut roboh. Polisi sudah berada di lokasi. “(Penyebab) belum tahu, masih lidik olah TKP,” ucapnya. Salah satu warga di lokasi, Angga, mengatakan lokasi robohnya proyek itu dekat dengan gedung Alamanda. Dia mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. “Tadi saya lihat kejadian sekitar pukul 10.00 WIB, sekarang saya lihat polisi sudah di lokasi kejadian,” ujar Angga saat dimintai konfirmasi terpisah. Belum diketahui ada korban jiwa atau luka akibat kejadian ini.

Related Posts

Comments are closed.