Kapal Pencuri Ikan Berbendera Malaysia Ditangkap di Aceh

Kapal Pencuri Ikan Berbendera Malaysia Ditangkap di Aceh

Kapal asal Malaysia ditangkap Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara Ilegal (Satgas 115) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Perairan Selat Malaka. Empat orang anak buah kapal (ABK) asal Myanmar ikut diamankan. Kapal pencuri ikan di perairan Indonesia ini ditangkap oleh Kapal Pengawas Perikanan (KP HIU 12) yang dinakhodai kaptain Novri Sagiang. Kapal asing berukuran 29,17 GT itu juga memang alat tangkap trawl. Petugas mengamankan kapal dan kemudian membawanya ke Banda Aceh. “Kapal yang ditangkap ini saat ini sedang dalam perjalanan ke Pangkalan Lampulo Aceh. Penangkapan kapal ini dilakukan pada Rabu 24 Januari kemarin,” kata Kepala Pangkalan PSDKP Lampulo Aceh, Basri saat dimintai konfirmasi, Kamis (25/1/2018). Belum diketahui kronologis penangkapan kapal tersebut. Kepala Seksi Pengawasan dan Penanganan Pelanggaran, Pangkalan PSDKP Lampulo Yusni Hafrialdi, mengatakan, kapal dan ABK diboyong ke Pangkalan Lampulo untuk menjalani pemeriksaan. Ia memperkirakan, kapal tersebut akan bersandar di Lampulo Banad Aceh sekitar dua atau tiga hari mendatang. Komunikasi dengan kapten kapal pengawas HIU masih terus dilakukan. “Kami juga belum dapat komunikasi lebih lengkap dari kapten kapal karena terkendala masalah susah sinyal komunikasi di laut,” ujar Yusni.

Kapal asal Malaysia ditangkap Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara Ilegal (Satgas 115) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Perairan Selat Malaka. Empat orang anak buah kapal (ABK) asal Myanmar ikut diamankan. Kapal pencuri ikan di perairan Indonesia ini ditangkap oleh Kapal Pengawas Perikanan (KP HIU 12) yang dinakhodai kaptain Novri Sagiang. Kapal asing berukuran 29,17 GT itu juga memang alat tangkap trawl. Petugas mengamankan kapal dan kemudian membawanya ke Banda Aceh. “Kapal yang ditangkap ini saat ini sedang dalam perjalanan ke Pangkalan Lampulo Aceh. Penangkapan kapal ini dilakukan pada Rabu 24 Januari kemarin,” kata Kepala Pangkalan PSDKP Lampulo Aceh, Basri saat dimintai konfirmasi, Kamis (25/1/2018). Belum diketahui kronologis penangkapan kapal tersebut. Kepala Seksi Pengawasan dan Penanganan Pelanggaran, Pangkalan PSDKP Lampulo Yusni Hafrialdi, mengatakan, kapal dan ABK diboyong ke Pangkalan Lampulo untuk menjalani pemeriksaan. Ia memperkirakan, kapal tersebut akan bersandar di Lampulo Banad Aceh sekitar dua atau tiga hari mendatang. Komunikasi dengan kapten kapal pengawas HIU masih terus dilakukan. “Kami juga belum dapat komunikasi lebih lengkap dari kapten kapal karena terkendala masalah susah sinyal komunikasi di laut,” ujar Yusni.

Kapal asing berbendera Malaysia berukuran 54 GT ditangkap personel BKO Polairud Mabes Polri karena diduga mencuri ikan di wilayah Aceh. Di dalam kapal tersebut, ditemukan sekitar 300 kilogram ikan campuran. Penangkapan kapal asing ini dilakukan personel Polairud di wilayah sekitar 40 mil dari bibir pantai Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa, Aceh. Tim yang dipimpin AKP Ambar melihat kapal yang ditumpangi lima Anak Buah Kapal (ABK) tersebut, saat melakukan patroli di kawasan tersebut. “Saat patroli, personel Polairud melihat adanya kapal asing yang menggunakan Bendera Malaysia dengan nomor lambung KHF 1338 melewati batas wilayah perairan Indonesia,” kata Kabid Humas Polda Aceh Kombes Goenawan saat dimintai konfirmasi detikcom, Senin (9/10/2017). Polisi selanjutnya mendekat ke kapal dan melakukan penangkapan. Isi kapal diperiksa berikut para ABK. Kelima ABK di antaranya dua orang asal Thailand dan tiga orang asal Myanmar. Penangkapan kapal diduga mencuri ikan ini dilakukan pada Minggu (8/10) kemarin. Usai ditangkap, kapal ditarik ke daratan. Polisi masih memeriksa ABK. “Kapal saat ini sudah disandarkan di Pelabuhan Kuala Langsa beserta nahkoda dan ABK-nya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut,” ungkap Goenawan.

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepolisian Daerah Aceh menangkap kapal ikan berbendera Malaysia di perairan Aceh. Penangkapan kapal dilakukan pada Sabtu (20/1/2018) pukul 06.00 WIB oleh aparat polisi air daerah Aceh menggunakan Kapal TAKA-3010. Koordinator Staf Khusus Satgas 115, Mas Achmad Santosa membenarkan adanya penangkapan kapal ikan asing tersebut. “Itu (penangkapan) dilakukan oleh Polisi Air,” kata dia saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (20/1/2018). Namun, pria yang akrab disapa Ota ini enggan menyebutkan kronologi penangkapan kapa asing tersebut.

Ia mengatakan dalam satu kapal dengan bobot 180 GT yang ditangkap berisikan 21 orang ABK, sementara kapal lainnya dengan bobot 120 GT berisi empat orang ABK. “Kapal itu beriringan, jadi ABK satu kapal bisa pindah ke kapal lain. Kedua kapal sama-sama berbendera Malaysia meskipun seluruh ABK berkewarganegaraan Vietnam,” kata dia. Dari dua kapal tersebut, kata Sam, juga diamankan sekitar satu ton ikan berbagai jenis yang diduga hasil penangkapan diperairan Natuna, Provinsi Kepri. “Modusnya sama, karena wilayah Natuna ikannya melimpah maka nelayan-nelayan asing masuk kesana. Rencana awal kapal akan diserahkan ke petugas PSDKP di Natuna, namun karena penuh maka dibawa ke Batam dan akan diserahkan ke PSDKP Batam,” kata dia. Berdasarkan bukti yang didapat tersebut, dua kapal tersebut terbuki digunakan para ABK untuk mencuri ikan di Perairan Natuna sehingga akan dikenakan Undang-Undang Perikanan. “Mereka tidak memiliki izin dan terbukti melanggar Pasal 93 Ayat 2 Jo Pasal 27 Ayat 2 Undang-Undang No.45 tahun 2009 tentang perubahan UU No.31 tentang Perikanan,” kata Sam. Berdasarkan Pasal 27 ayat 2, maka nahkoda beserta anak buah kapal diancam hukuman paling lama enam tahun penjara dengan denda Rp 20 miliar. “Kami juga masih akan mendalami mengapa kapalnya berbendera Malaysia sementara semua nahkoda berkewarganegaraan Vietnam. Apakah itu memang benar dari Malaysia atau menggunakan benderanya saja untuk mengelabuhi petugas Malaysia dan Indonesia,” kata dia. Pada sekitar dua bulan lalu, kapal patroli Mabes Polri juga menangkap delapan kapal asing saat menangkap ikan di Natuna dan Anambas.

Related Posts

Comments are closed.