Hujan Reda, Para Pencari Suaka di Kalideres Kembali Tempati Trotoar

Hujan Reda, Para Pencari Suaka di Kalideres Kembali Tempati Trotoar

Usai hujan deras reda, para pencari suaka dari Afghanistan dan sejumlah negara lainnya kembali menempati trotoar di depan Rumah Detensi Imigrasi Jakarta. Mereka pun jadi tontonan warga dan pengendara yang melintas. Pantauan detikcom , para pencari suaka ini memenuhi trotoar di depan Rumah Detensi Imigrasi Jakarta, Jalan Peta Selatan, Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (18/1/2017) sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka berjejer di sepanjang trotoar. Tampak ada sejumlah pria dewasa, kaum ibu, anak-anak hingga balita. Beberapa tampak berkumpul sambil memakan kue pemberian warga. Mereka memakai payung karena lokasi masih hujan gerimis. Pencari Suaka Telantar di Trotoar Kalideres, Jakarta Barat Foto: Pencari Suaka Telantar di Trotoar Kalideres, Jakarta Barat Barang-barang mereka tampak ditutupi plastik agar tidak basah terkena hujan. Mereka setiap hari menempati lokasi ini dengan duduk di atas terpal pemberian warga atau kardus. Keberadaan para pencari suaka di trotoar ini jadi perhatian warga yang melintas di lokasi. Pengendara yang melintas di Jalan Peta Selatan yang mengarah ke Cengkareng atau sebaliknya kerap memelankan laju kendaraan untuk melihat atau memotret dengan kamera handphone. Beberapa bahkan berhenti untuk sekadar bertanya atau memberi makanan dan minuman atau uang. Sejumlah pencari suaka lainnya masih berteduh di sekitar lokasi. Ada pula sebagian kaum perempuan dan balita yang berada di Musala Al Istiqomah, Jalan Kalideres Permai. Keberadaan para pencari suaka dari Afghanistan, Iran, Somalia hingga Sudan ini sedang ramai dibahas di media sosial. Banyak netizen atau warganet yang merasa iba dan berharap pihak terkait bisa memberi bantuan atau menuntaskan persoalan ini. Apalagi ada pencari suaka yang sedang hamil dan ada pula anak-anak dan balita.

Usai hujan deras reda, para pencari suaka dari Afghanistan dan sejumlah negara lainnya kembali menempati trotoar di depan Rumah Detensi Imigrasi Jakarta. Mereka pun jadi tontonan warga dan pengendara yang melintas. Pantauan detikcom , para pencari suaka ini memenuhi trotoar di depan Rumah Detensi Imigrasi Jakarta, Jalan Peta Selatan, Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (18/1/2017) sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka berjejer di sepanjang trotoar. Tampak ada sejumlah pria dewasa, kaum ibu, anak-anak hingga balita. Beberapa tampak berkumpul sambil memakan kue pemberian warga. Mereka memakai payung karena lokasi masih hujan gerimis. Pencari Suaka Telantar di Trotoar Kalideres, Jakarta Barat Foto: Pencari Suaka Telantar di Trotoar Kalideres, Jakarta Barat Barang-barang mereka tampak ditutupi plastik agar tidak basah terkena hujan. Mereka setiap hari menempati lokasi ini dengan duduk di atas terpal pemberian warga atau kardus. Keberadaan para pencari suaka di trotoar ini jadi perhatian warga yang melintas di lokasi. Pengendara yang melintas di Jalan Peta Selatan yang mengarah ke Cengkareng atau sebaliknya kerap memelankan laju kendaraan untuk melihat atau memotret dengan kamera handphone. Beberapa bahkan berhenti untuk sekadar bertanya atau memberi makanan dan minuman atau uang. Sejumlah pencari suaka lainnya masih berteduh di sekitar lokasi. Ada pula sebagian kaum perempuan dan balita yang berada di Musala Al Istiqomah, Jalan Kalideres Permai. Keberadaan para pencari suaka dari Afghanistan, Iran, Somalia hingga Sudan ini sedang ramai dibahas di media sosial. Banyak netizen atau warganet yang merasa iba dan berharap pihak terkait bisa memberi bantuan atau menuntaskan persoalan ini. Apalagi ada pencari suaka yang sedang hamil dan ada pula anak-anak dan balita.

Sebelum datang pada hari Minggu 2 Juli 2017 itu, aku belum tahu soal Mal Kota Kasablanka. Setelah hari Minggu 2 Juli 2017 itu, aku cari info di Internet dan baru tahu kalau Mal Kota Kasablanka itu milik Pakuwon grup, yang pada tahun 80-an sukses dengan Tunjungan Plaza di Surabaya dan lalu Blok M Plaza di Jakarta. Waktu aku kerja di Colliers Utaba Indo tahun 1987-88, diantara yang dijual lewat kantorku itu adalah toko-toko di Blok M Plaza, yang dimiliki Pakuwon Subentra Anggraini yang waktu itu ditangani bu Melinda Tedjasukmana, dan pak Sudwikatmono juga pemilik grup Pakuwon.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Saat aku datang ke Mal Kota Kasablanka pada Minggu pagi 2 Juli 2017 itu, sedang ada promosi gencar film Transfomer, mulai dari tulisan logo Transformer di kaca diatas pintu masuk, juga di kaca pintu masuk yang merupakan pintu putar seperti pada foto diatas. Juga ada patung tokoh Transformer di lantai 1 seperti pada foto dibawah. Ada pula deretan kursi yang jadi seperti bioskop mini, dengan TV ukuran besar memutar cuplikan adegan di film Transformer, berada dekat beberapa etalase dan rak yang menjual boneka action figure Transformer.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Pulang dari acara Halal Bi Halal hari Minggu 2 Juli 2017 di Mal Kota Kasablanka itu, aku berangkat meninggalkan tempat itu sekitar beberapa menit menjelang jam 3 siang, melalui jalur yang sama seperti waktu berangkat, cuma kebalikan saja. Dari halte di seberang Mal Kota Kasablanka, naik bus Kopaja terintegrasi Trans Jakarta. Bayar saat sudah di dalam bus dengan kartu yang biasa untuk busway, dan karena waktu di halte tidak ada tempat untuk menempelkan kartu seperti di pintu masuk halte busway, maka kondektur membawa alat seperti yang ada di toko-toko kalau orang bayar belanja dengan kartu. Kondektur lalu memberi kertas kecil struk BCA untuk tanda terima. Satu kali itu saja harus bayar, dan saat sudah sampai di halte busway yang dituju, tidak perlu bayar lagi kalau mau naik busway, yang penting tidak keluar dari halte selama menunggu busway datang.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Seperti waktu berangkat, aku turun di halte Patra di jalan HR Rasuna Said Kuningan, lalu untuk jurusan pulang aku naik busway yang ke arah Ragunan. Sampai di halte busway SMK 57 dekat Ragunan, yang juga merupakan tempat aku berangkat pagi itu, aku turun dari busway dan naik jembatan penyeberangan, lalu berjalan di trotoar ke tukang rokok untuk beli coklat Bengbeng dan teh gelas. Lanjut dengan angkot 61 jurusan Pondok Labu, cuma ada dua orang penumpang lain yang sudah ada di dalam yaitu ibu-ibu dengan anak laki-laki usia belasan tahun. Saat di seberang pintu masuk kompleks Marinir Cilandak, seorang nenek usia mungkin sekitar 70-an, kurus berkebaya, naik ke angkot. Setelah lewat depan kompleks Marinir Cilandak, tiba-tiba angkot belok kanan masuk jalan kecil, karena jalanan macet. Maklum sekitar 600 meter di depan, ada pintu masuk ke kebun binatang Ragunan. Ada dua pintu masuk ke kebun binatang Ragunan, yang satu dari jalan Harsono RM yang ada gedung Kementerian Pertanian, dan satu lagi dari arah jalan Raya Cilandak KKO yang lewat di depan kompleks Marinir Cilandak yang aku lewati hari itu. Dan pada hari Minggu yang masih suasana Lebaran seperti itu, satu minggu setelah lebaran 25 Juni 2017, orang-orang masih ramai datang ke kebun binatang Ragunan sehingga jalan dekat pintu masuk menjadi macet.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Tapi karena jalanan sedang macet, maka angkot 61 yang aku naiki itu berbelok ke jalan kecil yang saat itu aku tidak tahu jalan apa itu. Dari Internet yang aku lihat saat sudah di rumah, aku baru tahu itu adalah jalan Bakti. Supir angkot itu juga tidak tahu, mungkin dia memang cuma supir pengganti, supir yang asli sedang mudik pulang kampung lebaran. Dia bilang cuma mengikuti angkot di depan saja, dan mungkin akan keluar di Warung Semar. Aku juga tidak tahu Warung Semar, tapi seperti pernah dengar mungkin waktu dulu naik angkot 61 ada penumpang atau supir yang mengatakan Warung Semar.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Ada tiga mobil yang waktu itu berbelok kanan karena jalanan macet, paling depan adalah mobil warna abu-abu kalau tidak salah Nissan Evalia seperti diatas ini, setelah itu angkot 61, dan paling belakang angkot 61 yang aku naiki. Jalan kecil yang dimasuki itu semula aku tidak tahu jalan apa, tapi setelah di rumah aku lihat di laptop jalan itu bernama jalan Bakti, masuk dari samping sekolah STMIK Swadharma di jalan Raya Cilandak KKO, seperti foto dibawah ini. Saat itu aku memang tidak memotret, sebab tidak tahu angkot akan belok kanan, dan setelah angkot belok kanan aku tetap tidak memotret karena khawatir nenek-nenek yang sedang marah di dalam angkot itu akan makin marah kalau aku malah sibuk memotret-motret.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Saat itu aku ada undangan ke pertemuan teman-teman lama SMAN 3, yang diadakan di Plaza Senayan pada 28 Maret 2010. Semula direncanakan di restoran Crystal Jade lantai 3, tapi lalu pindah ke restoran Canton Bay di lantai bawah tanah. Perubahan itu terjadi mendadak, saat aku sedang mampir di pertokoan STC yang ada di sebelah Plaza Senayan, muncul SMS dari temanku mengenai kepindahan tempat pertemuan itu, turun dari Crystal Jade di lantai 3 ke Canton Bay di lantai bawah tanah. Dan dua hari kemudian, pada tanggal 30 Maret 2010 muncul berita penyanyi terkenal Chrisye meninggal dunia.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Dan ternyata perasaan tidak enak di hatiku itu saat lewat jalan menurun di samping mesjid Darussalam jalan Bakti Cilandak pada 2 Juli 2017 itu betul juga, pada 2 Juli 2017 sore hari jam 16.14 WIB terjadi kecelakaan helikopter Basarnas di gunung Butak dekat kawah Sileri, Dieng, Jawa Tengah, 8 orang tewas terdiri dari 4 prajurit TNI Angkatan Laut dan 4 petugas SAR. Seperti isyarat agar aku tetap konsisten untuk naik menghadap Yang Maha Kuasa ketemu ajal untuk kebaikan umat manusia dengan naik pesawat kecil yang lalu jatuh ke laut dalam. Isyarat itu jadi seperti diperkuat dengan pada saat aku hadir di pertemuan teman SMAN 3 pada Maret 2010 itu, yang dua hari kemudian Chrisye meninggal dunia, posisi dudukku adalah disamping rekanku Sidney Arief Samad dan Upi Krisnawaty , sebagaimana terlihat pada foto diatas. Sidney seperti nama kota di Australia yang dikenal sebagai negara “down under” karena pada peta dunia terlihat ada di bawah. Sedangkan Upi nama dia seperti kata bahasa Inggris “up” yang berarti naik, waktu aku kelas 1 di SMAN 3 Jakarta aku di kelas 1-4 dan Upi duduk di sebelah kananku selama satu tahun.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Sesudah jalan menurun di samping mesjid Darussalam jalan Bakti Cilandak dekat kompleks Marinir itu, lalu jalan mendatar sekitar 50 meter dan setelah itu berbelok ke kanan. Tapi mobil Nissan Evalia dan angkot 61 yang ada di depan angkot 61 yang aku naiki, harus berhenti dulu karena menunggu giliran lewat. Semula tidak terlihat apa yang menyebabkan harus menunggu, sebab ada pagar tembok di sebelah kanan pada rumah yang ada di tikungan ke kanan itu. Setelah beberapa sepeda motor muncul dari arah berlawanan, dan mobil di depanku itu mulai jalan, lalu angkot 61 yang aku naiki berbelok juga, barulah terlihat ada jalan menyempit sehingga cuma muat satu mobil saja yang dapat lewat. Tapi untung jalan sempit itu cuma sekitar 15 meter saja, setelah itu belok kiri dan jalan kembali melebar walaupun tidak terlalu lebar betul, tapi kalau untuk dua mobil berpapasan cukup.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Sesudah belok kiri dari jalan sempit yang cuma muat satu mobil itu, lalu jalan kembali melebar dan beberapa ratus meter kemudian ada mesjid lain yaitu mesjid Al Jabr, yang ada sekolahan juga. Pada saat itu mobil Nissan Evalia sudah tidak di depanku lagi karena sudah berbelok ke kiri pada sebuah pertigaan. Jalan yang ada mesjid dan sekolah Al Jabr itu sudah bukan lagi jalan Bakti, melainkan jalan Bango II. Saat aku lewat disitu keadaan sedang kosong, karena hari libur. Tapi kalau dilihat di Google Maps Street View, cukup banyak mobil yang parkir di halaman sekolah itu.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Sekitar 100 meter setelah sekolah Al Jabr, jalanan keluar di jalan Bango Raya, angkot belok kiri ke arah jalan Margasatwa. Di tikungan jalan Margsatwa angkot berhenti, dan sang nenek sambil mengomel turun dari angkot karena harus naik angkot 61 yang ke arah kebalikan sesuai tujuan yang disebut tadi yaitu ke Kampung Kandang. Sedangkan angkot yang aku naiki itu lalu sekitar 300 meter kemudian belok kanan yang masih jalan Margasatwa juga, dan beberapa kilometer setelah itu sampai di pasar Pondok Labu.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Diatas ini terlihat bagaimana keadaan saat Kawah Sileri di kawasan gunung Dieng meletus pada 2 Juli 2017 sekitar jam 12 siang. Saat itu pengunjung sedang ramai karena selain hari Minggu, juga masih sekitar libur panjang Lebaran 25 Juni 2017. Sepuluh orang mengalami luka-luka dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Helikopter Basarnas yang sedang meliput arus mudik Lebaran dan disiagakan di jalur mudik Gringsing Exit Batang, ditugaskan untuk memberi bantuan ke kawah Sileri. Pukul 14.45 WIB helikopter Basarnas jenis Dauphin itu berangkat dari Gringsing ke Semarang untuk mengisi bahan bakar. Pukul 16.00 WIB helikopter berangkat dari Bandara Ahmad Yani Semarang untuk melakukan rescue dan pemantauan di Dieng. Total penumpang dan kru yang ikut heli itu 8 orang. Pukul 16.12 WIB heli melewati batas minimum ketinggian. Pukul 16.14 WIB helikopter dilaporkan mengalami crash di ketinggian 7.000 kaki. Lokasi kecelakaan helikopter Basarnas itu di di Gunung Butak, Temanggung, Jawa Tengah.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Kekhawatiran yang aku sebutkan diatas, mengenai saat lewat jalan menurun di dekat mesjid Darussalam pada 2 Juli 2017 itu aku jadi ingat pada kejadian 28 Maret 2010 saat aku datang di pertemuan dengan teman-teman dari SMAN 3 Jakarta, yang semula direncanakan diadakan di restoran Crystal Jade lantai 3 namun mendadak diganti menjadi restoran Canton Bay di lantai basement, dan lalu pada 30 Maret 2010 muncul berita Chrisye meninggal dunia, betul-betul terjadi pada berita yang muncul kemudian pada hari itu, berupa kecelakaan helikopter Basarnas yang jatuh di gunung Butak dekat kawah Sileri Dieng, menyebabkan 8 orang tewas pada 2 Juli 2017 jam 16.14 WIB.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Terlihat pada data foto diatas, foto yang aku buat terakhir kali pada hari itu adalah 02/07/2017 jam 15.27. Berarti tinggal dihitung saja berapa lama waktu yang aku perlukan untuk sampai di jalan menurun dekat mesjid Darussalam setelah memotret foto terakhir hari itu. Seperti aku sebutkan diatas, aku turun dari busway dan lalu naik jembatan penyeberangan, kemudian sampai di seberang jalan aku berjalan di trotoar ke tukang rokok untuk beli coklat Bengbeng dan teh gelas. Kurang lebih waktu yang diperlukan untuk berjalan ke tukang rokok dan beli coklat Bengbeng dan teh gelas itu sekitar 10 menit . Lalu menunggu angkot 61 sekitar 5 menit , karena di daerah situ memang banyak angkot 61. Setelah di dalam angkot, ada kemacetan menjelang lampu traffic light jalan TB Simatupang, kurang lebih sekitar 10 menit . Lalu jalanan dapat dikatakan cukup lancar, dari perempatan jalan TB Simatupang dengan jalan Taman Margasatwa atau orang-orang lebih kenal sebagai jalan Warung Buncit karena memang tersambung dengan jalan Warung Buncit, sampai ke jalan Raya Cilandak KKO. Sehingga jarak sekitar 2,5 kilometer sampai ke tikungan jalan Bakti di jalan Raya Cilandak KKO itu, ditempuh sekitar 25 menit . Dan angkot 61 yang aku naiki itu tidak sampai terjebak macet mobil-mobil yang ke arah pintu masuk Kebun Binatang Ragunan, karena begitu melihat sekitar 50 meter di depan angkot ada ujung ekor dari kemacetan itu, sopir angkot langsung belok kanan masuk jalan Bakti mengikuti mobil Nissan Evalia dan angkot 61 lain. Saat sudah masuk ke jalan Bakti itu juga lancar saja, sehingga dari waktu masuk jalan Bakti sampai ke dekat mesjid Darussalam yang berjarak sekitar 550 meter itu waktu yang diperlukan sekitar 10 menit saja. Berarti kalau dijumlah, 10+5+10+25+10 sama dengan sekitar 50 menit. Dari saat foto terakhir itu dibuat jam 15.27 ditambah 50 menit, berarti aku ada di jalan menurun dekat mesjid Darussalam itu sekitar jam 16.17 WIB. Berarti sekitar jam helikopter Basarnas itu jatuh, yaitu 16.14 WIB. Sedikit menenangkan karena kejadian helikopter itu jatuh terjadi sekitar 3 menit lebih awal, walaupun itu juga belum tentu, sebab hitungan menit waktu tempuh diatas cuma perkiraan saja.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Ada berita yang cukup menjadi viral juga di awal Juli 2017 mengenai presiden AS Donald Trump turun dari tangga pesawat lalu tidak masuk ke mobil, malah jalan kaki seperti meninggalkan mobil ke arah depan mobil, dan setelah itu baru seperti teringat, lalu berbalik badan sambil menunjuk ke mobil yang sudah menunggu, dan berjalan kembali ke arah mobil. Sebetulnya itu bukan kesalahan, sebab memang berdasarkan protokoler seorang presiden AS saat turun dari pesawat suka di beri dua pilihan, apakah naik mobil atau naik helikopter.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Tidak disebutkan tanggal tepat kejadian itu, tapi disebutkan itu terjadi setelah presiden Donald Trump kembali dari libur akhir pekan di golf club milik dia di Bedminster, New Jersey, kembali untuk menuju ke White House menjelang perayaan kemedekaan AS pada 4 Juli 2017. Berarti kejadian itu sebelum tanggal 4 Juli 2017, atau mungkin sekitar tanggal 3 Juli 2017, sesudah pada Minggu sore 2 Juli 2017 aku menurun dekat mesjid Darussalam yang hampir bersamaan dengan helikopter Basarnas jatuh di gunung Butak dekat kawah Sileri gunung DIeng dan juga dekat dengan gunung Sindoro, dengan korban 8 orang tewas.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Seperti memuat isyarat bahwa kalau aku naik kendaraan umum, memang jadi tidak mudah untuk menghindar dari keadaan seperti melewati jalan menurun pada 2 Juli 2017 itu. Saat itu memang dapat dikatakan aku tidak mungkin mendadak mengatakan pada supir angkot untuk berhenti dan lalu aku turun dari angkot agar tidak perlu melalui jalan menurun dekat mesjid Darussalam itu. Sebab kalau angkot berhenti mendadak, malah dapat membahayakan pengendara sepeda motor yang ada di belakang, apalagi kalau reaksi dari supir baru muncul pada saat sudah di pertengahan jalan menurun itu, tentu membahayakan pengendara sepeda motor di belakang yang dapat jatuh dan meluncur di jalan menurun itu.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Respon dari Melinda Gates muncul pada 5 Juli 2017 jam 8.33 PM malam hari, berupa tweet dengan gambar yang seperti ada menara mesjid dan ada seseorang di sebelah kiri yang seperti merupakan tiga orang yang naik. Menara itu merupakan monumen dekat White House, tapi sepintas jadi mirip menara mesjid Darussalam itu. Gambar yang seperti tiga orang naik itu, seperti isyarat bahwa kalau aku menurun seperti saat dekat mesjid Darussalam itu, tidak memenuhi janjiku untuk naik mengahadap Yang Maha Kuasa ketemu ajal, dapat menyebabkan orang-orang terkait tiga diangkat naik dari dunia fana ini, dan terjadi perebutan senjata-senjata pemusnah masal yang berujung kiamat.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Kode link pada tweet Melinda Gates itu, yang baru terlihat kalau kita tekan tanda reply dan muncul jendela baru, adalah “2ulg7WU”. Huruf “W” dalam bahasa Inggris disebut “double U”, sehingga “7WU” seperti berarti menuju ke tiga panah ke bawah. Sedangkan “2ulg” seperti berarti “to ulang”, untuk mengulang. Sehingga seperti berarti agar aku terus mengusahakan agar tiga panah ke bawah, dan jangan sampai aku menjadi penyebab orang-orang terkait tiga diangkat naik dari dunia fana ini, yang lalu menyebabkan terjadi perebutan senjata-senjata pemusnah masal yang berujung kiamat.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Tweet lebih lanjut dari Melinda Gates bertanggal 6 Juli 2017 jam 7.44 PM malam hari waktu Jakarta. Mengenai tiga orang yang penting untuk dicatat terkait program keluarga berencana, yaitu Shawn Wambua seorang pemuda Afrika dari Kenya, Nanda Saputri seorang perempuan muda Asia dari Bali, dan Ann Mitu seorang perempuan muda Afrika dari Nairobi Kenya. Pada saat berusia 20 tahun, Shawn Wambua mengalami kejadian “kecelakaan”, sang pacar hamil. Akibat kejadian itu, Shawn Wambua lalu jadi aktivis di bidang keluarga berencana, memberi nasehat kepada kaum muda untuk ikut program keluarga berencana. Shawn Wambua yang dari Afrika, mengingatkan aku pada Dodi Alfayed yang juga dari Afrika, Mesir. Sehingga seperti kelanjutan tweet terdahulu yang ada gambar perempuan seperti bertiga naik yang aku sebutkan diatas. Mengingatkan aku agar konsisten dengan “Highest Bid Kedua”, aku ketemu ajal dalam keadaan sebaik mungkin, sebagai pengganti kegagalanku ketemu ajal waktu melukis Lady Di tahun 1997-1998, dimana lalu malah Lady Di yang ketemu ajal.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Kalau tunggu hujan reda, aku pikir bisa terlambat sampai. Maka aku naik angkot lagi nomer 102, dan setelah sampai di pertigaan dekat supermarket Aneka Buana aku turun, rencanaku mau naik angkot 01 saja untuk ke Blok M. Sebab kalau naik Metromini 610 aku khawatir macet di jalan Fatmawati yang sedang dibangun jalur jalan layang MRT. Cukup jarang aku naik angkot 01 ke Blok M, kalau dibuat perbandingan, dari sekitar 500 kali naik Metromini 610 atau 619, mungkin cuma sekitar 5 kali naik angkot 01. Jadi aku tidak terlalu ingat harus naik dari mana di sekitar Pondok Labu itu kalau mau naik angkot 01 ke Blok M. Aku cuma ingat sebagian besar rute angkot 01 itu lewat jalan yang bukan jalan raya, cuma sebentar keluar di jalan besar yaitu lewat bagian Rumah Sakit Fatmawati yang menghadap jembatan layang, lalu lewat depan Cilandak Town Square atau biasa disebut Citos, lalu masuk lagi ke jalan kecil sekitar seratus meter setelah lewat dari Citos. Kemudian akan lewat dekat rumah Maudi Kusnaedi waktu dia belum menikah dulu. Terus keluar dekat jalan Brawijaya, melewati daerah perumahan Kebayouran Baru, dan sampai di Blok M, berhenti di taman Melawai, tidak masuk terminal Blok M. Cuma itu yang aku ingat, jalan yang dilewati secara keseluruhan aku tidak ingat.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Setelah turun dari angkot nomer 102 di pertigaan dekat supermarket Aneka Buana dalam keadaan hujan yang cukupan, aku menyeberang jalan yang sedang digenangi air yang mengalir deras setinggi sekitar mata kaki, lalu berteduh di emperan restoran A&W bersama beberapa orang, mengeluarkan air dari dua sepatuku, dan berdiri menunggu kalau ada angkot 01 lewat. Di jalan antara restoran A&W dan supermarket Aneka Buana, tampak beberapa angkot 61 warna biru sedang parkir menunggu penumpang, lalu juga ada angkot lain berwarna merah tapi tidak terlalu kelihatan. Warna angkot 01 juga merah, jadi aku segera berjalan keluar halaman restoran A&W, dan betul juga disitu ada dua angkot 01 jurusan ke Blok M sedang menunggu penumpang. Akupun segera naik ke angkot 01, sang supir sedang mengelap angkot terutama kaca yang basah, hujan juga sudah mulai reda cuma gerimis.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Angkot 01 mulai bergerak maju menelusuri jalan Pinang Raya Pondok Labu, dan setelah beberapa ratus meter ternyata ada mesjid Darussalam juga, di sebelah kanan jalan, seperti lumayan baru. Hatiku mulai tidak enak, apa sebab aku harus lihat ada mesjid Darussalam lain, apakah karena seperti aku sebutkan diatas aku meragukan keterkaitan antara aku lewat jalan menurun dekat mesjid Darussalam Cilandak dekat kompleks Marinir dan kecelakaan helikopter Basarnas yang menewaskan 8 orang dekat kawah Sileri gunung Dieng, yang terjadi pada waktu yang hampir bersamaan.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Beberapa menit berlalu, dan tampak lagi sebuah mesjid di kiri jalan, dan ….. kali ini benar, itu adalah mesjid tempat Chrisye disholatkan pada akhir Maret 2010, mesjid Al Karomah. Waktu tahun 2010 itu aku sempatkan datang setelah dengar kabar di radio dan TV mengenai Chrisye meninggal dunia, karena Chrisye adalah kakak ipar dari temanku sejak SD, SMP, SMA yaitu Raidy Noor. Meskipun aku tidak tahu secara tepat dimana letak rumah Chrisye, cuma berdasarkan berita di TV dan radio yang menyebut jalan Asem II Cilandak, aku pikir tentu mudah dicari karena akan banyak orang yang datang. Tapi saat aku sudah di jalan itu, dekat pertigaan dengan jalan Flamboyant, aku lihat mobil-mobil dan sepeda motor serta orang berjalan kaki seperti sudah mulai berangkat, dan aku tanya pada mau kemana, mereka bilang mau sholatkan jenazah ke mesjid. Akupun naik angkot 01 dan turun di depan mesjid, yang sudah ramai oleh orang, dan aku cuma dapat tempat untuk sholat di bangunan yang terpisah dari mesjid, seperti kantor bagian administrasi mesjid, dalam ruangan sekitar 3×5 meter yang juga sudah penuh tapi ada lowong untuk aku ikut sholat jenazah.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Terminal Bus Blok M Kebayoran Baru Jakarta Selatan dalam foto dari Tribunnews. Jalur untuk naik turun bus TransJakarta atau biasa disebut busway, pada foto ini adalah yang paling kanan atau paling atas, yang ada bus beratap kuning. Malam hari 9 Juli 2017 itu saat pulang dari resepsi pernikahan keponakanku di hotel Le Meridien, tujuanku adalah naik bus Metromini nomer 610 ke jurusan Pondok Labu atau nomer 619 jurusan Cinere, pada foto diatas ini yang paling kiri. Sesuai dengan rancangan terminal Blok M itu, para penumpang yang turun dari bus akan lalu turun tangga masuk ke pertokoan Mal Blok M di bawah tanah di bawah terminal. Walaupun kalau untuk bus biasa dan Metromini atau Kopaja para penumpang masih bisa melintas menyeberang jalur lewat pintu pagar yang dibuka, tapi secara umum orang lebih suka turun tangga lewat Mal Blok M yang ada di bawah tanah. Sedangkan untuk para penumpang busway, karena memang pintu pada kendaraan busway lebih tinggi sehingga tidak mudah untuk keluar dari bus dan langsung menjejakkan kaki ke jalur busway yang ada di terminal Blok M, maka para penumpang memang menjadi lebih suka untuk turun tangga masuk ke Mal Blok M di bawah tanah.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Pada foto dari Okezone ini, di bagian yang lebih jauh dari kamera cuma terlihat 4 dari 6 persegi panjang beratap melengkung, tempat orang setelah turun dari bus lalu masuk ke tangga turun ke Mal Blok M di bawah terminal. Sedangkan di bagian yang lebih dekat ke kamera tampak 6 persegi panjang beratap melengkung, tempat orang naik tangga keluar dari Mal Blok M yang ada di bawah tanah. Karena waktu itu hari Minggu malam, maka pintu besi di ujung atas dari tangga untuk orang naik keluar dari Mal Blok M yang ada di bawah tanah, ke arah tempat tunggu bus, ditutup semua. Jadi setelah turun dari busway dan menuruni tangga ke pertokoan Mal Blok M di lantai bawah tanah di bawah terminal, aku dan orang-orang lain disitu harus naik tangga yang ke pintu keluar masuk yang ke arah Pasar Raya Blok M, yang pada foto ini adalah yang beratap dengan ada bentuk bola, yang terhubung ke atap biru muda di sebelah kiri, atap dari beberapa toko yang menghadap ke arah Pasar Raya Blok M.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Karena pada 9 Juli 2017 itu hari Minggu malam, maka pintu besi ke arah tempat tunggu bus ditutup semua, jadi setelah turun dari busway dan menuruni tangga ke pertokoan di lantai bawah tanah di bawah terminal, aku dan orang-orang lain disitu harus naik tangga yang ke pintu keluar masuk yang ke arah Pasar Raya Blok M. Dan menunggu di pintu keluar masuk itu, karena hujan deras. Beberapa orang laki maupun perempuan yang tampak seperti para pegawai toko yang tugas malam dan akan pulang ke rumah, memakai jaket dan ada yang dengan ransel punggung, juga menunggu di situ. Jam menunjukkan sekitar jam 22.13 sudah hampir menjelang tengah malam. Sempat reda sebentar, aku dan orang-orang berjalan ke arah jalan raya untuk naik Metromini dari arah Metromini itu keluar terminal, tapi lalu hujan deras lagi, sehingga aku dan orang-orang itu menunggu lagi di emperan toko-toko yang menghadap ke arah Pasar Raya Blok M.

seperti di kutip dari https://rahmafir.wordpress.com

Sekitar jam 22.40, setelah hujan reda dan melintasi genangan air di jalan, aku sudah berada di Metromini 610 menuju Pondok Labu. Sekitar jam 23.45 aku sudah turun dari angkot 102 di dekat Polsek Limo Cinere untuk ambil sepeda yang aku titip di mesjid Raya Cinere. Hujan masih gerimis, tapi kalau menunggu hujan berhenti akan terlalu malam aku sampai rumah. Jadi melewati hujan gerimis itu aku bersepeda dengan topi kantong plastik Indomaret, dan sampai di rumah sekitar jam 12 malam lewat beberapa menit. Sambil masih berpikir, apa sebab aku sore itu ketemu lagi dengan mesjid bernama Darussalam, dan lalu lewat mesjid tempat Chrisye disholatkan dulu. Tapi itu memang jalur resmi angkot 01, cuma waktu aku memutuskan untuk naik angkot 01 sore itu, aku tidak tahu ada mesjid Darussalam di jalan Pinang Raya Pondok Labu itu, dan tidak ingat akan lewat mesjid tempat Chrisye disholatkan, karena memang jarang aku naik angkot 01 itu.

Demikianlah untaian puisi berjudul Perjalanan Baru karangan Yoon Dongju, penyair Korea kelahiran Haehwan, Mancuria 30 Desember 1917. Yoon terkenal karena narasi puisinya yang seakan dibawakan oleh seorang anak kecil. Tiga kumpulan tulisan tangan Yoon dan sembilan belas puisinya dipublikasikan pada tahun 1948 dengan judul The Heavens and The Wind and The Stars and Poetry (Haneulgwa Baramgwa Byeolgwa Si). Yoon masuk dalam jajaran penyair pejuang Korea di masa akhir pendudukan Jepang. Sedikit-banyak Perjalanan Baru karangan Yoon menggambarkan perjalanan solo riding yang saya lakukan kemarin Kamis, 21 September 2017 yang bertepatan dengan hari raya 1 Muharram 1439 Hijriah.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Tujuan saya adalah pantai di kawasan Pelabuhan Ratu, Cisolok, Sukabumi. Rute yang akan saya tempuh adalah Batu Tulis, Cigombong, Cicurug, Cibadak, Warung Kiara hingga Citepus dan Cisolok, Pelabuhan Ratu. Dari rumah saya mengarah ke Pemda Cibinong lalu menelusuri jalan Karadenan. Dikarenakan fuel meter hampir menyentuh garis empty, saya sempatkan mengisi BBM hingga penuh di sebuah SPBU. Melanjutkan perjalanan hingga di Kedunghalang Talang jalanan agak tersendat karena jalur sebelah kiri yang mengarah ke jalan KS Tubun sedang dalam pengecoran. Ruas-ruas behel mencuat di sebelah kanan, jalan jadi satu arah bergantian. Sampai di jalan KS Tubun saya mengarah ke Warung Jambu.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Lalu lintas yang menuju jalan Pajajaran sudah mulai ramai pagi hari itu. Hingga di depan SPBU sebuah sport enduro besutan Kawasaki menyalip saya, KLX 250 sepertinya. Benar-benar bergaya adventure , lengkap dengan perkakas di kanan kiri dan ban untuk garuk tanah. Di jok belakangnya saja sepertinya mengangkut carrier, matras dan tenda. Kontras sekali dengan penampilan saya, yang walaupun mengenakan riding gear lengkap tapi cukup membawa sebuah tas selempang kecil. Boots yang biasanya saya pakai saat berkendara saya ganti dengan sneakers. Yah, tujuan perjalanan saya tidak jauh, akan lebih nyaman bergaul dengan warga disana nanti jika saya terlihat seperti warga setempat. Baik plat nopol Bogor atau Sukabumi masih sama-sama F. Jadi, kalau saya bergaya dengan riding gear yang wuah akan terlihat sangat berbeda dengan warga setempat. Oleh karena itu, saya memilih kustom santai.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Sampai di lampu merah Plaza Jambu Dua saya berbelok ke kanan menuju jalan Ahmad Yani. Loh, kalau mau ke Batu Tulis bukannya lebih enak lewat Pajajaran karena sekarang sudah sistem satu arah? Ya, sih. Cuma saya bosan lewat sana, tidak lama sebelumnya untuk suatu keperluan di Cianjur saya sudah melewati jalan tersebut. Saya cuma ingin melepas kangen menikmati De Grote Postweg jalan Ahmad Yani dengan rimbun pohon beringin besar di kanan-kirinya, Taman Air Mancur, melintas di depan museum PETA jalan Jenderal Sudirman hingga sampai depan Istana Bogor berbelok ke kiri melintasi jalan dengan pemandangan lapangan Sempur di kiri dan Kebun Raya Bogor di kanan. Sampai di pertigaan saya berbelok ke kiri menuju jalan Salak arah Taman Kencana. Ketika berbelok dari belakang terdengar suara khas drem drem drem drem… Wah, pasti HD ini. Ketika saya cek spion ternyata benar, sebuah HD Sportster berwarna merah mendahului saya. Apik sekali. Firasat mengatakan saya akan melihat motor-motor besar di jalur menuju Sukabumi. Di perempatan jalan Pajajaran saya berbelok ke kanan menuju Tugu Kujang. Dari Tugu Kujang saya mengarah ke kanan menuju Kebun Raya dan Bogor Trade Mall (BTM). Kalau dulu dari depan Istana menuju BTM bisa praktis cukup menelusuri jalan Ir. Juanda sekarang tidak bisa lagi. Tapi ya tidak apa-apa, lumayan kan cuci mata melihat keindahan kota Bogor yang bernuansa kolonial.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Dari BTM saya menuruni jalan hingga berbelok ke kiri kemudian menanjak lagi menuju Bondongan. Terus melaju lurus ke arah Lawang Gintung melewati satu lagi situs bersejarah, Istana Batu Tulis. Inilah uniknya Kota Bogor. Melintas di kota ini seperti masuk ke dalam film dokumenter atau buku sejarah perdjoengan Indonesia. 🙂 Di pertigaan Lawang Gintung saya memilih jalan berbelok menurun di sebelah kanan menuju satu lagi bangunan tua, stasiun Batu Tulis. Jika Anda melihat kereta jurusan Bogor-Sukabumi sedang melintas, akan sangat menarik sekali memotretnya karena jalur keretanya berada lebih tinggi diatas bangunan lain disekitarnya dengan latar pemandangan runcing atap bangunan Bukit Gumati Cafe yang ikonik berada lebih tinggi lagi daripada rel kereta dan stasiun Batu Tulis tersebut. Sudah beberapa kali saya menikmati keindahan tersebut. Sampai di pertigaan Rancamaya-Sukabumi, saya berbelok ke kanan melintasi jembatan menuju Cipinang Gading, Pamoyanan lalu lurus ke arah Cihideung.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Tanjakan Pamoyanan yang lumayan tinggi cukuplah sebagai pemanasan. Perjalanan dilanjutkan dengan mengikuti jalan lurus. Sesekali jalan berkelok lalu menurun kemudian menanjak cukup tinggi khas perbukitan. Menjelang River Valley indahnya perbukitan di sebelah kanan seakan menggoda pengendara untuk melupakan kendaraan di depannya. Padahal akibatnya bisa berbahaya, karena jalurnya menanjak semakin tinggi dan jika kehilangan fokus maka bisa kehilangan pengendalian kendaraan dan berakibat kecelakaan. Udara yang sejuk dan cenderung dingin menembus jaket yang tebal menambah kenikmatan berkendara di jalur perbukitan dengan aspal yang relatif mulus ini. Sampai di River Valley jurang yang cukup dalam di sebelah kiri mengingatkan saya agar tetap fokus berkendara. Hingga sampai di SPBU 33.167.02 saya memilih untuk mampir sebentar.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Memasuki wilayah Cigombong jalan menikung tajam dengan tanjakan dan turunan yang semakin terjal. Lumayan, pemanasan sebelum memasuki wilayah Pelabuhan Ratu. Di salah satu petak sawah sebelah kiri saya lihat seorang petani membajak sawahnya dengan bantuan dua ekor kerbau. Wow! Pemandangan khas buku bahasa Indonesia zaman SD. 😀 Akhirnya saya bersama beberapa pengendara lain melintasi sebuah rel kereta api dan tidak lama kemudian melewati stasiun Cigombong. Dari sana tidak beberapa jauh saya sudah tiba di jalan raya Sukabumi. Berhenti sejenak mengamati lalu lintas di kiri dan kanan kemudian saya memuntir gas dan mengarahkan sang bebek besi ke arah kanan menuju ke Sukabumi. Lalu lintas terlihat lenggang atau sepi, hanya beberapa bus dan truk-truk besar yang dapat saya overtake dengan hati-hati. Lalu lintas belum ramai oleh mobil-mobil pribadi atau sepeda motor lain. Sesekali saya melihat pengendara atau pembonceng sepeda motor menggendong ransel di punggung mereka.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Jalur yang lurus dan lebar serta relatif masih sepi kendaraan membuat perjalanan semakin menyenangkan. Sesekali mendahului truk dan saya pun beberapa kali disalip city car yang melaju kencang saat memasuki wilayah Cicurug. Defensive riding tetap saya pegang, tidak terpancing oleh mobil tersebut. Keramaian saya temui saat melintasi pasar di sepanjang jalan yang melintasi kantor kecamatan Cicurug. Beberapa supir angkutan umum menunggu penumpang dan orang-orang berlalu-lalang dan menyeberang jalan. Ditengah keramaian tersebut saya mendengar dari pengeras suara, “Motor tetap di kiri! Motor tetap di kiri!” Wah, rupanya seorang polisi menunggang Yamaha FJR 1300 bertindak sebagai voorijder mengawal rombongan motor besar HD. Dan rupanya HD Sportster merah yang saya jumpai di jalan Salak Bogor tadi adalah anggota rombongan motor besar ini. Yeah, menyenangkan melihat rombongan kurang lebih enam HD ini. Orang-orang jadi mengarahkan pandangan pada mereka, karena selain motor besarnya, atribut-atribut berlogo HD pada rompi dan jaket merekapun menarik perhatian. Seorang polisi juga ikut mengatur lalu lintas di depan kantor kecamatan Cicurug.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Lepas pasar Cicurug jalanan kembali sepi dan lancar. Memasuki Parung Kuda saya perhatikan jarum fuel meter menunjukan setengah menuju empty. Saya putuskan untuk mengisi kembali BBM hingga penuh di SPBU 34.433.11 Cipanggulaan. Kembali melanjutkan perjalanan melewati Museum Palagan Perjuangan 1945 di jalan raya desa Bojongkokosan. Truk-truk besar menemani perjalanan saya di depan dan belakang. Bus-bus pariwisata, MGI dan bus trayek Pelabuhan Ratu-Bogor berseliweran. Kemacetan kembali saya jumpai saat lewat di depan terminal Cibadak. Daerah ini terkenal macet karena merupakan terminal yang bersambung dengan pasar yang panjang hingga ke perempatan pos polisi Simpang Pelabuhan Ratu. Lepas dari kemacetan saya lanjutkan menyusuri jalan Surya Kencana dan akhirnya berbelok ke kanan di Simpang Pelabuhan Ratu. Melewati Simpang Pelabuhan Ratu jalan relatif sepi dari kendaraan. Alhamdulillah.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Pemandangan hijau pegunungan memanjakan mata di kejauhan saat akan memasuki Warung Kiara. Di salah satu tempat saya jumpai keramaian saat akan memasuki wilayah Warung Kiara. Ternyata penyebabnya adalah warga dan siswa-siswi sekolah yang merayakan hari raya 1 Muharram dengan pawai dan marching band serta delman yang sudah dihias warna-warni. Sehingga ruas sebelah kiri yang saya gunakan juga digunakan oleh kendaraan dari arah berlawanan. Waduh, rata-rata mobil dan kendaraan besar lagi! Ditambah warga setempat yang berkendara tanpa helm memenuhi jalan.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Setelah melewati keramaian pawai, saya kembali menelusuri jalur yang meliuk-liuk di salah satu punggung Gunung Salak ini. Di sebelah kiri pemandangan hijau perbukitan seolah menyampaikan pesan selamat bertualang. Sementara warung rokok atau warung kopi di seberang jalan seperti memanggil untuk mampir sejenak. Saya memelankan sang bebek besi untuk menikmati pemandangan ini dan akhirnya beberapa kali berhenti untuk memotret. Tidak lupa berhati-hati karena dari depan atau belakang sepeda motor atau kendaraan lain selalu melaju kencang di jalur yang agak menanjak ini.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Jalan lurus dengan banyak pepohonan rindang di kiri dan bendera merah putih saya jumpai saat melintas di depan kantor Kodim. Saya sempatkan lagi untuk mengambil beberapa foto. Setelah asyik memotret, kendaraan-kendaraan besar yang tadi terjebak kemacetan saat pawai ternyata sudah datang menyusul saya. Saya putuskan agar mereka lewat lebih dahulu untuk menjaga jarak aman berkendara. Dari arah berlawanan angkot-angkot putih dan bus MGI melaju berpapasan dengan saya. Tidak beberapa jauh setelah Kodim jalan lurus dengan kebun dan pohon-pohon besar di kanan-kiri kembali berhasil mengajak saya untuk menghentikan sang bebek besi sejenak.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Kembali menyusuri jalan yang semakin berkelok seperti ulir dengan tetap menjaga jarak aman dengan kendaraan besar. Sebuah HD diiringi dua ER6N menyalip saya dan mobil depan saya di sebuah tanjakan menikung dengan kecepatan tinggi. Beberapa muda-mudi terlihat berkendara menuju rute yang sama dengan saya, lalu lintas sudah mulai ramai dengan sepeda motor. Matahari semakin bersinar terang dan udara sudah terasa panas saat memasuki kawasan Pelabuhan Ratu. Perbukitan di kejauhan terlihat semakin jelas, pepohonan besar di kanan-kiri jalan sudah mulai berkurang, digantikan bangunan-bangunan permanen pemukiman warga setempat, toko-toko atau warung dan mushola/masjid. Marka jalan sepertinya baru dicat, terlihat masih tebal dan kinclong. Akhirnya disebuah warung pinggir jalan saya putuskan lagi untuk berhenti. Lihat jam di ponsel sudah menunjukan pukul 10:06. Kembali mengambil beberapa foto kemudian melanjutkan perjalanan. Di sebuah pertigaan jalan saya lanjutkan lurus, karena kalau berbelok ke kiri sampainya ke Ujung Genteng, bukan Pelabuhan Ratu. 😀

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Sampai di sebuah lampu merah perempatan jalan saya berbelok ke kiri menuju pasar ikan Pelabuhan Ratu. Belok kiri langsung, begitu pesan di rambu lalu lintas. Jalannya terlihat lebar, bersih dan indah. Di kanan-kiri jalan adalah perkantoran dengan trotoar yang cukup lebar. Memasuki pasar ikan bau anyir (amis) menyergap penciuman saya. Tapi hei, kemana perahu-perahu nelayan yang biasanya menjadi pemandangan menarik di kanan-kiri jalan kawasan ini? Ternyata lokasi pasar ikan dipindahkan untuk sementara waktu. Demikian bunyi pesan disebuah spanduk lebar yang dibentangkan di pinggir jalan. Padahal perahu-perahu tersebut akan menjadi objek foto yang menarik sekali. Tidak seperti dua tahun lalu saat saya ke sini. Tapi ya sudahlah.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Melewati pasar ikan jalan sedikit menanjak dengan rimbun pepohonan kembali menyambut kedatangan saya. Tidak lama kemudian saya tengok ke sebelah kiri terlihatlah keelokan pemandangan Pantai Laut Selatan. Akhirnya, sampailah saya di Pelabuhan Ratu. Perjalanan masih saya lanjutkan kembali karena bukan pantai disini tempat tujuan saya. Setelah rimbun pepohonan, eloknya persawahan dengan padi yang masih hijau menghiasi jalan. Sawah di kanan, laut di kiri, Subhanallah. Grand Inna Samudra Beach dengan latar deru ombak yang bergulung-gulung sangat menggoda ketika menyusuri suatu tanjakan di sebelah kiri. Next time, baby . Heuheuheu… 😀

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Aspal yang lumayan mulus dilewati oleh berbagai kendaraan. Umumnya sepeda motor, angkot dan mobil Colt/mini bus khas Pelabuhan Ratu dengan muatan yang bisa dikatakan overload hingga ke atap mobil. 😀 Sesekali berpapasan dengan pick-up yang mengangkut hasil pertanian. Di beberapa titik kawasan pantai, sawah-sawah menghijau menghiasi bibir pantai dengan beberapa petani yang sedang menggarap sawah. Jauh di sebelah kanan saya perbukitan hijau melengkapi latar pemandangan sawah. Saya pun menghentikan sang bebek besi di sebuah pelataran yang sepertinya memang disediakan untuk menikmati eloknya pemandangan sawah disana.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu Jalan dengan Pemandangan Persawahan, Perbukitan dan Pantai di Pelabuhan Ratu

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Kurang lebih 3 KM lagi saya mencapai pantai Karang Hawu. Demikian bunyi sebuah petunjuk jalan ketika saya melewati kawasan Citepus. Fuel meter belum menyentuh tanda setengah, masih aman. Toh, BBM eceran dalam botol banyak dijual di pinggir jalan. SPBU pun masih saya jumpai. Ketika sampai di hamparan luas jalan raya di pinggir Karang Hawu, saya jumpai pelataran parkirnya masih sepi. Hanya terlihat tiga-empat mobil dan satu-dua sepeda motor. Beberapa wisatawan terlihat sedang asyik menikmati pemandangan dan hembusan angin di pantai ini.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Saya memelankan laju sang bebek besi sambil mencari kawasan yang enak untuk parkir di bibir pantai. Melewati Karang Hawu ternyata tidak ada tempat yang diharapkan. Akhirnya saya putuskan untuk kembali ke Karang Hawu dan memarkirkan sang bebek besi di sana. Alhamdulillah, sampai juga. Biasanya pelataran parkir ini ramai dengan kendaraan dan wisatawan, siang atau malam. Tapi saya beruntung karena sampai disini pada hari libur yang tepat ketika banyak wisatawan belum tiba. Sudah kuduga hahaha… 😀 Seandainya saya pergi keesokan hari, pada hari Jum’at atau Sabtu, pasti suasananya ramai sekali disini. Jam menunjukan sekitar pukul sepuluh lebih tiga puluh menit.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Saya parkiran sang bebek besi, melepas helm dan sapu tangan slayer yang saya gunakan sebagai masker. Duduk sebentar, bersyukur karena bisa sampai di tujuan dan mengagumi keindahan pantai. Deru ombak dikejauhan terdengar menyapa telinga saya yang sejak perjalanan hanya mendengarkan deru mesin kendaraan dan suara polygonal muffler sang bebek besi yang khas. Bulir-bulir putih ombak dan percikan air yang menghantam karang serta laut biru kehijauan dibawah terik mentari Cisolok menjadi pengobat lelah berkendara. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah dan membelai rambut. Maha Suci Allah.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Sebutir kelapa muda pun menjadi pelepas dahaga setelah kurang lebih empat jam berkendara. Masya Allah, sungguh segar. Beberapa ekor burung melesat beterbangan dari satu dahan pohon ke dahan pohon lain yang tinggi diatas jalan raya pantai Karang Hawu. Dari tempat saya duduk terlihat banyak wisatawan tengah mencumbui pasir dan ombak di kejauhan. Ada yang berkejar-kejaran, berswafoto dipinggir pantai atau diatas batu karang besar. Ada juga yang sedang menikmati hidangan jajanan bersama saya di dekat pelataran parkir.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Sambil masih menikmati segarnya air dan manisnya buah kelapa muda, sebuah rombongan roda empat tiba di dekat saya. Seorang ibu dan beberapa orang anaknya mungkin, memesan sepiring rujak tumbuk yang dipikul oleh seorang pedagang. Ya, seperti inilah suasananya. Banyak wisatawan datang untuk menikmati keindahan pantai atau demi kenikmatan berkendara atau tujuan lain. Tidak harus bermegah-megahan, walau sebenarnya mereka atau saya bisa saja bermegah-megahan kalau mau. Justru sebaliknya, mereka dan saya ingin menikmati kemewahan yang diberikan oleh Allah SWT melalui alam ciptaannya yang tidak kami miliki. Menyadari bahwa sebetulnya kita seperti buih atau pasir di pantai ini, akan mudah tersaput atau terhempas jika Allah menghendaki.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Selesai melayani pembeli bapak penjual rujak tersebut membuka bungkusan plastik kresek. Ternyata bekal makan siangnya. Sambil tersenyum bapak tersebut menawari saya makan dengan setengah memaksa. “Silahkan, pak. Mangga . Ini saya juga lagi makan.” Ramah. Inilah tipikal warga Jawa Barat. Obrolan pun berlanjut, “Dari mana, den ?” Saya jawab, “Bogor, pak.” Sambil menyendok daging buah kelapa, saya mengobrol santai dengan bapak ini. Selesai makan saya membayar tukang kelapa dan permisi sebentar kepada bapak penjual rujak tersebut. “ Punten , pak. Mau turun.” Dia membalas, “ Mangga, den .”

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Saya membuka bagasi motor dan mengeluarkan sandal jepit, memasukan sneakers ke dalam plastik, melepas sarung tangan dan jaket lalu mengunci kembali bagasi. Ada tangga untuk turun ke pantai beberapa meter dari tempat kami duduk tadi. Saya pun mulai menjejaki pasir-pasir pantai dan memotret keindahan panorama pantai Karang Hawu ini. Sesekali bercanda dengan ombak yang membasahi kaki saya. Batu karang disini membedakan pantai ini dengan bibir pantai lain yang sebelumnya sudah dilewati. Disebut Karang Hawu karena batu karangnya menjorok ke laut dan berlubang di beberapa tempat, sehingga menyerupai hawu (tungku).

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Kira-kira pukul satu lebih beberapa menit saya putuskan untuk kembali. Pulang, capcus. Pamit kepada bapak penjual rujak yang tadi menemani makan. Bapak yang tampaknya miskin tetapi hatinya kaya. Lalu saya menuju ke tempat sang bebek besi diparkirkan. Kenakan kembali sepatu, jaket dan sarung tangan. Sebelum pulang tidak lupa memberi tips pada salah satu penjaja jajanan disana yang menjaga sang bebek besi. Mengobrol sebentar, si tukang parkir coba-coba menebar racun. Mencoba menawarkan batu, dari yang sebesar kelapa sampai sebesar kerikil dan menawarkan bertemu emak atau nyai anu. Teuinglah… mau mak lampir kek, nyai dasimah kek, saya mah menolak percaya yang begituan. 😀  Hadeuh… aya-aya wae si akang . 😀

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Harap diingat, menurut nasihat orang tua dan orang-orang yang sering bepergian ke sini, banyak wisatawan datang ke pantai ini dengan niat yang tidak lurus dan bisa mengotori akidah. Pelabuhan Ratu selain terkenal dengan panorama laut dan pantainya yang indah, juga terkenal sebagai daerah tempat orang mencari pesugihan. Jangan sampai Anda tertipu oleh muslihat orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dari diri Anda dengan iming-iming jabatan/pangkat, harta atau yang lainnya. Tidak hanya uang, kalau Anda dikelabui bisa-bisa Anda harus pulang berjalan kaki sampai rumah. Hati-hati. Kita mohon perlindungan kepada Allah dari perbuatan syirik dan kejahatan jin dan manusia.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Perjalanan pulang terasa lebih ramai dari pada perjalanan saat datang pagi tadi. Jumlah sepeda motor terasa sedikit sekali dibandingkan dengan roda empat. Beberapa truk mengangkut batu-batu kali besar di jalan yang menanjak ini. Supir-supir truk ini berjalan lambat, tapi mobil-mobil pribadi lah yang memaksa untuk melaju kencang di jalur ini. Sebuah truk pengangkut batu berjalan tersendat saat mendaki tanjakan, menyisakan kepulan asap hitam dan debu jalan. Hal ini membuat saya merasa bersyukur sudah mau repot-repot mengenakan slayer untuk masker dan jaket tebal.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Singkat cerita saya sampai kembali di jalan Surya Kencana dan melaju ke arah terminal Cibadak. Jika pada pagi hari tadi angkot-angkot ungu belum terlihat banyak, sekarang mereka sudah menampakan dominasinya. Beberapa Colt atau Elf trayek Bogor-Sukabumi yang biasanya ‘mangkal’ di sekitar jalan Pajajaran Baranang Siang pun mulai terlihat mengarah ke Bogor. Perjalanan pulang di jalan raya Sukabumi sore hari itu sangat ramai dan di beberapa titik terjadi kemacetan. Penyebabnya adalah truk-truk besar yang keluar atau masuk pabrik disekitar situ. Sampai melewati terminal Cibadak saya melihat rombongan dua Yamaha XMax 250 dan sebuah R25 beriringan. Menyelip diantara kendaraan lain. Salah satu XMax eye-catching sekali karena berwarna kuning. Pengendaranya terlihat mengenakan headphone di helm sebagai radio komunikasi antar pengendara. Motor-motor besar seperti ini menjadi hiburan dikala kemacetan. Senang melihat biker-biker tulen seperti mereka.

seperti di kutip dari https://rideralit.wordpress.com

Sampai di Batu Tulis ternyata terjadi kemacetan hingga di perempatan lampu merah Pulo Empang. Wajarlah, Bogor memang selalu macet saat akhir pekan. Mobil-mobil plat B pun terlihat mengisi ruas-ruas jalan. Akhirnya saya berhasil menerobos kemacetan tersebut lalu berbelok ke kanan, menanjak ke arah BTM kemudian berbelok ke kiri ke arah jalan Ir. Juanda lalu ke jalan Jenderal Sudirman untuk selanjutnya kembali  ke rumah melewati Cilebut. Ternyata dari dulu sampai sekarang Cilebut belum berubah, masih banyak jurang menganga dan tanah longsor, jalan jadi sempit. Hahaha… 😀

BANDUNG, (PRFM) – Persib bertekad mengakhiri rentetan hasil serinya saat menjamu Barito Putera dalam lanjutan Liga 1, Senin (9/10/2017) di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung. Bobotoh yang ingin membantu Maung Bandung langsung di Stadion Si Jalak Harupat guna mewujudkan kemenangan itu, kini sudah bisa memesan tiketnya. Pemesanan tiket laga pekan ke-28 Liga 1 ini sudah dibuka secara online sejak, Senin 2 Oktober 2017 kemarin. Berikut harga tiket Persib Bandung melawan Barito Putera dikutip laman resmi klub : Tribun VIP Barat Utama Rp. 125.000 Tribun Samping Barat l Rp. 75.000 Tribun Samping Barat ll Rp. 75.000 Tribun Timur Rp. 50.000 Tribun Utara Rp. 40.000 Tribun Selatan Rp. 40.000. Sementara untuk penukaran tiket khusus member nantinya akan dipusatkan di Graha Persib, Jalan Sulanjana pada hari Minggu (8/10/2017) pukul 9.00-17.30 WIB. Sedangkan penukaran tiket non member dipusatkan di Stadion Siliwangi, juga pada Minggu (8/10/2017) pukul 9.00-17.00 WIB.

seperti di kutip dari http://www.prfmnews.com

BANDUNG, (PRFM) – Persib bertekad mengakhiri rentetan hasil serinya saat menjamu Barito Putera dalam lanjutan Liga 1, Senin (9/10/2017) di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung. Bobotoh yang ingin membantu Maung Bandung langsung di Stadion Si Jalak Harupat guna mewujudkan kemenangan itu, kini sudah bisa memesan tiketnya. Pemesanan tiket laga pekan ke-28 Liga 1 ini sudah dibuka secara online sejak, Senin 2 Oktober 2017 kemarin. Berikut harga tiket Persib Bandung melawan Barito Putera dikutip laman resmi klub : Tribun VIP Barat Utama Rp. 125.000 Tribun Samping Barat l Rp. 75.000 Tribun Samping Barat ll Rp. 75.000 Tribun Timur Rp. 50.000 Tribun Utara Rp. 40.000 Tribun Selatan Rp. 40.000. Sementara untuk penukaran tiket khusus member nantinya akan dipusatkan di Graha Persib, Jalan Sulanjana pada hari Minggu (8/10/2017) pukul 9.00-17.30 WIB. Sedangkan penukaran tiket non member dipusatkan di Stadion Siliwangi, juga pada Minggu (8/10/2017) pukul 9.00-17.00 WIB.

Related Posts

Comments are closed.