Jualan Narkoba, AN Beli MINI Cooper dan Tanah 20 Hektare

Jualan Narkoba, AN Beli MINI Cooper dan Tanah 20 Hektare

BNN Sulsel mengungkap kasus narkoba yang melibatkan 12 orang pelaku dengan sejumlah bandar besar. Salah satunya warga Kabupaten Sidrab Sulsel, AN yang juga dikenakan pasal pencucian uang. AN diduga mencuci uang hasil jualan narkobanya untuk beli MINI Cooper, Honda Brio, dan 1 unit rumah termasuk 20 hektare tanah di Kabupaten Pinrang. Kepala BNN Provinsi Sulsel Brigjen Pol Mardi Rukmianto usai memusnahkan narkoba mengatakan pelaku terlibat dalam tindak pidana pencucian uang. “Ini terlibat dalam tindak pidana pencucian uang. Pelaku akan di laporkan ke Kantor Keuangan Negara,” kata Brigjen Pol Mardi Rukmianto, di Kantor BNN Sulsel Jalan Manunggal Tamalate Makassar, Kamis (1/2/2018). Terkait dengan kasus TPPU atas AN, BNN Sulsel akan menunggu proses pengadilan hingga berkekuatan hukum tetap. “Kita masih menunggu proses pengadilan tetap terkait kasus TPPU pelaku,” jelasnya. Sebelumnya, BNN Provinsi Sulsel telah mengamankan 12 pelaku pengedar internasional dengan barang bukti 6 narkotika. 2 Pelaku di antaranya merupakan warga negera asing.

Segala cara dilakukan pada pengedar narkoba untuk bisa memasukkan barang haram ke dalam penjara. Selain dengan berusaha menyuap petugas, mereka akan berpura-pura menjadi pembesuk dan membawa narkoba sambil disembunyikan di barang bawaan. Tapi bagaimana bila itu semua gagal? Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tarakan, sebuah bungkusan tiba-tiba melayang dari luar pagar penjara. Bungkusan itu melintasi pagar setinggi lima meter. “Barang ini ditemukan petugas di Blok D oleh petugas pada pukul 18.30 Wita saat melakukan patroli dan baru kita buka hari ini. Kita transparan makanya kita buka di hadapan kalian,” kata Kepala Lapas Tarakan, RB Danang, Kamis (1/2/2018). Danang lalu membuka bungkusan plastik warna putih itu di depan media massa. Setelah dibuka, di dalamnya ada bungkus rokok filter. Setelah dibuka lagi, ada dua bongkah batu dan satu bungkus plastik kecil berbentuk bongkahan kristal. Untuk memastikan apakah barang tersebut jenis narkoba atau bukan, pihak Lapas Tarakan langsung berkoordinasi dengan Polres Tarakan dan Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) Kaltara. Menurut Kasi Pembinaan dan Pendidikan Lapas Tarakan, Baliono, barang yang diduga sabu-sabu tersebut tak bertuan. Tembok di Blok D memiliki tinggi sekitar 5 meter tapi masih ada yang nekat untuk mengedarkan narkoba dalam lapas. “Kita tak akan main-main dengan para pengedar, pengawasan akan terus kita tingkatkan, jangan sampai lapas yang seharusnya sebagai tempat pembinaan malah menjadi lahan bagi pengedar bertransaksi. Akan kita tindak tegas siapa pun yang bermain dengan narkoba,” tegas Baliono.

Fenomena alam langka super blue blood moon punya arti ‘langka’ yang lain. Super blue blood moon mempertemukan dua tokoh yang ikut di kontestasti Pilgub Jawa Timur 2018, Gus Ipul dan Emil Dardak. Bakal Calon Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan bakal calon Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak, bertemu di Masjid Al Akbar Surabaya, untuk salat Gerhana Bulan, Rabu (31/1/2018) malam. Gus Ipul-bacagub yang berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno, tiba terlebih dahulu di Masjid Al Akbar. Gus Ipul yang mengenakan baju gamis warna putih dan peci hitam, turun dari mobil dan berjalan menuju ke teropong yang dipergunakan melihat gerhana bulan, di depan Masjid Al Akbar. Beberapa menit setelah melihat gerhana bulan melalui teropong, datang bakal cawagub Emil Dardak bersama istrinya Arumi Bachsin. Emil yang berpasangan dengan Khofifah Indar Parawansa ini menyapa Gus Ipul. Keduanya saling menyapa dan saling bersalaman. Setelah bersalaman, Emil bersama istrinya bergantian melihat gerhana bulan melalui teropong. Momen pertemuan itu diabadikan oleh pewarta. Bacagub Gus Ipul mengatakan, tidak masalah bertemu dengan bacawagub Emil di acara salat Gerhana Bulan di Masjid Al Akbar. “Nggak masalah. Ini kan kegiatan keagamaan,” kata Gus Ipul usai melihat gerhana bulan melalui teropong. Foto: Rois Jajeli/detikcom Sedangkan bacawagub Emil Dardak mengaku bersyukur sebagai warga Nahdlatul Ulama dapat mengikuti salat gerhana bulan di Masjid Al Akbar. “Sebagai warga NU saya berterima kasih, karena diberi kesempatan datang dan menjadi bagian acara ini,” jelasnya.

Pelaku penganiayaan dan perampasan, El (16), babak belur dihajar warga di Cibadak, Sukabumi. Wagra ramai-ramai memukuli El saat dia tengah mengamen. Kejadian berawal saat El pada Senin (29/1) lalu mendatangi korban, Hilda (22), yang tengah berteduh di dekat lampu merah Degung, Sukabumi. El menghampiri Hilda bersama tiga temannya yang lain. “Hujan besar saya neduh, saat itu dia muncul pakai motor boncengan bersama teman-temannya terus nyamperin. Dia ngajak minum-minum, terus mau pinjam motor saya nolak. Dia lalu bekap tangan saya, ngeluarin silet terus nyerang ke arah wajah dan tangan,” kata Hilda di Mapolsek Cibadak, Rabu (31/1/2018). El kemudian kabur membawa dompet Hilda. Warga datang ke lokasi sehingga El tak sempat menganiaya Hilda lebih jauh. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada Rabu (29/1), Hilda mengenali El yang sedang ngamen di kawasan pertokoan di CIbadak. “Saya masih mengenali wajahnya, dia yang menyilet wajah dan tangan saya kemudian merampas dompet berisi uang dan dokumen. Langsung aja saya hardik, dia awalnya enggak ngaku warga lainnya berdatangan dan langsung mukulin,” tutur Hilda. Sementara itu, Kapolsek Cicurug Kompol Suhardiman menyatakan pelaku adalah warga Banten. Pelaku sudah mengakui semua perbuatannya. “Dia mengakui telah merampas dan menganiaya saudari Hilda hingga mengalami luka di pipi dan tangan. Namun karena TKP nya di wilayah hukum Polres Kota Sukabumi pelaku kita bawa ke sana untuk pemeriksaan dan penyelidikan lebih jauh,” jelas Suhardiman. Di hadapan polisi, EI mengaku tidak hanya melakukan perampasan, ia belum lama ini telah melakukan aksi pencurian spesialis rumah dan toko. “Saya ngambil HP dan Laptop di wilayah Kota Sukabumi, kalau di Cibadak sehari-harinya saya ngamen,” lirih EI menahan sakit akibat pukulan warga.

Kemacetan terjadi di kedua arah ruas Tol Jakarta-Cikampek pagi ini. Kemacetan disebabkan lonjakan volume kendaraan. “Padat karena volume kendaraan saja,” kata Petugas Call Center PT jasa Marga, Aldo saat dihubungi detikcom, Kamis (1/2/2018) sekitar pukul 05.15 WIB. Dia menjelaskan kemacetan itu terjadi dari Tol Jatibening (Cikunir) hingga Tol Bekasi Timur. Kemacetan terjadi mulai dari KM 9 hingga KM 14 Jakarta arah Cikampek. “Dari KM 9 hingga KM 14, selebihnya lancar,” ucap dia. Dia juga menginformasikan untuk Cikampek ke Jakarta kemacetan terjadi di Tol Bekasi Barat. Aldo menambahkan kemacetan terjadi di KM 11-13. “Kepadatan di Tol Bekasi Barat KM 11-13 menuju ke Jakarta dan lancar lagi di Cawang,” ucapnya. Aldo juga mengatakan di KM 15 Tol Cikampek arah Jakarta sempat terjadi kecelakaan mobil terbalik sekitar pukul 03.00 WIB. “Kecelakaan tunggal mobil terbalik. Kendaraan sudah dalam penanganan sudah berada di pinggir,” tambahnya.

Beberapa hari belakangan ini—atau malah sudah beberapa minggu—telinga saya berdengung. Kiri-kanan. Rasanya ada selaput tipis di dalam sana, membuat saya tidak bisa mendengar secara optimal. Sudah begitu kepala terasa hangat, terutama saat bangun tidur. Meriang, tapi hanya di bagian kepala. Mula-mula saya curiga, jangan-jangan kemasukan air saat renang, lalu lama-kelamaan jadi infeksi. Untuk memastikan, saya periksa ke klinik keluarga dengan memanfaatkan BPJS. Dokter memberikan rujukan ke dokter THT. Setelah dokter THT memeriksa—telinga saya kiri-kanan dibersihkan, lalu daya pendengaran saya diuji dengan garpu tala—saya mendapatkan kabar baik dan kabar buruk. Kondisi fisik telinga saya terhitung masih bagus, bersih, tidak infeksi karena kemasukan air atau penyebab lain. Jadi, saya leluasa melanjutkan kesukaan berenang. Dokter juga menyarankan tidak perlu membersihkan telinga dengan cotton bud. Telinga punya mekanisme sendiri untuk membersihkan dirinya. Itu kabar baiknya. Kabar buruknya, masalahnya ternyata pada saraf pendengaran saya yang memburuk. Saat diuji dengan garpu tala, telinga kiri saya relatif masih normal, tetapi telinga kanan saya nyaris sudah tidak bisa menangkap getaran penala. Sekitar satu-dua tahun yang lalu, telinga saya pernah diuji dengan audiometer, dan memang daya pendengaran telinga kanan saya sudah menurun tajam. Hanya, saat itu tidak disertai dengan dengungan dan demam. Kali ini tampaknya saraf telinga saya kian melemah. Dokter terdahulu mengatakan, ada terapi, tetapi rumah sakit terdekat yang memiliki alatnya, kalau saya tidak salah dengar, ada di Purwokerto dan Semarang. Lumayan jauh dari Yogyakarta. Itu pun tanpa jaminan bakal memulihkan daya pendengaran saya. Saya pun memilih membiarkannya saja. Walaupun tidak optimal, toh masih bisa mendengar. Dokter yang sekarang kembali meneguhkan hal itu. Kerusakan saraf pendengaran kecil kemungkinannya untuk pulih—kecuali kalau terjadi mukjizat. Yang bisa dilakukan paling banter adalah periksa rutin tiga bulan sekali, mengkonsumsi obat untuk menstabilkan saraf, dengan harapan proses kerusakan bisa diperlambat. Juga untuk meredakan efek berupa dengungan dan demam lokal tadi. Selain itu, saya dianjurkan menghindari kebisingan. Kalau memang perlu benar, bisa pula saya mengenakan alat bantu dengar pada telinga kanan. Saya manggut-manggut. Beginilah hidup. Beginilah tubuh. Mau apa lagi? Ada hal-hal yang masih bisa diperbaiki dan diperbarui. Namun, ada pula hal-hal yang mesti kita ikhlaskan karena meluruh, berkurang, tanggal, lepas. Meski kita sudah berupaya merawat tubuh, mengatur pola makan, rajin berolahraga, dan sebagainya, toh waktu tak bisa terus-menerus diakali. Kita pasti menua. Rambut helai demi helai memutih, daya pendengaran dan penglihatan menurun, kulit tidak sekencang dulu lagi, ereksi tidak sekeras dan setahan lama dulu lagi, gigi berlubang kian besar dan satu per satu copot, sering merasa sudah melakukan sesuatu tapi nyatanya belum atau belum melakukan sesuatu tapi rasanya sudah, kalau malam ini begadang biasanya besok meriang, dan seterusnya dan sebagainya. Penyakit-penyakit kecil ini bisa jadi membersiapkan kita: untuk ikhlas juga ketika penyakit besar siapa tahu melawat. Siapa yang bisa menduga? Di sisi lain, meskipun waktu terus menggelinding, sekalipun tubuh jasmani kita kian rentan dan rontok, ada pula hal-hal yang bisa terus bertumbuh, berkembang, malah semakin kuat. Ada hal-hal lain yang terus bisa dinikmati dan dirayakan. Toh hidup bukan melulu terdiri atas perkara jasmani, melainkan juga apa yang berlangsung di dalam jeroan batin, di relung hati kita. Saya teringat Paul Brand, dokter kelahiran India yang memberikan sumbangsih penting dalam bidang bedah tangan dan terapi tangan, khususnya bagi para penderita kusta. Ia melontarkan pernyataan menarik sehubungan dengan penuaan. ” This is how to grow old. Allow everything else to fall away until those around you see only love (Inilah caranya untuk bertambah tua. Biarkanlah segala sesuatu yang lain jatuh berguguran sampai orang-orang di sekitarmu hanya melihat cinta yang kaumiliki),” katanya. Daya pendengaran saya memang pelan-pelan luruh. Namun, kiranya daya menyimak saya tidak ikut-ikutan rusak, bahkan mudah-mudahan saya tergerak untuk lebih cermat dalam mendengarkan dan memperhatikan. Karena, kesediaan untuk mendengarkan dan memperhatikan adalah suatu ungkapan cinta yang paling mendasar. ” Don’t you think they are the same thing? Love and attention? (Tidakkah menurutmu keduanya adalah hal yang sama? Cinta dan perhatian?)” kata kepala sekolah dalam Lady Bird (Greta Gerwig, 2017). Saya juga teringat pada Ashoke Ganguli dalam film The Namesake (Mira Nair, 2016). Ia memberi nama anaknya Gogol. Ketika Gogol kuliah, nama yang diambil dari pengarang Rusia yang depresi itu membuatnya diolok-olok kawan sekelasnya. Gogol kecewa pada sang ayah, sampai suatu saat Ashoke menjelaskan mengapa ia memberikan nama itu. Ketika mengalami kecelakaan maut kereta api yang nyaris merenggut nyawanya, ia sedang membaca buku karya Nikolai Gogol. “Baba, itukah yang kaupikirkan ketika engkau memikirkan saya? Apakah saya mengingatkan engkau akan malam naas itu?” Ashoke menjawab, “Sama sekali tidak. Engkau mengingatkan saya akan segala sesuatu sesudahnya. Setiap hari sesudah peristiwa itu adalah suatu karunia, Gogol.” Telinga kanan yang nyaris budek bukanlah kecelakaan fatal atau vonis hukuman mati. Toh saya masih bisa menikmati kegenitan suara Vina Panduwinata dan Waljinah, atau keelokan lagu-lagu soundtrack The Greatest Showman . Saya masih bisa mendengar desau angin, kicau burung, dan kecipak air di kolam renang. Yang terpenting, saya masih bisa menanggapi percakapan dengan orang-orang yang saya cintai—sekali lagi, semogalah dengan daya perhatian yang justru kian kuat. Saya ingin terus menikmati dan merayakan hari-hari yang masih dikaruniakan oleh Tuhan. Sekalipun dengan telinga mendengung dan kepala meriang. Arie Saptaji penulis serabutan dan tukang nonton, tinggal di Yogyakarta.

Partai Amanat Nasional (PAN) menggelar diskusi bulanan dengan tema ‘LGBT dari Aspek Perilaku dan Propaganda’. Diskusi ini bertujuan agar pemerintah lebih peduli terhadap kasus LGBT yang saat ini marak di Indonesia. Diskusi ini diselenggarakan di kantor DPP PAN, Jl Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (1/2/2018). Diskusi dihadiri Wakil Ketua Komisi I DPR Hanafi Rais, Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika Henri Subiakto, Ketua Penggiat Keluarga Euis Sunarti, serta dokter spesialis kulit dan kelamin dr Dewi Inong Iriana. Dalam diskusi, Henri mengatakan pemerintah telah memblokir aplikasi atau website dengan konten LGBT dan pornografi sejak 28 September 2016. Ada 11 DNS ( domain name system ) dan 3 IP address yang diblokir Kemenkominfo. “Pornografi ideologi itu seperti bisnis. Jadi ketika diblokir, dia akan muncul lagi. Ada 11 DNS yang diblokir dan 3 IP address yang diblokir, ada juga setelah diblokir muncul lagi dengan bentuk yang baru,” kata Henri. Dia mengatakan saat ini Kemenkominfo mempunyai suatu alat baru yang sistem kerjanya mencari secara otomatis website serta aplikasi konten LGBT dan pornografi dan telah berhasil memblokir 71 aplikasi di Google Play Store. “Ada 71 aplikasi gay di Google Play yang diblokir. Dulu kita hanya menunggu saran masyarakat, tetapi sekarang kita pakai crowling. Crowling ini gunanya mencari situs-situs yang berisi LGBT atau pornografi,” ucap Henri. Henri menjelaskan tujuan pemblokiran adalah mengatasi dan mencegah masalah LGBT di Indonesia. “LGBT memang perlu ditanggulangi, makanya Kemenkominfo melalukan pemblokiran karena ini ( website dan aplikasi) isinya sudah mengajak dan mendorong untuk melakukan perilaku LGBT,” imbuh dia. Masih dalam diskusi yang sama, Hanafi Rais mengatakan Kemenkominfo mempunyai beberapa PR (tugas) dalam mengelola konten pornografi. Dia menyarankan Kemenkominfo segera membuat peraturan pemerintah mengenai konten ilegal. “Secara kesehatan dan perilaku sudah disampaikan dan hal yang ingin saya sampaikan adalah keberlanjutan dari diskusi terkait dengan pengelolaan konten. Jadi ada PR oleh Kominfo untuk segera membuat peraturan pemerintah mengenai pelarangan atau pembatasan konten-konten yang kita anggap ilegal sesuai UU yang ada,” tambah dia.

Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya memeriksa Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Utara Kasten Situmorang terkait kasus reklamasi. Penyidik akan mendalami terkait sertifikat Pulau C dan D Teluk Reklamasi. “Iya berkaitan dengan itu (penerbitan sertifikat Pulau C dan D),” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Kamis (1/2/2018). Pemeriksaan tersebut dilakukan pada Rabu (31/1) kemarin. Argo mengatakan, penyidik mendalami terkait prosedur dan mekanisme dalam penerbitan sertifikat hak guna bangunan (SHGB) Pulau C dan D. “Semuanya kita tanyakan semua berkaitan itu, apakah proses penerbitan itu sudah sesuai dengan aturan atau tidak,” tutur Argo. Polisi juga menanyakan berkaitan dengan penentuan NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) Pulau C dan D yang ditetapkan dalam rapat. “Berkaitan apakah yang bersangkutan ikut agenda rapat, apa saja yang dibicarakan, gimana penentuan NJOP dan sebagainya,” sambung Argo. Argo menambahkan, pihaknya masih akan terus melakukan pemeriksaan terhadap pejabat-pejabat instansi yang berkaitan dengan reklamasi Teluk Jakarta ini. Sampai saat ini sudah ada puluhan orang yang dimintai keterangan oleh polisi. “Semua lembaga maupun instansi tingkat Pemprov DKI Jakarta atau pun setingkat kelembagaan yang terkait dengan reklamasi pasti akan dimintai keterangannya,” tutur Argo. Sampai saat ini, polisi telah memeriksa sejumlah pejabat di Dinas Pelayanan Pajak, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Dinas Perhubungan, Tata Kota hingga Kementerian Agraria. Polisi juga telah mengumpulkan sejumlah dokumen untuk penyidikan kasus itu.

Danu Prasetyo (20) tersangka pembunuhan mengaku puas setelah membunuh ayahnya sendiri, Sunaryo (65). Saat ini polisi sedang memeriksakan kejiwaan tetangga ke RS Jiwa Grhasia Sleman. “Pada saat ditanya (polisi), dia (tersangka) merasa puas, lega, karena tidak ada yang memarahinya lagi,” kata Kasat Reskrim Polres Bantul, AKP Anggaito Hadi Prabowo kepada wartawan saat jumpa pers di Mapolres Bantul, Kamis (1/2/2018). Menurut Anggaito, pihaknya sudah memeriksa tersangka. Namun pihaknya mengakui pemeriksaan kurang maksimal. Oleh karenanya, polisi akan mengoptimalkan peran pendamping dan bila dibutuhkan pihaknya juga siap menyediakan obat (epilepsi). “Menurut keterangan saksi atau dari pihak keluarga tersangka ini sudah menginap penyakit epilepsi sejak umur 9 bulan setelah lahir. Namun dia bisa sekolah sampai SMA. Pada saat ditinggal ibunya ke Lampung tersangka kan ini hanya dirawat oleh bapaknya,” sebutnya. Meski hanya tinggal dengan ayahnya di Dusun Panjangjiwo, Patalan, Jetis, Bantul, hubungan tersangka dengan korban kurang harmonis. Puncaknya beberapa hari sebelum kejadian korban sering menasihati tersangka, namun karena tidak terima dinasehati tersangka akhirnya membunuh korban. “Berdasarkan olah TKP diketahui memang ada beberapa luka lebam di tubuh korban yang disebabkan oleh benda tumpul. Setelah kami lakukan pengecekan, pemeriksaan dokter serta identifikasi ternyata benar dan ada beberapa barang buktinya,” ucapnya. “Di situ dijelaskan bahwa kemarin terbuat disebabkan oleh penganiayaan atau pukulan benda tumpul. Dari situ kami memeriksa saksi dan didapatkan bahwa korban tinggal oleh satu orang putranya. Pada saat itu anak korban tidak ada,” lanjutnya. Setelahnya, polisi langsung mengamankan anak korban, Danu Prasetyo, saat dia berjalan ke arah Simpang Empat Jetis. Kemudian polisi menetapkan Danu sebagai saksi, hingga kemudian statusnya dinaikkan menjadi tersangka dalam kasus tersebut. “Pada saat kita amankan justru kita mendapatkan keterangan bahwa yang melakukan adalah dia (tersangka) sendiri,” ungkapnya. “Kita kenakan pasal 338 junto 340 KUHP karena kita melihat dari keterangannya tersangka memang ingin menghabisi korban, namun nanti kita lihat apakah itu (keinginan membunuh) muncul seketika atau tidak,” pungkas dia.

Related Posts

Comments are closed.