Kapitra Ampera: Sudah Saatnya Habib Rizieq Pulang

Kapitra Ampera: Sudah Saatnya Habib Rizieq Pulang

Jika sebelumnya Kapitra Ampera menyarankan Habib Rizieq Syihab untuk tetap bertahan di Arab Saudi, kali ini si pengacara mengajak kliennya itu untuk pulang. Kapitra meyakini sekarang sudah saatnya Habib Rizieq kembali ke tanah air. “Saya ajak Habib Rizieq untuk pulang ke Indonesia. Sudah waktunya, beliau harus kembali,” ujar Kapitra dalam perbincangan, Kamis (1/3/2018) malam. Dalam kesempatan sebelum-sebelumnya, Kapitra selalu menyarankan Habib Rizieq untuk bertahan dulu di Arab Saudi demi terciptanya suasana yang kondusif. Saat ramai-ramai kabar Habib Rizieq akan pulang pada 21 Februari lalu, Kapitra tegas menyarankan Rizieq untuk tak kembali dulu. Namun kali ini Kapitra berkeyakinan sudah saatnya bagi Habib Rizieq untuk pulang. Foto: Pengacara Habib Rizieq Syihab, Kapitra Ampera (Amel-detikcom) “Sudah waktunya Habib Rizieq pulang. Karena sudah waktunya membangun bangsa Indonesia bersama, mengurai kesalahpahaman, menjaga NKRI agar tidak terjadi lagi polarisasi. Jadi tidak hanya berpikir mengenai politik tapi juga pendidikan dan ekonomi,” ujar Kapitra. Kapitra mengatakan kepulangan Ketua Dewan Pembina GNPF MUI itu nantinya jangan dipersepsikan akan membuat situasi tak kondusif. Sebagaimana diketahui, penyidik Polda Metro Jaya juga memerlukan kehadiran Habib Rizieq untuk diperiksa sebagai tersangka dalam kasus chat porno. Habib Rizieq berulang kali membantah terlibat kasus itu dan menyatakan perkara itu merupakan kriminalisasi. “Pulang bukan untuk perang tapi untuk konsolidasi, untuk menyatukan bangsa ini ke depan. Umara dan ulama harus bersatu meskipun ada perbedaan pandangan. Jangan sampai ada perpecahan. Karena Indonesia itu satu dan dibangun oleh satu kesatuan,” ujar Kapitra. Lalu apa alasan Kapitra kini menyarankan Habib Rizieq pulang? Dia tidak mau berbicara gamblang. Dia juga menepis anggapan adanya pertemuan Habib Rizieq dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang berada di Makkah untuk umrah sejak Senin (26/2) lalu. “Belum ada informasi ke saya mengenai ada tidaknya pertemuan antara Habib Rizieq dengan Kapolri itu,” tutur Kapitra.

Baca juga :

Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan Undang-undang yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan segala permasalahan yang terkait dengan perkawinan atau nikah, talak, cerai dan rujuk, yang ditanda tangani pengesahannya pada tanggal 2 Januari 1974 oleh Presiden Soeharto, agar Undang-undang perkawinan dapat dilaksanakan dengan seksama, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 9 Tahun 1975. Undang-undang ini merupakan hasil usaha untuk menciptakan hukum nasional dan merupakan hasil unifikasi hukum yang menghormati adanya variasi berdasarkan agama. Unifikasi hukum ini bertujuan untuk melengkapi segala yang hukumnya diatur dalam agama tersebut.[2] Pengertian perkawinan menurut undang-undang ini adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami-istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.[3]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat difahami bahwa dalam tata hukum nasional-Indonesia, UU No. 1/1974 dan Inpres No. 1/1991 merupakan peraturan yang memuat nilai-nilai hukum Islam, bahkan KHI merupakan fiqh Indo­nesia yang sepenuhnya memuat materi hukum keperdataan Islam (perkawinan, kewarisan dan perwakafan), dalamperkembangan hukum perbedaan agama dan keluarga Islam kontemporer mengalami banyak perkembangan pemikiran, antara lain dalam dibolehkannya perkawinan beda agama, bolehnya ahli waris yang beda agama mendapatkan harta warisan dan lain sebagainya, pada makalah ini penulis hanya memfokuskan pada permasalahan perkawinan beda agama agar dapat dikaji lebih mendalam.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Sebelum diundangkannya Undang-undang Perkawin­an Nomor 1 Tahun 1974, di Indonesia pernah berlaku peraturan hukum antar golongan tentang pernikahan campur­an, yaitu Regeling op de Gemengde Huwehjken (GHR) atau peraturan tentang perkawinan campuran sebagaimana di muat dalam Staatblad 1898 Nomor 158.[4] Pasal 1 dari peraturan tentang perkawinan campur (GHR) itu dinyatakan bahwa yang dinamakan perkawinan campuran ialah perkawinan antara orang-orang di Indonesia yang tunduk kepada hukum yang berlainan. Terhadap pasal ini ada tiga pandangan dari para ahli hukum mengenai perkawinan antara agama, sebagaimana diungkapkan oleh Sudargo Gautama sebagai berikut ;

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya kepercayaan itu,” dan pasal-8 huruf (f): “Perkawinan dilarang antara dua orang yang mempunyai hubungan yat oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarat kawin”. Kedua , berpendapat bahwa perkawinan antaragama adalah sah dan dapat dilangsungkan karena telah tercakup dalam perkawinan campuran, sebagaimana termaktub dalam pasal 57 undang-undang ini dan pelaksanaannya dilakukan menurut tatacara yang diatur oleh pasal 6 GHR dengan merujuk pasal 66 UU No. 1/1974. Sedang yang ketiga, berpendapat bahwa perkawinan antara agama sama sekali tidak diatur dalam UU No. 1/1974, oleh karenanya sesuai dengan pasal 66 UU No. 1/1974, maka peraturan-peraturan lama dapat diberlakukan.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Terhadap ketiga pandangan tersebut di atas, menurut pemahaman penulis bahwa tidak diaturnya perkawinan antar agama secara tegas dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974, karena perkawinan itu memang tidak dikehendaki pelaksanaannya. Hal ini mengacu pasal 2 ayat (1) menentukan sah atau tidaknya perkawinan. Jadi bila pasal 66 UU No. 1/1974 yang merujuk pasal 2 dan 7 ayat (2) GHR dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan hukum materil adalah terlalu dipaksakan, karena mengingat lembaga perkawinan antar agama di Indonesia kurang dikehendaki, sehingga tidak diperlukan adanya pemenuhan hukum materiel. Sedangkan terhadap pendapat yang cenderung membuka kemungkinan dipaksakannya perkawinan berbeda agama berdasarkan pasal 57 UU No. 1/1974 “…perkawinan antara dua orang di Indonesia tunduk pada hukum yang berbeda…”, tentunya Pasal tersebut tidak dipahami secara parsial dan seharusnya antara pasal-pasal dalam bab itu dipahami secara menyeluruh dalam satu kesatuan dengan konteks perbedaan kewarganegaraan. Dengan demikian menurut pemahaman penulis bahwa ketentuan boleh tidaknya perkawinan di Indonesia harus dikembalikan kepada hukum agama. Artinya bila hukum agama menyatakan boleh maka boleh pula menurut hukum negara, demikian sebaliknya.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Adalah suatu realita bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, golongan, ras dan agama serta kaya akan budaya. Hetroginitas masyarakat Indonesia itu sangat memungkinkan terjadinya perkawinan antar suku, antar­ golongan bahkan antar agama. Namun hal yang terakhir ini bagi masyarakat Indonesia merupakan hal yang sangat peka, bahkan pada tahun delapan puluhan sebagaimana dikutip oleh Nasruddin Baidan dari majalah “tempo “ sangat merisaukan sebagian umat muslim di Indonesia.[6] Persoalan sosial yang kompleks tersebut tentunya harus (didekati melalui berbagai disiplin ilmu, sehingga persoalan-­persoalan tersebut bisa terjawab dengan benar dan jelas serta memberi kepuasan kepada masyarakat, khususnya mengenai pembahasan di atas.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Pembahasan tentang perkawinan, khususnya menge­nai pernikahan antara muslim dengan non-muslim dalam perspektif hukum Islam, tentunya berangkat dari pene­lusuran terhadap sumber pokok ajaran Islam (al-Qur’an dan al-Hadits) serta mencermati perkembangan hukum Islam tentang hal tersebut. Untuk mempersingkat pembahasan dalam makalah ini maka paling tidak, ada dua golongan yang disebutkan dalam al-Qur’an, yaitu golongan musyrik dan golongan ahli kitab yang sekaligus menjadi dasar hukum pernikahan antara muslim dengan mereka. Namun yang menjadi persoalan adalah siapakah musyrikin dan siapakah ahli kitab? Tampaknya para ulama sangat bervariasi dan tidak ada kata sepakat ( ijma’ ) dalam menetapkan kedua istilah tersebut Ada yang memasukkan istilah ahli kitab ke dalam kategori musyrik, dan ada pula yang membedakan keduanya secara tegas. Ibn Umar misalnya, ia menganut yang pertama, sebagaimana ditegaskan: “Saya tidak melihat syirik yang lebih berat dari perkataan wanita itu bahwa tuhannya Isa”.[7]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Sedangkan seperti Syaikh Mahmud Syaltut, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan yang sependapat dengan mereka membedakan dengan jelas antara musyrik dengan ahli kitab.[8] Qatadah, seorang mufassir dari kalangan tabi’in , sebagaimana dikutip oleh Rasyid Ridha, berpendapat bahwa yang dimaksud musyrik dalam ayat 221 surah al-Baqarah adalah penyembahan berhala pada saat al-Qur’an turun. karena itu ayat tersebut tidak tegas melarang menikahi dengan orang musyrik selain bangsa Arab, seperti Cina (Konghucu, Budha, dan lain-lain). [9] Lebih tegas lagi, Rasyid Ridha dengan mendasarkan pada ayat 24 surah Fatir, ayat 7 surah al-Ra’d, ayat 16 surah al-Hadid dan 78 surah al-Mukmin, ia menganggap bahwa Majusi (penyembahan api ) Shabi’in (penyembahan bintang) sebenarnya mereka dulunya mempunyai kitab dan nabi, namun karena masanya sudah terlalu lama dan jarak yang terlalu jauh dengan nabi maka kitab yang asli tidak dapat diketahui. [10] Pendapat inilah yang dijadikan ketentuan oleh negara Pakistan. Di samping itu, ada pendapat lain dari ulama Syafi’iyah yang menegaskan bahwa yang dimaksud ahli kitab yang halal dinikahi adalah mereka yang memeluk agama nenek­ moyangnya sebelum Nabi Muhammad diutus dan setelah itu tidak dapat dikatakan lagi ahli kitab.[11]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Sementara itu, Yusuf al-Qaradhawi membaginya menjadi lima kategori, yaitu: musyrik, mulhid, murtad, baha`i dan ahli kitab . Golongan pertama dan kedua yang disebut al‑Jaziri adalah termasuk musyrik, sedang mulhid, murtad dan bahai oleh Yusuf al-Qaradhawi digolongkan musyrik. Dalam hal larangan pernikahan antara orang muslim dengan musyrik para ulama sepakat tentang keharamannya, hal ini memang secara tegas dinyatakan dalam al-Qur’an. Namun dalam hal pernikahan antara seorang pria muslim dengan wanita ahli kitab, dengan pernikahan seorang wanita muslimah dengan pria ahli kitab.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Ibrahim Hosen mengelompokkan pendapat para ulama’ mengenai pernikahan tersebut, dalam tiga kelompok, yakni ada yang menghalalkan, ada yang mengharamkan dan ada yang menyatakan halal tetapi siyasah tidak menghendaki.[13] Pertama, adalah kelompok yang membolehkan nikah antara pria muslim dengan wanita al-Kitab, yakni pendapat jumhur ulama (mayoritas ulama). Mereka mendasarkan pendapatnya pada dalil al-Qur’an surah al-Maidah ayat 5 yang didukung dengan praktik (sejarah). Pada zaman nabi ada beberapa sahabat yang melakukannya.[14]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Kedua, adalah kelompok yang mengharamkan dari kalangan sahabat yaitu ibnu Umar, dan pendapat ini diikuti oleh kalangan Syi’ah Imamiyah. Apapun dasar dari pendapat ini adalah pemahaman terhadap Qur’an surat al-Baqarah ayat 221 (Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman…) dan firman Allah dalam surah Muhammad ayat 101 (… dan Janganlah kamu tetap berpegangan pada tali (perkawinan) dengan perempuan kafir … ) . Adapun praktik sahabat menurut pendapat ini adalah karena waktu itu Islam baru sedikit.[15]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Ketiga, golongan yang berpendirian bahwa perempuan ahli kitab sah hukumnya, tetapi siyasah tidak menghendakinya. Pendapat ini di dasarkan pada riwayat Umar ibn Khaththab memerintahkan kepada para sahabat yang beristri ahli kitab; Ketika Umar meminta kepada para sahabat yang beristri ahli kitab untuk menceraikannya, lalu para sahabat mematuhinya kecuali Huzaifah. Maka Umar memerintahkan kedua kalinya kepada Huzaifah “ceraikanlah ia” lalu Huzaifah berkata kepada Umar “Maukah menjadi saksi bahwa menikahi perempuan ahli kitab itu adalah haram?” Umar menjawab “ia akan menjadi fitnah, ceraikanlah”, kemudian Huzaifah mengulangi permintaan tersebut, namun jawab Umar “ia adalah fitnah”. Akhirnya Huzaifah berkata; sungguhnya aku tahu ia adalah fitnah tetapi ia halal bagiku. Dan setelah Huzaifah meninggalkan Umar, barulah ia mentalaq istrinya. Kemudian ada sahabat yang bertanya kepadanya “mengapa tidak engkau talaq istrimu ketika diperintah Umar?” Jawab Huzaifah “karena aku tidak ingin, diketahui orang bahwa aku melakukan hal-hal yang tidak layak”.[16]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Dalam hal ini, al-Jaziri berpendapat bahwa hukum per­kawinan antara muslim dengan ahli kitab hukumnya mubah , akan tetapi menjadi persoalan bagi suami (muslim) terlebih setelah punya anak. Sebab kemudahan itu tidak bersifat mutlaq , namun muqayyad .[17] Lebih tegas lagi, Saiyid Sabiq berpendapat bahwa hukum antara laki-laki mukmin dengan perempuan kitabiyah , meskipun jaiz tetapi makruh karena (menurut) suami tersebut tidak terjamin bebas dari fitnah istri. Terlebih dengan kitabiyah harbiyah .[18] Demikian juga dengan Yusuf al-Qaradhawi berpendapat bahwa kebolehan nikah dengan wanita kitabiyah tidak mutlaq , tetapi terikat dengan qayid‑qayid yang perlu diperhatikan, yaitu:

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Jika mayoritas ulama membolehkan pria muslim menikahi wanita ahli kitab, maka dalam kasus wanita muslimah dinikahi oleh para pria ahli kitab dan umumnya non muslim, mereka sepakat mengharamkannya. Di dalam ayat 5 al Maidah di atas (menurutnya), Allah hanya menegaskan “ makananmu halal-bagi mereka ” dan tidak ditegaskannya wanita-wanita mu halal bagi mereka. Penegasan teks tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh al-Shabuni, dapat dijadikan indikator bahwa hukum kedua kasus itu tidak sama, artinya dalam makanan mereka boleh saling memberi dan menerima serta masing-masing boleh menekan dari keduanya. Namun dalam kasus menikahi wanita-wanita muslimah dengan non muslim lebih urgen ketimbang dengan masalah “makan” serta memberikan dampak yang lebih luas, sehingga tidak ada hubungan antara keduanya.[21]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Usaha tersebut telah menghasilkan keputusan yang disebut Kompilasi Hukum Islam yang kemudian ditetapkan dengan Inpres No. 1/1991, di antara pasalnya tersebut terdapat suatu rumusan yang menetapkan perkawinan seorang pria Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan wanita yang tidak beragama Islam (pasal 40 huruf c), dengan demikian Kompilasi Hukum Islam khususnya dalam pasal tersebut telah menghilangkan wacana perbedaan pendapat dalam masalah tersebut yang sekaligus akan dapat menjaga aqidah agamanya serta mewujudkan kemaslahatan umat. Adapun posisi pemerintah (Inpres) untuk menghilang­kan perbedaan dan menjaga kemaslahatan ini adalah merupakan hak yang melekat padanya sehingga mempuyai kewenangan karena berdasarkan kaidah fiqh yang menyatakan;

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Adapun larangan perkawinan beda agama ini adalah semata-mata untuk menjaga keutuhan kebahagiaan rumah tangga dan ‘aqidah keberagamannya hal ini sebagaimana kaidah fiqh yang menyebutkan; “ sesuatu yang diharamkan karena saddu dzariah dapat dibolehkan karena ada maslahat yang lebih kuat. “[24] Dengan beberapa uraian kaidah fiqh di atas maka Presiden selaku Kepala Negara adalah dibenarkan jika menetapkan sesuatu yang tadinya menjadi polemik di masyarakat dengan mengambil salah satu pendapat karena adanya alasan sad al-dzari’ah [25] dan kemaslahatan umat.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Mengenai pengaturan hukum “Perkawinan Campuran” (khususnya perkawinan antar pemeluk agama yang berbeda) dalam Negara Republik Indonesia berdasar Pancasila ada perbedaan pendapat di kalangan para pakar hukum di Indonesia. Sekurang-kurangnya ada tiga pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa Negara Republik Indonesia berdasar Pancasila menghormati agama-agama dan mendudukkan hukum agama dalam kedudukan fundamental. Dalam negara berdasar Pancasila tidak boleh agama-agama yang ada di Indonesia melarang perkawinan antar pemeluk agama yang berbeda. Pendapat ini menyatakan bahwa UU Perkawinan tidak mengatur perkawinan (campuran) antar agama”. Tiap agama telah ada ketentuan tersendiri yang melarang perkawinan antar atama. Kecuali adanya perubahan pemahaman dan para­digma dalam pemahaman agama, M. Daud Ali menyatakan :

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Berdasarkan penjelasan di atas, maka larangan pemerintah ini muncul karena dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menciptakan “ sakinah , mawaddah dan rahmah ” dalam keluarga yang merupakan tujuan pernikahan, dan hal ini sesuai sekali dengan isi pasal tiga Kompilasi Hukum Islam. Dan yang jelasnya adalah, bahwa pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan demikian, pasangan yang beda agama mungkin dapat memperoleh sakinah dan mawaddah dalam rumah tanggganya, akan tetapi rahmat Allah itu yang tidak akan di dapatkan.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Dalam banyak kasus di masyarakat masih muncul resistensi yang begitu besar terhadap kawin beda agama. Umumnya, dalam persoalan halal dan haramnya kawin antar umat beragama, banyak ulama berpegang pada ayat-ayat al-Qur’an seperti ; “ janganlah kamu menikah dengan perempuan-perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Perempuan budak yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik, sekalipun ia menarik hatimu. Juga janganlah menikahkan (perempuanmu) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman. Seorang laki-laki budak beriman lebih baik daripada seorang laki-laki musyrik sekalipun ia menarik hatimu. Mereka (kaum musyrik akan membawa ke dalam api (nereka)…, ” (QS. 2: 221). Dan “ hai orang-orang beriman! Jika perempuan-perempuan beriman datang berhijrah kepadamu, ujilah mereka, Allah mengetahui keimanan mereka; bila suda, kamu, pastikan mereka perempuan-perempuan beiriman, janganlah kembalikan mereka kepada kaum kafir; mereka (kaum mukmin wanita) tidak halal (sebagai istri) bagi mereka (kaum kafir), dan mereka (kaum kafir) pun tidak halal (sebagai suami) bagi mereka (kaum mukmin wanita). Dan berikanlah kepada mereka (kaum kafir) apa (maskawin) yang telah mereka bayar. Kemudian, tiada salah kamu menikah dengan mereka (kaum mukmin wanita), asal-kamu bayar maskawin mereka. Dan janganlah kamu berpegang kepada tali perkawinan dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta maskawin yang telah kamu bayarkan, dan biarlah mereka(orang-orang kafir) meminta apa yang telah mereka bayarkan (maskawin dari perempuan yang datang kepadamu). Itulah ketentuan Allah; Ia memberi­kan keputusan yang adil antara kamu. Dan Allah Maha Tahu, Maha Bijaksana, “(QS. 60: 10).

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Ayat-ayat di atas termasuk ayat Madaniyah yang per­tama kali turun dan membawa pesan khusus agar orang-orang Muslim tidak menikahi wanita musyrik atau sebalik­nya. Imam Muhammad al-Razi dalam al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib menyebut ayat tersebut sebagai ayat-ayat permulaan yang secara eksplisit menjelaskan hal-hal-yang halal ( ma yuhallu ) dan hal-hal yang dilarang ( ma yuhramu ). [26] Dan, menikahi orang musyrik merupakan salah satu perintah Tuhan dalam kategori “haram” dan “dilarang”.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Memang, bila membaca ayat ini secara literal akan didapatkan kesimpulan yang bersifat serta-merta, bahwa menikahi non-muslim hukumnya haram. Cara pandang seperti ini dikarenakan sebagian masyarakat muslim masih beranggapan bahwa yang termasuk dalam kategori musyrik adalah semua non-muslim, termasuk diantaranya Kristen dan Yahudi. Namun, pertanyaan yang perlu dikemukakan adalah apakah non-muslim (Kristen dan Yahudi) termasuk dalam kategori musyrik? Kalau tidak, lalu apa yang di­maksud dengan “musyrik” dalam al-Qur’an?

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Sebagian Ulama, diakui Imam al-Razi, berpandangan bahwa dalam beberapa ayat di dalam al-Qur’an membuat Kristen dan Yahudi sebagai musyrik. Kategori musyrik dalam kedua agama samawi tersebut, dikarenakan orang­-orang Yahudi menganggap Uzair sebagai anak Tuhan, sedang orang-orang Kristen menganggap al-Masih sebagai anak Tuhan. Namun pandangan ini tidak serta-merta bisa dijadikan pegangan, karena dalam ayat lain ditemukan paradigma tentang musyrik. Dapat dilihat bagaimana al-Qur’an secara cermat dan jelas membedakan pengertian antara musyrik dan Ahli Kitab. Dalam surat al-Baqarah ayat 5, Allah berfirman artinya: “Orang-orang kafir dari Ahli K tab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkan­nya suatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu… “Dalam surat al-Bayyinah ayat 1, Allah juga menyebutkan; “ Orang-oring kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang kafir musyrik tak akan melepaskan (kepercayaan mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata. “

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Pada kedua ayat di atas dan ayat-ayat lainnya, al-Qur’an memakai kata penghubung “dan” (al-Qur’an: waw ) antara kata Ahli Kitab dan Kafir Musyrik. Ini berarti bahwa kedua kata, Ahli Kitab dan musyrik, itu mempunyai arti dan makna yang berbeda. Mengenai kafir musyrik dan kafir Ahli Kitab. Abu al-Ala al-Maududi menuturkan “buka dan bacalah al-Qur’an dari awal, mulai dari surat al-Fatihah, sampai akhir­nya surat al-Nass, akan ditemukan tiga katagori kepercayaan dengan istilah-istilah yang antara satu dan lainnya arti dan maknanya berbeda, yakti term musyrik, istilah Ahli Kitab, dan istilah ahl al-Iman .[27] Karena itu, perlu diidentifikasi mengenai siapa sebenar­nya yang dikategorikan oleh al-Qur’an sebagai orang musyrik, yang kemudian haram dikawini oleh orang-orang Islam. Dikatakan musyrik bukan hanya mempersekutukan Allah tapi juga tidak mempercayai salah satu dari kitab-kitab samawi , baik yang telah terdapat penyimpangan atau­pun yang masih asli, di samping tidak seorang nabi pun mereka percayai. Adapun Ahli Kitab adalah orang yang mempercayai salah seorang nabi dari nabi-nabi dan salah satu kitab dari kitab-kitab samawi , baik sudah terjadi penyimpangan pada mereka dalam bidang kaidah atau amal­an. Sedangkan yang disebut orang-orang mukmin adalah orang-orang yang percaya dengan risalah Nabi Muhammad baik mereka lahir dalam Islam ataupun kemudian memeluk Islam, yang berasal dari Ahli Kitab atau kaum musyrik, ataupun dari agama mana saja.[28] Karena itu, pandangan yang memasukkan non-muslim (Ahli Kitab) sebagai musyrik ditolak dengan beberapa alasan sebagai berikut:

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Ayat ini merupakan ayat Madaniyah yang diturunkan setelah ayat yang melarang pernikahan dengan orang­orang musyrik sehingga mereka beriman. Ayat ini dapat disebut “ayat revolusi”, karena secara eksplisit men­jawab beberapa karaguan bagi masyarakat Muslim pada saat itu, perihal pernikahan dengan non Muslim. Ayat yang pertama menggunakan istilah Musyrik yang bisa dimaknai seluruh non-Muslim. Namun ayat ini mulai membuka ruang bagi wanita Kristen dan Yahudi (Ahli Kitab) untuk melakukan pernikahan dengan orang-orang Muslim. Ayat tersebut bisa berfungsi dua hal sekaligus, yaitu penghapusan (nasikh) dan pengkhususan (mu­khashshish) dari ayat sebelumnya yang melarang per­nikahan dengan orang-orang Musyrik. Dalam kaidah fiqh bisa diambil kesimpulan, bila terdapat dua ayat yang bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya, maka diambillah ayat yang lebih akhir diturunkan.[29] Bila pernikahan laki-laki Muslim dengan wanita non-Muslim (Kristen dan Yahudi) diperbolehkan, bagaimana dengan yang sebaliknya, yaitu pernikahan wanita Muslim dengan laki-laki non-Muslim, baik Kristen, Yahudi atau agama-agama non-semitik lainnya?

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Memang, dalam masalah ini terdapat persoalan serius, kerena tidak ada teks suci, baik al-Qur’an, hadis atau kitab fiqh yang memperbolehkan pernikahan seperti itu. Tapi menarik juga untuk dicermati, karena tidak ada larangan yang sharih. Yang ada justru hadis yang tidak begitu jelas kedudukannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, kami menikahi wanita-wanita Ahli Kitab dan laki-laki Ahli Kitab tidak boleh menikahi wanita-wanita kami (Muslimah).[30] Khalifah Umar ibn Khaththab dalam sebuah pesannya, seorang Muslim menikahi wanita Nasrani, akan tetapi laki-laki Nasrani tidak boleh menikahi wanita Muslimah.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Setelah diteliti, hadis yang disebutkan di atas di­komentari oleh Shudqi Jamil al-Aththar sebagai mawquf yaitu hadis yang sanadnya terputus hingga Jabir, sebagai­mana dijelaskan al-Imam al-Syafi’i dalam kitabnya al-Umm . Jadi, soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihadi dan terikat dengan konteks tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antar agama merupakan sesuatu yang terlarang.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Karena kedudukannya sebagai hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat lain, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apa pun agama dan aliran kepercayaannya. Hal ini merujuk pada semangat yang dibawa al-Qur’an sendiri. Pertama , bahwa pluralitas agama merupakan sunnatullah yang tidak bisa dihindarkan. Tuhan menyebut agama-agama samawi dan mereka membawa ajaran amal-saleh sebagai orang yang akan bersama-Nya di surga nanti. Bahkan Tuhan juga secara eksplisit menybut­kan agar perbedaan jenis kelamin dan suku sebagai tanda agar satu dengan yang lainnya saling mengenal. Dan pernikahan antar beda agama dapat dijadikan salah satu ruang, yang mana antara penganut agama dapat saling ber­kenalan secara lebih dekat.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Menurut pembentuk KHI Perkawinan beda agama ini tampaknya banyak madaratnya baik bagi saddu dzariah maupun untuk kemaslahatan untuk membentuk suatu rumah tangga yang bahagia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk mengatasi berbagai kemadaratan tersebut di In­donesia telah ditetapkan oleh Presiden dengan keluarnya Inpres No. 1/1991, yang dalam salah satu pasalnya (40 huruf c) telah melarang adanya perkawinan pria muslim dengan wanita non muslim. Akan tetapi adanya wacana baru dalam memahami hukum beda agama kontemporer, yang membolehkan perkawinan wanita dan pria muslim dengan non muslim (ahli kitab), perlu mendapat perhatian dan menjadi wacana baru umat Islam dalam mencari kebenaran serta kemaslahatan umat, jangan ditanggapi negatif, namun menambah khazanah keilmuan untuk mencari kebenaran. Paling tidak untuk saat ini, konsep kaidah fiqh yang menyebutkan “tindakan Imam terhadap rakyat ini harus berkaitan dengan kemaslahatan” berlaku di dalam undang-undang Perkawinan dan KHI di Indonesia. Inilah fiqh Indonesia di bidang perkawinan untuk saat ini.


Baca juga :

Membicarakan tentang bid’ah memang tidak ada akhirnya, dan ini sudah terjadi pasca wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengakibatkan terputusnya wahyu. Adapun para khalifah empat sebagai pengganti beliau hanya memiliki kewenangan dalam mengatur stabilitas bermasyarkat dan tidak memiliki kewenangan untuk melanjutkan penyampaian wahyu Allah subhanahu wa ta’ala . Adapun di bidang keagamaan, mereka hanya memiliki kemampuan untuk menerapkan dan selebihnya mereka hanya melakukan interpretasi ( ijtihad ) terhadap apa yang telah diajarkan oleh Rasulullan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Akibat dari perilaku di ataslah kemudian memunculkan spekulasi-spekulasi baru untuk mencari-cari pemaknaan dari al-sunnah dan al-bid’ah tentang hal-hal yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , namun melupakan pemaknaan dari al-wajibah dan al-tajdid yang juga dapat disandingkan untuk menerjemahkan makna bid’ah secara istilah. Dengan artian, apakah al-bid’ah itu lawan kata dari al-sunnah seperti yang diterjemahkan oleh sebahagian orang selama ini, atau sesungguhnya al-bid’ah itu merupakan lawan kata dari al-wajibah , dan apa bedanya pula dengan al-tajdid ? Kemudian, apakah dasar pembagian atas bid’ah dalam beberapa gerak seperti bid’ah hasanah dan sayyi’ah dibenarkan di dalam Islam dan apakah saripati dari bid’ah hasanah itu ada sejak masa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ « صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ ». وَيَقُولُ « بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ ». وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ « أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ». ثُمَّ يَقُولُ « أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَىَّ وَعَلَىَّ » {رواه مسلم}[1]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : “ Diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin al-Mutsanna, diceritakan kepadaku oleh Abd al-Wahhab bin Abd al-Majid dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir bn ‘Abd Allah ra, berkata : bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama jika berhutbah kedua matanya memerah, suaranya meninggi dan kemarahannya meluap, hingga seakan-akan dia seperti komandan tentara yang berkata “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkati kalian diwaktu pagi dan petang.” Lalu beliau bersabda  “Aku diutus dan hari kiamat seperti ini, “beliau mendekatkan  antara dua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah, sambil bersabda, “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk perkara adalah petunjuk Muhammad. Sedangkan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru dan setiap yang baru adalah sesat” kemudian beliau bersabda “Aku lebih utama bagi setiap mukmin daripada dirinya sendiri. Barang siapa mewariskan harta, maka itu untuk keluarganya, barang siapa mewariskan agama, maka akan kembali kepadaku, atau menghilangkannya, maka ia akan berhadapan denganku. ” (HR Muslim).

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Dalam kitab Mu’jam al Muqayis Fi al-Lughah , Abu al-Husain juga menyebutkan, ابتداء الشيئ وضعه لا عن مثال (sesuatu yang pertama adanya dan dibuat tanpa ada contoh)[3], sedangkan al-Imam Muhammad Abu Bakr ‘Abd al-Qadir al-Razi berkata, bahwa bid’ah secara bahasa berarti, اخترعه لا على مثال سابق (mengadakan sesuatu dengan tanpa ada contoh terlebih dahulu).[4] Adapun al-Imam Abu ‘Abd al-Rahman al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H) berkata, bahwa bid’ah secara bahasa, احداث شيئ لم يكن له من قبل خلق ولا ذكر ولا معرفة (mengadakan sesuatu perkara yang sebelumnya tidak pernah dibuat, tidak disebut-sebut dan tidak pernah dikenal).[5]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Melalui semua definisi di atas, maka dapat difahami bahwa apa yang disebut dengan al-bid’ah di dalam kamus bahasa Arab ditinjau dari segi bahasa adalah suatu perkara baru yang diadakan atau diciptakan dengan tidak adanya contoh sebelumnya. Adapun secara istilah, pemaknaan al-bid’ah tidak pernah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an maupun Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri seperti yang diriwayatkan oleh para ulama di dalam kitab-kitab hadits yang ada. Pemaknaan al-bid’ah secara istilah ternyata hanya ditemukan di dalam kitab-kitab karangan para ulama yang merupakan hasil interpretasi atas hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah penulis kemukaan di muka.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : “ Diceritakan kepada kami oleh abu Ja’far Muhammad bin Shabbah dan Abdullah bin ‘Aun al-Hilali seluruhnya dari Ibrahim bin Sa’ad, berkata ibnu al-Shabbah; diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin ‘Auf, diceritkan kepada kami oleh Abi al-Qasim bin Muhammad dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru (bid’ah) dalam urusan (agama) ini, maka hal itu tertolak. ” [HR. Muslim]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ « صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ ». وَيَقُولُ « بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ ». وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ « أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ». ثُمَّ يَقُولُ « أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَىَّ وَعَلَىَّ » {رواه مسلم}

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : “ Diceritakan kepadaku oleh Muhammad al-Mutasnna, diceritakan kepada kami oleh Abdul Wahab bin al-majid dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabin bin Abdullah berkata : bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berhutbah kedua matanya memerah, suaranya meninggi dan kemarahannya meluap, hingga seakan-akan dia seperti komandan tentara yang berkata “Semoga Allah SWT memberkati kalian diwaktu pagi dan petang.” Lalu beliau bersabda  “Aku diutus dan hari kiamat seperti ini, “beliau mendekatkan  antara dua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah, sambil bersabda, “Ammaba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah  dan sebaik-baik petunjuk perkara adalah petunjuk Muhammad. Sedangkan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru dan setiap yang baru adalah sesat” kemudian beliau bersabda “Aku lebih utama bagi setiap mukmin daripada dirinya sendiri. Barang siapa mewariskan harta, maka itu untuk keluarganya, barang siapa mewariskan agama, maka akan kembali kepadaku, atau menghilangkannya, maka ia akan berhadapan denganku. ” [HR. Muslim]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : “ Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik. “

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Ayat ini menjadi dalil adanya bid’ah hasanah itu, karena maknanya, memuji orang-orang yang beriman dari umat Nabi Isa yang mereka mengikutinya dengan penuh keimanan dan tauhid. Allah subhanahu wa ta’ala memuji mereka karena mereka adalah أهل الرأفة dan أهل الرحمة dan juga mengada-adakan rahbaniyyah . Al-rahbaniyyah adalah memutuskan dari nafsu sahwat, sehingga mereka tidak mau menikah karena ingin serius beribadah. Adapun makna dari “ Kami tidak memfardukan kepada mereka ,” ialah karena mereka sendiri yang menghendaki untuk lebih dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala , lalu Allah subhanahu wa ta’ala memuji mereka atas apa yang mereka ada-adakan itu, meskipun tidak ada teks kitab Injil yang mengaturnya dan tidak ada pula perintah dari Nabi Isa ‘alaihis salam .

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

وَعَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِىِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضى الله عنه  لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ ، إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ ، وَيُصَلِّى الرَّجُلُ فَيُصَلِّى بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّى أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ . ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى ، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ ، قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ، وَالَّتِى يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُومُونَ . يُرِ يدُ آخِرَ اللَّيْلِ ، وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ {رواه البخارى}[12]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : ” Dari Ibnu Syihab dari Urwah bin al-Zubair dari abd al-Rahman bin Abd al-Qari bahwasanya ia telah berkata; saya keluar bersama Umar ibnu al-Khathab pada suatu malam dalam bulan Ramadhan sampai tiba di masjid, tiba-tiba orang-orang berkelompok-kelompok terpisah-pisah, setiap orang shalat untuk dirinya sendiri. Ada orang yang mengerjakan shalat, kemudian diikuti oleh sekelompok orang. Maka Umar berkata; sesungguhnya aku mempunyai ide. Seandainya orang-orang itu aku kumpulkan menjadi satu dan mengikuti seorang imam yang pandai membaca al-Qur’an, tentu lebih utama. Setelah Umar mempunyai azam (tekad) demikian, lalu dia mengumpulkan orang menjadi satu untuk berimam kepada Ubay bin Ka’ab, kemudian pada malam yang lain aku keluar bersama Umar, dan orang-orang melakukan shalat dengan imam yang ahli membaca al-Qur’an. Umar berkata; ini adalah sebagus-bagus bid’ah (barang baru). Orang yang tidur dulu dan meninggalkan shalat pada permulaan malam (untuk melakukannya pada akhir malam) adalah lebih utama daripada orang yang mendirikannya (pada awal malam). “

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Hadits shahih di atas dengan jelas menunjukkan bahwa shalat tarawih berjamaah secara terus menerus sebulan penuh adalah bid’ah , karena tidak dikenal pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Meskipun demikian, menurut komentar Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu terklasifikasi dalam bid’ah hasanah. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Umar itu adalah menghidupkan kembali sunnah yang dulu pernah dilakukan oleh Rasul namun ditinggalkan karena takut akan menjadi wajib[13] adalah tidak bisa diterima oleh akal dan tidak ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah itu melaksanakan shalat tarawih, yang ada adalah qiyam lailah ramdhan . Sedangkan yang dilakukan oleh Umar adalah, shalat dengan niat shalat sunnah tarawih yang tentunya berbeda dengan niat shalat sunnah yang digunakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena semua ibadah itu yang dilihat adalah niatnya. Jika niatnya saja berbeda, maka tidaklah mungkin prakteknya akan sama. Contohnya adalah, ada dua orang yang sama-sama ingin (berniat) pergi, namun yang satu ingin (berniat) pergi ke Manado dan yang satunya lagi akan ke Bali, tentu praktiknya yang satu akan naik pesawat untuk rute Manado dan yang satu lagi rute Bali. Maka, apakah sama antara Manado dan Bali? Tentu tidak akan sama sampai hari kiamat. Berdasarkan penjelasan di atas, maka pantaslah jika Umar radhiyallahu ‘anhu menyebut apa yang ia lakukan sebagai bid’ah hasanah .

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مَرْوَانَ بْنِ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيِّ عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ هُوَ ابْنُ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالِ بْنِ الْحَارِثِ اعْلَمْ قَالَ مَا أَعْلَمُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ اعْلَمْ يَا بِلَالُ قَالَ مَا أَعْلَمُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنْ اْلأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لاَ تُرْضِي اللهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ {رواه الترمذى}[14]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : “ Diceritakan kepada kami oleh abdullah bin Abdurrahman, dikabarkan kepada kami oleh Muhammad bin Uyayainah dari Marwan bin Mu’awiyah al-Fazari dari Katsir bin Abdullah anak ibnu Umar bin ‘Auf al-Muzani dari ayahnya dari kakeknya; bahsanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkata kepada Bilal bin al-Harts; ketahuilah, (Bilal) berkata; apa yang harus aku ketahui wahai Rasulullah, (Rasulullah) bersabda; ketahuilah wahai Bilal, (Bilal) berkata; apa yang harus aku ketahui wahai rasulullah, (Rasulullah) bersabda; barang siapa yang menghidupkan sunnah dari sunnahku yang telah mati setelah aku (meninggal), maka baginya pahala seperti orang-orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka, dan bagi yang menciptakan bid’ah yang sesat, Allah dan rasul-Nya tidak akan pernah ridha, dan baginya dosa seperti orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun. Abu ‘Isa menyebutkan bahwa hadits ini berkualitas hasan. ” [HR. al-Turmudzi]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Selama ini, analisis yang muncul tentang bid’ah adalah dari segi kebahasaan, yang kemudian memunculkan hasil, bid’ah adalah sesuatu yang bersifat umum dan yang satu lagi bid’ah bersifat khusus. Rasionalisasi dari segi bahasa ini memang tidak akan pernah bertemu kesamaannya sampai hari kiamat. Akan tetapi kalau kita mau jujur dengan sejarah yang ada, baik dari masa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup hingga masa sahabat radhiyallahu ‘anhum , maka tentunya kita akan dapatkan jawaban yang lebih rasional. Kenapa harus rasional? Hal ini dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan :

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْمُجْمِرِ عَنْ عَلِىِّ بْنِ يَحْيَى بْنِ خَلاَّدٍ الزُّرَقِىِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِىِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّى وَرَاءَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم – فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ « سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ » . قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ « مَنِ الْمُتَكَلِّمُ » . قَالَ أَنَا. قَالَ « رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا ، أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ » {رواه البخارى}[16]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : “ Diceritakan kepada kami oleh Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Nu’aim bin Abdillah al-Mujmiri dari Ali bin Yahya bin Khallad al-Zuraqi dari ayahnya dari Rifa’ah bin Rafi’ al-Zuraqi berkata; pada suatu malam kami shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau mengangkat kepalanya ruku’, beliau berucap, sami’allahu liman hamidah, lalu seseorang berucap, rabbana wa lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih. Setelah selesai shalat, beliau bertanya, siapa yang mengucapkan itu? Orang tersebut menjawab, aku. Belaiu berkata, aku melihat tga puluh lebih malaikat bersegera menuliskannya yang pertama. ” [HR. al-Bukhari]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Berdasarkan rasionalisasi di ataslah, sesungguhnya dapat difahami bahwa ruh dari adanya bid’ah hasanah sudah ada sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena melalui hadits di atas, ditemukan seorang sahabat yang berani merubah bacaan sunnah dalam i’tidal setelah ucapan sami’allahu liman hamidah . Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits memaparkan bahwa pasca ucapan pasca sami’allahu liman hamidah adalah ربنا و لك الحمد , terkadang juga اللهم ربنا لك الحمد , dan اللهم ربنا لك الحمد ملء السماوات وملء الأرض وملء ما شئت من شيء بعد , bahkan beliau memberikan petunjuk tentang fadhilah besar bagi yang membaca doa di ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Inilah petunjuk yang jelas, di mana ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup saja, sahabat berani untuk mengubah bacaan shalat. Hal ini karena memang yang dibaca adalah bacaan sunnah dan baik sekali arti yang dibaca. Oleh karenanya, wajar jika Umar bin al-Khathab radhiyallahu ‘anhu kemudian, meciptakan shalat tarawih pasca wafatnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagaimana riwayat yang telah penulis tuangkan di atas. Dengan rasionalisasi bahwa, jika saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu ada bersama mereka, pastilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga akan memberikan apresiasi positif terhadap apa yang dilakukan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu .

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

وَحَدَّثَنِى أَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ الْعَبْدِىُّ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- سَأَلُوا أَزْوَاجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ عَمَلِهِ فِى السِّرِّ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ آكُلُ اللَّحْمَ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ أَنَامُ عَلَى فِرَاشٍ. فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ. فَقَالَ « مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّى أُصَلِّى وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى » {رواه مسلم}[18]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Artinya : “ Dari Anas ra, bahwa beberapa orang sahabat Nabi saw. bertanya secara diam-diam kepada istri-istri Nabi saw. tentang amal ibadah beliau. Lalu di antara mereka ada yang mengatakan: Aku tidak akan menikah dengan wanita. Yang lain berkata: Aku tidak akan memakan daging. Dan yang lain lagi mengatakan: Aku tidak akan tidur dengan alas. Mendengar itu, Nabi saw. memuji Allah dan bersabda: Apa yang diinginkan orang-orang yang berkata begini, begini! Padahal aku sendiri shalat dan tidur, berpuasa dan berbuka serta menikahi wanita! Barang siapa yang tidak menyukai sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku. ” [HR. Muslim]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Hadist ini dapat difahami bahwa, jika nikah itu adalah sunnah dilihat dari segi fiqh (yakni salah satu dari hukum taklif ) yang memiliki kesamaan dengan peribadatan sunnah lainnya (seperti shalat dan puasa sunnah), dengan artian, jika dikerjakan dengan sebanyak-banyaknya akan mendapatkan pahala yang banyak, dan jika ditinggalkan maka tidak akan mendapat dosa. Di sinilah kebanyakan umat Islam Indonesia salah dalam mengartikan kata sunah dalam nikah tersebut, sehingga kebanyakan dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (khususnya di Indonesia), pekerjaannya hanya akan kawin-cerai saja. Oleh karenanya, pantaslah jika segala segala hal yang tercipta baru, dan ia merupakan hasil produk ijtihad dengan pola pikir menciptakan kemaslahatan dan mencegah kemudharatan, جلب المصالح ودرؤ المفاسد , serta sebanding dengan perbuatan sunnah maka itulah yang disebut dengan bid’ah hasanah , dan jika melenceng dari hal di atas maka itulah bid’ah dhalalah . Apalagi kaidah fiqh telah menjelaskan bahwa nash itu akan berakhir sedangkan permasalahan akan terus berganti ;

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Tajdid merupakan bentuk masdar dari kata jaddada – yujaddidu – tajd i dan . Jaddada – yujaddidu artinya “memperbarui”. Kata jaddada – yujaddidu merupakan fi’il ts ula ts i mazid (kata kerja yang huruf asalnya tiga kemudian mendapatkan imbuhan). la berasal dari fi’il ts ula ts i mujarrad (kata kerja yang huruf asalnya terdiri dari tiga huruf), yaitu jadda – yajiddu , yang artinya “baru”. Dalam bahasa Arab disebutkan bahwa jad i d ‘aks qad i m ( jad i d adalah kebalikan dari qadim ). Qad i m artinya “lama”. Lebih jauh dalam kamus Arab disebutkan, ungkapan jaddadahu ay sh ayyarahu jad i dan , artinya menjadikan sesuatu menjadi baru. Kata jaddada artinya sama dengan istajadda , yaitu menjadikan sesuatu menjadi baru.[21]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Mengenai pembaruan dalam hukum Islam, Suratmaputra menjelaskan bahwa pembaruan hukum Islam dapat diartikan sebagai suatu upaya dan perbuatan melalui proses tertentu (dengan penuh kesungguhan) yang dilakukan oleh mereka yang mempunyai kompetensi dan otoritas dalam pengembangan hukum Islam ( mujtahid ) dengan cara-cara tertentu (berdasarkan kaidah-kaidah istinbath atau ijtihad yang dibenarkan) untuk menjadikan hukum Islam dapat tampil lebih segar dan tampak modern (tidak ketinggalan zaman) atau menjadikan hukum Islam senantiasa sh alihun likulli zaman wa makan .[25] Maka dapat dikatakan bahwa perubahan dan perkembangan pemikiran hukum Islam bukan saja dibenarkan, tetapi merupakan suatu kebutuhan, khususnya bagi umat Islam yang mempunyai kondisi dan budaya yang berbeda dengan Timur Tengah, seperti Indonesia. Hal ini didasar­kan pada pertimbangan: Pertama , banyak ketentuan-ketentuan hukum Islam yang diterapkan di Indonesia merupakan produk ijtihad yang didasarkan pada kondisi dan kultur Timur Tengah. Padahal, apa yang cocok dan baik bagi umat Islam Timur Tengah, belum tentu cocok dan baik bagi umat Islam Indonesia. Kedua , kompleksitas masalah yang dihadapi umat Islam dewasa ini jauh lebih besar dan beragam dibandingkan dengan zaman sebelumnya, karena terjadi perubahan luar biasa dalam kehidupan sosial yang disebabkan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, dalam upaya mereaktualisasi hukum Islam agar mampu memberikan jawaban-jawaban atas kebutuhan dan permasalahan baru yang muncul dalam masyarakat Indonesia, maka perlu dilakukan ijtihâd yang didasarkan pada kepribadian dan karakter bangsa Indonesia.[26]

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

Kesimpulan dari tulisan ini adalah, bahwa pasca wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam muncul dua pendapat tentang makna bid’ah menjadi bid’ah belaku umum dan bid’ah yang berlaku khusus yang terbagi menjadi hasanah dan sayyi`ah/dhalalah . Hal ini terjadi karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menjelaskan secara eksplisit makna dari bid’ah . Dan melalui pendekatan historis, ternyata yang melakukan pembagian atas bid’ah menjadi hasanah dan sayyi`ah/dhalalah lebih rasional wujudnya.

seperti di kutip dari https://alfithroh46.wordpress.com

[26] Pada tahun 1940-an Hasbi ash-Shiddiegy, telah mengemukakan gagasannya tentang perlunya dibentuk “fiqh Indonesia”. Kemudian pada tahun 1960-an, gagasan Hasbi itu didefinisikan sebagai fiqh yang berdasarkan kepribdian dan karakter bangsa Indonesia. Pada tahun 1987 Munawir Sjadzali menawarkan kajian ulang penafsiran hukum Islam yang populer dengan “reaktualisasi ajaran Islam”. Dan pada tahun yang sama, Abdurrahman Wahid mengemukakan gagasan pribumisasi Islam, lihat Hasbi ash-Shiddieqy, Syari’at Islam Menjawab Tantangan Zaman , (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1961), h. 24, Munawir Sjadzali, “Reaktualisasi Ajaran Islam” dalam Polemik Reaktualisasi Ajaran Islam, Iqbal Abdurrauf Sainima , (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1988), h. 1

Kapolri Jenderal Tito Karnavian sedang melaksanakan ibadah umrah di kota suci Mekah. Pengacara Habib Rizieq, Kapitra Ampera, belum mendengar soal kemungkinan Kapolri bertemu dengan imam besar FPI tersebut. “Saya belum tahu apakah ada pertemuan antara Habib Rizieq dengan Kapolri. Saya belum tahu,” kata Kapitra kepada wartawan, Selasa (27/2/2018). Kapitra, yang selama ini konsisten memberitakan kepulangan Habib Rizieq, menuturkan belum ada informasi soal pertemuan. Dia pesimistis akan ada pertemuan. “Saya rasa sulit untuk mengatakan adanya pertemuan, karena apa? Karena tentu akan mengganggu tujuan dari ibadah umrah itu sendiri,” ujar Kapitra. “Saat ini Habib Rizieq sedang berada di Mekah. Kalau Kapolri saya dengar sedang menuju Madinah,” imbuhnya. Habib Rizieq di Masjidil Haram. (Foto: dok. Istimewa) Berdasarkan keterangan dari Karo Penmas Mabes Polri Brigjen M Iqbal, Kapolri berangkat pada Minggu (25/2) lalu. Jenderal Tito dan istrinya ada kemungkinan pulang pada Rabu (28/2) atau Kamis (1/3). Saat ditanya soal kemungkinan Kapolri bertemu Habib Rizieq, Iqbal mengaku tak tahu. “Nggak tahu,” ujar mantan Kapolres Surabaya itu.

Related Posts

Comments are closed.