Kasus Penghinaan, Ketua MUI Jagakarsa Dipanggil Polres Jaksel Besok

Kasus Penghinaan, Ketua MUI Jagakarsa Dipanggil Polres Jaksel Besok

Polres Jakarta Selatan memanggil Ketua MUI Jagakarsa KH Sulaiman Rohimin pada Rabu (24/1/2018) besok. Sulaiman akan dimintai keterangan terkait kasus dugaan penghinaan. “Betul (KH Sulaiman Rohimin dipanggil),” kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Mardiaz Kusin Dwi Hananto saat dimintai konfirmasi, Selasa (23/1) malam. Mardiaz tak menjelaskan secara rinci mengenai kasus tersebut. Termasuk soal status KH Sulaiman dalam pemanggilan besok. “Penghinaan,” ujar Mardiaz. Secara terpisah, Wakil Ketua ACTA Novel Bamukmin membenarkan adanya pemanggilan tersebut. Menurutnya, pemanggilan itu terkait penyebaran meme salah satu ormas. “Kasus itu cuman share meme, salah satu ormas. kemudian ada yang laporin . Jadi besok diminta sebagai saksi, klarifikasi,” ujarnya. Novel juga menyebut sejumlah ormas akan mengawal pemanggilan Sulaiman besok. Pihaknya akan menjelaskan secara detail kasus tersebut setelah Sulaiman selesai dimintai keterangan. “Belum diungkap dulu, besok aja , kalau besok jelas dugaan, dugaan seperti itu. Belum jelas juga,” tuturnya.

Polres Jakarta Selatan memanggil Ketua MUI Jagakarsa KH Sulaiman Rohimin pada Rabu (24/1/2018) besok. Sulaiman akan dimintai keterangan terkait kasus dugaan penghinaan. “Betul (KH Sulaiman Rohimin dipanggil),” kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Mardiaz Kusin Dwi Hananto saat dimintai konfirmasi, Selasa (23/1) malam. Mardiaz tak menjelaskan secara rinci mengenai kasus tersebut. Termasuk soal status KH Sulaiman dalam pemanggilan besok. “Penghinaan,” ujar Mardiaz. Secara terpisah, Wakil Ketua ACTA Novel Bamukmin membenarkan adanya pemanggilan tersebut. Menurutnya, pemanggilan itu terkait penyebaran meme salah satu ormas. “Kasus itu cuman share meme, salah satu ormas. kemudian ada yang laporin . Jadi besok diminta sebagai saksi, klarifikasi,” ujarnya. Novel juga menyebut sejumlah ormas akan mengawal pemanggilan Sulaiman besok. Pihaknya akan menjelaskan secara detail kasus tersebut setelah Sulaiman selesai dimintai keterangan. “Belum diungkap dulu, besok aja , kalau besok jelas dugaan, dugaan seperti itu. Belum jelas juga,” tuturnya.

Polres Jakarta Selatan memanggil Ketua MUI Jagakarsa KH Sulaiman Rohimin pada Rabu (24/1/2018) besok. Sulaiman akan dimintai keterangan terkait kasus dugaan penghinaan. “Betul (KH Sulaiman Rohimin dipanggil),” kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Mardiaz Kusin Dwi Hananto saat dimintai konfirmasi, Selasa (23/1) malam. Mardiaz tak menjelaskan secara rinci mengenai kasus tersebut. Termasuk soal status KH Sulaiman dalam pemanggilan besok. “Penghinaan,” ujar Mardiaz. Secara terpisah, Wakil Ketua ACTA Novel Bamukmin membenarkan adanya pemanggilan tersebut. Menurutnya, pemanggilan itu terkait penyebaran meme salah satu ormas. “Kasus itu cuman share meme, salah satu ormas. kemudian ada yang laporin . Jadi besok diminta sebagai saksi, klarifikasi,” ujarnya. Novel juga menyebut sejumlah ormas akan mengawal pemanggilan Sulaiman besok. Pihaknya akan menjelaskan secara detail kasus tersebut setelah Sulaiman selesai dimintai keterangan. “Belum diungkap dulu, besok aja , kalau besok jelas dugaan, dugaan seperti itu. Belum jelas juga,” tuturnya.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Polres Jakarta Selatan memanggil Ketua MUI Jagakarsa KH Sulaiman Rohimin pada Rabu (24/1/2018) besok. Sulaiman akan dimintai keterangan terkait kasus dugaan penghinaan. “Betul (KH Sulaiman Rohimin dipanggil),” kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Mardiaz Kusin Dwi Hananto saat dimintai konfirmasi, Selasa (23/1) malam. Mardiaz tak menjelaskan secara rinci mengenai kasus tersebut. Termasuk soal status KH Sulaiman dalam pemanggilan besok. “Penghinaan,” ujar Mardiaz. Secara terpisah, Wakil Ketua ACTA Novel Bamukmin membenarkan adanya pemanggilan tersebut. Menurutnya, pemanggilan itu terkait penyebaran meme salah satu ormas. “Kasus itu cuman share meme, salah satu ormas. kemudian ada yang laporin . Jadi besok diminta sebagai saksi, klarifikasi,” ujarnya. Novel juga menyebut sejumlah ormas akan mengawal pemanggilan Sulaiman besok. Pihaknya akan menjelaskan secara detail kasus tersebut setelah Sulaiman selesai dimintai keterangan. “Belum diungkap dulu, besok aja , kalau besok jelas dugaan, dugaan seperti itu. Belum jelas juga,” tuturnya.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

10Berita – Diam-diam, ada upaya menyesatkan dari para tukang sejarah, istilah untuk orang-orang yang menulis sejarah yang sengaja diselewengkan demi kepentingan dan tujuannya sendiri, yang menyatakan jauh sebelum NKRI berdiri telah ada sebuah negara berbentuk republik di Kalimantan Barat, bernama Republik Lanfang dimana presidennya bernama Low Fang Pak. Ini sama sekali tidak benar. Penyebutan istilah “Republik” juga tidak tepat. Artikel yang ditulis oleh salah satu situs konspirasi terbesar dunia yang berasal dari indonesia di bawah ini cukup lengkap membantah anggapan di atas. Inilah tulisannya:

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Nama Ketua KongsiPeriodeKeteranganLo Fangpak1777-1795Pendiri Kongsi Lanfang di Mandor pada tahun 1777Kong Meupak1795-1799Perang dengan Panembahan MempawahJak Sipak1799-1803Konflik dengan orang Dayak dari LandakKong Meupak1803-1811Sung Chiappak1811-1823Ekspansi tambang di LandakLiu Thoinyi1823-1837Sudah di bawah pengaruh kolonial BelandaKu Liukpak1837-1842Konflik dengan Panembahan Landak dan kemerosotan kongsiChia Kuifong1842-1843Yap Thinfui1843-1845Liu Konsin1845-1848Pertempuran dengan orang Dayak dari LandakLiu Asin1848-1876Ekspansi tambang ke kawasan LandakLiu Liongkon1876-1880Liu Asin1880-1884Kejatuhan Lanfang Kongsi pada tahun 1884

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

SIARAN PERS GNPF MUI Assalaamu’alaikum wr.wb. Mencermati perkembangan situasi nasional dewasa ini yang semakin hari semakin dirasakan menuju ke arah yang tidak menguntungkan terhadap koeksistensi umat beragama lebih khususnya terhadap umat Islam, antara lain ditunjukkan dengan berbagai peristiwa yang telah menjadi sorotan atau opini masyarakat luas: Pertama: kriminalisasi bergelombang terhadap ulama, tokoh oposisi maupun aktivis Islam secara massif dan terus menerus melalui berbagai kasus hukum yang sarat dengan dugaan rekayasa, dengan maksud menciptakan opini negatif terhadap peran ulama, pimpinan oposisi

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Ungkapan Presiden Jokowi yang meminta agama dan politik dipisahkan menuai kritikan tajam dari berbagai kalangan. Salah satunya, kritikan itu datang dari mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr H Amien Rais, MA. “Itu kata-kata seseorang yang tidak paham Pancasila,” kata Amien Rais usai menjadi pembicara dalam Tabligh Akbar di PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Ahad (26/3/2017), seperti dikutip Panjimas.com. Guru Besar Politik Universitas Gajah Mada (UGM) itu beralasan, bila politik dipisahkan dari agama, maka hilang nilai-nilai kebaikan di dalamnya. “Karena kalau politik dipisahkan dari agama, politik menjadi kering dari nilai-nilai kebaikan, akan jadi beringas, akan jadi eksploitatif,” tegasnya. Oleh sebab itu, mantan Ketua MPR itu menilai pernyataan Presiden Jokowi harus diralat. “Jadi kata-kata Pak Jokowi keliru besar!” tandasnya. Seperti diketahui, Presiden Jokowi meminta semua pihak agar memisahkan persoalan politik dan agama. Menurut Presiden, pemisahan tersebut untuk menghindari gesekan antarumat. “Memang gesekan kecil-kecil kita ini karena pilkada, karena pilgub, pilihan bupati, pilihan wali kota, inilah yang harus kita hindarkan,” kata Presiden saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (24/3/2017), seperti dikutip Antaranews.com. Karena rentan gesekan itulah, Presiden meminta tidak ada pihak yang mencampuradukkan politik dan agama. “Dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik,” kata Jokowi.  [ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Penghinaan Inul Daratista kepada ulama bukanlah yang pertama dilakukan oleh kalangan artis. Sebelumnya ada Ernest Prakasa dan komedian Uus yang juga tak mampu menahan diri untuk menista ulama. Uus pernah membuat ulah melalui akun media sosial miliknya dengan menghina  Habib Rizieq. Menurut Uus, Habib Rizieq bukan ulama. Ia juga menyebut bahwa ternyata ada Ulama yang gadung(an), bukan terminal bus saja yang (Pulo) Gadung. Ia juga menyerang Habib Rizieq dengan gambar. Uus menanggapi poster bertuliskan ‘Sehelai rambut Habib Rizieq jatuh, bukan berurusan dengan FPI, tapi dengan umat Islam’. Uus kemudian menulis, bahwa sang Habib sepertinya perlu shampoo baru agar rambutnya tak jatuh. Ada juga Ernest Prakasa. Artis Stand Up Comedy ini menghina Dr Zakir Naik yang akan berkunjung dan safari dakwah di Indonesia. Ernest mengatakan bahwa Zakir Naik adalah orang yang mendanai ISIS. Kini Inul mengikuti jejak keduanya. Usai kedatangan Basuki Tjajaha Purnama (Ahok) dalam sebuah acara televisi dan berjoget bersamanya, Inul Daratista tak kuasa menahan jari jemarinya untuk menghina ulama. Si Goyang Ngebor itu menuliskan penistaannya kepada ulama dalam akun instagramnya. Bermula ketika Inul memosting foto dirinya bersama Ahok pada Sabtu, 25 Maret 2017. Dia kemudian menuliskan komentar, “Berfoto sama bpk gubernur beserta wagub dn jajarannya.” Seketika itu juga komentar negatif bermunculan di timeline akun Instagram Inul. Perempuan asal Pasuruan, Jawa Timur itu beberapa kali menuliskan komentar balasan untuk membalas kalimat nyinyir netizen. Salah satunya menyinggung ulama yang dikriminalisasi oleh kepolisian. “Aku cuma bayangin yang pake syurban bisa mojok sama wanita sambil main sex skype itu piye critane bisa jadi panutan? Jangan merusak moral kita soal Rasis-Sara-dan agama,” tulis Inul dalam komentar balasannya.(Wyn/Wajada)  [ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai pengusung utama cagub terdakwa penista agama, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dan cawagub Djarot dinilai semakin panik dan seperti mencium aroma kekalahan. Respons ini disampaikan oleh netizen menyusul imbauan yang dikeluarkan oleh DPP PDIP terhadap pimpinan dan anggota fraksi PDIP Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia untuk memenangkan pasangan Ahok-Djarot. Instruksi bernomor 2654/IN/DPP/III/2017 ini ditandatangani langsung oleh Ketua DPP Bambang DH dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. “Bagi pimpinan dan anggota Fraksi PDI Perjuangan, DPRD Kota/Kabupaten seluruh Indonesia yang tidak mengindahkan instruksi dan penugasan ini, maka DPP Partai akan memberikan sanksi organisasi sesuai dengan AD/ART dan peraturan partai,” demikian salah satu bunyi instruksi yang dikeluarkan di Jakarta pada 16 Maret 2017  lalu tersebut. Meski Tim Sukses Ahok-Djarot, Eva Kusuma Sundari, menilah bahwa instruksi tersebut merupakan bentuk gotong royong, netizen menangkap maksud yang berbeda. Sebagian menilai hal ini sebagai bentuk kepanikan dan terciumnya aroma kekalahan di kubu cagub yang tercatat sebagai terdakwa penista agama ini.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Makin banyak orang termasuk kalangan artis yang secara berani dan terbuka menghina ulama. Setidaknya ada tiga artis yang tak sungkan menista sosok pewaris nabi yakni Uus, Ernest Prakasa dan Inul Daratista. Uus pernah membuat ulah melalui akun media sosial miliknya dengan menghina  Habib Rizieq. Menurut Uus, Habib Rizieq bukan ulama. Ia juga menyebut bahwa ternyata ada Ulama yang gadung(an), bukan terminal bus saja yang (Pulo) Gadung. Ia juga menyerang Habib Rizieq dengan gambar. Uus menanggapi poster bertuliskan ‘Sehelai rambut Habib Rizieq jatuh, bukan berurusan dengan FPI, tapi dengan umat Islam’. Uus kemudian menulis, bahwa sang Habib sepertinya perlu shampoo baru agar rambutnya tak jatuh. Ernest Prakasa menghina Dr Zakir Naik yang akan berkunjung dan safari dakwah di Indonesia. Ernest mengatakan bahwa Zakir Naik adalah orang yang mendanai ISIS. Inul mengikuti jejak keduanya. Usai kedatangan Basuki Tjajaha Purnama (Ahok) dalam sebuah acara televisi dan berjoget bersamanya, Inul Daratista tak kuasa menahan jari jemarinya untuk menghina ulama. Si Goyang Ngebor itu menuliskan penistaannya kepada ulama dalam akun instagramnya. “Aku cuma bayangin yang pake syurban bisa mojok sama wanita sambil main sex skype itu piye critane bisa jadi panutan? Jangan merusak moral kita soal Rasis-Sara-dan agama,” tulis Inul dalam komentar balasannya. Apa kata umat Islam dengan melihat fenomena ini? Berikut komentar mereka kepada wajada.net. “Mereka semakin berani karena pemerintah tidak tegas terhadap status Ahok,” kata Andhini (26), warga Kampung Melayu, Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. “Ini bukti mereka benci Islam dan ulama,” ujar Rahmat Syahrizal (40), warga Cipinang Muara, Jakarta Timur. “Ini karena terdakwa penista agama Si Ahok masih dibiarkan berkeliaran jadi makin berani orang-orang menghina ulama kita,” tukas Aty (45), warga Jagakarsa, Ciganjur, Jakarta Selatan. (Kur/Wajada)  [ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Aksi 313 umat Islam pada Jumat, 31 Maret 2017 mendatang diyakini akan diikuti massa umat Islam dari sebelumnya. Penistaan Inul Daratista kepada ulama yang diduga kuat adalah Habib Rizeq menjadi salah satu sebabnya. “Saya sangat yakin Jumat besok Jakarta akan memutih. Umat semakin marah dengan penghinaan Inul,” kata seorang ulama yang tinggal di Tebet, Jakarta Selatan, Andhika Irhamy, S.Ag. Menurutnya, ulah Inul akan makin membakar semangat umat Islam untuk berdemo menuntut keadilan ditegakkan. “Ahok harus dipenjara agar tidak ada Inul lain yang menghina ulama,” ujar Andhika yang juga pengurus Masjid Al Atiq Kampung Melayu, salah satu masjid tertua di Jakarta. Seperti diketahui, usai kedatangan Basuki Tjajaha Purnama (Ahok) dalam sebuah acara televisi dan berjoget bersamanya, Inul Daratista tak kuasa menahan jari jemarinya untuk menghina ulama. Si Goyang Ngebor itu menuliskan penistaannya kepada ulama dalam akun instagramnya. “Aku cuma bayangin yang pake syurban bisa mojok sama wanita sambil main sex skype itu piye critane bisa jadi panutan? Jangan merusak moral kita soal Rasis-Sara-dan agama,” tulis Inul. Aksi 313 dengan tajuk Al Maidah Memanggil akan dimulai dengan sholat Jumat di Masjid Istiqlal, lalu berjalan kaki menuju Istana Negara dengan tuntutan penjarakan Ahok dan copot Ahok dari gubernur DKI Jakarta karena berstatus sebagai terdakwa penistaan agama. (Kur/Wajada)  [ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Penolakan salah satu calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat terhadap perda syariah mendapat tanggapan tegas dari Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin. Dia menilai Djarot tak paham dengan istilah perda syariah. “Jadi enggak pahamlah dia (Djarot, soal perda syariah. Red ),” kata KH Ma’ruf Amin, Sabtu, 25 Maret 2017. Apa alasannya? KH Ma’ruf Amin  menjelaskan, nama “perda syariah” memang tidak ada. Yang ada adalah peraturan daerah (perda) yang sesuai dengan syariah seperti perda tentang prostitusi, minuman keras, dan lain sebagainya. Perda-perda ini, ujar Kiai Ma’ruf, tidak bertentangan dengan konstitusi. Bahkan, tambahnya lagi, ada Undang-Undang Haji, Zakat, Wakaf, Perbankan Syariah, Asuransi Syariah, dan Surat Berharga Syariah Negara. “Malah Presiden sebagai Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS),” ungkap KH Ma’ruf Amin yang juga Rais ‘Aam PBNU seperti dilansir hidayatullah.com Seperti diketahui, Cawagub DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat memastikan tidak akan ada perda syariah jika kelak memenangkan pilkada. Menurutnya,  hal itu bertentangan dengan jati diri Jakarta yang menjadi miniatur Indonesia. “Kami betul-betul memastikan di Jakarta tidak boleh satu pun diterbitkan perda-perda syariah. Saya jamin itu nggak boleh ya, ini adalah kota miniaturnya Indonesia, tidak boleh, karena saya sudah mendengar selentingan ada perda syariah, ada wisata syariah kek, ini apa-apaan ini,” ujarnya di Jati Padang, Jakarta Selatan, Jumat (24/3/2017).  [ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL), Prof. San Afri Awang mengakui Pulau G sebagai contoh gagal proyek reklamasi karena tanpa AMDAL yang jelas. Kondisi pulau saat dikunjungi Jumat lalu tampak tak beraturan, tidak terlihat bangunan dan aktivitas lainnya. “Coba kita lihat pulau G, ini kan pulau yang nggak jelas bagaimana desainnya, tanah ditimpa-timpa begitu saja, terjadi sedimentasi. pendangkalan. Ini kan bahaya, bagaimana orang mau lewat, ikan nggak ada lagi di sini, habitatnya jadi rusak,” ujarnya. Ia menekankan proyek reklamasi Teluk Jakarta harus menjamin tidak berdampak negatif pada lingkungan. JIka untuk membuat suatu proyek dengan meminimalisir dampak negatif, maka harus dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang tinggi dan biaya yang mahal, maka itu harus dijalankan. “Kalau dia butuh Iptek yang tinggi, ya gunakan Iptek yang tinggi, kalau dia perlu biaya yang tinggi, gunakan biaya yang tinggi sepanjang lingkungan terjamin,” ujarnya. San Afri Awan mengunjungi pulau reklamasi C, D dan G bersama komisi IV DPR RI pada Jumat (24/3). Awang juga menjelaskan, undang-undang lingkungan hidup mengatur pembangunan harus jalan akan tetapi sekecil mungkin memiliki dampak negatif. “Di mana pun di dunia ini kalau pembangunan pasti dia punya dampak negatif di situ,” ujarnya. Lebih lanjut, kata dia, tugas AMDAL adalah mengkaji agar jangan sampai dampak-dampak negatif lebih besar dari pada dampak poistifnya. “Dampak positif dipertahankan, dampak negatif dikecilkan,” katanya.   [ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Berbeda dengan Inul Daratista yang sama-sama menjadi juri di ajang D’Academy 4 ketika acara tersebut justru menampilkan Ahok dan Djarot, Elvi Sukaesih selaku juri pergi meninggalkan acara, bahkan pihak panitia seakan “mengejek” Elvi Sukaesih dengan menggantikannya dengan Ahok. Kehadiran Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat alias Ahok-Djarot yang menjadi calon Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, justru dimanfaatkan oleh salah satu artis dangdut Inul Daratista untuk mengkampanyekan Ahok dengan tulisan agar tidak rasis, bahkan dengan sesukanya menuduh ulama yang dianggapnya tidak mau mendukung Ahok, dengan mengejek telah melakukan tindakan asusila menggunakan aplikasi Skype dengan seorang wanita. Pedangdut senior wanita yang dianggap sebagai Ratu Dangdut Indonesia, Elvi Sukaesih justru meninggalkan kursi jurinya, ketika Ahok memasuki Studio Indosiar. Salah satu penonton sempat melihat kejadian tersebut dan menuliskannya di akun miliknya, Andri Abdul Aziz El Hakim, yang begitu senang ketika mengetahui si Ratu Dangdut Indonesia, justru bersikap mewakili dirinya, dan umat Islam lainnya. Berikut isi tulisan yang ditulis di dinding sosmed Andri atas kegembiraannya melihat sikap Elvi Sukaesih yang dipanggilnya dengan nama Ummi Elvi. “Subhanallah sungguh mulia hati ummi elvi juri academy 4 ini. Rela meninggalkan kursi di academy 4. Demi menghindari dari sang penista agama alias ahok yg masuk ke studio indosiar. Semoga ummi elvi sehat selalu dan makin sukses Ammin.”

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —    Ruangan Ketua Umum PB NU yang saat itu dijabat KH Hasyim Muzadi saat itu memang lenggang. Kala itu saat jeda selepas Ashar. Hanya beberapa jurnalis yang berada di ruangan di lantai III Gedung PBNU tersebut. Mereka menunggu pernyataan ‘abah’ (panggilan akrab kepada KH Hasyim Muzadi) yang saat itu tengah heboh perseteruan Rhoma Irama dan Inul Daratista terkait goyangan ‘ngebor’-nya. Saat itu sang ‘Raja Dangdut’ marah besar karena Inul (Ainur Rokhimah, nama aslinya) yang asal kampung Japanan Pasuruan berjoget seronok serupa penari erotis. Rhoma makin berang karena saat itu Inul banyak bergoyang (istilah joged saat itu diganti dengan sebutan goyang,red) sembari membawakan lagu-lagunya. ”Joged itu indah dan teratur. Goyang ngebor merendahkan dangdut dan membawanya lagi ke dalam musik comberan.Lagu-lagu saya haram dinyanyikan dia (Inul,red),” kata Rhoma. Tentu saja omongan Rhoma membuat keriuhan di media masa. Perseteruan makin memanas bahkan di dalam kesempatan terpisah Inul dan Rhoma Irama sempat dipanggil para wakil rakyat untuk memberikan keterangan di rapat DPR di Senayan. Inul diantar datang bersama penyanyi senior Titik Puspa. Rhoma Irama datang bersama penyanyi dangdut yang mendukungnya. Dari keriuhan itu, Inul berada di atas angin karena mendapat dukungan media. Dia pun makin kaya karena order manggung saat itu nyaris tiada putus. Persis dengan jargon Benyamin S, anak desa ini kemudian mendapat rejeki yang ‘kotaan’. Goyangan jadi obyek kapitalisme hiburan. Budayawan Emha Ainun Najib ‘menyemoni’ keriuhan itu dengan tulisan kolom di media masa ibu kota dengan judul:”Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua.” Dan dititik peristiwa itu omongan mendiang wartawan Suara Karya dan penulis buku biografi Rhoma Irama, Kartoyo, kini pun kembali terngiang: Pertemuan di DPR tersebut seolah mengulang perseteruan tahun 1970-an. ”Bang haji sudah tak cocok sama Titik Puspa sejak saat itu,” kata Kartoyo seraya mengatakan apalagi ketika Oma tak lagi berada di perkumpulan artis ibukota dan memilih tak bergabung dengan Golkar.”Kalau disamakan dengan lagu, maka peristiwa  ini ibarat lagu lama diputar lag,” kata Kartoyo. Nah, di sore selepas Ashar itu, komentar ‘Abah’ Hasyim memang ditunggu-tunggu. Setidaknya kami ingin tahu apa komentar dia. Dan Abah pun tersenyum lebar ketika beliau ditanya soal ‘perang urat syaraf’ antara Rhoma dan Inul. Kebetulan, saat itu situasinya sudah semakin seru karena beberapa hari sebelumnya Inul telah mengunjungi kantor Gus Dur yang ada di lantai dasar Gedung PB NU. Dan Rhoma Irama pun kemudian tak mau kalah karena selang beberapa hari kemudian dia pun ikut menemui Gus Dur di tempat yang sama.”Jangan adu saya dengan Gus Dur. Beliau itu kiai saya,” ujar Rhoma seusai bertemu dengan Gus Dur. Nah, dengan beberapa ‘back ground’ itulah pernyataan Abah Hasyim menjadi terasa penting. Paling tidak untuk konsumsi pribadi dan kelak akan ditulis ketika waktunya dirasa sudah tepat. Abah melayani pertanyaan soal goyangan Inul itu sembari duduk, minum teh, dan berbincang secara santai. “Kamu mau tanya apa,” kata Abah Hasyim dengan nada ringan. “Soal goyangan Inul Abah..?” Mendengar jawaban polos itu Abah terlihat hanya tersenyum sembari membetulkan letak kaca matanya. Awalnya, Abah omong pertanyaan kurang kerjaan karena soal begitu ‘kok’ ditanyakan kepadanya. “Tanya kepada budayawan dan seniman dong. Jangan tanya ke saya,” sahut Abah. “Ya ndak begitu Abah. Soalnya dia kan anak santri juga. Lihat namanya tuh mbah,” tukas saya sembari memberi tahu nama aslinya sembari menceritakan pengakuan Inul di media massa tentang perilaku kehidupan keluarganya yang sangat agamis. Mendengar itu Abah Hasyim terlihat terdiam sesaat. Beliau tampak sedang mempersiapkan jawaban. Namun jawaban yang kemudian ke luar dari mulutnya adalah hal yang tak terduga. Abah malah mengajak si-penanya bercanda sekaligus memberikan tamsil. “Di Jawa Timur santri itu macam-macam talenta atau kemampuannya. Ada santri yang qori dan korak. Kalau qori itu santri yang jago ngaji dan korak itu santri yang bengal (nakal),” kata Abah dengan nada ringan. Sontak beberapa orang yang ada di ruangan itu tertawa ngakak. ‘Kalau goyangan ngebor Inul itu bagaimana Abah?” Sembari dengan masih mengulum senyum Abah berkata seperti itu. Jawabnya pun mengejutkan:”Aku nggak tahu kenapa sih si-‘arek wedhok’ (anak perempuan) itu. Kuwi njoged opo kesurupan! (Itu menari atau kesurupan!).” Bdeberapa orang yang ada di dalam ruangan itu pun tertawa ngakak kembali. Namun, bersamaan dengan jawaban itu tamu Abah yang berikutnya pun masuk ke ruangan. Maka perbincangan ringan dengan berbagai macam tema itu usai. Ketika menengok ke arah jendela kaca terlihat hari mulai gelap. Lampu jalanan mulai menyala. Waktu Maghrib tak lama lagi akan segera datang. Kami meninggalkan ruangan Abah dengan terus menyimpan memori tentang kelakar profil sekelompok santri dan ‘goyang ngebor’ artis asal Japanan, Inul Daratista. Al Fatikhah untuk Abah Hasyim. [ ro l/ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Saat ini beredar kabar Indosiar memutuskan kontrak Inul Daratista sebagai juri di acara D’Academi4. Pihak Indosiar tidak mau mengambil resiko dengan pernyataan Inul Daratista yang dianggap melecehkan ulama. Kabar itu menyebutkan, manajemen Indosiar khawatir keberadaan Inul akan merugikan acara tersebut karena pangsa pasar acara tersebut banyak dari kalangan umat Islam. Padahal selama ini, Indosiar banyak mendapatkan pemasukan iklan berkat dukungan penonton yang notabene umat Islam Indonesia. Sebelumnya Inul melakukan fitnah terhadap ulama di akun Instagramnya setelah bertemu dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di acara D’Academi4, Sabtu (25/3). Melalui instagramnya, Inul menyebutkan orang-orang yang berpemahaman agama adalah orang-orang yang otaknya di dengkul. “Yang sok alim dan otaknya di dengkul pasti mikirnya agama gak mikir beliau gubernur bapak kiya semnua,” tulisnya Tak hanya itu, Inul juga terpaksa mengeluarkan kalimat-kalimat yang dinilai menghina Habib Rizieq soal chating sex. “Hahahah aku seh gak lihat beliau lagi nyalon lagi, aku cuma bayangin yang pakai syurban bisa mojok ama wanita sambil main sex skype itu piyee… critane bisa jadi panutan?? jangan merusak moral kita soal Rasis sara dan agama aku gak main politik tapi aku cukup bangga duduk berdampingan orang yang menjaga Jakarta saat ini, dan aku tak ikut cammpur uirusan politik karena bukan bidangku, !! imbuhnya. Ia juga menolak jika ada followernya yang memberikan nasihat baginya. Inul mengancam dengan membloc bagi siapa saja yang menceramahinya. “Kalao orang yang mau ceramaiahin aku, akan saya block dan pastinya yang gak suka silahkan unfollow, karena aku bukan kerugian sama orang yang otak pikirane dengkul,” katanya lagi. Tidak sampai di situ, Ia juga dinilai menyindir salah satu paslon soal kasus buku di Jerman. “Lihat juga pasangan lain yang kasus buku di jerman, ayo kalau mau obok-obok jangan sok benar sendiri, aku tak berpihak pada siapa pun,” tulisnya.  [ dm / Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —    Raja Dangdut Haji Rhoma Irama mengaku sedih dengan tertangkapnya Ridho Rhoma, buah hatinya yang juga pelantun dangdut. Ia akan makin semangat untuk memerangi narkoba. “Sebagai orangtua saya kasihan, sedih karena Ridho adalah korban kesekian puluh juta dalam narkoba ini,” kata Rhoma Irama kepada wartawan, saat ditemui di Polres Metro Jakarta Barat, Minggu (26/3/2017) tengah malam. Penyanyi dangdut Rhoma Irama mendatangi Polres Metro Jakarta Barat untuk mengunjungi putranya, vokalis Ridho Rhoma, yang teribat dalam kasus penyalahgunaan narkoba jenis sabu. Pelantun lagu Begadang itu mengatakan, berdasarkan pemeriksaan polisi diketahui bahwa Ridho Rhoma terindikasi sebagai pengguna narkoba. “Saya sudah konfirmasi ke kepolisian, tadi Ridho ditangkap dengan barang bukti sabu 0,7 gram dan sudah dilakukan pemeriksaan. Memang terindikasi pengguna, pemakai,” ucap Rhoma. Rhoma menambahkan, kejadian ini memotivasi dirinya untuk memberantas narkoba di seluruh Indonesia dengan menjadi agen Badan Narkotika Nasional (BNN). “Dengan tertangkapnya Ridho saya semakin semangat untuk perangi peredaran narkoba,” ungkap Rhoma. Keseriusan Rhoma untuk memerangi miras dan narkoba, ia buktikan dengan lagu yang ia ciptakan sendiri, judulnya “Mirasantika”. “Minuman keras (miras), apa pun namamu Tak akan kureguk lagi Dan tak akan kuminum lagi Walau setetes (setetes) Dan narkotika (tika), apa pun jenismu Tak akan kukenal lagi Dan tak akan kusentuh lagi Walau secuil (secuil) Gara-gara kamu orang bisa menjadi gila Gara-gara kamu orang bisa putus sekolah Gara-gara kamu orang bisa menjadi edan Gara-gara kamu orang kehilangan masa depan”  (desastian) [ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Dewasa ini, kemaksiatan semakin merajalela bahkan telah menjadi hal yang biasa. Sedangkan kebaikan menjadi hal yang tabu bahkan langka. Lantas apa sebenarnya yang terjadi pada umat ini? Asy-Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah mengatakan: “Aku perhatikan, sangat disesalkan bahwa manusia pada hari ini mementingkan sisi pertama, yaitu ilmu, namun tidak mementingkan sisi yang lain, yaitu akhlak dan tata krama. Apabila dulu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam nyaris membatasi dakwah beliau dalam rangka akhlak yang baik dan mulia, tatkala beliau menyatakannya dengan ungkapan pembatasan dalam sabda beliau: “Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Sabda beliau itu tidak lain menunjukkan bahwa akhlak yang mulia merupakan bagian asasi (mendasar) dari dakwah Rasulullah. Pada kenyataannya sejak awal aku memulai menuntut ilmu dan Allah memberi hidayah kepadaku tauhid yang murni, dan aku tahu kondisi kehidupan alam Islami yang jauh dari tuntunan tauhid, ketika itu aku memandang bahwa problem pada alam Islami hanyalah karena mereka jauh dari memahami hakekat makna ‘Laa ilaaha illallah’. Namun bersama dengan waktu, menjadi jelas bagiku bahwa di sana ada masalah lain di alam Islami ini, tambahan dari masalah asasi yang pertama yaitu jauhnya umat dari tauhid. Masalah lainnya adalah mayoritas umat tidak berakhlak dengan akhlak Islami yang benar, kecuali dalam jumlah yang terbatas.” [ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Wakil Ketua Komnas Perempuan, Budi Wahyuni  menilai poligami secara diam-diam merupakan kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan yang ditimbulkan, katanya, merupakan kekerasan secara fisik, psikologi, atau pun ekonomi. “Andaikan menyetujui poligami, istrinya itu ada keterpaksaan. Andaikata ada masalah, dia harusnya lebih memilih diperbaiki. Apalagi poligami diam-diam, itu kebohongan. Mau berdalih agama sekalipun, masak kebohongan dilanggengkan? Banyak penelitian, ini kekerasan perempuan. Apa pun alasannya itu kekerasan. Walau belum tentu kekerasan fisik, ini bisa kekerasan psikis,” ujarnya, Kamis (23/3/2017). Sebetulnya, kata dia, sudah ada di UU nomor 1 tahun 1974 yang termuat dalam prinsip poligami. “Sebetulnya harus ada sepengetahuan dari istri pertama, rata-rata kejadian karena tidak ada keterbukaan,” terang Budi. Poligami menurutnya diperbolehkan, dengan ketentuan khusus. Misalnya, sang istri tidak dapat menghasilkan keturunan atau tidak bisa ‘melayani’ suami. “Harus dengan berbagai alasan. Misal tidak dapat meneruskan keturunan atau tugas-tugas tertentu. Itu jelas fungsi di situ misal ke hubungan seks,” kata Budi. Ia mengatakan bahwa sang istri dapat menggugat cerai suami. Namun, ada konsekuensi yang diterima jika istri yang menggugat perceraian. “Dia bisa menyoal dulu, kalau memang tidak bisa menerima kondisi itu ya cerai. Kalau yang menggugat istrinya, ada persoalan santunan. Istri penggugat tidak mendapat santunan,” pungkasnya seperti dilansir Detik.   [ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Maksud dari pernyataan Prosiden Joko Widodo supaya memisahkan agama dari politik adalah jangan menggunakan agama sebagai alat untuk mencapai tujuan yang jahat dalam berpolitik. Pembelaan tersebut disampaikan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. “Hemat saya, Presiden ingin menegaskan bahwa tak boleh mencampuradukkan antara adanya yang buruk dari proses dan tujuan berpolitik dengan yang baik dari proses dan tujuan beragama,” terang Menag di Jakarta, dikutip dari laman kemenag.go.id, Senin (27/3). Dalam kunjungannya ke Barus Sumatera Utara, Presiden Joko Widodo memang berpesan agar rakyat Indonesia tidak mencampuradukkan antara politik dengan agama. Presiden menyadari, kata Lukman, betul realitas bangsa Indonesia yang religius, yang warganya selalu melandaskan diri dengan nilai-nilai agama dalam menjalani kehidupan kemasyarakatannya. Pernyataan Presiden itu juga diiringi dengan pesan bahwa perbedaan adalah anugerah Allah bagi Indonesia yang harus dijaga. Untuk itu, kata dia, Kepala Negara berharap para ulama terus menyebarkan Islam rahmatan lil alamin agar masyarakat Indonesia dapat memandang perbedaan sebagai kekuatan menjaga persatuan dan kesatuan. Presiden menurut Menteri Lukman justru mengingatkan semua untuk menjadikan agama sebagai sarana menjaga dan merawat keragaman karena hal itu adalah anugerah Allah. “Pernyataan beliau haruslah dilihat dari konteks dan perspektif di atas,” kata Menteri.   [ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Pengamat politik menyatakan, alasan beredarnya berita hoak yang kerap menyerang paslon nomor urut 3, Anies-Sandi menandakan adanya kepanikan lawan politiknya pada Pilgub DKI Jakarta 2017 putaran kedua ini. Pengamat politik dari Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, jelang pencoblosan Pilgub DKI Jakarta 2017 putaran kedua, paslon nomor urut tiga diminta waspada akan adanya serangan berita-berita hoax yang ditujukan padanya. Sebab, salah satu langkah lawan politiknya menggembosi elektabilitas Anies-Sandi itu bisa dengan cara black campaign. “Itu serangan hoax bisa dari berbagai pihak, khususnya lawan politik Anies-Sandi yang mau bunuh karakternya atau menggembosi elektabilitas yang sudah ada, targetnya disitu,” ujarnya seperti dikutip dari SINDOnews, Senin (27/3/2017). Namun, kata Pangi, serangan berita hoax yang dilakukan lawan politiknya itu belum tentu berhasil dalam menjatuhkan elektabilitas Anies-Sandi. Itu semua, bergantung pula pada kecepatan timses Anies-Sandi dalam mengklarifikasi isu-isu negatif yang ditujukan padanya.. “Pastinya, adanya serangan hoax itu menandakan adanya kepanikan dari kubu lawan Anies-Sandi,”, tuturnya.  [ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   by Asyari Usman (Mantan wartawan senior BBC) Presiden Joko Widodo (Pak Jokowi), ketika meresmikan titik nol Islam di Barus, Tapanuli Tengah, 24 Maret 2017, meminta agar urusan politik dipisahkan dari urusan agama. Beliau bukan orang pertama yang menganjurkan pemisahan ini. Sudah berkali-kali imbauan serupa diteriakkan oleh sekian orang pemimpin, namun belum juga bisa dilaksanakan. Mengapa belum bisa? Masalahnya sederhana saja. Selagi umat beragama, utamanya umat Islam, masih melaksanakan perintah sholat, zakat, puasa, ibadah haji, dan selagi pendidikan Islam diselenggaran oleh berbagai lembaga seperti pesantren dan madrasah, dll, maka sepanjang itu pula keinginan untuk memisahkan politik dan agama akan gagal terus. Dengan permintaan maaf lebih dulu kepada Pak Jokowi, saya ingin menduga-duga sistem kenegaraan bagaimana yang kemungkinan sanga beliau idamkan. Berdasarkan fakta yang ada, di dunia ini hanya ada dua sistem yang relatif bebas dari pengaruh elemen keagamaan, yaitu sekulerisme dan komunisme. Tidak ada sistem ketiga, dan tidak mungkin merekayasa sistem ketiga itu. Dengan begitu, road map untuk Pak Jokowi menuju sistem kenegaraan dan pemerintahan Indonesia yang bebas dari elemen keagamaan, sangat simpel. Yaitu, jadikan rakyat Indonesia ini atheist atau paksakan saja pemberlakuan paham komunis. Pilihan pertama: rakyat atheist. Kalau rakyat Indonesia sudah menjadi atheist, maka sampailah Pak Jokowi ke “surga dunia” yang beliau idam-idamkan. Parlemen Pak Jokowi tidak akan diisi oleh partai maupun politisi yang berbasis umat beragama. Indonesia akan berubah menjadi Prancis, Italia, Belgia, atau Belanda yang rakyatnya sekuler. Masjid kosong, tidak ada lagi gangguan suara azan. Hanya saja, sebelum sampai ke situ, Pak Jokowi dan think-tanknya mau tak mau harus bekerja keras untuk mengatheistkan rakyat Indonesia. Langkah-langkah awalnya lebih kurang seperti ini: gembok semua masjid yang ada di seluruh Indonesia dan keluarkan larangan pemberian nama muslim untuk semua bayi yang lahir. Tutup semua pesantren, sita semua mushaf al-Quran, tahan semua ulama, ustad serta guru agama, perbanyak sekolah-sekolah liberal, dan perkuat gerakan-gerekan semacam LGBT, dll. Itu pun belum tentu langsung rakyat akan menjadi atheist. Perlu puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun. Barulah nanti Pak Jokowi (semoga panjang umur) bisa duduk sebagai presiden tanpa harus membuka pidato dengan “assalamualaikum” atau “bismillahirrahmanirrahim”. Tidak perlu lagi mengucapkan “la haula wala quwwata illa billah”. Dan, tidak ada lagi jadwal kunjungan ke pesantren, bertemu para ulama, atau acara di Masjid Istiqlal (karena semua masjid digembok permanen). Tidak ada lagi FPI dan Habib Rizieq yang membuat Pak Jokowi repot. Tidak ada lagi Aksi 411 atau 212, dsb. Tidak ada lagi pasal-pasal penistaan agama. Barulah nanti acara atau rapat di Istana bisa menyajikan miras (teramasuk yang oplosan) dan tari-tarian eksotik. Pilihan yang kedua bagi Pak Jokowi ialah memaksakan sistem komunisme. Tindakan yang perlu dilakukan lebih kurang sama dengan langkah-langkah yang diambil untuk mengatheistkan rakyat seperti yang diuraikan diatas. Yaitu, agama Islam harus dilenyapkan dari bumi Indonesia. Tentunya banyak tempat untuk berkonsultasi tentang cara mengkomuniskan rakyat Indonesia. RRC atau Korea Utara tampaknya siap membantu. Terus, seperti apa kira-kira risiko yang bakal muncul kalau Pak Jokowi memutuskan untuk mengadopsi salah satu pilihan tadi? Untuk menguji risikonya, sangat mudah. Coba saja dulu digembok 10 masjid di setiap kabupaten/kota di Indonesia. Kemudian, coba dulu tutup 50 pesantren dan tahan 100 kiyai. Pasti akan bisa diukur seberapa ringan atau seberapa berat upaya untuk mengatheistkan atau mengkomuniskan rakyat Indonesia. Tadi disebutkan bahwa tidak ada jalan ketiga diantara atheisme dan komunisme. Lantas, bagaimanakah jalan keluar yang terbaik agar Pak Jokowi bisa menjadi presiden dengan kondisi rakyat tidak berubah, tetap seperti sekarang? Artinya, rakyat tidak diatheistkan atau dikomuniskan? Jawabannya: jalan keluar itu bisa ada, bisa juga mustahil ada. Kalau Pak Jokowi mau dan sanggup, buat saja program relokasi rakyat Indonesia yang beragama Islam ke kawasan lain, misalnya ke benua Antartika di dekat Kutub Selatan. Tentu biayanya sangat mahal karena Pak Jokowi harus menyiapkan permukiman yang tahan iklim dingin sepanjang tahun. Juga harus menyiapkan kawasan industri dan perkotaan serta sistem transportasi yang sesuai dengan cuaca minus 15 derajat. Meskipun pilihan ini berat, tetapi imbalannya sangat memuaskan. Artinya, dengan pemindahan warga muslim ke Antartika, Pak Jokowi menjadi tenang dan nyaman karena tidak ada lagi yang “ngerecoki” beliau di Indonesia. Pilihan lain yang lumayan ringan ialah, Pak Jokowi coba kumpulkan WNI yang tidak beragama, kemudian bawa mereka pindah ke tempat lain. Kalau mau ke Antartika juga, tentu bisa bermusyawarah dengan PBB. Pilihan ini pun sangat berat sebetulnya. Tetapi, tidak ada salahnya dicoba untuk memastikan bahwa sistem kenegaraan dan pemerintahan di Antartika itu nanti betul-betul bebas dari elemen keagamaan.*** (Penulis adalah mantan wartawan BBC. Bergabung dengan BBC London sejak Juli 1988. Artikel ini adalah opini pribadi penulis, tidak ada kaitannya dengan BBC)  [ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Saya tergetar melihat gambar ini. Mungkin ada gambar yang menurut kita tidak pas. Tapi justru kita sedang bangga mempraktekannya. Orang yang dianggap populis dan merakyat malah membudayakan feodalisme. Tapi orang yang dituduh keras ternyata lembut dan penuh cinta kepada rakyat yang dipimpinnya. Itulah Presiden Erdogan. Musuh-musuhnya mencap Diktator Otoriter dan sebutan buruk lainnya. Tapi lihatlah… ternyata Beliau lembut dan penuh cinta kepada rakyat yang dipimpinnya. Tak segan mencium tangan rakyatnya. Bukan minta rakyatnya mencium tangannya. Tak segan keluar dari mobil memberi hadiah, bukan melempar hadiah dari mobil bak melempar tulang pada binatang. Mari kita belajar kepemimpinan lagi. Kepemimpinan yang menjadikan Rakyat adalah Tuan. Sedang Pemimpin adalah Pelayan. Sebagai sabda Rasulullah SAW:

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Jagad Twitter dihebohkan dengan trending topic #BoikoitInulDaratista. Dari Ahad siang hingga malam (26/3/2017) tagar ini nangkring di posisi pertama trending topic Twitter Indonesia. Tagar ini muncul setelah Ratu Ngebor tersebut mengunggah di akun Instagram foto bersama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok disertai komentar yang dinilai menghina ulama. Inul menyebut para pembela ulama tersebut ‘sok alim’ dan ‘otaknya di dengkul’. “Aku seh gak lihat beliau (Ahok) nyalonin lagi. Aku cuma bayangin yang pake surban bisa mojok ama wanita sambil main sex skype itu piyee ceritane bisa jadi panutan ???,” demikian sepenggal komentar Inul. Sontak, komentar Inul mendapat respon dari para netizen. Inul pun berkali-kali meladeni komentar netizen. “Jangan karena kalian ingin ganti pemimpin terus segala cara digunakan sampai mau dibayar amplopan dan nasi kotak juga saling gontok-gontokan sesama Islam Muslim, arep jadi opoo,” tambahnya. Dalam komentarnya, Inul juga mengonfirmasi bahwa sebenarnya semua calon Gubernur DKI Jakarta diundang oleh Indosiar. Namun tampak hanya Ahok yang datang ke ajang dangdut tersebut. Ia juga tampak berdendang di panggung bersama pengisi acara lain. “Koq kalian sok alim sok suci, kalian lihat pimpinan kalian yang kemarin kena kasus tuh sama wanita apa kabarnya?? lihat juga pasangan yang kasus buku di Jerman..,” tambahnya. Kemudian gelombang protes terhadap sikap Inul ini merambah ke jagad Twitter. Akun Twitter @forjimindonesia menyesalkan komentar pendangdut tersebut. “Gak masalah Anda dukung siapa pun. Ya mbok jangan menghina ulama. Apakah ilmu Anda sudah melampaui ulama? #boikotinuldaratista,” tulis @forjimindonesia. Selain itu, banyak netizen juga menyerukan untuk memboikot acara-acara yang dibintangi Inul. Juga diserukan untuk memboikot beberapa produk bisnis yang dimiliki Inul seperti tempat karaoke Inul Vizta.  [ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Islam telah mengatur segalanya dengan sempurna, termasuk adab memuliakan tamu. Seoranng mualaf ini tersihir dengan ajaran Islam begitu sempurna. Wartawan cantik bernama Lauren Booth, ia pergi ke Gaza untuk meliput keadaan di Palestine. Setelah melalui berbagai pemeriksaan oleh pasukan Israel, sampai juga ia di sebuah perkampungan Palestina. Ia mengetuk pintu salah satu rumah warga setempat. Lalu pintu pun terbuka, seorang ibu keluar dengan wajah berseri-seri, “Assalamu’alaikum, tafaddhal (silahkan masuk),” ucap sang Ibu dengan penuh kehangatan. “Wajahnya berseri, matanya bersinar, dia mempersilahkan saya masuk ke rumahnya seperti mempersilahkan saya masuk ke istana Taj Mahal. Seakan-akan rumahnya adalah tempat terindah di dunia,” ucap Lauren yang antusias menceritakan. Lauren memperhatikan rumah sang ibu dengan seksama, Hanya dinding, atap, dan dua tikar terhampar. Satu tikar untuk tidur dan shalat, satu tikar untuk hidangan makanan. Tidak ada apa-apa selain itu. Lemari, kursi, apalagi televisi, tidak ada. Tapi ungkapan wajah dan bahasa tubuhnya seperti orang yang sangat berbahagia, Lauren tak habis pikir. Mereka pun duduk di tikar. Dan ibu tersebut menyodorkan makanan, yang hanya terdiri dari roti, bumbu, dan selada. Melihat ‘menu prihatin’ itu, Lauren berulang-ulang menolak tawaran makanan itu, bukan tidak suka, tapi bagaimana mungkin ia memakan makanan orang miskin? Yang makanannya pun sangat terbatas? Hanya makanan itulah yang ibu itu punya. Tapi ibu tersebut terus menyodorkan makanan. “Anda adalah tamu kami,” katanya. Akhirnya, untuk sekedar menghargai, dia memakan satu roti sembari mengajak makan bersama, “Mari makan bersama,” ucapnya. Akan tetapi sang Ibu menolak karena sedang puasa. Lauren merasa marah kepada ibu tersebut, “Sudah prihatin, ada makanan, akan tapi menahan makan,” Gerutunya kesal. “Saya marah kepada Islam, yang mengharuskan orang berlapar-lapar selama 30 hari. Saya marah kepada Qur’an, yang mewajibkan ibu ini menahan lapar dan dahaga, padahal mereka butuh makan-minum, dan makanan serta minuman itu ada,” Sambung Lauren kembali. “Saya mersa jengkel. Maka saya pun bertanya pada ibu itu, mengapa ibu puasa? untuk apa?,” tanya Lauren. “Kami berpuasa sebagai rasa syukur kami kepada Allah, karena bisa merasakan apa yang dialami saudara-saudara kami yang miskin,” jawab ibu dengan wajah yang begitu ramah. Mendengar jawaban itu, Lauren tak kuasa membendung air mata. “Ibu ini tak punya apa-apa di dunia. Dia masih bersyukur dan berbagi rasa dengan orang yang lebih malang darinya,” ungkap Lauren. Saat itu juga saya berkata dalam harti ”Jika ini Islam, Saya ingin jadi Muslim,”. Tahun 2010, Lauren muncul di saluran TV Islam dalam acara Global Peace and Unity, mengenakan busana Muslimah, dan berkata: “My name is Lauren Booth, and I am a Muslim”.  [ Sujanews.com ]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Sujanews.com  —   Bersama jajaran alumni Aksi Damai 212, Forum Umat Islam (FUI) akan menggelar aksi 313 pada Jumat (31/3). Hal itu dilakukan untuk meminta Presiden Jokowi memberhentikan pelaku penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). “Kita mulai sholat Jumat di Istiqlal, kemudian jalan ke Monas dan depan Istana,” kata Sekjen FUI, Muhammad Al-Khaththath, Senin (27/3/2017). Aksi Damai itu mendesak kembali Presiden Jokowi untuk memberhentikan Ahok. “Meminta kepada Presiden Jokowi agar sesuai Undang-undang memberhentikan terdakwa kasus penistaan agama, Basuki Tjajaha Purnama,” katanya. Peserta aksi ini, katanya, adalah organisasi peserta aksi bela Islam 2 Desember 2016 lalu. “Seluruh alumni 212 diajak, siapa tokohnya nanti diinformasikan kemudian,” katanya. Aksi tersebut, kata dia, akan berlangsung damai dan akan berhenti setelah diterima pihak Istana. “Pokoknya kita kalau sudah diterima oleh Istana ada pembicaraan yang baik ya kita pulang,” pungkasnya seperti dilansir Detik.   [ Sujanews.com ]

Kapolres Jakarta Selatan Mardiaz Kusin Dwihananto. (Yulida/detikcom) Jakarta – Polres Jakarta Selatan memanggil Ketua MUI Jagakarsa KH Sulaiman Rohimin pada Rabu (24/1/2018) besok. Sulaiman akan dimintai keterangan terkait kasus dugaan penghinaan. “Betul (KH Sulaiman Rohimin dipanggil),” kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Mardiaz Kusin Dwi Hananto saat dimintai konfirmasi, Selasa (23/1) malam. Mardiaz tak menjelaskan secara rinci mengenai kasus tersebut. Termasuk soal status KH Sulaiman dalam pemanggilan besok. “Penghinaan,” ujar Mardiaz. Secara terpisah, Wakil Ketua ACTA Novel Bamukmin membenarkan adanya pemanggilan tersebut. Menurutnya, pemanggilan itu terkait penyebaran meme salah satu ormas. “Kasus itu cuman share meme, salah satu ormas. kemudian ada yang laporin. Jadi besok diminta sebagai saksi, klarifikasi,” ujarnya. Novel juga menyebut sejumlah ormas akan mengawal pemanggilan Sulaiman besok. Pihaknya akan menjelaskan secara detail kasus tersebut setelah Sulaiman selesai dimintai keterangan. “Belum diungkap dulu, besok aja, kalau besok jelas dugaan, dugaan seperti itu. Belum jelas juga,” tuturnya. (knv/nvl) polres jaksel mui jagakarsa

Related Posts

Comments are closed.