Idrus Marham: Airlangga Hartarto Jadi Ketum Golkar sampai 2019

Idrus Marham: Airlangga Hartarto Jadi Ketum Golkar sampai 2019

Baca juga : ar BBFTVd0

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham mengaku siap memimpin partai berlambang pohon beringin tersebut. Idrus mengatakan, apa yang selama ini dilakukan adalah komitmen dirinya membesarkan Partai Golkar. “Maka apapun kalau itu ya dikehendaki oleh seluruh keluarga besar Golkar, utamanya para pimpinan provinsi, kabupaten/kota dan ridho Tuhan, maka tentu saya siap (memimpin Golkar),” kata Idrus saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (29/11/2017). Lebih lanjut saat ditanya apa yang membuatnya siap, Idrus menjelaskan, bahwa jika Munaslub digelar, maka hanya melanjutkan masa bakti kepemimpinan Setya Novanto, hingga tahun 2019 “Persoalannya hanya munaslub itu lanjutkan sisa masa jabatan, yang kalau kita lihat itu katakanlah satu setengah tahun. Tapi ketika menghadapi agenda politik besar pileg, pilpres tinggal 16 bulan. Ini apa yang bisa kami lakukan, kalau (harus) mulai dari awal,” kata Idrus. Baca: Tanpa Sebut Rohingya, Paus Fransiskus Desak Myanmar Hormati Hak Semua Kelompok Etnis

seperti di kutip dari https://www.msn.com

Menurutnya, jika kembali terpilih, dirinya akan melanjutkan program dan kegiatan yang sudah ditetapkan. “Ya namanya melanjutkan, berarti seluruh program dan kegiatan dan urusan yang ada, harus kita efektifkan sedemikian rupa. Nah itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki basis ideologi yang kuat, basis konseptual yang kuat, jaringan yang kuat dan mengakar,” kata Idrus. Salah satu calon kuat yang disebut cocok menjadi Ketua Umum Golkar pengganti Setya Novanto adalah Airlangga Hartarto. © Harian Warta Kota/henry lopulalan

seperti di kutip dari https://www.msn.com

PENGUMUMAN PENGURUS – Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto (tengah) bersama Sekjen Partai Idrus Marham (kanan), Ketua Harian Nurdin Halid (kiri) saat pengumuman pengurus Partai Golkar periode 2016-2019 di Kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Senin, (30/5). Kepengurusan Partai Golkar periode 2016-2019 yang dinamakan Akselarasi Kerja tersebut berjumlah 240 orang anggota dengan merangkul seluruh kader termasuk 32,7 persen di antaranya diisi kader wanita dan anak muda. WARTA KOTA/Henry Lopulalan


Baca juga : airlangga hartarto ditunjuk jadi ketum golkar pengukuhan dilakukan saat munaslub

JAKARTA, JITUNEWS.COM  – Hasil rapat pleno Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar telah menunjuk Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum definitif menggantikan Setya Novanto. Penunjukan tersebut nantinya akan dikukuhkan saat Musyawarah Luar Biasa (Munaslub) yang rencananya digelar pada 19-20 Desember 2017 mendatang. Begini Tanggapan Airlangga Soal Aziz Syamsuddin yang Calonkan Diri Jadi Ketum Golkar “Pergantian Ketua Umum ini akan dilaporkan dalam Rapat Pimpinan Nasional pada 18 Desember 2017. Pengukuhan keputusan akan dilakukan saat Munaslub di Jakarta pada tanggal 19-20 Desember 2017,” kata Ketua Harian DPP Partai Golkar, Nurdin Halid usai rapat pleno, Rabu (13/12). Sementara itu, usai ditunjuk sebagai Ketum, Airlangga tidak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan kepadanya dan Golkar, termasuk pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. 

seperti di kutip dari http://m.jitunews.com

Sebut Tak Tepat Pleno Bahas Munaslub, Aziz: Harus Melewati Rapimnas “Kami berterima kasih pada Pemerintah di bawah Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla yang selalu melihat Partai Golkar sebagai salah satu pilar demokrasi,” ujarnya. Airlangga juga menegaskan bahwa Golkar akan mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sampai masa jabatan keduanya berakhir pada 2019 mendatang. Selain itu, Airlangga juga mengatakan akan mendukung Presiden Joko Widodo untuk berpartisipasi dalam gelaran Pemilu 2019. “Dan mendukung Presiden Jokowi mencalonkan diri pada Pemilu 2019,” tambahnya. Idrus Marham: Pemilihan Ketum dengan Munaslub, Tidak Bisa Aklamasi


Baca juga :

Oleh: Denny JA,  Pengamat Politik, Peneliti/Pendiri LSI   Pesan dari rapat pleno Golkar cukup jelas. Idrus Marham diangkat sebagai PLT ketum Golkar dalam durasi yang sangat singkat: sampai praperadilan yang kedua atau sampai munaslub. Jika munaslub tak terhindari, besar kemungkinan berlangsung di tengah Desember 2017. Bagaimanakah wajah Golkar paska Munaslub? Siapakah pemimpin baru Golkar? Mampukah Golkar terkonsolidasi cepat, sehingga melejit di Pilkada 2018 dan Pilpres/ Pileg 2019. Per- hari ini, dua tokoh utama yang akan bertarung adalah Idrus Marham dan Airlangga Hartarto. Mereka dibayangi dua calon lain: Aziz Syamsuddin dan Bambang Soesatyo. Agar kokoh cepat terkonsolidasi dan melejit kembali bagaimanakah pertarungan munaslub itu sebaiknya? -000- Satu konsep perlu diperkenalkan dalam kosa kata politik Indonesia masa kini: Coopetition. Ini gabungan antara kata cooperation (kerjasama) dan competition (persaingan). Konsep ini evolusi dari kebijakan berkompetisi. Tak terhindari karena berbeda konsep, kepentingan, target, kompetisi itu terjadi. Namun banyak kompetisi yang berakhir zero sum games: yang satu menang mendapat semua. Yang kalah musnah, binasa atau dibinasakan. Coopetion adalah mekanisme kompetisi yang berujung win win solution. Aneka pihak tetap mencari titik kerjasama walau tetap berkompetisi. Coopetition kini dianggap lebih unggul ketimbang kompetisi murni. Publik luas lebih diuntungkqn oleh coopetition karena bersinerji positifnya pihak yang berkompetisi. Di dunia bisnis, ini terjadi antara mobil citroen dan toyota. Dua jenis mobil ini memilih kerjasama untuk riset dan memproduksi satu komponen penting mobil yang bisa membuat kualitas mobil mereka melompat. Komponen bersama yang mereka hasilkan secara kerja sama sangat membantu kedua jenis mobil itu. Citroen pun meningkat menjad Peugeout 107 dan Citroen C1. Sementara komponen yang sama meningkatkan toyota menjadi Toyota Aygo. Setelah keluar dua produk baru, hasil kerjasama, masing masing jenis mobil itu kembali berkompetisi berebut pembeli. Kerjasama tak menghalangi persaingan. Atau persaingan mereka ternyata lebih produktif dengan mencari elemen yang bisa dikerjasamakan. Kasus Citroen dan Toyota itu contoh kerjasama ada di awal lalu diakhiri dengan persaingan. Bisa juga persaingan itu di awal tapi diakhiri dengan kerjasama. -000- Saya membayangkan team Idrus Marham dan team Airlangga Hartarto memilih coopetition itu. Mereka bersepakat bersaing di Munaslub. Namun sudah ada juga pembicaraan di awal. Siapapun yang terpilih, dua tokoh ini tetap bekerja sama dengan saling mengajak, demi konsolidasi Golkar yang lebih cepat dan kuat. Posisi apa yang disepakati untuk Airlangga Hartarto jika Idrus menang? Atau posisi apa yang disepakati untuk Idrus Marham jika Airlangga yang menang? Soal itu biarlah menjadi kesepakatan mereka. Jika ini terjadi, coopetition yang mereka mulai akan menjadi tradisi politik yang sehat terutama untuk partai dan masyarakat yang terfragmentasi. Konsolidasi Golkar akan lebih cepat terjadi. Semua potensi kekuatan di balik dua tokoh itu akan bersinerji, bukan saling meniadakan. Paska Munaslub, Golkar cepat terkonsolidasi. Kerja selanjutnya, tinggal membuat ikhtiar agar Golkar keluar dengan branding baru paska Munaslub. Bagaimana jika Setya Novanto menang di pra peradilan dan Munaslub tidak terjadi? Dengan sendirinya coopetion antara Idrus Marham vesus Airlangga Hartarto juga tak terjadi. Mungkinkah Setya Novanto menang di pra peradilan dan tiada munaslub di Golkar hingga 2019? Itu sudah di luar analisa tulisan yang berjudul Coopetition ini.**** November 2017


Baca juga : nusron airlangga hartarto berpeluang jadi ketum golkar

Menjelang musyawarah luar biasa untuk memilih ketua umum baru menggantikan Setya Novanto yang kini ditahan KPK, Koordinator Pemenangan Pemilu Indonesia I DPP Partai Golkar Nusron Wahid memuji nama Airlangga Hartarto. Menurut Nusron, Airlangga yang kini menjabat Menteri Perindustrian merupakan tokoh yang potensial. “Pak Airlangga punya peluang. Tadi ketemu Presiden. Bagus. Jawani, kalem. Kalau soal itu bisa. Apakah mungkin, itu besok nanti kita lihat,” kata Nusron di DPP Golkar, Jalan Anggrek Neli Murni, Slipi, Jakarta Barat, Senin (20/11/2017). Nama Airlangga dan sejumlah tokoh Golkar sering disebut-sebut setelah Novanto terjerat kasus dugaan korupsi proyek e-KTP. Usulan pergantian ketua umum juga dilontarkan mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla. Untuk mengisi kekosongan posisi ketua umum, DPP Partai Golkar akan menyelenggarakan rapat pleno di kantor DPP Partai Golkar, Selasa (21/11/2017), siang. Selain melaksanakan tugas sehari-hari ketua umum, pelaksana tugas juga ditugaskan menyiapkan dan melaksanakan musyawarah nasional luar biasa. Dewan Pakar DPP Partai Golkar yang diketuai Agung Laksono telah mengusulkan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham menjadi pelaksana tugas. Idrus merupakan pilihan Novanto sebelum ditangkap KPK. Menurut Nusron munaslub dapat saja dipercepat atau sampai masa periodesasi Novanto selesai. “Kalau keputusan politiknya sampai terbentuknya munaslub, kemudian diputuskan tanggalnya (munaslub). Bisa juga opsi kedua adalah sampai masa periodesasi ini habis. Berarti 2019. Ini masalah politik. Bukan lagi ada masalah debat hukum,” kata Nusron.

Ketua DPP Golkar Zainuddin Amali menanggapi isu perombakan pengurus DPP Golkar yang salah satunya menyasar kursi Sekjen yang dijabat Idrus Marham. Bagi Amali, Idrus masih layak menjabat Sekjen. “Layak. Nggak ada masalah,” ujar Amali di JCC, Senayan, Jakarta, Senin (18/12/2017). Bagi Amali, perombakan kepengurusan Golkar sepenuhnya di tangan Airlangga Hartarto, selaku ketum yang terpilih lewat rapat pleno DPP. “Itu Pak Airlangga,” ujarnya. Amali menyebut periode kepemimpinan Airlangga telah disepakati di forum rapimnas sampai 2019. Namun dia menyebut itu belum final alias bisa berubah. Amali mengatakan masa kepemimpinan Airlangga bisa ditentukan di munaslub. Forum munaslub nanti akan menyuarakan suara masing-masing, salah satunya periode kepengurusan Golkar di bawah Airlangga berlaku hingga 2022. “Bisa saja (sampai 2022). Cuma kelihatannya sudah seperti yang dibicarakan di situ,” katanya.

Sekjen Golkar Idrus Marham memberi kejelasan terkait masa bakti Airlangga Hartarto sebagai ketua umum. Idrus menyebut masa bakti Airlangga disepakati hanya sampai tahun 2019. “Rapimnas rekomendasikan untuk diambil suatu ketetapan pengukuhan tentang Airlangga ketum DPP Golkar untuk dapat melaksanakan kepemimpinan sampai akhir masa bakti 2014-2019 sesuai dengan pasal 19 ART (Anggaran Rumah Tangga Golkar),” ujar Idrus di JCC, Senayan, Jakarta, Senin (18/12/2017). Idrus buka suara soal kemungkinan muncul nama di forum Munaslub yang ingin menjadi calon ketua umum. Menurut Idrus, kader Golkar pastinya paham dan mengerti betul situasi dan peta politik saat ini. Bagi Idrus, peta politik Golkar saat ini condong Airlangga disetujui kader untuk menjadi ketua umum. Dia yakin di Munaslub nanti Airlangga tinggal dikukuhkan saja jabatannya. “Kami yakin tak ada yang maju selain Airlangga. Peta suara, peta kekuatan politik semuanya tertuju kepada Airlangga secara realitas politik,” sebut Idrus. (gbr/rna)

TEMPO.CO , Jakarta – Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto meneguhkan dukungan partainya terhadap pemerintah Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sampai 2019. Partai Golkar juga akan tetap berkomitmen mendukung Jokowi mencalonkan kembali saat pemilu presiden 2019. “Golkar sudah mendukung Presiden Jokowi untuk mencalonkan diri pada pilpres,” kata Airlangga di aula rapat kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Jakarta, pada Kamis dinihari, 14 Desember 2017. Kader Partai Golkar menyambutnya dengan tepuk tangan sambil bersorak-sorai. Baca: Airlangga Hartarto Jadi Ketua Umum Golkar Gantikan Setya Novanto Menurut Airlangga, keputusan itu mengacu pada Rapat Pimpinan Nasional Golkar Juli 2016 yang digelar di Jakarta Convention Center. Ia meminta semua kader partai mengamankan dan menjalankan amanah Rapimnas Golkar.

JAKARTA, KOMPAS.com – Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham mengatakan, partainya sudah bulat mendukung Presiden Joko Widodo maju pada Pilpres 2019. Oleh karena itu, Idrus menilai Presiden juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga suara Golkar di Pemilu 2019. “Pak Jokowi juga memiliki tanggung jawab supaya Golkar itu tidak semakin kecil perolehan suaranya di (pemilu) 2019,” ujarnya di Hotel Marlynn Park, Jakarta, Jumat (1/11/2017). Idrus meyakini ada nilai tambah dari dukungan Golkar kepada Jokowi pada Pilpres 2019. Bahkan ia menilai, suara Golkar akan mendongkrak suara Jokowi pada Pilpres 2019.

JAKARTA, KOMPAS.com – Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu I Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Nusron Wahid mengatakan saat ini ada dua nama yang beredar di bursa calon Ketua Umum Golkar pengganti Setya Novanto. Mereka adalah Koordinator Bidang Perekonomian DPP Golkar Airlangga Hartarto dan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Golkar Idrus Marham. Namun, kata Nusron, meski suasana musyawarah nasional luar biasa ( munaslub ) untuk memilih ketua umum baru sudah terasa, Golkar tetap mengedepankan semangat persatuan. “Jujur saja di lapangan karena kalau ada munas biasanya ada pemilihan kan ada luka. Luka biasanya hilang recovery butuh waktu enam bulan sampai satu tahun. Supaya tidak ada luka, kami ingin semangat siapa pun yang menang adalah suara musyawarah untuk mufakat,” kata Nusron di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (25/11/2017).

Related Posts

Comments are closed.