Ini Kampung ‘Batman’ di Maros, Ribuan Kelelawar Tak Makan Buah Warga

Ini Kampung ‘Batman’ di Maros, Ribuan Kelelawar Tak Makan Buah Warga

Sudah lebih dari 40 tahun, warga Dusun Parang Tinggia, Sulawesi Selatan, hidup rukun berdamping dengan puluhan ribu ekor kelelawar yang bergelantungan di setiap pohon. pun kelelawar yang merusak, apa lagi memakan tumbuhan seperti pisang dan mangga yang ditanam oleh warga. Begitupun sebaliknya, warga Desa Jene Taesa, Kecamatan Simbang, Maros, ini sangat menjaga kelestarian kelelawar. Tak ada satu pun warga yang berani mengusik apalagi menangkap. Bahkan, jika ada kelelawar yang sakit dan jatuh dari pohon, oleh warga dirawat bagaikan binatang peliharaan mereka sendiri. Saat petang, puluhan ribu ekor kelelawar ini keluar dari kampung itu untuk mencari makanan. Mereka biasanya ke arah hutan di pegunungan karst yang tak jauh dari dusun itu. Saat subuh, kelelawar inipun kembali lagi ke kampung itu. “Kami di sini sudah seperti satu keluarga. Mereka memang binatang, tapi sepertinya mengerti menjaga harmoni dengan kami. Mereka mencari makanan di hutan,” kata seorang warga, Nuraeni kepada detikcom, Kamis (1/3/2018). Kelelawar ini dulunya dipelihara oleh seorang tokoh adat setempat. Namanya, Kamaruddin Daeng Pawata. Pria yang diperkirakan berumur 80 tahun ini mengaku awalnya memelihara tiga ekor kelelawar yang ia beli dari seseorang di daerah Takalar. Tiga kelelawar ini akhirnya berkembang biak yang hingga saat ini jumlahnya sudah mencapai puluhan ribu ekor. Bahkan, Kamaruddin sendiri sudah tidak mampu mengenali tiga kelelawar yang awalnya ia pelihara di rumahnya. “Awalnya saya beli tiga ekor dari seseorang di Takalar. Saya pelihara di rumah saya dulu. Lama-lama karena terus banyak, mereka pindah ke pohon. Akhirnya sekarang sudah ada puluhan ribu ekor,” terangnya. Dari bentuk fisiknya, kelelawar yang ada di dusun ini terbilang langka dan jauh berbeda dengan jenis kelelawar yang juga hidup berdampingan dengan warga di kota Soppeng, Sulawesi Selatan. Kelelawar ini, memiliki bulu putih di dadanya. Beberapa peneliti baik dari lokal maupun mancanegara sudah pernah datang ke dusun itu. Mereka penasaran dengan jenis kelelawar itu yang ada di dusun ini, karena jenisnya hanya bisa ditemukan di daerah Amerika Latin. “Sangat beda dengan yang ada di Soppeng. Kelelawar ini punya ciri bulu putih di dadanya. Banyak peneliti yang sudah datang karena penasaran dari mana asal kelelawar ini,” lanjutnya. Bagi Kamaruddin dan warga setempat, keberadaan kelelawar ini juga menjadi berkah tersendiri. Sebab, hama padi seperti wereng ataupun burung yang merusak tanaman, takut mendekat dengan adanya kelelawar ini.

Baca juga :

Misi dimulai pukul 15,30 dan diplot hanya setengah jam. Hampir 100 orang tentara Amerika, diperintahkan oleh Kapten Mike Steele, didrop menggunakan helikopter ke dalam ibukota Mogadishu. Di luar dugaan, pasukan Amerika menghadapi perlawanan dari tentara rukyat Mogadishu. Helikopter Black Hawk terjatuh, dan upaya evakuasi harus dilakukan. Di sinilah cerita terpusat. Selama 18 jam, para serdadu tersebut terjebak dan terluka di daerah musuh di Mogadishu. Minim bekal dan perlengkapan karena perkiraan misi yang molor. Hingga akhirnya bantuan datang, meski terlambat.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Film ini juga menggambarkan bagaimana pasukan AS bertempur selama 18 jam dan mereka terkepung di wilayah kota Mogadishu yang dikuasai oleh kelompok milisi di bawah komando Aidit. Namun dengan Team-Work yang kompak, kesetiakawanan yang tanpa pamrih, bahu membahu dalam menghadapi situasi serta tekad takkan meninggalkan kawan yang cidera, akhirnya mereka berhasil keluar dengan selamat setelah melalui “pengganyangan” habis-habisan. Mereka dicincang, dicabik-cabik tubuhnya, satu persatu gugur. Barulah pada tanggal 4 Oktober 1993, pasukan “rescue” tiba dan berhasil mengungsikan sisa rangers yang masih hidup ke markas besar mereka.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Mayat Louis dibuang ke danau. Sementara Sarah selalu bermimpi dan dihantui kedatangan mayat suaminya untuk membalas dendam. Maka ketika Frank kembali dari danau untuk menyelam mengambil kunci mobil di kantong Louis, ia tertembak oleh Sarah yang menyangka “mayat hidup” Louis yang datang seperti dalam mimpi-mimpinya Lalu ia gantung diri dengan tubuh dipenuhi oleh lumpur. Pun analisa polisi, Sarah adalah pembunuh para kedua pria tersebut sebelum bunuh diri. Sementara si sales, menggiring pada sebuah misteri yang absurd.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Rumah kedua, bercerita soal kera yang mampu membunuh. Jennifer si anak manja, menemukan kera Tapi ayahnya menolak. Ia sangat benci pada kera itu. Apalagi ketika menemukan anjingnya mati dibunuh oleh kera. Juga saat penangkap hewan yang didatangkan, ikut tewas. Aksi kera itu berlanjut. Ibu Jennifer dibantai. Tapi tak tampak kera membunuh. Hanya sang ayah yang diserang oleh sang kera. Sehingga, Jennifer membunuh ayahnya dengan alasan membela diri, sebab melihat ayahnya berubah jadi garang dan ganas. Namun versi si sales, kera misterius itu adalah pembunuh.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Rumah-rumah yang ditawarkan tak jadi dibeli. Si sales marah. Ia membunuh sang suami. Adapun si isteri, melarikan diri di kompleks perumahan yang dipadati penghuni gila dan sadistis, seperti cerita sebelumnya. Tapi, ending film malah lucu. Tidak menakutkan. Sebab, pertarungan antara logika dan misteri gaib, dimenangkan secara eksplisit pada logika. Artinya, cerita aneh dan janggal itu, hanyalah isapan jempol yang pantas menjadi cerita lucu. Hanya komedi berbentuk horror yang tidak memberi muatan gaib. Namun, tetap berlandas pada pertimbangan logika kebenaran.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

i halaman buku-buku definisi keadilan bisa jadi sangat jelas. Potret penjahat aparat hukum jelas bedanya Di dunia nyata, belum tentu. Di situ das solen dan das sein tidak lagi bersesuaian. Semua berselimut kabut. Serba samar-samar. Seperti dalam Training Day. Hampir setiap hari terjadi perang jalanan entah itu antar geng pengedar narkoba maupun antar penduduk itu sendiri yang menuntut penegak hukum bekerja maksimal. Selain mengakibatkan korban yang mati, kondisi seperti itu pada gilirannya juga menyisakan “korban” hidup yang bisa berbalik menjadi ancaman yang tidak kalah berbahayanya. Salah satu di antara korban hidup itu adalah detektif kepolisian Los Angeles Sersan Alonzo Harris (Denzel Washington), veteran karismatik berpengalaman 13 tahun dalam pemberantasan narkotik.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Film ini bercerita tentang Daniel Ocean (George Clooney) seorang residivis kambuhan yang baru saja bebas dari penjara setelah mendekam selama 4 tahun. Daniel alias Danny datang ke Las Vegas, kota judi terbesar di Amerika, setelah mendapat informasi kalau di kota itu terdapat tiga kasino yakni Mirage, MGM dan Bellagiu yang dikuasai oleh Terry Benedict (Andi Garcia), mafia judi kota Las Vegas yang terkenal sangat kejam dan berdarah dingin, tetapi mempunyai simpanan uang yang melimpah dan tersimpan dalam sebuah kubah besi. Bahkan konon, setiap malam minggu ketiga kasino milik Bartender bisa mengumpulkan “doku” sampai $150 juta per malam.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Namun, untuk menyatakan cinta itu memang gagu. Cinta adalah sesuatu yang sulit dikatakan tetapi bisa dirasakan. Hal yang diketahui Sam, walau terlambat dari ayah Chris. Kegaguan itu terus menyelimuti hidup Chris hingga suatu peristiwa besar yang nyaris merenggut nyawa penduduk, termasuk keduanya, untuk harus menyatakan cinta. Tapi, ternyata Chris tetap gagu. Malah, Sam begitu lancar mengatakan isi hati Chris yang akan diucapkan. Dan menyatakan rasa cinta itu ternyata begitu gampang, tapi tidak bagi Chris.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Berubahnya laba-laba menjadi raksasa mengingatkan kita pada kisah Godzilla yang tercemar radio aktif di laut lalu menyerang kota besar di Amerika Serikat, Sementara pada film ini, laba-laba raksasa sudah beranak pinak dan menyerang penduduk kota kecil yang lebih tepat disebut kampung. Laba-laba pun sudah menjadi trade-mark “Spider-man” yang tahun ini terbilang sukses. Hal lain yang mendekatkan film terkenal yakni penampilan tokoh Mike yang berkacamata. Dengan wajah imut-imut, mengingatkan ktta pada tokoh “Harry Potter”.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

ERAMPOK ternyata tidak selalu dengan tindak kekerasan, kekejaman, sadisme, ataupun tindakan di luar batas kemanusiaan. Bila saja dengan cara yang lebih lunak, simpatik, manusiawi, dan unik. Sehingga, terkadang harta si korban sudah terkuras habis, tapi barulah tersadar jika sudah dirampok setelah pelakunya berlalu. Hal tersebutlah yang ingin dipampangkanMetro Goldwyn Mayer Pictures  &  Hyde Park Entertainment yang memproduksi “Bandits”. Film garapan sutradara kawakan Barry Levinton ini merupakan “comedy crime” yang diilhami oleh kisah nyata petualangan dua bandit yang berprofesi perampok bank.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Kate, ibu rumah tangga yang dilanda frustrasi, melihat perilaku suaminya Charles Wheeler (Bobby Slayton) secara tidak sengaja menabrak Collins yang saat itu mencari tumpangan. Karena panik dan gugup, Collins memaksa Kate membawanya ke tempat persembunyian Blake. Dan di sinilah awal petaka yang hampir saja memorak-porandakan “kekompakan” tim dan persahabatan antara Blake-Collins. Ketika itu, Kate dan Blake saling jatuh cinta pada pandangan pertama yang berlanjut dengan kisah cinta tak kenal waktu di sela-sela kesibukan merampok bank.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Bercerita kebetulan dan mengubah nasib hidup yang tidak tenteram itulah yang ditawarkan Brian De Palma yang merangkap sutradara dan penulis skenario “Femme Fatale”. Film bersetting Perancis ini pun tidak sekedar hadir totalitas sebagai film action. Ada sisi kemanusiaan paling dalam yang tergali secara naluriah. Juga sekaligus menawarkan keberadaan Perancis sebagai negeri mode, keindahan kotanya, keluwesan bahasanya, film, gadis cantik, perhiasan mewah, lesbian, paparazzi, serta beragam corak kehidupan di negeri itu.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Racine pun menugaskan Laure mengambil perhiasan tersebut. Laure lolos masuk ke hotel tempat pameran sebagai fotografer dan menggoda sang model masuk toilet. Keduanya melakukan adegan lesbian sambil Laure mencopoti satu-satu perhiasan yang melilit di tubuh sang model. Tapi, aksinya terdeteksi. Bodyguard Peter Coyle berhasil menembak Racine sebelum ia dibunuh. Laure marah. la yang dijanji pencurian tanpa senjata dan kekerasan menemukan bukti bahwa ia ditipu Racine. Ia kemudian membawa perhiasan yang telah dipreteli.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

INTA  itu   dahsyat.  Tak  ada batasan  waktu, ruang, ras, harta, maupun agama. Cinta pun selalu bersemayam di keabadian, sebab penuh tragedi   dan   misteri.   Cinta   melanda   siapapun,   tak terkecuali. Tak peduli mereka yang telah menjadi arwah sekalipun, di mana mereka rela bergentayangan untuk mencari cintanya yang abadi.  Konon, Count Dracula sang   “pencinta   abadi”,   pahlawan   perang  salib  yang legendaris itu, demi cintanya yang membara kepada isterinya, rela bergentayangan ribuan tahun menembus batas ruang dan waktu untuk menemukan kembali cinta isterinya yang mati bunuh diri karena frustrasi mendengar kabar kematiannya di medan perang.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Diceritakan Cyrus Kriticus (F Murray Abraham), seorang “ghost buster” yang mempunyai hobi aneh yaitu memburu dan memelihara hantu ganas. Perburuan Cyrus ini didasari oleh rancangan “skematik setan” dari sebuah buku kuno yang berasal dari abad ke-15, di ; mana saat itu Eropa sedang menggalakkan revolusi industri dan teknologi mekanikal. Di dalam buku kuno itu dinyatakan bahwa untuk menguasai kehidupan yang kekal dan kemampuan prediksi kehidupan masa depan, maka seseorang harus menguasai 13 hantu dengan fungsinya masing-masing sebagai syarat untuk membuka “mata neraka” ke dunia.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Namun belum lagi ambisi Cyrus terwujudkan dan hantu buruannya baru berjumlah 12 hantu, mendadak Cyrus menghilang secara misterius. Hal ini terungkap ketika Arthur (Tony Shalhoub), keponakan Cyrus ditemui oleh pengacara Bourne (Ben Moss) yang membawa sebuah surat wasiat yang menyatakan Arthur menerima warisan dari Cyrus yang baru saja meninggal dunia, berupa sebuah bangunan antik yang mewah. Arthur sendiri merasa aneh menerima warisan itu karena pamannya yang misterius itu sudah puluhan tahun tak pernah terlihat.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Kedua mantan bawahan Cyrus itu bergabung karena meyakini kalau di dalam rumah itu terdapat harta karun yang tidak ternilai harganya. Tetapi, begitu mereka masuk, mereka malah terjebak karena secara otomatis semua pintu tertutup dan mereka tidak bisa keluar lagi. Dan di sinilah dimulai adegan berdaya kejut tinggi ketika mereka diteror oleh kedua belas hantu yang terkurung dalam rumah misted as itu. Celakanya, hantu itu hanya dapat terlihat bila menggunakan kacamata khusus. Dalam cekaman teror yang bertubi-tubi, kedua anak Arthur malah terperangkap dalam jebakan “mata neraka”.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Konflik semakin tajam ketika Irwin sebagai mantan Jenderal berbintang tiga, yang terkenal mahir mengatur siasat dan menggelar strategi perang dengan sandi benteng, mampu menguasai “perang dahsyat” yang berkibar dalam penjara. Secara profesional militeristik, Irwin beserta seluruh narapidana berhasil membalik situasi dan mengakibatkan ratusan sipir militer terkurung dalam penjaranya sendiri. Kesempatan itu digunakan oleh Irwin untuk memasang terbalik bendera Amerika sebagai pertanda kondisi darurat-bahaya di dalam penjara “Last Castle”.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

IKA   para   terdakwa   pembunuh   Marsinah dinyatakan   bebas   oleh   Mahkamah   Agung, lantas siapa pembunuh sebenarnya?” Itulah kalimat ending yang diucapkan pemeran Marsinih, adik Marsinah yang mengomentari kenyataan kabut tebal yang menyelimuti kematian buruh pabrik PT Catur Putra Surya Sidoarjo, Jawa Timur, yang ditemukan tewas 9 Mei 1993 di Dusun Jegong, Wilangan, Nganjuk. Memang,   terdakwa   pembunuh   Marsinah   telah disidangkan. Malah, Mutiari telah menjalani hukuman yang divoniskan padanya. Sementara Yudi Astono (Direktur PT CPS Porong), Suwono (Kepala Satpam PT CPS Porong), Ayib (Kabag Produksi), Suprapto (Bagian Kontrol), sempat pula menjalani hukuman yang rata-rata divonis 12 tahun, sebelum pernyataan bebas dikeluarkan MA.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Adapun Mutiari yang malah lebih dulu ‘divonis’ oleh media massa sebagai pesakitan yang bersalah, takkan mampu melupakan “kisah tragisnya”, dituding sebagai bagian dari pembunuhan yang keji. Dan kisah hidup Mutiari inilah yang ditampilkan sutradara Slamet Rahardjo pada film “Marsinah (Cry Justice)”. Naskah yang digarap Slamet secara bareng-bareng dengan Eros Djarot, Karsono Hadi, Agung Bawantara, dan Tri Rahardjo, memberi tawaran terhadap buruknya sistem peradilan dan kekuasaan negeri ini di era Orde Baru. Apalagi, hingga kini, misteri pembunuh, Marsinah, masih tetap terselubung.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Hitam-putih peradilan Indonesia yang cenderung abu-abu itu pun dibuka secara transparan. Sangat telanjang. Penangkapan yang tidak prosedural, sebab dilakukan secara pencidukan dan penculikan. Surat penangkapan diberikan pada keluarga setelah 19 hari menghilangnya mereka. Polisi “Ikhlas” melanjutkan penyidikan setelah diserahkan oleh tentara. Jaksa penuntut umum begitu arogan mengajukan mereka ke meja hijau. Hakim pun tak peduli saran dan kegelisahan pembela atas adanya berbagai kejanggalan pada para saksi.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

UKSES Spiderman telah “merangsang’ pembuat film    kakap    sekelas    Warner    Bros    untuk menghidupkan   kembali   legenda-legenda   hero yang   muasalnya   dari   komik   hingga   film   kartun. pemerannya bukan lagi kartun, tapi benar-benar hidup. Apalagi, cerita klasik yang telah mendarahdaging dengan penikmatnya, tak pernah mati. Sang hero selalu hidup hingga kapan pun, yang kemudian dilanjutkan ke generasi penerusnya. Intensitas penampakan cerita yang setiap saat diperbaharui, membuat legenda fiktif itu terus menerus hidup di sepanjang masa.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Tak sedikit cerita fiktif yang merupakan hero bagi penikmatnya sejak kemunculan sang tokoh, telah disesuaikan dengan zamannya. Setting ilmiah lebih ditonjolkan. Namun, ternyata teori itu disungsang oleh Graig Titley dan James Gunn yang menghidupkan kembali Scooby Doo sebagai cerita di kekinian. Yakni, bila alur-alur setting Scooby Doo, kebanyakan pembuktian ilmiah untuk melawan keberadaan hantu, maka kehadiran empat tokoh dan seekor anjing bernama Scooby Doo itu selalu membuktikan bahwa “tidak ada hantu”. Toh lewat film terbaru yang diproduksi Warner Bros lewat tangan dingin sutradara Raja Gosnell, malah merujuk pada fantasi horor yang nyaris nyata.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Film ini terbilang cemerlang dengan memainkan segala emosi penonton yang larut seakan menyaksikan film yang nyata. Sebagai film fiksi-ilmiah, “Signs” mampu menyajikan dirinya sebagai film yang penuh pesan kehidupan yang berada di sekitar kita tanpa memandang agama, suku, bangsa, dan tempat. Apalagi, permainan watak para pemerannya, sangat luar biasa. Film yang tidak sekedar memberi tanda untuk jempol, tapi banyak hal yang bisa dibawa pulang sebagai bahan renungan dalam kehidupan ini sebelum kita mati.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Ted nyaris patah arang lalu pulang ke Miami andai gadis hitam yang cantik (Joanna) tak memberinya jawab. Namun ia bingung ketika menemukan bahwa ayahnya berkulit putih dan terbilang sosok lelaki tua yang ditakuti masyarakat Tolketna. Malah, pria itu adalah orang yang selalu ingin membeli anjing-anjing peninggalan Lucy dengan harga murah. Dan setiap mencari tahu tentang keaslian ayah serta watak ibunya, Thunder Jack atau James Johnson yang diperankan aktor kawakan James Coburn memilih. untuk menawar harga anjing-anjing yang merupakan anjing lomba dalam balapan salju.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Film ini bercerita tentang kisah cinta remaja yang penuh dengan “keegoisan”. Meskipun film ini cuma menghadirkan dua bintang muda yang masih tergolong bintang pendatang baru di dunia sinema’ Indonesia sebagai pelakon utama, namun film ini mampu bertahan di posisi teratas sebagai film Indonesia terlaris di awal tahun 2002. Dian Sastrowardoyo dalam film ini mampu bermain apik dan memukau berkat pengalaman akting pertamanya di film “Pasir Berbisik”. Begitu juga halnya dengan Nicholas Saputra, super model remaja yang baru pertama kali ini bermain film.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Suatu ktika SMUnya mengadakan. lomba penulisan puisi. Tentu saja, sebagaimana biasanya, Cinta dijagokan oleh kawan-kawannya untuk menjadi juara. Tetapi siapa nyana, kali ini juaranya direbut siswa lain. Dengan rasa penasaran Cinta mencari tahu siapa sebenarnya sang juara itu. Dan itulah awal dari “petaka” yang menimpa dirinya. Cinta jatuh cinta untuk yang pertama kalinya di usianya yang “sweet seventeen” pada Rangga (Nicholas Saputra), pemuda yang berbeda latarbelakang kehidupan dengannya, termasuk kehidupan kesehariannya.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Di akhir cerita, Cinta kebingungan seorang diri berdiri di persimpangan jalan untuk memilih jalan hidup yang mana yang harus dijalani. Memilih Rangga yang kehidupannya sangat berbeda dengannya, ataukah memilih kelompok gaulnya yang selama ini memposisikan Cinta sebagai tempat curhat (Curahan Hati). Setting cerita menukik tajam, ketika rangga akhirnya, memutuskan untuk meninggalkan Cinta, dan pindah sekolah ke Sydney, Australia. Seperti pilihan kata hatinya yang dituliskan dalam buku puisi yang ditinggalkan untuk Cinta : “…Perempuanku // Seperti juga ibuku yang perempuan // Pergi meninggalkan cintanya …//”.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Tindakan teroris ini sebenarnya untuk mengingatkan kepada Amerika, negara “sok berkuasa” itu, agar jangan mencampuri urusan dalam negeri Kolombia. Meskipun Kolombia saat ini sedang berkibar perang sipil. Sebenarnya yang menjadi target £1 Lobo adalah Konsulat Jenderal Kolombia dan pihak Atase Militer Amerika Serikat. Namun ternyata dalam insiden itu, banyak warga sipil kota Los Angeles yang menjadi korban, termasuk anak dan isteri Gordy. Tapi pihak El Lobo menganggap korban dari kalangan penduduk sipil hanya “kerusakan” bertaraf dampak sampingan (Collateral Damage) saja.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Ya, cinta itulah yang ditawarkan film produksi Franchise Pictures dan Canton Company. Alur cerita dan kemasan yang apik. Apalagi tidak sekonyong-konyong menjadikannya murahan maupun film musical. Pun keraguan akan Jennifer Lopez yang lebih dikenal sebagai penyanyi yang bertumbuh seksi, tidak terbukti. Jennifer mampu memperlihatkan akting prima yang masih terbilang baru baginya. la tampil tanpa menjual suara dan tubuh seksinya. Walau, tetap juga ada penampakan terhadap tubuhnya yang aduhai. Tapi, tidak diijinkan eksploitasi untuk menutupi kekurangan akting Jennifer. Sebab, artis cantik itu memang pantas disejajarkan dengan artis lainnya di Hollywood.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Kekuatan Spider-Man tak pernah diketahui Peter, la baru merasakan kekuatan dahsyat itu, setelah pulang dari study tour ke Fakultas Science University Columbia. Di tempat inilah ayah Harry, Dr. Norman Osborn (Willem Dafoe) bekerja. Di laboratorium tempat study tour, Peter memotret berbagai objek laba-laba. Di antara spesies laba-laba, ada satu spesies yang 15 ekor dalam satu kandang, lepas. Lalu menimpa ke tangan kanan dan menggigit Peter, ketika memotret Mary Jane dengan latar belakang laba-laba.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Kejadian ini meruntuhkan pamor dan keangkuhan Amerika dan dunia barat. Tentu saja Amerika berang dan menyatakan perang terhadap terorisme. Film Turbulence 3 dengan sub judul Heavy Metal diproduksi oleh perusahaan film Kanada Trimark Pictures, yang disutradarai oleh Jorge Montesi menceritakan tentang sebuah kelompok Band Death Metal yang dipimpin oleh Rocker “Pangeran Kegelapan” Slade Craven (Rutger Hauer) yang di puncak ketenaran kelompok ini mengundang reaksi yang kontroversial di tengah masyarakat dunia, karena di setiap penampilan kelompok ini selalu disertai dengan adegan kekerasan dan berbau sadisme serta setting-setting yang diwarnai teror-teror yang mencekam. Kelompok ini banyak dicekam dan dituding sebagai pengikut sekte pemuja setan.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Tematik konflik hitam putih, perseteruan kejahatan dan kebajikan inilah yang diangkat dalam film “the Lord of the Rings” berdasarkan buku trilogy dongengnya G.R.R. Tolkien. Film ini digarap secara kolosal dengan setting zaman purba dan didukung spesial efek yang canggih. Dibintangi oleh sejumlah aktor dan artis sekaliber Christopher Lee dan Cate Blanchett. Dalam peredarannya, film ini meledak dan mencatat prestasi box office, sama larisnya “Harry Potter”. Di awal film, berkisah “Dark Lord Sauron”, raja iblis penguasa kegelapan. Sauron yang berambisi menguasai bumi. Untuk itu, Sauron menciptakan sebentuk “cincin induk” yang di dalamnya bercokol roh jahat. Cincin ini semacam wasiat untuk memenangkan pertempuran melawan penghuni jagad raya. Satu persatu komunitas makhluk hidup di jagad raya ini ditundukkan, kemudian roh rajanya dimasukkan ke sembilan “cincin pengawal”.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Dalam perjalanan mereka menghadapi pengajaran pasukan iblis Ringwrath, utusan Dark Lord Sauron untuk merebut kembali cincin tersebut. Belum lagi menghadapi kakek penyihir Saruman (Christopher Lee), juga harus menghadapi sesepuh Elf yang mengangkat dirinya menjadi Lord of Mordor yang ternyata juga berambisi merebut cincin itu untuk menghidupi kembali kekuatan Suaron dan pasukan iblisnya. Pasukan berkuda berkerudung hitam penjelmaan roh sembilan raja taklukan Sauron yang mengisi “cincin pengawal” nyaris. merebut kembali cincin induk, namun luput karena Frodo Beggins Cs bisa melewati dinding Moria dan berhasil masuk ke goa yang ternyata dihuni oleh Monster, Troll bermata satu, Isildur dan Balrog si iblis purba. Bagaimana akhir pengajaran para iblis itu? Yang jelas, sebagai kelanjutan kisah trilogy “Lord of the Rings” maka penonton dibuat penasaran untuk mengikuti penayangan dua film berikutnya, dalam sub judul “the Two Tower” dan “the Return of the King”. Dan tentulah tetap berfokus pada kejahatan versus kebajikan.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Billy yang berperan Lee kemudian tampil sebagai mediator dan pengendali cerita. Ia berada di tengah lingkup para pemeran. Pun demi pekerjaan, ia harus melakukan “junket” ke tempat terpencil yang jauh di Nevada untuk membangun kembali imej terhadap Eddie dan Gwen demi mempromosikan film terbaru mereka, “Time Over Time” yang dibuat oleh Hal Heidman, sutradara eksentrik yang sangat aneh. Dan film tersebut belum jelas bentuknya. Makanya, Lee harus memfokuskan perhatian pers pada hubungan intim Eddie Gwen yang retak satu tahun enam bulan sebelumnya.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Ada kalimat Kiki yang bercerita soal “barang bekas yang selalu dibuang kakaknya untuk dirinya”. la diberi pakaian yang tak lagi disukai oleh Gwen. Namun, Gwen sempat syok ketika tahu Kiki berhubungan intim dengan suaminya yang ia rencanakan memberinya surat cerai. Adegan di seputar inilah, kita seperti diingatkan pada cerita film “Kama Sutra” produksi 1997 yang disutradarai Lidia Dean Richer. Di mana, Maya (Naveen Andrewa) yang selalu mendapat barang bekas dari “majikannya”, Tara, ia malah mendahuluinya “berhubungan intim” dengan Raja suami Tara.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Lewat gaya humor, alur cerita dirangkai secara ringan dan tanpa beban psikologis. Sifatnya menghibur. Cinta ditabur dalam kebencian dan kerinduan. Dikemas tanpa ditutup-tutupi, namun tetap ada ending yang terjaga. Ritme klimaks sangat apik untuk menemukan happy ending. Sehingga “barang bekas* itu tidak selalu menjadi bentuk kekalahan tapi malah bisa menjadi kemenangan. Toh, jualan cinta takkan pupus dimakan waktu. Pun jika dibarengi mimpi sekaligus, cinta itu tetap indah, terlebih bagi mereka yang sedang jatuh cinta.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Masihkah film garapan yang menokohkan per an orang  Cina  berkutat di    dunia silat ataupun pengagungan falsafah kunonya? Tampaknya tidak. Sebagai barometer perfilman Asia yang diakui masyarakat sinema Paman Sam, kehebatan kungfu yang tetap ditonjolkan. Keindahan memainkan gerak tubuh dalam ilmu beladiri tetap menjadi jualan utama setiap film yang dibuat. Makanya film “the One” garapan James Wong yang menggandeng Glen Morgan dan Steve Chasman sebagai produser, hanya menyandarkan falsafah Cina ala kadarnya karena unsur laga yang lebih diutamakan.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Film “the Gift” bercerita tentang susahnya jika punya tiga anak yang masih kecil. Apalagi, jika tanpa ayah yang tewas karena kecelakaan di pertambangan. Itu   sebabnya, Annie (Gate Blanchet) kelimpungan mengurusi anak sambil mencari nafkah. Tapi, ia beruntung diberi bakat oleh Tuhan. Seperti neneknya, ia memiliki kekuatan supranatural untuk bisa mengetahui kejadian masa silam dan yang akan terjadi. Namun, tidak bisa ‘membaca’ hal yang berkaitan dengan pribadinya. Makanya, ia tak mampu menahan suaminya barangkali kerja ketika hari kecelakaan itu walau sudah mengingatkan. Dari kemampuan meramal itulah, ia menerima klien di kota kecilnya, Brixon.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Mengawinkan pematian rasa takut dan harapan itu dengan “sekali berarti sesudah itu mati” (meminjam istilah Chairil Anwar), pun sepertinya sangat pas. Akan tetapi, jika penjinak bom harus berhadapan teroris yang memiliki falsafah seni bahwa karya seni itu jauh lebih berharga ketimbang penciptanya, maka bisa jadi sebuah perbenturan atas dua kepentingan yang menarik untuk disikapi. Apalagi, bila si teroris menganggap dirinya sebagai Michelangelo yang karyanya tetap hidup sepanjang masa dan selalu dikenang.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Pembenturan semacam itulah yang disajikan Albert Pyun yang menyutradarai “Ticker” produksi NU Image and Artisan Entertainment. Mengandalkan bintang laga terkenal sekelas Steven Seagall, film yang musiknya diarsiteki Tony Riparetty ini, mengajak masyarakat dunia untuk tidak takut menghadapi kematian. Juga sekaligus mengajak untuk tetap bersikap tenang menghadapi ancaman bom yang setiap saat berada di sekitar kita. Tapi, mampukah kita tenang ? Sementara selalu saja ada orang-orang gila yang dipenuhi dendam dan beragam permasalahan hidup yang tak jelas juntrungannya.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Walau tak berhubungan dengan tanah-tanah konflik di negeri Indonesia, alur cerita yang ditawarkan film “Brotherhood of the Wolf” yang diproduksi Studio Coral, merupakan implikasi dari kisah nyata yang selalu terjadi di daerah konflik. Adapun soal ribuan nyawa melayang. para ambisius yang avonturir itu, tak peduli. Sebab, baginya : tujuan atas kekuasaan yang menjadi obsesinya, dapat terwujud, walau dengan beragam alasan dan latar belakang. Dan paling mudah adalah menuding kambing hitam, termasuk menuding serigala sebagai biang keladi.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Penduduk Gevadon dicekam teror dan tahyul bahwa siluman itu adalah utusan Tuhan untuk memperingati raja yang dianggap membangkang terhadap gereja Roma. Untuk itu, ilmuwan kerajaan Gregoire de Fronsac (Samuel le Bihan) ditugasi Raja Louis XV untuk mengusut teror serigala siluman yang telah membantai tidak kurang dari 123 wanita dan anak-anak. Di samping itu, raja juga menyiapkan hadiah bagi siapa saja yang dapat membunuh serigala siluman itu. Hasilnya, ratusan serigala “tak berdosa” yang bermukim di kawasan hutan Gevadon terbunuh oleh pemburu dan kesatria yang tergiur oleh tingginya hadiah yang dijanjikan oleh Raja Perancis itu.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Pada musim panas berikutnya, Fronsac dan Mani kembali ke Gevadon dengan dua alasan, yaitu mengungkap tuntas mengenai serigala siluman dan kembali menemui gadis pujaannya Marianne Monangiis (Emilie Dequenne). Ternyata di balik kasus monster serigala ini tersembunyi intrik keji yang didalangi oleh tokoh-tokoh penguasa lokal yang dimotori oleh Jean-Francois de Morangias (Vincent Cassel), Kakak Marianne yang sejak kedatangan Fronsac merasa tidak senang. Namun misi Fronsac itu berhasil mengungkap kasus ini karena dibantu oleh utusan Roma, Sylvia (Monica Bellucci) yang juga jatuh hati pada Fronsac.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Film yang tidak memberi penggambaran menakutkan seperti film-film bersetting vampir sebelumnya, “Queen of the Dammer” ini malah sebaliknya. Kian memberi hiburan segar, khususnya penggemar lagu-lagu rock kegemaran kaum muda. Walau, secara tersirat, si penulis naskah seakan menegaskan kedekatan “setan” dengan musik-musik cadas yang sangat dekat pula dengan alkohol dan narkoba. Dan jawabnya yang riil ada pada interpretasi kita masing-masing, termasuk vampir ikuti mode atau pemusik ikuti jejak vampir.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Dikisahkan tentang Blade (Wesley Snipes), si “daywalker” pejalan siang yang merupakan sosok manusia setengah vampir, terlahir dari rahim seorang ibu korban vampir ketika hamil tua. Blasteran vampir-manusia ini tidak lagi merupakan makhluk yang haus darah karena ia beruntung disembuhkan oleh ilmuwan Whistler (Kris Kristofferson) yang punya misi menumpas kaum vampir. Sebagai balas budi, Blade mencari Whistler ke seantero pelosok bumi, ketika mendengar kalau Whistler diculik sekawanan kelompok vampire dan disekap di bahagian kota prahara.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Damaskinos (Thomas Kretschmann), raja vampire membentuk Blood Pack, tim vampire yang terdiri dari enam jagoan elite vampire dari berbagai pelosok dunia yang dikomandani Reinhardt dan anggotanya Chupa, Pendeta, Lighthammer, Verlaine dan Snowman. Tim ini semula dibentuk untuk menangkal misi Blade. Namun situasi cepat berubah ketika muncul kawanan The Reapers, super vampire yang ganas luar biasa. Damaskinos lalu mengutus puteranya Nyssa (Leonor Varela) dan Asad (Danny Jhon Jules) untuk menawarkan “persekutuan” dengan Blade untuk melawan kawanan The Reapers, ras vampir baru yang doyan memangsa sesama vampir. Tampilan mereka amat ganas dengan keanehan yang mengerikan karena mulut mereka bisa terbuka lebar ke samping ketika menerkam dan melahap mangsanya.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Blade pun ditunjuk memimpin tim khusus yang terdiri dari vampir pilihan antara lain, Asad, Nyssa, Scud, Benhardt cs dan Whistler untuk memerangi The Reapers yang dipimpin oleh Jared Nomak (Luke Goss), vampire buas dan kejam yang kemampuannya berimbang dengan Blade, karena mempunyai kemampuan yang sama, yaitu kebal terhadap peluru perak, senyawa bawang putih dan sinar ultra violet. Nomak telah lama mencari Blade, karena beranggapan Blade adalah satu-satunya hambatan untuk mencapai ambisinya demi menguasai dunia siang dan dunia kegelapan.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Naga purba itupun terbangun dan melesat ke muka bumi. Peristiwa itu telah berlalu lama. Quinn (Matthew Me Conaughey) sudah besar. la telah mencatat peristiwa yang menewaskan ibunya itu sebagai phobia yang telah menjadi epidemi. Apalagi naga purba itu telah meneror umat manusia yang mengakibatkan populasi manusia kian berkurang. Malah, Quinn yang bersembunyi di suatu daerah, merasa jika komunitasnya adalah manusia terakhir yang berhasil selamat dari kejaran naga purba yang terbang di angkasa dengan lidah apinya yang sangat dahsyat ganasnya.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Film yang berdurasi 120 menit ini, terbilang mampu menyedot emosi penonton. Hal itu dimungkinkan karena peranan animasi yang cemerlang yang didukung garapan musik Edward Shcarmuk serta visual effeknya Richard Houver, mampu membuat penonton untuk berimajinasi sesuai imajinasi penulis naskah “Reign of Fire”. Dan film ini merupakan fiksi ilmiah yang ditawarkan secara natural. Sehingga, kita terbuai oleh keasyikan alur cerita yang tidak membuat kita takut. Padahal, kita sedang menyaksikan peristiwa di tahun 2020 ketika imaji kita berada di ujung kiamat.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Diceritakan. Jimmy Tong sebagai sopir bagi seorang miliuner, Clark Devlin (Jason Isaacs) yang merupakan seorang agen pemerintah, CSA yang memberantas kejaiiatan. Namun, Devlin yang liebal itu sekarat setelah terkena serpihan bom. Akhirnya, Jimmy yang tak sengaja memakai “tuxedo” yang dibuat secara mutakhir dan bisa digunakan secara serba bisa, menggantikan posisi bosnya. la bekerjasama dengan agen Double N (Jennifer Love Hewitt)    memberantas   kegiatan    Barning   (Ritchie Coster) yang memproduksi air mineral yang mengandung bakteri yang membuat seseorang terkena dehidrasi lalu tewas.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Lantas, haruskah tetap orang tua, khususnya ayah melindungi anak yang jelas-jelas bersalah? Bagaimana sikap seorang ayah yang harus pula menjaga anaknya dari ancaman saudara angkatnya? Haruskah pula si ayah angkat mementingkan anak angkat ketimbang anak kandung? Jika harus memilih, tentulah anak kandung tetaplah yang harus dilindungi. Sebab, ayah tentulah tetap pahlawan bagi anaknya. Tema itulah yang disodorkan David Self yang diejawantahkan sutradara Sam Mendes yang sukses lewat “American Beauty” ke layar lebar lewat film “Road to Perdition”.

seperti di kutip dari https://syahriartato.wordpress.com

Namun mike harus pula menghindari dari kejaran pembunuh bayaran yang maniak memotret korban pembantaian. Selama dalam pelarian itulah, sekaligus membalas dendam, Michael menceritakan kisah kehidupannya. Sehingga, jika ada yang bertanya tentang ayahnya, apakah orang jahat atau orang baik, maka jawabannya sama yaitu .: Mike Sullivan adalah ayahku! Suatu ketika Michael bertanya pada ayahnya, mengapa ia dibedakan dengan adiknya Peter yang dimanja. Mike menjawabnya dengan kalimat yang penuh makna. “Peter itu anak manis, sementara kau, lebih mirip dengan aku. Dan aku ta^ ingin kau seperti aku!”

Sudah lebih dari 40 tahun, warga Dusun Parang Tinggia, Sulawesi Selatan, hidup rukun berdamping dengan puluhan ribu ekor kelelawar yang bergelantungan di setiap pohon. pun kelelawar yang merusak, apa lagi memakan tumbuhan seperti pisang dan mangga yang ditanam oleh warga. Begitupun sebaliknya, warga Desa Jene Taesa, Kecamatan Simbang, Maros, ini sangat menjaga kelestarian kelelawar. Tak ada satu pun warga yang berani mengusik apalagi menangkap. Bahkan, jika ada kelelawar yang sakit dan jatuh dari pohon, oleh warga dirawat bagaikan binatang peliharaan mereka sendiri. Saat petang, puluhan ribu ekor kelelawar ini keluar dari kampung itu untuk mencari makanan. Mereka biasanya ke arah hutan di pegunungan karst yang tak jauh dari dusun itu. Saat subuh, kelelawar inipun kembali lagi ke kampung itu. “Kami di sini sudah seperti satu keluarga. Mereka memang binatang, tapi sepertinya mengerti menjaga harmoni dengan kami. Mereka mencari makanan di hutan,” kata seorang warga, Nuraeni kepada detikcom, Kamis (1/3/2018). Kelelawar ini dulunya dipelihara oleh seorang tokoh adat setempat. Namanya, Kamaruddin Daeng Pawata. Pria yang diperkirakan berumur 80 tahun ini mengaku awalnya memelihara tiga ekor kelelawar yang ia beli dari seseorang di daerah Takalar. Tiga kelelawar ini akhirnya berkembang biak yang hingga saat ini jumlahnya sudah mencapai puluhan ribu ekor. Bahkan, Kamaruddin sendiri sudah tidak mampu mengenali tiga kelelawar yang awalnya ia pelihara di rumahnya. “Awalnya saya beli tiga ekor dari seseorang di Takalar. Saya pelihara di rumah saya dulu. Lama-lama karena terus banyak, mereka pindah ke pohon. Akhirnya sekarang sudah ada puluhan ribu ekor,” terangnya. Dari bentuk fisiknya, kelelawar yang ada di dusun ini terbilang langka dan jauh berbeda dengan jenis kelelawar yang juga hidup berdampingan dengan warga di kota Soppeng, Sulawesi Selatan. Kelelawar ini, memiliki bulu putih di dadanya. Beberapa peneliti baik dari lokal maupun mancanegara sudah pernah datang ke dusun itu. Mereka penasaran dengan jenis kelelawar itu yang ada di dusun ini, karena jenisnya hanya bisa ditemukan di daerah Amerika Latin. “Sangat beda dengan yang ada di Soppeng. Kelelawar ini punya ciri bulu putih di dadanya. Banyak peneliti yang sudah datang karena penasaran dari mana asal kelelawar ini,” lanjutnya. Bagi Kamaruddin dan warga setempat, keberadaan kelelawar ini juga menjadi berkah tersendiri. Sebab, hama padi seperti wereng ataupun burung yang merusak tanaman, takut mendekat dengan adanya kelelawar ini.

Related Posts

Comments are closed.