JK Didorong Jadi Cawapres Jokowi, PD Singgung Tes Kesehatan

JK Didorong Jadi Cawapres Jokowi, PD Singgung Tes Kesehatan

Wacana duet Joko Widodo-Jusuf Kalla jilid II mengemuka jelang Pilpres 2019. Partai Demokrat (PD) tak masalah andai JK kembali jadi cawapres Jokowi, asal tidak melanggar konstitusi. “Demokrat tentunya melihat segala sesuatunya sesuai dengan konstitusi. Kalau misalnya memang itu tidak melanggar konstitusi dan dibolehkan atau ada amandemen dan sebagainya, ya kami dengan senang hati. Yang penting kan sebenarnya untuk masyarakat, masyarakat harus lebih sejahtera, lebih baik,” ujar Waketum PD Nurhayati Assegaf di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/2/2018). JK sebelum menjabat wapres Presiden Jokowi saat ini, pernah mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di pemerintahan era 2004-2009. JK disebut-sebut terlalu sepuh untuk kembali maju di Pilpres 2019. Nurhayati mengatakan urusan sepuh atau tidak bukan faktor utama seorang calon pemimpin. Lagi pula, dia menyebut setiap calon presiden atau calon wakil presiden tentunya akan menjalani tes kesehatan sebelum dinyatakan lolos untuk berkompetisi. “Kan nanti juga ada tes kesehatan dan segala macam. Kan semua yang mau nyapres mudah-mudahan sehat. Kita yakin masyarakat yang menentukan,” ucap Nurhayati. Wacana duet Jokowi-JK jilid II sendiri terganjal beberapa aturan. Beberapa pihak menyebut JK sudah tak bisa lagi maju sebagai calon wakil presiden lantaran terganjal Pasa 7 UUD 1945 yang mengatur soal masa jabatan presiden-wakil presiden.

Baca juga :

The Ark brought from Sirius was built as a miniature pyramid because its dynamic force could best be generated inside this peculiar construction. In the hands of the Anaki – my father also called them the “builders” – the rays of natural cosmic force could render Earth’s objects temporarily either weightless or more ponderous, according to the will of those operating it. It was with its tremendous rays of power that the gigantic stones of the enormous Knut had been shaped and levitated into place.

seperti di kutip dari https://akigendengbanget.wordpress.com

Knut was the scene of initiations performed within its heart and bore, then, even as now, Earth’s inextinguishable record of the Mysterious. The candidate passing thru the initiation ceremonies progressed upward toward the Chamber of Transmutation (the King’s Chamber) where, surrendering to the mighty Ptah, he is placed in a state of spiritual trance and “buried” in the incomparable granite-crystal sarcophagus, which lay in direct alignment with the stream of cosmic forces downflowing through the crystal capstone.

seperti di kutip dari https://akigendengbanget.wordpress.com

My father explained that at the time when Knut was built Earth was aligned with an infinite light ray called the Kosmon Current, a radiant light wave of illimitable power. He explained that there were many solar systems in God’s universe. Ours was only one of many inhabited planets. He drew charts showing me the Great Central Sun which projected a beam of light force from its heart, right through the suns of all the solar systems aligned with that particular evolutionary universes of time-space dimensions which orbited the Eternal God heart. Our mite of a planet had fallen out of alignment with the Grand Orient at the time of the flood and the fall at Atlantis (Aztlan).

seperti di kutip dari https://akigendengbanget.wordpress.com

When the space Gods built Knut, the sun of our solar system had been perfectly aligned with this great Kosmonic wavelength. The pyramid acted as a focal point to gather in and distribute this tremendous infinite light. The pyramid in turn projected the light deep into the heart of Earth, keeping alive the proton sun radiating at the center (in 4th density). Responding, the etheric sun at Earth’s center acted as a perpetual generator, returning upflowing energy through the Ark of the capstone floating at the top.

Wacana duet Joko Widodo-Jusuf Kalla jilid II mengemuka jelang Pilpres 2019. Partai Demokrat (PD) tak masalah andai JK kembali jadi cawapres Jokowi, asal tidak melanggar konstitusi. “Demokrat tentunya melihat segala sesuatunya sesuai dengan konstitusi. Kalau misalnya memang itu tidak melanggar konstitusi dan dibolehkan atau ada amandemen dan sebagainya, ya kami dengan senang hati. Yang penting kan sebenarnya untuk masyarakat, masyarakat harus lebih sejahtera, lebih baik,” ujar Waketum PD Nurhayati Assegaf di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/2/2018). JK sebelum menjabat wapres Presiden Jokowi saat ini, pernah mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di pemerintahan era 2004-2009. JK disebut-sebut terlalu sepuh untuk kembali maju di Pilpres 2019. Nurhayati mengatakan urusan sepuh atau tidak bukan faktor utama seorang calon pemimpin. Lagi pula, dia menyebut setiap calon presiden atau calon wakil presiden tentunya akan menjalani tes kesehatan sebelum dinyatakan lolos untuk berkompetisi. “Kan nanti juga ada tes kesehatan dan segala macam. Kan semua yang mau nyapres mudah-mudahan sehat. Kita yakin masyarakat yang menentukan,” ucap Nurhayati. Wacana duet Jokowi-JK jilid II sendiri terganjal beberapa aturan. Beberapa pihak menyebut JK sudah tak bisa lagi maju sebagai calon wakil presiden lantaran terganjal Pasa 7 UUD 1945 yang mengatur soal masa jabatan presiden-wakil presiden.

Muncul wacana Joko Widodo-Jusuf Kalla (JK) maju kembali dalam Pilpres 2019. Sekjen Hanura Herry L Siregar menyebut partainya menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Jokowi. Namun, ia mengingatkan, wacana itu harus dipastikan tidak melanggar konstitusi. Sebab, berdasarkan UUD 1945, presiden dan wakil presiden tidak diperbolehkan menjabat lebih dari dua kali. Saat ini merupakan periode kedua JK menjabat sebagai wapres. “Namanya untuk cawapres itu kan harus tetap dengan persetujuan capres-nya. Itu kan kita lihat juga aturan UU-nya, apa dibenarkan, apa masih boleh jadi cawapres sudah lewat dari 2 kali. Jadi kan kita harus sesuai aturan, kalau wacana ya biarin aja,” kata Herry saat dihubungi, Selasa (27/2/2018). Hingga kini, yang jelas partainya masih percaya diri menyorongkan nama Ketua Dewan Pembina Hanura Wiranto sebagai cawapres Jokowi. Pengukuhan Wiranto sebagai cawapres kabarnya akan dilakukan pada rapimnas Hanura bulan depan. “Iya betul (Wiranto). Iyalah (masih percaya diri),” ujar Herry. Sebelumnya, Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) sudah buka suara soal kriteria cawapres Jokowi. Ia menyatakan, pendamping Jokowi harus mampu berlari cepat. “Wah, banyak sekali kriteria-kriterianya, karena untuk mendampingi Jokowi ini tidak sederhana, karena orangnya kurus, larinya cepat. Kalau orang yang larinya sendat-sendat, ya ketinggalan sama dia,” ucap OSO di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/2). Selain itu, menurut OSO, ada banyak komponen yang dapat dilihat sebelum menentukan pendamping Jokowi. Namun OSO mengaku sejauh ini belum diajak berdiskusi oleh PDI Perjuangan tentang posisi calon wakil presiden yang akan disandingkan dengan Jokowi.

Related Posts

Comments are closed.