Jaksa Tanyai Andi Narogong soal ‘Demokrat’ di Percakapan Novanto

Jaksa Tanyai Andi Narogong soal ‘Demokrat’ di Percakapan Novanto

Hasil sadapan yang didapatkan KPK diputar jaksa dalam persidangan Setya Novanto. Rekaman yang memperdengarkan suara seseorang yang diduga Novanto menyebut kata ‘demokrat’. Dalam rekaman itu, ada dua kali suara yang diduga Novanto menyebut kata ‘demokrat’. Berikut transkrip salah satu hasil sadapan yang juga ditunjukkan jaksa KPK dalam persidangan: (Backsound rekaman: (suara tidak jelas) ngomong sama demokrat (suara tidak jelas), diperiksa lu nanti (ketawa). (Suara tidak jelas) eh kita tuh gak ada sistemnya, gua analisis sistem deh, sambil (suara tidak jelas). Transkrip hasil sadapan yang ditunjukkan jaksa dalam sidang (Faiq Hidayat/detikcom) Ucapan itu diakui Andi Agustinus alias Andi Narogong ketika bertemu dengan Setya Novanto di kediaman Novanto bersama Johannes Marliem. Jaksa kemudian menanyakan maksud kata ‘demokrat’ dalam rekaman itu. “‘ Ngomong sama demokrat, diperiksa lu nanti’, ini (suara) siapa?” tanya jaksa pada Andi yang dihadirkan dalam sidang lanjutan perkara korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2018). “Itu Pak Nov, tapi konteksnya beliau (Novanto) yang bisa jelaskan,” jawab Andi. Kemudian jaksa menunjukkan transkrip rekaman lainnya. Dalam transkrip itu, orang yang diduga Novanto lagi menyebut kata ‘demokrat’. Jaksa pun bertanya lagi kepada Andi. Berikut transkrip hasil sadapan lainnya yang juga ditunjukkan jaksa KPK dalam persidangan: (Background rekaman) tebebek-bebek tinggal itu kita ngomong ma demokrat, kita justru tidak jadi periksa (ketawa). Transkrip hasil sadapan yang ditunjukkan jaksa dalam sidang (Faiq Hidayat/detikcom) “‘Tebebek-bebek kita tinggal ngomong demokrat’, yang ngomong siapa?” tanya jaksa. “Itu Pak Novanto,” ucap Andi. “Demokrat ini siapa?” tanya jaksa kembali. “Nggak tahu,” kata Andi. Dalam perkara ini Novanto didakwa melakukan intervensi dalam proses penganggaran dan pengadaan barang/jasa proyek e-KTP. Novanto juga didakwa menerima USD 7,3 juta melalui keponakannya Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, dan orang kepercayaannya, Made Oka Masagung.

Hasil sadapan yang didapatkan KPK diputar jaksa dalam persidangan Setya Novanto. Rekaman yang memperdengarkan suara seseorang yang diduga Novanto menyebut kata ‘demokrat’. Dalam rekaman itu, ada dua kali suara yang diduga Novanto menyebut kata ‘demokrat’. Berikut transkrip salah satu hasil sadapan yang juga ditunjukkan jaksa KPK dalam persidangan: (Backsound rekaman: (suara tidak jelas) ngomong sama demokrat (suara tidak jelas), diperiksa lu nanti (ketawa). (Suara tidak jelas) eh kita tuh gak ada sistemnya, gua analisis sistem deh, sambil (suara tidak jelas). Transkrip hasil sadapan yang ditunjukkan jaksa dalam sidang (Faiq Hidayat/detikcom) Ucapan itu diakui Andi Agustinus alias Andi Narogong ketika bertemu dengan Setya Novanto di kediaman Novanto bersama Johannes Marliem. Jaksa kemudian menanyakan maksud kata ‘demokrat’ dalam rekaman itu. “‘ Ngomong sama demokrat, diperiksa lu nanti’, ini (suara) siapa?” tanya jaksa pada Andi yang dihadirkan dalam sidang lanjutan perkara korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2018). “Itu Pak Nov, tapi konteksnya beliau (Novanto) yang bisa jelaskan,” jawab Andi. Kemudian jaksa menunjukkan transkrip rekaman lainnya. Dalam transkrip itu, orang yang diduga Novanto lagi menyebut kata ‘demokrat’. Jaksa pun bertanya lagi kepada Andi. Berikut transkrip hasil sadapan lainnya yang juga ditunjukkan jaksa KPK dalam persidangan: (Background rekaman) tebebek-bebek tinggal itu kita ngomong ma demokrat, kita justru tidak jadi periksa (ketawa). Transkrip hasil sadapan yang ditunjukkan jaksa dalam sidang (Faiq Hidayat/detikcom) “‘Tebebek-bebek kita tinggal ngomong demokrat’, yang ngomong siapa?” tanya jaksa. “Itu Pak Novanto,” ucap Andi. “Demokrat ini siapa?” tanya jaksa kembali. “Nggak tahu,” kata Andi. Dalam perkara ini Novanto didakwa melakukan intervensi dalam proses penganggaran dan pengadaan barang/jasa proyek e-KTP. Novanto juga didakwa menerima USD 7,3 juta melalui keponakannya Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, dan orang kepercayaannya, Made Oka Masagung.

Hasil sadapan yang didapatkan KPK diputar jaksa dalam persidangan Setya Novanto. Rekaman yang memperdengarkan suara seseorang yang diduga Novanto menyebut kata ‘demokrat’. Dalam rekaman itu, ada dua kali suara yang diduga Novanto menyebut kata ‘demokrat’. Berikut transkrip salah satu hasil sadapan yang juga ditunjukkan jaksa KPK dalam persidangan: (Backsound rekaman: (suara tidak jelas) ngomong sama demokrat (suara tidak jelas), diperiksa lu nanti (ketawa). (Suara tidak jelas) eh kita tuh gak ada sistemnya, gua analisis sistem deh, sambil (suara tidak jelas). Transkrip hasil sadapan yang ditunjukkan jaksa dalam sidang (Faiq Hidayat/detikcom) Ucapan itu diakui Andi Agustinus alias Andi Narogong ketika bertemu dengan Setya Novanto di kediaman Novanto bersama Johannes Marliem. Jaksa kemudian menanyakan maksud kata ‘demokrat’ dalam rekaman itu. “‘ Ngomong sama demokrat, diperiksa lu nanti’, ini (suara) siapa?” tanya jaksa pada Andi yang dihadirkan dalam sidang lanjutan perkara korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2018). “Itu Pak Nov, tapi konteksnya beliau (Novanto) yang bisa jelaskan,” jawab Andi. Kemudian jaksa menunjukkan transkrip rekaman lainnya. Dalam transkrip itu, orang yang diduga Novanto lagi menyebut kata ‘demokrat’. Jaksa pun bertanya lagi kepada Andi. Berikut transkrip hasil sadapan lainnya yang juga ditunjukkan jaksa KPK dalam persidangan: (Background rekaman) tebebek-bebek tinggal itu kita ngomong ma demokrat, kita justru tidak jadi periksa (ketawa). Transkrip hasil sadapan yang ditunjukkan jaksa dalam sidang (Faiq Hidayat/detikcom) “‘Tebebek-bebek kita tinggal ngomong demokrat’, yang ngomong siapa?” tanya jaksa. “Itu Pak Novanto,” ucap Andi. “Demokrat ini siapa?” tanya jaksa kembali. “Nggak tahu,” kata Andi. Dalam perkara ini Novanto didakwa melakukan intervensi dalam proses penganggaran dan pengadaan barang/jasa proyek e-KTP. Novanto juga didakwa menerima USD 7,3 juta melalui keponakannya Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, dan orang kepercayaannya, Made Oka Masagung.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Ucapan itu diakui Andi Agustinus alias Andi Narogong ketika bertemu dengan Setya Novanto di kediaman Novanto bersama Johannes Marliem. Jaksa kemudian menanyakan maksud kata ‘demokrat’ dalam rekaman itu.”‘Ngomong sama demokrat, diperiksa lu nanti’, ini (suara) siapa?” tanya jaksa pada Andi yang dihadirkan dalam sidang lanjutan perkara korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2018).”Itu Pak Nov, tapi konteksnya beliau (Novanto) yang bisa jelaskan,” jawab Andi.Kemudian jaksa menunjukkan transkrip rekaman lainnya. Dalam transkrip itu, orang yang diduga Novanto lagi menyebut kata ‘demokrat’. Jaksa pun bertanya lagi kepada Andi.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Tanggul Jebol, Permukiman di Paseh Bandung Tergenang Banjir Pungli PKL Saat Jabat Lurah, Mantan PNS Ini Diamankan 65 Siswa SD Mengalami Pelecehan Seksual, Ini Pengakuan Pelaku PSI Kecewa soal Aturan Beriklan, KPU: Pembuat UU yang Tentukan Warga Amankan Pria Diduga Gila di Warung Buncit Jaksel Banyuwangi Tanam Bawang Putih, Lahan 145 Hektare Disiapkan Pengakuan Pengemis Bawa Uang Rp 43 Juta Saat Terjaring Razia Pemerhati Hewan: Pria Lempar Anjing ke Buaya untuk Bersenang-senang Tolak Angkotnya Diderek, Sopir Nekat Naik di Sambungan Mobil Ketua NasDem di Gorontalo Ditangkap Terkait Sabu Jaksa Tanyai Andi Narogong soal ‘Demokrat’ di Percakapan Novanto NasDem Gorontalo Berhentikan Kadernya yang Ditangkap Terkait Sabu Terjaring Razia, Pengemis di Tasikmalaya Bawa Uang Rp 43 Juta Jaksa ke Saksi: Novanto Butuh Rp 20 M untuk Amankan Diri dari KPK? Tolak Angkotnya Diderek, Sopir Nekat Naik Sambungan Mobil Jaksa Baca BAP Saksi dari Prancis: Novanto Orang Berpengaruh di RI Polda Banten Ungkap Kasus Solar Oplosan Beromzet Rp 8 M Per Bulan Bantah soal Rp 20 Miliar, Pengacara Novanto: Itu Cuma Omong Kosong PDIP: Hoax Mega Minta Azan Ditiadakan Politis! Jaksa KPK akan Konfrontasi Nazaruddin dengan Andi Narogong Rumah Novel Baswedan Dijaga 24 Jam Berpose Terjun Sungai, Pelajar di Sukabumi Tewas Tenggelam Jaksa ke Saksi: Novanto Butuh Ongkos Rp 20 M untuk Amankan KPK? Sudirman-Ida Punya 22 Janji Untuk Jawa Tengah Sajak Fadli Zon: Orang Gila Pimpinan DPR Hormati Apa Pun Keputusan Jokowi soal UU MD3 Pemberhentian Bupati Kebumen Tunggu Keputusan Mendagri KPK: Kembalinya Novel Jadi Vitamin dan Penguat Semangat Respons Jokowi Soal Inpres Perdagangan Antar Daerah Sutiyoso Bicara Modus Pura-pura Gila di Kasus Penyerangan Ulama Aisyah Dibayar untuk Terbang ke Macau, Tempat Tinggal Kim Jong-Nam Akan Dimediasi dengan PBB, KPU Minta Parpol Terima Putusan Bawaslu Pengendara Motor di Wales Tewas Usai Helmnya Ditabrak Burung Kasus Jerat Pakai Perempuan di Depok, 6 Orang Kembali Ditangkap Polri Sudah Kantongi Sejumlah Jenderal Calon Kepala BNN Jokowi Temui Solihin GP Bahas Pilkada Jabar hingga Citarum Novel Baswedan Hanya Bisa Ditemui Tamu Mulai Asar Hingga Magrib Viral! Curhat Keluarga Pasien Koma yang Merasa Dipaksa Pulang dari RS Sadis! Pria Ini Lempar Anjing Jadi Santapan Buaya di Sungai Polisi Cari Pria yang Lempar Anjing ke Sungai untuk Santapan Buaya

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Setya Novanto di pengadilan Tipikor. (Foto: Aprilandika Pratama/kumparan) Terdakwa kasus korupsi e-KTP Setya Novanto dua kali menyinggung nama Demokrat saat berbicara dengan Direktur PT Biomorf, Johannes Marliem via sambungan telepon. Penuntut umum membuka sadapan rekaman percakapan itu di persidangan. Di proyek e-KTP, Marliem menjadi penyedia produk Automated Fingerprint Identification System (AFIS) merek L1. Marliem kini dikabarkan sudah tewas bunuh diri di Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Percakapan itu berlangsung saat Marliem dan rekan bisnis Setya Novanto, Andi Narogong, berkunjung ke rumah Novanto dalam waktu yang tidak disebutkan jaksa. Rekaman percakapan itu diputar saat Andi duduk bersaksi untuk Setya Novanto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (22/2). Sidang Setya Novanto soal nama Demokrat. (Foto: Adhim Mugni/kumparan) -(suara tidak jelas) ngomong sama Demokrat (suara tidak jelas) diperiksa lu nanti, (suara tidak jelas) eh kita tuh enggak ada sistemnya deh, sambil..(suara tidak jelas) -Gue pengen denger dong yang nyinggung KPK -‎Ini kamera apa nih, dua setengah juta pake apa nih, satu koma sembilan juta apa nih. -‎Enggak dari yang ini lho. -‎Nah, ini kita harus bungkus. -‎Enggak, ini sekarang sisanya dari AFIS (suara tidak jelas) jadi ini open lima puluh juta semua. Usai mendengarkan rekaman, jaksa KPK mengonfirmasi hal itu ke Andi. “Ini ada ngomong sama Demokrat, siapa yang ngomong?” tanya Jaksa. “Pak Nov, (Setya Novanto),” jawab Andi. Kendati demikian, Andi tidak mengetahui persis maksud Setya Novanto menyinggung nama Demokrat. Dia juga membantah mengetahui konteks pembicaraan tersebut. Dalam percakapan berikutnya, Setya Novanto kembali menyinggung nama Demokrat. Sidang Setya Novanto soal nama Demokrat. (Foto: Adhim Mugni/kumparan) -Makanya gue yang supply dong, kalau udah begitu. -‎Bukan tapi amankan lu? -‎(suara tidak jelas) nih. -‎ya (suara tidak jelas) rumit nih. -‎Enggak. Bukanya waktu enggak Pak? -‎Tahu dong! gue kasih 10 persen ngapain kita enggak mau, (tertawa) (suara enggak jelas) itu kan hak lu, hak kita kan, duit segede gitu. Kerjaan proyek dia cuma ikut-ikutan doang. Ngasih mitus ngambil uang dari situ kan kita. -‎Tebebek, bebek tinggal itu kita ngomong ama Demokrat, kita justru tidak jadi diperiksa. (tertawa). Jaksa kembali bertanya ke Andi. Namun lagi-lagi, Andi tidak mengetahui maksud pembicaraan Setya Novanto. Andi juga tidak menanyakan soal nama Demokrat yang disinggung dalam percakapan tersebut. “Ada nama lagi Demokrat sini, siapa yang ngomong? orangnya siapa?” tanya Jaksa pada Andi. “Pak Nov, tapi orangnya enggak tahu,” kata Andi.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Jakarta, CNN Indonesia — Jaksa Penuntut Umum memutar rekaman percakapan telepon antara terdakwa korupsi proyek e-KTP Setya Novanto dengan rekannya sekaligus pengusaha Made Oka Masagung dalam sidang korupsi e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (22/1). Made merupakan rekan dekat Setnov karena pernah sama-sama bergabung dalam Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro). Dalam rekaman tersebut, keduanya diduga membahas rencana pertemuan dengan Country Manager Hewlett Packard (HP) Enterprise Service, Charles Sutanto Ekapradja. Awalnya, Made memberitahu kepada Setnov akan bertemu dengan Charles. Ia pun berniat mempertemukan Setnov dengan Charles di kediaman mantan ketua DPR itu. “Eh, Nov ada waktu kapan? Gue mau ketemu Charles ada kerjaan,” ujar Made seperti dikutip dari rekaman telepon. Pertanyaan itu kemudian dijawab Setnov dengan ‘besok’. Made lantas memastikan bahwa pertemuan itu akan dilakukan di rumah Setnov. “Di mana? Rumah, pagi?” tanya Made yang kemudian dijawab Setnov dengan ‘ya oke, oke’. Jaksa lantas memutar rekaman percakapan kedua. Dalam rekaman itu Made hanya menyampaikan informasi akan pergi bersama keponakan Setnov, Irvanto Pambudi Cahyo. Lebih lanjut pada rekaman percakapan ketiga, Made sempat menyinggung Andi Agustinus alias Andi Narogong. Awalnya Made menanyakan keberadaan Setnov yang saat itu diketahui berada di Kupang. Made lantas menyampaikan informasi bahwa Andi sedang terkendala masalah. “AA kelihatannya ada problem tuh, aduuuh,” ucap Made dalam rekaman tersebut. Setnov lalu bertanya ‘yang mana’ dan dijawab Made ‘nanti gue mesti laporkan Nov, yang si itu …. penagihan’. Kemudian pada rekaman terakhir diduga Made akan melakukan pertemuan dengan Setnov. Dalam rekaman itu terdengar Made yang ingin memastikan jadwal bertemu dengan rekannya itu. Saat dikonfirmasi jaksa, Made pun mengakui bahwa suara dalam rekaman percakapan telepon itu adalah dirinya. Namun ia lupa dengan seluruh isi percakapan tersebut. “Seingat saya itu percakapan saya dengan Pak Novanto, tapi saya tidak ingat (isi percakapan),” tuturnya. (wis/djm)

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

JAKARTA, iNews.id – Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka rekaman percakapan telepon antara mantan Dirut PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo dengan mantan Direktur PT Biomorf Mauritius Johannes Marliem. Dalam percakapan itu, Setya Novanto (Setnov) disebut menerima jatah uang proyek e-KTP USD 1,8 juta melalui Andi Agustinus alias Andi Narogong. Awalnya, jaksa menanyakan adanya jatah untuk Asiong (julukan Andi Narogong dari Anang). Dalam percakapan itu juga disebut uang tersebut diberikan kepada seseorang dengan inisial Si S. “Uang saya yang 1,8 juta (USD) itu diminta untuk keperluan si Asiong. Si Made (Oka Masagung) juga bilang nanti buat si Asiong. Jadi saya bilang ke Marliem, ‘ya, sudah uangnya sudah diambil,” ujar Anang. Anang mengungkapkan hal tersebut saat menjadi saksi di sidang lanjutan pokok perkaraa dugaan korupsi dengan terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (22/2/2018). “Ya yang seperti apa Pak? Ke siapa?” tanya jaksa. “Ya ke Pak Setya Novanto,” jawab Anang. BACA JUGA: Sidang Tipikor, Saksi Sebut Ada Gajah-Gajah di Proyek E-KTP Setnov Bantah Terima Hadiah Jam Tangan Richard Mille Kendati demikian, Anang mengaku tidak mengetahui secara detil waktu penyerahan uang itu kepada mantan Ketua Fraksi Golkar DPR Setya Novanto. Menurutnya, penyerahan uang tersebut merupakan tanggung jawab Andi Narogong. Setnov sebelumnya telah didakwa telah memperkaya diri sendiri dengan menerima uang USD 7,3 juta dari proyek e-KTP. Namun, Setnov membantah tidak menerima dan berkelit. Dia mengaku tidak tahu soal adanya aliran dana dari proyek bernilai Rp5,9 triliun itu kepada dirinya.

Ucapan itu diakui Andi Agustinus alias Andi Narogong ketika bertemu dengan Setya Novanto di kediaman Novanto bersama Johannes Marliem. Jaksa kemudian menanyakan maksud kata ‘demokrat’ dalam rekaman itu.”‘Ngomong sama demokrat, diperiksa lu nanti’, ini (suara) siapa?” tanya jaksa pada Andi yang dihadirkan dalam sidang lanjutan perkara korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2018).”Itu Pak Nov, tapi konteksnya beliau (Novanto) yang bisa jelaskan,” jawab Andi.Kemudian jaksa menunjukkan transkrip rekaman lainnya. Dalam transkrip itu, orang yang diduga Novanto lagi menyebut kata ‘demokrat’. Jaksa pun bertanya lagi kepada Andi.

seperti di kutip dari https://webcepat.ga

detikcom Terima Penghargaan dari BNPB Bawa Kabur Alquran yang Dikira Laptop, Pria di Tangerang Ditangkap Tanggul Jebol, Permukiman di Paseh Bandung Tergenang Banjir Pungli PKL Saat Jabat Lurah, Mantan PNS Ini Diamankan 65 Siswa SD Mengalami Pelecehan Seksual, Ini Pengakuan Pelaku PSI Kecewa soal Aturan Beriklan, KPU: Pembuat UU yang Tentukan Warga Amankan Pria Diduga Gila di Warung Buncit Jaksel Banyuwangi Tanam Bawang Putih, Lahan 145 Hektare Disiapkan Pengakuan Pengemis Bawa Uang Rp 43 Juta Saat Terjaring Razia Pemerhati Hewan: Pria Lempar Anjing ke Buaya untuk Bersenang-senang Tolak Angkotnya Diderek, Sopir Nekat Naik di Sambungan Mobil Ketua NasDem di Gorontalo Ditangkap Terkait Sabu Jaksa Tanyai Andi Narogong soal ‘Demokrat’ di Percakapan Novanto NasDem Gorontalo Berhentikan Kadernya yang Ditangkap Terkait Sabu Terjaring Razia, Pengemis di Tasikmalaya Bawa Uang Rp 43 Juta Jaksa ke Saksi: Novanto Butuh Rp 20 M untuk Amankan Diri dari KPK? Tolak Angkotnya Diderek, Sopir Nekat Naik Sambungan Mobil Jaksa Baca BAP Saksi dari Prancis: Novanto Orang Berpengaruh di RI Polda Banten Ungkap Kasus Solar Oplosan Beromzet Rp 8 M Per Bulan Bantah soal Rp 20 Miliar, Pengacara Novanto: Itu Cuma Omong Kosong PDIP: Hoax Mega Minta Azan Ditiadakan Politis! Jaksa KPK akan Konfrontasi Nazaruddin dengan Andi Narogong Rumah Novel Baswedan Dijaga 24 Jam Berpose Terjun Sungai, Pelajar di Sukabumi Tewas Tenggelam Jaksa ke Saksi: Novanto Butuh Ongkos Rp 20 M untuk Amankan KPK? Sudirman-Ida Punya 22 Janji Untuk Jawa Tengah Sajak Fadli Zon: Orang Gila Pimpinan DPR Hormati Apa Pun Keputusan Jokowi soal UU MD3 Pemberhentian Bupati Kebumen Tunggu Keputusan Mendagri KPK: Kembalinya Novel Jadi Vitamin dan Penguat Semangat Respons Jokowi Soal Inpres Perdagangan Antar Daerah Sutiyoso Bicara Modus Pura-pura Gila di Kasus Penyerangan Ulama Aisyah Dibayar untuk Terbang ke Macau, Tempat Tinggal Kim Jong-Nam Akan Dimediasi dengan PBB, KPU Minta Parpol Terima Putusan Bawaslu Pengendara Motor di Wales Tewas Usai Helmnya Ditabrak Burung Kasus Jerat Pakai Perempuan di Depok, 6 Orang Kembali Ditangkap Polri Sudah Kantongi Sejumlah Jenderal Calon Kepala BNN Jokowi Temui Solihin GP Bahas Pilkada Jabar hingga Citarum Novel Baswedan Hanya Bisa Ditemui Tamu Mulai Asar Hingga Magrib Viral! Curhat Keluarga Pasien Koma yang Merasa Dipaksa Pulang dari RS

Setya Novanto di pengadilan Tipikor. (Foto: Aprilandika Pratama/kumparan) Terdakwa kasus korupsi e-KTP Setya Novanto dua kali menyinggung nama Demokrat saat berbicara dengan Direktur PT Biomorf, Johannes Marliem via sambungan telepon. Penuntut umum membuka sadapan rekaman percakapan itu di persidangan. Di proyek e-KTP, Marliem menjadi penyedia produk Automated Fingerprint Identification System (AFIS) merek L1. Marliem kini dikabarkan sudah tewas bunuh diri di Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Percakapan itu berlangsung saat Marliem dan rekan bisnis Setya Novanto, Andi Narogong, berkunjung ke rumah Novanto dalam waktu yang tidak disebutkan jaksa. Rekaman percakapan itu diputar saat Andi duduk bersaksi untuk Setya Novanto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (22/2). Sidang Setya Novanto soal nama Demokrat. (Foto: Adhim Mugni/kumparan) -(suara tidak jelas) ngomong sama Demokrat (suara tidak jelas) diperiksa lu nanti, (suara tidak jelas) eh kita tuh enggak ada sistemnya deh, sambil..(suara tidak jelas) -Gue pengen denger dong yang nyinggung KPK -‎Ini kamera apa nih, dua setengah juta pake apa nih, satu koma sembilan juta apa nih. -‎Enggak dari yang ini lho. -‎Nah, ini kita harus bungkus. -‎Enggak, ini sekarang sisanya dari AFIS (suara tidak jelas) jadi ini open lima puluh juta semua. Usai mendengarkan rekaman, jaksa KPK mengonfirmasi hal itu ke Andi. “Ini ada ngomong sama Demokrat, siapa yang ngomong?” tanya Jaksa. “Pak Nov, (Setya Novanto),” jawab Andi. Kendati demikian, Andi tidak mengetahui persis maksud Setya Novanto menyinggung nama Demokrat. Dia juga membantah mengetahui konteks pembicaraan tersebut. Dalam percakapan berikutnya, Setya Novanto kembali menyinggung nama Demokrat. Sidang Setya Novanto soal nama Demokrat. (Foto: Adhim Mugni/kumparan) -Makanya gue yang supply dong, kalau udah begitu. -‎Bukan tapi amankan lu? -‎(suara tidak jelas) nih. -‎ya (suara tidak jelas) rumit nih. -‎Enggak. Bukanya waktu enggak Pak? -‎Tahu dong! gue kasih 10 persen ngapain kita enggak mau, (tertawa) (suara enggak jelas) itu kan hak lu, hak kita kan, duit segede gitu. Kerjaan proyek dia cuma ikut-ikutan doang. Ngasih mitus ngambil uang dari situ kan kita. -‎Tebebek, bebek tinggal itu kita ngomong ama Demokrat, kita justru tidak jadi diperiksa. (tertawa). Jaksa kembali bertanya ke Andi. Namun lagi-lagi, Andi tidak mengetahui maksud pembicaraan Setya Novanto. Andi juga tidak menanyakan soal nama Demokrat yang disinggung dalam percakapan tersebut. “Ada nama lagi Demokrat sini, siapa yang ngomong? orangnya siapa?” tanya Jaksa pada Andi. “Pak Nov, tapi orangnya enggak tahu,” kata Andi.

Jakarta, CNN Indonesia — Jaksa Penuntut Umum memutar rekaman percakapan telepon antara terdakwa korupsi proyek e-KTP Setya Novanto dengan rekannya sekaligus pengusaha Made Oka Masagung dalam sidang korupsi e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (22/1). Made merupakan rekan dekat Setnov karena pernah sama-sama bergabung dalam Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro). Dalam rekaman tersebut, keduanya diduga membahas rencana pertemuan dengan Country Manager Hewlett Packard (HP) Enterprise Service, Charles Sutanto Ekapradja. Awalnya, Made memberitahu kepada Setnov akan bertemu dengan Charles. Ia pun berniat mempertemukan Setnov dengan Charles di kediaman mantan ketua DPR itu. “Eh, Nov ada waktu kapan? Gue mau ketemu Charles ada kerjaan,” ujar Made seperti dikutip dari rekaman telepon. Pertanyaan itu kemudian dijawab Setnov dengan ‘besok’. Made lantas memastikan bahwa pertemuan itu akan dilakukan di rumah Setnov. “Di mana? Rumah, pagi?” tanya Made yang kemudian dijawab Setnov dengan ‘ya oke, oke’. Jaksa lantas memutar rekaman percakapan kedua. Dalam rekaman itu Made hanya menyampaikan informasi akan pergi bersama keponakan Setnov, Irvanto Pambudi Cahyo. Lebih lanjut pada rekaman percakapan ketiga, Made sempat menyinggung Andi Agustinus alias Andi Narogong. Awalnya Made menanyakan keberadaan Setnov yang saat itu diketahui berada di Kupang. Made lantas menyampaikan informasi bahwa Andi sedang terkendala masalah. “AA kelihatannya ada problem tuh, aduuuh,” ucap Made dalam rekaman tersebut. Setnov lalu bertanya ‘yang mana’ dan dijawab Made ‘nanti gue mesti laporkan Nov, yang si itu …. penagihan’. Kemudian pada rekaman terakhir diduga Made akan melakukan pertemuan dengan Setnov. Dalam rekaman itu terdengar Made yang ingin memastikan jadwal bertemu dengan rekannya itu. Saat dikonfirmasi jaksa, Made pun mengakui bahwa suara dalam rekaman percakapan telepon itu adalah dirinya. Namun ia lupa dengan seluruh isi percakapan tersebut. “Seingat saya itu percakapan saya dengan Pak Novanto, tapi saya tidak ingat (isi percakapan),” tuturnya. (wis/djm)

JAKARTA, iNews.id – Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka rekaman percakapan telepon antara mantan Dirut PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo dengan mantan Direktur PT Biomorf Mauritius Johannes Marliem. Dalam percakapan itu, Setya Novanto (Setnov) disebut menerima jatah uang proyek e-KTP USD 1,8 juta melalui Andi Agustinus alias Andi Narogong. Awalnya, jaksa menanyakan adanya jatah untuk Asiong (julukan Andi Narogong dari Anang). Dalam percakapan itu juga disebut uang tersebut diberikan kepada seseorang dengan inisial Si S. “Uang saya yang 1,8 juta (USD) itu diminta untuk keperluan si Asiong. Si Made (Oka Masagung) juga bilang nanti buat si Asiong. Jadi saya bilang ke Marliem, ‘ya, sudah uangnya sudah diambil,” ujar Anang. Anang mengungkapkan hal tersebut saat menjadi saksi di sidang lanjutan pokok perkaraa dugaan korupsi dengan terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (22/2/2018). “Ya yang seperti apa Pak? Ke siapa?” tanya jaksa. “Ya ke Pak Setya Novanto,” jawab Anang. BACA JUGA: Sidang Tipikor, Saksi Sebut Ada Gajah-Gajah di Proyek E-KTP Setnov Bantah Terima Hadiah Jam Tangan Richard Mille Kendati demikian, Anang mengaku tidak mengetahui secara detil waktu penyerahan uang itu kepada mantan Ketua Fraksi Golkar DPR Setya Novanto. Menurutnya, penyerahan uang tersebut merupakan tanggung jawab Andi Narogong. Setnov sebelumnya telah didakwa telah memperkaya diri sendiri dengan menerima uang USD 7,3 juta dari proyek e-KTP. Namun, Setnov membantah tidak menerima dan berkelit. Dia mengaku tidak tahu soal adanya aliran dana dari proyek bernilai Rp5,9 triliun itu kepada dirinya.

Related Posts

Comments are closed.