Ini Alasan Ba’asyir Tidak Ajukan Grasi ke Presiden

Ini Alasan Ba’asyir Tidak Ajukan Grasi ke Presiden

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin meminta agar Ustaz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) diberikan grasi oleh Presiden Joko Widodo. Menanggapi itu, kuasa hukum Ba’asyir menyatakan pihaknya tidak mengajukan grasi. Ketua tim kuasa hukum Ba’asyir, Ahmad Michdan, mengatakan, kliennya tetap mengambil sikap untuk tidak mengajukan grasi. Hal itu diungkapkan ABB usai dirinya divonis di tingkat peninjauan kembali. “Beliau menyampaikan kalau PK sudah putus, sudah tidak usah ajukan upaya lain, apapun upaya hukum lain,” ujar Michdan, saat dikonfirmasi detikcom, Kamis (1/3/2018). Menurut Michdan, Ba’asyir tak mau mengajukan grasi karena keyakinannya. Dia menambahkan, dengan mengajukan grasi berarti seseorang mendapat pengampunan namun mengakui kesalahan. “Saya pikir alasannya bisa juga soal kesalahan karena grasi kan artinya pengampunan,” ujarnya. Michdan mengatakan, jika dimungkinkan, pengajuan grasi itu sebaiknya dilakukan oleh tokoh-tokoh muslim. Namun dia tidak tahu apakah pengajuan grasi tanpa diajukan seorang terpidana diperbolehkan UU atau tidak. “Kalau boleh dilakukan oleh para tokoh saja, tapi itu kalau memungkinkan. Kalau memungkinan saya rasa sah saja,” ujarnya. Hal senada disampaikan anak kandung Ba’asyir, Abdul Rohim Ba’asyir mengatakan ayahnya kemungkinan tak mau mengajukan grasi ke presiden. “Kalau mengajukan, saya kira mungkin Ustaz Abu Bakar Ba’asyir tak akan mau sepertinya. Karena kan beliau sejak awal meyakini ‘saya itu tidak salah. Karena saya sedang menjalankan ajaran syariat saya, syariat Islam’. Sehingga beliau tidak pernah mengakui vonis yang selama ini divoniskan kepada beliau,” kata Abdul saat dihubungi detikcom, Rabu (28/2/2018) malam.

Baca juga :

Mereka menafsirkan serta mengimplementasikan Al-Qur’an dan hadits dengan cara dan keinginan mereka sendiri. Sejak awal, semua anggota sudah diarahkan atau didoktrin untuk hanya menerima penafsiran ayat dan hadits yang berasal dari imam/amirnya. Dan mereka menyebutnya dengan istilah MANQUL. Jadi, semua anggota Islam Jama’ah/Lemkari/LDII dilarang untuk menerima segala penafsiran yang tidak bersumber dari imam/amir karena penafsiran yang tidak bersumber dari imam dikatakannya semua salah, sesat, berbahaya dan tidak manqul. Doktrin ini diterima sebagai suatu keyakinan oleh semua anggota Islam Jama’ah/Lemkari/LDII.

seperti di kutip dari https://jerman90.wordpress.com

Menurut penafsiran Nur Hasan Ubaidah Lubis(Madigol): Pada hari kiamat nanti setiap orang akan dipanggil oleh Allah dengan didampingi oleh imam mereka yang akan menjadi saksi atas semua amal perbuatan mereka di dunia. Kalau orang itu tidak punya imam dikatakannya pada hari kiamat nanti tidak ada yang menjadi saksi baginya sehingga amal ibadahnya menjadi sia-sia dan dimasukkan kedlam neraka. Oleh karena itu, katanya semua orang Islam harus mengangkat atau membai’at seorang imam untuk menjadi sksi bagi dirinya pada hari kiamat. Dan jama’ah harus taat kepad imamnya agar nanti disksikan baik oleh imam dan dimasukkan ke dalam surga, dan orang yang paling berhak menjadi Imam adalah Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol), katanya. Karena dia dibai’at pada tahun 1941, maka orang-orang yang mati sebelum tahun 1941, berarti mereka belum berbai’at, jadi pasti masuk neraka, katanya.

seperti di kutip dari https://jerman90.wordpress.com

Penafsiran Nur Hasan (Madigol) ini jelas menyimpang jauh dari kebenaran dan menyesatkan-pemahaman. Pertama, hadits ini tidak berbicara mengenai pembai’atan karena di dalamnya tidak ada lafazh bai’at sama sekali. Hadits ini hanya menyebut soal Amir atau pemimpin dalam safar/perjalanan. Hal ini ditunjukkan oleh lafazh ‘ardh falatin’ yang artinya daerah yang tidak berpenghuni, dan lafazh ‘ammaru’ yang artinya menjadikan amir atau mengangkat amir. Di situ tidak ada lafazh ‘baaya’uu’ yang artinya membai’at.

seperti di kutip dari https://jerman90.wordpress.com

Kedua, hadits ini adalah hadits yang tidak sahih atau hadits dhaif atau lemah karena di dalam sanadnya (lihat kitab: Al-Ahaditsud Dha’iefah, hal. 56, juz ke-II, nomor hadits 589) ada seoarang yang bernama Ibnu Luhai’ah yang dilemahkan karena hafalannya yang buruk. Dan para ulama ahlul hadits sepanjang masa, dari dulu sampai sekarang tidak menghalalkan penggunaan hadits yang dha’ief sebagai hujah untuk menetapkan suatu kewajiban dalam beribadah kepada Allah, kecuali hanya dengan hujah yang sahih.

seperti di kutip dari https://jerman90.wordpress.com

“Wahai manusia, sesungguhnya aku telah dijadikan penguasa atas kalian, bukan berarti aku yang paling baik diantara kalian, maka jika aku melakukan kebaikan, tolonglah aku. Dan jika aku melakukan penyimpangan, cegahlah aku. Kejujuran itu merupakan amanat dan kebohongan adalah khianat. Adapun orang-orang yang lemah diantara kalian justru kuat dihadapanku sampai aku dapat mengembalikan hak-haknya. Sedangkan orang-orang yang kuat diantara kalian justru lemah dihadapanku, sampai aku mengmbil hak-haknya. Jangan sampai seorang dari kalian meninggalkan jihad, melainkan Allah berikan (jadikan) kehinaan bagi mereka. Taatlah kepadaku selama aku mentaati Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila menentang Allah, tidak ada kewajiban bagi kalian mematuhiku?” (Itmamul-Wafa’fiSiratilKhulafa’,hal.16).

seperti di kutip dari https://jerman90.wordpress.com

“…akan tetapi Al-Qur’an telah diturunkan, dan Nabi SAW pun telah mewariskan sunnahnya. Wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah pengikut (muttabi), dan sekali-kali aku tidak membut-buat peraturan yang baru (bid’ah). – Dalam satu riwayat – Abu Bakar berkata: Dan apabila kalian mengharpkan wahyu dariku, seperti yang Allah berikan kepada Nabi-Nya, maka aku tidak memilikinya, karena aku hanyalah manusia biasa, jadi perhatikan oleh kalian segala tindak- tanduk dan ucapanku.” (Lihat Hayatush-Shahabah juz III, hal. 427).

seperti di kutip dari https://jerman90.wordpress.com

Dalam sejarah, kita bisa melihat bahwa Abu Bakar melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai khalifah pengganti Rasulullah SAW sebagaimana layaknya seorang kepala negara. Begitu pula khalifah-khalifah sesudah beliau, seperti: Khalifah Umar bin Khaththab, Khalifah Utsman bin Afan, Khalifah Ali bin Abi Thalib, Khalifah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dan seluruh khalifah dari Bani Umayyah serta Bani ‘Abbasiyyah. Inilah pengertian ‘IMAMAH’ yang sesungguhnya menurut syari’at Islam. Dari keterangan dan hujah yang jelas ini, kita bisa menyimpulkan betapa sesat dan menyimpangnya ajaran kelompok/jama’ah LDII.

seperti di kutip dari https://jerman90.wordpress.com

Nabi SAW menegaskan, bahwa wajibnya bai’at adalah kepada khalifah, jika ada atau terwujud meskipun khalifah melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji seperti memukul,dll.Thabrani mengatakan bahwa yang dimaksud menghindar ialah menghindar dari kelompok-kelompok partai manusia (golongan /firqah-firqah), dan tidak mengikuti seorang pun dalam firqah yang ada. (Lihat Fathul Bari, juz XIII, hal.37). Dengan kata lain, apabila khalifah atau kekhalifahan sedang vakum, maka kewajiban bai’atpun tidak ada.Juga, sabda Rasulullah SAW, yang artinya:

seperti di kutip dari https://jerman90.wordpress.com

Nur Hasan (Madigol), pemimpin kelompok jama’ah LDII, menggunakan hadits ini untuk dijadikan dasar mengambil bai’at dari pengikutnya bagi dirinya. Ini adalah manipulasi pemahaman yang jauh menyimpang dan menyesatkan. Dengan kata lain Nur Hasan (Madigol) dan anaknya yang menjadi penerusnya yang menjadi imam Islam Jama’ah/LDII sekarang ini, telah menempatkan dirinya sebagai khalifah, padahal ia dan juga anaknya sama sekali bukan khalifah dan tidak sah atas pengakuan kelompoknya itu. Dan menurut Nur Hasan, mati jahiliyah dalam hadits ini ialah sama dengan mati kafir. Pendapat ini bertentangan dengan pendapat para ulama ahli hadits, seperti disebutkan oleh Ibnu Hajar, bahwa mati jahiliyyah dalam hadits ini bukanlah mati kafir, melainkan mati dalam keadaan menentang. (Lihat Fathul Bari, juz XIII, hal. 7).

seperti di kutip dari https://jerman90.wordpress.com

Disamping itu, pemahaman Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) itu mengandung konsekuensi pengkafiran terhadap sebagian sahabat Nabi SAW yang tidak mau berbai’at kepda khalifah, seperti: Mu’awiyyah bin Abi Sufyan yang tidak mau berbai’at kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib, tidak ada seorang sahabatpun yang mengkafirkan Mu’awiyyah, termasuk Khalifah Ali. Begitu pula Husein bin Ali yang menolak berbai’at kepada Khalifah Yazid bin Mu’awiyyah, juga Zubair, padahal khalifah-khalifah itu merupakan penguasa-penguasa kaum Muslimin yang sah, tidak seperti Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) dan anaknya Abdul Dhohir. Dan mengkafirkan sahabat-sahabat Rasulullah SAW termasuk perbuatan murtad.

seperti di kutip dari https://jerman90.wordpress.com

Maka aliran yang mendasarkan ayat ini sebagai hujah untuk mengambil bai’at bagi jama’ah pengikutnya tidaklah dapat dibenarkan dan merupakan pemahaman yang menyimpang dan menyesatkan. Karena surat Al-Fath ayat 10 menceritakan peristiwa Baitur Ridhwan, yaitu berbai’atnya para sahabat kepada Nabi SAW dalam tekad untuk memperjuangkan nasib Utsman yang menurut perkiraan mereka ditawan orang-orng Qurasy. Kejadian ini terjasi di Hudaibiyah tatkala rombongan Rasulullah SAW yang hendak melakukan umrah ke Makkah ditahan orang-orang Qurasy.

seperti di kutip dari https://jerman90.wordpress.com

Menurut Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol), lafazh infaq di dalam ayat ini dan juga ayat-ayat yang lain ialah setoran atau pemberian harta dari jama’ah anggota LDII kepada imam Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol). Sedangkan besarnya setoran ditetapkan oleh Madigol sebesar 10 % dari setiap rizki yang diterima anggota jama’ahnya. Ini merupakan ijtihad Madigol yang harus ditaati. Tinggal terserah para anggota LDII, apakah mau masuk Surga atau Neraka. Kalau mau masuk Surga ya harus taat kepada Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol). Na’udzubilahimindzalik.

seperti di kutip dari https://jerman90.wordpress.com

Zakat Mafrudhah atau yang diwajibkan. (Lihat Tafsir Ibnutsir, juz I, hal. 42). Adapun zakat mafrudhah, sudah diatur tata-caranya menurut syari’at yang sudah jelas, yaitu harta yang sudah mencapai nishabnya (batas jumlah yang telah ditentukan) dan telah lewat masa satu tahun, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Ali r.a. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW, yang artinya: “Apabila ada bagimu dua ratus dirham dan liwat atasnya satu tahun maka zakat padanya lima dirham, dan tidak wajib atasmu sesuatu hingga ada bagimu dua puluh dinar dan liwat atasnya satu tahun maka (zakat) padanya setengah dinar. Dan apa-apa yang lebih, maka (zakatnya) menurut perhitungannya. Dan tidak ada di satu harta zakat hingga liwat atasnya satu tahun.” (HR.AbuDawud). Misalnya uang dinar (emas) apabila telah mencapai nishab 20 dinar, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar setengah dinar. Begitu pula mengenai zakat ternak, zakat hasil pertanian dan lain-lain semua sudah ada ketentuannya menurut syari’at yang sudah lengkap. Maka Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) tidaklah perlu digubris dengan membuat syari’at baru, bagi orang yang mau berfikir.

seperti di kutip dari https://jerman90.wordpress.com

Menurut pengakuan Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) bahwa ilmu itu tidak sah atau tidak bernilai sebagai ilmu agama kecuali ilmu yang disahkan oleh Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) dengan cara mankul (mengaji secara nukil), yang bersambung-sambung dari mulut ke mulut dari mulai Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) sampai ke Nabi Muhammad SAW lalu ke Malaikat Jibril AS dan Malaikat Jibril langsung dari Allah. Dengan kesimpulan bahwa ilmu agama itu sah jika sudah dimankuli oleh Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol), dan dia telah menafikan semua keilmuan Islam yang datang dari semua ulama, ustadz, kiyai, dan dari semua lembaga keislaman yang ada di dunia ini. Menurut pengakuan Madigol ini hanya dirinya satu-satunya orang yang punya isnad/sandaran guru yang sampai ke Nabi SAW. Sedangkan ulama-ulama lainnya di seluruh dunia tidak ada dan ilmunya tidak sah dan haram, kata Madigol. Sehubungan dengan faham ilmu manqul ini mereka bersandar pada suatu ucapan seorang Tabi’in yang bernama Abdullah bin Mubarok yang artinya:

seperti di kutip dari https://jerman90.wordpress.com

Sampai pernah ada kejadian, salah satu anggota Islam Jama’ah/LDII, bapaknya meningal dunia. Karena bapaknya belum ber-amir dan berbai’at, maka dihukumi mati kafir. Maka seorang anak tidak boleh mendoakan dan mensolati jenazahnya. Tetapi karena didesak oleh keluarganya akhirnya dengan terpaksa dia mensolati tetapi tidak berwudhu karena takut melanggar bai’at. Daripada melanggar bai’at yang akibatnya masuk neraka, katanya, lebih baik menipu Allah dan membohongi sanak keluarga dan kaum muslimin lainnya. Sifat seperti ini kalau bukan orang munafik siapa lagi ? Dan Allah SWT telah berfirman, yang artinya :

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin meminta agar Ustaz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) diberikan grasi oleh Presiden Joko Widodo. Menanggapi itu, kuasa hukum Ba’asyir menyatakan pihaknya tidak mengajukan grasi. Ketua tim kuasa hukum Ba’asyir, Ahmad Michdan, mengatakan, kliennya tetap mengambil sikap untuk tidak mengajukan grasi. Hal itu diungkapkan ABB usai dirinya divonis di tingkat peninjauan kembali. “Beliau menyampaikan kalau PK sudah putus, sudah tidak usah ajukan upaya lain, apapun upaya hukum lain,” ujar Michdan, saat dikonfirmasi detikcom, Kamis (1/3/2018). Menurut Michdan, Ba’asyir tak mau mengajukan grasi karena keyakinannya. Dia menambahkan, dengan mengajukan grasi berarti seseorang mendapat pengampunan namun mengakui kesalahan. “Saya pikir alasannya bisa juga soal kesalahan karena grasi kan artinya pengampunan,” ujarnya. Michdan mengatakan, jika dimungkinkan, pengajuan grasi itu sebaiknya dilakukan oleh tokoh-tokoh muslim. Namun dia tidak tahu apakah pengajuan grasi tanpa diajukan seorang terpidana diperbolehkan UU atau tidak. “Kalau boleh dilakukan oleh para tokoh saja, tapi itu kalau memungkinkan. Kalau memungkinan saya rasa sah saja,” ujarnya. Hal senada disampaikan anak kandung Ba’asyir, Abdul Rohim Ba’asyir mengatakan ayahnya kemungkinan tak mau mengajukan grasi ke presiden. “Kalau mengajukan, saya kira mungkin Ustaz Abu Bakar Ba’asyir tak akan mau sepertinya. Karena kan beliau sejak awal meyakini ‘saya itu tidak salah. Karena saya sedang menjalankan ajaran syariat saya, syariat Islam’. Sehingga beliau tidak pernah mengakui vonis yang selama ini divoniskan kepada beliau,” kata Abdul saat dihubungi detikcom, Rabu (28/2/2018) malam.

Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin berharap Abu Bakar Ba’asyir mendapatkan grasi dari Presiden Joko Widodo. Anak kandung Abu Bakar Ba’asyir, Abdul Rohim Ba’asyir mengatakan ayahnya kemungkinan tak mau mengajukan grasi ke presiden. “Kalau mengajukan, saya kira mungkin Ustaz Abu Bakar Ba’asyir tak akan mau sepertinya. Karena kan beliau sejak awal meyakini ‘saya itu tidak salah. Karena saya sedang menjalankan ajaran syariat saya, syariat Islam’. Sehingga beliau tidak pernah mengakui vonis yang selama ini divoniskan kepada beliau,” kata Abdul saat dihubungi detikcom , Rabu (28/2/2018) malam. Abdul mengatakan Ba’asyir keberatan mengajukan grasi karena tak pernah merasa bersalah atas kasus terorisme yang telah diputus majelis hakim. Dia mengatakan Tim Pembela Muslim yang merupakan penasihat hukum Ba’asyir juga memiliki pendapat yang sama. “Kami komunikasi terus. Dan TPM juga komunikasi terus dengan Ustaz Ba’asyir. Dan pembicaraan soal itu juga sudah kita bicarakan. Dan Ustaz Abu mengatakan ‘kalau mengajukan grasi, saya tidak mau’. Artinya keberatan,” ujar Abdul. Sebelumnya, dukungan disampaikan parpol-parpol agar Jokowi memberikan grasi kepada Ba’asyir. Dukungan tersebut didasarkan pada kondisi kesehatan Ba’asyir. “Saya lihat respons yang ada ini lebih dari hati nurani masing-masing. Jadi mereka melihat memang sudah tidak layak Ustaz Abu dengan kondisinya seperti ini sudah tak layak dipenjara,” ujarnya. Abdul mengatakan keputusan yang diambil Ba’asyir akan berbeda jika pemberian pembebasan itu diberikan dari pihak pemerintah. “Atau kalau umpamanya presiden memberikan amnesti, intinya kalau inisiatif itu datangnya dari presiden, kami akan senang sekali menerima,” ujarnya.

Anggota Komisi III Fraksi PKS, Nasir Djamil menilai Abu Bakar Baasyir layak mendapatkan grasi dari Presiden Jokowi karena kondisi kesehatan yang bersangkutan saat ini memburuk. “Ya kalau sakitnya berat, atau atas dasar kemanusiaan bisa saja diberikan grasi,” kata Nasir saat dihubungi, Rabu (28/2/2018). Hal ini, kata Nasir, sama halnya seperti pemberian grasi tiga tahun masa hukuman kepada Bupati Kutai Kartanegara, Syaukani dengan alasan kesehatan pada 2010. “Dia [Syaukani] dikasih grasi, karena alasan kesehatan yang sudah tidak mampu lagi dia menjalani hukuman,” kata Nasir. Meski begitu, Nasir menilai Baasyir tidak akan mudah untuk mengajukan grasi ke presiden. Sebab, menurutnya, permohonan grasi sama saja sebuah pengakuan kesalahan. “Tapi dikembalikan lagi ke Pak Ustaz Baasyir. Apakah beliau mau mengajukan grasi kepada presiden. Kalau soal sakit kan bisa dibantar kan, dirawat dan sebagainya,” kata Nasir.  Baasyir menjadi tahanan tindak pidana terorisme sejak 2011. Ia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara karena terbukti melakukan pendanaan pelatihan teroris di Aceh. Pengasuh Pondok Pesantren al-Mumin Ngruki ini kemudian menjalani hukuman di Nusakambangan, Jawa Tengah. Namun, karena kondisi kesehatannya terus menurun ia dipindahkan ke Rutan Gunung Sindur, Bogor. Pada 2017 Baasyir mengalami pembengkakan di kakinya dan sempat menjalani perawatan di RS Pusat Jantung Harapan Kita. Dari hasil pemeriksaan, ada gangguan katup pembuluh darah yang mengakibatkan pembengkakan. Diagnosa dokter menyatakan Baasyir memgalami gangguan kronik pada pembuluh vena, yaitu pembuluh vena bagian dalam tidak kuat untuk memompa darah ke atas. Namun pembuluh darah arterinya tidak mengalami sumbatan. Terkait alasan kesehatan ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin pada Rabu (28/2/2018) meminta kepada Presiden Jokowi untuk memberikan grasi atau pengurangan hukuman kepada Baasyir. “Kalau bisa dikasih grasi. Ya itu terserah Presiden [Jokowi],” kata Maruf Amin di komplek Istana Negara, Jakarta.

Jakarta, CNN Indonesia — Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir  mengajukan upaya pembebasan, tahanan rumah, dan pengobatan yang layak. Kuasa hukum menyebut pria 79 tahun itu sering sakit di dalam penjara. “Pembebasan sudah sudah bolak-balik [diajukan] supaya beliau, setidak-tidaknya, karena sudah lanjut [usia], dipindahkan ke lingkungan keluarga atau dibuat tahanan rumah. Tapi belum ada respon [dari Pemerintah],” kata Kuasa Hukum Ba’asyir, Achmad Michdan, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (28/2).

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

Michdan mengaku sudah mendapatkan izin agar Ba’asyir bisa menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Rencananya, pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu akan dibawa ke RSCM besok. “Tanggal 10 November gagal. Sekarang sudah ada [jadwal pada] 22 [Februari] kemarin, diundur Kamis (1/3). Perizinan udah selesai semua,” ujar Michdan. Pihaknya sempat mengalami hambatan untuk membawa kliennya itu ke RSCM. Hal itu terkait dengan syarat pengawalan dari pihak Detasemen Khusus 88/Antiteror Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang diberikan oleh pihak Lapas. Baasyir menurut Michdan mengidap penyempitan pembuluh darah ke kaki. Penyakit itu sudah diderita sejak menghuni salah satu penjara di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

” Medical record- nya ada di Mer-C,” imbuhnya. Perizinan untuk pengobatan itu sudah diurus sejak lama oleh kuasa hukum ke Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham, Densus 88 Anitteror, dan BNPT. Sebelumnya Ba’asyir sempat dirawat selama sepekan di RS Harapan Kita, Jakarta, pada 2017, dan dirujuk ke RSCM. Penahanan Baasyir juga saat ini sudah dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Terkait pengobatan Baasyir, Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin meminta Presiden Joko Widodo saat bertemu di Istana Negara hari ini.

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

Ma’ruf mengaku meminta bantuan Presiden untuk memberikan izin perawatan kepada Ba’asyir di RSCM dan Jokowi pun menyambutnya positif namun terkendala rekomendasi dari BNPT. “Saya pernah menyampaikan itu ke Presiden dan Presiden merespons bagus,” kata Ma’ruf. Ia juga berharap Presiden memberikan grasi kepada Abu Bakar sebab kondisi kesehatannya kian menurun. “Beliau sakit diperlukan pengobatan, kemudian juga diberikan semacam grasi kalau bisa dikasih. Itu terserah Presiden,” ujarnya. Baasyir disebutnya mengidap penyakit yang menyebabkan bintik-bintik hitam di kakinya. Bintik-bintik itu semakin lama semakin membesar.

seperti di kutip dari https://www.cnnindonesia.com

Pemberian grasi terhadap tahanan akibat sakit sebelumnya dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY memberikan grasi kepada mendiang mantan Bupati Kutai Kertanegara Syaukani Hasan Rais akibat sakit parah pada 17 Agustus 2010. Pada 2004, Ba’asyir divonis hukuman dua tahun enam bulan penjara oleh PN Jaksel karena terbukti terlibat dalam peristiwa bom Bali dan bom Hotel JW Marriott. Pada 2011, Ia kembali menerima vonis 15 tahun penjara dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, karena terbukti menjadi perencana dan penyandang dana pelatihan kelompok bersenjata di pegunungan Jantho, Aceh, pada 2010.

Ma’ruf Amin belum bisa memastikan rumah sakit tempat Ba’asyir dirawat REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kondisi kesehatan Ustaz Abubakar Ba’asyir yang masih masih memunculkan wacana agar beliau bisa dirawat di rumah sakit. Wacana ini pun dikeluarkan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf Amin dan langsung disampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) supaya Ba’asyir sementara keluar dari Lapas Gunung Sindur untuk perawatan. Ma’ruf Amin mengatakan bahwa permintaan tersebut memang sudah disampaikan, dan Presiden Jokowi pun memberikan respon bagus atas usulan tersebut. “Ya setuju, dan beliau sangat apresiasi, ya untuk bagaimana beliau (Ustaz Ba’asyir) dirawat RS,” ujar Ma’ruf Amin di Istana Negara, Rabu (28/2).

seperti di kutip dari http://nasional.republika.co.id

Namun untuk tempat perawatannya, Ma’ruf Amin belum memastikan apakah dirawat di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), atau tempat kesehatan lainnya. Di sisi lain, dia juga berharap agar Presiden Jokowi bisa memberikan grasi, tapi semua tetap tergantung kepada Jokowi. Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Informasi Johan Budi menuturkan belum mengetahui secara pasti mengenai keputusan Presiden Jokowi atas usulan dari MUI. Dia akan mengkonformasi terlebih dahulu mengenai hal tersebut. “Tadi ada yang nanya katanya Presiden mengusulkan memindahkan ke RSCM katanya. Ini yang belum saya konfirmasi. Kalau sudah (konfirmasi), saya jawab. Saya enggak mau ngarang ,” ujarnya. Berdasarkan data yang dihimpun, pada 8 Oktober2002, Ba’asyir ditetapkan tersangka oleh Kepolisian RI menyusul pengakuan Omar Al Faruq kepada Tim Mabes Polri di Afganistan juga sebagai salah seorang tersangka pelaku pengeboman di Bali. Kemudian pada 3 Maret2005, Ba’asyir dinyatakan bersalah atas konspirasi serangan bom 2002, tetapi tidak bersalah atas tuduhan terkait dengan bom 2003. Dia divonis 2,6 tahun penjara. Pada 17 Agustus 2005, masa tahanan Ba’asyir dikurangi 4 bulan dan 15 hari. Hal ini merupakan suatu tradisi pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Ia dibebaskan pada 14 Juni 2006. Namun, pada 9 Agustus 2010 Abu Bakar Ba’asyir kembali ditahan oleh Kepolisian RI di Banjar Patroman atas tuduhan membidani satu cabang Alqaidah di Aceh. Pada 16 Juni2011, Ba’asyir dijatuhi hukuman penjara15 tahun oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan setelah dinyatakan terlibat dalam pendanaan latihan teroris di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia.

Related Posts

Comments are closed.