Kartu Kuning Ketua BEM UI, Menristek: Kalau Bertemu Lebih Baik

Kartu Kuning Ketua BEM UI, Menristek: Kalau Bertemu Lebih Baik

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdkti) M Nasir menilai aksi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) Zaadit Taqwa yang mengacungkan map kuning dan meniupkan peluit ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) hal yang wajar. Namun, Nasir menyarankan agar protes dilakukan dengan cara yang lebih baik. “Saya malah nggak lihat apa-apa. Tapi bagi saya itu hal yang biasa ya. Biasa saja artinya, sesuatu yang tidak perlu direspons berlebihan,” kata Nasir saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/2/2018). [Gambas:Video 20detik] Namun, kata Nasir, jika ada kritik dari mahasiswa, sebaiknya dilakukan secara tatap muka. Sehingga apa yang ingin disampaikan bisa langsung dipahami. “Tapi bagi saya pribadi, masuk, kalau bertemu lebih enak. Apa sih yang dimaksud dia, gitu. Jadi kita bisa memperbaiki untuk di kementerian. Kalau saya loh,” katanya. “Tapi secara keseluruhan nggak ada masalah,” tambahnya. Nasir mengaku selalu menemui mahasiswa jika ada persoalan. Hal ini yang membuat dirinya merasa tidak pernah didemo oleh mahasiswa. “Nah, langsung saja. Saya nggak pernah mahasiswa demo kepada saya. Pasti saya ketemuin, apa maunya, diskusi. Oh yuk kapan. Kalau memang itu penting perlu saya selesaikan, segera lakukan,” katanya. Nasir pun mengaku terkejut dengan aksi Zaadit tersebut. Namun sekali lagi, Nasir menegaskan apa yang dilakukan Zaadit adalah hal yang biasa. “Saya terkejut juga. Tapi bagi saya, hal itu hal yang biasa. Tapi dengan cara yang baik, lebih bagus,” katanya. [Gambas:Video 20detik] Sementara itu, terkait dengan kebebasan berorganisasi mahasiswa, Nasir menuturkan hal itu tidak boleh dilarang. Nasir menegaskan pihaknya tidak pernah mengeluarkan larangan terhadap mahasiswa untuk berorganisasi. “Nggak ada loh. Sangat demokratis. Saya tidak pernah (mengeluarkan) peraturan begitu. Kalau saya peraturan mau keluar itu, mesti saya serahkan dulu, kira-kira bagaimana responsnya. Hearing kalau saya. Kalau memang ada penolakan, nggak cuma peraturan yang satu, peraturan yang lain juga, oh sudah perbaiki dulu apa yang harus dilakukan. Gitu,” katanya. Nasir pun menganggap mahasiswa adalah rekan kerja yang harus selalu didengarkan aspirasinya. “Mahasiswa harus berkembang. Kalau saya, bahasa kritis harus, dan kita jadikan sparing partner. Dengan begitu, akan menjadi lebih baik,” katanya.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdkti) M Nasir menilai aksi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) Zaadit Taqwa yang mengacungkan map kuning dan meniupkan peluit ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) hal yang wajar. Namun, Nasir menyarankan agar protes dilakukan dengan cara yang lebih baik. “Saya malah nggak lihat apa-apa. Tapi bagi saya itu hal yang biasa ya. Biasa saja artinya, sesuatu yang tidak perlu direspons berlebihan,” kata Nasir saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/2/2018). [Gambas:Video 20detik] Namun, kata Nasir, jika ada kritik dari mahasiswa, sebaiknya dilakukan secara tatap muka. Sehingga apa yang ingin disampaikan bisa langsung dipahami. “Tapi bagi saya pribadi, masuk, kalau bertemu lebih enak. Apa sih yang dimaksud dia, gitu. Jadi kita bisa memperbaiki untuk di kementerian. Kalau saya loh,” katanya. “Tapi secara keseluruhan nggak ada masalah,” tambahnya. Nasir mengaku selalu menemui mahasiswa jika ada persoalan. Hal ini yang membuat dirinya merasa tidak pernah didemo oleh mahasiswa. “Nah, langsung saja. Saya nggak pernah mahasiswa demo kepada saya. Pasti saya ketemuin, apa maunya, diskusi. Oh yuk kapan. Kalau memang itu penting perlu saya selesaikan, segera lakukan,” katanya. Nasir pun mengaku terkejut dengan aksi Zaadit tersebut. Namun sekali lagi, Nasir menegaskan apa yang dilakukan Zaadit adalah hal yang biasa. “Saya terkejut juga. Tapi bagi saya, hal itu hal yang biasa. Tapi dengan cara yang baik, lebih bagus,” katanya. [Gambas:Video 20detik] Sementara itu, terkait dengan kebebasan berorganisasi mahasiswa, Nasir menuturkan hal itu tidak boleh dilarang. Nasir menegaskan pihaknya tidak pernah mengeluarkan larangan terhadap mahasiswa untuk berorganisasi. “Nggak ada loh. Sangat demokratis. Saya tidak pernah (mengeluarkan) peraturan begitu. Kalau saya peraturan mau keluar itu, mesti saya serahkan dulu, kira-kira bagaimana responsnya. Hearing kalau saya. Kalau memang ada penolakan, nggak cuma peraturan yang satu, peraturan yang lain juga, oh sudah perbaiki dulu apa yang harus dilakukan. Gitu,” katanya. Nasir pun menganggap mahasiswa adalah rekan kerja yang harus selalu didengarkan aspirasinya. “Mahasiswa harus berkembang. Kalau saya, bahasa kritis harus, dan kita jadikan sparing partner. Dengan begitu, akan menjadi lebih baik,” katanya.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menuliskan sajak peluit kartu kuning. Sajak ini dituliskan atas aksi kartu kuning Ketua BEM UI Zaadit Taqwa terhadap Presiden Joko Widodo. Dalam sajaknya, Fadli menyoroti ketimpangan ekonomi di era pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla. Ia juga menyinggung aksi Zaadit yang mengacungkan kartu kuning kepada Jokowi saat Dies Natalis ke-68 UI hari Jumat (2/2) lalu. Zaadit juga sempat meniupkan peluit dalam aksinya. Berikut karya sastra Fadli yang berjudul ‘Sajak Peluit Kartu Kuning’: SAJAK PELUIT KARTU KUNING untuk Zaadit Taqwa seperti mulut tersumpal kain kau tak bisa bersuara tak ada kata terdengar tak ada kalimat tersiar apalagi pidato berkobar kemana gerangan mahasiswa penggerak zaman di era kematian logika ketika dagelan jadi pemeran utama rakyat makin menderita biaya hidup menggila listrik bensin gas sembako melonjak naik Harga diri terus tercabik utang meroket juara busung lapar headline berita nyawa melayang banting harga kau seolah menutup mata tiada suara rintihan tiada sayup-sayup desahan apalagi orasi perjuangan kemana gerangan mahasiswa penggerak zaman tiba-tiba kau tiup peluit nyaring tanganmu mengacung kartu kuning Balairung UI memecah sunyi bergaung sampai ke pojok-pojok negeri mengabarkan peringatan tumpukan pelanggaran tanpa kata-kata dan basa basi kini kutahu dimana kau berdiri Fadli Zon, 4 Februari 2018

Depok – Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati hari ini mengisi kuliah perdana untuk mata kuliah Pengantar Teori Ekonomi Makro di Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia. Di sela penjelasan mata kuliah Sri Mulyani menyindir soal kartu kuning yang diberikan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI Zaadit Taqwa pada acara Dies Natalis ke 68 UI pada Jumat lalu. “Jadi mahasiswa UI yang mau kasih kartu kuning atau demo, harus sudah dapat kuliah Pengantar Teori Ekonomi Makro,” kata Sri Mulyani di Auditorium FEB UI, Depok, Senin (5/2/2018). Menurut Sri Mulyani jika mahasiswa tersebut sudah mendapatkan kuliah ekonomi makro dapat mengetahui soal kondisi ekonomi. “Kalau sudah dapat pengantar makro ekonomi baru demo ya. Kalau belum terus demonya salah itu malu-maluin, jangan bilang pernah diajar saya,” imbuh Sri Mulyani. Aksi ‘kartu kuning’ ini dilakukan setelah Jokowi menyampaikan orasi ilmiahnya pada acara Dies Natalis ke-68 UI di Balairung, Depok, Jabar, Jumat (2/2). Zaadit langsung dihalau Paspampres yang berada di lokasi. (eds/eds)

“Ini patut kita syukuri. Coba kita lihat, kita kalahkan India dan Tiongkok, RRC, Turki, Korsel, Meksiko, Jerman, Uni Eropa, Amerika, Arab Saudi, Jepang, semuanya di bawah kita jauh. Ini yang sering kita tidak menyadari, nggak mensyukuri,” kata Jokowi saat memberikan sambutannya di Ponpes Minhaajurrosyidiin, Jakarta Timur, Senin (8/8). Sedangkan pada kuartal kedua 2017, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga disebutnya mencapai 5,01persen. Sementara, angka inflasi pun, menurutnya, juga dapat ditekan. Jokowi kemudian menjelaskan alasan pemerintah fokus menyelesaikan pembangunan infrastruktur terlebih dahulu. Menurut dia, pembangunan infrastruktur merupakan hal dasar yang harus dilakukan untuk bersaing dengan negara-negara lain. Ia berjanji, pembangunan di daerah perbatasan, pelabuhan besar, jalan tol, dan lain-lain akan segera diselesaikannya. Dengan demikian, diharapkan dapat menekan ongkos distribusi barang serta menurunkan harga bahan pokok di seluruh daerah. Usai menyelesaikan pembangunan infrastruktur, pemerintah fokus untuk membangun sumber daya manusia (SDM). Jokowi mengatakan, SDM Indonesia harus disiapkan dengan baik sehingga memilikietos kerja dalam mengelola infrastruktur. “Tanpa itu, negara ini tidak akan jadi sebuah negara kuat,” tambahnya. Ia pun mengusulkan, agar sekolah kejuruan juga menyediakan jurusan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Misalnya saja, ia menyebutkan, diperlukannya jurusan-jurusan seperti jurusan pembangunan SDM, jurusan manajemen ritel, jurusan manajemen logistik, dan lain-lain. “Saya selalu menyampaikan kepada Menristek, rektor kalau saya ketemu, jangan juga kita terpaku pada jurusannya apa jurusan ekonomi, hukum, sospol, kenapa tidak membangun jurusan yang dibutuhkan sekarang ini,” ujar Jokowi. Tak hanya itu, menurut Jokowi, pendidikan karakter serta ilmu agama juga harus diberikan dalam pembangunan SDM. Pendidikan karakter ini, lanjutnya, dapat diajarkan melalui berbagai sekolah termasuk pondok pesantren. “Ilmu tanpa iman dan taqwa juga percuma, nggak ada artinya,” tandas dia.

INILAHCOM, Jakarta – Aksi ‘Kartu kuning’ mahasiswa Universitas Indonesia (UI) kepada Presiden Joko Widodo memberi banyak arti. Aksi ini seolah menjadi penanda masih ada gerakan mahasiswa di Indonesia. Inikah embrio gerakan mahasiswa di 2018 ini? Aksi ‘Kartu Kuning’ yang dilakukan Ketua BEM UI Zaadit Taqwa dalam acara Dies Natalis ke-68 UI, Jumat (2/2/2018) sebenarnya biasa saja. Aksi dilakukan oleh seorang mahasiswa dengan mengacungkan map berwara kuning saat Presiden Jokowi usai menyampaikan orasinya. Menjadi luar biasa karena simbol kartu kuning yang lekat dengan kesalahan pemain bola yang diberikan oleh wasit serta aksi semacam itu yang nyaris tak pernah muncul selama Jokowi menjadi Presiden. Akibat aksi ‘Kartu Kuning’ mahasiswa UI itu pula yang menjadi penyebab jadwal pertemuan Presiden Jokowi dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI batal digelar. “Sudah ada agenda Presiden ketemu BEM UI selepas acara. Tapi acara itu batal karena aksi tersebut,” ujar Jubir Presiden Johan Budi, di Jakarta, Jumat (2/2/2018). Aksi kartu kuning tersebut memiliki simbol tuntutan mahasiswa kepada Presiden. Menurut Zaadit, setidaknya ada tiga tuntutan mahasiswa terhadap pemerintahan Jokowi yakni pertama penuntasan kasus gizi buruk di Asmat Papua, kedua, penolakan penunjukan polisi menjadi pejabat Gubernur. “Kita tidak ingin kembali ke Orde Baru,” cetus Zaadit. Sedangkan tuntutan ketiga mahasiswa menyoal peraturan Menteri Ristek dan Dikti soal Organisasi Mahasiswa yang dinilai akan mengancam kebebasan berorganisasi di lingkungan kampus. Peraturan tersebut hingga saat ini masih berbentuk rancangan permen. Tiga tuntutan tersebut memang belakangan menjadi perhatian publik. Seperti persoalan gizi buruk yang terjadi Asmat, Papua, yang telah menewaskan sedikitnya 64 anak-anak di Papua selama empat bulan terakhir. Setelah menjadi perhatian media massa, pemerintah akhirnya turun tangan menangani tragedi yang memprihatinkan tersebut. Selain itu, niat pemerintah yang akan menempatkan polisi aktif menjadi pejabat gubernur juga menjadi isu yang menyita perhatian publik dalam sepekan lalu. Mayoritas publik menolak. Belakangan, usulan tersebut mengendur setelah protes yang muncul dari berbagai pihak, termasuk partai koalisi. Aksi kartu kuning dari civitas akademika “yellow jacket” ini seolah menjadi penanda masih adanya gerakan mahasiswa di Indonesia. Mahasiswa yang banyak disebut sebagai agen perubahan, dalam beberapa tahun terakhir tampak absen terkait isu-isu publik. Bila pun muncul aksi dari mahasiswa, namun tak mampu mengubah kebijakan yang dilakukan pemerintah. Momentum ‘kartu kuning’ mahasiswa UI ini bisa saja memancing gerakan mahasiswa menjelang peringatan 20 tahun reformasi 1998 pada Mei mendatang. Meski terlalu sumir bila menyebut, aksi “Kartu Kuning” ini menjadi embrio gerakan mahasiswa di era Jokowi ini, tapi setidaknya, aksi yang muncul dari UI ini seperti memutar kembali sejarah, gerakan mahasiswa itu kerap muncul dari UI. Pesan penting lainnya, bahwa mahasiswa tidak sedang tidur sebagai agen perubahan.

Related Posts

Comments are closed.