Jajaki Poros Baru, Cak Imin Tinggalkan Jokowi?

Jajaki Poros Baru, Cak Imin Tinggalkan Jokowi?

Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mulai bergeliat membuka peluang meninggalkan koalisi pendukung Jokowi. Selain membuka komunikasi dengan Gerindra, Cak Imin juga mengutus elite PKB menjajaki kemungkinan membuka poros baru. Cak Imin akan meninggalkan Jokowi? Ketum Gerindra Prabowo Subianto sudah mengakui pertemuan dengan Cak Imin. Tak hanya sekali, tapi Prabowo mengaku sering bertemu dengan mantan Menakertrans itu. “Ya kan biasa kalau saya ketemu dengan Cak Imin. Saya sudah sering,” ujar Prabowo di kediamannya, Jl Kertanegara, Jaksel, Kamis (29/2/2018). Meski demikian, Prabowo enggan mengungkap jadwal pertemuan terdekatnya dengan Cak Imin. Cak Imin dikabarkan kecewa dengan sikap partai lain di koalisi pendukung pemerintah yang menyepelekan upayanya maju ke Pilpres 2019. Padahal, niat Cak Imin berniat maju Pilpres 2019 demi meningkatkan elektabilitas PKB. Di tengah kegalauannya, Cak Imin dikabarkan sedang menjajaki kemungkinan membuat poros baru, di luar koalisi pendukung pemerintah. Sejumlah elite PKB dikabarkan diutus untuk menjalin komunikasi dengan partai lain untuk penjajakan membuat poros baru, salah satunya dengan Gerindra. Akankah Cak Imin benar-benar meninggalkan Jokowi? Presiden PKS Sohibul Iman sudah punya bayangan seandainya PKB meninggalkan koalisi pendukung Pemerintah. Menurut Sohibul, jika PKB keluar dari koalisi Pemerintah, maka bisa ada 3 pasang capres di Pilpres 2019. “PAN, PKB, sama Demokrat, yang kita lihat kan Demokrat di luar pemerintahan, PAN separo-separo, Cak Imin kadang dalam, kadang luar. Gabung saja nggak apa-apa, atas dasar keinginan bersama untuk membentuk demokrasi yang sehat, itu bisa,” ulas Sohibul saat berbincang dengan detikcom di Transmedia, Gedung Trans TV, Jl Kapt Tendean, Jakarta Selatan, Kamis (1/3/2018). “Memang mereka tidak bisa dua partai, karena kalau Demokrat dengan PAN kurang 3 kursi, Demokrat dengan PKB kurang 4 kursi, kalau PAN dengan PKB kurang banyak, 17 kursi. Jadi mereka bertiga bisa,” imbuh Sohibul.

Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mulai bergeliat membuka peluang meninggalkan koalisi pendukung Jokowi. Selain membuka komunikasi dengan Gerindra, Cak Imin juga mengutus elite PKB menjajaki kemungkinan membuka poros baru. Cak Imin akan meninggalkan Jokowi? Ketum Gerindra Prabowo Subianto sudah mengakui pertemuan dengan Cak Imin. Tak hanya sekali, tapi Prabowo mengaku sering bertemu dengan mantan Menakertrans itu. “Ya kan biasa kalau saya ketemu dengan Cak Imin. Saya sudah sering,” ujar Prabowo di kediamannya, Jl Kertanegara, Jaksel, Kamis (29/2/2018). Meski demikian, Prabowo enggan mengungkap jadwal pertemuan terdekatnya dengan Cak Imin. Cak Imin dikabarkan kecewa dengan sikap partai lain di koalisi pendukung pemerintah yang menyepelekan upayanya maju ke Pilpres 2019. Padahal, niat Cak Imin berniat maju Pilpres 2019 demi meningkatkan elektabilitas PKB. Di tengah kegalauannya, Cak Imin dikabarkan sedang menjajaki kemungkinan membuat poros baru, di luar koalisi pendukung pemerintah. Sejumlah elite PKB dikabarkan diutus untuk menjalin komunikasi dengan partai lain untuk penjajakan membuat poros baru, salah satunya dengan Gerindra. Akankah Cak Imin benar-benar meninggalkan Jokowi? Presiden PKS Sohibul Iman sudah punya bayangan seandainya PKB meninggalkan koalisi pendukung Pemerintah. Menurut Sohibul, jika PKB keluar dari koalisi Pemerintah, maka bisa ada 3 pasang capres di Pilpres 2019. “PAN, PKB, sama Demokrat, yang kita lihat kan Demokrat di luar pemerintahan, PAN separo-separo, Cak Imin kadang dalam, kadang luar. Gabung saja nggak apa-apa, atas dasar keinginan bersama untuk membentuk demokrasi yang sehat, itu bisa,” ulas Sohibul saat berbincang dengan detikcom di Transmedia, Gedung Trans TV, Jl Kapt Tendean, Jakarta Selatan, Kamis (1/3/2018). “Memang mereka tidak bisa dua partai, karena kalau Demokrat dengan PAN kurang 3 kursi, Demokrat dengan PKB kurang 4 kursi, kalau PAN dengan PKB kurang banyak, 17 kursi. Jadi mereka bertiga bisa,” imbuh Sohibul.

Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan (Foto: Aria Pradana/kumparan) Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan menampik anggapan bahwa pihaknya akan merapat ke Jokowi di Pilpres 2019 dan meninggalkan poros Prabowo Subianto yang didukung Gerindra dan PKS. “Enggak ada sinyal begitu,” ujar Zulkifli di Kompleks Parlenen, Senayan, Jakarta, Kamis (22/2). Zulkifli mengatakan, komunikasi yang ia lakukan dengan Jokowi hanya sebatas laporan rutin sebagai Ketua MPR. Selain itu, hingga kini partainya masih masuk koalisi pemerintahan. Sehingga, komunikasi yang ia lakukan bukan berarti meninggalkan Prabowo dan akan bersama Jokowi di Pilpres 2019. “Komunikasi karena saya koalisi dengan.pemerintah. Dalam pertemuan itu bicara soal politik namanya orang politik pasti ada tapi kan kesimpulannya belum nanti,” ungkapnya. Selain itu, komunikasi politik yang dibangun Zulkifli karena PAN tidak akan bisa mencalonkan sendiri capres-cawapres, imbas dari aturan presidential threshold 20 persen. Maka itu, komunikasi yang ia lakukan dengan ketum-ketum partai dalam rangka membicarakan arah koalisi di Pilpres 2019. “Tentu saya akan komunikasi dengan teman-teman, dengan PDIP dengan siapa saja gitu, kita akan bicara bagaimana bagusnya untuk Indonesia,” katanya. Mengenai kemungkinan koalisi dengan Prabowo di 2019, Zulkifli enggan menanggapi. “Kalau koalisi, saya bilang ini baru mulai omong-omong, jadi masih panjang,” ujarnya.

Hingga akhir bulan Februari ini Komisi VI DPR RI belum juga melakukan fit and proper test pada 18 nama calon Ketua KPPU yang diajukan Presiden Jokowi. Jokowi sendiri mengeluarkan dua kali Kepres perpanjangan jabatan Ketua KPPU untuk mengisi kekosongan. Saat ini Jokowi menghimbau agar DPR segera melakukan fit and proper test. Baca tapak asal هذه الصفحة هي مجرد قاریء تلقائي للأخبار باستخدام خدمة الـ RSS و بأن نشر هذه الأخبار هنا لاتعني تأییدها علی الإطلاق.

Related Posts

Comments are closed.