Jalur Kereta Lumpuh Akibat Banjir Cirebon, Ini Penjelasan Kemenhub

Jalur Kereta Lumpuh Akibat Banjir Cirebon, Ini Penjelasan Kemenhub

Meluapnya Sungai Cisanggarung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat merendam jalur kereta api antara Stasiun Ketanggungan Brebes-Ciledug Cirebon. Akibatnya, jalur tersebut lumpuh. Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Zulfikri memberi penjelasan. Zulkifri mengatakan, perlintasan kereta yang lumpuh akibat banjir yakni di jalur lintas utara dan selatan. Dia menilai, beberapa jalur membutuhkan perbaikan akibat genangan air yang cukup panjang sampai 700 meter. Di jalur utara antara Stasiun Tanjung-Stasiun Losari juga belum surut. Hal itu dikarenakan jalur kereta yang dekat dengan muara. “Nah yang terkena dulu cukup deras itu di Ciledug dari Cirebon ke Prupuk cukup parah sepanjang 700 meter dia menggantung tapi tidak seperti di Bogor. Sehingga perlu perbaikan,” kata Zulfikri di restoran Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (24/2/2018). “Kalau yang di tadi di Ciledug surutnya cepat sekali. Kemarin kejadian malam siang sudah surut. Sementara yang di Losari surutnya cukup lama karena mendekati muara. Tadi sore semua sudah beroperasi walaupun dengan kecepatan terbatas namun untuk yang di Ciledug baru satu yang beroperasi yang ke arah Prupuk. Nah yang satu lagi yang 700 meter menggantung ini masih kerjakan mudah-mudahan malam ini cepat selesai. Saya tadi ke sana kita turun all out semuanya,” lanjutnya. Zulfikri memperkirakan beberapa jalur kereta api yang tergenang bisa segara surut. Paling cepat, katanya, besok sudah bisa kembali normal. “Nggak sampai sehari. Besok saya kira selesai. Karena di Losari tidak ada menggantung masih utuh tinggal kita menunggu dan test dulu,” ujarnya. Sebagai langkah antisipasi, Kemenhub akan mempertimbangkan untuk meninggikan jalur kereta api. Salah satu jalur yang akan dibuat tinggi yakni jalur utara, menuju Losari. “Kita harus liat dulu historisnya. Curah hujan berapa tahun ada yang 20 tahun, 50 tahun dan 100 tahun. Memang seperti yang di Ciledug cukup tinggi. Tapi karena seperti air bandang kata warga. Kalau di Losari memang tergenang namun mungkin trak kita harus diantisipasi ditinggiin dikit. Sepanjang 1,1 kilometer antar jembatan di tengahnya agak turun sedikit mungkin kita angkat 30-40 cm. Kita lihat topografi dan curah hujannya,” jelas Zulfikri.

Jakarta – Meluapnya Sungai Cisanggarung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat merendam jalur kereta api antara Stasiun Ketanggungan Brebes-Ciledug Cirebon. Akibatnya, jalur tersebut lumpuh. Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Zulfikri memberi penjelasan. Zulkifri mengatakan, perlintasan kereta yang lumpuh akibat banjir yakni di jalur lintas utara dan selatan. Dia menilai, beberapa jalur membutuhkan perbaikan akibat genangan air yang cukup panjang sampai 700 meter. Di jalur utara antara Stasiun Tanjung-Stasiun Losari juga belum surut. Hal itu dikarenakan jalur kereta yang dekat dengan muara. “Nah yang terkena dulu cukup deras itu di Ciledug dari Cirebon ke Prupuk cukup parah sepanjang 700 meter dia menggantung tapi tidak seperti di Bogor. Sehingga perlu perbaikan,” kata Zulfikri di restoran Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (24/2/2018). “Kalau yang di tadi di Ciledug surutnya cepat sekali. Kemarin kejadian malam siang sudah surut. Sementara yang di Losari surutnya cukup lama karena mendekati muara. Tadi sore semua sudah beroperasi walaupun dengan kecepatan terbatas namun untuk yang di Ciledug baru satu yang beroperasi yang ke arah Prupuk. Nah yang satu lagi yang 700 meter menggantung ini masih kerjakan mudah-mudahan malam ini cepat selesai. Saya tadi ke sana kita turun all out semuanya,” lanjutnya. Zulfikri memperkirakan beberapa jalur kereta api yang tergenang bisa segara surut. Paling cepat, katanya, besok sudah bisa kembali normal. “Nggak sampai sehari. Besok saya kira selesai. Karena di Losari tidak ada menggantung masih utuh tinggal kita menunggu dan test dulu,” ujarnya. Sebagai langkah antisipasi, Kemenhub akan mempertimbangkan untuk meninggikan jalur kereta api. Salah satu jalur yang akan dibuat tinggi yakni jalur utara, menuju Losari. “Kita harus liat dulu historisnya. Curah hujan berapa tahun ada yang 20 tahun, 50 tahun dan 100 tahun. Memang seperti yang di Ciledug cukup tinggi. Tapi karena seperti air bandang kata warga. Kalau di Losari memang tergenang namun mungkin trak kita harus diantisipasi ditinggiin dikit. Sepanjang 1,1 kilometer antar jembatan di tengahnya agak turun sedikit mungkin kita angkat 30-40 cm. Kita lihat topografi dan curah hujannya,” jelas Zulfikri. (idn/nkn)

TEMPO.CO , Jakarta -Luapan Sungai Cisanggarung pada Jumat dinihari, 23 Februari 2018 mengganggu jalur kereta api di utara Jawa. Menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pihaknya masih menunggu laporan lebih lanjut dari Direktur Jenderal Perkeretaapian. Budi memastikan KAI telah menerjunkan sejumlah tim untuk menangani situasi itu. “Biasanya bisa cepat karena memang kita sudah menyiapkan beberapa tim untuk itu,” ujar Budi di saat meninjau program padat karya di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia, Curug, Tangerang, Sabtu, 24 Februari 2018. Terkait langkah selanjutnya, Budi mengatakan pihaknya akan terlebih dahulu menanggulangi banjir tersebut, serta menelusuri daerah asal air banjir. “Bisa kita buat tangkapan air atau catchment area di sebelum itu,” ujar Budi. Kendati demikian, Kemenhub dan KAI masih harus mengidentifikasi lebih dalam untuk menyusun langkah jangka panjang. “Itu butuh suatu identifikasi ya. Apa yang terjadi, dimana dan bagaimana,” kata dia.

seperti di kutip dari https://bisnis.tempo.co

Akibat kejadian ini beberapa jadwal keberangkatan kereta dan menjadi terlambat. Selain itu, beberapa jalur kereta api tidak bisa lewati, mengharuskan PT KAI mengalihkan jalur perjalanan sehingga menambah waktu tempuh perjalanan kereta api. Bahkan, beberapa kereta api, PT KAI melakukan overstapen atau mengantar penumpang dengan bus ke stasiun pemberangkatan terdekat. Menurut Vice President Public Relations PT Kereta Api Indonesia (Persero) Agus Komarudin, ada sepuluh kereta yang harus mengalami rekayasa pola operasi overstapen. Adapun kesepuluh kereta tersebut adalah Kereta Api (KA) Tegal Bahari tujuan Stasiun Tegal, KA Tegal Ekspres tujuan Stasiun Tegal, KA Tegal Bahari yang seharusnya berangkat dari Stasiun Tegal menjadi berangkat dari Stasiun Cirebon, juga termasuk KA Tegal Ekspres yang seharusnya berangkat dari Stasiun Cirebon Prujakan. Ada pula KA Argo Anggrek tujuan Stasiun Gambir, KA Sawunggalih tujuan Kutoarjo PP, KA Argo Dwipangga, dan KA Argo Lawu, serta KA Taksaka PP. Ada enam kereta api yang mengalami keterlambatan dari jadwal semula, yakni KA Jaka Tingkir, KA Taksaka 53, KA Taksaka 54, KA Gajayana, KA Argo Lawu Fakultatif, dan KA Argo Dwipangga. Selain itu, KA Purwojaya tujuan Cilacap, KA Progo tujuan Lempuyangan, dan Bima tujuan Gambir, yang harus memutar jalur lewat Tegal–Slawi–Prupuk dengan tambahan waktu tempuh kurang-lebih satu jam bila dibanding lewat jalur normal. Agus mengatakan bagi para pengguna jasa kereta api , apabila ingin membatalkan tiket yang telah dibeli, KAI akan mengembalikan biaya 100 persen untuk kereta yang terkena dampak banjir. Kemudian, sebagai upaya mempercepat proses pemulihan perjalanan rel kereta, KAI menambah batu balas kricak pada jalur Ciledug–Ketanggungan. Ia memperkirakan pada pukul 17.00 jalur tersebut sudah bisa dilewati kereta dengan kecepatan terbatas. KARTIKA ANGGRAENI | DIAS PRASONGKO

TEMPO.CO , Jakarta – Curah hujan yang tinggi mengakibatkan Sungai Cisanggarung meluap pada Jumat dinihari, 23 Februari 2018. Luapan air tersebut mengakibatkan daerah yang dilewati oleh jalur kereta api khususnya di jalur Stasiun Ketanggungan–Stasiun Ciledug, tepatnya di KM 252+5/7, tak bisa dilewati. Vice President Public Relations PT Kereta Api Indonesia (Persero) Agus Komarudin mengatakan peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh warga dan segera dikabarkan kepada petugas Stasiun Ciledug. Baca:   Rel Tergenang Banjir, Jalur Kereta Api Daop Cirebon Lumpuh Total Pada pukul 00.44 WIB, KAI Daop 3 Cirebon membatasi kecepatan kereta sebesar 10 km per jam pada jalur hulu, dan 20 km per jam pada jalur hilir. “Namun, pada pukul 02.45 WIB, baik jalur hulu maupun hilir KM 252+5 sampai 252+00 dinyatakan tidak aman untuk dilewati,” kata Agus dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat, 23 Februari.

seperti di kutip dari https://bisnis.tempo.co

Akibat kejadian ini beberapa jadwal keberangkatan kereta dan menjadi terlambat. Selain itu, beberapa jalur kereta api tidak bisa lewati, mengharuskan PT KAI mengalihkan jalur perjalanan sehingga menambah waktu tempuh perjalanan kereta api. Bahkan, beberapa kereta api, PT KAI melakukan overstapen atau mengantar penumpang dengan bus ke stasiun pemberangkatan terdekat. Menurut Agus, ada sepuluh kereta yang harus mengalami rekayasa pola operasi overstapen . Adapun kesepuluh kereta tersebut adalah Kereta Api (KA) Tegal Bahari tujuan Stasiun Tegal, KA Tegal Ekspres tujuan Stasiun Tegal, KA Tegal Bahari yang seharusnya berangkat dari Stasiun Tegal menjadi berangkat dari Stasiun Cirebon, juga termasuk KA Tegal Ekspres yang seharusnya berangkat dari Stasiun Cirebon Prujakan. Ada pula KA Argo Anggrek tujuan Stasiun Gambir, KA Sawunggalih tujuan Kutoarjo PP, KA Argo Dwipangga, dan KA Argo Lawu, serta KA Taksaka PP. Ada enam kereta api yang mengalami keterlambatan dari jadwal semula, yakni KA Jaka Tingkir, KA Taksaka 53, KA Taksaka 54, KA Gajayana, KA Argo Lawu Fakultatif, dan KA Argo Dwipangga. Selain itu, KA Purwojaya tujuan Cilacap, KA Progo tujuan Lempuyangan, dan Bima tujuan Gambir, yang harus memutar jalur lewat Tegal–Slawi–Prupuk dengan tambahan waktu tempuh kurang-lebih satu jam bila dibanding lewat jalur normal. Agus mengatakan bagi para pengguna jasa kereta api, apabila ingin membatalkan tiket yang telah dibeli, KAI akan mengembalikan biaya 100 persen untuk kereta yang terkena dampak banjir. Kemudian, sebagai upaya mempercepat proses pemulihan perjalanan rel kereta, KAI menambah batu balas kricak pada jalur Ciledug–Ketanggungan. Ia memperkirakan pada pukul 17.00 jalur tersebut sudah bisa dilewati kereta dengan kecepatan terbatas.

Dari Cirebon dilaporkan, rel kereta jalur hulu (arah dari Jakarta menuju wilayah-wilayah di Jawa Barat hingga Jawa Timur) sempat lumpuh akibat banjir luapan Sungai Cisanggarung. Namun, pada Jumat (23/2) sekitar pukul 16.50 WIB, jalur tersebut mulai bisa dilalui. Semboyan 3 (tidak aman/tidak bisa dilewati) di KM 253+3 – 254+4 antara Stasiun Ciledug–Ketanggungan dicabut dan diganti dengan semboyan 2C. “(Semboyan 2C) artinya bisa dilewati dengan pembatas kecepatan 5 km/jam dan dikawal petugas jalan rel dan jembatan,” ujar Manajer Hubungan Masyarakat PT KAI Daerah Operasi (Daop) 3 Cirebon Krisbiyantoro. Ia mengatakan, KA yang pertama melewati lokasi adalah KA 174 Gayabaru Selatan. PT KAI Daop 3 Cirebon pun berupaya untuk mempercepat proses pemulihan dan perbaikan jalur kereta di antara Stasiun Ciledug–Ketanggungan itu dengan menambah material batu balas. Selain merendam jalur kereta, banjir luapan Sungai Cisanggarung juga merendam ruas jalan tol Pejagan-Kanci. Kendati demikian, tidak semua titik tergenang, melainkan hanya satu titik di KM 238. Tercatat panjang ruas jalan yang tergenang sepanjang 50 meter sampai 70 meter. Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon, banjir merendam sekitar delapan kecamatan. Diperkirakan sekitar 20 ribu rumah terendam banjir. Menurut Kasie Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cirebon Eman Sulaeman banjir terjadi akibat tingginya intensitas hujan dan meluapnya sungai Cisanggarung dan sungai Cijangkelok. “Hampir 90 persen wilayah timur Kabupaten Cirebon terendam banjir,” kata Eman.   Warga pun telah mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman. Petugas BPBD bersama polisi, TNI, dan SAR pun melakukan proses evakuasi kepada warga yang terjebak banjir. Penyaluran bantuan kepada korban banjir pun telah dilakukan. Salah seorang warga di Desa Ciledug Wetan, Kecamatan Ciledug, Surya, mengaku kaget karena air masuk dengan cepat ke dalam rumahnya pada Jumat (23/2) sekitar pukul 00.00 WIB. Dia pun langsung membangunkan keluarganya untuk mengungsi. “Jadi ya tidak sempat menyelamatkan barang-barang, yang penting keluarga selamat,” kata Surya. Sementara di Kabupaten Kuningan, selain banjir, gerakan tanah dan tanah longsor beberapa hari terakhir membuat ribuan warga terpaksa mengungsi. Meski demikian, tidak ada korban jiwa akibat bencana-bencana tersebut. “Ada 2.505 jiwa dari 427 kepala keluarga (KK) yang terpaksa mengungsi akibat bencana banjir, gerakan tanah dan longsor,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Agus Mauludin, Jumat (23/2). Kemudian di Kabupaten Bandung, BPBD setempat mengungkapkan hujan deras yang terjadi Kamis malam (22/2) menyebabkan banjir terjadi di empat kecamatan yaitu, Baleendah, Bojongsoang, Dayeuhkolot, dan Majalaya. Selain itu, longsor terjadi di Kecamatan Kutawaringin dan Kecamatan Ibun. Kabid Kedaruratan dan Kebencanaan BPBD Kabupaten Bandung Heru Kiatno mengungkapkan banjir masih terjadi di beberapa kecamatan. “Kondisi masih seperti malam, cuma ada penurunan banjir yang masih tergenang di beberapa wilayah di Majalaya, Solokan Jeruk, Rancaekek itu mulai penurunan. Dayeuhkolot, Bojongsoang dan Baleendah masih tinggi dan diperkirakan belum akan surut,” katanya, Jumat (23/2). Heru menuturkan, saat ini para pengungsi berada di GOR Inkanas, Desa Dayeuhkolot dan beberapa masjid. Sementara untuk di Majalaya pihaknya masih menuju kesana dengan membawa perahu dan belum mengetahui titik pengungsian berada. “Jumlah warga terdampak belum pasti. Masih assessment tapi diperkirakan mencapai ribuan,” katanya. BPBD Kabupaten Tasikmalaya terus memantau situasi pascahujan deras yang mengguyur pada Kamis, (22/2) malam. Wilayah yang semalam tergenang banjir pun mulai mengalami surut. Kepala Pusat Pengendalian Operasi ( Pusdalops) BPBD Kabupaten Tasik, Kurnia Trisna menyebut lokasi banjir terjadi di Kampung Bojongsoban Desa Tanjungsari. Mulanya banjir sempat mencapai ketinggian lutut orang dewasa. Beruntung ketinggian air terus menyusut. Kepala Stasiun Geofisika Bandung BMKG Tony Agus Wijaya, menjelaskan guyuran hujan di wilayah Bandung Raya, akan berlangsung hingga Ahad (25/2) mendatang. Berdasarkan pantauan citra satelit di Kota Bandung, kata dia, penyebab hujan adalah terdapatnya pembentukan awan Cumulonimbus di sekitar wilayah Bandung Bagian utara dan sekitarnya pada pukul 15:20 WIB kemarin, yang kemudian mulai meluas di seluruh Bandung Raya hingga malam hari. Tak hanya itu, kata dia, adanya daerah belokan angin (shearline) di Jawa Barat khususnya di sebelah selatan Jawa Barat pun berpotensi pada pembentukan awan-awan hujan di wilayah Bandung Raya. Secara global hujan itu pun terjadi karena terdapat anomali suhu permukaan laut di perairan Jawa Barat  yang cenderung hangat sehingga berpeluang terjadi pembentukan awan konvektif potensial hujan Banyak bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih terus mengumpulkan data mengenai bencana banjir dan air sungai meluap yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia, termasuk jalur utara dan selatan, Cirebon di Jawa Barat termasuk Tol Cipali. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengaku telah membaca pemberitahuan aplikasi pesan instan WhatsApp dari sejumlah BPBD pada Kamis dan Jumat ini banyak terjadi bencana. Tidak terkecuali di Brebes yang memakan korban tewas sebanyak tujuh orang. Ia menilai kondisi sejumlah daerah di Jawa sudah mulai ringkih dan semakin rentan terhadap banjir dan longsor. “Hujan sedikit menyebabkan banjir. Apa yang terjadi saat ini adalah resultan yang sudah berlangsung sudah puluhan tahun. Seperti degradasi lingkungan, deforestasi, kekurangan kawasan resapan air, dan bertambahnya jumlah penduduk menempati yang rawan bencana,” ujarnya di Graha BNPB, Jakarta Pusat, Jumat (23/2). ( muhammad fauzi ridwan/rizky suryarandika/arie lukihardianti/rr laeny sulistyawati, Pengolah: muhammad iqbal).

Jakarta, CNN Indonesia — Banjir yang menerjang kawasan jalan Tanggulangin-Porong, Sidoarjo, Jawa Timur membuat perjalanan kereta api lumpuh. Banjir itu disebabkan hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi pada Minggu 26 November kemarin. “Beberapa KA yang melewati jalur tersebut terhambat perjalanannya dan tertahan di stasiun karena tidak tidak bisa melewati jalur tersebut sehingga terpaksa dialihkan perjalanannya menggunakan bus oleh pihak PT KAI,” ujar Manajer Humas Daop 8 Surabaya, Gatut Sutiyatmoko, Senin (27/11). Menurutnya, beberapa perjalanan KA dari arah Malang dengan tujuan Jakarta/Bandung yang melewati Surabaya juga harus memutar ke arah Blitar, Kediri, dan Kertosono. Sejumlah perjalanan KA yang melewati jalur tersebut bahkan mengalami pembatalan. “KAI mengembalikan 100 persen bea perjalanan kepada penumpang yang membatalkan tiketnya,” katanya. Dia mengatakan, untuk mengatasi gangguan perjalanan ini, PT KAI telah melakukan upaya normalisasi jalur selama 1×24 jam sejak kejadian dengan meninggikan rel menggunakan MTT dan penambahan batu balas. Namun hingga saat ini jalur tetap belum bisa dilewati KA karena ketinggian air sampai hari ini mencapai 29 cm di atas kop rel. Guna melayani perjalanan penumpang hari ini, PT KAI menetapkan skenario operasi perjalanan KA. Skenario itu, KA Bima relasi Kertosono-Surabaya Gubeng-Malang dibatalkan, sebagai gantiya dijalankan KLB relasi Kertosono Blitar-Malang. KA Mutiara Selatan relasi Kertosono Surabaya Gubeng-Malang dibatalkan, sebagai gantinya dijalankan KLB relasi Kertosono-Blitar-Malang. Penumpang KA Bima dan Mutiara Selatan dengan tujuan Malang, dapat turun di Kertosono dan kemudian dilanjutkan menuju Malang menggunakan KLB relasi Kertosono Blitar Malang. Untuk penumpang Bima dan Mutiara Selatan yang berangkat dari Surabaya Gubeng akan menggunakan rangkaian KLB Surabaya Gubeng-Kertosono (PP). KA Logawa relasi Jember-Surabaya Gubeng dibatalkan, hanya berjalan dengan relasi Surabaya Gubeng-Purwokerto. KA Ranggajati relasi Jember-Surabaya Gubeng dibatalkan, hanya berjalan dengan relasi Surabaya Gubeng-Cirebon. KA Probowangi dibatalkan untuk relasi Surabaya Gubeng-Bangil. KA Jayabaya relasi Pasar Senen – Malang langsung memutar lewat Wonokromo Kertosono-Blitar-Malang. Banjir di Jalur Tanggulangin-Porong. (CNN Indonesia/Dik). Untuk pola operasi pengaturan perjalanan KA Lokal wilayah Daop 8 Surabaya diatur dengan skenario, KA Lokal relasi Surabaya Kota-Malang Blitar berhenti di Sidoarjo. KA Lokal relasi Blitar-Malang-Sidoarjo berhenti di Bangil. KA Komuter Surabaya Kota-Porong berhenti di Sidoarjo. Penumpang KA lokal yang memiliki tiket namun relasinya tidak terpenuhi karena KA-nya batal sebagian, bea dikembalikan 100 persen. Hingga saat ini PT KAI masih terus berupaya untuk menyurutkan air di lokasi terdampak banjir dan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk melayani penumpang KA yang mengalami keterlambatan maupun yang dialihkan dengan moda transportasi lain. Penumpang Terlantar Sebelumnya, puluhan penumpang kereta api terlantar di stasiun Sidoarjo. Mereka yang hendak menuju arah selatan harus menunggu 5-7 jam tanpa kepastian. Hal itu seiring banjir yang menggenangi perlintasan kereta api di kawasan Porong Sidoarjo. Air setinggi pinggang orang dewasa membuat jalur perlintasan tak bisa dilewati. Hal itu berdampak pada penumpang kereta api dengan tujuan arah Selatan, seperti Pasuruan, Probolinggo, Jember hingga Banyuwangi. Banjir di Jalur Tanggulangin-Porong. (CNN Indonesia/Dik). “Sempat pending, karena ada banjir di Porong,” kata Danang (28) asal Banyuwangi, Jawa Timur. Dia yang baru pulang dari Yogyakarta hendak pulang ke Banyuwangi terpaksa berhenti di Stasiun Sidoarjo karena perjalanan kereta api tak bisa dilanjutkan. “Sejak pukul 15.00 WIB di sini (stasiun) sampai pukul 20.30 WIB juga belum berangkat,” ucapnya. Senada juga dirasakan Yayik (42) asal Surabaya. Dia yang menumpang kereta Legawa jurusan Jember berangkat pada pukul 15.30 WIB melalui stasiun Gubeng Surabaya. Sesampainya di Stasiun Sidoarjo, ternyata kereta tak juga diberangkatkan. “Ya mau bagaimana lagi, di Porong belum surut. Dan dari pihak PT. KAI juga belum ada keputusan yang pasti,” kata Yayik. Begitu juga Nilam (20) warga Surabaya yang hendak menuju Jember. Mahasiswi ini berencana pulang ke Jember karena ada Ujian Akhir Semester. “Setelah kita tunggu lama, ternyata belum juga ada kepastian. Kita hanya diminta untuk naik bus, enggak jelas juga arahnya kemana. Jadi, terpaksa saya cancel ke Jember. Padahal, besok harus ujian,” kata Nilam. (dik/osc)

Jakarta, CNN Indonesia — Manager Humas PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, Jawa Barat, Joni Martinus memastikan, banjir yang menerjang di Cirebon tidak akan kembali mengganggu operasional kereta di Daop 2. Banjir di Cirebon kemarin sempat mengganggu operasional kereta api di wilayah tersebut karena luapan air merendam rel. “Alhamdulillah, berdasarkan informasi yang diperoleh kondisi berangsur membaik dan larangan untuk melintas di lokasi sudah dicabut,” kata Joni dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com , Jumat (22/2).

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

Diketahui, banjir yang menggerus material di bawah jalan kereta di Km 253 + 300 sampai dengan 254 + 400 antara Stasiun Ketanggungan-Stasiun Ciledug arah Purwokerto mengakibatkan gogos atau terkikisnya tanah dan batu di bawah rel sepanjang 700 meter. Selain di lokasi tersebut, banjir juga menggenangi rel kereta api di Km 185 +500 sampai dengan Km 186 + 600 antara Stasiun Tanjung – Stasiun Losari (arah Tegal). Joni menyampaikan bahwa sampai saat ini operasional kereta di Daop 2 masih berjalan normal dan sesuai jadwal, terutama kereta-kereta yang menuju arah Cirebon, Semarang, dan Surabaya Pasarturi.

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

“Dari Daop 2 ada dua kereta yang melintas ke wilayah Cirebon, yaitu KA Ciremai Ekspress dan KA Harina. Sejauh ini masih sesuai jadwal. Namun kami tetap siaga dan mengantisipasi kemungkinan ada keterlambatan kedatang kereta Ciremai dari arah Cirebon menuju Bandung pada malam ini,” ucap dia. Berkaitan dengan kondisi curah hujan yang intensitasnya meninggi, Joni menyampaikan bahwa di seluruh wilayah Daop 2 disiagakan petugas yang terus memantau kondisi jalur kereta api. Dia berharap dan juga memohon doa dari masyarakat agar semua perjalanan kereta api selalu lancar serta tidak ada kendala menghadapi curah hujan tinggi di berbagai wilayah. (hyg/osc)

Related Posts

Comments are closed.