Jaksa KPK ke Auditor BPK: Di BAP, Ada Pemandu Lagu di Karaoke?

Jaksa KPK ke Auditor BPK: Di BAP, Ada Pemandu Lagu di Karaoke?

Roy Steven mengaku diajak Sigit Yugoharto menikmati hiburan malam berupa karaoke. Roy merupakan salah satu anggota tim auditor BPK yang memeriksa PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi. Sedangkan, Sigit saat itu adalah ketua tim pemeriksaan pengelolaan keuangan PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi. Hiburan karaoke itu dilakukan di Havana Spa dan Karaoke di Jalan Sukajadi, Bandung dan Las Vegas di Plaza Semanggi, Jakarta Selatan. “Di BAP (berita acara pemeriksaan), Anda (mengaku) diajak sama Sigit Yugoharto, betul?” tanya jaksa KPK Ali Fikri pada Roy yang dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan terdakwa Sigit di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). “Betul,” jawab Roy. Roy mengaku diajak Sigit 3 kali berkaraoke di Las Vegas, Plaza Semanggi. Sedangkan untuk karaoke di Havana Spa dan Karaoke, Roy mengaku diajak sebanyak 4 kali. Menurut Roy, Sigit awalnya menghubunginya dengan ajakan makan malam. Namun, setelahnya Roy ternyata diajak ke tempat karaoke tersebut. “Apa yang disampaikan Pak Sigit waktu itu?” ujar jaksa. “Ini nanti ada rencana makan malam,” jawab Roy. Salah satu bukti pembayaran yang disita jaksa untuk hiburan berupa karaoke yaitu Rp 40 juta. Namun, Roy mengaku tidak tahu siapa yang membayarnya. “Biaya saya nggak tahu. Tahu saat saya dikasih tahu penyidik,” ucap Roy. Selain untuk biaya karaoke, rupanya biaya-biaya itu termasuk untuk minuman keras dan sewa pemandu lagu. Hal itu terungkap dalam BAP Roy yang diamininya. “Dalam BAP Anda betul ini, minum-minuman keras dan pemandu lagu?” tanya jaksa. “Ada betul,” jawab Roy. Sigit Yugoharto didakwa menerima moge dan fasilitas hiburan malam berupa karaoke terkait audit di Jasa Marga Cabang Purbaleunyi. Sigit Yugoharto saat itu adalah ketua tim pemeriksaan pengelolaan keuangan PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi. Dalam dakwaan Sigit, tim Pemeriksa BPK bersama pihak PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi Cucup Sutisna, Asep Komarwan, dan Andriansyah pergi ke Havana Spa dan Karaoke di Jalan Sukajadi Bandung dengan menghabiskan biaya Rp 41.721.200 yang dibayar Janudin dari PT Gienda Putra (subkontraktor Jasa Marga). Fasilitas karaoke juga diberikan kepada Sigit dan Tim Pemeriksa BPK lain saat mereka karaoke di Las Vegas Plaza Semanggi Jakarta Selatan. Biaya karaoke disebutkan senilai Rp 30 juta.

Baca juga :

Hakim heran mobil auditor BPK Ali Sadli dipindah-pindahkan usai operasi tangkap tangan (OTT). Mobil Ali itu dipindahkan seseorang yang mengaku bernama Apriyadi Malik alias Yaya. Jarak kediaman Yaya dan Ali Sadli berdekatan sehingga mudah bagi Yaya memindahkan mobil Ali. Namun, ketua majelis hakim Ibnu Basuki Widodo curiga dengan kepentingan Yaya memindahkan mobil Ali itu. “Apa sih alasannya, mobil dipindahin?” tanya Ibnu pada Yaya dalam sidang lanjutan terdakwa Ali Sadli di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (8/1/2018). “Tidak ada, Pak. Prihatin saja,” jawab Yaya. Hakim merasa jawaban Yaya tak masuk akal. Yaya pun mengelak ketika ditanya hakim apakah alasannya memindahkan mobil agar tidak disita KPK. “Ini ada yang tidak nalar ini. Kenapa dipindahkan?” tanya Ibnu lagi. “Ya tidak ada maksud apa-apa, karena Pak Ali ketangkap,” jawab Yaya. “Terus kalau Pak Ali ketangkap, apa maksudnya?” tanya Ibnu. “Saya lupa. Tidak ada maksud apa-apa,” ucap Yaya. Akhirnya Yaya menceritakan latar belakang dirinya memindahkan mobil Ali. Dia mengaku pernah dihubungi seseorang bernama Widi yang merupakan pensiunan BPK, menyuruhnya untuk memindahkan mobil Ali ke rumahnya. “Waktu itu Pak Widi, panggilannya Puang, telepon saya bilang ya kalau bisa mobilnya dipindahin ke rumah saya aja. Itu Pak Widi, temannya Pak Ali,” ucap Yaya. “Tapi setelah (mobil) pindah ke rumah saya, saya ketemu di restoran, saya ketemu sama Bu Ali, iparnya, sama Pak Yudi. Bilang ada lima-limanya mobil (Ali yang berada di rumahnya), terus saya kembalikan semuanya. Sopirnya Pak Ali saya kembalikan,” imbuh Yaya. Yaya mengaku tidak mau bertemu Widi secara langsung. Hakim menanyakan apa yang disembunyikan Yaya tetapi dijawab Yaya tidak ada. Hakim kembali menanyakan apa kewenangan Widi memerintah Yaya, tapi lagi-lagi Yaya menjawab tidak ada. Giliran jaksa KPK menanyakan latar belakang pekerjaan, Yaya hanya mengaku sebagai pekerja swasta. Namun Yaya mengaku mengenal beberapa karyawan BPK tanpa menjelaskan dari mana. Sebelumnya dari keterangan Yudy Ayodya Baruna (anggota BPK), Ali memiliki sejumlah mobil. Beberapa mobil yang dimiliki antara lain Mini Cooper, Honda CRV, Toyota Fortuner, dan Toyota Vellfire.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Hakim heran mobil auditor BPK Ali Sadli dipindah-pindahkan usai operasi tangkap tangan (OTT). Mobil Ali itu dipindahkan seseorang yang mengaku bernama Apriyadi Malik alias Yaya. Jarak kediaman Yaya dan Ali Sadli berdekatan sehingga mudah bagi Yaya memindahkan mobil Ali. Namun, ketua majelis hakim Ibnu Basuki Widodo curiga dengan kepentingan Yaya memindahkan mobil Ali itu. “Apa sih alasannya, mobil dipindahin?” tanya Ibnu pada Yaya dalam sidang lanjutan terdakwa Ali Sadli di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (8/1/2018). “Tidak ada, Pak. Prihatin saja,” jawab Yaya. Hakim merasa jawaban Yaya tak masuk akal. Yaya pun mengelak ketika ditanya hakim apakah alasannya memindahkan mobil agar tidak disita KPK. “Ini ada yang tidak nalar ini. Kenapa dipindahkan?” tanya Ibnu lagi. “Ya tidak ada maksud apa-apa, karena Pak Ali ketangkap,” jawab Yaya. “Terus kalau Pak Ali ketangkap, apa maksudnya?” tanya Ibnu. “Saya lupa. Tidak ada maksud apa-apa,” ucap Yaya. Akhirnya Yaya menceritakan latar belakang dirinya memindahkan mobil Ali. Dia mengaku pernah dihubungi seseorang bernama Widi yang merupakan pensiunan BPK, menyuruhnya untuk memindahkan mobil Ali ke rumahnya. “Waktu itu Pak Widi, panggilannya Puang, telepon saya bilang ya kalau bisa mobilnya dipindahin ke rumah saya aja. Itu Pak Widi, temannya Pak Ali,” ucap Yaya. “Tapi setelah (mobil) pindah ke rumah saya, saya ketemu di restoran, saya ketemu sama Bu Ali, iparnya, sama Pak Yudi. Bilang ada lima-limanya mobil (Ali yang berada di rumahnya), terus saya kembalikan semuanya. Sopirnya Pak Ali saya kembalikan,” imbuh Yaya. Yaya mengaku tidak mau bertemu Widi secara langsung. Hakim menanyakan apa yang disembunyikan Yaya tetapi dijawab Yaya tidak ada. Hakim kembali menanyakan apa kewenangan Widi memerintah Yaya, tapi lagi-lagi Yaya menjawab tidak ada. Giliran jaksa KPK menanyakan latar belakang pekerjaan, Yaya hanya mengaku sebagai pekerja swasta. Namun Yaya mengaku mengenal beberapa karyawan BPK tanpa menjelaskan dari mana. Sebelumnya dari keterangan Yudy Ayodya Baruna (anggota BPK), Ali memiliki sejumlah mobil. Beberapa mobil yang dimiliki antara lain Mini Cooper, Honda CRV, Toyota Fortuner, dan Toyota Vellfire.

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Muhamad Faisal Akbar (32) membuat video porno tak bermoral antara bocah dan perempuan dewasa karena ada pesanan dari seseorang berinisial R yang mengaku sebagai warga negara (WN) Rusia. Faisal mengenal WN Rusia itu dari grup Facebook. Awalnya, Faisal ikut dalam sebuah grup media sosial (medsos) Facebook. Faisal lalu mengunggah di dinding grup foto seorang anak dan perempuan dewasa. “Lalu foto itu dia edit seolah-olah sedang melakukan seperti itu (adegan mesum),” kata Kapolda Jawa Barat Irjen Agung Budi Maryoto di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, Senin (8/1/2018). Faisal mendapat tanggapan positif dari anggota grup lainnya atas unggahan itu. Ia kemudian dihubungi oleh R. “Lalu dia diminta, bisa nggak bikin yang riil,” ucapnya. Permintaan itu langsung disanggupi Faisal. Melalui kenalannya seorang perempuan berinisial I (DPO), dia meminta bantuan untuk mencarikan perempuan yang mau ikut terlibat. Dari I, Faisal dikenalkan dengan perempuan berinisial A alias Intan. Intan merupakan pemandu lagu (PL) di sebuah karaoke di Bandung. “Perempuan itu (Intan) kemudian mencari pemeran anaknya. Kemudian didapat korban atas nama DN (9),” ujar Agung. Video 20Detik: Begini Tampang Sutradara Film Porno Bocah-Perempuan Dewasa [Gambas:Video 20detik] Setelah mendapat pemeran, ‘produksi’ film dimulai. Faisal menyewa kamar di sebuah hotel di kawasan Kiaracondong, Bandung. Pada Mei 2017, di hotel tak berbalkon itu Faisal mulai menggarap video tak senonoh. Korban sempat merengek lantaran enggan direkam. Hingga akhirnya, perempuan dalam video menelepon ibu kandung korban S. Untuk meneruskan proses pembuatan, S bahkan mengajak teman dekat korban, SP (11), untuk ikut. Jadi adegan tak senonoh yang dilakukan di hotel Jalan Supratman itu dilakukan oleh dua bocah dan satu perempuan. “Video itu kemudian dikirim pelaku ke pemesan menggunakan media sosial Telegram. Pelaku mendapat bayaran sebesar 16 juta rupiah,” tutur Agung. Faisal tak berhenti di satu video. Ia ketagihan hingga membuat video seks bocah lainnya. Video yang dibuat pada Agustus itu dilakoni seorang bocah RD dengan satu perempuan berinisial IO alias Imel. Faisal mengantongi uang puluhan juta rupiah dari video porno itu. “Totalnya Rp 31 juta,” kata Agung. Video 20Detik: Sprei dan Bantal Hotel Jadi Barbuk Video Mesum Wanita dan Bocah [Gambas:Video 20detik]

seperti di kutip dari http://rajatrepik.com

Auditor BPK Ali Sadli rupanya langsung menjual 2 mobilnya, Toyota Vellfire dan Toyota Fortuner, setelah ditangkap KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT). Untuk apa Ali menjual mobilnya? Rekan Ali, Yudi Ayodya yang juga merupakan auditor BPK, mengaku sempat ke rumah Ali setelah OTT itu. Dia mengaku ingin menghibur istri Ali atas kejadian OTT tersebut. “Saat itu setelah kena OTT, waktu itu kita ke rumah Bu Ali untuk menghibur. Saya nggak tahu pada saat itu pertemuannya ada banyak. Setelah itu diceritakan buat masalah pengacara,” ujar Yudi ketika menjadi saksi dalam sidang lanjutan terdakwa Ali Sadli di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (8/1/2018). Yudi pun mengaku diminta untuk menjualkan Toyota Vellfire. Dia pun meminta bantuan temannya yang bernama Ardi untuk menjualkannya. “Jadi pada malam itu bilang ya sudah kalau mobil bisa dijual ya jual aja,” ucap Yudi. Mobil itu disebutnya laku Rp 550 juta. Uang hasil penjualan itu diberikan kepada Supriyadi yang disebut sebagai orang kepercayaan keluarga Ali. Selain itu, saksi lainnya yaitu Rasyid Syamsuddin mengaku membeli Toyota Fortuner dari istri Ali. Menurut Rasyid, mobil itu dijual ke showroom melalui tangannya dan laku Rp 420 juta. “Dari pertemuan itu, minta tolong dijualkan untuk bantu bayar pengacara,” sebut Rasyid. Menurut Rasyid, pihak showroom langsung menyerahkan uang itu ke Supriyadi lagi atas perintah istri Ali. Dia mengaku tak ada bagian yang dia dapatkan.


Baca juga : habiskan rp 32 juta auditor bpk karaoke ditemani 13 wanita

Jakarta – Jaksa pada KPK mencari tahu tentang fasilitas karaoke yang didapatkan tim auditor BPK berkaitan dengan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) terhadap PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi. Fasilitas itu menghabiskan dana hingga puluhan juta rupiah. Salah seorang saksi yang dihadirkan dalam sidang, Suhendro (karyawan PT Marga Maju Mapan/PT 3M), menyebut ada temuan dari tim BPK. PT 3M merupakan salah satu kontraktor yang mengerjakan proyek yang dilaksanakan PT Jasa Marga. Proyek itu salah satunya pekerjaan scrapping, filling, overlay , dan rekonstruksi perkerasan pada ruas Tol Cipularang-Purbaleunyi. “Jadi Pak Saga (Saga Hayyu Suyanto Putra/Deputy General Manager Maintenance Service Management PT Jasa Marga) minta kita bareng-bareng minta arahan dari Pak GM seperti apa. Saya jelaskan dulu temuannya, saya tidak ingat semua, tapi ada beberapa temuan,” ucap Suhendro ketika dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan terdakwa General Manager PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi Setia Budi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (18/1/2018). Menurut Suhendro, kesalahan hanya pada masalah administrasi. Dia diminta melakukan klarifikasi data. “Lalu diminta tolong penuhi buktinya sekomplet mungkin untuk memenuhi temuan itu. Di akhir beliau (Setia Budi) berkata, kalau ada perintah lain, tolong di- support full ,” sebut Suhendro. “Artinya?” tanya jaksa. “Waktu itu saya belum paham. Setelah ketemu Pak GM, kita rapat untuk menyiapkan data dari konsep temuan. Saya bersama Pak Saga, Amri (Amri Sanusi/Asisten Manajer Servis Program PT Jasa Marga), Toto Purwanto (Maintenance Service Manager PT Jasa Marga), dan tim saya. Sorenya, Pak Saga ditelepon tim BPK, di- loud speaker di depan kami semua. Ada permintaan rapat malam. Setelah itu waktu saya tanyakan ke Pak Saga, waktu itu mengartikan karaoke,” sebut Suhendro. Saksi lainnya, Totong Heriyana (GM PT 3M), mengaku pernah mendengar tentang ‘rapat malam’ itu. Dia pun menyiapkan dana untuk itu. “Saya sebelumnya pernah dapat informasi soal ‘rapat malam’, di Bandung pun habis sampai Rp 40-an (juta). Saya menjaga-jaga kalau permintaan lebih dari sekali, makanya saya sebut di BAP dana marketing Rp 200 juta,” ucap Totong. Setelah itu, menurut Saga, rapat dilakukan di kantor pusat PT Jasa Marga untuk mengklarifikasi temuan BPK. Namun, menurut Saga, fokus tim auditor BPK saat itu bukan tentang rapat tersebut. “Saya lihat mereka fokusnya bukan ke situ. Posisi kami jelang zuhur, kelihatannya teman-teman mitra menjelaskan dalam suasana yang sudah tidak kondusif,” kata Saga. Saga mengaku saat itu ada lima orang dari Jasa Marga, sedangkan dari tim auditor BPK ada 7 orang, yaitu Sigit Yugoharto, Epi Sopian, Roy Steven, Imam Sutaya, Bernat S Turnit, Andry Yustono, dan Kurnia Setiawan Sutarto. “Waktu itu kami berlima belum tahu tempat yang dimaksud. Pas di jalan, atau lokasi, saya lupa. Sore posisinya perjalanan menuju ke sana. Di Semanggi, belakangan saya tahu namanya Las Vegas,” ujar Saga. Ketika di lokasi, menurut Totong, sudah ada 20 perempuan. Mereka kemudian memilih satu per satu perempuan itu untuk menemani karaoke dari pukul 20.00 WIB hingga 00.30 WIB. “Setelah kami kenalan, langsung dipanggil Mami untuk perkenalkan ladies -nya, ada 20 orang. Pihak BPK milih duluan. Kemudian dari Jasa Marga, Pak Saga, baru saya sama Hendro,” kata Totong. Dia menyebut ada 13 perempuan yang menemani. Fasilitas karaoke itu diartikannya sebagai arahan untuk backup full tim BPK. “Biaya?” tanya jaksa. “Rp 32 juta sekian, saya laporkan,” sebutnya. Dalam kasus tersebut, Setia Budi didakwa memberi suap motor Harley-Davidson kepada auditor BPK Sigit Yugoharto. Suap tersebut terkait pemeriksaan dengan tujuan tertentu terhadap PT Jasa Marga Persero pada 2017. (nif/dhn)


Baca juga :

Jakarta – Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy mengaku pernah diajak ke tempat spa oleh Rochmadi Saptogiri, auditor BPK yang ditangkap KPK terkait suap opini WTP Kemendes PDTT. Ajakan itu, menurutnya, untuk merayakan ulang tahun. Dalam persidangan lanjutan terdakwa Ali Sadli, jaksa pada KPK membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Hamidy. Dalam BAP itu, ada keterangan pertemuan antara Hamidy dan Rochmadi serta seorang anggota BPK lainnya bernama Triantoro di sebuah tempat spa di Pondok Indah, Jakarta Selatan. “Keterangan Saudara di BAP nomor 38, apakah Saudara pernah bertemu dengan Rochmadi dan Triantoro di Central Spa dalam materi berbeda?” tanya jaksa KPK pada Hamidy dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (8/1/2018). “Ya, waktu itu saya diundang untuk ulang tahun. Saya sebentar karena saya memang tidak tahan rokok. Saya mungkin hanya sejam,” jawab Hamidy. “Ulang tahunnya di spa?” tanya jaksa lagi. “Ya,” jawabnya. Hamidy mengaku tiba di lokasi itu pukul 22.00 WIB dan sejam kemudian pulang. Ketika ditanya jaksa di mana lokasi spa itu, Hamidy malah menyebutkan itu bukan tempat spa. “Spa mana?” tanya jaksa. “Bukan di spa. Seperti di live music itu, Pak, bukan spa,” kata Hamidy. Jaksa kemudian membacakan BAP Hamidy lagi. Di dalam BAP itu, jaksa menyebutkan lokasi spa itu adalah Central Spa. “Ini keterangan Saudara di BAP no 38. Ya benar pada waktu bulan April 2017 pada malam hari atau setidaknya akhir bulan April 2017 saya datang khususnya ke Central Spa yang di Jalan Sultan Iskandar Muda, Jakarta Selatan, untuk menemui Triantoro dan Rochmadi. Pada saat itu saya ingin pulang ke rumah, namun diminta Pak Triantoro yang mengundang saya karaoke ke Central Spa. Saya datang ke Central Spa pukul 22.00 WIB. Saya meninggalkan Central Spa jam 23.00 WIB,” ujar jaksa membacakan BAP Hamidy. Setelah itu, jaksa menanyakan tujuan pertemuan di lokasi itu. Namun Hamidy mengaku tidak ada kepentingan apa pun. “Nggak ada kepentingan mendesak?” tanya jaksa. “Tidak ada,” ujarnya. Namun jaksa kembali menanyakan apakah dalam pertemuan itu ada pembicaraan tentang laporan keuangan Kemenpora. Jaksa menanyakan itu lantaran Triantoro merupakan auditor yang menangani urusan Kemenpora. “Apakah pada saat itu sempat dibicarakan tentang opini Kemenpora?” tanya jaksa. “Tidak, Pak, karena libur kerja,” ucap Hamidy. “Saudara dapat info opini WTP dari mana?” tanya jaksa lagi. “Dari Inspektorat, Pak. Kita dipanggil bahwa salah satunya adalah kita harus mengembalikan karena tidak bisa ditoleransi, harus membayar salah satunya itu karena ada temuan,” ucap Hamidy. (dhn/bag)


Baca juga : ar AAuSl0G

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Mantan Ketua DPR RI Setya Novanto selaku terdakwa kasus korupsi KTP elektronik (e-KTP) siap bekerja sama dengan pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jika menjadi justice collaborator (JC). Ia pun bersedia membongkar keterlibatan pihak lain yang diduga terlibat proyek bancakan bernilai Rp 5,9 triliun itu. Demikian disampaikan Ketua tim penasihat hukum Setya Novanto, Maqdir Ismail, kepada Tribun, Rabu (17/1/2018) lalu. “Saya balik tanya lagi, mereka (KPK) mau minta yang mana?” kata Maqdir Ismail saat ditanya aktor besar kasus e-KTP yang akan diungkap Novanto jika menjadi justice collaborator. Menurut Maqdir, aktor kasus e-KTP yang akan diungkap oleh Novanto jika menjadi JC adalah lebih dari seorang dan terkait kalangan tertentu. “Coba tanyakan saja ke KPK. KPK itu kan maha tahu. Nanti kalau kami yang ngomong selalu dibantah lagi oleh KPK,” ujarnya.

seperti di kutip dari https://www.msn.com

Maqdir menolak menyebutkan siapa saja aktor yang akan diungkap oleh Novanto jika menjadi JC. Ia khawatir pernyataannya berdampak pidana. Baca: Cerita Idrus Diusir dari Kantor Kementerian yang Dia Pimpin Sekarang Hanya karena Pakai Sandal Jepit Ia khawatir bernasib sama dengan mantan rekan kerjanya, Fredrich Yunadi. Fredrich merupakan anggota tim kuasa hukum Novanto. Dia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena diduga bekerjasama dengan dokter Bimanesh Sutardjo untuk menghalang-halangi penyidikan kasus e-KTP Setya Novanto. © Disediakan oleh PT. Tribun Digital Online

seperti di kutip dari https://www.msn.com

Tersangka kasus merintangi penyidikan korupsi e-KTP pada Setya Novanto, Fredrich Yunadi (Tribunnews.com / THERESIA FELISIANI) “Oleh karena itu, saya bilang tadi, sebaiknya kita tunggu saja penjelasan resmi dari KPK soal JC ini. Nanti saya salah juga, nanti saya dituduh juga obstruction of justice,” kata Maqdir. “Kalau sekarang saya takut sama KPK,” seloroh Maqdir diikuti tawa kecilnya. Maqdir menjelaskan, pihak KPK belum memberikan respons sejak Novanto mengajukan diri menjadi JC melalui surat pada Rabu pekan lalu, 10 Januari 2018. Ia mengakui pengajuan diri Novanto menjadi JC berasal dari dia selaku terdakwa. Namun langkah itu diambil tidak lepas dorongan dari pihak KPK. Namun belakangan hal itu dibantah oleh pihak KPK. Baca: Baru Kenal saat Membesuk Novanto Alasan Agung Laksono Ogah Jadi Saksi Menguntungkan bagi Fredrich Menurutnya, hingga saat ini Novanto dan tim penasihat hukum masih menunggu jawaban atau respons dari KPK atas pengajuan JC tersebut. Padahal, Novanto sungguh-sungguh ingin menjadi JC dan bersedia mengungkapkan apa yang diketahuinya, termasuk aktor lain di atasnya yang terlibat dalam kasus e-KTP. Ia berharap KPK segera memberikan respons atas pengajuan JC tersebut agar Novanto mendapat kepastian hukum perkaranya di pengadilan. © Disediakan oleh PT. Tribun Digital Online

seperti di kutip dari https://www.msn.com

Terdakwa kasus korupsi pengadaan KTP Elektronik Setya Novanto menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (15/1/2018). Sidang tersebut beragenda mendengarkan keterangan saksi dari pegawai perusahaan penukaran mata uang asing (money charger) yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum KPK. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN) “Iya, pastilah ada, dia sungguh-sungguh. Tapi, kami tidak mau juga kalau tidak diberi kepastian. Ya, dia (Novanto) mau bantu ungkap, tapi mesti jelas dulu dong dari KPK-nya,” ujarnya. Menurutnya, setidaknya KPK melakukan pembicaraan dengan Novanto dan tim penasihat hukum perihal pengajuan JC serta keuntungan dan kerugian yang akan didapat Novanto kelak. Sebab, Novanto pun tidak ingin misinya dalam mengungkap aktor besar kasus e-KTP ini berdampak keselamatan dirinya dan keluarganya. Baca: Auditor BPK Pegawai Jasa Marga Karaoke Ditemani 13 Perempuan Pemandu Lagu “Karena bagaimana pun misi tersebut ada konsekuensinya. Bukan hanya konsekuensi hukum, tapi juga fisik. ‘Kan kalau ngungkapin orang lain itu bebannya berat,” tandasnya. Pelajari Berkas JC Juru Bicara KPK, Febri Diansyah menyampaikan, hingga saat ini tim penyidik dan pimpinan KPK masih mempelajari berkas pengajuan justice collaborator dari Setya Novanto. Pihak KPK masih mempelajari syarat-syarat yang bisa dipenuhi oleh Novanto selaku pihak pengaju JC. Pihak KPK akan memberikan respons jika telah ada kesimpulan. © Disediakan oleh PT. Tribun Digital Online

seperti di kutip dari https://www.msn.com

Terdakwa kasus korupsi pengadaan KTP Elektronik Setya Novanto menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (15/1/2018). Sidang tersebut beragenda mendengarkan keterangan saksi dari pegawai perusahaan penukaran mata uang asing (money charger) yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum KPK. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN) “Kalau sudah ada keputusannya, kami akan sampaikan,” ujar Febri. Dalam persidangan, Novanto didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) dan atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Baca: Kisah Karyawati Bank Melarikan Diri dari Sopir Taksi Online yang Coba Merampoknya Dia terancam hukuman seumur hidup atau maksimal 20 tahun penjara. Novanto didakwa menyalahgunakan kewenangan selaku anggota DPR dalam proyek pengadaan KTP-el. Perbuatan Novanto itu menyebabkan kerugian negara Rp 2,3 triliun. Menurut jaksa, Novanto secara langsung atau tidak langsung mengintervensi penganggaran serta pengadaan barang dan jasa dalam proyek e-KTP Tahun 2011-2013. Penyalahgunaan kewenangan itu dilakukan Novanto untuk menguntungkan diri sendiri serta memperkaya orang lain dan korporasi. Menurut jaksa, Novanto telah diperkaya 7,3 juta dollar AS dan menerima jam tangan Richard Mille seharga 135.000 Dolar AS.  (tribunnetwork/abdul qodir/eri komar sinaga) © TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN


Baca juga : Kontraktor Siapkan Rp50 Juta Untuk 13 Perempuan PL Dan Karaoke Auditor BPK

Totong menjelaskan, uang itu disiapkan setelah sebelumnya ada permintaan dari PT Jasa Marga yang dikontak oleh para Auditor BPK. Permintaan tersebut dilakukan saat auditor BPK sedang melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu terhadap pengelolaan pendapatan usaha, pengendalian biaya, dan kegiatan investasi PT Jasa Marga. Menurutnya, ada tujuh auditor BPK yang mengajak pegawai Jasa Marga dan pegawai PT Marga Maju Mapan ke sebuah tempat karaoke di Semanggi Jakarta Pusat. Ketujuh auditor itu yakni, Sigit Yugoharto, Epi Sopian, Roy Steven, Imam Sutaya, Bernat S Turnit, Andry Yustono dan Kurnia Setiawan Sutarto. “Kami ngikut sampai ruangan karaoke. Saya dikenalkan ke Pak Epi, karena dia sudah ada di situ,” kata Totong dalam sidang lanjutan terdakwa GM PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi, Setia Budi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis malam (18/1). Setelah berkenalan dengan para Auditor BPK, jelas dia, ada sekitar 20 gadis pemandu lagu yang langsung didatangkan oleh salah seorang perempuan yang disapa “Mami”. “Setelah kami kenalan, langsung dipanggil Mami untuk perkenalkan ladies-nya, ada 20 orang. Pihak BPK milih duluan. Kemudian dari Jasa Marga, Pak Saga, baru saya sama Hendro,” jelas Totong. Selain Totong, ada juga orang Jasa Marga lainnya yang hadir. Mereka yakni, Saga Hayyu Suyanto Putra, Amri Sanusi, Toto Purwanto, dan Suhendro. Akhirnya, dari 20 perempuan, ada 13 orang yang dipilih dan menemani di dalam ruang karaoke. Karaoke berlangsung dari pukul 20.00  hingga menjelang pukul 01.00 dini hari. GM PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi Setia Budi, sebelumnya didakwa Jaksa KPK memberikan satu unit motor Harley Davidson dan fasilitas hiburan malam kepada auditor BPK Sigit Yugoharto. Pemberian itu terkait pemeriksaan yang dilakukan BPK di PT Jasa Marga. [nes]

Roy Steven mengaku diajak Sigit Yugoharto menikmati hiburan malam berupa karaoke. Roy merupakan salah satu anggota tim auditor BPK yang memeriksa PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi. Sedangkan, Sigit saat itu adalah ketua tim pemeriksaan pengelolaan keuangan PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi. Hiburan karaoke itu dilakukan di Havana Spa dan Karaoke di Jalan Sukajadi, Bandung dan Las Vegas di Plaza Semanggi, Jakarta Selatan. “Di BAP (berita acara pemeriksaan), Anda (mengaku) diajak sama Sigit Yugoharto, betul?” tanya jaksa KPK Ali Fikri pada Roy yang dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan terdakwa Sigit di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). “Betul,” jawab Roy. Roy mengaku diajak Sigit 3 kali berkaraoke di Las Vegas, Plaza Semanggi. Sedangkan untuk karaoke di Havana Spa dan Karaoke, Roy mengaku diajak sebanyak 4 kali. Menurut Roy, Sigit awalnya menghubunginya dengan ajakan makan malam. Namun, setelahnya Roy ternyata diajak ke tempat karaoke tersebut. “Apa yang disampaikan Pak Sigit waktu itu?” ujar jaksa. “Ini nanti ada rencana makan malam,” jawab Roy. Salah satu bukti pembayaran yang disita jaksa untuk hiburan berupa karaoke yaitu Rp 40 juta. Namun, Roy mengaku tidak tahu siapa yang membayarnya. “Biaya saya nggak tahu. Tahu saat saya dikasih tahu penyidik,” ucap Roy. Selain untuk biaya karaoke, rupanya biaya-biaya itu termasuk untuk minuman keras dan sewa pemandu lagu. Hal itu terungkap dalam BAP Roy yang diamininya. “Dalam BAP Anda betul ini, minum-minuman keras dan pemandu lagu?” tanya jaksa. “Ada betul,” jawab Roy. Sigit Yugoharto didakwa menerima moge dan fasilitas hiburan malam berupa karaoke terkait audit di Jasa Marga Cabang Purbaleunyi. Sigit Yugoharto saat itu adalah ketua tim pemeriksaan pengelolaan keuangan PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi. Dalam dakwaan Sigit, tim Pemeriksa BPK bersama pihak PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi Cucup Sutisna, Asep Komarwan, dan Andriansyah pergi ke Havana Spa dan Karaoke di Jalan Sukajadi Bandung dengan menghabiskan biaya Rp 41.721.200 yang dibayar Janudin dari PT Gienda Putra (subkontraktor Jasa Marga). Fasilitas karaoke juga diberikan kepada Sigit dan Tim Pemeriksa BPK lain saat mereka karaoke di Las Vegas Plaza Semanggi Jakarta Selatan. Biaya karaoke disebutkan senilai Rp 30 juta.

Manajemen Rumah Sakit Jogja-RS Wirosaban, mengeluhkan lambatnya proses pencairan klaim dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan   Solopos.com, JOGJA – Manajemen Rumah Sakit Jogja-RS Wirosaban, mengeluhkan lambatnya proses pencairan klaim dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, sejak beberapa bulan terakhir. Jika keterlambatan itu terus terjadi, maka berpotensi mengganggu layanan kesehatan karena rumah sakit milik Pemerintah Kota Jogja ini tidak memiliki dana cadangan operasional. “Keterlambatan itu bagi kami sudah cukup mengganggu operasional, layanan kepada pasien dan juga pemenuhan kebutuhan obat serta alat medis lainnya,” kata Direktur Rumah Sakit Jogja, Tuty Setyowati, dalam rapat kerja dengan Komisi D di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Jogja, Rabu (28/2/2018). Tuty mengatakan keterlambatan klaim dari BPJS Kesehatan terjadi sejak Oktober 2017 lalu sampai akhir Februari 2018 ini. Total klaim BPJS mencapai Rp23,5 miliar. Pihaknya sudah mengajukan pencairan klaim sejak 25 Januari sebesar Rp9,7 miliar, kemudian pada 31 Januari sebesar Rp4,5 miliar. Kemarin, Ruah Sakit Jogja juga mengklaimkan kembali sebesar Rp9 miliar. Namun, belum ada yang dicairkan. Menurut Tuty, alasan BPJS tidak segera mencairkan klaim rumah sakit karena harus menunggu transfer dari BPJS Pusat. Ia hanya berharap pencairan klaim bisa tepat waktu. Sebab, sebanyak 90% persen lebih pasien Rumah Sakit Jogja adalah peserta BPJS, sehingga klaim BPJS menjadi sumber utama dana operasional rumah sakit dan kelancaran layanan kesehatan. Akibat keterlambatan itu, Rumah Sakit Jogja harus pontang-ponting mencari pinjaman, bahkan utang obat kepada distributor sebesar Rp13 miliar pun belum bisa dibayar. “Kami usahakan agar pasokan obat tetap berjalan,” ujar Tuty. Lowongan Pekerjaan Jurnalis, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Namun karena tidak bisa memasak, warga korban banjir masih mendapatkan bantuan makanan dari dapur umum, yang didirikan di Posko Bencana Alam, di Kantor Kepala Desa Sayung. Kepala Desa Sayung, Munawir menyatakan kehadiran Posko Bencana Alam sangat membantu warga, khususnya mengatasi kebutuhan makanan dan obat obatan yang dibutuhkan warga korban banjir. “Alhamdulillah, hingga saat ini, bantuan dari berbagai pihak masih terus mengalir, sehingga warga kami bisa bertahan di atas genangan banjir”, ungkap Munawir.

seperti di kutip dari https://www.cakrawala.co

Masih turunnya hujan, mengakibatkan warga khawatir genangan banjir meninggi lagi. Warga berharap pemerintah mengatasi banjir ini dengan merealisasikan proyek peninggian talut sungai dombo. Banjir di kawasan Sayung, Demak ini disebabkan oleh meluapnya sungai dombo, setelah tidak mampu menerima kiriman air dari kawasan Kabupaten Semarang dan Kota Demak bagian Selatan. “Jika pendangkalan sungai dombo dikeruk dan talut sungai ditinggikan, mudah mudahan banjir di desa kami bisa teratasi”, kata Munawir. (ARIF)

Related Posts

Comments are closed.